Deteksi Suhu dengan Sensor. Kompas. 3 Mei 2021. Hal.8

Tim peneliti dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia mengembangkan termometer otomatis dengan desain yang bisa diakses publik secara gratis. Inovasi itu bisa dikembangkan warga secara mandiri.

Pradipta Pandu

Penggunaan termometer dengan sensor otomatis untuk memeriksa suhu tubuh selama pandemi Covid-19 amat dibutuhkan di tempat-tempat tertentu. Namun, termometer itu belum digunakan secara luas karena mahal.

Hal itu mendorong peneliti dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia mengembangkan termometer otomatis dengan desain bisa diakses public secara gratis agar semua orang bisa meniru dan membuatnya secara mandiri.

Pada masa pandemi Covid-19, suhu tubuh normal jadi salah satu syarat bagi warga untuk beraktivitas di luar ruang atau saat akan memasuki area tertentu. Mayoritas pemeriksaan tubuh di tempat umum saat ini masih memakai thermometer gun (termometer tembak) atau thermometer handheld (termometer genggam) yang difungsikan operator.

Padahal, berdasarkan hasil sejumlah riset, penggunaan termometer tembak membuat penyebaran Covid-19 kian rentan. Sebab, termometer jenis ini kerap digunakan bergantian dari satu operator ke operator lain. Bahkan, tiap orang di mungkinkan saling berdekatan karena termometer ini dioperasikan operator dengan mendekatkan sensor ke arah kepala atau tangan.

Salah satu upaya mengurangi aktivitas yang membuat orang saling berdekatan saat pemeriksaan suhu tubuh yaitu memakai termometer pemindai otomatis. Termometer jenis ini digunakan di beberapa perusahaan besar dan tempat publik lain, seperti stasiun, bandar udara, dan terminal.

Namun, penggunaan termometer otomatis belum luas karena relatif mahal. Dari penelusuran di berbagai toko daring, termometer dengan sensor otomatis mayoritas dijual dengan harga di atas Rp 1 juta, beberapa kali lebih mahal dibandingkan termometer tembak yang harganya Rp 100.000-Rp 200.000.

Kondisi itu membuat pengajar dan peneliti dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI), Tomy Abuzairi dari Program Studi Teknik Elektro dan Nur Imaniati Sumantri dari Program Studi Teknik Biomedik, mengembangkan termometer dinding secara otomatis yang dinamai iThermowall.

Tomy menyampaikan, iThermowall dikembangkan karena saat awal pandemi di Indonesia terjadi kelangkaan termometer. Termometer otomatis dijual dengan harga amat tinggi. Pada hal, dari sisi desain, warga atau pihak tertentu bisa membuat termometer otomatis dengan biaya terjangkau.

Secara konsep, termometer otomatis bukan hal baru. Namun, mayoritas termometer otomatis yang tersedia saat ini didesain dalam bentuk jadi dan sudah dikomersialisasikan.

Karena ingin siapa pun bisa membuatnya sendiri, Tomy dan Nur Imaniati membuat semua modul pengembangan iThermowall dengan konsep open source atau pemberian lisensi secara terbuka dan gratis.

“Dengan kebutuhan mendesak saat itu, kami dan komunitas open source Covid-19 di dunia membuat desain yang bisa diakses publik. Ini memungkinkan semua orang mempelajari, membuat, dan memodifikasi desain termometer otomatis itu. Jadi, kami dapat berkontribusi meski termometer itu alat sederhana,” ujarnya, Sabtu (1/5/2021).

Komponen

Agar bisa dipelajari dan dibuat masyarakat, iThermowall memakai sejumlah komponen yang mudah didapat dengan harga terjangkau. Komponen itu terdiri dari unit pengendali mikro (MCU), layar organic light emitting diode (OLED), light emitting diode (LED), sensor termometer inframerah, sensor jarak inframerah, penanda suara, pengisi daya, converter step-up, dan baterai.

Pengendali mikro yang dipakai jenis Arduino Nano dengan memori flash 32 kilobyte (Kb), SRAM 2 Kb, dan EEPROM 1 Kb. Alat ini mampu membaca data dari sensor termometer inframerah dan menulisnya ke layar OLED. Sensor inframerah memakai modul GY-906 yang mudah diintergrasikan dengan Arduino Nano.

Termometer ini dilengkapi LED hijau untuk menunjukkan suhu di bawah 38 derajat celcius dan LED merah untuk suhu di atas 38 derajat celcius. Bel aktif digunakan untuk memperingatkan selama lima detik jika nilai sensor suhu lebih dari 38 derajat celcius.

Adapun iThermowall mendapat sumber energi dari dua baterai litium-ion paralel 18.650 berkapasitas 2.200 miliampere per jam (mAh) dan tegangan 3,7 volt. Hasil pengujian menunjukkan, daya baterai ini bertahan tiga hari penggunaan tanpa diisi ulang. Daya baterai bisa lebih lama tergantung dari pemakaian.

“Semua komponen itu bisa dibeli di Indonesia. Dari sisi wadahnya, kami sediakan desain bisa dicetak memakai pencetak tiga dimensi (3D). jasa pencetakan 3D saat ini banyak di toko daring,” katanya.

Termometer iThermowall dirancang agar mudah direpoduksi dengan modul mudah diakses. Siapa pun dapat mengunduh modul itu secara gratis di jurnal HardwareZ volume 9 yang terbit pada April 2021. Modul itu berisi data desain pencetak wadah 3D, pengodean firmware microcontroller, skema rangkaian, dan tutorial cara merakitnya.

Dalam jurmal itu disertakan pula laman yang jadi rujukan pembelian komponen beserta total estimasi biaya pembuatannya 35 dollar AS atau sekitar Rp 500.000. Namun, perakit dapat mengganti atau memodifikasi jenis komponen lain, seperti wadah, agar biaya yang dikeluarkan lebih murah.

Mudah diaplikasikan

Nur Imaniati Sumantri mengatakan, saat ini sejumlah pihak mencoba membuat dan menduplikasikan iThermowall sejak dipublikasikan secara open source pada akhir Desember 2020. Beberapa pihak itu meliputi antara lain organisasi nirlaba di Oakland, Amerika Serikat, dan siswa sekolah menegah kejuruan (SMK) dari Nusa Tenggara Barat.

Selain itu, pengurus Masjid Ai Marjan Cipayung, Depok, membuat iThermowall untuk memeriksa suhu tubuh jemaah shalat Isya dan Tarawih di bulan Ramadhan. Sebanyak empat iThermowall di masjid tersebut dibuat dengan bantuan dari mahasiswa FTUI.

Dekan FTUI, Hendri Budiono, menyatakan, desain iThermowall yang dikembangkan ini merupakan bagian dari komitemen FTUI dalam menciptakan inovasi yang dibutuhkan di bidang kesehatan. Ia berharap, dengan dipublikasikan secara open source, desain iThermowall bisa dipelajari dan dibuat banyak orang sehingga manfaat teknologi ini dapat tersebar secara luas ke masyarakat.

 

Sumber: Kompas, 3 Mei 2021