New Collection – April 2020

Why is reading so important?

Reading provides insights from fields outside our own experience and expertise that can be applied in new ways. A great example is the impact the field of Mindfulness is having on individuals and on leadership in organisations now that the benefits and practices are more widely understood.

Not only does reading improve our cognitive skills; it increases our knowledge, extends our vocabulary, broadens our perspective, requires focus and reduces stress.

Whether we’re reading books, articles, blogs or magazines, this additional information provides us with credible evidence for our projects, strategies, and plans. Equally importantly, comparative reading challenges pre-existing ideas, providing us with a more complete understanding of subjects and generating healthy debate.

Here’s some new collection from UC Library.

Please Click here

New Collection – March 2020

Sebuah penelitian menemukan, jika orang yang rutin membaca menunjukkan memiliki tingkat stres dan depresi yang lebih rendah, serta perasaan santai yang lebih mendominasi dibanding orang yang suka menonton televisi atau aktivitas intens yang berkaitan dengan teknologi seperti mengecek media sosial.

Sue Wilkinson MBE, presiden The Reading Agency, menjelaskan kepada Evening Standard bawah efek penyembuhan dari buku yang bagus mungkin bukan sebuah ide yang revolusioner, tapi banyak orang yang tidak menyadari dampak nyata dari membaca buku pada kesehatan mereka. Membaca terbukti 68 persen lebih baik untuk mengurangi stres dibanding mendengarkan musik, 100 persen lebih efektif dibanding minum secangkir teh, 300 persen lebih baik dibanding keluar berjalan kaki dan 700 persen lebih baik daripada bermain permainan video.

Dengan demikian jelas #ucpeople, kalian tinggal membuat waktu untuk membaca, di antara waktu mengerjakan tugas, bersosialiasi, olahraga, makan-minum dan sebelum tidur. UC Library merupakan tempat yang tepat bagi kamu calon entrepreneur UC. Didukung tempat yang nyaman, di sini terdapat berbagai macam koleksi buku bacaan mulai dari entrepreneur, inovasi, kreativitas, manajemen, psikologi, desain, sampai majalah juga ada.
Berikut daftar koleksi buku terbaru UC Library. Happy reading 😀

Silahkan klik disini.

New Collection – February 2020

Populasi orang yang suka membaca buku turun drastis pada generasi ini, apa lagi berkunjung di perpustakaan dengan tujuan membaca buku. Sebagian besar dari mereka berkunjung di perpustakaan untuk menikmati fasilitas wifi gratis dan tempat nongkrong yang adem. Namun apakah benar perpustakaan dan koleksi buku di dalamnya tidak bisa memberikan ‘dampak’ apa-apa bagi kita kaum millennial?

Sebetulnya Perpustakaan adalah ‘Sarang Ide Kreatif’. Tempat yang sunyi dan memiliki berbagai koleksi buku menjadikan perpustakaan tempat yang tepat untuk membuahkan ide-ide kreatif. Bila kamu seorang calon entrepreneur dan sedang brainstorming mencari cara untuk membuat startup-mu berjalan, dan membutuhkan ide kreatif untuknya, perpustakaan bisa jadi tempat kamu menemukan hal tersebut.

Berbagai buku di perpustakaan bisa kamu jadikan sumber ide kreatifmu. Bahkan, informasi terkecil sekalipun dari buku-buku itu tentunya dapat membantumu mengemas ide kreatifmu dalam karya kreatifmu. Berbagai sumber ide itu akan sangat bisa kamu ubah menjadi ide kreatif originalmu dengan suasana sunyi dan nyaman perpustakaan. Kesunyian itu akan membantu otak kamu bekerja merumuskan ide-ide kreatif. Bahkan, ketika otakmu cukup fokus, segala keadaan yang ada di perpustakaan akan memicu ide kreatifmu.

Berbagai manfaat perpustakaan itu bisa kamu rasakan bila kamu sering berkunjung dan membaca buku di perpustakaan dan jangan kuatir karena UC Library merupakan tempat yang tepat bagi kamu calon entrepreneur UC. Didukung tempat yang nyaman, di sini terdapat berbagai macam koleksi buku bacaan mulai dari entrepreneur, inovasi, kreativitas, manajemen, psikologi, desain, sampai majalah juga ada.
Berikut daftar koleksi buku terbaru UC Library. Happy reading 😀

Silahkan klik disini.

New Collection – January 2020

As a millenial, we all love technology. Namun tapa kita sadari kebebasan menggunakan teknologi untuk memudahkan aktivitas keseharian kita, mengakses informasi, dan kemudahan berkomunikasi serta mengekspresikan diri kita malah membuat kita melupakan banyak hal.

Smartphone sangat sering berada di genggaman kita berjam-jam, bahkan bangun pagi bergegas mencari smartphone. Seharian kita melihat di media sosial, mengecek update kehidupan orang lain, bahkan sampai malam menjelang.

But we need to take a break. Remember, we could do more, reconnecting with important people around us, or as simple as treating ourselves with a good book from a good mind.
Here’s some new collection from UC Library. Just for you ✨Happy reading. 😀
Silahkan klik disini.

New Collection – December 2019

Pengangguran dan kemiskinan adalah masalah yang masih bercokol di dunia abad 21 ini. Hal yang mengherankan adalah negara-negara yang sebagian besar penduduknya hidup dibawah garis kemiskinan adalah justru negara-negara yang memiliki kekayaan alam melimpah.

“Entrepreneurship adalah faktor kunci yang hilang.” Begitulah paparan Dr Ir Ciptra. Buku “Quantum Leap: Bagaimana Entrepreneurship Mengubah Masa Depan Anda dan Masa Depan Bangsa” memberikan jawaban bagaimana entrepreneurship sebagai faktor kunci bisa kembali diraih dan digunakan oleh seseorang maupun sebuah bangsa untuk membuka pintu keluar dari masalah pengangguran dan kemiskinan, bahkan bisa digunakan untuk membangun kesejahteraan.

Sebagai entrepreneur sejati, Dr Ir Ciputra telah membuktikan dirinya sebagai orang yang memiliki legitimasi untuk memberikan kunci jawaban atas tantangan tersebut. Dengan permulaan yang sangat sederhana, Ciptura berhasil membangun tiga group raksasa dalam dunia property: Jaya Group, Metropolitan Group dan Ciputra Group dengan lebih dari 14.000 karyawan.

Melalui pengalaman pribadinya mengembangkan ketiga grup raksasa tersebut yang dituangkan dalam “Ciputra Quantum Leap” ini, Dr Ir Ciputra memaparkan dengan jelas bagaimana pengalamannya ini juga bisa dimiliki banyak orang.

Buku ini menjadi salah satu buku wajib baca bagi kita para calon entrepreneur UC. Buku ini tidak hanya berisi motivasi, tapi juga saran dan petunjuk praktis menjadi seorang entrepreneur handal berdasarkan dari pengalaman pribadi Pak Ciputra sendiri.

Silahkan #ucpeople membaca atau meminjam koleksi tersebut di UC Library di call no. 338.04092 CIP c. di UC Library juga tersedia berbagai macam koleksi tentang Pak Ciputra dan koleksi entrepreneur lainnya. UC Library merupakan tempat yang tepat bagi kamu calon entrepreneur UC. Di sini terdapat berbagai macam koleksi buku bacaan mulai dari bisnis, inovasi, kreativitas, manajemen, psikologi, desain, sampai majalah juga ada.

Berikut daftar koleksi buku terbaru UC Library. Happy reading. 😀
Silahkan klik disini.

New Collection – November 2019

Tahukah kamu kalau tanggal 27 Oktober lalu adalah tanggal lahir presiden Amerika Serikat ke 26 dan peraih nobel perdamaian termuda, Theodore Roosevelt, Jr.

Berkat berbagai prestasinya, Roosevelt dianggap sebagai salah satu dari empat presiden terbaik Amerika Serikat yang patungnya diabadikan di gunung Rushmore bersama George Washington, Thomas Jefferson dan Abraham Lincoln.

Selain menjadi presiden, Roosevelt juga adalah seorang penulis yang produktif. Dari hari-hari pertamanya, Roosevelt memiliki hasrat untuk membaca dan menulis. Dia menulis buku pertamanya berjudul “The Naval War of 1812” pada usia 23 dan mendapatkan reputasi baik sebagai sejarawan.

Selama masa hidupnya, Roosevelt menulis 38 buku, yang meliputi otobiografi, biografi Oliver Cromwell, sejarah New York City dan seri empat jilid “The Winning of the West.” Ia juga menulis banyak buku dan artikel majalah tentang berburu dan eksploitasi perbatasan.

Bila kamu bercita-cita sebagai penulis sama seperti Rooselvet, perpustakaan akan menjadi tempat yang tepat untukmu membingkai ide-ide kreatifmu. Apalagi, buku-buku di perpustakaan akan membantu memperdalam cerita yang tengah kamu susun. Dengan begitu, kamu dapat menciptakan tulisan masterpiece yang akan menjadi karya terbaikmu.

Manfaat ini bisa kamu rasakan bila kamu sering berkunjung dan membaca buku di perpustakaan dan jangan kuatir karena UC Library merupakan tempat yang tepat bagi kamu calon penulis maupun calon entrepreneur UC. Didukung tempat yang nyaman, di sini terdapat berbagai macam koleksi buku bacaan mulai dari entrepreneur, inovasi, kreativitas, manajemen, psikologi, desain, sampai majalah juga ada.
Berikut daftar koleksi buku terbaru UC Library. Happy reading 😀

Klik disini atau New Collection – Nov 2019

Joker: Orang Jahat adalah Orang Baik yang Disakiti?

Pada tanggal 2 Oktober lalu, dibioskop Indonesia tayang film ‘Joker’ besutan sutradara Todd Phillips dan dibintangi oleh Joaquin Phoenix sebagai Arthur Fleck, lakon utamanya. Skrining perdana sekaligus world premiere Joker di Venice International Film Festival akhir Agustus lalu ditutup dengan standing ovation selama 8 menit dan penampilan Phoenix sebagai villain ikonik dengan dandanan badut itu menuai pujian. Kritikus yang hadir langsung menjagokan Phoenix masuk nominasi atau bahkan pemenang Oscar kategori Aktor Terbaik. Namun, sejak awal pihak rumah produksi sudah mewanti-wanti penonton. Joker dipasarkan sebagai film R-rated (khusus penonton di atas 17 tahun) dengan tema sangat kelam.

“Jangan membawa anak di bawah umur saat menonton Joker”. Hal tersebut diperingatkan Alamo Drafthouse, sebuah jaringan sinema Amerika yang sering mengeluarkan kebijakan atas penayangan sebuah film. Orangtua diperingatkan untuk tidak mengajak anak-anak menonton Joker karena film ini banyak konten kekerasan, baik fisik maupun verbal. Mereka menekankan, Joker sama sekali bukan film yang cocok untuk anak, meski ceritanya merupakan adaptasi dari komik. “PERINGATAN PARENTAL (Ini bukan lelucon). Joker di-RATED R untuk alasan yang baik. Ada banyak bahasa yang sangat, sangat kasar, kekerasan brutal, dan keseluruhan getaran buruk. Terdapat penggambaran yang kasar, gelap, nyata dan sarat hal-hal kegilaan. Film ini bukan untuk anak-anak. Mereka tidak akan menyukainya. (Tidak ada Batman di film ini.)

Walau tayang dengan peringatan, Joker sukses besar, dan di Amerika Utara, film besutan Todd Phillips itu memuncaki box office dengan USD 93,5 juta (Rp 1,324 triliun). Catatan itu sekaligus menjadi rekor pendapatan penayangan perdana tertinggi dalam Oktober. Di mancanegara, Joker tak tertandingi. Hingga Minggu (6/10), film tersebut meraup pendapatan hingga USD 234 juta (Rp 3,314 triliun).

Suksesnya film secara finansial juga diiringi dengan kontroversi cerita dan karakter Joker sendiri. Belakangan ini, muncul meme tentang Joker. Juga, deskripsi singkat tentang Joker yang begitu populer: ’’Orang jahat adalah orang baik yang disakiti’’. Namun, apakah benar statement tersebut? Apakah benar Joker atau Arthur Fleck adalah ’’Orang jahat adalah orang baik yang disakiti”?

[Spoiler Alert]

Demi mendalami perannya, Joaquin Pheonix harus menurunkan berat badannya sampai 23 kg dan mempelajari orang-orang yang menderita Pathological Laughter and Crying (PLC), sesuai dengan karakter Arthur yang digambarkan menderita gangguan yang sering membuatnya suka tertawa, meskipun dalam keadaan sedih. Kondisi kejiwaan ini disebut dengan Pseudobulbar Affect (PBA) yang merupakan istilah untuk penyakit mental terkait gangguan emosi. Pseudobulbar Affect (PBA) adalah suatu kondisi di mana seseorang tiba-tiba tertawa atau menangis tanpa dipicu oleh sebab apapun. PBA disebut juga sebagai Pathological Laughter and Crying (PLC).

Selain itu Arthur juga dianggap mengidap gangguan mental Skizofrenia yang adalah gangguan psikosis kronis dengan gambaran gangguan pikiran (isi, arus); beberapa diantaranya adalah adanya delusi dan halusinasi yang dialami oleh penderita. Delusi adalah keyakinan tidak rasional yang diyakini oleh penderita, seperti keyakinan bahwa dirinya merupakan superhero, sedangkan halusinasi merupakan gangguan persepsi yang membuat seseorang mendengar, merasa, mencium aroma, dan melihat sesuatu yang kenyataannya tidak ada.

Dalam filmnya, Arthur diceritakan mengkonsumsi 7 obat yang berbeda sebagai bagian terapi kesehatan mentalnya ini, obat ini bukan untuk menyembuhkan, tapi untuk meredam penyakitnya. Fungsi obat tersebut adalah agar supaya Arthur menjadi tenang dan fungsi otaknya tidak menjadi liar, bahkan Arthur meminta dosis obatnya ditambah, karena obat tersebut memang membuat dia tenang dan mengurangi ‘negative thoughts’ seperti yang Arthur singgung ke petugas sosial.

Dalam perkembangan ceritanya, layanan sosial kesehatan tempat Arthur mendapatkan terapi dan obatnya ditutup. Akibatnya Arthur menjadi tidak terkendali. Diceritakan Arthur menyukai Sophie Dumond (Zazie Beetz), seorang janda beranak satu. Arthur berpikir Sophie menyukainya juga, sampai pergi berkencan berdua, dan menemani Arthur ketika ibunya, Penny Fleck (Frances Conroy) dirawat di rumah sakit. Namun ternyata itu semua adalah imajinasi Arthur sendiri. Tidak nyata.

Selain Arthur adalah orang yang tidak diakui, tidak dikenal, hidup di masyarakat yang sangat acuh, dan seorang yang kesepian, dia juga adalah orang yang memiliki masalah dengan mentalnya dan sangat membutuhkan obat. Ini poin penting dalam film ini.

Terungkap pula ternyata Arthur adalah produk child abuse dari ibunya yang ternyata juga menderita masalah mental. Arthur kecil disiksa berulang-ulang kali oleh ibunya dan pacar ibunya. Salah satu penyebab Skizofrenia, adalah pengalaman traumatis. Adapun, biasanya diantaranya adalah pengalaman kehilangan orang tersayang, pekerjaan atau harta, perceraian, atau penganiayaan fisik, seksual atau emosional. Hal ini dapat memicu perkembangan skizofrenia pada seseorang yang sudah rentan terhadapnya. Jadi sebetulnya yang memiliki peran besar membuat Arthur menjadi Joker bukan lingkungan tempat dia tinggal, tetapi adalah ibunya sendiri.

Support system yang baik sangat menentukan bagaimana seseorang bisa berubah menjadi lebih baik atau lebih buruk. Maka dari itu, dari film Joker kita bisa belajar untuk mencari, bergaul dan hidup dengan orang-orang yang bisa memberikan dampak positif ke diri kita sendiri, sehingga kita boleh bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat bagi sesama.

 

 

Sumber:

Jawa Pos, 8 Oktober 2019

Jawa Pos, 9 Oktober 2019

Artikel “Film Joker & Bahaya Adegan Kekerasan untuk Kesehatan Mental Anak”, https://tirto.id/ejli

Artikel “Pseudobulbar: Penyakit Mental Joker yang Bikin Tertawa Tanpa Sebab”, https://tirto.id/ejlj

https://www.instagram.com/sinema911/

Beberapa Fakta Seputar Jenderal Soedirman

Jenderal Besar Raden Soedirman adalah panglima besar Tentara Nasional Indonesia pertama dan seorang perwira tinggi Indonesia pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Ia mendapat tempat istimewa dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia karena menjabat panglima angkatan bersenjata pada awal berdirinya republik ini. Berikut adala beberapa fakta mengenai Jenderal Soedirman:

  1. Panggilan Dinda dari Soekarno

“Kalau Belanda menyakiti Soekarno, bagi mereka tak ada ampun lagi. Belanda akan mengalami pembunuhan besar-besaran,” Ancam Soedirman di depan Soekarno tanggal 18 Desember 1948, ketika Yogyakarta –ibukota negara- jatuh ke tangan kekuasaan Belanda. Bung Karno ditangkap, sementara Soedirman memilih untuk bergerilya.

Soekarno dan Soedirman adalah Sahabat yang sangat dekat. Soekarno memanggil Soedirman dengan sebutan Dinda karena 15 tahun lebih tua, sementara Soedirman memanggil Soekarno sebagai Kanda. Seperti yang tertulis dalam surat berikut, “Kanda doakan kepada Tuhan, moga-moga Dinda segera sembuh…” yang ditulis Soekarno sebulan sebelum Soedirman wafat.

Setelah wafat, Soekarno menempatkan sahabatnya itu sebagi ikon sejarah. Ketika membangun sebuah jalan baru yang besar dan lebar tahun 1962 untuk akses ke pinggiran kota menuju sebuah stadion baru termegah di dunia saat itu, Soekarno menamakan jalan tersebut Jalan Jenderal Soedirman.

 

2. Pemuda Cerdas Yang Hidup Jauh Dari Orang Tua

Sejak lahir Jenderal Soedirman tidak hidup dengan kedua orang tuanya. Ia hidup dengan  saudara dari ibunya yang bernama Raden Cokrosunaryo yang saat itu jadi camat. Jenderal Soedirman pun mendapatkan gelar raden karena dianggap sebagai anak sendiri oleh Cokrosunaryo. Sejak kecil ia dididik dengan sangat baik oleh orang tua angkatnya itu. Ia disekolahkan hingga menjadi pemuda yang sangat cerdas.

Dari kecil hingga berumur 18 tahun, Jenderal Soedirman tidak pernah diberitahu siapa orang tua aslinya. Ia hanya tahu jika Cokrosunaryo adalah ayah yang menyayanginya dengan tulus. Setelah mengetahui fakta ini, Jenderal Soedirman akhirnya diperkenankan untuk hidup lagi dengan keluarganya meski pada akhirnya ia lebih aktif dalam belajar setelah sang ayah asli meninggal dunia.

 

3. Di Balik Foto Kisah Pelukan Bung Karno dan Jenderal Soedirman

 

Pada waktu Belanda menerjunkan ribuan pasukan Marinir dan pasukan infanteri ke Yogyakarta Desember 1948, terjadi pertengkaran kecil antara Bung Karno dan Jenderal Sudirman. Saat itu Bung Karno lebih memilih ditawan untuk memancing Belanda berunding dan memancing kemarahan Internasional, tapi Sudirman yang saat itu sudah terpengaruh dengan pikiran ‘perang total’ Tan Malaka menghendaki Bung Karno untuk ikut masuk hutan dan gerilya dengan Sudirman. Bung Karno menolak, pertimbangannya kalau gerilya pasti ketangkep juga, karena prinsip dari dulu bagi Sukarno adalah selalu ‘hadir’ ditengah mata rakyatnya dan mata dunia. “Ia tak boleh menghilang”.

Sukarno menang, tapi tidak bagi Sudirman. Ia masih marah. Akhirnya Sukarno memanggil Rosihan Anwar untuk menjemput Sudirman di hutan, sebelumnya beberapa surat sudah dilayangkan ke Sudirman sampai terakhir surat dari Sultan Hamengkubuwono IX, tapi Sudirman masih saja kepala batu. Sukarno tak hilang akal, dipakailah anak buah kesayangan Sudirman yaitu: Letkol Suharto untuk jemput Sudirman.

Rosihan Anwar membawa Frans Mendur, ahli potret dari IPPHOS. Juga tukang potret kesayangan Bung Karno. “Nanti kalo Dirman datang, kamu potret yang bagus” kata Bung Karno. Frans Mendur mengangguk.

Lalu datanglah Sudirman ke Gedung Agung, tempat tinggal Bung Karno. Dirman berdiri saja di pojokan, ia kaku, perasaannya masih marah. Tapi bukan Sukarno namanya yang mampu mencairkan suasana, ia mampu membuat Dirman tertunduk dan merasa hormat pada Sukarno yang lagak lagunya seperti bintang Tonil tahun 1930-an.

Sukarno datang sendiri ke Dirman dan memeluknya, tapi Dirman masih kaku, setelah memeluk Sudirman, Bung Karno melihat ke arah Frans Mendur dan berkata cepat “Dapet nggak sentuhannya?”

Frans Mendur menggeleng dan menyahut “Terlalu cepat” “Ya udah diulang lagi, adegan zoetnjes-nya” (zoentjes =ciuman) kata Bung Karno, lalu Bung Karno memanggil Sudirman agar mendekat. “Ayo supaya lebih dramatik” entah kenapa Dirman menurut saja bagai bintang iklan yang sedang disuruh sutradara.

Akhirnya momen pelukan Bung Karno dan Pak Dirman jadi foto paling terkenal sebagai ‘Foto penutup perang Revolusi 1945-1949’.

 

===

Sumber artikel:

Akun Facebook @indonesiajamandulu

Intisari, No. 635, Agustus 2015

 

New Collection – Oktober 2019

Ingin Tidur Nyenyak dan Pantang Pikun? Yuk, Baca Buku!

Ternyata kalau membaca buku favorit sebelum tidur membantu menurunkan stres hingga 68%.

Hanya dengan 6 menit membaca bisa membuat tubuh dan otak lebih rileks, kalau dilakukan rutin, membaca sebelum tidur bisa membuat otak mengerti bahwa kita butuh istirahat setelah hari yang panjang dan melelahkan.

Membaca juga adalah olahraga untuk otak karena selain mengolah informasi kita juga membangun gambaran visual. Membaca meningkatkan daya ingat karena otak terus aktif. Kebiasaan membaca, menulis, menjawab teka-teki silang, atau aktivitas yang membuat otak tetap sibuk bisa menurunkan risiko Demensia dan Alzheimer di masa tua.

Ternyata membaca buku sangat bermanfaat bukan? Yuk, Baca Buku! Berikut daftar koleksi buku terbaru UC Library. Happy reading 😀

Klik disini atau Processing Report 2019_10_01 0834

Kata Alumni IBM-UC tentang UC Library

Rezky Firmansyah adalah alumni IBM (International Business Management) Universitas Ciputra 2013 yang juga aktif berbagi melalui seminar, training, workshop, dan berbagai kelas online, terkhusus bidang kreativitas, menulis, dan inspirasi motivasi. Alumni yang tercatat pernah menjabat sebagai Ketua Umum SRB (Student Representative Board) UC ini menuturkan pengalamannya bersama UC Library, berikut penuturannya melalui akun instagramnya:

Semasa kuliah dulu, saya punya 3 tempat nongkrong favorit di kampus. Ruang organisasi, mushola, dan library. Alasannya beda-beda. Tapi saya akan ceritakan pilihan ketiga. Kenapa library?

Saya suka nongkrong di library bukan karena kutu buku. Memang saya sering menghabiskan waktu di sini untuk menulis dan membaca. Tapi salah satu aktivitas favorit saya adalah nonton. Lah kok nonton di library? Ya begitulah inovasi dari tim pustakawan.

Film yang disajikan UC Library bukan hanya sekedar menghibur. Tapi menginspirasi dengan semangat entreperenuership. Selaras dengan visi universitas. Saya pernah nonton McFarland, Spare Parts, Temple Grandin, dan masih banyak lagi.

Beberapa hari yang lalu saya melihat postingan UC Library tentang Movie Time. Film yang dipilih adalah Pad Man. Film dari India, true story.

Reviewnya bisa kamu cari aja di internet. Seperti biasa, saya ingin memberikan insight dari sisi yang berbeda.

Salah satu tips berkarya dan konsisten dengan jalan yang dipilih adalah START FROM YOUR PAIN. Laksmi sadar akan hal itu. Bermula dari niat untuk menjaga kesehatan istrinya dari penyakit, dia menciptakan pembalut. Mimpi yang aneh kan? Tapi karena mimpi itu dia dihina, dicaci, dan terpaksa keluar dari kampungnya.

HIJRAH. Sekiranya lingkungan yang lama tidak mendukung, maka pindahlah. Laksmi pun berpindah ke desa yang baru. Bukan sekali pindah. Tapi berkali-kali. Hingga di perjalanannya dia merevisi mimpinya. Bukan hanya untuk menciptakan pembalut. Tapi menciptakan mesin pembalut. Tidak berhenti di situ, mimpinya terus direvisi.

TRY and FAIL. Laksmi terus berusaha. Hingga pada satu titik dia bingung harus berbuat apa lagi, keajaiban datang. Apa itu? Pembalutnya berhasil dan tidak bocor. Dan coba tebak siapa pengguna pertamanya?

Selain dari sisi bisnis, saya juga melihat film ini dari sisi budaya. Kadang kesel sendiri juga sih melihat “kebodohan” banyak masyarakat. Hingga “diskriminasi” terhadap perempuan India. Kamu bisa kritisi sendiri dengan nonton film ini. Bagi saya tentang film ini singkat saja. Insigthful!