Produktivitas Pertanian Kita. Kontan Mingguan 16 Agustus 2021. Hal. 23

Oleh F Rahardi, Pengamat Agribisnis

Dalam acara Pembukaan Pelatihan Petani dan Penyuluh Pertanian secara daring, yang diselenggarakan Kementerian Pertanian pada 6 Agustus 2021; Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak kita semua “Membuat generasi muda lebih berminat menjadi petani”. (Kompas.com 06/08/2021). “Sebab dari total petani Indonesia, sebanyak 71 persen berusia 45 tahun ke atas. Sedangkan yang di bawah 45 tahun sebanyak 29 persen,” kata Presiden.

Sebenarnya, presiden tak perlu risau. Penurunan minat generasi muda untuk menjadi petani, justru sesuatu yang sehat. Pertama, karena pilihan lapangan kerja semakin banyak. Kedua, mekanisasi akan menurunkan kebutuhan tenaga kerja di sektor pertanian.

Di banyak negara maju, populasi petani menyusut, tetapi dibarengi tingkat produktivitas yang semakin tinggi. Jadi parameternya bukan populasi dan usia petani, melainkan tingkat produktivitas.

Di Australia misalnya, yang berminat menjadi petani, mayoritas justru para pensiunan profesi lain: tentara, dokter, pengacara, mekanik dll. Petani di Australia tidak identik dengan mencangkul dan menanam, tapi fokus pada mengelola usaha pertanian. Misalnya pensiunan tentara yang ingin jadi petani, akan menghubungi kantor asosiasi petani.

Oleh asosiasi, si pensiunan itu akan ditanya dua hal: 1 Mau jadi petani komoditas apa? 2 Apakah sudah punya lahan dan modal? Kalau jawabnya belum, si pensiunan itu akan diberi pilihan lebih lanjut. Bisa petani pangan, sayuran atau buah-buahan.

Kalau ia pilih komoditas jeruk, padahal belum punya modal dan lahan, si pensiunan akan dihubungkan dengan Asosiasi Pe tani Jeruk. Oleh asosiasi, si pensiunan di minta jadi anggota, sekaligus anggota Koperasi Petani Jeruk. Kemudian dia diberi akses untuk mendapat lahan (sewa); akses kredit bank; akses ke perusahaan land clearing, pembenih/penanam, pemupukan, pengendalian hama/penyakit dan perusahaan pemanen/pemasaran.

Praktis petani jeruk yang rata-rata mengelola lahan puluhan hektare, hanya berperan sebagai “penunggu kebun”. Karena semua pekerjaan ditangani oleh tenaga outsourching yang profesional. Jadi, petani Australia justru didominasi oleh para lansia. Mereka tidak perlu mengendarai traktor, apalagi mencang kul. Saat tanaman rimbun dan perlu dipangkas, petani lansia itu menghubungi perusahaan pemangkasan. Hari itu juga datang orang untuk melihat dan mencatat, lalu dijadwalkan hari, tanggal, jam, jumlah tenaga, alat yang digunakan dan perkiraan lama pemangkasan.

Masalah serius

Tahun 1960, populasi penduduk Indonesia 87,75 juta. Jumlah petani 61,4 juta (70% dari populasi). Produksi beras nasional 8 juta ton. Produktivitas per petani 130,2 kilogram beras per tahun. Tahun 2020, penduduk Indonesia 270,2 juta. Jumlah petani tinggal 33,4 juta (12,3% dari populasi). Produksi beras nasional 31,33 juta ton. Produktivitas per petani 938 kilogram beras per tahun. Produktivitas petani kita pada tahun 2021, 7,2 kali dibanding petani kita tahun 1960. Jadi meski jumlah petani tinggal 33,4 juta jiwa, dan kata presiden yang 71% berusia di atas 45 tahun; tidak ada masalah. Sebab produksi beras terus naik. Padahal pencetakan sawah baru sangat terbatas, dan lahan sawah di Jawa banyak diubah menjadi jalan dan bangunan.

Tahun 1960, andalan minyak nabati Indonesia masih berasal dari kelapa (kopra). Sejak dekade 1980, kopra mulai tergeser oleh sawit. Rata-rata produktivitas kelapa per hektar per tahun 2,5 ton minyak nabati. Rata-rata produktivitas sawit 5,5 ton minyak sawit mentah (crude palm oil, CPO), per hektar per tahun; dua kali lipat lebih dari kelapa. Tahun 2019, produksi minyak sawit mentah Indonesia sebesar 24,5 juta ton, tertinggi di dunia. Maka, komoditas ini selalu diserang oleh negara-negara penghasil minyak nabati lain, terutama bunga matahari, kacang tanah dan kedelai; dengan produktivitas rata-rata di bawah 0,5 ton minyak nabati per hektar per tahun.

Sebagian besar CPO andalan Indonesia diproduksi BUMN dan perusahaan swasta be sar. Tetapi yang menanam, merawat, dan me manen tandan buah sawit tetap tenaga buruh tani, atau petani plasma.

Angka 33,4 juta jiwa petani Indonesia tahun 2020, termasuk buruh tani yang bekerja di perkebunan kelapa sawit, yang pada tahun 1960 belum ada. Tahun 2020, Indonesia tidak hanya menghasilkan beras dan minyak sawit, tetapi juga komoditas lain. Komoditas perkebunan warisan Belanda seperti karet, kopi, kakao, teh, tembakau; masih dibudidayakan BUMN kita PT Perkebunan Nusantara, perusahaan swasta, dan juga para petani.

Tahun 1960, produk si singkong Indonesia belum tercatat FAO. Catatan paling awal Foto/F.Rahardi tahun 1961, dengan produksi 11,1 juta ton. Tahun 2019, produksi singkong nasional 14,5 juta ton. Kenaikan produksi singkong selama 42 tahun hanya 3,4 juta ton (30,6%); atau rata-rata 0,72% per tahun. Jadi dekade 2010, Indonesia terpaksa mengimpor tapioka dari Thailand rata-rata sebesar 500.000 ton/ tahun.

Angka ini masih relatif kecil dibanding impor gula tebu kita yang rata-rata lebih dari 4 juta ton per tahun. Padahal zaman Belanda kita penghasil gula tebu utama dunia. Defisit gula tebu juga jadi fokus presiden, hingga pemilik modal diminta investasi komoditas ini.

Sebenarnya ada masalah pertanian yang cukup serius di Indonesia. Kita terlalu mengandalkan beras dan gandum sebagai sumber karbohidrat pangan nasional. Karena gandum tumbuhan sub tropis, hampir tidak mungkin dibudidayakan di sini dengan hasil optimum. Akibatnya impor gandum kita 2019 sebesar 10,6 juta ton dengan nilai 2,7 juta dollar AS (Rp. 39,1 triliun). Kita tak mungkin stop impor gandum, sebab mi instan sudah jadi alternatif pangan murah. Tetapi kita perlu menggiatkan produksi serealia selain padi dan jagung; serta umbi-umbian termasuk singkong. Itu tak masalah dilakukan petani tua atau muda.

 

Sumber: Kontan Mingguan 16 Agustus 2021. Hal. 23

Take Action and Save the Earth. Jawa Pos Digital.12 Agustus 2021.Hal. 18

LIMBAH plastik merupakan salah satu faktor penyebab kerusakan lingkungan. Sebab, plastik membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dapat terurai. Hal itulah yang membuat salah seorang anak muda Indonesia berinisiatif menyediakan alternatif guna mengurangi polusi plastik yang ada.

“Aku memulai semua ini karena kesadaranku terhadap polusi lingkungan, terutama polusi plastik. Jadi, awalnya aku berpikir bagaimana cara meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia dengan produk yang unik dan menarik,” ungkap David Christian, founder Evo & Co. Ide itu dituangkannya dalam produk pertama Evoware berupa gelas berbahan baku rumput laut yang bisa dimakan.

Evoware merupakan salah satu brand dengan visi besar untuk menciptakan dunia tanpa polusi plastik. “Kami fokus menyediakan pengganti plastik dengan rumput laut di Evoware. Sementara itu, di Evoworld, kami menyediakan alternatif pengganti plastik sekali pakai dengan bahan baku alami seperti kantong dari singkong, kotak makanan dari ampas tebu dan pelepah pisang, serta sedotan berbahan baku beras” jelasnya.

Melalui Evo & Co, David juga aktif melakukan kampanye edukatif dengan melakukan gerakan kolaboratif bersama Parongpong Recycle and Waste yang bernama Rethink Campaign. Gerakan itu mengumpulkan sampah puntung rokok dan mendaur ulang menjadi produk bernilai tinggi seperti pot bunga dan ubin.

“Kami juga memberikan edukasi pengganti plastik kepada warung kecil dengan menyubsidi sedotan ramah lingkungan. Kampanye Warung Lestari ini memiliki target mencapai 5.000 warung di seluruh Indonesia untuk mengurangi penggunaan plastik,” tambahnya.

Perjalanan David hingga berada di titik ini tentu nggak mudah. Banyak ups and down yang dialaminya, terutama karena Evo & Co. merupakan bisnis pertama David. “Aku harus belajar banyak hal sendiri dari nol, beruntung aku punya tim yang suportif. Kami pun berhasil melewati masa tersulit pada 2020. Hingga, tahun 2021 menjadi tahun terbaik kami. Yang penting adalah terus mengasah diri agar bisa beradaptasi menyelesaikan masalah dan berinovasi tanpa henti. Akan selalu ada jalan ketika kita tidak menyerah,” tutur sosok inspiratif asal Jakarta itu.

Kerja kerasnya membuahkan hasil dengan memenangkan beberapa kompetisiinternasional dari Inggris, Singapura, dan Korea. Penghargaan yang baru saja diterimanya adalah pemenang wirausaha muda mandiri di bidang usaha kreatif kategori business existing serta Forbes 30 under 30 Indonesia dan Asia 2020. David juga kerap kali diundang ke berbagai negara, termasuk kantor pusat PBB di New York.

David pun berharap bisa menginspirasi anak muda lainnya untuk terus berkarya.  “Kejarlah mimpimu! Berani untuk ambil kesempatan karena idea without action is nothing. Aku berharap teman teman bisa menemukan alasan kuat kenapa kalian melakukan hal yang kalian lakukan. Pastinya, pantang menyerah untuk mencapai goal kalian!” pesan David. Be brave to take action! (elv/c12/lai)

 

Sumber: Jawa Pos Digital.12 Agustus 2021.Hal. 18

Pare Hutan yang Mahal. Kontan Mingguan. 09 Agustus 2021. Hal. 23

Oleh F. Rahardi, Pengamat Agribisnis

Peria hutan, pare alas, balsam apple, Momordica balsamina, berukuran sangat kecil, panjang 3 sentimeter, diameter 1,5 sentimeter. Meski disebut peria hutan, sebenarnya justru tumbuh liar di kawasan pemukiman, dan kota besar termasuk Jakarta.

Peria hutan berasal dari Afrika Tropis. Tak diketahui dengan pasti kapan menyebar ke Asia Tropis. Menyebar ke Australia dan Amerika Tropis setelah abad 16.

Sekarang jadi gulma yang sangat invasif. Penyebaran yang sangat cepat disebabkan burung sangat menyukai buah/bijinya. Buah peria hutan yang berwarna hijau itu akan berubah jadi kuning lalu pecah dan merekah dengan bijinya dilapisi daging buah warna merah. Burung yang memakan bijinya akan menyebarkan spesies ini ke mana-mana. Hanya sebagian kecil masyarakat yang tahu bahwa daun dan buah peria hutan edible.

Daun dan buah peria hutan malah tidak pahit seperti peria biasa, pare ayam, pare pahit, bitter gourd, Momordica charantia; yang dibudidayakan secara luas sebagai sayuran. Peria pahit juga berasal dari Afrika dan sudah menyebar ke seluruh dunia.

Peria biasa yang saat ini dijual di pasar, sudah merupakan kultivar yang tidak pahit. Dulu yang dibudidayakan memang kultivar pahit dengan permukaan kulit kasar. Sekarang yang diminati konsumen peria dengan kulit lebih halus, dengan wama lebih terang. Meski yang dibudidayakan kultivar tidak pahit, masyarakat tetap saja menyebutnya peria pahit.

Selain peria hutan dan peria biasa; ada lagi peria belut, pare welut, snake gourd, Trichosanthes cucumerina. Disebut peria belut karena bentuknya memanjang. Sebenarnya nama Inggris snake gourd lebih tepat, sebab ukuran dan terutama warna kulitnya lebih mirip ular dibanding belut.

Beda dengan peria hutan dan peria pahit yang berasal dari Af rika, peria belut asli Asia Selatan dan Tenggara; termasuk Indo nesia. Sekarang di pasar lebih banyak dijual peria biasa, bukan peria belut. Dekade 1960. yang lebih banyak dibudidayakan peria belut, karena ukuran buahnya yang lebih besar, dan rasanya yang tidak pahit.

Peria hutan, pahit dan belut; merupakan suku labu-labuan, Cucurbitaceae. Tiga jenis peria ini dideskripsi dan diberi nama oleh Carl Linnaeus, pada tahun 1753.

Genus Momordica beranggotakan 36 spesies, termasuk gac, Momordica cochinchinensis. Sedangkan genus Trichosanthes beranggotakan 38 spesies, termasuk timun krai, Trichosanthes dioica. Tiga jenis peria ini merambat. Biasanya petani membudidayakan peria pahit dan peria belut dengan para-para, hingga buahnya menggantung. Peria hutan hampir tak pernah dibudidayakan dan dianggap sebagai tumbuhan pengganggu (gulma).

Arus balik

Di pasar tradisional, harga peria pahit hanya Rp 3.000 per kilogram. Di marketplace, peria pahit dibanderol Rp 10.000 Rp 25.000 per kilogram belum termasuk biaya kirim.

Peria belut jarang tampak di pasaran, karena konsumen lebih suka peria pahit. Kalau pun ada, harganya relatif sama dengan peria pahit. Peria hutan tak pernah dijual di pasar, ka rena tak ada yang membudidayakannya. Kalau pun ada yang ingin memasak daun atau buahnya, tinggal ambil dari lahan-lahan kosong yang ditumbuhi peria hutan. Terlebih belum banyak anggota masyarakat yang tahu peria hutan. Peria belut yang pernah populer pun, sekarang makin tak dikenal.

 

Belakangan daun dan buah peria hutan dijual di Toped, Bukalapak dan Shopee. Daun peria hutan ditawarkan Rp 20.000 per kilogram belum termasuk ongkir. Ini masih termasuk murah, sebab satu kilogram daun peria itu sangat banyak. Buah peria hutan ditawarkan. Rp 20.000 per 100 gram. Berarti satu kilogram buah peria hutan, dihargai Rp 200.000. Ini sama dengan harga buah ciplukan, cecendet, golden berry, Physalis peruviana; yang empat tahun silam berharga Rp 200.000 per kilogram. Sekarang ciplukan sudah turun jadi Rp 50.000 – Rp 100.000 per kilogram, karena sudah banyak yang membudidayakannya.

Konsumen peria hutan, sekarang bukan masyarakat lapis bawah di pedesaan; melainkan generasi milenial di kota, yang terbiasa belanja online.

Sekarang sayuran dan lalap yang aneh-aneh; yang di desa sudah dilupakan; justru dengan mudah didapatkan lewat marketplace; dengan konsumen generasi muda strata menengah yang relatif terdidik. Misalnya sembukan, Paederia foetida; reundeu, Staurogyne elongata; putat, Planchonia valida. Lima tahun yang lalu, mencari daun sembukan masih sangat sulit, meskipun tumbuhan ini juga sangat invasif dan menjadi gulma di banyak negara.

Tampaknya, tanpa ada yang memberi komando; sekarang ter jadi semacam arus balik. Sayuran modern produk agroindustri massal menyerbu kawasan pedesaan; menggerus sayuran konvensional yang sebagian besar berupa gulma. Kemudian ada arus balik yang memberikan perlawanan. Sayuran tradisional yang dilupakan di pedesaan, menarik perhatian masyarakat perkotaan yang relatif makmur dan terdidik. Awalnya, fenomena ini dimulai dari mereka yang sekedar ingin bernostalgia, makan peria hutan seperti “zaman susah” dulu. Ternyata komoditas -komoditas jadul ini juga menarik perhatian generasi muda.

Fenomena ini juga merupakan jawaban dari keinginan untuk back to nature; takut terhadap cemaran pupuk dan pestisida kimia; serta tuntutan untuk hidup sehat.

Pandemi yang sudah berlangsung satu tahun lima bulan; juga ikut mempercepat fenomena ini. Kelas menengah perkotaan yang stress berat akibat pandemi; berupaya untuk menyehatkan diri dengan menu-menu jadul. Upaya ini mereka yakini bisa meningkatkan imunitas. Ditambah model pemasaran online yang memudahkan siapa pun untuk menjual dan mendapatkan sayuran aneh-aneh, yang di desa-desa sudah lama dilupakan.

 

Sumber: Kontan Mingguan. 09 Agustus 2021. Hal. 23

Kuncinya Wajib Bantu saat Penyerbukan. Jawa Pos 8 Agustus 2021. Hal. 15

Di tanah air, zucchini masih tergolong sayur eksotis. Harganya tinggi, stoknya pun tak selalu ada di pasaran. Padahal, kerabat mentimun itu bisa ditanam di halaman sendiri. Perawatannya relatif mudah. Namun, dibutuhkan kecermatan pekebun agar panen memuaskan.

YOSIE Natalia mengenal zucchini kali pertama dari salah satu episode kompetisi MasterChef. Saat itu yang diolah adalah buah dan bunga tanaman dari keluarga Cucurbitaceae tersebut. “Karena penasaran, saya ke supermarket. Harganya termasuk mahal, enggak seperti timun. Selain itu, enggak ada yang menjual bunganya,” ungkapnya. Yosie pun memutuskan menanam sendiri zucchini di rumahnya.

Perempuan yang tinggal di Salatiga itu menjelaskan, zucchini tergolong tanaman yang lekas tumbuh. Dia menceritakan, tanaman pertamanya berupa bibit semai. “Satu bulanan dirawat, sudah berbunga,” ungkapnya. Yosie menyatakan, syarat tumbuhnya pun tak berbeda jauh dari tanaman sayur lainnya. Media tanamnya harus gembur dan porous. Karena ditanam di rumah, dia menggunakan planter bag atau polybag. “Butuh wadah besar karena tipe akar zucchini ini memenuhi tempat tumbuhnya,” imbuh pekebun yang rajin berbagi tips di akun Instagram kebunlio itu.

Karena untuk konsumsi sendiri, Yosie menerapkan sistem kebun organik. Tidak ada pestisida atau pupuk kimia. Untuk tambahan nutrisi, dia lebih memilih memakai air cucian beras dan air dari komposter. “Di media tanamnya, juga bisa ditambah pupuk kandang atau kompos,” lanjutnya. Pemilik usaha sirup jahe merah itu menilai, zucchini organik memiliki masa simpan yang lebih lama dan rasa yang lebih baik ketimbang yang dirawat dengan bahan sintesis.

Dia menilai, tantangan merawat zucchini muncul di masa berbunga. Memang, di satu pohon zucchini, ada bunga jantan dan betina. Namun, penyerbukannya tetap membutuhkan bantuan serangga atau manusia. “Kalau enggak terjadi polinasi (penyerbukan), memang akan jadi buah. Tapi, enggak sebesar yang polinasinya berhasil,” ungkap Yosie. Dia pun mengakalinya dengan polinasi buatan.

Yosie menyatakan, masa berbunga zucchini singkat. “Bunganya hanya mekar sehari dan saat pagi. Biasanya, dari sekitar subuh sampai pukul 08.00,” paparnya. Pada saat itulah, polinasi dilakukan. Serbuk sari dari bunga jantan disapukan ke bunga betina. Setelah polinasi selesai, proses berbuah perlu didukung nutrisi tanah maupun dari pupuk alami. Pekebun baiknya tak “menjadikan” semua buah.

“Saran saya, di satu pohon, pertahankan satu buah saja yang paling bagus,” lanjutnya. Yosie menjelaskan, zucchini bisa dipanen jika buahnya telah mencapai ukuran 15-20 cm. Di ukuran ter but, buah ada di kondisi yang paig baik dan ideal untuk dikonsumsi. Namun, untuk zucchini yang akan 6 “dipanen” bijinya untuk disemai, baiknya buah dibiarkan hingga mencapai ukuran maksimal. “Kalau sudah tua banget, biasanya baru akan muncul biji keras. Mirip labu. Tapi, itu pun tak banyak, hanya 1-2 per satu buah,” imbuhnya.

Menurut Yosie, zucchini memiliki rasa yang cukup beda dengan mentimun. Teksturnya lebih padat, nyaris tanpa biji, dan berwarna putih susu. Ia pun mudah diolah. “Bunga dan buahnya bisa digoreng tempura. Untuk yang sedang diet, biasanya buahnya dipakai untuk pengganti pasta atau noodle,” paparnya. Siap bertanam zucchini di rumah? (fam/c12/ai)

Yuk, Menjajal Bertanam Zucchini!

MEDIA TANAM

Gunakan campuran tanah kebun, kompos, dan sekam bakar dengan perbandingan 1:1:1.

KEBUTUHAN SINAR MATAHARI

Zucchini tahan terhadap matahari. Dengan catatan, suhu tidak terlalu tinggi. Berikan pemberian transparan jika perlu.

PENYIRAMAN

Cukup siram zucchini satu hari sekali di media tanamnya. Namun, sesuaikan juga dengan kondisi tempat tumbuh.

PERAWATAN

Jika tanaman mulai tinggi, beri tongkat penyangga. Berikan pupuk organik atau alami seminggu sekali. Kekurangan nutrisi bisa mengakibatkan tanaman sulit berbunga.

TIPS

  • Agar mendapatkan hasil maksimal dan mempermudah perawatan, tanam zucchini pada musim kemarau.
  • Di kelembapan tinggi atau musim hujan, daun akan rentan terkena embun tepung. Bila kadung terinfeksi, potong daun agar tidak menulari lainnya.
  • Jika buah tumbuh dekat tanah, pastikan bagian bawah buah diberi alas. Sebab, permukaan buah yang terkena tanah rentan busuk.
  • Buah bisa diberongsong jika di daerah tempat tumbuh banyak lalat buah atau serangga yang memangsa buah.

YANG HARUS DIPERHATIKAN KETIKA SEMAI

Bagi yang mulai menanam dari biji, berikut tips dari Yosie!

  • Ketika menanam, tancapkan bagian runcing biji ke tanah.
  • Benamkan hingga tiga perempat biji.
  • Selama disemai, penyiraman bisa dilakukan saat pagi dan sore.
  • Siram secukupnya, jangan sampai menggenang. pilihan semaian di tempat yang hangat dan terkena matahari pagi.
  • Pindahkan semaian ketika dua daun sejati mulai tumbuh. Pilih planter bag atau polybag berdiameter 45 cm.
  • Biji mulai muncul tunas (sprouting) pada hari ke-4 sampai ke-10. Sementara itu, tumbuh daun sejati pada hari ke-40 pasca disemai.

 

Sumber: Jawa Pos 8 Agustus 2021. Hal. 15