Biasakan Jalani Usaha Naik Turun_Kampus Gembleng Jiwa Wirausaha Sejak Awal Kuliah. Surya. 22 Januari 2018.Hal.9,12. Trianggoro Wiradinata_Dekan Fakultas Entrepreneurship Dan Humaniora

Surabaya, Surya – Mata kuliah Kewirausaan kini sudah masuk dalam kurikulum pendidikan, khususnya di tingkat perguruan tinggi (PT). Tujuannya, mempersiapkan mahasiswa menjadi seorang wirausaha setelah lulus kuliah nanti.

Dengan demikian, tidak hanya membekali dengan hard skills tetapi juga membentuk soft skills-nya. Mahasiswa bisa mandiri dan menciptakan lapangan pekerjaan, palinga tidak untuk dirinya sendiri.

Beberapa universitas di Surabaya, seperti Universitas Ciputra (UC) atau Institut Tekonolgi 10 Nopember (ITS) telah menerapkan materi ini sebagai mata kuliah wajib.

Di UC, kampus yang dikenal dalam mencetak wirausaha, mata kuliah ini harus ditempuh dalam 5 semester. UC berkomitmen menggembleng mental mahasiswanya untuk memulai usaha. Trianggoro Wiradinata, Dekan Fakultas Entrepreneurship dan Humanoria UC mengungkapkan, kuliah kewirausahaan atau Entrepreneur dibagi menjadi 5 bagian, dan harus diambil mulai semester 1 dan berlanjut hingga semester 5. (lihat tabel-Red)

“Jadi mahasiswa punya peluang untuk benar-benar tahu peluang usaha.” Ujar Trianggoro. Ia mengungkapkan, semua mahasiswa dari berbagai jurusan pada semester 1 mendapat materi kewirahusahaan untuk mengubah pemikiran mereka yang baru lulus SMA.

“Pemikiran yang ditanamkan bahwa menempuh kuliah tidak hany berorientasi akan nilai.” Katanya.

Dengan 5 semester kuliah ini, harapanya, mahasiswa terbiasa dengan menjalankan usaha. Jadi, saat memulai sesuatu usaha selepas kuliah, mereka tidak memulai dari nol.

“Mahsiswa sudah jatuh bangun dalam usah semasa kuliah, dan kerugian semasa kuliah jauh lebih kecil dibanding saat berdiri sendiri.” Ungkapnya.

Bahkan di semester 5 , lanjut Trianggoro, mereka sudah memikirkan standar global. Produknya tidak harus dipasarkan ke luar negeri, tetapi standarnya harus menyesuaikan.

“Tujuannya, saat produk ke luar negeri, mereka tidak mengalami penolakan akibat regulasi yang dibuat negara lain berbeda dengan Indonesia.” Terangnya.

Pembuatan Software

Lain lagi di ITS. Menggeluti bidang teknik, bukan berarti peluang usah kecil. Mahasiswa juga mendapat bekal soft skill dan harus mengambil 3 sistem kredit semester (sks) untuk mata kuliah Technopreneur. Sehingga, lulusan ITS salah satu profilnya berjiwa Technopreneur.

Muhammad Nurif, Koordinator Mata Kuliah Technopreneur menjelaskan, mahasiswa diajarkan mental berwirausaha dan mengasah kepekaan dalam berwirausahaa. Harapannya, mampu membuat produk layak jual selama kuliah, bukan berarti harus dijual saat kuliah.

“Mahasiswa diminta buat prototype dan diusahakan ikut inkubator bisnis. Kalau lolos akan dicarikan investor.” Urai Nurif.

Sejak awal 2016, mahasiswa lebih diarahkan pada pengembangan teknologi untuk dijadikan wirausaha. Jadi, tidak hanya melihat pasar kuliner.

“Pengembangan usaha mereka bisa mengarah ke pembuatan software, atau berbasis teknologi, seperti robot, mesin.” Katanya.

Selain mencarikan tutor untuk mendampingin mahasiswa, Nurif menambahkan, mahasiswa bisa mengikutkan usahanya dalam mata kuliah untuk Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) yang didanai Kemenristekdikti.

 

Sumber: Surya. 22 Januari 2018.Hal.9,12.

Becak dan Romantisme Ibukota. Kontan. 20 Januari 2018.Hal.19. Jony Eko Yulianto_Dosen Psikologi Sosial

Sepuluh tahun terakhir merupakan sebuah dekade yang tidak mudah bagi Amerika Serikat. Kondisi ekonomi, budaya, dan politik mereka berada pada sebuah fase yang kompleks. Tema-tema ini menjadi topik incaran kalangan oposisi untuk menyerang pemerintahan Presiden Barack Obama. Betapa tidak, saat itu The National Bureau of Economic Research mencatat bahwa Amerika Serikat mengalami deklinasi lapangan lapangan pekerjaan hingga mencapai angka 8,7 juta lapangan pekerjaan dalam kurun Februari 2008 hingga Februari 2010.

Menariknya, di tengah-tengah periode sulit ini muncullah Charles Murray. Penulis aliran konservatif ini merilis buku Coming Apart yang menceritakan wacana nostalgik tentang Amerika Serikat di masa lalu. Murray, mengambil setting penulisan bukunya di tahun 1960-an, 1980-an, dan 1990-an, saat Amerika Serikat berada dalam situasi perekonomian yang amat stabil. Situasi inilah yang digambarkan warga golongan tua Amerika Serikat sebagai Paman Sam yang sesungguhnya. Entitas negara yang maha kuat yang tidak semestinya mengalami gejolak ekonomi.

Romantisme lain yang muncul di Amerika Serikat adalah kerinduan terhadap sosok Presiden Ronald Reagan. Pada zamannya, Reagan dikenang memiliki kemampuan untuk membawa Amerika Serikat keluar dari pelik ekonomi melalui kebijakan-kebijakan publiknya. Kita dapat membaca narasi noltalgia ini pada karya Lane Kenworthy seperti Social Democratic Amerika yang juga terbit pada era kepemimpinan Presiden Barack Obama. Tujuannya, supaya Obama membaca narasi historis itu dan mengambil kebijakan publik serupa demi Amerika Serikat yang lebih baik.

Pembahasan di atas memiliki benang merah yang sama. Kebijakan publik dan romantisme masa lalu merupakan dua hal kerap berkelindan. Di Indonesia, sadar atau tidak sadar, berulang kali kita telah mengalaminya. Kita senang bukan kepalang saat Barack Obama datang ke Jakarta dan mengatakan bahwa ia rindu makan sate dan bakso.

Kita mendadak memiliki ikatan batin  yang dekat dengan Amerika Serikat. Di cerita lainnya, Raja Salman terlihat karib dengan Presiden Jokowi setelah menceritakan kedekatan ayahnya dengan Presiden Soekarno di masa lampau. Investasi ekonomi bilateral terjadi. Betapa kita adalah bangsa yang gemar merawat romantisme masa lalu.

Kini diskursus tentang becak Jakarta yang sudah lama dilarang beroperasi di ibukota mendadak mengemuka kembali. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, mengatakan bahwa ia akan mengizinkan kembali becak beroperasi di jalur non-arteri untuk mengakomodasi kepentingan warna Jakarta yang membutuhkannya. Gubernur Anies membayangkan, becak masih dibutuhkan oleh ibu-ibu yang akan membawa banyak barang belanja dari pasar. Sebuah situasi yang menurutnya tidak memungkinkan diatasi dengan ojek daring. Pertanyaannya, apakah problem ini tidak dapat diatasi tanpa membangkitkan becak?

Realisme

Dalam ilmu psikologi sosial, kecenderungan seorang pemimpin dalam menggerakkan masyarakat melalui narasi nostalgik dibahas konsep kepemimpinan romantisme (Kempster & Carol, 2016). Kepemimpinan jenis ini menempatkan narasi nostalgik sebagai media untuk membentuk kesan heroik. Memunculkan retorika ideal tentang masa lalu merupakan cara pemimpin untuk menyentuh sisi emosi dari sebagian atau seluruh masyarakat yang dipimpinnya. Dalam prosesnya, pemimpin akan mengekspos kisah-kisah keberhasilan kebijakan di masa lalu dan cenderung tidak memberikan ruang pada alasan-alasan mengapa kebijakan itu ditinggalkan.

Ilmu perilaku memandang romantisme bukan hany sebagai gaya kepemimpinan, tetapi juga sikap individual karakteristik si pemimpin. Artinya, pemimpin yang bergaya romantis memiliki imajinasi dan kemampuan untuk membangkitkan emosi sebagai cara untuk melawan diskursus rumit tentang sebuah topik kepemimpinan publik yang mengandalkan nalar dan rasionalitas. Di negara-negara Asia yang masyarakatnya menghargai narasi masa lalu, tidak dapat disangkal bahwa kempemimpinan romantisme merupakan salah satu gaya kepemimpinan yang sangat efektif untuk membentuk simpati publik.

Namun, gaya kepemimpinan ini memiliki kelemahan. Karena teralu mengedepankan kisah-kisah dimasa lalu, maka masalah-masalah dan kritik terkati dengan situasi terkini cenderung tidak mencapatkan porsi cukup. Ini sangat berbahaya mengingat masa aktif jabatan strutural kepemimpinan dibatasi waktu dan akan berdampak pada era kepemimpinan selanjutnya. Ketika kita bicara kepemimpiunan dalam konteks masa depan bangsa sebagai sebuah kontinum, performa sebuah masa pemerintahan yang tak progresif merupakan hal yang harus dihindari.

Untuk menghindari luaran kebijakn publik yang tidak progresif, seorang pemimpin publik perlu juga untuk memiliki pandangan realisme. Pandangan ini, berkebalikan dengan pandangan romantisme, menempatkan kepeminpinan dengan dengan basis situasi terkini menuju visi ideal. Beberapa ahli di Harvard Business Review menyebut kepemimpinan ini sebagai kepemimpinan idealis-realis. Kepemimpinan jenis ini mengajak orang-orang yang dipimpin untuk menerima kondisi saat ini dan bergerak melalui visi besar yang terukur.

Untuk memahami kepemimpinan idealis-realis, kita dapat belajar ke New York. Setelah tragedi World Trade Centre 11 September 2001 di Amerika Serikat, Rudy Giulliani sebagai Walikota New York merilis sebuah visi bahwa New York akan ia bawa menjadi kota teraman di dunia. Ia menerima situasi kota New York yang sedang terluka. Tanpa harus membuat retorika nostalgik, ia memimpin proses normalisasi kota, mengatasi trauma warga, dan menjamin keamanan kota. Banyak media saat itu mengapresiasi dan menganggap Giuliani sebagai Walikota Amerika Serikat. Majalah Time memberinya gelar Person of The Year, dan Ratu Elizabeth II memberinya gelar kehormatan.

Melalui semua paparan di atas, hendaknya kita dapat belajar bahwa tantangan terbesar seorang pemimpin publik sebenarnya adalah kemampuan untuk menciptakan kebijakan publik yang melampaui narasi-narasi nostalgik maupun kebijakan pragmatis. Ia ditantang bergerak dengan paradigma idealis-realis melalui keputusan strategis. Semoga ibukota kita terus bergerak melaju dengan progresif, tetapi mengingat dan menghargai jejak sejarah tanpa harus terjebak dengan narasi romantisme masa lalu.

 

Sumber: Kontan. 20 Januari 2018.Hal.19

Eksotika Rumah Abu Keluarga The. Majalah Rumahku.No.137.2017. Hal.52-53_Freddy H Istanto

Jalan Karet, yang dulunya bernama Chineesche Voorstraat, masih menyisakan memori kawasan Pecinan yang menarik. Tiga Rumah Abu keluarga menjadi bagian catatan sejarah kota Surabaya, bahwa disan penah tinggal dan bermukim sebuah peradaban dan budaya Tinghoa yang cukup baik.

Meskipun harus diakui dibandingkan dengan kota-kota lain, bahkan dengan beberapa peninggalan bangunan lama berasitektur Tiongkok di Penang (Malaysia) contohnya, arsitektur rumah-rumah Abu di Jalan Karet ini terkesan lebih simple. Bahkan dari kekayaan marga, Surabaya hanya punya tiga. Hanya di salah satu di antaranya yaitu di Rumah Abu Marga Tjoa, memiliki meja sembahyang Marga lainnya yakni, marga Tan dan Marga Yap. Di Pulau Penang Rumah Abu sejumlah puluhan dari berbagai Marga dan rasanya hampir setiap jalan mempunyai Rumah Abu yang signifikan arsitekturnya.

Bangunan ini meiliki raut khas arsitektur Tiongkok, demikian juga detail-detail arsitekturnya. Pagar besi Hijau adalah tambahan baru sebagai fungsi keamanan saja.

Sisi kiri dan kanan Ruang Tamu berisi sepereangkat Meja kursi. Perhatikan kaca cermin yang dipasang miring, pola ini juga ditemukan di beberapa Rumah Abu di Penang. Ada argumentasi bahwa cermin ini untuk membantu mengamati lalu lalang di belakang orang yang duduk di kkursi menghadap dinding.

Ada batas jelas antara Ruang Tamu dan Ruang Keluarga, sekat ini menunjukan juga gradasi ruang dan Ruang Publik ke Ruang Semi Privat, terdapat Ruang di kiri kanan yang juga bernoda simentri. Ukiran selalu berunsur flora dan fauna tertentu.

Perubahan fungsi dari area semipublik ke area Suci. Pembatas berupa sekat kayu dan ukiran menjadi penanda bukan hanya perbedaan fungsi tapi juga perbedaan kualitas interiornya, seperti perbedaan ketinggian lantai, material lantai, dinding dan langit2. Perhatikan juga ornamen berwarna emas adalah simbol bahwa pemilik rumah adalah ukuran resmi Raja Tiongkok di jaman itu.

Ruang Keluarga dilengkapi dengan meja panjang, sesuai fungsinya untuk pertemuan dan diskusi keluarga. Amatai material bangunan serta bukaan di kiri-kanan ruangan. Kekayaan iklim tripis dimanfaatkan maksimal. Kolom yang dililit Naga itu awalnya berwarna dasar merah. Kemudian karena alasan politis saat itu, kolompun berwarna kuning.

Dibandingkan dengan dua lainnya (rumah Abu Marga Tjoa, apalagi Marga Han) , Rumah Abu Marga berukuran lebih kecil. Namun secara arsitektural menarik. Khas bernuansa Tiongkok, dihadirkan lewat silhouette bentuk atapnya geuvelnya,bahkan bumbungan atau nok nya. Sebuah karakter khas yang mudah ditemukan dan dibaca sebagai ekstotika atap arsitektur Tiongkok. Demikian juga dengan kontruksi atap yang menahan tritisan, sebuah penyelesaian khas kontruksi arsitektur ini.

Ada sepasang patung singa di kiri kanan, seolah menjaga keamanan pintu masuk. Juga beberapa ornamen khas ada di wajah depan bangunan menghadap baat ini. Dulunya di atas jendela, ada hiasan dengan tulisan beraksara Mandarin. namun kini tinggal bekas-bekasnya saja, setelah meletus peristiwa G-30-S. Penghuni rumah kuatir akan keberadaan aksara-aksara tersbut.

Pintu masuk berada di tengah-tengah komposisi wajah depan bangunan, mengisyaratkan pola simetri yang kuat. Yang memang demikian struktur dan hirarki pada bangunan yang berumur lebih dari 125 tahun inni. Dibangun oleh The Goan Tjing, nuansa interiornya kuat dengan atmosfer Tiongkok. Bahkan ornamen pilar di tengah-tengah ruangan berdekorasi lilitan Naga yang cantik. Dulunya pilar ini bernuansa sangat khas Tiongkok-nya, dengan naga dan warna dasar kolomnya merah-merona. Kini diwarnai abu-abu untuk merespon kekuatiran penghuni paska pemberontakan G-30-S itu.

Dengan susunan kirarki ruang yang sama dengan rumah abu Marga Han, Rumah Abu ini juga menerapkan hirarki ruang publik di depan. Sebelumnya ada sedikit teras sepanjang wajah depannya . kemudian ruang semi publik, yang berisi meja panjang. Biasanya dipakai tempat pertemuan dan ngobrol keluarga disaat-saat sebelum dan sesudah acara sembahyang. Di ruang semi-publik inilah nuansa hangat dimunculkan dengan bukaan penghawaan dan penyinaran alami di kiri kanan massa bangunan. Disini juga terdapat beberapa lambang2 ber-aksara Mandarin. Bahkan ada sebuah ornamen berbentuk tameng. Berukuran sekitar 50×70 sentimeter. Yang konon adalah sebuah pernyataan bahwa The Goan Tjing ini adalah utusan resmi Raja Tiong sana.

Di ujung bangunan seperti biasa adalah klimaks dari rumah abu ini, yaitu tempat sembahyang. Dengan meja tempat abu, ornamen2 hiasan khas Rumah Abu. Sebelum masuk ke ruang suci ini, ada ukiran selebar ruang. Yang membingkai dari dinding hingga langit-langit. Ukiran ini berdimensi tiga, sehingga nampak hidup. Detail bahan bangunan menggambarkan juga bagaiaman hirarki ruang di ekspresikan. Bahan lantai bergradasi, mulai dari bahan bangunan biasa (di ruang publik), agak lebih rumit polanya (di ruang keluarga) dan klimaksnya berbahan marmer di bagian paling suci (tempat sembahyang).

Di bagian rumah utama ini masih ada bagian belakang yaitu rumah tinggal keluarga yang menjaga rumah ini. Yang dapat dicapai dari selasar samping, maupun dari sebuah pintu kecil di samping pintu sebahyang. Tentu, kualitas bangunan dan nuansa bangunan ini tidak se-prima bangunan utama Rumah abunya.

Teks: Freddy H Istanto

Dosen program studi Interior Arsitektur Fakultas Industri Kreatif – Universitas Ciputra

 

Sumber: Majalah Rumahku.No.137.2017. Hal.52-53

Rumah Abu Han Bersiap Sambut Imlek.Jawa Pos.7 Januari 2018.Hal.7_Freddy H Istanto

SURABAYA – Rumah Abu Ha mulai menyiapkan diri menyambut perayaan Imlek tahun ini. Ada sejumlah tradisi di tempat sembahyang leluhur Han Bwee Koo itu. Baik menjelang maupun Bwee Koo itu. Baik menjelang maupun pada saat perayaan.

Beberapa persiapan yang terlihat di rumah ibadaha di Jalan Karet Nomor 72, Pabean, itu adalah bersih-bersih serta menyiapkan ratusan teh dan tempat sajian makanan. Minuman dan makanan disajikan menjelang perayaan Imlek. “Kalau dekat Imlek begini memang lebih sering ada yang sembahyang,” kata Prayitno Suwito, salah seorang penjaga Rumah Abu Han.

Ratusan cangkir itu disiapkan di bagian halaman belakang rumah. Bagian depan rumah, tempat persembahyangan, juga mulai dibersihkan. Bejan dupa beserta lemari berisi tablet (papan nama) arwah leluhur diusap dengan menggunakan kemoceng. Memebersihkan tablet bukan pekerjaa ringan. Ada ratusan tablet yang harus dijaga di rumah tersebut.

Bukan itu saja. Lantai marmer di ruang keluarga dan ruang sebahyang juga harus selalu bersih. Terutama menjelang momen-momen penting seperti Imlek. “Setiap Imlek sudah pasti ada acara keluarga di sini,” jelasnya (bii/c7/eko)

 

Sumber: Jawa-Pos.7-Januari-2018.Hal_.7

Pariwisata di Tahun Politik 2018. Bisnis Indonesia.4 Januari 2018.Hal.2_Dewa GS

Oleh Dewa Gde Satrya,

Dosen Hotel & Tourism Business, Fakultas Pariwisata, Universitas Ciputra Surabaya

 

Tahun ini, 2018, adalah Tahun Politik. Rangkaian panjang aktivitas politik di tahun ini akan berkelanjut pada 2019. Pemilihan kepada daerah serentak di 171 aerah, terdiri dari 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten.

Muncul kekhawatiran di penghujung 2017 terhadap situasi politik yang berdampak negatif dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Tensi politik yang meningkat harus diantisipasi seluruh pihak. TNI dan Polri berulang kali menegaskan jaminan keamanan dan keselamatan bangsa di tahun olitik 2018. Panglma TNI Hadi Tjahjanto juga menjamin netralitas TNI.

Kekhawatiran kegiatan yang merupakan bentuk pendewasaan demokrasi disebabkan pengalaman buruk di masa lalu. Juga contoh kegagalan mengelola praktek demokrasi yang berujung pada kerusuhan. Kudeta militer Thailand misalnya, berdampak pada pembatalan perjalanan dan travel warning 50 negara ke Thailand. Karena itu, sepantasnya ranah politik dalam negeri tidak merugikan sektor pariwisata.

Ekses negatif pemilihan presiden (Pilpres) di Indonesia terhadap sektor ekonomi pernah terbukti. Jelang akhir Juni 2014, depresiasi rupah berlanjut. Nilai tukar rupiah sudah tembus Rp 12.000, tepatnya Rp 12.103 per dolar AS. Di bursa Efek Indonesia (BEI), Indeks harga Saham Gabungan pada hari transaksi terakhir, Jumat (27/6/2014), terkoreksi 27,28 poin.

Faktor utama yang mempengaruhi situasi pasar valuta dan saham adalah dinamika politik menuju Pilpres yang terkesa tidak kondusif.

Sebelum ekses negatif terjadi, KPU dan capres-cawapres saat itu berinisiatif mengadakan deklarasi pemilu damai dan berintegritas. Tenti saja deklarasi itu mengandung komitmen masing-masing kubu untuk melaksakan pemilu dengan tertib, aman, damai, jujur dan adil.kesiapan untuk menang dan kalah harus dibuktikan.

Selain deklarasi damai, implementasi di lapangan sangat menentukan, di mana pengelolaan massa politik jelaslah menjadi tuntutan yang tak dapat ditawar-tawar oleh seluruh partai politik dan capres-cawapres.

Belajar dari pemilu sebelumnya, mobilisasi massa adalah suatu suasana yang menegangkan. Imbasnya, dinamika sektor pariwisata yang awalnya berjalan normal menjadi meningkat derajat kewaspadaannya. Kekhawatiran pelaku pariwisata jelas, soal gangguan keamanan dalam aktivitas wisata, baik sisi produk, pasar maupun infrastruktur perlu menjadi prioritas.

Pada Pilpres 2009, kekhawatiran serupa juga terjadi. Saat itu, menanggapi kekhawatiran semacam itu. Menteri Pariwisata saat itu Jero Wacik pernah menepisnya. Prediksi kenaikan junlah kunjungan wisata selama masa kampanye dan Pemilu justru diharapkan bisa memenuhi target jumlah wisatawan domestik 2009 sebanyak 229 juta perjalanan dan kuliner (Antara, 14/3/09).

Dalam UU Kepariwisataan yang baru Pasal 18 ayat 1 butir “a” disebutkan, setiap orang berhak memperoleh kesempatan memenuhi kebutuhan wisata. Namun bagi wisata domestik, potensi penuruan aktivitas belanja wisata disebabkan secara psikologis mereka harus berpikir ulang manakala hendak berpergian. Pada masa kampanye yang cenderung  diisi pengumpulan massa, konvoikendaraan, serta pengerahan massa yang dilakukan partai politik, selain ditakuti wisatawan enggan keluar rumah.

Dalam UU itu juga disebutkan, pemerintah dan pemerintah daerah berkewajiban menyediakan informasi kepariwisataan, perlindungan hukumj, serta keamanan dan keselamatan kepada wisatawan (Pasal 23 ayat 1 butir a). Komitmen kepariwisataan pemerintah Indonesia, mulai pusat sampai daerah, dalam menapaki tahun piltik 2018 perlu dibuktikan.

Hakikat mulia Pemilu semestinya tidak menggangu kepentingan publik untuk tetap dapat menjalankan aktivitas kesehariannya dengan aman dan nyaman. Termasuk juga, perlu ada komitmen dari masing-masing kubu carpres-cawapres beserta parpol, pendukung untuk memberikan jaminan kepada masyarakat mendapatkan hak berwisata.

TAK TERPISAHKAN

Secara luas, masalah keamanan dan stabilitas politik dengan industri pariwisata seperti ikan dan air, tak terpisahkan dan saling mempengaruhi. Karena itu, masalah keamanan dan stabilitas tidak kalah pentingnya dengan masalah pokok Wisata lainnya, yaitu kebersihan, ketertiban, kesejukan, keindahan, keramahtamahan, serta memberilan kenangan yang mengesankanpada wisatawan.

Sapta Pesona Wisata menjadi tolak ukur penting untuk meniti kesuksesan Indonesia melalu pesta demokrasi 2018 di satu sisi, dan jaminan keberlangsungan bahkan peningkatan kinerja kepariwisataan di sisi lain.

Di pihak calon kepala daerah dan pemimpin parpol masing-masing kubu, kian dibtuhkan kedewasaan dalam berpolitik. Indikator penting tentang itu adlah kemmapuan mereka mengendalikan massanya untuk tidak berbuat anrkis dan merugikan kepentingan umum. Sebaliknya, memlaui kampanye justru menjadi ajang dan momentum yang strategis untuk menanamkan citra baik di masyarakat.

Isu penting di tahun politik 2018 adalah memastikan kualitas kerekatan sosial tidak terganggu. Aspek ini bisa terancam pasca Pilpres. Hubungan sosial yang guyub yang menjadi ciri khas kohesi sosial, merupakan salah satu aspek dari modal sosial.

Secara utuh, modal sosial merupakan hal penting yang diperlukan masyarakat untuk maju,menyelesaikan berbagai persoalannya, dan mencapai tingkat sosial-ekonomi-politik yang lebih baik dan stabil.

Cohen dan Prusak (2001) menjabarkan manfaat-manfaat modal sosail bai pertumbuhan ekonomi. Pertama, modla sosial mempermudah berbagi informasi dan pengetahuan yang terkait dengan usaha. Kedua, modal sosial mengurangi biaya transaksi karena adanya tingkat kepercayaan dan kerjasama yang tinggi. Hal ini terjadi baik di perusahaan mauppun anatara perusahaan dengan pelanggan dan mitra-mitranya.

Ketiga, bagi internal perusahaan modal sosial yang tinggi membangun rasa kebanggan dan kepemilikan pegawai yang tinggi terhadap perusahaan, sehingga mengurangi tingkat pergantian pegawai.

Keempat, modal sosial membangun kekompakan dan kestabilan pada perusahaan. Dengan adanya modal sosila, pegawai akan lebih kompak, saling membantu, dan pada akhirnya akan lebih mudah mendukung misi perusahaan.

Akhirnya, mari kita berdoa supaya Tuhan tetap mempersatukan bangsa ini dan menghindarkan dari segala marabahaya. Semoga.

Sistem Pemadam Kebakaran Belum Lengkap. Jawa Pos.18 Januari 2018.Hal.26_Freddy H Istanto

SURABAYA – Kepala Freddy H. Istanto mendongak ke langit-langit Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria kemarin (17/1). Pandangannya menyebar ke sudut-sudut aula yang biasa dipakai misa. Tak lama kemudian, dia mengajak bicara F.X. Hardjonodirono CM, pastor rekan, dan Mastinus A. Paryanto CM, pastor kepala paroki kelahiran Santa Perawan Maria. “Harusnya ini dipasang sensor asap atau sensor panas Romo,” komentar Fredd yang menjadi direktur Sjarikat Poesaka kepada Romo Hardjo, panggilan akrab F.X.Hardjodironno CM, kemarin siang. Pemerhati cagar budaya itu sengaja bertamu ke gereja katolik tertua di Surabaya tersebut setelah mendengar kejadian Museum Bahari di Jakarta terbakar pada Selasa (16/1).

Freddy mengaku ingin mengetahui apakah gereja yang mulai didirikan pada tahun 1899 itu mempunyai sistem penanganan api yang baik. Apalagi, gereja tersebbut jadi jujungan para wisatawan setiap minggi selain jamaah. Dia tidak mau Surabaya kehilangan nilai historis cagar budaya tersebut seperti yang terjadi di Balai Pemuda pada 2011.

Setelah melihat, dia baru tahu bahwa bangunan tersebut sangat rentan terhadap bencana kebakaran. Menurut pengelola, tempat iibadah yang akrab disebut Gereja Kepanjen itu tidak mempunyai hidran. Yang dipunya hanya 10 alat pemadam api ringan (APAR). Itu pun disimpan di sisi selatan Gereja.

Romo Hardjo mengaku bahwa pihaknya berusaha sebaik-baiknya mengelola cagar buday teresebut.(bii/c20.any)

Sumber: Jawa-Pos.18-Januari-2018.Hal_.26