No Sacrifice No Victory | Interview Evan Junior Gunawan (20617012)

Mahasiswa Universitas Ciputra Berprestasi

Mahasiswa Universitas Ciputra Berprestasi

Mahasiswa Universitas Ciputra INA 2017 ini merupakan salah mahasiswa berprestasi UC. Tentunya tidak mudah untuk mencapai sebuah prestasi ditengah kesibukan tugas dan padatnya jadwal kuliah. UC berkesempatan ngobrol tentang capaiannya dan bagaimana Evan menjalani prosesnya.

 

  1. Boleh cerita sedikit prestasimu selama perkuliahan di UC?

Selama menjadi Mahasiswa Universitas Ciputra jurusan Interior Architecture, ada beberapa prestasi yang Tuhan anugerahkan pada saya khususnya dalam ruang lingkup jurusan, salah satu diantaranya adalah terpilihnya karya pertama tugas TA saya di semester 1, bersama dengan 2 anggota kelompok saya yakni Philbert dan Jeremy Christopher Wijaya ke dalam sebuah presentasi yang diadakan oleh divisi Family Bussiness Universitas Ciputra di PT. KAWAN LAMA SEJAHTERA, Jakarta.

KAWAN LAMA SEJAHTERA sendiri merupakan induk perusahaan dari perusahaan retail shop ACE hardware, Informa, ToysKingdom, Chatime, dan berbagai anak perusahaan ternama lainnya. Disana saya diberi kesempatan untuk dapat pitching di hadapan kurang lebih 300 store manager perusahaan retail Ace Hardware dan Informa mengenai keunikan, kelebihan, hingga potensi jual produk aksesoris interior berupa lampu meja dengan dilengkapi beberapa rak buku yang kami namakan sebagai BENEFICIUM tersebut.

Tidak hanya sebatas presentasi, nyatanya produk kami tersebut juga menerima tawaran untuk diproduksi secara masal oleh PT. KAWAN LAMA, namun karena terdapat halangan dalam proses pembuatan proposal, produk kami pun tidak jadi diproduksi secara masal. Meski demikian produk yang menjadi salah satu motivasi saya hingga hari ini untuk dapat terus bergerak maju tersebut sempat dipamerkan di Ciputra World Exhibition Display selama kurang lebih 6 bulan lamanya. Atas hal itu, saya sangat bersyukur kepada Tuhan serta tidak lupa juga berterima kasih kepada Bu Maureen selaku dosen pembimbing saat itu yang senantiasa menuntun kami hingga dapat memunculkan karya yang begitu membanggakan tersebut.

Selain prestasi di atas, beberapa prestasi lain yang Mahasiswa Universitas Ciputra ini raih di semester berikutnya yakni semester 2 ialah, terpilihnya desain booth exhibition ALAM BATIK yang saya desain sebagai tugas TA di semester 2 pada mata kuliah EINAS 2. Meski bukan prestasi di luar lingkup jurusan atau angkatan, desain karya booth yang saya miliki menjadi karya yang mampu menarik minat real client saat itu disamping 4 karya lain yang juga ikut bagian di dalamnya.

Di semester yang sama pada mata kuliah yang berbeda yakni HTINA 2, sekali lagi saya dianugerahkan prestasi dimana tugas TA yang dikerjakan dalam kelompok beranggotakan 5 orang tersebut terpilih untuk dipamerkan dalam UC library lounge, sekaligus menjadi bagian dalam liputan yang diambil oleh koran Harian Jawa Pos. Adapun karya yang saya dan teman-teman buat saat itu adalah sebuah desain sebuah plunge pool yang inspirasinya merupakan peninggalan sejarah dari Candi Trowulan dan Pohsarang.

 

  1. Boleh tahu cerita perjuanganmu dan tips dari kamu biar bisa mendapat prestasi tersebut?

Dalam mencapai prestasi tersebut, tentu tidak lepas dari yang namanya perjuangan. Selama menjadi Mahasiswa Universitas Ciputra jurusan interior architecture, saya hampir setiap malam tidak memiliki waktu tidur lebih dari 5 jam guna mengerjakan tugas secara maksimal. Namun saya percaya hal tersebut pastilah dialami oleh sebagian besar mahasiswa saat ini. Oleh sebab itu saya berpikir  bahwa tips yang paling ampuh bagi saya maupun orang lain  dalam mencapai sebuah prestasi adalah motivasi dan tujuan dari dalam diri kita sendiri. Apabila memiliki motivasi dan tujuan yang kuat, maka sebesar apa pun pengorbanan dan perjuangan yang ada tidaklah menjadi berarti dengan prestasi yang ingin ditempuh. Selain itu perjuangan yang menurut saya paling berarti adalah di tengah studi saya yang tergolong cukup menghabiskan banyak dana ini, saya harus berputar otak dalam menggunakan uang dalam kehidupan perkuliahan saya. Tak jarang saya melewatkan waktu makan, dan memanfaatkan berbagai barang-barang bekas secara maksimal dalam tugas” proyek perkuliahan saya. Sebagai contoh proyek terpilih milik saya untuk desain exhibition booth ALAM BATIK kemarin, sebagian besar bahan pembuatan maket saya berasal dari tugas proyek TA sebelumnya, sehingga  bisa dibilang hampir tidak ada biaya yang saya keluarkan lagi untuk tugas tersebut.

 

  1. Apakah ada rekomendasi buku yang menurutmu setiap mahasiswa INA atau desain harus baca buku itu di UC Library?

Ada 3 buku yang menurut saya bagus di UC Library. Buku berjudul “Sanaa 2008-2011″   karya arsitek jepang Ryue Nishizawa dan Kazuyo Sejima. Buku ini berisi karya fantastis mereka di seluruh dunia seperti Serpentine Gallery Pavilion di London, the Rolex Learning Center di Lausanne, dan Multifunctional Building for the Serralves Foundation di Porto.

Buku kedua berjudul “Sir Banister Fletcher’s a History of Architecture”. Buku ini mengajarkan kesadaran (semenjak mengikuti pelajaran HTINA 1 dan 2) akan betapa hebatnya arsitektur jaman dulu yang sebenarnya masih memiliki prinsip dan elemenny arsitektur masa kini.

Buku terakhir berjudul “Architectural Graphic Standards for Residential Construction” berisi segala hal soal teknis dalam merancang sebuah arsitektur Residensial, yang mana hal itu juga diperlukan oleh angkatan 2018 yang saat ini juga sedang mempelajari mengenai materi tersebut. Selain itu juga kelebihan buku ini sangat komunikatif dengan disertai gambar-gambar yang detail dan jelas.

 

  1. Apa kesan dan pesanmu untuk UC Library?

Kesan saya terhadap UC Library adalah lengkapnya koleksi dan nyamannya situasi dalam library yang membuat saya betah dan tidak bosan untuk berlama-lama di dalam perpustakaan. Selain itu, koleksi buku-buku yang berkualitas sangat membantu saya dalam memperoleh ilmu baru yang menunjang perkuliahan saya. Sehingga pesan saya untuk UC library adalah pertahankan dan terus berkembang dalam memberikan koleksi-koleksi buku terbaru dan berkualitas sehingga, semakin banyak mahasiswa yang dapat memperoleh ilmu lebih, yang tentunya juga memunjang kehidupan perkuliahan mereka untuk dapat berprestasi di masa depan. Sebab perpustakaan adalah pintu utama yang paling mudah dan terdekat bagi mahasiswa dalam menggapai ilmu pengetahuan.

 

ARTIKEL TIPS MENCINTAI PEKERJAAN

INTEGRITAS, PROFESIONALISME, DAN ENTREPRENEURSHIP (IPE) BERKELANJUTAN

Ir. Ciputra Pendiri Ciputra Group

Ir. Ciputra Pendiri Ciputra Group

Oleh Bapak Ciputra

 

Merupakan berkat yang melimpah dari Tuhan Yang Maha Esa, sehingga saya dapat menjadi bagian dari kemajuan industri Properti di Indonesia. Di tahun 60-an saya mendirikan Jaya Group bersama Pemerintah DKI, di tahun 70-an saya bersama rekan-rekan mendirikan Metropolitan Group, dan di tahun 80-an bersama keluarga mendirikan Ciputra Group, yang hingga kini sudah membangun hingga 40 kota di seluruh Indonesia serta beberapa kota Asia. Sudah lebih dari 5 dekade saya turut membangun Indonesia melalui cipta karya di dunia property.

Selama perjalanan tersebut, saya memperhatikan bahwa dunia properti memiliki siklusnya tersendiri, ibarat cross country runner, dunia properti akan menghadapi berbagai rintangan serta jalan yang berliku naik dan turun. Namun apakah yang menyebabkan kita dapat terus berlari dengan semangat serta mampu melampaui semua itu. Perenungan saya yang panjang menyimpulkan bahwa Integritas, Profesionalisme dan Entrepreneurship (IPE) menjadi fundamental saya dalam berpikir, bergaul, dan berkarya selama berpuluh-puluh tahun sehingga dapat melalui perjalanan panjang penuh tantangan, naik, dan turun dan harus melalui berbagai kondisi ekonomi makro yang bergelombang dan kadang mengejutkan serta tak terduga sama seperti peserta cross country runner yang sedang berlomba. Saya simpulkan bahwa IPE tsb harus kita tetap pegang sebagai nilai-nilai utama Grup Ciputra dan IPE harus dapat kita wujudkan dalam tindakan dan pekerjaan sebagai sesuatu yang menyatu dan utuh. Apa yang akan terjadi bila IPE dapat kita praktekkan secara utuh? Mari melihat ilustrasi berikut ini.

Saya berkeyakinan bila perusahaan secara terus menerus dapat mengintegrasikan IPE secara utuh, tidak sepotong-sepotong dan sinambung maka dengan sendirinya akan terjadi perusahaan yang superior dan berkelanjutan atau perusahaan berada di daerah D dalam diagram diatas. Bagaimana dengan daerah A, B dan C? Perusahaan yang berada di daerah A memiliki Integritas atau dapat dipercaya dan juga memiliki Profesionalisme atau dapat diandalkan, perusahaan seperti ini hanya sukses di masa kini tapi akan kehilangan masa depan. Kenapa? Alasannya segala sesuatu yang kita anggap hebat pada masa sekarang suatu kali kelak akan kadaluwarsa, kehebatan perusahaan seperti ini akan tergerus oleh arus perubahan jaman dan persaingan bisnis. Perusahaan yang di daerah B memiliki Profesionalisme dan Entrepreneurship, perusahaan ini unggul dan memiliki inovasi untuk masa depan namun karena tidak memiliki Integritas maka perusahaan akan kehilangan pelanggan. Serapat-rapatnya perusahaan menutupi kecurangannya suatu kali kelak pelanggan akan tahu bahwa perusahaan tidak berintegritas dan siapa yang mau tertipu untuk ke dua kali? Lebih celaka lagi pelanggan yang tertipu biasanya menuntut dan menceritakan kepada banyak orang pengalaman buruknya. Perusahaan di daerah C memiliki Integritas dan Entrepreneuship, perusahaannya memiliki nama baik dan dipercaya serta memiliki inovasi-inovasi baru untuk masa depan, namun pada saat pelaksanaan Profesionalisme tidak terjadi. Jadwal penyerahan produk terlambat dan kualitas produk tidak seperti di brosur. Nah, inipun sebuah bencana karena dengan tidak adanya Profesionalisme perusahaan akan kehilangan reputasi.

Beberapa waktu lalu, Millward Brown merilis Top 50 Most Valuable Indonesian Brands dan Ciputra Group di peringkat 20 dari seluruh industri dan sebagai peringkat pertama di industri real estat, dengan total nilai brand 484 juta dollar Amerika. Kemudian yang terbaru adalah Forbes Indonesia mencatat kita dalam 50 Best of the Best emiten Indonesia di peringkat ke 7, yang tahun ini sudah ketiga kalinya kita ter- masuk 50 Best of the Best versi Majalah kenamaan tersebut. Pengakuan ini merupakan capaian dari seluruh jajaran Direksi hingga staff dan karyawan Ciputra Group yang telah bersama-sama bekerja keras dan menerapkan Integritas, Profesionalisme, dan Entrepreneurship secara berkesinambungan. Saya simpulkan tidak ada pilihan lagi selain memadukan Integritas, Profesionalisme, dan Entreprenurship secara utuh, tidak sepotong-sepotong dan harus terus menerus dari top management sampai yang operasional. Inilah yang sedang dan akan selalu kita lakukan di Grup Ciputra. Saya pun sangat berterima kasih kepada seluruh staff, manager, direktur yang telah bekerja keras untuk sukses bersama Ciputra Group, semoga kita akan terus berkarya yang bermanfaat bagi bangsa hingga dunia dengan hasil yang lebih unggul lagi. Salam IPE dari saya.

 

Sumber: Ciputra News Edisi October 2015

Ciputra Group Link

Visi Misi dan Nilai UC

UC Library & Ricky Imanuel Abednego Oematan

Kalian mahasiswa tugas akhir? Pusing cari artikel? Susah cari referensi untuk tulisan kalian?

Pertanyaan tersebut yang mungkin terlintas di kepala civitas akademika para pejuang skripsi.
Nah, Ricky Imanuel Abednego Oematan, mahasiswa jurusan Accounting yang juga pejuang skripsi ini mencoba membagikan pengalamannya bersama UC Library.
Kira-kira apa sih? Berikut penuturannya:

“Selama saya berkuliah, UC Library menyediakan buku-buku menunjang perkuliahan saya, baik ketika saya membutuhkan buku referensi atau buku wajib bisa saya dapatkan di UC Library. Saat ini saya sedang memasuki semester skripsi dan UC Library sangat membantu saya, baik dari suasana ruangan koleksi yang sangat kondusif membantu saya lebih berkonsentrasi belajar, lebih tenang, dan ketika membutuhkan referensi sangat mudah mendapatkannya mulai dari e-journal, penelitian kakak kelas terdahulu, buku-buku teks yang membahas tentang metode penelitian, dan juga koleksi referensi lainnya.”

Buat kalian yang sedang menjadi pejuang skripsi gak usah galau, langsung aja datang ke UC Library atau kalian juga bisa mengakses E-Journal Emerald yang dilanggan oleh UC ke:
URL: www.emeraldinsight.com

Berikut adalah daftar subyek yang bisa kalian akses:
1. Accounting, Finance, & Economics
2. Business, Management, & Strategy
3. Mental Health
4. Information & Knowledge Management
5. Tourism & Hospitality
6. Marketing

Jika kalian dalam area kampus, kalian dapat menggunakan e-journal emerald secara otomatis tanpa memasukkan username dan password. Kalau kalian ingin mengakses tapi berada diluar UC atau memiliki pertanyaan seputar koleksi jurnal yang dilanggankan oleh UC Library, silahkan langsung berkunjung ke UC Library atau menghubungi Pak Panji di telp ext. 2223, email: panji@ciputra.ac.id

Strategi Berburu dan Strategi Manajemen, oleh Pak Ciputra

 

Saya pernah menjadi seorang pemburu di usia remaja yang berburu bukan untuk sekedar hobi atau bersenang-senang. Saya berburu untuk kebutuhan hidup sekaligus ajang mengasah dan mencipta prestasi.

Di sekitar tahun 1944 ketika saya berusia sekitar 13 tahun saya memiliki kehidupan yang sangat dekat dengan alam. Saya pernah tinggal di Bumbulan (Gorontalo-Sulawesi) sebuah desa di tepi pantai lalu kemudian pindah ke desa Papaya di tepi hutan. Sebuah perpindahan tempat tinggal yang terpaksa dilakukan karena ayah saya ditangkap dan dibawa oleh tentara Jepang dan karena peristiwa itu kami juga kehilangan toko kelontong yang menjadi nafkah utama keluarga. Sebagai seorang anak remaja saya adalah remaja yang sangat aktif secara fisik, saya berenang dilaut, berkuda, memanjat pohon dan berburu. Saya berburu babi hutan, babi rusa, rusa dan anoa. Selama 5 tahun saya menjadi remaja pemburu binatang dan ternyata pengalaman itu telah melatih saya berbagai hal penting seperti strategi, kepemimpinan dan manajemen yang dampaknya sangat saya rasakan setelah saya menjadi entrepreneur. Saat-saat berburu dan hidup dekat dengan alam merupakan saat yang sangat mengesankan untuk saya namun impian untuk pergi ke Pulau Jawa dan belajar menjadi Arsitek ternyata terus bergelora, tidak pernah padam dan membuat saya meninggalkan pengalaman-pengalaman tsb.

 

Melalui berburu saya belajar menginovasi kehidupan saya.

Pada masa itu mata pencaharian utama keluarga saya adalah sebagai petani yang harus dapat bertahan hidup dari lahan seluas hampir 1 hektar. Kami hidup dengan cara berladang jagung, umbi-umbian dan juga padi. Kami bertani tanpa kehadiran seorang ayah, sementara itu 2 saudara saya yang lain bersekolah di Gorontalo. Saya hanya tinggal dengan ibu yang sangat mengasihi saya namun secara ekonomi kami berkekurangan. Berburu adalah sebuah upaya melengkapi kebutuhan keluarga karena dengan berburu saya bisa mendapatkan daging selain makanan hasil pertanian. Melalui berburu saya juga telah belajar sejak dini bagaimana “mengubah kotoran dan rongsokan jadi emas” atau “mengubah masalah jadi peluang”. Di desa Papaya binatang liar seperti babi hutan, babi rusa, rusa dan anoa sering mengganggu ladang maupun sawah penduduk desa. Jadi adalah sebuah keharusan bagi penduduk untuk membasmi binatang liar tersebut agar sawah maupun ladang kami tidak dirusak. Bagi saya berburu binatang liar bukan sekedar menyelesaikan masalah gangguan terhadap ladang, ini adalah sebuah sumber pasokan protein hewani yang memang kami butuhkan.

 

Melalui berburu saya belajar membangun tim dan mengelola tim. Rumah kami di desa Papaya berada di dekat kebun kelapa dan hutan primer. Kami tinggal di rumah dengan 2 kamar yang memiliki kolong dibawah rumah. Kolong rumah tersebut menjadi sebuah ruang kehidupan yang sehat untuk 3 anjing saya yang kemudian karena kegiatan berburu saya menambah jumlah anjing saya sehingga mencapai 17. Saya adalah seorang remaja yang memiliki anjing terbanyak di desa Papaya. Anjing-anjing saya ini bukan anjing biasa bagi saya. Ke 17 anjing yang saya miliki saya cari dan pilih dengan sengaja. Saya pahami karakternya masing-masing dan saya latih ketrampilan mereka untuk berburu. Seperti layaknya manusia dalam bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama. Mereka tinggal dikolong rumah kami, sehingga saya senantiasa dapat mengetahui perkembangan dan kondisi mereka. Saya merawat mereka layaknya merawat manusia, menyiapkan makan mereka yang terdiri dari kelapa parut, ubi, jagung rebus, dan dicampur dengan daging hasil buruan. Saya tahu, mereka pun sangat menghargai saya sebagai pemimpin yang mengerti mereka dan dengan kasih sayang memfasilitasi kemajuan berburu mereka. Saya terapkan reward and punishment pada mereka seperti layaknya juga manajemen manusia. Reward berupa makanan, atau usapan penuh kebanggan dan apresiasi, serta punishment berupa bentakan keras agar anjing tersebut tahu sedang menerima hukuman. Saya juga menerapkan coaching pada mereka supaya mereka dapat meningkatkan prestasi mereka seperti coaching pada karyawan dalam manajemen sebuah organisasi. Saya memperlakukan ke 17 anjing saya dengan penuh perhatian dan kasih sayang

seperti saya memperlakukan manusia. Saya yakin anjing-anjing yang saya miliki pada saat itu juga paham, bahwa saya memperhatikan mengasihi mereka, memelihara mereka dan mendorong kinerja mereka supaya mereka sukses mengerjakan tugas dengan baik. Saya seakan memanusiakan binatang yaitu memanusiakan anjing. Teman-teman berburu saya ternyata dapat melihat prestasi dari anjing-anjing milik saya dan mereka memberikan rasa hormat dan kagum. Inilah pembelajaran penting tentang membangun tim. Saya harus memperlakukan tim saya dengan baik, penuh pengertian dan menunjukkan bahwa kita saling membutuhkan.

 

Melalui berburu saya belajar untuk membangun kemitraan yang saling mempercayai dan saling melengkapi satu sama lain. Saya tidak berburu sendirian, saya berburu bersama dengan teman-teman saya dan 17 anjing saya. Di dalam berburu secara kelompok kami harus dapat saling mendukung berjuang sehidup semati karena risiko menghadapi binatang liar sangat besar. Kekuatan kami terletak pada kemampuan kerja sama diantara kami, kecakapan mengarahkan anjing-anjing serta senjata untuk berburu seperti tombak besi, pedang yang tergantung di pinggang, Sebagai pemburu di usia remaja kami juga menyadari bahwa kami membutuhkan orang yang lebih berpengalaman untuk mengarahkan dan memberi nasehat. Oleh karena itu kami disertai seorang tua yang paham akan pergerakan binatang di dalam hutan, orang tua ini adalah pawang yang biasa kami panggil sebagai Oom Gugu. Merambah hutan membuat tubuh kami biasa terluka oleh duri, belukar dan pohon-pohon dengan ranting yang tajam bahkan saya pernah sebulan tak bisa berburu karena terluka. Kesulitan dan tantangan ini kami hadapi bersama, inilah “tim kerja” berburu yang membuat kami sanggup menjelajah hutan yang berbahaya dan itu telah saya alami di saat saya remaja. Saya telah belajar sesuatu yang sangat penting untuk membangun usaha yaitu menemukan dan membangun kemitraan yang saling mempercayai dan bisa saling melengkapi satu sama lain.

 

Melalui berburu saya telah belajar menyusun strategi.

Berburu di usia remaja yang saya alami bukan sekedar mengandalkan mata awas untuk menemukan binatang, kaki yang bertenaga untuk mengejar buruan dan otot yang kuat untuk melempar senjata. Kami terlatih membangun formasi dan berburu binatang dengan strategi. Anjing-anjing kami bergerak didepan, mereka mengendus dan menggunakan instingnya dalam mendekati binatang buruan. Lalu kami manusia dengan siap siaga bergerak sambil memegang tombak. Kami sudah terlatih melempar tombak mengikuti dari belakang sekitar 50-100 meter dengan penuh konsentrasi dan keyakinan untuk segera menyergap babi hutan atau babi rusa atau rusa atau anoa. Ditengah hutan yang lebat dan lembab, kami melangkah dengan kaki-kaki telanjang tanpa sepatu, dan telanjang dada, hanya mengenakan celana pendek sebagai pakaian. Anjing-anjing dengan agresif berlari di depan dan sekitar kami dan jika mencium bau binatang buruan, mereka akan mengejar terus dengan gonggongan, sehingga kami berlari menyusul mereka. Jika binatang buruan berukuran kecil, anjing-anjing saya akan langsung menyerang, menerkam dan mencabik hingga binatang buruan tersebut dapat kami kuasai. Namun jika menemukan binatang buruan yang berukuran besar, anjing-anjing saya akan dengan gonggongan yang keras melumpuhkan mental binatang buruan, kemudian kami manusia yang melakukan penyerangan menggunakan tombak. Sungguh sebuah pengalaman yang kaya dengan pembelajaran kehidupan yaitu mengajarkan saya untuk berstrategi dalam mencapai sesuatu yang penting.

 

Melalui berburu saya belajar untuk berani menghadapi tantangan besar sekaligus menikmati hasil yang sepadan.

Kami berburu setiap hari Minggu, disaat kami libur sekolah. Berburu binatang liar tidak mudah dan terdapat ragam risiko di dalam hutan ketika memburu binatang liar. Saya menyenangi tantangan berburu bahkan sangat bersemangat saat berburu. Saya antusias menyambut ragam tantangan dan kesulitan. Setiap kali kami berburu maka kami berjalan dan berlari sambil juga memikul hasil buruan dapat mencapai jarak 20 km – 40 km. Namun setiap jerih payah dan kesulitan berburu seakan hilang lenyap ketika pulang dengan hasil membanggakan. Sukses berburu di masa itu menunjukkan adanya keberanian, ketrampilan dan ikut bertanggung jawab menafkahi keluarga sekaligus jadi “pahlawan kecil” untuk desa kami karena ikut serta serta membasmi binatang pengganggu ladang. Dari setiap

perburuan di setiap hari minggu itu kami selalu berhasil mendapatkan rata-rata 3-7 ekor. Kami mengarak binatang-binatang buruan ke kampung dan membagi-baginya sesuai kesepakatan bersama dan menikmati hasil buruan sebagai lauk kami sendiri maupun kami jual untuk mendapat penghasilan tambahan. Hasil buruan kami beragam, dari yang kecil sekitar 50 kg hingga yang paling besar dengan berat mencapai lebih dari 100 kg. Babi hutan dan babi rusa biasanya berat antara 50-90 kg, rusa sekitar 70 kg, dan anoa sekitar 150-300 kg. Suatu momen yang sangat membanggakan ketika berhasil mendapat binatang seberat hingga 100 kg atau lebih. Pernah suatu kali dalam sebuah perburuan kami terpaksa harus pulang dulu ke desa untuk mengambil gerobak yang ditarik oleh 2 ekor sapi untuk dapat mengangkut binatang buruan ke kampung. Luar biasa!

Suatu kali, saya pribadi berhasil menombak binatang buruan yang besar, seberat sekitar 100 kg tepat dijantungnya. Saya sangat terkejut karena tidak menyangka dapat melumpuhkan babi hutan yang sangat besar karena babi hutan tersebut langsung terkapar ditempat. Rasanya seperti, mencapai target pembangunan proyek dengan sukses sempurna. Lagi-lagi sebuah sensasi sukses, saya menjadi pahlawan kecil, mendapat makanan lezat untuk seminggu, ditambah rasa bangga yang besar. Hal yang paling membuat saya terharu adalah sekembalinya saya berburu, di sore hari, Ibu yang sangat saya cintai dengan wajah yang berseri-seri menyambut saya dengan penuh kasih sayang dan menerima hasil buruan saya dengan penuh kebanggaan, seakan Ibu mengakui, kepiawaian anaknya dalam berburu adalah prestasi dalam membasmi hama dan sekaligus membawa makanan bagi keluarga. Saya sangat menghargai dan sangat berkesan dengan pengalaman berburu di usia remaja. Saya menyimpulkan ada persamaan dalam strategi berburu dan strategi manajemen. Pengalaman berburu di remaja telah menjadi sebuah “sekolah kehidupan” untuk saya, pengalaman itu telah membentuk mindset saya dan social skill saya yang kemudian membantu saya merengkuh sukses-

sukses dalam mengelola manusia sebagai tim kerja dan mencapai tujuan-tujuan bersama yang membanggakan.

Masa berburu di usia remaja tak mungkin saya lupakan karena begitu mengesankan dan jadi kenangan seumur hidup. Namun impian jadi arsitek jauh lebih kuat dan terus bergelora khususnya saat ayah meninggal.

Inilah the Spirit of Dream dalam hidup.

 

Sumber: Ciputra Newsletter Edisi Januari 2016

Entrepreneurship Ciputra : Arti Salam Entrepreneur 3 Jari

Bagi kita civitas akademika Universitas Ciputra pasti sudah tidak asing ketika mengucapkan salam entrepreneur selagi menunjukan 3 jari yang membentuk huruf E. Apakah artinya huruf E tersebut adalah singkatan dari kata Entrepreneur? Ternyata terdapat maksud yang lebih besar tersirat dari salam tersebut. Berikut adalah makna tersembunyi yang dijelaskan oleh Pak Ciputra. [Entrepreneurship Ciputra]

Salam menggunakan 3 jari yang membentuk huruf E, dari 3 jari tersebut masing-masing jari mempunyai arti Envision, Explore dan Encounter.[Entrepreneurship Ciputra]

Jari yang pertama adalah Envision atau mengarah ke Vision atau Wawasan. Artinya, setiap Entrepreneur haruslah mempunyai wawasan dalam berkarya. Tanpa wawasan kita sebagai Entrepreneur tidak akan mencapai hasil yang maksimum. Bahkan kita salah jalan. Seperti orang mau ke Medan malah naik pesawat ke Menado. Jika sudah memiliki vision, dia tidak akan mengalami gejolak sebab dia tahu lebih dahulu [Entrepreneurship Ciputra].

Jari yang kedua, Explore artinya meneliti, menyelidiki, melakukan kreativitas, melakukan inovasi terus menerus. Kita harus bisa mencari atau meneliti cara-cara baru, metode-metode baru supaya dapat semakin berkembang besar dan tidak tersaingi. Tanpa melakukan explorasi, usaha kita hanya akan berjalan di tempat dan sulit untuk berkembang [ Entrepreneurship Ciputra ].

Jari yang terakhir adalah Encounter. Artinya menemukan dan mendapatkan. Entrepreneur harus menemukan cara yang tepat. Bila sudah menemukan, belumlah cukup, kita harus dapat mempraktikan [Entrepreneurship Ciputra].

Jadi, salam Entrepreneur berarti wawasan, inovasi terus menerus, dan melaksanakan menjadi praktik, menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang sejahtera dan makmur.
Demikian tadi adalah penjelasan singkat dari makna Salam Entrepreneur, ayo #ucpeople kita pun turut memaknainya dan bangga akan salam ini. [Entrepreneurship Ciputra]

Salam Entrepreneur!

Entrepreneurship Ciputra

VISI MISI UNIVERSITAS CIPUTRA

INTEGRITY | PROFESIONALISME | ENTREPRENEURSHIP

Interview with Angeline Vivian Tjahyadi

Angeline Vivian Tjahyadi atau yang akrab disapa Vivi, mahasiswi jurusan Psikologi Universitas Ciputra yang saat ini menginjak semester 5 ini telah membuktikan bahwa menjadi seorang mahasiswa berprestasi secara akademik, berprestasi saat menekuni passion, minat dan hobi sekaligus bukanlah hal yang tidak mungkin. Vivi yang juga adalah Finalist Ciputra Young Entrepreneurship Award, Top 10 English Debate in Asian English Olympics 2018, ternyata juga memiliki talenta menyanyi dan hal ini ditunjukkannya melalui kemenangan yang ia raih dalam salah satu lomba menyanyi yang diadakan oleh UKM Jepang Universitas Ciputra, di mana piala Juara 3 lomba J-Song pada 26 Agustus 2017 lalu berhasil ia menangkan.

Salah satu anggota band Resonance (UKM band) ini mengaku bahwa sudah senang menyanyi sejak kecil, namun bakatnya ini tidak ia kembangkan melalui les melainkan mengikuti lomba-lomba yang ada.

Tidak hanya itu, mahasiswi angkatan 2016 ini juga memiliki passion dalam ajang E-Sports dan sedang menduduki posisi manager dalam sebuah organisasi eSports, Armored Project. WOW! Sebuah rekam jejak yang luar biasa!

 

UC Library berkesempatan mewawancarai Vivi, dan bertanya secara khusus mengenai passionnya dalam bidang eSports, sejak kapan ia terjun, dan mengapa bidang tersebut yang ia pilih, dan bagaimana ia mengatur waktunya. Berikut hasil wawancara singkat kami:

 

Q: Sebenarnya apa sih eSports itu?

Vivi: eSports (Electronic Sports) merupakan jenis bidang olahraga yang memanfaatkan video games sebagai bidang kompetitif utama, seperti Mobile Legend, League of Legend, Arena of Valor dan DOTA. Saat ini saya menjabat sebagai manajer di Armour Project, sebuah organisasi eSports, yang sudah memiliki tim-tim dengan skala main secara taraf nasional maupun internasional, antara lain tim League Of Legend dan tim Arena Of Valor. Awalnya saya hanya player biasa sih, saya menekuni eSports sejak SMP. Karena saya orangnya kurang enjoy freetime, maka saya mengisi waktu luang dengan kegiatan yang saya sukai dan tetap produktif, yang saya sebut serious leisure, seperti main game dan baca buku. Banyak orang melihat baca buku itu sebagai hobi, tapi bagi saya baca buku itu bukan hobi, tapi serious leisure. Jadi tetap bisa rileks tapi serius. Dan entah kenapa kok bisa kecemplung di dunia Esports.

 

 

Q: Kenapa tiba-tiba ada keinginan untuk menekuni eSport?

Vivi: Bermula dari Florian, mahasiswa Psikologi Universitas Pelita Harapan, Jakarta, yang menjadi pacar saya saat ini. Kami kenal melalui forum akademisi debat, dimana kami saling bertukar jurnal untuk keperluan tugas. Dari situ, saya tahu kalau dia merupakan atlet profesional Esports dan pernah menjadi shortcaster di PT. Garena dengan pengalaman 3 tahun. Bahkan dia pernah mewakili Indonesia untuk main di Taiwan. Kala itu, tim gamer dari teman Florian berkompetisi ke tingkat nasional, dan membutuhkan coach, owner dan manager selain pemain. Posisi coach dan owner dipegang oleh Florian, dan dengan memberanikan diri saya mengambil posisi manager. Umumnya, manager harus memiliki pengalaman 2 tahun atau lebih dalam eSports dan biasanya berumur 20 tahun sekian. Meski tidak memenuhi kualifikasi tersebut, prinsip saya adalah “If you never try, you’ll never know.” Akhirnya saya bergabung dan setelah satu season terselesaikan, kami mendapatkan investor baru dan sering diliput media. Bahkan partner baru kami, Pak Daniel mendanai dan membantu pengembangan tim kami dengan menyediakan gaming house, pc dan rumah untuk player kami serta gaji. Beragam sponsor besar pun kami dapatkan, ada dari Logitech, Mr.Smith, dan Donburi Ichiya. Bahkan sekarang kami memiliki videografer professional dari Last Day Production.

Semalam ketika saya mau tidur juga sempat terpikir, sekiranya saya tidak terjun di eSports. Saya tidak akan jadi kayak gini, saya bersyukur bermula dari hobi, kini saya mendapat uang sebagai pemasukan bulanan.

 

Q: Menurut kamu, bagaimana perkembangan eSports saat ini?

Vivi: Meski benar eSport sekarang belum terlalu besar di Indonesia, but good news-nya adalah “We can make it bigger”, karena key source pun juga bilang bahwa Esport di Indonesia itu bakal pesat banget, buktinya adalah banyak banget brand-brand dan company yang sudah sadar akan pesatnya Esports di Indonesia hingga mereka mau jadi investor, misalkan Gojek, yang bukan berasal dari dunia Esports, namun mereka mensponsori salah satu team terbesar di Indonesia “EVOS”. Brand sebesar Gojek aja bisa berani buat invest, berarti, “there is someting there”, dan itu salah satu alasan juga kenapa banyak orang akhirnya mau terjun di eSports, “Because they love it and they want make it bigger”, karena saya juga ingin anak cucu saya nantinya bisa memiliki peluang di dunia eSport yang sama seperti diluar negeri. Kita harus benar-benar fight!

 

Q: Bagaimana cara kamu me-manage waktu?

Vivi: Saya yakin semua orang pasti punya waktu yang kepepet dan yakin manajemen waktu itu penting banget. Kalau saya adalah dengan tidak menunda–nunda, sebenarnya tugas tidak bakal banyak, kecuali kalau kita menundanya. Dulu saya merupakan cewek yang tidak terorganisir, tidak punya jadwal, selalu bingung mau ngapain, sampai akhirnya saya diajarin untuk memanfaatkan post-it dan membuat kalender di HP, dan itu sangat membantu. Jika saya diberi tugas oleh dosen dan dikumpulkan minggu depan, saya mengerjakan tugas harus selesai H-4 atau H-3, tidak boleh hari itu selesai dan hari itu juga kumpul, dan ini juga antisipasi untuk mengerjakan tugas yang lain, jadi “multi tasking” gitulah. Seperti kemarin saat saya di kirim EIO ke Jakarta, debat Inggris Internasional, disela-sela itu ada waktu sekitar 2 jam-3 jam, saya manfaatkan kerjain tugas dosen, ketemu dan deal dengan sponsor. Singkatnya adalah tetap istirahat cukup, tapi juga mengerti jadwal. Harus punya jadwal, karena dari situ kita bisa benar-benar memahami prioritas kita. Ada kalanya, saya mengalami waktu yang kepepet, ada debat dan yang satu lagi eSport, dan harus milih salah satu, dan biasanya saya memilih yang lebih urgent. Selain keluarga, kuliah tetap menjadi prioritas nomer satu. Ada anggapan bahwa orang yang berprestasi tidak bisa bermain game atau tidak bisa berpotensi di dunia game, maupun sebaliknya, orang yang bermain game, pasti tidak berhasil dalam bidang akademis, tapi buktinya IP saya 3,9. Jadi menurut saya, main game bukan alasan nilai kamu jelek. Harus manage waktu dan tentukan prioritas itu penting.

 

Q: Misalnya ada mahasiswa yang ingin menekuni eSports tapi ragu, kamu ada pesan-pesan?

Vivi: Banyak sih, ingat pakai waktu hidup mu If you never try, you’ll never now”, tapi juga harus mikirin “Which what you really want?” Karena eSport di Indonesia tidak seperti eSport di luar negeri, harus kita akui bahwa faktanya eSport di Indonesia itu baru akhir-akhir ini diakui oleh Indonesia itu sendiri, dan eSport dimasukkan ke cabang olahraga kan baru tahun lalu, sedang di luar negeri sudah beberapa tahun lalu. Di Indonesia eSport bukanlah karir yang menjanjikan berbeda dengan di luar negeri, makanya banyak orang di luar negeri drop off SMA dan kuliah demi Esports, main game terus sampai 12-14 jam perhari, latihan, jadi profesional gamer, karena apa? Duitnya banyak, popularitas besar, masa depan terjamin, jadi itu sebuah hal yang promising di luar negeri. Lain halnya di Indonesia kita harus menerima faktanya bahwa kerja di bidang Esport itu merupakan passion, jadi itu yang perlu di tanyain kalau anak-anak mau terjun ke dunia esport, kita harus tanya diri kita sendiri “Is that really your passion?” Karena kalau bukan passion, aku yakin sebulan sampai dua bulan pasti rontok. Karena memang eSport itu waktunya harus banyak dan kita harus benar-benar “into it” gitu.

 

Q: Tips mem-balance-kan antara hobi dan kuliah?

Vivi: Menurutku, “Kalau nilaimu bagus, kamu boleh main game sepuasnya. Kalau nilai mu jelek, berarti you have a lot of things to fix; remidi, revisi, dan itu nambah-nambahin kerjaan yang tidak efektif.” Prinsipku “Do it Once” dan cukup, dan kalau udah cukup ya udah jangan di over do it. Contoh, kamu bisa bikin tugas sekali dan mendapatkan nilai 90, malamnya tinggal main game. Kalau menunda dan main Mobile Legends dulu 3-4 jam, lalu mendapat nilai 50, dan malam revisi lagi, kan nambah-nambahin hal yang sebenernya tidak perlu dilakukan.

 

Q: Apa sih yang kamu dapetin dari koleksi buku UC Library?

Vivi:

Pertama, buku di UC Library sangat membantu saya ketika mencari referensi. Perlu diketahui juga buku bertema psikologi rata-rata berukuran tebal dan berharga mahal, mengucap syukur UC Library memiliki banyak sekali buku psychology yang menurut saya sangat membantu dalam menjalani perkuliahan. Selain itu, juga membantu ketika mempersiapkan diri mengikuti lomba debat. Bahkan rasanya ‘jatah’ pinjam koleksi buku serasa kurang, karena memang kalau hanya mengandalkan internet, tidak akan se-runtun jika belajar dari buku. Misalnya jika kita mencari kata kunci ‘psychology positive’,  memang benar akan keluar semua pencarian tentang subyek tersebut, tapi lompat-lompat dari teori A ke C lalu ke Z tiba-tiba ke Y. Jadi saya tidak bisa belajar secara runtun.

Contohnya lagi saat mempersiapkan lomba debat di Asian English Olympics 2018 lalu, saya sangat sering membaca referensi buku di perpustakaan. Dari buku yang kita baca, akhirnya kita benar-benar mengerti urutan kerangka berpikirnya. Buku-buku tersebut sangat ‘essential’ buat lomba kita, seperti yang menentukan hidup mati kita, kalau misal buku ini sudah tidak ada atau tidak kita hafal, wah tewas bisa-bisa.

Kedua yang saya suka tentang UC Library adalah fasilitasnya berbeda dengan lainnya. Ketika belajar di UC Library itu seperti memasuki ruangan yang intensif tapi rileks, ada tempat nge-charge juga, sejuk, tidak pengap, dan akhirnya jadi “kerasan” gitu. Dari sekedar latihan debat, bikin mosi sampai kerjain eSports, sangat nyaman di UC Library.

 

 

INFORMASI ACCESS E-JOURNAL EMERALD

Dear #ucpeople,

Kalian mahasiswa tugas akhir? Pusing cari artikel? Susah cari referensi untuk tulisan kalian?

Gak usah galau, langsung aja akses E-Journal Emerald yang dilanggan oleh UC ke:

URL: www.emeraldinsight.com

Berikut adalah daftar subyek yang bisa kalian akses:

  1. Accounting, Finance, & Economics
  2. Business, Management, & Strategy
  3. Mental Healt
  4. Information & Knowledge Management
  5. Tourism & Hospitality
  6. Marketing

 

Jika kalian dalam area kampus, kalian dapat menggunakan e-journal emerald secara otomatis tanpa memasukkan username dan password. Kalau kalian ingin mengakses tapi berada diluar UC atau memiliki pertanyaan seputar koleksi jurnal yang dilanggankan oleh UC Library, silahkan langsung berkunjung ke UC Library atau menghubungi Pak Panji di telp ext. 2223, email: panji@ciputra.ac.id
Thank you,

UC Library & Samuel Prasetiyo

Apa sih yang bisa aku dapetin dari koleksi buku UC Library? Berguna enggak ya buat kuliah dan bisnisku?

Pertanyaan tersebut yang mungkin terlintas di kepala #ucpeople sekalian kalau ditanya tentang koleksi buku di UC Library. Nah, Samuel Prasetiyo, mahasiswa IBM (International Business Management) Universitas Ciputra yang juga fungsionaris Student Council UC tahun 2017/18 Departemen 3: Student Organization ini mencoba membagikan beberapa testimony tentang pengalamannya bersama koleksi buku UC Library.

Kira-kira apa aja sih yang ia dapatkan? Berikut penuturannya:

 

Buku ‘The Lean Startup’ karya Eric Reis menjadi buku yang berkesan dan sangat membantu saya untuk bisa memahami bagaimana seharusnya membangun sebuah bisnis tanpa perlu mengeluarkan biaya terlalu besar karena mengalami kerugian yang disebabkan oleh produk tidak menjawab kebutuhan pasar. Buku yang saya pinjam di UC Library ini membuka pemahaman baru bagi saya, bahwa membuat sebuah bisnis bisa dimulai dengan menemukan kebutuhan konsumen. Tanpa kita mengetahui apa yang menjadi “pain” dan “gain” dari konsumen, produk yang kita buat tidak akan pernah bisa terjual dengan cepat atau bahkan tidak akan terjual sama sekali. Buku yang termasuk dalam koleksi Entrepreneurship UC Library ini memberikan langkah-langkah praktis apa saja yang harus kita lakukan untuk bisa membuat sebuah bisnis/produk yang menjawab kebutuhan masyarakat.

Apa yang saya dapatkan dari buku ‘The Lean Startup’ ini sedang saya terapkan dalam pembuatan bisnis bersama dengan rekan saya diluar UC. Produk yang sedang kami buat bernama PIMPRO, sebuah aplikasi yang berfokus pada manajemen proyek-proyek dalam bidang teknik sipil. Awalnya rekan-rekan saya menolak untuk melakukan riset dalam mencari kebutuhan sebenarnya dari calon pelanggan, namun setelah beberapa kali menyumbangkan pemikiran dari apa yang sudah saya dapatkan dari buku ‘The Lean Startup’ dan merekomendasikan buku ini untuk dibaca, mereka pun mau membuka diri untuk melakukan riset kebutuhan pasar.

Selain buku tersebut, masih ada beberapa koleksi buku UC Library yang ingin saya baca juga dan sudah ada dalam daftar ‘read soon’, dan bahkan sudah saya foto untuk berjaga-jaga jika saya lupa cover bukunya. Salah satunya adalah ‘Design Thinking’ karya Thomas Lockwood. Buku tersebut juga memberikan pemahaman baru bagaimana cara mengembangkan suatu produk agar bisa selalu memenuhi kebutuhan konsumen.

So, kesimpulannya adalah kalau mau explore buku-buku di UC Library, pasti kita bisa menemukan buku-buku yang bermanfaat dan berfaedah. Saya sendiri baru menemukan buku-buku yang ada di daftar “wajib beli” milik saya ketika meng-explore rak Entrepreneurship. Seperti contohnya ‘Zero to One karya Peter Thiel, dan buku non-entrepreneurship seperti ‘Purpose Driven Life karya Rick Warren, dll.

UC Library & Rahmi Hidayah

 

Adalah Rahmi Hidayah mahasiswi jurusan Marketing Communication Universitas Ciputra yang saat ini menginjak semester 3 di UC ini telah membuktikan bahwa menjadi seorang entrepreneur sekaligus menjadi mahasiswa bukanlah hal yang tidak mungkin. Sudah sejak dibangku sekolah Rahmi menekuni entrepeneurship, bahkan secara otodidak, mahasiswi kelahiran Gresik ini membuat sendiri kreasi bros dan gantungan kunci berbahan flannel dan dijualnya ke teman-teman, serta gurunya ketika di SMP kelas 8.

Semangat entrepreneurship tersebut terus dibawa sampai di bangku kuliah di mana saat ini Rahmi memiliki bisnis dibidang Florist & Gift, bernama ‘FLOWERSTORE’. Saat ini, bisnis yang resmi berdiri sejak tahun 2015 ini memiliki 3 karyawan, dan tepat pada bulan Februari tahun ini, FLOWERSTORE membuka cabang pertama di Lamongan dengan 2 karyawannya. Sebuah capaian yang luar biasa bagi seorang entrepreneur muda asal Gresik ini.

UC Library berkesempatan mewawancarai Rahmi, dan bertanya mengenai suka dukanya dalam menjalankan bisnis serta tugasnya sebagai seorang mahasiswa aktif MCM-UC. Berikut hasil wawancara singkat kami:

 

Bagaimana sih caranya kamu agar bisa mendapatkan fresh idea dan inspirasi untuk perkembangan bisnismu?

Harus terus mengikuti perkembangan jaman, dan selalu perbanyak referensi, referensinya bisa dari youtube mancanegara, pinterest, instagram brand-brand Florist yang besar di Indonesia, setelah itu saya ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) mereka. Selain itu untuk menajemen sendiri, saya belajar dari buku ‘Manajemen Bisnis’ di Library, disitu saya belajar tentang cara me-manage ditoko itu bagaimana, berelasi dengan karyawan dan memposisikan diri sebagai pimpinan itu juga bagaimana, disitu juga saya belajar, bahwa leadership sangat dibutuhkan di dalam bisnis, karena saya menjadi cerminan dan contoh bagi para karyawan saya di toko.

 

Dari semua ide dan pelajaran yang kamu dapatkan, bagaimana kamu menerapkannya di lapangan?

Penerapan lebih susah sebetulnya, karena teori yang kita dapatkan hanya sebagai dasar, dan jika kita mau meng-implementasikannya, kita harus menggunakan kreativitas kita. Jika materi atau teorinya ‘A’, kita bisa mengembangkannya jadi ‘A+’, tergantung kreativitas kita dan situasi di lapangan. Di Flowerstore sendiri, salah satu tantangan dari produk, muncul dari ekspektasi customer di mana mereka ingin bunga yang ‘fresh’ dan tidak layu. Nah kita harus bisa memberikan apa yang customer inginkan. Ada banyak perjuangan dibaliknya, kita setiap hari harus menyirami, memotong bunganya, dan mencari cara agar kesegaran bunga tetap awet dan itu semua tidak mudah lo.

Dari manajemen toko sendiri harus bisa memanajemen diri sendiri dulu, bagaimana kita berbicara, ‘ngayomi’ anak buah kita, karena mereka adalah tanggung jawab kita, kita yang ‘ngidupin’ mereka.

 

Nah selain berbisnis, kamu juga kuliah, gimana kamu bisa menjalankan keduanya?

Mengatur waktunya sebenarnya juga agak kewalahan sih, di kampus tugas kuliah sudah numpuk, pulang ke toko di Gresik juga masih harus ‘ngurusin’ anak-anak, mengerjakan pesanan, akhirnya waktu istirahat yang berkurang. Sehari itu biasa tidur hanya 4 jam, maksimal 6 jam. Jadi sebetulnya cukup melelahkan.

Tapi saya selalu mendorong diri saya sendiri, karena jika kita mau selangkah lebih maju kita harus mau capek lebih dulu. Orang tua saya juga menjadi motivasi tersendiri buat saya karena mumpung saya masih muda dan orang tua saya sudah tua, sekarang saatnya saya yang bekerja keras bukan mereka lagi. Saya pun juga harus membuat kampus tercinta saya bangga dengan prestasi yang saya buat, belum lagi anak-anak di toko yang kerja bareng dan menjadi tanggung jawab saya. Terkesannya sih tanggung jawab saya begitu banyak dibelakang, tapi sebetulnya tanggung jawab tersebut juga menjadi penyemangat buat saya sendiri.

 

Kalau boleh tahu motto kamu ketika menjalani hidup sebagai entrepreneur sekaligus mahasiswa?

Jangan lupa bermimpi, tulislah mimpimu, bacalah mimpimu, dan percayalah mimpimu akan jadi nyata.

Saya sendiri di rumah punya ‘Jendela Motivasi’, jadi saya tulis semua mimpi yang ingin saya capai dalam 1 tahun kedepan dikertas lalu saya temple di jendela itu. 3 dari 5 mimpi saya sudah tercapai. Mimpi pertama saya adalah saya bisa kuliah dan bisa menjalankan bisnis, sama dengan brosur UC ketika saya hadir di Expo pameran di Gresik, ‘I am Student and I Have my Own Business’. Saya nulis kalimat ‘I am Student and I Have my Own Business’ selama 2 tahun dan akhirnya tercapai. Mimpi kedua saya adalah saya pengen masuk billboard di pintu masuk Citraland, dan yang ketiga adalah saya pengen IPK saya diatas 3,8. Dan 3 mimpi saya tadi sudah tercapai, tinggal 2 mimpi lagi dan saya percaya kalau mimpi ditulis pasti akan menjadi nyata.

 

Adakah pesan buat teman-teman mahasiswa lain yang punya keinginan seperti kamu, punya bisnis jalan, kuliah juga jalan dan mimpinya kedepan jadi tertata?

Jangan pernah melupakan orang tua. Jangan menentang orang tua karena orang tua yang lebih tahu dari kita, pun dalam berencana berbisnis. Jangan lupa ber-sedekah karena inti kehidupan adalah kita harus berguna bagi orang lain. Lalu juga jangan pernah meremehkan orang lain, kita harus belajar untuk menghargai orang lain dan peduli kepada orang di sekitar kita.

Menjadi seorang entrepreneur tidak boleh tutup telinga, kita harus open dan harus mau menerima kritik dan saran, karena itu pembelajaran bagi kita, kalau tidak, kita akan stagnan disitu dan ngak bakalan jadi apa-apa.

 

UC Library & Siska Hermanto

 

Adalah Siska Hermanto mahasiswa Psikologi Universitas Ciputra yang saat ini menginjak semester 4 di UC ini telah memenangkan berbagai penghargaan di lomba debat psikologi untuk UC. Mahasiswi angkatan tahun 2015 ini ternyata telah mengasah kemampuan debatnya lewat lomba-lomba debat sejak SMA. Apa saja sih prestasinya?

Pertama, sebagai best speaker di Psycho Debate, UPH Psycho Village (15-16 Maret 2016). Kedua, memenangkan juara 1 debat PICASO yang diadakan oleh UNIKA Soegidjapranoto bersama Betari Aisah dan Christian Effendy Putra. Ketiga, juara 3 National Psychodebate Psycorius Universitas Brawijaya 2016. Dan terakhir, Juara II Lomba Psychodebate Psychology Village yang diselenggarakan oleh Universitas Pelita Harapan pada 14-15 Maret 2017 lalu!

Ternyata ketika mempersiapkan lomba, UC Library cukup memberikan ‘bantuan’ bagi cewek yang hobi membaca ini. Bantuan seperti apa ya maksudnya? Berikut penuturannya:

 

“Dalam mempersiapkan diri menghadapi lomba debat pasti butuh sekali buku-buku penunjang dan UC Library memudahkan saya dalam mencari data-data yang saya perlukan. Terbukti dalam setiap mosi (topik perdebatan) yang kita cari, entah itu tentang body image, perkembangan, positive psychology, dll. ketika kita mencari referensi bukunya di Library kita selalu mendapatkannya, bahkan tak jarang kita dapat lebih dari 1 buku. Saking bergunanya, saat kita lomba di UPH (Universitas Pelita Harapan) Jakarta tahun 2016 lalu, buku yang kita pinjam dari Library pernah kita bawa sampai Jakarta lho. Tentu saja kita juga jaga dan rawat dengan baik..hehe. Dan terbukti akhirnya Best Speaker National Psychodebate Psychovillage 7 UPH Karawaci 2016 berhasil diraih! Buku menjadi teman yang sangat penting dan terima kasih UC Library telah membantu memberikannya. Once again, thank you UC Library!”

 

UC Library berkesempatan mewawancarai Siska mengenai Passion-nya dalam debat, berikut hasil wawancara singkat kami:

 

  1. Apa sih yang awalnya mendorong kamu masuk jurusan Psychology UC?

Awalnya memang saya sudah memiliki passion di dunia psikologi, bahkan sejak dari SMP sudah suka banget dan memang dari awal mendaftar sudah kepengen masuk di jurusan Psikologi.

  1. Kan baru aja menang lomba debat, apa debat itu termasuk passion kamu?

Iya benar! Debat adalah passion saya. Karena itu dari awal saya selalu bekerja keras untuk mengembangkan passion saya tersebut, seperti motto saya “Hardwork Never Betray”.

  1. Menurut kamu pentig gak sih passion dalam hidup seseorang?

Sangat penting. Karena passion itu yang membuat kamu ingat alasan awal kenapa kamu mau melakukan itu, ketika ada hambatan passion bisa menuntun kamu untuk tetap bertahan dan mengingatkan kembali sudah sejauh mana kamu melangkah. Kalau tidak ada passion pasti langsung selesai di situ.

  1. Apakah ada tips untuk teman-teman, bagaimana dapat menekuni dan mengasah passion mereka sehingga bisa bermakna bahkan menelurkan prestasi?

Yang pertama-tama, harus dicari dulu passionnya apa, karena kadang orang belum menemukan atau bahkan enggak tahu kalau ternyata dia punya passion di sana. Setelah itu baru cari goals atau tujuan. Contohnya saya yang memiliki passion di debat, dan saya memiliki tujuan mengikuti lomba-lomba debat dan goal saya adalah memenangkannya. Tentunya dengan bekerja keras mempersiapkan diri semaksimal mungkin, seperti rajin membaca sehingga ketika debat apa yang kita utarakan bukan omong kosong. Yang terakhir, jangan pantang menyerah dalam mencapai goals kalian, kalau sudah muncul keinginan menyerah, ingat tujuan awal kenapa kamu memulainya.