Elsa Maharrani. Menjahit Kesejahteraan. Kompas. 7 April 2021. Hal.16

Berwirausaha bukan sekedar perkara mencari untung, melainkan juga bagaimana mengangkat perekonomian masyarakat di sekitarnya. Dengan prinsip itu, Elsa Maharrani memberdayakan perempuan, sebagian ibu rumah tangga di Padang, Sumatera Barat, agar memiliki penghasilan sendiri.

Yola Sastra

Sukses menjadi penjual (reseller) daring dan distributor merek-merek pakaian muslim sejak 2016 tidak memuaskan hati Elsa. Ia melihat apa yang ia lakukan belum berdampak bagi orang di sekitarnya.

Ia pun memberanikan diri memproduksi pakaian muslim dengan merek sendiri, yakni Maharrani Hijab, pada 2018. Selain memberi keuntungan, ia juga berharap usahanya bisa membuka ladang rezeki bagi orang lain.

Akhir tahun, Elsa berkolaborasi dengan mahasiswa Program Studi Tata Busana Universitas Negeri Padang dalam membuat pola, memotong, dan menjahit pakaian. Ia kemudian menjajaki kerja sama dengan penjahit kampung di sekitar rumahnya di Kelurahan Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang.

Akan tetapi, upaya itu tidaklah mudah. Masalah upah penjahit di Padang relatif tinggi. Mereka mematok upah menjahit Rp 100.000- Rp 150.000 per helai pakaian. Padahal, Elsa hanya bisa menawarkan upah Rp 25.000 per helai. Pertimbangannya, pesanan dari dia akan berkelanjutan. Selain itu, pekerjaannya lebih sederhana, yaitu menjahit pola kain yang sudah dipotong. Bahan-bahannya juga disediakan Elsa.

Tawaran Elsa menghasilkan penolakan. Namun, akhirnya ia menemukan mitra penjahit yang sesuai kriteria. Ia seorang perempuan yang pernah bekerja di pabrik garmen di Jakarta dan saat itu sedang menganggur. “Kemitraan dengan ibu itu lancar. Ia terus menjahit untuk kami hingga sekarang. Melihat itu, tetangganya mau juga bermitra. Akhirnya, mitra kami yang awalnya cuma satu bertambah dua, tiga, lima, sepuluh, hingga sekarang jadi tiga puluh orang,” kata Elsa di rumahnya di dekat pinggiran kota, Selasa (23/3/2021) siang.

Mitra Elsa 80 persen adalah perempuan. Sebagian besar baru belajar menjahit. “Ada yang awalnya cuma pandai manghoyak-hoyak masin (menggoyang-goyangkan mesin), sekarang sudah bisa menjahit baju,” ujar Elsa.

Para pemula itu belajar menjahit kepada tetangga. Elsa mengoreksi hasil jahitan mereka agar bisa sesuai dengan standar yang ia tetapkan.

Siang itu, Elsa memantau proses praproduksi oleh tim produksi Maharrani Hijab di bengkel sebelah rumahnya. Dua laki-laki sedang mengukur kain untuk membuat pola. Seorang perempuan sedang menyusun pola yang sudah dipotong dan seorang perempuan lainnya menjahit.

Elsa menceritakan, proses penjahitan dilakukan oleh mitra di rumah masing-masing. Sementara itu, kegiatan praproduksi seperti pembuatan dan pemotongan pola serta pascaproduksi dan pengemasan dilakukan di rumah Elsa dan bengkel itu.

Maharani Hijab itu memproduksi baju gamis, baju koko, mukena, jilbab, seragam dinas, hingga masker. Untuk kategori pakaian saja, Elsa bisa memproduksi 1.500 hingga 2.000 helai per bulan.

Usaha Sosial

Menurut Elsa, jika sekadar berbisnis, ia sebenarnya bisa saja menggunakan jasa para penjahit di sentra konfeksi dari daerah lain, seperti Bandung, Jawa Barat. Upah penjahit di sana jauh lebih murah dibandingkan upah penjahit di Padang. Walakin, Elsa memilih mengawinkan bisnis dengan pemberdayaan masyarakat.

Di Padang, ia mengeluarkan biaya produksi gamis sekitar Rp 45.000 per helai, sementara di Bandung ongkos produksinya hanya Rp 30.000-Rp 35.000 per helai. Elsa tinggal mengirimkan kain. Biaya bahan lainnya, seperti benang, risleting, dan kancing, ditanggung mereka.

“Kenapa harus produksi di Padang? (Karena) produk domestik bruto (PDB) Sumbar, termasuk Padang, relatif rendah dibanding daerah lain. Sumbar membeli semuanya dari Jawa. Produksi kain dan penjahitan di Jawa, baru pakaiannya dibawa ke Padang. Kalau semua dioper ke Jawa, uang tidak akan berputar di Padang,” tutur Elsa.

Rezeki mengalir

Dengan pemikiran itu, Elsa berupaya agar uang dari kalangan menengah mengalir kepada kalangan ekonomi rendah di Padang. Saat ini, dalam sebulan, Elsa mengeluarkan Rp 30 juta-Rp 50 juta untuk upah 30 orang mitra penjahit yang sebagian besar adalah tetangga Elsa dan warga di Kelurahan Pasar Ambacang. Sisanya tersebar di beberapa lokasi di Kota Padang.

Para mitra menjahit menggunakan mesin jahit mereka sendiri. Namun, bagi yang tidak punya atau mesinnya perlu diganti, Maharrani Hijab meminjamkan atau membantu membelikan mesin yang dibayar mitra secara kredit tanpa bunga.

Pandemi Covid-19 yang menjadi momok bagi sebagian besar pengusaha justru memberi peluang bagi Elsa dan mitra-mitranya. Angka penjualan produk Maharanni Hijab yang dilakukan secara daring meningkat berkali-kali lipat.

Mitra penjahit pun bertambah signifikan demi memenuhi permintaan pasar. “Dampak pandemi Covid-19 justru positif bagi Maharanni Hijab. Saat pandemi orang tidak berbelanja ke mal tetapi beralih ke cara daring. Peningkatan penjualan mencapai tiga kali lipat, dimulai pada Juni-Juli 2020. Sejak saat itu sampai sekarang penjualan terus meningkat,” kata Elsa.

Dari segi produksi, Maharrani Hijab juga tidak terganggu. Pada saat perusahaan lain mesti menutup pabrik karena pembatasan sosial berskala besar (PSBB), perusahaan Elsa terus berproduksi. Sebab, proses penjahitan dilakukan di rumah mitra masing-masing.

Rezeki di masa pandemi juga mengalir kepada mitra. Mereka bisa mendapat penghasilan lumayan, yakni Rp 1,5 juta hingga Rp 4 juta per bulan.

Susi Meiniyeti (37), mitra di Kampung Villa Tarok, sekitar 1 kilometer dari bengkel Elsa, mengatakan, kerja sama dengan Maharrani Hijab telah membantu perekonomian keluarganya. “Dengan upah ini, saya bisa membantu kebutuhan rumah tangga. Suami saya bekerja sebagai kuli bangunan,” ucap Susi.

Ke depan, Elsa punya target untuk memperluas dampak usahanya. Ia berharap bisa bermitra dengan ribuan orang.

Elsa Maharrani

Lahir: Padang, 5 Maret 1990

Pendidikan: S-1 Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas (lulus 2012)

Penghargaan:

  • SATU Indonesia Awards Bidang Kewirausahaan (2020)
  • Finalis Wirausaha Muda Mandiri (2020)

 

Sumber: Kompas, 7 April 2021

Dwi Listyo Rahayu. Meneliti Kelomang dan Kepiting. Kompas. 5 Mei 2021. Hal.16

Selama puluhan tahun, Dwi Listyo Rahayu (64) setia meneliti biota laut. Saat ini, dia memilih mengambil peran meneliti keragaman jenis kelomang dan kepiting. Kelomang atau Paguroidea yang berfungsi menjaga keseimbangan laut dan kepiting atau Brachyura yang membuat lubang-lubang di dasar perairan untuk membantu aerasi (menambah oksigen).

Mediana

Setengah abad lebih setelah Ekspedisi Snellius I, Pemerintah Indonesia dan Belanda bekerja sama meneliti kembali perairan timur Nusantara. Indonesia di wakili Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Belanda melalui Netherlands Council for Oceanic Reseach yang berada di bawah Netherlands Organization for the Advancement of Science. Kedua negara sepakat melanjutkan penamaan sebelumnya, yakni Snellius II.

Ekspedisi itu terdiri atas lima tema penelitian, yakni geologi dan geofisika, ventilasi lubuk laut dalam, sistem pelagis, terumbu karang, dan dampak sungai terhadap lingkungan laut. Ekspedisi Snellius II dimulai Juni 1984. Dwi Listyo Rahayu atau akrab disapa Yoyo yang baru dua tahun bekerja sebagai peneliti Stasiun Penelitian Ambon LIPI ikut dalam rombongan itu.

Pengalaman ikut Ekspedisi Snellius II membuat Dwi berkenalan dengan peneliti-peneliti taksonomi senior. Mereka tampak girang ketika menemukan biota laut tak dikenal, lalu berhasil mendeskripsikannya. Dari sanalah dia mengakui mulai jatuh cinta dengan taksonomi, khususnya taksonomi morfologi.

Seusai ekspedisi, dia meraih beasiswa Overseas Fellowship Program (OFP) angkatan pertama yang digagas BJ Habibie. Dengan beasiswa itu, dia kuliah magister Biology Oceanography di Universite de Paris 6, Pierre et Marie Curie, di Paris, Perancis.

Awalnya, dia berpikir mau bekerja meneliti ulang. Alasannya, udang bisa dimakan. Lalu, Dwi mencari professor taksonomi yang meneliti udang, tetapi ternyata materi penelitian ada di Kaledonia Baru. Lalu, dia mencari materi penelitian yang lebih dekat, yakni di Paris, Perancis. Saat itulah dia ditawari mengerjakan kelomang.

“Reaksi pertama saya ‘apa ini? (kelomang) tak bisa dimakan.’ Masih penasaran, saya mencari banyak literatur untuk pendukung riset. Saya kaget karena publikasi mengenai kelomang di Indonesia terakhir kali pada 1937 dan tidak ada lagi setelah itu,” ujar Dwi saat dihubungi pada Sabtu (24/4/2021) dari Jakarta.

Sejak itu, dia menekuni keragaman kelomang sampai kemudian melanjutkan doktoral di universitas yang sama. Dwi merasa beruntung dengan aturan beasiswa OFP yang mengharuskan S-2 lanjut ke S-3. Jaringan kerja dengan peneliti taksonomi morfologi dari sejumlah negara, seperti kawasan Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang, membukanya jalan baginya menekuni kelomang.

Jejaring itu juga kelak membuatnya menjadi peneliti tamu berbagai Museum Natural History, antara lain di Singapura (Lee Kong Chian Natural History Museum-NUS); Jepang (National Science Museum, Tokyo; Natural History Museum and Institute, Chiba); Perancis (Museum National d’Histoire Naturelle, Paris); Amerika Serikat (National Museum of Natural History, Smithsonian Institution, Washington DC).

Setelah Snellius II, Dwi terlibat dalam ekspedisi biodiversitas berskala internasional, seperti Karubar, Sjades, Comprehensive Marine Biodiversity Survey (CMBS), Panglao, dan Kumejima. Selain dari perairan laut Indonesia, dia meneliti taksonomi kelomang dan kepiting dari berbagai perairan di Indo-Pacific.

Mencintai Laut

Hidup berdampingan dengan laut memang telah menjadi kesehariannya sejak kecil. Dia yang berasal dari Banyuwangi, akrab bermain di pantai setiap akhir pekan diajak ayahnya. Setelah lulus SMA, dia mantap mengambil jurusan perikanan di IPB University. Tugas akhirnya pun berhubungan dengan penelitian di laut.

Seusai studi pascasarjana, Dwi kembali bekerja di Ambon. Ketika Ambon mengalami kerusuhan tahun 1999, semua peneliti LIPI Ambon, termasuk Dwi, harus mengungsi. Sempat seminggu di pengungsian, dia dan peneliti lain terpaksa harus keluar dari Ambon karena suasana semakin tak terkendali.

Dalam ingatan Dwi hanya terpikir menyelamatkan spesimen-spesimen kelomang hasil Ekspedisi Siboga (1899-1900), koleksi dari sejumlah museum di Eropa, yang belum selesai dia teliti. Dia kembali ke kantor LIPI Ambon mengambil semua spesimen, memasukkan ke dalam ransel, dan naik kapal ke luar dari Ambon ke Jakarta.

Spesimen tersebut berhasil dipublikasikan tahun 2005. “Ada berkisar 20-25 botol specimen. Saya hanya bawa baju dan keperluan sedikit. Semua literatur tertinggal,” ujarnya.

Kesempatan mengeksplorasi laut kembali menghampiri Dwi saat ke Jakarta. Saat itu, sang suami mendapat kesempatan menjadi konsultan di Papua, Dwi mendapat tawaran mengeksplorasi dan meneliti kepiting di mangrove Papua.

“Keluar dari Ambon tanpa bawa literatur. Saya tetap ambil kesempatan meneliti kepiting. Saya ke singapura, semua literatur saya fotokopi guna mendukung penelitian kepiting itu,” kenang Dwi.

Pada penelitian mangrove di Papua, beberapa hasil sudah di deskripsikan dan dipublikasikan, yakni Elamenopsis gracilipes, Amarinus pristes, Clistocoeloma amamaparense, Paracleistostoma quadratum, dan Clibanarius harisi.

Sejak 1988 sampai sekarang, sebanyak 2 genus dan 71 spesies baru kelomang serta 6 genus dan 76 spesies baru kepiting telah ditemukan, dideskripsi, dan dipublikasikan ke dalam 88 artikel ilmiah di jurnal nasional dan internasional. Hasil tersebut dia tulis secara mandiri atau bersama peneliti lain.

Ada rasa takjub sekaligus bersyukur kepada Sang Pencipta setiap kali Dwi berhasil mengungkap spesies baru. Apalagi, di perairan Indonesia. Dia yakin Indonesia merupakan negara maha-biodiversitas. Dia memprediksi Indonesia mempunyai 200-300 spesies kelomang.

Beberapa contoh spesies baru kelomang di Indonesia yang berhasil dia deskripsikan secara mandiri ataupun bersama peneliti lainnya ialah Clibanarius rubroviria, Calcinus morgani, dan Pagurusfungiformis.

Hanya, kekayaan biota laut sebanyak itu belum banyak di teliti oleh peneliti Indonesia. Kegelisahan lainnya yang kini dirasakan oleh Dwi adalah berkurangnya generasi muda mau meneliti taksonomi morfologi. Kebanyakan anak muda suka mengerjakan taksonomi genetik. Padahal, tanpa menguasai taksonomi morfologi, penelitian taksonomu genetik akan kesusahan.

“Apa yang saya kerjakan sekarang adalah sains dasar. Taksonomi adalah dasarnya ilmu biologi. Kalau taksonominya tidak ketahuan, sainstis juga tidak bisa berbicara dan itu berdampak ke hal lainnya, seperti budidaya dan pelestarian ekologi,” katanya.

Dwi tidak pernah menyesali perjalanan hidupnya yang berkecimpung dengan kelomang dan kepiting. Padahal, mulanya dia ingin menekuni taksonomi Crustacea yang langsung cepat komersial, seperti udang.

“Saya punya pasangan peneliti yang mengerjakan budidaya biota laut yang bisa dimakan. Klop kan?” ujarnya sambil tertawa.

Masih banyak aktivitas penelitian keragaman jenis kelomang dan kepiting yang ingin dia kerjakan, baik melalui ekspedisi maupun menyelesaikan spesimen yang sudah tersedia. Dia juga sedang membimbing salah satu mahasiswanya agar bisa meneruskan penelitian taksonomi morfologi.

Di waktu luangnya, Dwi memilih membaca novel detektif yang dibelinya bandara-bandara luar negeri. Menurut dia, selain menghibur, dia bisa melatih kemampuan berbahasa Inggris yang bermanfaat untuk penulisan di jurnal ilmiah.

Ketika senja tiba dan dia masih di kantornya, Balai Bioindustri Laut LIPI Lombok, Dwi memilih menikmati suasana laut. “Sangat bisa sekali melihat padang lamun,” katanya menutup pembicaraan.

Dwi Listyo Rahayu

Lahir: Mojokerto, 31 Juli 1957

Pendidikan:

  • S-1 Perikanan, IPB University
  • S-2 (1988) dan S-3 (1992) Biology Oceanography, Universite de Paris 6, Pierre et Marie Curie, Paris, Perancis

Pekerjaan: Ahli Peneliti Utama, Profesor Riset di Balai Bioindustri Laut-LIPI di Lombok, NTB (2005-sekarang)

Penghargaan: Satyalancana Karya Satya 10, 20, dan 30 tahun, dan Satyalancana Wira Karya

 

Sumber: Kompas, 5 Mei 2021

Devi Paulus Lopulalan. Laut Lestari dengan Sasi. Kompas. 26 Februari 2021. Hal.16

Perairan Seira di Kepulauan Tanimbar, Maluku, merupakan wilayah yang kaya akan sumber daya laut, terutama ikan, telur ikan terbang, dan teripang. Pelaku kejahatan perairan sering mengeksploitasi hasil laut di kawasan itu. Sekitar satu dekade terakhir, Devi Paulus Lopulalan terlibat aktif menjaga perairan seluas 150 kilometer persegi itu.

Fransiskus Padi Herin

Devi Paulus Lopulalan, yang akrab disapa Depol, mendekati beberapa pria jangkung yang terus memolototinya saat ia berjalan mendekati mereka. Berhenti di tengah kerumunan pria bertelanjang dada itu, tatapan mata Depol tertuju pada salah satu dari mereka sambil memberi isyarat agar orang tersebut mengikutinya.

Pria yang diajak tadi mengikutinya dari belakang menuju sebuah gubuk dekat mereka berkumpul. Di sana Depol menyergah. “Su (sudah) dapat berapa juta dari hasil jual teripang?” tanya Depol.

Pria itu hanya menunduk terdiam. Depol kembali berkata untuk menggugah nurani pria itu. “Kamong (kalian) tau ka seng (tidak), sekarang banyak orang tua susah cari uang buat kasih sekolah dorang (mereka) punya anak. Beta (saya) minta stop,” ujar Depol kepada pria itu di Pulau Tatunarwatu, 26 Agustus 2017.

Tatunarwatu menjadi pulai kelima yang ia datangi dalam misi menelusuri jejak pencurian teripang (Holothuroidea) selama dua hari. Pulau itu diduga jadi tempat persembunyian komplotan pencuri teripang. Informasi itu ia dapat dari warga dan nelayan yang ia temui di Pulau Seira, Ngolin, Tamdalan Nawa, dan Wuriaru.

Gugusan pulau itu berada di sebelah barat Pulau Yamdena, pulau terbesar di Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Untuk menjangkau perahu motor dengan waktu sekitar 1 jam dari Yamdena. Untuk menuju ke empat pulau lain, butuh 2-4 jam.

Kedatangan Depol ke Tatunarwatu untuk memberi peringatan kepada kelompok itu agar berhenti mengambil teripang. Itu setelah masyarakat meminta agar pencurian dihentikan. Teripang menjadi sandaran hidup masyarakat setempat yang berjumlah sekitar 7.000 jiwa. Dengan menjual teripang, hasilnya digunakan untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka.

Aksi pencurian teripang kala itu masif. Para pemuda, termasuk yang didatangi Depol di Pulau Taturnawatu, dipekerjakan pemodal. Mereka mendapat beking sejumlah oknum aparat. Mereka dibekali mesin kompresor dan peralatan selam untuk mengambil teripang pada malam hari. Harga teripang saat itu Rp 245.000 hingga Rp 1,8 juta per kilogram.

Berkat penelusuran Depol, informasi mengenai pencurian teripang akhirnya mencuat ke publik. Ia dicari banyak pihak, baik yang bermaksud menggali informasi maupun ingin mengintimidasi. Perwakilan dari sejumlah instansi, termasuk Kementerian Kelautan dan Perikanan, datang ke Pulau Seira. Beberapa oknum aparat yang terlibat akhirnya diproses hukum.

Tak hanya pencurian teripang, Depol juga mendorong gerakan penertiban terhadap nelayan dari luar Maluku yang mengambil telur ikan terbang (Hirundichthys oxycephalus) secara berlebihan. Setiap tahun ada lebih dari 100 kapal yang mengambil telur ikan tersebut, biasanya pada bulan Mei hingga September.

Saat musim gelombang tinggi dan ikan terbang bertelur, mereka beraksi. Satu kapal bisa mengambil sampai 1 ton telur ikan yang kemudian dijual Rp 400.000 per kg. Pengambilan telur ikan berlebihan akan mengurangi populasi ikan terbang. Nelayan setempat mengeluh dan meminta pengambilan telur ikan dibatasi.

Kearifan Lokal

Di tengah kondisi itu, Depol melihat budaya sasi di kalangan masyarakat setempat jadi modal baginya untuk mengampanyekan gerakan menjaga laut. Sasi sudah ada sejak dulu dan perlu dilestarikan.

Selama periode sasi, hasil alam di tempat itu tidak boleh diambil. Setelah sasi dibuka, masyarakat boleh memanen teripang kembali. Tujuannya, agar pengambilan teripang dibatasi. Selain itu, juga memberi waktu pemulihan ekosistem perairan sehingga hasil produksi tetap maksimal.

Untuk mengawal itu, patrol dan pengamanan laut oleh masyarakat lokal di rancang Depol bersama tokoh masyarakat dan tokoh adat. Mereka membentuk semacam tim penjaga laut yang melibatkan para pemuda. Di tiap pulau, Depol menugasi masyarakat setempat menjadi mata-mata.

Mereka memantau pergerakan orang dan kapal yang datang, mencatat temuan, dan mencari informasi dari lapangan. Jika ada yang mencurigakan, mereka segera menghubungi Depol agar diambil tindakan. Bagi yang tinggal di pulau di luar jangkauan jaringan seluler, mereka menitip laporan tertulis lewat nelayan untuk diteruskan ke Depol yang tinggal di Pulau Seira.

Berkat kerja sama itu, masyarakat mulai menikmati hasil laut yang semakin banyak dan berkelanjutan. “Sekarang ini, teripang sudah banyak dan masyarakat semakin mudah mendapatkan uang untuk menopang hidupnya. Pengambilan telur ikan terbang juga mulai mendapat perhatian dari pemerintah,” ujar Depol di Kota Ambon, awal Februari 2021

Menurut Depol, kearifan lokal, seperti sasi, menjadi kekuatan masyarakat untuk menjaga keberlanjutan sumber daya alam. Dengan sasi, masyarakat adat memiliki otoritas untuk melarang dan mengizinkan pengambilan hasil alam.

Sepuluh tahun terakhir Depol bertugas sebagai pendeta pada Gereja Protestan Maluku di daerah itu. Ia membuktikan pentingnya tokoh agama dan masyarakat adat lokal berkolaborasi membangun kekuatan untuk menjaga alam tetap lestari.

Devi Paulus Lopulalan

Lahir: Porti, 28 Desember 1978

Pendidikan Terakhir: Sarjana Filsafat, Fakultas Teologi, Universitas Kristen Indonesia Maluku (1996-2002)

IstriL Ellsye Alce Matakena

Anak: Alpha G Lopulalan dan Nalta E Lopulalan

 

Sumber: Kompas, 26 Februari 2021

Chloe Zhao. Sejarah Baru Perempuan Sineas. Kompas. 27 April 2021. Hal.16

Kesan Oscar yang seksi dan diskriminatif perlahan memudar. Chloe Zhao (39) berhasil membawa pulang Piala Oscar sebagai sutradara terbaik tahun 2021. Sineas dari China ini menjadi perempuan Asia Pertama yang meraih penghargaan dalam kategori bergengsi tersebut.

Elsa Emiria Leba

Dengan gaun bernuansa nude dan sepatu sneakers putih dari Hermes, Zhao maju ke panggung pergelaran Academy Awards ke-93 di Los Angeles, Amerika Serikat, Minggu (25/4/2021) waktu setempat. Ia tampak tidak percaya bisa memenangi penghargaan sebagai sutradara terbaik untuk film Nomadland (2020), sebuah film drama semi-fiksi tentang kehidupan seorang perempuan nomaden di era modern.

“Ini untuk siapa saja yang memiliki keyakinan dan keberanian untuk berpegang pada kebaikan yang ada di dalam diri mereka sendiri, dan berpegang pada kebaikan satu sama lain, tidak peduli betapa sulitnya melakukan itu. Kalian menginspirasi saya untuk terus maju,” kata Zhao yang sebelumnya mengutip puisi klasik China dalam pidatonya.

Zhao mencatat sejarah baru bagi representasi sineas di Hollywood. Selama 93 tahun perhelatan Academy Awards, hanya tujuh perempuan sutradara mendapat nominasi, termasuk Zhao. Kathryn Bigelow menjadi perempuan sutradara pertama yang menang lewat The Hurt Locker pada 2010. Sebelas tahun berlalu, Zhao menjadi perempuan sutradara kedua yang memenangi kategori ini.

Akan tetapi pencapaian Zhao tidak hanya bagi kaum perempuan. Berasal dari China, Zhao menjadi perempuan bukan kulit putih pertama yang meraih Oscar. Dia membuka pintu bagi perempuan minoritas, khususnya Asia, di Hollywood.

Kemenangan Zhao semakin lengkap karena Nomadland, yang mendapat total enam nominasi, memboyong Piala Oscar untuk kategori Film Terbaik dan Aktris Terbaik. Sebelumnya, film itu telah membawa pulang piala dari berbagai ajang penghargaan lainnya, Zhao mencatat sejarah serupa di Golden Globe Awars pada Februari lalu dan British Academy Film Awards (BAFTA) pada April lalu.

“Saya sangat beruntung bisa melakukan apa yang saya sukai untuk mencari nafkah, dan jika ini berarti lebih banyak orang bisa mewujudkan impian mereka, saya sangat bersyukur,” ucap Zhao.

Karier Zhao mulai mencuri perhatian sejak perilisan film independent Songs My Brothers Taught Me (2015) dan The Rider (2017). Songs My Brothers Taught Me bercerita tentang dilemma dan mimpi remaja Indian Amerika. Film ini mendapat beberapa nominasi di festival film. Sementara The Rider yang membahas kehidupan seorang pengendara rodeo berhasil menang dalam Gotham Independent Film Award, National Board of Review, dan National Society of Film Critics.

Zhao kini menjadi salah satu sineas ternama China dengan pengakuan internasional. Dia disejajarkan dengan nama-nama besar, seperti Zhang Yimou, Chen Kaige, Jia Zhangke, Gong Li, dan Zhang Ziyi.

Terlepas dari itu, karier Zhao tak luput dari kontroversi di China. Salah satunya, akibat kritik lamanya terhadap kehidupan di China kembali muncul sehingga memicu sentimen negative para nasionalis. Ia pun dikecam setelah menang dalam Golden Globes tahun ini. Pembahasan Nomadland di media sosial sempat disensor dan status perilisannya di China tidak jelas.

Beberapa pujian untuk Zhao mulai muncul kembali setelah keberhasilannya memboyong Oscar. Salah satunya berkat pidato kemenangannya yang merujuk pada budaya China. Di Weibo, warganet menyebutnya sebagai cahaya China. Harian China The Global Times juga membahas kemenangannya di Twitter.

Multi-Identitas

Zhao menjadi contoh bagaimana “orang luar” bisa menorehkan sejarah di Hollywood. Zhao lahir dengan nama Zhao Ting, punya ayah seorang pebisnis sukses dan ibunya seorang pekerja di rumah sakit. Ibu tiri Zhao adalah aktris komedi terkenal China, Song Dandan.

“Saya memiliki orangtua yang menarik. Mereka hanya sedikit berbeda dari orangtua umumya di Beijing. Mereka memberontak, aneh, dan tidak pernah berhenti membiarkan saya menjadi diri sendiri,” tutur Zhao.

Kecintaannya pada film dimulai sejak masa kanak-kanak, sebagian terinspirasi film Happy Together (1997) oleh Wong Kar-wai, budaya pop barat, dan era Old West. Dalam wawancara dengan Vogue, Zhao menggambarkan dirinya sebagai “remaja pemberontak, malas di sekolah” yang menemukan kedamaian lewat menggambar manga dan menulis fiksi.

Ia pun nekat hijrah ke negara barat. Zhao pindah untuk belajar di Inggris pada usia 14 tahun. Selanjutnya, ia menempuh pendidikan dan menetap di AS pada tahun 2000. Di New York, ia sempat menjadi murid dari sutradara Spike Lee.

Berbagai pengalaman ini memberi Zhao perspektif kemanusiaan yang beragam. Namun, tinggal di New York membuat Zhao kesulitan mencari lokasi shooting sebagai mahasiswa tingkat akhir. Tak lama, ia jatuh cinta dengan lanskap AS yang luas dan liar, terutama di wilayah bagian barat, seperti Dakota.

Hasilnya, karya-karya Zhao kerap menyajikan potret kehidupan manusia yang memikat di pinggiran AS. “Ke mana pun saya pergi dalam hidup, saya selalu merasa seperti orang luar. Jadi, saya secara alami tertarik kepada orang lain yang hidup di pinggiran atau tidak menjalani gaya hidup arus utamanya,” ujarnya.

Salah satu ciri khas Zhao dalam membuat film adalah kebanyakan karakter film diperankan oleh orang biasa, seperti orang nomaden asli yang tampil di Nomadland. Menurut dia, tidak ada pemeran yang lebih tepat memerankan karakter tertentu daripada orang itu sendiri.

Sutradara ini sebentar lagi terjun ke pasar arus utama melalui film blockbuster Marvel, Eternals. Namun, Zhao memastikan, membangun dunia film yang kaya dan meyakinkan adalah hal terpenting, entah itu film tentang rodeo ataupun pahlawan buku komik.

Chloe Zhao

Lahir: Beijing, 31 Maret 1982

Pendidikan: New York University Tisch School of the Arts

Profesi: Sutradara

Prestasi: 2 Academy Awards, 2 Goldem Globe Awards, dan 2 BAFTA

 

 

Sumber: Kompas, 27 April 2021

Budi Ayin. Limbah Bersuara Indah. Kompas.1 Maret 2021. Hal.16

Budi Ayin (51) hanya seorang buruh proyek yang memanfaatkan waktu luang untuk membuat alat musik dari bahan limbah. Puluhan instrumen telah dihasilkan, salah satunya menjadi pengiring videoklip musik garapan anak muda Kampung Cempluk yang memenangi festival internasional di pengunjung 2020.

Defri Werdiono

Budi Ayin menjadi salah satu orang yang paling bergembira atas prestasi yang diraih anak muda Kampung Cempluk di Jalan Dieng Atas, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Pada 23 Desember 2020, mereka meraih juara 1 Sopravista International Festivals untuk kategori instrumen dan vokal. Ini adalah festival daring berbasis folklor di Italia.

Dalam festival yang diikuti perwakilan dari 30-an negara itu, videoklip musik berjudul “Hijau Lestari” yang dibawakan oleh grup Duo Etnicholic dari Kampung Cempluk menggunakan iringan alat musik dawai buatan Budi Ayin. Instrument itu dinamai Dawai Cempluk empat senar.

Duo Etnicholic digawangi oleh Anggar Syaf’iah Gusti dan Redy Eko Prastyo. Mereka adalah pembakti di tempat itu. Pembakti, sebutan bagi anak muda yang punya peran memajukan Kampung Cempluk. Sebelumnya, videoklip “Hijau Lestari” dibuat dalam rangka mengisi kanal iRL Gigs yang berisi karya-karya musik non-mainstream di Malang.

“Pekerjaan saya adalah sebagai buruh proyek. Membuat alat musik hanya sambilan kalau ada waktu. Alhamdulilah, sekitar 30 alat musik sudah saya hasilkan, ‘seperti sape’ dan banjo. Ada juga cetik (menyerupai kulintang berukuran kecil) dari bambu,” ujarnya, Minggu (21/2/2021).

Budi mengatakan, sehari-hari dirinya lebih banyak membuat ornamen rumah. Sebelum pandemi Covid-19, dia menerima pesanan membuat dekorasi untuk acara perpisahan siswa sekolah dan panggung pertunjukan dengan ukuran tidak terlalu besar. Pekerjaan tersebut dia geluti sejak puluhan tahun lalu dan masih berlangsung sampai sekarang.

Sejak dua tahun lalu, dia memanfaatkan sisa-sisa waktu untuk membuat alat musik. Bahan bakunya berupa kayu-kayu hasil bongkaran rumah, kayu bakar pemberian tetangga, hingga rol penggulung kabel bekas. Ada juga sisa bahan untuk membuat pelindung muka (face shield).

Di tangannya, alat-alat itu memunculkan nada yang indah. “Ini bahan sisa pembuatan face shield. Ada order dari Universitas Brawijaya untuk membuat face shield pada awal pandemi, sisanya saya pakai untuk membuat ini,” kata Budi sambil menunjuk ke salah satu alat musik berdawai buatannya.

Sebagai orang awam yang tidak memiliki latar belakang seni, Budi tidak begitu saja bisa membuat instrumen musik berdawai. Ia menghadapi sejumlah kendala, salah satunya soal ketersediaan bahan baku.

Selain tidak selalu tersedia, bahan baku yang ada terkadang tidak bisa langsung digunakan karena basah atau faktor lain. Padahal, saat itu semangat Budi untuk berkreasi sedang membuncah. Kalau sudah begitu, proses kreasi jadi tertunda.

“Kayu-kayu bekas itu saya taruh di luar rumah. Kadang basah oleh hujan, padahal saat itu saya sedang bersemangat. Ini jadi kendala tersendiri,” ucapnya.

Kendala lain terkait peralatan kerja. Selama ini, ia menggunakan peralatan seadanya, mulai dari parang, pisau cutter, hingga pecahan kaca.

Setelah badan alat musik jadi, Budi tinggal menyesuaikan nadanya. Laki-laki kelahiran Malang itu mengaku tidak mengalami kesulitan untuk memadukan tinggi rendah nada, baik untuk alat musik petik maupun gesek. Dia memanfaatkan aplikasi di telepon pintar sebagai pembanding.

Dia juga berkoordinasi dengan Redy Eko Prastyo yang sudah sering memainkan dawai dan menjadi salah satu inisiator Festival Damai Nusantara yang biasa digelar rutin setiap tahun. “Kalau dari sisi bentuk, saya sendiri yang memiliki inisiatif, sedangkan untuk masalah bunyi terkadang ada masukan dari Mas Redy. Menurut saya, seni tidak terbatas. Asalkan senang saya lakukan,” ujarnya.

Lulusan STM jurusan mesin produksi tahun 1989 itu mengaku tertarik membuat alat musik berdawai setelah melihat sape. Alat musik khas Kalimantan itu memiliki bunyi yang indah. Dari situlah Budi terdorong membuat alat musik berdawai sendiri.

Ia membutuhkan waktu hampir satu minggu untuk membuat karya pertamanya. Pasalnya, bahan baku yang ada tidak sesuai dengan kebutuhan. Dia perlu bahan setebal 12 sentimeter, tetapi yang tersedia kurang dari itu. Budi pun harus berkali-kali melakukan setting nada hingga akhirnya berhasil.

“Saat itu memang betul-betul awal belajar sehingga saya butuh waktu lama untuk mencari nada yang pas,” ucap pria yang ngaku hanya bisa bermain musik berdawai ala kadarnya alias genjreng-genjreng saja.

Dalam proses pembuatan karya berikutnya, Budi relatif tidak menemui banyak kesulitan. Dengan bermodalkan sikap telaten dan terus belajar, akhirnya satu demi satu alat musik selesai tercipta.

Menemani anak muda

Selain membuat alat musik, Budi Ayin juga ikut menemani anak-anak muda Kampung Cempluk mengisi waktu luang dengan kegiatan positif. Budi berusaha mengarahkan mereka agar memiliki banyak kegiatan sehingga terhindar dari pengaruh pergaulan yang negatif.

“Saya prihatin melihat anak-anak muda zaman sekarang. Godaan terhadap mereka besar. Saya ingin anak-anak muda sekarang punya kegiatan yang positif, baik melalui belajar bermain musik maupun kegiatan lain,” kata ayah dari dua anak ini.

Upaya Budi dan kawan-kawan membuahkan hasil. Anak-anak muda dari Kampung Cempluk keranjingan musik. Dari situ, ada yang mencatat prestasi internasional.

Baru-baru ini, Budi juga mendapat undangan dari Dewan Kesenian Malang (DKM) untuk mengikuti pameran. Pada kesempatan itu, ia memamerkan sekitar 20 alat musik dawai buatannya.

Ke depan, dia berharap alat musiknya bisa diterima masyarakat luas dan bisa dikembangkan menjadi alat musik khas Malang. Sebab, selama ini Malang tidak memiliki identitas soal instrumen musik.

Di luar itu, Budi punya harapan apa yang dilakukan bisa berguna bagi lingkungan. Bagaimana sampah dan limbah yang ada bisa dimanfaatkan untuk sesuatu yang memiliki nilai tambah dan bermanfaat. Selama ini, menurut Budi, banyak orang tidak peduli pada sampah yang mereka hasilkan. Padahal, setiap hari volume sampah terus bertambah.

Seandainya sebagian besar sampah itu bisa diolah menjadi alat musik bersuara indah, semua orang pasti senang.

Budi Ayin

Lahir: Malang 1970

Anak: Esta Aria SWS, Ajeng Pramesti PM

Pendidikan:

  • SD Desa Kunci
  • SMP Bhayangkari
  • SMK Muhammadiyah 1 Malang

 

Sumber: Kompas, 1 Maret 2021

Avan Fathurrahman. Mengajar di Tengah Pandemi. Kompas.10 Mei 2021. Hal.16

Kesenjangan sistem belajar daring di masa pandemi Covid-19 menyebabkan siswa di pelosok desa ketinggalan materi pelajaran. Demi mengatasi ketertinggalan itu, Avan Fathurrahman (41) rela mendatangi satu per satu peserta didiknya meski dihantui risiko tinggi terpapar virus SARS-CoV-2.

Saat siswa di kota-kota besar memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk belajar di masa pandemi, peserta didik di pelosok pedesaan seperti Sekolah Dasar Negeri Batuputih Laok 3, Kecamatan Batuputih, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, hanya bisa pasrah menerima keadaan. Alih-alih memiliki laptop atau komputer, gawai pintar pun jauh dari jangkauan.

Sebagian orangtua peserta didik memang memiliki gawai, tetapi teknologinya jauh tertinggal. Akibatnya, siswa tak bisa mengandalkan gawai dalam sistem pembelajaran daring. “Sempat ada orangtua yang berniat meminjam uang hanya untuk membeli ponsel pintar. Namun, saya mencegahnya karena hal itu bukanlah solusi dari permasalahan pembelajaran daring di masa pandemi,” ujar Avan, guru SDN Batuputih Laok 3, saat dihubungi pada Jumat (30/4/2021).

Upaya meningkatkan kemampuan akademik peserta didik dengan metode pembelajaran jarak jauh mensyaratkan banyak hal.

Salah satunya jaringan internet yang lancar. Sayangnya, banyak desa yang tidak memiliki akses internet yang bagus. Ditambah lagi orangtua siswa tidak memiliki dana untuk membeli pulsa.

Persoalan bertambah runyam karena masyarakat di tempat Avan mengajar sejak 2015 ini umumnya gagap teknologi. Butuh waktu lama untuk belajar memakai aplikasi di internet seperti Google Meet. Apalagi, banyak orangtua siswa yang buta huruf. Di sisi lain, orangtua siswa tak bisa mendampingi anak-anaknya belajar di rumah. Mereka harus bekerja di ladang. “Sempat ada dermawan yang mau membelikan ponsel pintar untuk semua siswa. Namun, orangtua murid menolaknya. Mereka tetap meminta didatangi ke rumah untuk mengajari anak-anak secara langsung,” kata Avan.

Banyaknya masalah seputar implementasi pembelajaran daring membuat Avan memutuskan tetap mendatangi muridnya. Dia keliling desa, dari rumah ke rumah, untuk mengajar siswa, setidaknya tiga kali seminggu.

Dia menjelaskan materi, memberikan petunjuk tugas, mengoreksi tugas siswa yang diberikan sebelumnya, hingga mengapresiasi pekerjaan siswa. Imbauan pemerintah untuk pembelajaran jarak jauh terpaksa dilanggarnya. Sebagai pengajar, alumnus $-2 Universitas Muhammadiyah Surabaya ini merasa bertanggung jawab membimbing anak-anak didiknya. Tentunya pertimbangan kesehatan tetap yang utama. Avan bersyukur, daerah itu masuk zona hijau atau risiko rendah sebaran Covid-19.

Awal mengajar keliling, Avan yang menjadi wali kelas enam ini hanya mendatangi anak didiknya. Tetapi, di tengah perjalanan, dia mendatangi siswa kelas lain yang berdekatan. “Jadi, saya berpikir sekalian saja mengecek kondisi mereka dan memberikan materi pelajaran yang ringan,” ucapnya.

Dalam sehari ia bisa menjangkau tujuh rumah siswa. Saat cuaca sedang bersahabat, ia bisa mendatangi 11-12 rumah. Dia berangkat pagi dari rumahnya dengan waktu perjalanan sekitar 40 menit dengan jarak tempuh sekitar 20 kilometer. Sepeda motor menjadi kendaraan andalannya karena mampu menjangkau jalan-jalan di pelosok pedesaan yang tak seberapa lebar. Meski demikian, saat hujan dan jalan yang dilalui becek, Avan terpaksa berjalan kaki ke rumah siswa.

Meski beberapa sekolah sudah memulai pembelajaran tatap muka, Avan tetap mendatangi rumah siswanya. Ada beberapa siswa yang tidak sekolah karena orangtuanya tak bisa mengantar.

Pegiat literasi

Di sela kesibukan mengajar di sekolah, Avan meluangkan waktu untuk kegiatan literasi demi menumbuhkan minat baca anak-anak. Kegiatan itu dimulai dengan menulis buku cerita anak yang menampilkan kearifan lokal dan pelajaran agama Islam.

Beberapa buku cerita anak dihasilkan saat dia masih mengajar di sekolah dasar yang berada di Pulau Raas tahun 2010-2015. Sekolah itu harus ditempuh selama 11 jam perjalanan dengan perahu sehingga membuatnya jarang pulang. Di situlah dia justru punya banyak waktu untuk menulis.

Avan juga secara sukarela mengelola gerakan literasi di masyarakat. Salah satunya dilatarbelakangi kesenjangan kemampuan siswa di kota dan di desa. “Mayoritas siswa sekolah dasar di desa tidak mengenyam pendidikan taman kanak-kanak. Akibatnya, mereka belum mengenal bentuk huruf dan angka,” katanya.

Buku cerita merupakan media pembelajaran yang menarik dan tidak membosankan, terutama bagi anak-anak yang baru mengenal sekolah. Agar anak-anak lebih termotivasi membaca, Avan membawakan cerita dalam buku itu dengan mendongeng.

Avan kerap berkeliling desa mengenalkan buku cerita dan mendongeng untuk anak-anak. Kepiawaian Avan membawakan cerita anak-anak melalui dongeng membuatnya menerima banyak apresiasi. Salah satunya dari Perpustakaan Daerah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Agar dongeng lebih dikenal luas oleh anak-anak masa kini yang terpapar gawai sejak kecil, Avan bekerja sama dengan salah satu radio di kotanya. Dia kerap mendongeng untuk kegiatan sosial, misalnya di panti asuhan. “Minat baca anak-anak di daerah pedesaan sebenarnya tidak kalah dengan di perkotaan. Hanya saja, mereka kerap terkendala minimnya ketersediaan buku bacaan yang berkualitas,” ujar Avan.

Sebagai pengajar dan pegiat literasi, Avan menyadari pendidikan tatap muka tak bisa digantikan dengan pembelajaran jarak jauh. Selama pandemi, dia bertekad terus bersiasat demi mengatasi ketertinggalan dalam belajar ataupun memupuk minat baca anak-anak.

 

Avan Fathurrahman

Lahir: 15 Januari 1980

Istri: Fadilatun Naila (28)

Pendidikan:

  • S-1 STKIP jurusan Bahasa Indonesia
  • S-2 Universitas Muhammadiyah Surabaya

Pekerjaan:

  • Guru SDN Batuputih Laok 3 (2015-sekarang)
  • Guru SDN Goa-Goa 1 di Pulau Raas (2010-2015)

Sumber: Kompas, 10 Mei 2021

Aryani Widagdo. Mendesain Pakaian Bebas Sampah. Kompas.16 April 2021.Hal.16

Aryani Widagdo (71) mendorong banyak orang untuk mendesain pakaian yang minim sampah. Setelah puluhan tahun menekuni dunia mode, dia mendirikan Aryani Widagdo Creativity Nest yang bergerak di bidang riset, pendidikan mode, dan seni menjahit.

Pandemi Covid-19 yang membatasi gerak hampir semua orang tidak menghentikan langkah Aryani. Aktivitas berbagi ilmu dari Aryani Creativity Nest di Surabaya, Jawa Timur, malah semakin luas dengan penelitian secara daring.

Aryani mengadakan pelatihan menjahit pakaian dengan cara zero waste fashion design (desain pakaian bebas sampah). Cara menjahitnya menggunakan pola tanpa rongga sehingga tidak menyisakan kain. Kalaupun tersisa hanya sedikit sekali, berupa benang-benang. Dengan cara ini, pakaian yang dihasilkan bebas sampah dan lebih ramah lingkungan.

Aryani juga menggunakan kain tradisional, seperti lurik, batik, atau kain linen dari serat alami. Awalnya, dia mengajar dengan menggunakan pola karya desainer dari Patrick Kelly dan Holly McQuillan. Beberapa kali, Aryani menggelar pelatihan untuk membuat celana spiral karya Holly McQuillan, desainer dari Selandia Baru yang dikenal dengan desain pakaian bebas sampah.

Seiring berjalannya waktu, Aryani bersama tim dapat membuat pola sendiri. Sebut saja kebaya blus kalisuci, outer anatolia, outer anatalya, atau atasan bermodel kimono yang disebut tongli. Pola dan cara menjahit itulah yang kini diajarkan Aryani.

Dia mengakui, pandemi menjadi tantangan baru bagi timnya. “Kami berjuang supaya semua staf bisa tetap dipertahankan, jadi workshop dibuat online. Tapi, kalau online, penjelasan tidak bisa dilakukan sembari peserta menggunting kain. Jadi, harus dibuatkan video,” kata Aryani saat diwawancara lewat Zoom, Senin (5/4/2021).

Saat ini, setidaknya ada 25 pola siap dibagikan oleh Aryani. Sebelum pandemi, Aryani menggelar pelatihan tatap muka kepada guru SMK, dosen, atau siapa saja yang ingin belajar menjahit. Di sela-sela pelatihan, dia menyiapkan buku mengenai desain pakaian bebas sampah.

Kini, pandemi membuat dia menggelar pelatihan secara daring yang terbuka untuk siapa saja dan di mana pun berada. Hampir setiap hari Aryani dan tim semakin sibuk menyiapkan pelatihan daring. Selain paparan, video juga harus dibuat secara jelas dan rinci. Biaya pelatihan relative terjangkau, di bawah Rp 75.000. Peserta mendapat sertifikat, pola pakaian, video, dan tutorial.

Setiap peserta pun bisa mengakses video tentang cara membuat busana itu. Ketika kurang jelas, video bisa kembali dipelajari di rumah. Bahkan, untuk yang belum pernah menjahit, membuat pakaian bebas sampah bukan hal yang tak mungkin.

Aryani menjelaskan, dia tidak mencari nafkah dari penyelenggaraan pelatihan sehingga biayanya dibuat mura. Bagaimanapun juga dia membutuhkan modal untuk membayar gaji staf dan pembuatan materi video. Dengan biaya yang murah, pelatihan itu bisa menjangkau peserta dari Aceh hingga Papua. Dengan demikian, cita-cita Aryani untuk menyebarkan upaya baik, yaitu desain pakaian bebas sampah, bisa tercapai. Saat pelatihan, Aryani selalu gembira menyambut peserta-peserta yang mampu memodifikasi pola yang disampaikan dan menghasilkan karya baru.

Belajar mode

Kecintaanya pada dunia busana membuat Aryani belajar jarak jauh di Jurusan Fashion Design dan Jurusan Fashion Merchandising. Pennysylvania International Correspondent School, tahun 1987-1988. Saat itu, alumnus Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro ini sudah memiliki dua anak.

Sembari membantu usaha suaminya berjualan ayam dan mengasuh anak, dia terus belajar.

“Saat itu belum ada internet. Jadi, kalau materi kuliah yang dikirimkan via pos terlambat datang, saya deg-degan. Sebab, nanti terlambat untuk mengirimkan ujiannya,” kara Aryani mengenang masa pembelajaran jarak jauhnya.

Tahun 1990, Aryani mendirikan kursus mode. Tahun 2004, kursus mode dinamakan Arva School of Fashion di Surabaya. Sejak awal, sekolah ini memiliki perhatian pada keberlanjutan lingkungan dan isu-isu sosial.

Salah satunya, Arva School pernah menggandeng para desainer di Surabaya membuat boneka kain (rag doll) yang kemudian dilelang. Hasil lelang disumbangkan untuk pengelolaan hutan. Aryani pun mendukung kampanye di isu kesehatan perempuan hingga saat ini.

Pensiun dari Arva School of Fashion pada 2016 membuat Aryani ingin memperluas aktivitasnya. Dia mendirikan Aryani Creativity Nest, sebuah lembaga yang bergerak di bidang riset praktis untuk fashion dan kerajinan jahit. “Setelah pensiun, saya bebas dari pekerjaan rutin, seperti manajemen sekolah, marketing mencari siswa. Jadi, saya bisa melakukan banyak riset,” tuturnya.

Salah satu hasilnya, buku Aryani Widagdo dan Yoyo Kain: 20 Kreasi Bukan Lingkaran Biasa diterbitkan tahun 2018. Yoyo yang dibuat dari guntingan perca dijahit pinggirannya, lalu ditarik hingga berkerut, bisa menjadi hiasan taplak meja. “Setiap orang pasti bisa bikin yoyo, tinggal idenya saja. Dikasih tema, misalnya sirkus, balon sirkusnya dari yoyo yang diisi dakron, boneka badutnya dari yoyo,” tutur Aryani.

Yoyo memanfaatkan kain sisa dari industri garmen atau penjahit. Namun, kenyataannya, hanya sekitar 10 persen perca yang bisa menjadi kerajinan. Sisa sampah kain masih menggunung. Apabila setiap tahun 400 miliar meter persegi kain diproduksi di dunia dan 15 persen kain dibuang selama proses pemotongan, terdapat 60 miliar meter persegi sampah kain.

Keprihatinan ini bersambut dengan informasi mengenai cara menjahit tanpa sisa kain perca dari seorang mantan muridnya. Aryani pun mencari lebih lanjut. Dia membeli dua eksemplar buku Zero Waste Fashion Design karya Timo Rissanen dan Holly McQuillan.

Dari buku ini dan riset yang dilakukan Aryani bersama timnya, muncul banyak desain baru. Sejak saat itu, pola pikir Aryani dalam melihat pola baju pun berubah. Kemudian, lahirlah kebaya kalisuci. Hingga kini, Aryani masih terus menyempurnakan pola kebaya tradisional tanpa kain sisa

Aryani Widagdo

Lahir: Semarang, 6 Juli 1949

Anak: 2

Cucu: 4

Pendidikan:

  • Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro, 1968
  • Kuliah terbuka di Jurusan Fashion Design dan Jurusan Fashion Marchandising, Pennsylvania International Correspondence School, 1987-1988

Pekerjaan:

  • Membuka kursus mode Arva School di Surabaya (1990)
  • Pendiri dan Direktur Arva School of Fashion di Surabaya (2004-2014)
  • Direktur Aryani Widagdo Creativity Nest (2015)
  • Pengajar Sejarah Mode Universitas Surabaya, 2012-2014
  • Pengajar Sejarah Mode Universitas Kristen Petra, sampai saat ini

Penghargaan, antara lain:

  • Womanblitz Blitz Inspiring Woman (2016)
  • Surabaya Fashion Parade 2017: Lifetime Achievement (2017)
  • Yayasan Anne Avantie: Kartini Masa Kini (2018)

 

Sumber: Kompas, 16 April 2021

Antonio Conte. Pelatih Para Pecundang.Kompas. 4 Mei 2021.Hal.16

Bagi pelatih sepak bola asal Italia, Antonio Conte (51), kemenangan dan kejayaan adalah tujuan utama dalam hidupnya. Tak heran, anaknya dinamai Vittoria (13) alias pemenang. Berbagai gelar juara pun kini selalu mengiringi langkah Conte di mana pun ia bertualang.

Gelar juara itu terakhir kali diraihnya bersama Inter Milan. Klub berjuluk “I Nerazzurri” itu dipastikan menjadi juara Liga Ita- ha Serie A untuk pertama kali dalam 11 tahun terakhir. Trofi scudetto (gelar juara Liga Italia) ke-19 Inter menjadi penegas kepiawaian Conte yang sebelumnya juga pernah memberikan gelar juara liga untuk Juventus dan klub Inggris, Chelsea.

Berbeda dengan kebanyakan pelatih klub besar yang lebih sering meneruskan kejayaan para pendahulunya, Conte memilih jalan lainnya yang jauh lebih sulit. Ia memilih “babat alas”. Serupa dengan yang dilakukannya di Juve dan Chelsea, Conte membuka jalan baru menuju kesuksesan saat Inter tengah tersesat lama di hutan belantara alias era tanpa prestasi dan jati diri.

Sebelum Conte hadir di Appiano Gentile, kawasan markas Inter di pinggiran Milan, “La Beneamata” telah menghadirkan banyak pelatih untuk mengembalikan kejayaan mereka seperti di era 1990 hingga 2000-an. Total 11 pelatih telah didatangkan Inter sejak terakhir kali mereka berjaya dengan meraih treble (tiga gelar semusim) pada era Jose Mourinho di 2010. Mereka merupakan pelatih berkelas dunia, seperti Rafael Benitez, Roberto Mancini, dan Gian Piero Gasperini.

Namun, tak satu pun dari mereka yang mampu memberikan prestasi. Capaian tertinggi mereka pada satu dekade terakhir di Liga Italia, sebelum Conte hadir di Gentile pada awal musim 2019-2020, adalah finis sebagai runner-up pada 2011 bersama Benitez. Inter kehilangan jati dirinya sebagai tim yang disegani di Italia dan pernah meraih lima scudetto beruntun pada kurun 2006 hingga 2010. Satu dekade terakhir, mereka lebih kerap finis di luar peringkat empat besar.

Maka, tantangan Conte pun sangat berat ketika pertama kali menangani Inter pada 2019. Ia harus menanamkan mentalitas juara, hal yang sangat asing di skuad para pemain Inter saat itu. Dari 24 anggota skuad Inter, hanya gelandang Arturo Vidal yang pernah merasakan gelar juara liga, baik bersama Juve, Bayern Muenchen, maupun Barcelona.

“Pencapaian ini berkat pemimpin hebat seperti Conte. Dia membawa nilai-nilai penting dari karier hebatnya dan penuh gelar sebagai pemain ataupun pelatih. Ia meneruskannya ke para pemain (Inter) saat ini,” ujar Direktur Inter Milan Beppe Marotta di kutip Sky Sport Italia, Minggu.

Resep kesuksesan

Lantas, apa resep kesuksesan Conte sehingga mampu “menyulap” Inter menjadi barisan pemenang? “Kerja keras dan keyakinan. Anak-anak ini sebelumnya tidak terbiasa menang dan juara. Saya menunjukkan cara (menjadi juara) dan mereka sepenuhnya percaya kepada saya. Pada akhirnya, kami menemukan jalan (kejayaan),” ujar Conte saat diwawancarai media Italia, Rai 2.

Perkataan serupa disampaikannya saat pertama kali melatih Juventus, Agustus 2011. Serupa Inter, saat itu Juve tengah compang-camping sebagai dampak hengkangnya para bintang mereka menyusul skandal calciopoli (pengaturan wasit). Jangankan juara, apalagi mendominasi Italia, Juve adalah tim inferior. Juve finis dua kali beruntun di peringkat ketujuh Liga Italia, tepat sebelum Conte hadir.

Berkat gebrakannya, pada musim pertamanya di klub Turin itu, Juve langsung meruntuhkan oligopoli AC Milan dan Inter Milan. “Si Nyonya Besar” meraih scudetto musim 2011-2012. Ajaibnya, mereka meraih status invincibles alias tak terkalahkan dari 38 laga Liga Italia pada musim itu. Tak heran, sebagian fans Juve menjulukinya sebagai “sang juru selamat”. Namanya pun diabadikan di lantai Stadion Juventus sebagai pengisi Walk of Fame bersama para legenda lainnya klub itu, seperti Zinedine Zidane, Alessandro Del Piero, Dino Zoff, dan Paolo Rossi.

Maka itu, saat menerima tawaran melatih Inter pada 2019, Conte sempat tersudut. Ia nyaris tidak punya kawan dan dibenci sebagian pendukung garis keras Juve yang menganggapnya berkhianat karena bersedia melatih tim rival. Ia bahkan dikabarkan pernah mendapatkan ancaman pembunuhan. Sebaliknya, para pendukung Inter sulit menerimanya karena masa lalu nya yang erat dengan Juve, baik sebagai mantan pemain, kapten tim, maupun pelatih.

Akhir November lalu, ribuan pendukung Inter menyuarakan pemecatan Conte melalui gerakan #Conteout yang jadi topik hangat di Twitter. Padahal, beberapa bulan sebelumnya, ia membawa Inter kembali disegani lewat capaian ke final Liga Europa serta runner-up Liga Italia. Namun, seperti biasa, ia bergeming. Ia menjadikan kritikan sebagai cambuk untuk berupaya lebih baik.

Cambukan itu juga tidak segan diberikan Conte kepada para pemainnya. Sejak Conte hadir, para pemainnya, termasuk di Inter, kehilangan zona nyamannya. Striker Inter, Romelu Lukaku, misalnya, menggambarkan suasana latihan bersama Conte tidak ubahnya medan perang. Para pemain Inter digenjot fisiknya sehingga muntah-muntah. Namun, bukan hanya memerintah, Conte juga memberi teladan.

la jarang tertidur pulas saat malam, semata-semata hanya memikirkan taktik timnya. Seluruh hidupnya adalah tentang sepak bola. Andrea Pirlo sempat berseloroh, Conte mempunyai “dua istri” karena kerap bermalam di kantornya. Istri pertamanya Elisabetta Muscarello dan yang kedua sepak bola.

Bagi Conte, prestasi dan trofi adalah hal yang bakal terukir dan dikenang selamanya, melampaui harta dan kekayaan. Tak heran, ia pernah melabrak mantan anak asuhnya di Juve, Gianluigi Buffon, saat memotong diskusi video rekaman tentang permainan calon lawan. Saat itu, Buffon membahas usulan bonus karena sukses menjuarai Liga Italia tahun 2012 silam. luar prediksi,

“Setiap hari, saya berkata ke pada mereka (para pemain) bahwa kejayaan tim harus diuta makan ketimbang kesuksesan individu,” ujar Conte, pelatih perfeksionis yang dikenal berkarakter keras dan sangat disiplin, seperti dikutip AFP.

Namun, masa depan Conte masih menjadi misteri. Ia belum berkomitmen untuk bertahan di Inter. Bisa jadi, ia akan berlabuh ke klub lain nya untuk mencari tantangan baru, yaitu mengubah barisan pecundang lainnya agar bisa menjadi pemenang.

 

Sumber: Kompas. 4 Mei 2021.Hal.16

Alwy Herfian Satriatama. Inovator dari Sleman.Kompas.8 Mei 2021.Hal.16

Pada usia yang masih muda, Alwy Herfian Satriatama (26) memimpin usaha rintisan di bidang teknologi. Pemuda asal Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, ini terus mengembangkan usahanya hingga bisa mengekspor produknya ke sejumlah negara.

Nino Citra Anugrahanto

Karier Alwy dalam wirausaha di rintis sejak ia mulai berkuliah di Universitas Gadjah Mada pada 2013. Selama kuliah, ia bergabung dengan organisasi pengembangan kewirausahaan mahasiswa, UGM Innovative Academy. Dia mendirikan usaha rintisa bernama Majapahit Tech.

“Saya mulai dengan modal Rp 300.000. Diputar terus sampai akhirnya semakin besar,” kata Alwy, saat ditemui di Kantor Widya Robotics, di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kamis (29/4/2021).

Salah satu produk Majapahit Tech adalah Gupala, sistem pengamanan sepeda motor. Lewat sistem itu, pemilik sepeda motor harus memasukkan sejumlah kode sebelum menyalakan sepeda motornya. Jika tidak, alarm akan berbunyi. Ide sistem itu berawal dari pengalaman temannya yang kehilangan sepeda motor.

Selanjutnya, Alwy mengembangkan produk lain, yaitu Kebon yang merupakan instalasi penyiraman kebun otomatis. Penyiraman kebun cukup dengan mengirim pesan singkat atau SMS dari ponsel pemilik kebun.

Inovasi teknologi yang diproduksi Alwy mengantarkannya pada sejumlah penghargaan. Pada 2018, ia menyabet dua penghargaan, yakni Juara Pertama Wirausaha Muda Mandiri Indonesia dan Juara Kedua Samsung Global Start Up Acceleration Program.

“Setelah itu, ada investor yang tertarik berinvestasi. Mereka dari UMG Idea Lab, perusahaan capital venture yang berbasis di Asia Tenggara,” tutur Alwy.

Investasi datang bersamaan dengan mentasnya Alwy dari bangku perkuliahan. Bisnisnya makin berkembang. Anggota timnya bertambah dari 4 orang menjadi 19 orang. Alwy merekrut lulusan baru dari kampusnya. Majapahit Tech berganti nama menjadi Widya Robotics, pada awal 2019. Nama tersebut bertahan hingga saat ini.

Lewat Widya Robotics, Alwy menghasilkan produk yang berfokus pada bidang kecerdasan buatan, robotik, dan otomasi. Dalam kurun waktu dua tahun, Widya Robotics membentuk tujuh “perusahaan saudara” (sister company). “Kami lakukan spin off untuk setiap produk yang dihasilkan sehingga menjadi perusahaan baru. Harapannya, agar produk dapat dikembangkan lebih fokus,” kata Alwy.

Salah satu produk yang menarik perhatian bernama “Widya Load Scanner”. Produk itu berupa alat pengukur muatan truk berbasis kecerdasan buatan. Beban muatan truk berbasis kecerdasan buatan. Beban muatan truk diketahui lewat pemindaian menggunakan LIDAR (Light Detection and Ranging). Sejak diluncurkan pada 2020, sudah ada 5 unit alat itu yang dipasang di tiga lokasi berbeda, yakni di Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Myanmar.

“Di luar negeri, alat ini sudah cukup masih, tetapi di Indonesia memang belum. Masalahnya harganya mahal. Di luar negeri bisa lebih dari Rp 1 miliar. Yang kami bikin harganya Rp 500 juta sampai Rp 1 miliar. Peluangnya masih sangat besar,” kata Alwy.

Produk lainnya adalah QHSE (Quality, Health, Safe, and Environment) Recognition dan vending machine nitrogen. QHSE Recognition digunakan untuk mendeteksi kelengkapan pakaian seorang pekerja sesuai dengan standar keamanan di lingkungan proyek. Alat itu digunakan di tiga BUMN dalam bidang kontruksi.

Sementara itu, vending machine nitrogen adalah alat pengisi nitrogen pada ban secara otomatis. Tidak perlu ada operator. Pembayaran juga dilakukan secara mandiri lewat mesin tersebut dengan uang elektronik. “Saat, ini (vending machine) sudah ada 23 titik dan akan bertambah jadi 38 titik. Itu ada di jalan tol, rest area, dan SPBU di beberapa daerah,” jelas Alwy.

Dukungan

Semula, Alwy tidak sepenuhnya didukung orangtuanya saat memulai wirausaha. Sebab, saudara-saudaranya tidak berhasil menyelesaikan kuliah gara-gara berbisnis sambil kuliah.

“Akhirnya, saya membuat perjanjian dengan orangtua. Saya ingin buktikan bahwa bisa lulus tepat waktu. Lalu, kalau IPK (Indeksi Prestari Kumulatif) di bawah 3,5, saya akan stop berorganisasi dan bisnis,” kenang Alwy.

Alwy pun membuktikkan dengan lulus dalam waktu empat tahun dari Jurusan Elektronika dan Instrumentasi, Fakultas MIPA UGM. Selama delapan semester, nilainya selalu di atas 3,5.

Restu orangtua baru diperoleh Alwy setelah lulus kuliah. Sebab, begitu lulus kuliah, pada 2018, Kantor Staf Presiden mengirim dia ke Jerman untuk mengamati kemajuan teknologi di negara itu. “Sebelum itu, saya belum pernah ke luar negeri. Waktu itu, saya dinilai berprestasi di bidang kewirausahaan teknologi. Setelah dapat pengakuan tersebut, pandangan ibu terbuka,” kata Alwy.

Restu ibu membuat jalan Alwi dalam berwirausaha semakin lapang. Perjalanan ke luar negeri semakin sering dia lakukan. Bisnis usahanya pun dilirik investor hingga berkembang seperti sekarang. Dari awalnya empat orang, kini ada 250 orang di perusahaannya.

Sumber daya manusia masih jadi tantangan bagi Alwy. Banyak lulusan hebat sudah diambil lebih dulu oleh perusahaan yang lebih besar. Namun, ia tak kecil hati.

Kini, Alwy bercita-cita agar Widya Robotics berkembang semakin besar dan diakui publik. Ia ingin membesarkan nama Indonesia dalam kancah industri teknologi. Diharapkan, perusahaan rintisnya itu menjadi yang terbesar di Asia.

“Kami ingin berjaya di Asia, jadi salah satu perusahaan acuan di Asia. Mungkin, awalnya dari Indonesia, setelah itu Asia Tenggara, selanjutnya di Asia. Sebab, kami sudah punya klien di Myanmar dan Korea (Selatan),” kata Alwy.

Alwy Herfian Satriatama

Lahir: Gunungkidul, Yogyakarta, 23 September 1994

Riwayat Pendidikan:

  • Teknik Industri, Universitas Gadjah Mada (2013-2014)
  • Elektronika dan Instrumental, Universitas Gadjah Mada (2014-2018)
  • Deep Technology Bootcamp, Massachusetts Institute of Technology (2019)

Prestasi, di antaranya:

  • Peraih Medali Emas PIMNAS 2016
  • Juara Pertama Invention Tradition Indonesia (2017)
  • Juara Pertama Wirausaha Muda Mandiri Indonesia (2018)
  • Juara Kedua Samsung Global Start Up Acceleration Program (2018)

 

Sumber: Kompas, 8 Mei 2021

Anthony Hopkins dan Frances McDormand.Tak Padam Dimakan Senja. Kompas. 29 April 2021. Hal.16

Usia hanya deret angka bagi Anthony Hopkins (83) dan Frances McDormand (63). Melewati usia paruh baya, mereka dinobatkan sebagai Aktor dan Aktris Terbaik Academy Awards 2021. Keduanya Berjaya berkat peran yang berkisah tentang masa tua.

Riana A Ibrahim

Anthony Hopkins memperoleh Oscar lagi lewat peran sebagai ayah yang mengalami demensia dalam film The Father. Sementara itu, McDormand mengulang keberhasilan sebagai Aktris Terbaik lewat perannya sebagai perempuan yang berkeliling Amerika Serikat dengan mobil van untuk menghabiskan masa tuanya dalam film Nomadland.

Hopkins sebenarnya tidak diunggulkan untuk meraih Oscar tahun ini. Aktor yang diunggulkan untuk menerima Oscar tahun ini adalah Chadwick Boseman yang bermain apik dalam film Ma Raines’s Black Bottom. Boseman yang meninggal tahun lalu dianggap layak menerima penghargaan ini, sekaligus sebagai tribute.

Perubahan urutan kategori penghargaan pada malam penganugerahan Oscar yang digelar di Los Angeles, Amerika Serikat, Minggu (25/4/2021) malam waktu setempat, juga kian menguatkan prediksi bahwa keluarga Boseman yang akan membawa pulang Oscar. Biasanya kategori terakhir yang dibacakan adalah Film Terbaik, tapi tahun ini justru kategori Aktor Terbaik dibacakan terakhir sebagai penutup acara.

Pada saatnya, justru nama Hopkins yang disebut. Saat itu, ia justru tak hadir karena situasi pandemi yang membuatnya tetap berada di rumahnya di Wales, Inggris. Sesaat setelah pergelaran berakhir, Hopkins mengunggah sebuah video singkat di akun media sosialnya. Ia mengucapkan terima kasih atas penghargaan yang diterimanya.

“Saya benar-benar tidak menyangka mendapatkannya. Saya mempersembahkan ini untuk Chadwick Boseman yang diambil dari kita terlalu cepat,” ujar Hopkins.

Apabila dititik ulang perjalanan kariernya, Hopkins selalu menjadi pesaing berat bagi para aktor lainnya dalam perburuan Oscar. Ia dinominasikan enam kali sebagai penerima Oscar untuk kategori Aktor Terbaik dan Aktor Pendukung Terbaik. Dari enam nominasi itu, ia merebut dua Oscar.

Oscar pertama ia rebut tahun 1992 sebagai Aktor Terbaik berkat perannya sebagai Hannibal Lecter, seroang kanibal, dalam The Silence of the Lambs (1991). Oscar kedua ia peroleh tahun ini untuk kategori Aktor Terbaik lewat film penerima Oscar paling tua, yakni 83 tahun. Sebelumnya, rekor penerima Oscar tertua dipegang aktor Christopher Plummer pada usia 82 tahun.

Di film The Father, Hopkins yang pernah mendapat gelar dari Ratu Elizabeth II atas pengabdiannya di bidang seni ini berperan sebagai ayah yang mendadak meragukan cinta orang-orang di sekelilingnya akibat demensia. Ia berusaha bertahan dengan mencari ketenangan.

Dari sekian banyak film yang dibintangi Hopkins, karya besutan sutradara Florian Zeller ini ia anggap paling berkesan, tapi juga termudah dalam dimensi aktingnya. “Ini sangat mudah. Mudah sekali bagi saya, tapi sekaligus sangat menyakitkan karena seperti mengingatkan kepada diri saya,” ujarnya kepada The New York Times.

Kecintaanya pada dunia seni peran telah berlangsung lama. Selepas menjalani wajib militer pada 1960, Hopkins menjejak panggung teater. Dari situ, ia melompat ke layar kaca. Pada 1964, ia bermain di film layar lebar. Empat tahun berikutnya, ia masuk daftar nominasi untuk pertama kalinya sebagai Aktor Pembantu Terbaik di BAFTA Awards lewat The Lion in Winter (1968).

“Lebih dari 90 film dilakoninya setelah itu. Tiap peran yang ia ambil tidak pernah mengharuskannya mengubah fisik secara drastis. Keandalan Hopkins berada pada kemampuannya mengolah rasa melalui gestur, mimik muka, dan pembawaan diri. Tak pernah muluk, tetapi ia mengupayakan melalui kapasitas yang sudah ada dalam dirinya.

“Filosofi dalam hidup saya, tak ada yang perlu dimenangi dan dibuktikan. Tak perlu mengkhawatirkan apa-apa, tak perlu muluk. Ringkasnya, tak perlu meminta apa pun, tak perlu berekspetasi apa pun, dan menerima semuanya. Itu saja,” kata Hopkins.

Berwatak keras

Sama seperti Hopkins, McDormand juga mengukit sejarah. Ia menyamai rekor aktris Katharine Hepburn yang memperoleh empat Piala Oscar. McDormand meraih Oscar pertamanya pada 1997 sebagai Aktris Terbaik lewat Fargo (1996). Oscar kedua pada 2018 untuk kategori yang sama lewat Three Billboards Outside Ebbing, Missouri. Tahun ini, ia mendapat Oscar untuk kategori Aktris Terbaik dan sebagai produser karena Nomadland dinobatkan sebagai Film Terbaik.

Lulusan Universitas Yale ini menjadi sedikit dari sekian banyak aktris dan aktor yang mampu meraih tiga penghargaan bergengsi di bidang akting di tiga kompetisi berbeda. Umumnya, disebut sebagai triple crown of acting, yakni Academy Awards untuk televisi, dan Tony Awards untuk teater.

Penghargaan tertinggi di bidang teater diperolehnya pada 2011 lewat pementasan bertajuk Good People (2011). Untuk bidang pertelevisian, ia meraihnya melalui mini seri Olive Kiteridge (2014).

Dari berbagai pengalamannya, karakter yang ia emban hampir sedikit mirip dengan kesehariannya, yaitu perempuan berwatak keras. Terlihat juga dari dominasi film bergenre crime yang dibintanginya, seperti Mississipi Burning (1988), Primal Fear (1996), The Man Who Wasn’t There (2001), dan Burn After Reading (2008) yang bercampur komedi gelap. Beberapa komedi romantic juga dijajalnya seperti Almost Famous (2000) dan Something’s Gotta Give (2003).

Sayangnya di dunia perfilman pun kian lebar ketika memutuskan memulai terjun di belakang layar sebagai produser. Debutnya adalah film Every Secret Thing (2014). Berlanjut pada tahun lalu untuk Nomadland, tapi kali ini ia turut serta sebagai pemeran utamanya.

Berbeda dari para penerima penghargaan di tahun-tahun sebelumnya, putri adopsi dari pasangan Noreen dan Vernon McDormand ini memilih pidato kemenangan yang singkat. Ia mengutip kalimat Lord Macduff dalam kisah Macbeth milik William Shakespeare. “Aku tak punya kata-kata karena suaraku berada di pedangku,” ucapnya seolah memberikan petunjuk tentang proyek yang tengah digarapnya bersama suaminya, sutradara Joel Coen, yakni film berjudul The Tragedy of Macbeth. Saat filmnya didapuk sebagai yang terbaik, ia juga hanya memilih menirukan lolongan serigala yang terdengar juga dalam suatu adegan di Nomadland.

Sosok Fern yang diperankan diakuinya terasa dekat dengan dirinya. Terkadang ia membayangkan akan menghabiskan masa tuanya dengan berkeliling Amerika dan tinggal berpindah-pindah tempat.

Dalam Nomadland, Fern kehilangan suami dan pekerjaannya sekaligus. Seorang diri ia mencoba menemukan kembali arah hidup dan mencoba bertahan dengan memulai perjalanan yang mempertemukannya dengan orang baru, dengan berbagai cerita kehidupan, sekaligus mengajarkan agar tak kalah dari hidup

“Ini tentang bagaimana mengambil keputusan hidup dan melepaskan yang dimiliki. Fern melakukan setelah berusia 61 tahun setelah terikat lama dengan suaminya. Aku mengambil keputusan besar dalam hidupku untuk keluar dari zona nyamanku sejak umur 17 tahun,” ungkapnya.

Pada akhirnya, McDorman dan Hopkins membuktikkan bahwa karya tak akan lekang dimakan usia.

Sir Phillips Anthony Hopkins

Lahir: Port Talbot, 31 Desember 1937

Penghargaan: Aktor Terbaik Academy Awards pada 1992 dan 2021

Frances Louise McDormand

Lahir: Illnois, 23 Juni 1957

Penghargaan:

  • Aktris Terbaik Academy Awards 1997, 2018, dan 2021
  • Film Terbaik Academy Awards 2021, Nomadland

Sumber: Kompas, 29 April 2021