Dokter di Pusaran BPJS Kesehatan. Jawa Pos.25 Oktober 2018.Hal.4. Hudi Winarso_Dokter Fakultas Kedokteran

Refleksi Hari Dokter Nasional

Oleh Hudi Winarso

*) Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra

 

BISA dikatakan bahwa saat ini adalah era Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. BPJS kesehatan merupakan badan hukum publik yang bertanggung jawab langsung kepada presiden. Ia bertugas untuk menyelenggarakan jaminan kesehatan nasional bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sejak beroperasi 1 Januari 2015, artinya sudah hampir lima tahun masih banyak masalah yang sulit diurai terkait BPJS Kesehatan.

Peraturan direktur jaminan pelayanan kesehatan yang diimplementasikan pada Juli 2018 mengatur penatalaksanaan layanan katarak, bayi lahir sehat, dan pelayanan rehabilitasi medik. Hal-hal itu mendapat banyak protes dari organisasi profesi kesehatan.

Lebih lanjut, sistem rujukan online berjenjang yang diberlakukan mulai Agustus 2018 menyebabkan masyarakat tidak bisa memilih rujukan terdekat dengan tempat tinggalnya. Dengan pemberlakuan sistem itu, rumah sakit kelas B dan A mengalami penurunan kunjungan pasien 30-50 persen. Kondisi itu bisa mengakibatkan pemutusan hubungan kerja pada sebagian karyawan rumah sakit, khususnya yang bukan tenaga tetap.

Di era BPJS saat ini, tidak mudah bagi dokter untuk memberikan layanan yang optimal karena banyaknya pembatasan dalam pelayanan. Pada sisi yang lain, dokter harus tetap profesional dalam pelayanan kepada pasien. Menurut undang-undang rumah sakit, dokter yang memberikan pelayanan substandar bisa dipermasalahkan.

 

Jiwa Pengabdian

Di tengah-tengah regulasi yang kurang berpihak kepada dokter yang notaben sekolahnya lama, biaya kuliah mahal banyak aturan yang kurang berpihak kepada dokter dalam menjalankan profesi. Namun, jiwa pengabdian dokter tidak pernah luntur.

 

Di era BPJS saat ini, tidak mudah bagi dokter untuk memberikan layanan yang optimal karena banyaknya pembatasan dalam pelayanan

Bencana gempa bumi Lombok hingga tsunami Palu membuktikan bahwa para dokter dan petugas kesehatan melaksanakan pengabdian yang luar biasa. Banyaknya korban patah tulang direspons Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi Indonesia (PABOI) dengan menugaskan para dokter bedah tulang ke daerah bencana secara bergelombang dan terprogram. Bahkan, hampir semua organisasi profesi dokter terlibat, baik yang dikelola IDI ataupun dari lembaga tempat dokter bekerja.

 

Fakta, Harapan, dan Solusi

Rekayasa BPJS Kesehatan sampai saat ini belum menghasilkan solusi yang tuntas. Secara finansial, kondisi keuangan BPJS Kesehatan minus. Secara operasional, rumah sakit ikut terganggu karena kewajiban utang BPJS Kesehatan tidak dibayar pada waktunya. Rumah sakit tidak bisa beli obat kepada farmasi karena utang obat belum lunas terbayar. Bahkan, jumlahnya cukup besar.

Masyarakat juga dirugikan karena seringnya regulasi BPJS yang berubah. Perubahan tempat layanan berdampak pada data medis yang tidak serta-merta bisa didapat di tempat layanan yang baru. Para dokter spesialis, yang banyak di rumah sakit kelas B dan kelas A, berpotensi menganggur. Khususnya jika di wilayah terkait, banyak rumah sakit kelas C yang gemuk :kelas C tetapi memiliki dokter spesialis yang relatif banyak dan lengkap.

Ada wacana rumah sakit turun kelas. Yakni, dari kelas B menjadi kelas C agar jumlah kunjungan banyak. Namun, itu pun tidak menyelesaikan masalah. Sebab, jada medik pada kelas yang lebih rendah akan lebih rendah pula nominalnya.

Harapannya adalah neraca keuangan BPJS harus membaik agar semua pemangku kepentingan tidak dirugikan. Masyarakat mendapat layanan kesehatan yang semestinya, tenaga medis mendapat penghargaan yang baik, dan sarana kesehatan mendapat haknya secara memadai. Hal tersebut bisa dicapai jika semua phak terkait bisa duduk bersama dan menghilangkan ego masing-masing.

BPJS harus mengupayakan pembiayaan yang bisa diefisienkan jika bisa. Jika gaji karyawan relatif besar, itu perlu ditinjau kembali. Pemegang regulasi harus berani membuat kebijakan yang bahkan tidak populer dengna menghitung ulang besaran iuran peserta BPJS. Jika perlu, menaikkan besaran iuran kalau hitungan unit cost tidak sesuai.

Kata “jaminan sosial” dalam BPJS harus dimaknai bahwa pemerintah bertanggung jawab mendukung sampai keseimbangan keuangan menjadi baik.

BPJS kesehatan juga perlu berdiskusi dengan organisasi profesi dan akademis agar penentuan kebijakan bisa sinkron dengan standar pelayanan yang sudah ditetapkan.

Untuk para mahasiswa kedokteran yang sedang berproses menjadi dokter, tetaplah semangat untuk menjadi dokter profesional. Semangat pengebdian dokter untuk bisa menolong sesama dengan keilmuan yang terbaik harus tetap utama, (*)

 

Sumber : Jawa-Pos.25-Oktober-2018.Hal.4

Tim UC kembali Turun ke Desa. Jawa Pos. 25 Oktober 2018.Hal.32

SIDOARJO – Tim Universitas Ciputra (UC) melanjutkan kunjungan ke desa-desa peserta program Desa Melangkah 2018. Kemarin (24/10) dua desa yang mereka kunjungi adalah Desa Tambak Sumur dan Bungurasih, Kecamatan Waru. Kunjungan lanjutan tersebut merupakan bagian dari upaya pemetakan potensi desa sekaligus sebagai dasar pendampingan.

Menurut Baswara Yua Kristama, staf Research & Community Development UC, wilayah Kecamatan Waru sangat unik. Dua desa yang telah dikunjung, misalnya. Keduanya memiliki potensi berbeda. Di Tambak Sumur, mayoritas penduduknya tinggal di perumahan, sedangkan Bungurasih memiliki potensi lantaran dekat Terminal Purabaya.

Nah, dua desa itu mempunyai strategi berbeda untuk memanfaatkan potensi tersebut. Dia mencontohkan, Tambak Sumur memilih memaksimalkan layanan publik. Saat ini desa itu masih memiliki cikal BUMDes untuk Payment Online. “Tapi bisa ditingkatkan mungkin dengan sentra untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari warganya, mirip toko ritel online yang dapat diakses warganya,” ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, Tambak Sumur juga ingin membangun wisata sentra pemancingan di sekitar Kali Buntung. Fungsinya sebagai hiburan warga sekitar sekaligus meningkatkan pendapatan agar muncul lapangan pekerjaan baru. Isu wisata tersebut juga digaungkan untuk meningkatkan kepedulian warga terhadap lingkungan.

Adapun Bungurasih potensinya tidak kalah banyak. Salah satu yang menonjol adalah persewaan gedung serbaguna desa. Sudah banyak yang memanfaatkannya, baik sekolah untuk acar wisuda maupun untuk pernikahan.

“Pendampingan dari UC bisa mengenai pengelolaan manajemen sentra wisata pemancingan dan manajemen pengelolaan gedung,” ungkap Baswara. Bisa juga berupa pendampingan karang taruna tentang entrepreneurship bidang pengelolaan wisata dan pengelolaan acara. (uzi/c22/hud)

Sumber : Jawa-Pos.25-Oktober-2018.Hal.32

Moses Soediro, Dosen Culinary Business Pecinta Kopi. Jawa Pos. 20 Oktober 2018.Hal.7

DUNIA Moses Soediro seakan ditakdirkan tidak jauh-jauh dari memasak. Keluarganya punya bisnis kuliner turun-menurun. “Papa punya rumah makan sendiri sejak akhir 1990-an. Kakak ketiga saya juga bisnis kuliner,” kenang dosen Culinary Business Universitas Ciputra itu. Melihat koki meracik bumbu dan memasak bukan hal aneh buatnya.

Jalur kuliner pun dia tempuh ketika kuliah. “Terpaksa sebenarnya. Saya kuliah di Manajemen Perhotelan Universitas Kristen Petra karena biayanya lebih terjangkau,” ucapnya.

Awalnya, bungsu di antara empat bersaudara itu jemawa. Dia merasa, materi kuliahnya tidak jauh beda dari apa yang dia amati sejak kecil. Nyatanya meleset. “Nilai saya ada yang C+,” ungkap Moses, lantas tertawa.

Hal itu jadi lecutan buatnya. Passion di dunia masak perlahan tumbuh. Saat bagana, Moses memilih Belanda. “Saya pegang dapur, teman saya di bar. Nah, pas main di tempat teman, kenal kopi,” papar suami Ong Yuliana itu.

Moses langsung banting setir. Dia mendalami dunia kopi secara otodidak. Panduannya, mesin pencari Google dan kelas-kelas kopi yang diadakan komunitas.

“Belajar kopi itu enggak mudah. Di awal, saya merasa lidah saya bodoh,” kata ayah satu anak tersebut. Yang terlintas Cuma rasa asam dan pahit kopi. Aromanya pun Cuma satu: wangi kopi.

Dia belum bisa membedakan after taste, rasa dan aroma yang tercecap setelah kopi diminum. Moses baru benar-benar bisa “mendedah” aroma dan rasa minuman yang identik dengan rasa pahit itu pada 2008. “Lagi-lagi, karena diajak. Saya diajak saudara nyicip kopi,” katanya.

Moses menilai, agar rasa kopi benar-benar menjejak, kopi harus dihirup perlahan. Tidak bisa langsung ditenggak bak air putih.

Buat dia, dunia kopi adalah dunia yang penuh warna. Meski, sama-sama berasal dari bijian yang disangrai, rasa dan aroma bisa berbeda. Asal menentukan rasa, teknik menyeduh pun ikut berpengaruh.” Kita manasin air buat kopi kurang panas aja, rasanya beda. Kopi belum matang, jadi kembung,” ucap Moses.

Sebegitu cintanya, stok kopi alumnus Christelijke Hogeschool Nederland (CHN, kini Stenden University, Red) itu ada di mana-mana. Di kantor, di lab kopi, hingga rumah. Lengkap dari bijian, penggiling kopi mini, sampai alat seduhnya.

Moses menyatakan, dirinya tidak terlalu rewel tentang pilihan kopi yang harus diseduh. Selama bukan kopi instan, apalagi yang ditambah dairy creamer, pasti dia minum.

Kini Moses tidak sendiri menikmati kopinya. Dia melatih putranya Darren Jonathan Soediro ikut cinta kopi. Meski baru berusia 19 bulan, Darren sudah suka kopi. Tanpa gula, tanpa susu. Khusus si kecil, dia membuat seduhan paling light. Dimulai dari sesendok teh, kini putranya bisa menikmati kopi. Bahkan, Moses menilai, berpotensi jadi saingannya.

“Kalau dengar saya nggiling kopi, pasti noleh. Jadi, kalau minum, saya harus sembunyi-bunyi,” papanya. Soalnya, Darren bisa mengambil jata kopinya. Moses menyatakan, kopi buat si kecil tidak diberikan terlampau sering. Cukup sekali seminggu. “Bagus buat pembuluh darah. Bisa mencegah step juga,” imbuh Moses.

Moses membatasi konsumsi si hitam, tidak peduli betapa sukanya dia dengna kopi. “Kalau pakai takaran espresso, paling pol 3-4 cangkir. Kalau kebanyakan, nanti ketergantungan,” tegasnya. Dan, dia tidak mau jadi ketergantungan. (fam/c25/jan)

Sumber : Jawa-Pos.20-Oktober-2018.Hal.7

Lewat CCHS Universitas Ciputra Surabaya, Mahasiswa Bisa Pamerkan & Buat Karya hingga Gelar Festival

Baca Klik Disini

Center for Creative Heritage Studies di Universitas Ciputra, Kenalkan Warisan Budaya pada Mahasiswa

Baca Klik Disini

UC Resmikan CCHS, Dekatkan Mahasiswa dengan Budaya dan Kekayaan Bangsa

Berita Klik Disini

suarasurabaya.net| Universitas Ciputra (UC), Senin (15/10/2018) resmikan Pusat Kajian Warisan Budaya Kreatif atau Center for Creative Herritage Studies (CCHS). Sebuah lembaga yang memberikan kesempatan masyarakat, generasi muda dan mahasiswa mengenali dan mencintai kemudian ikut menjaga kekayaan warisan budaya bangsa.

 

 

 

 

Sempat kesulitan. Surya.19 Oktober 2018. Hal.9.12. Amadea Sani Wiguna_IBM RC

Universitas Ciputra identik dengan edukasi kewirausahaan, dan sudah diterapkan pada mahasiswa sejak semester awal.

Karena inilah bisnis mahasiswa bermunculan. Bahkan berkembang dengan produksi skala besar. Seperti dilakukan Amadea Sani Wiguna (20). Mahasiswa International Business Management UC yang mengembangkan produk cardholder.

Produk ini, ia pasarkan melalui Instagram @triangle.leatherworks bersama dua temannya di semester dua. “Awalnya, mau bikin makanan, tapi kelompok saya anak kos semua dan kos di sini nggak boleh buat masak untuk usaha,” ujar gadis kelahiran Purwokerto, 7 November 1998 ini.

Akhirnya, Amadea dan teman-temannya memutuskan membuat produk yang diminati. Pilihannya pada dompet penyimpan kartu atau cardholder.

 

Sempat…

“Saya sendiri sering mengalami kalau bawa tas kecil uang sama kartu harus diplastikin karena dompet nggak muat,” ungkap gadis berambut panjang ini.

Meski sudah memiliki ide dan desain, Dea, sapaan akrabnya, sempat kesulitan karena harus membayar uang muka ke salah satu pabraik. Sayangnya, pabrik itu tidak bisa membuat produk sesuai desain yang diinginkan kelompok Dea.

“Terus awal desain ya asal karena nggak ada background desain atau fashion sama sekali,” ujarnya.

Pesanan mulai berdatangan dan proses produksi 50 hinggal 100 produk. Desainnya juga beragam tak hanya cardholder.

“Sekarang sudah jalan sustain mulai tambah macam-macam produk hingga tas slimwallet,” ujarnya.

Kesibukannya berbisnis, memaksa Dea harus mengatur jadwal kuliah dan berorganisasi mahasiswa yang diikutinya. Sehingga ia memutuskan berhenti mengikuti organisasi mahasiswa dan fokus pada produksi usahanya.

“Kebetulan juga gudangnya di kos saya, jadi lebih gampang mengontrolnya,” pungkas Dea. (ovi)

 

Sumber : Surya.19-Oktober-2018.Hal.9.12

Tim UC Mulai Mapping Potensi di Setiap Desa. Jawa Pos. 17 Oktober 2018. Hal.29. Research and Community Development

SIDOARJO – Tim dari Universitas Ciputra (UC) Mulai turun ke desa-desa peserta program Desa Melangkah 2018. Kemarin (16/10) tim dari kampus ternama di Surabaya itu untuk kali pertama mengunjungi tiga desa. Yakni, Desa Grogol dan Kebaron, Kecamatan Tulangan, serta Desa Tembak Sumur, Kecamatan Waru.

Program Desa Melangkah tahun ini memang asil kolaborasi antara Jawa Pos, Pemkab Sidoarjo, dan UC. Nah, kunjunga UC kemarin bertujuan untuk memetakan potensi desa setempat. Juga, sebagai langkah awal sebelum tim dari UC melakukan pendampingan desa ke depan.

Tim UC keli pertama mengunjungi Desa Kebaron dan disambut dengan hangat oleh Kepala Desa (Kades) Kebaron Mansur. Pada kesempatan itu, Mansur menyampaikan ada banyak potensi di desanya. Salah satu yang ikonik dan butuh pendampingan dadlah wisata petik jambu. Lokasinya di RT 2, RW 2.

Saat ini lebih dari seribu pohon jambu ditanam di Kebaron. Sudah banyak yang dateng ke kampungnya. Bahkan mereka Bukan hanya di Sidoarjo, melainkan juga luar kota. Meski begitu, kawasan tersebut masih perlu terus dikembangkan. “Ini bukan hanya wisata petik jambu, ada wisata outbound, tangkap ikan, dan kuliner juga,” jelas Mansur.

Nah, untuk memaksimalkan potensi tersebut, tim dari Ciputra melakukan Observasi. Selanjutnya, menentukan langkah-langkah untuk pengembangan potensi tersebut. “Wisata ini masih embrio. Kami siap untuk bantu mendampingi dan menumbuhkan lagi,” tutur Baswara Yua Kristama, staf Research & Community Development UC.

Terutama, lanjut dia, seputar tata kelola maupun bentuk-bentuk publikasinya. “Ini bisa jadi potensi pendidikan entrepreneur, sarana peningkatan pendapatan desa juga. Jadi, harus serius digarap,” paparnya.

Sejuumlah saran dan masukan pun muncul untuk mengoptimalkan potensi wisata tersebut.

Diantaranya, lokasi sentra kuliner dan kolam pancing yang perlu diperjelas. Lalu, harus ada spot khusus. Tanaman diperbanyak. Juga, hasil prduksi. Misalnya, olahan dari jambu seperti dodol, es krim, jus, dan olahan lainnya yang baru. Yang tidak kalah penting, rest area untuk pengunjung perlu ditambah.

Karena jalan masuk ke lokasi tidak terlalu lebar, Baswara juga menyarankan untuk menggaet warga agar menyediakan transportasi kecil roda tiga. Tujuannya, mengantar pengunjung yang menggunakan mobil-mobil besar. “Dari kunjugan ini, kami akan menganalisis data dari setiap desa,” paparnya.

Selain itu, tambah Baswara, pihaknya akan melakukan mapping kebutuhan apa untuk pembentukan badan usaha milih desa (BUMDes). Sebab, setiap desa tentu mempunyai potensi yang berbeda. (uzi/c15/hud)

Sumber : Jawa-Pos.17-Oktober-2018.Hal.29