Disrupsi Digital. Media Mengoptimalkan Model Bisnis Baru. Kompas.19 Februari 2021. Hal.5

Disrupsi digital dan pandemi Covid-19 telah mengubah model bisnis media massa secara signifikan. Media tidak bisa lagi mengandalkan pada pendapatan iklan yang terus merosot. Meskipun begitu, era digital juga memunculkan peluang atau model bisnis baru yang bisa dioptimalkan.

Disrupsi digital membuat media massa tidak lagi menguasai hulu hingga hilir bisnis informasi ini. Media massa sebagai produsen konten hanya menguasai hulu, sedangkan hilir terutama model bisnis dan distribusi konten dikuasai platform digital global. Kemunculan sejumlah agregator media dan influencer juga turut “menarik” iklan yang semula masuk ke media.

Dalam ekosistem media yang demikian, transformasi digital tidak hanya harus dilakukan dalam cara media menyebarluaskan konten, tetapi juga dalam cara mendapatkan sumber-sumber pendapatan baru di luar iklan. “Iklan tidak lagi direct sales (penjualan langsung). Pola ini pelan-pelan berubah, kini lebih ke iklan program-matic (penggunaan perangkat lunak untuk membeli ruang  iklan). Ini yang bekerja machine to machine,” kata Suwarjono, Pemimpin Redaksi Suara.com, dalam diskusi daring yang diseleranggakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, di Jakarta, Kamis (18/2/2021).

Menurut Suwarjono, 70-80 persen media daring kini mengandalkan model bisnis ini karena lebih efisien sumber daya manusia dan menjanjikan dari sisi pendapatan. “Bisa mengunakan Google Adsense atau Google ADX. Sementara untuk (distribusi) konten berita bisa menggunakan Facebook Instant Articles, cukup taruh di halaman Facebook, mereka yang akan mengelola iklannya,” katanya.

Kunci sukses dalam kedua model bisnis tersebut pada tingginya lalu lintas (traffic) berita. Untuk ini, media harus mempunyai strategi dan mengenali karakter distributor, yaitu platform digital global, agar konten yang didistribusikan mendapatkan traffic tinggi.

Transformasi

Transformasi konten juga menjadi strategi bagi media yang menerapkan model bisnis berlangganan atau konten berbayar (subscriber). Harian Kompas yang sejak Februari 2017 menerbitkan edisi digital model berbayar melalui Kompas.id berupaya memperkaya konten yang menjadi pembeda dengan konten di media cetak.

“Kami menghadirkan konten yang lebih variative untuk Kompas.id, ficer-ficer yang lebih mendalam seperti Tutur Visual, Reportase Langsung seperti pada saat penangkapan Joko S Tjandra (terdakwa kasus Bank Bali), juga Riset,” kata Redaktur Pelaksana Harian Kompas Adi Prinantyo.

Selain itu, harian Kompas juga memproduksi liputan investigasi yang beberapa di antaranya berdampak memengaruhi kebijakan pemerintah. Hasil liputan ini dipublikasikan di platform cetak dan Kompas.id. Harian Kompas juga memproduksi liputan ekspedisi bekerja sama dengan pihak ketiga dan edisi khusus.

Dengan transformasi konten, pola kerja, dan organisasi, kata Adi, harian Kompas meyakini model berbayar mempunyai prospek bagus untuk bisnis media.

 

Sumber: Kompas, 19 Februari 2021

Deteksi Suhu dengan Sensor. Kompas. 3 Mei 2021. Hal.8

Tim peneliti dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia mengembangkan termometer otomatis dengan desain yang bisa diakses publik secara gratis. Inovasi itu bisa dikembangkan warga secara mandiri.

Pradipta Pandu

Penggunaan termometer dengan sensor otomatis untuk memeriksa suhu tubuh selama pandemi Covid-19 amat dibutuhkan di tempat-tempat tertentu. Namun, termometer itu belum digunakan secara luas karena mahal.

Hal itu mendorong peneliti dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia mengembangkan termometer otomatis dengan desain bisa diakses public secara gratis agar semua orang bisa meniru dan membuatnya secara mandiri.

Pada masa pandemi Covid-19, suhu tubuh normal jadi salah satu syarat bagi warga untuk beraktivitas di luar ruang atau saat akan memasuki area tertentu. Mayoritas pemeriksaan tubuh di tempat umum saat ini masih memakai thermometer gun (termometer tembak) atau thermometer handheld (termometer genggam) yang difungsikan operator.

Padahal, berdasarkan hasil sejumlah riset, penggunaan termometer tembak membuat penyebaran Covid-19 kian rentan. Sebab, termometer jenis ini kerap digunakan bergantian dari satu operator ke operator lain. Bahkan, tiap orang di mungkinkan saling berdekatan karena termometer ini dioperasikan operator dengan mendekatkan sensor ke arah kepala atau tangan.

Salah satu upaya mengurangi aktivitas yang membuat orang saling berdekatan saat pemeriksaan suhu tubuh yaitu memakai termometer pemindai otomatis. Termometer jenis ini digunakan di beberapa perusahaan besar dan tempat publik lain, seperti stasiun, bandar udara, dan terminal.

Namun, penggunaan termometer otomatis belum luas karena relatif mahal. Dari penelusuran di berbagai toko daring, termometer dengan sensor otomatis mayoritas dijual dengan harga di atas Rp 1 juta, beberapa kali lebih mahal dibandingkan termometer tembak yang harganya Rp 100.000-Rp 200.000.

Kondisi itu membuat pengajar dan peneliti dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI), Tomy Abuzairi dari Program Studi Teknik Elektro dan Nur Imaniati Sumantri dari Program Studi Teknik Biomedik, mengembangkan termometer dinding secara otomatis yang dinamai iThermowall.

Tomy menyampaikan, iThermowall dikembangkan karena saat awal pandemi di Indonesia terjadi kelangkaan termometer. Termometer otomatis dijual dengan harga amat tinggi. Pada hal, dari sisi desain, warga atau pihak tertentu bisa membuat termometer otomatis dengan biaya terjangkau.

Secara konsep, termometer otomatis bukan hal baru. Namun, mayoritas termometer otomatis yang tersedia saat ini didesain dalam bentuk jadi dan sudah dikomersialisasikan.

Karena ingin siapa pun bisa membuatnya sendiri, Tomy dan Nur Imaniati membuat semua modul pengembangan iThermowall dengan konsep open source atau pemberian lisensi secara terbuka dan gratis.

“Dengan kebutuhan mendesak saat itu, kami dan komunitas open source Covid-19 di dunia membuat desain yang bisa diakses publik. Ini memungkinkan semua orang mempelajari, membuat, dan memodifikasi desain termometer otomatis itu. Jadi, kami dapat berkontribusi meski termometer itu alat sederhana,” ujarnya, Sabtu (1/5/2021).

Komponen

Agar bisa dipelajari dan dibuat masyarakat, iThermowall memakai sejumlah komponen yang mudah didapat dengan harga terjangkau. Komponen itu terdiri dari unit pengendali mikro (MCU), layar organic light emitting diode (OLED), light emitting diode (LED), sensor termometer inframerah, sensor jarak inframerah, penanda suara, pengisi daya, converter step-up, dan baterai.

Pengendali mikro yang dipakai jenis Arduino Nano dengan memori flash 32 kilobyte (Kb), SRAM 2 Kb, dan EEPROM 1 Kb. Alat ini mampu membaca data dari sensor termometer inframerah dan menulisnya ke layar OLED. Sensor inframerah memakai modul GY-906 yang mudah diintergrasikan dengan Arduino Nano.

Termometer ini dilengkapi LED hijau untuk menunjukkan suhu di bawah 38 derajat celcius dan LED merah untuk suhu di atas 38 derajat celcius. Bel aktif digunakan untuk memperingatkan selama lima detik jika nilai sensor suhu lebih dari 38 derajat celcius.

Adapun iThermowall mendapat sumber energi dari dua baterai litium-ion paralel 18.650 berkapasitas 2.200 miliampere per jam (mAh) dan tegangan 3,7 volt. Hasil pengujian menunjukkan, daya baterai ini bertahan tiga hari penggunaan tanpa diisi ulang. Daya baterai bisa lebih lama tergantung dari pemakaian.

“Semua komponen itu bisa dibeli di Indonesia. Dari sisi wadahnya, kami sediakan desain bisa dicetak memakai pencetak tiga dimensi (3D). jasa pencetakan 3D saat ini banyak di toko daring,” katanya.

Termometer iThermowall dirancang agar mudah direpoduksi dengan modul mudah diakses. Siapa pun dapat mengunduh modul itu secara gratis di jurnal HardwareZ volume 9 yang terbit pada April 2021. Modul itu berisi data desain pencetak wadah 3D, pengodean firmware microcontroller, skema rangkaian, dan tutorial cara merakitnya.

Dalam jurmal itu disertakan pula laman yang jadi rujukan pembelian komponen beserta total estimasi biaya pembuatannya 35 dollar AS atau sekitar Rp 500.000. Namun, perakit dapat mengganti atau memodifikasi jenis komponen lain, seperti wadah, agar biaya yang dikeluarkan lebih murah.

Mudah diaplikasikan

Nur Imaniati Sumantri mengatakan, saat ini sejumlah pihak mencoba membuat dan menduplikasikan iThermowall sejak dipublikasikan secara open source pada akhir Desember 2020. Beberapa pihak itu meliputi antara lain organisasi nirlaba di Oakland, Amerika Serikat, dan siswa sekolah menegah kejuruan (SMK) dari Nusa Tenggara Barat.

Selain itu, pengurus Masjid Ai Marjan Cipayung, Depok, membuat iThermowall untuk memeriksa suhu tubuh jemaah shalat Isya dan Tarawih di bulan Ramadhan. Sebanyak empat iThermowall di masjid tersebut dibuat dengan bantuan dari mahasiswa FTUI.

Dekan FTUI, Hendri Budiono, menyatakan, desain iThermowall yang dikembangkan ini merupakan bagian dari komitemen FTUI dalam menciptakan inovasi yang dibutuhkan di bidang kesehatan. Ia berharap, dengan dipublikasikan secara open source, desain iThermowall bisa dipelajari dan dibuat banyak orang sehingga manfaat teknologi ini dapat tersebar secara luas ke masyarakat.

 

Sumber: Kompas, 3 Mei 2021

Deteksi Penyakit dalam Genggaman. Kompas. Senin. 1 Maret 2021. Hal. 8

Sebelum pandemi Covid-19 merebak, penyakit tidak menular sudah menjadi tantangan besar di Indonesia. Kejadian kesakitan serta kematian terus meningkat. Di samping karena gaya hidup yang tidak sehat, kesadaran untuk deteksi dini juga masih kurang

Hal itu menyebabkan risiko terjadinya komplikasi penyakit semakin tinggi. Selain kian sulit diobati, dampaknya juga bisa berimbas pada beban pembiayaan yang tinggi serta penurunan kualitas hidup.

Hasil Riset Kesehatan Dasar 2018 memperlihatkan, prevalensi penyakit tidak menular meningkat. Penyakit itu antara lain hipertensi, diabetes melitus kanker, stroke, dan gangguan ginjal kronis.

Prevalensi hipertensi naik dari 25,8 persen (2013) menjadi 34,1 persen (2018). Prevalensi diabetes juga meningkat dari 6,9 persen menjadi 8,5 persen, ginjal dari 2 persen menjadi 3,8 persen, stroke dari 7 persen menjadi 10,9 persen, dan kanker dari 1,4 persen menjadi 1,8 persen.

Kondisi itu tak terlepas dari pola hidup buruk yang juga meningkat, mulai dari merokok, konsumsi alkohol, kurang aktivitas fisik, hingga kurang konsumsi sayur dan buah. Sayangnya, kesadaran masyarakat untuk mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat masih rendah. Masyarakat baru peduli ketika telanjur sakit.

Akibatnya, beban biaya kesehatan menjadi tinggi. Pada program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat, total biaya untuk penyakit katastropik, seperti jantung, stroke, kanker, dan gagal ginjal, mencapai Rp 12,7 triliun pada Januari-September 2020. Jumlah ini dikhawatirkan akan meningkat pada tahun berikutnya. Hal itu disebabkan banyak orang menunda pengobatan karena enggan datang ke fasilitas pelayanan kesehatan pada masa pandemi. Angka kejadian penyakit tidak menular itu diperkirakan bertambah pula selama pandemi.

“Situasi saat ini membuat upaya deteksi dini penyakit tidak menular yang mudah dan praktis semakin relevan. Penggunaan aplikasi di telepon pintar bisa menjadi solusi,” ujar pengajar Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI), Hening Pujasari, Jumat (26/2/2021).

Hal itu pula yang menjadi dasar bagi Hening dan peneliti lain di FIK UI untuk mengembangkan aplikasi deteksi dini faktor risiko penyakit tidak menular. Aplikasi bernama mCARE itu mulai dikembangkan sejak 2018. Namun, uji coba lebih fokus dijalankan sejak pandemi berlangsung.

Aplikasi ini sementara baru didukung perangkat Android. Pertimbangan ini dipilih karena jumlah pengguna Android di Indonesia cukup besar. Selain itu, pemanfaatannya masih terbatas. Aplikasi mCARE baru melakukan penjajakan ke tiga posyandu di Depok, Jawa Barat, yakni Posyandu Anggrek, Posyandu Flamboyan, dan Posyandu Wijayakusuma.

Hening mengatakan, kemitraan yang dibangun dalam aplikasi ini penting agar pemantauan kondisi kesehatan masyarakat yang menjadi pengguna bisa terintegrasi secara langsung. Selama ini, banyak aplikasi deteksi dini penyakit yang dikembangkan hanya sampai pada hasil penapisan sehingga tidak ada tindak lanjut sampai tata laksana dan kebutuhan perawatan.

Mengisi formulir data

Aplikasi ini didesain dengan dua tampilan, yaitu tampilan untuk masyarakat umum dan tampilan untuk petugas kesehatan. Pada tampilan untuk masyarakat terdapat sejumlah data diri yang harus diisikan.

Data itu terdiri atas’ profil diri, seperti nama lengkap, alamat domisili, dan nomor induk kependudukan. Formulir data ini juga harus diisi dengan nama kader serta puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat. Ini diperlukan agar pemantauan kesehatan selanjutnya bisa langsung diarahkan ke aplikasi dari petugas kesehatan yang bertanggung jawab.

Setelah profil . diri, keterangan lain terkait penapisan kesehatan juga perlu dilengkapi. Data penapisan itu antara lain riwayat kesehatan; gaya hidup, seperti kebiasaan merokok, pola makan, manajemen stres, dan kebiasaan konsumsi alkohol; serta aktivitas fisik.

Keterangan ini akan menghasilkan persentase risiko terjadinya penyakit tidak menular. Semakin baik gaya hidup yang dijalankan, risiko penyakit tak menular semakin kecil. Begitu pula sebaliknya.

“Jika memang berisiko mengalami salah satu penyakit tidak menular, hasil dari pengisian data tersebut akan menunjukkan kesimpulan waspada,” kata Hening

Aplikasi juga menunjukkan seberapa besar risiko serta tindak lanjutnya. Kader kesehatan juga mendapat notifikasi sehingga bisa memantau dengan baik

Hening berharap aplikasi ini dapat lebih memberdayakan dan memudahkan masyarakat memperoleh kebutuhan pelayanan kesehatan sejak dini. Kesadaran untuk menjaga kondisi kesehatan juga bisa meningkat sehingga komplikasi penyakit yang lebih buruk bisa lebih cepat dicegah. Proses paten kini masih berlangsung. Pengajuan pendanaan dan kerja sama dengan pihak lain pun dijajaki agar aplikasi lebih disempurnakan.

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi dalam jumpa pers, 8 Februari 2021, menyampaikan, inovasi dalam pelayanan kesehatan pada masa pandemi sangat dibutuhkan. Terhentinya sejumlah pelayanan bisa menyebabkan beban penanganan penyakit tak menular makin besar.

Karena itu, deteksi dini dan pengendalian penyakit harus tetap berjalan untuk mencegah perburukan kondisi kesehatan masyarakat. Teknologi bisa membantu hal ini.

 

Sumber: Kompas, 1 Maret 2021

Cara Optimal bikin Konten di TikTok

TikTok, juga dikenal dalam bahasa china sebagai Douyin Hanzi: 抖音短视频; Pinyin: Dǒuyīn duǎnshìpín; artinya “video pendek vibrato”, tiktok merupakan  sebuah jaringan sosial dan platform video musik Tiongkok yang diluncurkan pada September 2016 oleh Zhang Yiming, pendiri Toutiao. Aplikasi tersebut membolehkan para pemakai untuk membuat video musik pendek mereka sendiri.

Kehadiran Tiktok di Indonesia memang belum terlampau lama. Meski begitu, saat ini pengaruhnya cukup masif untuk masyarakat luas.

Awal kemunculannya di Indonesia, aplikasi tersebut sempat ditolak. Rudiantara yang kala itu masih menjadi Menkominfo memutuskan untuk memblokir Tiktok di awal Juli 2018. Padahal sebulan sebelumnya, jumlah user Tiktok telah menyentuh angka 10 juta orang.

Namun hal ini tak membuat tiktok goyah dan akhirnya tiktok kini menjadi viral lagi apalagi di tengah pandemic covid 19. Belum lagi tiktok sudah membatasi pengguna nya dan lebih memperhatikan lagi batasan batasan yang ada. Di tiktok kita bisa membuat video yang menarik dan kreatif dan bisa di sebarluaskan ke seluruh negara yang mengakses tiktok.

Ada berbagai cara agar ketika kita membuat konten itu konten kita bisa di lihat banyak orang. Cara pertama kita bisa melihat jam-jam kapan saja agar kita bisa FYP. Hal ini biasanya bisa dilakukan dengan mengamati traffic TikTok yang ada. Sehingga kalian bisa mengepost video Tiktok kalian disaat dimana banyak orang yang juga sedang membuka TikTok. FYP sendiri artinya adalah For You Page dimana video yang  menarik dan menghibur akan disajikan secara sekala besar kepada pasarnya masing-masing. Misalnya konten kita adalah konten horror, maka akan disajikan kepada orang-orang yang suka menonton video horror. Cara yang kedua juga bisa melalui hastag (#). Hashtag sendiri sangat berpengaruh dengan konten seperti apa yang akan kita buat. Misalnya, membuat video viral maka menggunakan hastag #Viral dan lain sebagainya. Hal ini juga bisa memudahkan orang lain untuk mencari konten seperti apa yang mau mereka lihat. Sehingga jika penonton mau menonton tentang suatu game, mereka hanya tinggal mengetik #game dan semua konten yang mereka cari akan tersedia disana. Kemudian cara ketiga, kalian juga harus membuat konten semenarik dan menghibur sebisa mungkin agar bisa mengundang perhatian banyak orang. Bisa dibantu juga dengan lighting yang bagus agar video kalian enak dilihat, selain itu juga dengan mengetahui pasar konten kalian agar kalian tidak salah konten yah!.

TikTok sendiri pun banyak mempunyai saingan di media sosial seperti Instagram, Line, Twitter, dll. Namun hal ini tidak membuat tiktok goyah, penggunanyapun hingga kini masih bertambah banyak dan makin terkenal.

Selain itu, di tiktok juga bisa menghasilkan uang jika jumlah pengikut dan like yang kamu terima banyak loh. Kamu juga bisa mendapatkan gift dari live di tiktok. Biasanya hal ini dipergunakan oleh banyak influencer TikTok untuk menjadi pekerjaannya. TikTok sendiri sekarang sudah tersebar ke berbagai negara dan pengguna nya juga semakin bertambah sangat banyak. Bagaimana tidak, konten-konten di TikTok sangat adiktif sih!.

Daftar Pustaka

Pasha, Aufi (2020, Agustus 21). Tips jualan online di TikTok biar bisnis viral dan banjir orderan. Cermati.com. Diakses pada https://www.cermati.com/artikel/tips-jualan-online-di-tiktok-biar-bisnis-viral-dan-banjir-orderan. 20 April 2021.

Riadikemas (2020, July 29). Tips dan Trik membuat konten TikTok Biar cepat viral. Bisnisukm.com. diakses pada https://bisnisukm.com/tips-dan-trik-membuat-konten-tiktok-biar-cepat-viral.html. 20 April 2021.

Arradian, Danang (2020, Agustus 27). Upload Video Tiga Kali sehari, Cara Bikin Konten TikTok Cepat Viral. Sindonews.com. Diakses pada https://otomotif.sindonews.com/read/145876/183/upload-video-tiga-kali-sehari-cara-bikin-konten-tiktok-cepat-viral-1598515681. 20 April 2021.

Mengenang yang Telah Tiada Lewat Aplikasi MyHeritage

Produk dari perkembangan teknologi seringkali membuat kita takjub dan melongo mengenai apa yang dapat mereka lakukan. Beberapa waktu terakhir ini santer terlihat foto orang-orang terkasih kita yang telah tiada bisa ‘dihidupkan kembali’ melalui sebuah aplikasi. Bagaimana caranya? Teknologi melalui aplikasi foto sedang viral yang membuat seolah-olah orang mati bisa bangkit atau hidup kembali lewat foto yang “hidup” adalah aplikasi deepfake bernama ‘Deep Nostalgia’ dari MyHeritage. Cara kerjanya sederhana, foto lama yang diunggah ke dalam aplikasi bisa dibuat bergerak, seperti menengok, tersenyum, dan mengedipkan mata.

 

Aplikasi tersebut menjadi viral dan booming lantaran kita dapat menikmati waktu singkat untuk seolah-olah dapat bersama orang yang kita kasihi kembali meskipun mereka telah tiada, baik itu orang tua, kakek, nenek, maupun sahabat kita atau siapapun itu orang terdekat kita. Dengan irama suara musik lawas yang bisa ditambahkan, membuat wajah orang yang ingin kita kenang kembali 100% tampak hidup kembali dan seolah-olah mereka sedang memandang dan berinteraksi dengan kita. Oleh karena itu, aplikasi ini membuat gempar rakyat Indonesia, bahkan ada yang mencoba membuat TikTok untuk menunjukkan sebagaimana bahagianya nenek atau kakek mereka ketika melihat foto kekasihnya yang telah tiada bergerak. Reaksinyapun berbeda-beda, ada yang senang, terharu, ada juga yang menangis karena tak kuasa untuk melihat foto tersebut seolah-olah bergerak.

 

Teknologi deepfake ini sangatlah canggih dan terbilang unik karena cara kerja aplikasinya terbilang baru dan belum pernah ada sebelumnya. APlikasi ini menjadi solusi bagi mereka yang dilanda kerinduan untuk dapat melihat kembali orang yang mereka kasihi tersenyum. Dengan tambahan ekspresi yang dapat dilakukan oleh foto, membuat kesan foto dalam aplikasi ini sangatlah berbeda sensasinya dibandingkan apabila kita melihat foto orang terkasih kita secara langsung dalam versi yang tidak bisa bergerak.

 

Ditambah dengan lagu lawas yang ditambahkan di akhir videonya, membuat siapa saja tersihir dan kembali ke masa lalu mengenang masa-masa indah ketika masih bersama orang terkasih yang dimilikinya. Aplikasi ini sangat membantu penggunanya untuk memulihkan atau memperbaiki ingatan mengenai orang yang mereka kasihi. Adanya aplikasi ini merupakan salah satu bukti dampak positif yang bisa dibuat oleh teknologi. Tertarik untuk mencobanya?

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Setyaningsih, Suci (2021, Maret 9 ). Cara Pakai Aplikasi MyHeritage untuk Edit Foto Seolah Jadi Hidup. Tribunnews.com. diakses pada https://www.tribunnews.com/techno/2021/03/09/cara-pakai-aplikasi-myheritage-untuk-edit-foto-seolah-jadi-hidup. 18 Maret 2021.

Cahya, Cun (2021, Maret 9). Aplikasi My Heritage, Mengenang yang Terkasih Lewat Foto “Hidup. Suaramerdeka.com. diakses pada https://www.suaramerdeka.com/gayahidup/gadget-dan-elektronik/256903-aplikasi-my-heritage-mengenang-yang-terkasih-lewat-foto-hidup. 18 Maret 2021.

Rahmat, Budi (2021, Maret 7). Link Download MyHeritage dan Cara Menggunakan Aplikasi yang bikin Foto bisa Bergerak. Tribunnews.com. diakses pada https://pekanbaru.tribunnews.com/2021/03/07/link-download-myheritage-dan-cara-menggunakan-aplikasi-yang-bikin-foto-bisa-bergerak. 18 Maret 2021.

Being Personalized in Digital Era.Marketeers.Desember 2020 – Januari 2021.Hal128,129,130

Glenn Manengkel (Head of Marketing Department of AQUA Japan)

 

The marketing landscape continues to shift along with the customer behaviours changing, and encouraged by the COVID-19 pandemic. Not only presents challenging conditions. It must be admitted that the pandemic has driven various innovations and forced many companies to change, as happened in AQUA Japan.

As a home appliances company, AQUA Japan has many new strategies to face this challenging time. With its various approaches, AQUA Japan business growth to double digits by the end of 2020.

With his experience in various industries, Glenn Manengkel, Head of Marketing Department of AQUA Japan, brings fresh air to the AQUA Japan business, starting from increasingly strong brand awareness, distribution channels and strengthening its brand image. Multiple attempts were made to respond to changes in people’s consumption behaviours. Along with Muhammad Perkasa Al Hafiz from Marketeers, he explaining the key strategies that have been implemented in AQUA Japan during 2020.

Can you tell us how you started your career?

My marketing career journey started in 1997 as Regional Sales & Marketing Manager of PT Tanuri Nustama. In 2002, I worked at Bank Mandiri as an investment product marketing manager for about three years. In 2005 Commonwealth Bank became my next career place as head of marketing and communication, then joined Watsons Indonesia in 2011 and MAP Aktif Adiperkasa in 2013 as head of brand marketing communications for one year before joining AQUA Japan.

After holds several positions. Why do you choose to work in AQUA Japan? Has your previous experience helped your job at AQUA Japan?

This field is so different from my previous experience, so I want to improve my capability and skills. I am also interested, in developing the electronics or home appliances industry. It is very dynamic. That is what I get in AQUA Japan.

Otherwise, AQUA Japan chooses me as Head of Marketing Department because of my working experiences, contribution to the company, and my achievements. Furthermore, I also have an excellent ability to solve a problem and always give a great solution for the company. Besides that, I am an enthusiastic and initiative person.

Many argue that the key to a healthy organization lies in the leadership side. What does leadership mean to you?

I think leadership is a social phenomenon that is always present in social interactions. Therefore, leadership always exists in the context of the life of the wider community. A leader’s effectiveness is determined and influenced by the leader’s understanding of the meaning of leadership, both type of choice and leadership style. Simply put, a good leader must be responsible for what he does.

The world of marketing is changing as ad marketeer, what condition has been changed in your observation?

The global economy is currently undergoing an alteration. The increase of economic nationalism and digital technology will change the meaning of globalization. The global economy has decentralized in many ways. It happens because of increasing protectionism, a decade of stagnation in world trade and foreign investment growth, and the weakening of the multilateral institution roles. This condition makes business integrate rapidly through the data network, connected devices, and social media.

Certainly, AQUA Japan will adapt in terms of developing strategies to face the challenges. Here is the strategy.

First, we build up stronger brand awareness. Second, we increase the presence and the number of products to trigger sales. Third, we focus on strengthening the brand image and increase competitive strength in each category.

What do you think has changed in terms of consumer behavior?

Indonesian people have different behaviour now. They prefer to fulfil their daily needs periodically, like once a week. To support these activities, AQUA Japan brings various products with technology and innovation that suit consumers needs or today’s society. Moreover, AQUA Japan’s also continuing to improve digital-based programs because people spent more time.

Moreover, AQUA Japan also noticed that people spent more time doing communication activities on digital channels and social media while at home. So, AQUA Japan is currently continuing to make improvements for digital-based programs.

What is the pattern of consumption of household electronic in Indonesia? And what are your predictions for next year?

This year is full of challenges. COVID-19 pandemic had a significant impact on business and industry development, including in the household electronic product business. Some products such as refrigerators, freezers, and TV’s are increasing in sales during this pandemic. Consumers spend more time at home with their families and need more entertainment. And on the other hand, other categories decrease in sales but not too significant. Our prediction, storage, and entertainment will still be the main focus of AQUA Japan electronics products next year.

How big is the basket size of household consumers today? Which consumer segment is the “sexiest” today? What is their anxiety and desire for home appliance products?

Today, the “sexiest” consumer is the millennials, such as newlywed or small families with one or two children. We made our products to make them easier to carry out their daily activities. During this COVID-19 pandemic, consumers more aware of hygiene and health. From the beginning, AQUA Japan was very concerned about health problems. Our products are always equipped with technology that able to answer problems.

Currently, the customer journey is increasingly complex. Brands also need to work harder to get the attention of the target consumer. How do you see this? What does AQUA Japan Brand do to build awareness and brand equity?

This year, we try to get the attention of the target consumer using digital marketing. Using this way, we can give some information about the products and AQUA Japan’s brand. We optimize the use of social channels and website. We also provide awareness using streaming video on Facebook, YouTube, and TikTok so that millennials can reach us. We want them to be closer to this brand.

Another challenge is how to create personalized marketing materials. As we know, consumers increasingly want personalization. Have you also seen this trend?

Personalized marketing is an essential and effective strategy to get more customers nowadays. Why? It can be happened because of the growth of digital world. Consumers have been bombarded by information overload through advertisements. Meanwhile, they have a controlled desire for the product. Therefore, we also use a digital media approach to find out what information consumers want and don’t want, so they want to buy and make them come back. Here, we build our closeness between brands and consumers.

What marketing channels are currently the most effective way to reach customers and increase sales of AQUA Japan products? Do different product categories require other marketing approaches?

Changes in digital technology are accelerating. This condition also changes the pattern of public communication, including in consumer electronic products. Therefore, this year we are starting to expand by opening an official store in the marketplace. Marketing tactics are now differentiated based on existing sales channels. Products sold online require a different approach to products sold offline.

What’s the most significant target you want to achieve this year? And what about the targets for 2021?

Indonesia is an important market for an electronic brand like AQUA Japan. We predict this market can reach the growth that we set for this year, 15%. More than that, we believe it can take a larger market share of electronic products.

In 2021, we are targeting a market growth of at least 25%. We believe that we can achieve this target by continuing to upgrade our products to be enjoyed more by consumers in Indonesia.

Sumber: Marketeers, Desember 2020-Januari 2021