Sigit Ibrahim_Penyelamat Primata Teraniaya. Kompas. 9 Februari 2021. Hal.16

Menikmati Sensasi Lekso Advanture di Kabupaten Blitar_Sensasi Melibas Jeram. Jawa Pos. 24 Januari 2021.Hal.22

Dari Menari Hingga Membangun Relasi. Bisnis Indonesia. 23 Januari 2021.Hal.8

Jelajahi Warisan Geologi. Tabloid Kontan. 25 Januari-31 Januari 2021. Hal.24

170

MENENGOK SURGA BAHARI DI UTARA SERANG. travelclub.co.id. 19 September 2019

https://www.travelclub.co.id/menengok-surga-bahari-di-utara-serang/

 

STORY TELLING JADI METODE PENAMBAH PENGALAMAN BERWISATA. travelclub.co.id. 7 Juli 2020

https://www.travelclub.co.id/story-telling-jadi-metode-penambah-pengalaman-berwisata/

 

Puncak Sosok, Alternatif Wisata Malam dengan Spot Instagramable di Yogyakarta. https://travel.kompas.com. 22 Agustus 2020

https://travel.kompas.com/read/2020/08/22/203100927/puncak-sosok-alternatif-wisata-malam-dengan-spot-instagramable-di-yogyakarta

Warna-warni Musim Gugur.Jawa Pos.24 Maret 2018.Hal.8

Hari masih terlalu pagi saat saya tiba di Gonbad-e Kavus, kota yang berjarak satu jam dari Gorgan, Ibukota Provinsi Golestan. Di kota itu terdapat tugu monumen penting yang tercatat sebagai situs warisan budaya UNESCO. Pintu masuk tugu masih tutup. Untung, ada taman luas dengan bangku-bangku nyaman disekitar kompleks. Kami duduk dan ngobrol dengan penduduk lokal. Dia banyak bercerita tentang sejarah Tugu Gonbad-e Kavus. Situs yang dibangun pada abad ke-10 Masehi tersebut merupakan tugu tertinggi dengan material hanya batu bata. Setelah saya masuk dan melihat langsung dari dekat, seluruh bangunan memang tersusun hanya dari batu bata.

Sebagai negara yang berada di kawasan Timur Tengah, Iran sering dilirik hanyadari kacamata potilik. Padahal, negara itu menyimpan berbagai peninggalan sejarah, alam, dan budaya yang kaya. Sayang, karena keterbatasan waktu, para traveler kebanyakan hanya menyisir kota-kota terkenal Iran yang berada dijalur sutera seperti Isfahan, Shiraz, dan Yazd. Pengalaman saya travelling ke Provinsi Golestan memberikan catatan, masih banyak tempat-tempat menarik lain di Iran yang bisa dikunjungi.

Nama Golestan mengingatkan saya pada judul buku kumpulan puisi Saadi yang artinya taman bunga. Berbeda dengan sebagian besar wilayah Iran yang berupa gurun, provinsi tersebut dikelilingi pegunungan, hutan-hutan, dan taman nasional yang indah.

Pada musim-musim semi dan panas, ribuan turis membanjiri tempat itu untuk  menikmati keindahan alam pegunungan atau sekedar merasakan udara sejuk. Tapi, bagi saya, Golestan di musim gugur pun tak kalah indahnya. Gradasi warna dedaunan memanjakan setiap pasang mata yang menatapnya, terutama di kawasan menuju Desa Ziarat.

Tips Perjalanan :

  • Visa turis untuk negara lain dapat dilakukan secara on arrival saat tiba di Teheran atau bisa di apply ke Kedutaan Besar Iran di Jakarta.
  • Bagi para traveler, sebaiknya siapkan uang tunai dalam bentuk USD atau euro. Sebab, di Iran, kartu kredit atau debit internasional sulit digunakan.
  • Pilihan lain dengan banderol USD 10-15 atau pesawat terbang USD 40-50.
  • Penerbangan Jakarta-Teheran dilayani Emirates, Qatar Airways, dan Turkish Airline. Tapi, bila ingin sedikit berhemat, anda bisa mnecoba Oman Air atau Mahan Air via Malaysia. Sebelumnya, Air Asia melayani penerbangan ke Iran, tapi akan berakhir pada April 2018.
  • Perjalanan dari Teheran ke Gorgan, ibukota Provinsi Golestan, bisa ditempuh dengan pesawat, bus, maupun kereta. Pilihan ramah kantong wisatawan grup adalah kereta dengan kamar berisi 4 orang. Harganya USD 10-15. Suasana dalam kamar lebih nyaman dan privasi terjaga. Selain dua bangku panjang ada tambahan dua kasur lipat. Perjalanan selama 10 jam, kita tetap bisa beristirahat dengan tenang.

Keramahan suku Turkaman :

Di sekitar kompleks Gobnad-e Kavus, banyak penduduk lokal yang mengenakan baju daerah. Ternyata mereka adalah suku Turkaman yang sudah turun temurun menjadi bagian dari warga Iran. Bahagia rasanya saya mendapatkan undangan langsung dari Eshaq, pemilik penginapan tradisional di daerah Ghomesan. Saya bisa langsung melihat keseharian suku Turkaman.

Bahkan, saya sempat merasakan tinggal di rumah tradisional Oy, mirip rumah Igloo yang berkubah, tapi bahan dasarnya berbeda. Mereka menghidangkan teh dan panganan lokal. Tak lupa, kami sekeluarga mencoba pakaian tradisional mereka. Sehari itu, saya merasa bukan sedang berada di Iran. Benar juga kata teman kami orang Iran, ke Golestan kita tak hanya akan disuguhkan alam yang indah tapi juga budaya Turkaman yang khas.

Pesona Desa Ziarat :

Bahagia rasanya bisa sampai di sebuah tempat yang dulu hanya saya kagumi di layar kaca. Desa yang terletak 17 km dari pusat Kota Gorgan ini pernah menjadi setting salah satu serial TV Iran. Suasana Desa Ziarat pagi itu benar-benar membangun memori saya tentang sebuah desa impian. Udara segar, kabut tipis yang terbang rendah, dan jembatan tua mengantar perjalanan kami menuju jernihnya air terjun. Selain menikmati keindahan alam, ada satu tujuan paling penting di desa tersebut. Situs bersejarah berupa makam penyebar agama Islam bernama Imamzade Abdullah.

Makam itu berada di dalam sebuah masjid yang indah. Posisi masjid dikelilingi bukit-bukit kecil yang mempesona, karena keberadaan makam itulah, tempat tersebut dinamai desa Ziarat. Sebuah petunjuk lain menyebutkan, penamaan desa Ziarat itu disematkan jauh sebelum keberadaan makam bersejarah, yakni sejak sekelompok pengikut Budha yang beristirahat dan berdoa di kawasan tersebut. Entahlah, sumber mana yang tepat.

Yang jelas, aura Desa Ziarat memang mampu menghadirkan ketenangan tersendiri bagi para pengunjung. Setidaknya, itulah yang saya rasakan.

 

Sumber: Jawa-Pos.24-Maret-2018.Hal_.8