Mengembalikan Kejayaan Nanas Prabumulih. Kompas. 16 Juni 2021. Hal.16

Hais (57) membuat kebun nanas seluas 4 hektar di tengah kebun karetnya untuk mewujudkan tekad, yakni mencegah nanas Prabumulih lenyap. Kebun itu jadi tonggak kebangkitan nanas Prabumulih untuk kembali berjaya seperti beberapa dekade silam.

Sekitar enam tahun lalu, Hais membuka kebun nanas yang terletak di kawasan Patih Galung, Kecamatan Prabumulih, Kota Prabumulih, Sumatera Selatan. Kala itu, dia baru menjadikan nanas sebagai tanaman pendamping kebun karetnya. “Dulu nanas yang saya tanam hanya sebagai tanaman sela di tengah tanaman karet yang baru saja diremajakan,” ucapnya, Selasa (25/5/2021).

Bibit nanas pun Hais peroleh dari kebun saudaranya yang ada di sekitar ladang karetnya. Hasilnya, nanas dengan varietas queen yang ia hasilkan kala itu sangat manis dan berkadar air sedang. Nanas ternyata sangat cocok dengan kondisi lahan di Prabumulih. “Rasanya sangat enak. Pantas saja, Prabumulih dijuluki kota nanas,” ujarnya.

Namun, tiga tahun berselang dia menyadari bahwa tanaman nanas tidak akan tumbuh subur jika hanya dijadikan tanaman sela. Seiring pohon karet yang semakin tinggi, pertumbuhan nanas akan terhambat dan kian kerdil. “Sejak saat itu, saya memutuskan untuk membuat hamparan kebun nanas,” ucapnya.

Pembudidayaan nanas ini memiliki misi melestarikan dan me ngembalikan kejayaan nanas Pra bumulih. Sekitar tahun 1980, nanas Prabumulih pernah menjadi primadona di kalangan warga lokal, bahkan nasional.

“Rasanya yang manis membuat nanas Prabumulih jadi incaran pelancong yang mampir ke Prabumulih. Ketika itu, hampir di tiap gang kota ada yang jual na nas,” kata bapak enam anak ini.

Kini banyak warga yang beralih ke komoditas lain, seperti sawit dan karet, sehingga nanas susah didapat. “Nanas hanya ikon kota. Nanas yang dijual di Prabumulih pun kebanyakan berasal dari daerah tetangga,” ucap Hais.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi nanas di Prabumulih pada tahun 2020 sekitar 9.552 ton. Itu masih lebih kecil dibandingkan dua kabupaten yang mengapitnya, yakni Ogan Ilir (81.782 ton) dan Muara Enim (20.821 ton).

Padahal, lanjut Hais, cita rasa nanas Prabumulih unik karena kondisi tanah dan juga proses pengolahannya. Hais bahkan mengklaim, nanas queen asal Prabumulih lebih manis dibandingkan nanas yang ada di Indonesia.

“Tingkat kemanisan dari nanas Prabumulih sekitar 13 derajat briks lebih tinggi dari nanas kebanyakan di Indonesia yang tingkat kemanisan sekitar 8-11 derajat briks,” ujarnya.

Butuh waktu sekitar 1 tahun 4 bulan untuk merawat bibit nanas menjadi hamparan yang produktif. Dengan ketelatenannya, hamparan kebun nanas milik Hais kini bisa menghasilkan sekitar 1.000 buah nanas per hari. Nanasnya kini sudah melanglang hingga sekitar Sumatera Selatan, bahkan ke DKI Jakarta. “Dalam satu kali angkutan, saya mengirim sekitar 6.500 buah nanas ke Jakarta,” tuturnya.

Dia tetap menyisihkan nanas nya untuk konsumen di dalam kota Prabumulih. Konsumennya adalah mereka yang berkunjung ke ladangnya, antara lain, untuk melihat proses pengelolaan nanas langsung dari kebunnya, serta membeli nanas yang hanya Rp 3.000 per buah itu.

Produk turunan

Tidak hanya menjual produk mentah nanas, Hais juga mengolah nanas menjadi sejumlah produk turunan, seperti selai, keripik, sirup, manisan, dan permen. Nanas juga bisa dijadikan bahan pewarna tekstil, bahkan daunnya juga bisa dijadikan benang sebagai bahan dasar pembuat kain.

“Setidaknya ada 50 produk turunan yang bisa dibuat dari olahan nanas,” ujarnya. Kemampuan Hais mengolah nanas didapat dari melihat Youtube. “Saya belajar sendiri dan langsung dikembangkan di lapangan,” ucapnya.

Hai yang hanya berpendidikan formal sampai sekolah dasar ini berpendapat, kemampuan seseorang diperoleh dari mereka yang mau belajar. Istrinya, Yusmaidah, turut membantunya mengolah nanas dan terkadang memberikan masukan yang memperkaya hasil olahan yang mereka buat.

Pengetahuan ini kemudian di tularkan Hais kepada generasi muda. “Ada 30 pemuda yang saya ajak untuk berkreasi. Beberapa mahasiswa juga kerap datang ke sini untuk melihat proses pengolahan nanas,” ucapnya.

Mengolah nanas menjadi beragam produk turunan akan memberikan nilai tambah. Bahkan, dari berkebun dan mengolah nanas, Hais dapat menghasilkan sekitar Rp 30 juta per bulan.

Hais pernah diajak eksportir dari China untuk bekerja sama. Bahkan, harga dari setiap nanas yang diekspor dihargai Rp 6.000 per buah. Bahkan, sang eksportir tetap menerima segala bentuk na nas yang dia hasilkan. Namun, tawaran itu dia tolak.

Hais menilai, ketika nanas Prabumulih sudah dikirim untuk ekspor, tidak ada lagi nanas yang tertinggal. “Dengan begitu, nanas Prabumulih sekadar nama di kotanya sendiri,” tuturnya. Hal ini dikhawatirkan membuat identitas Prabumulih sebagai kota na nas akan hilang.

Kini, sudah banyak warga yang tertarik untuk mengembangkan nanas. Mereka mengubah lahan karetnya menjadi hamparan nanas yang hasilnya ternyata lebih menguntungkan.

Pemerintah Kota Prabumulih pun tertarik dengan konsep yang dibuat Hais. Bahkan, Hais diminta pemerintah kota untuk mengembangkan nanas di beberapa lokasi yang lahannya belum produktif. Dengan sukarela dia membantu semua yang ingin belajar mengembangkan nanas. “Semua ini saya lakukan untuk satu tujuan, yakni melestarikan nanas Prabumulih,” katanya.

 

Sumber: Kompas. 16 Juni 2021. Hal.16

Wawan Hawe_ Setiawan Bercermin lewat Sastra Sunda.Kompas.Hal.16

Siapa lagi yang mau mempertahankan budaya Sunda selain orang Sunda itu sendiri? Pertanyaan retoris itu memotivasi Wawan “Hawe” Setiawan untuk ikut menjaga budaya Sunda agar tetap relevan di tengah zaman yang terus berubah. la memilih bahasa dan sastra Sunda sebagai mediumnya.

Diteundeun di jalan gedé,

Dibuka ku nu ngaliwat,

Anu weruh di semuna,

Anu terang, di jaksana,

Au rancagé di haté.

“Simpanlah sesuatu yang berharga di jalan besar/supaya bisa dibuka oleh siapa pun yang lewat/ yang bisa mengetahui isyarat/ yang bisa menangkap tanda-tanda/yang kreatif di dalam hatinya”.

Demikian terjemahan harfiah Hawe untuk sepenggal pantun dari “Cerita Pantun Sunda”. Penggalan pantun itu menjadi jiwa Yayasan Kebudayaan Rancagé yang didirikan oleh sastrawan Ajip Rosidi bersama budayawan lainnya pada 1993. Pantun ini juga menjadi salah satu prinsip Hawe dalam melestarikan dan mengembangkan budaya Sunda.

“Secara personal saya berpendapat, budaya setempat mesti dikelola. Itu bisa dilakukan dengan menjaga relevansinya terhadap kehidupan universal. Hanya dengan cara itu, budaya tidak kehilangan potensi sebagai pemberi inspirasi bagi manusia untuk merefleksikan diri supaya lebih kreatif dan budaya tidak punah,” kata Hawe di Perpustakaan Ajip Ro sidi, Bandung, Jawa Barat, Senin (14/6/2021).

Gelar sebagai budayawan Sunda disematkan pada Hawe sejak 2000-an. Pertanyaan tentang gelar itu membuat Hawe tersipu. Dengan rendah hati ia mengatakan, dirinya hanyalah orang yang rajin menulis. Tulisan Hawe bukan tulisan sembarangan, melainkan akumulasi dari pengetahuan dan pengalaman panjang. Ia merekam banyak jejak perjalanan budaya, sastra, dan bahasa Sunda. Ia juga berusaha meneropong kesundaan dengan lebih segar melalui pembacaan atas simbol-simbol yang samar.

Kecenderungan itu, antara lain, terlihat dalam karya Hawe berjudul Sunda Abad Ke-19: Tafsir atas Ilustrasi-ilustrasi Junghuhn (2019) yang berusaha menggali representasi visual lanskap alam Sunda abad ke-19 dari gambar Franz Wilhelm Junghuhn. Sementara itu, Bocah Sunda di Mata Belanda (2019) menginterpretasi penggambaran anak Sunda dari ilustrasi Roesdi djeung Misnem.

Setidaknya sudah 20 buku yang ditulis Hawe sendiri atau bersama penulis lain. Jumlah ini belum termasuk buku yang ia terjemahkan dan sunting serta puluhan. artikel di surat kabar, jurnal, serta esai berbahasa Sunda.

Hawe lebih sering menggunakan teks sebagai medium karena bahasa adalah kunci dalam melestarikan budaya Sunda. Berbeda dengan budaya Bali yang identik dengan ritual upacara keagamaan, fondasi budaya Sunda adalah bahasa dan karya sastra.

“Dari bahasa, kita bisa mempelajari etos, etika, dan filsafat Sunda yang mulai terkikis. Apalagi pada masyarakat Sunda saat ini, nilai kesundaan memudar. Itu terlihat dari polarisasi selama pilpres. Padahal, ada ungkapan, memelihara kejernihan di antara dua kekeruhan,” ujar Hawe yang terlibat dalam berbagai penelitian tentang masyarakat Sunda. Ia, antara lain, membantu Julian Millie dari Monash University yang meneliti Haji Hasan Mustapa, sastrawan besar Sunda.

Banyak garis merah yang Hawe temukan selama meneliti budaya Sunda dari segi gambar, kata, dan lanskap. Salah satunya, kata Hawe, terkait prinsip hidup orang Sunda yang menghargai harmoni dengan alam, yakni hirup cicing, hirup nyaring, hirup eling. Masyarakat adat di Kasepuhan Ciptagelar, contohnya, tidak boleh menjual padi karena menanam padi adalah darma manusia di Bumi.

Bocah Cisalak

Hawe lahir di Desa Cisalak, sekitar 40 kilometer dari Tangkubanparahu, pada 1968. Di daerah bekas perkebunan teh itu, ia tumbuh bersama ayah yang bekerja di kantor camat. Sang ibu mengurus rumah tangga, dan enam saudara kandung. Karena tidak ada teman sebaya, ia menghabiskan waktu membaca buku di taman bacaan ayahnya.

Hobi membaca ini membawa Hawe ke jalan hidup yang lebih jauh dari ekspektasi orangtuanya. Ayahnya semula berharap Hawe menjadi camat atau insinyur pertanian. Nyatanya, gara-gara membaca cerpen kritis karya Mochtar Lubis, Hawe ogah menjadi pegawai pemerintahan. Ia memilih kuliah di Jurusan Jurnalistik Universitas Padjadjaran, Bandung, pada 1987. Setelah lulus, ia bekerja sebagai wartawan di Jakarta pada periode 1995-2000.

Pilihan hidup Hawe membuat hubungan dengan ayah sempat merenggang. Profesi wartawan waktu itu dianggap identik dengan kerjaan ngomongin pejabat. Sungguh miris lantaran sang ayah adalah camat teladan yang pernah diundang ke Istana. Setelah era Reformasi, anggapan ayah Hawe soal profesi “kuli tinta” membaik.

Ketertarikannya pada sastra Sunda mendorong ia mendirikan Komunitas Dangiang yang menerbitkan esai mengenai kebudayaan Sunda pada 1999. Sayang, komunitas ini hanya berumur seumur jagung. Belakangan, bertemu dengan Ajip Rosidi yang menuntunnya menjadi editor di Dunia Pustaka Jaya (2000-2002). Dari sini ia menyelami dunia penerbitan, kesusastraan, dan budaya Sunda lebih dalam.

Terpengaruh Ajip, dia mulai menulis dalam bahasa Sunda. “Sebelumnya saya tidak bisa menulis bahasa Sunda meskipun selalu berbicara dengan orangtua dalam bahasa Sunda,” ujar Hawe yang kemudian membantu Yayasan Kebudayaan Rancagé yang didirikan Ajip. Di Yayasan Rancagé, Hawe menjadi juri untuk Hadiah Sastra Rancagé kategori Sastra Sunda.

Sebagai orang yang menyelami budaya Sunda, ia optimistis dengan perkembangan budaya Sunda di masa mendatang. Ia melihat ada adaptasi bahasa Sunda di masyarakat sekarang ini. “Saya menemukan banyak ungkapan dalam bahasa Sunda tetap muncul di ruang publik, seperti Wi-Fi ditulis waifai, malahan kata aing tiba-tiba populer di kota besar,” ujarnya.

Meski diratapi, lanjut Hawe, elemen budaya Sunda ternyata beradaptasi dengan caranya sendiri.

 

Sumber:

Rithaony Hutajulu Penyambung Rantai Regenerasi Musik Tradisi.Kompas.19 Juni 2021.Hal.16

Pemain musik tradisi Batak kian berkurang lantaran regenerasi berjalan lambat. Banyak pemain musik tradisi yang justru melarang anaknya meneruskannya karena tidak menjanjikan secara ekonomi. Dalam situasi seperti itu, Rithaony Hutajulu (57) menggairahkan kembali regenerasi itu. Para pemain musik tradisi dia carikan panggung sampai ke Europalia di Spanyol.

Semula, amat sulit mencari anak muda pemain musik tradisi Batak. Pada upacara adat seperti Sipaha Lima atau Mardebata sebagai bagian dari ritual agama lama orang Batak, Ugamo Malim, misalnya, nyaris tak ada anak muda yang memainkan alat musik Batak mengiringi ritual tersebut.

Sebagai akademisi yang lahir dan besar di tanah Batak, Ritha, sapaan akrab Rithaony Hutajulu, khawatir suatu saat tak ada lagi orang Batak yang memainkan alat musik tradisi. Ia sadar, untuk bisa memainkan musik tradisi, Batak, seperti taganing, sarune, dan hasapi, tidak hanya butuh kemampuan teknis. “Juga perlu pengetahuan tentang budaya, upacaranya. Dia harus tahu apa yang dimainkan untuk upacara apa. Ini sudah sulit menemukan generasi muda. Sementara untuk belajar musik tradisi, gondang khususnya, di Batak itu butuh waktu lama,” kata Ritha.

Dalam tradisi Batak, anak muda yang belajar menjadi pemain musik tradisi harus tinggal bersama dengan pemusik Batak senior selama bertahun-tahun. Itu pun belum tentu diberi kepercayaan untuk memegang alat musik. Mereka juga harus membantu bekerja di sawah atau mengangkat alat musik saat hendak dimainkan. Proses ini di perlukan untuk menanamkan tradisi berikut sistem pengetahuannya. Selain itu, “Guru dan murid harus punya kepatuhan dan bonding yang kuat, juga cara belajar yang berbeda. Dengan melihat saja itu proses belajar,” ujar Ritha.

Masalah lainnya, para pemain alat musik tadisional ini, misalnya pargonsi (pemain gondang), sering kali tak ingin anaknya juga. menjadi pargonsi. Alasannya, menjadi pargonsi itu tak menentu penghasilannya karena hanya mengandalkan pita-pita alias saweran penonton.

Faktor-faktor di atas menyebabkan banyak maestro pemain musik tradisi makin berkurang karena terputusnya rantai regenerasi. “Juga ada pelarangan-pelarangan dari lembaga agama,” kata. Ritha yang menjelaskan beberapa lembaga agama modern menilai musik tradisi bagian dari pemujaan setan atau kemusyrikan.

Kesadaran tradisi

Kecintaan terhadap musik sudah lama ada pada diri Ritha. Pada 1980-an dia penyanyi pop lewat kelompok RIS Trio. Amat tenar di Medan kala itu karena sering muncul di TVRI menyanyikan lagu-lagu ABBA dan se kelasnya. Dia kuliah mengambil jurusan etnomusikologi tahun 1982 di Universitas Sumatera Utara. Ia dikirim ke Bali dan Jawa untuk memahami tradisi, terutama gamelan. Di situlah Ritha memahami kekayaan musik tradisi lalu mencintainya.

Latar belakang itu membuat Ritha memanggul dorongan sekaligus beban menjaga keber langsungan musik tradisi Batak.

Musik tradisi Batak bisa mati lantaran banyak pemainnya meninggal sebelum mewariskan keterampilan dan pengetahuannya. Agar hal itu tidak terjadi, Ritha lalu mengajukan proposal penelitian dan pendokumentasian musik tradisi pada 2001 sampai 2003 kepada The Ford Foundation. Dia menggali semua unsur dalam musik itu. Misalnya untuk Batak Toba mencakup gondang hasapi, gondang Batak Toba, uning-uningan, opera Batak, sampai nyanyian-nyayiannya.

Sejak tahun 2007 Ritha merancang program revitalisasi musik tradisi Batak dengan bantuan dana dari The Ford Foundation. Ia mencari dan menemukan tujuh pemain musik tradisi yang sudah sepuh untuk dijadikan guru. Setiap guru dia minta mencari tiga murid untuk diajari alat yang berbeda, seperti gondang, serune, taganing, dan garantung. Baik guru maupun murid mendapat honor dan biaya transportasi serta disediakan alat musik. Mereka berlatih sepekan sekali secara tatap muka guru dan tiga muridnya. Lalu sebulan sekali para guru kumpul bersama para murid bersamaan. Itu berjalan selama dua tahun. “Mereka latihan memainkan ensambel, itu intinya. Jadi, harus bertemu. Saya monitoring dan merekam setiap bulan tentang perkembangan teknik,” kata Rita.

Rantai regenerasi Ritha sambung lagi. Hampir semua murid itu akhirnya menjadi pemain alat musik tradisi. Bahkan, tak sedikit yang mampu bermain di ranah ritual, sebuah fase paling sulit dalam permainan alat musik tradisi karena mereka juga harus menghayati makna setiap bunyi.

Bahkan, dua dari murid-murid itu pada 2017 dibawa Ritha bersama kelompok Mataniari yang dipimpinnya dengan sponsor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Pariwisata ke Festival Seni Europalia, sebuah ajang bergengsi. Mereka tampil di Belanda, Belgi, dan Spanyol. Europalia menjadi salah satu ajang pembuktian bahwa regenerasi pemain musik tradisi Batak masih berlangsung.

Ritha juga mengembangkan revitalisasi musik tradisi, khususnya Batak, dengan mempromosikan lewat pertunjukan musik Mataniari dalam beberapa festival musik, seperti Kongres Kebudayaan 2018 dan Pekan Kebudayaan Nasional 2020. Juga menggagas Festival World Music di Danau Toba “Toba Caldera World Music Festival” sejak 2019 yang di dalamnya, antara lain, menampilkan musik Batak. Selain itu, dia juga menulis buku-buku tentang musik tradisi Batak.

Semua upaya Ritha itu menyebabkan regenerasi pemain musik tradisi terselamatkan. Tentu masih butuh perjuangan panjang untuk mempertahankan keberlanjutannya. Pada titik itulah, Ritha butuh banyak sokongan.

 

Sumber: Kompas.19 Juni 2021.Hal.16

Yanuri. Benteng Kentrung Blora. Kompas. 24 Juni 2021. Hal.16

Kesenian kentrung di Jawa Tengah terancam punah lantaran tinggal segelintir orang yang masih memainkannya. Di Blora, Yanuri (57) menjadi salah satu benteng terakhir yang menjaga kentrung.

Kentrung adalah seni tutur yang dinyanyikan dengan iringan rebana. Kesenian ini menjadi sarana untuk menyebarkan nilai-nilai kehidupan, keagamaan, sampai program pembangunan pemerintah.

Yanuri menunjukkan permaian kentrung dengan tiga rebana saat ditemui di rumah salah satu keponakannya di Desa Sendanggavam, Kecamatan Banjarejo, Blora, Jawa Tengah, Rabu (26/5/2021). Satu rebana ia letakkan di kursi, satu ditidurkan di lantai, dan satu lagi yang terbesar didirikan di atas pahanya.

Dengan luwes, jemari tangan kiri Yanuri menabuh ketiga rebana secara bergantian hingga membentuk irama. Selepas intro, matanya terpejam. Sejurus kemudian, lantang terdengar tuturan syair dari mulutnya. “Uluk salam miwah, ya mas. Bethari iman pelaku. Khalifah Allah sangate. Ya rahimin bumine Allah. Ya rahimin bumi kawulo. Nek kawulo, kawulo Allah. Kawulo sakdermo kondho. Kawulo sakdermo cinarito.”

Syair itu merupakan salam pembuka dari lakon Babad Tanah Jawa yang berkisah tentang Kerajaan Tuban, tempat Adipati Wilwatikta. Lakon ini sering dibawakan Yanuri setiap tampil. Di luar itu, ia membawakan kisah-kisah nabi, para wali, dan lainnya yang ia hafal di luar kepala.

“(Lakon) bergantung pada permintaan yang nanggap dan menyesuaikan di mana pentasnya. Saat pentas, juga bisa diselipkan apa yang ingin disampaikan dalangnya. Dalangnya, ya, saya,” kata Yanuri yang meneruskan kentrung dari ayahnya, Sutrisno.

Yanuri menuturkan, dulu ayahnya memainkan lima rebana, sebelum kemudian menjadi tiga saja. Menurut dia, secara filosofis, lima rebana menggambarkan lima sila Pancasila. Bagi umat Islam, lima rebana merupakan simbol kewajiban shalat lima waktu.

Jejak ayah

Yanuri mengisahkan, ayahnya yang berasal dari Gubug, Kabupaten Grobogan, mulai mengentrung pada 1950-an, selepas mondok di Kabupaten Demak. Yanuri mulai ikut menemani ayahnya pada dekade 1980-an. Sang ayah tidak pernah mengajarkan kentrung secara khusus kepada Ya nuri. Ia belajar hanya dari melihat dan mendengar lakon yang di bawakan ayahnya saat pentas.

Tahun 1980-an, lanjut Yanuri, banyak permintaan tampil dari luar kota, seperti Surabaya, Semarang, Yogyakarta, hingga Jakarta. “Dulu ke mana-mana kami berdua pakai bus. Kalau ada yang manggil dari Semarang, jam sembilan pagi kami sudah berangkat, untuk jaga-jaga. Kalau tampil atau mentaskan, biasanya malam sampai dini hari,” kenang Yanuri.

Ia ingat betul ketika diundang oleh instansi pemerintahan, ayahnya kerap menyelipkan pesan-pesan “sponsor” terkait program pembangunan. Para pengundang senang kalau program-program itu disampaikan di atas pentas.

Setelah Sutrisno meninggal pada 2003, Yanuri meneruskan jejak ayahnya sebagai dalang kentrung. Ia mengaku sering teringat ayahnya dan meneteskan air mata di atas pentas. “Saya ingat kata-kata bapak, kalau ada yang manggil, saya pasti bisa,” ucap Yanuri yang merasa mendapat kekuatan khusus dari ayahnya sehingga terampil mengentrung.

. Yanuri biasa tampil di acara hajatan, acara instansi pemerintah, atau di rumah tetangga yang ingin mendengarkan kesenian itu. Di Blora, kentrung juga berkaitan dengan nazar dan ungkapan harapan. Misalnya, ada orang ingin segera memiliki momongan, dia akan memanggil kentrung.

Sekitar sepuluh tahun terakhir, lanjut Yanuri, peminat kentrung semakin berkurang seiring dengan kian banyaknya alternatif kesenian lain. Dalam sebulan kadang ada panggilan lebih dari sekali, kadang tak ada. Peminat yang tersisa kebanyakan kalangan tua.

Yanuri menerima bayaran sekitar Rp 1 juta untuk tampil di wilayah Blora. Ia biasanya bermain semalam suntuk dari sekitar pukul 20.00 hingga 03.00. Khusus bagi yang memiliki nazar, ada tradisi khusus, yakni bedah kupat luar. Ada tambahan uang dalam ketupat. Jumlahnya tergantung si pengundang. Kini Yanuri bergantung pada orang-orang yang mengundangnya karena memiliki nazar.

“Kalau dulu, banyak yang mengundang, ya, karena ingin lihat kentrung saja. Namun, sekarang kebanyakan, ya, karena ada keinginan tertentu,” ujarnya. Pandemi Covid-19 membuat Yanuri semakin terjepit lantaran pentas kesenian dibatasi untuk mencegah kerumunan dan penyebaran Covid-19. Agar bisa mendapat pemasukan, ia bekerja sebagai buruh tani dan pekerjaan serabutan lainnya.

Yanuri masih memiliki semangat untuk mempertahankan sekuat tenaga kesenian kentrung. Ia telah menyiapkan seorang keponakannya untuk menjadi penerus kentrung. Namun, saat ini si keponakan itu belum bisa mentas atau melakukan apa yang dilakukan Yanuri. “Nanti kalau sudah saya wariskan, bisa,” ujarnya penuh keyakinan.

Yanuri berharap pemerintah bisa memberikan dukungan agar kesenian langka ini bisa bertahan dan tidak punah. Yanuri sendiri berkeyakinan, meski kini banyak pilihan kesenian tradisi lain yang mungkin lebih populer, kentrung dengan segala kekhasannya tidak akan lenyap ditelan zaman.

 

Sumber: Kompas. 24 Juni 2021. Hal. 16

Samsuridjal Djauzi. Bekerja untuk Kemanusiaan. Kompas. 30 Juni 2021. Hal.16

Menjadi dokter adalah bekerja untuk kemanusiaan. Dokter yang kehilangan rasa kemanusiaan tidak bisa menjadi dokter yang baik. Prinsip itu dipegang erat Samsuridjal Djauzi, Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia atau FKUI. Hal itu ditanamkan kepada para mahasiswa baru FKUI lewat kuliah umum bertema “Menjadi Dokter yang Profesional, Berakhlak Mulia, dan Mencintai Tanah Air”.

Menjadi dokter mensyaratkan sikap peduli, empati pada sesama dan tidak diskriminatif. Selain profesional, setiap dokter harus bersedia menolong pasien tanpa membeda-bedakan manusia dan penyakitnya.

Hal itu dibuktikan Samsuridjal di awal merebaknya HIV/AIDS. Di tengah masih sedikitnya pengetahuan tentang sindrom defisiensi kekebalan tubuh, keraguan tenaga kesehatan, dan ketakutan masyarakat terkait penularan, ia menjadi satu dari sedikit dokter yang bersedia merawat pasien HIV/AIDS. Atas kiprahnya, dia meraih penghargaan Cendekiawan Berdedikasi Tahun 2021 dari harian Kompas.

Pertengahan tahun 1995, Samsuridjal sempat berbeda pendapat dan tidak di izinkan merawat pasien di sebuah rumah sakit swasta tempatnya berpraktik akibat prinsipnya. Sikap kukuhnya dibela organisasi profesi, Ikatan Dokter Indonesia.

Lewat Kelompok Studi Khusus (Pokdisus) AIDS yang diresmikan Maret 1986, Samsuridjal bersama Zubairi Djoerban, Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam FKUI yang belajar tentang HIV/AIDS saat pelatihan di Perancis pada 1982-1983, serta sejumlah dokter melakukan kajian dan penelitian tentang AIDS.

Pokdisus mulai memberikan layanan bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA) lewat Program Akses Diagnosis dan Terapi, November 1999. Lewat negosiasi dengan perusahaan farmasi, diperoleh potongan harga sehingga bisa memberi layanan tes HIV dan terapi obat antiretroviral (ARV) dengan harga terjangkau.

Karena tetap dirasa mahal bagi sebagian besar pasien, Pokdisus mengadvokasi berbagai pihak, termasuk pemerintah. Tahun 2004, sebagai upaya penang gulangan HIV/AIDS, Pemerintah Indone sia memutuskan melakukan pelaksanaan paten agar bisa memproduksi sejumlah obat ARV di dalam negeri dengan membayar royalti ke pemilik paten. Tahun 2005, obat ARV sudah bisa diakses secara gratis.

“Saat ini, 90 persen biaya obat ARV berasal dari APBN,” kata Samsuridjal. Terapi itu diakses sekitar 130.000 ODHA melalui berbagai pusat layanan kesehatan, 10.000 di an taranya mengakses lewat Pokdisus. Tim Pokdisus yang kini diperkuat banyak dokter dari berbagai spesialisasi tak hanya memberikan layanan ARV, pengobatan infeksi oportunistik, dan infeksi menular seksual. Samsuridjal dan Zubairi bersama tim Pokdisus menghasilkan banyak penelitian yang dipublikasikan di berbagai jurnal ilmiah nasional dan internasional. Kedua guru besar itu juga melakukan penelitian bersama antar negara yang dibiayai National Institutes of Health (NIH) Amerika Serikat serta dipresentasikan di konferensi internasional.

Memberdayakan

Untuk mengedukasi masyarakat terkait HIV/AIDS serta memberi dukungan bagi ODHA, tahun 1989, bersama Zubairi dan Sri Wahyuningsih, Samsuridjal mendirikan Yayasan Pelita Ilmu (YPI). Kegiatannya antara lain penyuluhan pada remaja, konseling dan tes HIV, pencegahan HIV/AIDS pada pengguna narkoba suntik, pencegahan penularan pada ibu ke bayi, serta dukungan bagi ODHA.

“Saat ini, YPI memberikan pendampingan bagi ODHA yang usahanya terpuruk akibat pandemi untuk mendapat bantuan hibah modal dari pemerintah,” ujar Samsuridjal.

Hal yang menggembirakan, kata Samsuridjal, kini banyak tenaga kesehatan bersedia terlibat dalam layanan kesehatan untuk HIV/AIDS. Selain itu, di kota-kota besar stigma bagi ODHA sudah berkurang. Komunitas juga berkembang untuk pemberdayaan ODHA.

YPI memiliki kegiatan lain, yakni Pelita Desa yang sejak 2002 memberdayakan remaja desa. Menempati lahan di Desa Ciseeng, Parung, Kabupaten Bogor, Pelita Desa jadi tempat pelatihan keterampilan dan wirausaha bagi remaja desa; budidaya ikan, ternak, dan perkebunan; serta sarana perkemahan dan outbound bagi anak sekolah dan masyarakat umum. Dana yang didapat untuk membiayai kegi YPI dan meningkatkan wawasan remaja desa dengan mengajak mereka studi banding ke negara tetangga.

Di masa pandemi, kegiatan outbound terhenti. Sebagai ganti, para pemuda desa mengekspor ikan dan tanaman hias ke sejumlah negara. Mereka menawarkan lewat internet, melayani pembelian skala kecil langsung ke konsumen dibantu alumni IPB terkait persyaratan karantina dan kemasan pengiriman.

Kini sebagai penasihat YPI dan Pelita Desa, Samsuridjal memberikan inspirasi dan semangat bagi para remaja desa lewat acara “Belajar Bareng Prof Samsu” yang diunggah di Youtube.

Di usianya yang ke 76 tahun, Samsuridjal masih aktif mengajar S-2 dan S-3 serta menguji S-3 dari FKUI dan FK universitas lain. Juga praktik di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dan RS Kanker Dharmais serta menulis untuk kolom Konsultasi Kesehatan di harian Kompas yang diasuh sejak November 1993.

Kegiatan lain, menjadi Ketua Satuan Tugas (Satgas) Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (Papdi). Satgas yang diresmikan tahun 2003 itu kini telah melatih sekitar 3.000 dokter umum agar dapat menyediakan layanan vaksinasi di tempat praktik. “Selain pada anak, vaksinasi penting bagi orang dewasa. Sebagai gambaran, angka kematian pada orang lanjut usia akibat pneumonia di RSCM mencapai 20 persen. Padahal itu bisa dicegah dengan vaksin pneumokokus,” ujar Samsuridjal.

Menjadi dokter bukan cita-cita awal. “Saya sudah lolos ujian masuk Teknik Kimia ITB. Tetapi agar tidak perlu kos dan meringankan beban orangtua, saya ikut ujian masuk FKUI,” kenangnya.

Setelah lulus dokter tahun 1969, ia mengikuti pendidikan Spesialis Penyakit Dalam. Selesai pendidikan pada 1976, Samsuridjal bertugas di Kalimantan Timur. Meski ditempatkan di Rumah Sakit Wahab Sjahranie, Samarinda, ia berkeliling ke rumah sakit kabupaten karena merupakan satu-satunya dokter penyakit dalam di daerah itu.

Pada mahasiswa baru, Samsuridjal menekankan untuk tidak melewatkan kesempatan bekerja di daerah. Itu merupakan sarana mematangkan diri, belajar, bergaul, dan memahami budaya suku lain serta menjadi pemersatu bangsa.

Semangat bekerja untuk kemanusiaan mendarah daging di keluarga. Putra putrinya, Irfan Wahyudi dan Hilma Paramita, kini sudah menjadi dokter spesialis. Demikian juga para menantunya. Tiga dari lima cucu memilih belajar di fakultas kedokteran. Cucu pertama telah lulus dari FKUI dan mendaftar untuk internship di daerah.

 

Sumber: Kompas. 30 Juni 2021. Hal.16

Rifqi Maulana. Secuil Peternak di Jakarta. Kompas. 25 Juni 2021. Hal.16

Sapi adalah bagian dari hidup Rifqi Maulana (33). Sejak bocah, suara sapi akrab di telinganya. Hingga usaha turun-temurun ini tiba di tangannya. ia mantap melanjutkan dan mengembangkan peternakan di tengah kepungan gedung-gedung jangkung Ibu Kota.

Teras rumah di Jalan Mampang Prapatan XV Nomor 2 tampak sibuk, Rabu (16/6/2021). Dua pekerja menyaring susu yang baru saja diperah. Dengan cekatan, mereka mengemas susu ke plastik, masing-masing berisi 1 liter atau 2 liter. Hilir-mudik pembeli selama pengemasan membuat bungkusan susu sapi ludes dalam satu jam saja.

Susu itu berasal dari 42 sapi perah kandang keluarga, tepat di belakang rumah itu. Ada pula enam ekor sapi perah di kandang keluarga di Duren Tiga, Jakarta; serta 30 ekor di Depok. Kandang ini dikelola oleh Rifqi dan kakak-kakaknya. Mereka adalah generasi ketiga peternak sapi perah yang tersisa di kawasan itu.

“Dulu, orang Betawi di sini menjalankan usaha ternak sapi perah. Jumlahnya sekitar 20 keluarga. Tapi sekarang tinggal empat keluarga yang masih memelihara sapi, termasuk kami,” tutur Rifqi.

Sebagian peternak memilih untuk kandang sapi menjadi usaha yang lebih “kota” mengganti seperti rumah kontrakan. Selain membutuhkan kerja fisik yang cukup berat, risiko beternak sapi tergolong tinggi. Apabila seekor saja mati, kerugian bisa mencapai Rp 40 juta atau lebih.

Di tengah tantangan itu, Rifqi memilih tetap meneruskan usaha yang dirintis kakeknya. “Ekonomi kami, ya, dari sapi ini. Orangtua saya bilang, “Kamu bisa kuliah juga karena sapi. Sapi ini yang bayarin kamu,” tutur Rifqi soal peternakannya yang juga menghidupi 13 pekerja.

Menyesuaikan zaman

Sebagian cara beternak masih tetap sama, seperti pemerahan yang masih manual. Hanya saja, aspek kebersihan mendapat perhatian saat ini. Beda zaman juga membuat perlakuan terhadap sapi berubah. “Dulu, kalau ada sapi sakit, kami bawa ke tanah kosong punya tetangga di belakang kandang. Di situ, sapi dijemur biar sehat. Sekarang, lahan itu sudah jadi rumah. Kalau sapi sakit, saya langsung konsultasi ke dinas (Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian DKI Jakarta) dan dokter akan langsung datang memeriksa sapi,” ujarnya.

la mengakui, memelihara sapi bukan perkara mudah, apalagi dilakukan di tengah kota Jakarta yang lahannya amat terbatas. Ia tidak hanya susah payah menjaga agar sapi-sapinya terhindar dari penyakit, tetapi juga menjaga ternaknya tidak stres. Berada di tengah kota yang cenderung panas saja membuat produksi susu sapi perkotaan turun, apalagi ditambah stres.

Di luar itu, ia mesti memperhatikan benar kebersihan lingkungan lantaran sapi dipelihara di tengah permukiman padat. Untuk itu, Rifqi meng ikuti pelatihan budidaya maggot yang bisa membantu mengurai limbah padat peternakannya.

Selain sapi perah, Rifqi juga meneruskan usaha pembuatan tahu yang diwariskan ayahnya. Tercatat ada 34 pembuat dan pedagang tahu di bawah naungannya. Sekitar 90 tenaga kerja yang berkecimpung di bisnis tahu ini.

Bisnis tahu ini punya keterkaitan dengan sapi. Ampas tahu merupakan pakan sapi, selain rumput gajah. Semasa hidupnya, H Mardani-ayah Rifqi-mengumpulkan ampas tahu dari para perajin dan menjualnya ke peternak sapi. Lama-kelamaan, sang ayah membuka usaha pembuatan tahu.

Simbiosis mutualisme pembuatan tahu dan peternakan di lanjutkan Rifqi. Ia memproduksi sendiri pakan berupa ampas. Pakan lainnya, yakni rumput, ia beli dari pedagang rumput. “Dulu sih, di Pancoran ada lahan rumput. Sekarang, cari rumput mesti jauh. Saya enggak sanggup lagi, jadi saya beli dari penjual rumput yang biasa memasok ke Jakarta Selatan.”

Selain menjalankan usaha warisan, Rifqi juga melirik peluang sapi potong, terutama untuk hewan kurban sejak 2005. Beberapa tahun terakhir, sapi potong Rifqi dipilih sebagai hewan kurban oleh pimpinan negara ini, termasuk Presiden Joko Widodo pada Idul Adha 2020.

Bersama kakaknya, Rifqi juga mengembangkan usaha pembibitan sapi di Depok. Selain bisa menambah pemasukan, mereka juga bisa mendapatkan calon induk sapi perah yang berkualitas. Usaha sapi potong dan pembibitan sapi menjadi semacam tabungan dan bonus bagi Rifqi sekeluarga. Adapun usaha sapi perah tetap jadi pemasukan harian. Rata-rata mereka menjual 600 liter sehari.

“Sebenarnya, permintaan jauh di atas kemampuan produksi kami. Apalagi kalau akhir pekan, ada ratusan liter permintaan yang tidak bisa kami penuhi,” tuturnya.

Pemandangan di teras depan Rifqi mengonfirmasi tingginya permintaan itu. Sebagian susu dibeli pengelola restoran, sebagian lagi dibawa loper susu yang sudah memiliki pelanggan tetap masing-masing dan sebagian kecil kantong susu dibeli tetangga Rifqi.

Melihat kecukupan pendapatan dari sapi, Rifqi mengaku tidak pernah sedetik pun terpikir untuk mengakhiri bisnis keluarga ini dan beralih ke profesi kantoran yang banyak di jalani warga perkotaan. Ia tetap menekuni dunia sapi perah.

 

Sumber: Kompas. 25 Juni 2021. Hal.16