UC News March 2019

Membangun Reputasi Industri Perhotelan Nasional. Bisnis Indonesia. 14 Maret 2019.Hal.2

Oleh Dewa Gde Satrya, Dosen Hotel & Tourism Business, Fakultas Pariwisata, Universitas Ciputra Surabaya

 

Memasuki 2019, kabar mengejutkan dating dari dunia perhotelan. Pengungkapan dugaan prostitusi di sebuah hotel di Surabaya dan penggerebekan dugaan penggunaan narkoba di sebuah hotel berbintang di Jakarta terjadi di luar kendali manajemen hotel. Di ranah ini, hotel hanyalah penyedia jasa yang melayani kebutuhan akomodasi tamu. Saat ini industry perhotelan kita terus berupaya membangun reputasinya. Banyak aturan yang membuat hotel harus survive, mulai dari sertifikasi profesi sumber daya manusianya hingga sertifikasi usaha sebagai hotel.

Tak hanya itu, hotel-hotel masa kini berlomba-lomba memenuhi kriteria dan pemenuhan standar international Green Hotel yang meliputi tata guna lahan, penggunaan energi, konservasi air, material ramah lingkungan, kualitas udara, tata kelola bangunan (pengelolaan limbah), green purchasing, management hotel, food management dan corporate social responsibility. Bahkan, di beberapa hotel berbintang, Green Hotel yang dimaknai sebagai praktek bisnis perhotelan yang mempedulikan dampak bisnis terhadap lingkungan melalui pengurangan polusi, pengolahan limbah dan penghematan energi menjadi semakin penting diintegrasikan dalam strategi bisnis.

Inovasi produk perhotelan (infrastruktur dan fasilitas) serta layanan yang diberikan hotel yang mengintegrasikan dan menerapkan strategi Green Hotel membangun keunggulan bersaing tersendiri untuk meningkatkan daya tarik pasar (market attractiveness), khususnya tamu-tamu asing, yang dewasa ini kian peka, sensitive, dan mencari hotel-hotel yang berwawasan lingkungan untuk menginap.

Strategis sebagai simbol harga diri bangsa. Di bisnis akomodasi tersebut, bangsa Indonesia ‘menampilkan diri’ dalam pergaulan global. Di Surabaya, Hotel Majapahit (waktu itu Hotel Yamato) menjadi saksi sejarah penyobekan bendera Belanda (merah-putih-biru) menjadi sang saka Merah Putih. Di Jakarta, ada Hotel Indonesia (HI) simbol kebanggaan bangsa. HI dikenal dan dikenang sebagai wadah pendidikan, sebuah ‘Kawah Candradimuka’, tempat para hotelier mendapat gemblengan, pelajaran dan pengetahuan tentang bisnis dan administrasi perhotelan. Oleh karena itu tidak heran bila HI melahirakan hotelier yang Tangguh dan tersebar di seluruh Indonesia hingga mancanegara.

Selain itu HI juga merupakan awal industri perhotelan modern yang bertaraf internasional di Tanah Air. Manajemen awal dipegang oleh Intercontinental Hotels Corporation (IHC), sebuah perusahaan perhotelan yang berkantor di New York, anak perusahaan Pan American Airways (PanAm) yang sering digunakan Bung Karno dalam lawatannya ke luar negeri. Bung Karno-lah yang memiliki gagasan pendirian HI dan hotel berbintang lainnya di negeri ini. Sebut saja Hotel Bali Beach, Ambarukmo Palace Hotel, Samudra Beach Hotel, dan sepuluh hotel nasional yang tersebar di seluruh nusantara sebagai Natour Hotel.

Proyek pembangunan hotel berbintang tak lepas dari strategi Bung Karno membangun citra Indonesia sebagai negara yang baru merdeka. Apalagi Indonesia sudah bergabung dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (Arifin Pasaribu, 2014). Rupanya strategi pembangunan hotel berbintang dengan menggunakan dana pampasan perang Jepang itu merupakan bagian dari strategi pendiri bangsa ini untuk ‘meningkatkan kasta’ bangsa Indonesia dalam pergaulan global.

Sepuluh tahun setelah Indonesia merdeka, dengan tambahan modal akhirnya mampu memiliki hotel berbintang di Jakarta dan Bandung. Penguatan posisi ini diikuti dengan langkah politik yang tergolong fenomenal saat itu ketika Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika. Gelaran akbar ini tercatat sebagai perintis industri MICE (meeting, incentive, conference, exhibition) di Tanah Air.

PROFESIONALITAS

Untuk menjamin keberlanjutan peran mulia hotel bagi peradaban bangsa, profesi hotelier bahkan memiliki standar etika profesi yang tinggi. Logikanya, standar etika dan kinerja yang baik akan memberikan kesan yang mendalam bagi siapapun yang datang atau menginap. Pekerja yang berkarir di hotel harus memiliki kemampuan dasar dan naluri untuk melayani, memberi pengalaman yang berkesan dan menyenangkan kepada para tamu yang sedang bepergian.

Untuk menghadirkan sosok-sosok hotelier semacam itu, dibutuhkan Pendidikan karakter yang bertahap dan rigid, yang tujuannya adalah menghadirkan sosok-sosok yang playan yang profesional. Profesi hotelier bahkan merepresentasikan jati diri sebagai bangsa besar yang ramah dengan bangsa-bangsa lainnya di dunia. Banyak studi yang terkait dengan hospitality di perhotelan menyimpulkan bahwa pelayanan perhotelan yang ditinjau dari kecepatan, ketepatan dan keramahan berdampak signifikan terhadap kepuasan dan permintaan masyarakat atas varian jasa perhotelan.

Di dunia perhotelan, hospitality menemukan ruang implementasi yang riil, yang menurut para ahli diproyeksikan menjadi the biggest industry in the world. Beriringan dengan sektor bisnis kepariwisataan lainnya seperti tour and travel, restoran, spa, airlines dan moda transportasi publik lainnya perhotelan di Indonesia menjadi lokomotif bisnis hospitality di Indonesia.

Umumnya, sense of hospitality (hospitable), mudah diidentifikasi melalui kepemilikan 3B: Brain (kecerdasan), beauty (berpenampilan menarik), dan behavior (berprilaku baik). Tiga elemen penting tersebut semakin menjadi acuan figure sempurna sumber daya manusia yang diidealkan di era kini. Spesifik di dunia perhotelan, figur SDM yang hospitable mutlak harus dimiliki, selain menarik secara penampilan, juga memiliki inner beauty yang di dalamnya terkait dengan integritas, kejujuran, dan karakteristik positif lainnya. Mari kita dukung performa hotel di Indonesia semakin bertumbuh, menikmati kinerja ekstra para hotelier dalam menyajikan layanan prima kepada dunia.

 

Sumber: Bisnis Indonesia, 14 Maret 2019

Banjir dan Kecelakaan di Jalan Tol. Kontan. 9 Maret 2019.Hal.11. I Dewa GS

Oleh Dewa Gde Satrya, Dosen Bisnis Hotel & Wisata Universitas Ciputra, Surabaya

 

Tersambungnya semua daerah di Jawa dalam Jalan Tol Trans Jawa sepanjang lebih dari 1.000 kilometer (km), menyisakan beberapa persoalan yang seharusnya tidak terjadi sebelum proyek strategis itu bergulir. Pertama, ketidaknyamanan di jalan berbayar tersebut karena banjir, seperti yang terlihat pada ruas Jalan Tol Ngawi-Kertosono di Madiun pada Kamis (7/3).

Persoalan kedua, kecelakaan maut yang terjadi di Jalan Tol TransJawa. Setidaknya, terjadi di empat titik yang berbeda. Yakni, di ruas Tol Surabaya-Mojokerto (Sumo) pada akhir September dan awal Oktober 2018. Lalu, dua kecelakaan maut yang baru terjadi Maret 2019. Pada Jumat (1/3), kecelakaan maut di top Madiun KM 604 dan Minggu (3/3) dini hari di ruas Tol Semarang-Batang yang menimpa rombongan Bupati Demak. Pada pesoalan kedua ini patut diberi perhatian.

Sejatinya, hamparan sawah yang memanjakan mata dan jalanan yang mulus di sepanjang Jalan Tol TransJawa, selayaknya menambah kenyamanan di perjalanan. Keselamatan dan kenyamanan berkendara selama perjalanan di jalan tol harus menjadi bagian terpenting dan prioritas untuk semua pihak. Sebab, keganasan hidup di jalanan termasuk jalan tol, juga tergambar dalam data yang pernah dikeluarkan Kementrian Kesehatan (Kemkes) yang menyebutkan, kecelakaan di jalan merupakan masalah kesehatan yang sangat serius di seluruh dunia, termasuk Indonesia (Firman,2008). Fenomena kecelakaan maut kendaraan pribadi di jalan tol menunjukkan, kurangnya rasa bertanggungjawab pengendara ketika melintasi jalan tol.

Hal ini parallel dengan pernyataan Djafairy (2007): kerap kali terjadi kecelakaan lalu lintas di jalanan (selain jalan tol). Sebab, sebagian sopir bus atau angkutan umum belum bisa diajak disiplin karena tidak ada rasa empati dan memiliki persepsi negatif tentang disiplin berlalu lintas. Persepsi negative para sopir bisa terjadi lantaran penegakan hokum dalam berlalu lintas kurang tegas. Pelanggar lalu lintas bisa dengan mudah terlepas dari hukuman yang telah dilakukan, setelah mereka memberikan uang ke penegak hokum.

Mengingat rawannya kecelakaan lalu lintas di jalan tol, perlu ada pemahaman publik akan niali hospitality yang bisa diterapkan sesuai kapasitas dan tanggung jawab masing-masing. Menurut Oxford Advance Learner’s Dictionary (2000), hospitality didefinisikan friendly and generous behavior towards guests: food, drink, or services that are provided by an organization for guests, customer, etc.

Penerapan nilai hospitality

Definisi dan praktik hospitality yang awalnya diperuntukkan bagi dunia perhotelan, kini disadari telah menjadi kebutuhan setiap sector yang bersifat memberikan layanan. Termasuk, pada profesi sopir dan sector transportasi. Nilai hospitality yang perlu diadaptasi para pengendara kendaraan pribadi atau siapapun pengendara yang melintasi dalan tol mengacu pada Parasuraman (1988), yang menjelaskan lima dimensi kualitas jasa yang seluruhnya vital bagi setiap pengendara di jalan bebas hambatan. Sekaligus menunjukkan, tiada profesi yang sepele atau tidak penting di kehidupan ini. Semua karya pelayanan kepada sesame bermakna penting dan mulia.

Pertama, reliability, yaitu kemampuan untuk memberikan pelayanan yang sesuai dengan janji yang ditawarkan.

Kedua, responsiveness, yakni kesiapan pemberi jasa dalam membantu pelanggan dan memberi pelayanan yang cepat dan tanggap. Layanan ini meliputi kesiapan dalam melayani pelanggan, kecepatan dalam menangani transaksi, dan penanganan pelanggan.

Ketiga, assurance, yakni kemampuan pemberi jasa atas pengetahuan terhadap produk secara tepat dan kualitas keramahtamahan. Lalu, perhatian dan kesopanan dalam memberi pelayanan, serta keterampilan dalam memberikan informasi dan lainnya.

Keempat, empathy, yaitu perhatian secara individu yang diberikan pemberi jasa kepada pelanggan. Misalnya, kemudahan untuk menghubungi pemberi jasa atau kemampuan berkomunikasi dengan pelanggan.

Kelima, tangibles, yaitu penampilan fasilitas fisik dari para pemberi jasa.

Melalui penerapan nilai hospitality, diharapkan mampu menekan angka kecelakaan, sabotase, kerawanan di perjalanan, dan hal-hal buruk lainnya yang kerap terjadi selama ini di infrastuktur baru, seperti Jalan Tol TransJawa. Selain itu, juga meningkatkan kapasitas dan kualitas berbagai instrumen terkait di dalamnya. Mulai pengelolaan secara profesional fasilitas rest area, kualitas dan estetika jalan tol (penerangan, penanda, dan pembatas jalan), hingga sumber daya manusia.

Ketidakmampuan mengontrol kendaraan yang dikendarai dalam kecepatan tinggi, mengingatkan kita akan sosok mendiang Heath Ledger, pemeran The Joker (seorang psikopat musuh bebuyutan Batman) dalam film The Dark Night. Ledger mengungkapkan, dirinya adalah seorang agent of chaos yang melakukan kekacauan di sana-sini bukan demu uang atau kekuasaan. Tetapi, karena dia senang melihat kekacauan itu terjadi. Dia merasa senang, manakala banyak orang berkesusahan. Dan karena itu, dia tidak menghendaki aturan kesepakatan publik. Yang terpenting diatas segalanya ialah, kehendaknya untuk menimbulkan penderitaan orang lain.

Mengambil ilustrasi The Joker, maka pribadi yang “kosong”, “tidak matang”, dirundung emosional tinggi, tinggi hati (sombong), ingin diakui (mencari perhatian), semau sendiri, dan lain sejenisnya, berpotensi merugikan dan membahayakan keselamatan orang. Secara empiris kita melihat, dalam setiap aksi mengendarai di jalan tol, maka selalu ada pihak yang ingin mengalahkan. Lantas, manakala orang lain terkalahkan, jiwanya merasa puas. Mungkin, seperti inilah yang dimaksud oleh Heath Ledger sebagai agent of chaos. Oleh karena itu, hal terakhir yang menjadi faktor kunci dari semuanya adalah masyarakat pengguna jalan tol, khususnya sopir. Siapa saja yang melintasi jalan raya, dipastikan memiliki risiko kecelakaan. Itu sebabnya, masyarakat setiap pengguna jalan tol perlu mengedepankan toleransi antarwarga, sesame pengguna jalan berbayar. Sebagus-bagusnya dan selancar-lancarnya jalan tol, jika tidak ada toleransi, maka tetap menjadi masalah.

Toleransi antarsesama pengguna jalan tol adalah pilar utama serta indicator yang penting untuk bisa membangun toleransi hidup Bersama pada setiap dimensi-dimensi yang lain. Inilah kaedah dari hospitality yang selalu mendukung praktik toleransi dan kenyamanan serta keselamatan di jalan tol.

 

Sumber: Kontan, 9 Maret 2019.Hal.11

Yehezkiel Nugraha Ivan Wijaya, Pengidap Disleksia yang Berprestasi_Curahkan Energi untuk Bikin Desain. Jawa Pos. 11 Maret 2019. Hal.21,31

Meraih juara pertama National Competition “Uma Seminyak New Logo and Response” di Bali pada 7 Januari lalu adalah bukti kecemerlangan Yez. Mahasiswa semester VIII Jurusan Interior Architecture Universitas Ciputra itu mengangkat judul Jegeg Bagus, Kipas Jepun untuk desain logo yang diikutkan dalam kompetisi ternama di Bali tersebut. Judul karyanya diambil dari Bahasa Bali. Jegeg berarti cantik. Bagus bermakna ganteng. Kemudian, kipas adalah kipas kayu cendana yang biasanya dijadikan oleh-oleh para pendatang, Jepun adalah bunga yang sering dipakai perempuan Bali sehingga menambah kecantikan pemakainya. Nah, tema karyanya merepresentasikan desain yang mengalahkan puluhan karya hebat lainnya, “Nggak nyanglka bisa jadi juara pertama,” ujar Yez.

Karya Yehezkiel terbilang sederhana. Hanya ada satu perempuan dan laki-laki yang tampak berbaring terpisah sambal mengenakan sarung kuning khas Bali. Mereka mengenakan kopiah dan tampak bunga kamboja di masing-masing telinga dua orang dalam gambar itu. Di dalam frame gambar tersebut ada kipas cendana dan setangkai bunga kamboja setengah mekar. “Kata jurinya, juara karena menggambarkan tradisi Bali secara utuh,” tutur Yez dengan nada terbata-bata. Yang membuat prestasi itu terasa istimewa adalah kekurangan yang dimiliki kreatornya.

Seorang yang mengidap disleksia bisa mengalahkan banyak competitor normal. Itu tentu saja luar biasa. Kerja keras melawan keterbatasan dan persepsi masyarakat yang sering memandang sebelah mata. Sejak kelas 1 SD sempat tidak naik kelas. Merasa rendah diri. Lebih banyak diam. Bahkan, saat Bersama orang tua, dia tetap memilih diam. Orang tuanya sempat pesimistis akan kondisinya. Namun dalam diam, Yez memilih terus belajar membaca meski mengalami keterbatasan. Awalnya, dia sama sekali tidak bisa mengenali tulisan. Bahkan, tulisan tampak berbalik saat dibaca. Dulu, keterbatasannya membuat dia sulit mengeja. Namun, dia terus memaksa diri. Mengenali huruf dan membaca. Kemudian, mendalami passion dalam bidang desain. Prestasinya malah tidak terduga. Bahkan, oleh orang tuanya.

Prestasi itu juga membuat Yenli Suwastini, sang ibu, mengubah pandangan. “Sebenarnya saat mengandung Yez, saya berharap mendapat anak perempuan,” katanya. Saking pingin punya anak perempuan, dia mengaku sempat berdepat dengan dokternya. “Nama yang saya siapkan juga nama perempuan,” kata perempuan 50 tahun tersebut. Yenli mengaku down ketika mengetahui bayinya laki-laki. “karena terlalu kepingin anak perempuan, jadi belum ada nama saat itu,” ceritanya, lantas terisak pelan. Dengan nada sedih, dia mengaku kesal kepada Yez. Apalagi, ternyata dia mempunyai kekurangan.

Namun, melihat tekad dan pencapaian anaknya, pandangan Yenli berubah. Dia yang semula kesal menjadi begitu saying dan bangga pada Yez. Termasuk Eddy Surya Wijaya, suaminya. “Kami jadi begitu memaknai bahwa Yez merupakan anugerah dari Tuhan. Malaikat dalam keluarga. Saya minta ampun. Baik kepada Tuhan maupun kepada Yez karena sempat keliru saat itu,” ucapnya.

Kini, Yenli mendukung sepenuhnya apa yang menjadi keinginan sang anak. “Saya akan berusaha memfasilitasi secara maksimal apapun yang saya bisa lakukan untuk Yez,” katanya. Bahkan, jika memungkinkan dan Yez ingin, dia siap membantu menyekolahkan sang anak hingga ke luar negeri. “Semoga Yez bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang,” harapnya.

 

Sumber: Jawa Pos, 11 Maret 2019.Hal.21,31