Robi Pantalemba Pemulung yang Membagi Ilmu

Pemulung yang Membagi Ilmu.Kompas.27 Juni 2016.Hal.16

Di tengah kerasnya kehidupan sebagai pemulung, Robi Pantalemba (45) tetap berusaha untuk berbagi kepada sesama. Ia mengumpulkan ribuan buku bekas di gubuk retronya dan membolehkan siapapun untuk “memulung” pengetahuan di sana, termasuk para mahasiswa.

Di bukit kecil tak jauh dari pusat ekonomi di kota palu, Sulawesi Tengah, Robi Pantalemba mendirikan sebuah gubuk reot di tanah yang miring. Gubuk yang terletak 15 meter di bawah rumah sederhananya itu berantakan. Di sisi kiri gubuk, ada tumpukan kardus. Berhadapan dengan pintu masuk gubuk, berserakan kabel dan barang elektronik kumal.

Di gubuk itu, Robi setiap hari memilah barang bekas yang bisa di jual lagi dan buku yang bisa ia koleksi. Buku-buku tersebut kemudian ia simpan di sebuah ruangan sederhana yang menggantung di antara gubuk dan rumahnya. Di sana, bau apek barang bekas berganti dengan aroma ilmu pengetahuan.

Berbagai jenis buku menyesaki ruangan berukuran 2,5 meter x 3 meter itu. Sebagian buku di sandarkan begitu saja di dinding, sebagian di tumpuk, atau di gantung pada beberapa tali sepanjag 3 meter di sisi dinding kiri dan kanan. Sebagian lagi di letakkan ke dalam kardus.

Buku yang ia koleksi berjumlah 2.500-an. Ada buku pengetahuan agama isalam, pertanian, politik, buku bacaan anak-anak, dan novel yang laku di pasaran, seperti perahu kertas (2009) karya Dewi “Dee’ Lestari, Endensor (buku ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi (2007) karya Andrea Hirata, dan Gadis Kretek (2012) karangan Ratih Kumala. Di antara tumpukan buku, ada pula karya novelis ternama Brasil, Paulo Coelho, Sebelas Menit (2011)

Buku-buu bekas itu masih utuh meski di penuhi bercak kuning dan hitam. Robi memperbolehkan siapa saja untuk menikmati buku koleksinya di sana, sambil duduk di sofa butut atau di atas karpet lusuh yang bolong di sana sini.

Memulung pengetahuan

Robi dan Istrinya, Adrien V Rimbing menjadi pemulung dan pengepul sejak 2006. Sejak saat itu, mereka melalui hari-hari di tengah bau busuk sampah di tempat pembuangan akhir atau tempat pembuangan sampah sementara. Di tempat itu, mereka berdua memulung anekah barang bekas yang masih punya nilai, katakanlah seperti kardus, kertas, barang elektronik atau kabel.

Saat memulung, mereka juga kerap menemukan buku-buku bekas. “Tiap hari kamis paling sedikit mendapatkan 4-5 buku. Sayang kalau buku-buku ini tidak di simpan untuk di baca,” uajar Robi di rumah sederhananya di jalan Bali, Kelurahan Lolu Utara, Kecamatan Palu Timur, Jumat (17/6) lalu. Hingga sore hari itu, ia mendapatkan 5 buku bekas.

Kebiasaan mengumpulkan buku bekas itu Robi lakukan sejak 2007 atau setahun setelah Robi terjun sebagai pemulung sekaligus pengepul barang-barang bekas. Saat itu, Robi dan keluarga masih tinggal di rumah kontrakan di kawasan Palu Selatan.

Selain dari tempat sampah, ia juga memperoleh buku dari pemulung lainnya. Robi membeli buku-buku bekas seharga Rp 1.000 per kilogram.

Buku-buku yang Robi dan istri kumpulkan itu lama-kelamaan menumpuk. Saking banyaknya, pada 2013, tumpukan buku milik Robi dan istri tidak bisa di tampung lagi di rumah kontrakan. Karena kondisi itu, sebagian buku koleksi mereka di jual ke pengepul lain di Kota Palu. Namun setelah itu Robi menyesal.

“Itu sangat kami sayangkan juga. Tetapi, situasi membuat kami harus membuat pilihan,” ucap Robi yang intens membaca, kemudian aktif di Lembaga Adat Kelurahan Lolu Utara.

Tahun 2013, Robi dan keluarga pindah rumah ke Jalan Bali, Kelurahan Lolu Utara, Kecamatan Palu Timur. Di kedamaiannya yang baru, semangatnya untuk mengoleksi buku kembali menggelora. Seperti sebelumnya, dia tekun memilah buku dari tumpukan barang bekas lainnya.

Saat mereka menyortir barang bekas, mereka kerap di kerubungi sejumlah siswa sekolah dasar yang tertarik dengan buku-buku. Dari situlah, muncul ide di kepala Robi untuk membuat taman bacaan mini di salah satu sudut rumahnya.

Setelah ide itu dia wujudkan, anak- anak SD di lingkunganya rutin datang untuk membaca buku-buku tersebut. Tidak sedikit pula mahasiswa  yang menyambangi tamban bacaan mini tersebut untuk mencari sejumlah buku yang mereka tidak temukan di perpustakaan kampus.

“Pernah ada mahasiswa yang ingin sekali meminjam buku yang katanya langka. Tetapi, saya bilang, baca di sini aja supa buku yang sama bisa juga di nikmati orang lain, “tutur Robi. Di taman bacaan tersebut, pengunjung tidak di perkenankan meminjam buku untuk di bawa ke rumah. Buku hanya di baca di tempat itu ada difoto kopi kalau memang di perlukan. Aturan itu di tetapkan agar buku koleksi tidak hilang. Jika ada yang hilang, berarti lenyap pula kesempatan orang lain menimbah ilmu pengetahuan dari sumber yang sama.

Tamat SMP

Hidup Robi termasuk keras. Ia pernah hidup sebatang kara sebelum membentuk keluarga bersama dengan istrinya. Ia tidak sempat mendapatkan pendidkan tinggi. “Saya hanya menamatkan pendidikan SMP. Itu standard pendidikan yang tidak memungkinkan seseorang bersaing lagi unuk saat ini,” ujarnya.

Ketika memperoleh banyak buku, ia tidak hanya memikirkan diri sendii, tetapi juga orang lain. Ia ingin ribuan buku bekas koleksinya bisa di akses orang lain. Karena itu, di tengah kesumpekan hidupnya sebagai pemulung, ia membuka taman bacaan mini yang bersahaja.

Ia tidak keberatan menyisihkan uangnya yang cuman sedikit, untuk membuat taman bacaan dan membeli buku bekas dari pemulung lain. Ia tidak penah menghitung untung rugi. Ia sudah cukup puas melihat anak-anak bersemangat membaca buku-beku bekas yang ia kumpulkan.

“Saya ingin anak-anak mempunyai bekal pengetahuan agar tidak bernasib sama seperti saya, menjadi pemulung,” ujar Robi yang memperoleh Piagam Penghargaan Pemberdayaan Pemulung dari PT Telkom Indonesia pada Desember 2012.

Pria berusia 45 tahun itu berencana akan memperluas taman bacaan milinya. Dengan begitu, semakin banyak orang yang bisa “memulung” ilmu pengetahuan di sana.

 

UC Lib-Collect

KOMPAS,SENIN 27 Juni 2016

Alfatih Timur Kita Bisa Berbagi

Kita isa Berbagi. Kompas.25 Juni 2016.Hal.16

Dalam daftar 30 anak muda  berpengaruh di Asia yang dilansir “Forbes” pada awal 2016 tercantum nama M Alfatih Timur (24). Anak seorang dokter di Sumatera Barat itu di pilih karena kiprahnya di kita bisa.com

Kitabisa .com adalah laman untuk menggalang dana dan berdonasi secara daring (online). Penggalang dana menggunakan uang yang terkumpul untuk tujuan sosial, membantu sesama, atau menciptakan karya.

Saat ini laman itu tengah di pakai mantan Mentri Perencanaan Pembangunan Nasional Andrinof Chaniago dan Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Rhenald Kasali untuk menggalang beasiswa bagi Tristan Alif yang di sebut-sebut sebagai “Messi Indonesia”.

“Saya percaya yang di katakan Bung Hatta, fondasi Indonesia adalah gotong royong. Kitabisa.com menerjemahkan semangat itu. Di kitabisa.com, kami percaya ada banyak orang baik di Indonesia. Mereka hanya perku di hubungkan satu sama lain,” ujar M Alfatih Timur.

Alfatih adalah CEO kitabisa.com. Kompas mengobrol dengan anak muda yang bisa disapa Timmy itu di sela-sela pertemuan wirausaha sosial di Singapura, 16-7 juni 2016. Pada acara yang di selenggarakan oleh DBS Foundation itu, dia salah atu pembicara di hadapan 100 wirausaha sosial di Asia.

Wirausaha sosial adalah modal bisnis yang menerapkan prinsip dan tata kelola usaha profesional. Namun, alih-alih mengejar keuntungan, tujuan utama mereka adalah membantu menyelesaikan berbagai personal sosial.

Undangan yang di peroleh Timmy untuk berbicara di forum itu tak lepas dari kiprah kitabisa.com yang beroperasi sejak juli 2013. Lama yang ia dirikan bersama bebrapa temannya itu, sejauh ini, telah membantu penggalangan dana dengan nilai total Rp17 miliar. Seluruhnya dipakai mendanai 1.388 kegiatan atau inisiatif.

Layanan zakat

Bersama beberapa lembaga, laman itu juga menyediakan layanan pembayaran zakat Indonesia lebih dari Rp 200 triliun, tetapi baru terkumul Rp 2 triliun. Bukan karena orang tidak mau membayar zakat, melainkan karena pembayaran tidak punya kesempatan untuk mendatangi tempat membayar dan menunaikan kewajiban.”

“Orang Indonesia, lanjut Timmy, pada dasarnya amat mudah merogoh kocek untuk membantu orang lain. Masalahnya, banyak di antara mereka yang tidak menemukan tempat dan waktu yang sesuai dengan aktivitas untuk menyalurkan donasi.

Sebagian orang lebih suka menyelesaikan berbagi urusan dari pada telepon genggam atau komputer yang terhubung dengan internet. Dengan beberapa kali klik, berbagi urusan bisa di selesaikan “layanan yang di hadirkan ke dekat mereka, bukan mereka di minta mendatangi tempat menyalurkan zakat atau donasi,” kata lulusan Fakultas Ekonomi UI itu.

Saat ada ajakan berdonasi dan dananya bisa di salurkan tanpa meninggalkan tempat duduk, banyak orang dengan sigap mengirimkan uang. Di Indonesia, ada banyak kegiatan pengalangan dana melalui internet secara dadakan. Beberapa orang memulai kampanye untuk memulai internet secara dadakan. Beberapa orang mulai melakukan kampanye untuk mendanai atau menyumbangkan sesuatu. Orang-orang yang tertarik kemudian menyumbangkan dana.

“Banyak orang yang sama sekali tidak saling kenal, tetapi tetap menyumbang,” ujarnya.

Saat Timmy dan delapan rekannya memulai kitabisa.com, belum banyak laman yang bisa menjadi sarana pengumpulan dan penyaluran sumbangan. Dia mengaku tidak terlalu paham dengan pola itu.

Laman itu di mulai saat Timmy beberapa temannya di Rumah Perubahan tertantangmenggarap proyek sosial yang berdampak besar. Ide mereka di paparkan kepada Rhenald Kasali, pendiri Rumah Perubahan. Rhenald menyetujui gagasan itu.

Gagasan itu tidak serta-merata muncul. Dengan beasiswa, ia belajar penggalangan dana secara daring ke Australia dan Amerika Serikat. Ia belajar tentang wirausaha sosial yang kala itu mulai marak.

Namun, ada hal yang tidak bisa di pelajarinya segera untuk bisa mengoprasikan kitabisa.com: teknologi informatika. Karena itu, ia mengandeng beberapa pihak menguatkan timnya.

 

M  ALFATIH  TIMUR

Lahir: Bukittingi, 27 Desember 1991

Pendidikan: SMA 1 Padang

Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Pekerjaan: CEO kitabisa.com

–  Istri: Puti Ara Zena

 

 

Seiring waktu, ternaya sebagian pendiri kitabisa.com tidak bisa bergabung karena berbagai alasan. Bongkar pasang timterjadi hingga saat ini kitabisa.com di gawangi 13 orang. Mereka menggandeng sejumlah pihak sebagai penasihat.

Setelah tiga tahun di kitabisa.com, Timmy belum berpikir untuk menggarap hal lain. Ia masih fokus mengurus laman itu. Istrinya, Puti Ara Zena, juga mendukung kegiatannya.

Inspirasi ayah

Namun, sampai sekarang, keluarga Timmy tidak terlalu paham apa yang dilakukan pemuda itu. Ia hanya menyampaikan, kegiatan sosial itu terinspirasi dari pekerjaan ayahnya sebagai dokter di pedalaman Sumatera Barat.

Ayah Timmy adalah dokter penuh pengabdian dan ikhlas. “Waktu saya kecil, sering sekali melihat ayah mengobati orang tanpa meminta imbalan. Kadang di bayar dengan sayur,” ujarnya.

Setelah besar, Timmy semakin tertarik bergiat dalam kegiatan sosial. Namun, ia tidak ingin seperti ayahnya. Selain karena bukan sekolah kedokteran, ia juga tahu ia tidak akan bisa melakukan kegiatan sosial dengan cara ayahnya.

Ayahnya digambarkan sebagai lilin yang mengorbankan diri untuk menerangi lingkungan di sekitarnya, sementara Timmy ingin ingin punya energi menolong yang lebih tahan lama. Karena itu, ia memilih wirausaha sosial. “Bisnis sosial yang dapat memberikan dampak sosial sekaligus menciptakan profit sehingga berkelanjutan. Dengan begitu, saya tidak harus mengorbankan diri saya,” turutnya.

Minat kuat menolong orang dalam diri pemuda itu menarik minat Rhenald Kasali sehingga menjadikan pemuda itu sebagai asisten. Setelah wisuda, ia pernah meminta masukan Rhenald soal pilihan sekolah lanjut. Namun, Rhenald meminta dia bergabung selama beberapa tahun sebelum melanjutkan sekolah lagi.

Kala itu, orang tua Timmy belum sepenuhnya setuju. Namun, setelah di yakinkan, akirnya mereka mendukung keputusan pemuda itu. Selain menjadi asisten Rhenald, Timmy juga aktif di Rumah Perubahan.

Laman itu dikelolah dengan manajemen bisnis moderen. Pendapatan laman, antara lain, kutipan 5 persen dari setiap penggalangan dana. “Kutipan tidak di berlakukan untuk penggalangan dana bagi bencana alam atau pembayaran zakat,” katanya.

Atas semua usahanya itu, maka lumrah saja jika Forbase memasukkan Timmy dalam daftar 30 anak muda berpengaruh di Asia. Kiprah pemuda itu di harapkan dapat memberi inspirasi bagi masyarakat, terutama para pemuda. Di tengah berbagai masalah yang merendung negri ini, masih ada orang-orang yang mau berbagi untuk kebaikan.

Di sela-sela kesibukan di kitabisa.com, Timmy masih sempat mengeluti hobinya. Ditengah rutinitas sehari-hari, dia kerap memainkan seluang untuk mengusir kejenuhan. Seruling khas Minang itu kerap di mainkannya di kantor.

“Tidak mahir, tetapi bisalah kalau beberapa lagu Minang,” ujar pemuda yang mengaku tidak ingat apa nama adat yang di berikan keluarganya.

Seperti lazimnya seluruh pria dewasa di Sumatera Barat, Timy punya nama adat. “Saya hanya ingat Sutan saja. Tidak ingat lagi apa kelanjutannya,” katanya sembari tertawa.

 

 

UC Lib-Collect

KOMPAS, SABTU, 25 Juni 2016