Merobohkan Kekerasan di Tribun Stadion. Kontan. 27 September 2018.Hal. 23

Oleh Jony Eko Yulianto (Dosen Psikologi Sosial Universitas Ciputra Surabaya)

Seorang suporter Persija Jakarta tewas karena dianiaya sekelompok oknum suporter Bobotoh Persib bandung. Sebagian masyarakat menyayangkan. Sepakbola sebagai olahraga dengan daya tarik terbesar di Indonesia seharusnya mempu menjadi sumber hiburan dan sportivitas.

Ironisnya, sebagian lain menganggap tragedi ini adalah wajar, dengna dalih rivalitas klasik antar suporter semestinya dimaklumi sebagaimana juga terjadi di berbagai belahan dunia. Bagaikan Barcelona dan Real Madrid di Spanyol atau Celtic dan Rangers di Skotlandia.

Meskipun menghibur, kita dapat memungkiri bahwa sepakbola juga mengandung ultra fanatisme yang menjadi akar dari segala kekerasan. Mari kita menengok ke dalam stadion. Kita akan dengan mudah menemukan kultur kekerasan di sana. Kita akan mendengar yel-yel serta chant penuh teror terhadap pendukung kelompok suporter yang lain.

Di sudut-sudut kota, kita melihat lukisan mural berisi hinaan. Di media sosial, kita menemukan puluhan meme yang kasar. Di depan stadion, kita melihat t-shirt maupun syal yang berisi makian terhadap kelompok suporter yang lain. Ada pemakluman terhadap kebencian di sana. Ada normalisasi teror di sana. Ada banal terhadap kekerasan di sana.

Ironisnya, kita membarkan, kita yang selama ini sedemikian marah dengan isu fasisme yang datang dan mengancam identitas nasional. Kita yang kerap sedemikian sensitif dengan isu kekerasan atas nama agama dan ideologi. Tetapi kini, kita diam saja saat kekerasan itu merebak memenuhi tribun penonton.

Kita menutup telinga ketika kereta dari Surabaya mendapat lemparan batu saar melaju menuju Malang dan sebaliknya. Kita seolah tidak tahu dengan sweeping dan perusakan kendaraan tiap kali suporter Jakarta dan Bandung saling datang berkunjung.

Memahami fanatisme

Mengapa seseorang dapat menjadi sangat fanatik dengan sebuah klub sepakbola? Mengapa para fans dapat menggelontorkan sedemikian banyak biaya untuk membeli tiket terusan dan membeli jersey serta aksesori klub kesayangan setiap musim? Mengapa mereka dapat sedemikian marah ketika klub kesayangan mereka dihina?

Apa yang membuat emosi mereka dapat sedemikian mudah tersulut ketika ada suporter dari klub sepakbola lain menghina? Dalam ilmu psikologi sosial, semua pertanyaan di atas termasuk dalam kajian tentang fanatisme dan dapat dijelaskan dengan teori identitas sosial

Teori identitas sosial menjelaskan bahwa pada dasarnya, menusia memiliki kebutuhan untuk mempertahankan harga diri positif. Dengan memiliki harga diri positif, seseorang merasa bahwa dirinya atraktif, kompeten dan disukai oleh banyak orang. Klub sepakbola adalah salah satu medium yang dapat digunakan untuk membuat seseorang meningkatkan harga diri individu, yakni dengan cara mengaku sebagai bagian darinya.

Dengan membuat klaim, seseorang menjadi suporter dari sebuah klub sepakbola, maka ia sedang membuat asosiasi dan afiliasi dengan klub tersebut. Jadi, seolah-olah klub tersebut adalah bagian dari dirinya.

Rasa bahwa kita adalah bagian dari klub inilah yang membuat kita rela untuk membeli jersey, datang ke stadion manapun tempat tim kesayangan sedang berlaga, mengenali semua pemain dan kehidupan probadinya, bahkan ikut menganalisis statistik individu tiap pemain yang diturunkan dalam sebuah pertandingan.

Ketika tim sedang bermain baik, maka harga diri individu terkoneksi dengan harga diri tim. Suporter turut merasakan euforia kemenangan seolah mereka sendiri yang turun berlaga dalam pertandingan tersebut. Inilah yang Profesor Hendry Tajfel, penemu teori identitas sosial, katakan sebagai in-group favoritism.

Namun sebaliknya, ketika tim sepakbola sedang mengalami kekalahan, suporter fanatik akan tetap melihat, tim sepakbolanya adalah yang terbaik. Atribusi kekalahan akan diarahkan kepada hal-hal eksternal. Misalnya, apakah karena tim lawan yang bermain kasar, wasit berat sebelah, panitia pertandingan yang tidak profesional, dan berbagai alasan lainnya.

Sangat jarang ditemukan bahwa suporter akan menyalahkan timnya bermain buruk setelah mengalami kekalahan. Kondisi psokologis inilah yang memicu terjadinya permusuhan antarsuporter. Terlebih ketika kedia tim memiliki status sebagai sama-sama tim besar seperti Persija Jakarta dan Persib Bandung.

Semua diskusi ini memantik beberapa pertanyaan besar untuk kita renungkan. Apakah mungkin kita dapat merobohkan kultur kekerasan apda suporter sepakbola kita? Mungkinkah kita dapat mengembalikan fitrah sepakbola sebagai sebuah olahraga teropuler di tanah air tanpa harus ada nyawa yang melayang? Mungkinkah rivalitas antarsuporter dapat di hentikan?

Jika berkaca dari sepakbola Spanyol dan Inggris, seharusnya jawabannya adalah bisa. Tahun 2012, Barcelona dan Real Madrid pernah kompak memakai kaos putih bertulisan “Semoga Cepat Sembuh, Abidal!” sebelum pertandingan dimulai.

Garakan ini adalah bentuk dukungan terhadap Eric Abidal, bek kiri Barcelona yang sedang menjalani operasi transplantasi hati untuk ketiga kalinya. Federasi sepakbola dan seluruh klub di Spanyol bahkan sepakat berdoa bagi Abidal sebelum pertandingan di mulai. Rivalitas mendarah-daging antara Barcelona dan Real Madrid seketika hilang ketika Abidal jatuh kembali di meja operasi.

Pada tahun yang sama, di lanjutan Piala FA, pertandingan Bolton Wanderers versus Tottenham Hotspurs tiba-tiba terhenti karena salah satu pemainnya, Fabrice Muamba, tergeletak koma dalam stadion. Beberapa pemain Spurs bersama dengan pemain Bolton dan staf medis kompak menolong Muamba.

Bolton bahkan mewacanakan untuk keluar dari kompetisi tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada Muamba. Komentar manajer Bolton saat itu barangkali adalah hal yang paling harus kita garis bawahi, “Saat melihat Muamba tergeletak, sepakbola menjadi tidak penting lagi”.

Semua cerita diatas menunjukan persatuan antar-suporter dalam sepakbola dapat diupayakan dengna cara menempatkan nilai-nilai bersama di atas fanatismee kelompok. Narasi tentang rivalitas dalam dunia sepakbola Spanyol dan Inggris di atas berhenti setelah mereka memilih kemanusiaan sebagai sebuah nilai yang jauh lebih penting dari pada fanatisme kelompok.

Kini, pertanyaan mengarah kepada kita. Setelah satu nyawa melayang, beranikah kita berkata, rivalitas dalam sepakbola itu menjadi tidak penting lagi? Atau sebaliknya, kita tetap memilih mengelak, menolak mengakui ini semua, dan memberikan tanggung jawab penuh pada sosok yang selalu kita sebut oknum.

Sumber : Kontan.27-Septemeber-2018.Hal.23

Beri Pelatihan Rutin untuk Warga. Jawa Pos. 27 September 2018.Hal. 28_Yohanes Somawiharja. Rektorat

SIDOARJO – Nuryono, kepala Desa (Kades) Kalisampurno, Tanggulangin, terus mendorong warganya semakin produktif dalam berwirausaha. Yakni, memfasilitasi warganya yang ingin mengikuti pelatihan pembuatan kerajinan berbahan kulit. Mulai dari tas, dompet, sabuk, koper, sepatu, sampai jaket.

“Bahkan, saya siap menampung hasil produksinya. Kami juga membelikan mesin jahit khusus belajar,” kata Nuryono.

Menurut dia, target utama dari pengembangan wirausaha itu adalah para anak muda karang taruna. Dengan demikian, dia berharap sejak muda mereka memiliki skill dalam berusaha. Namun, ibu-ibu maupun bapak tetap boleh bergabung. Bahkan, dari luar desa boleh mengikuti pelatihan. “Saya dibantu karyawan akan memberikan pelatihan sampai bisa. Ada instruktur yang membantu melatih,” ujarnya.

Tidak hanya menjahit, Nuryono pun menfasilitasi pelatihan pengelemannnya hingga cara membuat desain kreatif. “Anak-anak SMK biasanya juga latihan di sini. Kami sediakan waktu tiga bulan untuk belajar. Jika dirasa masih kurang, bisa ikut latihan lagi,” ungkapnya.

Nuryono akan menampung hasil pelatihan tersebut. Barang itu bakal dijual di toko miliknya. Bahkan, jika ingin melamar kerja atau menjadi karyawan usaha kerajinan kulit di tempatnya, dia mempersilahkan. “Untuk pemberdayaan,” katanya.

Tak heran, di salah sati tempat produksi usaha kulit miliknya di RT 16, RW 5, ada seratus karyawan yang dipekerjakan. Dalam sehari, mereka bisa menghasilkan 50-100 produk dari kulit asli. Para pekerja itu rata-rata adalah warga sekitar Desa Kalisampurno, Kedensari, dan Kludan.

Sementara itu, pemetaan dan pendampingan program Desa melangkah 2018 segera berjalan. Kemarin (26/9) tim Jawa Pos melaksanakan penandatanganan MOU (memorandum of under standing) dengan Universitas Ciputra (UC).

Hadir dalam kesempatan itu Rektor UC Ir Yohannes Somawihardja MSc beserta para dekan UC, program Desa melangkah mendapatkan dukungan pemkab. (uzi/c25/hud)

Sumber : Jawa-Pos.27-September-2018.Hal.28

Membangkitkan Pariwisata Lombok-Sumbawa. Bali Post. 12 September 2018. Hal. 4_I Dewa Gde Satrya. IHTB

Oleh Dewa Gde Satrya (Penulis, Dosen Hotel & Tourism Business, Fakultas Pariwisata, Universitas Ciputra Surabaya)

GEMPA di lombok tidak hanya meninggalkan duka lara, tetapi juga harus disiapkan upaya revitalisasi dari sektor pariwisata. Mengingat pembangunan pariwisawa NTB khususnya, telah direncanakan secara matang dan berkelanjutan sejak pemerintahan SBY dan dilanjutkan oleh Jokowi saat ini dalam program “10 Bali Baru”.

Pada 5 Juli 2009, diluncurkan “Visit Lombok Sumbawa 2012” dengan targer menggaet sekitar satu juta wisatawan mancanegara (wisman). Dari segi teknis, terbukti program wisata itu bisa dikatakan sangat terencana dan berhasil. Itu, artinya, pencanangan ini bukan dadakan sebagaimana umumnya atau sering kita perhatikan pada pencanangan tahun kunjungan wisata di Tanah Air.

Secara topografi, provinsi Nusa Tenggara Barat yang memiliki dua pulau (Lombok dan Sumbawa) Memiliki sekurangnya 15 Objek dan Daya Tarik Wisata (ODTW). Diantaranya yang popular adalah pantai senggigi dan Gili Trawangan. Pulau yang biasa di sebut sebagai Pulau Seribu Masjid ini ditengarai semakin banyak mengundang perhatian wisatawan asing khususnya. Kahadiran Lombok-Sumbawa dalam pentas industri dan destinasi wisata di Tanah Air berdampak strategis bagi Indonesia, khususnya dalam persebaran dan pemerataan ODTW unggulan.

Data kunjungan wisman ke NTB pada tahun 2008 mencapai 450 ribu orang, dan tahun 2009 meningkat menjadi 500 ribu orang. Pada tahun 2017, jumlah wisman yang berkunjung ke Lombok naik menjadi 3,5 juta orang. Karena itu, pengemasan dan penjadwalan event wisata regular berperan penting mendongkrak kunjungan wisatawan ke NTB. Misalnya, di event akbar pariwisata, yakni Lombok Sumbawa Pearl Festival 2010 dan Indonesia MICE&Corporate Travel Mart (IMCTM) yang di gelar di The Santosa Villas&Resort Sengigi, Lombok. Di samping itu, perlu strategi marketing yang efektif guna mendongkrak dan melakukan percepatan kemajuan pariwisata Lombok-Sumbawa. Yang tak kalah pentingnya, berlajar dari pengembangan sekor pariwisata daerah lain di Indonesia, Lombok-Sumbawa perlu dikemas dalam suatu city branding dan logo yang iconic NTB, sebut misalnya, mutiara.

 

Marketing 2.0

Dalam konteks pariwisata, marketing 2.0 ini selaras dengan tantangan zaman dan kebutuhan di era digitalisasi. Media promosi pariwisata seperti familiarization trip, road show, iklan, dan regular event perlu diperkuat dengan media atau alat promosi virtual ala marketing 2.0 ini. Dirasakan, targer pasar saat ini lebih efektif untuk didekati secara langsung ketimbang melalui media perantara lain. Falsafah marketing 2.0 ini, lebih memperhatikan relasi langsung dan kedekatan personal atau kamunitas.

Malalui marketing 2.0, dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, semakin mendekatkan pariwisata Lombok-Sumbawa dengna pasar wisatawan mencanegara. Sekadar contoh, pariwisata Surabaya selain mengandalkan webside sparkliksurabaya.com, juga membangun link dengan surabayafood.com dan Surabaya Tourism Mobile Service (STMS) yang bisa di akses di handphone dan blackberry. Jika selama ini beberapa daerah cenderung mengandalkan Tourism Information Center dalam memberikan informasi kepada wisatawan yang berkunjung, melalui STMS langsung memberikan informasi menyeluruh kepada wisatawan.

Pengemasan website promosi pariwisata meniscayakan ketepatsasaran strategi promosi untuk menggarap setiap segmentasi pasar. Dengan kata lain, website promosi pariwisata mengandaikan adanya kedalaman intuisi dan riset tentang ketertarikan, ekspektasi dan perilaku berwisata wisatawan mencanegara di berbagai negara calon Customer.

Pasar Asia misalnya, lebih menyukai shopping dan golf. Wisatawan Eropa lebih ke arah heritage dan art. Merki juga diakui tidak semua diberlakukan seperti demikian. Namun peling tidak website promosi pariwisata wajib men-display berbagai ketertarikan dan atraksi wisata untuk menjaring berbagai segmen pasar wisatawan mancanegara. Pengemasan website jelas-jelas tidak lagi dalam dua bahasa: Indonesia dan Inggris. Tetapi semakin meluas menjadi bahasa Jepang, Korea, Mandarin, Jerman dan Belanda.

Pada akhirnya, marketing 2.0 ini juga bergantung pada eksistensi nyata pelaku-pelaku wisata di Tanah Air. Sinergi pemerintah dan stakeholder pariwisata terkait diperlukan untuk memperkuat digitalisasi pemasaran ini. Bagi Lombok-Sumbawa, website pariwisata semakin penting untuk membangun citra dan mempermudah sekaligus memberikan benefit yang optimal kepada wisatawan. Dengan kata lain, marketing 2.0 untuk pariwisata Lombok-Sumbawa membutuhkan sinergi yang erat dengan birokrasi pemerintahan terkait (pusat dan daerah), dan semua lini stakeholder kepariwisataan terkait (airlines, perhotelan, agen perjalanan wisata, restoran dan pengelola objek wisata). Ada optimisme sekaligus harapan yang besar bagi pembangunan kepariwisataan Lombok-Sumbawa.

 

Sumber : Bali-Post.12-September-2018.Hal.4

Menyelamatkan Rupiah Lewat Wisata Lokal. Kontan. 6 September 2018.Hal. 23_I Dewa Gde Satrya.IHTB

Oleh Dewa Gde Satrya (Dosen Bisnis Hotel dan Wisata Fakultas Pariwisata Universitas Ciputra Surabaya)

 

Pelemahan nilai rupiah atas dollar Amerika Serikat (AS) pada hari selasa (4/9) mencapai Rp 14.897, membutuhkan perubahan signifikan pola berwisata warga Indonesia. Ada 6,2 juta orang indonesia yang melancong ke luar negeri pada tahun 2010, melonjak drastis pada tahun 2016 menjadi 8,4 juta orang dan 9,1 juta orang pada tahun 2017 lalu. Tujuan perubahan pola berwisata ke lokal untuk menghemat devisa dollar AS.

Di sisi lain, momentum ini menjadi dara tarik tersendiri bagi wisatawan manca negara untuk datang ke sini. Kunjungan turis asing year on year pada Juni lalu melonjak 15,21% dari 1,14 juta kunjungan menjadi 1,32 juta. Jika dilihat month to month, ada lonjakan sebesar 6,07% pada semester I tahun ini di bandingkan semester I tahun lalu.

Melihat hal tersebut ada ungkapan dari Albert Einstein yang relevan untuk digemakan di benak wisatawan domestik: imagination is more important than knowledge. Banyak warga negara yang memimpikan melakukan perjalanan wisata menyusuri berbagai belahan dunia, dari negara ke negara lain, dari suatu benua ke yang lain. Tak ayal, mimpi dan imajinasi petualangan ke seluruh Nusantara juga seharusnya tersimpan dan menyeruak ke berbagai batin anak bangsa yang saat ini dibutuhkan untuk memperkuat niai rupiah.

Menjaga keberlanjutan mimpi berpetualang ke banyak daerah di negeri yang kaya ini menjadi perjuangan dan obsesi tersendiri. Lebih-lebih ketika perjalanan berpetualang ke negara-negara lain (Asia khususnya) semakin menawarkan kemudahan, ada daya tarik dan tentu saja efisiensi biaya. Dengan modal Rp 2 juta misalnya, sudah dapat berkeliling ke tempat wisata pilihan di Thailand, Singapura atau Malaysia.

Kesemarakan liburan Lebaran lalu misalnya, menyisakan suatu pesan. Seandainya biaya perjalanan (transportasi) dalam negeri murah, niscaya semakin banyak perjalanan wisata domestik ke berbagai tempat di tanah ait. Namun, ambisi meningkatkan perjalanan dan pengeluaran wisatawan domestik kerap kali dihadang dengan berbagai kesulitan di sektor transportasi. Baik dari segi harga, aksesbilitas, kelayakan modal transportasi, serta keamanan dan kenyamanan selama di perjalanan tersebut.

Program mendorong perjalanan wisata di dalam negeri pernah diupayakan pada masa kepemimpinan sebelumnya. Dirjen pengembangan Destinasi Wisata, Kementerian Pariwisata saat itu, Firmansyah menyatakan, karena pola liburan masih terfokus pada destinasi Bali, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, maka perlu mengembangkan pola penyebaran wisatawan ke destinasi lain di luar tempat favorit tersebut.

Pemerintah sendiri tengah mengembangkan patron perjalanan atau travel pattern sebagai dasar pembuatan paket wisata, mendorong agar wisatawan memiliki alternatif tujuan wisata lain yang baru. Di antaranya, akan mengembangkan 10 destinasi wisata alternatif untuk melengkapi destinasi favorit yang banyak diminati masyarakat saat ini, yakni Jakarta, Yogyakarta, dan Bali serta Bandung, Surakrta, Surabaya, Medan, Batam, Padang&Bukittinggi, Makassar dan Manado. Di samping itu, pengembangan destinasi wisata minat khusus dilakukan menggunakan pndekatan pada market attractiveeness dan pushing product (Budpar.go.id). kini, program tersebut bertransformasi menjadi 10 Bali Baru.

Pertanyaan tersebut eksplisit menunjukan adanya kepekaan sekaligus dorongan kebijakan di pihak pemerintah guna mengatasi hal klasik yang bisa disetarakan sebagai suatu persoalan. Mengapa demikian? Kita melihat, jika ditelaah lebih dalam, kekuatan ekonomi turis lokal selain tersebar di kantong-kantong wisata mainstream Tanah Air, sebetulnya lebih banyak ongkos yg di keluarkan untuk perjalanan wisata ke luar negeri.

Pemikat awal dari semua itu adalah sensasi dan gengsi berwisata ke luar negeri. Pendorongnya adalah kemudahan dan biaya murah dalam merencanakan perjalanan wisata.

Non Bali dan Jawa

Air Asia misalnya, maskapai penerbangan yang berbasis di Malaysia itu meluncurkan airasiago.com. poertal tersebut tidak hanya menjual tiket secara online, melainkan juga pemesanan hotel dan beragam event kegiatan secara mudah.

Ilustrasinya, satu koper besar digunakan untuk berbagai kepentingan. Mulai tiket pesawat, hotel, pemesanan taksi, hingga peket tur serta liburan lainnya, bahkan, dengan mengkombinasikan berbagai pembelian – tiket pesawat, hotel, paket perjalanan wisata, dan sebagainya – harganya lebih murah antara 20-30% dibandingkan pemesanan terpisah. Situs seperti itu kini mulai bertambah banyak yang menawarkan ragam layanan wisata.

Ini menjadi tantangan bagi setiap pihak terkait kepariwisataan untuk mendongkrak perjalanan wisatawan domestik ke berbagai tempat-tempat wisata di Indonesia. Khususnya adalah daerah-daerah wisata eksotis yang ada di luar Jawa dan Bali.

Program pengembangan destinasi yang berfokus pada pushing product misalnya, akan meliputi sejumlah daya tarik seperti Tanjung Lesung (Banten), Raja Ampat (Papua Barat), Weh-Sabang (Naggroe Aceh Darussalam), Togean-Tomini (Sulawesi Tenggara), Wakatobi (Sulawesi Utara), Banda (Maluku), Tanjung Putting (Kalimantan Tengah) dan Derawan (Kalimantan Timur).

Sedangkan pengembangan destinasi dengan fokus pada market attractiveness di 14 provinsi antara lain Bromo-Tengger-Semeru (Jawa Timur), Danau Batur (Bali), Toba-Nias (Sumatra Utara), Komodo-Kelimutu (Nusa Tenggara Timur) serta kepulauan Seribu-Kota tua (DKI Jakarta).

Mimpi melakukan perjalanan wisata ke seluruh Tanah Air kini menjadi impian mulia yang setara dengan cita-cita profesi mulia di masa kanak-kanak semoga semakin banyak anak bagsa yang menyatukan mimpi terkait hal ini. Dan semakin banyak pula instansi kepariwisataan di elemen pemerintahan dan swasta yang mampu melakukan terobosan demi terciptanya mimpi perjalanan wisata yang murah dan menyenangkan di seluruh Nusantara. Dengna demikian, perjalanan wisata di dalam negeri akan menghemat devisa negara, membantu memulihkan nilai rupiah.

Sumber : Kontan.6-September-2018.Hal.23

Hasil Praktik Kopi Jadi Charity. Jawa Pos. 4 September 2018. Hal. 23_Moses Soediro dosen Culinary Business.

SURABAYA – setiap praktik bikin kopi untuk mata kuliah beverage art, mahasiswa jurusan Culinary Business Universitas Ciputra kemarin (3/9) punya aneka jenis seduhan yang berlebih. Mulai Americano, coffee latte, cappuccino, long black, dan espresso. Daripada dibuang, mereka mengubahnya jadi uang. Bukan untuk mereka melainkan dikirim buat para korban gempa di Lombok.

“Sebenarnya kita tidak membatasi. Yang tidak mau berdonasi juga masih bisa menikmati kopi ini dengan gratis,” jelas Moses Soediro, dosen jurusan tersebut.

Bersenjata dua mesin kopi, mereka menghasilkan ratusan gelas untuk teman-temannya yang berkumpul di area corepreneur. “Kita belum manasin mesin udah banyak yang datang,” papar Armrlia Regina Tanaya, salah seorang mahasiswa yang bertugas.

Moses menambahkan, pada minggu lalu kloter pertama Cup for lombok bisa menghabiskan sekitar 700 cup dengan 6 kilogram kopi per dua hari. “Donasi yang terkumpul pun luar biasa. Bisa sampai Rp 6 juta,” jelasnya.

Acara itu pada minggu pertama diselenggarakan pada 27-28 Agustus dan minggu kedua pada 3-4 September. “Jadi, belajar dari minggu lalu dengan banyaknya antusiasme teman-teman, kini tiap hari kita sediakan 400 cup,” tambah Moses. (ama/c15/any)

Sumber : Jawa-Pos.4-September-2018.Hal.23