UC News Mei 2019

Kurikulum Internasional Dorong Kemampuan Analisis. International Food Technology Universitas Ciputra. Jawa Pos. 4 Mei 2019.Hal.25

Sebagai negara agraris, Indonesia memiliki banyak sekali bahan mentah. Jika diolah dengan teknologi pangan yang inovatif bakal mampu menyaingi produk negara lain. Bahkan, dapat memenuhi kebutuhan pangan negara sendiri dan dunia.

Keunggulan international Food technology Universitas Ciputra

  • Sejak semester awal, mahasiswa dibiasakan praktik dilaboratorium dengan kurikulim berbasis internasional
  • Pengangkatan sumber daya local kepasar international
  • Pengajaran mind set entrepreneurial untuk menjadi seorang entrepreneur
  • Pengajaran dengan melihat problem baik dimasyarakat maupun industry
  • Pengajaran dengan improvisasi pengetahuan teknologi pangan berkelanjutan
  • Memiliki kedekatan dengan dunia industry

 

Untuk mewujudkan teknologi pangan inovatif itu, dibutuhkan tenaga ahli dibidangnya. Hal tersebut mendorong International Food Technology (FTO) Universitas Ciputra (UC) untuk mencetak mahasiswa yang mahir mengaplikasikan ilmu teknologi pangan diranah industri.

Senior Lecture FTO UC Prof Ir Hari Purnomo menuturkan, visi FTO UC adalah untuk menghasilkan sarjana yang pakar dalam bidang teknologi pangan dan memiliki mindset seorang entrepreneur. Sedangkan misinya adakah untuk menghasilkan generasi dengan latar belakang ilmu teknologi pangan yang memadai. FTO UC juga mendorong lahirnya pakar Food technopreneurs yang siap bersaing dipasar internasional.

Kita harus mempersiapkan diri menghadapi pasar global,” ujar pembicara di lecture session internasional association of students in agricultural and related science (IAAS) tersebut. Beliau juga penulis buku ilmu pangan yang merupakan rujukan wajib bagi para mahasiswa teknologi pangan serta seorang konsultan dari berbagai brand dan perusahaan besar skala international.

Lebih lanjut, Kaprodi FTO UC Muliasari Kartikawati menuturkan bahwa mahasiswa tak cuma duduk dan diberikan materi di dalam kelas, namun juga didorong untuk aktif menganalisis bahan pangan dalam laboratorium didampingi para dosen. Kurikulum internasional makin mengakrabkan mahasiswa dengan kinerja pakar teknologi pangan yang berstandar dunia.

FTO UC mewajibkan seluruh mahasiswa memahami pengolahan pangan dari awal hingga akhir. Dengan demikian lulusan mampun mengaplikasikan ilmu baik untuk entrepreneur atau professional. Di lini professional, mereka bisa terjun sebagai science preneur atau scientist.

Semester pertama, mahasiswa digembleng dengan materi pengetahuan bahan pangan yang didukung dengan biologi, kimia, dan fisika. Ketiga ilmu tersebut, bukan lagi sebagai ilmu umum. Namun, mencakp perihal pembelajaran ilmu pangan. “misalnya ilmu fisika diterapkan dalam hal teknologi pangan dengan melihat sifat fisik apa saja yang dilakukan dalam pengolahan,” ujar alumnus jurusan teknologi pangan dari Universitas di Jepang itu.

Perihal metode, FTO UC membiasakan mahasiswa untuk mandiri. Sejak semester pertama, mereka didorong untuk aktif dan mencari metode yang diterapkan lewat caranya sendiri. Biasanya, pengajar bakal memberikan satu rumusan masalah yang akan dikupas oleh mahasiswa sendiri mengenai metodenya. Hal itu untuk membuat mahasiswa mampu menerapkan metode disemester akhir. “mereka bebas menggunakan metode apapun sesuai dengan hasil analisis yang mereka dapat,” ungkapnya.

Memasuki semester kedua, mahasiswa mempelajari pengolahan pangan dengan membuat produk sendiri. Mereka dilatih untuk menganalisa beberapa hal dalam produk seperti analisis pangan dan mikrobiologi. Bahkan, penentuan harga produk juga sudah dilakukan. Semester berikutnya, mahasiswa menentukan segmen market dan cara pengembangan produk. Lalu, dilakukan inovasi pengemasan dan penyimpanan disemester empat. Kemudian semester enam, mereka melakukan suppy chain ke masyarakat.

Muliasari menceritakan, jika lulusan tak bisa menganalisis dengan detail, bakal berpengaruh pada pekerjaan setelah mereka menjadi professional. Terlebih bagi perusahaan start up yang kini banyak bermunculan. Jika kurang paham problem dan tak maksimal dalam menganalisis, inovasi bakal sulit dilakukan.

“misalnya saja untuk membeli alat yang mahal untuk usahanya. Mereka harus paham problem dan analisisnya tepat sehingga ada efisiensi. Kalau tidak, maka bisa salah beli alat dan bakal merugikan perusahaan,” ujarnya.

Aplikasikan teori: kunjungan mahasiswa FTO UC ke PT ISM Bogasari Floum mills senagai bentuk pengenalan dunia industry.

Tembus konferensi tingkat Dunia

                Muliasari menambahkan bahwa FTO UC memiliki kedekatan dengan dunia industry. Para pelaku di lini industry kerap datang untuk mengisi kuliah tamu. Selain itu, mahasiswa sering berkungjung ke perusahaan-perusahaan untuk meninjau secara langsung pengolahan yang ada disana. “mereka melihat sendiri seperti apa prosesnya. Mereka juga menanyakan hal-hal dengan detail sebagai bekal tambahan ilmu,” ujarnya.

Kedekatan dengan industry tersebut juga membuat FTO UC tak kesulitan dalam mengajukan kerja sama ke berbagai instansi. Pasalnya, sejak semester awal mahasiswa sudah dibimbing untuk membuat proposal penelitian. Proposal itu nantinya bakal diajukan keberbagai industry atau perusahaan untuk kerja sama mengembangkan produk.

“kami tak pernah kesulitan dalam mencari pihak untuk kerja sama. Bahkan, saat disebutkan produk-produk apa saja yang dibawa mahasiswa, banyak industry atau perusahaan yang tertarik,” imbuh Muliasari. Beberapa produk tersebut diantaranya transparent tea, mi sagu, wine dari nanas, dan sereal kacang hijau. Semua produk tersebut dibuat oleh mahasiswa dan kini tengah dikembangkan untuk kelanjutannya.

Paham masalah, cari solusinya: dalam pembelajaran, mahasiswa FTO UC didukung dengan fasilitas laboratorium dan dosen ahli dibidang teknologi pangan (kiri). Berkat karyanya yang selalu inovatif, mahasiswa FTO UC dapat mengikuti konferensi internasional di Nepal.

                “Kepercayaan dari investor pula yang membuat beberapa mahasiswa bisa terbang ke Nepal untuk tahun ini mengikuti konferensi internasional,” ujar Muliasari. Keempat mahasiswa tersebut adalah Christianus Jodi, Vania aurellia, Natasya Teonata, dan Allison.

Vania menurutkan, banyak hal yang baru yang dia peroleh di FTO UC. Disana, makanan diteliti dengan detail dari berbagai indicator baik rasa, efisiensi harga, hingga kualitas dan pengaruhnya pada kesehatan konsumen. “awal masuk, setelah diberikan teori dasar, kami langsung terjun ke laboratorium. Itu bikin kami makin terbiasa berhadapan langsung dengan problem dan mencari metodenya,” ujarnya.

Pernyataan tersebut didukung oleh Jodi. Menurutnya, system pembelajaran disana mengharuskan mahasiswa untuk selalu berpikir logis dan kritis. Hal itu juag menjadi pembeda dengan Universitas lainnya. “kami harus langsung praktik dan mencari sendii teorinya lewat analisis yang kami dapat,” ungkapnya.

 

Sumber: Jawa Pos. 4 Mei 2019

Karung Goni Beraksi. Surya. 15 Mei 2019.Hal. 4. Yelinda Kusuma Rahardjo_FDB

Karung Goni Beraksi

Sampah bagi banyak orang, bisa jadi merupakan berkah bagi sebagian orang. Di pasar tradisional, karung goni sangat diperlukan. Setelah barang dikeluarkan, biasanya goni teronggok begitu saja.

 

GONI tidak lagi bermanfaat selain sebagai karung. Biasanya karung goni ditumpuk begitu saja sampai berjamur. Tumpukan goni menjadi masalah tersendiri. Ketika menyaksikan tumpukan goni. Yelinda Kusuma Rahardjo seperti menemukan harta karun berupa ide. Ia membayangkan karung itu harus bisa diolah menjadi benda yang bermanfaat.

Yelin yang mahasiswa semester 8 Program Pendidikan Fashion Design dan Business Universitas Ciputra Surabaya, menciptakan modestwear atau busana muslim dengan konsep Modestwear Eco Friendly. Yelin mengatakan dalam konsep busana itu, ia memadukan polyester dan kain goni bekas sebagai variasinya. Ia menggunakan kain polyester berkualitas premium dari PT. Gestex, sementara kain goninya ia dapatkan dari Pasar Ngemplak Tulungagung.

“Inspirasi awalnya saya dapat dari melihat tumpukan kain goni tidak terpakai di warung kopi depan rumah saya di Tulungagung. Saya lihat pola kain ini lucu mirip dengan rajutan. Kalau diaplikasikan ke sepatu atau tas kan sudah biasa ya. Nah, ini saya coba mengaplikasikan di baju,” jelas Yelin akhir pekan lalu.

Kain-kain goninya dikumpulkan dari beberapa pedagang dari pasar itu. Untuk menjaga kualitas dan agar kain goninya bersih dari kuman. Yelin turun tangan mengolahnya sendiri sebelum siap dijahit.

Diceritakannya dalam memproses kain goninya ia membuat beberapa tahan. Yang pertama ia lakukan adalah melepas jahitan dari sisi kain goni, sehingga bentuknya yang semula karung berubah menjadi lembaran.

Setelah berbentuk lembaran kain-kain itu dicelupkan ke air bersih berulang-ulang, ia terus akan mencelupkan ke dalam air sampai airnya tidak lagi keruh. Proses awal itu cukup mengursa energi.

“Kalau nggak salah airnya diganti sebanyak 12 kali. Pokoknya saya baru berhenti jika goni itu sudah tidak meninggalkan jejak keruh di air,” jelas perempuan asal Tulungagung itu.

Selanjutnya, kain-kain goni yang sudah dicelup air bersih direndam dalam baik cairan alkohol. Proses ini, menurut Yelin berfungsi untuk membunuh bakteri yang ada pada kain itu.

“Setelah kainnya dipastikan bersih, baru saya buatkan pola,” imbuhnya.

Ia belajar dari proses itu. Dibutukan waktu dan energi cukup untuk menjadikan karung goni yang bertumpuk di pasar menjadi bagian dari fashion yang dipamerkan di mal Surabaya. Yelin memahami tingkat kesulitan yang tinggi itu, tetapi ia juga tidak ingin meloncati proses awal itu karena itu menjadi dasar bagi kenyamanan desain buasana yang ia rancang.

Menurut Yoanita Tahalcie, dosen Fashion Design and Business Universitas Ci[utra, yang dilakukan Yelin adalah karya client project dari mahasiswa semester 4. “Kami berusaha mengangkat masalah sosial dan lingkungan untuk karya desain mahasiswa,” jelas Yoanita.

Konsep busana yang dinama Think Globally, Art Locally itu disebut Yelin terdiri dari 10 look dengan koleksi atasan, outer, dan bawahan dengan model celana panjang. Ia menambahkan ornament goni yang membuat busana rancangannya berbeda.

“Desainnya saya buat lebih ke gaya casual girly. Itu bisa dilihat dari adanya detail-detail bunga dari semua tema koleksi ini.” paparnya yang mengaku juga suka tampil girly.

Ia mengatakan, pemakainnya tidak perlu khawatir gatal saat mengenakan koleksi modestwear berbahan goni miliknya. Ia melapisi bagian bawahnya dengan polyster atau furing supaya pemakaiannya lebih nyaman (hefty’s suud)

 

 

Double Look dengan Sistem Pasang-Lepas

YELINDA Kusuma Rahardjo menyebutkan  ada 10 look dengan jenis busana atasan, bawahan, dan outer. Kain polyster dipakainya sebagai bahan dasar busana, sementara kain goni dipakainya sebagai variasi yang membuat busananya tampak unik.

Salah satu contohnya adalah outer hitam dengan variasi kain goni dari dada sampai lengan baju atasan. Pada goni di bagian dada. Yelin memasangkan detail bunga-bunga timbul yang juga dibuat dari kain goni.

Selain itu, ada juga celana panjang yang bagian atasnya terbuat dari bahan polyester, sementara bagian bawah kakinya dari betis sampai mata kakinya diberi bahan kain goni.

Namun , seolah tak ingin memaksa pengguna busananya mengenakan kain goni. Yelin membuat sistem lepas pasang dengan bantuan zipper dan strap button.

“Ini detail atau variasi kain goninya bisa dilepas pasang. Jadi orang yang memakainya bisa double look. Kalau sedang nggak mau pakai goni bisa dilepas dan tampilannya pun tetap unik,” ujar Yelin.

Tetap berpegang pada detail. Ia membuat strap button untuk menempelkan kain goni disusun dengan pola tertent. Ada yang berbentuk garis bunga dan lingkaran. Jadi apabila kain goni dilepas, busananya akan tampak lebih polos dengan detail bintik-bintik yang dihasilkan dari adanya strap button itu,

Ia berpikir tentang penampilan, kenyamanan, sekaligus memudahkan perawatan busana. Selain berfungsi supaya busana rancangannya dapat disesuaikan dengan selera pemakai, sistem kepas pasang itu juga berfungsi untuk memudahkan pencucian.

“Kalau bisa dilepas pasang. Jadi nanti busana yang berbahan polyester dan variasi goninya bisa dicuci terpisah ini supaya goninya nggak cepat rusak juga,” tuturnya.

Bahan goninya yang menjadi variasi busananya itu, cukup dicuci dengan cara direndam alkohol. Bahan itu tidak disarankannya untuk dimasukkan mesin cuci, apalagi disikat. Kain goni emiliki karakter yang mirip dengan kain rajut wol. Bedanya goni merupakan rajutan dari akar tanaman. Maka dari itu, cara merawatnya pun sama.

“Kalau rajut wol disikat kan nanti mbrodol (terurai rajutannya). Goni pun sama, kalau disikat ya dia sangat mungkin terurai lalu rusak,” ujar Yelin. (hef)

 

Sumber: Surya, Rabu, 15 Mei 2019

Memperkuat Museum Menjadi Destinasi Menjanjikan.Venue. Mei 2019. Hal. 40,41

Sejak tahun 1977, setiap tanggal 18 Mei dirayakan sebagai International Museum Day (IMD) 2019. Tahun ini, tema peringatan IMD 2019 adalah “Museum as Cultural Hubs,  The future of tradition”, sedangkan tema IMD tahun-tahun sebelumnya antara lain, “Museum and Memory” serta “Museum for Social Harmony”.

Dalam kalender event IMD 2010 misalnya, Indonesia tercatat dalam pemuseuman global yang diorganisir oleh House of Sampoerna di Surabaya. Karena itu perhelatan IMD yang dipelopori oleh International Council of Museums itu memiliki arti penting bagi permuseuman di Indonesia, yang juga memperkuat industri pariwisata.

International Council of Museum mendefinisikan museum sebagai institusi permanen, nirlaba, melayani kebutuhan publik, dengan sifat terbuka, dengan cara melakukan usaha pengoleksian, mengonservasi, menset, mengomunikasikan, dan memamerkan benda nyata kepada masyarakat untuk kebutuhan studi dan kesenangan. Karena itu, museum sebagai destinasi wisata memiliki tujuan berganda, selain untuk bersenang-senang juga untuk belajar.

Bukti bahwa eksitensi museum di Tanah Air memiliki kompleksitas persoalan dapat dijumpai pada pencurian koleksi museum. Beberapa tahun lalu, koleksi museum Sonobudaya di Yogyakarta dicuri meraibkan 17 jenis koleksi perhiasan dan benda bersejarah warisan Kerajaan Mataram Hindu (abad 8-10), seperti patung emas, topeng emas, liontin, kalung, dan berbagai jenis perhiasan. Jumlah koleksi yang hilang sebanyak 87 buah, salah satunya topeng emas hadiah upacara persembahan Raja Majapahit Hayam Wuruk kepada neneknya Ratu Gayatri.

Sebagai destinasi wisata yang secara khusus menyajikan koleksi produk kebudayaan di Tanah Air, eksistensi museum di negeri ini tidak dapat diremehkan. Namun, museum kita seakan terhimpit berbagai persoalan yang menyesakkan Ardiwidjaya (2008) mengklasifikasikan permasalahan yang dihadapi museum di Tanah Air pada dua ranah : internal dan eksternal.

Dalam persoalan internal, terdapat kompleksitas fungsi museum yang tidak diimbangi profesionalitas SDM, belum mengoptimalkan pemanfaatan teknologi informasi, peragaan koleksi museum tidak ditata secara modern, belum berkembang sebagai tempat yang nyaman dan menyenangkan bagi masyarakat rendahnya krativitas program dan aktivitas museum, kurang memadainya data dan informasi terkait dengan koleksi, dan belum diintegrasikannya museum dalam sistem pendidikan nasional kita. Kini, semakin kompleks problematika internal museum juga terkait keamanan dan asuransi koleksi museum bahkan komitmen pendiri dan keluarga pendiri pada museum yang didirikan oleh perorangan.

GCG

Di sinilah kita melihat pentingnya penerapan prinsip-prinsip profesionalitas dalam pengelolaan museum. Meski bukan berarti organisasi bisnis pada umumnya, namun museum sebagai destinasi wisata perlu menerapkan good corporate governance (GCG). Sesuai rumusan Organization for Economic Coorperation and Development (OECD) yang dikenal dengan The Seven Principles of Public Life. GCG diterapkan dengan cara tidak mementingkan diri sendiri, integritas, obyektivitas, keterbukaan, kejujuran, kepemimpinan, dan akuntanbilitas (Indrajit, 2003:291). Secara umum, istilah GCG merupakan sistem pengendalian dan pengaturan perusahaan yang dapat dilihat dari mekanisme hubungan antara berbagai pihak yang mengurus perusahaan (hard definition), maupun ditinjau dari “nilai-nilai” yang terkandung dari mekanisme pengelolaan itu sendiri (soft definition), seperti komitmen, aturan main, serta praktik penyelenggaraan bisnis secara sehat dan beretika.

Mengapa GCG penting bagi museum, sementara museum pada intinya bukan suatu lembaga yang berorientasi pada keuntungan? Memerhatikan karakteristik koleksi museum pada umumnya, dipastikan terdapat originalitas, kelangkaan, dan latar belakang waktu koleksi museum yang terhitung lama. Dampaknya, koleksi museum dipastikan memiliki nilai ekonomis (nilai jual), yang sangat tinggi. Karena itu, disadari atau tidak, museum menjadi instansi yang “diincar” oleh kelompok tertentu. Bagi sebagian besar warga Indonesia, koleksi museum dianggap remeh, tak lebih dari kumpulan barang-barang kuno, namun justru “diincar” oleh segelintir orang dan oknum tertentu yang paham betul nilai dan manfaat material yang terkandung dalam koleksi museum.

Semakin kuno dan langka koleksi museum maka dipastikan semakin tinggi harga jual barang tersebut. Jelaslah, secara kasat mata koleksi museum tematik yang didirikan oleh seseorang memiliki keterancaman dari pengalihfunsian, komersialisasi atau motif lain yang membuat kepemilikan berpindah tangan integritas, obyektivitas, keterbukaan, kejujuran, kepemimpinan, dan akuntanbilitas para pengelola museum dan pihak-pihak terkait menjadi kunci penetapan GCG di museum. Mari dikelola secara profesional museum-museum di Indonesia, agar menjadi perantara kebudayaan dan masa depan tradisi bangsa. Selarut Hari Museum Sedunia 2019.

Pariwisata Indonesia Go Digital. Bali Post. 8 Mei 2019.Hal.6

Menteri Pariwisata Arief Yahya menegaskan pangsa pasar travel agency online meningkat hingga Rp 3 triliun pada 2015 dan diproyeksikan tumbuh 28 persen menjadi Rp 10 triliun pada tahun 2020. Teknologi digital pada pariwisata digunakan untuk memudahkan wisatawan dalam melakukan seamless customer experience dalam mencari (look), memesan (book), dan membayar (pay) layanan wisata. Dengan ini, muncul tren sharing economy di sektor pariwisata (Kompas.com, 31/07/2018). Bahkan, lanjut Menpar, bisnis berbagi ini sangat berdampak pada pariwisata, dari sisi informasi 90 persen, akomodasi 89 persen, dan transportasi 88 persen. Hal ini tentu sangat penting untuk pariwisata Indonesia yang tumbuh 22 persen pertumbuhan wisatawan, tiga kali lebih tinggi dari pasar regional dan global.

Pernyataan tersebut merupakan salah satu dari tiga program prioritas Kemempar yang diimplementasikan sejak 2017 yakni digital tourism, homestay (pondok wisata) dan konektivitas udara. Menpar menegaskan untuk meningkatkan kunjungan wisman secara signifikan, digital tourism menjadi strategi yang harus dilakukan untuk merebut pasar global khususnya pada 12 pasar fokus yang tersebar di 26 negara.

Program digital tourism beberapa tahun lalu dimulai dengan meluncurkan ITX (Indonesia Tourism Exchange) yang merupakan digital market place platform dalam ekosistem pariwisata atau pasar digital yang mempertemukan buyers dan  sellers di mana nantinya semua travel agent, akomodasi, atraksi dikumpulkan untuk dapat bertransaksi. Menpar menyatakan program itu sudah operasional 100% pada triwulan II/2017 dan semua industri pariwisata sudah go digital (kemenpar.go.id).

Selain itu juga telah diluncurkan War Room M-17 di Gedung Sapta Pesona, kantor Kemenpar sebagai pusat pemantauan berbasis teknologi digital. Dalam ruang War Room M-17 terdapat 16 layar LED touch screen untuk memantau 4 aktivitas utama yakni: pergerakan angka-angka pemasaran mancanegara dan pemasaran nusantara, tampilan big data berisi keluhan, kritik, saran, dan semua testimoni baik negatif maupun positif. Pusat intelijen ini menampilkan pergerakan wisman dan winus secara real time update termasuk data strategi untu menghadapi kompetitor yakni: Malaysia sebagai common enemy dan Thailand sebagai musuh profesional bagi pariwisata Indonesia. Selain itu, ditampilkan pula indikator positif-negatif mengacu pada Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI) World Economic Forum (WEF) sebagai standar global.

Nuansa digitalisasi industri pariwisata, utamanya kinerja pemasaran, semakin masif di kepemimpinan Menpar Arief Yahya. Berbagai kegiatan seperti mobile apps, digital campaign, interactive campaign, viral marketing (facebook, twitter, youtube, blog) semaki terasa denyutnya. Promosi digital mempunyai pengaruh yang kuat serta memiliki jangkauannya luas serta cepat dapat direalisasikan dengan anggaran yang relatif murah. Salah satu buktinya, 70% wisatawan Tiongkok mencari dan mendapatkan informasi mengenai Indonesia dari internet. Persentase tersebut menunjukkan urgensi pemanfaatan TIK dan pengembangan platform digital tourism hub yang semakin masif dalam pengembangan pariwisata di Indonesia.

Platform Digital

Salah satu kelemahan daya saing pariwisata Indonesia di tingkat global adalah buruknya infrastruktur ICT (information and communication technology). Karena itu, platform digital tourism hub perlu dibangun untuk mengintegrasikan seluruh ekosistem stakeholder kepariwisataan Indonesia. Ekosistem itu mencakup objek wisata, hotel, travel agent, airlines dan lainnya.

Kemenpar terus-menerus memperbaiki infrastruktur ICT, di antaranya membangun platform digital tourism hub oleh PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, sebagai perusahaan Badan Usaha Miliki Negara penyedia jaringan dan jasa TIMES (Telecommunication, Information, Media, Edutainment, dan Services). Sebelumnya, dalam rangka pengembangan destinasi pariwisata dan memenuhi kebutuhan wisatawan di era digital. Kemenpar juga bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) menyediakan sarana dan prasarana Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di sejumlah destinasi pariwisata Indonesia. Kerja sama meliputi penyediaan data dan informasi, pendampingan dan pengembangan sumber daya manusia, penyediaan sarana dan prasarana pendukung telekomunikasi, serta pemanfaatan akses informasi oleh masyarakat di kawasan destinasi pariwisata. Tahun 2016, kabarnya ada 16 kawasan strategis pariwisata nasional dan 113 desa yang mendapatkan bantuan TIK. Target ini diharapkan akan terus meningkat sampai akhir 2019.

Destinasi pariwisata yang mendapatkan bantuan sarana dan prasaranan telekomunikasi, salah satunya bandwith berkekuatan 1-2 MB/detik, tidak dipilih secara acak, melainkan harus memenuhi sejumlah persyaratan. Salah satunya daerah tersebut harus dipastikan dapat memanfaatkan sarana dan prasarana TIK, serta tergolong dalam daerah 3T yaitu terdepan, terpencil, dan terbelakang.

Tahun lalu, daya saing pariwisata Indonesia khususnya untuk fasilitas infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi berada di ranking ke-50. Tahun 2019, daya saing pariwisata Indonesia diharapkan berada di ranking ke-30. Salah satu tujuan pengembangan platform digital tourism hub maupun pemerkuatan TIK di 16 kawasan strategis pariwisata nasional dan 113 desa adalah destinasi wisata di Indonesia akan mudah mempromosikan diri dan membuka akses reservasi sesuai dengan kebutuhan. Melalui momentum ini, perludah menyatukan kekuatan salah satu stakeholder penting dalam pariwisata Indonesia yakni kalangan blogger, sebagai ujang tombak promosi pariwisata secara online untuk bersama-sama mempromosikan turisme Indonesia.

Platform digital tourism hub selayaknya mengelola “gerakan kolektif” yang dilakukan kalangan blogger untuk mengarahkan segenap ide dan gagasan untuk mempromosikan kepariwisataan berbagai daerah di Tanah Air. Singkatnya, komunitas blogger perlu semakin diakui eksistensinya sebagai marketer andal dan agresif yang mendongkrak image maupun menggerakkan pergerakan wisatawan di dalam negeri.

Lewat posting narasi cerita, foto maupun video tentang destinasi wisata suatu daerah, jelas membantu mempromosikan kepariwisataan dalam negeri yang sangat mustahil jika mengandalkan tugas dan anggaran promosi hanya dari pemerintah. Lebih-lebih, blogger yang dengan teknik jika mengetahui detail algoritma dunia internet, search engine optimization, misalnya, membuat postingan tentang destinasi wisata di Tanah Air menjulang tinggi (page rank) di antara ratusan bahkan mungkin ribuan blog dan website dengan kata kunci yang sama di seluruh dunia.

Dalam kaitannya dengan kinerja kepariwisataan dalam negeri, yang sekurangnya mengandalkan kinerja utama pada 4 ukuran (devisa, tingkat kunjungan wisatawan, pengeluaran wisatawan, dan lama tinggal), blogger berperan strategis melakukan percepatan pergerakan wisatawan di berbagai penjuru nusantara dan meningkatkan daya tarik kunjungan wisman. Dengan demikian, digitalisasi pariwisata diharapkan akan semakin berjayanya pariwisata Indonesia di kancah global pada tahun 2019 ini. Semoga.

Tren Rangkaian Bunga_Bunga dari Kertas Cantik dan Tahan Lama. Radar Surabaya. 20 Mei 2019.Hal. 3. Rivera. DKV

            MAYJEN SUNGKONO Saling berkirim bunga sudah menjadi gaya hidup saat ini. Tidak hanya kelulusan saja, momen kelahiran, ulang tahun, hari ibu atau hari valentine pun menggunakan bunga sebagai kadonya. Maka tak heran, saat ini kian banyak florist yang ada di Surabaya.

Salah satunya adalah Rivera. Mencoba berbeda dengan florist lain, ia membuka bisnis bunga dari kertas. Bunga dari kertas ia pilih karena lebih tahan lama dari bunga segar. “Kendalanya kalau bunga segar kan cepat layu, kalau ini bisa tahan bertahun-tahun,” ujarnya ditemui di booth-nya, dalam Pameran Tugas Akhir Mahasiswa Jurusan Visual Communication Design (VCD) sekaligus launching bisnis Universitas Ciputra di Ciputra World Surabaya.

Meski terbuat dari kertas, hasil bunga-bunga rangkaiannya tak kalah cantik dengan bunga segar. Ia merangkai kertas warna-warni menyerupai mawar, tulip, peonny hingga matahari.

Perawatannya pun tak neko-neko. Cukup di simpan di tempat kering dan terhindar dari matahari saja bunga ini akan bertahan bertahun-tahun. Tidak perlu ribut menyiram atau mengganti air layaknya bunga segar.

Membuat replika bunga segar dengan bunga dari kertas memang sedikit tricky. Jika tidak pandai memilih bahan, hasil bunganya tidak akan semirip bunga asli. Ia pun beresksperimen dengan berbagai kertas, hingga menemukan kertas crafting impor yang lebih tebal dan tidak begitu kaku, sehingga gampang dibentuk.

Rivera sadar, persaingan bisnis florist di Surabaya sangat ketat. Itulah mengapa, agar tidak ketinggalan, ia selalu meng-upgrade tren yang ada. “Misalnya dari vasnya, sekarang sedang tren ditaruh di round box, atau amplop, saya ikuti juga, pokoknya selalu research agar bisa bersaing,” tukas pemilik online flower shop Aure ini. (is/nur)

Bisnis Hasil Riset. Jawa Pos. 18 Mei 2019.Hal.23. Stefy Fukuhara. Christian Anggrianto. DKV

SURABAYA – Linear Atrium Ciputra World kemarin dipenuhi puluhan stan yang menawarkan produk kecantikan, jasa, maupun food and beverage. Itu adalah hasil riset mahasiswa Universitas Ciputra (UC) untuk menjawab tren sekaligus kebutuhan anak-anak milenial zaman now.

Pop-up Market tersebut total melibatkan 37 mahasiswa semester VII. Mereka tengah menempuh tugas akhir perkuliahan di jurusan visual communication design (VCD). Stevanus Christian Anggrianto selaku kepala prodi menuturkan, pameran tersebut sekaligus media untuk mengubah persepsi masyarakat tentang jurusan desain.

“Mahasiswa jurusan desain itu ending-nya nggak Cuma bikin brosur atau iklan. Nggak juga hanya mendesain di depan komputer, lalu produknya berupa print-print-an. Tapi, mereka juga bisa bikin produk baru, indah, beda, dan menarik,” terangnya.

Sebut saja ide bisnis berlabel Sendwish Packaging yang digagas Natalie Parametha. Dia tidak hanya membantu para pengusaha start-up untuk membuat kemasan yang unik dan ciamik. Tapi, sekaligus mengenalkan cara kerjanya yang berbeda dengan memanfaatkan web. Nanti setiap klien yang ditangani bisa menuangkan ide hingga mengedit packaging product-nya di web tersebut.

Yang juga tidak kalah menarik adalah One Pose Cafe bentukan Stefy Fukuhara. Dia merombak bisnis kafe keluarganya menjadi tempat yang rutin didekorasi dengan tema-tema berbeda setiap tiga bulan. Ada juga mahasiswa yang menawarkan pengharum ruangan homemade. (hay/c6/tia)

Kreasi Produk Desain Komunikasi Visual_ubah Barang Menjadi Bernilai Jual. Radar Surabaya. 18 Mei 2019.Hal.3. Feicia Juliet. Christian Angrianto. DKV

MAYJEND Sungkono – mahasiswa desain komunikasi visual (DKV) hanya pandai mendesain packaging dan brosur. Stereotype menonton terhadap mahasiswa jurusan DKV ini berusaha didobrak oleh mahasiswa tingkat akhir dari Universitas Ciputra (UC) Surabaya yang menggelar pameran produk di Oval Atrium Ciputra World Surabaya, Jumat(17/5)

Menariknya, alih-alih memamerkan packaging atau karya instalasi, mereka memamerkan produk-produk bernilai jual. Barang yang mereka jual pun beragam, ada yang menjual makanan, bunga-bungaan, bahkan produk kecantikan pun tutut dijajakan.

Salah satunya adalah kreasi clay karya Feicia Juliet. Dirinya mendesain clay yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan. Bisa untuk mainan edukatif, hiasan, gantungan kunci dan lain sebagainya. Feicia memanfaatkan ilmu DKV untuk mendesain clay dengan cetakan. Juga dalam pemilihan warna, bentuk dan lain-lain.

“Bagaimana saya membuat suatu bahan menjadi produk bernilai dengan memanfaatkan ilmu DKV, jadi sangat luas sekali,” ujarnya.

Selain clay buatan Feicia, juga ada yang mendesain boks makeup bermagnet yang anti berantakan untuk traveling, lilin aroma terapi, hingga makanan dengan packaging lucu turut dipamerkan.

Kepala Program Studi Visual Communication Design UC Christian Angrianto menjelaskan dengan pameran ini, pihaknya ingin menunjukkan masyarakat bahwa desain, sudah masuk ke segala lini kehidupan masyarakat. Dengan desain juga suatu produk dapat memiliki nilai jual, estetik dan manfaat yang lebih besar.

“Lulusan DKV ada ribuan setiap tahunnya, dan kita tidak bisa hanya menyasar pekerjaan sebagai konsultan saja. Maka kami arahkan dari sudut pandang yang lain, yang memiliki nilai manfaat, dengan produk ini. Di sini mereka belajar entrepreneur, tapi juga maju dari branding-nya,” tukasnya. (is/nur)

Tidak Mengunyah Picu Bau Mulut. Jawa Pos. 13 Mei 2019. Hal.19. drg Edra Brahmantya MM SpKg. Alumnus MM 001

            SURABAYA – Kesadaran untuk menjaga kesehatan dan kebersihan gigi serta mulut selama bulan puasa perlu meningkat dua kali lipat. Sebab, ketika berpuasa, risiko bau mulu juga semakin besar. Saat ditemui di MOOI Dental Center di kawasan Lontar, drg Edra Brahmanya MM SpKG mengungkapkan hal tersebut. Alumnus Spesialis Konservasi Gigi Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Unair itu menjelaskan, meningkatnya risiko tersebut bukan tanpa alasan.

“Risiko bau mulut meningkat ketika puasa karena ada jangka waktu kurang lebih 14 jam tidak mengonsumsi apa pun. Sehingga rongga mulut menjadi lebih asam,” terangnya kemarin. Edra menuturkan, pada hari di luar puasa, konsumsi makanan, terutama sayur dan buah, membantu untuk menjaga keseimbangan air liur.

Terlebih saat mengunyah, self-cleansing atau pembersihan otomatis dari mulut yang menetralkan kadar asam di mulut akan timbul. Saat berpuasa, keasaman di mulut meningkat karena aktivitas mengunyah yang berkurang.

Hal tersebut diakui Edra sebagai salah satu faktor pemicu bau mulut. Untuk menurunkan risiko itu, pasien harus menuntaskan faktor internal dan eksternal dalam diri. “Internal itu faktor bawaan, seperti karang dan gigi berlubang. Kalau eksternal berarti membenahi lifestyle,” ujarnya. Dokter 28 tahun tersebut menambahkan, lifestyle itu merujuk pada kebiasaan menyikat gigi, berkumur, dan membersihkan lidah.

Dia menyebutkan, anatomi lidah memiliki banyak celah yang menjadi tempat tertinggalnya sisa-sisa makanan. Jika itu dibiarkan pada orang yang memiliki struktur anatomi lidah yang cukup dalam, hal tersebut bisa beresiko menjadijamur. “Lidah sama gigi kan bertetangga ya. Jadi, bisa saling menularkan bakteri. Maka sikat, kumur, sama bersihin lidahnya harus benar,” imbuhnya.

Pria yang juga alumnus Magister Manajemen Universitas Ciputra (UC) itu mengungkapkan, menyikat lidah sebaiknya menggunakan alat pembersih khusus. Sebab, pembersihan lidah dengan sikat gigi kerap menimbulkan rasa mual dan muntah. “Apalagi buat yang makan sahurnya pakai petai, jengkol, atau bawang putih yang memicu bau tajam di mulut. Betul-betul dibersihkan. Terus menyikat lidah dan berkumur. Lakukan sebelum imsak dan sebelum tidur malam hari,” papar dia. (hay/c12/tia)

Tas Anyaman dari Pelepah Pisang. Jawa Pos. 12 Mei 2019. Hal.28. Gladys Gunawan.

            SURABAYA – Bagi sebagian orang pelepah pohon pisang sering dianggap sebagai sampah yang tak berguna. Namun, tidak demikian Gladys Gunawan. Dia mengkreasikan pelepah pisang menjadi tas anyaman. “Saya mencoba membuat sampah menjadi ’emas’. Selain itu, menghasilkan karya yang ramah lingkungan,” katanya. Tekstur pelepah pisang yang unik membuat hand bag maupun sling bag tampil menarik.

Perempuan 23 tahun itu menuturkan, untuk menjadi bahan anyaman itu, pelepah pisang harus melalui serangkaian proses panjang. Pelepah pisang yang masih basah dijemur hingga setengah kering. “Lalu, dipilin dan dijemur lagi hingga benar-benar kering,” ungkapnya. Selanjutnya, pelepah pisang yang sudah kering dianyam pada kerangka tas dari rotan. Baru kemudian dilakukan pengecatan dan finishing dengan paint coating.

Kenapa Gladys mengombinasikannya dengan rotan? Sebab, bila murni menggunakan anyaman pelepah pisang, tas tidak bisa berdiri tegak dan kukuh. Mahasiswa semester VIII Universitas Ciputra itu juga memberikan sentuhan modern pada handle-nya. Ada yang terbuat dari besi, rantai, mote, atau bambu dipanaskan.

Dengan kombinasi itu, tas karya Gladys tersebut bisa dipakai untuk sehari-hari atau ke mal. “Saya ingin mematahkan pendapat orang-orang kalau tas anyaman itu hanya cocok untuk ke pantai,” ucapnya. (ika/c20/nor)

Penggunaan bahan dasar Kayu Playwood_Teknik Modular Jadi Tren Baru Fashion Desain Tas. Bhirawa. 14 Mei 2019. Hal. 6. Agnes Olivia Gondoputranto. Grace Monica. INA.FDB

Inovasi di dunia fashion terus berkembang. Tidak hanya dalam penggunaan material, secara teknik dan desain pun juga harus mempunyai value keunikan sendiri untuk menunjukkan identitas desainnya. Hal ini pun yang kemudian mendorong Grace Monica untuk mengembangkan desain tas dengan teknik Modular yang sering diimplementasikan pada disiplin ilmu desain interior. Mahasiswa semester 8 jurusan Fashion Desain dan Bisnis Universitas Ciputra (UC) ini mendesain beberapa tas berbahan kayu (plywood) dengan menggunakan teknik Modular untuk tugas akhirnya (TA).

Diungkapkan Grace, sapaan akrabnya dalam pembuatan desain tas dengan branding Moduler ini, dibuat untuk menjawab permasalahan dari masyarakat luar. Sebab, untuk bidang fashion sendiri menurut dia banyak mengeluarkan limbah yang tidak dapat terurai oleh alam. Maka dari itu, kayu daur ulang jenis plywood jadi pilihan untuk bahan dasar pembuatan tas modular. Teknik modular fashion sendiri sudah diterapkan di beberapa desain. Tapi belum ada yang bisa mengaplikasikan di kayu.

“Di dunia fashion kita jarang dan sangat susah menemukan bahan dasar tas terutama dari kayu. Tidak sedikit yang mengesankan bentuk monoton dan terkesan berat saat penggunaan bahan kayu ini yang para desainer susah untuk mengaplikasikannya,” ungkap dia.

Lebih lanjut, untuk mendapatkan kayu tersebut, Grace memperolehnya dari kayu sisa (limbah red) produksi yang di ambil dari pengrajin. Untuk kemudian di rangkai menggunakan teknik modular. Sementara bentuk tas sendiri, Grace menggunakan model tas berbentuk persegi, segitiga sama kaki dan segi enam untuk model setengah lingkaran. Dalam proses pemotongan ia menggunakan mesin laser cut agar terlihat rapi.

“Saya merancang desainnya agar mudah dan ringan untuk dibawah,” imbuh dia. Kendati menghasilkan karya yang inspiratif dan mengesankan, diakui Grace jika karya nya tersebut butuh pengembangan lebih lanjut dari sistem sambungannya. Sebab, saat ini ia menggunakan model sistem engsel untuk menyatukan masing-masing panel hingga jadi tas. Selain itu juga bisa dikembangkan kembali dengan bahan dari akrilik.

Sementara itu, Dosen pebimbing tugas akhir Fashion Desain dan Bisnis UC Agnes Olivia Gondoputranto menilai, jika karya tas modular yang dibuat Grace merupakan kreasi baru dalam dunia fashion. Pasalnya teknik modular sendiri biasanya digunakan untuk interior. Sehingga dalam penerapan untuk fashion harus dilakukan perhitungan yang mendetail untuk mengunci setiap engsel pada panel yang telah dibentu.

“Kunciannya untuk teknik modular ini belum umum. Jadi memang desainnya harus pintar dan itungannya harus pas. Makanya, kita mengunakan penggabungan beberapa disiplin keilmuan untuk penemuan baru ini di dunia fashion,” tutur dia.

Terlebih, kata dia, Inovasi ke depan ini semakin lama akan semakin susah dan terus berkembang. Jadi pengembangan teknik modular untuk fashion ini akan terus berkembang agar menarik perhatian masyarakat. ina