Wawan Widarmanto Gerilya Aktivis “Rumah Sampah”

Wawan Widarmanto_ Gerilya Aktivis Rumah Sampah. Kompas.5 Januari 2017.Hal.16

Wawan Widarmanto

Wawan Widarmanto (43) bertahun-tahun masuk-keluar kampung untuk menyadarkan masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan. Ia sempat dituduh koar-koar belaka. Namun, kini perjuangannya membuahkan hasil. Ia memiliki benyak kader di sekolah dan kampung-kampung yang siap menyebarkan “virus” anti sampah.

Wawa lelah bertahun-tahun melihat masyarakat membuang sampah sembarangan di sekitar tempat tinggalnya di Kampung Pabrik, Desa Puteran, Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Sampah berserakan dan bertumpuk di kebun, sawah, dan sungai-sungai kecil. Padahal, kampung itu termasuk daerah hulu Sungai Citanduy.

Alumnus Jurusan Syariah Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah itu mencoba menyadarkan masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan lewat dakwah. Namun, hasilnya nyaris tidak ada.

Ia kemudian bergerak lebih jauh dengan membangun “rumah sampah” melalui Yayasan Amal Ikhlas Mandiri (YAIM) Desa Puteran. Rumah sampah yang dimaksud adalah rumah tempat mengelola sampah yang masih bisa dimanfaatkan. Ia berharap, dengan membangun rumah sampah, masyarakat akan termotivasi untuk mengolah sampah sendiri. Nyatanya, tidak banyak warga yang merespons ide itu.

Wawan tidak patah arang. Ia mencoba mencari tahu mengapa masyarakat selama ini tidak merespons program pengolaan sampah. Setelah mengamati beberapa lama, ia menemukan jawabannya. Ternyata persoalan utama terletak pada pola pikir masyarakat terkait sampah. Mereka umumnya berpikir sampai sekadar tumpukan bena tak terpakai dan mesti segera dibuang jah-jauh. Padahal, sampah jika dikelola dengan benar bisa menghasilkan rupiah.

Laki-laki yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tasikmalaya itu lantas berpikir bahwa hanya lewat pendidikan pola pikir masyarakat yang keliru bisa diubah. Wawan pun meneruskan eksperimennya bersama YAIM dengan membuat konsep Rumah Sampah Berbasis Sekolah (RSBS) pada 2010.

RSBS ini adalah metodologi pembelajaran yang menumbuh kembangkan kesadaran dan kebiasaan untuk mengelola sampah dengan baik dan benar sejak dini melalui lembaga pendidikan.

Sebelumnya, YAIM telah menguji coba konsep rumah sampah melalui pendidikan anak-anak sekolah mulai dari pendidikan anak usia Dini (PAUD). Para murid diminta membawa sampah dari rumah atau memungut sampah dari jalanan untuk dibawa ke sekolah dan dipilah. Sampah yang bernilai ekonomi kemudian dijual kepada pedagang barang rongsokan.

Gerilya

Setelah proyek rintisan itu berjalan, Wawan berpikir untuk meluaskan gerakan RSBS. Pada, 2011, ia mulai bergerilya ke kampung-kampung di luar Desa Puteran, tetapi masih di wilayah Kecamatan Pagerageung, menyebarkan gerakan RSBS. Gerakannya didukung perangkat Kecamatan Pagerageung.

Wawan melanjutkan gerilyanya ke berbagai sekolah, terutama PAUD di wilayah Priangan Timur (Kabupaten/Kota Tasikmalaya, Kota Banjar, dan Kabupaten Ciamis) hingga ke Kecamatan Lakbok di perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah untuk mempresentasikan konsep RSBS. Dengan cara itu, ia berusaha memproduksi kader-kader militan yang akan menyebarkan virus RSBS ke mana-mana.

Jika wawan tidak memiliki komitmen kuat, gerakan RSBS itu niscaya tak akan berhasil. Bayangkan, setiap Sabtu dan Minggu ketika libur kerja, ia bergerilya sendirian pergi ke daerah-daerah yang jauhnya puluhan kilometer dengan biaya sendiri. Padahal, secara finansial Wawan bukan tergolong orang kaya. Ia juga selalu menolak untuk dibayar-meski sekadar uang pemgganti biaya transportasi – setiap kali diminta mempresentasikan program RSBS.

Kerja keras Wawan menampakkan hasil. Kader-kadernya di banyak tempat mulaii aktif membuat program turunan terkait sampah. Ada yang membuat program diet kantong plastik di sejumlah SMP, SMA, dan universitas, “Saya sendiri lebih konsentrasi di tingkat PAUD karena program pembentukan kader ini tidak mungkin ditangani sendiri,” ujar Wawan yang mendirikan Yayasan Rumah Sampah Indonesia di Pagerageung.

Proses pencetakan kader RSBS juga terus dilakukan di seantero pedesaan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citanduy. Januari 2017, ia menargetkan melatih 120 guru. Yang sudah mendaftar ternyata lebih dari 300 guru. “Kami (akhirnya) menerima 200 guru,” ujar Wawan yang menyusun sendiri materi pelatihan dalam bentuk tanya jawab terkait sampah.

Wawan mengatakan, gerakan yang ia galang lebih bertujuan memotivasi dan mengajak ornag untuk mengubah pola pikir dan perilaku membuang sampah sembarangan. Gerakan yang disebarkan lewat pendidikan itu tidak menekankan pada urusan teknis, seperti praktik mengelola sampah. Untuk sampai ke sana, Wawan dan kader tidak punya dana.

“Jujur saja, ini kelemahan gerakan RSBS. Makanya, kami sering dipelesetkan sebagai gerakan koar-koar,” ucapnya. Hasil gerakan ini, lanjutnya, tidak bisa dirasakan dalam waktu singkat. “tidak seperti makan cabai yang langsung dirasakan pedasnya saat itu juga. Saya yakin, 15-20 tahun ke depan gerakan ini baru terasa manfaatnya,” kata Wawan.

Sejak program RSBS digulirkan, sekitar 300 sekolah dan pesantren di Priangan Timur sudah mengenal dan mengadopsi rumah sampah. Malah virus RSBS sudah menjalar ke beberapa majelis taklim, lembaga pendidikan informal, dan lembaga swadaya masyarakat di DAS Citanduy.

Wawan belum puas dengan hasil yang telah dicapai. Ia ingin masyarakat yang telah mengenal konsep rumah sampah segera mempraktikannya dalam skala kampung. Namun, pasalnya, kesadaran untuk menglola sampah belum menjelma menjadi karakter. Masyarakat juga belum sepenuhnya mengerti pentingnya gerakan bersama. “kadang mereka juga banyak alasan, termasuk dikalangan kader. Katanya, terlalu capek mengurusi hal-hal yang tidak ada duitnya,” ungkapnya. Ya, perjuangan Wawan sepertinya masih panjang.

Wawan Widarmanto

Lahir                : Tasikmalaya, 26 Desember 1973

Istri                  : Siti Rohmah Maulida

Anak               : Maisa Shofwatunnisa, Azri Bahjan Maidhar, Azhar Syahrul Mubarok

Pendidikan      : SD Puteran, Pagerageung (1987), SMPN Pagerageung (1990), MAN Ciawi. Tasikmalaya (19993), institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah, Pesantren Suryalaya, Pagerageung, Tasikmalaya (1997)

Pekerjaan        : Pegawai negeri sipil di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tasikmalaya.

 

Sumber: Kompas. 5 Januari 2016. Hal 16.

Usman Firdaus “Pendekar” Konservasi Sungai Ciliwung

Hampir 45 menit lamanya, delapan pria berendam dalam keruhnya air Sungai Ciliwung. Mereka tidak sedang berenang, mereka mendari dan mengangkat sampah di dasar Sungai. Sampah berbagai jenis itu berbentuk gelondongan karena sudah lama “menginap” di dasar Sungai. (Oleh Videlis Jemali/ Adrian Fajriansyah)

Itu potret sebagian dari aktivitas anggota komunitas Masyarakat Peduli Ciliwung (Mat Peci) di kelurahan Srengsreng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Kamis (24/12). Kelompok tersebut dibentuk Usman Firdaus (47) dengan perhatian dan keprihatian atas kondisi Sungai Ciliwung. Mereka ingin Sungai Ciliwung bersih dari sampah. Saban hari, mereka melaksanakan aktivitas serupa.

Kondisi Sungai Ciliwung yang bak lautan sampah mengusik Usman, anak Betawi yang tinggal di Kelurahan Cikoko, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan. Itu kontras dengan situasi masa kecilnya. Saat masih belia, ia sempat menikmati Sungai Ciliwung yang airnya bening, teduh, dan penuh ikan.

”Dulu, saya rasakan Sungai Ciliwung sebagai sumber kehidupan. Dengan kondisi saat ini, sungai berubah menjadi sumber malapetaka dalam bentuk banjir dan pencemaran. Sangat sulit rasanya untuk menikmati Sungai Ciliwung biarpun sekadar untuk berenang,” ujarnya di sela-sela pembersihan sampah di Srengseng Sawah.

Usman memulai ikhtiar melindungi Sungai Ciliwung pada tahun 2006 dengan membentuk Kelompok Tani Cikoko Lestari di Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan. Satu pos dibangun untuk koordinasi dan berbagi informasi tentang aktivitas kelompok. Saat itu, jumlah relawan yang bergabung hanya enam orang. Luas wilayah sungai yang dijadikan area konservasi sekitar 6.000 meter persegi.

Selain mengangkat dan mengangkut sampah dari pinggir dan dalam sungai, kelompok itu juga menanam berbagai jenis pohon, seperti sengon dan mangga. Lambat laun, pos tersebut menjadi tempat bermain anak-anak.

“Situasi tersebut saya lihat sebagai harapan untuk merangkul lebih banyak orang dalam menjaga kelestarian Sungai Ciliwung,” ujar alumnus program strata satu Manajemen Informasi Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Kuwera di Pasar Minggu, Jakarta.

Melihat tingginya antusiasme kelompok, Usman melebarkan sayap pengaruh. Pada 2009, ia merangkul lebih banyak warga pinggiran Sungai Ciliwung. Komunitas peduli tersebut tumbuh di sepanjang aliran sungai dari Srengseng Sawah hingga Manggarai. Saat ini, tercatat 16 komunitas yang bergabung dalam komunitas Mat Peci dengan personel sebanyak 110 orang. Rute konservasi memanjang 16 kilometer. Sejak saat itu, komunitas berganti nama menjadi Masyarakat Peduli Ciliwung (Mat Peci).

Di sekitar pos Mat Peci di RT 005 RW 002, Kelurahan Srengseng Sawah, misalnya, anggota komunitas menyulap lahan yang sebelumnya menjadi tempat pembuangan sampah liar menjadi lahan produktif. Berbagai jenis sayuran dan pepohonan ditanam. Warga sekitar pun dapat memetik sayuran secara gratis.

Daerah pinggiran Sungai Ciliwung yang dinaungi rumpun bambu itu menjadi tempat anak-anak bermain. Anggota komunitas juga membangun tenda bambu hingga ke permukaan sungai. Tempat itu dipakai untuk memancing ikan.

Belakangan, populasi ikan mujair dan lele bertambah pesat di Sungai Ciliwung yang diintervensi Mat Peci. Padahal, sebelumnya, ikan sangat sulit didapat. Alur sungai tampak melebar hingga 10 meter, dari sekitar 6 meter sebelum diintervensi.

Usman menyebutkan, pendekatan persuasif dengan menciptakan lingkungan yang nyaman terbukti membangkitkan kesadaran masyarakat untuk mengambil bagian dalam konservasi. Warga sudah menunjukkan perubahan perilaku hidup.

“Namun, tetap saja ada warga yang refleks membuang sampah ke Sungai. Ini memotivasi kami untuk bekerja lebih giat lagi,” kata penerima penghargaan kalpataru dari Gubernur DKI Jakarta sebagai pembina lingkungan pada 2012 itu.

Pria yang sejak Sekolah Menengah Pertama senang menanam pohon di pinggir Sungai Ciliwung itu sering menghadapi bencana. Saat banjir tiba, pohon yang ditanam dan pos – pos komunitas roboh. Namun ia tidak kapok. Baginya, bencana alam menjadi pertanda Sungai masih bersalah. Artinya, kesadaran warga pinggiran Sungai masih perlu dibangkitkan terus.

Saat ini, komunitas mengembangkan sejumlah program penyelamatan Sungai Ciliwung, antara lain, penanaman sayur di bantaran Sungai, pemilahan dan pengolahan sampah menjadi berbagai produk, tanggap darurat bencana, dan konservasi budaya Sungai. Program terakhir terselenggara dengan merangkul pegiat seni. Lenong atau silat dipentaskan di pos – pos dengan menyisipkan pesan konservasi Sungai.

Semua bertujuan untuk membangkitkan kepedulian dan semangat konservasi. Kami yakin kesadaran selalu ada, hanya perlu diingatkan terus-menerus,” ucap suami dari Dina Brihandini.

Tak hanya warga Jakarta, Mat Peci berencana menggalang pembentukan komunitas konservasi di Depok, Jawa Barat. Wilayah itu termasuk salah satu daerah hulu Sungai Ciliwung.

Bapak tiga anak itu mengangankan suatu saat nanti Sungai Ciliwung menjadi tempat warga Jakarta untuk berwisata dan menjadi contoh pengelolaan sungai di perkotaan. Menurut dia, hal itu tidak mustahil kalau semua orang merasa memiliki sungai.

Berkat keswadayaan melindungi Sungai Ciliwung, Pemerintah DKI Jakarta mengangkat anggota komunitas Mat Peci menjadi tenaga honorer dengan upah mengikuti upah minimum provinsi sejak 2014. Tentu hal itu bukan tujuan utama komunitas. Itu sebentuk apresiasi yang layak atas usaha mereka menggalang spirit satu kata, satu hati, dan satu gerakan menyelamatkan Sungai Ciliwung.

Sumber: Kompas, Selasa 19 Januari 2016

Tasuri Petani Kopi, Pelestari Owa Jawa

Tasuri Petani Kopi Pelestari Owa Jawa. Kompas. 13 Januari 2016. Hal 16

Tasuri

Menjelang dini hari, teriakan keras woowww, hoo, waaa atau waaooo terdengar dari dalam lebatnya hutan tropis di kawasan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Suara keras dan nyaring itu datang dari siamang, populer dikenal sebagai owa jawa atau Javan Gibbon (Hylobates moloch). Suara itu sudah puluhan tahun seperti sirene yang membangunkan warga dari tidur lelap.

Oleh winarto herusansono

 

Tentu saja, siamang itu tidak tampak di tengah kegelapan malam. Namun, hewan primata yang terancam punah itu setia mengirim suaranya untuk menyapa warga kawasan Petungkriyono di daratan rendah di jantung Provinsi Jawa Tengah. “Di kampung ini, warga dibangunkan bukan oleh suara kokok ayam jantan, melainkan suara siamang dari dalam hutan,” kata Tasuri (48), warga Dusun Sonokembang, Desa Kayupuring.

Tasuri adalah petani kopi yang terlibat penelitian mengenai primata, khususnya siamang. Dalam lebatnya hutan tropis di kawasan Gunung Rogo Jembangan, owa jawaw keperakan telah lama menjadikan kawasan Petungkriyono sebagai habitnya. Owa jawa itu hidup berdampingan bersama primata lain, seperti elang jawa, kukang, monyet daun, dan lutung (surili).

Berdasarkan pendataan Kelompok Studi dan Pemerhati Primata Yogyakarta (KSPPY) serta Wildlife Reserves Singapura, hingga akhir Desember 2015, diperkirakan keberadaan owa jawa lebih kurang 30 kelompok. Satu kelompok terdiri dari dua-tiga ekor. Owa jawa mirip kera besar, berekor panjang, dan memiliki kemarihan berjalan-jalan di anatara dahan pohon (bipadally) dengan tanagn terentang. Owa memiliki wajah bulat, kedua mata tajam serta warna bulu hitam, coklat, atau abu-abu gelap. Owa memiliki lengan panjang khas dan pergelangan tangan panjang yang membantunya gerak berayun.

Menurut Tasuri, owa jawa selalu menampakkan diri di tempat yang sama dan tidak sembarang. Selama mengamati owa jawa lebih dari sembilan tahun, Tasuri berhasil memetakan itu kini jadi pos pengamatan. Salh satu spot pengamatan itu berada di tepi jalann penghubung Dusun Sokokembang ke Kecamatan Petungkriyono.

Kesadaran

Pergulatan Tasuri dengan owa jawa boleh dikata terjadi kebetulan pada 2006. Kala itu, alumnus Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Arif Setiawan, kerap datang untuk meneliti owa jawa di Petungkriyono Pekalongan. Tasuri mengaku, dia banyak belajar mengenai primata dari Arif dan peniliti asing yang datang silih berganti ke Sokokembang. Mereka berasal dari Singapura, India, Thailand, Australia, Amerika Serikat, Perancis, Ceko, dan Korea Selatan.

Saat bertemu Arif, Tasuri ketika itu masih kerap berburu burung di Hutan. Tasuri boleh disebut perambah hutan, kebiasaan yang juga dilakukan sebagian warga dari desa-desa di kawasan hutan tropis Petungkriyono. Pada 2003-2005, banyak terjadi penebangan pohon untuk diambil kayunya, seperti kayu kamper dan kayu babi. Kayu itu dijual murah kepada penadah.

“ketika itu saya, masih belum punya pekerjaan tetap, jadi ikut berburu burung bersama pemburu dari luar Pekalongan. Pekerjaan berburu binatang di hutan sambil jalan kaki, layaknya dolanan alas, mebuat saya hafal peta jalan hutan daerah sini,” kata Tasuri di rumahnya yang sederhana.

Dari Arif, Tasuri baru tahu jika owa jawa itu hewan langka. Bahkan, owa jawa bisa menjadi daya tarik pemerhati primata dari seluruh penjuru benua untuk datang ke desanya. Owa telah jadi kebanggaan bagi masyarakat Petungkriyono.

Tasuri juga kaget ketika diberi tahu peneliti dari Singapura kalau habitat owa jawa di Petungkriyono ini merupakan habitat lingkungan hutan tropis terbaik untuk pelestarian primata langka. Hutan lindung di kawasan Petungkriyono ini dikelola Perhutani.

Di hutan ini terdapat pohon besar dan tinggi serta tajuk-tajuk pohon bersentuhan membentuk kanopi. Hutan ini punya lereng curam yang menyediakan pakan bagi primata sepanjang tahun. Hutan lindung Petungkriyono ini dinilai terbaik dari 25 lokasi hutan tempat penelitian di Indonesia.

Itu sebabnya, Tasuri bertekad melestarikan primata. Sejak 2009, Tasuri mulai berkampanye mengajak warga lain untuk tak lagi merambah hutan. Namun, warga di Petungkriyono, juga di Kayupuring yang tinggal di hutan, kehidupan amat bergantung pada hasil hutan. Melarang tanpa solusi, tentu kurang direspons masyarakat.

Untuk itu, Tasuri dibantu Wildlife Reserves Singapura mengembangkan pemberdayaan masyarakat melalui budidaya kopi. Tujuannya agar warga punya penghasilan sehingga tidak lagi menebang pohon hutan. Apalagi, potensi sekitar 3.500 hektar. Tanaman kopi liar sudah tumbuh subur di bawah tegakan pohon besar semacam kruing jawa, meranti jawa, dan pohon jati.

Setelah melalui pendekatan ke tokoh-tokoh petani di Kayupuring, Tasuri membentuk Kelompok Tani Wiji Mertiwi Mulyo. Setiap petani mengelola tanaman kopi dan panen raya dilakukan pada Juni-Agustus. Tasuri punya lima petak lahan kopi di hutan itu seluas 2 hektar. Dari lahan itulah Tasuri kini jadi petani kopi. Hasil panen pada kisaran 2-4 kuintal. Kopi premium bisa laku Rp35.000 per kilogram, sementara kopi medium dijual ke pasar setempat Rp20.500 per kilogram.

Barista

Tasuri dan istrinya, Kunapah, bersama kaum perempuan desa mendirikan Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nyi Parijotho. Kelompok usaha inilah yang membuat bubuk kopi Petungkriyono atau bahasa kerennya kopi Owa Jawa. Kopi hasil panen diolah dan digiling di teras rumah Tasuri yang sejak 2013 juga berfungsi sebagai Omah Kopi dan rumah inap bagi tamu-tamu asing.

Kopi bubuk hasil olahan KUB Nyi Parijotho telah menjadi alat kampanye ampuh bagi uapaya pelestarian habitat siamang. Bubuk kopi robusta yang dikemas lebih kurang 40-50 gram itu diberi keterangan asal-usul kopi dan tentang keanekaragaman satwa primata. Kopi buatan KUB ini juga sudah mendunia setelah 2014 ikut dipamerkan di negara asal peneliti owa jawa. Daya tarik kopi owa ini tentu saja membangkitkan ekonomi petani kopi.

Keunggulan kopi owa sempat menggoda Tasuri setelah pemodal dari Jakarta menawarkan pemesanan setengah kuintal kopi robusta perbulan. Ini menjanjikan pendapatan besar dan rutin, tetapi dengan kesepakatan petani, hal itu ditolaknya. Apabila permintaan tersebut dituruti, dikhawatirkan akan mendorong petani lain membuat pohon di kawasan hutan untuk menanam kopi.

Sebagai tambahan penghasilan, ia rajin mengumpulkan kopi luwak dari hutan, hasilnya lumayan, bisa 3-4 kilogram setiap minggu yang kalau dijual dalam bentuk biji kopi, dari hasil kotoran luwak ini kelas medium saja Rp 100.000 per kilogram.

 

Tasuri

Lahir                : Kabupaten Pekalongan, 21 Juli 1968

Pendidikan      : Kelas IV SD Kayupuring, Petungkriyono, Pekalongan

Istri                  : Kunapah

Anak               : Indah Suciati, Ismiati, Isnaeni

Pengharagaan  : 2014 Liputan 6 Award SCTV, Pelestarian Kopi Owa

 

Sumber: Kompas, Rabu, 13 Januari 2016.

Sahabudin Husin “Sang Pencerah” dari Pulau Bungin

Sahabudin Husin Sang Pencerah dari Pulau Bungin. Kompas. 16 Januari 2016. Hal 16

Sahabudin Husin

“Sekali melangkah, pantang bersurut,” mungkin pas buat menggambarkan Sahabudin Husin alias Titos (27). Warga Desa Pulau Bungin, Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, itu tampil sabagai “sang pencerah” yang menularkan semangat inovasi usaha tani nelayan, kegiatan konservasi terumbu karang, selain mendirikan “museum” bahari untuk mengoleksi peninggalan leluhur yang masih tersisa setelah dijual ahli waris masing-masing kepada kolektor.

Oleh Khaerul Anwar

 

            “Saya resah akan tidak terhitung banyaknya benda pusaka nelayan berpindah ke tangan kolektor. Kalau diam, habislah benda pusaka ini. Makanya, saya terus sosialisasi dan beri pencerahan, jangan jual pusaka itu, tetapi kita simpan di museum yang akan kita bangun,” begitu Tison melakukan penyuluhan menyusul tidak terhitung banyaknya peralatan tradisional diboyong kolektor.

Tidak mudah mewujudkan ide itu, apalagi mendirikan museum yang memerlukan biaya pembangunan fisik dan pengadaan koleksi. Realitas di pulau selaus 9 hektar itu sudah padat dihuni 950 keluarga, umunya keturunan suku Bajo, Makasar, Selawesi Selatan itu cenderung. Para kolektor datang ke pulau berjarak 3 mil (sekitar 5,5 kilometer), 10 menit naik perahu, dari Pelabuhan Alas saat nelayan tidak melaut pada musim badai. Mereka menjual murah bennda peninggalan leluhur untuk menyambung hidup keluarganya. Wlhasil, saran Tison tidak digubris, malah mendapat cibiran. Ia sempat ikut “bermain,” tetapi mundur karena kehadirannya akan jadi pembenar dalam transaksi tersebut.

Setelah bergerilya mencari bantuan bagi pembangunan museum, Maret 2014, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB memberikan subsidi pembangunan, sementara lahan disediakan oleh warga. Masyarakat pun bergotong royong membangun fondasi museum seluas 10 meter x 10 meter dengan menimbun perairan sedalam 1,7 meter. Pembangunan terhenti karena tidak ada biaya, malah belakangan luluh lantak dibantai gelombang dan badai sehingga fondasi jeblok kedalaman 2 meter.

Demi biaya pembangunan museum, Tison mencari pekerjaan ke Timor Leste, tetapi tidak berhasil dan pulang kampung. Suatu hari, ia dan warga saling “curhat”  untuk mendapatkan solusi. Tidak diduga, keesokan harinya, 400 perahu nelayan membawa batu untuk menanggul fondasi bangunan yang rusak tadi, museum itu akhirnya berdiri Desember 2014, berupa rumah panggung.

Koleksinya ada yang dibeli dari uang patungan pengurus museum, hibah warga, ada pula berstatus pinjaman dan kontrak. Koleksi yang berstatus itu boleh dipajang di museum selama empat tahun dan pemiliknya berhak atas sewanya. Suasana ruangan koleksi berlantai papan itu sempit oleh ragam alat tangkap nelayan yang ditata seadanya. Pengunjung ke keramba dan museum itu rata-rata 30 orang.

Di situ dipajang sekitar 60 koleksi: rudal penyu, pencapit teripang dan mutiara, berbagai macam tombak untuk menangkap ikan, jaring hiu dan ikan berbagai ukuran, dayung, bendera-bendera, kerangka ikan paus, foto-foto nelayan tempo dulu, benda ritual adat, serta iko-iko (syair). Dari alat tangkap itu terungkap, betapa nenek moyang memanfaatkan sumber alam dengan labih arif dan bijak. Untuk menggunakan pencapit teripang, misalnya, nelayann hanya memantau dari atas perahuu dan menurunkan alat itu jika ada sasaran pasti.

Dengan ketelitian tinggi dan pemahaman arus bawah laut, obyek sasaran terperangkap pencapit. “Saat ini, kan, nangkep teripang harus nyelam puluhan meter. Karena alat menyelam seadanya, banyak nelayan yang mengalami kecelakaan dan tidak sedikit yang pulang hanya jenazahnya,” ujarnya.

Terumbu kaleng

            Tison juga berupaya memulihkan, airnya juga menurun karena dijadikan tempat pembuangan sampah dan limbah tempat rumah tangga. Bersama II rekannya dalam Kelompok Bungin Mandiri, ia mengumpulkan ribuan bekas wadah minuman kemasan kaleng/botol plastik dan kaca untuk dibikin terumbu karang bauatan. Limbah-limbah itu dirangkai, diikat kawat, ditempeli bibit terumbu karang, dan ditenggelamkan di perairan kampung tersebut.

Hasil uji coba memperlihatkan, korosi kaleng dan kawat merangsang tumbuhnya mikroorganisme yang menempel pada “terumbu kaleng” itu, sekaligus menstimulasi soft coral dan benih hard coral. Itu ditandai dengan pelekatan planula sebagai embrio koral. Kini, metode “terumbu kalng” itu disebarluaskan agar diterapkan di Teluk Tomini, Sulawesi Tengah, dan Konawe, Sulawesi Selatan. Awalnya, ide ini ditolak sementara warga karena warga kampung itu merupakan nelayan tulen yang hanya bekerja dan pelatihan guna budidaya perikanan yang dilaksanakan instansi di Nusa Tenggara Barat.

Hasilnya, kini terbangun keramba apung berbaghan jeriken bekas, plastik, fiberglass, hingga tripleks. Keramba ini dibuat petak-petak sebagai tempat pemiliharaan ikan. Warga tidak menyewa petak dan diberikan bibit. Dari total panen, 30 persen dikembalikan untuk pengembangan kelompok.

Saat ini, ada 25 warga yang terlibat dalam usaha budidaya ini. Budidaya perikanan itu dimulai dengan 600 benih ikan meski pada akhirnya yang selamat sekitar 200 ikan. Yang tidak kalah menarik, seluruh kegiatan yang dilakukan Tison diabadikan lewat novel karyanya. “Saya tinggal menumpahkan saja dalam tulisan itu atas apa yang saya rasa, lihat, dan dengar, baik cacian maupun pujian. Kan, saya pelakunya.

 

 

Sahabudin Husin

Lahir                : Labuan Burung, Alas, Sumbawa, 4 April 1989

Saudara           : Bungsu dari enam bersaudara

Orangtua         : Husin (almarhum), Amisah

Pendidikan      : SDN 2 Desa Pulau Bungin, lulus 2001, SMPN 1 Boer, Pernang, lulus 2004,

SMAN Alas Barat, lulus 20017, dan Diploma II Akademi Komunitas Negeri Sumbawa Juerusan Teknologi Pangan Perikanan lulus 2014

 

Sumber: Kompas. Sabtu, 16 Januari 2016

Rama Raditya Gaungkan Harapan Warga Kepada Pejabat Publik

Rama Raditya Gaungkan Harapan kepada Pejabat Publik. Kompas. 7 Januari 2016. Hal 16

Rama Raditya

Sebagian besar warga kota besar tidk mengenal lurah dan camat di tempat tinggal mereka. Padahal, merekalah ujung tombak kepentingan rakyat. Berbekal cita-cita membuat kota lebih layak huni, Rama Raditya (32) menciptakan aplikasi sosail untuk menjembatani komunikasi serta interaksi antara masyarakat dan pejabat publik.

Oleh Denty Piawai Nastitie

 

            Melaluli aplikasi Qlue, warga DKI Jakarata bisa berinteraksi dengan pejabat sipil dan melaporkan keluhannya. Laporan seperti tumpukan sampah, kepadatan lalu lintas, pohon tumbang, pedagang kaki lima, dan jalan berlubang disampaikan melalui foto dan catatan lokasi. Harapannya, lurah dan camat bisa segera menindaklanjuti laporan tersebut.

“dengan aplikasi Qlue, warga bisa berpartisipasi membuat Jakarta lebih nyaman dan layak huni. Pada waktu bersamaan, Pemprov DKI Jakarta bisa mengetahui apa yang paling dibutuhkan warga,” kata Rama. Keinginan Rama menciptakan Qlue terinspirasi dari pengalaman pribadinya. Lulusan Valley Forge Military Academy dan College, Wayne, Pennsylvania, Amerika Serikat, itu sering kesulitan dalam berkomunikasi dengan pemangku kebijakan. Dia juga kesal dengan berbagai masalah di Ibu Kota seperti birokrasi yang lama dan berbelit-belit. Seperti kebanyakan warga lain, Rama kesulitan melapor kepada pejabat terkait.

            “Bagaimana mau melapor, kenal dengan lurah atau camat saja enggak,” katanya. Dia lalu mendapat ide menciptakan aplikasi yang memudahkan masyarakat berinteraksi dengan pejabat sipil. Setelah rancangan aplikasi selesai dibuat, Qlue ditawarkan kepada Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Tak disangka, Basuki tertarik. Dia mengajak Rama berkolaborasi membuat program Smart City Jakarta.

Dalam program itu, Basuki menggabungkan laporan lain sehingga menjadi data suara publik yang menentukan kebijakan. Melalui portal smartcity.jakarta.go.id, masyarakat bisa mengakses sekitar 200 jenis informasi dari 25 satuan kerja perangkat daerah (SKPD), termasuk laporan melalui Qlue.

Aplikasi lain yang masuk dalam program Smart City Jakarta adalah Cepat Respons Opini Publik (CROP) yang dipakai pegawai negeri sipil Pemprov DKI Jakarta. Berbagai tanggapan atau tindakan yang diambil pejabat publik untuk perespons laporan masyarakat dipakai untuk menilai kinerja SKPD. “Mau enggak mau, sekarang lurah dan camat berlomba-lomba untuk perform,” tutur Rama.

Pakai ruko

            Seluruh aktivitas operasional Qlue dilakukan di sebuah ruko tiga lantaii yang difungsikan sebagai kantor di Jalan Warung Buncit Raya, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Lantai 1 dipakai untuk ruang tamu, lantai 2 sebagai ruang rapat serta ruang kerja perancang grafis dan ahli IT, sementara lantai 3 untuk ruang pemasaran produk. Sekitar 20 pekerja kreatif Qlue berusia 20-35 tahun. Mereka bekerja dalam posisi melingkar menghadap layar komputer datar. Tak ada sekat diantara meja pekerja sehingga suasananya terasa akrab san terbuka.

Pekerja kreatif Qlue mengenakan pakaian bebas, boleh berkemeja atu berkaus sesuai karakter masing-masing. “Kalau lagi bosan bekerja, kami biasanya main game,” tutur Rama. Qlue dikembangkan perusahaan lokal PT TerralogiQ Integrasi Solusi yang bermitra langsung dengan Google. Perusahaan itu didirikan Rama dan Andre Hutagalung (34) sejak 2013. “Kalau Rama banyak berperan menciptakan ide bisnis dan menawarkan produk, saya bekerja di balik layar mewujudkan ide itu,” tutur Andre.

Saat wawancara dilakukan, Kompas duduk di ruamh pertemuan bersama sejumlah kreator Qlue. Rama menanggapi wawancara melalui sambungan telepon-video yang dilakukannya dalam perjalanan ke suatu tempat. Wajah Rama muncul dalam layar datar di dinding. Komunikasi teleconference menggunakan teknologi Skype kerap dilakukan kreator muda ini untuk mengefektifkan waktu kerja.

Qlue diluncurkan Desember 2014. Dalam waktu singkat, aplikasi berbasis pemetaan data itu diunduh lebih dari 120.000 orang. Pengguna Qlue, menurut Rama, masih sedikit dibandingkan dengan jumlah penduduk Jakarta yang lebih dari 9 juta jiwa. Namun, setiap hari, ada lebih dari 1.000 laporan masuk ke dalam aplikasi ini.

Selain menyampaikan keluhan, pengguna juga bisa mengapresiasi kuliner, produk dan jasa, kesehatan, bisnis, pendidikan, serta berbagai kegiatan hiburan. Qlue bisa diunduh gratis melalui perangkat Andorid dan IOS. Saat pertama dioperasikan, tak semua pejabat sipil lihai dalam menggunakan ponsel pintar. Kebanyakan pejabat mengantongi gadget canggih, tetapi tidak bisa menggunakan berbagai fitur yang tersedia. Selain itu, masih banyak lurah dan camat yang ogah-ogahan menindaklanjuti laporan masyarakat.

Kebijakan Gubernur DKI Jakarta yang sering merombak susunan pejabat sipil lambat laun memengaruhi kinerja bawahannya. Para pemangku kebijakan di tingkat kelurahan dan kecamatan mulai tanggap dan belomba-lomba menjadi pelayan masyarakat yang terbaik. Qlue bukanlah aplikasi pertama yang diciptakan TerralogiQ untuk mendukung kinerja aparatur negara. Selain Qlue, Rama jua membuat sejumlah aplikasi berbasis pemetaan data lain. Salah satunya dipakai untuk mendukung kinerja Badan SAR Nasional (Basarnas).

Aplikasi diciptakan untuk memudahkan anggota Basarnas menangani musibah dan mengevakuasi korban bencana. Pada Oktober lalu, TerralogiQ meluncurkan aplikasi Qlue Transit yang bisa dipakai warga DKI Jakarta untuk memantau pergerakan dan kondisi bus transjakarta. Aplikasi ini juga diciptakan agar masyarakat bisa melaporkan kondisi halte yang mereka singgahi. Perusahaan ini juga membuat aplikasi untuk mendukung Smart City di 30 kkota dan kabupaten di Indonesia.

 

Coba-coba

Sebelum terjun dalam dunia bisnis, rama sempat pindah bekerja beberapa kali smapai membuat perusahaan sendiri. Saat pertama kali mendirikan PT TerralogiQ Integrasi Solusi, ia kerja serabutan. “Mulai dari fotokopo materi sampai jualan produk door to door,” kata Rama. Ptoduk pertama perusahaan ini adalah aplikasi berbasis pemetaan data yang dipakai perusahaan ritel minimarket dengan nilai sekitar Rp 200 juta. Uang yang terkumpul dipakai untuk mengembangkan Qlue. Sekarang, perusahaan ini memiliki delapan produk yang berhubungan dengan pusat komando berbagai sektor, mulai dari perkebunan, perbankan, ritel, hingga pemerintah. Rama beserta timnya bekerja sama dengan pemimpin perusahaaan, pemerintah, dan kementerian.

Rama Raditya

Lahir                : Jakarta, 30 Oktober 1983

Pendidikan      : Valley Forge Military Academy dan College Highschool Graduate,

Information Technology 2000-2002,

 

Strayer University, Bachelor of Applied Science, Computer and Information   Systems Security/Information Assurance 2002-2005,

 

Strayer University, Master of Science, Management Information Systems, General 2005-2007

 

Sumber: Kompas, Kamis, 7 Januari 2016

Pandu Radea Kreator Wayang Landung dari Panjalu

Pandu Radea Kreator Wayang Landung dari Panjalu. Kompas. 25 Januari 2016. Hal 16

Pandu Radea

Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, memiliki “kamonesan” atau ikon seni rakyat, yakni wayang landung, berupa wayang raksasa sejenis onde-ondel Sunda atau “badawang”. Walaupun merupakan pproyeksi dari wayang golek Sunda, wayang setinggi 3 meter-4 meter dengan berat sekitar 20 kiloram ini tidak dimainkan di panggung, tetapi digelar di jalanan dalam bentuk “helaran”.

Oleh Dedi Muhtadi

 

“Hasil karya seniman Panjalu ini mendapat apresiasi saat wayang landung tampil di Jembrana, Bali tahun 2007,” ujar Dedi Koesmana, Kepala Seksi Kebudayaan pada Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis, di Panjalu. Panjalu adalah nama desa dan kecamatan, 40 kilometer utara Ciamis, tempat asal kreatorny, dalang Pandu Radea (43). “Ide awalnya golek diperbesar dan diarak di jalan seperti badawang mungkin lebih menarik,” tutur Pandu.

Pandu juga terinspirasi seni tradisi bebegig Panjalu, yakni patung orang-orangan untuk menakuti-menakuti burung hama padi di sawah. Menurut cerita rakyat yang dibukukan. Djadja Sukardja (2001), Panjalu adalah bekas Kerajaan Sunda yang diperintahkan saecara turun-temurun oleh raja keturunan raja Galuh sekitar abad ke-8 Masehi (menurut catatan kebudayaan abad ke-15).

Masyarakat di desa itu menyimpan berbagai cerita dan peinggalan leluhur yang dipertahanka hingga kini. Salah satunya ritual adat upacara Nyangku, yakni membersihkan benda-benda peninggalan raja-raja Panjalu setiap bulan Maulud (Rabiulawal Hijriah). Tradisi Nyangku merupakan upaya pelestarian kearifan lokal, salah satunya menjaga air Situ Lengkong, danau seluas 67 hektar yang diyakini bekas keraton Kerajaan Panjalu.

Dari kearifan itulah, Pandu membuat wayang menggunakan bahan alami yang sudah tidak terpakai, seperti kayu kering di kebun rakyat, daun pisang kering (kararas) yang menjadi ciri khas dan dilengkapi janur (daun kelapa), dan aneka bunga. Hiasan janur yang berwarna putih/kuning digunakan untuk karakter wayang berwatak baik, sedangkan janur warna gelap digunakan untuk karakter sebaliknya.

Wayang setinggi 3 meter-4 meter ini mirip bonek besar badawang, tetapi wajahnya seperti wayang dan bisa dimainkan dalang seperti halnya wayang golek. Ada tiga jenis wayang landung, yakni untuk seni helaran, seni jugalan atau jogol, yakni cerita peperangan atau perkelahian, dan untuk cerita seperti wayang kecil. Dalam cerita itu bisa berlangsung dialog atau ngobrol lawakan antara wayang kecil dan wayang besar. Digelar di jalanan dengan musik pengiring yang fleksibel.

Heleran

Selama ini, seni helaran yang ada di Jawa Barat terkesan monoton. Seni itu juga cenderung pasif karena penonton hanya menyaksikan arak-arakan, kecuali seni tradisi sisingan, di mana penonton bisa ikut menari berkeliling mengikuti sisingaan itu berarak. “Pada wayang landung, penonton bisa berinteraksi dan mencoba mengusung wayang karena bisa dikompetisikan. Waktu gelar di Bandung, ada orang Jepang yang mencoba, tetatpi dia kealahan,” kata Pandu.

Untuk memainkan tiap wayang raksasa Ciamis ini, masing-masing butuh satu orang yang bertugas memikul. Ia masuk ke dalam tubuh wayang, lalu bergerak-gerak mengikuti alunan musik dan cerita. Landung dalam bahasa Sunda adalah tinggi semampai dan dulu disebut jalugjug, yakni seni tradisi rakyat Ciamis. Wayang-wayang itu diarak berkeliling diikuti riang gembira warga. Di sebuah lapang, wayang-wayang itu akan berlaga. Pada  atraksi jugalan, wayang itu mengadu kesaktian.

Semakin cepat iringan musik, disertai riuhnya teriakan, semakin seru pula perkelahian wayang sampai salah satunya hancur. “Kalau sudah terjatuh telentang, biasanya pengusung tidak bisa bangun karena berat, ia pun kalah. Kalau jatuhnya telungkup, dengan mudah ia banun lagi karena kedua tangannya berfungsi,” ujar Radea.

Seni ini mulai diperkenalkan tahun 2003 dalam perlahatan Internasional Kite Festival di pantai wisata Pangandaran. Tahun 2007, wayang landung tampil dalan festival seni di Jembrana, Bali. Pada Kemilau Nusantara di Bandung 2012, wayang landung juara dua setelah dalang Pandu menampilkan ceritera Babad Alas Amer, yakni kesatria Pandawa melawan pasukan pimpinan Durga.

Di setiap pergelaran, Dalang Pandu biasanya membawa gunungan wayang landung, berputar mengelilingi tempat pertunjukan dan berdoa. Gunungannya berupa tongkat dari sintung kelapa kering yang dirangkai dengan tanaman kering lainnya seperti rambut jagung. Asap kemenyan terus mengepul untuk memberikan warna dan aroma tradisi. Berikutnya, wayang masuk ke dalam arena, mereka pun saling beradu.

Filosofi wayang golek

Dalang harus bisa menguasi emosi pemain wayang yang terkadang lepas kontrol saat bergerak dan berkelahi. Berdoa kepada Yang Mahakuasa disertai mencakra tanah merupakan ritual yang harus dikerjakan sebelum pementasan. Tujuannya agar jalannya pertunjukan lancar. Pada wayang ini, Pandu tetap menyelipkan filofi wayang golek, tetapi lewat sentuhan lain. Kini, ia masih menyimpan obsesi untuk menyajikan pertunjukan wayang landung lewat cerita utuh. Diantaranya dengan menyiapkan semua karakter wayang yang dibutuhkan.

Jumlah pemain wayang landung sendiri dapat mencapai puluhan orang. Oleh karena itu, seni ini terbuka untuk menjadi alternatif pergelaran kolosal yang melibatkan banyak pihak. “Lima puluh orang pernah dilibatkannya dalam salah satu pertunjukan. Ini sesuai ide awal penciptaannya, yakni melibatkan banyak seniman,” ujarnya.

Paa saat proses kreatifnya, Pandu dibantu seniman Sunda, Eras Rosadi, untuk musik gendingnya. Adapun tata tarinya dibantu Wawan Munding. Arsiteknya oleh seniman bebeging Aan Panjalu dan penata artistiknya Mang Ganda, seniman siluet dari Panjalu juga. “Ini proyek seni bersama dengan melibatkan semua seniman dari berbagai ganre di Ciamis,” ungkap Pandu. Kaena itu pula, daerah lain yang ingin mengembangkan wayang landung akan disambut baik. Menurut dia, semakin luas wilayah pengembangannya, semakin besar pula kemungkinan kesenian ini menjadi tradisi, khususnya di Jawa Barat. Atraksi seni akan menjadi tradisi apabila sudah dipertahankan masyarakat lebih dari 100 tahun.

“Kami hanya titip bahwa titipmangsa wayang landung sebagai kesenian khas Panjalu Ciamis sesuai hak ciptanya,” tambah kreator seni yang pernah mengenalkan wayang ajen di Spanyol, Perancis, dan Korea Selatan dalam misi kesenian wayang untuk dunia ini.

Pandu Radea

Lahir                : Panjalu, Ciamis, 25 Mei 2973

Pendidikan      : SD Kawali, Ciamis (1987), SMP Kawali (1990), SMAN Kawali (1993),

STSI Bandung

 

Pekerjaan         : Dalang dan pekerjaan seni

Istri                  : Nining Sukaesih (42)

Anak               : Aria P (15) dan Pribasidar S (11)

 

Sumber: Kompas, Senin, 25 Januari 2016

Okta Saputra Pembuat Pembasmi Nyamuk Alami

Okta Saputra Pembuat Pembasmi Nyamuk Alami. Kompas. 22 Januari 2016. Hal 16

Okta Saputra

Sayang kalau kulit batang duku itu hanya dibakar di kebun. Itulah yang menginspirasi Okta Saputra (16) mengolah kulit batang duku yang selama ini dianggap sampah menjadi produk bermanfaat. Kulit batang duku ternyata bisa dijadikan pembasmi nyamuk alami yang ampuh.

Oleh Rhama Purna Jati

             Saat berlibur di kebun kakeknya di Desa Durian, kecamatan Peninjauan, Baturaja, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, Juli 2014, Okta melihat sang kakek memungut kulit batang dari tanaman duku yang telah tua dan mengumpulkannya. Setelah terkumpul, kulit batang duku itu lalu dibakar. “Biasanya, saat tanaman duku telah tua, kulit batang akan terkelupas dengan sendirinya,” kata Okta, Rabu (13/1).

Asap yang ditimbulkan dari pembakaran kulit duku itu ternyata ampuh mengusir nyamuk yang merebak di arela kebun. Anehnya, belum banyak orang yang tahu tentang manfaat kulit batang duku sehingga masih banyak yang menyia-nyiakannya. Okta yang mengaku suka meneliti sejak SMP itu melihat peluang yang belum dimanfaatkan. “Semula, banyak nyamuk hinggap ke tubuh. Namun, saat asap menyebar, nyamuk langsung menjauh,” ucapnya.

Akan tetapi, apabila penggunaannya tetap dilakukan dengan cara dibakar, tentu akan sulit diterapkan. “Karena itu, saya membuat produk yang lebih praktis dengan merancangnya seperti parfum,” kata Okta yang kini duduk XI SMA Negeri Sumatera Selatan. Butuh waktu sekitar saru tahun untuk memformulasikan kulit batang duku menjadi produk pembasmi nyamuk yang efektif dan aman. Berbekal sarana penelitian ddi sekolah yang memadai, sejumlah jurnal terkait penelitian desinfektan, dan bimbngan guru kimianya, Nur Padmii Tyastuti, Okta berhasil mengonversikan kulit batang duku menjadi cairan layaknya pembasmi nyamuk yang banyak dikenal orang.

Dikatan Okta, ada perbedaan mendasar antara pembasmi nyamuk yang biasa dijual di pasaran dan produk ciptaannya. Karena dibuat dari bahan alami, produk ciptaannya tidak memberikan efek samping bagi tubuh apabila terhirup. Dalam kulit batang duku terkandung flavonoid dan saponin yang ampuh mengusir nyamuk. Untuk mengekstraksi kandungan itu, ada beberapa cara yang harus dilakukan. Proses dimulai dengan pengeringan kulit batang hingga tingkat kadar airnya berkutang. Lalu, kulit batang kering itu dipanggang dalam oven dengan suhu 100 derajat celsius dalam jangka waktu dua jam. Setelah itu, kulit batang diblender hingga halus. Langkah selanjutnya, maserasi (salah satu cara untuk melakukan ekstraksi) dengan mencampurkan tepung kulit batang duku dengan larutan metanol.

“Hasil penacampuran tersebut disimpn di suhu kamar dalam jnagka waktu tiga sampai lima hari. Dengan cara ini, kandungan konsentrt flavanoid dan saponin akan keluar dari kulit tersebut,” tutuur Okta. Kemudian, dilakukan penyaringan untuk memisahkan residu dengan cairab zat flavanoid dan saponin. Terkait keefektifan produk ini, Okta telah melakukan uji coba langsung. Dia mengumpulkan nyamuk dari jentik nyamuk yang dikembangkan di dalam wadah. Ada empat sampel pengujian. Setiap sampel diujikan dengan kadar flavanoid dan saponin yang berbeda.

Setelah pengujian, dalam racikan 15 gram limbah kulit batang duku dicampur dengan 150 mililiter metanol menghasilkan 100 mililiter anti nyamuk yang terbukti ampuh membasmi nyamuk dengan tingkat efektifvitas mencapai 86 persen. “Dari 20 nyamuk di dalam wadah, 17 nyamuk di antaranya mati,” ujar Okta yang bercerita-cita melanjutkan pendidikan ke Jurusan Teknik Industri Institut Teknologi Bandung.

Ikut olimpiade

Yakin dengan penemuan ini, Okta ikut dalam ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) yang digelar di Surabaya, Oktober lalu. Penelitian yang diberi judul “Pemanfaatan Limbah Kulit Batang Duku (Lansium Domesticum Corr) sebagai Bio Mosquito Repellent yang ramah lingkungan” ini dikirimkan ke kompetisi tersebut pada Juni 2015.

Pada September, Okta mendapat kabar bahwa penelitiannya masuk dalam 88 penelitian yang lolos ke tahap selanjutnya. Dalam olimpiade itu, Okta dan ke-87 peneliti lain harus memaparkan dan menunjukkan hasil penelitian di hadapan juri. Hasilnya, ia mendapatkan pengahargaan khusus dalam ajang yang digelar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tersebut.

Dari penelitian itu, juri menilai Okta mampu memanfaatkan potensi yang ada di daerahnya menjadi hal yan bermanfaat. Ogan Komering Ulu jug adikenal dengan komoditas buah duku. Sejumlah lahan yang ada di daerah itu juga digunakan untuk perkebunan duku. Bahkan, duku Komering telah tersohor gingga ke seluruh Nusantara.

Dalam perhitungan dia, 1 hektar tanaman duku bisa menghasilkan kulit batang duku sampai 15 kilogram. Apabila dikumpulkan dan didaur ulang menjadi pembasmi nyamuk, limbah itu tentu dapat dijadikan produk yang diedarkan secara komersial. Terkait keberhasilan dari proses penelitian ini, sebuah Universitas negeri di Sumatera Selatan menawarkan kerja sama penelitian untuk dikembangkan ke tahap selanjutnya. Menurutnya, masih ada banyak hal yang harus dibenahi, termasuk jika produk inji dijual ke pasar.

‘Namun, sampai saat ini, penelitian masih pada tahap pengembangan,” kata Okta. Tidak hanya obat pembasmi nyamuk, karena baunya yang unik dan tidak menimbulkan efek samping bagi kulit orang dewasa, penemuannya itu dapat digunakan sebagai parfum. Saat berlibur dengan teman satu asrama, Okta menyemprotkan produk tersebut pada kulitnya dan beberapa teman. Hasilnya harum dan tidak ada nyamuk yang mendekat.

Rencana penelitian tidak berhenti sampai di situ. Penasaran dengan khasiat duku. Okta berkeinginan membuat kulit duku untuk mengusir nyamuk. Dalam sejumlah jurnal, kulit duku juga dapat mengusir nyamuk. “Ke depan, saya ingin mencoba mengubah kulit duku menjadi bentuk cair dengan mekanisme penelitian yang sama. Semoga dapat mengusir nyamuk seefektif dengan kulit batang duku,” ucap sulung dari dua bersaudara ini.

 

Okta Saputra

Lahir                            : Palembang, 12 Oktober 1999

Orangtua                     : Yanto Susilo dan Rusdiana

Saudara Kandung       : Zahra Nabila

Pendidikan                  : SD Patra Mandiri I Plaju, Palembang, SMP Negeri 20 Palembang,

SMA Negeri Sumatera Selatan, Palembang

 

 Sumber: Kompas, Jumat, 22 Januari 2016

Nur Choliq Menjaga Kekayaan Laut Karimunjawa

Nur Choliq Menjaga Kekayaan Laut Karimunjawa. Kompas. 11 Januari 2016. Hal 16

Nur Choliq

Selama bertahun-yahun, Nur Choliq (44) menggerakan tema-temannya sesama nelayan menjaga kelestarian laut Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Dia tidak hanya aktif menyosialisasikan cara mencari ikan tanpa merusak lingkungan, tetapi juga ikut menangkap nelayan nakal yang membahayakan kelestarian laut. Tak jarang, tindakan tegasnya mengundang serangan balik yang membahayakan.

Oleh Haris Firdaus

 

Nur Choliq adalah warga Desa Kemajon, Kecamatan Karimunjawa, Jepara. Selama beberapa tahu terakhir, dia menjabar Ketua Sentra Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) di Desa Kemajon. Pembentukan SPKS diinisiasi Balai Taman Nasioal Karimunjawa dengan tujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kelestarian lingkungan.

“Di Desa Kemajon, SPKP terbentuk sejak tahun 2008. Namun, organisasi ini sempat tidak aktif sekitar dua tahun. Sejak 2010, SPKP kembali aktif,” ujar Choliq. Kepulauan Karimunjawa, yang terdiri atas 27 pulau, merupakan tempat bertemunya bnyak kepentingan. Kepulauan itu sejak lama dikenal sebagai salah satu tujuan wisata favorit di Indonesia. Selain tempat wisata, kepulauan ini juga memiliki kekayaan laut yang melimpah dan menjadi sumber penghidupan ribuan nelayan di sana. Sejak 2009, pemerintah menetapkan Karimunjawa sebagai taman nasional sehingga aktivitas di kepulauan itu harus memperhatikan kaidah pelestarian lingkungan.

Berdasarkan data Balai Taman Nasional Karimunjawa, luas Taman Nasional Karimunjawa mencapai 111.625 hektar. Taman nasional itu terdiri atas sembilan zona, yakni zona inti, zona rimba, zona perlindungan bahari, zona pemanfaatan darat, zona pemanfaatan wisata bahari, zona budidaya bahari, zona rehabilitas, zona perikanan tradisional, serta zona religi, budidaya, dan sejarah. Di setiap zona ada aturan terkait aktivitas apa saja yang boleh dilakukan dan dilarang.

Choliq menjelaskan, tugas SPKP, antara lain, menyosialisasikan pembagian zona di Taman Nasional Karimunjawa dan aturan-aturan di setiap zona. Di zona inti, masyarakat dan nelayan dilarang beraktivitas karena zona itu tidak boleh mengalami perubahan akibat aktivitas manusia. Di zona inti, aktivitas yang diperbolehkan hanyalah kegiatan penelitian, pendidikan, pemantauan, dan pengamanan.

Dia menambahkan, sebelum SPKP terbentuk, hubungan antara masyarakat dan Balai Taman Nasional Karimunjawa sempat tegang. Pasalnya, pemberlakuan zona di Karimunjawa dianggap membatasi warga mencari penghidupan. Namun, perlahan-lahan, ketegangan itu mencair. Choliq merekrut kepala dusun di Desa Kemajon untuk menjadi anggota SPKP. Dengannya, sosialisasi kepada warga menjadi lebih mudah. Selain itu, Choliq juga hadir dalam berbagai pertemuan masyarakat, misalnya pengajian dan arisan, untuk menyosialisasikan pentingnya menjaga kekayaan laut Karimunjawa. “Hasilnya, sekarang sebagian besar masyarakat Desa Kemajon sudah sadar tentang pentingnya menjaga lingkungan tetap lestari,” ujarnya.

Patroli dan menangkap

Selain di SPKP, Choliq juga aktif dalam organisasi Masyarakat Mitra polisi Kehutanan (MMP). Berbeda dengan SPKP yang fokus pada sosialisasi ke masyarakat, MMP aktif berpatroli di laut. Bersama nelayan yang menjadi anggota MMP dan petugas Balai Taman Nasional Karimunjawa, Choliq pernah menangkap nelayan nakal.

Choliq menuturkan, operasi penangkap nelayan nakal biasanya berawal dari laporan nelayan lokal yang melihat pelanggaran di laut. Setelah ditangkap, kapal milik nelayan nakal itu akan ditarik ke dermaga Karimunjawa dan awaknya diproses secara hukum hingga pengadilan.

“Penangkapan nelayan yang nakal tidak bisa dilakuakn sembarangan. Biasanya, kam, mereka bergerombol, jadi tidak bisa kami menangkap semuanya. Yang bisa ditangkap biasanya nelayan yang sedang menebar jaring karena mereka sulit lari,” ujarnya. Upaya Choliq dan kawan-kawannya itu bukan tanpa hambatan. Sering kali, nelayan itu harus rela meminjamkan kapal untuk dipakai patroli tanpa biaya sewa, bahkan iuran membeli bahan bakar.

Kadang-kadang, mereka juga mendapat intimidasi dari nelayan nakal yang tidak terima dengan kegiatan penertiban itu: “Pernah ada beberapa kapal nelayan dari daerah lain yang ingin menabrak salah satu kapal nelayan Karimunjawa karena mereka tidak terima dengan patroli dan penertiban yang kami lakukan,” kata Choliq. Bahkan, Choliq dan teman-temannya pernah berhadap-hadapan dengan seorang aparat penegak huku, yang mengawal sebuah kapal tunda (tugboat) penarik tongkang batubara. Menurut Choliq, peristiwa itu terjadi pada September 2015. Saat itu, kapal tunda tersebut mengikatkan tali di terumbu karang untuk bersandar. Aktivitas itu berpotensi menyebabkan kerusakan terumbu karang sehingga Choliq dan teman-temannya bertindak.

Lalu, bersama petugas Balai Taman Nasional Karimunjawa, mereka mendatangi kapal itu untuk mengingatkan. Namun ternyata di dalam kapal tersebut ada oknum petugas yan mengawal. “Lalu, si petugas malah memarahi kami. Ini yang kami sayangkan,” ujar Choliq. Meski mendapat berbagai hambatan, Nur Choliq tidak lelah berujung demi kelestarian lingkungan Karimunjawa. Belakangan, dia ikut memperjuangan tercapainya kesepakatan bersama di antara nelayan Karimunjawa tentang pengelolaan sumber data laut di kepulauan tersebut. Kesepakatan itu, antara lain, berisi larangan ikan dengan peralatan yang merusak ikan dengan peralatan yang merusak lingkungan, misalnya bom, potasium, dan cantrang.

Selain itu, penangkapan ikan dengan panah dan alat bantu kompresor juga dibatasi. Sebagaian nelayan Karimunjawa memang masih kerap mencari ikan dengan cara menyelam ke bawah laut, lalu menangkap ikan dengan panah. Mereka biasanya menggunakan kompresor sebagai alat bantu penyelaman. Cara semacam itu dianggap tak ramah lingkungan karena penyelam bisa menangkap ikan secara berlebihan. Kadang. Penyelam menginjak-injak terumbu karang sehingga menimbulkan kerusakan lingkungan.

“Nelayan di Pulau Kemojan sudah sepakat tidak memakai panah dan alat bantu kompresor dlam menangkap ikan. Namun, di pulau lain di Karimunjawa, penangkap dengan cara itu masih diperbolehkan.. jadi, perjuangan kami memang masih panjang,” kata Choliq.

Nur Choliq

Lahir                : Karimunjawa, 11 November 1971

Keluarga          : Satu istri dan dua anak

Pekerjaan         : Nelayan dan pedagang

Aktivitas         : Ketua Sentra Penyuluhan Kehutanan Pedesaan di Desa Kemojan, Pengurus

Masyarakat Mitra Polisi Kehutanan di Desa Kemojan

 

Pendidikan      : SD Kemojan 1, Karimunjawa, Madrasah Tsanawiyah Darul Hikmah, Jepara

Sumber: Kompas, Senin, 11 Januari 2016

Sugeng Hariyono Motor Pustaka Si Penambal Ban

Motor Pustaka Si Penambal Ban.Kompas.27 Januari 2016.Hal.16

Mungkin hanya Sugeng Hariyono (32), tukang tambal ban yang disapa “Pak Guru”. Sapaan itu semacam bentuk penghormatan dari warga kampung yang setiap sore menantinya untuk meminjam buku secara gratis. Ya, di sela-sela pekerjaannya sebagai tukang tambal ban, Sugeng menjalankan perpustakaan keliling di atas sepeda motor butut.

OLEH VINA OKTAVIA

 

Saat anak-anak di Desa Lebungnala, Kabupateb Lampung Selatan, asyik mengaji di masjid, Sugeng memarkir sepeda motor GL Max tahun 1986 di halaman rumah warga. Begitu selesai mengaji, anak-anak langsung berhamburan menghampirinya. Mereka menyerbu “rak buku” berupa tas besar yang Sugeng letakkan di jok motornya.

Dia membiarkan anak-anak mengacak-acak tempat buku yang ia rancang mirip tas pegawai pos. “Lebih baik buku ini diacak-acak dan dibaca daripada hanya ditata rapi, tapi tidak ada yang baca,” kata Sugeng, Kamis (14/1). Dia sebut sepeda motor dengan tas berisi buku itu sebagai perpustakaan keliling.

Dengan telaten, lulusan Diploma II Ilmu Perpustakaan Universitas Pokjar, Ponorogo, Jawa Timur, itu mencatat judul buku yang dipinjam setiap anak. Mereka boleh meminjam buku sebanyak-banyaknya untuk dibaca dan dikembalikan pekan depannya.

Seusai menemani anak-anak membaca serta melayani peminjaman buku, Sugeng berkeliling ke gang-gang lain. Anak-anak yang hafal jadwal kedatangannya sudah menunggu di depan rumah. Mereka siap mengembalikan buku lama dan meminjam buku baru.

 

Modal Tekad

Kecintaan Sugeng pada buku sudah muncul sejak kecil saat ia tinggal di Ponorogo. Namun, ia kerap tidak dapat memuaskan hobi membaca. Maklum, di kampung tidak banyak tersedia buku.

“Saya hanya dapat meminjam buku dari perpustakaan sekolah. Itu pun tak bisa di bawa pulang. Saya tidak ingin mereka (anak-anak yang dijumpai Sugeng di Lampung) mengalami nasib seperti saya,” katanya.

Kenangan masa kecil itulah yang menggerakkan pemuda tersebut untuk mengenalkan buku kepada anak-anak di sudut kampung di Lampung yang menjadi daerah perantauannya. Pertanyaan dari seorang tetangga pada suatu sore dua tahun lalu kian mengusik nuraninya.

“Perpustakaan itu apa, Mas?” ujar Sugeng mengenang. Saat itu, ia bertanya kepada seorang warga dimana alamat perpustakaan terdekat. Di luar dugaannya, orang itu bahkan tak paham arti perpustakaan.

“Mendengar jawaban itu, saya semakin yakin harus berbuat sesuatu di desa ini. Saya memulainya dengan memperkenalkan buku,” ujarnya.

Namun, usaha itu bukan soal mudah bagi Sugeng yang sehari-hari bekerja sebagai tukang tambal ban. Pendapatannya tidak menentu. Jika ramai pelanggan, ia bisa mendapatkan uang Rp 40.000 sehari. Jika sebaliknya, ia bisa saja tidak mendapatkan uang sama sekali. Dengan pendapatan sekecil itu, jangankan menyisihkan uang untuk membeli buku, membayar uang sewa rumah dan usaha saja ia tak mampu.

Selama beberapa waktu, ia menumpang usaha tambal ban di bengkel milik slaah satu warga yang membuka usaha reparasi sepeda motor. Ia juga diizinkan untuk tinggal di kios milik warga yang baik hati itu.

Belakangan, kios itu disewa orang sehingga Sugeng harus angkat kaki. Ia terpaksa tinggal di bekas kandang burung merpati yang sudah dibersihkan. Sebenarnya ada sanak keluarga di Lampung, tetapi ia ingin mandiri.

Impiannya memperkenalkan buku kepada anak-anak seperti jauh panggang dari api. Namun, kalau sudah punya tekad, pasti ada jalan. Sugeng menabung beberapa lama hingga terkumpul uang Rp 500.000. Dana tersebut untuk membeli sepeda motor bekas dari tukang rongsokan. Ia merancang sendiri tas besar sebagai rak buku, lalu membeli 60 buku bekas untuk koleksi awal perpustakaan kelilingnya.

Setelah semuanya beres, setiap sore, Sugeng meluangkan tiga jam waktunya untuk menemui anak-anak. Kini, sepeda motor yang menemaninya berkeliling kampung untuk meminjamkan buku ia beri nama “Motor Pustaka”.

Saat pertama kali berkeliling kampung pada Maret 2014, ia sempat dikira pedagang asongan. Banyak warga bertanya, berapa uang yang harus dibayar untuk setiap buku yang dipinjam. “Saya bilang gratis, dan itu membuat warga heran,” ujarnya.

Awalnya, Sugeng kesulitan membujuk anak-anak untuk membaca buku. Namun, kedatangannya setiap sore membuat anak-anak di kampung itu  terbiasa membaca buku. Minat mereka untuk membaca dan meminjam buku Sugeng mulai tampak. Setiap keliling, hampir 30 buku yang dibawanya dipinjam. Bahkan, orangtua mereka pun ikut meminjam buku.

Namun, saat minat warga tumbuh, mereka mulai protes karena buku-buku yang Sugeng bawa selalu sama. Mereka bosan kalau harus membaca ulang buku-buku itu.

Sugeng pun mulai mempublikasikan kegiatannya di berbagai media sosial agar mendapat sumbangan buku. Ia sadar, penghasilannya sebagai tukang tambal ban tak cukup untuk membeli banyak buku baru.

“Saya tak ingin semangat membaca anak-anak dan warga sekitar redup karena buku bacaan yang itu-itu saja. Saya pun memutuskan menggalang sumbangan buku lewat akun Facebook,” katanya.

Usaha itu tak sia-sia. Ia banyak menerima sumbangan buku bacaan dari teman-temannya di dunia maya. Bantuan buku juga ia terima dari sejumlah komunitas membaca di sejumlah daerah.

Kini, buku bacaan koleksinya mencapai 1.800 buku. Jangkauan keliling Sugeng pun lebih luas, dari hanya satu desa menjadi empat desa.

Keinginan Sugeng untuk memajukan warga desa tak sekadar memperkenalkan buku. Ia juga membuka kursus komputer gratis bagi remaja di empat desa tersebut.

 

Kapal Pustaka

Balai desa dimanfaatkan sebagai ruang belajar. Warga pun dengan sukarela meminjamkan komputer jinjing yang dimilikinya. Setiap Sabtu malam, ada sekitar 30 anak yang belajar mengoperasikan komputer.

“Saya mengajak beberapa warga yang mahir komputer untuk menjadi mentor. Anak-anak belajar banyak hal, misalnya mendesain gambar dan mengunggah gambar,” katanya.

Sugeng lalu meminta anak asuhnya untuk mempromosikan produk pertanian warga. “Mereka mulai berani mempromosikan jadung dan padi hasil panen orangtuanya masing-masing. Meski belum sukses menggalang langganan lewat internet, setidaknya mereka belajar,” katanya.

Inisiatif Sugeng untuk memperkenalkan buku dan membuka kursus komputer gratis membuat anak-anak kampung bersemangat belajar. Mereka yang semula berencana merantau ke Jakarta setelah lulus sekolah pun optimistis untuk berusaha di kampung sendiri dengan memnafaatkan kemajuan teknologi.

Saat ini, dengan bantuan donatur, Sugeng tengah memesan sebuah kapal kayu. Menurut rencana, kapal itu akan digunakan untuk mengunjungi pulau-pulau kecil di pesisir Lampung, seperti Pulau Harimau dan Pulau Sebesi, dengan “kapal pustaka”.

Sugeng berharap perpustakaan keliling berkembang di setipa desa di Lampung. Untuk mewujudkan mimpi itu, ia bekerja sama dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dengan mendirikan komunitas relawan membaca 15 menit. Sugeng juga melanjutkan Kuliah Strata 1 Perpustakaan di universitas Terbuka Lampung dengan bantuan donatur. “Saya mengajak relawan berkeliling ke sekolah dasar untuk membacakan cerita di depan kelas. Dengan begitu, anak-anak SD terbiasa dengan buku,” ujarnya.

Di benak anak-anak yang kini gemar membaca buku, Sugeng tak ubahnya seorang guru. Pak guru yang telah mengajarkan mereka tentang asyiknya membaca buku dan belajar. Ia menumbuhkan semangat belajar dan minat baca anak-anak dari sudut kampung.

 

SUGENG HARIYONO

▪ Lahir : Ponorogo, 5 Mei 1983

▪ Pendidikan :

  • SD Negeri 1 Karang Patihan, Ponorogo, Jawa Timur
  • SMP Muhammadiyah 4 Balong, Ponorogo, Jawa Timur
  • SMA Negeri 1 Balong, Ponorogo, Jawa Timur
  • D-2 Ilmu perpustakaan Universitas Pokjar, Ponorogo, Jawa Timur
  • Saat ini menempuh studi S-1 Perpustakaan di Universitas Terbuka Lampung

▪ Orang tua : Saptono dan Katirah

▪ Saudara :

  • Siti Nur Kasanah
  • Tri Yudi Setiawan
  • Ahmad Teguh Santoso

UC Lib-Collect

 Kompas. Rabu. 27 Januari 2016. Hal. 16

 

Zahrotur Riyad Menekan Kehamilan Remaja Di Pesisir Batam

Menekan Kehamilan Remaja di Pesisir Batam.Kompas.23 Januari 2016.Hal.16

Zahrotur Riyad (38) kerap ditanya,mengapa dokter gig malah sibuk membantu remaja agar sadar kesehatan reproduksi . Apalagi , ibu tiga anak itu juga kerap ahrus mengeluarkan uang yang jumlahnya tidak sedikit untuk menjangkau remaja di pulau-pulau pesisir Batam,Kepulauan Riau, yang menjadi sasaran kepanyenya.

 

OLEH KRIS RAZIANTO MADA

 

“Saya tidak ingin ikut menjadi hakim tanpa memberi penyelesaian apa pun. Lebih baik saya melakukan sesuatu.Kalau belum terjadi, saya ingin ikut mencari solusi ke depan agar bisa lebih baik,” tutur istri Ahmad Khalis Tontowi itu.

Ia tengah membahas fenomena kehamilan dini dan hubungan badan pra nikah yang marak di kalangan remaja Kecamatan Galang,Batam. Setiap tahun, banyak pelajar berhenti sekolah karena hamil.

“Saya pernah diajak memeriksa ke SMA.Hasilnya ada 10 orang hamil dan banyak lagi sudah terbiasa berhubungan badan ,” ujar dokter gigi di Puskesmas Galang, puskesmas yang melayani warga 40 pulau di pesisir Batam,itu.

Untuk remaja itu, persoalan tidak selesai dengan hanya menuding mereka tidak bermoral menuding mereka tidak bermoral.Bahkan , penghakiman tanpa upaya pendampingan justru hanya akan memperparah keadaan .

Tidak jarang pelajar yang kedapatan hamil dikeluarkan dari sekolah.Keputusan itu membuat remaja tersebut tertimpa masalah berkali-kali ,Sebab,remaja itu kehilangan kesempatan menuntut ilmu.Pelajar itu juga akan dipaksa menjadi orangtua dalam usia dini dan tanpa pengetahuan soal berkeluarga atau merawat anak.

“ Saya merasa ikut bertanggung jawab ,Sebagai tenaga kesehatan dan sebagai ibu, saya merasa tidak bisa diam melihat fenomena yang meluas di pulau-pulau itu.Remaja melakukan hal yang belum selayaknya di usia mereka.Saya harus melakukan sesuatu,” tutur lulusan Universitas Airlangga ,Surabaya , ini.

Pemikiran itu yang membuatnya menghidupkan lagi Program Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) di Puskesman Galang. Meski bukan dokter kandungan ,ia bersedia menangani program yang membuatnya bertemu banyak pelajar di pulau-pulau pesisir Batam.

 

Konselor Remaja

            Apa yang dilakukannya dalam PKPR diceritakan di sela pelayaran dan perjalanan ke Pulau Air Raja,salah satu pulau pesisir timur Batam . Diperahu kayu yang mengantar ke Pulau Air Raja , ia menyusun tas berisi peralatan pemeriksaan kesehatan gigi.Semua peralatan dibawa dari tempat praktik pribadinya.

Peralatan itu harus dibawa Karena Zahro mau memberikan pelayanan kesehatan untuk warga pulau.Sebelum pengobatan untuk warga dimulai,ia mampir ke SMA di pulau itu.Di SMA itu,ia bertemu dengan sejumlah pelajar yang tergabung dalam Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK – KRR) . Zahro membina 12 PIK-KRR di seluruh Galang.

“Ada di SMA,MTS, dan SMP, Anggota PIK- KRR menjadi konselor sebaya untuk pelajar ,” ujar perempuan asal Lumajang Jawa Timur,itu

Secara rutin,Zahro menemui PIK- KRR di setiap sekolah secara bergantian.Dalam pertemuan ,Zahro menanyakan perkembangan kegiatan PIK-KRR . Ia juga memberikan tambahan pengetahuan soal kesehatan reproduksi remaja.

“ Mereka akan menyampaikan kerekan-rekannya soal bahanya hubungan badan pra nikah dan kehamilan di usia dini. Mereka menyampaikan dalam bahasa sesame remaja,”tuturnya.

Kampanye dengan bahasa formal,menurut dia,akan sulit diterima remaja itu.Bahkan,amat mungkin mereka justru menolak jika kampanye disampaikan secara hitam putih dengan gaya birokrat atau guru.

“Tahu-tahu menyatakan tidak boleh,haram .Tidak bisa seperti itu. Akan lain kalau disebarkan  dengan behasa sesama remaja,”ujarnya.

Penyebaran itu diharapkan membuat remaja di pesisir Batam sadar tentang bahaya hubungan badan di usia dini bisa berkurang.Dengan cara itu,diharapkan pelaku hubungan badan usia dibi bisa berkurang .

“Memang sampai sekarang masih terus ada kasus baru.Karena itu,saya dan rekan-rekan konselor sebaya justru harus bekerja lebih keras,”katanya

Apabila ada persoalan terlalu berat, seperti ada yang sudah terlanjur hamil.Zahro turun tangan . Untuk mereka, fokus Zahro adalah pendampingan agar siap berkeluarga di usia dini.

“Menurut undang-undang,mereka masih anak-anak dan sama sekali tidak punya pengetahuan tentang bagaimana menjadi orangtua. Akan seperti apa kalau mereka tetap dibiarkan tidak tahu dan tanpa pendampingan ,”tuturnya.

Zahro menekankan soal menghindari kekerasan dalam rumah tangga,cara mengasuh anak,dan komunikasi pasangan.Mereka juga dirujuk untuk rutin memeriksakan kehamilannya.

“Banyak remaja hamil tidak melapor ke bidan atau puskesmas Karena mereka ingin menyembunyikan itu.Kondisi ini justru membahayakan janin dan ibunya,”ungkapnya.

 

Layanan Gratis
                Memang,tidak setiap saat Zahro bisa bertatap muka dengan para konselor sebaya ataupun remaja yang menjadi korban pergaulan . Sebagian besar tinggal di pulau-pulau pesisir Batam dengan akses ternsportasi terbatas.

          Untuk ke sana,sering Zahro harus menyewa perahu jika tidak ada perahu tambang umum.Ia tak bisa mengandalkan anggaran dari pemerintah Karena memang tidak ada anggaran khusus untuk kegiatannya.

Dana kegiatan itu diusahakannya sendiri.Honor dari praktiknya ,hasil berdagang,dan honor sebagai pembicara disisihkan untuk membiayai kegiatan itu.

“Untung suami bisa mengerti dan menyokong saya,”ujarnya.

Setiap sore di hari kerja ,Zahro memang masih praktik mandiri.Praktik dilakukan setelah jam kerja sebagai warga Puskesmas Galang Berakhir

“Saya tidak selalu berada di puskesmas.Kadang pelayanan kesehatan gigi diberikan di dermaga atau warung sembari menungggu perahu datang.Harus seperti itu Karena tidak setiap warga pulau bisa datang ke puskesmas.Kalau saya kebetulan di pulau,sekalian memebrikan pelayanan kesehatan,”tuturnya.

Sebagian penerima layanan kesehatan menyerahkan kartu BPJS kesehatan sehingga biaya pelayanan mereka diklaim.Namun kerap kali,layanan itu diberikan secara gratis.Hal itu antara lain dilakukan di SD Air Raja.Di sana,ia memberikan penyuluhan dan pelayanan kesehatan gigi gratis untuk pelajar SD.

Zahro mencabut gigi sejumlah pelajar di SD itu tanpa memungut bayaran apa pun. “ Saya masih dikasih rezeki dari sumber lain .Saya dan suami sudah sepakat,kami harus bermanfaar untuk orang lain,” tutrnya yang mengajarkan sikap ini kepada tiga anak-anaknya.

 

ZAHROTUR RIYAD

 

  • Lahir : Lumajang,19 Juli 1978
  • Pendidikan :
    – Fakultas Kedokteran Gigi Unuversitas Airlangga
    – SMAN 2 Lumajang
  • Aktivitas Sosial :
    – Penanggung Jawab PKPR Puskesmas Galang
    – Direktur Lembaga Kesehatan PWNU Kepulauan Riau
    – Staf Ahli Kesehatan Mushlimat NU Kepulauan Riau.

UC Lib – Collect

Kompas , 23 Januari 2016