Ahmad Baihaqi. Kesetiaan untuk Keanekaragaman Hayati. Kompas. 26 April 2021. Hal.16

Ahmad Baihaqi (27) mewujudkan cintanya kepada tanah kelahiran dengan ikut melestarikan keanekaragaman hayati di Jakarta. Perjalanannya dimulai dengan menjadi partisipan kegiatan pelestarian lingkungan, hingga kini membimbing generasi muda untuk konservasi alam.

Susie Berindra

Selama pandemi, Ahmad Baihaqi, yang akrab disapa Abay, sering menjadi pembicara webinar terkait dengan keanekaragaman hayati. Semua materi dijabarkan dengan rinci. Maklum saja, dia sudah berkutat dengan isu keanekaragaman hayati sejak duduk di bangku kuliah Fakultas Biologi Universitas Nasional, Jakarta. Dengan bersemangat, Abay memaparkan kondisi keanekaragaman hayati di ruang terbuka hijau yang tersebar di Jakarta.

“Taman kota menjadi wisata alam menarik. Apalagi saat pandemi, kita bisa keluar ke taman di sekitar kita. Mendengar kicauan burung membuat tingkat stres menurun. Saat bosan di rumah, kita bisa sesekali ke taman kota, melihat yang hijau-hijau dan bisa relaksasi tubuh kita,” kata Abay saat menjadi pembicara di webinar Save On Earth yang diselenggarakan Marijo Belajar, Kamis (22/4/2021).

Selain itu, dengan sabar dan telaten, Abay sebagai staf Education and Outreach Yayasan Kehati membimbing mahasiswa yang sedang menjalani program konservasi alam. Mahasiswa yang tergabung dengan anggota Biodiversity Warriors (BW) Kehati tersebut berasal dari delapan kampus. Selebihnya, anggota BW Kehati berjumlah 2.800 orang tersebar dari Aceh hingga Papua.

Tak jarang, bapak satu anak ini harus menjawab pertanyaan anggota BW Kehati melalui Whatsapp pada malam hari. Pada berbagai kesempatan, dia selalu mendorong generasi muda untuk menyadari pentingnya pelestarian keanekaragaman hayati di sekitar mereka.

Untuk memacu semangat anggota, BW Kehati membuat pelatihan secara virtual selama pandemi. Beberapa tema pelatihan itu seperti penulisan artikel, pengoperasian kamera jebak serta teknik dasar monitoring, dan penghitungan satwa liar. “Kami ingin mereka memopulerkan isu keanekaragaman hayati dengan strategi komunikasi yang baik,” ujarnya.

Karena itulah, Abay turun langsung mendampingi anggota BW Kehati untuk kegiatan pengataman keanekaragaman hayati di ruang terbuka hijau. Tahun 2015, dia menjadi Koordinator Cap(na)ture Jakarta BW Kehati. Kegiatan itu bekerja sama dengan Peta Hijau Jakarta. Mereka mengamati keanekaragaman hayati di 32 taman kota di Jakarta. Di sela-sela kegiatan, Abay menyelesaikan penelitian skripsinya.

Dalam satu hari, mereka melakukan pengamatan selama enam jam pada pagi dan sore hari. Kegiatan dimulai setiap pukul 06.00. Saat berada di lapangan, Abay yang menyukai fotografi ini tak pelit berbagi ilmu untuk para anggota BW Kehati. Dari proyek itu, mereka menghasilkan buku Geledah Jakarta, Menguak Potensi Keanekaragaman Hayati Ibu Kota. “Dengan buku ini, suatu capaian bagi kami yang bisa mempunyai data keanekaragaman hayati di Ibu Kota. Dan, dari situ kami dipercaya oleh Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta untuk memperbarui data pada tahun 2018 dan 2019,” kata Abay.

Salah satu kejadian yang sering dijumpai Abay saat pengamatan ialah masih banyak para pemburu burung di taman kota. Salah satu yang diburu ialah burung madu sriganti. Bahkan, dia pernah ditawari untuk membeli burung kacamata hasil buruan. Biasanya, bersama teman-temannya, Abay tak langsung menghakimi para pemburu. “Kami memberi edukasi bahwa masih banyak satwa liar seperti burung, kupu-kupu, dan capung yang mempunyai peran ekologis di alam sehingga penting sekali untuk dijaga,” kata Abay.

Kecintaan Abay kepada lingkungan berawal dari keinginannya kuliah di jurusan biologi. Dari sang guru biologi, Widyawati, di SMA Sumbangsih Jakarta, dia banyak mendapatkan inspirasi. “Saat awal kuliah, saya sempat, tuh, mau menyerah karena harus penelitian ke hutan-hutan. Apalagi saya, kan, bukan anak pencinta alam,” katanya sambil tertawa.

Namun, pengalaman masuk ke Taman Nasional Gunung Halimun Salak membuat dirinya semakin cinta kepada lingkungan. “Di situ saya ketemu owa jawa (Hylobates moloch) yang ukurannya besar dan lumayan mudah difoto. Saya semakin semangat mengamatu dan mengamati satwa liar, terutama burung,” ujarnya.

Sejak saat itu, dia keluar masuk hutan di banyak daerah, seperti Bali, Makassar, Lampung, dan Patiang. Biasanya, selama 16 hari, Abay berada di hutan untuk mengamati keanekaragaman hayati di suatu kawasan.

Tak hanya berkegiatan di kampusnya, Abay aktif di BW Kehati sejak 2014. Pertama kali ia mengikuti kegiatan BW Journey ke Goa Jomblang, Yogyakarta. Dari awalnya menjadi peserta, kemudian ia beralih menjadi mentor.

Di sela-sela kesibukannya, Abay bersama Fakultas Biologi Unas aktif mendampingi masyarakat di Kampung Kreatif Bacili (Bantaran Ciliwung), Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan. Di situ, mereka mengadakan penyuluhan budidaya tanaman cabai dan tomat. Harapannya, masyarakat bisa memanfaatkan pekarangan rumah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Abay juga mengenalkan keanekaragaman hayati laut melalui seni mural.

Berbagai kegiatan itu membuat Abay menjadi salah satu nomine penerima Kalpatura untuk kategori Pembina Lingkungan Provinsi DKI Jakarta tahun 2016. Dia menjadi nomine yang termuda. Meski gagal, dirinya tak patah semangat. Segala daya upaya ia lakukan untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Ahmad Baihaqi

Lahir: Jakarta, 15 September 1993

Istri: Ratna Wati

Anak: 1

Pendidikan:

  • SMA Sumbangsih, Jakarta (2008)
  • Fakultas Biologi Universitas Nasional, Jakarta (2011)
  • Program Studi Magister Biologi Universitas Nasional, Jakarta (2019)

Organisasi:

  • Koordinator Cap(na)ture Jakarta Biodiversity Warriors Yayasan Kehati (2015-2017)
  • Ketua Umum Biological Science Club (BSsC) (2017-2020)
  • Staf Education and Outreach Yayasan Kehati (2017-sekarang)

Prestasi, antara lain:

  • Peringkat II Bali Birdwatching Race (2015)
  • Pemenang Apresiasi Wana Lestari Kategori Kader Konservasi Tingkat Provinsi DKI Jakarta (2016)
  • Nomine Penerima Kalpatura Provinsi DKI Jakarta (2016)

 

Sumber: Kompas, 26 April 2021

Joe Taslim Go International (Again)!

Johannes Taslim atau yang lebih dikenal dengan Joe Taslim lahir di Palembang, Sumatera Selatan pada 23 Juni 1981 dan sekarang sudah berumur 39 tahun. Ia  adalah seorang aktor, atlet, model dan penyanyi asal Indonesia. Talentanya memang tidak bisa diragukan lagi, hingga iapun pernah menjadi bagian dari tim nasional judo Indonesia dan meraih medali perak di SEA Games 2007

Joe Taslim adalah pria keturunan Palembang yang tertarik dengan ilmu bela diri seperti Pencak Silat, Wushu, Judo dan Taekwondo serta Shotokan. Joe Taslim merupakan anggota dari Judo Internasional tim sejak tahun 1997 hingga 2009. Jadi soal dunia persilatan, pasti sudah sangat professional deh!

Karirnya dimulai pada tahun 2006 sebagai model, namun mulai menggeluti dunia akting dengan debut film pertamanya yaitu berjudul Karma (2008). Setelah itu, dilanjutkan dengan film The Raid yang sempat menggemparkan dunia. Sukses dengan film The Raid, Joe Taslim banyak digemari produser baik dari dalam maupun luar negeri. Hingga akhirnya dia mulai berkembang dan bermain di berbagai film yang sudah mendunia seperti Fast and Furious 6.

Berangkat dari kerja kerasnya dan bekal dari pengalaman di Film Fast Furious 6, Joe Taslim punya modal berharga untuk menjalani dunia perfilman Hollywood lebih dalam. Untuk mewujudkan hal itu, ia pun akhirnya memutuskan untuk merantau ke Hollywood agar memperluas pekerjaannya. “Memang ibaratnya saya di sana kan jadi anak rantau. Sebagai anak rantau saya mencoba mencari peluang di negara orang,” ucap Joe Taslim saat ditemui oleh salah satu stasiun TV.

Disana kemudian dia bergabung dengan Star Trek Beyond, dan mendapat sambutan yang cukup baik oleh para pemain lainnya. Meskipun ia tidak berasal dari industry perfilman di Hollywood, namun ia tidak pernah dianggap remeh oleh lawan mainnya. Kariernya di Tanah Air pun tidak kalah keren loh, banyak film Indonesia yang sukses diperankan olehnya, contohnya seperti film The Night Comes for Us (2018) dan Hit & Run (2019).

Selain di Tanah Air dan Hollywood, karier Joe Taslim pun juga ternyata sudah merambat hingga ke Korea Selatan. Ia pernah bermain dengan actor bernama Jang Hyuk dalam salah satu film Korea yaitu The Swordsman (2020) dan tak hanya film, ia juga tampil sempurna dalam serial Warrior yang tayang di Cinemax sejak 2019.

Kemudian pada 2021 ini, diketahui Joe Taslim akan berperan dalam film laga Mortal Kombat. Dalam Film Mortal Kombat, Joe Taslim mendapat peran antagonis yang dinamakan dengan Sub-Zero. Disini ia dipasangkan dengan Hiroyuki Sanada yang bertransformasi sebagai Scorpion. Film Mortal Combat yang disajikan pada awal pembukaan cinema bioskop ini sudah menarik perhatian banyak sekali orang loh. Bagaimana tidak, bagi kalian yang sudah nonton pasti ikut tercengang dengan betapa kerennya film ini! Mulai dari aktornya yang sudah sangat maksimal memerankan perannya, editan perfilmannya, hingga banyak lainnya.

Joe taslim sendiri memiliki kisah perjuangan sampai pada titik ini. Dalam acara peluncuran film pendek #KeepOnRollin Joinfit Joe Taslim menceritakan sejak kecil sang ayah menginginkan dirinya menjadi seorang atlet judo sementara ia ingin menjadi atlet bulu tangkis.

“Alasan bapak saya cuma satu, karena dulu hidup kami sangat susah jadi bapak saya cari latihan yang enggak bayar, dan saat itu latihan judo yang gratis,” ujarnya saat ditemui media baru-baru ini.

Kendati demikian Joe bertekad untuk bisa membanggakan orangtuanya lewat latihan judo hingga akhirnya ia menjadi seorang atlet yang memenangkan banyak penghargaan dari kejuaraan yang diikuti.

“Dulu saya hidup susah, jadi motivasi saya saat itu cuma mau meringankan beban orang tua. Kenapa saya mau jadi juara? Karena saya mau jadi kebanggaan orang tua. Prestasi yang cuma bisa dibanggakan. Dari kecil masuk pelatnas, salah satu cara masuk pelatnas enggak perlu ngeluarin biaya karena saya anak negara, jadi saya tinggal latihan gila aja,” ungkapnya.

Berkat kerja kerasnya, saat ini Joe Taslim tidak hanya membuat orang tuanya bangga, namun juga membuat seluruh bangsa Indonesia bangga karena dapat mengharumkan ibu pertiwi di kancah inernasional.

 

Daftar Pustaka

Mario, Vincentius (2021, April 16) Peran Joe Taslim di Mortal Kombat Memukau Sutradara McQuoid hingga Erick Thohir. Kompas.com. Diakses pada https://www.kompas.com/hype/read/2021/04/16/083044466/peran-joe-taslim-di-mortal-kombat-memukau-sutradara-simon-mcquoid-hingga. 19 April 2021.

Anonim. Profil Tokoh Joe Taslim. Viva.co.id. diakses pada https://www.viva.co.id/siapa/read/436-joe-taslim. 19 April 2021

Puri, Dewi. (2018, Agustus 28). Tembus Hollywood, Joe Taslim Makin Kaya Raya dari 4 Sumber Duit ini. Lifepal.co.id. Diakses pada https://lifepal.co.id/media/sumber-duit-joe-taslim/. 19 April 2021.