Selangkah Perjalanan, Segenggam Petualangan

Solusi-Wisata-Revolusioner.-Kompas.24-Juni-2015.Hal.13

Selangkah Perjalanan, Segenggam Petualangan

Travel is the only thing you buy that makes you richer. Kalimat ini menyapa tepat di depan pintu rumah penginapan sederhaana di Pulau Weh, Sabang. Kalimat ringkas yang memaksa setiap pembacanya merenungi sejenak dan mengembangkan senyum perlahan.

UNGKAPAN dari seseorang yang tak dikenal ini telah membahana ke seluruh penjuru dunia. Bahkan dijadikan “mantra” oleh sebagian orang yang mengaku candu berkelana. Karena sejatinya berkelana bukan sekadar berjalan-jalan, tetapi menyerap berbagai hal yang ditemui di sepanjang perjalanan-bukan hanya sesampainya di destinasi. Semakin tinggi frekuensi perjalanan, semakin kayalah ia. Kaya akan pengalaman, pengetahuan budaya-seni, geografis, politik, hingga nilai hidup. Konon, inilah yang membedakan seorang turis dan petualang.

Dari sini, pelajaran menghormati perbedaan dan keragaman bisa dipetik tanpa terlalu banyak petatah-petitih. Kemampuan memaknai perbedaan menjadi modal untuk hidup berdampingan sebagai warga dunia yang dihuni oleh berbagai macam kelompok masyarakat. Siapa nyana, dari sekadar hobi dan kebutuhan, berwisata bisa menjadi pemersatu hidup bersaudara antargolongan dan kelompok.

EVOLUSI GAYA HIDUP

Jika dulu hanya segelintir orang yang melakukannya, berwisata kini berkembang menjadi sebuah industri berskala global dan memberi kontribusi signifikan bagi pendapatan negara. Seperti halnya Indonesia, yang pada tahun lalu bahkan pertumbuhan industri pariwisatanya melebihi pertumbuhan ekonomi nasional. Badan Pusat Statistik pun mencatat jumlah turis asing yang berkunjung ke Indonesia selama Januari-September 2014 naik 8,31 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Berwisata, dari sekadar kebutuhan tersier, kini memang telah menjelma menjadi bagian dari gaya hidup, terutama di kalangan anak muda. Jargon yang diusung juga berubah. Hidup tak melulu belajar, bekerja, dan menabung, tetapi juga menikmati hidup dengan melihat berbagai belahan dunia.

Perjalanan ini bisa dipilah berdasarkan tema. Wisata alam, sejarah, belanja, kuliner, atau mencoba menjadi seorang backpackers sejati yang berkelana mengikuti naluri, dengan berbekal peta di tangan.

Evolusi dalam dunia wisata inilah yang membawa perubahan pada cara seseorang memaknai sebuah perjalanan. Sifatnya semakin personal, pilihan gaya berkelana kian beragam. Traveling in style pun menjadi sebuah idiom yang baik secara terbuka maupun diam-diam diidamkan banyak orang.

BERKELANA GAYA

Hostel dan resor mewah, destinasi eksotis, bertualang kuliner, hingga perjalanan bertualang yang seru, dan tidak terlupa, ditemani tas yang mampu membawa barang bawaan dengan nyaman sekaligus eksklusif. Hal-hal ini kerap diidentikkan sebagai cara untuk berlibur penuh gaya.

Nah, cara seseorang mengemas bawaannya itu menentukan kenyamanan selama berkelana. Dengan bentuk desain dan teknologi tas perjalanan yang semakin beragam dewasa ini, patut kembali memperhatikan esensi dan fungsinya sesuai dengan destinasi, durasi, dan gaya berkelana. Jika merupakan perjalanan singkat, tak ada salahnya memilih cabin baggage yang bisa dimasukkan dalam kabin pesawat.

Hal itu juga memberi kepraktisan lebih, tidak perlu mengantre di konter check-in untuk memasukkan koper ke dalam bagasi pesawat maupun menunggu keluar dari bagasi. Di sisi lain, jika membawa barang berharga, cara ini juga lebih aman karena tak melalui tangan kedua dan ketiga.

Untuk perjalanan bisnis sebaiknya gunakan koper yang juga dapat mengemas perlengkapan bekerja Anda seperti laptop. Untuk perjalanan yang menempuh waktu lama, sebaiknya pilih ukuran sesuai kebutuhan dengan koper warna cerah atau unik agar mudah diidentifikasikan. Kalaupun hal ini terasa tak sesuai dengan karakter, siasati dengan label tas yang unik dan stylish.

Pada perjalanan berlibur, sebaiknya gunakan tas yang ringan dan mampu menampung bawaan dengan praktis. Dengan demikian, barang bawaan yang diperlukan tetap terangkut, barang-barang hasil buruan belanja pun tetap terakomodasi tanpa membuat bawaan menjadi terlalu berat.

Mengutip ujaran penerbang dan penyair asal Perancis Antoine de St Exupery, “He who would travel happily must travel light.” Untuk apa membebankan diri dengan berbagai bawaan dalam tas jika pada akhirnya mengganggu kenyamanan perjalanan?

 

UC Lib-Collect

Kompas. 24 Juni 2015

 

Kemeriahan Cap Go Meh di Singkawang

Kemeriahan-Cap-Go-Meh-di-Singkawang.-Kompas.-18-Juni-2015.Hal.33

Jika Anda ingin menyaksikan perayaan Cap Go Meh yang meriah, wajib rasanya mengunjungi Kota Singkawang, kota dengan budaya etnis Tionghoa yang kental. Perayaan Tahun Baru Imlek dan rangkaian acara Cap Go Meh merupakan gelaran tahunan terbesar di salah satu kota Kalimantan Barat ini. Anda akan terkesima dengan atraksi Tatung dan Wayang Gantung.

TATUNG adalah atraksi perempuan, pria, dan anak-anak berkumpul untuk menjadi media penolakan terhadap kemalangan dan roh-roh jahat sepanjang tahun. Para tatung mengenakan pakaian kebesaran layaknya panglima perang Tiongkok dan pendekar silat.

Selama ritual, mereka dirasuki dewa-dewa sehingga mampu melakukan berbagai tindakan di luar kewajaran. Ada yang mampu duduk di atas pedang, duduk di atas papan yang dipenuhi paku runcing, bahkan ada yang ditusuk besi dari pipi kiri menembus pipi kanan. Menurut budayawan Kalimantan Barat, Lie Sau Fat atau Xaferius Fuad Asali, atraksi Tatung ini merupakan tradisi suku Hakka, yang justru di Tiongkok mulai sulit ditemui, kecuali di Tibet dan Taiwan.

Rangkaian perayaan Cap Go Meh atau 15 hari setelah Imlek, berlangsung dengan beragam kegiatan berhari-hari di berbagai taman kota dan pelosok kota. Mulai dari pembukaan, festival dan pawai Lampion, kontes Miss Shanghai, pentas seni budaya, dan hiasan berbagai obyek besar seperti gerbang Tiananmen, pohon mei hwa, patung Dewi Kwan Im, Nagam, serta bangunan khas Tionghoa tempo dulu. Arak-arakan budaya ini melibatkan aneka etnis sebagai bentuk ajakan kedamaian dan kebaikan bersama.

KOTA SERIBU KELENTENG

Selain Festival Cap Go Meh, Singkawang memiliki banyak bangunan kelenteng dan menjadi daya tarik wisata. Hampir setiap 500 meter berdiri kelenteng, baik kecil maupun besar, tersebar di kanan kiri jalan. Tak heran jika kota ini sering disebut “Kota Seribu Kelenteng”. Salah satu yang terkenal adalah Kelenteng Tri Dharma Bumi Raya yang terletak di Jalan Diponegoro. Kelenteng tua ini dibangun pada 1878, letaknya di pusat kota dan menjadi ikon Kota Singkawang.

Tradisi lainnya yang masih terjaga adalah pembuatan keramik yang pembakarannya menggunakan tungku naga, cara yang persis dilakukan di Tingkok. Selain itu, terdapat beberapa lokasi wisata lain yang juga menarik untuk dikunjungi, antara lain Taman Pasir Panjang Indah (TPPI), Wisata Bahari Palm Beach, dan Sinka Island Park di Kelurahan Sedau, Kecamatan Singkawang Selatan, arah ke Pontianak. Ada juga Taman Rekreasi Chidayu Indah dan Bukit Bougenville di Kelurahan Sijangkung, serta Taman Rekreasi Teratai Indah di Kelurahan Pasiran.

TUGU KHATULISTIWA

Kota Singkawang berjarak 145 kilometer dari Pontianak dengan waktu tempuh 3,5 jam perjalanan darat. Dalam perjalanan dari Pontianak menuju Singkawang atau sebaliknya, sempatkanlah singgah sejenak di Equator Monument atau Tugu Khatulistiwa di Jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara, sekitar 3 kilometer menuju Kota Singkawang.

Fenomena alam paling menarik terjadi di lokasi yang tepat berada di garis khatulistiwa ini. Saat titik kulminasi matahari, yakni ketika matahari berada tepat di garis khatulistiwa, semua bayangan benda-benda di permukaan bumi menghilang selama beberapa detik meski sinar matahari menerpa. Demikian juga dengan bayangan benda lain di sekitar tugu. Kulminasi matahari terjadi dua kali setahun, yakni 21-31 Maret dan 21-23 September.

Singkawang juga memiliki beragam panganan enak. Beberapa di antaranya menjadi favorit masyarakat setempat dan menjadi incaran para wisatawan yang berkunjung, antara lain mi kering H Herman, mi asin, bubur sapi, sate ayam depan Wihara Tri Dharma Raya, bubur pedas Bendahre, serta sotong kangkung dang sotong bakar Resto 1+1+1 di Jalan Pasar Turi Nomor 52.

Akomodasi di Singkawang dilengkapi dengan 7 hotel berbintang dan 23 hotel kelas menengah. Jika Anda berencana berkunjung ke Singkawang, terutama saat perayaan Imlek dan Cap Go Meh, pesanlah jauh-jauh hari. Biasanya dua bulan menjelang perayaan, semua hotel sudah habis dipesan.

 

UC Lib-Collect

Kompas. 18 Juni 2015