Being Personalized in Digital Era.Marketeers.Desember 2020 – Januari 2021.Hal128,129,130

Clubhouse: New Viral Social Media

Perkembangan media sosial di tengah era pandemi, hakekatnya semakin dipahami dan disadari sebagai sebuah hal yang esensial dalam kehidupan manusia saat ini. Clubhouse menjadi salah satu bentuk dari perkembangan teknologi media sosial yang muncul dalam kehidupan masyarakat di era pandemi kemarin. Tepatnya pada bulan Maret 2020, aplikasi media sosial yang berbasis audio-chat ini sudah dapat digunakan hanya bagi pemegang produk iPhone.

 

Apa itu Clubhouse?

Clubhouse merupakan sebuah aplikasi media sosial berbasis audio-chat, yang memungkinkan penggunanya dapat mengobrol, berdiskusi, dan berinteraksi dengan orang lain mengenai berbagai topik yang tersedia. Secara sederhana aplikasi ini berbentuk seperti sebuah forum podcast tapi live, sehingga menjadi lebih interaktif bagi pengguna aplikasi, karena mereka dapat bersahut-sahutan dalam forum yang sedang berlangsung tersebut.

Adapun sifat dari aplikasi media sosial ini dirancang sebagai media yang eksklusif dimana peserta dalam ruang obrolan hanya dikhususkan bagi mereka yang menerima undangan dari pembuat ruang obrolan tersebut. Ruang obrolan atau conversation room ini sendiri berbentuk seperti conference call. Dimana, terdapat orang yang bicara dan mendengarkan. Apabila obrolan telah selesai, ruang obrolan akan ditutup.

 

Asal Usul Clubhouse

Clubhouse didirikan oleh seorang entrepreneur dari Silicon Valley, bernama Paul Davison yang bekerja bersama mantan dari pegawai Google bernama, Rohan Seth. Menurut PC Mag, aplikasi media sosial ini sendiri meluncur pada bulan Maret 2020, ketika masa pandemi COVID-19 baru mulai melanda benua Amerika. Adapun perusahaan yang berperan di balik perintisan media sosial Clubhouse ini adalah Alpha Exploration Co. Pertumbuhan usahanya mulai terlihat sejak media sosial Clubhouse ini mendapat suntikan dana investasi sebesar USD 12 juta dari perushaan Andreessen Horowitz, pada bulan Mei 2020 silam, dengan total penggunannya saat itu baru mencapai sebanyak 1.500 orang.

Kepopuleran Clubhouse sendiri muncul di tengah dunia, pada awal tahun 2021 akibat promosi yang dilakukan oleh Elon Musk, founder dan CEO dari perusahaan otomotif Tesla, yang juga merupakan pengguna dari aplikasi media sosial baru tersebut. Hingga 1 Februari 2021, media sosial Clubhouse mencatatkan angka pengguna aplikasinya sebesar 2 juta pengguna, dengan nilai valuasi Clubhouse saat ini berkisar USD 1 miliar, sehingga hal ini sudah berhasil menggolongkan perusahaan Clubhaouse sebagai salah satu pemain tingkat unicorn di lingkungan pasar usaha global saat ini.

 

How it Works?

Aplikasi Clubhouse secara sederhana memberikan layanan tempat virtual bagi penggunanya untuk bisa mengadakan obrolan, mendengarkan serta sekaligus ikut berinteraksi dalam obrolan tersebut bersama komunitas pengguna Clubhouse lainnya. Melalui penggunaan aplikasi Clubhouse ini maka pengguna akan ditawarkan pada berbagai jenis ruang obrolan yang memiliki berbagai topik menarik yang berbeda beserta keterangan dari pengguna dalam ruang obrolan tersebut.

Partisipasi pengguna ke dalam ruang obrolan dapat melalui keikutsertaanya untuk bergabung dalam ruang obrolan yang sudah ada ataupun membuatnya sendiri. Adapun tiap ruang obrolan memiliki moderator yang berperan sebagai pengatur aktivitas interaksi pendengar yang ingin ikut berbicara dalam forum ruang obrolan tersebut, pembicara yang berperan sebagai pemberi materi dari topik pembahasan dalam ruang obrolan serta pendengar yang memiliki peran untuk mengikuti sesi dari ruang obrolan yang telah dibuat.

Sifatnya yang eksklusif dari media sosial Clubhouse yang hanya dapat digunakan oleh pengguna provider iPhone ini, disinyalir akan terus dikembangkang hingga dapat digunakan secara global khususnya dalam perangkat smartphone berbasis Android (OS).

 

Enam Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Pengolahan Pangan Beku. timesindonesia.co.id. 4 Februari 2021

https://www.timesindonesia.co.id/read/news/325609/enam-kesalahan-yang-sering-dilakukan-saat-pengolahan-pangan-beku-

Memilih Lokasi Budidaya Kopi Paling Enak di Indonesia. Kontan. 30 Januari 2021.Hal.8

Sungguh Meresahkan! Sampai Kapan Mau Dibohongi Berita Palsu?

Maraknya penyebaran informasi yang diiringi dengan kurangnya literasi digital membuat banyaknya hoaks atau berita palsu yang semakin merajalela. Banyaknya hoaks yang tersebar pada era ini kerap kali menimbulkan keresahan public, lantas kalau kita lihat kembali sebenarnya bagaimana sih asal mula tercipta adanya hoaks?

Dalam buku berjudul Sins Against Science yang ditulis oleh Lynda Walsh, beliau mengulas mengenai sejarah terjadinya hoax atau kabar bohong yang diperkirakan terjadi pada tahun 1808, pada era industry. Kata-kata hoax itu sendiri diyakini telah ada dari ratusan tahun sebelumnya, dan berasal dari kata ‘hocus’ dari ‘hocus pocus’. ‘Hocus Pocus’ itu sendiri merupakan sebuah mantra yang biasanya dilontarkan oleh para pesulap, jika di Indonesia biasanya menyerupai ‘sim salabim’. Dilengkapi kembali oleh Alexander Boese dengan bukunya yang berjudul Museum of Hoaxes dimana ia mencatat sekumpulan hoax pertama yang telah dipublikasikan pada jamannya. Mulai dari adanya penanggalan palsu yang dibuat oleh Isaac Bickerstaff atau Jonathan Swift pada tahun 1709. Pada saat itu, Jonathan Swift meramalkan tanggal kematian seorang astrolog bernama John Patridge. Dengan keyakinannya tersebut, Jonathan Swift juga menuliskan obituary palsu Patridge di hari dimana ia diramalkan meninggal. Hal ini dibuat Swift untuk mempermalukan Partridge di mata public. Tentu, hal ini menimbulkan beberapa dampak yang akhirnya merugikan orang yang bersangkutan serta public yang mempercayainya. Dari sini, kemudian mulai bermunculan hoaks-hoaks yang kembali menggemparkan public hingga mulai berkembang pada era industry ini.

Seturut dengan perkembangan jaman dan maraknya hoaks yang tertebar dimana-mana khususnya di media sosial, hoakspun dibagi menjadi 7 jenis. Pertama, ada hoaks Satir dimana konten ini dikhususkan sebagai ironi atau sarkasme kepada pihak tertentu. Pada dasarnya, hoaks satir ini sendiri merupakan suatu sindiran yang tidak membahayakan, namun pada beberapa kasus malah menjadi masalah serius karena banyaknya massa yang tertipu dan meyakini konten tersebut sebagai suatu kebenaran. Kedua, ada juga hoaks menyesatkan yang dilengkapi dengan bukti-bukti palsu dengan mencantumkan beberapa pernyataan resmi. Tujuannya memang sengaja dibuat agar para pembacanya memiliki pemikiran yang sama dengan penulis hoaks tersebut. Hoaks jenis ini merupakan jenis yang harus kita waspadai dan harus kita bedakan, karena terkadang berita yang dituliskan malah menggiring massa ke suatu kepercayaan tanpa adanya bukti akurat maupun dasar teori / pengetahuan yang jelas. Selanjutnya, ada juga hoaks yang mencantumkan bukti berupa foto atau video peristiwa yang pernah terjadi di masa lampau namun ditulis pada tahun yang berbeda dengan konteks yang tentunya berbeda. Biasanya ini terjadi karena adanya beberapa kejadian yang serupa sehingga beberapa massa menjadi tertipu. Tidak jauh berbeda, ada juga hoaks ‘salah koneksi’ dimana biasanya beberapa oknum menggunakan foto atau video dari suatu berita dan mengubah informasi yang ada sesuai dengan opini mereka. Contohnya terjadi pada salah satu temuan Turn Back Hoax di twitter dimana seseorang menggunakan video domba Beltex yang dicukur bulunya dan menyatakan hewan tersebut adalah hewan cloning yang dinamakan Khanzarof. Padahal nyatanya, hewan tersebut merupakan hewan dari Selandia Baru yang diberi suntikan otot ganda texel dari Belgia. Dilanjutkan dengan hoaks konten tiruan yang melibatkan tiruan-tiruan untuk menipu masyarakat. Biasanya ada yang mengaku sebagai gojek, grab, dan masih banyak konten tiruan lainnya. Dilanjutkan dengan hoaks yang mengandung konten manipulasi dimana beberapa oknum mengambil dan menyunting sebuah data berupa informasi, foto maupun video lalu mengubahnya dengan berita-berita palsu yang meyakinkan para warga. Terakhir, ada hoaks dengan konten palsu dimana suatu oknum sengaja membuat hoaks ini agar bisa dipercayai oleh warga. Hoaks yang satu ini termasuk jenis yang berbahaya karena cukup meresahkan dan dapat menipu warga jika tidak hati-hati loh!. Salah satunya terjadi pada suatu perusahaan Timah yang dikabarkan membuka lowongan pekerjaan, padahal nyatanya tidak.

Wah, ternyata banyak juga ya jenis-jenis hoaks yang selama ini beredar!. Tentunya, kita harus bisa lebih berhati-hati dalam menyaring informasi ya teman-teman!. Kita semua tidak mau-kan dipermainkan oleh berita-berita palsu yang menyebar!. Hal ini bisa diminimalisir dengan beberapa hal, contohnya dengan mencermati lebih lagi alamat situs yang ada. Berita hoaks biasanya berasal dari situs-situs yang tidak terpercaya, sehingga kita juga harus bisa membedakan mana situs yang terverifikasi dan yang tidak ya teman!. Kemudian kita juga bisa meminimalisasi dengan memeriksa kembali fakta yang beredar. Kebanyakan orang biasanya langsung mempercayai apa yang mereka baca, padahal dibalik itu kita tidak tahu apakah situs-situs lain juga mengatakan demikian. Jadi, sebaiknya kita periksa kembali fakta yang ada ya!, tentu akan lebih akurat jika dilengkapi dengan adanya kesaksian dan bukti-bukti resmi. Setelah itu, kita juga bisa mengecek keaslian foto dengan menggunakan sistem drag-and-drop dari Google Images. Dari sini, kita bisa melihat apakah foto tersebut benar dikhususkan untuk informasi tersebut, atau jangan-jangan merupakan foto dari informasi lain?

Sekarang kita sudah tahu jenis-jenis hoaks yang beredar di masyarakat dan beberapa cara untuk menghindarinya. Jangan ada lagi ya yang tertipu hingga ikut-ikutan menyebarkan berita hoaks! Berbahaya loh!

 

Daftar Pustaka

Liputan6 (2017, Januari 7). Darimana Asal Usul Hoax?. Liputan6.com. Diakses pada https://www.liputan6.com/news/read/2820443/darimana-asal-usul-hoax. 11 Januari 2021.

Putera, Dewa (2019, Agustus 19). Waspadai 7 Jenis Hoax di Sekitar Kita, Apa Saja?. Idntimes.com. Diakses pada https://jabar.idntimes.com/hype/viral/dewa-putu-ardita/7-jenis-hoax-ini-bertebaran-di-sekitar-kita-pintar-pintarlah-memilah-regional-jabar/7. 11 Januari 2021.

Yunita (2017, Januari 19). Ini Cara Mengatasi Berita “Hoax” di Dunia maya. Kominfo.go.id. Diakses pada https://kominfo.go.id/content/detail/8949/ini-cara-mengatasi-berita-hoax-di-dunia-maya/0/sorotan_media. 11 Januari 2021.