iTalk (Innovation Talk) Papua: Culture, Art & Nature

Pada 15 Desember 2020 lalu, UC Library bekerja sama dengan Heritage School & Library dan Dance of Maestro mengadakan iTalk Archipelago Series. Nah pada iTalk kali ini akan sedikit berbeda dengan iTalk sebelumnya, sebab kita akan ditunjukkan keberagaman dan kekayaan budaya yang ada di Indonesia.

Acara iTalk yang diadakan mulai Pkl. 09.00 WIB ini mengangkat topik PAPUA: Culture, Art & Nature. Kami sengaja membahas dari ujung Timur Indonesia, karena dari sanalah matahari terbit pertama kali dan juga ada beragam hal yang mungkin tidak pernah dibahas oleh media-media mainstream selama ini.

Bu Inggrita Febriza Putri sebagai MC membuka iTalk dengan membacakan beberapa peraturan kegiatan, dan mempersilahkan Pak Yehuda Abiel selaku PJS Kepala Perpustakaan UC untuk memberikan sambutan. Pak Abi sapaan Yehuda, berharap audiens memperoleh wawasan lebih luas tentang Papua dan bisa bersama-sama berdiskusi di iTalk online ini. Setelah itu Bu Inggrita memperkenalkan Pak Christie Pango Dato selaku moderator dan mempersilahkan waktunya untuk memandu acara.

Pada sesi pertama Pak Tito, sapaan Christie mempersilahkan Pak Darlane Litaay (Choreographer) untuk presentasi.

Pak Darlane mengangkat topik “Dance as Cultural Exchange”. Beliau menceritakan kiprahnya di dunia tari sejak tahun 2010 hingga 2020. Beliau telah kolaborasi dengan berbagai koreografer dunia dan beliau juga telah memperkenalkan tari Papua ke berbagai negara. Setelah itu Pak Robert Hewat (Ethno-Ecologist) memaparkan materinya tentang “Papuan Culture & Nature”. Sebagai seorang Ethno-Ecologist beliau telah tinggal bersama warga pedalaman Papua sejak tahun 2005. Beliau menjelaskan tentang seni, tari, kehidupan dan kematian di tanah Papua. Penjelasan beliau sangat mendalam dan rinci, seperti menceritakan kehidupannya sehari-hari. beliau juga memberikan sebuah pertunjukan yang luar biasa dengan mengkombinasikan budaya Papua-Jawa, lalu tradisi yang disajikan apik dengan menyatukan unsur-unsur budaya. beliau juga menceritakan banyak tentang pengalamannya. beliau juga menceritakan tentan pengalamannya mendapat beasiswa ke Korea. mulai dari banyaknya kegiatan yang berkaitan dengan seni, beliau muali menyukai seni dan mulai mendalami.

Setelah itu Pak Robert Hewat (Ethno-Ecologist) memaparkan materinya tentang “Papuan Culture & Nature”. Sebagai seorang Ethno-Ecologist beliau telah tinggal bersama warga pedalaman Papua sejak tahun 2005. Beliau menjelaskan tentang seni, tari, kehidupan dan kematian di tanah Papua. Penjelasan beliau sangat mendalam dan rinci, seperti menceritakan kehidupannya sehari-hari. Beliau juga masuk di Papua dalam bidang kesehatan, Pertaniaan, ekowisata, pemberdayaan perekonomian rakyat, kehutanan, dan sumber daya alam serta penguatan masyarakat adat. beliau juga merupakan pelestarian lingkungan etnik atau dikenal dengan Ethno-Ecologist yang sudah 18 tahun bekerja dan tinggal dipapua di daerah tanah air Indonesia, dan juga pernah tinggal di daerah lain Indonesia di Papua Nugini, kepulauan solomon, Malaysia, Kamboja, Thailand, dan Myanmar. Dalam tiga dekade terakhir Bapak Robert mempelajari kekayaan seni dan budaya Papua dan memiliki ribuan patung dan benda seni patung. Beliau menyampaikan beberapa materi yaitu kondisi Alam dan seni budaya ditanah Papua. Beliau menceritakan perjalanan beliau ketika 18 tahun berada di Papua, banyak sekali keragaman hayati ditanah Papua. Di Indonesia, Papua memiliki kekayaan alam yang luar biasa dan sangat melimpah. Beberapa contoh keragaman Hayati sekitar ratusan jenis burung yang berasal dari Indonesia. Dari sisi ekosistem laut Papua juga paling kaya akan keragaman bawah laut di Indonesia. di Papua juga banyak jenis hutan Mangrove yang memiliki banyak fungsinya. Kemudian di akhir presentasi Pak Robert menyaksikan video ketika masyarakat Papua menjalani Upacara adat.

Sesi selanjutnya yaitu tanya jawab bersama dengan partisipan. iTalk Archipelago Series ini ditutup dengan sajian rekaman “Tarian Sepik Covid” karya Darlane Litaay.

Jadi bagi UC People yang belum sempat mengikuti iTalk Archipelago Series, jangan sia-siakan kesempatan iTalk yang akan datang untuk menambah wawasan dari ahlinya. Jangan sampai kelewatan ya!!! See You 😊

 

Indonesia sebagai Negara Kedua Terburuk Literasi Dunia? Apa sih Alasannya?

Krisis kurangnya membaca di Indonesia sampai saat ini masih saja menjadi masalah utama yang harus dihadapi dan ditekankan terus menerus. Penekanan ilmu yang terkesan dipaksakan tanpa adanya kemauan dari setiap individupun akhirnya membuat ilmu itu terbuang sia-sia. Berbagai macam edukasi telah diberikan dengan cara yang berbeda-beda dengan harapan dapat tersampaikan kepada para pembaca maupun pendengar khususnya kaum millennial penerus bangsa. Begitu juga dengan UC Library yang kembali mengadakan kelas online untuk terus membantu perkembangan literasi sivitas akademika. Kelas kali ini diberi judul “Information Literacy Class” yang diadakan pada hari Kamis, 10 Desember 2020 pukul 14:00 – 16:00 WIB. Kegiatan ini dilakukan secara online melalui zoom meeting dan dilengkapi oleh 3 narasumber yang tentunya sudah ahli dalam bidangnya. Narasumber pertama yaitu Bapak Yehuda Abiel, S.Sos sebagai Pustakawan Universitas Ciputra Surabaya. Kedua, ada Bu Ika Raharja Salim, S.Psi. sebagai Research and Publication Officer di Universitas Ciputra. Juga menghadirkan Bapak Michael Nathaniel K, S.Sn. M.A. sebagai dosen visual communication design di Universitas Ciputra.

Pada awal sesi, dibuka oleh Bapak Michael Nathaniel K, S.Sn. M.A. untuk menjelaskan mengenai perbedaan persepsi literasi khususnya di Indonesia dan luar negeri. Bapak Michael menekankan seberapa pentingnya untuk mempunyai kemampuan literasi dan memahami konsep-konsep yang ada dibaliknya. Namun yang tidak kalah pentingnya, kita juga harus memiliki kesenangan dalam membaca itu sendiri. Seperti yang dikatakan sebelumnya, tidak ada gunanya jika ilmu itu ditekankan dengan unsur keterpaksaan dan bukan kemauan dari diri sendiri. Sebagai pembaca, kita harus memiliki kesenangan dan mendapat kenikmatan setiap kali kita membaca. Dengan adanya dorongan dari diri sendiri, maka kita akan terus merasa haus dengan informasi-informasi yang akan kita dapatkan melalui setiap bacaan yang ada, menjadikan kita sebagai orang yang kaya informasi dan wawasan.

Namun sayangnya, setelah diteliti lebih lagi, ternyata warga Indonesia bukanlah warga yang gemar membaca. Bapak Michael kembali menekankan seberapa buruknya literasi yang ada di Indonesia. Jika dilihat dalam skala yang besar, Indonesia menduduki negara kedua dengan kemampuan literasi terburuk dibanding Negara lainnya. Yap, Indonesia menempati ranking 60 dari 61 negara dalam hal literasi dan membaca. Fakta ini kembali menampar saya bahwa ternyata literasi yang ada di Indonesia ternyata lebih buruk daripada perkiraan saya selama ini. Bapak Michael kembali menjelaskan mengenai beberapa faktor yang membuat minat baca anak-anak Indonesia itu rendah. Pertama, beliau melihat bahwa akses untuk mendapatkan buku yang diminati itu masih sulit ditemukan di Indonesia. Menurutnya, jika anak-anak diberikan buku-buku yang sesuai dengan apa yang mereka ingin baca, maka anak-anak Indonesia akan lebih gemar hati membacanya. Jika ada kegemaran, maka tentu ada rasa penasaran untuk mengeksplor lebih lagi ke buku-buku yang lain bukan?. Selain itu, beliau juga menganggap bahwa buku-buku yang diterbitkan di Indonesia masih kurang menarik perhatian anak-anak. Materi yang susah dipahami, terlalu berbelit, tidak menarik, terlalu banyak tulisan, dan masih banyak faktor lainnya. Hal ini menjadikan anak-anak Indonesia tidak bisa berimajinasi lebih sesuai dengan kemauannya, melainkan mereka harus terus berpikir keras. Padahal, perkembangan imajinasi dan pemikiran individu itu juga tidak kalah penting loh dengan informasi yang disodorkan oleh buku itu sendiri.

Bapak Michael mencoba membandingkan perbedaan persepsi literasi yang terjadi di Indonesia dan di pendidikan international. Bapak Michael merupakan lulusan dari University College London yang memang sudah terkenal dengan kemahiran literasinya. Menurutnya, pendidikan internasional lebih menghargai dan menginginkan adanya argumen kritis dari penulis. Jika di Indonesia terkadang tidak diperbolehkan menggunakan perspektif orang pertama (saya, aku, dll), namun ternyata pendidikan internasional lebih mendorong setiap individu untuk mengemukakan pendapat dan pemikirannya. Mereka tidak hanya berpaku pada satu teori, karena menurut mereka masih ada ribuan teori lainnya diluar sana. Ditambah lagi, referensi yang digunakan oleh pendidikan internasional tidak terbatas oleh waktu. Mereka diperbolehkan melihat referensi sejauh apapun, sedangkan di Indonesia biasanya hanya terpaku pada jurnal yang diterbitkan dalam 5 tahun terakhir. Setiap karya itu akan selalu dihargai, dan tidak ada hal yang terlalu sepele untuk dikaji. Pendidikan Internasional lebih menekankan untuk mulai dari sesuatu yang spesifik, sedangkan Indonesia biasanya cenderung untuk mengeneralisasikan suatu objek atau fenomena maupun kasus yang ada.

Tidak berhenti sampai disitu, namun Bapak Michael juga menjelaskan mengenai beberapa kesalahan umum yang terjadi saat membuat suatu artikel. Pertama, ia melihat bahwa anak-anak biasanya terlalu banyak mengutip dan tidak memberi pendapat pribadi secara kritis. Dengan begitu, ini dapat mengkotak-kotakan pemikiran dari setiap individu itu sendiri. Padahal, jika kita diberi kebebasan dalam menulis, mungkin kita akan mendapat ide-ide kreatif diluar kotak itu sendiri. Terkadang mereka juga memberi terlalu banyak referensi untuk memvalidasi suatu perspektif, sehingga mereka tidak dapat mencari ilmu-ilmu baru yang tentu tidak kalah pentingnya. Karena adanya kemalasan dalam membaca, maka anak-anak cenderung untuk tidak membaca keseluruhan baba tau artikel maupun buku referensi yang mereka pilih. Mereka lebih cenderung untuk membaca dan mengutip langsung ke kalimat yang mereka inginkan. Padahal, tanpa disadari terkadang apa yang mereka kutip itu bisa saja berbeda konsep sehingga dapat menciptakan kesalah pahaman. Beberapa kesalahan lain yang tidak kalah pentingnya menyangkut hal dalam memparafrase, membuat daftar Pustaka, dan membuat kutipan itu sendiri.

Melengkapi itu semua, seminar ini dilanjutkan pada sesi kedua oleh Bapak Yehuda Abiel, S.Sos. untuk menjelaskan mengenai penelusuran infornasi online dan E-Resources Library. Dalam sesi ini, Bapak Yehuda Abiel menjelaskan berbagai kegunaan dan benefit yang kita dapatkan ketika kita mempunyai kemampuan literasi. Contohnya, kita bisa mengetahui cara efektif dan etis dalam setiap media yang ada. Ditambah lagi, kita juga harus memiliki kemampuan dalam literasi computer dimana kita dapat mengakses computer guna untuk mencapai keperluan kita. Tidak kalah pentingnya, kita juga harus memiliki kemampuan dalam bersosialisasi dan juga mencari pengetahuan-pengetahuan baru yang selama ini selalu tersebar disekitar kita. Bapak Yehuda Abiel juga kembali menjelaskan beberapa cara untuk membuat sebuah kutipan dengan benar. Mengingat bahwa hal ini merupakan masalah yang cukup sering terjadi di masyarakat, maka beliau menjelaskan secara detil. Bapak Yehuda Abiel sebagai Pustakawan di Universitas Ciputra Surabaya juga kembali memberi informasi yang memudahkan anak-anak untuk mencari buku yang ia inginkan. Pada masa pandemic ini, tidak menutup kemungkinan anak-anak untuk meminjam buku di perpustakaan Universitas Ciputra loh! Bahkan, mereka juga membantu untuk melakukan peminjaman diluar kota Surabaya! Tentunya, hal ini akan sangat membantu anak-anak yang kesusahan untuk pergi pada masa pandemic ini bukan?

Sesi terakhir dilengkapi oleh penjelasan mengenai pemanfaatan jurnal Universitas ciputra dan Teknis Submit Jurnal yang dijelaskan oleh Ibu Ika Raharja Salim, S.Psi. Ibu Ika menjelaskan dengan detil mengenai Jurnal dan cara-cara untuk mengakses jurnal yang kita perlukan. Jurnal ternyata tidak selalu berbicara mengenai halaman putih yang dipenuhi dengan tulisan kecil didalamnya. Namun ternyata, Jurnal itu sendiri bisa berupa majalah, koran, atau website-website lain yang berisikan informasi mengenai industry atau profesi tertentu. Ibu Ika menjelaskan mengenai beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika hendak membuat suatu jurnal itu sendiri. Universitas Ciputra juga menyediakan berbagai jenis jurnal yang dapat kita akses secara gratis di journal.uc.ac.id dan kita gunakan untuk pencarian berbagai informasi. Jadi jangan biarkan jurnal-jurnal yang sudah disediakan itu menjadi ilmu yang sia-sia ya! Karena tentu saja, dari suatu jurnal kita bisa mendapatkan banyak hal untuk kita pelajari setiap harinya.

The Power of Dream: Warisan Pak Ciputra untuk Indonesia | KUTU BUKU eps 10

Ir. Ciputra lahir di kota kecil Parigi, Sulawesi Tengah pada tanggal 24 Agustus 1931. Kepahitan masa kecil telah menimbulkan tekad dan keputusan penting yaitu memiliki cita-cita bersekolah di Pulau Jawa demi hari depan yang baik, bebas dari kemiskinan dan kemelaratan. Oleh karena itu tidak heran bila saat ini ia berpendapat bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang membangun manusia seutuhnya dan beberapa cirinya adalah membangun moral, mendorong kreativitas dan mendidik karakter-karakter mandiri siswa-siswinya.

Semangat dan optimisme Ciputra untuk tak henti-hentinya menularkan virus entrepreneur sangat terasa. Melalui pemikiran dan keteladanan hidup yang diberikan selama beliau hidup diharapkan mampu menumbuhkembangkan sikap dan mental entrepreneur para setiap calon entrepreneur.

Satu tahun lalu, 27 November 2020, Pak Ciputra berpulang. Sosok Pak Ciputra tidak pernah pergi dari kami. Legacy nya selalu terpatri dalam hati dan langkah hidup kami.

Sosok Entrepreneur sejati. Berkarya dan Berinovasi.
Hidup untuk Berdampak dan Memberi 🙏🏻

Di KUTUBUKU (Kupas Tuntas Soal Buku) kali ini kita akan membahas sosok Pak Ciputra
dalam buku: Ciputra, The Entrepreneur: The Passion of My Life (Call No. 338.04092 END c)

Seri KUTU BUKU (Kupas Tuntas Soal Buku) Eps ke 10 ini adalah hasil kolaborasi UC Library bersama Laboratory of Communications and Media Convergence (LCMC) Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Ciputra Surabaya

Kelola Keuangan di Masa Pandemi untuk Generasi Sandwich | Podcast KATALOG

Pandemi Covid-19 memberikan banyak waktu untuk menata kembali kondisi keuangan. Salah satunya bagi kita, kita dapat berhenti sejenak untuk mengevaluasi gaya hidup dan kebiasaan belanja. 💸
Meskipun COVID-19 akan terus berdampak secara global, beberapa keputusan cerdas dapat membantu kita agar mampu menjaga keuangan yang sehat. Untuk itu, mengatur ulang strategi manajemen baik untuk keuangan pribadi dan keluarga sangatlah penting terutama untuk para generasi sandwich di musim pandemi seperti saat ini. 😃
Podcast KATALOG edisi bulan Desember ini, kita akan ngobrol-ngobrol seputar tema ”Kelola Keuangan Masa Pandemi Untuk Generasi Sandwich” yang akan dibawakan oleh Ibu Luky Patricia Widianingsih, S.E., M.S.A. (HumBis) (Dosen ACC-UC) dan Pak James Wijaya, S.Kom., M.Kom. (Dosen ISB-UC). Di edisi ini aka dibahas beberapa tips yang dapat dilakukan dalam pengelolaan keuangan yang dihadapi generasi Sandwich khususnya di masa sulit pandemi ini dan aplikasi yang bisa menjadi tools bantuan dalam memantau keuangan. 👍
Ada juga nih deretan buku koleksi dari UC Library yang dibahas di podcast KATALOG yang bisa dijadikan referensi buat temen-temen yang ingin memulai mengatur keuangan.📚
UC People jangan lewatkan episode podcast UC library hasil kaloborasi dengan LCMC FIKOM bersama Christye Dato Pango (Pustakawan Universitas Ciputra Surabaya) dan Roland V Riwu (LCMC UC FIKOM Staff).

Available on Spotify:
https://bit.ly/PodcastKatalog

Stay Safe, Stay at Home, Stay Productive, Stay Positive, and Stay Healthy UC People!💪

iTalk on The Spot with Yulia – Maximize Your IG Potential

Data dari Napoleon Cat dari periode Januari-Mei pengguna instagram di Indonesia terus meningkat, angka pengguna instagram di Indonesia mencapai 69,2 juta pengguna. Dengan jumlah pengguna yang begitu besar, media sosial instagram memiliki potensi yang besar untuk berbisnis. Potensi tersebut bisa membantu kita untuk meningkatkan penjualan bisnis kita. Lalu bagaimana caranya? Pakai caption sepanjang mungkin? Pakai hashtag sebanyak mungkin? Atau follow akun sebanyak mungkin? 😆

Nah! Buat kalian yang ingin mencari tau jawaban dari semua pertanyaan ini, belajar melihat peluang, dan memanfaatkan media sosial instagram sebagai media berbisnis, yuk bersama-sama belajar bagaimana mengoptimalkan sosial media instagram. Kita ngobrol-ngobrol santai bareng Kak Luh Putu Yulia Megayani (Digital Creator, Founder aksarasocialstudio.com) yang pastinya sangat inspiratif seputar mengelola instagram kita sebagai platform bisnis yang potensial.

https://www.instagram.com/p/CI7oKo-oQ6-/

Perpustakaan Universitas Ciputra memenangkan Juara 1 EVALIA 2020

Kacang Kenari, Buah Kedondong
UC Library menang dong! 😆

Pada Selasa (15/12) lalu, UC Library mengikuti FPPTI JATIM AWARD: EVALA dan EVALIA 2020, dan berhasil meraih Juara 1 EVALIA 2020!
EVALIA sendiri adalah singkatan dari East Java Academic Librarian Innovation Award yang diadakan oleh FPPTI-Jatim (Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia – Jawa Timur) yang bertujuan untuk memberikan apresiasi kepada perpustakaan yang menunjukkan inovasi dan kreativitasnya dalam masa Pandemi dan kenormalan baru sehingga perpustakaan dapat semakin berperan dalam membentuk masyarakat. 📚
Pada kesempatan ini pula, Pustakawan UC Library, Pak Chrisyandi Tri Kartika juga menjadi salah satu finalis EVALA 2020. EVALA (East Java Academic Librarian Award) sendiri adalah kegiatan pemilihan pustakawan berprestasi tingkat perguruan tinggi wilayah Jawa Timur meskipun dalam masa pandemi karena begitu pentingnya rasa penghargaaan yg harus diberikan kepada para pustakawan yang tetap aktif berinovasi dalam masa pandemi. 📖
Terima kasih untuk dukungan dari seluruh pihak sehingga tercapai raihan ini. Salam Literasi 🙏

Winning The Pandemic Fight With The Spirit of Majapahit: Modernisasi itu Mengikis Sejarah?

Puluhan tahun lalu sebelum internet ditemukan, mungkin yang hanya bisa kita nikmati hanyalah apa yang ada disekitar kita. Namun sekarang dengan adanya dunia baru yang dikarenakan globalisasi, nilai-nilai budaya kian luntur. Sebagai manusia, normal rasanya untuk selalu mencari sesuatu yang baru. Tidak terlepas dari inovasi yang semakin lama semakin berkembang dan canggih. Di dunia yang sekarang, sangat mudah untuk mencari segala sesuatunya, tinggal satu klik lalu kalian akan temukan. Dibalik itu ternyata ada berbagai peninggalan sejarah yang mulai terlupakan dan terkikis. Tapi jika kita coba untuk melihat dari sisi positifnya, sebenarnya perubahan kearah yang modern itu ada baiknya loh, asalkan kita belajar dari masa lalu ya!

UC Library kembali mengadakan iTalk (Innovation Talk) yang mengangkat topik tentang Kerajaan Majapahit. Melalui iTalk ini diharapkan para peserta dapat belajar dari semangat masa kejayaan Majapahit. Karena sebetulnya kita bisa mengambil banyak pelajaran dan nilai moral dari sebuah sejarah, terutama pada saat krisis seperti masa pandemi ini. Kalau mendengar nama Kerajaan Majapahit, pasti yang ada di ingatan kita adalah para penguasa Majapahit, Raden Wijaya, Mahapatih Gadjahmada dan Hayam Wuruk. Namun ternyata ada tokoh-tokoh lain di balik berdirinya Kerajaan terbesar dalam sejarah Indonesia ini. Di acara yang dilaksanakan secara online melalui Zoom Meeting dan dimoderatori oleh Pak Chrisyandi Tri Kartika, S.Sos. (Pustakawan Perpustaakaan Universitas Ciputra Surabaya dan Ketua Komunitas Pernak-Pernik Surabaya Lama) ini, peserta juga akan mengenal tokoh-tokoh pahlawan di masa Majapahit yang direpresentasikan melalui Museum.

iTalk ini diadakan pada Senin, 30 November 2020 pada pukul 15.00 – 17.00 WIB dan dihadiri oleh 51 peserta dan mengundang dua narasumber, yaitu Adrian Perkasa, S.Hum., M.A. (Kandidat Doktor Universitas Leiden, Belanda, Penulis Buku Orang-orang Tionghoa & Islam di Majapahit) dan Ajeng Ayu Arainikasih, S.Hum., M.A. (Peneliti Museum, Kandidat PHD Universitas Leiden, Belanda, Penulis Buku #MuseumTravelogue series).

Ketika kita mengetahui sejarah kita, maka kita akan lebih paham dan mendapat kejelasan dalam kehidupan kita kedepannya. Bapak Adrian Perkasa, S.HUM., M.A. merupakan salah satu narasumber yang akan menyampaikan topik pada sore hari itu. Pada sesi pertama ini, ia menjelaskan beberapa hal penting yang menunjukkan betapa berdampaknya Kerajaan Majapahit pada kehidupan kita di zaman sekarang. Tahukah kalian bahwa model ‘pemerintahan’ nusantara pada masa ini sebetulnya ternyata hasil dari pengamatan dari Kerajaan Majapahit loh! Mulai dari pembentukan symbol pohon beringin di Garuda, hingga banyak lainnya yang merupakan inspirasi untuk menentukan bentuk NKRI. Tidak hanya kepada Negara, namun berdampak juga pada ilmu pengetahuan hingga ajaran-ajaran penting seperti sifat utama kepemimpinan. Sadar gak sih kita sebenarnya bahwa banyak hal yang kita gunakan di masa kini yang ternyata adalah hasil dari masa lampau? Pertanyaannya sekarang hanya apakah kita mau menggali lebih dalam untuk menarik garis sejarah tersebut?

Nah, tentunya banyak dari kita yang pasti sudah merasa bosan untuk mempelajari sejarah yang gitu-gitu aja. Itulah sebabnya ada beberapa bentuk modernisasi yang dapat membantu kita mempelajari sejarah tersebut loh! Topik yang kedua ini dilanjutkan oleh narasumber kedua yaitu Ibu Ajeng Ayu Arainikasih, S.Hum., M.A. Ia menjelaskan bahwa peninggalan-peninggalan tentunya merupakan clue yang patut kita lihat dan pelajari, karena memang itu sangat mempengaruhi kehidupan kita! Toh ngga ada ruginya loh menambah ilmu, apalagi dengan cara yang asik! Ibu Ayu menjelaskan mengenai museum abad 21 yang sekarang dilengkapi dengan banyak fasilitas untuk membantu kita lebih ‘enjoy’ dalam menjelajahi sejarah. Ada beberapa point museum abad 21 yang disampaikannya pada sesi ini, antara lainnya adalah people oriented, interactive and 5 senses exhibits and participatory, visitors as users, museums are accessible 24/7, inclusive museum, hingga socially responsible museum. Wah, banyak juga yah! kira-kira apa sih itu semua?

People oriented, not object oriented, yang dimana berarti museum itu tetap mementingkan manusia yang berkunjung, bukan bendanya. Meskipun museum itu berisikan barang peninggalan ataupun barang penting, namun barang atau objek tersebut hanyalah sebuah cerita yang memberi kita sebagai pengunjung sebuah ilustrasi agar kita bisa membayangkan cerita apa yang ada dibalik object tersebut. Tentunya, dilanjutkan dengan interactive and 5 senses exhibits dimana pengunjung juga bisa ikut untuk menikmati, menyentuh, dan memiliki eksperiens tersendiri dalam museum tersebut. Mungkin hal ini bisa ditunjukan hanya dengan bagaimana pengunjung membuat clay, membuka tutup label, atau sekedar hanya dengan mengikuti bayangan. Selanjutnya, ada juga inclusive museum dimana berarti museum itu tidak tertutup untuk suatu golongan manusia tertentu. Namun, ada juga fasilitas yang diberikan untuk orang-orang dengan disabilitas, atau mungkin juga ada museum yang aman bagi anak-anak kunjungi. Tentu dengan adanya inclusive museum ini, sangat membantu orang-orang agar lebih mudah menikmati museum tersebut ya kan!. Kemudian yang terakhir, ada juga socially responsible museum dimana tentunya bisa membantu kita untuk menciptakan kehidupan social yang lebih harmonis dan baik!

Setelah kita mendengar iTalk tersebut, apakah masih berpikir bahwa sejarah itu membosankan? Ternyata tidak loh teman-teman! Kalian malah bisa belajar lebih banyak lagi dengan bantuan internet yang ada untuk mengakses mengenai budaya dan sejarah dengan cara yang lebih modern dan tidak membosankan! Jadi yuk, kita bisa bersama-sama belajar dari orang-orang pada masa lampau dan mengaplikasikan hal tersebut di kehidupan kita sehari-hari!

Salam Literasi.

Dari Terajana Sampai Tarik Sis Semongko! – Musik Dangdut Dahulu Hingga Kini #KUTUBUKU

Siapa yang gak pernah dengar jargon yang satu ini, “Tarik sis… Semongko!” Jargon yang akhir-akhir ini viral di sosial media dan aplikasi TikTok ini adalah bukti bahwa musik dangdut adalah satu satu genre musik yang enggak ada matinya. Tapi gimana sih ceritanya musik dangdut yang dulu  dianggap sebagai musik kaum muda urban pinggiran dianggap kampungan dan norak, sekarang menjadi salah musik yang digemari anak milenial.

Di KUTUBUKU (Kupas Tuntas Soal Buku) kali ini kia akan menapaki kisah per-dangdut-an di Indonesia dari buku yang satu ini: Dangdut: Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia (Call No. 780 WEI d)

Seri KUTU BUKU (Kupas Tuntas Soal Buku) Eps ke 9 ini adalah hasil kolaborasi UC Library bersama Laboratory of Communications and Media Convergence (LCMC) Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Ciputra Surabaya🙏

Silahkan klik link berikut:

https://youtu.be/MxJYgUc6Bis

 

Podcast KATALOG at Spotify

Ada yang baru nih #ucpeople dari UC Library!
Bekerja sama dengan UC Fikom Radio LCMC FIKOM, hadir mini program audio podcast KATALOG (KAbar TerbAru dari Library lhO Gaesss).
Di podcast ini akan rutin dibahas mengenai isu terkini dan buku-buku apa yang bisa kalian jadikan insight buat aktifitas harian kalian.
UC People jangan lewatkan episode podcast UC library bersama host Pak Tito Christye Dato Pango (Librarian UC Library) dan Roland V Riwu (LCMC Staff).
Available on Spotify:

iTalk on the Spot with Museum Gubug Wayang

Hai #ucpeople, tahukah kalian jika setiap 28 November diperingati sebagai Hari Dongeng Nasional? Yup, tanggal ini dipilih karena bertepatan dengan hari kelahiran Drs. Suyadi atau yang dikenal sebagai Pak Raden dalam serial Si Unyil. Pak Raden yang juga pencipta serial Si Unyil dianggap sebagai tokoh yang telah berjasa menghidupkan dunia dongeng Indonesia.
Buat kalian yang yang akrab atau pengen tahu dengan karakter boneka Si Unyil, tentu akan senang jika dapat berkesempatan berkunjung ke Museum Gubug Wayang Mojokerto. Di Museum ini banyak sekali koleksi boneka wayang Si Unyil yang bisa kita lihat.
Di iTalk on the Spot kali ini kita akan jalan-jalan virtual ke Museum Gubug Wayanng Mojokerto untuk melihat beragam koleksi dari Pak Raden dan Si Unyil bersama Kak Cyntia Handy (Direktur Museum Gubug Wayang)✨
Yuk ikuti keseruannya! 😃
Silahkan klik link berikut: