Banjir Lagi, Banjir Lagi! Tentang Bencana di Awal 2021

Sumber: akun instagram Tirto ID

 

Banjir lagi, banjir lagi. Tidak jarang sepertinya berita banjir terus menerus datang di Indonesia, khususnya kota Jakarta. Baru-baru ini, beberapa wilayah Jakarta kembali terkena banjir pada tanggal 20 Februari 2021 kemarin. Karena adanya banjir ini, beberapa rumah warga tidak dapat ditinggali dan akhirnya harus mmengungsi ke posko yang telah disediakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BDPD) setempat. Ditambah lagi, beberapa lalu lintas yang terkena banjir tidak dapat digunakan karena tingginya air yang menggenang.

Pasalnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memberikan peringatan pada tanggal 18-19 Februari 2021 bahwa akan terjadi hujan lebat dengan intensitas curah hujan hingga 100-150 mm. Titik kawasan yang akan kedatangan hujan lebat berada di daerah Pasar Minggu dengan intensitas sebesar 226mm/hari, di ikuti dengan kawasan Sunter Hulu sebesar 197 mm/hari, dan Halim dengan besaran 176mm/hari. Curah hujan yang tinggi diperkirakan akan terjadi pada malam hingga pagi hari sekitar minggu kedepan. Belum lagi ditambah dengan kiriman banjir dari Bogor, Jawa Barat. Pada akhirnya pada tanggal 20 Februari 2021 benar deh Jakarta kembali digenangi banjir yang tidak kunjung surut. Pihak BMKG ikut menambahkan beberapa alasan penyebab banjir yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya. Antara lain karena adanya seruakan udara dan peningkatan awan hujan di Indonesia bagian barat yang cukup signifikan. Ditambah lagi dengan aktivitas gangguan atmosfer di zona equator, pertumbuhan awan hujan di wilayah Jabodetabek yang labil, dan juga tekanan rendah di Australia utara yang menyebabkan adanya konvergensi besar di pulau Jawa.

Wah gak kebayang deh gimana jadinya kalau hujan lebat terjadi selama berjam-jam!. Namun adanya banjir yang terjadi tidak menyurutkan semangat seorang Driver Ojol yang sempat viral karena semangatnya mencari nafkah ditengah bencana banjir tersebut. Yudhi Ammaral, seorang pengemudi Ojol sempat mendapatkan pesanan untuk membawakan sekresek berisi sayuran dan juga telur untuk pemesan Grab tersebut. Bapak Yudhi ini tetap bekerja keras hingga harus menerjang banjir yang kira-kira sudah sepinggang hanya untuk mengantarkan kresek sayuran pesanan pelanggannya. Wah keren yah perjuangan bapak yang satu ini! berani berkorban untuk kepuasan customernya.

Akibat banjir ini juga pastinya menimbulkan banyak kerugian bari beberapa orang. Mulai dari pekerjaan yang tidak bisa dilaksanakan karena terhambat banjir, kehilangan tempat tinggal, kurangnya air bersih dan pasokan makanan, banyaknya alat-alat yang hilang akibat hanyut dengan banjir, hingga adanya 5 korban jiwa yang ditemukan. Salah satu cerita lucu yang ikut tersebar melalui WhatsApp yaitu ketika beberapa ikan koi hanyut mengikuti banjir disekitarnya. Benar-benar disayangkan, hingga akhirnya beberapa anak-anak terlihat berusaha untuk menangkapnya. Hingga ada juga ikan yang terpaksa kehilanggan nyawanya karena kotornya air hingga akhirnya diputuskan untuk di goreng bersama-sama.

Kabarnya, berita hujan dengan intensitas yang tinggi ini tidak berhenti hanya sampai sini saja. Namun ternyata menurut BMKG, akan ada potensi hujan lebat yang akan terjadi pada tanggal 25 Februari 2021 nanti. Kali ini hujan lebat akan disertai dengan petir dan angin kencang. Diprediksikan hujan lebat ini akan terjadi di beberapa wilayah seperti Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Banten, DKI Jakarta, dan hampir semua wilayah di Pulau Kalimantan dan Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua. Jika kalian sedang berada di kota yang disebutkan, baiknya bersiap-siap dan tetap waspada dengan cuaca yang ekstrem yang akan datang. Adanya efek La Nina yang terjadi mengakibatkan adanya peningkatan curah hujan hingga 40% dan berlangsung hingga Mei 2021. Tetap waspada ya teman-teman!.

Daftar Pustaka

Dewi, Retia (2021, 20 Feb). Banjir Jakarta, Waspada Hujan Lebat hingga 25 Februari 2021. Kompas.com. Diakses di https://www.kompas.com/tren/read/2021/02/20/185200265/banjir-jakarta-waspada-hujan-lebat-hingga-25-februari-2021?page=all. 24 Februari 2021

Pradila,Rizky (2021, 21 Feb). Update Banjir Jakarta Hari ini 21 Februari 2021, 49 RT Terdampak dan 5 meninggal dunia. Pikiran-rakyat.com. diakses di https://www.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-011472938/update-banjir-jakarta-hari-ini-21-februari-2021-49-rt-terdampak-dan-5-meninggal-dunia. 24 Februari 2021

Madani, Amin (2021, 21 Feb). In Picture: BMKG: Curah Hujan Tinggi Penyebab Banjir di Jakarta. Republika.co.id. diakses di https://www.republika.co.id/berita/qovvpm283/bmkg-curah-hujan-tinggi-penyebab-banjir-di-jakarta. 24 Januari 2021

Ayuningtyas, Rita (2021, 19 Feb). Berita terkini banjir Jakarta 2021. Liputan6.com. diakses di https://www.liputan6.com/news/read/4487194/berita-terkini-banjir-jakarta-2021. 24 Januari 2021

Achmad, Nirmala. (2021, 22 Feb). Kisah Yudhi Ammaral, Pengemudi Ojol yang Terjang Bnajir Jakarta demi Antar Pesanan. Kompas.com. diakses di https://megapolitan.kompas.com/read/2021/02/22/06271231/kisah-yudhi-ammaral-pengemudi-ojol-yang-terjang-banjir-jakarta-demi-antar?page=2. 24 Januari 2021.

Obesitas Perlu Ditangani sebagai Penyakit. Kompas. 15 Februari 2021. Hal.8

JAKARTA, KOMPAS – Penetapan obesitas sebagai penyakit di- nilai memberi manfaat bagi penderita gangguan metabobolisme itu.  Strategi yang dija- lankan untuk mengurangi angka obesitas di masyarakat juga lebih terencana, mulai dari upaya promotif, preventif, kuratif, hirgga rehabilitatif.

Prof Dr dr Aryono Hendarto, SpA (K), MPH, memaparkan hal itu pada upacara pengukuhan dirinya secara da- ring sebagai Guru Besar Bi- dang Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (13/2/2021)  .

Selain Aryono, tujuh guru besar FKUI juga dikukuhkan pada hari yang sama, yakni Prof Dr dr Widjajalaksmi Kusumaningsih, SpKFR (K), Msc;  Prof Dr dr Toar Jean Maurice Lalisang, SpB (K) BD;  Prof dr Ratnawati, MCH, SpP (K), PhD;  Prof Dr dr Zulkifli Amin, SPPD, KPMK;  Prof Dr dr Neng (FKUI), Sabtu Tine Kartinah, MKes;  Prof Dr individu dengan obesitas tidak berdampak baik pada kebijak- sehatan itu.

 Lebih komprehensif

Melalui upaya preventif sampai kuratif.  Akses terhadap perawatan dan dukungan dr Hartono Gunardi, SpA (K);  dan Prof Dr dr Najib Advani, SpA (K), MMed (Paed).

Sejauh ini ada pandangan pandangan tentang obesitas.  Ada pendapat bahwa obesitas bukan penyakit karena perempuan berdasarkan adaptasi dan kadang yang berhubungan dengan hasil kesehatan yang lebih baik.  Ada pula yang menyampaikan beberapa menunjukkan tanda tanda penyakit atau gejala klinis sehingga tak memenuhi konsep penyakit secara naturalistik.  Lebih luas menurut Aryono, penetrasian obesitas sebagai penyakit dan layanan kesehatan.  Jika obesitas sah sebagai penyakit, penanganan masalah ke danaan pun lebih baik.  Nangani kasus obesitas akan mengacu pada model perawatan penyakit kronik yang sesuai untuk mengatasi komplikasi

“Tenaga medis yang merupakan tantangan hidup  Secara global, diperkirakan telah mengalami obesitas atau pada anak beragam Sejak kai nilai indeks massa tubuh definisikan obesitas.  si Kesehatan Dunia (WHO) 98 sebagai batas akibat obesitas, “ujarnya.  150 juta anak berusia 5-19 takegemukan.  Di Indonesia, me 2018, ada 8 persen anak atau sekitar 9 juta anak yang mengnurut Riset Kesehatan Dasar alami obesitas.

Batas penentuan obesitas 2010, Amerika Serikat memaparkan (IMT) persentil 95 untuk pria dan Inggris memakai presentil (kelebihan berat badan).

Adapun dasar yang dipakai Ikatan Dokter Anak Indonesia dalam menentukan obesitas dan overweight pada anak usia di bawah dua tahun grafik IMT dari WHO.  Untuk anak berusia lebih dari 2 tahun, digunakan grafik IMT dari Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) AS, 2000.

Obesitas perlu perawatan sebagai penyakit agar bisa di tangani sejak dini.  Studi menunjukkan, obesitas pada anak meningkatkan risiko kematian saat dewasa muda tiga kali lebih tinggi yang tidak gemuk.  Sekitar 55 persen anak tetap obesitas saat remaja.

Upaya pencegahan yang perlu dilakukan karena pada tahun 2025 diperkirakan 70 juta bayi dan anak mengalami kegemukan dan obesitas, Karena obesitas pada anak bisa membawa orang sakit penyerta yang mengancam menciptakan masa depan, harus ada upaya pencegahan.

Situasi situasi pandemi mengubah perilaku keseharian anak sehingga bisa jadi obesitas.  (TAN)

 

Sumber: Kompas. 15 Februari 2021. Hal.8

Masa Recovery Harus Cukup Gizis. Jawa Pos.13 Februari 2021.Hal.15

SURABAYA, Jawa Pos – Pemulihan diri setelah sakit adalah masa-masa krusial bagi seseorang.  Untuk melindungi diri dari penyakit dan mempercepat kesembuhan, makanan bergizi harus dikonsumsi.  Tidak cukup hanya mengandalkan obat-obatan dari dokter.

Imunitas yang baik adalah modal seseorang kembali sehat.  Untuk mendongkrak imunitas, makanan yang mengandung protein, lemak, vitamin, dan mineral harus dicukupkan.  Akan lebih baik jika ditambah antioksidan untuk menangkal dampak buruk radikal bebas.

Konsumsi karbohidrat juga harus cukup, tetapi perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing.  “Yang bagus seperti nasi, ikan, sayur-sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, susu, daging, dan telur,” kata pakar gizi Rita Ismawati.

Selain itu, konsumsi multivitamin penting bila dibutuhkan.  Multivitamin dapat menjadi pelengkap jika seseorang sulit mendapatkan gizi yang seimbang dari makanan yang dikonsumsinya.

“Bisa ditambahkan vitamin C, E, atau sesuai dengan yang dibutuhkan tubuh untuk memper- cepat pemulihan setelah sakit,” jelas Rita.

Dia menuturkan, memungkinkannya multivitamin yang dikonsumsi juga sesuai dengan kondisi masing-masing.  Sebab, kecukupan gizi setiap individu berbeda-beda.  Bergantung usia, penyakit yang diderita, berat badan, dan lain-lain.

Bila tubuh masih mampu bergerak, lakukan gerakan-gerakan ringan.  Misalnya, menggerakkan tangan, berjalan di dalam rumah, atau gerakan lainnya.  Namun, jika tidak mampu, setidaknya perluakan asupan gizi yang dikonjumlah cukup untuk membantu pemulihan.

Obat dari dokter juga harus diminum secara teratur.  Menurut Rita, pada masa pandemi ini, setiap orang memang harus menjaga kesehatan secara ekstra.  Menjaga kesehatan bisa dilakukan dari luar dengan mengurangi perjalanan ke luar rumah, menjaga jarak, memakai masker, dan rajin cuci tangan.  “Tapi, kalau dari dalam tubuh kita tidak mendapatkan asupan gizi yang baik, makanannya junk food, gorengan terus, ya sama saja,” tegas dosen gizi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tersebut.  (rin / c14 / ady)

Sumber: Jawa Pos.13 Februari 2021.Hal.15

Kurangi Konsumsi Kopi dan Santan.Radar Surabaya.6 Februari 2021. Hal.2

Penyakit seperti lambung maag dan asam lambung bisa disebabkan beberapa faktor.  Diantaranya pola makan yang kurang teratur, stres, atau penyakit tertentu dan beberapa efek dari obat-obatan.

Ginanjar Elyus Saputra

Wartawari Padar Surabaya

UNDAANGAN Dokter Umum RS Aa.  Husada (RSAH) Undaan Wetan Surabaya, dr.  Lili Soet- jipto, M. Si menjelaskan, agar seseorang tidak ingin mengalami sakit maag atau asam lambung, salah satu caranya harus melakukan manjemen stres.

Bila seseorang memiliki karyawan tertentu, yang harus dihindari adalah meminum obat yang dapat menopang kejadian maag atau lambung.  “Kalau pun harus diminum obatnya, harus sesuai dengan anjuran dokter. Misanya, sesudah ma- kan, ditambahi dengan obat yang bisa untuk mengobati lambungnya,” kata dr.  Lili, Jumat (5/2).

Biasanya, lanjut dr.  Lili, obat yang bisa menyebabkan asam lambung adalah obat-obatan yang digunakan untuk menghilangkan rasa nyeri pada penyakit tertentu.  “Kalau seperti sakit gigi, itu kan nyeri ya. Biasanya dokter mengaruhi harus sudah makan obat maag dulu kemudian minum obat penghilang nyerinya,” tutur dr.  Lili.

Seseorang mengalami gejala psikis, sebaiknya diperiksakan ke dokter untuk mendapatkan obat penenang.  Kemudian setelah mendapatkan resep obat dari dokter, caranya tetap sama makan kemdudian minum obat maag setelah itu minum obat penenang.

Untuk pantangannya, seseorang yang memiliki maag dan asam lambung harus dihindari makanan mengandung kefein seperti kopi.  Selain itu juga dihindari konsumsi santan dan ketan berlebihan.  “Kalau habis minum kopi, orang tertentu bisa naik asam lambungnya,” ujarnya.

Yang terpenting, imbuhnya, kalau seseorang mengalami gangguan lambung makan teratur.  “Jangan sampai nanti semakin paruh lambung- nya tidak diperhatikan bisa muntah darah, Itu harus segera ditangani di RS untuk rawat inap dan sialis. ditaangani dokter sampai ditunggu parah ya.” sakit jangan tandasnyn. (*rak)

Sumber: Radar Surabaya.6 Februari 2021. Hal.2

Masalah Gizi Tiga Generasi. Kompas. 28 Januari 2021.Hal.8

Kekurangan gizi pada remaja putri bisa berdampak panjang pada kualitas generasi mendatang. Pandemin Covid-19 agar tak menghentikan upaya perbaikan gizi yang telah lama dibangun.

Indonesia dihadapkan dengan persoalan gizi yang pelik. Setidaknya, tiga beban gizi terjadi saat ini, yaitu anak yang kurus, tengkes, serta obesitas. Tak hanya itu, masalah gizi ini juga dialami mulai dari anak, remaja, hingga dewasa.

Prevalensi tengkes pada anak balita mencapai 30,8 persen dari laporan Riset Kesehatan Dasar 2018. Jumlah ini di atas rata-rata global sebesar 22,2 persen dan di atas ambang batas Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu kurang dari 20 persen. Selain itu, prevalensi anak balita wasting (kurus dan sangat kurus) sebesar 10,2 persen.

Data lain menujukkan, prevalensi perempuan hamil yang mengalami kurang energi kronis mencapai 17,3 persen dan anemia 48,9 persen. Bahkan, pada ibu hamil dengan usia 15-24 tahun, angka anemia mencapai 84 persen. Sementara pada remaja usia 15-24 tahun, prevalensi anemia sebesar 32 persen.

Ketika remaja mengalami anemia, ia berisiko dua kali lipat mengalami anemia ketika hamil. Jika tidak segera diatasi, ibu hamil akan rentan mengalami pendarahan ketika melahirkan sehingga risiko kematian menjadi tinggi. Anak yang dilahirkan juga berpotensi memiliki berat badan serta panjang lahir rendah. Itu dapat menghambat pertumbuhan bayi.

Ini bisa berdampak jangka panjang. Selain mengalami masalah gizi, tingkat kecerdasan anak akan menurun.

Pada usia dewasa, ia juga akan berisiko menderita penyakit tidak menular, seperti jantung dan stroke. Dampak buruk ini juga bisa terjadi pada anaknya kelak.

“Jadi, akibat dari anemia bisa sampai tiga generasi, dari ibu, anak, dan berlanjut sampai cucunya,” tutur Endang L Achadi, Guru Besar Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, pekan lalu.

Anemia terjadi ketika kadar hemoglobon (Hb) dalam sel darah merah kurang dari yang seharusnya. Pada perempuan dewasa, kadar Hb minimal 12 gram per desiliter (g/dL). Hb ini diperlukan untuk membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh, termasuk otak dan otot. Karena itu, seseorang yang mengalami anemia biasanya akan mudah letih, lesu, lelah, pusing, dan memiliki napas yang pendek.

Asupan gizi

Pada dasarnya, anemia bisa disebabkan rendahnya asupan zat gizi yang penting untuk membentuk darah serta meningkatnya pengeluaran zat gizi yang bisa terjadi akibat pendarahan karena kecacingan. Pada remaja putri, anemia juga bisa terjadi karena menstruasi.

Menurut Endang, sebagian besar anemia di Indonesia akibat dari defisiensi atau kekurangan zat besi. Ini karena pola makan rendah zat besi. Sumber zat besi paling baik didapatkan dari pangan hewani, seperti daging, ikan, dan unggas. Sayangnya, konsumsi masyarakat terhadap sumber pangan itu masih rendah.

Data Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) yang dirilis 2018 menunjukkan, konsumsi daging masyarakat Indonesia pada 2017 baru mencapai rata-rata 1,8 kilogram daging sapi, 7 kg daging ayam, dan 0,4 kg daging kambing. Ini jauh tertinggal dari negara tetangga, seperti Malaysia 4,8 kg daging sapi, 46 kg daging ayam, dan 1 kg daging kambing, serta Filipina 3,1 daging sapi, 12,6 kg daging ayam, dan 0,5 kg daging kambing.

Tingkat konsumsi protein hewani ini bisa semakin menurun akibat pandemi Covid-19. Ini berkaca dari data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk miskin pada Maret 2020 meningkat 0,56 poin dari September 2019 menjadi 9,78 persen.

Dikhawatirkan, pendapatan yang berkurang membuat pola konsumsi cenderung asal kenyang tanpa memperhatikan gizi seimbang. Ini berpotensi memperburuk pemenuhan gizi, terutama pada anak, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Kepala Unit Gizi Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Anak-anak (UNICEF) Indonesia Jee Hyun Rah mengatakan, pandemi juga telah berdampak buruk pada asupan nutrisi pada remaja putri. Survey daring Unicef bersama Kementrian Kesehatan saat pandemi menunjukkan, sekitar 50 persen remaja putri mengurangi konsumsi makanannya selama masa pandemic, termasuk protein hewani.

Masih menurut survei itu, 89 persen remaja putri tidak lagi mengonsumsi tablet tambah darah yang berguna meningkatkan kadar zat besi dalam tubuh. Setidaknya, remaja putri harus mengonsumsi 1 tablet setiap minggu. Namun, selama masa pandemi dengan sistem pembelajaran jarak jauh, program yang telah lama digalakkan pemerintah ini terhenti di sejumlah sekolah.

Pemerintah berupaya memodifikasi pemberian tablet tambah darah melalui berbagai cara. Di antaranya memberikan tablet tambah darah ketika anak ataupun orangtua datang ke sekolah untuk mengumpulkan tugas.

“Masalah anemia ini menjadi focus pemerintah saat ini. Karena itu, hari gizi tahun ini juga menekankan pentingnya pencegahan anemia pada remaja,” tutur Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Kartini Rustandi.

Pembenahan gizi sejak remaja putri menjadi langkah baik untuk mempersiapkan generasi yang lebih unggul di masa depan. Pandemi agar tak menghentikan investasi pada sumber daya manusia Indonesia ini.

Anemia

Anemia adalah keadaan saat hemoglobin (Hb) yang berada di dalam sel darah merah lebih rendah dari seharusnya, yaitu:

Hb < 13g/dL pada laki-laki dewasa

Hb < 12g/dL pada perempuan dewasa

Penyebab anemia

Anemia secara langsung terutama disebabkan oleh dua hal, yaitu:

Rendahnya asupan zat gizi yang penting untuk pembuatan darah (zat besi, asam folat, vitamin B12, dan vitamin A)

Meningkatnya pengeluaran zat gizi (pendarahan karena kecacingan atau penyerapan zat besi menurun akibat banyaknya cacing di usus, pecahnya sel darah merah karena malaria, dan penyakit karena sebab lain, seperti TBC)

Defisiensi besi dan anemia defisiensi besi pada kehamilan menimbulkan konsekuensi kesehatan:

Risiko pendarahan saat hamil/bersalin hingga risiko kematian ibu

Menghambat pertumbuhan bayi:

  • Bayi lahir premature, berat badan lahir rendah (BBLR), panjang badan lahir rendah (PBLR).
  • Risiko sakit/meninggal meningkat.
  • Risiko stunting dan akibatnya terhadap turunnya kecerdasan dan risiko menderita penyakit tidak menular, seperti hipertensi (tekanan darah tinggi), diabetes, jantung dan stroke, yang akan berdampak pada tidak generasi dari ibu hingga ke cucunya.

 

Sumber: Kompas, 28 Januari 2021

Menjaga Kesehatan Mental. Kompas. 23 Januari 2021. Hal.7

Hampir setahun, kita menjalani masa karantina meskipun seakan timbul tenggelam, tidak lock down sepenuhnya seperti di Wuhan dan tempat lainnya. Namun, kita juga sama-sana merasakan ketegangan akibat Covid-19 ini.

Ketegangan ini tidak selalu kasatmata. Di satu pihak, ada anggota keluarga yang terkena penyakit, di lain pihak, kita harus tetap menyelesaikan tugas tanggung jawab profesional untuk tetap berkinerja, berproduksi sebaik mungkin di tengah ancaman resesi dunia, sambil tetap mematuhi protokol kesehatan. Di sinilah kecemasan yang invisible itu ada. Kecemasan ini bisa terus meningkat, apalagi bila uncertainty yang ada di lingkungan kerja ini meluas sampai pada suasana korporasi.

Bila ingin move forward ke arah strategi organisasi new normal, kita perlu memperioritaskan kesehatan dan kesejahteraan mental dalam konsep pengembangan organisasi. Bila tidak, kita akan dikejutkan dengan jatuhnya anggota tim yang kelelahan atau sakit. Untuk itu, ada beberapa hal yang perlu kita pertimbangkan.

Mindfulness. Kondisi yang ada bisa membuat kita merasa overwhelmed dan reaktif terhadap hal-hal yang terjadi pada kita. Konsep mindfulness memperkenalkan kita kepada kesadaran tentang di mana kita berada dan apa yang sedang kita lakukan. Setiap anggota tim atau karyawan diajak untuk lebih sadar akan kebutuhan dasarnya dan dengan hati-hati menyusun mekanisme pemenuhan kebutuhannya, mencari keseimbangan antara gaya kerja work from home dengan konsekuensi-konsekuensi yang timbul sehubungan dengan kondisi baru ini: baik keluarga, internet, maupun masalah lainnya.

Latihan fisik, yoga, dan meditasi juga meningkatkan kesadaran, kesabaran, ketenangan dan kemampuan menyayangi diri sendiri. Hasil akhir dari kekuatan mindfulness selain kemampuan untuk tetap merasa nyaman dalam situasi yang tidak nyaman, juga kemampuan untuk fokus kepada hal-hal yang bisa kita kontrol daripada yang tidak bisa kita kontrol. Michail Kokkoris, psikolog dari Vrije University Belanda, membuktikan, orang dengan kontrol diri tinggi lebih mampu mengembangkan kebiasaan-kebiasaan baru dalam menghadapi perubahan dunia yang dramatis.

Kesabaran. Supresi terhadap kehidupan sosial yang dampak konkretnya tidak kasatmata sering membuat tingkat kesabaran semakin rendah. Keadaan terpisah antar individu, juga dari kebiasaan aktivitasnya, bisa menimbulkan rasa kangen yang sering tidak terkendali. Karenanya, perusahaan perlu memikirkan bagaimana menyediakan pelatihan menjaga kesabaran atau bahkan memasukkan kesabaran sebagai salah satu kompetensi penting yang dipersyaratkan dalam bekerja.

Rasa syukur. Oliver Sacks menulis “I cannot pretend I am without fear. But my predominant feeling is one of gratitude. I have loved and been loved;I have been given much and I have given something in return”. Organisasi yang ingin maju perlu memasukkan nilai bersyukur ini dalam agenda pengembangan karyawannya. Diskusi dan workshop mengupas rasa syukur ini perlu rutin dijalankan agar kesehatan mental tetap terjaga karena kesadaran yang tetap bekerja.

Koneksi. Selama Covid-19, kita banyak berkompromi dalam cara-cara kita berkoneksi. Kita perlu bersyukur, kita berada pada era digital. Kita dengan mudah dapat menjangkau siapa saja dalam jarak ribuan kilometer sekalipun. Para pemimpin perlu menyadari, kita adalah makhluk sosial sehingga kontak dan koneksi dengan orang lain tidak hanya diperlukan untuk kepentingan organisasi, tetapi juga mengisi nilai hidup pada karyawan.

Menjaga ekuilibrium mental

Beberapa psikolog melakukan riset tentang apa yang harus kita lakukan menghadapi masa Covid-19 yang berkepanjangan ini. Ada beberapa hal yang cukup bermanfaat bila dilakukan dengan baik.

Jaga jarak yang sehat dari berita-berita. Manusia memang makhluk Tuhan yang paling canggih. Namun, itu bukan berarti manusia selalu rasional. Kita sangat terpengaruh oleh emosi. Kita sering mengikuti pendapat orang secara intuitif saja. Terkadang kita sulit membedakan antara fakta yang nyata dengan asumsi. Penelitian di Polandia membuktikan, tingkat kecemasan individu berkorelasi langsung dengan seberapa banyak ia mengonsumsi berita tentang bahaya. Tetapi bukan berarti kita harus menutup mata dan telinga mengenai fakta yang ada, namun kita perlu mengaktifkan saringan rasional sehingga sinyal-sinyak yang menumbuhkan kewaspadaan bisa ditakar dengan benar.

Challenge mindset. Beberapa psikolog menyebutnya sebagai mindset yang relevan dalam menghadapi Covid-19. Kita perlu selalu menantang diri untuk mampu menghadapi kesulitan, keterkungkungan dan keterbatasan kita. Bila perlu kita membuat tantangan baru yang bisa dilakukan dalam keadaan pandemi ini.

Tentukan strategi coping yang cocok.  Setiap individu memiliki cara coping yang berbeda-beda terhadap stress. Ada yang menenangkan diri, bermeditasi, berefleksi, tetapi sebaliknya ada yang lebih suka aktif berolah raga. Beberapa ide coping yang didaftarkan oleh American Psychologist, antara lain:

Active coping: individu secara aktif mencari mentor, atau bahkan psikolog untuk mendengarkan keluh kesahnya dan mencari jalan keluar.

Positive reframing: individu mencari sisi positif dari suatu kondisi yang terlihat negatif. Bisa dengan mengganti penamaan dari situasi yang dihadapi atau menggunakan magic words sebagai ganti dari kata-kata yang mematikan mental.

Agama: mereka yang mempelajari kajian agamanya lebih mendalam dan membangun hubungan yang lebih dekat dengan penciptanya bisa merasa lebih tenang karena bersandar pada Yang Ilahi.

“Legowo”: mengizinkan diri sendiri untuk mengalah pada keadaan, apalagi terhadap hal-hal yang tidak bisa kita kontrol atau ubah.

Sampai vaksin tersebar merata, cara disrupsi yang paling benar adalah bertahan. Kita perlu terus berdisiplin dan memelihara mental agar tidak dirongrong oleh rasa cemas yang tidak produktif. The pandemic may not be going anywhere, but neither are you.

EILLEN RACHMAN & EMILIA JAKOB

EXPERD

HR CONSULTANT / KONSULTAN SDM

 

Sumber: Kompas, 23 Januari 2021