Sahita Songsong Gerhana dengan Budaya Jelata

Sahita Songsong Gerhana dengan Budaya Jelata. Kompas. 5 Maret 2016. Hal 16

Kelompk teater tari Sahita memosisikan diri sebagai semacam punakawan. Mereka mengingatkan orang dengan cara menghibur. Dengan gaya kerakyatan, Sahita leluasa masuk ke pasar, kantong kesenian, sampai hotel berbintang, Sahita akan tampil si Bentara Budaya Jakarta, selasa (8/3) dalam “uran-uran Mapag Grahanam”, dendang ria songsong gerhana.

OLEH FRANS SARTONO

“ono tangis kelayung-layung Tangise wong kang wedi mati Gendongono, kuncenono Yen wis mati mongso wurungo ..”

Terjemahan bebas dari tembang jawa tersebut kira-kira seperti ini : ada tangis meratap, merintih, tangisan orang takut akan kematian. Dikafani atau disimpan serapat apa pun, kematian tetap akan datang menjemput.

Tembang itu dilantunkan Sahita dalam pentas “Srimpi Ketawang Lima Ganep”/ salah satu karya Sahita yang kerap dipentaskan sejak awal tahun 2000-an. Tembang tersebut merupakan sikap hidup mbah kawit, tokoh dalam lakon “Tuk” karya Bambang Widoyo SP (alm) dari Teater Gapit, solo, yang diangkat Sahita dalam srimpi tersebut.

Bagi mbah Kawit, hidup akan berujung pada kematian, dan oleh karena itu tidak harus diratapi. Seperti itu pula tampaknya sikap berkesenian Sahita, kelompok teater tari yang dibentuk tahun 2001 di Solo, jawa Tengah, Sahita yang artinya kebersamaan terdiri dari Wahyu Widayati (Inok), Sri Setyoasih, Atik Sulistyaning Kenconosari, dan Sri Lestari (Cempuk).

“kami numpang konsep hidup Mbah Kawit yang sederhana. Sama-sama menunggu waktu, kenapa tidak gayub rumpung. Menyanyi, menari, berbuat kebaikan. Berbagi apa yang kita punya, pikiran, tenaga, kesetiaan…” kata Wahyu Widayati.

 

“ngene wae” – Begini saja

Diranah seni pertunjukan Sahita mengambil konsep semacam punakawan, rakyat jelata yang polos, yang ikut urun rembuk dengan bahasa rakyat. “ dalam wayang sekotak itu kan ada punakawan. Sahita itu di situ, kami manusia biasa sebagai pelengkap,” ujar awak Sahita.

Sebagai orang biasa, Sahita tampil dengan segala kejelataanya. Dalam “srimpi Srimpet”, misalnya, mereka menafsir dan men-“transformasi” kan bagian keplok Alok ke dalam bentuk yang lebih Verbal. Dalam tarian srimpi pakem, bagian keplok Alok berupa perang dengan cundrik (keris kecil) atau pistol. Perang dibaqakan dengan subtil, halus. Akam tetapi, Sahita mengalihbentukan secara verbal, teatrikal. Ada raungan binatang seperti gagak, serigala, dan binatang liar lain.

Pengalihan bentuk tersebut ada alasan kontekstualnya, yaitu situasi sosial politik saat karya tersebut dipentaskan. Ada rivalitas diranah politik. “waktu itu sedang ramai dinegeri ini. Yang menjadi panutan malah banyak omong dan saling “mengigit”, ujar Sri Lestari.

Secara fisik Sahita pun mengambil posisi seperti Mbah Kawit. Di panggung mereka tampak seperti nenek-nenek. Gerak tari mereka didistorsikan mendekati gerakan perempuan usia 70-an tahun. Begitu pula dalam tata gerak.

“Dari sisi estetika jelek sekali karena memang tidak ada srimpi yang mekongkong, haha…” kata Wahyu Widayati. Mekongkong adalah posisi kaki yang terbuka lebar. Dalam estetika tari jawa, gerak atau posisi semacam itu “labu”. Tapi begitulah Sahita yang secara sadar memilih jalur kerakyatan.

Pilihan itu merupakan “warisan” dari kelompok teater yang mereka ikuti, yaitu Teater Gapit yang dibentuk Bambang Widoyo SP. Sepeninggal Bambang pada tahun 1997. Sahita seperti “kehilangan” panggung yang selama ini sudah sangat dekat dengan kehidupan mereka.

Momentum untuk berkarya datang ketika pada tahun 2001 di Solo digelar pasamuan dalam forum tersebut dengan karya “srimpi Srimpet” pada 22 juni 2001.

Kami memanfaatkan dan memaksimalkan keminimalan kami menyanyi, menari. Biasanya Cuma sedikit – sedikit. Itu yang kami kumpulkan dan jadi kelebihan kami, haha…,” kata Wahyu Widayati.

Mereka sebenarnya mempunyai basis tari yang kuat. Kecuali Sri Lestari, awak Sahita lainnya adalah lulusan Jurusan Tari Institusi Seni Indonesia(ISI) Surakarta. Sri Setyoasih bahkan pernah menjadi penari bedaya dikeratin Surakarta. Ada kaidah tari yang masih mereka pegang, misalnya struktur garapan srimpi. Akan tetapi, ada hal-hal teknis tari yang mereka “langgar” dan mungkin tidak sesuai dengan ketentuan baku. Mereka menyebutnya sebagai gaya “ngene wae” atau begini saja-hampir setara dengan semau gue.

Penampilan Sahita dengan gaya ngene wae itu kerap mendatangkan komentar bernada protes. Ada yang menganggap mereka merusak pakem, tidak taat “konbensi” yang berlaku di ranah tari. “ tapi di satu sisi banyak penonton yang mendukung.”

Gerhana Matahari

Nyatanya Sahita bisa tampil di segala medan. Mereka tampil di pasar-pasar tradisional, kantong-kantong kesenian seperti di Bentara budaya, sampai hotel berbintang. Mereka tampil di acara makan malam, acara ulang tahun, dan acara kumpul karyawan perusahaan. Mereka bahkan menjadi pemecah tawa dibagian intermezo pentas drama tari Matah Ati di Singapura, Kuala Lumpur, Jakarta, dan solo.

Saat menerima “hujatan” itu, Sahita sempat keder dan mecari penguatan pada tokoh-tokoh kesenian. Dari seniman panggung, skenografer Rudjito atau Mbah Djito (alm), mereka mendapat “restu” . Dikatakan Mbah Djito, memang ada srimpi keraton, yaitu srimpinya kawula yang dipersembahkan kepada raja. “tapi kami bukan orang keraton. ‘itu srimpinya rakyat pada yang diatas,’” kata Sahita mengutip ucapan Mbah Djito.

Begitu juga dari musisi wayan sadra(alm), Sahita mendapat masukan tentang musik mereka yang kadang kurang taat dalam hitungan gerak. “itu sudah menjadi musikmu,” kata sadra seperti dikutip Sahita.

Dengan gaya jelatanya itu, Sahita akan tampil di Bentara Budaya Jakarta, jalan Palmerah Selatan 17, pada selasa, 8 maret 2016. Mereka akan tampil dalam perheltan “uran-uran Maoag Grahanan” yang kira-kira artinya dendang ria menyongsong gerhana matahari. Acara tersebut merupakan bagian dari cara menyambut datangnya gerhana matahari total yang juga digelar Bentara Budaya di Yogyakarta, Solo.

Sebuah respon kerakyatan dengan bahasa kesenian terhadap fenomena alam yang terjadi setiap tahun. Sahita menyambut gerhana dengan sukacita dan tari, nyanyi, canda kerakyatan. Pada gerhana matahari total1983, awak gerhana menjadi “korban” dari cara pemberian pemahaman yang keliru tentang fenomena alam tersebut. “kami tidak boleh keluar rumah. Kami bersembunyi di bawah tempat tidur.” Kata Sri Lestari.

Sahita melihat peristiwa gerhana sebagai anugerah. Masih dengan cara merakyat, mereka menggunakan tembang, tetabuhan lesung yang mengungkapkan rasa sukacita, bukan rasa takut yang pernah mereka alami di masa lalu.

Dalam kehidupan di kampung-kampung dan pedesaan dijawa, dulu gerhana disambut dengan tetabuhan lesung. Semangat optimisme dan sukacita menyongsong menyatunya Matahari, Bulan, dan Bumi dalam satu titik itu dimaknai Sahita sebagai momentum optimisme, menyongsong terang kehidupan.

Sumber : Kompas, sabtu, 5 maret 2016

Moedji Raharto Membumikan Asronomi

Moedji Raharto Membumikan Astronomi. Kompas. 8 Maret 2016. Hal 16

Kamis (3/3) tengah malam, Moedji Raharto (61) sibuk di ruangan kerjanya di Observatorium Bosscha di lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Ia menyiapkan diri untuk bertolak ke Balikpapan, Kalimantan Timur, guna mengamati gerhana matahari total, rabu esok.

Oleh Samuel Oktora

Moedji adalah seorang astronom yang ahli dalam fisika galaksi yang aktif mengajar di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institusi Teknologi Bandung (ITB), Bandung, dan Institusi Teknologi Sumatera (Itera), Lampung Selatan. Sebelum pergi selama sepekan, dia memberikan tugas kepada para mahasiswanya. Selain itu, dia juga mempersiapkan diri menjadi juri dalam cerdas cermat di bidang fisika dan astronomi tingakt SMA di Balikpapan yang digelar pekan lalu.

Saya juga ditunjuk dalam tim untuk menyusun soal-soalnya. Saya bersama astronom yang lain membuat soal-soal untuk cerdas vermat itu agar tidak rumit. Ini bagian dari sosialisasi gerhana matahari total sekaligus untuk menumbuhkanminat anak-anak muda pada benda-benda langit,” katanya saat ditemui di Observation Bosscha, sebelum  bertolak ke Balikpapan, jumat pagi.

Moedji bersama tiga tim dari Observatium Bosscha berangkat lebih awal ke kaltim untuk mempersiapkan berbagai hal. Semua rangkaian pengamatan gerhana matahari total (GMT) 2016 diharapkan berjalan lancar. Tiga tim itu akan mengamati gerhana ditiga tempat, yakni Balikpapan, penajam paser utara, dan paser utara, dan paser. “ kami fokus dengan pengamatan di Tanah Grorot, Paser,” ujarnya.

Sebelumnya, tim dari Observatorium Bosscha telah mengunjungi Balikpapan untuk menggelar sosialisasi dan supervisi khusus terkait GMT ke pemerintah daerah dan lembaga pendidikan. Ini bagian dari program pengenalan masyarakat terhadap perkembangan astronomi, di samping melakukan eksperimen dan penelitian.

Teleskop

Menurut Moedji, sejumlah sekolah di Balikpapan telah memiliki teleskop. Itu patut disyukuri karena masih banyak sekolahan di Indonesia yang belum memiliki alat tersebut. Dari sosialisasi di Kampus Itera, misalnya, sekitar 200 siswa SMA dari 39 sekolah memberikan kesaksian, umunya sekolah mereka tidak mempunyai teleskop.

Padahal, di era modern ini, seharusnya teleskop sudah menjadi kebutuhan umu, seperti halnya telepon pintar. Sekolah perlu memiliki teleskop yang bagus dan mudah digunakan agar siswa senang memanfaatkannya. Setidaknya mereka dapat turut melakukan patroli langit, yaitu mengenal obyek di angkasa. “ Dunia astronomi perlu diperkenalkan kepada masyarakat sejak dini karena fenomena langit bermanfaat bagi kehidupan di bumi, seperti untuk pariwisata, pendidikan, budaya, juga spiritualiatas, “ katanya.

Moedji mengatakan para astronom di Indonesia telah mendorong masyrakat agar mengamati bGMT dengan aman. Salah satunya dengan melihat gerhana dengan kacamata khusus. Alat itu menggunakan prinsip optic (metode pemantulan cahaya), yang terbuat dari bahan kaca. Dengan proses pemantulan itu, intesitas cahaya bisa terduksi tetapi citra matahari tetap terlihat besar, dan aman bagi mata. Alat tersebut asli dari Indonesia, yang dibuat tahun 1995 oleh Prof Andrianto Hndojo (almahrum) dari Departemen Teknik Fisika ITB.

Meodji juga mendorong masyarakat  agar jangan melewatkan gerhana sebagai fenomena alam yang luar biasa. Jangan sampai terulang peristiwa GMT pada 11 juni 1883. Saat itu masyarakat justru takut keluar rumah, mengunci diri, bahkan rumah-rumah ditutupi koran.

“momentum ini sayang sekali kalau dilewatkan, tanpa ada ekspolari. Disetiap gerhana pasti ada keunikan apakah itu akan terlihat korona, material yang terlontar dari matahari, bentuknya akan seperti apa, itu belum diketahui. Fenomenas ini menjadi sarana pembelajaran yang berharga bagi generasi muda,” ujarnya.

Menurut Moedji, selama tahun 2016 ini akan berlangsung dua gerhana matahari, yaitu gerhana matahari total pada 9 maret 2016 dan gerhana matahari cincin (GMC) pada 1 september 2016 (yang melewati Afrika). Kedua gerhana matahari itu akan berselang waktu enam bulan. Pada abad ke-21 ini terdapat 224 gerhana matahari (GM), yang terdiri dari 77 gerhana matahari sebagian (GMS), 68 GMT, 72 GMC, dan 7 gerhana matahari  hibrida (GMH). GMT 2016 merupakan gerhana matahari ke-33 dibada ke-21 atau GMT ke-9 di abad ke-21. GMT 2016 merupakan jalur GMT yang pertama melewati Indonesia diabad ke-21.

Selama abad ke-21, ada lima jalur GMT yang melewati wilayah Indonesia. Itu meliputi GMT 2016, kemudian 20 April 2042 (melewati jambi), GMT 12 September 2053 (jalur melewati Nusa Tenggara Barat), GMT 22 Mei 2096 (melewati Bandar Lampung), dan GMT 24 Agustus 2098 (melewati Medan). “jadi, GMT 2016 merupakan fenomena langka bagi masyarakat Indonesia, apalagi tidak semua ibu kota provinsi di Indonesia dilalui gerhana ini,” ucapnya.

Minat Sejak SMA

Moedji kerap menulis tentang gerhana, kalender islam, dan kalender masehi. Minat terhadap dunia astronomi tumbuh dalam dirinya saat bersekolah di SMA Negri 3 Surabaya, jawa Timur. Ketika itu, dia tertarik pada penjelasan seorang guru ilmu falak tentang posisi tahunan matahari dan gerhana.

“saya mulai tertarik karena ternyata semesta itu bisa dipelajari. Saya terdorong untuk melihat benda-benda langit dengan teropong. Ketika lulus SMA, saya memilih astronomi di ITB pertimbangannya sederhana saja.  Astronom itu langka, pasti lulusannya banyak dicari, baik didalam maupun luar negri,” ujarnmya.

Meodji meraih gelar doctor bidang astronomi dan astrofisika tahun 1997 di Universitas Tokyo, Jepang. Pada tahun 1999 sampai 2004, dia di percaya sebagai kepala Observatorium Bosscha. Pada tahun 2010, namanya digunakan untuk menyebut asteroid di Sabuk Utama Asteroid, yakni 12177 Raharto. Penghargaan dari international Astronomical Union (IAU) itu diterima Meodji bersama tiga astronom Indonesia, yanki Bambang Hidayat, Dhani Herdiwijaya, fan Taufiq Hidayat.

Kembali ke GMT 2016. Menirut Moedji, hasil penmgamatan atas fenomena alam itu akan merekam berbagai informasi, temuan, dan data. Semua itu berharga bagi generasi muda, khususnya dalam mengeksplorasi langit dengan segala isisnya.

Meodji berharap dunia astronomi semakin maju dengan teknologi tinggi. Dia membayangkan bakal ada prototype robotic teleskop yang dapat ditempatkan di puncak gunung untuk mengamati benda-benda dilangit yang cerah. Namun, untuk itu diperlukan investasi dalam sumber daya manusia dan pembiayaan.

“perkembangan pengetahuan astronomi juga harus menjadi bagian dala kehidupan masyarakat. Jangan sampai jaman sudah modern, tetapi pengetahuan masyarakat kita tertinggal puluhan tahun. Astronomi harus menjadi pengetahuan umum yang diperkenalkan secara estafe sejak pendidikan tingkat menengah, atas, sampai perguruan tinggi,” katanya.

Sumber : Kompas.-8-Maret-2016.-Hal-16

Leonardo Dicaprio Tak Gentar Patahkan Resiko

Leonardo Dicaprio Tak Gentar Patahkan Risiko. Kompas. 2 Maret 2016. Hal 16

 

Wajah rupawan Leonardo dicaprio adalah bunga impian remaja putrid pada decade 1990an lalu. Namun, justru dengan rambut gondrong berminyak dan wajah penuh luka, leo demikian panggilannya, membawa pulang piala Oscar pertamanya, minggu (28/2) malam di los angeles, amerika serikat

Leo kini berumur 41 tahun, berperan sebagai hugh glass,seorang penunjuk jalan bagi kelompok pemburu, di film the revenant (2015). Di film besutan alejandro Gonzales innaritu itu, glass bertarung melawan beruang grizzly dengan pisau pendek. Pertarungan itu membuatnya sekarat penuh luka. Dalam kondisi nyaris mati itu, glass harus menahan dinginnya salju di pegunungan. Tak Cuma berkelit dari kekuatan alam liar, glass pun harus bertarung kebencian dan diskriminasi terhadap suku asli (Indian) oleh pimpinan rombongan (tom hardy). Ada sedikit dendam yang membuat glass bertahan hidup. Penderitaan glass itu terpampang pada nyaris dua pertiga durasi film penonton mungkin bergidik tak tega melihat leo memakan jeroan bison atau berlindung dibalik perut bangkai kuda ketika badai salju. Segala kesulitan itu tidak hanya berbuah manis untuk glass, tetapi juga bagi leo. Ia menyabet gelar sebagi actor terbaikdi piala Oscar. ” Leo tidak Cuma menyerahkan 100 persen dirinya untuk the revenant, tetapi 300 persen” puji Stefano tonchi, editor w magazine, kepada reuters. Film berlatar tahun 1820an itu juga menuai gelar penyutradaraan terbaik untuk innaritu. The revenant adalah judul film ke 37 leo. Sebelum gemilang dipanggung Oscar,ajang yang dianggap paling bergengsi dijagat perfilman,perannya sebagai glass telah memberinya piala actor terbaik dari berbagai festival, diantaranya golden globe awards dan BAFTA. Pada sejumlah pidato ketika menerima piala, termasuk diajang Oscar, leo selalu menyatakan bahwa kemenangannya dipersembahkan untuk kemanusiaan dan kelangsungan lingkungan di planet bumi. Leo menyatakan , ia menyuarakan nilai kemanusiaan lewat film. Dalam beberapa film sebelum the revenant, leo berupaya menunjukkan nilai kemanusiaan itu. Dua tahun silam, ia berperan sebagai pialang saham di film the wolf of wall street. Karakter Jordan Belfort yang ia perankan adalah wajah buruk prang orang pengendali perekonomian di bursa wall street. Tak heran film itu menyulut kontroversi. Leo tak gentar. “awalnya banyak yang mempertanyakan mengapa tega sekali mempertontonkan gaya hidup buruk dengan begitu gambling. Menurutku, alas an kami mengerjakan film ini untuk mewakili kegelisahan mereka juga dan dunia. Itu sebabnya aku mau terlibat di film ini” ujar leo pada the new York times.

Totalitas

Selama satu decade terakhir,leo banyak terlibat dalam film controversial terakhir, leo banyak terlibat dalam film controversial. Ia adalah polisi yang  membuat korupsi di kesatuannya sendiri di the departed,penyelundupan berlian di blood diamond, juga pernah jadi edgar hoover, penggagas unit investigasi FBI yang kesepian, tetapi haus perhatian di fim j edgar. Semua peran itu dikerjakan leo penuh totalitas. Saat menggarap j edgar, misalnya, leo dirias berjam jam setiap sebelum syuting. Wajahnya dipasangi totol tanda penuaan dan gigi menguning. Ia sama sekali tidak ganteng. Leo punya ketertarikan pada peran peran “tak biasa” itu. “aku akan setuju mengambil peran jika aku kesulitan mendefinisikan karakter yang bakal aku mainkan. Ketika ada elemen misteri (dakam karakter itu) dan banyak yang harus dipelajari terlebih dahulu, aku baru mau memerankannya” ujar leo. Unsure “misteri” itu juga tercermin pada kehidupannya. Dari beberapa pemberitaan, leo terlihat enggan membuka kehidupan pribadinya,seperti kecenderungannya kencan dengan supermodel. Leo selalu focus pada proyek film. Mata birunya berbinar binary saat menceritakannya. Acting leo mulai mendapat perhatian luas ketika membintangi what’s eating gilbert grape (1993) bersama Johnny depp. Di film itu, peran sebagai remaja berpenyakit kejiwaan itu dapat nominasi Oscar sebagai pemeran pembantu terbaik. Leo lantas di citrakan sebagai remaja keren. Wajahnya menghiasi sampul majalah remaja. Itu bahkan terekam di salah satu adegan film room yang dibintangi pemenang Oscar,brie Larson. Walaupun tampak keren, peran leo seperti menyimpan masalah tersendiri pada film the basketball di aries (1995), ia menjadi jim carrol, remaja penyendiri, suka main basket dan menulis puisi, tetapi pecandu obat. Dia juga menjadi anak muda pemuja romantisme di romeo + Juliet (1996). Saat itu, leo adalah symbol cowok asyik. Popularitasnya melonjak lewat film peraih 11 piala Oscar, titanic (1997). Jack dawson, peran yang ia mainkan, adalah jelata tampan yang rela berkorban banyak demi kekasihnya, rose dewitt (kate winslet). Di film berikutnya,dia justru menutup wajahnya dengan topeng pada the man in iron mask (1998). Selepas itu, leo semakin lihai memilih peran. Ia tak peduli pada standar Hollywood yang mengutamakan rupa fisik. Ia ambil risiko dengan bermain di film film controversial.

Isu lingkungan

Berbagai karakter telah ia perankan dalam film dengan sejumlah sutradara ternama. Piala Oscar sudah ia genggam. Leo kini menjalani kerja kerasnya sembari menjadi filantropi. Ia membentuk Leonardo dicaprio foundation untuk kontroversi hutan, keanekaragaman hayati, kelautan dan perubahan iklim. Januari silam, ia berpidato dihadapan pemimpin dunia dalam world economic forum di davos,swiss. Forum itu memberinya crystal award, yang diberikan kepada budayawan yang peduli pada kemanusiaan dan lingkungan. Ditulis the guardian, leo mengecam keserakahan perusahaan yang merusak alam dengan membakar hutan, termasuk yang terjadi di sumatera. “sepanjang 2015, kebakaran di sumatera menghasilkan lebih banyak emisi karbon setiap setiap harinya dibandingkan dengan emisi karbon yang dihasilkan perekonomian AS” demikian cuplikan pidatonya. Lembaganya akan mendanai pelestarian 2,63 juta hektar hutan di sumatera.  Si “poster boy” ini telah menjelma remaja slengekan di film menjadi pejuang lingkungan. Popularitas dan gemerlap Hollywood tak menjadikannya bebal pada isu sekitar. Suksesnya diajang piala Oscar membuat suaranya semakin terdengar.

Sumber: Kompas, Rabu 2 Maret 2016

Eko Alvares Z Membangun Rumah Gadang

Eko Alvares Z Membangun Rumah Gadang. Kompas. 4 Maret 2016. Hal 16

Merekonstruksi sebuah rumah gadang berusia lebih dari 100 tahun bukanlah pekerjaan mudah. Aktivitas itu tidak hanya menuntut riset mendalam tentang detail arsitektur, tetapi juga kemampuan merangkul masyarakat sekitar agar mau ikut berperan.

OLEH ISMAIL ZAKARIA & RINI KUSTINAH

Eko Alvares Z (50), ahli cagar budaya dari Universitas Bung Hatta (UBH), Padang, Sumatera Barat, harus melewati itu semua saat terlibat dalam rekonstruksi rumah gadang di Nagari Sumpur, kecamatan Batipuh Selatan, sekitar 75 kilometer dari Kota Padang.

Sumpur dalah nagari elok di tepi Danau Singkarak, Kabupaten Tanah Datar. Saat berkeliling nagari itu, kita kan dimanjakan oleh keindahan sawah hijau, jejeran pohon sawo, dan tenangnya permukaan Danau Singkarak yang berkabut lembut. Kita juga kan terpesona oleh megahnya rumah-rumah gadang kayu berusia lebih dari 100 tahun yang terbsebar di beberapa bagian nagari.

Sayangnya, sebagai tuan rumah gadang di Sumpur tak samoai 70 unit dari sebelumnya sekitar 200 unit. Jumlah bangunan it uterus berkurang. Salah satunya, akibat kebakaran seperti yang melanda lima rumah gadang pada Mei 2013. “ dari lima rumah telah dibangun kembali,” kata Eko kepada Kompas saat peresmian rumah dagang keduas di Sumpur, sabtu (27/2).

Eko menjadi project director dalam rekonstruksi rumah gadang. Proyrk itu hasil kerja sama dengan Yayasan Tirto Utomo, Badan Pelestarian Pusaka Indonesia, Yayasan Rumah Asuh, pemerintahan  Kabupaten Tanah Datar, Forum Kampuang Minang Nagari Sumpur, Ikatan Keluarga Sumpur, dan Jurusan Arsitektur UBH Padang, Eko, yang berlatar belakang arsitek, harus melalui proses panjang selama pembangunan dua rumah gadang yang dimulai tahun 2013. Ia harus meyakinkan masyarakat bahwa rumah gadang itu penting. Perlu juga didorong sikap saling percaya dan kerja sama dengan semua pihak.

Persoaalnnya, kebanggan masyarakat terhadap rumah gadang memudar. Tak sedikit warga y6ang berniat merobohkan rumah gadang dan menggantinya dengan rumah tembok. Padahal, biaya untuk memugar rumah gadang baru itu mahal, yakni sekitar Rp 1 miliar. “ masuk (ke masyarakat) Sumpur tidak mudah. Meskipun kita terdidik, kepercayaan masyarakat ternyata tidak bisa didapatkan begitu saja,” kata Eko.

Eko memantapkan niat untuk mendorong rekonstruksi rumah gadang. Ia berbekal teori dan data yang dihimpun selama belasan tahun menggelar kuliah lapangan dengan fokus rumah gadang. Ia juga memanfaatkan pengalamannya sebagai tim Rapid Assessment Heritage Emergency Respone yang mengurus bangunan-bangunan yang rusak akibat gempa Sumbar tahun 2009.

`               “mengembalikkan rumah gadang ternyata bukan persoalan uang. Meski uang dari donor ada. Ada sisi lain menyangkut masyrakat yang mesti diselesaikan dulu,” ujarnya.

Untuk memilih rumah mana yang akan dibangun, misalnya, harus melalui perdebatan lama dengan pemangku kepentingan. Begitu juga setelah ada kepastian rumah yang akan dibangun. Ketika mulai pembangunan, mayarakat punya kearifan lokal dalm meletaka rumah di antara lingkungan, menebang pohon, dan menegakkan rumah.

Setelah proses awal selesai, proses juga tak lah menantang “ sebagai seorang arsitek, saya membuat gambar (untukj rumah gadang yang dibangun), tapi gambar itu tak bisa diterima langsuing oleh tukang tuo atau kepala tukang,” kenangnya. Eko harus berdialog untuk menentukan bentuk yang pas.

Alih-laih mengeluh, Eko justru menikmati proses ini. “saya ingin pembangunan rumah gadang di Sumpur menjadi antietias dari pandangan bahwa rumah gadang hanya masa lalu. saya ingin pembangunan ini mengembalikan kebanggan warga terhadap rumah gadang,” katanya.

Keberhasilan membangun kembali dua rumah gadang di Sumpur berdampak postif. Masyrakat kembali memiliki catatanm pengetahuan tentang pembangunan rumah gadang yang sudah 100 tahun tidak dilakukan. Minat untuk merobohkan rumah gadang kian surut. Pantauan kompas dalam dua tahun terakhir, rumah-rumah gadang yang dulu terpelihara kini mulai mendapatkan sentuhanm di beberpa bagian. Sumpur juga kian menarik untuk dikunjungi mahasiswa arsitektur dari berbagai kampsu di Indonesia dan Malaysia.

Sejak Kuliah

Eko tertarik rumah gadang justru saat kuliah di Jurusan Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, tahun 1984. Di kota Kembang itu, dia merasakan romantisme orang Minang, bahwa kampung halamnnya kian terasa cantik dan indah saat berada di rantau.

Romantisme itu juga menghinggapi Eko. Ia mulai menyukai segala sesuatu berbau Minang . “saat kuliah, hampir semua program studi mengadakan kuliah lapangan. Saya pikir, kampung halaman saya cantik. Karena itu, setiap saya liburan saya pulang ke Mianangkabau dan membawa kamera,” kenangnya.

Pada 1988, Eko membawa serombongan mahasiswa Parahyangan dalam Ekspedisi Ranah Minang. Dia bersama kawan-kawan mengeksplorasi rumah gadang. “mata saya semakin terbuka melihat kekayaan arsitektur di Minangkabau,” katanya.

Setelah menamatkan kuliah S-2 di Magister Teknik Arsitektur Istitusi Teknologi Bandung dan menjadi pengajar di UBH. Padang, ia tularkan hobi berkeliling kampung kepada mahasiswa. Kebakaran yang menghanguskan lima rumah gadang di Nagari Sumpur pada Mei 2013 menjadi titik penting. “Februari 2013, saya ke Sumpur. Tidak disangka, dua bulan setelah mengambil foto, terjadi kebkaran. Melihat lima rumah gadang terbakar, saya merasa bersalah. Tak cukup sekadar foto-foto, harus ada yang diperbuat,” katanya.

Eko kini mencintai rumah gadang yang ia sebut sebagai puncak kebudayaan Minangkabau. Ia bertekad untuk menukarkan kecintaannya itu pada generasi muda.

Sumber : Kompas, jumat. 4 Maret 2016

Brie Larson Oscar Untuk Pencinta Film

Brie Larson Osacar untuk Para Pencinta Film. Kompas. 1 Maret 2016. Hal 16

Menjelang penganugerahan piala Oscar diajang Academy Award ke-88, Minggu (28/2) malam, di Dolby Theather, Hollywood, Ameriks Serikat, Brie Larson (26) telah menyabet sejumlah penghargaan bergengsi lewat film yang dibintanginya, “Room”. Maka, tak heran ketika Larson dinobatkan sebagai aktris Terbaik dan berhak membawa pulang piala Oscar pertamanya.

OLEH FRANSISCA ROMANA NINIK

Begitu aktor Rddie Redmayne , yang mempersentasikan penghargaan itu, menyebut namanya, Larson tak bisa menyembunyikan keterkejutan sekaligus kegembiraannya. Ini merupakan nominasi pertamanya di Piala Oscar dan ia langsung memenanginya. Larson mengalahkan Cate Blanchett, Jenifer Lawrence, Charlotte Rampling, dan Saoirse Ronan. Dia langsung memeluk Jacob Tremblay (9), rekan mainnya dalam Room.

“oh, wow. Terima kasih kepada Academy. Hal yang aku sukai tentang membuat film adalah beberapa banyak orang yang diperlukan untuk pembuatannya. Terima kasih kepoada para penonton film. Terima kasih telah pergi ke biskop dan menontonm film kami8.” Katanya dalam pidato penerimaan.

Khusus kepada Tremblay, dia berterima kasih dan menyebut bocah lelaki itus sebagai rekan dalam melewati seluruh pembuatan film tersebut. Dalam film dengan genre drama-thriller ini. Larson memerankan joy “Ma” Newsome, sesorang perempuan yang diculik diperkosa. Dia disekap dalam sebuah ruangan berukuran sekitar 3 meter x 3 meter bersama puranya, Jack, yang diperankan Tremblay. Ma berusaha menghadirkan dunia yang normal bagi putranya di dalam ruangan yang sempit itu.

Dalam wawancara di karpet merah menjelang penganugerahan Piala Oscar, Larson yang tampak cantik dalam balutan gaun biru mengatakan,film Romm memberi dia pemahaman dan penghargaan yang lebih baik terhadap ibu sebagai orangtua tunggal. “Aku tumbuh bersama ibu tunggal di sebuah apartemen kecil. Aku menyadari bahwa ini adalah salah satu cara untuk menghormati ibuku,” ujarnya.

Room diadaptasi dari novel berjudul sama karya Emma Donoghue, sebelum menerima Piala Oscar, nama Larson sudah disebut sebagai aktris terbaik dala ajang BAFTA, SAG,Goldeb Globe, dan Critic’s Choice Award. Piala Oscar tahun ini semakin mengukuhkan kualitas Larson didunia acting.

Larson sebenarnya bukan orang baru di jagat Hollywood. Namun, dia lebih banyak dikenal melalui film indie.

Sejak Kecil

Brie Larson adalah nama panggung. Dia terlahir dengan nama Brianne Sidonie Desaulniers pada 1 Oktober 1989 di Sacramento, California. Seperti disebut time.com, dia menggunakan nama Larson yang merupakan nama keluarga dari nenek buyutnya.

Keinginan Larson menjadi aktris memang sudah tumbuh sejak kecil. Pada usia 6 tahun, Larson menjadi murid termuda di American Conservatory Theater di San Fransisco. Laman people.com mengungkapkan, suatu ketika Larson kecil bersama saudarinya, Milaine, dan ibunya berpergian ke Los Angelos dengan harapan akan menjadi katris. Dia mengira perjalanan itu hanya akan berlangsung selama sepekan. Rupanya mereka menetap di apartemen studio yang disewa ibunya.

Pada usia 7 tahun, Larson mulai dikenal saat tampil dalam The Tonight Show with Jay Leno dan serangkaian film anak-anak. Dia kemudian dikenal melalui perannya dalam film Scoot Pilgrim vs The World serta film indie Short Term 12 dan Trainwreek. Larson juga pernah tampil dalam film The United States of Tara dan 21 Jump Street.

Ketika telah menjadi katris, Larson menu njukan kesungguhan dalam setiap filmnya. Terlebih saat dapat peran dalam Room, dia merasa akrab dengan situasi dalam film tersebut. “Aku bertanya-tanya kenapa aku tahu cerita ini dengan baik. Lalu, aku menyadari bahwa sebagian dari diriku berasal dari kisah semacam ini. Aku harus mengalami menjadi ibuku dalam situasi itu,” tuturnya, seperti dikutip people.com

Demi kebehasilan perannya, Larson menjalani persiapan intens selama enam bulan. Dia mempelajari segala macam dampak dari pelecehan seksual hingga kekurangan vitamin. Dia bahkan tidak keluar ruangan selama pelatihan fisik sampai hanya menyisakan 12 persen lemak tubuhnya.

Tak hanya tertarik pada dunia acting, Larson rupanya juga seorang musisi, penyanyi, dan penulis lagu. Tahun 2005, dia bernyanyi di atas kendaraan hias Barbie Castle dalam Mac’y Day Parade. Pada tahun yang sama. Larson merilis album berjudul Finally Out of P.E dan mengadakan tur bersama Jesse McCartney.

Minatnya pada dunia tarik suara berawak tahun 2003 saat Larson mulai mempromosikan lagu-lagunya melalui situs pribadinya. Di situs itu, dia juga menunjukan minat untuk merilis album.

Didunia film pun, Larson berkiprah sebagai sutradara, dia telah menyutradarai dua film pendek, yakni Weighting (2011) dan The Arm (2012).

Kini setelah memenangi Piala Oscar, Larson telah memiliki sejumlah proyek yang segera diliris, seperti dilansir time.com, Larson tampil bersama aktor Cillian Murphy dan Ar,ie Hammer dalam film aksi thriller berjudul Free Fire arahan sutradara Ben Wheatly. Dia juga akan berperan sebagai seorang ilmuan yang dikirim ke India dalam film musical Basmati Blues.

Berikutnya, Larson akan membintangi film blockbuster, Kong Skull Island yang, menurut rencana diliris tahun 2017. Dia juga telah terikat kontrak dengan film adaptasi memoir Jeannette Walls, The Glass Castle.

Setelah menanti cukup lama, kini saatnya si pemenang Oscar ini semakin bersinar.

Sumber : Kompas, selasa, 1 Maret 2016

Alejandro Gonzales Inarritu Berjuang Untuk Kesetaraan

Alejandro Gonzalez Inarritu Berjuang untuk Kesetaraan. Kompas. 3 Maret 2016

Sutradara Alejandro Gonzalez Inarritu pantas mengungkapkan kebahagiaan setelah diumumkan menjadi sutradara terbaik Academy Awards 2016. Sambil tertawa bahagia, dia mengangkat piala Oscar di atas kepalanya ketika menjawab pertanyaan wartawan mengenai perasaanya. “ saya akan taruh piala ini di kepala sepanjang hari.”

OLEH SUSIE BERINDRA

Dua tahun berturut-turut, Alejadro membawa pulang piala Oscar untuk kategori sutradara terbaik. Tahun lalu lewat film Birdman dan tahun ini lewat The Revenant. Selain kategori sutradara terbaik. Dua film besutannya juga itu meraih Oscar untuk kategori lain. Birdman menyebut dua Oscar lainnya untuk film terbaik dan scenario terbaik. Sementara itu, lainnya untuk aktor terbaik (Leonardo DiCaprio) dan sinematografi terbaik (emmanuek Lubezki).

Sebelumnya, The Revenant meraih tiga penghargaan di ajang Golden Globe Awards 2016 untuk kategori film terbaik, sutadara terbaik (Alejandro), dan aktor terbaik (Leonardo DiCaorio).

Gelar sutradara terbaik kali ini mengukuhkan dia menjadi sutradara Meksiko pertama yang meraih Oscar dua kali. Majalah Time menyebutkan, kemenangan Alejandro membuat Oscar untuk kategori sutradara terbaik selama empat tahun terakhir diraih sutradara non-kulit putih. Sebelumnya, Ang Lee mendapat Oscar lewat film Life of Pi (2013), disusun Alfonso Cuarcon lewat Gravity (2014), dan Alejandro lewat birdman (2015).

Pencapaian Alejandro juga mengulang kesuksesan sutradara asal Amerika Serikat, Joseph L Mankewicz, yang mendapat predikat sutradara terbaik du kali berturut-turut lewat film A letter to Three Wives (1950) dan All About Eve (1951) di ajang Academy Awards.

Perjuangan untuk menjadi yang terbaik memang tak sia-sia. Di Academy Awards, Alejodro, Leonardo, dan Tom Hardy saling menyanjung. Susah payah ditengah lokasi shooting bersuhu dibawah 0 derajat Celsius terbayar sudah. “ketika saya menan g, kita semua menang. Kita saling bergantung satu sama lain,” ucap Alenjandro sambil memegang erat Oscar.

The Revenant mengisahkan perjalanan warga Amerika perbatasan, Hugh Glass (Leonardo DiCaprio) yang dicabik beruang, terluka parah, ditinggalkan temannya, dan membalas dendam pembunuhan anaknya. Diceritakan, Glass mempunyai anak bernama Hawk, hasil pernikahannya dengan seorang perempuan suku India. Film berlatar belakang tahun 1820-an itu diangkat dari novel karya Michael Punke dengan judul yang sama.

Mengutip kalimat Hugh Glass kepada anaknya. “mereak tidak mendengarkanmu, mereka hanya melihat warna kulitmu.” Jadi, momen ini menjadi kesempatan besar untuk generasi kita untuk benar-benar membebaskan diri dari semua prasangka. Pastikan kali ini dan selamanya, warna kulit tidak relevan dengan panjangnya rambut kita,” kata Alejardo.

Sutradara yang kuliah dibidang komunikasi ini memang sering menyarankan kesetaraan. “sangat beruntung bisa berada di sini, tetapi sebenarnya, banyak yang belum beruntung di luar sana,” katanya.

Tak salah apabila Alejadro menyebutkan kemenangannya itu untuk semua karena semua kru film berusaha membuat semua degan film sesuai kenyataan. Alejandro dan Emmanuek menggunakan cahaya natural, terutama cahaya yang hanya muncul saat matahari hampir tenggelam.

Dalam wawancara dengan New York Times, Alejandro menceritakan bagaimana mereka mencari lokasi shooting yang pas untuk semua adegan film. “kami menemukan Bow River, dua jam dari Calgary, Kanada, yang pas untuk tempat tempat persembunyian Hugh. Namun, saat adegan aksi di sungai, lokasi pindah ke Montana. Kami harus mencari lokasi yang aman meski tetap saja banyak tantangan,” kata Alejandro.

Dibawah sungai yang dingin sersuhu si bawah 0 derajat, Emmanuel mengambil gambar setiap adegan. “semua adegan kami pertimbangkan dengan matang, direncananakan sampai sebulan. Dibutuhkan waktu setahun bagi kami untuk mendapat teknik pengambilan gambar yang pas. Saya ingin penonton merasakan dinginya sungai, rasa takut, dan tiupan angin yang menggerakan pepohonan,” katanya.

Alejandro bersikeras hanya menggunakan pencahayaan alami untuk filmnya. Konsekuensinya, dalam satu hari, ia mungkin hanya bisa menggunakan waktu selama 90 menit untuk mendapatkan cahaya saat matahari nyaris tenggelam. Matahari sendiri tenggelam pada pukul 15.00, setelah itu gelap.

Saat memulai produksi, film dikerjakan 300 orang yang kemudian berkurang menjadi 290 kru film sampai akhirnya selesai. Di bawah komando Alejandro, The Revenant yang menampilkan pemandangan indah sungai dan pegunungan es bisa terwujud. Selama delapan bulan, semua kru film, termasuk pemain, tak boleh lengah. Termasuk didalamnya, prosedur film Arnon yang tak bisa menolak ketika biaya produksi film membengkak dari 60 juta dollar AS (Rp 796 miliar) menjadi 135 juta dollar AS (Rp 1,7 triliun).

Perjalanan dan Impian

Saat berusia 17-19 tahun, Alejandro meninggalkan kampung halaman; menyebrangi Samudra Atlantik berkeliling Eropa dan Afrika. Gambaran perjalanan itu kemudian mewarnai karya-karyanya sebagai seorang sutradara. Tahun 1984, dia kembali ke Meksiko untuk menempuh pendidikan di bidang komunikasi di Universidad Iberoamericana.

Kariernya diawali dengan menjadi penyiar di stasiun radio WFM, Meksiko. Dia pernah mewawancarai penyanyi rock terkenal, memp[roduksi pertunjukan music, sampai membuat WFM menjadi radio nomor satu di Meksiko. Dalam kurun waktu 1987-1989, ia juga membuat music untuk beberapa film Meksiko.

Tahun 1990, ia mulai menulis dan memproduksi film pendek dan iklan. Ia juga mendirikan rumah produksi Zeta Film di Meksiko. Untuk menambah ilmunya, dia berguru kepada sutradara teater Polndia, Ludwik Mergules, dan Judith Weston di Los Angeles.

Karier internasionalnya dimulai dengan film Amores Perros tahun 2000. Film yang menggambarkan situasi sosial kota Meksiko itu diputar di Festival Film Cannes dan mendapatkan perhatian dengan kemenangannya dalam kategori Crities Weeks Grand Prize.

Berikutnya, karyanya selalu mendapat perhatian insan perfilman, seperti 21 Grams, Three Amigos, Babel, dan Birdman. Kerja keras yang dirintisnya melambungkan nama Alejandro pada puncak Academy Awards. Dalam setiap kesempatan, Alejandro tak lupa menyisipkan opininya tentang kesetaraan.

“penghargaan ini bukan tentang kulit putih atau lainnya. Isu perbedaan ini sudah terpola, bahkan dipolitisasi. Padahal, betapa indahnya keberagaman, negara ini terdiri dari orang-orang yang beragam.” Kata Alejandro.

Setelah dua kemenangan di ajang Academy Awards, Alejandro ingin kembali ke Los Angeles, melanjutkan kehidupan bersama istrinya, Maria Eladia Hagerman, dan dua anaknya. Saat ditanya apakah ia ingin membuat film lain dengan kondisi yang menyakitkan seperti The Revenant, Alejandro menjawab tegas, “tidak akan pernah lagi.”

Dia membayangkan ki8sah yang lain. “mungkin akan seperti cerita yang sederhana, didalam kamar atau taman. “

Begitulah impian Alejandro berikutnya.

Sumber : kompas, kamis, 2 Maret 2016

Nozomi Okuhara Si Mungil yang Pantang Menyerah

Si Mungil yang Pantang Menyerah. Kompas.29 Maret 2016.Hal.16

Merayakan ulang tahun ke-21 sebagai juara tunggal putri All England 2016 merupakan momen yang luar biasa dalam kehidupan pebulu tangkis asal Jepang, Nozomi Okuhara. Pencapaian itu diraih melalui kerja keras disertai karakter ulet dan pantang menyerah.

OLEH AMBROSIUS HARTO

Piala, uang senilai 41.250 dollar AS atau Rp 537 juta, dan 11.000 poin yang mengerek peringkatnya di Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) dari posisi ke-8 ke posisi ke-3 juga menjadi kado amat indah bagi Okuhara.

Setelah menjuarai All England, Okuhara sudah mengumpulkan total poin 75.722 dan uang 240.465 dollar AS atau Rp 3,13 miliar. Pemain bulu tangkis ini lantas kembali bersiap untuk menggapai mimpi dan ambisis besar lain, yaitu meraih medali Olimpiade Rio de Janeiro 2016.

Jalan menuju olimpiade musim panas di Brasil, 5-21 Agustus 2016, itu bisa jadi bakal mulus bagi Okuhara. Dengan peringkat ke-3 saat ini, posisinya terhitung lumayan aman. Apa lagi, peringkat ke-3 merupakan pencapaian tertinggi Okuhara selama berkarier di dunia bulu tangkis.

Pebulu tangkis yang lolos ke Olimpiade disektor tunggal adalah mereka yang berperingkat 16 besar dengan batas waktu Mei 2016. Sebelum batas waktu itu, peringkat masih mungkin turun, bertahan atau naik bergantung pada rajin atau tidak pebulu tangkis mengikuto dan menjuarai beberapa turnamen.

Turnamen bergengsi terdekat dan akan diikuti Okhura adalah India Terbuka, 29 Maret-3 April 2016. Diturnamen ini, beberapa pebulu tangkis elite bakal hadir kembali, antara lain Carolina Marin (Spanyol/peringkat ke-1), Li Xuerui (Tiongkok/2), Wang Shixian (Tiongkok/4), dan juara bertahan Saina Nehwal (India/6). Mereka semua pernah menang dan kalah saat menghadapi Okuhara.

Di turnamen itu, berdasarkan undian, Okuhara menjadi unggulan ke-7. Di putaran pertama, Okuhara akan menghadapi Bae Yon Ju (Korea selatan/16). Mereka sudah dua kali bertemu dan saling mengalahkan atau posisi 1-1. Akankah pamor Okuhara bakal terus bersinar? Mari kita lihat nanti.

Pendek dan Tinggi

Dengan tinggi badan 155 sentimeter. Okuhara mungkin cenderung disebut pemain pendek. Namun, prestasi dara kelahiran Prefektur Nagano, 13 Maret 1995, justru tinggi.

Di final All England 2016, Okuhara yang merupakan unggulan ke-8 mampu mengalahkan para pemain dengan tubuh yang lebih tinggi, lebi berpengalaman, dan lebih diunggulkan. Namun, ternyata Okuhara mengalahkakn lawan-lawannya. Di final, dia mengandaskan Shixian yang memiliki tinggi 168 sentimeter, berpengalaman, peringkat ke-5 BWF, unggulan ke-7, juara Asian Games Guangzhou 2010, Masters Final 2010, dan All England 2011.

Menjadi juara saat ulang tahun dengan mengalahkan pemain unggulan tentu merupakan momen penting kehidupan. “Ulang tahun terbaik dalam hidup, saya tidak punya hadiah. Tetapi, sangat bahagia karena ulang tahun tepat saat partai final dan saya memenanginya,” katanya.

Kemenangan Okuhara juga menjadi sejarah bagi bulu tangkis Jepang. Dia mempersembahkan trofi tunggal putri All England setelah 39 tahun. Getar terakhir dipersembahkan pada 1977 oleh Hiroe Yuki, legenda bulu tangkis “Negeri Sakura”. Pencapaian Okuhara di All England ibarat kejutan, hadiah, perayaan , dan prestasi tinggi oleh si pendek.

Bisa dibilang perjalanan di All England yang dilalui Okuhara cenderung mulus. Di putaran pertama, Okuhara mengandaskan Nitchaon jindapol (Thailand/28) dengan skor 21-13, 21-15. Diputaran kedua, giliran Linda Wenifanetri (Indonesia/24) dengan skor 21-11, 21-10. Diperempat final, Okuhura mulai membuat kejutan dengan mengalahkan unggulan ke-4, Wang Yihan (Tiongkok/6), dengan skor 21-9, 21-13. Disemi final, lagi-lagi dia menumbangkan pebulu tangkis terkuat, Carolina Marin (Spanyol/1), dengan skor 21-11, 16-21, 21-14. Selanjutnya, partai final yang dimenanganinya membuktikan bahwa Okuhara sebagai pebulu tangkis yang menarik.

Saat mengalahkan Wang Shixian di final, Okuhara memperlihatkan kegigihan luar biasa. Bertubuh lebih pendek, pem,ain asal Jepang itu justru mampu bergerak lincah mengejar kemana pun kok ditempatkan lawan. Dia tak mengandalkan smes, tetapi lob-lob panjang kebelakang, dropshot, netting, dan bola-bola silang di depan yang memaksa Shixian pontang-panting. Okuhura akhirnya menang berkat kegigihannya dalam tiga set permainan yang menguras tenaga.

Tak Bisa

Sebenarnya perjalanan karier Okuhura berhasil ememnangi kejuaraan Dunia Bulu Tangkis Junior dan Kanada Terbuka. Namun, pada 2013, tidak ada kejuaraan bergengsi yang diraih Okuhura. Sinarnya meredup karena cedera sehingga bolak-balik harus operasi. Kariernya mulai kembali pada 2014 dengan memenangi Vietnam Terbuka, Selandia Baru Terbuka, dan Korea Masters.

Mata pencipta bulu tangkis kian terbelalak saat melihat Okuhura menjuaraii Jepang Terbuka 2015. Prestasi pemain ini kian kinclong saat memenangi Masters Final 2015, turname super series premier. Tidak main-main, di turnamen itu, Okuhura mengalahkan Newhal yang saat itu peringkat ke-1. Dia menjadi satu-satunya pebulu tangkis putri Jepang yang menjuarai Masters Final.

Super series premier merupakan turnamen sangat bergengsi, ibarat grand slam dalam tenis. Derajat turnamen ini setingkat di bawah kejuaraan dunia dan olimpiade. Untuk super series premier, selain Masters Final dan All England, adalah Indonesia Terbuka, Malaysia Terbuka, Tiongkok Terbuka, dan Denmark Terbuka.

Dalam suatu pemberitaan, legenda bulu tangkis Indonesia, Susy Susanti, menilai, permainan Okuhara sebenarnya biasa, postur tubuh tidak setinggi pemain-pemain Indonesia. Namun, kelebihan Okuhara adalah ulet dan pantang menyerah. Mental bertandingnya sekeras baja. Dia kerap dalam posisi tertinggal, bahkan di set ketiga penentuan, tetappi pantang menyerah, terus bermain, dan berhasil menang. “gaya permainan Okuhura patut dicontoh, pantang menyerah,” kata susi.

Okuhura bermain sabar, berani menguras stamina dengan reli panjang, dan drop shot mematikan. Dengan postur pendek, sulit bagi Okuhura bisa bergerak amat lincah sehingga sulit dideteksi dan diantisipasi.

Melihat Okuhura bermain ibarat melihat prajurit Jepang saat bertempur, yang pantang menyerah, bahkan berani mati. Mungkin dalam dirinya tertanam kode etik Bushido, tradisi yang masih dipegang teguh warga Jepang. Kesungguhan, keberaniian, kebajikan, penghargaan, kejujuran, dan kehormatan dibawa dan dipraktikkan dalam segenap aspek kehidupan. Bagi seorang atlet, norma agung itu diperlihatkan di arena. Mungkin ini yang membuat permainan Okuhura ibarat bunga sakura yang mekar; begittu indah sekaligus membutakan lawan.

Sumber : Kompas selasa, 20 Maret 2016

Sheila Majid Merindukan Energi Jakarta

Merindukan Energi Jakarta. Kompas.26 Maret 2016.Hal.16

Indonesia seolah menjadi “Tanah Air” kedua bagi penyanyi jazz asal Malaysia, Sheilla Majid. Tiga dekade sudah perempuan ini berkiprah di industry bmusik dan berkali-kali tampil di Jakarta. Bisa dibilang, dia adalah salah satu ikonkemesraan hubungan di antara kedua negara bertetangga.

OLEH WISNU DEWABRATA

Menurut rencana, pada 2 April nanti, Sheila (51) kembali menggelar konser merayakan tiga dekade kiprahnya itu di Jakarta Convention Center, Senayan , Jakarta. Konser bertajuk “kerinduan” itu juga akan menggaet sejumlah musisi papan atas Indonesia, seperti Tohpati berikut rombongan orkestranya serta penyanyi rock ar,mand Maulana dan penyanyi Mike Mohede.

Seolah ingin menghadirkan kesempurnaan dalam konser tiga dejade ini, pihak promotor Chandra Satria dari 26 Gemilang juga menggaet sutradara mumpuni Jay Subyakto.

“Indonesia  suadh tidak asing lagi buat saya. Saya juga sangat bersyukur selama ini diterima tak hanya oleh para penggemar, tet5api juga industry music negeri ini.” Ujar Sheila kepada kompas, dijakarta, Rabu (23/3).

“I love the ebergy, especially Jakarta., setiap datang ke sini saya selalu dengar music yang diputar di (stasiun-stasiun) radio. Ada banyak inspirasi. Kembali kemalaysia, saya macam dapat napas baru,” ujarnya dengan logat Melayu campur Inggris yang unik.

Tak hanya “menggemari” inspirasi yang muncul penyanyi yang tenar dengan lagu “Antara Anyer dan Jakarta” ciptaan musisi Tanah Air. Odidie Agam, itu juga sangat menggemari petualangan kulinernya di Indonesia. “saya suka kalau datang sini makan terus. Saya suka nasi padang.” Ujar dengan tawa berderai.

Sheila memang gemar makanan pedas dan berbumbu. Dia mengaku tak punya pantangan makanan apa pun. Walau pedas dan berminyak, masakan Minang kegemarannya itu dia pastikan tak akan mengganggu kualitas suaranya yang prima dan “empuk”.

“kita ini orang Asia, sedari kecil sudah diekspos sambal. Alhamdulilah, taka da problem, laa. Saya boleh makan chilli (cabai) sebelum menyanyi. Mungkin, ya, Cuma dijaga jangan sampai sakit perut saja,” ujarnya.

Konsisten

Saat ditanay bagaimana bisa bertahan dan konsisten dalam industry music, penyanyi bernama lengkap Shahella binti Abud Majid itu menyebut, konsistensi hanya bisa dilkukan jika orang memahami apa yang terbaik bagi dirinya sendiri. Sheila memisalkan, untuk bisa sehat, dia pun harus berolahraga secara teratur menyukai aktivitas itu.

Ibu empat anak ini mengaku sebenarnya masuk kategori pemalas untuk berolahraga apalagi kalau harsu pergi ke pusat kebugaran. Dia mengakui tidak suka kepusat kebugaran karena harus berdandan dahulu sebelum keluar rumah.

“kalaui berolahraga dirumah, kan, ibaratnya bangun tidur cukup hanya brush my teeth pun bisa. Saya tak lakukan semua itu (berolahraga)agar jadi cantik atau kurus. Saya sadar untuk bisa menyanyi bagus, saya harus selalu sehat. Menyanyi itu periujk nasi saya,” ungkapnya jujur.

Sheila juga mengaku lebih nyaman untuk menjadi dirinya sendiri yang sersahaja. Dia bahkan menyebut dirinya sekadar orang biasa yang kebetulan punya pekerjaan dengan citra megah. Dengan begitu, dia merasa tak harus selalu berusaha tampil glamor seperti saat berada di atas panggung.

“I am just a low profilr person with a high profile job. Bagi saya, ini kerja. Di luar pesona Sheila Majid, sehari-harinya saya hanya orang biasa. Saya seorang ibu, istri, dan juga anak. Saya ke pasar, mengurus anak sekolah, seperti biasa. Cuma saya punya high profile job. Itu saja,” ujar perempuan yang hobi menyelam di Indonesia itu.

Sebagai seorang ibu, Sheila mengaku juga sangat peduli dengan apa yang dimakan anak-anaknya. Dia ingin selalu memastikan keempat anaknya bisa memakan makanan sehat buatannya sendiri walau sekadar roti isi (sandwich).

Indonesia-Malaysia

Selama ini Sheila memang dikenal dan telah menkadi slah satu ikon “kemesraan” hubungan antarkedua negara bertetangga, Indonesia dan Malaysia. Tak mudah berada di posisi itu karena hubungan di antara dua negara jiran itu terkadang juga diwarnaiu oleh ketegangan diplomatic dan sentiment yang juga naik-turun.

Bagi Sheila, music dan kesenian seharusnya bisa menjadi semacam “bahas universal” yang bisa diterima semua kalangan sekaligus menjembatani perbedaan yang ada diantara mereka, dari negara mana pun mereka berasal. Sayangnya, saat ini sejumlah pihak lebih memandang music sekadar sebuah hiburan.

“lewat lirik yang puitis dan bermakna, sebuah lagu seharusnya menyampaikan pesan positif. Bagi saya, itulah seni. Banyak orang datang ke konser saya walau tak paham bahasa Melayu. Music bersifat universal. Berbeda dengan politik, music can bridge people together,” tambahnya.

Sayangnya, bahklan Sheila pun mengakui, belakangan semakin jarang kolaborasi digelar antatr-pemusik Indonesia dan Malaysia, seperti terjadi pada eranya dahulu. Selain Sheila, sejumlah penyanyi dan pemusik Malaysia memang sempat menjadi populer di Indonesia.

Sebut saja penyanyi Siti Nurhaliza, penyanyi rock Suhaimi bin Abdul Rahman alias Amy-yang tenar bersama kelompok musiknya. Search, dan kelompok rock melayu Iklim. Pada masa jayanya, masing-masing populer, bahkan merajai dan mendominasi urutan teratas tangga lagu di Tanah Air.

“iya, kenapa ya? Saya pun tak tahu bagaimana menjawab soal itu. Tetapi, saya lihat orang Indonesia sangat patriotic dan bangga dengan produknya. Jadi, kalau ada prooduk dari luar, termasuk music, is not good enough, ya buat apa. Betul tak?” ujarnya mengakhiri percakapan.

Sumber: Kompas, Sabtu, 26 Maret 2016

I Wayan Gde Yudane Bali Mengembara dalam Komposisi

Bali Mengembara dalam Komposisi. Kompas.28 Maret 2016.Hal.16

Karya music I Wayan Gde Yudane mungkin lebih dikeanl di negeri orang ketimbang di Tanah Air. Elemen rasa Bali melebur, menyusup dalam komposisi prias kelahiran Denpasar itu. Sebuah sumbangan Indonesia untuk khazanah music universal.

OLEH FRANS SARTONO

Sebagai anak seorang undangi atau arsitek tradisional Bali, Yudene kecil ingin menjadi tukang kayu. “kalau disuruh menggambar, keluarnya hanay gergaji atau palu karena hanya itu yang ada di kepala saya,” kata Yudane dalam obrolan sebelum pentas di Bentara Budaya Bali, akhir Februari lalu.

Cita-cita itu “kandas”. Yudane malah menjadi “tukang” menggubah komposisi yang karyanya terpapar di pentas dunia. “Crossroads of Denpasar” merupakan salah satu karya Yudane pesanan radio New Zealand yang kemudian dibeli Radio Australia dan BBC London. Karya lain, “paradise Regained”, yang terinspirasi oleh peristiwa bom Bali tahun 2002, dimainkan pianis Ananda Sukarlan diberbagai pergelaran Internasional. Karya kolaborasi dengan Paul Grabowsky, “The Theft of Sita”, dipentaskan di Next Wave Festival, New York City, 2011.

Profesor I Made Bandem menyebut Yudane sebagai bagian dari komponis baru dengan pendekatan yang melampaui hal-hal papkem atau baku. Karyanya disebut Bandem mampu memberi napas baru pada gambelan Bali.

“Dipaksa”

Yudane tumbuh di lingkungan yang dekat dengan gamelan. Ayahnya, I Nyoman Gebiyuuh, yang juga pembuat gamelan, mengajak Yudane berlatiih. Suatu kali diperlukan pemain gendang untuk festival gong kebyar se-Provinsi Bali. YUudane yang masih duduk dikelas VI sekolah dasar itu pun “dipaksa” ikut menjadi pemain gendang dalam tim Gong Kebyar Banjar Geladag pedungan mewakili Kabupaten Badung. “Ngeri sekali rasanya,” kata Yudane mengenang.

Daalm perjalanan hidup Yudane, rupanaya ada langkah-langkah yang berawal dari ke(sipaksa)an. “dari dulu saya dipaksa. Tidak murni menuruti keinginan saya. Waktu kecil, cita-cita saya hanya ingin menjadi tukang kayu. Saya dipaksa (bermain music) dan akhirnya menikmati. Kalau tidak dipaksa, saya tidak akakn tahu,” kata Yudane.

Keterpaksaan mengantar Yudane ke dunia kratif penciptaan. Suatu kali ketika mengikuti program residnsi artis si Selandia Baru, Jack Body sebagai pembimbing menggenjotnya habi-habisan sebagai komponis yang harus bekerja sendiri. Padahal, sebelumnya Yudane sudah merasa sebagai seniman ternma yang pernah tamppil di Eropa dan Amerika Serikat.

“saya terkucilkan dan dipaksa bekerja sendiri, bekerja dengan pikiran, menulis (menyusun komposisi).”

Suatu kali ia mendapaty komisi atau pesanan membuat komposisi untuk piano. Ia gamang luar biasa karena sebelumnya ia tidak pernah membuat komposisi piano. Lebih kaget lagi komposisi itu akan dimainkan oleh pianis terkenal Ananda Sukarlan.

“wah, ini ngeri-ngeri sedap karena pianisnya, kan, hebat.” Itulah kompposisi “Paradise Regained” yang menjadikannya cukup percaya diri. “Lumayan, sedikit mengangkat (nama) juga. Saya jadi percaya diri sejak itu.”

Rasa percaya diri Yudane tergetar juga. Tahun 2003, ia ditantang ol;eh Radio Selandia Baru untuk membuat komposisi. “ini gawat. Karena ibarat petarung, saya waktu itu baru belajar,” kata Yudane yang memang pernah menjadi petinju antardesa.

Music dan Puisi

Sejumlah komposisi Yudane lahir atau terinspirasi dari pusis. Dari pergaulan dengan penyiar Bali. Seperti Ketut Yuliarsa, Tan Lioe le, dan Warih Wisatsana, Yudane akrab dengan karya sastra. Yudane, mislanya, tampil dalam pergelaran Musik, Rupa, Gerak, dan Lafal Puisi di Bentara Budaya Bali, 28 Februari lalu. ia membuat komposisi yang ia olah dari puisi ramalan atau cia  si karya Tari Lioe le Berjudul “berbagai cahaya”dan “ Tertawa”.

Yudane memberi tafsir atas puisi tersebut seabagai titik tolak untuk menggubah komposisi. “jadi, ini music yang saya buat untuk puisi itu. Basic dari komposisi saya adalah puisi tersebut.”

Yudane pernah pula membuat komposisi “Entering the Stream” yang berangkat dari puisi karya Putu Yuliarso. Tidak seperti “musikalisasi puisi”, kata-kata dalam puisi Yuliarsa itu sudah dikunyah oleh tafsir Yudane . “Saya memikirkannya bait demi bait, kata demi kata.”\

Pecinta kebudayaan, Jean Couteau, yang hadir di Bentara Budaya Bali, menyebut proses penciptaan karya Yudane itu sebagai dialog antara music dan puisi. Dialog tersebut kemudian mewujud dalam komposisi untuk ppiano trio yang dimainkan piano, biola, dan cello yang pertama kali disuguhkakn oleh New Zealand Trio.

“Kata-kata semua hilang. Saya sudah baca puisinya dan selesai. Orang yang dengar bisa merasa cocok atau tidak cocok,” tutur Yudae.

Akan tetapi, untuk kebutuhan sebuah pertunjukan, Yudane juga masih menggunakan puisi secara utuh dalam komposisi. Misalnya, puisi Sinta yang kebetulan juga merupakan karya Yuliarsa. “itu untuk kebutuhan pentas teater. Untuk suatu adegan, kalau tidak ada kata-kata, mungkin penonton tidak mengerti. Jadi, dalam hal ini ada kebutuhan untuk menjelaskan..”

Bukan hanya puisi, Yudane juga pernah membuat komposisi yang berangkat dari cerita pendek. Salah satunya dari cerpen karya Rasta Sindu. Komposisi berupa ansambel perkusi ittu ia gubah atas pesanan dari Queens College, New York, 2013.

Sebagai komponis, Yudane mengutamakan orisinalitas karya,. Lewat karya yang jujur dan pribadi ia ingin berbagi dengan pendengar dari belahan dunia mana saja.

“saya juga butuh dukungan orang yang mau mendengarkan. Untuk apa kita bikin kalau tidak ada yang mau mendnegarkan. Saya berusaha membuat bagaimana orang mau mendengar. Kalau tidak, ya, tidak apa-apa juga. Tetapi, saya membuat karya seperti yang saya mau,” kata Yudane.

Sumber : kompas , senin, 28 Maret 2016