Era Pasca-Kebenaran di Indonesia. Kompas. 28 April 2018. Johan Hasan. FEH

https://www.kompas.id/baca/opini/2018/04/28/era-pasca-kebenaran-di-indonesia/

Dengan tumbangnya pelbagai rezim di dunia Arab yang dikenal sebagai Kebangkitan Dunia Arab (Arab Springs), media sosial sering dianggap sebagai alat positif demokrasi.

Filsuf Jerman, Jurgen Habermas, walau mengakui internet mengaktifkan para pembaca dan penulis dari akar rumput secara bebas dan egaliter, pesimistis karena internet hanya membawa diskusi yang terfragmentasi dan tidak berakhir pada satu ruang publik. Menurut Habermas, dengan meningkatnya opini oleh massa, meningkat pula kebutuhan dan peran pers berkualitas, baik majalah politik maupun surat kabar nasional.

Namun, filsuf Søren Kierkegaard (1813-1855) dari awal sudah melihat cacat ruang publik pada media massa saat itu karena: (1) setiap orang dapat beropini, padahal tidak memiliki pengalaman langsung atau bukan ahli dalam hal tersebut, serta (2) orang yang beropini tidak diwajibkan atau memiliki tanggung jawab atas pendapat tersebut.

Kondisi dan ciri era pasca-kebenaran

Setidaknya ada tiga kondisi yang mendukung tumbuhnya era pasca-kebenaran saat ini. Pertama, pada level filosofis, berkembangnya pemikiran-pemikiran pascamodern yang menggugat obyektivitas, universalitas kebenaran, kemapanan konsep kebenaran klasik sebagai kesesuaian antara pernyataan dan kenyataan. Manusia seolah-olah dihadapkan pada banyak jenis kebenaran sehingga berkata benar, benar versi siapa?

Kedua, dukungan keberadaan teknologi yang mempermudah penciptaan teks/gambar/video, menggandakan, memanipulasi, menyunting, dan menyebarkan secara masif melalui internet. Setiap orang dapat menjadi pembuat dan penyebar berita saat ini.

Terakhir, ketiga, pola pikir masyarakat pelaku sendiri yang ditandai budaya instan: ingin berhasil, sukses, terkenal, tampil secara mudah/cepat atau ingin segera menyelesaikan masalah yang kompleks atas perasaannya yang tidak aman, terancam, teraniaya sehingga sering kali jalan yang ditempuh adalah cara instan dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam hal ini proses berpikir yang ketat dan sulit pun sering diabaikan.

Indonesia pun tidak terkecuali memasuki era pasca-kebenaran. English Oxford Dictionary mendefinisikan pasca-kebenaran (post-truth) sebagai ”berkaitan atau menunjukkan keadaan saat fakta obyektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik dibandingkan dengan emosi dan kepercayaan pribadi”.

Ralph Keyes dalam buku The Post Truth Era, Dishonesty and Deception in Contemporary Life (2004) menyatakan era ini ditandai dengan kebenaran diganti dengan yang sekadar dapat dipercayai. Manipulasi kreatif dalam kebohongan dilakukan, termasuk penggunaan eufimisme (misalnya kata ”gusur” diganti dengan ”geser”). Data yang diinginkan dipotong, dipilih, disunting untuk suatu kesimpulan yang diinginkan pelaku bagi pendengarnya. Dusta pun berganti dengan istilah yang indah: ”kebenaran alternatif” atau ”fakta alternatif”.

Istilah fakta alternatif digunakan konselor Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Kellyanne Conway, ketika membela penyebutan jumlah hadirin inaugurasi Trump oleh Sean Spicer yang diklaim melebihi jumlah hadirin inaugurasi pada waktu Barack Obama, tanpa sumber yang jelas ataupun komparasi waktu yang tepat.  Padahal, data penumpang angkutan dan bukti perhitungan fotografis menyatakan klaim Spicer tersebut salah.

Berbohong karena banyak yang percaya sudah tak lagi dianggap berbohong dan tidak lagi menimbulkan rasa malu/berdosa, bahkan jika itu digunakan atas nama agama. Segenap kesalahan/keburukan tertutupi dengan emosi dan kepercayaan massa sehingga fakta obyektif menjadi kurang memiliki pengaruh.

Masyarakat ataupun hukum sepertinya tidak dapat berbuat apa-apa dan menelan itu semua karena massa yang percaya padanya juga banyak jumlahnya. Sesat pikir ini dalam logika disebut sebagai argumentum ad populum, ”dianggap benar” karena yang percaya banyak, dengan didukung penyebaran masif oleh industri hoaks seperti sindikat Saracen.

Filsuf seperti Immanuel Kant sudah menyatakan bohong adalah tetap bohong dan pada dirinya adalah jahat. Entah dibilang dengan niat baik atau buruk, karena pertama-tama kebohongan menghancurkan martabatnya sebagai manusia, merugikan orang lain, dan masyarakat dengan merusak tatanan hukum.

Sementara Francis Fukuyama dalam bukunya, Trust, sudah menunjukkan bahwa dengan adanya tingkat kepercayaan yang tinggi, yang ditandai dengan kejujuran, masyarakat memperoleh keuntungan stabilitas politik dan ekonomi yang kuat. Tanpa adanya kepercayaan, biaya melakukan bisnis akan naik banyak karena pelbagai kecurigaan masyarakat. Bahkan, Fukuyama tidak segan- segan menggariskan bahwa di setiap masyarakat yang berhasil secara ekonomi mereka dipersatukan oleh kepercayaan, nilai yang lebih besar daripada kepentingan diri atau golongan saja. Era pasca-kebenaran justru menggantikan dasar peradaban dan negara yang sehat, yakni kepercayaan dengan dasar yang rapuh yang dipenuhi kecemasan dan kecurigaan. Ketika Indonesia terus dihadapkan dengan fantasi sebagai fakta, masyarakat akan kehilangan landasannya dalam kenyataan, saling curiga serta terpecah belah yang akan merugikan secara politik dan ekonomi Indonesia secara keseluruhan.

Menghadapi era pasca-kebenaran

Bagaimana kita harus menghadapi bahaya era pasca-kebenaran ini? Pertama, walau terdengar klise, angkat kembali soal kejujuran sebagai syarat penting dalam berkata dan bertindak. Nilai yang diakui bersama semua agama dan kepercayaan ini harus jadi titik tolak dalam menolak pelbagai kebohongan yang ada.

Segenap kebohongan menggunakan internet perlu ditanggapi dan dikoreksi secara bersama-sama menggunakan teknologi internet pula. Masyarakat harus memilih dan menilai kejujuran seorang calon pejabat berdasarkan karakter yang dapat dilihat dari rekam jejak yang panjang, bukan ucapan saat menjelang pemilihan umum. Media internet dapat menolong mengangkat rekam jejak para pejabat/ calon pejabat ini juga. Sementara janji yang sudah diucapkan wajib ditagih dan jangan didiamkan, untuk melawan kebohongan.

Kedua, hukum harus berpihak pada kejujuran dan harus dapat menghukum setiap kebohongan dan jangan biarkan yang jujur terhukum atau tidak mendapatkan penghargaan. Setiap opini harus disertai tanggung jawab si pembawa berita. Ia tidak boleh berlindung atas nama massa/masyarakat/agama ataupun anonim dan tidak bisa dikenai tanggung jawab atas kebohongan atau fitnah yang dilakukan. Negara harus meniadakan impunitas terhadap kesalahan yang diperbuat. Dalam hal ini, pendaftaran KTP untuk setiap nomor telepon seluler memang perlu untuk menghindari anonim dan pertanggungjawaban bilamana diperlukan. Setiap kebijakan dari pemerintah pusat atau daerah yang menguntungkan kebohongan atau ketidaktransparanan wajib digugat/dikoreksi.

Ketiga, peranan pers yang berkualitas dibutuhkan untuk mengimbangi hoaks atau berita yang tidak benar. Masyarakat dituntut untuk merujuk pada media tepercaya yang dapat diuji secara waktu.

Keempat, dengan informasi berlimpah, justru pendidikan yang wajib dikuatkan adalah kemampuan berpikir logis dan kritis serta pendidikan Pancasila. Pendidikan berpikir logis dan kritis agar generasi muda mampu membedakan informasi benar atau sampah, menghindari pelbagai sesat pikir ataupun bias, serta mampu mengambil kesimpulan secara benar. Pendidikan Pancasila agar mampu merekatkan segenap golongan di Indonesia dengan dasar nilai-nilai bersama dan untuk kepentingan seluruh bangsa, bukan pada satu golongan semata.

Kelima, sesungguhnya internet hanya menciptakan koneksi, bukan relasi. Kesetiakawanan sosial, kerja sama riil, serta komunikasi antar-golongan ataupun antaragama tetap perlu ditingkatkan dalam praktik hidup sehari-hari dan dalam dunia nyata. Soekarno menyebutnya sebagai gotong royong. Jika itu dilakukan, empati dan relasi riil sebagai satu warga negara Indonesia dapat mengikis banyak prasangka dan kecurigaan di masyarakat. Demokrasi, apalagi yang bermusyawarah dan bermufakat, tidak bisa diciptakan hanya melalui internet, tetapi membutuhkan juga interaksi nyata dalam kehidupan sehari-hari oleh para pelakunya.

Johan Hasan Dosen di Universitas Ciputra, Surabaya; Mahasiswa Program Doktor Filsafat di STF Driyarkara, Jakarta

Editor:

kompascetak

Tahun Ke-3 Museum Mini CCHS Perpustakaan UC Surabaya, Tahun ini Bertema Budaya Panji. https://surabaya.tribunnews.com. 7 Agustus 2020. LIB, CCHS

https://surabaya.tribunnews.com/2020/08/07/tahun-ke-3-museum-mini-cchs-perpustakaan-uc-surabaya-tahun-ini-bertema-budaya-panji

Biar Bocah Suka Sayur dan Buah. Jawa Pos. 5 Agustus 2018. Hal.23

 

Biar Bocah Suka Sayur dan BuahOlah Menjadi Minuman Segar

SURABAYA – Puluhan bocah berusia 4-12 tahun berkumpul di meja bartender Moses Soediro di Marketing Gallery LA Viz Mansion. Pakuwon Mall kemarin (4/8). Dengan seksama, mereka memperhatikan cara Moses meracik minuman dari bahan dasar buah-buahan dan sayur-sayuran.

Kelas yang mengusung tema Kids Bertendering Class bersama komunitas Ken’s Little Chef itu memberikan pengetahuan dasar tentang bertending dan membuat minuman. Pertama-tama, anak-anak tersebut dikenalkan dengan alat-alat bartending. Kemudian, semua diajak melihat cara meracik dua minuman, minion island breeze serta banana and friends.

“Ini namanya jigger. Fungsinya, mengukur atau sebagai takaran dalam membuat minuman,” jelas Moses kepada anak-anak tersebut sambil menunjukan alat yang berbentuk seperti dua buah kerucut yang disatukan pada ujung lancipnya itu. Sesekali pria yang juga seorang dosen culinary business department dari Universitas Ciputra tersebut mengajak anak-anak itu menumbuk maupun memasukkan bahan-bahan ke wadah.

Namun, setelah selesai melihat cara membuatnya, mereka tidak langsung diperbolehkan praktik membuat dua minuman tersebut. Mereka harus menggambar dua minuman yang akan dipraktikkan terlebih dulu. “Tujuannya, mereka ingat betul komposisi setiap minuman sebelum mulai meraciknya,” ungkap Rosiana Alim dari Ken’s Little Chef.

Rosi juga menjelaskan bahwa goals dari kelas siang itu adalah anak-anak bisa menyukai sayuran dan buah-buahan yang baik untuk kesehatan. Nah, berawal dari kebiasaan anak kecil yang sulit disuruh makan sayur maupun buah, ide untuk meracik buah-buahan dan sayur-sayuran agar enak dimakan pun muncul.

“Di sini sayur dan buah tersebut kita jadikan minuman agar bisa dinikmati lebih enak karena bentuknya yang sudah menjadi minuman, bukan lagi bentuk asli sayur dan buah,” jelas Rosi. Hal itu pun dirasakan Mirah Kurniawati, salah seorang ibu yang mengikutkan dua buah hatinya di kelas bartending tersebut.

Perempuan 36 tahun itu mengaku bahwa dua anaknya susah makan sayur. “Apalagi yang kecil. Susah sekali,” ceritanya. Namun, setelah anak-anak tersebut selesai meracik minuman yang berbahan dasar sayur-sayuran dan buah-buahan itu, mereka ternyata suka dengan hasilnya. (ama/c20/any)

Sumber : Jawa Pos 5 Agustus 2018 Hal 23

 

Adaptasi Karakter dari Buku. Jawa Pos. 3 Desember 2018.Hal.30. Shienny Megawati Sutanto_VCD

Shienny Megawati Sutanto – Kreator Sticker dan Buku Ther Melian

Dosen Universitas Ciputra sekaligus pengarang novel Ther Melian, Shienny telah memperkenalkan karakter-karakter dalam stikernya melalui buku-buku yang ditulisnya. “Stiker cuma menjadi salah satu media untuk mengenalkan karakter yang kita buat. Selebihnya bergantung bagaimana kita mengembangkan produk ‘turunan’ dari karakter kita untuk dapat terus dikenal masyarakat. Contohnya, saya yang mulai dari buku, kemudian merambah ke produk stiker digital,” jelas Dosen Universitas Ciputra ini.

Bisa dibilang, stiker Ther Melian Daily Life 1 merupakan stiker yang paling banyak diminati dari serial stiker Ther Melian yang lain. Di dalamnya terdapat ekspresi-ekspresi yang sesuai untuk percakapan sehari-hari seperti kelaperan, kekenyangan, ngambek, dan capek belajar. “Dari sini bisa disimpulkan, stiker yang banyak diminati adalah stiker-stiker yang bisa mengekspresikan perasaan penggunanya dengan jelas,” ungkap Dosen Universitas Ciputra VCD ini.

 

Sumber: Jawa Pos. 3 Desember 2018. Hal.30

Menulis Menembus Media

SEKITAR 30 dosen, mahasiswa, serta civitas academica Universitas Ciputra (UC) kemarin mengikuti seminar jurnalistik bertema Tulisan Menembus Media. Sesuai tema, mereka berdiskusi tentang trik – trik dan tip menulis esai popular yang cocok untuk media. Acara itu di gelar atas kerjasama Fakultas Ilmu Komunikasi dan Bisnis Media (Fikom) dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UC serta JawaPos. “Setelah dari pelatihan ini, menulislah!” kata Dekan Fikom UC Prof Burhan Bungin memberi semangat.

Sumber: Menulis-Menembus-Media.Jawa-Pos.22-November-2018.Hal.23.LPPM

 

Sisa-Sisa Makam Keturunan Tionghoa

Sisa-Sisa Makam Keturunan Tionghoa (salah satu narasumber: Chrisyandi Tri Kartika, pustakawan Universitas Ciputra Surabaya)

Surabaya – Keturunan Tionghoa di Surabaya meninggalkan banyak sejarang yang menarik untuk dieksploras. Salah satunya adalah bong (makam Tiongkok) Slompretan. Kini sebagian besar makam orang Tionghoa di sana telah beralih fungsi menjadi pasar.

Chrisyandi Tri Kartika, sejarawan Surabaya, menyatakan bahwa makam waga tiongkok di Surabaya menyatakan bahwa makam warga Tiongkok di Surabaya sebenarnya berada di beberapa tempat. Salah satunya di daerah peneleh dan sekitarnya. “Banyak makam yang melintang di gang maupun di dalam rumah,” katanya.

Misalnya, makam keturunan Tionghoa di belakang rumah sembahyang marga Han di Jalan Karet. Saat ini masih ada satu makam yang tersisa di sana. Hanya, namanya belum diketahui. Sementara itu, beberapa makam lain di sana telah beralih fungsi menjadi pasar. Tempat tersebut kini lebih dikenal sebagai pasar Bong. Pasar itu terletak di Jalan Slompretan.

Menurut Chrisyandi, selain satu makam tadi, di sekitar Pasar Bong ada makam Han Tik Ko. Dia adalah anak Han Bwee Kong. “Kapitein Tiongkok di Surabaya,” jelas Chrisyandi. Adrian Praksasa, ahli sejarah dan cagar budaya Surabaya, menyatakan hal yang sama. Sebagian besar makam keturunan Tionghoa kini sudah berubah. “karena alih fungsi yang luar biasa menjadi pusat perdagangan,” katanya. Menurut Adrian peralihan fungsi tersebut berlangsung sejak 1800-an.

Meski bekas makam keuturunan Tionghoa, ternya ada pedagang di Pasar Bong yang berasal dari Madura, Jawa, dan keturunan Arab disana. Setiap hari pasar itu tidak pernah sepi oleh kegiatan jual beli. (yon/c14/ano)

Sumber: Jawa-Pos.22-November-2018.Hal.26

Seperti Mimpi Jadi Nyata

Aksesoris seperti anting, hair piece, dan gelang berbahan emas, perak maupun tembaga, mungkin sudah biasa. Namun, aksesori berbahan dasar akrilik dan bisa glow in the dark alias bersinar di tempat gelap sepertinya belum banyak.

Inovasi itu diciptakan Titisari (20), mahasiswa Fashion Design Business Universitas Ciputra (UC). Karyanya itu, ‘Monstera in the Dark’, berwarna hijau, persis seperti tumbuhan monster yang sedang hit.

“Karya ini terinspirasi dari daun montera yang merupakan tanaman tropis, saya mencoba mengaplikasikan bentuk daun yang estetik pada desain aksesoris, seperti hairpieces, anting, gelang dan brooch,” ungkap gadis kelahiran 1 Juli 1998.

Karya dara cantik ini mampu menembbus 10 besar ajang Lomba Perancang Aksesoris (LPA) 2018. Bahkan, karyanya dipakai model yang melenggang pada catwalk di ajang Jakarta Fashion Week (JFW), Oktober lalu.

Perancang muda yang akrab dipanggil Titi ini mengaku, sangat bangga karyanya bisa disejajarkan dengan perancang lain di JFW 2018. “Ini seperti mimpi menjadi nyata. Dulu padahal saya cuma pingin lihat Jakarta Fashion Week secara langsung. Bukan sampai ikut runway,” ujarnya.

Dukungan yang kuat dari kampus, mendorong Titi untuk tidak hanya menghadiri acara, tetapi bisa mempresentasikan karyanya.

 

Dalami Fashion Aksesori

Seperti namanya yang diberi embel-embel, in the dark, aksesori buatannya itu bisa bersinar di tempat gelap. Menggunakan bahan utama akrilik, Titi mewarnai dengan cat mobil yang dicampur fosfor.

Ia mengaku, butuh bantuan teman saat pewarnaan. Teknik yang digunakannya adalah airbrush. “Jadi pas saya nyemprot, teman saya yang bagian ngaduk. Karena memang harus diaduk terus saat penyemprotan. Kalau nggak gitu fosfornya bakalan mengendap di bawah,” terang Titi.

Pengalaman Titi selama di Jakarta Fashion Week 2018 semakin memberikan semangat untuk mendalami dunia fashion di bidang aksesori. Ke depan, target market untuk aksesori ini, anak-anak muda yang suka acara night live music outdoor atau night party. (ovi)

Sumber: Surya. 28 November 2018. Hal.9 dan 12.

Dorong Siswa SMA Kreatif Berwirausaha. Jawa Pos. 15 November 2018. Hal. 23

SURABAYA – Sebanyak 35 tim dari SMA se-Jawa Timur kemarin beradu kreativitas. Dalam ajang Surabaya Young Entrepreneur Challenge (SYEC) yang dihelat Universitas Ciputra, mereka menyuguhkan berbagai ide tentang produk dan rencana bisnisnya ke depan.

Ada empat komponen yang dinilai dalam kompetisi tersebut. Yakni, feasibility atau kelayakan, desirability (tingkat kesenangan orang terhadap produk), viability (Kemampuan implementasi produk), dan performance (kemampuan presentasi produk).

Salah satu produk yang menarik adalah permen tempe karya tim SMA Citra Berkat Surabaya. Pembuatannya ialah Dzulfikar Ramadhan, Kezia Levina, dan Kezia Eunike. Mereka bosan dengan olahan tempe yang itu-itu saja. Mereka mencari cara agar tempe bisa naik pangkat menjadi makanan yang eksklusif. “Sekalian mau angkat derajat tempe yang identik dengan makanan warung,” kata Dzulfikar.

Kegiatan tersebut bertujuan menumbuhkan dan mengembangkan kreativitas serta mental bisnis para siswa. Itu juga sebagai ajang melihat potensi peserta didik dan menampung ide-ide mereka. “Kita tak akan tahu mereka punya potensi atau tidak dan ide mereka brilian atau tidak kalah tidak dengan kegiatan semacami itu,” ujar Andhika Widjojo, dosen UC sekaligus pembina SYEC.

Acara tersebut bukan murni kegiatan UC. Namun, event itu merupakan kerja sama dengan Start-Up Nation Summit.

Kegiatan tersebut juga didukung pemerintah Surabaya. Sebelum kegiatan performance produk tersebut digelar, ternyata sebelumnya para peserta diberi pembinaan khusus oleh para pembina dari UC. Pembinaan berlangsung dalam bentuk workshop dan diskusi panel. Peserta yang beride brilian akan kelihatan sejak pembinaan. (his/c20/any)

Sumber : Jawa-Pos.15-November-2018.Hal.23

Adu Logika, Tim Kalah Berpose di Atas Pola. Radar Surabaya. 5 November 2018. Hal.8

SURABAYA – Mengasah logika tak harus dengan membaca buku atau menghitung dimeja belajar. Ternyata, ada cara lain yang lebih menyenangkan seperti yang dilakukan siswa SMA di Universitas Ciputra Surabaya. Mereka mengasah kemampuan bermain logika dengan mengikuti kompetisi National Progamming and Logic Competition (NPLC) 2018.

Alurnya pun layaknya dalam games sungguhan. Peserta diberikan sebuah kasus dengan misi penyelamatan. Namun untuk membuat misi berhasil, peserta harus mendapatkan pasword untuk membuka brankas. Pasword ini dibeli dari uang yang kumpulkan saat barmain dalam 24 pos yang ada. “Ini di level pertama, di level dua dan tiga kita beri challenge yang lebih berat,” kata Citra Lestari, Penanggung jawab kategori kompetisi games riley, Minggu (4/10).

Di setiap posnya, mereka diberi waktu tertentu untuk menyesuaikan soal. Bisa dengan battle dengan tim lain maupun penyelesaian mandiri. Challengenya pun bermacam-macam. Salah satu yang menarik adalah dalam permainan Death battle. Peserta ini harus menahan sakit pinggang jika kalah menjawab soal dari lawan.

Dalam permainan ini, mereka di berikan riddle, bisa logika yang sesungguhan maupun pertanyaan nonsense. Mereka yang kalah harus mengikuti instruksi dari tim lawan untuk berpose diatas pola. Aturannya, mereka yang jatuh lah yang akan kalah. Bagi tim yang cerdik, mereka akan mengerjai lawan habis-habisan.

Citra menambahkan, kunci untuk memenangkan kompetisi ini terletak pada kekompakan, kekuatan fisik dan kemampuan mengurai logika. Karena lombanya dibuat beregu, maka kerjasama tim menjadi hal penting agar bisa menang. Dosen Informatika sekaligus Pembina NPLC 2018, Mychael Maoeretz, menjelaskan, kompetisi berupa reli games ini baru pertama dilakukan. (is/rtn)

Sumber : Radar-Surabaya.5-November-2018.Hal.8

Dessert Lilin Dalam Fine Dining. Jawa Pos. 11 November 2018. hal.23. Culinary Business

SURABAYA – Memasuki akhir semester lima, mahasiswa Culinary Business Universitas Ciputra (UC) mengadakan fine dining yang mengundang masyarakat umum untuk mencoba makanan karya mereka. Orang tua, teman, sampai dosen ikut menjadi temu mereka. Mengusung tema The Great 20s, salah satu ruang kantin di kampus tersebut disulap menjadi restoran glamor era 20-an.

Een Nurmalasari, salah seorang mahasiswa yang bertugas menjadi general manager dalam acara tersebut, menjelaskan bahwa restoran yang ingin diangkat memang kemewahannya. Setiap pelayanan yang merupakan mahasiswa berdandan rapi bak pramusaji.

Menu yang disajikan juga lengkap. Mulai makanan pembuka, sup, makanan utama, makanan penutup, sampai minuman. Semua merupakan masakan mereka sendiri. “Nah, yang khas dari sajian kami kali ini ada di dessert-nya,” jelas Een.

Bagaimana tidak, dessert tersebut berbentuk lilin. Sebelum dimakan para pelayan menyalakan “lilin” makanan itu. Mereka memberinya nama Gatsby’s Light of Honor. Namun, lilin tersebut bisa dimakan tanpa terkecuali. “Sumbunya juga bisa dimakan. Itu terbuat dari cengkih,” tambahnya.

Bahan utama lilin tersebut adalah cokelat putih dengan isi cake. “Nah, kami ingin memberikan sensasi yang berbeda bagi para pengunjung. Jadi, kami menyalakan sumbu-sumbuan lilin tersebut lebih dulu sebelum dimakan,” jelasnya lagi.

Moses Soediro, salah seorang dosen Culinary Business, menyampaikan bahwa mahasiswanya memang ditantang menghadirkan sesuatu berbeda. “Mereka tidak hanya dinilai dalam keteramppilan memasak. Tapi juga dalam melayani setiap tamu,” paparnya. (ama/c15/tia)

Sumber : Jawa-Pos.11-November-2018.Hal.23