UC News 2019 parrent category

Legasi Putra Parigi. Bisnis Indonesia. 8 Desember 2019.Hal. 3

Merintis Bisnis Dari Nol

https://drive.google.com/file/d/1TNsrlP8boKuBTCvbUBfhk_Rx8JaCWq8U/view?usp=sharing

Tokoh Panutan Para Pebisnis

https://drive.google.com/file/d/1R9VpfupxJk4AEwwxPHc2dCaXG1q-U74j/view?usp=sharing

Mengubah Mimpi Menjadi Karya

https://drive.google.com/file/d/1IXI2wJz264NtilEhIm7oUerO9Est5g-T/view?usp=sharing

 

Bergandengan Melanjutkan Peran

https://drive.google.com/file/d/1X_oY0aXiabjkWMa544n5mC1ZYgJ7Fx8s/view?usp=sharing

Meneruskan Karya & Gagasan

https://drive.google.com/file/d/10LRqteuGtru26Khwh-_dLa59NRI9V61R/view?usp=sharing

Wujud NyataKepedulian

https://drive.google.com/file/d/1UfhJhueKC2zrPbuf9JFNlakxtCDp36A4/view?usp=sharing

 

Janji Pada Si Pelukis Rakyat

https://drive.google.com/file/d/1R1Nt1OERQxPUup8AAERKAr8yIrBybUlV/view?usp=sharing

Berjuang Memberdayakan Perupa

https://drive.google.com/file/d/1EStV0Jjrk9bId1rTrMGwbwPcF8b4dOWG/view?usp=sharing

Mengenang Sang Begawan

https://drive.google.com/file/d/1XAblj0CgXK-KCHWQmaKU_2HMMlH5HOKo/view?usp=sharing

Begawan Properti Ciputra Meninggal Dunia. kabar24.bisnis.com

https://kabar24.bisnis.com/read/20191127/15/1174836/begawan-properti-ciputra-meninggal-dunia

Diskusi Sehari Penuh Soal Bahasa Pemrograman Python di Surabaya. Kumparan 29 November 2019

https://kumparan.com/kumparantech/diskusi-sehari-penuh-soal-bahasa-pemrograman-python-di-surabaya-1sLennQunkd

Asmara Ciputra Kepada Seni Rupa. Tempo.2-8 Desember 2019. Hal. 102,103

Pesan Dari Pak Ci_Semua Tantangan Adalah Kesempatan. Jawa Pos. 30 November 2019. Hal. 21

Penghormatan Terakhir Untuk Ciputra_Doa Dan Tabur Bunga Demi Sang Guru Entrepreneur Indonesia. Surya. 30 November 2019. Hal.1,7

Ciputra di Antara Bisnis, Seni, dan Pendidikan_Selalu Semangat Dengar Para Mahasiswa Cerita Rencana Bisnis. Jawa Pos. 30 November 2019.Hal. 1,15

Catatan: YOHANNES SOMAWIHARDJA*

Pak Ci selalu mengingatkan, entrepreneurship tak bergantung pada bakat saja. Bisa diajarkan, bisa dilatih. Pesan penting lainnya, pengusaha harus berempati kepada sesama.

SAYA tak menyangka harus membuka acara ini: doa dan penghormatan terakhir kepada Pak Ci (Ciputra). Ini masih pukul 9 pagi (29/11). Tapi, hawa di lapangan kampus rasanya tak sejuk sama sekali.

Dada saya sesak, menyayangkan kepergian penggagas berdirinya Universitas Ciputra (UC) tersebut.

Di hadapan para pengajar, civitas academica, dan alumni, saya harus menyampaikan kesan saya mengenai beliau. Oh Tuhan, seberat ini rupanya mengenang kepergian orang yang semasa hidupnya dikenal sangat baik.

Saya ingat. Dulu, saya hadir dalam peletakan batu pertama kampus ini. Saat itu saya belum menjadi rektor, tapi saya termasuk dalam beberapa orang yang ikut mengawali berdirinya kampus UC. Saat kampus ini masih dalam proses pembangunan, Pak Ci selalu bilang, ’’Saya ingin menyebarkan semangat entrepreneurship. Anak-anak muda harus kita ajari menciptakan peluang.’’

Melihat semangatnya itu, saya yakin kampus UC akan menjadi kampus besar yang menghasilkan banyak entrepreneur baru. Dan, lihatlah, kampus UC sudah semakin besar sekarang.

Kampus ini didirikan Pak Ci dengan pertimbangan yang matang. Namanya saja Universitas Ciputra. Pakai nama Pak Ci himself. Pak Ci ingin melekatkan semangat entrepreneurship di kampus ini dengan menggunakan namanya.

Katanya dulu, kampus ini berbeda dengan UI maupun ITB. UC punya spirit yang berbeda, yaitu ekspresi diri, ekonomi sejahtera, dan empati (3E). Tiga hal itu harus dimiliki seorang entrepreneur. Sebab, dengan mengekspresikan diri melalui entrepreneurship, ekonomi akan sejahtera. Namun, sejahtera saja tak cukup. Harus empati kepada sesama.

Dulu, Pak Ci sering bolak-balik Jakarta–Surabaya untuk memantau perkembangan kampus ini. Pak Ci juga tak canggung ngobrol dengan mahasiswa. Tiap melihat dan mendengar para mahasiswa bercerita tentang kuliah maupun rencana bisnis mereka, Pak Ci semangat sekali.

Dia sama sekali tak memedulikan kondisi tubuhnya yang lemah. Kami sering menawarinya duduk di kursi sambil ngobrol agar tidak capek. Tapi, beliau terkadang lebih nyaman ngobrol sambil berdiri, bahkan jalan-jalan ke sana kemari, keliling kampus. Begitulah Pak Ci. Semangatnya seolah tak terbendung kalau melihat anak-anak muda yang semangat di kampus ini.

***

Sebagaimana ditulis dalam buku Ciputra The Entrepreneur, masa kecil Pak Ci tidaklah mudah. Saat tinggal bersama tante dan sepupunya di Gorontalo, beliau dididik dengan sangat disiplin dan keras.

Pernah juga tidak naik, dari kelas II ke kelas III SD, karena nilai bahasanya jeblok. Gurunya sempat merendahkannya waktu itu. Bahkan, ayahnya sempat menyebutnya seperti kain pel, hanya karena tidak naik kelas.

Namun, karena kelembutan ibu beliau, Pak Ci bisa sukses. Meski tidak naik kelas, ibunda Pak Ci tetap meyakinkan keluarga bahwa Pak Ci sebenarnya anak yang pandai.

Akhirnya, saat SMA, Pak Ci justru jago di bidang matematika hingga akhirnya bisa kuliah di ITB. Beliau juga berprestasi sebagai atlet lari yang ikut PON.

Sampai akhir hayatnya pun, Pak Ci tambah sukses dengan membangun properti dan kampus. Ini yang mengingatkan saya bahwa entrepreneurship itu, kata Pak Ci, bisa diajarkan. Bisa dilatih. Tidak melulu bergantung pada bakat anak.

***

Doa di lapangan kampus sudah selesai. Kini para staf meletakkan bunga di antara lilin-lilin yang disusun berbentuk hati. Ah, melihatnya, saya bisa menangkap rasa kehilangan yang dirasakan para staf dan pengajar di sini.

Bagaimana tidak. Layar display di depan lift di sudut-sudut kampus memajang poster ucapan belasungkawa atas kepergian Pak Ci. Kampus ini memang sedang berduka.

Kesan saya, Pak Ci tidak hanya menebarkan semangat entrepreneurship, tapi juga empati kepada sesama. Saat awal pembangunan kampus ini, Pak Ci pernah mendengar kabar tentang tenaga kerja Indonesia (TKI) yang melarikan diri dan disiksa majikannya. Pak Ci pun bertanya kepada saya ketika itu, ’’Kenapa ya kita tidak bisa menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang kita sendiri?’’

Belum sempat saya jawab, Pak Ci menimpali sendiri, ’’Ini kita harus menciptakan lapangan kerja untuk orang-orang Indonesia.’’

Itulah yang membuat saya juga bersemangat untuk membantu beliau mengajarkan entrepreneurship di kampus ini. Semakin banyak entrepreneur, semakin banyak peluang kerja yang tercipta. Kita tidak perlu mengirim TKI bekerja jauh-jauh ke negeri orang. Kalaupun harus menjadi TKI, kita bisa bekerja dengan lebih terhormat dan tidak direndahkan di negeri orang.

Semoga beliau damai di sana. Saya akan terus mengemban misi yang diajarkannya: menebarkan semangat entrepreneurship kepada anak-anak muda. Saya ingin lebih banyak Pak Ci-Pak Ci yang baru dari kampus ini. Entrepreneur yang tak hanya menciptakan peluang, tapi juga memiliki rasa dan belas kasih terhadap sesama.

*) Rektor Universitas Ciputra

**) Disarikan dari wawancara dan reportase

Sumber: Jawa Pos. 30 November 2019

Ciputra diantara Bisnis, Seni, Pendidikan_Warna Hendra Gunawan Mewarnai Ciputra. Jawa Pos. 29 November 2019.Hal. 1,19

Catatan Leak Kustiyo, Dirut Jawa Pos Koran

 

BEBERAPA kali saya menjadi penyimak ketika Ir Ciputra bertutur. Bukan tentang kesuksesannya dalam membangun bisnis di Ciputra Group, tapi tentang hal lain: lukisan. Tentu lukisan karya Hendra Gunawan. Pelukis yang karya-karyanya sangat mewarnai citarasa Pak Ci hingga begitu tinggi.

Sambil menikmati hidangan makan siang di rumahnya yang asri di seberang hole 1 Bukit Golf Pondok Indah, Jakarta Selatan, Ir Ciputra sangat antusias bertutur tentang banyak hal.

Pembangunan dan pembenahan Kota Jakarta dari waktu ke waktu, politik, hingga situasi ekonomi paling kini. Sambil sesekali bertanya tentang perkembangan media, terutamanya koran, Pak Ci –sapaan akrabnya– menyeruput sup asparagus kesukaannya.

Siang itu, pertengahan 2016, saya dan para pimpinan Jawa Pos Group diundang makan siang. Belum usai menikmati aneka menu yang disediakan, Pak Ci mengajak saya jalan. Menelusuri selasar rumah, taman terbuka samping kanan yang view fairway-nya hijau menghampar. Sebagian genting tertutup tanaman merambat, bunga-bunga putih mekar menggantung. Tiga seniman sibuk menyelesaikan garapan patung di taman bagian belakang.

”Ini berkah keindahan dari Tuhan yang luar biasa. Lama sekali saya menunggu bunga-bunga itu muncul dan mekar,” ucap Pak Ci sambil mengarahkan pandang pada rambatan bunga di atas genting. Kemudian jalan lagi.

Sambil jalan, Pak Ci terus bercerita, tapi sekarang hanya tentang Hendra Gunawan. Kapan perkenalan pertama dengan seniman merakyat itu, ide-idenya, hingga masa-masa Hendra terbaring sakit dan tak punya biaya untuk berobat.

Siang itu adalah kali ketiga saya mendengarkan cerita tentang Hendra Gunawan dari Pak Ci. Saya baru ”ngeh”, penggalan kali itu merupakan lanjutan dari yang pernah diceritakan pada pertemuan-pertemuan sebelumnya. Pak Ci seperti mengurai rekaman semua detail pertemuannya dengan Hendra Gunawan tanpa ada sisi-sisi yang terlupa dari ingatan.

Setiap kali menyebut satu judul –tanpa ada lukisan di depannya– semua objek yang ada di kanvas mampu ia telusuri satu demi satu, seperti diarsir, lalu ditarik benang merahnya: ada filosofi, keinginan, situasi, bahkan guyon apa di balik lukisan itu. Uraiannya sangat ”njlentreh” seolah proses melukis Hendra Gunawan itu sedang dilakukan di depannya.

Saya, yang dalam waktu senggang juga melukis sebagai hobi-hobian saja, mengagumi kuatnya daya serap imajinatif Pak Ci terhadap naluri karya-karya Hendra. Tak hanya cinta dan kekaguman, tapi juga penjiwaan.

Dari 32 karya yang sekarang dipajang di Ciputra Artpreneur, beberapa telah saya dengarkan tafsirnya dari Pak Ci. Setiap kali mengakhiri penjelasan pada satu lukisan, Pak Ci selalu menutup dengan kata-kata: hebat ya…

Respek itulah yang menjadi dorongan Ciputra untuk menjaga semua karya Hendra Gunawan tetap awet, lalu menyimpannya di ruang bertemperatur khusus di Singapura, dalam jangka waktu lama.

Sekarang sebagian besar lukisan sudah dibawa pulang ke tanah air, di-display di Museum Ciputra Artpreneur, kompleks Ciputra World, Jakarta, agar bisa dinikmati masyarakat banyak.

 

 

Tali pertemanan antara Ciputra dan Hendra Gunawan sungguh bak goresan dalam lukisannya: ekspresif penuh kejutan, pilihan warna dan temanya berani, langgeng.

Pada awal 80-an, Pak Ci ke Bali untuk sebuah urusan pekerjaan. Tapi, tiba-tiba muncul rasa kangen dengan sang pelukis, lalu mampirlah ke rumah Hendra Gunawan. Ciputra kaget. Hendra terbaring sakit, sedangkan rumahnya kosong tanpa lukisan. Ternyata, lukisan-lukisan Hendra harus disimpan di sebuah bank sebagai jaminan utang untuk biaya berobat. Oleh Ciputra, utang bank dibayar, semua lukisan pun dikembalikan lagi ke rumah…

Sepeninggal Hendra pada 1983, oleh keluarganya, lantas diserahkanlah lukisan itu ke Ciputra. Selain dianggap yang memiliki karena telah membayar semua pinjaman di bank, juga yang diberi amanah untuk merawat dan menjaga. Setelah dikirim ke Jakarta, seluruh lukisan dipajang di Pasar Seni, Ancol, dengan banderol harga obral dengan maksud cepat terjual.

”Sebanyak itu, bagaimana saya menyimpannya?” kenang Pak Ci.

Berhari-hari dipamerkan, tak satu pun lukisan diminati pembeli. Tak laku sama sekali. Daripada ditumpuk, sebagian lukisan akhirnya dia berikan kepada sahabat-sahabat dekatnya secara cuma-cuma. Misalnya, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, dia beri lukisan yang ukurannya cukup besar untuk dipajang di rumah dinas gubernur DKI Jakarta waktu itu.

Teman dekat lainnya yang dia beri adalah ayahanda Prabowo Subianto, yaitu ekonom Soemitro Djojohadikoesoemo. Yang tersimpan sebagai kenangan Ciputra adalah, saat lukisan Hendra diberikan kepada Soemitro.

”Ini lukisan bagus…,” kata Ciputra sambil menyodorkan kanvas.

”Oh, terima kasih. Taruh situ,” jawab Soemitro sambil menunjuk sebuah sudut di ruang tamu.

Lama tak ketemu Soemitro, Ciputra kembali berkunjung ke rumah sahabatnya itu. Eh, lukisan yang dulu dia bawa ternyata masih teronggok di tempat yang sama. Akhirnya, setelah meminta izin, Ciputra membawa pulang lagi lukisan itu daripada terbengkalai.

Kini karya-karya Hendra Gunawan telah berubah dari harga ”diobral tak laku” jadi puluhan miliar rupiah untuk satu lukisannya di balai lelang internasional. Tapi, Ciputra tetap lebih tertarik untuk menyerap nilai empatik dan ekspresif sebagai warna diri hingga akhir hayatnya. Dua hal yang kemudian menjadi nilai dasar ajarannya: entrepreneur. (*)

Sumber: Jawa Pos. 29 November 2019