Warna-warni Musim Gugur.Jawa Pos.24 Maret 2018.Hal.8

Hari masih terlalu pagi saat saya tiba di Gonbad-e Kavus, kota yang berjarak satu jam dari Gorgan, Ibukota Provinsi Golestan. Di kota itu terdapat tugu monumen penting yang tercatat sebagai situs warisan budaya UNESCO. Pintu masuk tugu masih tutup. Untung, ada taman luas dengan bangku-bangku nyaman disekitar kompleks. Kami duduk dan ngobrol dengan penduduk lokal. Dia banyak bercerita tentang sejarah Tugu Gonbad-e Kavus. Situs yang dibangun pada abad ke-10 Masehi tersebut merupakan tugu tertinggi dengan material hanya batu bata. Setelah saya masuk dan melihat langsung dari dekat, seluruh bangunan memang tersusun hanya dari batu bata.

Sebagai negara yang berada di kawasan Timur Tengah, Iran sering dilirik hanyadari kacamata potilik. Padahal, negara itu menyimpan berbagai peninggalan sejarah, alam, dan budaya yang kaya. Sayang, karena keterbatasan waktu, para traveler kebanyakan hanya menyisir kota-kota terkenal Iran yang berada dijalur sutera seperti Isfahan, Shiraz, dan Yazd. Pengalaman saya travelling ke Provinsi Golestan memberikan catatan, masih banyak tempat-tempat menarik lain di Iran yang bisa dikunjungi.

Nama Golestan mengingatkan saya pada judul buku kumpulan puisi Saadi yang artinya taman bunga. Berbeda dengan sebagian besar wilayah Iran yang berupa gurun, provinsi tersebut dikelilingi pegunungan, hutan-hutan, dan taman nasional yang indah.

Pada musim-musim semi dan panas, ribuan turis membanjiri tempat itu untuk  menikmati keindahan alam pegunungan atau sekedar merasakan udara sejuk. Tapi, bagi saya, Golestan di musim gugur pun tak kalah indahnya. Gradasi warna dedaunan memanjakan setiap pasang mata yang menatapnya, terutama di kawasan menuju Desa Ziarat.

Tips Perjalanan :

  • Visa turis untuk negara lain dapat dilakukan secara on arrival saat tiba di Teheran atau bisa di apply ke Kedutaan Besar Iran di Jakarta.
  • Bagi para traveler, sebaiknya siapkan uang tunai dalam bentuk USD atau euro. Sebab, di Iran, kartu kredit atau debit internasional sulit digunakan.
  • Pilihan lain dengan banderol USD 10-15 atau pesawat terbang USD 40-50.
  • Penerbangan Jakarta-Teheran dilayani Emirates, Qatar Airways, dan Turkish Airline. Tapi, bila ingin sedikit berhemat, anda bisa mnecoba Oman Air atau Mahan Air via Malaysia. Sebelumnya, Air Asia melayani penerbangan ke Iran, tapi akan berakhir pada April 2018.
  • Perjalanan dari Teheran ke Gorgan, ibukota Provinsi Golestan, bisa ditempuh dengan pesawat, bus, maupun kereta. Pilihan ramah kantong wisatawan grup adalah kereta dengan kamar berisi 4 orang. Harganya USD 10-15. Suasana dalam kamar lebih nyaman dan privasi terjaga. Selain dua bangku panjang ada tambahan dua kasur lipat. Perjalanan selama 10 jam, kita tetap bisa beristirahat dengan tenang.

Keramahan suku Turkaman :

Di sekitar kompleks Gobnad-e Kavus, banyak penduduk lokal yang mengenakan baju daerah. Ternyata mereka adalah suku Turkaman yang sudah turun temurun menjadi bagian dari warga Iran. Bahagia rasanya saya mendapatkan undangan langsung dari Eshaq, pemilik penginapan tradisional di daerah Ghomesan. Saya bisa langsung melihat keseharian suku Turkaman.

Bahkan, saya sempat merasakan tinggal di rumah tradisional Oy, mirip rumah Igloo yang berkubah, tapi bahan dasarnya berbeda. Mereka menghidangkan teh dan panganan lokal. Tak lupa, kami sekeluarga mencoba pakaian tradisional mereka. Sehari itu, saya merasa bukan sedang berada di Iran. Benar juga kata teman kami orang Iran, ke Golestan kita tak hanya akan disuguhkan alam yang indah tapi juga budaya Turkaman yang khas.

Pesona Desa Ziarat :

Bahagia rasanya bisa sampai di sebuah tempat yang dulu hanya saya kagumi di layar kaca. Desa yang terletak 17 km dari pusat Kota Gorgan ini pernah menjadi setting salah satu serial TV Iran. Suasana Desa Ziarat pagi itu benar-benar membangun memori saya tentang sebuah desa impian. Udara segar, kabut tipis yang terbang rendah, dan jembatan tua mengantar perjalanan kami menuju jernihnya air terjun. Selain menikmati keindahan alam, ada satu tujuan paling penting di desa tersebut. Situs bersejarah berupa makam penyebar agama Islam bernama Imamzade Abdullah.

Makam itu berada di dalam sebuah masjid yang indah. Posisi masjid dikelilingi bukit-bukit kecil yang mempesona, karena keberadaan makam itulah, tempat tersebut dinamai desa Ziarat. Sebuah petunjuk lain menyebutkan, penamaan desa Ziarat itu disematkan jauh sebelum keberadaan makam bersejarah, yakni sejak sekelompok pengikut Budha yang beristirahat dan berdoa di kawasan tersebut. Entahlah, sumber mana yang tepat.

Yang jelas, aura Desa Ziarat memang mampu menghadirkan ketenangan tersendiri bagi para pengunjung. Setidaknya, itulah yang saya rasakan.

 

Sumber: Jawa-Pos.24-Maret-2018.Hal_.8

Minangkabau.Kompas.25 Maret 2018.Hal.29

Imaji tentang Ranah Minang di Sumatera Barat selalu tentang alam yang indah berupa pantai, danau. Hingga ngarai nan elok. Begitu juga dengan pesona kulinernya yang menjerat lidah. Hati makin tertambat dengan kehangatan senyum dan sapa orang-orang Minang.

ISMAIL ZAKARIA & DWI AS SETIANINGSIH

Sumatera Barat (Sumbar) adalah surga bagi para pelancong. Posisinya yang berada di pesisir barat Pulau Sumatera membuat provinsi dengan 19 kabupaten/kota ini memiliki pantai-pantai dan pulau kecil yang menawan dari ujung selatan di Pesisir Selatan hingga utara di Pasaman Barat. Termasuk Kepulauan Mentawai dengan ombak kelas dunianya. Sumbar juga memiliki keindahan alam berupa gunung, danau, lembah, hingga air terjun nan elok dalam pelukan hijau hutan Bukit Barisan.

Kemasyhuran adat Minangkabau membuat masyarakatnya memiliki kehidupan sosial dan budaya yang tak kalah elok. Rumah gadang, sifat tradisional, musik, hingga tari-tarian tradisonal adalah kekayaan budaya yang begitu memikat untuk dikenal lebih dekat.

Sumbar juga surga untuk memanjakan perut dan lidah. Siapa tak kenal rendang, dendeng bakotok. Hingga olahan makanan laut di sepanjang pesisir pantai Sumbar. Berkunjung ke Ranah Minang artinya memanjakan diri dengan pemandangan elok dan kuliner lezat yang berserak nyaris di seluruh pelosok Sumbar.

Rabu (14/2)

PUKUL 07.00–08.00

Pantai Padang

Pagi selalu menjadi saat yang tepat untuk memulai perjalanan. Dari pusat kota Padang, terdapat Pantai Padang yang berjarak sekitar 1,5 kilometer, di tempuh hanya sekitar 10 menit dari pusat kota.

Di pagi hari, pantai ini ramai dikunjungi warga. Di bawah hangat matahari, mereka berjalan dan joging di jalur pedestrian atau juga di bibir pantai. Beberapa memilih refleksi, bertelanjang kaki pada batu-batu alam yang ditata membentuk jalan setapak melingkar.

Pemandangan menarik dipagi hari adalah aktivitas nelayan yang disebut maelo pukek atau menarik pukat. Aktivitas itu adalah salah satu kearifan lokal yang bertahan sampai kini. Jaring dilepas dengan kapal ke tengah laut, kemudian ditarik ke pinggir. Ikan yang didapat dibagi rata oleh para nelayan. Sore hari, senja di Pantai Padang adalah pertunjukan alam yang tak boleh dilewatkan begitu saja.

PUKUL 10.00-12.00

PARIAMAN – Dari Padang, perjalanan sekitar dua jam ke arah utara akan membawa ke Kota Pariaman. Alternatif lainnya bisa menggunakan kereta api dari Stasiun Simpang Haru di Padang selama 1,5 jam perjalanan.

Seperti halnya Padang, Kota Pariaman juga berada di kawasan pesisir. Maka ketika berada di Kota yang tengah menggiatkan wisata bahari, pantai-pantai eksotis menjadi suguhan seperti Gandoriah, Kata, Pauh, serta pantai-pantai di pulau-pulau kecil di sana.

Pariaman juga memiliki kawasan penangkaran penyu di Apar, Pariaman utara yang berdiri sejak 2009. Hingga saat ini, sudah puluhan ribu anak penyu (tukik) dilepas dari sana.

Ada juga kuliner unik nasi sek. Sek berarti ‘saratuih kanyang’ atau seratus kenyang. Dulu, harga nasi yang dibungkus daun pisang berukuran kecil itu hanya Rp 100. Sekarang, sekali makan dengan pilihan seperti lauk gulai kepala ikan, ikan karang, gulai jengkol, sambal, dan sayur singkong sekitar Rp 10.000.

PUKUL 14.00-15.00

AIR TERJUN LEMBAH ANAI – Dua jam dari Pariaman, saatnya menjajal segarnya air terjun Lembah Anai. Air Terjun dengan tinggi 35 meter ini berada di kawasan Cagar Alam Lembah Anai, sekitar 17 kilometer sebelum memasuki Kota Padang Panjang.

Posisi air terjun Lembah Anai yang berada tepat di pinggir jalan raya Padang Bukit Tinggi membuatnya ramai disinggahi pengunjung, terutama pada akhir pekan. Airnya yang dingin mengalir dari Sungai Batang Lurah Dalam dari Gunung Singgalang.

Sayang, derasnya guyuran air kerap membuat ciut nyali untuk menjajal menceburkan diri. Banyak wisatawan yang hanya duduk santai di tepi kolam air terjun sambil berswafoto salah satu kegiatan standar wisatawan saat ini.

PUKUL 15.00-16.00

KOPI KAWA DAUN – Setelah merasakan segar dan dinginnya air terjun Lembah Anai, menyeruput kopi kawa daun khas Minangkabau yang dibuat dari daun kopi yang diseduh bisa memberi kehangatan. Salah satunya ada didaerah Pariangan, di jalur penghubung Padang Panjang Tanah Datar.

Di sana, kopi kawa daun diminum menggunakan gelas batok kelapa. Rasanya pahit manis, bisa dicampur susu atau gula. Sebagai teman, ada pisang atau bakwan goreng hangat yang lezat disantap.

Kopi sebenarnya telah masuk ke Sumatera Barat jauh sebelum Belanda datang. Tetapi, ada kesalahan persepsi. Tanaman kopi dianggap sama teh. Akibatnya, alih-alih mengolah biji kopi, mereka justru menyeduh daun kopi. Bijinya terbuang percuma.

Kamis (15/2)

PUKUL 08.00-10.00

ISTANA PAGARUYUNG – Berkunjung ke Sumbar tak lengkap jika tak singgah ke Istana Besar Pagaruyung di Kecamatan Tanjung Emas, kota Batusangkar, sekitar 106 Kilometer dari Padang. Istana Pagaruyung saat ini merupakan replika istana asli yang terbakar pada tahun 1804.

Istana Pagaruyung saat ini lebih banyak difungsikan sebagai obyek wisata. Di dalam istana terdapat berbagai benda peninggalan kerajaan. Termasuk benda-benda yang bisa diselamatkan dari sejumlah peristiwa kebakaran yang telah berkali-kali melanda.

Biasanya, selain berkeliling menjelajahi bangunan tiga lantai istana hingga area di luar istana, pengunjung juga bisa berfoto dengan menyewa pakaian tradisional.

PUKUL 09.00-14.00

BEBEK LADO HIJAU – Dalam sebuah kesempatan, Wali Kota Bukittinggi Ramlan pernah berujar, “Belum lengkap menjadi orang Indonesia jika belum ke Bukittinggi.” Sebelumnya, ada juga ungkapan. “Belum ke Sumbar jika belum ke Bukittinggi.

Maka, Bukittinggi pun menjadi salah satu destinasi dalam perjalanan kali ini. Apalagi, Bukittinggi yang merupakan kota terbesar kedua setelah Padang saat ini masih menjadi ikon pariwisata Sumbar. Tak hanya pemandangan alam dengan udara segar dari Gunung Marapi, Singgalang, dan Sago yang mengelilinginya, Bukittinggi juga menawarkan wisata sejarah, budaya, kuliner, dan belanja.

Bukittinggi yang berjarak sekitar 2,5 jam dari Kota Padang bahkan pernah dijuluki kota perjuangan. Ini karena Bukittinggi menjadi kota kelahiran tokoh nasional seperti Mohammad Hatta, Sjahrir, Muhammad Nasir, dan Tan Malaka, serta sarat sejarah sejak zaman kolonial hingga kemerdekaan.

Di Bukittinggi, Menara Jam Gadang yang dirancang arsitek Yazid Abidin atau Angku Acik dari Nagari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumbar, masih menjadi magnet utama. Menara setinggi 26 Meter yang berdiri kokoh sejak tahun 1826 selalu ramai dikunjungi wisatawan.

Selain jam gadang orang akan teringat pada lezatnya bebek lado hijau atau bebek sambal hijau. Warung-warung penjual bebek lado hijau cukup banyak, terutama di kawasan Ngarai Sianok atau lembah di perbatasan Bukittinggi dengan Kabupaten Agam. Menyantap bebek sambil menikmati Sianok pas untuk menutup perjalanan dari Padang hingga Bukittinggi.

 

Sumber: Kompas.25 Maret 2018.Hal.29

Iran dan Semesta.Kompas.18 Maret 2018.Hal.28

Mengunjungi negara iran seakan menumpang mesin waktu ke sekian abad silam. Keindahan alamnya belum banyak dikotori jejak modernisasi, seperti papan iklan atau corat-coret dengan cat. Sementara di banyak tempat pola kehidupannya sungguh jauh dari hiruk pikuk modernisasi yang serba terburu-buru.

ARBAIN RAMBEY

Di beberapa tempat kita bisa melihat kondisi perumahan masih seperti ratusan tahun yang lalu, dari bentuk bangunan, susunan perumahan, hingga bahan pembuat bangunannya.

Di kota Kashan ada sebuah hotel yang berada di tengah permukiman sangat padat. Permukiman itu terdiri atas rumah-rumah yang terbuat dari tanah liat walau bagian dalamnya tentu sudah berisi peralatan modern, seperti pemanas listrik dan juga berbagai peralatan elektronik lain.

Yang menarik, susunan rumah di sebuah area di Kashan itu sudah terbuat dari abad belasan. Bentuk dan susunan rumah tidak pernah berubah, hanya diturunkan lintas generasi dan hanya diperbaiki kalau ada yang rusak. Ukuran, bentuk, dan bahan untuk perbaikannya sungguh-sungguh sama seperti asilnya.

Secara umum, berwisata ke Iran memang kurang lazim bagi orang Indonesia karena aneka kesalahan informasi tentang negara itu. Kenyataan menunjukkan bahwa orang Iran secara umum sangat terbuka, bahkan pengalaman menunjukkan mereka tidak keberatan difoto di tempat-tempat umum.

Ibu-ibu yang menggendong anak malah ada yang mendekat kalau melihat ada turis memotret anak kecil lain. Tawa ceria mewarnai komunikasi turis dan warga lokal di mana pun walau kesulitan bahasa sering jadi penghalang. Tidak semua orang di sana bisa berbahasa Inggris, bahkan di kota Teheran beberapa orang terpelajar malah lebih menguasai bahasa Perancis daripada bahasa Inggris.

Di provinsi Isfahan malah ada kota Abyaneh yang merupakan situs warisan dunia yang diakui UNESCO. Kota Abyaneh sudah ada sejak 2.500 tahun lalu dengan susunan perumahan tidak berbeda dengan saat didirikan sebelum Masehi itu. Saat ini penduduk Abyaneh tidak lebih dari 500 orang, dengan jumlah rumah sekitar 200 rumah.

Terletak di lereng sebuah bukit batu, penduduk Abyaneh mempertahankan tradisinya dengan kukuh, bahkan cara berpakaian dan berbahasanya pun berbeda dengan daerah di Iran yang lain.

Salju sampai gurun

Bagi orang Indonesia, berwisata ke Iran sungguh punya cakupan luas dari segi apa yang bisa dilihat dan dirasakan. Tidak banyak yang tahu bahwa Iran punya tempat yang saljunya ada di sepanjang tahun, bahkan selama 9 bulan dalam setahun salju di tempat itu cukup tebal untuk bisa dipakai bermain ski.

Di Tochal, sekitar 50 kilometer dari kbu kota Iran, Teheran, orang Iran bisa menikmati pegunungan bersalju selayaknya di Eropa. Tochal memang secara lintang belumlah terlalu utara, tetapi dengan ketinggian rata-rata lebih dari 3.500 meter dari permukaan laut, tempat itu menjadi bersalju abadi.

Sementara sekitar 4 jam perjalanan ke selatan Teheran, kita sudah bisa merasakan sensasi gurun pasir selayaknya di Timur Tengah secara umum.

Perjalanan ke salju bersuhu di bawah 0 derajat celsius dan beberapa jam kemudian bisa melihat dan merasakan panasnya gurun sungguh sebuah perjalanan yang mungkin tak bisa ditemukan di negara lain.

Gurun di Iran masih menyimpan kekhasan yang lain, yaitu danau garam yang sangat luas. Beberapa area di gurun sekitar kota Kashan itu tampaknya jutaan tahun yang lalu adalah dasar laut. Perubahan permukaan bumi membuat tempat itu jadi daratan, lalu secara perlahan air lautnya menguap dan menyisakan lautan garam padat dalam area yang sangat luas. Penggalian sampai lebih dari 1 meter di tempat itu masih mendapati garam semata tanpa campuran benda apa pun lagi.

Bagaimanapun, berwisata ke Iran secara umum adalah wisata arsitektur yang luar biasa. Di semua kota selalu ada bangunan yang dari segi detail sungguh sulit untuk dibuat lagi zaman sekarang. Mayoritas masjid yang ada di Iran mempunyai bentuk-bentuk khas dan selalu diisi detail memakai keramik yang sangat rumit dan halus.

Adapun kalau Anda mengunjungi Persepolis yang terletak antara kota Isfahan dan Kashan, Anda akan menyaksikan sisa kejayaan masa lalu Iran. Persepolis adalah kota yang didirikan Darius Agung sekitar 500 tahun sebelum Masehi. Sisa-sisa tiang yang tersisa, ornamen-ornamen, dan patung dari marmer yang ada sungguh menggambarkan bahwa Persepolis dulu adalah kota yang sangat megah, dan tentu saja merupakan ibu kota dari sebuah negara yang besar dan kuat.

Iran memang berpenduduk yang mayoritas menganut agama Islam, tetapi tidak berarti tak ada bangunan dari agama lain yang layak dicatat. Selain masjid-masjid dengan arsitektur dan ornamen yang memesona, gereja-gereja dengan kondisi yang sama pun cukup banyak walau ukurannya tidak ada yang terlalu besar.

Salah satu gereja yang layak dikunjungi adalah gereja Kristen Orthodox Armenia di Isfahan, Lukisan cat minyak yang menghiasi interiornya sampai tak ada tempat tersisa sama sekali sungguh sangat detail dan terawat.

Kunjungan ke Iran sebaiknya dimulai dari kota Teheran. Dari Jakarta, kalau mau ekonomis, Anda bisa memakai Air Asia lewat Kuala Lumpur, penerbangan langsung ke Teheran ditempuh dalam waktu 8,5 jam. Alternatif lain adalah memakai Thai Air lewat Bangkok dengan lama perjalanan kira-kira sama.

Setelah menikmati Teheran, termasuk masuk ke Grand Bazarnya untuk berbelanja aneka barang dari semua provinsi di Iran, perjalanan bisa dilanjutkan dengan bus menuju kota Shiraz. Perjalanan selama sekitar 12 jam ini cukup nyaman karena kondisi bus-bus di Iran bagus, lengkap dengan penyejuk dan penghangat sesuai kebutuhan. Biaya perjalanan darat di Iran relatif sama dengan biaya di Indonesia.

Kopi Indonesia

Dari Shiraz, perjalanan bisa diteruskan ke utara menuju kembali ke Teheran dengan melewati berbagai kota yang dipilih. Satu yang mencengangkan adalah di semua rumah makan tempat perhentian bus, kopi yang tersedia adalah kopi-kopi saset dari Indonesia. Kata para sopir bus itu, kopi-kopi itu adalah kopi terenak yang pernah mereka rasakan.

Hal yang juga penting untuk dicatat adalah berwisata ke Iran sungguh tidak mahal. Perjalanan seminggu di negara itu, termasuk biaya pesawat dan visa, plus biaya makan, penginapan (kelas menengah), transportasi darat lokal plus sedikit biaya guide, tidak lebih dari sekitar Rp 15 juta.

Mata uang yang berlaku di Iran adalah riyal Iran yang nilainya masih di bawah rupiah. Satu dollar AS setara dengan 37.000 riyal. Tidaklah heran kalau uang di Iran punya angka nominal yang besar-besar. Uang kertas terbesar yang bisa didapatkan adalah pecahan satu juta riyal yang kira-kira setara dengan Rp 300.000.

Karena besarnya angka pecahan uang di Iran, warga Iran menciptakan mata uang fiktif yang dinamakan Toman. Satu toman setara 10 riyal. Jadi, kalau Anda akan membeli sesuatu, umumnya harga yang ditawarkan adalah dalam satuan toman itu. Tidak pernah ada uang nyata dalam satuan toman, tetapi Anda cukup mengalikannya dengan 10 untuk mendapatkan besarnya dalam riyal.

Hal yang agak merepotkan adalah di Iran tak ada kartu kredit yang berlaku. Di mana pun Anda harus membayar tunai, sementara uang riyal cukup sulit untuk ditukarkan di negara lain. Selain itu, sistem waktu di Iran berbeda dalam satuan tidak genap alias 3,5 jam dengan Indonesia. Jadi dengan kata lain, waktu di Iran lebih cepat 3,5 jam dibandingkan dengan GMT, tetapi 3,5 jam lebih lambat kalau dibandingkan dengan Indonesia.

Maka kalau suatu saat Anda ingin berwisata dengan suasana yang sama sekali baru, cobalah ke Iran. Dijamin akan menjadi perjalanan indah yang tidak terlupakan!

 

Sumber: Kompas.18 Maret 2018.Hal.28

Gemuruh Tepuk Tangan Setiap 100 Meter.Jawa Pos.17 Maret 2018.Hal.827042018

Baru-baru ini Ubud, salah satu ikon wisata Bali yang tenar dengan ketenangannya, mendadak ingar-bingar. Seluruh elemen banjar (desa) dan perangkta kerajaan di Ubud dikerahkan untuk pelebon agung bagi Aa Niang Agung, istri kedua mendiang raja Ubud. Wisatawan tumpah ruah di Jalan Raya Ubud untuk menyaksikan prosesi agung yang memecah rekor Muri itu.

Pagi itu aktivitas disekitar Puri Saren Ubud dan sekitarnya lebih sibuk. Biasanya, area tersebut memang tak pernah sepi karena merupakan pusat wisata Kecamatan Ubud. Terletak dipermpatan jalan, puri (istana) tempat tinggal keluarga kerajaan Ubud itu berseberangan dengan pasar Seni Ubud. Dalam radius 1 kilometer (km) dari Puri saren ubud, ruas-ruas jalan ditutup. Digantikan sejumlah petugas PLN, polantas, dan panitia pelebon yang lalu lalang. Satu peleton tim gegana berlari-lari kecil mengikuti anjing yang mengendus-endus menyisir puri, memastikan bebas bom.

Kafe dan kedai-kedai kopi di sekitar puri tak kalah sibuk. Menunggu prosesi pelebon agung yang dimulai pada pukul 11.30, wisatawan memilih untuk nongkrong disana. Sejak pikul 08.30, hampir disetiap kafe, bangku terisi penuh. Di dalam puri, doa-doa dan puji-pujian dwibahasa, Sansekerta Bali, dibacakan bersahut-sahutan. “Kidung memang sudh dibacakan terus sejak pemandian. Selain doa untuk mendiang, juga agar suasana menjadi tentram.” Ungkap Tjok Abi, kerabat kerajaan.

Pelebon agung adalah prosesi kremasi adat bali khusus untuk raja Bali dab bangsawan kerajaan. Untuk masyarakat biasa, prosesi itu dikenal sebagai ngaben. Prosesi tersebut membutuhkan sejumlah properti. Tiga hal yang paling mencolok adalah bade, tratag, dan lembu cemeng. Ketiganya diletakkan disebelah barat Puri sren Ubud.

Bade adalah properti serupa bangunan yang menjulang tinggi. Untuk pelebon agung AA Niang, dibuat bade tumpang sia (tingkat 9). Ketinggiannya mencapai 27 meter. Simbol hewan-hewan menjadi bagian dasar bade yang dipakai kali ini. Paling bawah, ada lambang kura-kura, kepala gajah, kepala babi, dan terakhir ular. Di atasnya, pada ketinggian 17 meter, terdapat ceraken. Itu merupakan bilik yang akan diidi peti jenazah. Unyuk AA Niang yang merupakan istri raja, berkasta kesatria, dibuatlah tumpang 9 tingkat di atas ceraken setinggi 10 meter.

Bade itu sangat indah dengan ornamen-ornamen khas Bali. Beratnya konon mencapai 9 ton. Lebar antarsayap ornamennya 9 meterarsitek bade- yang biasa disebut undagi- itu adalah Tjokorda gde raka Sukawati (Cokde), mantan bupati Gianyar, keponakan mendiang. Untuk menaikan peti menuju ceraken, dibuatlah tratag. Tratag semacam tangga yang dibangun melengkung. Di tubuh konstruksinya, kayu-kayu dibalut dengan kain putih.

Pusat perhatian lain adalah lembu cemeng. Replika hewan seberat 2 ton itulah yang akan menjadi sarana kremasi jenazah. “ It’s a horse. Obviously it’s not a cow,”  debat Grace Jull saat saya memberitahunya bahwa itu adalah lembu. Jull adalah turis asal kanada. Kami berkenalan secara tak sengaja karena berbagi spot paling nyaman untuk menonton prosesi.

Kembali ke kuda, eh lembu. Melihat besarnya lembu cemeng dan bade, rasanya tidak masuk akal kalau keduanya akan diangkut manual oleh manusia, seperti saya, beberapa turis melongok ke bawah penyangga bade dan lembu cemeng mencari roda. Nihil, mesin penggeraknya benar-benar ratusan orang (pengarak) dengan semangat gotong royong. Jumlahnya konon lebih dari 400 orang. Pembagiannya, 300 orang untuk bade dan 100 orang untuk lembu. Para pengark itu berasal dari 15 banjar di wilayah Ubud.

Puri Saren Ubud ke Setra Jaba Pura Dalem Puri, tempat kremasi, berjarak 800 meter. Dibuat strategi estafet untuk mengantarkan jenazah. Ada delapan titik henti untuk bade. Artinya, setiap 100 meter pengarak bisa ambil napas. Melihat betapa beratnya benda-benda itu saat diusung dan wajah-wajah pengarak yang memerah, sontak ketika mereka berhenti dititik estafet, semua orang yang menyaksikan bersorak menyemangati. Tepuk tangan bergemuruh! Suit-suitan sahut-menyahut! Para pengarak tertawa lega dan bangga.

Sampai dilokasi kremasi, rombongan disambut tari-tarian. Lembu yang gagah itu diletakkan di atas tempat pembakaran. Kain putih yang membelit perutnya dilepaskan. Kemudian, secara horizontal tubuh lembu cemeng dibuka. Saat bade datang doa-doa dipanjatkan. Bade diselaraskan dengan tratag  yang dibuat pas sebagai jembatan antara ceraken dan perut lembu yang dibuka. Peti jenazah kemudian dimasukkan ke dalam perut lembu, lalu tubuh lembu dikembalikan seperti semula. Tak lama kemudian, proses kremasi dilakukan. Api berkobar, perlambang penyucian. Keluarga menyaksikan dengan khdmat. Prosesi pelebon agung itu berlangsung selama kurang lebih empat jam. Pada pukul 15.30, seluruh rangkaian acara selesai. Pelebon agung tak hanya menjadi sarana bagi keluarga untuk mengntarkan mendiang dengan baik, tapi juga menjadi pembangkit geliat wisata di Bali yang sempat lesu karena meletusnya Gunung Agung.

 

Diantar keluarga Jenazah :

Dalam peti diusung secara estafet oleh keluarga sepanjang tratag untuk diletakkan di ceraken pada bade.

Tuntutan Yang Kuasa :

Setiap prosesi harus terlebih dahulu disertai dengan doa agar pelebon agung terlaksana dengan lancar.

Asyik Berkostum :

Dia bukan kenalan saya, Grace, Jull, tapi begitulah pemandangannya. Banyak turis yang ikut berbusana adat Bali.

Tip melihat pelebon/ngaben :

  • Bawa kain Bali atau sekalian pakai baju adat. Namun, pastikan tetap nyaman untuk berlari-lari saat mengikuti arak-arakan.
  • Topi dan kacamata hitam akan jadi penyelamat dari terik matahari.
  • Mulailah menonton dititik start dimana bade dan lembu cemeng berada.
  • Jika ingin berfoto dekat dengan bade & lembu cemeng datang lebih awal. Sebab, setelahnya akan sulit.
  • Selama prosesi doa, sebaiknya jangan berisik dan memotret terlalu dekat. Hormati prosesinya.
  • Setelah prosesi peletakkan jenazah di ceroken, tidak perlu menunggu lagi. Mulailah berlari sejauh-jauhnya mendahului rombongan. Lalu, cari tempat yang agak tinggi untuk menonton.
  • Perhatikan tempat anda berdiri. Arak-arakan butuh tempat lebar dan mereka tidak bisa berhenti hanya gara-gara menabrak sesuatu. Berat bos!.
  • Setelah lembu cemeng lewat, baru bade. Setelah itu, anda sebaiknya berlari lagi mendahaului keduanya untuk menonton sekali lagi atau terus berlari sampai ditempat pembakaran jenazah.
  • Jika sampai di tempat pembakaran jenazah lebih dulu, anda akan bisa menonton prosesi penyambutan kedatangan. Ini yang saya lewatkan :’(.

 

Sumber : Jawa-Pos.17-Maret-2018.Hal_.8

Menyesap Keindahan Selandia Baru

SELANDIA Baru adalah negara yang amat menarik untuk dikunjungi. Keindahan alam dan budayanya membuat Negeri Kiwi ini ibarat menjadi surga bagi banyak orang untuk menikmati beragam wisata seru.

Negara yang memiliki dua pulau utama dan beberapa pulau kecil ini juga sering menjadi target untuk berburu obyek-obyek menarik bagi para pecinta foto, baik fotografer pemula maupun profesional. Maret hingga Mei disebut sebagai waktu yang tepat untuk berkunjung ke Selandia Baru. Sebab, di musim gugur tersebut, hari akan tampak cerah dengan suhu berkisar 18-25 derajat celsius. Sementara di malam harinya, suhu akan terasa sejuk.

Saat menginjakkan kaki di sana, awali petualangan dengan mengunjungi Auckland. Kota terbesar di negara ini akan menyuguhkan pesona musim gugur yang menawan. Kita bisa mengunjungi pesisir pantai, berjalan menapaki jalur lintas alam, atau menikmati pemandangan memukau lainnya. Wisatawan juga dapat melakukan wisata kuliner dan belanja dengan pilihan beragam.

Auckland Harbour Bridge jangan sampai lupa untuk dikunjungi. Luangkan waktu sejenak untuk memandang eloknya panorama Auckland sambil menghirup udara segar. Sementara bagi yang gemar dengan aktivitas pemacu adrenalin, dapat memilih paket bungy jump dengan melompat dari jembatan tersebut.

Perjalanan bisa dilanjutkan ke Matamata mengunjungi Hobbiton Village Movie Set untuk melihat tempat syuting film The Lord of The Rings dan The Hobbit. Kemudian, perkaya pengalaman dengan mengunjungi Rorotua. Di sini terdapat Tepuia, kawasan alam khusus untuk wisatawan yang ingin mengenal kehidupan dan sejarah Suku Maori. Selain itu, juga dapat menyaksikan pertunjukkan pencukuran bulu domba dan kelihaian anjing gembala mengumpulkan kawanan domba di Agrodome.

Rasakan pula eksotisme Rainbow Spring untuk melihat dari dekat flora dan fauna khas Selandia Baru, seperti burung kiwi, ikan trout, dan tumbuhan pakis perak. Dari sini, kita bisa beranjak ke Waitomo untuk melihat glow worm caves, gua yang dipenuhi dengan sejenis ulat yang memendarkan cahaya.

Sementara itu, di Queenstown, wisatawan dapat singgah sejenak di Mrs Jones Orchard farm melalui Cromwell, yang menjual berbagai macam buah musiman dan makanan ringan khas Selandia Baru. Tak berhenti di situ, perjalanan dapat berlanjut menuju Tasman Glacier untuk menyesap pengalaman menumpang perahu kecil guna melihat dari dekat bongkahan es dari gletser yang mengambang di perairan dengan latar belakang Gunung Cook. Jangan lewatkan pula Danau Tekapo untuk mengunjungi Church of The Good Shepherd.

Wisata kota Christchurch yang asri dan cantik juga perlu dilakukan. Kunjungi Mona Vale melewati Cathedral Square, menikmati pemandangan Sungai Avon, dan melewati Taman Hagley.

Tertarik untuk segera berkemas dan berwisata ke Selandia Baru? Jangan tunda lagi, Wisata untuk mencecap segala keindahan alam di sana dapat kita nikmati bersama ATS Vacations. Dengan harga tur mulai dari Rp 29,9 juta memanfaatkan jasa agen wisata berpengalaman, jalan-jalan akan terasa lebih mudah dan nyaman. [*]

 

Sumber: Kompas.15-Maret-2018.Hal_.26

Menyesap Keelokan Balkan

PESONA Balkan kian memikat orang untuk datang ke bagian tenggara Eropa. Kawasan ini menjanjikan pengalaman otentik dalam jelajah ragam budaya dan kekayaannya lanskapnya.

Di bandara Ataturk, Istanbul, Turki, itu Suzie-seorang pelancong yang berdomisili di Abu Dhabi-sedang transit untuk kembali ke negaranya. Ia baru saja menjelajah Eropa Tenggara dan Eropa Timur.

“Aku sudah mengunjungi hampir semua negara Eropa. Jika kau bertanya mana favoritku, aku akan mengatakan negara-negara Balkan. Mereka punya kekhasannya sendiri. Kota-kota dari abad pertengahan, arsitekturnya yang tidak kau temui di tempat lain, juga penduduknya yang sangat ramah.” Kata Suzie.

Negara-negara di Semenanjung Balkan memang tak ragu menyingkapkan pesonanya begitu Anda menginjakkan kaki di sana. Anda bisa mulai dari menjelajah kekayaan alam dan arsitektur Slovenia. Postojna Cave, salah satu gua terbesar di negara ini, memiliki pemandangan menakjubkan dengan stalaktit alami. Lanjutkan perjalanan Anda dengan mengunjungi Bled Castle dan Bled Lake.

Di Ljubljana, Anda bisa bergeser ke Kroasia, yang dapat ditempuh dalam waktu kurang dari dua jam perjalanan darat. Nikmati sejenak Zagreb, Ibu kota negara ini. Arsitekturnya menjadi salah satu daya tarik kota ini. Bangunan-bangunan ikoniknya, seperti Zagreb Cathedral, Gornji Grad, St Mark Church, dan Bloody Bridge terletak tak terlalu berjauhan dan bisa dicapai dari satu tempat ke tempat lain dengan berjalan kaki.

Plitvice National Park tak boleh Anda lewatkan. Taman nasional terbesar di Kroasia ini memiliki air terjun bertumpuk dengan air hijau toska yang sangat cantik. Anda juga bisa naik shuttle bus berkeliling menikmati keindahan taman. Lengkapi pengalaman Anda dengan mengunjungi kota tua Dubrovnik di tepi Laut Adriatik.

Bosnia-Herzeggovina wajib Anda masukkan ke daftar perjalanan. Di tempat ini, pengalaman yang Anda dapatkan akan jauh lebih kaya ketimbang sekadar berwisata. Jejak-jejak konflik itu masih terlihat. Di beberapa tempat, gedung-gedung dengan tembok cacat bekas peluru bersandingan dengan bangunan-bangunan baru yang lebih modern.

Kunjungilah St. James Church di Medjugorje, tempat penampakan Bunda Maria. Di Sarajevo, Anda bisa menyambangi gereja terbesar di Balkan, yaitu Old Sarajevo Orthodox Church Museum dan masjid terbesar di Sarajevo Gazi Husrev Beg Mosque. Belilah beberapa suvenir dari Bascarsija Square, bazar tertua di Sarajevo. Anda yang selalu menikmati atmosfer tempat baru juga akan terhibur mendengarkan banyak penjual yang fasih berbahasa Turki di sini.

Rasa kota yang berbeda lagi akan Anda cecap di Sofia, Ibu Kota Bulgaria yang terletak di bawah kaki gunung Vitosha yang indah. Anda juga bisa mengunjungi National Historical Museum dan Alexander Nevsky Church. Setelah itu, tutup perjalanan di Burcharest, Romania.

Mendengar cerita tentang keelokan Balkan tentu jauh berbeda dengan mengalaminya sendiri secara langsung. Bayu Buana Travel Services memberikan Anda kesempatan untuk merasakan perjalanan itu, dengan tempat-tempat pilihan membuat pengalaman berlibur Anda tak terlupakan. Agen perjalanan ini juga memberikan Anda bonus mengeksplorasi kota kanal Venesia sebagai sajian pembuka sebelum benar-benar menikmati Balkan. [*/NOV]

 

Sumber: Kompas.15-Maret-2018.Hal_.25

Destinasi Indah yang Patut Dikunjungi

ASIA menyimpan begitu banyak pesona wisata. Kalau pergi ke Jepang, misalnya kita dapat menikmati keunikan dan keindahan Shirakawago. Ini adalah sebuah desa tradisional yang sudah dikukuhkan sebagai salah satu warisan dunia UNESCO.

Bila ada kesempatan, kunjungi juga tempat-tempat indah di berbagai belahan bumi. Dari China hingga Amerika.

CHINA – Di China, kita harus singgah di Beijing. Di sini, kita bisa mengunjungi Istana Musim Panas, Stadion Nasional The Bird’s Nest yang menjadi tempat penyelenggaraan Olimpiade 2008, atau anak sungai Lijiang yang disebut Long Qing Xia Lake.

Inner Mongolia tak kalah memukau. Berbeda dengan negara Mongolia, Iner Mongolia adalah bagian dari China. Meski begitu, daerah yang memang berbatasan langsung dengan Mongolia ini tetap menawarkan lanskap alam rasa Mongolia.

EROPA – Norwegia yang masuk di blok Skandinavia menjadi salah satu negara Eropa yang oke untuk didatangi. Kita dapat mengunjungi Vigeland Sculpture Park yang merupakan museum terbuka dengan patung-patung yang menggambarkan sifat emosional manusia karya Gustav Vigeland. Patung masterpiece di taman ini adalah “The Angry Boy”

Lalu lanjutkan ke Rusia. Bermula dari Kota Moskwa, kita bisa berbaur dengan penduduk setempat dengan naik Metro Train yang sudah dibangun sejak 1935 dan memiliki beberapa stasiun cantik. Pada malam hari, kita dapat menonton Russian circus atau seni balet yang sangat terkenal di dunia dalam Russian ballet show.

AMERIKA – KANADA – Mengenal Amerika bisa diawali dari San Fransisco untuk melakukan city tour melihat Golden Gate Bridge yang menggantung dengan indah. Lalu mengunjungi Fisherman’s Wharf-Pier 39, kawasan favorit yang sering dikunjungi wisatawan asing, dan Union Square yang merupakan pusat Kota San Fransisco. Kita bisa melanjutkan perjalanan menuju Bryce Canyon yang mengagumkan, taman nasional yang terletak di barat daya Utah.

Tur di benua ini lebih terasa lengkap jika berkesempatan mengikuti salah satu atraksi di Air Terjun Niagara, Kanada, yaitu hornblower cruise. Lalu, teruskan perjalanan menuju Toronto untuk mengunjungi CN Tower, menara setinggi 553 meter. City tour ini bisa juga menyambangi Skydome, City Hall, Parliament Building, dan lainnya.

AUSTRALIA – SELANDIA BARU – Di Sydney, coba jelajahi pelabuhan, pantai, dan lingkungan kota yang semarak ini. Nikmati matahari terbit dari atas Jembatan Harbour atau matahari terbenam di Opera House. Wisatawan dapat bersantap lezat di sepanjang dermaga Woolloomooloo atau menikmati pertunjukkan teater dan tarian di sepanjang dermaga di Walsh Bay.

Lanjutkan perjalanan menuju Matamata di Selandia Baru. Di Kawasan rimbun ini, kita bisa mengunjungi Hobbiton Village Movie Set, kampung mini menakjubkan yang dibuat untuk produksi The Lord of The Rings dan The Hobbit. Selain melihat keindahannya, kita juga akan mendapat informasi proses pembangunan pembuatan kawasan ini.

TIMUR TENGAH – Turki dapat menjadi tujuan yang menyenangkan. Membentang dari garis pantai yang elok keemasan, tanah peri Cappadocia dengan lembah-lembah yang tersusun bergelombang, sa,pai gunung-gunung di dataran tingginya. Belum lagi arsitektur dan budayanya. Dari kota pelabuhan kuno Efesus sampai dome Byzantine Aya Sofya, Turki menjadi destinasi untuk menelusuri jejak-jejak peradaban lama lewat monumen dan sisa-sisa bangunannya.

AFRIKA – Menapakkan kaki di Afrika, jangan lupa untuk mampir di Air Terjun Victoria. Di sana, pengunjung dapat menikmati suguhan menakjubkan, termasuk melihat pemandangan dari ketinggian. Tentu, kita akan terbuai dengan suasana senja di kawasan air terjun yang berada di perbatasan antara Zambia dan Zimbabwe tersebut.

Jalan-jalan ke berbagai destinasi ikonik dunia, sebaiknya menggunakan jasa agen wisata berpengalaman agar lebih nyaman dan aman. Avia Tour dapat menjadi salah satu rujukan agen perjalanan yang andal.[*]

 

Sumber: Kompas.15-Maret-2018.Hal_.25

Exploring Your City Like a Tourist- a New Pair of Eyes

PHOTO & TEXT BY SIMRAN ISHWAR NANWANI

Every city has its own flair and speciality. When we travel to any country and explore different cities we enjoy and discover something new. A trip to a new place makes us feel our holiday was well spent. Being a tourist means “a person who travels to explore a place for pleasure”, this means we can be a tourist anywhere even in our own city. Having lived in Jakarta, I decided to change my perspective by discovering my city as a tourist. Jakarta is the capital city of Indonesia and it is a city that is vibrant filled with cheerful people willing to help and guide you anytime, anywhere. Each city has their specific landmarks that is a must visit. In Jakarta, there are not many places to visit but some give a completelly new outlook on what our city is all about.

There are many ways to see your city like a tourist, you can have a group of like-minded friends and go together or join a group of explorers who do tours to various parts of the city. I chose to do the latter and have found many new things about my city. By seeing new things, learning more about my culture has helped me to grow through photography. Capturing is about Perspective or Vista, a way we see everything around us, Thus, taking pictures through exploring helps to motivate the photographer to gain perspective and have an outlook.

Through my trips, I saw my city in a new way and tried to click as many photos as I could to treasure the moments. Whilst clicking, I was able to experiment with my camera to understand the principles of Photography, I learned the meaning of ISO, aperture, exposure, focus, and white balance and how to use them during my captures. Through the process, I realized once you understood how to balance the light with ISO and Aperture, the rest goes with how we feel during the moment. Although, I am not even close to mastering these main features but, the mystery behind the balance allows me to keep sharpening my skills.

In Jakarta we have various aspects of culture and history spread in different parts of the city such as museums, historical sites, markets, or even the harbor, As much as I love going to museums, I’d like to highlight the places that made me appreciate my city more.

Glodok – Glodok is considered our “China-town” although, it is completely different from Chinatown in other cities around the world. The history of this area dates back to the Dutch era, where the Chinese were brought to Indonesia as slaves from China. They resided in this area and many of them have remained in the area till date. Currently, the local Chinese community have moved to different areas in Jakarta, yet, Glodok still remains the main hub for their supplies of food, vegetables, and medicines. The tour around this place was thoroughly fun. Walking around Glodok and the market was a new experience for me. We learned about the cultural heritage and historical treasures. The narrow alleys, muddy streets and rundown buildings were part of our adventure. Taking pictures of the surroundings made one fel like part of their daily routine.

Kota Tua – Kota Tua means Old Town, which is the original down town area of Jakarta. It is also known as Old Batavia. It’s called Old Town because it is the older part of Jakarta, built during the Dutch colonial rule. There are a few museums around Kota Tua, namely the Wayang Museum (Puppet Museums), the Historical Museums, Museums Bank Mandiri, Museums Bank Indonesia and Fine Art & Ceramic Museum. Whilst touring this area, I didn’t feel like I was in Jakarta. The architecture and the layout transports you to Europe. There is much hope to restore this area to rejuvenate Old Jakarta’s legacy. The photos below are of the main Kota Tua square and Museum Bank Mandiri to portray the heritage and fine architcture.

Mosque and Church – The Masjid Istiqlal (Independence Mosque) is known to be one of the largest mosques in Southeast Asia. The national mosque was built to commemorate Indonesia’s Independence. When entering the Mosque, as any other religious holy place, you feel peaceful and calm. It was a fulfilling experience to explore the architecture of the mosque and feel the atmosphere inside it. It is a massive building and can accommodate up to more than 120,000 people. The building near the Mosque, the Jakarta Cathedral (Roman Catholic Cathedral), also has a very fine and intricate architecture. This building reminded me of the churces we see in European countries. The way it’s built, the feeling inside the church and the complete structure of it, is beautiful. It was irresistible no to take a snap or two to capture the details of these buildings.

There are still many more interesting places to see and discover the wonders of Jakarta. Exploring it like a tourist, has made me value it evn more. Jakarta may not have a perfect description but, it is a part of Indonesia, a country which is diverse, yet united.

 

Sumber: Independent-Observer.16-22-Maret-2018.Hal_.22

Cap Goh Meh-a Celebration of Hope, Joy and Pluralism in the Old Town Area of Jakarta

Tamalia Alisjahbana

INDEPENDENT OBSERVER

 

In Glodok, the Chinese quartersof the Old Town area of Jakarta, Cap Goh Meh has been celebrated for centuries. The only interlude was during the Suharto era but in 2002 President Abdurrachman Wahid, popularly known as Gus Dur allowed Indonesian Chinese to revive their old customs and traditions and one of the most important of these is the celebration of Cap Goh Meh.

Cap means ten and Goh means five for the festival is celebrated 15 days after the Chinese New Year. In China 15 days after the New Year the wealther was warm enough to begin preparations for the spring planting and the festival was once held to ensure a good planting and later a good harvest. In the Kota Tua or Old Town it is today a festival to ensure everything good.

Mr. Lie Tong a longtime resident of the area explained, “In the old days there were bazars and all sorts of danoes and music for days in advance, The gambang kromo with the Betawi barongsai lion dance, the cokek mask dance, the tanjidor oom-pah-pah band all used to help celebrate Cap Goh Meh and everyone took part. Anies Baswedan the Governor of Jakarta sat in my house once – did you know that he used to live in this part of town? – and he said, This is a most tolerant area with all sorts of ethnic groups and religions and they always celebrated together,” In the old days there were Arabs, Chinese, Javanese, Dutch – all sorts of people living here.” To a certain extant it is still like that.

This year the relatively new Chinese temple, Fat Cu Kong rather than then its two older neighbours, 17th century Jin de Yuan and 18th century Toa Se Bio temples, organized the festivities. The climax of Cap Goh Meh is a one and a half hour procession of palanquins – called joli-carrying gods from various temples interspersed with lion and dragon dances and other music and entertainment. The other temple’s had sent their palaquins and gods the day before to FatCu Kong temple and the next day the procession started from there. “The event used to be called Gotong Toa Pe Kong”, commented Mr Lie Tong. “It means ‘Carrying the Honourable Ancestral Uncles.’ Now the procession is referred to as kanib.

When asked why it was Fat Cu Kong and not one of its older neighbours that organized the Cap Goh Meh celebrations, Pak Toto one of the members of Fat Cu Kong’s board of directors explained, “We are very active in attending events organized by other temples all over Indonesia so we know many more of temple boards and it is easier for us to invite them for Cap Goh Meh,”

This does not mean that the other temples were not busy with their own events. Aling a young lady living in the area was busy buying 10 tiny pipits (a lark like passerine bird found in rice fields) from a bird seller in front of the Jin de Yuan temple. “I shall bring them to Toa Se Bio (bio means temple) there three of their gods, Kwan Khong, Macho and Kwan Im will for a few hours during Cap Goh Meh be open to entering a petitioner’s heart and fulfilling their prayer request.”

“What will you ask for?”

“My parents are ill and all I want is that they get well.” She sighed eyeing a wooden crate with tortoises in it, *It’s also possible to release tortoises or cels or fish but then one has to find clear, running water for them and that is more difficult than releasing birds into the air.”

All day last Saturday Fat Cu Kong temple received palanquins and gods from temples not only in Jakarta but from as far away as Tangerang, Bekasi, Tegal, Semarang, Cirebon, Lampung and Bali. In all there were 80 palanquins bringing over 100 gods.

The Cetya Tirta Harum in Denpasar, Bali brought a statue of Shiva and their own joli accompanied by Balinese in traditional costume with the men in the elegant male head dress. Their leader, Ibu Joro Candra said that in the cetya or temple in Bali there are statues of Shiva, Buddha, Kwan Im, Kuan Khong, Ida Resi Pendita, Tuti Pakung, the Earth God and Bunda Kanjeng Ratu, also known as Nyai Loro Kidul or the Goddes of the South Sea who is married to every Sultan of Jogjakarta. When asked how so many different deities could coexist in one place of worship she replied, “I am a healing he can pray to Shiva, a Buddhist can pray to Buddha, a Javanese of the old religion may send prayers to Nyai Loro Kidul. All are welcome.

The Dayak communiy in Jakarta appreared in traditional Dayak costume with an image of a dog for the year of the dog.

Fat Cu Kong is a tri dharma temple which means that it is of the Tao, Confusion and Buddhist faith. Inside the temple are the Chinese gods but in front of the temple stands a Buddha with four faces and at the feet of the Buddha is a black Ganesha statue. There were further traces of Indian influence in the men from several different temples marching in the parade with small skewers plercing their mouths from check to check somewhat reminiscent of the Thaipusam festival of the Indians of Malaysia. “They are called Tangsin and they go intro trance.” Elaborated Mr Lie Tong. The most eye catching of these was a man dressed in white with a top knot of hair looking like an Indian sadhu with a skewer through his checks.

Dayak communities living in Jakarta also sent palanquins and dressed in full Dayak regalia they were the most conspicuous and attractive of the participants with hornbill heads and birds skulls, pale yellow coconut blossoms, trailing beautiful spotted argus pheasant feathers. They were the centre of attention and marked their arrival with traditional Dayak yells and screams. People were pushing to have their photos taken with them. The Dayak palanquin from West Kalimantan carried ancestral figures , an other carried the figure of a dog, a sacred Dayak image reflected in the sky dog, a sacred Dayak image reflected in the sky dogs of the Chinese temples and of course, it is the year of the dog. There were even some Papuans with beautiful bird-of-paradise feathers on their heads. It was truly a unity in diversity celebration.

The procession was led by the Baladika dance group of Diponegoro 4th Military Command of West Java’s. In camouflage uniforms they performed the naga doreng dragon and lion dance. Chief corporal Edi with a fierce, battle hardened, sun burnt visage, sun glasses and brown beret led the group. When asked why their division had chosen to do the dragon and lion dance he replied fiercely, “To be close to the people! Our division is based in Semarang and this is a very popular dance there!”

“But your division holds the military command for West Java, why not a gamelan?”

Chief corporal Edy scowled even more fiercely, “We have a gamelan and a rebana as well… Madam, it is the task of the military to uphold and promote unity in diversity for all ethnic and cultural groups of the Archipelago!!” And so, they led and opened the parade with Chinese lions and a green jungle camouflage colored dragon and perhaps it all does make sense as the military has always been a bastion of diversity, recruiting members from all over Indonesia and posting them everywhere.

Second, in the parade, were the ondel-ondel, two large male and female puppets with people inside them, dancing along the road. They wore Betawi costumes with their silver tinsel hair and they are the icons of Jakarta. The dance and music group, Sanggar Betawi Al Fathir dressed in red velvet picis (nationalist Indonesian hat) and red silk Malay costumes brought the ondel-ondel while playing Rayuan Pulau Kelapa (a nationalist song about the carms of the coconut and jasmine isles also known instruments.

Third in place were the palanquins of the Fat Cu Kong Temple. Fat Cu Kong as the host temple had six palanquins bearing six gods. The first was of course, Fat Cu Kong, the temple’s name sake and patron, a hero who slayed the great snake that absorbed the energy of the sun and moon and who later become a god to whom one can turn for difficult problems and illness. The others were the Earth God, the god Against the Black Arts, Kwan Im the Goddes of Mercy and Compassion, Kuan Kong the God of War who protects and defends the oppressed and Macho, Goddes of the Sea.

Many temples brought not only their own palanquins and gods but also their own dances and music. For the Chinese temples these were lion and dragon dances with drums, gongs and cymbals. One joli perhaps in remembrance that Cap Goh Meh was originally a festival for the spring planting was covered in artificial pink cherry blossoms. Usually, the jolis carry one god but this one had three gods sitting peacefully next to each other, the music also included traditional bamboo angklung music.

Participants dressed as the Year of the Dog and the Year of the Rooster.

It was a community event with the women determined not to be left behind. The Athadasi group had a lovely young girl gallantly beating the big drum with the young men around her pushing the vehicle carrying her and the drum.

The karib passes her house every year but Ibu Lydia who lives on Jalan Kemenangan III told me that sometimes she goes elsewhere such as Jalan Gajah Mada to watch the happily. Meanwhile, people in the crowd pushed red angpao envelops filled with money, onto the palanquins for added blessings and at times some of the attendants would throw blossoms from the bunga rampai or holy flowers i.e. roses petals, jasmine and chempaka magnolia flowers that had been used for the prayers on the palanquins after the gods arrived at Fat Cu Kong temple. The flowers are said to bring blessings too.

Mr Lie Tong explained that for the Chinese New Year the traditional dish has always been stewed milk fish from the swamps and fish ponds along the coast to the north. “But the fish ponds and swamps have now become reclaimed land and developed.” Nevertheless, the market stalls near the temples were filled with enormous milk fish.

Meanwhile, there was also free food provided by Ci Embot dan Ci Wawa, two Chinese Peranakan ladies in their sixties with a small street stall beside the Balndongan canal facing the bridge under a shady tree. Every year they provide free food for people participating in the temple festivities. “For Cap Go Meh we cook the traditional lontong Cap Go Meh dish (squash in a coconut stew with sticky rice and turmeric chicken, prawn crackers and dried salted fish crackers) and we have been doing this since 1954. Before that our mother cooked it and before that our grandmother and she was Hollands spreken (what they meant was that she was Dutch).”

“When they are gone there is no one left who will cook it anymore here,” added a lady sadly as she dug into her plate of lontong.

“Why do you prepare free food  for so many people?” I asked Ci Embot.

“Because it makes me happy when I can give so many people food. For Chinese New Year I prepare milk fish, hong pork and fried chicken – those are the New Year foods of us people”

“And who are tou people?” I enquire,

Without the slightest hesitation and with a broad smile across her face she responded with pride, “We are the Chinese Betawi people!”
the poles of the toy sellers hung with toy dragons which he shook so that a hundred tiny, colourfull dragons were dancing in time to the music. The colours of the day were red and gold. There were dragons galore, flowers, music and dancing. God was presented teher in all forms imaginable. Those who love the customs and traditions, the arts and the cultures of Indonesia will always want and support its unity in diversity.

Sumber: Independent Observer 9-15 Maret 2018

Tanjung Lesung, an Appealing Tourism Destination Alongside Anyer and Carita

Muhammad Akbar

INDEPENDENT OBSERVER

 

Jakarta – For a seaside vacation in Banten or West Java, surely you often recall the famous Anyer and Carita Beach, or probably other beautiful shores along Banten coastlines. One of them, aside from aforementioned location, is Tanjung Lesung, with Bodur beach as the emerging tourism site and alternative destination for seaside breeze seekers. Located precisely along Tanjung Lesung Main Road, Tanjungjaya Village, Panimbang District, Pandeglang Regency, Banten, Indonesia.

Bodur beach in Panimbang possesses such interesting views and a beautiful atmosphere with the savanna and shady trees along the way to the destination, making this beach really worth a visit.

In the summertime, surrounding vegetation are drying up as it makes the scenery appears brownish like a savanna. White sands and calm waves perfectly give solitude ambience with the appearance of fishermen’s boats under the rows of coconut trees. As a tropical country, Indonesia boasts an enormous coastline with many of them still secluded.

Since late 2012, Tanjung Lesung has widely known by its plentiful options of tourism sites for the visitor to try, with the likes of resorts, beach clubs, and other kinds of destinations which strongly elevate Banten as one of the attractive places for tourism.

Entering the area, visitors will be greeted with stunning sights along the way also will be welcomed by guards under the classy gate; later the guards will provide official visitor cards whilst asking for the appropriate destination. Bodur Beach comprises white sands and greenish-blue ocean water that pictures such magnificent natural scenery.

From every aspect that will fascinate visitors, of course, the state of the less-crowded place is the most prominent point, as it feels like a private beach. Despite its uninhabited appearance, plenty of food stalls and souvenirs are available around the parking area and also other supporting tourism facilities like a mosque, toilet, rest area, homestay, and restaurants, all in good condition.

After having fun and freshening your mind in Bodur, probably you should also pay a visit tto Cikadu Tourism Village. Located in the same district, this place has been well-known as one of the most recommended tourism sites within Tanjung Lesung it self. Previously, Cikadu Village was famous for its cultural uniqueness and local art performances which attracted visitors to come around. Not only cultural-wise, natural tourism destinations on par with Bodur Beach are available with Curug, Salak Purus, and Cijedang River.

Unfortunately, following the trauma from the disastrous tsunami incident that hit Aceh 13 years ago, Cikadu seems to get less attention from potential visitors, although possessing beautiful and lovable scenery. Most seem afraid of the same danger, yet Cikadu still stands with its beauty and appears more attractive than before.

One of Cikadu’s charismatic destinations is Batik Pandeglang Centre. This is the heart of batik production in Pandeglang, with its own typical self-made motive inspired by notable Pandeglang symbols such as single-horned rhinos and Krakatoa. Established in April 2015, this business has been empowering members of Family Foster Care (PKK) to express creative skills of batik production to be made as local souvenirs.

Slowly, Tanjung Lesung has started to fulfill its potential through local developments while progressing to become a reputable tourism site. Currently there are villas, townhouses, golf courses and a specially-designed harbour called marina being developed around that site. The later spot is predicted to be the biggest harbour in Southeast Asia. Alongside that massive development, local goverment has been enhancing road facilities by covering accessible areas with good asphalt.

Right now, slowly but sure, Tanjung Lesung seems to be going to achieve those targets. All specified activities to improve the area are happening: for instance, coral reefs planting around the oceanfront. These coral reef enhancements are expected to enrich dynamic underwater life and beautify them to attract snorkelling or diving enthusiasts in the near future.

Not only that, developers are trying to comprehensively build up the surroundings through a tourism village concept by involving local citizens. People start to embrace productive activities such as producing batik, handicrafts creation or even creating typical local snacks.

This is in line with the expectation of Bantn Government which set the region as a Special Economic Zone on February 23rd, 2015. Tanjung Lesung development also happened to foster local economic activities as well as elevating citizens’ living standards.

As one of the alternative holiday destinations, Independent Observer truly recommends this place to seal the pleasure of your weekend get away. Close to the Jakarta capital, this area will surely impress you with its delighful panoramic views all around.

Sumber: Independent-Observer.16-22-Maret-2018.Hal_.18