Nabila Ishma Nurhabibah.Sahabat Pelajar Bermasalah.Kompas.13 Maret 2021.Hal.16

Musdah dan Saimun. Penjaga Nyala dari Narmada. Kompas. 15 Maret 2021. Hal.16

Muhammad Ali. Pemetik Kata dari Teluk Keriting. Kompas. 13 Maret 2021. Hal.16

Budi Ayin. Limbah Bersuara Indah. Kompas.1 Maret 2021. Hal.16

Budi Ayin (51) hanya seorang buruh proyek yang memanfaatkan waktu luang untuk membuat alat musik dari bahan limbah. Puluhan instrumen telah dihasilkan, salah satunya menjadi pengiring videoklip musik garapan anak muda Kampung Cempluk yang memenangi festival internasional di pengunjung 2020.

Defri Werdiono

Budi Ayin menjadi salah satu orang yang paling bergembira atas prestasi yang diraih anak muda Kampung Cempluk di Jalan Dieng Atas, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Pada 23 Desember 2020, mereka meraih juara 1 Sopravista International Festivals untuk kategori instrumen dan vokal. Ini adalah festival daring berbasis folklor di Italia.

Dalam festival yang diikuti perwakilan dari 30-an negara itu, videoklip musik berjudul “Hijau Lestari” yang dibawakan oleh grup Duo Etnicholic dari Kampung Cempluk menggunakan iringan alat musik dawai buatan Budi Ayin. Instrument itu dinamai Dawai Cempluk empat senar.

Duo Etnicholic digawangi oleh Anggar Syaf’iah Gusti dan Redy Eko Prastyo. Mereka adalah pembakti di tempat itu. Pembakti, sebutan bagi anak muda yang punya peran memajukan Kampung Cempluk. Sebelumnya, videoklip “Hijau Lestari” dibuat dalam rangka mengisi kanal iRL Gigs yang berisi karya-karya musik non-mainstream di Malang.

“Pekerjaan saya adalah sebagai buruh proyek. Membuat alat musik hanya sambilan kalau ada waktu. Alhamdulilah, sekitar 30 alat musik sudah saya hasilkan, ‘seperti sape’ dan banjo. Ada juga cetik (menyerupai kulintang berukuran kecil) dari bambu,” ujarnya, Minggu (21/2/2021).

Budi mengatakan, sehari-hari dirinya lebih banyak membuat ornamen rumah. Sebelum pandemi Covid-19, dia menerima pesanan membuat dekorasi untuk acara perpisahan siswa sekolah dan panggung pertunjukan dengan ukuran tidak terlalu besar. Pekerjaan tersebut dia geluti sejak puluhan tahun lalu dan masih berlangsung sampai sekarang.

Sejak dua tahun lalu, dia memanfaatkan sisa-sisa waktu untuk membuat alat musik. Bahan bakunya berupa kayu-kayu hasil bongkaran rumah, kayu bakar pemberian tetangga, hingga rol penggulung kabel bekas. Ada juga sisa bahan untuk membuat pelindung muka (face shield).

Di tangannya, alat-alat itu memunculkan nada yang indah. “Ini bahan sisa pembuatan face shield. Ada order dari Universitas Brawijaya untuk membuat face shield pada awal pandemi, sisanya saya pakai untuk membuat ini,” kata Budi sambil menunjuk ke salah satu alat musik berdawai buatannya.

Sebagai orang awam yang tidak memiliki latar belakang seni, Budi tidak begitu saja bisa membuat instrumen musik berdawai. Ia menghadapi sejumlah kendala, salah satunya soal ketersediaan bahan baku.

Selain tidak selalu tersedia, bahan baku yang ada terkadang tidak bisa langsung digunakan karena basah atau faktor lain. Padahal, saat itu semangat Budi untuk berkreasi sedang membuncah. Kalau sudah begitu, proses kreasi jadi tertunda.

“Kayu-kayu bekas itu saya taruh di luar rumah. Kadang basah oleh hujan, padahal saat itu saya sedang bersemangat. Ini jadi kendala tersendiri,” ucapnya.

Kendala lain terkait peralatan kerja. Selama ini, ia menggunakan peralatan seadanya, mulai dari parang, pisau cutter, hingga pecahan kaca.

Setelah badan alat musik jadi, Budi tinggal menyesuaikan nadanya. Laki-laki kelahiran Malang itu mengaku tidak mengalami kesulitan untuk memadukan tinggi rendah nada, baik untuk alat musik petik maupun gesek. Dia memanfaatkan aplikasi di telepon pintar sebagai pembanding.

Dia juga berkoordinasi dengan Redy Eko Prastyo yang sudah sering memainkan dawai dan menjadi salah satu inisiator Festival Damai Nusantara yang biasa digelar rutin setiap tahun. “Kalau dari sisi bentuk, saya sendiri yang memiliki inisiatif, sedangkan untuk masalah bunyi terkadang ada masukan dari Mas Redy. Menurut saya, seni tidak terbatas. Asalkan senang saya lakukan,” ujarnya.

Lulusan STM jurusan mesin produksi tahun 1989 itu mengaku tertarik membuat alat musik berdawai setelah melihat sape. Alat musik khas Kalimantan itu memiliki bunyi yang indah. Dari situlah Budi terdorong membuat alat musik berdawai sendiri.

Ia membutuhkan waktu hampir satu minggu untuk membuat karya pertamanya. Pasalnya, bahan baku yang ada tidak sesuai dengan kebutuhan. Dia perlu bahan setebal 12 sentimeter, tetapi yang tersedia kurang dari itu. Budi pun harus berkali-kali melakukan setting nada hingga akhirnya berhasil.

“Saat itu memang betul-betul awal belajar sehingga saya butuh waktu lama untuk mencari nada yang pas,” ucap pria yang ngaku hanya bisa bermain musik berdawai ala kadarnya alias genjreng-genjreng saja.

Dalam proses pembuatan karya berikutnya, Budi relatif tidak menemui banyak kesulitan. Dengan bermodalkan sikap telaten dan terus belajar, akhirnya satu demi satu alat musik selesai tercipta.

Menemani anak muda

Selain membuat alat musik, Budi Ayin juga ikut menemani anak-anak muda Kampung Cempluk mengisi waktu luang dengan kegiatan positif. Budi berusaha mengarahkan mereka agar memiliki banyak kegiatan sehingga terhindar dari pengaruh pergaulan yang negatif.

“Saya prihatin melihat anak-anak muda zaman sekarang. Godaan terhadap mereka besar. Saya ingin anak-anak muda sekarang punya kegiatan yang positif, baik melalui belajar bermain musik maupun kegiatan lain,” kata ayah dari dua anak ini.

Upaya Budi dan kawan-kawan membuahkan hasil. Anak-anak muda dari Kampung Cempluk keranjingan musik. Dari situ, ada yang mencatat prestasi internasional.

Baru-baru ini, Budi juga mendapat undangan dari Dewan Kesenian Malang (DKM) untuk mengikuti pameran. Pada kesempatan itu, ia memamerkan sekitar 20 alat musik dawai buatannya.

Ke depan, dia berharap alat musiknya bisa diterima masyarakat luas dan bisa dikembangkan menjadi alat musik khas Malang. Sebab, selama ini Malang tidak memiliki identitas soal instrumen musik.

Di luar itu, Budi punya harapan apa yang dilakukan bisa berguna bagi lingkungan. Bagaimana sampah dan limbah yang ada bisa dimanfaatkan untuk sesuatu yang memiliki nilai tambah dan bermanfaat. Selama ini, menurut Budi, banyak orang tidak peduli pada sampah yang mereka hasilkan. Padahal, setiap hari volume sampah terus bertambah.

Seandainya sebagian besar sampah itu bisa diolah menjadi alat musik bersuara indah, semua orang pasti senang.

Budi Ayin

Lahir: Malang 1970

Anak: Esta Aria SWS, Ajeng Pramesti PM

Pendidikan:

  • SD Desa Kunci
  • SMP Bhayangkari
  • SMK Muhammadiyah 1 Malang

 

Sumber: Kompas, 1 Maret 2021