Hubungan Sehat, Masa Depan Cerah. Jawa Pos. 11 November 2018. Hal.23. Psikologi_Euodia Rehuella Kosasih, Kezia Prizatna

UC Rayakan Hari Pahlawan dengan berbagai Pengetahuan

SURABAYA – Euodia Rehuella Kosasih serta Kezia Prizatna lancar dan serius menyampaikan materi kepada para pelajar SMA di ruang psikologi Universitas Ciputra kemarin (10/11). Laiknya para ahli, satu per satu persoalan pacaran yang ditanyakan peserta dijawab dengan disertai analogi yang mudah dipahami. “Hubungan itu ibarat menggenggam sebuah butir telur, tidak bisa terlalu keras karena bisa retak dan bahkan hancur di tangan,” ujar Euodia.

Euodia dan Kezia merupakan dua di antara puluhan mahasiswa UC yang menjadi pemateri. Mereka merayakan Hari Pahlawan dengan berbagai pengetahuan dan saling mengedukasi cara membangun hubungan yang baik dan berkualitas kepada 120 peserta kemarin.

Menurut mereka, pacaran itu tidak untuk saling mengekang satu sama lain. Tidak pula untuk membatasi pasangan. Hubungan dibangun untuk saling memahami dan mengisi kekurangan. “Jangan banyak menuntut, tapi saling menuntut ke tujuan yang dicita-citakan bersama di masa depan,” tagas Kezia menguatkan penyampaian Euodia.

Seminar paralel itu sengaja melibatkan para mahasiswa sebagai pelaku. Selain menyadarkan mereka tentang membangun hubungan yang baik antar sesama, acara tersebut sekaligus melatih mereka agar paham dan peduli pada masalah yang menimpa generasi muda saat ini. “Pacaran salah satunya dan itu sudah banyak yang menghancurkan generasi saat ini,” ujar Prof Jenny Lukito Setiawan, pembimbing para pemateri.

Menurut dia, banyak generasi saar ini yang terjebak dalam hubungan pacaran yang keliru, bahkan tidak masuk akal. Menganggap pacaran hanya status, merasa memiliki pacar yang berlebihan, bahkan terjadi seks bebas. Keadaan tersebut berujung pada masalah berantai berupa kekerasan pacaran maupun pernikahan dini. “Masalah itu berantai dan berakibat pada hubungan setelah menikah. Baik berupa KDRT meupun berceraian,” jelas Jenny.

Atas dasar itu, pihaknya ingin membangun kepekaan naluri mahasiswanya untuk peduli pada masalah yang terjadi di sekitarnya. Merek tidak hanya diajari untuk sadar, tetapi juga diajak agar terpanggil untuk menyelesaikan masalah itu. Nah, bersamaan dengan perayaan Hari Pahlawan, mereka diajak berjuang bersama-sama menyelesaikan masalah tersebut.

“Lewat kegiatan ini, mereka tidak hanya merayakan Hari Pahlawan, tetapi juga dididik untuk berjuang menyelesaikan masalah bangsa seperti yang dilakukan para pahlawan kala itu,” tambahnya.

Dalam kegiatan itu, para peserta juga diberi kesempatan untuk konseling terkait sebuah hubungan. Atas bimbingan Jenny, mereka mendapatkan banyak arahan dan tip cara membangun hubungan yang baik untuk masa depan. “Saya jadi tahu bahwa pacaran itu ternyata bukan sekadar pacaran, melainkan keputusan untuk masa depan,” papar Alvien Ahmad Frazanery, peserta dari Home Schooling Pena. (his/c15/ady)

Sumber : Jawa-Pos.11-November-2018.Hal.23

Racik Bunga Jadi Minuman Kesehatan. Jawa Pos. 12 November 2018. Hal.23. Alumni Mahasiswa International Business Management Universitas Ciputra

Kombinasikan Teh dengan Krisan dan Lavender

SURABAYA – Budaya minum teh mungkin lebih dikenal di Negara Tiongkok, Jepang, ataupun Inggris. Namun, sebagian masyarakat Surabaya juga ada yang membiasakan budaya tersebut. Dia adalah Jene Green Sabeth. Kecintaannya terhadap teh membuat dia penasaran, belajar hingga akhirnya bisa meracik teh sendiri dengan berbagai bahan dari kota-kota di Indonesia. Misalnya, Malang, Jogja, dan Surabaya.

Kemarin (11/11) Jene mengajak gengnya untuk menyeduh teh racikannya di Layer Speech di daerah Raya Darmo Baru. Selain daun teh atau Camellia Sinensis, dia juga memanfaatkan macam-macam bunga. Berjudul afternoon tea, dia menyeduh tiga jenis teh.

“Yang ungu itu blue tea di campur lemon, yang hijau murni blue tea, lalu yang kuning itu krisan,” jelas perempuan kelahitan Jakarta, 6 Januari 1990, tersebut.

Keahliannya meracik teh sendiri bermula dari seringnya dia berkelana, Jene pergi ke banyak kota di negara lain untuk mencoba dan berburu berbagai rasa teh.“Tapi, kalau benar-benar mulai meracik teh sendiri, baru dua bulan terakhir ini,” jelasnya.

Keinginan untuk meracik teh sendiri ternyata menjadi-jadi setelah dia berkunjung ke toko penjual bahan-bahan pembuatan teh di Australia pada tahun lalu. “Terus saya mikir. Kalau ada bahan-bahan gini, kan saya bisa racik teh dengan aroma dan khasiat sesuai keinginan sendiri. Apalagi, di Surabaya ini sulit banger cari kedai teh,” cerita perempuan lulusan International Business Management Universitas Ciputra tersebut.

Teh yang dibuatnya bukan sekedar teh biasa. Tapi ternyata punya manfaat untuk kesehatan dan kecantikan. Misalnya saja yang kuning. Terbuat dari bunga krisan kuning dengan aroma wangi khas bunga krisan, teh itu ternyata bermanfaat mencegah sakit-sakit dalam tubuh.

Sampai saat ini, teh yang berhasil dia racik sendiri ada 12 macam. “Tapi, teh saya lebih ke teh yang aromanya soft dan rasanya manis,” sambungnya. Sebab, tujuannya meracik teh sendiri ternyata adallah membuat minuman kesehatan yang menyegarkan, ringan, dan menyenangkan.

Salain itu, yang sangat dia cari dari teh adalah aromanya. “Jadi memang benar-benar beda sama kopi yang aromanya dan rasanya kuat,” imbuhnya. (ama/c22/any)

Sumber : Jawa-Pos.12-November-2018.Hal.23

Kursi Lucu Untuk Si Kecil. Jawa Pos. 8 November 2018.Hal. 23. Interior Arsitektur_ Aida Firasani, amanda Afryllia Ramdhani, Fadhila Naifah Irbah

SURABAYA – Dua kursi berukuran mungil menarik perhatian. Sebab, sandaran punggungnya memiliki bentuk mirip bagian tubuh hewan. Antara lain, tanduk rusa dan telinga kelinci. Kursi karya Aida Firasani, Amanda Afryllia Ramdhania, dan Fadhila Naifah Irbah itu terlihat lucu dan mewah. Tak mengherankan jika mereke diapresiasi positif ketika memamerkan kursi tersebut di Inacraft Jakarta dan TEI (Trade Expo Indonesia) Tangerang Selatan beberapa waktu lalu.

Tiga perempuan itu adalah Mahasiswi semester V Jurusan Interior Arsitektur Universitas Ciputra. Proyek kursi mereka berawal dari mata kuliah entrepreneurship semester lalu. “Nah, kita maunya bikin yang sampai benar-benar bisa jadi bisnis ke depannya,” jelas Aida yang di dapuk sebagai CEO of Munchkins. Kursi mereka hanya setinggi 50 cm. Namun, karena terbuat dari kayu jati, kursi tersebut bisa menahan beban hingga 100 kilogram.

Mereka mempunyai target market yang jelas. Yakni, mahmud alias mama muda. Tepatnya, perempuan yang batu mempunyai satu anak kecil. Sebab, produk yang mereka hasilkan ditujukan untuk anak-anak. Biasanya, mereka lebih gampang mengeluarkan uang untuk membeli barang-barang lucu demi buah hatinya.

“Tujuan kita memang bukan cuma buat tempat duduk. Kami ingin anak-anak bisa mengenal hewan-hewan lewat bentuk-bentuk dikursi mereka,” sambung Amanda yang bertugas di bagian marketing. Mereka juga menggunakan warna-warna cerah untuk kursi mungil  tersebut. “Kalau dalam ilmu psychology of color yang pernah kita pelajari itu, warna-warna cerah bisa menambah keaktifan anak-anak untuk berkreasi maupun bereaksi,” tutur Aida.

Selain kursi-kursi tersebut, ada satu lagi furnitur yang diluncurkan bersamaa, yaitu, rak buku. Masih tetap mengusung konsep hewan dan warna-warna cerah, rak buku itu berbentuk jerapah dengan warna kuning yang cerah. “Nah, kalau anak-anak itu nanti ambil buku di rak tersebut kan bisa juga sambil sebut-sebut jerapah atau giraffe,” ucap Dhila (ama/c20/any)

Sumber : Jawa-Pos.8-November-2018.Hal.23

Bangun Desa Berbasis Wirausaha Sejalan Program Nawacita. Jawa Pos. 30 Oktober 2018. Hal.28

SIDOARJO – Program Desa Melangkah 2018 kemarin (29/10) resmi di-launching di ballroom The Sun Hotel. Sebanyak 109 desa di Kabupaten Sidoarjo bergabung dalam program kolaborasi Jawa Pos, Pemkab Sidoarjo, dan Universitas Ciputra (UC) Surabaya itu. Selain mendapatkan benefit pendampingan dan pemberdayaan potensi, desa-desa tersebut berkesempatan mendapat penghargaan.

Program Desa Melangkah yang memasuki tahun ketiga itu resmi dibuka Ali Imron, kepala Dinas Perberdayaan Masyarakat Desa, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Keluarga Berencana (PMDP3A KB) Pemkab Sidoarjo. Hadir pula dalam kesempatan tersebut Direktur Pemasaran PT Jawa Pos Koran Ivan Firdaus, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UC Wirawan E.D. Radianto, Kasatbinmas Polresta Sidoarjo Kompol Agus Suwandi, dan beberapa pejabat lain.

Menurut Ali Imron, program Desa Melangkah sejalan dengan salah satu Nawacita Presiden RI Joko Widodo. Yakni, pembangunan diawali dari pinggiran. Melalui program itu, desa akan didorong untuk lebih partisipatif dan aktif dalam meningkatkan perekonomian. Diantaranya, melalui optimalisasi potensi-potensi yang dimiliki. “Dengan demikian, desa lebih mandiri, inovatif, dan kreatif,” katanya.

Ali Imron menyatakan, total di Kabupaten Sidoarjo ada 332 desa dan 32 kelurahan. Nah, kalau ada yang bergabung dalam program Desa Melangkah 109 desa, itu berarti belum mencapai 50 persen. Ke depan, pihaknya berharap desa pesetra harus bertambah.

Wirawan mengaku bangga bisa bergabung dengan program Desa Melangkah. Desa bisa menjadi sumber ide. Kerja sama tentang desa tersebut merupakan yang pertama. Selama ini kota Delta dikenal sebagai kota 1.000 UKM (usaha kecil dan menengah). Nah, potensi itu membuat kampusnya tertarik untuk membantu mengembangkan potensi desa berbasis kewirausahaan. “Banyak oran yang punya usaha. Tapi, jiwa wirausahanya belum ada,” jelasnya.

Sementara itu, Ivan Firdaus menyatakan, fokus program Desa Melangkah ke depan adalah kewirausahaan. Dia berharap dengan sentuhan kewirausahaan tersebut, ada napas baru dalam pembangunan desa. Kesejahteraan masyarakat semakin meningkat seiring infrastruktur yang memadai. “Semoga kerja sama ini terus berlanjut,” ungkapnya.

Selepas Pelaksanaan launching, para peserta mengikuti workshop dengna tema waspada kabar hoax pada era milenial dengan narasumber Redaktur Jawa Pos M.Sholahuddin. (oby/c6/hud)

Sumbernya : Jawa-Pos.30-Oktober-2018.Hal.28

Negara dan Hoax Erdogan. Jawa Pos.29 Oktober 2018. Hal.4. Burhan Bungin_Dekan Fakulas Komunikasi dan Bisnis Media Universitas Ciputra: Guru Besar Bidang Ilmu Sosiologi Komunikasi.

Oleh Burhan Bungin

*)Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi dan Bisnis Media Universitas Ciputra, guru besar bidang ilmu sosiologi komunikasi

 

DALAM konteks sejarah, hoax adalah realitas sosial yang ada sejak manusia ada manusia ada. Bahkan, kisah iblis membohongi Adam dan Hawa maupun cerita-cerita hoax Hawa kepada Adam dalam cerita pohon khuldi di surga memberikan inspirasi dan tercatat di semua agama samawi sebagai hoax terbesar dalam sejarah umat manusia dan sejarah hubungan di antara makhluk-makhluk Tuhan.

Ketika masyarakat aktif menggunakan teknologi komunikasi seperti media sosial, hoax menjadi metode kebohongan yang langsung dikenal karena menunggangi media sosial sebagai medium penyebaran.

Kehadiran media sosial membuat orang dengan mudah menyebarkan hoax dalam skala yang luas setiap hari. Harapannya, hoax menjadi hantu sosial dalam keteraturan manusia. Tujuannya, mengganggu harmoni sosial.

Kelompok penyebar hoax itu menganggap ideologi masyarakat harmoni bukan sesuatu yang ideal. Sebab, menurut mereka, masyarakat akan stagnan dan tidak inovatif. Masyarakat yang selalu bergejolak, pikir mereka, akan mencapai kemajuan yang lebih tinggi.

 

Konstruksi Sosial Hoax

Apa yang dikontruksikan hoax tangisan adalah contoh bagaimana kontruksi sosial hoax itu di bangun oleh pihak tertentu dan dengan cepat sekali memenuhi ruang-ruang komunikasi kita.

Ada dua bentuk konstruksi sosial. Pertama, the social construction of reality, yaitu konstruksi sosial atas realitas yang digagas oleh Luckmann dan Petter L.Berger.

Konstruksi sosial atas realitas itu berproses melalui proses sosial sehari-hari antara guru-murid, orang tua-anak, kakak-adik, pelanggan-penjual, kiai-santri dan seterusnya. Melalui sosialisasi terus-menerus terbangun bangunan-bangunan konstruksi sosial tersebut.

Yang kedua adalah konstruksi sosial media massa. Hal itu lahir setelah masyarakat mengenal media komunikasi massa. Kekuatan media massa dan media sosial mampu menghantarkan kekuatan konstruksi sosial dalam waktu yang pendek, namun memiliki daya sebar yang luas, seluas-luasnya sesuai dengan kemampuan tbaran media massa dan media sosial itu.

Ciri utama konstruksi sosial media.

Tidak ada jaminan orang dalam kelas sosial apa pun akan steril dari pengaruh kekuatan konstruksi sosial hoax

Massa itu memiliki daya sebar yang luas dalam waktu singkat, memiliki kekuatan membangun konstruksi sosial yang kuat. Karena itu, dalam waktu yang singkat dan cepat, kekuatan konstruksi sosialnya mudah hancur bila ada alasan yang rasional mendekontruksi realitas sosial yang telah dikonstruksi sebelumnya, mudah digunakan untuk mengonstruksi realitas hoax yang dapat disalahgunakan oleh orang-orang yang ingin bermanfaatkan “mesin” konstruksi sosial media massa, dan hoax yang diciptakan konstruksi sosial media massa memiliki masa hidup yang pendek bila dibangdingkan dengan konstruksi sosial media massa itu sendiri.

Dalam hoax tangis Erdogan, yang terjadi adalah konstruksi sosial realitas media massa. Ketika suatu pihak memilih menyebarkan informasi bohong pada gambar Erdogan dengan menghapus wajahnya, kemudian hoax itu tersebar di media sosial sebagai berita Erdogan menangis, orang kemudian menghubungkan informasi tersebut dengan citra Erdogan sebagai pemimpin Islam yang baik.

Di masyarakat yang masi belum sadar literasi media, media sosial menjadi medium tumbuh kembangnya hoax secara dinamis dalam spektrum yang luas. Baik untuk menyerang sekelompok orang, lawan politik, maupun menyerang tokoh, agama, kelompok, etnis, serta institusi negara melalui delegitimasi kebenaran dan rekonstruksi kebenaran subjektif.

 

Negara dan Kecerdasan Komunikasi

Hoax tidak terlalu “bermanfaat” untuk masalah-masalah yang berkaitan dengan pribadi yang tidak memiliki akses kepada kekuasaan. Oleh karena itu, hoax selalu berbahaya jika digunakan untuk menyerang penguasa atau orang di sekitarnya.

Negara sesungguhnya lebih mampu dengan sempurna membuat hoax karena negara memiliki semua alat perlengkapan hoax. Bayangkan tatlaka seluruh aparat menggunakan kata “diamankan”. Padahal, kata tersebut justru berarti “tidak selamat”.

Kasus hoax Erdogan menangis, untuk yang kesekian, telah membuka mata kita bahwa media, terutama media sosial, merupakan inkubator hoax terbaik yang dimiliki masyarakat saat ini.

Tidak ada jaminan orang dalam kelas sosial apa pun akan steril dari pengaruh kekuatan konstruksi sosial hoax. Bahkan, negara pun suatu saat akan terkontaminasi dengan hoax manakala orang-orang di sekitar kekuasaan juga sudah terkena pengaruh. Inga kasus Ratna Sarumpaet?

Jadi, kita semua tidak memiliki kekuatan apa-apa melawan hoax kecuali memperkuat diri dengan kecerdasan komunikasi. (*)

 

Sumber : Jawa-Pos.29-Oktober-2018.Hal.4

Mendadak Jadi Pedagang Pisang Goreng. Jawa Pos.28 Oktober 2018. Hal.23

SURABAYA – belajar akutansi yang identik dengan angka dan pembukuan kerap dianggap membosankan. Nah, mahasiswa Program Studi Akutansi Universitas Ciputra (UC) berusaha mematahkan anggapan tersebut. Caranya, dengan membikin kompetisi akutansi yang dikemas dalam bentuk permainan.

Kemarin pagi, halaman UC dipadati peserta acara Run Accounting dan Investment (Raise) 2018. Sekitar 111 tim dari 60 SMA hadir dalam lomba tersebut.

Di babak pertama, seluruh peserta mendadak jadi pedagang pisang goreng. Tidak benar-benar berjualan, mereka berpura-pura jadi pedagang pisang goreng yang harus menghitung modal dan menyiapkan peralatan.

Setiap tim diinstruksikan bergerak secepat-cepatnya untuk mengambil peralatan dan bahan dalam kotak yang sudah disediakan. Lalu, mereka diberi soal tentang akutansi. “Intinya, dalam perlombaan itu, mereka belajar menghitung modal, ongkos produksi, hingga cara pembukuan,” ujar Ketua Raise 2018 Melissa.

Selain game pisang gorang, materi akutansi dikemas dalam bentuk permainan lain seperti bakiak raksasa. Tiga orang yang mengenakan bakiak harus berkoordinasi untuk maju ke tiga meja yang sudah disediakan. Di setiap meja, ada soal yang harus mereka kerjakan. “Pembelajaran akutansi jadi seru dan menyenangkan,” tutur Widiya, peserta dari SMA Wachid Hasyim 5 Surabaya.

Menurut Melissa, kompetisi yang sudah berjalan kali kelima itu bertujuan menunjukan bahwa akutansi tidak sekaku atau serumit yang orang bayangkan. Selain itu, ditunjukkan bahwa akutansi berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Misalnya, game pisang goreng. Agar bisa merencanakan pembuatan pisang goreng dan perhitungan modal hingga hasil penjualannya, peserta diajarkan cara menghitung dari awal modal hingga untung ruginya.

Alferd Ferdinand, siswa kelas XI Perbanan SMK YPPI Surabaya menuturkan, lomba tersebut memberi banyak inspirasi yang tidak dipikirkan sebelumnya. Dengan adanya permainan itu, pembelajaran lebih menarik dan bisa diterima. “Ternyata akutansi erat kaitannya dengna kehidupan sehari-hari,” ucapnya. (his/c20/any)

Sumber : Jawa-Pos.28-Oktober-2018.Hal.23

Empat Mahasiswa Universitas Ciputra Rancang Aplikasi ParkirQ_Dapat Investor Meski Belum Seminggu Diluncurkan. Jawa Pos. 28 Oktober 2018.Hal.21,31

Sistem kerja aplikasi dengan empat fungsi utama itu disesuaikan dengan setting-an spot parkir. Tempat parkir dirancang atau ditata dengan sistem pagar untuk setiap spot. Tiap spot diberi nomor. Nah, diaplikasi, tinggal pilih nomor spot parkir mana saja yang diinginkan. Tentu yang masih kosong. Nomor spot parkir di aplikasi yang bertanda merah berarti sudah dibooking atau diisi orang. Spot yang masih putih atau biru berarti masih kosong. “Tinggal diklik nomor spot parkir yang masih kosong untuk booking atau reservasi,” ujar Rakha.

Hal itu sama dengan ketika memesan tiket bioskop melalui aplikasi online. Tinggal melihat kursi yang kosong, klik, dan reservasi selesai.

Aplikasi tersebut diluncurkan pada 22 Oktober 2018. Vendor pertamanya adalah Universitas Ciputra. Aplikasi itu sudah diuji coba pada 25 Oktober 2018. Karena masih percobaan pertama, spot parkir tidak menggunakan sistem pagar dan hanya satu petugas yang menjaganya. “Namun, sudah banyak yang merasa terbantu,” ujar Erlita, public relation Universitas Ciputra.

Meski aplikasi itu baru seminggu diluncurkan, sudah ada investor yang tertarik menanamkan modalnya. Salah satunya, Angel Investor yang menginvestasikan Rp 1,5 miliar. “Alhamdulillah dapat kepercayaan,” ujar Isabel.

Salain mempersiapkan kerja sama dengan vendor di Balikpapan dan Pekanbaru, mereka menyempurnakan aplikasi. Penyempurnaan meliputi rancangan hardware yang bisa digunakan untuk palang pintu parkir otomatis. Nanti tidak dibutuhkan pegawai lagi. Masyarakat juga tidak takut kehilangan kendaraan karena palang parkir bekerja otomatis berdasar sistem verifikasi dalam aplikasi.

Adhim mengatakan, dirinya dan tiga temannya sudah menyurvei 500 orang untuk menanyakan soal parkir. Ternyata, 95 persen reponden menyatakan bahwa parkir menjadi masalah. “Semoga aplikasi ini bisa berkembang dan makin banyak tempat yang berkolaborasi dengan kami,” terangnya. (*/c7/ano)

Sumber : Jawa-Pos.28-Oktober-2018.Hal.21,32

Belajar dengan Bazar. Jawa Pos.26 Oktober 2018. Hal.23

KEMARIN makasiswa semester V dari berbagai fakultas di Universitas Ciputra melangsungkan bazar kreatif di kampus. Tujuan utama memang mengumpulkan dana untuk project career expo pada November 2018. Namun, acara corporate entrepreneurship guild itu juga membuat mereka mempraktikkan ilmu yang diperoleh. Mulai negoisasi dengan vendor hingga belajar membangun hubungan baik dalam bisnis bersama pihak lain. (his/c10/any)

Sumber : Jawa-Pos.26-Oktober-2018.Hal.23