Biar Bocah Suka Sayur dan Buah. Jawa Pos. 5 Agustus 2018. Hal.23

 

Biar Bocah Suka Sayur dan BuahOlah Menjadi Minuman Segar

SURABAYA – Puluhan bocah berusia 4-12 tahun berkumpul di meja bartender Moses Soediro di Marketing Gallery LA Viz Mansion. Pakuwon Mall kemarin (4/8). Dengan seksama, mereka memperhatikan cara Moses meracik minuman dari bahan dasar buah-buahan dan sayur-sayuran.

Kelas yang mengusung tema Kids Bertendering Class bersama komunitas Ken’s Little Chef itu memberikan pengetahuan dasar tentang bertending dan membuat minuman. Pertama-tama, anak-anak tersebut dikenalkan dengan alat-alat bartending. Kemudian, semua diajak melihat cara meracik dua minuman, minion island breeze serta banana and friends.

“Ini namanya jigger. Fungsinya, mengukur atau sebagai takaran dalam membuat minuman,” jelas Moses kepada anak-anak tersebut sambil menunjukan alat yang berbentuk seperti dua buah kerucut yang disatukan pada ujung lancipnya itu. Sesekali pria yang juga seorang dosen culinary business department dari Universitas Ciputra tersebut mengajak anak-anak itu menumbuk maupun memasukkan bahan-bahan ke wadah.

Namun, setelah selesai melihat cara membuatnya, mereka tidak langsung diperbolehkan praktik membuat dua minuman tersebut. Mereka harus menggambar dua minuman yang akan dipraktikkan terlebih dulu. “Tujuannya, mereka ingat betul komposisi setiap minuman sebelum mulai meraciknya,” ungkap Rosiana Alim dari Ken’s Little Chef.

Rosi juga menjelaskan bahwa goals dari kelas siang itu adalah anak-anak bisa menyukai sayuran dan buah-buahan yang baik untuk kesehatan. Nah, berawal dari kebiasaan anak kecil yang sulit disuruh makan sayur maupun buah, ide untuk meracik buah-buahan dan sayur-sayuran agar enak dimakan pun muncul.

“Di sini sayur dan buah tersebut kita jadikan minuman agar bisa dinikmati lebih enak karena bentuknya yang sudah menjadi minuman, bukan lagi bentuk asli sayur dan buah,” jelas Rosi. Hal itu pun dirasakan Mirah Kurniawati, salah seorang ibu yang mengikutkan dua buah hatinya di kelas bartending tersebut.

Perempuan 36 tahun itu mengaku bahwa dua anaknya susah makan sayur. “Apalagi yang kecil. Susah sekali,” ceritanya. Namun, setelah anak-anak tersebut selesai meracik minuman yang berbahan dasar sayur-sayuran dan buah-buahan itu, mereka ternyata suka dengan hasilnya. (ama/c20/any)

Sumber : Jawa Pos 5 Agustus 2018 Hal 23

 

Adaptasi Karakter dari Buku. Jawa Pos. 3 Desember 2018.Hal.30. Shienny Megawati Sutanto_VCD

Shienny Megawati Sutanto – Kreator Sticker dan Buku Ther Melian

Dosen Universitas Ciputra sekaligus pengarang novel Ther Melian, Shienny telah memperkenalkan karakter-karakter dalam stikernya melalui buku-buku yang ditulisnya. “Stiker cuma menjadi salah satu media untuk mengenalkan karakter yang kita buat. Selebihnya bergantung bagaimana kita mengembangkan produk ‘turunan’ dari karakter kita untuk dapat terus dikenal masyarakat. Contohnya, saya yang mulai dari buku, kemudian merambah ke produk stiker digital,” jelas Dosen Universitas Ciputra ini.

Bisa dibilang, stiker Ther Melian Daily Life 1 merupakan stiker yang paling banyak diminati dari serial stiker Ther Melian yang lain. Di dalamnya terdapat ekspresi-ekspresi yang sesuai untuk percakapan sehari-hari seperti kelaperan, kekenyangan, ngambek, dan capek belajar. “Dari sini bisa disimpulkan, stiker yang banyak diminati adalah stiker-stiker yang bisa mengekspresikan perasaan penggunanya dengan jelas,” ungkap Dosen Universitas Ciputra VCD ini.

 

Sumber: Jawa Pos. 3 Desember 2018. Hal.30

Menulis Menembus Media

SEKITAR 30 dosen, mahasiswa, serta civitas academica Universitas Ciputra (UC) kemarin mengikuti seminar jurnalistik bertema Tulisan Menembus Media. Sesuai tema, mereka berdiskusi tentang trik – trik dan tip menulis esai popular yang cocok untuk media. Acara itu di gelar atas kerjasama Fakultas Ilmu Komunikasi dan Bisnis Media (Fikom) dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UC serta JawaPos. “Setelah dari pelatihan ini, menulislah!” kata Dekan Fikom UC Prof Burhan Bungin memberi semangat.

Sumber: Menulis-Menembus-Media.Jawa-Pos.22-November-2018.Hal.23.LPPM

 

Sisa-Sisa Makam Keturunan Tionghoa

Sisa-Sisa Makam Keturunan Tionghoa (salah satu narasumber: Chrisyandi Tri Kartika, pustakawan Universitas Ciputra Surabaya)

Surabaya – Keturunan Tionghoa di Surabaya meninggalkan banyak sejarang yang menarik untuk dieksploras. Salah satunya adalah bong (makam Tiongkok) Slompretan. Kini sebagian besar makam orang Tionghoa di sana telah beralih fungsi menjadi pasar.

Chrisyandi Tri Kartika, sejarawan Surabaya, menyatakan bahwa makam waga tiongkok di Surabaya menyatakan bahwa makam warga Tiongkok di Surabaya sebenarnya berada di beberapa tempat. Salah satunya di daerah peneleh dan sekitarnya. “Banyak makam yang melintang di gang maupun di dalam rumah,” katanya.

Misalnya, makam keturunan Tionghoa di belakang rumah sembahyang marga Han di Jalan Karet. Saat ini masih ada satu makam yang tersisa di sana. Hanya, namanya belum diketahui. Sementara itu, beberapa makam lain di sana telah beralih fungsi menjadi pasar. Tempat tersebut kini lebih dikenal sebagai pasar Bong. Pasar itu terletak di Jalan Slompretan.

Menurut Chrisyandi, selain satu makam tadi, di sekitar Pasar Bong ada makam Han Tik Ko. Dia adalah anak Han Bwee Kong. “Kapitein Tiongkok di Surabaya,” jelas Chrisyandi. Adrian Praksasa, ahli sejarah dan cagar budaya Surabaya, menyatakan hal yang sama. Sebagian besar makam keturunan Tionghoa kini sudah berubah. “karena alih fungsi yang luar biasa menjadi pusat perdagangan,” katanya. Menurut Adrian peralihan fungsi tersebut berlangsung sejak 1800-an.

Meski bekas makam keuturunan Tionghoa, ternya ada pedagang di Pasar Bong yang berasal dari Madura, Jawa, dan keturunan Arab disana. Setiap hari pasar itu tidak pernah sepi oleh kegiatan jual beli. (yon/c14/ano)

Sumber: Jawa-Pos.22-November-2018.Hal.26

Seperti Mimpi Jadi Nyata

Aksesoris seperti anting, hair piece, dan gelang berbahan emas, perak maupun tembaga, mungkin sudah biasa. Namun, aksesori berbahan dasar akrilik dan bisa glow in the dark alias bersinar di tempat gelap sepertinya belum banyak.

Inovasi itu diciptakan Titisari (20), mahasiswa Fashion Design Business Universitas Ciputra (UC). Karyanya itu, ‘Monstera in the Dark’, berwarna hijau, persis seperti tumbuhan monster yang sedang hit.

“Karya ini terinspirasi dari daun montera yang merupakan tanaman tropis, saya mencoba mengaplikasikan bentuk daun yang estetik pada desain aksesoris, seperti hairpieces, anting, gelang dan brooch,” ungkap gadis kelahiran 1 Juli 1998.

Karya dara cantik ini mampu menembbus 10 besar ajang Lomba Perancang Aksesoris (LPA) 2018. Bahkan, karyanya dipakai model yang melenggang pada catwalk di ajang Jakarta Fashion Week (JFW), Oktober lalu.

Perancang muda yang akrab dipanggil Titi ini mengaku, sangat bangga karyanya bisa disejajarkan dengan perancang lain di JFW 2018. “Ini seperti mimpi menjadi nyata. Dulu padahal saya cuma pingin lihat Jakarta Fashion Week secara langsung. Bukan sampai ikut runway,” ujarnya.

Dukungan yang kuat dari kampus, mendorong Titi untuk tidak hanya menghadiri acara, tetapi bisa mempresentasikan karyanya.

 

Dalami Fashion Aksesori

Seperti namanya yang diberi embel-embel, in the dark, aksesori buatannya itu bisa bersinar di tempat gelap. Menggunakan bahan utama akrilik, Titi mewarnai dengan cat mobil yang dicampur fosfor.

Ia mengaku, butuh bantuan teman saat pewarnaan. Teknik yang digunakannya adalah airbrush. “Jadi pas saya nyemprot, teman saya yang bagian ngaduk. Karena memang harus diaduk terus saat penyemprotan. Kalau nggak gitu fosfornya bakalan mengendap di bawah,” terang Titi.

Pengalaman Titi selama di Jakarta Fashion Week 2018 semakin memberikan semangat untuk mendalami dunia fashion di bidang aksesori. Ke depan, target market untuk aksesori ini, anak-anak muda yang suka acara night live music outdoor atau night party. (ovi)

Sumber: Surya. 28 November 2018. Hal.9 dan 12.

Dorong Siswa SMA Kreatif Berwirausaha. Jawa Pos. 15 November 2018. Hal. 23

SURABAYA – Sebanyak 35 tim dari SMA se-Jawa Timur kemarin beradu kreativitas. Dalam ajang Surabaya Young Entrepreneur Challenge (SYEC) yang dihelat Universitas Ciputra, mereka menyuguhkan berbagai ide tentang produk dan rencana bisnisnya ke depan.

Ada empat komponen yang dinilai dalam kompetisi tersebut. Yakni, feasibility atau kelayakan, desirability (tingkat kesenangan orang terhadap produk), viability (Kemampuan implementasi produk), dan performance (kemampuan presentasi produk).

Salah satu produk yang menarik adalah permen tempe karya tim SMA Citra Berkat Surabaya. Pembuatannya ialah Dzulfikar Ramadhan, Kezia Levina, dan Kezia Eunike. Mereka bosan dengan olahan tempe yang itu-itu saja. Mereka mencari cara agar tempe bisa naik pangkat menjadi makanan yang eksklusif. “Sekalian mau angkat derajat tempe yang identik dengan makanan warung,” kata Dzulfikar.

Kegiatan tersebut bertujuan menumbuhkan dan mengembangkan kreativitas serta mental bisnis para siswa. Itu juga sebagai ajang melihat potensi peserta didik dan menampung ide-ide mereka. “Kita tak akan tahu mereka punya potensi atau tidak dan ide mereka brilian atau tidak kalah tidak dengan kegiatan semacami itu,” ujar Andhika Widjojo, dosen UC sekaligus pembina SYEC.

Acara tersebut bukan murni kegiatan UC. Namun, event itu merupakan kerja sama dengan Start-Up Nation Summit.

Kegiatan tersebut juga didukung pemerintah Surabaya. Sebelum kegiatan performance produk tersebut digelar, ternyata sebelumnya para peserta diberi pembinaan khusus oleh para pembina dari UC. Pembinaan berlangsung dalam bentuk workshop dan diskusi panel. Peserta yang beride brilian akan kelihatan sejak pembinaan. (his/c20/any)

Sumber : Jawa-Pos.15-November-2018.Hal.23

Adu Logika, Tim Kalah Berpose di Atas Pola. Radar Surabaya. 5 November 2018. Hal.8

SURABAYA – Mengasah logika tak harus dengan membaca buku atau menghitung dimeja belajar. Ternyata, ada cara lain yang lebih menyenangkan seperti yang dilakukan siswa SMA di Universitas Ciputra Surabaya. Mereka mengasah kemampuan bermain logika dengan mengikuti kompetisi National Progamming and Logic Competition (NPLC) 2018.

Alurnya pun layaknya dalam games sungguhan. Peserta diberikan sebuah kasus dengan misi penyelamatan. Namun untuk membuat misi berhasil, peserta harus mendapatkan pasword untuk membuka brankas. Pasword ini dibeli dari uang yang kumpulkan saat barmain dalam 24 pos yang ada. “Ini di level pertama, di level dua dan tiga kita beri challenge yang lebih berat,” kata Citra Lestari, Penanggung jawab kategori kompetisi games riley, Minggu (4/10).

Di setiap posnya, mereka diberi waktu tertentu untuk menyesuaikan soal. Bisa dengan battle dengan tim lain maupun penyelesaian mandiri. Challengenya pun bermacam-macam. Salah satu yang menarik adalah dalam permainan Death battle. Peserta ini harus menahan sakit pinggang jika kalah menjawab soal dari lawan.

Dalam permainan ini, mereka di berikan riddle, bisa logika yang sesungguhan maupun pertanyaan nonsense. Mereka yang kalah harus mengikuti instruksi dari tim lawan untuk berpose diatas pola. Aturannya, mereka yang jatuh lah yang akan kalah. Bagi tim yang cerdik, mereka akan mengerjai lawan habis-habisan.

Citra menambahkan, kunci untuk memenangkan kompetisi ini terletak pada kekompakan, kekuatan fisik dan kemampuan mengurai logika. Karena lombanya dibuat beregu, maka kerjasama tim menjadi hal penting agar bisa menang. Dosen Informatika sekaligus Pembina NPLC 2018, Mychael Maoeretz, menjelaskan, kompetisi berupa reli games ini baru pertama dilakukan. (is/rtn)

Sumber : Radar-Surabaya.5-November-2018.Hal.8

Dessert Lilin Dalam Fine Dining. Jawa Pos. 11 November 2018. hal.23. Culinary Business

SURABAYA – Memasuki akhir semester lima, mahasiswa Culinary Business Universitas Ciputra (UC) mengadakan fine dining yang mengundang masyarakat umum untuk mencoba makanan karya mereka. Orang tua, teman, sampai dosen ikut menjadi temu mereka. Mengusung tema The Great 20s, salah satu ruang kantin di kampus tersebut disulap menjadi restoran glamor era 20-an.

Een Nurmalasari, salah seorang mahasiswa yang bertugas menjadi general manager dalam acara tersebut, menjelaskan bahwa restoran yang ingin diangkat memang kemewahannya. Setiap pelayanan yang merupakan mahasiswa berdandan rapi bak pramusaji.

Menu yang disajikan juga lengkap. Mulai makanan pembuka, sup, makanan utama, makanan penutup, sampai minuman. Semua merupakan masakan mereka sendiri. “Nah, yang khas dari sajian kami kali ini ada di dessert-nya,” jelas Een.

Bagaimana tidak, dessert tersebut berbentuk lilin. Sebelum dimakan para pelayan menyalakan “lilin” makanan itu. Mereka memberinya nama Gatsby’s Light of Honor. Namun, lilin tersebut bisa dimakan tanpa terkecuali. “Sumbunya juga bisa dimakan. Itu terbuat dari cengkih,” tambahnya.

Bahan utama lilin tersebut adalah cokelat putih dengan isi cake. “Nah, kami ingin memberikan sensasi yang berbeda bagi para pengunjung. Jadi, kami menyalakan sumbu-sumbuan lilin tersebut lebih dulu sebelum dimakan,” jelasnya lagi.

Moses Soediro, salah seorang dosen Culinary Business, menyampaikan bahwa mahasiswanya memang ditantang menghadirkan sesuatu berbeda. “Mereka tidak hanya dinilai dalam keteramppilan memasak. Tapi juga dalam melayani setiap tamu,” paparnya. (ama/c15/tia)

Sumber : Jawa-Pos.11-November-2018.Hal.23

Hubungan Sehat, Masa Depan Cerah. Jawa Pos. 11 November 2018. Hal.23. Psikologi_Euodia Rehuella Kosasih, Kezia Prizatna

UC Rayakan Hari Pahlawan dengan berbagai Pengetahuan

SURABAYA – Euodia Rehuella Kosasih serta Kezia Prizatna lancar dan serius menyampaikan materi kepada para pelajar SMA di ruang psikologi Universitas Ciputra kemarin (10/11). Laiknya para ahli, satu per satu persoalan pacaran yang ditanyakan peserta dijawab dengan disertai analogi yang mudah dipahami. “Hubungan itu ibarat menggenggam sebuah butir telur, tidak bisa terlalu keras karena bisa retak dan bahkan hancur di tangan,” ujar Euodia.

Euodia dan Kezia merupakan dua di antara puluhan mahasiswa UC yang menjadi pemateri. Mereka merayakan Hari Pahlawan dengan berbagai pengetahuan dan saling mengedukasi cara membangun hubungan yang baik dan berkualitas kepada 120 peserta kemarin.

Menurut mereka, pacaran itu tidak untuk saling mengekang satu sama lain. Tidak pula untuk membatasi pasangan. Hubungan dibangun untuk saling memahami dan mengisi kekurangan. “Jangan banyak menuntut, tapi saling menuntut ke tujuan yang dicita-citakan bersama di masa depan,” tagas Kezia menguatkan penyampaian Euodia.

Seminar paralel itu sengaja melibatkan para mahasiswa sebagai pelaku. Selain menyadarkan mereka tentang membangun hubungan yang baik antar sesama, acara tersebut sekaligus melatih mereka agar paham dan peduli pada masalah yang menimpa generasi muda saat ini. “Pacaran salah satunya dan itu sudah banyak yang menghancurkan generasi saat ini,” ujar Prof Jenny Lukito Setiawan, pembimbing para pemateri.

Menurut dia, banyak generasi saar ini yang terjebak dalam hubungan pacaran yang keliru, bahkan tidak masuk akal. Menganggap pacaran hanya status, merasa memiliki pacar yang berlebihan, bahkan terjadi seks bebas. Keadaan tersebut berujung pada masalah berantai berupa kekerasan pacaran maupun pernikahan dini. “Masalah itu berantai dan berakibat pada hubungan setelah menikah. Baik berupa KDRT meupun berceraian,” jelas Jenny.

Atas dasar itu, pihaknya ingin membangun kepekaan naluri mahasiswanya untuk peduli pada masalah yang terjadi di sekitarnya. Merek tidak hanya diajari untuk sadar, tetapi juga diajak agar terpanggil untuk menyelesaikan masalah itu. Nah, bersamaan dengan perayaan Hari Pahlawan, mereka diajak berjuang bersama-sama menyelesaikan masalah tersebut.

“Lewat kegiatan ini, mereka tidak hanya merayakan Hari Pahlawan, tetapi juga dididik untuk berjuang menyelesaikan masalah bangsa seperti yang dilakukan para pahlawan kala itu,” tambahnya.

Dalam kegiatan itu, para peserta juga diberi kesempatan untuk konseling terkait sebuah hubungan. Atas bimbingan Jenny, mereka mendapatkan banyak arahan dan tip cara membangun hubungan yang baik untuk masa depan. “Saya jadi tahu bahwa pacaran itu ternyata bukan sekadar pacaran, melainkan keputusan untuk masa depan,” papar Alvien Ahmad Frazanery, peserta dari Home Schooling Pena. (his/c15/ady)

Sumber : Jawa-Pos.11-November-2018.Hal.23

Racik Bunga Jadi Minuman Kesehatan. Jawa Pos. 12 November 2018. Hal.23. Alumni Mahasiswa International Business Management Universitas Ciputra

Kombinasikan Teh dengan Krisan dan Lavender

SURABAYA – Budaya minum teh mungkin lebih dikenal di Negara Tiongkok, Jepang, ataupun Inggris. Namun, sebagian masyarakat Surabaya juga ada yang membiasakan budaya tersebut. Dia adalah Jene Green Sabeth. Kecintaannya terhadap teh membuat dia penasaran, belajar hingga akhirnya bisa meracik teh sendiri dengan berbagai bahan dari kota-kota di Indonesia. Misalnya, Malang, Jogja, dan Surabaya.

Kemarin (11/11) Jene mengajak gengnya untuk menyeduh teh racikannya di Layer Speech di daerah Raya Darmo Baru. Selain daun teh atau Camellia Sinensis, dia juga memanfaatkan macam-macam bunga. Berjudul afternoon tea, dia menyeduh tiga jenis teh.

“Yang ungu itu blue tea di campur lemon, yang hijau murni blue tea, lalu yang kuning itu krisan,” jelas perempuan kelahitan Jakarta, 6 Januari 1990, tersebut.

Keahliannya meracik teh sendiri bermula dari seringnya dia berkelana, Jene pergi ke banyak kota di negara lain untuk mencoba dan berburu berbagai rasa teh.“Tapi, kalau benar-benar mulai meracik teh sendiri, baru dua bulan terakhir ini,” jelasnya.

Keinginan untuk meracik teh sendiri ternyata menjadi-jadi setelah dia berkunjung ke toko penjual bahan-bahan pembuatan teh di Australia pada tahun lalu. “Terus saya mikir. Kalau ada bahan-bahan gini, kan saya bisa racik teh dengan aroma dan khasiat sesuai keinginan sendiri. Apalagi, di Surabaya ini sulit banger cari kedai teh,” cerita perempuan lulusan International Business Management Universitas Ciputra tersebut.

Teh yang dibuatnya bukan sekedar teh biasa. Tapi ternyata punya manfaat untuk kesehatan dan kecantikan. Misalnya saja yang kuning. Terbuat dari bunga krisan kuning dengan aroma wangi khas bunga krisan, teh itu ternyata bermanfaat mencegah sakit-sakit dalam tubuh.

Sampai saat ini, teh yang berhasil dia racik sendiri ada 12 macam. “Tapi, teh saya lebih ke teh yang aromanya soft dan rasanya manis,” sambungnya. Sebab, tujuannya meracik teh sendiri ternyata adallah membuat minuman kesehatan yang menyegarkan, ringan, dan menyenangkan.

Salain itu, yang sangat dia cari dari teh adalah aromanya. “Jadi memang benar-benar beda sama kopi yang aromanya dan rasanya kuat,” imbuhnya. (ama/c22/any)

Sumber : Jawa-Pos.12-November-2018.Hal.23