Mengolah Sampah Medis Plastik. Kompas.15 Februari 2021.Hal.8

Teknologi daur ulang sampah medis berbahan plastik dengan metode rekristalisasi tengah dikembangkan. Metode itu dinilai mudah dan tidak membutuhkan energi tinggi.

Deonisia Arlinta

Sampah medis semakin menjadi persoalan selama masa pandemi Covid-19 atau penyakit yang disebabkan virus korona tipe baru. Selain berdampak pada kebersihan lingkungan, sampah medis berbahaya bagi lingkungan dan masyarakat karena termasuk limbah bahan berbahaya dan beracun.

Sejumlah laporan menyebutkan, limbah medis yang terkumpul tidak terkendali. Di Jakarta, misalnya, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mencatat, limbah bahan berbahaya dan bercaun (B3) berupa masker sekali pakai selama masa pandemi terkumpul sampai 12.785 ton (Kompas, 29 Januari 2021).

Rinciannya, total limbah masker sekali pakai yang terkumpul sejak 27 April 2020 sampai 17 Januari 2021 di fasilitas layanan kesehatan sekitar 6,3 juta kilogram (kg), rumah sakit penaganan Covid-19 sebanyak 5,2 juta kg, rumah sakit yang tidak melayani pasien Covid-19 sebanyak 1,2 juta kg, dan rumah tangga sebanyak 1,538 kg.

Limbah medis yang berasal dari rumah sakit yang menangani Covid-19 ataupun rumah sakit non-Covid-19 biasanya memiliki prosedur khusus pengelolaan limbah medis. Namun, limbah dari rumah tangga kini menjadi masalah yang belum bisa diatasi. Kesadaran warga untuk mengelola sampah dengan baik masih minim sehingga tak sedikit limbah yang mencemari lingkungan, seperti sungai.

Berdasarkan hasil kajian peneliti dari Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama dengan IPB University dan Universitas Terbuka, peningkatan kelimpahan sampah di sungai terjadi selama masa pandemi. Adapun kelimpahan sampah yang tercatat meningkat sampai lima persen jika dibandingkan dengan tahun 2016.

Dari sampah yang dikumpulkan, setidaknya tujuh jenis limbah ditemukan, antara lain beragam jenis masker, termasuk masker bedah dan N95, sarung tangan medis, baju hazmat, pelindung wajah, dan jas hujan sebagai pengganti hazmat (Kompas, 23 Desember 2020).

Kondisi itu membuat sistem pengelolaan sampah medis makin dibutuhkan. Pengelolaan ini tidak hanya untuk skala rumah sakit, tetapi juga skala rumah tangga. Pemilihan cara pengelolaan sampah medis yang mudah, efisien, dan ramah lingkungan perlu diperhatikan.

Metode rekristalisasi

Hal itulah menjadi dasar bagi para peneliti dari Pusat Penelitian Kimia LIPI untuk mengembangkan teknologi daur ulang sampah medis, khususnya sampah medis berbahan plastik dengan metode rekristalisasi. Metode itu dinilai lebih mudah digunakan tanpa membutuhkan energi yang tinggi.

Peneliti Utama Pusat Penelitian Kimia LIPI Sunit Hendrana menuturkan, proses pengolahan sampah limbah plastik yang biasa dilakukan saat ini memakai metode remelting atau pelelehan dengan cara pembakaran daur ulang. Sampah plastik yang didaur ulang dibentuk menjadi granula atau pelet.

Menurut Sunit, metode daur ulang ini tidak praktis karena harus melalui pra-pemilihan sampah yang tidak mudah serta perlu sterilisasi sebelum di daur ulang. Jika pemilihan sampah tidak baik, beberapa bahan plastik bisa tercampur sehingga berpengaruh pada mutu hasil daur ulang.

Penggunaan suhu panas dengan tekanan tinggi juga bisa menimbulkan kerusakan plastik yang didaur ulang. Proses pelelehan ini pun memakai mesin penggerak yang membutuhkan konsumsi energi tinggi sehingga bahan bakar yang digunakan lebih banyak.

Kebutuhan energi serta bahan bakar yang besar juga ditemukan pada proses daur ulang dengan metode pembakaran di mesin insinerasi. “Itu berbeda dengan proses daur ulang dengan metode rekristalisasi. Kebutuhan mekanis relatif kecil, yakni hanya untuk mengaduk. Penggunaannya juga lebih fleksibel, bisa untuk skala kecil seperti rumah tangga ataupun besar seperti rumah sakit dan industri. Apabila ada bahan logam berat, bisa langsung terpisah ketika proses berlangsung,” ucap Sunit.

Mudah diterapkan

Daur ulang plastik dengan cara mudah dan ramah lingkungan ini jadi fokus peneliti karena banyak alat pelindung diri (APD) yang memakai bahan baku plastik, seperti baju hazmat, masker medis, tutup kepala untuk tenaga kesehatan, dan sarung tangan. Alat medis itu bersifat infeksius dan berpotensi meningkatkan mikroplastik di perairan dann laut jika tidak diolah dengan baik.

Sunit menambahkan, daur ulang dengan rekristalisasi mudah diterapkan untuk berbagai jenis plastik yang menjadi bahan baku APD, seperti polyethylene (PE), polypropylene (PP), polyvinyl chloride (PVC), dan polystyrene (PS).

Pada masker medis, salah satu bahan yang digunakan adalah polypropylene. Bahan ini yang dimanfaatkan karena tahan air dan mampu mencegah cairan menempel pada masker. Selain pada masker medis, bahan polypropylene digunakan untuk masker N95.

Secara teknis, tahapan dalam proses daur ulang sampah medis plastik dengan rekristalisasi, yaitu dimulai dengan pemotongan plastik bisa diperlukan. Selanjutnya pelarutan plastik dilakukan dan dilanjutkan dengan pengendapan pada antipelarut.

Kemudian penyaringan bisa dilakukan untuk mendapatkan plastik murni dengan bentuk kristal yang memiliki mutu serupa dengan produk plastik sebelum didaur ulang. “Dinamakan rekristalisasi karena proses ini bisa diulang untuk mendapat kemurnian lebih tinggi dari plastik,” ucap Sunit.

Paten di skala laboratorium untuk metode tersebut didapatkan sejak Desember 2020. Saat ini, proposal untuk pelaksanaan rencana percontohan (pilot plan) skala lebih besar diusulkan. Harapannya, proposal ini bisa disetujui sehingga metode rekristalisasi sekaligus sebagai alternatif daur ulang sampah medis plastik dalam penanganan Covid-19.

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI Agus Haryono menuturkan, metode rekristalisasi yang dikembangkan tersebut untuk mengantisipasi limbah masker medis yang menjadi ancaman bagi lingkungan.

“Metode ini mudah diterapkan untuk berbagai jenis plastik yang menjadi bahan baku APD, termasuk masker medis. Kualitas produk hasil daur ulang terjamin tetap tinggi karena tidak terdegradasi oleh pemanasan,” ungkapnya.

Rekristalisasi, Alternatif Daur Ulang Sampah Medis Plastik

Plastik banyak digunakan sebagai bahan baku alat pelindung diri (APD) berupa masker medis, tutup kepala, sarung tangan, dan hazmat.

Proses daur ulang rekristalisasi dapat diterapkan hampir pada semua jenis plastik, seperti:

  • PP (polipropilena)
  • PE (polietilana)
  • PS (polistirena)
  • PVC (Poliviniklorida)
  • PC (polikarbonat)
  • PMMA (Polimetil merakrilat)

Tahapan proses daur ulang plastik medis dengan reksritalisasi

  1. Pemotongan plastik
  2. Pelarutan
  3. Pengendapan pada antipelarut
  4. Penyaringan

Keunggulan menggunakan metode kristalisasi antara lain:

  • Menghasilkan plastik daur ulang berupa serbuk.
  • Minim kerusakan struktur.
  • Memiliki kemurnian produk daur ulang yang tinggi sehingga dapat digunakan lagi untuk keperluan yang sama.
  • Memiliki potensi memisahkan kandungan logam yang mungkin terdapat dalam plastik medis yang didaur ulang.
  • Dapat dikembangkan sehingga sterilisasinya dapat dilakukan in-situ dalam rangkaian proses daur ulang.

Hasil penelitian telah terdaftar dalam paten nomor P00202010633

 

Sumber: Kompas, 15 Februari 2021

Pahami Resiko.Tabloid Kontan.1 Februari – 7 Februari 2021. Hal.3

Meski terbilang praktis, skema paylater tetapi memiliki beragam risiko, mulai dari keamanan data hingga akun yang dinonaktifkan tiba-tiba.

Francisca Bertha, Jane Aprilyani

Setelah mengenal soal fitur, cara memanfaatkan paylater dengan bijak dan kelebihan dibandingkan kartu kredit, hal yang tak kalah penting untuk diperhatikan adalah tahu aturan main dari skema pembayaran ini.

Tika Putri, penggunan beberapa layanan paylater sejak 2018 lalu mengaku mengalami beberapa kendala. Proses pendaftaran memang praktis, karena ia tidak perlu mendatangi lembaga pembiayaan atau bank, cukup mengikuti langkah pada aplikasi. Ada aplikasi yang meminta rekening koran tiga bulan terakhir dan foto surat tanda kendaraan bermotor (STNK) sesuai namanya. “Jadi sebenarnya tidak semudah yang dibayangkan, tetap ada syaratnya,” kata Tika.

Toh begitu, Tika mengaku khawatir dengan keamanan datanya. Apalagi tak sekali dua kali ia mendengar ada kejadian orang telat membayar, lantas ditagih ke salah satu kontak yang disimpan pada ponselnya. Lantas, ketika konsumen telat membayar, ada denda yang nilainya cukup besar.

Terakhir, pada Juli 2020 lalu tiba-tiba salah satu akun paylater miliknya dinonaktifkan secara sepihak. Padahal ia selalu membayar tepat waktu, bahkan jauh hari sebelum jatuh tempo.

Saat dikonfirmasi ke penyedia, alasan mereka pemblokiran dilakukan karena ada pembatasan layanan terkait Covid-19. “Saya kontak ke customer service katanya bukan karena telat membayar, tetapi ada kebijakan selama Covid-19,” kata Tika.

Risiko keamanan

Sebelumnya, Budi Raharjo perencana keuangan One Shildt Financial Planner pernah menyampaikan kepada KONTAN, meskin skema paylater ini praktis, memang ada hal-hal yang perlu diperhatikan dari paylater. Di antaranya soal keamanan data dan saldo pada rekening paylater.

Traveloka, sebagai salah satu aplikasi yang menyediakan kredit digital berusaha menerapkan mitigasi risiko yang ketat. Hal tersebut telah dilaksanakan, sejak dari awal proses pendaftaran. Pengguna yang mengajukan permohonan pinjaman pada fitur Traveloka PayLater akan melalui proses verifikasi dan Know Your Customer (KYC) terlebih dahulu.

Menurut Andhini Putri, VP Marketing Financial Services & Transport Traveloka, proses verifikasi dan KYC ini memungkinkan mitra pemberi pinjaman memeriksa data dan kelayakan pengguna. Pemeriksaan ini termasuk profil risiko pengguna, untuk menentukan total nilai pinjaman yang dapat disalurkan.

“Pengguna juga harus melampirkan kartu identitas (KTP) yang masih berlaku dan dokumen pendukung lainnya, seperti SIM, BPKS, NPWP, atau Kartu Keluarga,” jelas Andhini lebih lanjut.

Winny Triswandhani, Head of Corporate Communications GoPay mengatakan Gojek berusaha untuk menjaga keamanan dari penggunanya termasuk pengguna GoPaylater.

Akan tetapi, ia mengingatkan agar konsumen tetap berhati-hati dan berinisiatif menjaga keamanan sendiri ketika bertransaksi online. Di antaranya tidak melakukan pembayaran di luar aplikasi, mengamankan data pribadi, tidak membagikan kode OTP atau data penting seperti nomer identitas, nama gadis ibu kandung, tanggal lahir, nomor rekening atau kartu debit/kredit.

Selain itu, selalu gunakan PIN dan aktifkan fitur biometrik untuk melakukan verifikasi saat transaksi. GoPay dan Paylater dan adukan hal mencurigakan melalui email resmi dan halaman bantuan di aplikasi Gojek.

Akun diblokir

Jangan sekadar mengetahui bunganya saja, sebagai penguna paylater Anda juga harus paham denda yang harus dibayar jika melakukan pembayaran melebihi jatuh tempo.

Keterlambatan, bahkan gagal bayar pada pinjaman, memang tidak bisa dihindari. Presiden Direktur PT Akulaku Finance Indonesia, Efrinal Sinaga mengaku Akulaku sendiri mencatatkan rasio non performing financing (NPF) per Oktober 2020 tercatat sebesar 0,4% sedangkan rata-rata NPF Industri adalah 1,93%.

Saat terjadi keterlambatan hingga gagal bayar, secara umum Akulaku akan melakukan beberapa langkah, antara lain mengingatkan melalui desk collection, mengirimkan somasi, kunjungan field collector, hingga memberikan relaksasi dalam bentuk restrukturisasi kepada nasabah mereka.

Sementara besaran denda yang harus dibayarkan disesuaikan dengan jumlah dari tagihan pengguna.

Kredivo, paylater sejenis Akulaku memberlakukan, denda berupa bunga keterlambatan 4% per 30 hari dan biaya keterlambatan 6% per 30 hari dari jumlah tagihan yang melewati jatuh tempo.

Indina Andamari, VP Marketing & Communications Kredivo bilang saat ini pihaknya mengikuti dan patuh terhadap aturan yang dikeluarkan OJK terkait keterlambatan dan gagal bayar.

Hal yang perlu diperhatikan lainnya adalah akun paylater milik Anda, sewaktu-waktu dapat dibekukan. Padahal, Anda sudah merasa membayar tepat waktu, seperti dialami Tika.

Menurut Andhini, peristiwa blokir otomatis bisa dialami, jika akun pengguna tidak digunakan secara aktif selama beberapa bulan terakhir. Lebih lagi, kalau Anda rajin membayar, kalau Anda rajin membayar, bisa jadi taka da tagihan tertunggak, dengan begitu akun jadi non aktif secara otomatis.

“Kalau misalnya dalam dua atau tiga bulan terakhir akun paylater aktif dan ada transaksi, maka akun itu tidak akan kena pe-nonaktifan,” kilah Andhini.

Hal serupa juga diterapkan GoPay PayLater. Namun, manajemen mengatakan sebaiknya pengguna langsung menghubungi Gojek jika tiba-tiba saldo GoPay PayLater tidak dapat digunakan. Maklum, penyebab blokir ini beda-beda. Bisa saja, Anda rajin membayar, tapia da transaksi yang diragukan.

Risiko Paylater

Meski terbilang menggiurkan di saat dibutuhkan, penggunaan paylater juga cukup berisiko. Widya Yuliarti, Financial Planner Finansialku.com menyebut ada tiga risiko yang akan dihadapi ketika menggunakan paylater. Pertama, ada biaya tambahan jika tak bayar tepat waktu. Kedua, akan ada biaya tambahan ketika bertransaksi. Dan ketiga, kalau tidak dicatat, bisa jadi pengeluaran kita tidak terkontrol dan menyebabkan pos keuangan lain terganggu.

Kendati demikian, menurut Widya, siapapun menggunakan paylater. Namun dengan syarat bahwa paylater merupakan alat ganti pembayaran yang harus dibayar lunas akhir bulan. “Paylater bukan dana cadangan atau dana darurat,” ujarnya.

Karena bukan dana cadangan, Widya juga mengingatkan agar pengguna teliti dalam memilih platform. Dia tegaskan untuk memilih penyedia paylater yang memiliki izin dan terdapat lambang OJK.

Di samping itu, buat anggaran khusus paylater agar Anda tak terkena denda. Sementara, kalau akun tiba-tiba dinonaktifkan, maka telusuri dahulu apakah ada ketentuan dan syarat yang Anda langgar.

 

Sumber: Kontan, 1 – 7 Februari 2021

Selamat Tinggal Satelit Telkom-3. Kompas. 9 Februari 2021.Hal.9

Satelit Telkom-3 milik PT Telekomunikasi Indonesia Tbk kembali memasuki atmosfer Bumi. Kini satelit itu menjadi sampah antariksa.

M Zaid Wahyudi

Saat diluncurkan pada 2012, satelit Telkom-3 milik PT Telekomunikasi Indonesia Tbk hilang dalam perjalanan menuju orbit. Kini, satelit itu memasuki atmosfer Bumi bukan untuk menjalankan fungsi sebagai sarana telekomunikasi, melainkan sebagai sampah antariksa.

Perhitungan terakhir oleh Badan Antariksa Rusia (Roscosmos), Space Track, dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menunjukkan, satelit Telkom-3 jatuh ke Bumi pada Jumat (5/2/2021) pukul 16.28-16.42 WIB. Jika satelit tidak habis terbakar di udara, sisa satelitnya diprediksi jatuh di wilayah dengan posisi 41,4 derajat lintang utara dam 106,6 derajat bujur timur atau di sekitar perbatasan China dan Mongolia.

Hingga Sabtu (6/2) pukul 02.00 WIB, belum ada laporan jatuhnya satelit itu atau kerusakan akibat jatuhnya benda luar angkasa. “Bisa jadi satelit habis terbakar di udara atau jatuh di area tak dihuni manusia,” kata peneliti Lapan, Rhorom Priyatikanto.

Satelit Telkom-3 diluncurkan pada 7 Agustus 2012 dari bandar antariksa milik Rusia, Kosmodrom Baikonur, di Kazakhstan. Satelit itu diluncurkan bersama satelit Express MD-2 milik Rusia menggunakan roket peluncur Proton-M. gangguan pembakaran di bagian atas roket yang disebut Briz-M (Breeze-M) membuat satelit gagal mencapai orbit.

Satelit seberat 1.903 kilogram itu, seperti dikutip Kompas, 11 Agustus 2012, rencananya ditempatkan di orbit geostasioner di ketinggian 35.401 kilometer (Km) dari Bumi atau di atas Selat Makassar. Masalah pada roket peluncur membuat satelit ini hanya berada di ketinggian 266-5.013 km dari Bumi.

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk sebagai pemilik satelit mengganti satelit Telkom-3 dengan satelit Tekom-3S yang diluncurkan pada 14 Februari 2017 dari Bandar Antariksa Guyana di Kourou, Guyana-Perancis. Perusahaan peluncurnya berganti, dari Roscosmos ke Arianespace. Demikian pula produsen satelit, berubah dari Information Sateliite Systems (ISS) Reshetnev ke Thales Alenia Space.

Perjalanan singkat

Kegagalan satelit Telkom-3 dan Express MD-2 mencapai orbit bersumber pada kegagalan bekerja roket bagian atas dari roket peluncur Proton-M yang membawa dua satelit itu. Saat diluncurkan, pembakaran roekt ProtonM pada roket tingkat 1 dan tingkat 2 berjalan lancar. Gangguan terjadi saat pembakaran di roket tingkat 3 yang disebut Briz-M.

Pembakaran di roket Briz-M itu seharusnya berlangsung empat tahap. Saat mesin ketiga baru menyala tujuh detik dari rencana 18 menit 5 detil, mesin roket mati. Itu diduga karena ada benda asing di pipa bahan bakar. Akibatnya, perjalanan dua satelit itu terhenti pada orbit rendah Bumi (Kompas, 8 Agustus 2012).

Data terbaru menunjukkan roket Briz-M, satelit Telkom-3 dan satelit Express MD-2 terpisah. Menurut konsultan satelit yang pernah bekerja di Hughes Space and Communication, Amerika Serikat, yang membuat satelit Palapa-AB dan Palapa-C, Wicak Soegijoko, pemisahan dua satelit dengan roketnya bisa dilakukan meski roket pendorongnya mati.

Posisi dua satelit di orbit rendah bisa didorong menuju orbit tujuan dengan bahan bakar di satelitnya, tetapi umur atau masa pakai satelit akan terpotong. Itu tak jadi pilihan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk karena membuat pendapatan jasa sewa satelit tak sebanding dengan investasi. Nilai investasi satelit Telkom-3 sebesar 200 juta dollar AS atau Rp 2,8 triliun dengan kurs Rp 14.000 per dollar AS.

Selain itu, setiap satelit yang diluncurkan ke luar angkas dicakup asuransi. Pemilik satelit menanti 2-3 tahun hingga perusahaan asuransi mengganti satelit yang hilang.

Kejatuhan

Sejak gagal mencapai orbit, satelit Telkom-3 hanya jadi sampah antariksa. Selama 8,5 tahun terakhir, dikutip dari Lapan, satelit ini mengitari Bumi dengan bentuk orbit amat elips hingga jarak terdekat dan terjauh dari Bumi 267-5.015 kilometer.

Setiap benda yang diluncurkan dari Bumi dan mengitari Bumi akan mengalami penurunan ketinggian orbit. Itu membuat benda buatan manusia di luar angkasa atau sampah antariksa masuk kembali ke atmosfer Bumi.

Informasi awal satelit Telkom-3 masuk kembali ke atmosfer Bumi disampaikan Space Track, 3 Desember 2020. Saat itu satelit yang diberi kode NORAD 38744 itu diprediksi memasuki atmosfer Bumi 60 hari ke depan sejak pengumuman.

Menurut Rhorom, obyek yang jatuh hanya satelit Telkom-3. Roket pendorong Briz-M, yang membawa satelit, telah jatuh ke Bumi pada 9 April 2019 di laut di utara Papua. Teman peluncuran Telkom-3, yakni satelit Espress MD-2, mengorbit Bumi di ketinggian 266-3.987 km.

Sesuai konvensi internasional, negara peluncur, yakni negara pemilik satelit; negara yang menyewakan jasa peluncuran satelit; dan negara tempat peluncuran satelit, bertanggung jawab atas jatuhnya korban atau timbulnya kerugian akibat satelit yang masuk kembali ke atmosfer Bumi. Karena itu, sejak pertengahan Januari 2021, Lapan dan Roscosmos memantau kejatuhan satelit Telkom-3. Space Track sebagai organisasi yang mendorong pemanfaatkan luar angkasa turut memantau.

Pada 30 Januari 2021, satelit Telkom-3 berada di ketinggian kurang dari 200 km sehingga segera jatuh ke Bumi. Penurunan ketinggian obyek semakin cepat saat gaya hambat udara setara dengan gravitasi Bumi.

Pada ketinggian 120 km, kecepatan jatuh satelit diperkirakan 30.000 km per jam. Saat memasuki atmosfer Bumi, kecepatannya tinggal 100 km per jam atau 27,7 meter per detik. Pada ketinggian 80 km, satelit sampah antariksa hancur tercerai berai jadi potongan lebih kecil. “Kecepatan jatuhnya satelit jauh lebih lambat dibanding kecepatan meteor,” tambah Rhorom.

Seiring semakin rendahnya posisi satelit Telkom-3, prediksi waktu dan lokasi kejatuhan Telkom-3 semakin baik. Arah jatuh satelit menentukan kecepatan jatuhnya satelit. Cuaca antariksa juga menentukan seberapa cepat sampah antariksa itu berkurang.

Dari perhitungan terakhir, satelit ini diperkirakan jatuh pada Jumat (5/2) pukul 16.28-16.42 WIB di perbatasan China dan Mongolia. Meski belum ada laporan, kalaupun obyek ini tak habis terbakar di udara, diperkirakan bagian satelit tersisa 10-40 persen saat jatuh di Bumi.

Risiko ada korban jiwa akibat jatuhnya sampah antariksa 1 dari 40.000 kejadian karena banyak area di Bumi tak dihuni manusia. Kembalinya satelit Telkom-3 ke atmosfer Bumi menyadarkan kita untuk semakin bijak dalam menggunakan teknologi antariksa.

PERJALANAN TELKOM-3

Jatuhnya Satelit Telkom-3 yang telah menjadi sampah antariksa

Prediksi dilakukan oleh Badan Antariksa Rusia (Roscosmos), Space Track, dan Lapan. Sampah satelit Telkom-3 diprediksi jatuh pada Jumat (5/2/2021) pukul 16.28-16.42 WIB di wilayah perbatasan China dan Mongolia pada posisi 41,4 derajat lintang utara dan 106,6 derajat bujur timur.

Satelit Telkom-3

  • Pembuatan: Reshetnev Space Company
  • Pemilik dan operator: PT Telekomunikasi Indonesia Tbk
  • Misi: Komunikasi dan siaran TV di Asia Tenggara

Express MD-2

  • Pembuatan: Khrunichev Space Center, Thales Alenia Space (Italia)
  • Pemilik dan operato: Perusahan komunikasi satelit Rusia
  • Misi: Retransmitting data di sistem satelit komunikasi Rusia dan penyiaran

 

Sumber: Kompas, 9 Februari 2021

Memperkuat Komponen Rel. Kompas. 25 Januari 2021. Hal.8

Tim peneliti dari Pusat Penelitian Metalurgi dan Material Lembaga ilmu Pengetahuan Indonesia mengembangkan baja dengan paduan khusus untuk komponen jalur kereta.

Baja Paduan Khusus untuk Rel dan Jarum Wesel Pusat Penelitian Metalurgi dan Material (P2MM) dari Lembaga Ilmu

Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan baja paduan khusus untuk aplikasi jalur kereta, yaitu pada rel dan jarum wesel.  Yang terpasang di Indonesia kebanyakan dengan struktur perlit, sementara yang dikembangkan adalah dengan struktur bainit.  Selain pemilihan struktur tersebut, komponen jalur yang dikembangkan LIPI juga memanfaatkan perpaduan bahan khusus, yaitu dengan menggunakan baja dan nikel.

Kereta menjadi salah satu moda transportasi dan Ndalan bagi masyarakat di Indonesia.  Bahkan, kereta sudah dimanfaatkan sejak tahun 1849. Pemanfaatannya pun luas dengan penambahan jahur baru di beberapa daerah.

Tingginya penggunaan penggunaan kereta juga berpengaruh pada peningkatan kecepatan dan beban di jalur kereta Kondisi itu dapat menyebahkan aus atau susut lantaran terjadi gesekan pada jalur kereta.

Namun, perawatan yang dilakukan pada jalur kereta tidak mudah.  Jika ada lerusak- an atau pun keausan dari jalur kereta cepat, sebagian besar komponen pada rel yang perlu diganti harus dilakukan.  Selain harganya tinggi, waktu yang mengatur, mulai dari pemesanan izun masuk, sampai tiba di Indoncsin, cukup lama.

Kondisi itu mendorong para peneliti dari Pusat Penelitian Metalurgi dan Material Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2MM LIPI) mengembangkan .dengan paduan khusus untuk komponen jalur kereta, yaitu rel dan jarum wesel.  “Kalau yang terpasang di Indonesia sebagian besar struktur perlit, sementara yang kami kembangkan dengan struktur bainit,” ujar Fatayalkadri Citrawati, peneliti dari P2MM LIPI.

Menurut dia, struktur bainit memiliki kekuatan yang lebih tinggi daripeda perlit.  Karena itu, banyak negara di dunia memekai struktur bainit untuk bahan baku pada komponen jalur kereta, terutama untuk penggunaan jalur kereta cepat yang memiliki beban tinggi.

Struktur perlit merupakan suatu fasa (zat dengan homogenitas sifat tertentu) di dalam paduan logam yang memiliki susunan berselang antara karbida (senyawa kimia) besi dan besi alfa.  Sementara struktur bainit adalah struktur yangmemiliki susunan pelat besi alfa dengan ukuran sangat kecil.

Dalam struktur bainit kadang yang terkandung karbida besi yang hanya dapat diamati m lalui mikroskop elektron.  Ukuran pelat besi alfa pada bainit jauh lebih halus ukuran pelat besi alfa pada perlit.

Selain pemilihan struktur tersebut, komponen jalur khusus, yaitu dengan menggunakan baja dan nikel.  Biasanya, lkomponen yang dibaja dan mangan.  diawali dengan keresahan para peneliti yang ingin memanipulasi nikel laterit di Indonesia kan di Kabupaten Morowali, nufaktur, ternyata perpaduan struktur mikro yang berbeda perpaduan ini memiliki kekurangan, paduan baja dan bijih laterit luran yang sesuai dengan standar yang dikembangkan LIPI  memanfaatkan perpaduan buat menggunakan perpaduan.

Penggunaan komponen ini atkan kelimpahan sumber daya sumber daya, khususnya yang ditemui di Sulawesi Tengah.  Setelah me lalui layanan proses antara nikel dan baja dengan paduan bahan lainnya.

Proses pengujlan Setelah melalui pengujian, atan dan kekerasan lebih tinggi pada rel yang kini terpasang di Tanah Air.  Selain nikel tersebut memiliki pemudar dan mampu menahan frekuensi serta pembebanan lebih tinggi.  Dengan begitu, proses keausan dan kerusakan pada rel serta jarum wesel menjadi berkurang.

Saat ini, penelitian yang mulai di- lakukan pada tahun 2017 tersebut sudah berhasil sampai tahap prototipe laboratorium.  Tidak ada terdapat dua prototipe yang telah dihasilkan, yakni prototipe cor potongan rel dan prototipe paduan baja terdeformasi.  Baik menggunakan struktur bainit.

Iaax aa s aswPrototipe paduan baja ter- deformasi dengan struktur dasar terbukti memiliki kekuatan 1.100-1.200 megapascal (MPa).  Angka kekuatan itu sama dengan kekuatan paduan baja ba- memiliki init pada jalur kereta cepat yang diuji coba beberapa tahun silam di jalur kereta di Polandia dan Jerman.  Sementara paduan ba- ja dan mangan dengan struktur perlit memiliki kekuatan di saran 1050 MPa.

Fataya menyampaikan, P2MM LIPI melaksanakah finalisasi perjanjian kerja sama dengan beberapa badan usaha milik negara (BUMN) dan berkoordinasi dengan kementerian yang terkait untuk pengembangan komponen jarum wesel dengan paduan baja khusus.

Untuk proses alih teknologi menjadi “Kerja sama ini dilakukan pembuatan rupa prototipe skala utuh dan uji pembebanan pada lingkungan jalur kereta yang sebenarnya,” katanya.

Dukungan berbagai pihak sangat diperlukan agar manfaat yang dirasakan masyarakat luas, dukungan tersebut terutama yang terkait dan perizinan dalam proses pengujian di jalur sebenarnya.  proposal terkait kelanjutan ri- set tersebut sebagai bagian dari 2021. Salah satu prioritas yang ditetapkan pemerintah.

Peneliti telah mengajukan Prioritas Riset Nasional (PRN) terkait infrastruktur perkereta- apian.  Harapannya, untuk penelitian pembuatan prototipe skala utuh bisa dida patkan dari program PRN.  hap yang harus dilakukan sam- pai pada aplikasi teknologi.

Fataya mengungkapkan, tasih panjang.  Selain dukungan, dukungan kerja sama dari Direktorat Jenderal Perkeretaapian melalui regulasi, kerja sama dengan industri dalam pembuatan rel skala utuh, serta dukungan keterse- diaan peralatan mesin penunjang jugn yang diperlukan.

Dengan demikian, kata fatwa, penelitian ini diharapkan bisa berlanjut sampai tahap pengaplikasian.  “Jika ini bisa lancar, hilirisasi bisa terwujud dalam waktu lima tahun ke departemen. Kita harus memahami bahwa penelitian ini di masa depan untuk kemandirian bangsa. Kita tidak perlu mengimport dengan harga yang mahal mewujudkan serta proses dan  waktu yang panjang, tetapi tetap dengan mutu yang terjamin, “katanya.

 Inovasi harus didorong

Kepala LIPI Laksana Tri Handoko, dalam keterangan pers, menuturkan, berbagai inovasi dalam negeri harus di- dorong untuk memajukan peradaban bangsa Indonesia yang mandiri dan berdaya saing lebih banyak yang terkait dengan pena- nganam Covid-19.  Meski begitu, pengembangan riset di bidang komponen jalur kereta cepat.  2021, mengembangkan inovasi terkait Covid-19 dan penciptsan ekonomi baru.  LIPI Menurut Handoko, banyak yang keluar dari riset dan relevan menjadi relevan saat ini.

Pada tahun 2020, fokus riset tetap berjalan, termasuk inovasi baja dan nikel untuk.

Fokus riset itu terus pada juga akan memfasilitasi usaha rintisan dan ckonomi kreatif.  temuan baru ekonomi kreatif penelitian, yang semula tidak.

Terkait hal itu, LIPI bersama kementerian lain memfasilitasi pengembangan penelitian dan inovasi “Dampak ekonomi dari pandemi luar biasa, banyak yang kehilangan pekerjaan. Di balik itu, timbul peluang baru untuk dieksplorasi,” katanya.

 

Sumber: Kompas. 25 Januari 2021. Hal.8

Sungguh Meresahkan! Sampai Kapan Mau Dibohongi Berita Palsu?

Maraknya penyebaran informasi yang diiringi dengan kurangnya literasi digital membuat banyaknya hoaks atau berita palsu yang semakin merajalela. Banyaknya hoaks yang tersebar pada era ini kerap kali menimbulkan keresahan public, lantas kalau kita lihat kembali sebenarnya bagaimana sih asal mula tercipta adanya hoaks?

Dalam buku berjudul Sins Against Science yang ditulis oleh Lynda Walsh, beliau mengulas mengenai sejarah terjadinya hoax atau kabar bohong yang diperkirakan terjadi pada tahun 1808, pada era industry. Kata-kata hoax itu sendiri diyakini telah ada dari ratusan tahun sebelumnya, dan berasal dari kata ‘hocus’ dari ‘hocus pocus’. ‘Hocus Pocus’ itu sendiri merupakan sebuah mantra yang biasanya dilontarkan oleh para pesulap, jika di Indonesia biasanya menyerupai ‘sim salabim’. Dilengkapi kembali oleh Alexander Boese dengan bukunya yang berjudul Museum of Hoaxes dimana ia mencatat sekumpulan hoax pertama yang telah dipublikasikan pada jamannya. Mulai dari adanya penanggalan palsu yang dibuat oleh Isaac Bickerstaff atau Jonathan Swift pada tahun 1709. Pada saat itu, Jonathan Swift meramalkan tanggal kematian seorang astrolog bernama John Patridge. Dengan keyakinannya tersebut, Jonathan Swift juga menuliskan obituary palsu Patridge di hari dimana ia diramalkan meninggal. Hal ini dibuat Swift untuk mempermalukan Partridge di mata public. Tentu, hal ini menimbulkan beberapa dampak yang akhirnya merugikan orang yang bersangkutan serta public yang mempercayainya. Dari sini, kemudian mulai bermunculan hoaks-hoaks yang kembali menggemparkan public hingga mulai berkembang pada era industry ini.

Seturut dengan perkembangan jaman dan maraknya hoaks yang tertebar dimana-mana khususnya di media sosial, hoakspun dibagi menjadi 7 jenis. Pertama, ada hoaks Satir dimana konten ini dikhususkan sebagai ironi atau sarkasme kepada pihak tertentu. Pada dasarnya, hoaks satir ini sendiri merupakan suatu sindiran yang tidak membahayakan, namun pada beberapa kasus malah menjadi masalah serius karena banyaknya massa yang tertipu dan meyakini konten tersebut sebagai suatu kebenaran. Kedua, ada juga hoaks menyesatkan yang dilengkapi dengan bukti-bukti palsu dengan mencantumkan beberapa pernyataan resmi. Tujuannya memang sengaja dibuat agar para pembacanya memiliki pemikiran yang sama dengan penulis hoaks tersebut. Hoaks jenis ini merupakan jenis yang harus kita waspadai dan harus kita bedakan, karena terkadang berita yang dituliskan malah menggiring massa ke suatu kepercayaan tanpa adanya bukti akurat maupun dasar teori / pengetahuan yang jelas. Selanjutnya, ada juga hoaks yang mencantumkan bukti berupa foto atau video peristiwa yang pernah terjadi di masa lampau namun ditulis pada tahun yang berbeda dengan konteks yang tentunya berbeda. Biasanya ini terjadi karena adanya beberapa kejadian yang serupa sehingga beberapa massa menjadi tertipu. Tidak jauh berbeda, ada juga hoaks ‘salah koneksi’ dimana biasanya beberapa oknum menggunakan foto atau video dari suatu berita dan mengubah informasi yang ada sesuai dengan opini mereka. Contohnya terjadi pada salah satu temuan Turn Back Hoax di twitter dimana seseorang menggunakan video domba Beltex yang dicukur bulunya dan menyatakan hewan tersebut adalah hewan cloning yang dinamakan Khanzarof. Padahal nyatanya, hewan tersebut merupakan hewan dari Selandia Baru yang diberi suntikan otot ganda texel dari Belgia. Dilanjutkan dengan hoaks konten tiruan yang melibatkan tiruan-tiruan untuk menipu masyarakat. Biasanya ada yang mengaku sebagai gojek, grab, dan masih banyak konten tiruan lainnya. Dilanjutkan dengan hoaks yang mengandung konten manipulasi dimana beberapa oknum mengambil dan menyunting sebuah data berupa informasi, foto maupun video lalu mengubahnya dengan berita-berita palsu yang meyakinkan para warga. Terakhir, ada hoaks dengan konten palsu dimana suatu oknum sengaja membuat hoaks ini agar bisa dipercayai oleh warga. Hoaks yang satu ini termasuk jenis yang berbahaya karena cukup meresahkan dan dapat menipu warga jika tidak hati-hati loh!. Salah satunya terjadi pada suatu perusahaan Timah yang dikabarkan membuka lowongan pekerjaan, padahal nyatanya tidak.

Wah, ternyata banyak juga ya jenis-jenis hoaks yang selama ini beredar!. Tentunya, kita harus bisa lebih berhati-hati dalam menyaring informasi ya teman-teman!. Kita semua tidak mau-kan dipermainkan oleh berita-berita palsu yang menyebar!. Hal ini bisa diminimalisir dengan beberapa hal, contohnya dengan mencermati lebih lagi alamat situs yang ada. Berita hoaks biasanya berasal dari situs-situs yang tidak terpercaya, sehingga kita juga harus bisa membedakan mana situs yang terverifikasi dan yang tidak ya teman!. Kemudian kita juga bisa meminimalisasi dengan memeriksa kembali fakta yang beredar. Kebanyakan orang biasanya langsung mempercayai apa yang mereka baca, padahal dibalik itu kita tidak tahu apakah situs-situs lain juga mengatakan demikian. Jadi, sebaiknya kita periksa kembali fakta yang ada ya!, tentu akan lebih akurat jika dilengkapi dengan adanya kesaksian dan bukti-bukti resmi. Setelah itu, kita juga bisa mengecek keaslian foto dengan menggunakan sistem drag-and-drop dari Google Images. Dari sini, kita bisa melihat apakah foto tersebut benar dikhususkan untuk informasi tersebut, atau jangan-jangan merupakan foto dari informasi lain?

Sekarang kita sudah tahu jenis-jenis hoaks yang beredar di masyarakat dan beberapa cara untuk menghindarinya. Jangan ada lagi ya yang tertipu hingga ikut-ikutan menyebarkan berita hoaks! Berbahaya loh!

 

Daftar Pustaka

Liputan6 (2017, Januari 7). Darimana Asal Usul Hoax?. Liputan6.com. Diakses pada https://www.liputan6.com/news/read/2820443/darimana-asal-usul-hoax. 11 Januari 2021.

Putera, Dewa (2019, Agustus 19). Waspadai 7 Jenis Hoax di Sekitar Kita, Apa Saja?. Idntimes.com. Diakses pada https://jabar.idntimes.com/hype/viral/dewa-putu-ardita/7-jenis-hoax-ini-bertebaran-di-sekitar-kita-pintar-pintarlah-memilah-regional-jabar/7. 11 Januari 2021.

Yunita (2017, Januari 19). Ini Cara Mengatasi Berita “Hoax” di Dunia maya. Kominfo.go.id. Diakses pada https://kominfo.go.id/content/detail/8949/ini-cara-mengatasi-berita-hoax-di-dunia-maya/0/sorotan_media. 11 Januari 2021.