Joni Messakh. Mangrove Penyelamat Desa. Kompas. 30 September 2021. Hal. 16

Azmir Azhari. Mempersembahkan Providentia Dei. Kompas. 25 September 2021. Hal. 16

Alifatul Arifiati. Suara Keadilan Jender. Kompas. 28 September 2021. Hal. 16

Magnet Juara dari Juazeiro. Kamis 12 Agustus 2021. Hal. 16

Selama 20 tahun berkarier sebagai pesepak bola profesional, trofi juara seakan mengikuti ke mana pun Dani Alves (38) bermain. Bek kanan itu meraih gelar juara bersama enam klub serta tiga kelompok umur tim nasional Brasil. Terbaru, ia mengantar Brasil merebut medali emas sepak bola Olimpiade Tokyo 2020.

Sejauh ini, Alves telah meraih 44 trofi juara atau rata-rata meraih minimal dua gelar juara setiap tahun. Koleksi trofi itu membuat Alves menjadi pesepak bola dengan gelar juara terbanyak. Ia adalah pemain pertama yang mampu mengoleksi lebih dari 40 trofi juara.

Medali emas Olimpiade Tokyo 2020 yang diraih bersama tim nasional Brasil U-23 adalah gelar keenamnya selama mengenakan “Selecao”. Ia meraih trofi Piala Dunia U-20 pada 2003, kemudian mempersembahkan empat trofi bersama tim senior Brasil. Keempat gelar juara itu adalah Copa America 2007 dan 2019 serta Piala Konfederasi 2009 dan 2013.

Selain itu, Alves juga selalu mampu memberikan trofi bagi enam klub yang dibelanya sejak memasuki dunia sepak bola profesional pada 2001. Keenam klub itu adalah Bahia dan Sao Paulo (Brasil), Sevilla dan Barcelona (Spa- nyol), Juventus (Italia), serta Paris Saint-Germain (Perancis).

“Pele adalah raja (sepak bola). Na- mun, saya merebut lebih banyak titel dibandingkan dirinya. Tak peduli apa yang orang katakan, tetapi saya senang dengan capaian saya,” kata Alves, dilansir FotMob, beberapa waktu lalu.

Bagi Alves, medali emas Olimpiade adalah salah satu gelar juara yang amat berkesan dalam kariernya. Olimpiade, kata Alves, setara dengan Piala Dunia karena merupakan turnamen yang mempertemukan negara-negara terbaik di dunia. Ia mengatakan tidak semua pemain terbaik Selecao bisa memper sembahkan medali emas Olimpiade. Romario dan Bebeto, contohnya, ma sing-masing hanya membawa pulang medali perunggu dari Seoul 1988 dan perunggu di Atlanta 1996. “Misi (emas) tercapai. Ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Brasil, saya sangat bangga menjadi wargamu,” ungkap Alves di akun Instagramnya.

Meskipun usianya telah memasuki masa senja bagi karier pesepak bola, Alves belum berhenti bermimpi. Ia masih seperti seorang remaja ambisius yang menembus tim senior Bahia untuk pertama kali ketika usianya baru menginjak 17 tahun.

Setelah meraih emas Olimpiade, pemain setinggi 1,72 meter itu masih berambisi mempersembahkan kembali satu trofi agung bagi Brasil, yaitu Piala Dunia 2022. Ia bertekad tampil konsisten bersama Sao Paulo dalam satu tahun kedepan agar mendapat tempat di skuad Selecao.

“Saya memang hampir berusia 40 tahun di Piala Dunia nanti, tetapi saya akan terus bekerja keras demi tampil dan memberikan trofi Piala Dunia untuk Brasil,” ucapnya, dikutip laman resmi FIFA.

Alves menambahkan, “Saya berharap bisa meraih 50 trofi sebelum pensiun. Saya berharap (trofi) itu termasuk Piala Dunia.”

Peran ayah

Alves adalah salah satu bintang Brasil yang mampu mewujudkan dongeng dalam hidupnya. Ia seperti tipikal pesepak bola sukses Brasil lainnya yang berasal dari keluarga tidak mampu dan menjadikan sepak bola sebagai pelita utama dalam kehidupan. Ayah Alves, Domingos Alves Silva, adalah petani dan pelatih sepak bola di da menjadi

 

akhir pekan. Alves, putra bungsu dari empat bersaudara, rajin membantu ayahnya ber- tani sejak kecil. Ia bangun pukul 04.00 dan pergi ke sawah bersama ayahnya.

Hingga usia remaja, Alves melakukan apapun demi membantu keuangan keluarga. Terkadang, ia jadi pedagang pelayan restoran, bahkan pernah menjadi kameo sebuah film independen di Bahia yang dibayar 5 real Brasil atau sekitar Rp 13.000 per hari.

Pada Sabtu dan Minggu, Alves fokus berlatih sepak bola di klub kampung yang dibentuk ayahnya, Palmeiras de Salitre. la bergabung di klub itu sejak berusia 10 tahun dan berposisi sebagai penyerang sayap ka nan. “Sebagai pelatihnya, saya melihat dia (Alves) tidak banyak mencetak gol di posisi menyerang. Jadi, perlahan saya tempatkan dia di bek sayap yang jadi posisi favoritnya saat ini,” kata Domingos kepada Globo.

Memasuki usia 13 tahun, Alves bersama sang kakak, Lucas, direkrut tim yunior Bahia, klub profesional di Serie A Brasil. Mereka meninggalkan rumah dan tinggal di sebuah kontrakan kecil tanpa kasur. Setelah rutin mengikuti kom petisi tingkat umur bersama tim muda Bahia, Alves mendapat panggilan pertama membela tim utama Bahia pada awal 2001.

“Dia bocah pekerja keras yang telah membuat kami bangga,” kenang Bartolomeu Monteiro alias Caboclinho, salah satu pelatih pertama Alves di klub lokal, Juazeiro, yang berkompetisi di  Liga Bah Bahia.

Setelah sukses, Alves pun tidak pernah melupakan jasa semua orang yang membantunya meniti karier sebagai pesepak bola. Tato wajahh dan ibunya ada di tubuh Alves ia selalu menemui Cabenho dan teman masa kecilnya ketika libur musim panas di Brasil.

Semangat Alves untuk terus mengejar kejayaan di lapangan hijau belum meredup, lama sih ingin terus mengejar mimpi- mimpinya meskipun banyak yang menganggap dirinya sudah seharusnya pensiun.

Bergabung ke Sao Paulo pun termasuk mimpi masa kecil nya. Sao Paulo termasuk salah satu klub tersukses di Brasil dan klub favorit Alves. Kostum tim berjuluk “Tricolor” itu adalah seragam sepak bola pertama yang dibelikan orang tuanya.

Meski telah kembali ke Brasil, Alves masih membuka kemungkinan untuk kembali ke Eropa demi meraih trofi di Inggris. “Ide bahwa saya akan mengakhiri karier tanpa bermain di Liga Inggris adalah hal yang mustahil,” kata Alves kepada The Telegraph.

 

Sumber: Kamis 12 Agustus 2021. Hal. 16

Liku Jalan Menuju Emas Olimpiade. Kompas. 3 Agustus 2021. Hal. 16

Greysia Polii dan Apriyani Rahayu menjalani lika-liku hidup yang naik turun sebelum merebut medali emas Olimpiade Tokyo 2020. Greysia pernah di titik nadir saat didiskualifikasi di Olimpiade London 2012 dan pasangannya pensiun karena cedera. Apriyani merangkak dari sangat bawah saat bermain dengan raket dari papan.

Sejar bulu tangkis Tanah Air diciptakan  Greysia Polii/Apriyani Rahayu dengan menjadi ganda putri pertama Indonesia yang meraih medali emas Olimpiade. Podium tinggi Olimpiade Tokyo 2020 mereka gapai melalui kehidupan mas masing yang penuh liku.

Dalam final di Musashino Forest Sport Plaza, Senin (2/8/2021), Greysia/Apriyani mengalahican Chen Qingchen/Jia Yifan (China), 21-19, 21-15. Tangis pun pecah saat mereka merebut emas Olimpiade.

Tangis itu melepas semua emosi yang mereka rasakan, bukan hanya saat bertanding, melainkan juga dalam menjalani hidup Keduanya melalui liku hidup berbeda untuk men capai puncak prestasi seorang atlet. Yang terdekat, Greysia kehilang an kakaknya, Rickettsia Polii, yang meninggal 24 Desember 2020, se hari setelah pernikahan Greysia dengan Felix Djimin. Rickettsia ibarat sosok kakak pengganti peran ayah Greysia yang telah lama tiada,

Masa kelamnya di arena bulu tangkin terjadi di ajang tertingti, Olimpiade. Dalam debut di London 2012 Greysla, yang berpasangan dengan Meiliana Jauhari, didiskualifikasi meski telah lolos ke perempat final.

Bersama tiga pasangan lain, yaitu Ha Jung-eung/Kim Min-jung dan Jung Kving-rua Kim Ho-a (Korea Selatan) serta Wang Xiaoli/Yu Yang (China). Greysia/Meiliana dicoret dari persaingan. Keempat pasangan dinilai merusak nilai-nilai olahraga karena tidak berusaha yang terbaik untuk menang demi menghindari lawan lebih kuat pada perempat final.

Greysia pun memandang momen pahit itu sebagai motivasi.

“Saya merefleksi diri, bukan hanya sejak London 2012, tetapi sejak usia 13 tahun. Waktu itu, saya melihat senior saya begitu luar biasa. Mereka menjuarai Olimpiade dan juara dunia. Saya punya mimpi untuk menjadi seperti mereka. Tuhan memberi mimpi spesifik dalam hidup saya, saya mau mendapat me dali emas Olimpiade di ganda putri,” tutur Greysin kepada wartawan Kompas, Agung Setyahadi yang meliput final ganda putri di Tokyo.

Kesempatan mewujudkan mimpi itu datang ketika dia menembus Olimpiade London 2012 “Banyak pro dan kontra tentang kejadian (diskualifikasi itu, tetapi saya hanya mau mendengarkan orang yang mendukung saya secara tulus Mreka bilang, jangan menyerah dulu karena ganda putri ada di pundak saya,” kata Greysia

Di tengah gempuran pemain-pemain China, Jepang dan Korea Selatan, yang dinilai Greysia sudah sangat terlalu kuat, dia menapaki kembali kariernya. Greysia kembali berpartner dengan Nitya Krishinda Maheswari yang pernah menjadi pasangannya pada 2008-2010

Keduanya menjadi salah satu pasangan terbaik tanpa gelar juara ajang besar, hingga membuat kejutan pada Asian Games Incheon 2014 di bawah polesan Eng Hian Mantan pemain ganda putra itu datang ke Pelatnas Cipayung pada Maret 2014,

Pesaing mereka, yang lebih difavoritkan juara, adalah pasangan China, Korea Selatan, dan Jepang yang menjadi kekuatan ganda putri dunia. Greysia/Nitya menembus kekuatan itu dengan merebut medali emas.

Greysia kembali kehilangan kepercayaan diri hingga memutuskan pensiun ketika Nitya tidak bisa lagi bermain karena cedera lutut hingga harus menjalani operasi. Apalagi, di Olimpiade Rio de Janeiro 2016 mereka terhenti pada perempat final. Saat itu, Greysia mengatakan, kemungkinan Rio de Janeiro 2016 menjadi Olimpiade terakhirnya.

Dia akhirnya memutuskan tetap di pelatnas, seperti permintaan Eng Hian, dengan misi mematangkan permainan adik-adiknya. Para pemain yunior itu dipasangkan dengan Greysia. Greysin pun dipasangkan dengan Rosyita Eka Putri Sari, lalu Rizki Amelia Pradipta pada awal 2017, hingga Apriyani Rahayu yang baru setahun lepas dari yunior.

Pasangan itu pertama kali di turunkan dalam kejuaraan beregu campuran Piala Sudirman, Mei 2017, di Selandia Baru. Mereka menjalani debut dalam turnamen individu di Thailand Terbuka dan jadi juara. “Waktu itu saya mikir, wah, saya harus ada empat tahun lagi,” kata Greysia.

Mental tangguh

Bagi Apriyani, yang saat itu berusia 19 tahun, momen juara di Thailand tersebut melambungkan namanya. Pada satu kesempatan, Eng Hian bercerita, dirinya memiliki tanggung jawab menjaga Apriyani sebagai bintang muda yang baru melejit

“Banyak teman yang mungkin tadinya sudah menjauhi dia mendekat lagi. Banyak yang mengajak bertemu, bahkan dalam waktu latihan. Saya pun harus berusaha menjaga Apriyani. Jika tidak, banyak gangguan yang membuat dia tidak disiplin,” tutur Eng Hian.

Diceritakan Imelda Wigoeno, Ketua Harian PB Jaya Raya, klub asal Greysia/Apriyani, Eng Hian membuka komunikasi dengannya untuk menjaga potensi Apriyani. “Greysin juga selalu membantu mengingatkan karena dia lebih senior. Apalagi, potensi besar Apriyani terlihat sejak yunior,” kata Imelda.

Saat yunior, Apriyani menjadi finalis ganda putri Kejuaraan Dunia Yunior 2014 bersama Rosyita. Dia juga meraih beberapa gelar juara ganda putri dan campuran, di antaranya bersama Jauza Fadhila Sugiarto dan Rinov Rivaldy. Jauza, anak Icuk Sugiarto, adalah pasang an Apriyani sejak bergabung di PB Pelita yang dibina Icuk.

Di mata Greysia dan Eng Hian, Apriyani adalah pribadi bermental tangguh yang tak takut dengan tan tangan apa pun. Dia tak mundur ketika tawaran berpasangan dengan Greysia membuatnya menjalani latihan dan tekanan yang teramat berat, lebih berat dibandingkan saat bersaing di yunior.

Karakter itu tumbuh pada diri bungsu dari tiga bersaudara itu dalam kehidupan sehari-harinya. Apriyani lahir dari keluarga sederhana di Lawulo, Konawe, Sulawesi Tenggara.

Seperti pernah dicentaran Ap riyani saat baru bergabunge pe latnas, ayahnya, Amiruddin, ang kali meminjam uang agar bisa membiayai putrinya itu mengikuti berbagai pertandingan, kad Ap riyani menjadi pemain bulu tangkis memang begitu besar.

Kegemarannya bermain bulu tangkis berawal dari kesukaannya menonton pertandingan di TV. Di awali dengan bermain di halaman rumah dengan raket dari papan, kemampuannya diasah pelatih bernama Sapiuddin. Sejumlah prestasi di daerah membawanya ke Jakarta untuk berlatih di PB Pelita pada 2011, lalu pindah ke Jaya Raya, dan bergabung di pelatnas.

 

Apriyani pun mendedikasikan medali emasnya untuk orangtua, keluarga, dan pelatihnya sejak ke cil. Dia juga bercerita tentang se mua pelajaran yang didapat selama berpartner dengan Greysia. “Saya belajar mendewasakan diri. Harus mencoba keluar dari zona nyaman. Dulu, saya adalah orang yang tak mau diatur. Namun, Kak Greys menjadikan saya lebih dewasa da lam cara berpikir dan dalam men jalani kehidupan sehari-hari. Al hamdulillah, kami bisa mendapat kan ini semua,” tuturnya.

 

Sumber: Kompas. 3 Agustus 2021. Hal. 16

Kontribusi Diaspora untuk Dunia. Kompas 16 Agustus 2021. Hal. 16

Nama Carina Joe mulai banyak diperbincangkan di media Tanah Air setelah terungkap ia menjadi salah satu pemilik hak paten vaksin Covid-19 AstraZeneca. Perempuan kelahiran Jakarta ini mengungkap potensi besar penelitian di bidang bioteknologi jika didukung dengan ekosistem dan infrastruktur yang memadai.

Cukup sulit menemukan waktu yang tepat untuk berbincang langsung dengan Carina setelah beberapa kali ia tampil di sejumlah media Tanah Air. Selain karena perbedaan waktu antara Indonesia dan Inggris, hal ini tidak terlepas dari kesibukan Carina sebagai seorang peneliti bio teknologi. Beberapa kali ia bahkan mengaku tengah berada di luar kota.

Sejumlah media telah menguraikan peran Carina dalam proses pengembangan vaksin AstraZeneca yang dipimpin oleh ilmuwan University of Oxford, Sarah Gilbert, hingga memperoleh hak paten. Carina berjasa membuat metode agar vaksin AstraZeneca dapat diproduksi dalam jumlah yang besar dan membuatnya memegang hak paten tentang manufacturing scale up.

Saat menjawab pertanyaan dari Kompas beberapa waktu lalu, Carina mengatakan, ia pertama kali terlibat dalam penelitian di luar negeri setelah menyelesaikan program ma gister bioteknologi di Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT), Australia. Selama menjalani program magister, Carina juga mengikuti magang dengan divisi manufaktur di The Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO). Ia fokus pada pembuatan protein rekombinan skala besar dan antibodi monoklonal terapeutik.

Dalam studi magisternya, Carina melakukan penelitian di bawah bimbingan Profesor George Lovrecz. To pik penelitian yang ia ambil adalah optimalisasi produksi antibodi mo noklonal menggunakan platform berbeda dan pengembangan proto kol untuk produksi protein rekom binan. Ia juga fokus meneliti bagaimana cara agar perusahaan mam pu menghasilkan lebih banyak produk untuk pembuatan antibodi mo noklonal menggunakan sel hibridoma.

Setelah meraih gelar magisternya, Carina kemudian menerima beasiswa untuk melanjutkan studi doktoral di RMIT. Fokus penelitian yang diambil ialah peningkatan imunogenisitas antigen permu- kaan hepatitis B dengan partikel mirip virus (VLP) sebagai satu-satunya komponen virus hepatitis B. VLP virus hepatitis B yang dimodifikasi ini menunjukkan kekebalan humoral yang lebih kuat dari vaksin yang tersedia secara komersial.

Selama menempuh studi doktoral sekaligus melanjutkan magang di CSIRO, Carina juga mengembangkan VLP chimeric yang mampu memunculkan autoantibodi pada penderita kanker. Selain itu, ia juga mengembangkan metode pemurnian yang dapat membuat reproduksi dan hilirisasi menjadi lebih cepat.

Seluruh latar belakang ilmu dan pengalaman di industri hingga lebih dari enam tahun inilah yang akhirnya membuat Carina diterima magang post doctoral di Jenner Institute, University of Oxford, Inggris Saat pandemi mulai merebak, ia kemudian turut serta dalam pengembangan vaksin AstraZeneca dan menjadi peneliti utama di laboratorium dengan dibantu asisten peneliti.

Saat ini, vaksin AstraZeneca telah disetujui dan digunakan di 178 negara, termasuk Indonesia. Hingga Juli lalu, lebih dari 700 juta dosis AstraZeneca sudah disuntikkan di seluruh dunia dan akan terus bertambah seiring belum meredanya pandemi saat ini. Menurut data statistik, vaksin ini telah menyelamatkan puluhan ribu nyawa manusia dari Covid-19.

Dukungan ekosistem

Bersinarnya peneliti diaspora bidang bioteknologi di luar negeri menjadi tamparan keras bagi ekosistem riset di Tanah Air. Carina mengakui bahwa beberapa tahun lalu setelah ia lulus dari SMAK 1 Penabur Jakarta, belum banyak universitas di Indonesia yang menawarkan studi jurusan bioteknologi. Hal inilah yang membuat dia memutuskan menjalani studi dan berkiprah di luar negeri.

Carina juga merasakan ekosistem riset di luar negeri sudah terbentuk sejak lama sehingga membantu dan memudahkan peneliti untuk menciptakan produk yang berguna bagi manusia. Dari pengalamannya menjadi peneliti di Australia dan Inggris, dua negara tersebut telah mempunyai ekosistem yang mendukung dalam sejumlah riset, khususnya di bidang bioteknologi.

Selain ketersediaan anggaran, kata Carina, para peneliti juga sudah didukung kolaborasi dengan para ahli dari berbagai bidang untuk bertukar pikiran dan memberikan saran yang tepat.

“Hasil riset yang hanya dilakukan di laboratorium tidak bisa dirasakan untuk kehidupan manusia. Jadi, memang perlu ada kerja sama industri dan peneliti agar hasilnya bisa dinikmati masyarakat serta ketersediaan fasilitas yang lengkap,” ucapnya.

Carina menjelaskan, kolaborasi antara para peneliti dan transfer teknologi biasanya dilakukan pada tahap terakhir dalam suatu penelitian. Dalam riset biotek nologi, transfer teknologi dilaku kan setelah lolos uji klinis tahap 1 dan 2 atau saat memasuki tahap uji klinis 3. Proses uji klinis 1 dan 2 masih dilakukan oleh peneliti dalam satu lembaga tersebut karena dosis yang dibutuhkan tidak terlalu banyak dibandingkan dengan uji klinis 3.

“Banyak juga riset yang menunggu sampai produk lolos uji klinis 3 dan baru melakukan transfer teknologi. Hal ini karena dana yang dibutuhkan sangat besar dan dana tersebut biasanya diberikan setelah cukup data,” katanya.

Akan tetapi, khusus saat pandemi dan situasi yang mendesak, proses manufacturing serta transfer teknologi dilakukan secara paralel dengan uji klinis. Proses kolaborasi dilakukan dengan melakukan presentasi dengan,  data yang ada ke perusahaan atau pemerintah yang dianggap mampu dan mempunyai minat untuk memproduksinya secara massal.

Saat ini, Indonesia memang mulai memperbaiki dan membangun ekosistem riset yang dapat mendukung para peneliti hingga menghasilkan produk berdaya sa ing global. Namun, Carina me mandang bahwa semua peneliti, termasuk diaspora seperti dirinya, tetap bisa berkarya dimana pun selagi masih bisa berkontribusi bagi negara dan dunia.

 

 

Sumber: Kompas 16 Agustus 2021. Hal. 16