Ngozi Okonjo-Iweala. Mengawal Arah WTO di Era Pandemi. Kompas. 19 Februari 2021. Hal.16

Muhammad Ikhsan. Menyingkap Makna di Balik Nama. Kompas. 11 Februari 2021. Hal.16

Devi Paulus Lopulalan. Laut Lestari dengan Sasi. Kompas. 26 Februari 2021. Hal.16

Perairan Seira di Kepulauan Tanimbar, Maluku, merupakan wilayah yang kaya akan sumber daya laut, terutama ikan, telur ikan terbang, dan teripang. Pelaku kejahatan perairan sering mengeksploitasi hasil laut di kawasan itu. Sekitar satu dekade terakhir, Devi Paulus Lopulalan terlibat aktif menjaga perairan seluas 150 kilometer persegi itu.

Fransiskus Padi Herin

Devi Paulus Lopulalan, yang akrab disapa Depol, mendekati beberapa pria jangkung yang terus memolototinya saat ia berjalan mendekati mereka. Berhenti di tengah kerumunan pria bertelanjang dada itu, tatapan mata Depol tertuju pada salah satu dari mereka sambil memberi isyarat agar orang tersebut mengikutinya.

Pria yang diajak tadi mengikutinya dari belakang menuju sebuah gubuk dekat mereka berkumpul. Di sana Depol menyergah. “Su (sudah) dapat berapa juta dari hasil jual teripang?” tanya Depol.

Pria itu hanya menunduk terdiam. Depol kembali berkata untuk menggugah nurani pria itu. “Kamong (kalian) tau ka seng (tidak), sekarang banyak orang tua susah cari uang buat kasih sekolah dorang (mereka) punya anak. Beta (saya) minta stop,” ujar Depol kepada pria itu di Pulau Tatunarwatu, 26 Agustus 2017.

Tatunarwatu menjadi pulai kelima yang ia datangi dalam misi menelusuri jejak pencurian teripang (Holothuroidea) selama dua hari. Pulau itu diduga jadi tempat persembunyian komplotan pencuri teripang. Informasi itu ia dapat dari warga dan nelayan yang ia temui di Pulau Seira, Ngolin, Tamdalan Nawa, dan Wuriaru.

Gugusan pulau itu berada di sebelah barat Pulau Yamdena, pulau terbesar di Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Untuk menjangkau perahu motor dengan waktu sekitar 1 jam dari Yamdena. Untuk menuju ke empat pulau lain, butuh 2-4 jam.

Kedatangan Depol ke Tatunarwatu untuk memberi peringatan kepada kelompok itu agar berhenti mengambil teripang. Itu setelah masyarakat meminta agar pencurian dihentikan. Teripang menjadi sandaran hidup masyarakat setempat yang berjumlah sekitar 7.000 jiwa. Dengan menjual teripang, hasilnya digunakan untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka.

Aksi pencurian teripang kala itu masif. Para pemuda, termasuk yang didatangi Depol di Pulau Taturnawatu, dipekerjakan pemodal. Mereka mendapat beking sejumlah oknum aparat. Mereka dibekali mesin kompresor dan peralatan selam untuk mengambil teripang pada malam hari. Harga teripang saat itu Rp 245.000 hingga Rp 1,8 juta per kilogram.

Berkat penelusuran Depol, informasi mengenai pencurian teripang akhirnya mencuat ke publik. Ia dicari banyak pihak, baik yang bermaksud menggali informasi maupun ingin mengintimidasi. Perwakilan dari sejumlah instansi, termasuk Kementerian Kelautan dan Perikanan, datang ke Pulau Seira. Beberapa oknum aparat yang terlibat akhirnya diproses hukum.

Tak hanya pencurian teripang, Depol juga mendorong gerakan penertiban terhadap nelayan dari luar Maluku yang mengambil telur ikan terbang (Hirundichthys oxycephalus) secara berlebihan. Setiap tahun ada lebih dari 100 kapal yang mengambil telur ikan tersebut, biasanya pada bulan Mei hingga September.

Saat musim gelombang tinggi dan ikan terbang bertelur, mereka beraksi. Satu kapal bisa mengambil sampai 1 ton telur ikan yang kemudian dijual Rp 400.000 per kg. Pengambilan telur ikan berlebihan akan mengurangi populasi ikan terbang. Nelayan setempat mengeluh dan meminta pengambilan telur ikan dibatasi.

Kearifan Lokal

Di tengah kondisi itu, Depol melihat budaya sasi di kalangan masyarakat setempat jadi modal baginya untuk mengampanyekan gerakan menjaga laut. Sasi sudah ada sejak dulu dan perlu dilestarikan.

Selama periode sasi, hasil alam di tempat itu tidak boleh diambil. Setelah sasi dibuka, masyarakat boleh memanen teripang kembali. Tujuannya, agar pengambilan teripang dibatasi. Selain itu, juga memberi waktu pemulihan ekosistem perairan sehingga hasil produksi tetap maksimal.

Untuk mengawal itu, patrol dan pengamanan laut oleh masyarakat lokal di rancang Depol bersama tokoh masyarakat dan tokoh adat. Mereka membentuk semacam tim penjaga laut yang melibatkan para pemuda. Di tiap pulau, Depol menugasi masyarakat setempat menjadi mata-mata.

Mereka memantau pergerakan orang dan kapal yang datang, mencatat temuan, dan mencari informasi dari lapangan. Jika ada yang mencurigakan, mereka segera menghubungi Depol agar diambil tindakan. Bagi yang tinggal di pulau di luar jangkauan jaringan seluler, mereka menitip laporan tertulis lewat nelayan untuk diteruskan ke Depol yang tinggal di Pulau Seira.

Berkat kerja sama itu, masyarakat mulai menikmati hasil laut yang semakin banyak dan berkelanjutan. “Sekarang ini, teripang sudah banyak dan masyarakat semakin mudah mendapatkan uang untuk menopang hidupnya. Pengambilan telur ikan terbang juga mulai mendapat perhatian dari pemerintah,” ujar Depol di Kota Ambon, awal Februari 2021

Menurut Depol, kearifan lokal, seperti sasi, menjadi kekuatan masyarakat untuk menjaga keberlanjutan sumber daya alam. Dengan sasi, masyarakat adat memiliki otoritas untuk melarang dan mengizinkan pengambilan hasil alam.

Sepuluh tahun terakhir Depol bertugas sebagai pendeta pada Gereja Protestan Maluku di daerah itu. Ia membuktikan pentingnya tokoh agama dan masyarakat adat lokal berkolaborasi membangun kekuatan untuk menjaga alam tetap lestari.

Devi Paulus Lopulalan

Lahir: Porti, 28 Desember 1978

Pendidikan Terakhir: Sarjana Filsafat, Fakultas Teologi, Universitas Kristen Indonesia Maluku (1996-2002)

IstriL Ellsye Alce Matakena

Anak: Alpha G Lopulalan dan Nalta E Lopulalan

 

Sumber: Kompas, 26 Februari 2021

Ahmad Fahrizal. Kegigihan Petani Bibit Avokad. Kompas. 27 Februari 2021. Hal.16

Menjawab panggilan nurani untuk bertani. Ahmad Fahrizal (32) menemukan kesuksesan dari pembibitan avokad. Lewat varietas avokad cipedak, warga Jagakarsa, Jakarta Selatan, ini gigih memanggungkan Jakarta di jagat pertanian.

Johanes Galuh Bimantara

“Perlakuan tanaman seperti dokter mau bedah, kayak mau amputasi tangan manusia,” ucap Fahrizal atau Rizal kepada dua mahasiswi magang IPB University, Bogor, Sabtu (20/2/2021). Ia tengah mengajarkan teknik sambung pucuk untuk memperbanyak bibit avokad cipedak di kebunnya di Kelurahan Ciganjur, Kecamatan Jagakarsa.

Bagi pria yang gemar memakai topi rimba ini, tanaman bukan sekadar makhluk hidup. Tanaman juga punya perasaan. Saat para mahasiswa hendak memotong dan menyayat batang bawah (seedling) serta tunas (entres) yang bakal disambungkan, mereka diminta memohon izin terlebih dahulu pada calon bibit, memberi kata-kata menenangkan karena si tanaman akan merasa sakit sebentar.

Perlakuan Rizal yang manusiawi terbukti membuat avokad cipedak membalas budi. Di saat banyak orang kehilangan mata pencaharian atau pendapatan yang menurun akibat wabah Covid-19, ia malah kebanjiran pesanan bibit. Sepanjang masa pandemi tahun lalu, ia membukukan penjualan 15.000 bibit, naik 150 persen dibandingkan tahun 2019, yakni 6.000 bibit.

Rizal tidak hanya menguasai pasar Jakarta dan sekitarnya. Namanya sudah moncer di kalangan petani bibit dan buah avokad se-Tanah Air. Ia mencontohkan, seorang konsumen dari Padang, Sumatera Barat, membeli 1.000 bibit; dari Karawang, Jawa Barat, 3.000 bibit; dan dari Jambi 1.000 bibit.

Ia enggan membuka berapa harga bibitnya, tetapi yang jelas sepadang untuk menghasilkan buah avokad kelas premium dengan harga Rp 50.000-Rp 70.000 per kilogram. Buah avokad cipedak masuk papan atas karena saat sudah masak, kulit buahnya mudah dikupas layaknya mengupas pisang. Dagingnya berwarna kuning mentega, pulen, agak gurih, tidak pahit, tidak berserat, dan “anti”-ulat.

Kejayaan Rizal seakan di luar nalar di tengah makin tersisihnya lahan pertanian di Ibu Kota. Lahan 1.000 meter persegi yang dijadikan kebun bibit pun bukan miliknya. Ia menyewa tanah itu per lima tahun. Seandainya tidak digunakan Rizal, mungkin lahan itu turut jadi rumah atau gedung.

Sebagai putra asli Jakarta, Rizal tidak rela warisan hayati kampungnya itu bernasib seperti tanaman mascot DKI, salak condet, yang kian tenggelam. Kata “cipedak” merujuk pada Kampung Cipedak di Kecamatan Jagakarsa, asal mula avokad tersebut. Tangan dingin almarhum Nisan Badar alias Pak Nicang melahirkan varietas unggul ini lewat teknik sambung pucuk pada decade 1990-an.

Lalu, avokad itu tersohor dengan nama lain. Seorang warga kampung ini, Jazuri alias Bang Jaxc, tidak ingin identitas geografis avokad itu hilang. Ia berupaya mendaftarkan avokad sebagai varietas asli Jakarta. Nama avokad cipedak pun resmi tercatat tahun 2015.

Namun, Rizal menyadari, penetapan nama resmi tidak lantas bisa melestarikan avokad cipedak. Ia memperkirakan pohon avokad cipedak di Jakarta kurang dari 1.000 pohon. Didorong dengan gerakan menanam avokad cipedak oleh Pemerintah Kota Jakarta Selatan pun jumlahnya baru bertambah 400-an pohon. Karena itu, Rizal ikut terjun memproduksi bibit avokad cipedak mulai 2015.

Cinta makhluk hidup

Jalan hidup bertani merupakan pengejawantahan kecintaan Rizal pada makhluk hidup. Ia semasa kecil hobi memelihara hewan. “Pelihara ayam sampai dibawa tidur, pelihara ikan sampai tidur dekat akuarium,” kata Rizal yang kini masih merawat seekor ular albino.

Saat di sekolah, ia menggemari pelajaran Biologi, terutama menghafal nama Latin berbagai jenis tanaman. Ia pun menyampaikan kepada keluarganya hendak bersekolah di sekolah menengah pertanian.

Orang-orang terdekat mempertanyakan kehendaknya. Namun, Rizal tetap kukuh sehingga mendapat restu kedua orangtuanya masuk Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP) Negeri DKI Jakarta (sekarang SMK Negeri 63 Jakarta) tahun 2003. Ia membuktikan kegigihannya sehingga selama tiga tahun di sana tidak membayar biaya pendidikan sepeser pun karena menerima beasiswa.

Tahun 2007, Rizal melanjutkan pendidikan ke Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Islam 45 (Unisma), Bekasi. Ia mendapat beasiswa selama berkuliah.

Rizal berkuliah sambil bekerja sebagai penyuluh pertanian Jakarta, dengan area kerja di Jakarta Utara. Berkarya sebagai penyuluh selama empat tahun membuat ia berpeluang besar menjadi calon aparatur sipil negara (ASN) DKI.

Namun, Rizal tidak puas jika ilmunya sejak sekolah menengah sekadar dimanfaatkan untuk mendapat pekerjaan nyaman. Tahun 2011, ia mengundurkan diri, lalu merintis bisnis pertanian.

Jalan terjal jadi menu pembuka bagi Rizal berwirausaha pertanian dalam kurun 2012-2012. Ia mengawali usahanya dengan menanam sayur-sayuran, seperti kangkung dan sawi. Namun, ia tidak mampu memasarkannya sehingga sayur hasil keringatnya terpaksa dijadikan kompos. “Ternyata, usaha saya saat itu baru tahap hobi, bukan bisnis,” ucapnya.

Kemudian, Rizal beralih mengajar kegiatan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah, termasuk mengajar Pramuka. Didi Muhadi, ayah Rizal, prihatin sehingga menantangnya. Jika Rizal masih punya hati untuk pertanian, Didi akan berhenti sebagai pegawai usaha mebel dan membantu Rizal bertanam. Niat ayahnya membuat Rizal makin tertantang dengan pertanian. Kini, dia membuktikan bahwa pengorbanan ayahnya tidak sia-sia.

Keberhasilan Rizal bertani di Jakarta tidak hanya membuat jumlah pelanggannya bertambah, tetapi juga makin banyak yang penasaran dengan kunci suksesnya. Ia sering jadi pembicara dalam diskusi atau pelatihan yang dihelat berbagai lembaga.

Mahasiswa yang praktik kerja lapangan (PKL) pun bukan hanya dari IPB University. Sejak wabah korona mulai menghantan, mahasiswa dari 13 universitas magang di kebun kecilnya. Ia membatasi paling banyak lima mahasiswa dalam satu waktu yang bisa PKL.

Rizal juga kerap mengadakan pelatihan sambung pucuk untuk memperbanyak bibit avokad di kebunnya. Selain itu, ia membagi beragam ilmu perbanyakan bibit avokad lewat kanal Youtube Insinyurtani TV.

Rizal tidak takut keterbukaannya itu meramaikan persaingan dalam bisnis bibit avokad. Sebab, peluang laten dari bisnis avokad masih besar. Ia mencontohkan, saat ini, satu orang Indonesia rata-rata baru mengonsumsi avokad sebanyak empat buah per tahun.

Kesenjangan itu jadi kesempatan untuk terus memopulerkan avokad cipedak. Tanpa perlu jadi pegawai negeri, Rizal mempersembahkan baktinya bagi Ibu Kota dengan berkutat di kebun.

Ahmad Fahrizal

Lahir: Jakarta, 5 November 1988

Pendidikan:

  • Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP) Negeri DKI Jakarta (2003-2005)
  • S-1 Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Islam 45, Bekasi (2007-2011)

Penghargaan, antara lain:

  • Pemenang IV Lomba Temu Karya Penas 2017 Aceh
  • Calon Duta Petani Milenial dan Duta Petani Andalan 2021 Kementerian Pertanian

 

Sumber: Kompas, 27 Februari 2021

Setiap Jamnya Bisa Menghasilkan US$2 Juta? Siapa sih Orangnya?

Siapa sih disini yang tidak mengenal Jeff Bezos?, pria pendiri e-Commerce Amazon yang telah dinobatkan sebagai orang terkaya didunia pada tahun 2017 itu. Ia bahkan berhasil mengalahkan Bill Gates yang sudah bertahun-tahun kita kenal dengan kekayaannya. Kekayaan Jeff sendiri telah mencapai USD90 miliar. Namun kekayaan Bezos sendiri ternyata tidak berasal dari Amazon saja, ia juga memiliki berbagai bidang pekerjaan lainnya seperti The Washington Post, dan Blue Origin, dimana bergerak di bidang transportasi luar angkasa. Gak kebayangkan berapa uang yang bisa ia hasilkan setiap harinya?. Faktanya, setiap satu menit Bezos dapat menghasilkan lebih dari dari penghasilan rata-rata milenial di tahun ini. Bezos dapat menghasilkan kurang lebihnya US$19.3 miliar dalam satu tahun, atau US$2 juta setiap jamnya. Penasaran bagaimana awal mula Bezos merintis pekerjaannya? Yuk kita bahas sekilas mengenai masa mudanya!.

Jeff Preston Bezos yang dilahirkan pada tanggal 12 Januari 1964 di Albuquerque ini sebenarnya sudah menunjukkan bakatnya yang hebat dalam bidang mekanik sejak ia kecil. Contohnya ia pernah membuatkan alarm listrik untuk adik-adiknya agar mereka tidak keluar dari kamarnya. Pada tahun 1982, Bezos juga mengikuti program pelatihan sains di Universitas Florida dan berhasil mendapatkan Silver Knight Award. Perjalanannyapun berlanjut dan setelah lulus dari Pricenton, Jeff bekerja di Wall Street dalam bidang ilmu computer. Dari sana, ilmu dan bakatnya dalam ilmu computer terus bertambah. Ia juga pernah membangun jaringan perdagangan internasional yang ditujukan untuk sebuah perusahaan bernama Fitel. Pada tahun 1995, ia mulai berfikir untuk membangun bisnisnya sendiri dan mendirikan Amazon.com sebagai toko buku online yang dijalankan dari rumahnya. Inspirasi nama Amazon sendiri berasal dari kekagumannya dengan sungai di Brazil yang sangat megah itu. Namun dengan hati-hati, dia masih tetap mau mencari berbagai pengalaman dengan melakukan berbagai pekerjaan di Bankers Trust dan DE Shaw Company. Jeff mendapat banyak pujian dalam pekerjaan yang ia lakukan. Sebelumnya, ia juga telah melakukan penelitian dan mengamati dari daftar 20 perusahaan mail-order teratas, tidak ada satupun penerbit buku yang memiliki mail-order karena katalog yang komprehensif. Namun ia percaya bahwa perusahaan digital akan memiliki kemampuan lebih luas di masa depannya.

Bisnis Jeff inipun didukung sepenuhnya oleh kedua orangtua Bezos dengan memberi mereka tabungan pensiunnya sebesar US$300 ribu. Dukungan ini diberikan seolah-olah mereka tahu bahwa anaknya memang akan menjadi orang terkaya di dunia. Bisnis e-commercenya itupun berhasil dan menjadi top berita diberbagai media dengan cepat. Bezos memiliki 6 gudang yang digunakkan untuk inventaris buku. Melihat kesuksesannya yang besar, Bezos memperluas pekerjaannya dengan menjual barang-barang lain selain buku. Hingga kini Amazon.com telah menjadi perusahaan ecommerce raksasa yang menyediakan ratusan ribu produk secara online dan bisa dikirim ke seluruh dunia.

Setelah sukses dalam perusahaan e-commercenya itu, Jeff Bezos merambah pekerjaannya dan menyediakan jasa penerbangan manusia ke luar angkasa yang dikenal dengan Blue Origin. Selain itu, ia juga mengakuisisi perusahaan dalam bidang media yaitu Washington Post dan usaha ekspedisi bernama Bezos Expeditions. Kini, Aset Jeff sudah tidak terhitung jumlahnya dan ia telah berhasil mencapai keberhasilannya. Ia mengaku jika dahulu ia tidak memulai untuk membuka bisnisnya itu, ia akan menyesal selamanya.

Kita dapat belajar dari kisah Jeff Bezos bahwa kita harus selalu berusaha, tanpa memandang berhasil atau tidaknya usaha kita nanti. Dan Jika kita gagal, kita harus terus berusaha dan beranilah mengambil resiko. Jangan pernah ragu untuk melakukan sesuatu, dan jangan hanya berbicara saja. Yuk berani membuka bisnis!.

 

Daftar Pustaka

Wink (2017, Januari 24). Biografi Jeff Bezos, Kisah Sukses Pendiri Amazon.com Menjadi Orang Terkaya Dunia. Biografiku.com. Diakses di https://www.biografiku.com/biografi-jeff-bezos-pendiri-amazon-com/ 21 Februari 2021

Kompas.com (2021, Februari 3). Jeff Bezos Akan mundur dari Jabatan CEO Amazon, Siapa penggantinya?. Kompas.com. diakses di https://money.kompas.com/read/2021/02/03/071301026/jeff-bezos-akan-mundur-dari-jabatan-ceo-amazon-siapa-penggantinya. 21 Februari 2021.

Janakuag Aisyah (2021, Februari 3). Jeff Bezos Tinggalkan Amazon, ini CEO lain yang juga pilih resign. Detik.com. Diakses di https://inet.detik.com/business/d-5360228/jeff-bezos-tinggalkan-amazon-ini-ceo-lain-yang-juga-pilih-resign. 21 Februari 2021.

Sugianto Danang (2021, Februari 3). Kenapa Jeff Bezos Pilih Andy Jassy Pimpin Amazon?. Detik.com. Diakses di https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5360439/kenapa-jeff-bezos-pilih-andy-jassy-pimpin-amazon. 21 Februari 2021.

 

The Beatles Mempunyai Member Kelima?

Siapa coba disini yang ga pernah mendengar nama The Beatles? Group band berisi 4 orang ini tentu sudah sangat terkenal bahkan hingga saat ini loh!. Meskipun sudah bubar dari 50 tahun lalu, tapi lagu-lagunya dan nama band ini tetap terkenal dan tidak hilang ditelan zaman. Kita memang mungkin sudah mengenal John Lennon, Paul McCartney, Ringo Starr, dan juga George Harrison, 4 bintang yang sudah manggung dengan membawa nama The Beatles. Namun ternyata ada 1 orang yang selama ini sudah kerap kali dianggap sebagai member ke 5 The Beatles loh!. Yah, walaupun bekerjanya dibalik layer, tapi mungkin tanpa member yang satu ini, The Beatles tidak akan dikenang seperti sekarang.

Brian Epstein, seorang manager yang selalu bekerja dibalik layar dengan sangat giat. Bagaimana tidak? Berkat ketekunan Brian Epstein dalam memperkenalkan anak didiknya kepada masyarakat membuahkan hasil yang luar biasa. Pertemuan Brian Epstein dengan The Beatles sendiri diawali dengan ketertarikannya dalam menyaksikan penampilan The Beatles di Cavern Club. Siapa sangka sebuah halaman majalah Mersey Beat dan beberapa poster di kota Liverpool akhirnya membuahkan sebuah ikatan yang mengantar kesuksesan. Sejak saat itu, Brianpun merasa terkesima dengan penampilan keempat pemuda itu. Hingga akhirnya Brian langsung pergi kebelakang panggung dan menawari keempat remaja itu untuk membuat suatu band. Pada Januari 1962 itupun The Beatles telah sepakat untuk menandatangani kontrak dengan Brian Epstein untuk membentuk sebuah perusahaan manajemen artis yang disebut NEMS Enterprises. Brian Epstein sendiri sebenarnya tidak berpengalaman dalam menjadi seorang manajer artis, namun ia tetap berusaha semaksimal mungkin untuk mengembangkan The Beatles dan memperkenalkannya kepada dunia. Melihat gaya keempat remaja yang terkesan tidak beraturan dan dianggap ‘tidak layak’ untuk manggung, Brian Epstein menetapkan beberapa peraturan seperti melarang merokok, dilarang mabuk dan berbicara kasar di atas panggung, dan juga menggunakkan jas dan dasi di setiap penampilan mereka. Setelah menyepakati peraturan yang ada, Brian Epstein melanjutkan perjalanannya dengan mengunjungi beberapa perusahaan rekaman di London seperti Pye, Philips, Columbia, Oriole, dan juga Decca Record. Ia menebarkan undangan-undangan untuk menyaksikan pertunjukan anak didiknya, namun selalu ditolak.

Namun hingga titik cerah ditemukan dimana Mike Smith dari Decca Record akhirnya menerima undangan Brian untuk menyaksikan pertunjukkan anak didiknya itu di Cavern Club. Namun ternyata darisana, Pihak Decca Record tetap menolak untuk membawa The Beatles ke audisi mereka dengan mengatakan “The Beatles tidak memiliki masa depan di bisnis pertunjukan”. Tapi dengan perkataan tajam yang telah dilontarkan, tidak mematahkan semangat Brian Epstein untuk tetap berusaha. Brian Epstein tetap bekerja keras untuk mendapatkan kontrak rekaman untuk The Beatles. Hingga akhirnya ia bertemu dengan George Martin dari Parlophone Record. George Martinpun akhirnya memberi kontrak dengan label itu, didasari dari keyakinan Brian pada The Beatles.

Single The Beatles dengan judul “Love Me Do” akhirnya berhasil dirilis pada bulan Oktober 1962 dan tak disangka, single mereka berhasil menduduki posisi ke 17 dari 20 besar tangga lagu di Inggris. Dari sana, Band The Beatlespun mulai dikenal masyarakat dan akhirnya mereka berhasil tampil pertama kali di media televisi setelah merilis single keduanya yang berjudul “Please Please Me”.

Yah, kira-kira begitu awal mula dari kesuksesan The Beatles. John Lennon sendiri kerap kali menjuluki Brian Epstein sebagai member kelima dari band tersebut. Brian tidak hanya pandai dalam mempromosikan anak didiknya, namun ia juga telah berhasil untuk memediasi konflik-konflik yang ada antar member The Beatles itu sendiri. Maka tak heran, ketika Brian Epstein meninggal pada 27 Agustus 1967 lalu akhirnya dianggap sebagai awal hancurnya band asal Inggris tersebut.

 

Daftar Pustaka

One (2021, Januari 1). Brian Epstein Meninggal, The Beatles Pun Bubar. Minews.id. diakses pada https://www.minews.id/kisah/brian-epstein-meninggal-the-beatles-pun-bubar. 4 Februari 2021.

Haryanto, Alexander. (2016, September). Sebuah Nama di Balik Kesuksesan The Beatles. Tirto.id. Diakses pada https://tirto.id/sebuah-nama-di-balik-kesuksesan-the-beatles-bLCs. 4 Februari 2021.

Anon (2020, Agustus 27). Cara Brian Epstein Membesarkan Nama The Beatles. Voi.id. Diakses pada https://voi.id/memori/12318/cara-brian-epstein-membesarkan-nama-the-beatles. 4 Februari 2021.