Tumbuhkan Daya Kritis Buah Hati Melalui Literasi di Masa Pandemi

Perpustakaan Universitas Ciputra Surabaya bekerjasama dengan Wahana Visi Indonesia dan Fakultas Psikologi Universitas Ciputra Surabaya menghadirkan iTalk (Innovation Talk) yang bertemakan “Developing Critical Thinking in Kids Through Literacy” yang diselenggarakan pada Sabtu (31/10) lalu. Kegiatan ini dimulai pukul 09.00 WIB ini dihadiri oleh 40 peserta. Kegiatan ini diharapkan memberikan wawasan yang dapat diterapkan oleh orang dewasa seperti orang tua dan pendidik yang sedang mengalami kesulitan dalam meningkatkan daya kritis anak melalui literasi. Kegiatan ini dimoderatori oleh Pak Christye Dato Pango, S.Sos., M.A. (Pustakawan Universitas Ciputra Surabaya) dan mengundang Ibu Melliana Layuk (Spesialis Pendidikan Wahana Visi Indonesia Zonal Jawa, Sumatera dan Kalimantan Barat) dan Ibu Meilani Sandjaja, S.Psi., M.Psi., Psikolog (Dosen Fakultas Psikologi Universitas Ciputra Surabaya)

Sesi pertama yaitu pemaparan dari Ibu Meiliana Layuk. Wahana Visi Indonesia (WVI) adalah yayasan sosial kemanusiaan Kristen yang bekerja untuk membuat perubahan yang berkesinambungan pada kehidupan anak, keluarga dan masyarakat yang hidup dalam kemiskinan. WVI mendedikasikan diri untuk bekerjasama dengan masyarakat yang paling rentan tanpa membedakan agama, ras, etnis dan gender. Sejak tahun 1998, Yayasan Wahana Visi Indonesia telah menjalankan program pengembangan masyarakat yang berfokus pada anak.

Menurut penjelasan narasumber, sejak tahun 2012 WVI melalui kemitraan International World Vision telah membangun pembelajaran dasar dan keterampilan membaca. WVI membentuk kemitraan strategis dengan Save the Children untuk mengadopsi model peningkatan keaksaraan baru. Salah satu Project Model yang diterapkan oleh Wahana Visi Indonesia adalah di daerah dampingan terkait dengan peningkatan literasi membaca.

Pada Wahana Literasi, ada tiga kegiatan yaitu pelatihan guru, aksi masyarakat/komunitas dan kreasi material pendukung literasi. Sejauh ini, aksi komunitas WVI meliputi pengembangan lingkungan literasi (perpustakaan mini dan cara menjilid buku), kegiatan membaca masyarakat (menyelenggarakan rumah baca, sobat baca, waktu cerita dan baca maraton) dan lokakarya kesadaran membaca (perkembangan bahasa dan literasi anak, pojok baca dan membuat materi untuk membantu anak membaca). ”Membacakan cerita kepada anak-anak sangat membantu perkembangan sosial, emosional, intelektual dan moral mereka.” Ujar Narasumber.

Salah satu kegiatan yang disoroti dari WVI adalah Pojok Baca. Pojok baca adalah tempat kreatif untuk anak-anak berlatih dan bermain dengan aktivitas membaca dan literasi. Pojok baca disediakan sebagai sumber daya untuk orang tua, sobat baca atau siapapun yang membantu anak anak membaca sambil berkunjung dan bersenang-senang.

Selanjutnya adalah pemaparan dari Ibu Meilani Sandjaja. Pemaparan ini terdiri atas dua topik bahasan yaitu buku yang sesuai untuk anak sekolah dasar dan literatur dan berpikir kritis bagi anak sekolah dasar.

Menurut narasumber, literasi baca merupakan kegiatan yang kompleks karena melibatkan berbagai aspek yaitu atensi minat dan motivasi dalam diri. Dalam memilih bacaan untuk anak, kita perlu memperhatikan kualitas isi bacaan, keterbacaan, kerumitan bacaan dan cara penyampaian dari bacaan tersebut. Buku yang sesuai dengan karakteristik anak adalah buku yang memiliki alur sederhana, menampilkan banyak gambar dan memiliki cerita yang dapat membawa anak ke waktu atau tempat lain di dalam cerita.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menemukan beberapa anak yang tidak suka membaca. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor yaitu membaca itu membosankan, bukunya terlalu tebal, anak tidak suka membaca nyaring dan anak tidak mengerti apa yang dibaca.

Menurut Narasumber, sejak dini anak-anak memiliki kemampuan untuk berpikir kritis. Berpikir kritis adalah proses kognitif untuk memperoleh pengetahuan, pemahaman dan keterampilan untuk menemukan pemecahan masalah dan keputusan. Berpikir kritis merupakan salah satu keterampilan yang mengajarkan anak untuk bertanya dan merefleksikan pemahaman dan pengetahuan tentang informasi yang diajarkan kepada mereka.

Buku merupakan alat yang ampuh untuk mengajarkan berpikir kritis karena dapat memberikan kesempatan pada anak untuk secara aktif terlibat dalam bacaan sambil memikirkan ide, nilai dan pertanyaan secara bersamaan. Agar dapat berpikir kritis, tidak jarang anak-anak akan menemukan kesulitan sehingga memerlukan bantuan.

Selain itu, untuk mendorong anak berpikir kritis perlu dilakukan diskusi dan interaksi selama atau setelah mereka membaca buku. Kita juga dapat membantu untuk menetapkan tujuan, prediksi, mengajukan pertanyaan dan mengklarifikasi bagian dalam bacaan yang dibaca anak. Yang tidak kalah pentingnya, kita perlu menciptakan suasana mendukung berupa dorongan dan dukungan yang membantu anak berpikir semakin kritis.

Kesimpulan yang dapat diambil dari iTalk ini adalah tidak sulit bagi kita untuk dapat turut serta dalam membantu anak untuk menanamkan dalam dirinya betapa pentingnya membaca dan berpikir kritis. Kita dapat memberikan dukungan dan suasana yang mendukung pengembangan diri anak dalam hal membaca dan berpikir karena anak-anak butuh bantuan orang sekitar dalam proses pengembangan dirinya.

Dalam acara ini juga dibuka donasi untuk mendukung Program Rumah Baca Sentani, Papua dan total donasi yang terkumpul sebesar Rp 1.304.648,00 Semoga donasi yang terkumpul bisa memberikan semangat untuk pelayanan rekan-rekan Wahana Visi dan sukacita bagi anak-anak di Sentani, Papua dalam mereka bermain dan belajar.

The Literacy Hero: Oei Him Hwie

Pahlawan tidak harus selalu memegang senjata, berjuang untuk berkontribusi bagi negeri melalui kecintaannya pada dunia literasi pun layak disebut pahlawan.

Pecinta sastra Indonesia pasti sudah familiar dengan novel tetralogi Bumi Manusia. Novel ini menjadi karya Pramoedya Ananta Toer paling terkenal yang dihasilkan pada saat diasingkan ke Pulau Buru. Di Pulau Buru, Pram bertemu dengan sesama tahanan, yang lebih dulu bebas pada 1978 dan diberikan titipan tulisan tangan Pram di kertas kantong semen, membawa tetralogi tulisan otentik milik Pram.

Tapi kalian tau gak sih siapa sosok kepercayaan Pramoedya Ananta Toer untuk menyelundupkan naskah asli novel tersebut?

Ia adalah Oie Hiem Hwie. Seorang mantan jurnalis yang dekat dengan sosok Presiden Republik Indonesia yang pertama, Bung Karno. Tak disangka kedekatannya dengan Bung Karno justru membuat Oie Hiem Hwie mendekam selama 13 tahun di bui. Pada 1978 Hwie bebas, namun ia tidak bisa kembali menjadi seorang wartawan karena statusnya.

Kisah perjumpaan Oie Hiem Hwie dengan Haji Masagung, menjadi awal pendirian sebuah Perpustakaan bernama Medayu Agung di Kota Surabaya.

Ikuti kisah perjuangan dan pengabdian Oie Hiem Hwie menjaga sejarah bangsa di seri “The Literacy Hero” UC Library ini.

Selamat Hari Pahlawan!

 

 

Operator Boolean: Cara Mudah Temukan Informasi Relevan | KUTU BUKU eps. 8

Kalian para pejuang Tugas Akhir? Butuh banyak informasi dan referensi online tapi harus tetap #dirumahaja?
Permasalah yang biasa terjadi adalah saat ingin menelusur informasi online, mesin pencari (search engine) tidak dapat memahami sepenuhnya informasi apa yang kita inginkan. Oleh karena itu strategi pencarian sangatlah dibutuhkan.
KUTUBUKU (Kupas Tuntas Soal Buku) kali ini akan membagikan tips and trick seputar penelusuran informasi secara online yang bisa mempermudah kalian dalam menyelesaikan tugas akhir atau penelitian kalian berdasarkan buku Modul Pelatihan Literasi Informasi: Pelatihan Instruktur Tingkat Dasar (Call No. 028.70711 MOD).

Seri KUTU BUKU (Kupas Tuntas Soal Buku) Eps ke 8 ini adalah hasil kolaborasi UC Library bersama Laboratory of Communications and Media Convergence (LCMC) Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Ciputra 🙏

 

Menjadi Pemuda yang Kreatif dan Inovatif di tengah Krisis

Memperingati hari Sumpah Pemuda 2020, Universitas Ciputra dalam hal ini Fakultas Entrepreneurship dan Humaniora (FEH), Biro Mahasiswa dan Alumni (BMA), Perpustakaan UC serta Rumah Milenial mengadakan diskusi berjudul Pemuda, UMKM dan UU Cipta Kerja untuk melihat apa yang harus dipersiapkan dan dihadapi para pemuda dan UMKM di tengah krisis ekonomi akibat pandemi Covid19 dan juga perubahan akibat UU Cipta Kerja ini yang diselenggarakan pada Rabu (28/10) dan dihadiri peserta sebanyak 135 orang. Pembicara dibawakan oleh Bapak Teten Masduki selaku Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Indonesia serta Bapak Noer Fajrieansyah selaku Direktur Kelembagaan PT Permodalan Nasional Madani dan Ketua Umum DPP KNPI.

Kegiatan ini diharapkan memberikan wawasan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari khususnya untuk kaum muda agar dapat memanfaatkan masa mudanya dengan baik dan lebih peka terhadap apa yang terjadi di Indonesia. Kegiatan ini dimoderatori oleh Pak Yanser Zega dan mengundang Pak Teten Masduki (Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Indonesia) namun beliau berhalangan hadir sehingga diwakilkan. Selain itu diundang juga Pak Noer Fajrieansyah (Direktur Kelembagaan PT Permodalan Nasional Madani, Ketua Umum DPP KNPI).

UU Cipta Kerja yang menuai pro dan kontra ternyata memiliki dampak yang baik terhadap kesejahteraan rakyat diantaranya mendorong penciptaan lapangan kerja, memudahkan pembukaan usaha baru, mendukung upaya pemerintah dalam pemberantasan korupsi, memulihkan perekonomian nasional. Undang-Undang Cipta Kerja merupakan langkah strategis dalam mewujudkan visi Indonesia tahun 2045. Saat ini, regulasi di Indonesia mengalami tumpang tindih, efektivitas investasi yang rendah, tingkat pengangguran yang tinggi dan masih banyak lagi permasalahan lainnya. Hal itulah yang mendasari diperlukannya UU Cipta Kerja agar bisa menjadikan perekonomian Indonesia lebih maju, tingkat kemiskinan rendah, investasi dan tenaga kerja yang berkualitas.

Menurut narasumber, manfaat UU Cipta Kerja yaitu mendukung UMKM dan koperasi, untuk sertifikasi halal, untuk memberikan izin legalitas pemanfaatan atas keterlanjuran lahan dalam kawasan hutan, mensejahterakan nelayan, memperbanyak pembangunan rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah, mempermudah reformasi agrarian dan distribusi tanah.

Pada kegiatan ini, narasumber lebih membahas mengenai bagaimana UU Cipta Kerja mempengaruhi UMKM. UU Cipta Kerja mempermudah perizinan, memberikan perlindungan, fasilitas terjamin, adanya peluang usaha  yang meningkat bagi produk UMKM dengan kemitraan supplier, selain itu UU Cipta Kerja memberikan berbagai kemudahan dalam hal impor bahan baku, akses sumber pembiayaan dan pendaftaran HKI.

Narasumber kedua menjelaskan peran pemuda bagi bangsa Indonesia. Menurut Pak Noer, Indonesia berada pada puncak keemasan, kehidupan lebih baik dari sisi kehidupan pribadi maupun masyarakat. Tahun 2020 ditentukan pertemuan tiga entitas komposisi masyarakat urban, populasi kelas menengah dan pemuda.

Dengan adanya pemuda di Indonesia, diharapkan dapat mengambil peran penting yaitu dalam pembangunan, pemanfaatan kekayaan alam, perlindungan sosial dan berperan sebagai oknum yang kritis terhadap masalah-masalah yang muncul di Indonesia.

Kesimpulan dari kegiatan ini adalah masyarakat diharapkan dapat lebih kritis terhadap permasalahan yang terjadi di sekitar, khususnya pemuda yang merupakan harapan bangsa Indonesia kedepannya.

 

Video kegiatan silahkan akses di link berikut:

Information Literacy – Learn More About Turnitin, Reference Materials, and Endnote Reference Manager

Literasi informasi adalah kemampuan seseorang untuk mengartikulasikan kebutuhan informasinya, mengidentifikasi, menemukan, dan mengevaluasi sumber-sumber informasi yang ditemukan serta kemampuan untuk menggunakan informasi tersebut. Kemajuan teknologi informasi dan prinsip pembelajaran seumur hidup adalah dua alasan pentingnya literasi informasi. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi menjadikan informasi melimpah ruah dan dapat dikomunikasikan dengan waktu yang relative singkat tanpa mengenal batas-batas ruang ataupun geografis. Dengan prinsip pembelajaran seumur hidup, seseorang dituntut untuk bisa belajar secara mandiri melalui sumber-sumber informasi yang telah tersedia dari berbagai media. Untuk mensukseskan program literasi informasi khususnya di lembaga pendidikan diperlukan kerja sama antara staf pengajar dan pustakawan. Perubahan system pengajaran yang menyediakan paket informasi harus dirubah ke system pengajaran yang mengarahkan peserta didik untuk mengeksplorasi sendiri sumber-sumber informasi dari berbagai media. Pustakawan memiliki tanggung jawab untuk mengenali dan menyediakan sumber-sumber informasi yang dibutuhkan oleh peserta didik dalam proses pembelajarannya sekaligus mengajarkan literasi informasi. Untuk itu pustakawan memiliki tantangan berupa penguasaan teknologi informasi dan komunikasi dan kemampuan untuk mendesain, mengimplementasikan dan mengevaluasi program pengajaran literasi informasi. Dalam rangka meningkatkan kualitas penelitian dan Tugas Akhir dengan mengoptimalkan kemampuan dalam menelusur informasi, mencari bahan referensi untuk artikel, serta kemampuan menggunakan reference manager Endnote, UC Library mengadakan kegiatan Literasi Informasi yang dilaksanakan pada 15 Oktober 2020 lalu dan dibagi menjadi 3 sesi.

Sesi pertama akan disampaikan oleh Pak Teofilus, S.E., MM. (Dosen International Business Management Universitas Ciputra). Dalam sesi ke satu ini Pak Teo menjelaskan tentang penggunaan referensi manager Endnote dalam penulisan karya ilmiah. ketika menulis karya ilmiah Ada banyak hal yang harus diperhatikan, banyak sekali yang kesulitan untuk mengolah daftar pustaka, referensi, proses pengutipannya, dan lain sebagainya.  Selain belajar mengenai cara penulisan karya ilmiah tetapi di acara juga ini membahas tentang apa itu plagiarisme di dalam suatu karya ilmiah di sesi selanjutnya.

Sesi ke dua ini akan dibawakan oleh Bu Christine Ririana (Renewal Account Manager, Turnitin Indonesia) dengan tema “From Plagiarism to Academic Excellence”. Sesi ini menjelaskan tentang plagiarisme yang sering dilakukan oleh mahasiswa dan bagaimana cara untuk tidak terjebak dalam plagiarisme.

Sesi ke tiga disampaikan oleh Raden Panji J. Udik Esbiantoro, S.S (Staff Perpustaakaan Universitas Ciputra Surabaya (Pustakawan)) yang membahas tentang Penelusuran Informasi Online. Hal ini sangat sering terjadi karena tidak memungkiri karena mahasiwa yang sering mendapat tugas untuk mencari sumber sesuatu yang sangat membutuhkan internet dan seringkali hanya mengambil materi tanpa memverifikasi terlebih dahulu materi yang didapatkan.

Empat Jurus Menjadi Penulis Ilmiah Handal

Perpustakaan Universitas Ciputra kembali menghadirkan iTalk (Innovation Talk) yang bertemakan “Academic Writing: How to Start” yang diselenggarakan pada Senin (19/10) lalu. Para peserta yang terdiri dari kalangan mahasiswa, dosen, peneliti dan pustakawan diajak untuk belajar bagaimana menyusun dan menulis karya ilmiah. Kegiatan yang dimulai Pkl 09.00 – 11.00 WIB ini diharapkan memberikan wawasan yang dapat diterapkan dalam menyusun dan menulis karya ilmiah serta mengatasi permasalahan atau hambatan yang akan dihadapi ketika menulis. iTalk yang diadakan secara online melalui zoom meeting ini  dihadiri oleh sekitar 130 peserta dan dimoderatori oleh Bu Essy Marischa Nadia, S.E. (Staff perpustakaan Universitas Ciputra (Pustakawan)) dan mengundang Pak Jony Eko Yulianto, S.Psi., MA. (Dosen psikologi UC, peneliti dan mahasiswa doctoral di Universitas Massey, Selandia Baru) selaku narasumber.

 

Dalam pemaaparannya Pak Jony menjelaskan bahwa bagian tersulit dalam menulis karya ilmiah adalah memulainya. Hal ini bisa disebabkan karena pengalaman penulis dan tingkat pemahaman terhadap isu-isu yang berkaitan dengan karya ilmiah tersebut.

Kegiatan ini terdiri dari empat agenda. Yang pertama merumuskan premis dalam tulisan ilmiah. Premis adalah pernyataan kunci yang menjadi dasar penyusunan seluruh argumentasi yang perlu dirumuskan sejak awal sebelum menulis. Premis yang baik memberikan inspirasi baru dari gagasan lama yang sudah dibahas sebelumnya atau dipercayai masyarakat pada umumnya.

Agenda kedua yaitu mencari literatur yang presisi dan relevan. “Dalam mencari literatur kita perlu memilih, membaca dan menguasai terlebih dahulu satu atau dua literatur kunci yang relevan dengan penelitian kita. Selanjutnya kita dapat memperhatikan daftar pustaka dan membaca rujukan yang digunakan dalam menyusun argument utama dalam literatur.” Ujar Pak Jony.

Agenda ketiga yaitu memposisikan tulisan dalam dialog dengan literatur global. Topik penelitian kita sebagian besar pasti sudah pernah diteliti oleh orang lain di dunia. Dalam penjelasan Pak Jony, sebuah tulisan ilmiah harus menunjukkan sejauh mana penelitian sebelumnya berkembang dan menunjukkan bagian mana yang belum terjawab. Dalam hal ini, kita perlu melakukan kebaharuan yaitu memposisikan tulisan kita sebagai jawaban bagian yang belum terjawab itu.

Agenda keempat yaitu membangun habitus dan manajemen aktivitas menulis. Dalam menulis kita perlu mengenal dengan baik waktu kita. Kita tidak perlu harus meluangkan waktu non-stop dalam menulis, kita perlu membagi waktu menjadi beberapa bagian dan berusaha agar terbebas dari gangguan apapun yang dapat merusak konsentrasi. Menurut Pak Jony, dalam menulis terdapat beberapa tips manajemen yaitu kita perlu membaca sebelum menulis, selalu berlatih, menyelesaikan tulisan sebelum batas waktu agar dapat dikoreksi terlebih dahulu, menggunakan referensi dan mencari pembimbing atau teman belajar jika menemukan hambatan. Selain tips manajemen, ada pula tips editing yaitu kita perlu menulis sambil membaca tulisan kita satu persatu agar bisa melihat dengan baik kata demi kata untuk menghindari kesalahan, selain itu kita perlu mengetahui siapa yang nantinya akan membaca tulisan kita agar membantu kita dalam mengatur penggunaan kalimat.

Kesimpulan dari iTalk ini adalah bagaimana cara kita untuk memulai dan menulis sebuah karya ilmiah yang baik dan juga menghadapi hambatan yang pada umumnya akan timbul ketika menulis. Menulis sebuah karya ilmiah tidaklah sulit, asalkan kita selalu memperhatikan pedoman-pedoman yang ada dan memperbanyak literasi untuk menguasai tulisan yang kita buat.

 

Tilik Peneleh: Telusur Jejak Kolonial di Kampung Ter-Lawas Surabaya!

Kampung Peneleh di kawasan Jalan Peneleh, Surabaya, adalah perkampungan tertua di Kota Pahlawan. Kampung tua ini masih tersohor hingga sekarang karena punya banyak daya tarik. Mulai dari keberadaan rumah tinggal Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, pendiri Sarekat Islam, makam di tengah jalan, sampai kuliner bakcang yang melegenda. Pada episode kali ini, Bu Lya Dewi Anggraini (Dosen Interior Architecture Universitas Ciputra Surabaya) dan Pak Chrisyandi Tri Kartika (Pustakawan Universitas Ciputra Surabaya) akan menelusuri jejak kolonial di Kampung Ter-Lawas Surabaya ini!
Penasaran? Let’s check it out!

Tumbuhkan Cinta Literasi dan Berbagi – Kunjungan ke panti asuhan Ulul Albab, Manukan, Surabaya

Perpustakaan Universitas Ciputra Surabaya hadir sebagai penyedia sumber informasi sivitas akademika untuk menunjang tri darma perguruan tinggi. Sejak beberapa tahun lalu Perpustakaan Universitas Ciputra Surabaya berani menambah zona kerja untuk berbagi dengan masyarakat sekitar, yang dikemas dalam program pengabdian masyarakat. Bentuk program pengabdian masih seputar  dari dunia kepustakaan dan literasi. Tujuannya untuk menumbuhkan semangat literasi dan meningkatkan minat baca di kalangan masyarakat.

Setelah sempat terhenti sekian lama, kegiatan ini kembali dilaksanakan di tengah pandemi Covid-19 dengan memperhatikan protokol kesehatan pada hari Rabu 14 Oktober 2020. Kali ini yang menjadi tempat pengabdian ialah Panti Asuhan Ullul Albab, yang berlokasi di Jl. Manukan Karya No. 1 A – 16, Manukan Kulon, Kec. Tandes, Kota Surabaya. Anak–anak di panti ini seluruhnya adalah anak perempuan dan laki-laki dengan usia yang berbeda-beda, baik itu dari yang masih balita hingga yang sudah belia. Tim perpustakaan Universitas Ciputra Surabaya telah menyiapkan beberapa hal untuk kegiatan kali ini, di antaranya ada donasi kebutuhan harian yang diperlukan anak-anak panti, kegiatan mendongeng dan kuis.

Di masa pandemi ini anak-anak panti Ullul Albab melakukan pembelajaran secara online, sama seperti teman-teman yang lainnya. Mereka memiliki kendala dalam hal paketan internet untuk mengikuti kelas. Tim perpustakaan Universitas Ciputra Surabaya berusaha untuk membantu membelikan donasi paketan internet untuk satu bulan ini.

Setelah acara diawali oleh perkenalan dan sambutan oleh Bapak Raden Panji J. Udik Esbiantoro, S.S (staff Perpustakaan Universitas Ciputra (Pustakawan)), kemudian dilanjutkan dengan kegiatan dongeng yang dibawakan oleh Ibu Inggrita Febriza Putri, S.I.Kom. (Staf Perpustakaan) dan Bapak Yehuda Abiel, S.Sos. (Pustakawan Universitas Ciputra Surabaya). Menariknya sumber cerita dongeng kali ini berasal dari buku yang berjudul “Destiny’s Calling” karya mahasiswa Visual Communication Design Universitas Ciputra Surabaya. Buku tersebut merupakan hasil penelitian mereka terhadap koleksi museum terakota yang berada di perpustakaan Universitas Ciputra Surabaya. Cerita dari buku tersebut dibawakan dengan sangat baik, sehingga anak-anak sesekali tertawa dan merasa tegang mendengar alur cerita. Di sini Ibu Inggrita berperan sebagai pendongeng dan Pak Yehuda Abiel (Abi) sebagai Doelib (karakter yang menjadi ikon perpustakaan Universitas Ciputra Surabaya).

Tim perpustakaan Universitas Ciputra Surabaya memilih kegiatan mendongeng dengan beberapa pertimbangan, di antaranya memperkenal kegiatan rutin Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di bulan Oktober sebagai bulan Bahasa dan Sastra. Dalam hal ini dongeng sendiri merupakan bentuk sastra lama yang bercerita tentang suatu kejadian yang luar biasa yang penuh khayalan (fiksi) yang dianggap oleh masyarakat suatu hal yang tidak benar-benar terjadi. Alasan berikutnya adalah Tim perpustakaan Universitas Ciputra Surabaya ingin memberi motivasi agar anak-anak panti berani untuk mulai mendongeng sesuai dengan alam khayalan mereka sendiri. Selain itu dengan mendongeng Tim perpustakaan Universitas Ciputra Surabaya berharap mampu menghibur dan bersosialisasi dengan anak-anak panti.

Setelah mendongengkan cerita Tim perpustakaan Universitas Ciputra Surabaya melanjutkan dengan kuis yang seru. Anak-anak panti sangat antusias karena pertanyaan kuis masih seputar dongeng yang baru saja mereka dengar. Bagi anak panti yang benar jawabannya akan diberikan hadiah. Kemudian acara dilanjutkan dengan serah terima donasi dan membagikan snack kepada semua anak panti oleh Pembina Panti.

Ronggeng: Mitos dan Realita

Dalam memperingati Dies Natalis Institut Seni Budaya Indonesia Bandung yang ke-52, ISBI Bandung bekerjasama dengan Museum Ullen Sentalu, Perpustakaan Universitas Ciputra Surabaya serta Center for World Dance Studies ISI Surakarta menyelenggarakan International Conference on Ronggeng: Myth & Reality. Kegiatan yang diadakan pada Rabu (7/10/2020) secara daring melalui Zoom ini dihadiri lebih dari 200 peserta dari dalam negeri maupun luar negeri.

Tepat pada pukul 09.00 WIB kegiatan ini dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya diikuti oleh sambutan pembuka oleh Prof. Dr. Een Herdiani selaku Rektor Institut Seni Budaya Indonesia Bandung, dalam sambutannya beliau mengungkapkan terima kasih kepada seluruh tamu undangan yang menghadiri kegiatan Dies Natalis ISBI Bandung dan para pendukung kegiatan ini. Beliau juga menyampaikan melalui kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan budaya di Jawa Barat, yaitu Ronggeng dan melihat perspektif lain dari seni tari Ronggeng. Setelah sambutan, para peserta disuguhkan penampilan dari Nur Fitriyani yang membawakan Tari Gaplek secara langsung dari Teater Sunan Ambu di ISBI Bandung.

Agenda selanjutnya adalah sesi pemaparan bersama dengan Bapak Daniel Haryodiningrat, Director of Ullen Sentalu Art, Culture and Nature Museum Yogyakarta, selaku moderator. Pada pembuka sesi, beliau menjelaskan bahwa dalam acara ini akan menemukan jawaban bagaimana perkembangan Ronggeng dahulu dan sekarang serta hal apa yang membuat Ronggeng memiliki stigma negatif di masyarakat.

Prof. Kathy Foley, Ph.D sebagai pemateri pertama membawakan tema “Women’s Performance: South East Asian Patterns”. Kathy mempresentasikan mengenai pertunjukan wanita di Asia Tenggara yang memiliki 3 penggambaran yang berbeda saat pertunjukkan yaitu berdasarkan gender, usia dan kelas. “Seperti dalam pertunjukkan pada laki-laki, biasanya mempertunjukkan cerita peperangan yang lebih menonjolkan cerita hidup dan mati, sedangkan berbeda dengan pertunjukkan perempuan yang mempertunjukkan cerita dalam pesta panen yang biasanya ada unsur melodrama”, tuturnya. Kathy juga menjelaskan beberapa teori tentang ronggeng.

Dalam sesi selanjutnya Prof. Henry Spiller Ph.D membawakan materi “Music & Dance Perspective“, dalam pemaparannya dijelaskan terdapat 3 elemen yang saling berkaitan dalam sebuah pertunjukan tari Ronggeng, yaitu Ronggeng sebagai sebuah pertunjukan profesional, alunan kendang yang memberikan efek suara dan juga bajidor atau para penikmat tarian Ronggeng. Bagaimana ketiganya saling berkaitan dan kombinasi ini tidak akan berubah meskipun terus ada perkembangan di dunia tari.

Pembicara terakhir adalah Prof. Dr. Endang Caturwati dengan tema “Ronggeng: Now and Then“. Pada sesi pemaparan, beliau menjelaskan bahwa Ronggeng adalah hal yang kompleks karena berkaitan dengan perempuan. Dahulu Ronggeng dianggap tabu dan memiliki citra negatif namun sebenarnya Ronggeng memiliki arti penting bagi kehidupan di tengah masyarakat. Ronggeng adalah sosok perempuan pekerja keras yang multi peran, mereka adalah sosok yang penuh cinta kasih kepada keluarga dan mempunyai tanggung jawab masa depan bagi anak-anaknya.

Pada agenda selanjutnya, peserta kembali disuguhkan dengan penampilan secara langsung oleh seniman Sunda, Bunga Dessri Ghaliyah dan Raden Bangun Nurraga, keduanya membawakan komposisi berjudul Swastria. Kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dengan dipimpin oleh moderator Bapak Daniel Haryodiningrat dan Bapak Wasi Bantolo, Head of International Program in ISI Solo and head of Center for World Dance Studies. Pada sesi ini, para peserta juga diberikan kesempatan untuk memperoleh pemaparan oleh Bapak Ahmad Tohari seorang sastrawan, budayawan dan penulis buku Ronggeng Dukuh Paruk yang diadaptasi ke dalam film dengan judul Sang Penari. Dalam sesi ini, antusias dari peserta ditunjukkan dengan berbagai pertanyaan yang masuk.

Sebagai penutup kegiatan International Conference on Ronggeng, Prof. Dr. Een Herdiani mengucapkan terima kasih bagi seluruh pihak yang turut mendukung kegiatan ini untuk melestarikan budaya Jawa Barat. “Ngamumule tradisi” ujarnya dalam Bahasa Sunda, merupakan pesan yang disampaikan beliau kepada para peserta untuk berarti memelihara baik-baik tradisi yang kita miliki. Acara kemudian ditutup dengan menari Ronggeng bersama dengan dipandu oleh Prof. Dr. Een Herdiani dan para penampil.

iTalk on The Spot with Microlibrary Warak Kayu

Hai #ucpeople, di iTalk on the Spot kali ini kita akan jalan-jalan virtual melihat Microlibrary Warak Kayu, perpustakaan dengan desain unik dan eco-friendly pertama di Semarang 😊

Microlibrary Warak Kayu juga dikenal sebagai salah satu destinasi wisata baru di Kota Semarang. Selain itu Perpustakaan mikro ini juga terpilih sebagai Popular Choice Winner pada kategori arsitektur perpustakaan menurut Architizer A+ Awards 2020. Wow!

Selengkapnya: