Menelisik Jalan Undaan sebagai Warisan Kawasan Perdagangan (17)-Ada Perumahan Penduduk Eropa, Tionghoa, dan Arab. Radar Surabaya.28 Agustus 2020.Hal.3

Selain pembangunan rumah sakit di kawasan Jalan Undaan, pada lahun 1900-an pemerintah kolonial Belanda mulai gencar membangun perumahan rakyat. Karena lokasinya yang berada di pusat kota, pemerintah mendirikan N.V. Volkshuisyesting,”

N.V. VOLKSHUISVESTING merupakan perusahaan perumahan di tingkatan kotamadya yang didirikan oleh pernerintah kolonial pada tahun 1925 dan berfungsi ttntuk memperoleh tanah dan menarik modal bagi pengadaan perumahan. Kebutuhan perumahan rakyat kala itu terbilang tinggi di awal tahun 1900. Sehingga di tahun 1913 pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melakukan sejumlah pernbangunan perumahan rakyat.

Pemkot Surabaya era koloniat Belanda mendirikan perusahaan perumahan rakyat bernama N.V. Volkshuisvesting. Pemkot dengan perusahaan N.V. Volkshuisvesting membuat perjanjian pembagian saham, tiga per-empat milik pemerintah pusat dan seperempatnya milik pemerintah Kotamadya Surabaya.

“Di tahun segitu pembangunan di kawasan ini (Undaan,Red) sudah cukup pesat. Sistemnya bagi hasil dengan perusahaan tersebut,” kata sejarahwan sekaligus pustakawan Universitas Ciputra Surabaya Chrisyandi Tri Kartika kepada Radar Surabaya.

Lokasi yang dibangun perumahan rakyat oleh perusahaan tersebut diantaranya wilayah Undaan I, Undaan II, Sidodadi I, Sidodadi II, dan kawasan Dharmahusada. Data yang diperoleh dari buku Nieuwe Soerabaia, Chrisyandi menuturkan, rata-rata penghuni kawasan ini adalah warga pendatang dari Eropa, Arab, Tionghoa dan masih banyak lainnya.

Sedangkan penduduk pribumi yang ada di sekitar kawasan tersebut sempat tergeser dengan adanya pembangunan perumahan rakyat. “Jadi banyak warga pribumi yang tergeser kepinggiran kota,” ujarnya.

Strategisnya lokasi kawasan tersebut karena berdekatan dengan dua sungai, Kaliinas dan Pegirian, serta dekat dengan pusat pemerintahan perekonomian kala itu (kawasan sekitar Jembatan Merah) memang dimanfaatkan betul oleh pemerintah kolonial Belanda untuk mengembangkan tata kota, termasuk dibangun kawasan perumahan dan fasilitas umum seperti rumah sakit. (bersambung/nur)

Sumber: Radar Surabaya. 28 Agustus 2020. Hal. 3

 

 

Bisa Refleksikan Mood atau Personality. Surya. 26 Agustus 2020.Hal.3. FDB

Setelah beberapa waktu berkutat dengan pandemi, masyarakat terpaksa dihadapkan pada kenyataan bahwa masker telah menjadi salah satu kebutuhan esensial yang tidak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Berawal dari benda yang fungsional, kini masker sudah beralih menjadi benda yang fashionable. Masyarakat  kini cenderung membeli sebuah masker karena tertarik modelnya yang unik atau lucu.

Bisa dibilang kebanyakan orang menggunakan masker yang bisa merefleksikan mood atau bahkan personality mereka. Sehingga tidak heran jika sekarang masker dianggap salah satu fashion statement.

Kini, masyarakat dapat menjumpai berbagai macam masker dan banyak diantaranya yang memang unik, baik dari sisi desain, motif, bahan, penambahan detail hingga fungsional yang lain.

Biasanya masker itu, mereka produksi dengan mengikuti apa yang telah menjadi ciri khas dari brand. Semisal brand atau UKM biasa memproduksi baju baju batik atau lurik, maka mereka juga akan produksi masker dengan bahan yang sama.

Dengan ada berbagai macam bahan, desain dan motif masker, tentu setiap brand atau produsen masker akhirnya mempunyai segmentasi dan target market, sehingga dapat memenuhi keinginan pasar yang beragam.

Mengambil peluang dalam memproduksi masker, bisa dikatakan langkah tepat jika mereka bisa menampilkan keunikan atau nilai jual maskernya. Ada beberapa tip memilih masker yang fashionable. 

Pertama pilih yang sesuai gaya dan personality. Diperbolehkan menggunakan masker yang matching dengan baju, namun tidak terkesan terlalu ramai atau berlebihan.

Kedua perhitungkan sisi fungsionalnya sebagai pelindung, jadi masker dengan tiga lapis biasanya menjadi favorit.

Ketika memperhatikan penggunaan material yang nyaman sekaligus cek ukurannya.(zia)

 

Sumber: Surya. 26 Agustus 2020.Hal.3

Ingin Bangkitkan Kreativitas di Tengah Pandemi. Jawa Pos. 24 Agustus 2020. Hal.15. FDB

Surabaya, Jawa Pos – Industri fashion  Indonesia dirasa mengalami pukulan telak saat terjadi pandemi. Hal tersebut melatar belakangi hadirnya kompetisi dan fashion show daring oleh Universitas Ciputra. Fabio Ricardo Toreh, pengajar fashion design, mengatakan, lomba tersebut dihelat sejak Juni lalu. “kita  harap  event Ini bisa memberikan semangat baru bagi pekerja di bidang fashion,”  ucap Fabio.

Kompetisi tersebut diikuti lebih dari 90 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. “Ada yang dari Palembang, Jakarta, Bali, Bandung, hingga Sulawesi,” ujar fabio. Kompetisi  tersebut tak terbatas pada mahasiswa desain,tetapi juga designer profesional, penjahit, penjual pakaian.

Pada Juli lalu, peserta  sketsa desain mereka. setelah itu, juri memilih finalis yang desain nya bisa diwujudkan dengan bahan khusus. “Sesuai kebutuhan saat ini, kita pakai bahan  yang bisa melindungi diri dari persebaran virus,”  jelasnya.  bahan tersebut bersifat antibakteri dan punya karakter water repellent.

Beberapa kriteria yang dilihat adalah fungsi dan estetika tampilan produk itu. “Lalu,  kita memungkin untuk produksi masa,”  jelasnya. Fabio menambahkan, mereka juga menilai koherensi sketsa awal dengan produk .

Setelah itu, desain yang dihadirkan diperagakan oleh model profesional. Video tersebut kemudian ditayang secara daring. Fashion show dari itu diharapkan bisa jadi inspirasi banyak pihak untuk terus berkarya dan dibarengi dengan pengumuman pemenang.

Salah satu desain yang menarik dibuat M. Badzarul Haqqul Azzam yang menyabet   juara pertama. Pria berkacamata tersebut menampilkan desain jaket dengan pola warna yang netral dan garis-garis tegas. Kerah tinggi pada jaket menjadi aksen yang mencolok. “ Saat mendesain, saya menekankan fungsi  masker. Dan, bagaimana agar produk ini membuat orang tetap ingat untuk jaga jarak,” paparnya. (dya/c6/tia)

 

Jawa Pos, 24 Agustus 2020. Hal.15

Tularkan Kesukaan dengan Benda Antik. Jawa Pos. 21 Agustus 2020. Hal.20. Rektorat

Bermula dari Ibu, lalu Keluarga Besar.

Surabaya, Jawa Pos –  Mobil VW  Belo 1961 warna biru putih dan Fiat 1100 berwarna merah putih meluncur dari Surabaya ke Taman Dayu, Pandaan, Minggu  (16/8). Dua mobil imut-imut tersebut adalah mobil milik Denny Bernadus, satu di antaranya ratusan mobil antik yang menghadiri acara 75 tahun Indonesia Heritage Cars Charity hari itu. Lewat acara tersebut, para pencinta  mobil antik yang berkumpul sore itu menggelar acara touring display mobil, lelang hingga charity. 

“Biasanya kami kopdarnya Sabtu akhir bulan. tapi, khusus bulan ini kami bikin yang spesial untuk memperingati hari kemerdekaan. biar kumpul-kumpul nya juga nggak hanya parkir,” cerita Deni saat dihubungi kemarin (19/8). Pria yang merupakan direktur Ciputra Group Itu menjelaskan bahwa kegiatan yang digelar komunitas pencinta mobil antik kali ini cukup menarik.

Sebab, hampir seluruh hasil dari pelelangan mobil hingga barang-barang antik lainnya yang digelar saat itu disumbangkan ke sebuah pondok pesantren yang letaknya tidak jauh dari lokasi acara. Benda-benda yang dilelang pun tidak tanggung-tanggung titik mulai cincin berlian, belati kuno hingga VW Limoterpanjang yang sempat mendapatkan tiga penghargaan dari tiga negara yang berbeda karya Yudi Yumos.

Benda antik memang selalu memikat. Begitu juga bagi Denny. Pria kelahiran malang itu mengaku telah meracuni istri dan anak-anaknya mencintai benda-benda kuno. “ Sebenarnya yang suka benda antik itu Ibu saya. jadi sekarang nular ke saya. Setiap kami punya rezeki lebih, Kami biasanya hunting benda-benda antik bareng,” ceritanya.

Mobil imut VW Belo 1961 dan Fiat 1100,Salah satunya. Meskipun barang antik, Denny mengaku tetap menggunakan mobil tersebut bergantian untuk kegiatan sehari-hari. “Biasanya kalau hari itu saya cuma di daerah Kampus dan nggak ada agenda keluar kota, saya pakainya mobil-mobil ini,” ujar pria yang juga dosen di Universitas Ciputra itu.

Berburu benda antik, khususnya mobil yang harganya tentu tidak murah, Denny punya cara sendiri. Mulai tips bagi pemula yang baru terjun di dunia mobil antik hingga tips agar tidak dimarahi istri saat beli mobil lebih dari satu. “Untuk pemula yang seperti saya ini pilihan terbaik untuk memilih mobil antik itu yang populasinya masih banyak, karena itulah saya pilih VW Belo,” terangnya.

Karena populasinya masih banyak, serta otomatis komunitasnya pun banyak. “Jadi kalau mobilnya masih butuh apa-apa itu gampang,” sambungnya. Setelah itu, Pemilihan tahun dirasa penting. pria 53 Tahun ini menjelaskan bahwa mobil 60-70-an adalah pilihan yang tepat bagi pemula. “Soalnya harganya masih terjangkau. Belum terlalu mahal. Beda lagi an tahun 50-an. Harganya bisa berlipat-lipat dari tahun di atasnya,” imbuhnya.

Sementara itu, tips agar tidak dimarahi istri karena membeli mobil kuno lebih dari satu adalah menjadikannya sebuah hadiah untuk istri.”Jadi, pas beli memang dikhususkan untuk hadiah ulang tahun istri. Tapi, aslinya saya juga ikut senang soalnya kan juga bisa di pakai,” ujarnya, lantas tertawa. (ama/cl3/tia)

 

Sumber: Jawa Pos. 21 Agustus 2020

Konsep Bali Twenty-Twenty_Hunian Tradisional Menjawab Pandemi. Harian DI’S Way. 12 Agustus 2020. Hal. 38-39. Freddy H istanto. INA

Tahun1996 Saat kuliah magisterArsitektur, saya diharuskan mengikuti Konferensi Tingkat internasional di Bali, konferensi yang diadakan Society Balinese StudyItu adalah kesertaan saya pertama kali untuk pertemuan ilmiah. grogi? sangat!

Topik heboh banget titik “Bali di milenial tiga”. Stress memikirkan apa yang akan saya tulis untuk konferensi yang dihadirkan pakar-pakar kebudayaan mancanegara itu. Ilmu arsitektur saya masih dangkal titik tapi saya harus menerawang secara ilmiah situasi masa depan.

Untung saya disodori buku “City of Bits” oleh moderator saya. Buku karangan William C Michelle (1996). Itulah modal satu-satunya untuk mengikuti konferensi itu pada 1996 City of Bits mendeskripsikan jenis Kota Baru masa depan.Sistem ruang virtual yang semakin penting, saling berhubungan oleh informasi digital yang  super cepat.

Jujur saat itu saya tidak ngefans sama sekali dengan teknologi informasi. Mbah Google saja juga belum lahir. setelah membaca lalu membayang bayangkan ke depan kota itu akan seperti apa. Sebagai arsitek, apa yang saya sodorkan dalam Konferensi itu ya?

Kalau saat saya studi pada 1996, aktivitas kerja, belajar dan keseharian dilakukan di luar rumah. Maka pada era serba Bits sekarang digital, pusat semua kegiatan manusia dilakukan dirumah. Work from home .

Analisa saya kemudian, Teknologi akan mendominasi peradaban manusia, maka 20 tahun kedepan manusia dan alam akan mengalami puncak kejayaan titik kejenuhan itu akan mengantar dunia atau alam melakukan sebuah proses keseimbangan.

Manusia akan kembali pada konsep Back To Nature. Kemudian saya menganalisa bahwa konsep hunian tradisional Bali lah yang akan menjawab kebutuhan hunian masa depan. Kemudian saya submit paper dengan tajuk: “Bali 2020 buka kurung Bali twenty-twenty): Arsitektur Tradisional Bali, konsep hunian masa depan.”

Perjalanan waktu lantas membuktikan bahwa pemikiran-pemikiran saya dulu tidak klop sama sekali.Bahasa Jawanya nggak klop blas. Maklum mahasiswa ingusan dengan ilmu pas-pasan, Ya begitulah.

Judul makalah saya itu pas dengan skala waktu yang saya prediksi saat 1996 lalu itu. Work from home nya pasti juga dengan ilmu gathuk. Bagaimanapun pandemi covid-19 Ini adalah sebuah momen alam dunia dan manusia titik bukan kejenuhan teknologi seperti yang saya ramal dalam paper itu.

Tetapi kecanggihan dan kecepatan teknologi yang sudah melampaui batas-batas kemampuan alam dan manusianya. ilmuwan Perancis Paul Virlio mengatakan bahwa dunia yang berlari adalah gambaran dunia yang paradigma berpikir nya adalah kecepatan.

Kecepatan itu bukan cuma urusan mie sekejap (mie instan) itu. Teknologi digital itulah yang mengacu dan memicu dunia ini seperti sekarang. Era ketegasan itu mengoyak peradaban manusia. Alam sendiri seolah dipacu untuk meladeni ketegasan manusia.

Ketergesaan dunia itu kini terbaca telah melampaui kodrat alam dan manusianya. covid-19 hadir sebagai pengadil untuk menormalkan alam semesta. Mengalibrasi dunia.

Kesimpulan paper saya pada 1996 dulu itu tentang “Kembali beraktivitas di rumah.” 20 tahun kemudian bernama “Work from home.” Apakah karena alasan seperti baper saya itu atau karena alasan pandemi, konsep hunian tradisional Bali adalah konsep hunian masa depan sangat relevan diterapkan.

Bali punya ruang yang bernama natah titik ruang yang multifungsi. Pada zaman ini, ruang keluarga tidak hanya berfungsi sebagai ruang santai keluarga. Tetapi seperti juga Fungsi natah, ruang ini sebaguna. Seperti ruang kerja, ruang belajar, ruang pertemuan dan lain-lain sejak semua aktivitas dilayani model online .

Rumah tradisional Bali menghadirkan aling-aling. letaknya persis ketika masuk ke dalam rumah. fungsinya sebagai penahan pengaruh negatif  dari luar. di masa pandemi covid 19 seperti ini, kehadiran aling-aling adalah semangat untuk menahan bahaya penularan dari luar.

urutan ruang terdekat setelah itu adalah dapur. Banyak barang-barang yang masuk dari luar rumah ke dalam bangunan adalah ke dapur. Konsep hunian Bali yang  meletakkan posisi dapur dekat pintu masuk ini menguntungkan.

Jarak terpendek yang tidak melewati ruang-ruang lain untuk meminimalisir tercemar sesuatu dari luar. Tata letak dapur Bali ini, mengingatkan desain-desain modern pada unit-unit hunian di apartemen.

Sanggah pamerajan, tempat suci di hunian Bali tentu sangat gayut dengan hunian kekinian. rumah juga bagian dari tempat yang  seimbang untuk kebutuhan pengkayaan rohani penghuninya.

Keterbukaan dengan alam di konsep hunian Bali cerminan Bagaimana hunian ini terbuka dan menyatu dengan alam. Zaman pademi seperti sekarang, Hunian yang sehat adalah yang sistem pengkondisian  udara bagus. Disamping itu, ruang terbuka sangat baik untuk pola hidup sehat yaitu untuk olahraga.

Kesimpulannya, arsitektur tradisional tidak boleh dibiarkan membeku Seperti apa aslinya dulu. Arsitektur tradisional selayaknya di modernisasi kan untuk dimasakin. Tulisan ini pun demikian. Lebih mengambil konsep-konsep untuk diaplikasikan dalam kondisi kekinian. (*)

Sumber: Harian DI’S Way. 12 Agustus 2020. Hal. 38-39

 

Perencanaan Menjadi Kunci Sukses Mengajar Daring. Jawa Pos. 13 Agustus 2020. Hal.13,23. Lucky Cahyana Subadi.TLC

SURABAYA, Jawa Pos – Belajar daring maupun luring punya tantangan masing-maSing. Seharusnya, diskusi tentang pendidikan di tengah pandemi tidak hanya berkutat pada lokasi dan jenis medianya. “Tetapi, lebih pada perencanaan dan hasil pembelajarannya, tercapai ataukah tidak,” tutur Lucky Cahyana Subadi, pakar pendidikan dari Universitas Ciputra (UC).

Dalam proses belajar, guru harus mengasah aspek psikomotorik, kognitif, dan sikap siswa. Hilangnya salah satu aspek dari perencanaan pembelajaran membuat pendidikan tidak berjalan maksimal.

Maka, pentingmenciptakan pembelajaranyangmenuntut siswa untuk mengalami dan berinteraksi “Konsepnya experiential learning. Siswa dikondisikan untuk berinteraksi mulai dari alat, bahan, hingga orang lain,” tutur head of Teaching and Leanting Innovation Center UC itu.

Aspek kognitif mungitin terlihat lebih mudah untuk disampaikan secara daring. Siswa bisa menerima materi langsung, membaca sendiri, atau melakukan riset. Namun, aspekpsikomotorik dan sikap baru bisa dicapai saat siswa mengalami secara langsung. “Kalau dengan guru, siswa lain, mungkin bisa dengan chat, telepon. Tapi, melatih sici// masak misalnya, apa bisa?” imbuhnya. Guru harus melakukan perencanaan pendidikan sebelumnya. Persiapan alat dan bahan apa saja yang digunakan siswa di rumah. Hal tersebut juga disesuaikan dengan kemampuan siswa dan keluarga. “Kalau tidak memungkinkan, berarti butuh laboratorium di sekolah. Nah, kita jadi geser, protokol kesehatannya seperti apa biar siswa bisa praktik di sekolah,” jelasnya. Kebersihan alat praktik, pengaturan jarak siswa, dan penjadwalan sif bagi siswa. Beberapa hal tersebut perlu dipikirkan guru dan sekolah. Bentuk evaluasi hasil belajar juga mesti berubah. Tak bisa hanya berdasar ujian pilihan ganda atau isian esai. Jenis evaluasi juga sebaiknya memberikan tambahan skill di luar kognitif. “Misalnya, melalui presentasi kreatif. Debat antarsiswa juga bisa jadi pilihan,” ucapnya. Kolaborasi dengan materi dan guru mata pelajaran lain patut dicoba. Siswa jadi lebih bisa mengeksplorasi koneksi antarmateri. Waktu siswa yang terbatas bisa digunakan untuk menyelesaikan satu tugas untuk beberapa materi sekaligus.

Lucky mengatakan, guru kini punya peran tambahan. Tak hanya menyampaikan materi, tetapi juga sebagai mentor dan desainer sistem pembelajaran. “Sekarang guru tidak bisa ajari ini itu, tapi mereka juga harus siap dikontak di luar jam belajar. Karena siswa dan orang tua juga bisa mengalami kesulitan saat itu,” sambungnya.

Dalam merancang sistem pembelajaran, Lucky mengatakan sangat wajar jika guru tidak langsung menemukan formula yang pas di awal. “Saya sebagai dosen juga coba-coba metode, lalu dilihat hasilnya apakah optimal,” jawab pria berkacamata tersebut Evaluasi menjadi aspek penting dalam sistem pembelajaran saat ini. Baik dari guru maupun dari siswa. “Jadi, guru saat ini jangan mudah nggondok. Coba ini gagal, lalu sudah tidak mau coba yang lain. Lalu, siswa mau bagaimana?” tuturnya. (dya/c6/git)

 

Sumber: Jawa Pos. 13 Augustus 2020. Hal 13. 23

Stefani Evelyn Salah Satu Wakil Indonesia dalam ANFA 2020 Tingkat Asia Tenggara_Juri Kagum Fashion Berbahan Pati Jagung. Jawa Pos. 13 Agustus 2020. Hal.13,23.FDB

“Dalam ajang Asia New Gen Fashion Awards (ANFA) 2020 yang 
mengusung tema sustainability, Stefani Evelyn ditantang untuk 
mewujudkan desain fashion yang ramah lingkungan. Setelah melakukan 
riset, bahan pati jagung berhasil mengantarkannya menjadi salah satu 
dari dua perwakilan yang melaju ke tingkat Asia Tenggara” MARIYAMA DINA, Jawa Pos

            SABTU malam itu (8/8) tepat pukul 20.00 WIB menjadi puncak grand final Asia NewGen Fashion Awards (ANFA) 2020. Ajang fashion se-Asia Tenggara tingkat regional Indonesia itu dikemas berbeda tahun ini. Yakni, dengan konsep virtual lewat YouTube live streaming. Dari Indonesia delapan peserta lolos ke grand final. Salah satunya Stefani Evelyn dari Surabaya.

Malam itu, karyanya tampil terakhir dari tujuh finalis lainnya. Meski begitu, karyanya tak kalah menakjubkan. Dengan pemilihan warna yang tidak terlalu mencolok, lima model desain yang dibuatnya didominasi bentuk-bentuk bergelombang. Fleur Xray Pivione, begitu judul desainnya kali ini.

Tidak hanya potongan pada bagian baju yang menjadi fokus utama dalam desainnya. Aksesori pada bagian tangan dan area mata juga tak kalah dia perhatikan. Di balik model desain yang dibuatnya, perempuan alumnus Universitas Ciputra jurusan fashion product design & business 2014 itu harus berkutat dulu untuk bahan yang dipakainya. Karena tema kali ini sustainability atau bahan-bahan yang ramah lingkungan, bahan tekstil yang dipakainya harus benarbenar bisa menggambarkan makna dari ramah lingkungan. Riset dilakukan jauh-jauh hari sebelum mendaftar. Akhirnya, terpilihlah bahan dari pati jagung yang sudah diolah. “Pati jagung ini sudah diolah sama bahan kimia yang hitungannya sekitar 3-5 tahun bakal hancur kalau dibuang,” jelasnya.

Dari situ, Stefani bisa menyatakan bahwa bahan tersebut bisa mewakili konsep sustainable fashion. “Kalaupun baju dari bahan ini dibuang ke laut dan dimakan sama ikan juga enggak bakal beracun. Dibuang di tanah juga bisa terurai. Tapi, tetap dengan perawatan yang ekstrahati-hati,” urainya.

Saat dijelaskan lebih detail, bahan yang dipakainya itu mirip casing handphone berbahan silikon. Dia menjelaskan bahwa bahan tersebut aman untuk lingkungan. Untuk motifnya, Stefani lebih memilih printing. “Karena ini juga yang paling aman untuk lingkungan,” imbuhnya.

Dari pemilihan bahan itu, dia mendapatkan pujian dari juri. “Bahan yang kamu pakai ini menarik karena berbeda,” katanya menirukan pernyataan dewan juri. Namun, di balik pujian itu, masih ada banyak sekali masukan. Bahkan, 15 desain yang ditawarkannya sempat ditolak. “Katanya jelek, sudah kuno,” kata Stefani menirukan ucapan juri.

Namun, di balik cacian itu, dia semangat untukmemperbaikinya setclah diberi masukan oleh para juri. “Sampai masuk di grand findlini pun rasanya masih belum percaya. Apalagi kalau sampai menang,” ujarnya.

Sebab, dia sempat trauma untuk mengikuti kompetisi desain. “Sebelumnya pas 2015 itu aku pernah ikut kompetisi desain di Surabaya Fashion Parade. Tingkat Surabaya aja persaingannya ketat banget. Ide-ide dari desainer lokal udah luar biasa. Aduh, enggak pede banget waktu itu,” ceritanya. Setelah lima tahun berlalu, dia pun memberanikan diri lagi untuk ikut ajang desain fashion. “Awalnya itu sebenarnya diajakin teman. Terus, motivasi awal aslinya cuma pengin ah, siapa tahu bisa masuk majalah,” ujarnya, lantas tertawa. Siapa menyangka celetukan itu ternyata membawanya sampai ke tahap yang sesungguhnya. Bahkan, sebelumnya dia mengira lomba tersebut sebatas ajang kecil. Tapi setelah melangkah semakin jauh, dia baru sadar bahwa ajang tersebut merupakan ajang intemasional. Darinegaranegara di Asia Tenggara, masing masing menyeleksi para kandidatnya untuk dijagokan dalam ajang antarnegara.

Masing-masing negara membawa dua kandidat terbaik untuk memperebutkan juara. “Di tahap ini setidaknya saya bisa sedikit merasa bangga. Soalnya, ajang ini bisa menjadi wadah bagi para desainer muda yang ingin meniti karir ke dunia yang lebih profesional,” ujarnya. Stefani berharap bisa memberikan yang terbaiklagi di ajang selanjutnya. “Ke depan juga bikin model desain yang baru lagi,” tambahnya. (*/c6/git)

 

Sumber: Jawa Pos. 13 Agustus 2020. Hal 13, 23

‘Rem dan Gas’ dalam Bisnis Pariwisata. https://ekonomi.bisnis.com/. 10 Agustus 2020. Dewa GS. HTB

https://ekonomi.bisnis.com/read/20200810/12/1277185/rem-dan-gas-dalam-bisnis-pariwisata

Rem dan Gas di Pariwisata. Bisnis Indonesia. 8 Agustsus 2020. Hal.2. Dewa GS. HTB

Oleh DEWA GDE SATRYA ,Dosen Hotel & Tourism Business, Fakultas Pariwisata, Universitas Ciputra Surabaya

Ilustrasi Presiden Jokowi tentang rem dan gas mengandaikan penyelamatan kesehatan dan perekonomian secara bersamaan. Karena bukan hal yang mudah, maka semua pihak harus ikut memfungsikan rem dan gas sesuai peran masing-masing. Industri pariwisata misalnya, memadukan rem dan gas mulai diterapkan di Bali.

Sejak 9 Juli, Bali telah ‘uji coba’ membuka lagi untuk wisatawan lokal dari daerah setempat dan akhir bulan diperluas ke seluruh wisatawan domestik. Perjalanan jalur darat (overland) dari Jawa menjadi pilihan, yang selama masa normal tidak efisien kini menjadi cara baru. Di sisi lain, Bali mengalami persoalan akses darat dari Gilimanuk menuju sentra wisata di selatan Bali.

Akses utama dari Jembrana dan Tabanan jalannya sempit dan kerap terjadi kemacetan, sementara tol yang menghubungkan Gilimanuk ke Denpasar atau Badung belum tersedia. Karena itu, mari melihat peluang tren perjalanan darat di sepanjang jalur yang menghubungkan Jawa dan Bali, yang diharapkan menumbuhkan perekonomian masyarakat dari potensi wisatawan domestik ini.

Wisatawan domestik adalah harapan untuk pemulihan perekonomian di Indonesia yang bersandarkan pada pariwisata. Merekalah gas, tetapi harus disiapkan rem melalui penerapan protokol kesehatan secara ketat dari pihak penyedia jasa pariwisata dan jasa lainnya di satu sisi, serta kedisiplinan wisatawan di sisi lain. Di sinilah problemnya, kerap kali rem tidak berfungsi.

Pembukaan pariwisata Bali dan diikuti Daerah Istimewa Yogyakarta yang dibuktikan melalui program Bali Rebound, diikuti Mandalika Rebound, Likupang Rebound, Labuan Bajo Rebound (Jawa Pos, 27/7), bermakna penting bagi tumbuhnya kembali industri pariwisata di dalam negeri. Sebelumnya, Banyuwangi telah menyiap- kan diri untuk menyambut wisatawan dengan protokol kesehatan, tentu akan menjalin kembali rangkaian perjalanan wisata melalui jalur darat dari Jawa ke Bali.

Memfungsikan rem perlu menjadi komitmen bersama yang menunjukkan Indonesia sebagai bangsa berperadaban tinggi. Keberhasilan penerapan rem dan gas selama periode dibukanya Bali untuk wisatawan lokal dan domestik mulai 31 Juli, akan menjadi energi positif untuk menyambut kedatangan wisatawan mancanegara pada 11 September mendatang.

Bila sebelumnya bangsa berperadaban tinggi tampak pada budaya mengantre, menjaga kebersihan, infrastruktur canggih, makan makanan bergizi, setelah pandemi Covid-19 bertambah dengan kebiasaan mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menyemprot disinfektan dan hand sartitizer.

Penerapan Sapta Pesona Wisata yang bertransformasi menjadi clean, health, safety, environemt, juga menjadi cermin peradaban tinggi dalam menjaga keseimbangan rem dan gas.

Kebersihan di toilet salah satunya, juga menjadi cerminan peradaban tinggi tersebut. Toilet tak lagi dianggap sekadar sebuah tempat membuang kotoran yang kemudian bisa dibuat seadanya.

PERLUAS JANGKAUAN

Kementerian Pariwisata pernah memberikan penghargaan Sapta Pesona Toilet Umum Bersih pada tahun 2009-2010, yang diberikan kepada pengelola bandar udara dan museum di seluruh Tanah Air.

Kebiasaan baik ini patut diperluas jangkauannya untuk memperbanyak rem di seluruh penjuru wisata di Nusantara.

Kebiasaan ini dimaksudkan untuk mendorong masyarakat agar mencintai kebersihan serta menciptakan suasana bersih yang berdampak pada kualitas destinasi pariwisata di Indonesia.

Pemberian penghargaan Sapta Pesona juga sebagai upaya mendorong masyarakat agar mencitai kebersihan yang difokuskan pada toilet umum bersih seperti di bandara dan pintu masuk wisatawan, serta objek wisata. Rem lainnya yang penting dipastikan fungsinya pada pekerja pariwisata. Dalam konteks ini, kesehatan dan keselamatan kerja (K3) pekerja di bidang pariwisata patut menjadi perhatian bersama. Mengadaptasi aturan K3 pada sektor manufaktur, memastikan kinerja rem di industri pariwisata dan perhotelan mengandaikan terlaksananya K3 di seluruh lini pekerjaan pariwisata dan perhotelan.

Di bidang layanan, sejumlah jasa dan fasilitas yang dimiliki hotel harus dilakukan treatment khusus penyemprotan disinfektan untuk mencegah penyebaran virus corona, mulai dari ruang pertemuan dan kamar, termasuk semua jenis pelayanan kamar, air conditioning, binatu, kasur tambahan, perlengkapan tetap, fasilitas olah raga dan hiburan, termasuk sarana transportasi hotel untuk antar jemput tamu.

Selain perhotelan, bisnis di sektor pariwisata seperti tour and travel, restoran, spa, airlines dan transportasi publik, serta destinasi wisata, tak boleh luput dari perhatian. UU 10/2009 tentang kepariwisataan menyatakan, pemerintah dan pemerintah daerah berkewajiban menyediakan informasi kepariwisataan, perlindungan hukum, serta keamanan dan keselamatan kepada wisatawan (Pasal 23 ayat 1 butir a).

Payung hukum ini menjadi acuan untuk memastikan komitmen penerapan protokol kesehatan guna memberi jaminan keselamatan dan kenyaman wisatawan ketika berwisata di masa pandemi.

Dorongan untuk berwisata di dalam negeri dengan pola perjalanan yang telah berubah, seperti perjalanan dalam skala kecil, jangka waktu pendek dan jarak dekat, memiliki momentum dengan dibukanya pariwisata Bali dan daerah lain. Mari menjaga keseimbangan gas dan rem di industri pariwisata.

 

Sumber: Bisnis Indonesia. 8 Agustus 2020. Hal.2

Andrea Dean Nugroho_Bisa Lihat Dunia Luar. Surya. 8 Agustus 2020. Hal.3. Psikologi

Bisa Lihat Dunia Luar

 MEMBACA memiliki banyak manfaat bagi setiap orang. Ini pula yang dirasakan Andrea Dean Nugroho (19) Mahasiswi Jurusan Psikologi

Universitas Ciputra Surabaya.

Perempuan kelahiran Surabaya ini menvukai kegiatan membaca karena bisa membawanya melihat dunia dari berbagai perspektif.

“Apalagi dengan kondisi saat ini yang membuat semua orang harus lebih banvak di rumah. Sehingga, salah satu cara saya melihat dunia luar adalah dengan membaca,” kata Andrea kepada Surya.

Perempuan berzodiak Cancer ini biasa membaca buku jenis novel, biografi tokoh hingga berita yang terjadi di sekitar. Meski. kondisi pandemi kali ini juga menghambat dirinya untuk menikmati buku secara langsung.

“Sebetulnva saya lebih menyukai membaca buku yang ada fisiknya. Tetapi karena pandemi saya tidak bisa berkunjung ke perpustakaan atau beli buku secara langsung ke toko,” ujar peraih Juara 1 lomba debat UPH 2020 ini.

Selanjutnya, Andrea ingin terus membaca guna memperluas pengetahuan dan menjadikan kegiatan membaca sebagai media hiburan baginya. (zia)

 

Sumber: Surya. 8 Agustus 2020. Hal.3