Elsa Maharrani. Menjahit Kesejahteraan. Kompas. 7 April 2021. Hal.16

Berwirausaha bukan sekedar perkara mencari untung, melainkan juga bagaimana mengangkat perekonomian masyarakat di sekitarnya. Dengan prinsip itu, Elsa Maharrani memberdayakan perempuan, sebagian ibu rumah tangga di Padang, Sumatera Barat, agar memiliki penghasilan sendiri.

Yola Sastra

Sukses menjadi penjual (reseller) daring dan distributor merek-merek pakaian muslim sejak 2016 tidak memuaskan hati Elsa. Ia melihat apa yang ia lakukan belum berdampak bagi orang di sekitarnya.

Ia pun memberanikan diri memproduksi pakaian muslim dengan merek sendiri, yakni Maharrani Hijab, pada 2018. Selain memberi keuntungan, ia juga berharap usahanya bisa membuka ladang rezeki bagi orang lain.

Akhir tahun, Elsa berkolaborasi dengan mahasiswa Program Studi Tata Busana Universitas Negeri Padang dalam membuat pola, memotong, dan menjahit pakaian. Ia kemudian menjajaki kerja sama dengan penjahit kampung di sekitar rumahnya di Kelurahan Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang.

Akan tetapi, upaya itu tidaklah mudah. Masalah upah penjahit di Padang relatif tinggi. Mereka mematok upah menjahit Rp 100.000- Rp 150.000 per helai pakaian. Padahal, Elsa hanya bisa menawarkan upah Rp 25.000 per helai. Pertimbangannya, pesanan dari dia akan berkelanjutan. Selain itu, pekerjaannya lebih sederhana, yaitu menjahit pola kain yang sudah dipotong. Bahan-bahannya juga disediakan Elsa.

Tawaran Elsa menghasilkan penolakan. Namun, akhirnya ia menemukan mitra penjahit yang sesuai kriteria. Ia seorang perempuan yang pernah bekerja di pabrik garmen di Jakarta dan saat itu sedang menganggur. “Kemitraan dengan ibu itu lancar. Ia terus menjahit untuk kami hingga sekarang. Melihat itu, tetangganya mau juga bermitra. Akhirnya, mitra kami yang awalnya cuma satu bertambah dua, tiga, lima, sepuluh, hingga sekarang jadi tiga puluh orang,” kata Elsa di rumahnya di dekat pinggiran kota, Selasa (23/3/2021) siang.

Mitra Elsa 80 persen adalah perempuan. Sebagian besar baru belajar menjahit. “Ada yang awalnya cuma pandai manghoyak-hoyak masin (menggoyang-goyangkan mesin), sekarang sudah bisa menjahit baju,” ujar Elsa.

Para pemula itu belajar menjahit kepada tetangga. Elsa mengoreksi hasil jahitan mereka agar bisa sesuai dengan standar yang ia tetapkan.

Siang itu, Elsa memantau proses praproduksi oleh tim produksi Maharrani Hijab di bengkel sebelah rumahnya. Dua laki-laki sedang mengukur kain untuk membuat pola. Seorang perempuan sedang menyusun pola yang sudah dipotong dan seorang perempuan lainnya menjahit.

Elsa menceritakan, proses penjahitan dilakukan oleh mitra di rumah masing-masing. Sementara itu, kegiatan praproduksi seperti pembuatan dan pemotongan pola serta pascaproduksi dan pengemasan dilakukan di rumah Elsa dan bengkel itu.

Maharani Hijab itu memproduksi baju gamis, baju koko, mukena, jilbab, seragam dinas, hingga masker. Untuk kategori pakaian saja, Elsa bisa memproduksi 1.500 hingga 2.000 helai per bulan.

Usaha Sosial

Menurut Elsa, jika sekadar berbisnis, ia sebenarnya bisa saja menggunakan jasa para penjahit di sentra konfeksi dari daerah lain, seperti Bandung, Jawa Barat. Upah penjahit di sana jauh lebih murah dibandingkan upah penjahit di Padang. Walakin, Elsa memilih mengawinkan bisnis dengan pemberdayaan masyarakat.

Di Padang, ia mengeluarkan biaya produksi gamis sekitar Rp 45.000 per helai, sementara di Bandung ongkos produksinya hanya Rp 30.000-Rp 35.000 per helai. Elsa tinggal mengirimkan kain. Biaya bahan lainnya, seperti benang, risleting, dan kancing, ditanggung mereka.

“Kenapa harus produksi di Padang? (Karena) produk domestik bruto (PDB) Sumbar, termasuk Padang, relatif rendah dibanding daerah lain. Sumbar membeli semuanya dari Jawa. Produksi kain dan penjahitan di Jawa, baru pakaiannya dibawa ke Padang. Kalau semua dioper ke Jawa, uang tidak akan berputar di Padang,” tutur Elsa.

Rezeki mengalir

Dengan pemikiran itu, Elsa berupaya agar uang dari kalangan menengah mengalir kepada kalangan ekonomi rendah di Padang. Saat ini, dalam sebulan, Elsa mengeluarkan Rp 30 juta-Rp 50 juta untuk upah 30 orang mitra penjahit yang sebagian besar adalah tetangga Elsa dan warga di Kelurahan Pasar Ambacang. Sisanya tersebar di beberapa lokasi di Kota Padang.

Para mitra menjahit menggunakan mesin jahit mereka sendiri. Namun, bagi yang tidak punya atau mesinnya perlu diganti, Maharrani Hijab meminjamkan atau membantu membelikan mesin yang dibayar mitra secara kredit tanpa bunga.

Pandemi Covid-19 yang menjadi momok bagi sebagian besar pengusaha justru memberi peluang bagi Elsa dan mitra-mitranya. Angka penjualan produk Maharanni Hijab yang dilakukan secara daring meningkat berkali-kali lipat.

Mitra penjahit pun bertambah signifikan demi memenuhi permintaan pasar. “Dampak pandemi Covid-19 justru positif bagi Maharanni Hijab. Saat pandemi orang tidak berbelanja ke mal tetapi beralih ke cara daring. Peningkatan penjualan mencapai tiga kali lipat, dimulai pada Juni-Juli 2020. Sejak saat itu sampai sekarang penjualan terus meningkat,” kata Elsa.

Dari segi produksi, Maharrani Hijab juga tidak terganggu. Pada saat perusahaan lain mesti menutup pabrik karena pembatasan sosial berskala besar (PSBB), perusahaan Elsa terus berproduksi. Sebab, proses penjahitan dilakukan di rumah mitra masing-masing.

Rezeki di masa pandemi juga mengalir kepada mitra. Mereka bisa mendapat penghasilan lumayan, yakni Rp 1,5 juta hingga Rp 4 juta per bulan.

Susi Meiniyeti (37), mitra di Kampung Villa Tarok, sekitar 1 kilometer dari bengkel Elsa, mengatakan, kerja sama dengan Maharrani Hijab telah membantu perekonomian keluarganya. “Dengan upah ini, saya bisa membantu kebutuhan rumah tangga. Suami saya bekerja sebagai kuli bangunan,” ucap Susi.

Ke depan, Elsa punya target untuk memperluas dampak usahanya. Ia berharap bisa bermitra dengan ribuan orang.

Elsa Maharrani

Lahir: Padang, 5 Maret 1990

Pendidikan: S-1 Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas (lulus 2012)

Penghargaan:

  • SATU Indonesia Awards Bidang Kewirausahaan (2020)
  • Finalis Wirausaha Muda Mandiri (2020)

 

Sumber: Kompas, 7 April 2021

Chloe Zhao. Sejarah Baru Perempuan Sineas. Kompas. 27 April 2021. Hal.16

Kesan Oscar yang seksi dan diskriminatif perlahan memudar. Chloe Zhao (39) berhasil membawa pulang Piala Oscar sebagai sutradara terbaik tahun 2021. Sineas dari China ini menjadi perempuan Asia Pertama yang meraih penghargaan dalam kategori bergengsi tersebut.

Elsa Emiria Leba

Dengan gaun bernuansa nude dan sepatu sneakers putih dari Hermes, Zhao maju ke panggung pergelaran Academy Awards ke-93 di Los Angeles, Amerika Serikat, Minggu (25/4/2021) waktu setempat. Ia tampak tidak percaya bisa memenangi penghargaan sebagai sutradara terbaik untuk film Nomadland (2020), sebuah film drama semi-fiksi tentang kehidupan seorang perempuan nomaden di era modern.

“Ini untuk siapa saja yang memiliki keyakinan dan keberanian untuk berpegang pada kebaikan yang ada di dalam diri mereka sendiri, dan berpegang pada kebaikan satu sama lain, tidak peduli betapa sulitnya melakukan itu. Kalian menginspirasi saya untuk terus maju,” kata Zhao yang sebelumnya mengutip puisi klasik China dalam pidatonya.

Zhao mencatat sejarah baru bagi representasi sineas di Hollywood. Selama 93 tahun perhelatan Academy Awards, hanya tujuh perempuan sutradara mendapat nominasi, termasuk Zhao. Kathryn Bigelow menjadi perempuan sutradara pertama yang menang lewat The Hurt Locker pada 2010. Sebelas tahun berlalu, Zhao menjadi perempuan sutradara kedua yang memenangi kategori ini.

Akan tetapi pencapaian Zhao tidak hanya bagi kaum perempuan. Berasal dari China, Zhao menjadi perempuan bukan kulit putih pertama yang meraih Oscar. Dia membuka pintu bagi perempuan minoritas, khususnya Asia, di Hollywood.

Kemenangan Zhao semakin lengkap karena Nomadland, yang mendapat total enam nominasi, memboyong Piala Oscar untuk kategori Film Terbaik dan Aktris Terbaik. Sebelumnya, film itu telah membawa pulang piala dari berbagai ajang penghargaan lainnya, Zhao mencatat sejarah serupa di Golden Globe Awars pada Februari lalu dan British Academy Film Awards (BAFTA) pada April lalu.

“Saya sangat beruntung bisa melakukan apa yang saya sukai untuk mencari nafkah, dan jika ini berarti lebih banyak orang bisa mewujudkan impian mereka, saya sangat bersyukur,” ucap Zhao.

Karier Zhao mulai mencuri perhatian sejak perilisan film independent Songs My Brothers Taught Me (2015) dan The Rider (2017). Songs My Brothers Taught Me bercerita tentang dilemma dan mimpi remaja Indian Amerika. Film ini mendapat beberapa nominasi di festival film. Sementara The Rider yang membahas kehidupan seorang pengendara rodeo berhasil menang dalam Gotham Independent Film Award, National Board of Review, dan National Society of Film Critics.

Zhao kini menjadi salah satu sineas ternama China dengan pengakuan internasional. Dia disejajarkan dengan nama-nama besar, seperti Zhang Yimou, Chen Kaige, Jia Zhangke, Gong Li, dan Zhang Ziyi.

Terlepas dari itu, karier Zhao tak luput dari kontroversi di China. Salah satunya, akibat kritik lamanya terhadap kehidupan di China kembali muncul sehingga memicu sentimen negative para nasionalis. Ia pun dikecam setelah menang dalam Golden Globes tahun ini. Pembahasan Nomadland di media sosial sempat disensor dan status perilisannya di China tidak jelas.

Beberapa pujian untuk Zhao mulai muncul kembali setelah keberhasilannya memboyong Oscar. Salah satunya berkat pidato kemenangannya yang merujuk pada budaya China. Di Weibo, warganet menyebutnya sebagai cahaya China. Harian China The Global Times juga membahas kemenangannya di Twitter.

Multi-Identitas

Zhao menjadi contoh bagaimana “orang luar” bisa menorehkan sejarah di Hollywood. Zhao lahir dengan nama Zhao Ting, punya ayah seorang pebisnis sukses dan ibunya seorang pekerja di rumah sakit. Ibu tiri Zhao adalah aktris komedi terkenal China, Song Dandan.

“Saya memiliki orangtua yang menarik. Mereka hanya sedikit berbeda dari orangtua umumya di Beijing. Mereka memberontak, aneh, dan tidak pernah berhenti membiarkan saya menjadi diri sendiri,” tutur Zhao.

Kecintaannya pada film dimulai sejak masa kanak-kanak, sebagian terinspirasi film Happy Together (1997) oleh Wong Kar-wai, budaya pop barat, dan era Old West. Dalam wawancara dengan Vogue, Zhao menggambarkan dirinya sebagai “remaja pemberontak, malas di sekolah” yang menemukan kedamaian lewat menggambar manga dan menulis fiksi.

Ia pun nekat hijrah ke negara barat. Zhao pindah untuk belajar di Inggris pada usia 14 tahun. Selanjutnya, ia menempuh pendidikan dan menetap di AS pada tahun 2000. Di New York, ia sempat menjadi murid dari sutradara Spike Lee.

Berbagai pengalaman ini memberi Zhao perspektif kemanusiaan yang beragam. Namun, tinggal di New York membuat Zhao kesulitan mencari lokasi shooting sebagai mahasiswa tingkat akhir. Tak lama, ia jatuh cinta dengan lanskap AS yang luas dan liar, terutama di wilayah bagian barat, seperti Dakota.

Hasilnya, karya-karya Zhao kerap menyajikan potret kehidupan manusia yang memikat di pinggiran AS. “Ke mana pun saya pergi dalam hidup, saya selalu merasa seperti orang luar. Jadi, saya secara alami tertarik kepada orang lain yang hidup di pinggiran atau tidak menjalani gaya hidup arus utamanya,” ujarnya.

Salah satu ciri khas Zhao dalam membuat film adalah kebanyakan karakter film diperankan oleh orang biasa, seperti orang nomaden asli yang tampil di Nomadland. Menurut dia, tidak ada pemeran yang lebih tepat memerankan karakter tertentu daripada orang itu sendiri.

Sutradara ini sebentar lagi terjun ke pasar arus utama melalui film blockbuster Marvel, Eternals. Namun, Zhao memastikan, membangun dunia film yang kaya dan meyakinkan adalah hal terpenting, entah itu film tentang rodeo ataupun pahlawan buku komik.

Chloe Zhao

Lahir: Beijing, 31 Maret 1982

Pendidikan: New York University Tisch School of the Arts

Profesi: Sutradara

Prestasi: 2 Academy Awards, 2 Goldem Globe Awards, dan 2 BAFTA

 

 

Sumber: Kompas, 27 April 2021

Aryani Widagdo. Mendesain Pakaian Bebas Sampah. Kompas.16 April 2021.Hal.16

Aryani Widagdo (71) mendorong banyak orang untuk mendesain pakaian yang minim sampah. Setelah puluhan tahun menekuni dunia mode, dia mendirikan Aryani Widagdo Creativity Nest yang bergerak di bidang riset, pendidikan mode, dan seni menjahit.

Pandemi Covid-19 yang membatasi gerak hampir semua orang tidak menghentikan langkah Aryani. Aktivitas berbagi ilmu dari Aryani Creativity Nest di Surabaya, Jawa Timur, malah semakin luas dengan penelitian secara daring.

Aryani mengadakan pelatihan menjahit pakaian dengan cara zero waste fashion design (desain pakaian bebas sampah). Cara menjahitnya menggunakan pola tanpa rongga sehingga tidak menyisakan kain. Kalaupun tersisa hanya sedikit sekali, berupa benang-benang. Dengan cara ini, pakaian yang dihasilkan bebas sampah dan lebih ramah lingkungan.

Aryani juga menggunakan kain tradisional, seperti lurik, batik, atau kain linen dari serat alami. Awalnya, dia mengajar dengan menggunakan pola karya desainer dari Patrick Kelly dan Holly McQuillan. Beberapa kali, Aryani menggelar pelatihan untuk membuat celana spiral karya Holly McQuillan, desainer dari Selandia Baru yang dikenal dengan desain pakaian bebas sampah.

Seiring berjalannya waktu, Aryani bersama tim dapat membuat pola sendiri. Sebut saja kebaya blus kalisuci, outer anatolia, outer anatalya, atau atasan bermodel kimono yang disebut tongli. Pola dan cara menjahit itulah yang kini diajarkan Aryani.

Dia mengakui, pandemi menjadi tantangan baru bagi timnya. “Kami berjuang supaya semua staf bisa tetap dipertahankan, jadi workshop dibuat online. Tapi, kalau online, penjelasan tidak bisa dilakukan sembari peserta menggunting kain. Jadi, harus dibuatkan video,” kata Aryani saat diwawancara lewat Zoom, Senin (5/4/2021).

Saat ini, setidaknya ada 25 pola siap dibagikan oleh Aryani. Sebelum pandemi, Aryani menggelar pelatihan tatap muka kepada guru SMK, dosen, atau siapa saja yang ingin belajar menjahit. Di sela-sela pelatihan, dia menyiapkan buku mengenai desain pakaian bebas sampah.

Kini, pandemi membuat dia menggelar pelatihan secara daring yang terbuka untuk siapa saja dan di mana pun berada. Hampir setiap hari Aryani dan tim semakin sibuk menyiapkan pelatihan daring. Selain paparan, video juga harus dibuat secara jelas dan rinci. Biaya pelatihan relative terjangkau, di bawah Rp 75.000. Peserta mendapat sertifikat, pola pakaian, video, dan tutorial.

Setiap peserta pun bisa mengakses video tentang cara membuat busana itu. Ketika kurang jelas, video bisa kembali dipelajari di rumah. Bahkan, untuk yang belum pernah menjahit, membuat pakaian bebas sampah bukan hal yang tak mungkin.

Aryani menjelaskan, dia tidak mencari nafkah dari penyelenggaraan pelatihan sehingga biayanya dibuat mura. Bagaimanapun juga dia membutuhkan modal untuk membayar gaji staf dan pembuatan materi video. Dengan biaya yang murah, pelatihan itu bisa menjangkau peserta dari Aceh hingga Papua. Dengan demikian, cita-cita Aryani untuk menyebarkan upaya baik, yaitu desain pakaian bebas sampah, bisa tercapai. Saat pelatihan, Aryani selalu gembira menyambut peserta-peserta yang mampu memodifikasi pola yang disampaikan dan menghasilkan karya baru.

Belajar mode

Kecintaanya pada dunia busana membuat Aryani belajar jarak jauh di Jurusan Fashion Design dan Jurusan Fashion Merchandising. Pennysylvania International Correspondent School, tahun 1987-1988. Saat itu, alumnus Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro ini sudah memiliki dua anak.

Sembari membantu usaha suaminya berjualan ayam dan mengasuh anak, dia terus belajar.

“Saat itu belum ada internet. Jadi, kalau materi kuliah yang dikirimkan via pos terlambat datang, saya deg-degan. Sebab, nanti terlambat untuk mengirimkan ujiannya,” kara Aryani mengenang masa pembelajaran jarak jauhnya.

Tahun 1990, Aryani mendirikan kursus mode. Tahun 2004, kursus mode dinamakan Arva School of Fashion di Surabaya. Sejak awal, sekolah ini memiliki perhatian pada keberlanjutan lingkungan dan isu-isu sosial.

Salah satunya, Arva School pernah menggandeng para desainer di Surabaya membuat boneka kain (rag doll) yang kemudian dilelang. Hasil lelang disumbangkan untuk pengelolaan hutan. Aryani pun mendukung kampanye di isu kesehatan perempuan hingga saat ini.

Pensiun dari Arva School of Fashion pada 2016 membuat Aryani ingin memperluas aktivitasnya. Dia mendirikan Aryani Creativity Nest, sebuah lembaga yang bergerak di bidang riset praktis untuk fashion dan kerajinan jahit. “Setelah pensiun, saya bebas dari pekerjaan rutin, seperti manajemen sekolah, marketing mencari siswa. Jadi, saya bisa melakukan banyak riset,” tuturnya.

Salah satu hasilnya, buku Aryani Widagdo dan Yoyo Kain: 20 Kreasi Bukan Lingkaran Biasa diterbitkan tahun 2018. Yoyo yang dibuat dari guntingan perca dijahit pinggirannya, lalu ditarik hingga berkerut, bisa menjadi hiasan taplak meja. “Setiap orang pasti bisa bikin yoyo, tinggal idenya saja. Dikasih tema, misalnya sirkus, balon sirkusnya dari yoyo yang diisi dakron, boneka badutnya dari yoyo,” tutur Aryani.

Yoyo memanfaatkan kain sisa dari industri garmen atau penjahit. Namun, kenyataannya, hanya sekitar 10 persen perca yang bisa menjadi kerajinan. Sisa sampah kain masih menggunung. Apabila setiap tahun 400 miliar meter persegi kain diproduksi di dunia dan 15 persen kain dibuang selama proses pemotongan, terdapat 60 miliar meter persegi sampah kain.

Keprihatinan ini bersambut dengan informasi mengenai cara menjahit tanpa sisa kain perca dari seorang mantan muridnya. Aryani pun mencari lebih lanjut. Dia membeli dua eksemplar buku Zero Waste Fashion Design karya Timo Rissanen dan Holly McQuillan.

Dari buku ini dan riset yang dilakukan Aryani bersama timnya, muncul banyak desain baru. Sejak saat itu, pola pikir Aryani dalam melihat pola baju pun berubah. Kemudian, lahirlah kebaya kalisuci. Hingga kini, Aryani masih terus menyempurnakan pola kebaya tradisional tanpa kain sisa

Aryani Widagdo

Lahir: Semarang, 6 Juli 1949

Anak: 2

Cucu: 4

Pendidikan:

  • Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro, 1968
  • Kuliah terbuka di Jurusan Fashion Design dan Jurusan Fashion Marchandising, Pennsylvania International Correspondence School, 1987-1988

Pekerjaan:

  • Membuka kursus mode Arva School di Surabaya (1990)
  • Pendiri dan Direktur Arva School of Fashion di Surabaya (2004-2014)
  • Direktur Aryani Widagdo Creativity Nest (2015)
  • Pengajar Sejarah Mode Universitas Surabaya, 2012-2014
  • Pengajar Sejarah Mode Universitas Kristen Petra, sampai saat ini

Penghargaan, antara lain:

  • Womanblitz Blitz Inspiring Woman (2016)
  • Surabaya Fashion Parade 2017: Lifetime Achievement (2017)
  • Yayasan Anne Avantie: Kartini Masa Kini (2018)

 

Sumber: Kompas, 16 April 2021

Anthony Hopkins dan Frances McDormand.Tak Padam Dimakan Senja. Kompas. 29 April 2021. Hal.16

Usia hanya deret angka bagi Anthony Hopkins (83) dan Frances McDormand (63). Melewati usia paruh baya, mereka dinobatkan sebagai Aktor dan Aktris Terbaik Academy Awards 2021. Keduanya Berjaya berkat peran yang berkisah tentang masa tua.

Riana A Ibrahim

Anthony Hopkins memperoleh Oscar lagi lewat peran sebagai ayah yang mengalami demensia dalam film The Father. Sementara itu, McDormand mengulang keberhasilan sebagai Aktris Terbaik lewat perannya sebagai perempuan yang berkeliling Amerika Serikat dengan mobil van untuk menghabiskan masa tuanya dalam film Nomadland.

Hopkins sebenarnya tidak diunggulkan untuk meraih Oscar tahun ini. Aktor yang diunggulkan untuk menerima Oscar tahun ini adalah Chadwick Boseman yang bermain apik dalam film Ma Raines’s Black Bottom. Boseman yang meninggal tahun lalu dianggap layak menerima penghargaan ini, sekaligus sebagai tribute.

Perubahan urutan kategori penghargaan pada malam penganugerahan Oscar yang digelar di Los Angeles, Amerika Serikat, Minggu (25/4/2021) malam waktu setempat, juga kian menguatkan prediksi bahwa keluarga Boseman yang akan membawa pulang Oscar. Biasanya kategori terakhir yang dibacakan adalah Film Terbaik, tapi tahun ini justru kategori Aktor Terbaik dibacakan terakhir sebagai penutup acara.

Pada saatnya, justru nama Hopkins yang disebut. Saat itu, ia justru tak hadir karena situasi pandemi yang membuatnya tetap berada di rumahnya di Wales, Inggris. Sesaat setelah pergelaran berakhir, Hopkins mengunggah sebuah video singkat di akun media sosialnya. Ia mengucapkan terima kasih atas penghargaan yang diterimanya.

“Saya benar-benar tidak menyangka mendapatkannya. Saya mempersembahkan ini untuk Chadwick Boseman yang diambil dari kita terlalu cepat,” ujar Hopkins.

Apabila dititik ulang perjalanan kariernya, Hopkins selalu menjadi pesaing berat bagi para aktor lainnya dalam perburuan Oscar. Ia dinominasikan enam kali sebagai penerima Oscar untuk kategori Aktor Terbaik dan Aktor Pendukung Terbaik. Dari enam nominasi itu, ia merebut dua Oscar.

Oscar pertama ia rebut tahun 1992 sebagai Aktor Terbaik berkat perannya sebagai Hannibal Lecter, seroang kanibal, dalam The Silence of the Lambs (1991). Oscar kedua ia peroleh tahun ini untuk kategori Aktor Terbaik lewat film penerima Oscar paling tua, yakni 83 tahun. Sebelumnya, rekor penerima Oscar tertua dipegang aktor Christopher Plummer pada usia 82 tahun.

Di film The Father, Hopkins yang pernah mendapat gelar dari Ratu Elizabeth II atas pengabdiannya di bidang seni ini berperan sebagai ayah yang mendadak meragukan cinta orang-orang di sekelilingnya akibat demensia. Ia berusaha bertahan dengan mencari ketenangan.

Dari sekian banyak film yang dibintangi Hopkins, karya besutan sutradara Florian Zeller ini ia anggap paling berkesan, tapi juga termudah dalam dimensi aktingnya. “Ini sangat mudah. Mudah sekali bagi saya, tapi sekaligus sangat menyakitkan karena seperti mengingatkan kepada diri saya,” ujarnya kepada The New York Times.

Kecintaanya pada dunia seni peran telah berlangsung lama. Selepas menjalani wajib militer pada 1960, Hopkins menjejak panggung teater. Dari situ, ia melompat ke layar kaca. Pada 1964, ia bermain di film layar lebar. Empat tahun berikutnya, ia masuk daftar nominasi untuk pertama kalinya sebagai Aktor Pembantu Terbaik di BAFTA Awards lewat The Lion in Winter (1968).

“Lebih dari 90 film dilakoninya setelah itu. Tiap peran yang ia ambil tidak pernah mengharuskannya mengubah fisik secara drastis. Keandalan Hopkins berada pada kemampuannya mengolah rasa melalui gestur, mimik muka, dan pembawaan diri. Tak pernah muluk, tetapi ia mengupayakan melalui kapasitas yang sudah ada dalam dirinya.

“Filosofi dalam hidup saya, tak ada yang perlu dimenangi dan dibuktikan. Tak perlu mengkhawatirkan apa-apa, tak perlu muluk. Ringkasnya, tak perlu meminta apa pun, tak perlu berekspetasi apa pun, dan menerima semuanya. Itu saja,” kata Hopkins.

Berwatak keras

Sama seperti Hopkins, McDormand juga mengukit sejarah. Ia menyamai rekor aktris Katharine Hepburn yang memperoleh empat Piala Oscar. McDormand meraih Oscar pertamanya pada 1997 sebagai Aktris Terbaik lewat Fargo (1996). Oscar kedua pada 2018 untuk kategori yang sama lewat Three Billboards Outside Ebbing, Missouri. Tahun ini, ia mendapat Oscar untuk kategori Aktris Terbaik dan sebagai produser karena Nomadland dinobatkan sebagai Film Terbaik.

Lulusan Universitas Yale ini menjadi sedikit dari sekian banyak aktris dan aktor yang mampu meraih tiga penghargaan bergengsi di bidang akting di tiga kompetisi berbeda. Umumnya, disebut sebagai triple crown of acting, yakni Academy Awards untuk televisi, dan Tony Awards untuk teater.

Penghargaan tertinggi di bidang teater diperolehnya pada 2011 lewat pementasan bertajuk Good People (2011). Untuk bidang pertelevisian, ia meraihnya melalui mini seri Olive Kiteridge (2014).

Dari berbagai pengalamannya, karakter yang ia emban hampir sedikit mirip dengan kesehariannya, yaitu perempuan berwatak keras. Terlihat juga dari dominasi film bergenre crime yang dibintanginya, seperti Mississipi Burning (1988), Primal Fear (1996), The Man Who Wasn’t There (2001), dan Burn After Reading (2008) yang bercampur komedi gelap. Beberapa komedi romantic juga dijajalnya seperti Almost Famous (2000) dan Something’s Gotta Give (2003).

Sayangnya di dunia perfilman pun kian lebar ketika memutuskan memulai terjun di belakang layar sebagai produser. Debutnya adalah film Every Secret Thing (2014). Berlanjut pada tahun lalu untuk Nomadland, tapi kali ini ia turut serta sebagai pemeran utamanya.

Berbeda dari para penerima penghargaan di tahun-tahun sebelumnya, putri adopsi dari pasangan Noreen dan Vernon McDormand ini memilih pidato kemenangan yang singkat. Ia mengutip kalimat Lord Macduff dalam kisah Macbeth milik William Shakespeare. “Aku tak punya kata-kata karena suaraku berada di pedangku,” ucapnya seolah memberikan petunjuk tentang proyek yang tengah digarapnya bersama suaminya, sutradara Joel Coen, yakni film berjudul The Tragedy of Macbeth. Saat filmnya didapuk sebagai yang terbaik, ia juga hanya memilih menirukan lolongan serigala yang terdengar juga dalam suatu adegan di Nomadland.

Sosok Fern yang diperankan diakuinya terasa dekat dengan dirinya. Terkadang ia membayangkan akan menghabiskan masa tuanya dengan berkeliling Amerika dan tinggal berpindah-pindah tempat.

Dalam Nomadland, Fern kehilangan suami dan pekerjaannya sekaligus. Seorang diri ia mencoba menemukan kembali arah hidup dan mencoba bertahan dengan memulai perjalanan yang mempertemukannya dengan orang baru, dengan berbagai cerita kehidupan, sekaligus mengajarkan agar tak kalah dari hidup

“Ini tentang bagaimana mengambil keputusan hidup dan melepaskan yang dimiliki. Fern melakukan setelah berusia 61 tahun setelah terikat lama dengan suaminya. Aku mengambil keputusan besar dalam hidupku untuk keluar dari zona nyamanku sejak umur 17 tahun,” ungkapnya.

Pada akhirnya, McDorman dan Hopkins membuktikkan bahwa karya tak akan lekang dimakan usia.

Sir Phillips Anthony Hopkins

Lahir: Port Talbot, 31 Desember 1937

Penghargaan: Aktor Terbaik Academy Awards pada 1992 dan 2021

Frances Louise McDormand

Lahir: Illnois, 23 Juni 1957

Penghargaan:

  • Aktris Terbaik Academy Awards 1997, 2018, dan 2021
  • Film Terbaik Academy Awards 2021, Nomadland

Sumber: Kompas, 29 April 2021