Tia Maulana Nasi Bungkus untuk Sesama

Nasi Bungkus untuk Sesama. Kompas. 7 Juli 2015.Hal.16

Tia Maulana (34) tak ragu berbagi makanan dengan mereka yang masih terjaga, bekerja,  atau tinggal di luar rumah atau di luar keluarganya pada malam hari. Ia berbagi kebahagiaan dengan mereka yang masih berada di jalan, saat sebagian besar orang sudah tertidur pulas. Tidak banyak yang tahu, tetapi komunitas sego Bungkus tetap bergerak.

OLEH DAHLIA IRAWATI

Semangat berbagi inilah yang ingin ditularkan Tia Maulana, pendiri komunitas Sego Bungkus di Malang Kepada masyarakat. Dengan semangat itu pula, Tia bersama Komunitas Sego Bungkus yang dibentuknya rutin membangikan Sego (nasi) bungkus pada gelandangan atau pengemis, tukang becak, tukang sapu, satpan, kuli panggul, atau siapa saja yang tidur dijalan pada malam hari.

Waktu berbagi nasi bungkus pun tidak wajar karena diberikan pada tengah malam atau dini hari . sekarang, tiap kamis pukul 23.00-24.00 menjadi waktu rutin bagi komunitas tersebut untuk bergerak membagikan nasi bungkus kepada mereka yang membutuhkan.

“ kami memberikan nasi bungkus itu kepada mereka yang kurang beruntung. Ketika sebagian orang sudah terlelap ditempat tidurnya yang empuk dirumah, mereka masih berada dijalanan entah untuk bekerja atau memang tidak punya rumah dan tidur dijalanan,” ujarnya.

Lantas, kok dibagikan malam hari? Tia Maulana pun punya maksud agar nasi ini bisa menjadi bekal” sarapan” mereka sebelum beraktivitas keesokan harinya.

Sebagian besar penerima pembagian nasi bungkus komunitas ini adalah tukang becak atau kuli panggul di sekitar Pasar Besar Malang. Mereka sudah bersiap dipasar tersebut karena pada saat dini hari sudah mulai bekerja mengangkut dan menurunkan sayuran.

Di luar waktu rutin mingguan, komunitas sego bungkus juga berbagi nasi bungkus dengan anak-anak yatim non-panti asuhan. Komunitas sego bungkus rutin menggelar sahur dan buka bersama dengan anak-anak yatim non-panti asuhan tersebut.

Tia pun bercerita, anak-anak yatim yang tidak berada di panti asuhan ini dipilih karena menurut pengamatan komunitasnya, anak-anak yatim tersebut paling jarang mendapatkan perhatian masyarakat. Perhatian biasanya tercurah pada anak yatim piatu yang berada di panti asuhan kerena jelas keberadaan mereka  dan tidak perlu bersusah paya untuk mencari anak yatim tersebut. Sementara untuk menemukan anak yatim non panti dimasyarakat, dibutuhkan usaha ekstra. Komunitas ini pun harus mencari dan mendatangi ke desa-desa.

Nasi bungkus yang dibagikan biasanya berupa nasi putih dangan lauk ayam goreng dan sambal, atau nasi dengan lauk mi dan telur. Jika dirupiahkan nasi bungkus yang dibagikan Rp 5.000 per bungkus. Harga tersebut bisa dicapai karena komunitas tersebut memasak sendiri nasi yang akan dibagikan.

Dana untuk berbagi nasi bungkus tersebut saat ini berasal dari donasi banyak orang. sebagian donasi berasal dari komunitas itu sendiri dan sejumlah donatur. Donatur yang selama ini memberikan dukungan merupakan rekan Tia sesame pengusaha warung makan, dan pekerja kantoran yang pernah menjadi pelanggan warungnya. Selain itu, ada juga sejumlah pihak yang tertarik dan bersimpati dengan kegiatan mereka.

Untuk membagikan nasi bungkus, Tia tidak sendiri. Ia dibantu mahasiswa anggota komunitas sego bungkus. Anggata komunitas tersebut tidak pernah terdata resmi karena memang bukan organisasi yang memiliki keanggotaan tetap. Tidak heran jika anggotanyapun  datang dan pergi. Namun, setidaknya  ada ribuan orang selama ini membantu gerakan ini. Baik dengan menyumbang tenaga mauapun menyisihkan sebagian uangnya.

“sengaja organisasi ini tidak dibuat menjadi lembaga atau yayasan. Jika diresmikan, maka yang ada kami akan menghabiskan dana untuk membiayai yaysan. Lebih baik dana diwujudkan menjadi nasi bungkus agar bisa bermanfaat abgi mereka yang membutuhkan tutur ibu dua anak tersebut.

Tidak sengaja

Kominitas sego Bungkus terbentuk tahun 2011. Kisa komunitas itu bermulah dari kebiasaan Tia maulana, pemilik warung nasi”Ayam bakar kanjeng Mommy” dijalan kendalsari, malang, yang membagi bagikan nasi yang tak terjual kepada orang sekitar. Saat itu, Tia membagikan 10-20 bungkus nasi.

Berangkat dari ketidaksengajaan itu, tia berfikir untuk menjadikan kegiatan berbagi nasi itu sebagai kegiatan yang disengaja, dan paling tidak bisa dilakukanseminggu sekali. apalagi, di kota Malang. Tia melihat begitu banyak orang tidur di jalanan.

Sejak itulah, kegiatan membagi nasi bungkus pun mulai di rutinkan seminggu sekali. untuk membagikan nasi bungkus, Tia dibantu beberapa kenalan dan mahasiswa yang sering datang kewarungnya, dimulai dengan membagikan 10-20 bungkus nasi dengan harga rp 5.000 per bungkus, lama-lama komunitas tersebut kini bisa membagikan ratusan nasi bungkus kepada warga malang.

Bahkan kegiatan ini berkembang hingga keberbagai kota lain, sperti solo, Yogyakarta,Bandung, Jakarta, Bengkulu, Makassar, dan berbagai kota lain dengan nama tidak jauh berbeda, tetapi intinya berbagi nasi bungkus.

“ meski hanya sebungkus nasi  dengan niali hanya Rp 5.000, itu sangat berarti buat mereka yang membutuhkan. Mereka yang tidur dijalanan adalah mereka yang tidak seberuntung kita,” ujar perempuan yang juga memiliki usaha manajemen artis tersebut.

Meski demikian, menurut Tia, membagi-bagikan makanan di jalanan tidaklah semudah yang dibayangkan bayak orang. komunitas itu sudah biasa dikejar-kejar  orang gila, yang marah karena merasa terganngu. Atau ada juga anggota komunitas yang tertipu dengan kisah gelandangan yang dibuat sesedih mungkin.

“Tapi saya yakin, sebagian besar mereka yang tidur di jalanan adalah mereka yang benar-benar membutuhkan. Makanya, kami tak akan berhenti berbagi nasi bungkus hanya karena tertipu sekali dua kali. Lama kelamaan, kami semakin  tahu, mana mereka yang membutuhkan dan mana yang hanya menipu,: kata permpuan asal Solo itu.

TIA MAULANA

Lahir : solo, 5 september 1981

Pendidikan: public relation Universitas Diponegoro Semarang

Suami: Maulana

Anak: Aditya Atala Maulana(7)

Kaiser Aqila Maulana (3).

Sumber: Kompas.-7-Juli-2015.Hal_.16

KH Mahfud Sahal Mengelola Air Limbah

Mengelola-Air-Limbah.-Kompas-30-Juni-2015.Hal.16

Mungkin sebagian besar orang tidak percaya jika pondok pesantren bisa menjadi penggerak pelestarian lingkungan. Selama ini, mungkin pesantren lebih identik dengan citra sederhana, bahkan mungkin sedikit kumuh. Di pesantren yang santrinya banyak, tidak jarang mereka tinggal di kawasan dengan sanitasi dan air bersih seadanya.

OLEH DAHLIA IRAWATI

Meski demikian, pandangan itu coba diubah oleh Pondok Pesantren An-Nur di Kelurahan Sumbertaman, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo, Jawa Timur. Pondok Pesantren An-Nur merupakan salah satu penggerak instalasi pengolah air limbah (IPAL) komunal di Kota Probolinggo. IPAL komunal di sana bukan hanya untuk kepentingan santri ponpes, tetapi juga menampung air limbah rumah tangga dan limbah pabrik sekitar.

Ponpes An-Nur menghilangkan sekat antara ponpes dan warga sekitar. Di sini, ponpes bukan tempat belajar ilmu agama yang tidak terjamah masyarakat sekitar. Justru ponpes membuka akses seluas-luasnya bagi masyarakat untuk bergabung membuang limbah di dalam lingkungan pondok.

Tokoh di balik sikap terbuka Ponpes An-Nur adalah KH Hasyibudin (almarhum), pendiri Ponpes An-Nur, serta KH Mahfud Sahal – anak KH Hasyibudin – yang sekaligus pengasuh ponpes saat ini.

KH Hasyibudin merelakan tanahnya untuk dijadikan bangunan IPAL komunal yang menampung air limbah yang dibuang masyarakat. Adapun putranya, KH Mahfud Sahal, menjadi penggerak warga untuk hidup bersih dengan membangun pembuangan limbah rumah tangga dan limbah usaha ke IPAL komunal.

Pembangunan IPAL komunal di Ponpes An-Nur dimulai sejak permintaan dari ponpes ke Pemkot Probolinggo tahun 2012 akan kebutuhan IPAL komunal di Sumbertaman. Namun, saat itu tidak ada warga yang bersedia menghibahkan lahannya. Apalagi, kebutuhan lahan untuk IPAL itu dinilai warga cukup luas, yaitu 7 meter x 9 meter untuk dijadikan lokasi IPAL komunal.

Akhirnya, KH Hasyibudin (almarhum), pendiri Ponpes An-Nur, bersedia menghibahkan sebagian tanahnya di dalam pondok sebagai lokasi pembangunan IPAL komunal itu.

Pembangunan IPAL komunal dilakukan tahun 2013 dengan memanfaatkan bantuan dari Indonesia Urban Water Sanitation and Hygiene USAID. IPAL tersebut terintegrasi dengan MCK plus yang dibangun Dinas Pekerjaan Umum Kota Probolinggo di lokasi yang sama.

Awalnya, MCK plus diperuntukkan bagi 500 santri di ponpes, dan IPAL komunal diperuntukkan bagi masyarakat sekitar. Namun, berikutnya, dua instalasi tersebut terintergrasi menjadi satu dan justru digunakan bersama untuk kepentingan santri dan warga.

Saat ini, sudah ada dua IPAL komunal yang dibangun di dalam area Ponpes An-Nur.

Pabrik tempe

IPAL komunal pertama kali memang dipergunakan untuk kebutuhan santri. Selain itu, ada 117 warga Sumbertaman yang juga memanfaatkan IPAL komunal tersebut. Sementara IPAL kedua dibangun untuk memperluas cakupan warga yang bisa memanfaatkannya. IPAL kedua ini dipergunakan oleh 73 warga Sumbertaman.

Dalam perkembangan selanjutnya, peserta IPAL komunal yang bergabung di Ponpes An-Nur bukan hanya sekadar rumah tangga biasa. Tiga perusahaan pembuat tempe skala rumahan pun turut membuang limbahnya ke dalam IPAL komunal yang ada di area pondok. Jika selama ini bau busuk air limbah tempe biasanya mencemari udara Sumbertaman, setelah mereka memanfaatkan IPAL, bau tersebut tidak tercium lagi.

Hal lain yang menarik, penempatan IPAL dibangun cukup unik di dalam pondok. Lokasi IPAL pertama diintegrasikan dengan pembangunan ruang pertemuan terbuka di bagian atasnya, sedangkan di tingkat kedua dibangun mushala. Nyaris tidak tampak suasana kumuh di sana.

Yang lebih unik, air dari IPAL tersebut dimanfaatkan untuk memelihara ikan lele oleh para santri ponpes. Air yang keluar dari IPAL tersebut memang bersih.

Saat ini, santri Ponpes An-Nur bisa memasarkan 1 kuintal abon ikan lele setiap dua hari. Pasar abon ikan lele selain lokal, juga dijual ke kota-kota sekitar, termasuk Jakarta.

“Sesuatu yang awalnya dilihat jorok, tidak selamanya jorok. Lihat saja, lokasi limbah warga kini di atasnya bisa dibangun ruang pertemuan dan diatasnya lagi mushala. Suasana pondol pun semakin bersih, suasana kampung apalagi. Dahulu halaman rumah warga baunya tidak enak karena semua buang air sembarangan. Bau limbah pabrik tempe pun menyengat ke mana-mana. Kini, suasana kampung menjadi lebih nyaman dan sehat,” tutur KH Mahfud Sahal, pengasuh Ponpes An-Nur.

Saat ini ada dua pondok di Kota Probolinggo yang memiliki IPAL komunal. “Saya ingin pondok tidak lagi identik dengan kekumuhan. Kebersihan adalah sebagian dari iman, makanya kebersihan harus dijaga bersama-sama. Termasuk dengan membangun IPAL komunal ini,” ujar Mahfud, yang juga menegaskan bahwa kebersihan merupakan sebagian dari iman.

Mahfud setiap hari gencar mengkampanyekan sanitasi sehat kepada warga sekitar. Baik dalam pengajian, di pertemuan keluarga santri, hingga saat pertemuan warga. Salah satu cara menstimulus warga agar tersambung IPAL komunal adalah dengan menggratiskan pembuatan IPAL komunal bagi keluarga miskin.

“Nantinya saat yang miskin sudah memiliki jamban sendiri, maka orang yang lebih kaya disekitarnya akan tergerak. Masa mereka tidak malu, yang miskin aja BAB di jamban. Lalu kenapa mereka yang kaya tetap memilih BAB di sungai?” kata Mahfud. Kaya di sini artinya memiliki penghasilan tetap. Bangunan rumah mereka pun tembok permanen dan termasuk kategori bagus.

Upaya Mahfud mendorong warga membuat jamban dan terintegrasi dalam IPAL komunal boleh dibilang berhasil. Dari total sembilan IPAL komunal di Kota Probolinggo, IPAL komunal An-Nur adalah yang paling berfungsi aktif. Aktif dalam proses mengolah limbah menjadi air bersih, dan aktif terus menjaring anggota.

Ponpes An-Nur pun berhasil menjalankan fungsinya sebagai pusat pembelajaran. Bukan hanya belajar ilmu agama, tetapi juga ilmu lingkungan.

 

KH MAHFUD SAHAL

▪ Lahir : Probolinggo, 1 November 1962

▪ Pendidikan : D-3 Akademi Bahasa Asing Malang

▪ Istri : Habibah Sam

▪ Anak : – Ifadatun Nikmah

-Muhammad Ainun Naim

▪ Pekerjaan : Pengasuh Pondok Pesantren An-Nur Tegalsiwalan Kota Probolinggo, Jawa Timur.

UC Lib-Collect

Kompas.Selasa.30 Juni 2015.Hal.16

Sarwidi Mendidik Warga Agar Sadar Gempa

Mendidik-Warga-Agar-Sadar-Gempa.-Kompas.3-Juli-2015.HAl.16

Anak –anak duduk bersila diruang tengah rumah yang telah yang telah diubah menjadi museum. Sebagian anak mengamati alt peraga, foto, dan gambar, berisi cara membangun rumah tahan gempa. Suasana di dalam ruamh riuh rendah. Namun, begitu film animasi tentang gempah bumi diputar, mereka menyimak.

OLEH AHMAD ARIF

Film itu dimulai dari penjelasan tentang kondisi Bumi uang tersusun dari beberapa lempeng yang terus bergerak, tetapi saling mengunci. Gempah bumi tercipta ketika energi  yang tersimpan dari pergerakan  lempeng itu terlepas. Dijelaskan, Indonesia yang berada zona tumbukan tiga lempeng bumi yang sangat aktif merupakan negeri yang rebtan gempa bumi.

Adegan berikutnya berupa penjelasan tentang apa yang harus dilakukan jika terjadi gempa bumi dan upaya untuk mengurangi resiko akibat bencana.

“ Filmnya menarik dan mudah dipahami. Sekarang saya baru mengerti negara kita ternyata sangat rentan sehingga kita harus membangun rumah tahan gempa,” kata Doni Kurniawan (13). Siswa kelas 1 SMP Negeri Turi, Sleman, seusai menonton film yang di putar di Museum Gempa Prof Dr Sarwidi di malangyudo, kota wisata kaliurang Yogyakarta.

Museum swasta itu tak bisa dipisahkan dari sarwidi (55), Guru besar dari Fakultas Teknik Sipil. Universitas  Islam  Indonesia (UII), Yogyakarta. Rumah yang difungsiukan sebagai museum itu merupakan rumah keluarga. Minggu pagi itu, sarwidi turut serta menyambut  anak-anak dari sejumlah sekolah  di sleman yang datang ke museumnya.

Sejak 1991, Sarwidi mulai mempelajari  bangun tahan gempa karena melihat banyak rakyat roboh akibat gempa. Dai lalu mendalaminya saat kuliah pascasarjana dan doctoral di Rensselaer polytechnic institute, New York, Amerika Serikat. Sekitar 10 tahun lalu,ia menemukan sistem barrataga (Bangunan Rumah Rakyat Tahan Gempa) dengan menggunakan teknik bantalan pasir pada fondasi. Sistem itu telah diakuai sebagai salah satu model rumah tahan gempa.

Namun Sarwidi merasa bahwa pengguanaan rumah tahan gempa masih terbatas. Terbukti, setiap terjadi gempa bumi diIndonesia, korban tewas atau cedera tetap tinggi, termasuk gempah yang melanda Yogyakarta pada 2006 yang menewaskan 6.234 orang. padahal, kekuatan gempa saat itu skala menengah, yaitu 6,2 skala richter. Banyaknya korban terutama karena rumah rakyat dibangun tak tahan gempa.

“saya yakin inovasi rekaya dan teknologi bangunan bisa berperan dalam pengurangan resiko bencana gempa bumi. Namun penting lagi adalah menyosialisasikan temuan-temuan itu kemasyarakat,” Ujarnya.

Jika akademik hanya mengandalkan ruang kelas dan seminar untuk menyampaikan ilmunya, transportasi keilmuan ke masyarakat akan amat lambat.

Mendidik tukang

Gagasan untuk mengajar di luar ruang kuliah telah dijalankan sarwidi sejak awal tahun 2004 dengan melatih tukang di Yogyakarta dan jawa Tengah tentang teknik membangun rumah tahan gempa. Hingga kini sudah sekitar 400 orang  yang dilatih sarwidi.

Saat gempah melanda Yogyakarta pada 27 mei 2006, beberapa rumah yang dibangun tukan didikan Sarwidi tetap bertahan, sedangkan rumah-rumah disekitarnya ambruk. Hak itu misalnya terjadi dirumah Goizun, warga desa Jejera,plered, Bantul.

Dalam kesaksiannya, yang diliris dijejaringmedia sosial Toutube, Goizun akhirnya mendpata penjelasan  dari tukang yang membangun rumahnya, Choirul Anam. Dijelaskan Choirul, rumah Goizun dibangun tahan gempa yang tekninya dipelajari setelah mengikuti pelatihan dari Sarwidi.

Sejak kejadian itu, tukang-tukang yang dilatih Sarwidi banyak mendapat proyek agar membangunkan rumah yang tahan gempa. Namun, seiring waktu, banyak tukang yang mengaku tak lagi membangun rumah yang tahan gempa. Masyarakat mulai lupa pentingnya rumah tahan gempa.

“Tukang hanya bisa ngikut mandor atau pemilik rumah. Kalau mandor atau pemilik rumah belum menyadari pentingnya membangun rumah tahan gempa, tukang tak berdaya,” kata sarwidi, apalagi biaya untuk membangun rumah tahan gempa lebih mahal sekitar 15 persen dibandingkan rumah yang biasa dibangun masyarakat.

Seharusnya yang menjadi patokan harga rumah yang dibangun tahan gempa. Namun, cara berfikir masyarakat kita tak seperti itu. Sementara pemenrintah tak berbuat banyak untuk menertibkan soal standar bangunan tahan gempa ini. Akhirny, saya berfikir, yang sangat penting adalah menyadarkan  pentingnya membangun rumah tahan gempa,; ucap sarwidi.

Membangun museum

Maka ketika sah seorang rekannya, Dani Samardani, menawarkan gagasan untuk  membangun museum edukatif tentang kegempaan, sarwidipun langsung menyetujuinya.  Awalnya museum menempati ruang 3 meter x 4 meter dikampus UII.

Karena ruangannya dianggap terlalu kecil, museum itu lalu dipindahkan kerumah Dome di Prambanan, bantuan salah satu lembaga internasional untuk korban gempa Yogyakarta.

“Namun infrastruktur dan masyarakatnya belum siap. Akhirnya museum mati, hanya dikunjungi satu dua orang. komunitasnya juga belum siap,” ujarnya.

Museum itu lalu dipindahkan dirumah kontrakan diploso kuning dengan dukungan dana dari lembaga organisasi internsional Cefeds. Namun , selama tiga tahun museum itu tidak berkembang sehingga dipindah ke Gentan dijalan kaliuarang.

Sarwidi tidak menyerah. Awal tahun 2015 museum itu akhirnya dipindahkan  kekampung halamannya dilokasi wisata kaliurang. Sarwidi juga menggandeng komunitas setempat sehingga pengelolaannya lebih professional. Konsepnya diubah lebih menarik buat anak-anak, termasuk film dibuat lebih mudah dipahami.

Musuh utama kesiapsiagaan bencan ialah ingatan pendek. Sarwidi berharap museum gempa yang dibangun  bisa merawat ingatan warga tentang bencana. Dengan cara ini, ia berharap bisa menggerakkan kesadaran untuk membangun rumah tahan gempa.

PROF SARWIDI

Lahir: Sleman,24 agustus 1960

Pekerjaan: Dosen/guru besar program studi Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) UII

Jabatan nasionalyang pernah sipegang: ketua harian unsur pengarah BNPB periode 2010-2014

Penghargaan: 50 tokoh alimni UII(2015)

Dosen berprestasi terbaik dan karya ilmiah terproduktif di program studi teknik sipil,FTSP UII tahun akademik 2012/2013

Tokoh konstruksi banguan tahan gempa yang pedulikepada masyarakat dari asosiasi tenaga ahli konstruksi Indonesia.

Sumber: Kompas.3-Juli-2015.HAl_.16

KPK Kebijakan-Penelitian Tidak Bisa Dinilai Pidana

KPK Kebijakan Penelitian Tidak Bisa Dinilai Pidana .Jawa Poa. 22 Juni 2015. Hal.3

JAKARTA – KPK setuju dengan pendapat presiden yang berharap kebijakan dan penelitian institusi pemerintahan tak mudah dipidanakan. Pimpinan KPK Indriyanto Seno Adji melihat persoalan kebijakan dan penelitian hanya layak ditindak jika terjadi kickback atau ada aliran dana yang masuk ke pihak tertentu.

“Kami mengapresiasi pendapat presiden agar tidak melakukan penghukuman terhadap kebijakan dan penelitian.Sebab, bagi kami, itu persoalan administratiefrecht,” terang Anto, sapaan Indriyanto. Profesor hukum pidana itu menyebut administratiefrecht tidak bisa dinilai dengan hukum pidana.

Persoalannya lain lagi jika pada kebijakan dan penelitian di institusi pemerintahan itu terjadi kickback. Artinya, ada kesenjangan menguntungkan diri sendiri, orang lain, dan korporasi dari kebijakan atau proyek-proyek penelitian tersebut.

“Kalau yang mendapatkan kickback dengan berlindung di balik kebijakan ya harus dihukum. Tapi, kalau soal administratif saja, ya jangan. Ini sudah universal sifatnya,” kata pria yang pernah menjadi staf ahli Kapolri itu.

Seperti diketahui, sebelumnya Kepala Staf Kepresidenan Luhut Binsar Panjaitan mengatakan, presiden menginginkan harmonisasi undang-undang serta para lembaga penegak hukum di Indonesia. Presiden tak ingin peraturan yang tumpang tindih dan tidak adanya kesamaan persepsi dari para penegak hukum malah menimbulkan ketakutan. Juga, menjadi celah untuk menghukum orang yang tidak perlu dihukum.

“Misalnya, jadi celah untuk menghukum pejabat yang membuat kebijakan,” ujarnya. Kejaksaan Agung, Polri, dan KPK diminta punya kesamaan pandangan terkait hal tersebut.

Presiden juga minta agar penelitian di institusi pemerintah tidak serta-merta dianggap merugikan keuangan negara saat terjadi masalah dalam pelaksanaannya. Pernyataan itu tentu merujuk pengusutan Kejaksaan Agung terhadap kasus pengadaan mobil listrik oleh tiga perusahaan BUMN. Pengadaan tersebut sebenarnya bagian dari penelitian untuk pengembangan mobil listrik di Indonesia.

Kejaksaan menilai pengadaan mobil listrik dengan dana sponsorship Pertamina, PGN, dan BRI itu merugikan keuangan negara. Mereka menggunakan dasar UU No 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara dan UU No 17/2003 tentang Keuangan Negara.

Terkait hal itu, Anto mengatakan, memang ada dua pendapat terkait status BUMN. Selama ini penegak hukum lebih menggunakan pendapat bahwa kekayaan negara yang dipisahkan dengan cara menempatkan modal untuk kepentingan korporasi sebesar satu sen pun harus dianggap sebagai keuangan negara. Karena itu, keuangan BUMN tersebut keuangan negara.

“Tapi, bagi korporasi, kekayaan negara yang dipisahkan dengan cara tersebut harus tunduk pada UU Perseroan Terbatas. Ranahnya hukum perdata,” jelas Anto. Menurut dia, pendapat itu selama ini juga dikemukakan Prof Erman Rajagukguk dan Profesor Romli Atmasasmita.

Menurut Indriyanto, Mahkamah Agung juga pernah mengeluarkan surat edaran MA (SEMA) yang mengatur bahwa BUMN tidak lagi masuk pemahaman keuangan negara. “SEMA itu tidak diikuti absolut dan dikembalikan lagi pada kebebasan hakim,” kata Anto.

Anggota Komisi VII (energi, riset dan teknologi) Falah Amru bisa memahami harapan presiden sebagaimana yang disampaikan Luhut. Soal dana research, menurut politikus PDIP itu, faktanya memang masih relatif kecil hingga hari ini.

Dia mengungkapkan bahwa dari total APBN 2015, alokasi anggaran untuk riset dan teknologi di Kemenristek Dikti hanya 0,9 persen. Itu pun, lanjut dia, masih bercampur dengan pembiayaan untuk gaji dan sebagainya. (gun/dyn/c10/sof)

 

UC Lib-Collect

Jawa Pos.22 Juni 2015. Hal.3

Renny Kurnia Hadiaty Keragaman Ikan adalah Harta

Keragaman-Ikan-adalah-Harta.-Kompas.20-Juni-2015.Hal.16

Usia 54 tahun bagi sebagian pegawai negeri barangkali identik dengan masa-masa menjelag pensiun. Namun, bagi peneliti ikan air tawar seperti Renny Kurnia Hadiaty, berarti kian pendeknya waktu mengumpulkan berbagai jenis ikan, terutama yang belum pernah terdata.

OLEH J GALUH BIMANTARA

 

Berkarya di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, ia jadi saksi betapa Indonesia kaya, mengabiodiversitas. Bermacam jenis ikan baru seperti tiada habisnya.

Kelincahan Renny menembus hutan seperti mengatakan usia tak boleh membuat peneliti berhenti ke lapangan. Selasa (21/4) pagi, di hutan di Kampung Bendung, Desa Banjarsari, Pulau Enggano, Bengkulu, Renny berburu jenis ikan asli Enggano. Ia berjalan cepat menuju hutan bersama anggota tim yang terdiri atas staf LIPI dan beberapa penduduk lokal.

Dengan petunjuk penduduk lokal, Renny menuju Sungai Kahabi. Untuk mencapainya, mereka harus melewati hutan primer bertanah licin dan gembur, pohon-pohon tumbang, duri rotan yang siap menusuk kulit, dan akar atau batang tumbuhan merambat yang kerap menjerat kaki.

Di Enggano, Renny bersama peneliti dan teknisi LIPI lainnya melakukan Eksplorasi Biosources Indonesia 2015, bagian dari Ekspedisi Widya Nusantara. Pulau itu  berjarak 175 kilometer dari Kota Bengkulu, luasnya lebih dari 39.000 hektar dan memiliki enam desa.

Sebagai salah satu pulau terdepan Indonesia yang menghadap langsung ke Samudra Hindia dan informasi awal Enggano tidak pernah menyatu dengan daratan Sumatera, membuat peneliti menduga bahwa banyak spesies endemis atau khas serta spesies baru di Enggano, termasuk ikan tawar.

Keragaman hayati masih kerap terabaikan dan tak dilihat sebagai harta negara yang patut dijaga dan dipelihara. Di mata peneliti, harta besar adalah terjaganya keragaman hayati, yang berarti juga menjaga keseimbangan ekosistem. Sumber daya alam ini akan jadi sumber pendapatan negara. Inilah yang disebut bioresources atau sumber daya berbasis hayati.

Pemikiran itulah di antaranya yang mendorong Renny turut dalam Eksplorasi Bioresources 2015 LIPI ke Pulau Enggano.

Renny memaparkan, ia seperti dikejar waktu mendata dan mengoleksi jenis ikan tawar asli di Indonesia, terutama jenis baru. Sementara, laju pembangunan yang mendesak dan merusak alam liar lebih cepat diabndingkan dengan kemampuan pendokumentasian keragaman hayati.

Di tengah cepatnya laju alih fungsi lahan mengatasnamakan pembangunan, juamlah ekspedisi riset masih minim. Anggaran negara pun belum berpihak pada dunia riset.

“Dalam setiap ekspedisi, hampir pasti saya temukan jenis ikan baru, sedangkan saat ini masih banyak daerah belum saya datangi,” ucapnya.

Dari Enggano, Renny pun mendapatkan satu kandidat spesies baru.

Peneliti asing

Penelitian tugas akhir S-1 pada Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah, menjadi awal ketertarikan Renny terhadap dunia ikan air tawar. Saat itu, ia berupaya memperoleh metode meningkatkan produktivitas gurami.

Mendapat gelar sarjana pada 1985, Renny memutuskan menjadi peneliti ikan di LIPI setahun kemudian. Saat itu,ia lebih banyak berkecimpung dalam bidang ekologi (ilmu tentang hubungan antarorganisme dan lingkungan hidup) ikan. Ia masih belum masuk ke taksonomi, ilmu yang mempelajari pengelompokan jenis.

Hingga suatu saat, ia melihat peneliti asing datang silih berganti meneliti pengelompokkan spesies ikan tawar di Indonesia dan mengejar publikasi spesies baru. Ia pun terpacu turut mendalami taksonomi.

Istri dari Elistyo Sritaman itu berharap kekayaan jenis ikan tawar benar-benar dimiliki bangsa sendiri. Alhasil, pada tahun 1998 atau 12 tahun setelah masuk LIPI, Benny untuk pertama kalinya memublikasikan spesies baru ikan tawar. Ia mengoleksi dari Taman Nasional Gunung Leuser, Aceh, dan mendeskripsikan dua spesies baru, yaitu Osteochilus jeruk (karena warnanya mirip jeruk) dan Osteochilus serokan (serokan adalah nama lokal ikan ini).

“Perburuan” renny terus berlanjut dan membawanya ke seantero Nusantara. Hingga tahun ini, ia sudah memublikasikan 57 spesies baru ikan tawar dari Indonesia, baik sebgaai penulis utama maupun penulis pendamping.

Atas dedikasinya tersebut, ia memperoleh gelar doktor lewat external doctor program pada University of the Ryukyus, Okinawa, Jepang, tanpa harus memperoleh gelar magister dan menjalani pendidikan doktoral terlebih dulu. Ia  langsung menyerahkan rancangangan disertasi pada Mei 2014, mempertahankan disertasi pada Agustus, dan diwisuda pada September tahun yang sama.

Pengakuan atas karya dan prestasinya juga diwujudkan lewat penyematan nama Renny pada jenis ikan baru, yang juga asli Indonesia. Ikan itu adalah Oryzias hadiatyae dari Danau Masapi, Sulawesi Selatan, dan Paracheilinus rennyae, ikan perairan koral Pulau Flores.

 

Bertaruh nyawa

Hutan primer Enggano masih belum seberapa bagi Renny. Ia pernah merasakan medan yang lebih berat dalam ekspedisi sebelumnya.

Pada 2003, misalnya, saat Renny dalam ekspedisi danau-danau Malili, Sulawesi Selatan. Disana terdapat tiga danau yang berjejer, yaitu Danau Matano, Mahalona, dan Towuti. Suatu sore, ia bersama tim selesai meneliti di Danau Mahalona dan kembali ke tempat berkumpul melalui sungai serta Danau Towuti.

Naas, badai datang menerjang di danau seluas 561,1 kilometer persegi dan berkedalaman maksimum 203 meter tersebut. Dua motor diesel pada perahu bercadik yang ditumpangi Renny macet dan salah satu cadik kapal patah. Beruntung, kru perahu berhasil mengikat cadik yang patah tadi, kemudian perahu bisa dibawa menuju tempat teraman terdekat.

Tim pun bisa selamat setelah pada maghrib perahu tiba di Loeha, salah satu pulau di tengah Danau Towuti. Mereka mendarat pada bagian pulau  yang sangat jarang dilewati penduduk hingga seorang penduduk yang kebetulan menuju kebunnya lewat. Akhirnya, mereka pun tertolong.

Meski sudah melalui pengalaman menyeramkan, Renny tidak kapok. Niat Renny adalah mengamankan rekaman keragaman jenis ikan tawar. Semoga pemerintah juag memiliki niat serupa sebelum habitat rusak atas nama pembangunan.

 

RENNY KURNIA HADIATY

Lahir : Malang, 21 Agustus 1960

Pekerjaan : Kepala laboratorium Iktiologi dan kurator koleksi ikan di Museum Zooligicum Bogoriense (MZB); peneliti ikan tawar di Pusat Penelitian Biologi LIPI

Suami : Elistyo Sritaman (57)

Anak : – Arief Aditya Hutama (26)

-Muhammad Baiquni Bramantyo (22)

-Rani Puri Permata (17)

Pendidikan:

– Doctor of Science (Dsc), University of the Ryukyus, Okinawa, Jepang (2014)

-Doktoranda (Dra), Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto (1985)

▪ Penghargaan :

  • Pengabdian nama pada dua jenis ikan : Oryzias hadiatyae dan Paracheilinus rennyae

Salah satu tokoh yang biografinya masuk buku “Who’s Who in the World 2011”, Amerika Serikat

UC Lib-Collect

Kompas. Sabtu. 20 Juni 2015. Hal.16

Syarief Jujur, Kunci dalam Bekerja

Jujur-Kunci-dalam-Bekerja.-Kompas.6-Juli-2015.Hal.16

Jujur dan rajin, itulah yang membuat Syarief (65) bertahan menjadi pengecer sejumlah Koran terbitkan Ibu Kota, termasuk harian “Kompas” yang pada 28 Juni genap berusia 50 tahun, dan Koran local selama 48 tahun. Kakek tiga cucu ini dan juga loper koran boleh dibilang ujung tombaknya sebuah perusahaan penerbitan perusahaan penerbitan media cetak. Melalui mereka, Koran sampai kepada pelanggan tetap dan pembeli eceran.

Syarief, warga Ciheuleut, Gang Salim, Kecamatan Bogor, ini merupakan salah satu pengecer koran yang usianya di atas 60 tahun dan cukup lama “jam terbangnya, yakni 48 tahun, menjadi pengecer Koran. Sebagian rekannya sudah tidak lagi jualan dan meninggal dunia. Kalau tiap hari saya jalan kaki sekiar 5 kilometer menjajakan dan mengantar koran, selama 48 tahun panjang jalan yang saya tempuh mungkin sepanjang Bogor, Indonesia, ke Amerika ya, “katanya sambil tertawa terkekeh-kekeh sehingga terlihar giginya ompong, sabtu pekan lalu.

Sejak 48 tahun yang lalu sampai sekarang, Syarief  kalau jualan Koran dan mengirim koran kepada pelanggannya jalan kaki. Menurut dia, selama itu, dia telah berjalan kaki sejauh (48 tahun x12 bulan = 576 bulan- 7 bulan tidak jualan karena sakit = 569 bulan x 30 hari = 17.070 hari x 5 km = 85.350) 85.000-an km. Jarak sepanjang itu dia lukiskan sepanjang Bogor, Indonesia-Amerika, tidak lagi dilukiskan dengan panjang Anyaer-Panarukan yang 1.000 km.

Dengan nada serius, Syarief mengatakan, selain rajin mencari pelanggan dan mengetahui dimana lokasi banyak calon pembeli eceran, jadi pengecer koran juga harus jujur. “Kalau tidak jujur, tidak akan bertahan lama menjadi pengecer. Sebab, langsung dicopot oleh agen Koran. Tak diberi koran lagi. Kalau pindah agen, cepat atau lambat pasti diketahui ketidakjujurannya, kata Syarief. Ia menambahkan, ketidakjujuran pengecer nakal itu adalah ambil Koran tetapi tidak setor hasil penjualannya kepada agen.

Ketika tahun 1967 saya pindah ke agen Endang Suleman, pertama yang ditanya punya utang atau tidak pada agen yang lama dan bisa jujur gak. Kalau bisa, silakan ambil koran pada saya, kata Syarief menirukan ucapan Endang Suleman (almarhum) yang dulu kios korannya di pasar Bogor.

Pengasong makanan

            Syarief, yang dulu orangtuanya buruh tani ini, setelah lulus SD di Cipaku tahun 1964, dia ikut Emad, pamannya yang tinggal di daerah belakang Rumah Sakit PMI, Kota Bogor. Dia membantu pamannya jualan makanan. Kalau hari libur dan minggu, Syarief menjadi penjual asongan makanan dan minuman di Kebun Raya Bogor dengan teman-temannya. Suatu hari, Syarief ingin menjadi pengecer Koran seperti teman-teman sepermainannya, Sidik dan Karna. Awalnya, Syarief ambil koran ke agen Abdullah di Stasiun Bogor. Dua bulan kemudian Syarief pindah kea gen Endang Suleman dan bergabung dengan dua temannya itu.

Lokasi jualan Syarief seputar daerah Pasar Bogor terus ke Jalan Merdekda dan Jalan Ciwaringin, Jalan Mayor Oking ke Gang Bojong Neros ujung Jalan Juanda pergi pulang jalan kaki. Kalau koran lagi laku karena ada berita hangat, dia bisa berkali-kali ambil Koran di agen. Sejak agen Endang Suleman berhenti tahun 1990-an, tidak ada yang meneruskan, maka Syarief pindah kea gen di seputaran stasiun kereta api dan Taman Topi. Sebanyak 7 agen Koran yang menjadi rekannya. Namun, dari 7 agen itu, 2 tutup, 3 bangkrut, dan 2 yang masih menjadi tempatnya mengambil Koran untuk dijual saat ini. Dari ketujuh agen itu, Syarief mengenal betul karakter agen tersebut.

Hanya agen Endang Suleman yang besar perhatiannya kepada pengecer. Menjelang bulan puasa, pertengahan puasa, dan menjelang akhir bulan puasa memasuki lebaran ia selalu memberi bingkisan makanan dan uang” kata Syarief mengenang sikap almarhum Endang Suleman kepada para pengecer Koran dan lopernya yang kala itu mencapai 30-an orang. Dari dulu sampai sekarang, lokasi penjualan eceran dan langganan bulanan Syarief tak berubah. Setiap pengecer sudah punya lokasi dan tidak berebutan.

Kami juga tak saling menguasai lokasi jualan, seperti kalau hari minggu saya bersama teman sama-sama jualan di depan Katedral Bogor di Jalan Kapten Muslihat. Masing-masing sudah punya pelanggan. Saya dan teman saya tidak mengejar-ngejar pembeli, tetapi pembelilah yang menghampiri kami dimana kami menunggu pelanggan keluar dari gereja usai mengikuti misa, “kata Syarief.

Tahu diri

            Sejalan dengan usianya yang sudah 60 tahun ke atas, jam kerja Syarief pun mulai pukul 08.00 sampai 13.00. “Kalau masih muda, pukul 06.30 sudah jualan. Sekarang anak-anak muda yang jualan pagi-pagi. Yang tua mah tahu diri, tenaga sudah berkurang jadi muncul siang, “kata Syarief. Dulu menurut Syarief, tenagan masih ada koran yang mau dijual sudah habis. Sekarang tenaga sudah habis korannya masih menumpuk di agen.

Sejak saya jualan 48 tahun yang lalu sampai sekarang, ya kompas paling banyak terjual. Kata Syarief. Ia menambahkan, berita tentang Malari, peristiwa Tanjung Priok, kerusuhan tahun 1998, sampai Soeharto lengser, dan berita tentang piala dunia, harian kompas termasuk paling laku dibandingkan dengan Koran terbitan ibu kota lainnya. Syarief bersyukur, dari keuntungan Koran yang diperoleh bisa untuk hidup sehari-hari bersama cucunya. Dia pernah selama dua bulan menjadi sub agen ambil Koran di dua agen dan mempunyai pengecer lima orang. Saya hentikan karena pengecernya lama kelamaan nakal, enggak pada setor sehingga saya jadi tekor. Langsung saya berhenti dan kembali menjadi pengecer kembali, kata Syarief.

Selama 48 tahun menjadi pengecer Koran, Syarief mengaku sekali dimaki-maki pembeli Koran dan sekali ditendangi pembeli Koran yang marah saat ditagih pembayaran Koran setelah keliling mengantar Koran. Dua pengalaman tak menyenangkan itu tak lagi saya harapkan, “katanya.

Syarief sudah diminta oleh tiga anaknya untuk berhenti menjadi pengecer Koran lagi. Namun, dia tidak mematuhi permintaan anak-anaknya itu. Selagi saya masih kuat jalan, saya tidak berhenti menjadi pengecer Koran, “katanya sambil titip ucapan selamat kepada pemimpin kompas yang baru merayakan 50 tahun harian kompas.

Sumber: Kompas, Senin, 6 Juli 2015.

Bowo Leksono Gerilyawan Industri Film “Ngapak”

Gerilyawan-Industri-Film-Ngapak.-Kompas.-1-Juli-2015.Hal.16

Bagi Bowo Leksono (39), film identic dengan panggung teater. Lekat dengan emosi, intrik, dan drama. Tiga elemen itu pula yang menjadi napas baginya menyusuri jalan gerilya, menggelorakan atmosfer sinema di purbalingga. Tak semata hiburan, di tangannya, film menjelma sebagai media perjuangan anti korupsi dan kontrol terhadap penguasa.

Setelah memarkir motor dan mengucap salam, dua remaja berpakaian putih abu-abu, kamis (18/6) siang, masuk kerumah kontrakan di satu gang kecil di pusat kota Purbalingga, Jawa Tengah. Dinding kontrakan tersebut penuh poster film dan foto. Sejenak duduk lesehan di atas karpet, diskusi ringan dengan tuan rumah mulai mengalir. Ini tempat keseharian Bowo di markas Cinema Lovers Community (CLC), satu komunitas pegiat film di Purbalingga. Diskusi kecil dengan siswa SMP dan SMA menjadi pemantik ide penggarapan film pendek yang sarat kritik tetapi tetap menarik.

Bowo, yang juga Direktur CLC, meyakini pembuat film harus memiliki cara unik memandang masalah di sekitarnya sedari remaja. Ruang diskusi dibuka lebar untuk merangkai konsep tontonan yang lebih dekat dengan masalah sehari-hari dan berkelindan dengan budaya local Banyumasan. “Saya kadang yang ngomporin mereka untuk berkelahi” soal ide. Kalau debatnya baru saat pengambilan gambar, film tidak akan pernah jadi, “kata ayah satu anak ini. Dari diskusi kecil itu, siswa SMP dan SMA di Purbalingga hasil gemblengan CLC mampu menyabet penghargaan di tingkat loyal regional, nasional, bahkan internasional. Purbalingga, kota kecil yang hanya jadi lintasan kendaraan dari Purwokerto menuju Semarang itu, tak ubahnya kawah candradimuka bagi sineas-sineas remaja.

Bermula dari teater

            Semuanya berawal dari kecintaan Bowo pada teater. Di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang, lelaki asli Purbalingga itu membidani lahirnya Komuitas Teater Themis. Ketertarikan Bowo pada film kian nyata ketika berkenalan dengan pegiat film ketika tahun 2001 bekerja sebagai wartawan bidang budaya disebuah surat kabar di Jakarta, namun, ia tak bisa mengingkari panggilan dunia seni di kampung halaman.

“Akhirnya, saya putuskan berhenti jadi wartawan dan pulang, mbabat alas, kata pengagum karya-karya novelis Ahmad Tohari itu. Seiring geliat film independen awal 2000-an, dia mulai menggandeng beberapa kenalannya untuk ikut membuat film pendek. Dia yakin public mulai jenuh dengan dominasi film berlatar belakang Jakarta dengan dialog lu-gue. Berbekal kamera analog S-VHS, Bowo memulai produksi film pertamanya berjudul Orang Buta dan Penuntunnya di bawah bendera Laeli Leksono Film. Dia pun tak malu menimba ilmu dari semua orang, termasuk belajar teknik pengambilan gambar dari sejumlah pengelola jasa video pernikahan di Purbalingga. Soal penyutradaraan, dia mengadopsi ilmu teaternya.

Semua ilmu otodidak yang didapat itu diwujudkan dalam karya film berikutnya, Peronika (2004). Film soal gagap teknologi di kalangan masyarakat desa itu berhasil melambungkan namanya karena dianggap sebagai film independen berkualitas bernapaskan lokalitas. Demi mempermudah penyebaran virus cinta film, Bowo dan beberapa temannya sepakat membentuk komunitas yang dinamai Cinema 2006. Bersama CLC, Bowo mulai mengirim proposal ke sekolah-sekolah di Purbalingga.

Akan tetapi, hanya segelintir sekolah yang antusias. Sebagian lain masih alergi terhadap hal-hal baru. Namun, dari roadshow itu, Bowo menjaring beberapa pelajar yang berminat pada dunia sunematografi. Meski sekolah tak mengizinkan ekskul film, mereka getol menyambangi markas CLC untuk belajar. Pada akhir 2006, CLC menggelar nonton film bareng bulanan bertajuk “Bioskop Kita” di ruang pertemuan Pemerintah Kabupaten Purbalingga. Tak disangka, respons public positif. Pemutaran film karya anak Purbalingga itu selalu disesaki penonton.

Namun, konflik dengan penguasa mulai muncul. Setelah sempat diputar tiga bulan, pemerintah kabupaten menghentikan kegiatan itu. Enggan patah arang, Bowo mantap mengambil jalan bawah tanah. Mereka bergerilya memutar film melalui layar tancap di desa-desa. Tak hanya di Purbalingga, juga wilayah lain di Banyumas Raya meliputi Cilacap, Banyumas, dan Banjarnegara. Pada 2007, CLC besutan Bowo akhirnya menggelar Parade Film Purbalingga dengan memutar 30 film produksi sendiri. Festival itu berubah menjadi Purbalingga Film Festival tahun 2008 dan kemudian Festival Film Purbalingga pada 2010. Festival ini menjadi ajang pemutaran film, pertemuan pegiat senema, dan kompetisi film pelajar se-Banyumas Raya.

Media perjuangan

            Sedari awal, Bowo mengarahkan remaja asuhan CLC untuk kritis menyikapi persoalan sosial. Film diyakini harus berperan jadi media control terhadap penguasa di bidang politik, kemasyarakatan, tatanan ekonomi, dan sosial. Dalam Festival Film Purbalingga 2015, misalnya, muncul sejumlah film dengan ide segar nan menggelitik. Film Sugeng Rawuh Pak Bupati karya siswa SMPN 4 Satu Atap Karangmoncol, misalnya, mengangkat fenomena kedatangan pejabat yang selalu membuat warga heboh dan repot sendiri.

Adapun fil Gugat Pegat karya siswa SMA 1 Bukateja mengangkat fenomena perceraian di Purbalingga. Perceraian itu banyak dipicu melimpahnya pengangguran pria karena pabrik rambut palsu lebih butuh tenaga kerja wanita. Tiga tahun terakhir, bekerjasama dengan Komisi Pemberantas Korupsi. CLC juga rutin menggelar roadshow festival film anti korupsi. Di satu titik, Bowo sadar, menggelorakan perfilman local butuh akar pendidikan. Jaringan pun dibangun guna merintis lahirnya akademi perfilman di Bayumas Raya. Bagi Bowo, gerilya ini bukan soal film semata, melainkan perjuangan memanggungkan budaya local Banyumasan yang selama ini terpinggirkan.

Sumber: Kompas, Rabu, 1 Juli 2015

Marcellus Chandra 36 Tahun RP 4,5 Triliun

36-TAHUN-RP-4,5-TRILIUN.housing-estate-eds-129.-XI.Mei.2015.pg-66

Marcellus Chandra, CEO PT Prioritas Land Indonesia (PLI), mengawali bisnis property di Uluwatu, Bali, bersama rekan sekolahnya, Victor Irawan, yang kini menjadi komisaris PLI. Di Pulau Dewata itu mereka mengembangkan 10 unit villa yang dijual secara presale. “Saat saya pasarkan tanahnya masih semak belukar,” kenangnya. Karena itu banyak calon konsumen yang datang ke lokasi mengurungkan niat membelinya. Tapi, ia tidak patah semangat. Berbagai terobosan dilakukan. Akhirnya  10 unit villa itu bisa sold out dalam enam bulan. “Dulu saya jual Rp 3 miliaran per unit, sekarang ditawar Rp 7 miliar nggak ada yang mau lepas,” ujarnya.

Sukses mengembangkan villa, Marcellus makin optimis dan kepincut membangun apartemen. Proyek pertamanya di lokasi favorit investor, Gading Serpong, Tangerang-Banten. Di atas lahan seluas 7.500 m2 ia membangun dua menara apartemen Majestic Point (839 unit). Sebagian lahannya dibeli putus, sebagian lagi menggunakan skim kerjasama. Untuk membangunnya? Selain dana internal perusahaan, ia menjual unit apartemen itu secara block sale kepada para investor. “Dengan lokasi yang strategis, harga khusus, dan deain bagus, banyak investor yang tertarik,” ungkapnya. Satu investor bisa membeli 1-3 lantai. Pembeli perorangan pun banyak. Mereka membeli secara tunai bertahap.

Penjualan Majestic Point lancer PLI mengembangkan proyek kedua, K2 Park juga di Gading Serpong. Skalanya empat kali lebih besar. Di atas lahan tiga hektar itu akan dibangun pusat belanja, empat menara apartemen (2.500 unit), satu menara hotel, dan satu menara pusat pendidikan. Skim pendanaannya mirip dengan Majestic Point. “Hanya pelaksanaan pembangunannyalebih rumit, karena ini proyek mixed use,” kata pria kelahiran Surabaya 36 tahun lalu ini.

Proyek ketiganya Indigo apartment berlokasi di Jl Narogong (Jl Siliwangi), kota Bekasi, Jawa Barat, sekitar satu kilometer dari pintu tol Bekasi Barat. Di lahan seluas 1,5 ha itu PLI mengembangkan tiga menara apartemen, satu menara hotel bintang empat, dan satu hotel bajet. Lulusan Civil Engineering dan Computer Science dari University of New South Wales, Sydney, Australia, ini menyebutkan, ketiga proyek dipasarkan dengan system block sale, tunai keras, dan tunai bertahap. “Kami tidak menggunakan pinjaman bank,” katanya. Jika semua proyek selesai dikerjakan, ia memperkirakan kapitalisasi pasarnya mencapai Rp4,5 triliun. Wow! Mudah-mudahan berjalan lancer.

Sumber : Housingstate – Sosok , Mei 2015

Teges Prita Soraya Sebuah Pernyataan Cinta

Sebuah-Pernyataan-Cinta.Dewi-eds-5.XXIV.Mei-2015.pg-154

Teges Prita Soraya

Setelah lama menekuni dunia public relation, kini ia menata banyak bandara di Jakarta

Sewaktu kecil ia tidak punya cita-cita. Tidak seperti anak-anak pada umumnya, ia tidak ingin menjadi presiden, perawat ataupun dokter.

“Saya baru punya cita-cita waktu SMA dan saya ingin bekerja di bidang public relation,” ujar Teges Prita Soraya, Chief Executive Officer Angkasa Pura Retail.

Pemicu cita-cita itu adalah pertemuannya dengan ibu seorang teman yang bekerja sebagai public relation atau kelak popular disebut PR, di sebuah hotel. Pekerjaan tersebut dianggapnya mengasyikkan.

Selepas SMA, Teges pun mencantumkan Jurusan Komunikasi Massa sebagai pilihan pertama dalam ujian masuk perguruan tinggi demi mewujudkan cita-citanya. Namun, ia tidak lulus. Ia malah diterima untuk pilihan keduanya, di Jurusan Sastra Cina, Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Tidak banyak orang beruntung diterima di perguruan tinggi terkemuka. Persaingan sangat tinggi. Andaikata ia menolak, ibunya pasti marah. Alasan “takut ibu marah” mendorong Teges menjalani kuliah di kampus UI, meski hati dan pikirannya tetap tertuju ke dunia PR.

Jalan tengah pun diambil. Ia minta dibolehkan ikut kelas malam Public Relation di London School, Jakarta. Namun, ia akhirnya tiba pada suatu titik yang membuatnya tidak mampu berkompromi lagi. Teges memutuskan untuk meninggalkan Jurusan Sastra Cina agar lebih berkonsentrasi di kelas tersebut. Tidak hanya sibuk belajar, ia mulai mempraktikkan ilmunya dengan magang menjadi PR atau penerima tamu acara konferesnsi pers.

“PR-ing is just the beginning of my career,” katanya, seraya menyeruput secangkir kopi di pagi itu.

Setelah menyelesaikan kuliah, Teges bekerja sebagai PR Hard Rock Café. Ketika itu kafe belum semarak sekarang, belum menjadi bagian dari gaya hidup urban. Ia bangga, karena Hard Rock Café sangat tenar. Pengalaman bekerja di kafe ternyata memberinya kesempatan berharga untuk mengenal lebih dekat dengan dunia food and beverage yang menjadi babak baru dalam kariernya. Kelak Teges membuka restoran.

Apa ukuran sukses seorang PR? “Anda bisa mrnjual sesuatu tanpa orang sadar bahwa sebenarnya anda menjual sesuatu. And that’s the beauty of PR buat saya,” jawabnya.

Dari ruang lingkup korporat dan bisnis pribadi, ia melangkah ke Badan Usaha Milik Negara atau BUMN. Namun, sebagian orang yang menganggap perusahaan negara bersenyawa dengan dunia yang kaku, tidak seirama dengan gerak Teges yang lincah dan kepribadiaanya yang ceria. Ia tidak menampik, tetapi menjelaskan bahwa pekerjaanya sekarang merupakan gabungan dari semua ilmu serta pengalamannya terdahulu. Bagi yang mendengar, itu berarti ia mampu menjalaninya.

Dengan bergurau, ia melontarkan pernyataan telah “dijebak” oleh direktur Angkasa Pura 1 untuk menjadi konsultan interior. Selanjutnya, ia diminta terlibat dalam menyiapkan pembangunan Angkasa Pura Retail, anak perusahaan Angkasa Pura 1 yang bergerak di bisnis retail. Teges melakukan riset, mencari orang-orang baru, membuat konsep pertokoan di bandara, hingga menentukan apa saja yang akan disajikan di pertokoan itu, termasuk penataan serta interiornya. Baginya, ini sebuah tantangan.

“Orang BUMN masuk ke ranah lifestyle saja sudah jadi kejutan. Waktu saya presentasikan konsep, mereka pun benar terkaget-kaget,” katanya seraya tertawa.

Dahlan Iskan, Menteri BUMN ketika itu, akhirnya setuju Angkasa Pura 1 memiliki satu lagi anak perusahaan, yakni Angkasa Pura Retail.

Dalam menata bandara, Teges memperhatikan tingkat kecemasan orang-orang yang hendak bepergian dengan pesawat, mulai dari check in hingga menunggu waktu untuk boarding. Menurutnya, rata-rata penumpang hanya punya waktu 45 menit setelah stress datang sebelum mereka naik pesawat. Selama 45 menit tidak banyak yang dilakukan di bandara, selain duduk dan membeli segelas minuman. Semua data tadi diperolehnya melalui riset dan menjadi landasannya membuat konsep bandara yang menyenangkan bagi para pengguna. Dari sanalah bandara Surabaya, Bali, Balikpapan, dan semua bandara di Indonesia bagian tengah dan timur yang dikelola Angkasa Pura 1 menjadi lebih cantik, apik, dan nyaman.

Semula Teges merasa Angkasa Pura Retail hanya perusahaan khayal, yang sukar terwujud. Namun khayalan tersebut menjelma kenyataan dan dampaknya, menghasilkan keuntungan untuk Angkasa Pura 1.

Onde Mande Masakan Padang, C+, Republik, My Indonesia, Choux Patisseerie, tulisan, Richfield, BACI, Rosiepao Hongkong, Desserts Homemade, Raja Tubruk, Macaron, dan Hand Roll Café adalah took-toko riil yang berhasil dibuat Teges. Semuanya unik dan tersegmentasi.

C+ adalah sebuah juice bar yang semua jus buahnya mengandung vitamin C dan segala sesuatu yang mengandung unsur buah ada di C+. Tidak hanya jus, tapi berbagai makanan berbahan buah juga dijual. My Indonesia, sebuah took barang-barang kerajinan Indonesia yang ada di setiap bandara. Demi menjaga kualitas dan tampilan barang yang dijual di situ, Teges berbelanja dan menyeleksi sendiri barang-barang tersebut, lalu para pengrajin diizinkan untuk menitipkan penjualan karya mereka. Toko kosmetik BACI dibuat Teges untuk para wanita. “Kalau iseng pasti paling tidak beli lipstick satu,” ujarnya. Lalu untuk pria, ia mempunyai Richfield. Para pria tidak pernah sengaja pergi ke mall, kecuali bertujuan untuk menemani istri dan anak. Teges mengetahui hal ini. Richfield menjadi favorit pria di bandara. Ia menjelaskan bahwa pria-pria yang datang ke sini tidak memedulikan harga. Jika mereka memerlukannya, berapapun harganya mereka akan membeli dengan suka cita. Penyebabnya? Mereka jarang berbelanja.

Kisah menarik lain adalah Raja Tubruk. Teges rupanya sangat memperhatikan detail. Bandara besar atau bandara kecil harus sama-sama nyaman dan menarik. Raja Tubruk didedikasikan bagi lidah para penumpang lokal dan asing terutama yang berada di bandara kecil. Raja Tubruk memang hanya menjual kopi tubruk saja, tidak menggunakan mesin-mesin canggih seperti yang digunakan di kafe atau kedai modern. Tagline yang ia usung pun tepat sasaran, “minum kopi cara Indonesia”. Bagi mereka yang ingin menikmati kopi dengan cita rasa yang lebih modern tentu saja ada Republik, kedai kopi yang kontemporer.

Teges berterus terang bahwa ia memang bosan melihat tampilan bandara kita yang begitu-begitu saja. Menurutnya, suasana itu pula yang membuat orang sungkan pergi ke bandara lebih awal dan membuat calon penumpang sengaja datang ketika sudah mendekati waktu pesawat lepas landas. Ia ingin meningkatkan kualitas bandara.

Kini ia juga aktif berkampanye di media social. Setiap orang yang belanja di bandara dapat menggunakan hashtag #belanjadibandara di Twitter maupun Instagram mereka.

Daya kreatifnya tidak pernah redup dan ia memiliki kebebasan untuk memunculkan berbagai ide baru. Namun, memimpin perusahaan menjadi tantangan  yang tidak kunjung berakhir baginya. Angkasa Pura Retail semakin beerkembang. Sekarang sudah ada sekitar 1500-an calon pegawai yang siap dipimpin serta bergbung bersama Teges.

Tetapi dibalik kesibukannya menuju satu bandara ke bandara lain, ia mengatakan pekerjaan utamanya adalah menjadi seorang ibu bagi anak-anaknya. Meskipun tak dipungkiri bahwa ia memiliki komitmen dan tanggung jawab yang tinggi terhadap semua jenis pekerjaanya.

Ia mengakui sangat mudah jatuh cinta terhadap apa yang tengah dilakoninya. “Saya selalu bilang pada anak-anak, jika kamu berhenti bermimpi dan berhenti mencintai pekerjaanmu, maka kamu tidak punya apa-apa lagi untuk dilakukan. Tidak ada yang bisa kamu kerjakan.“ Sebuah pernyataan tegas yang berakar dari kesungguhan.

Baginya, pekerjaan apa pun akan sempurna karena cinta.

Sumber : Dewi , Mei 2015

 

Pulus Bambang W. S. Selamat Jalan dan Selamat Datang

Selamat-Jalan-dan-Selamat-Datang.SWA-eds-09.-XXXI.30Apr-11Mei.2015.pg-102

Oleh Paulus Bambang WS

Perjalanan dari Semarang ke Ambarawa bukan perjalanan panjang, bahkan boleh dibilang perjalanan jarak pendek untuk ukuran jaringan jalan urban-rurai pada saat ini. Namun, sudah jamak, jarak pendek bukan berati waktu pendek, kemacetan membuat jarak pendek itu harus saya tempuh hampir 90 menit.

Dengan kondisi merayap, saya bisa menikmati pemandangan sekitar yang sudah lama tidak saya perhatikan. Kali ini, saya berupaya merasakan apa yang berubah di antara dua kota ini setelah sekian lama tak saya kunjungi.

Tiba-tiba mata tertuju pada suatu tanda yang sudah sejak dulu terpampang besar di jalan, yakni gapur ucapan “Selamat Jalan” begitu meninggalkan Semarang disertai ucapan terimakasih sudah mengunjunginya. Tidak berapa jauh, muncul gapura lain dengan ucapan “Selamat Datang” di Ungaran untuk menyambut para pelancong atau pelewat yang akan memasuki kota kecil ini.

Kedua ucapan tersebut mendadak hidup di pikiran saya. Walaupun ucapan ini sangat standard an hampir selalu ada di perbatasan kota mana pun dengan bahasa yang mungkin berbeda tapi substansinya sama.

Kalau itu sebuah perjalanan wisata, sangat mudah karena memang itu yang dimaui. Meninggalkan yang lama dan memasuki yang baru. Akan tetapi, kalau merupakan perjalanan karier apalagi jabatan empuk, kata ini menjadi “kata keramat” bagi yang menginginkannya.

Bayangkan, perjalanan kursi kepemimpinan adalah peralanan siklus hidup para pemimpin. Satu datang dan satu pergi. Selalu begitu dengan harapan yang menggantikannya bisa membawa kesegaran yang lebih baik karena mereka lebih muda, lebih terdidik, lebih siap menghadapi tantangan di era baru yang berbeda dari zaman pendahulu. Namun nyatanya, banyak yang tidak mau atau tidak berani mengucapkan “selamat jalan” dan “terima kasih”.

Bagi pejabat yang sudah enak dengan kursi pemimpin – yang selalu dipuja-puji bagai dewa – meninggalkan tahta kegelimangan harta dan kuasa dengan mengucap “selamat jalan”, akan membuat nestapa. Apalagi kalau yakin bahwa kursi baru yang akan diduduki di perjalanan selanjutnya bukanlah kursi promosi, ia akan berusaha sekuat tenaga mempertahankan kursinya selama mungkin sampai ia melihat ada kursi “selamat datang” yang lebih terhormat, lebih besar, lebih enak, dan lebih tinggi.

Lebih ironis lagi, mereka bukannya malu melainkan malahan bangga ketika tidak ada satu pun kader atau calon lain yang ia rasa bisa menggantikannya saat ini. Dengan berbagai alas an da justifikasi, pemimpin macam begini yang saya anggap tidak “sukses” – karena tidak bisa menyiapkan “suksesi”-nya – berusaha menduduki kembali dengan menggalang cara aklamasi, musyawarah mufakat bulat, untuk menyambut lagi teriakan “selamat datang”. Tidak berani beradu laga, dengan alasan akan memecah belah kesatuan, padahal di hati yang paling dalam ia tidak berani melihat calon pesaing yang muncul.

Itu sebabnya, banyak yang terus berusaha bertahan, bahkan yang sudah pernah menduduki dan menyerahkan ke generasi berikutnya, masih ada pula yang menginginkan kembali ucapan “selamat datang” di kursi yang sama.

Kalau itu terjadi di organisasi privat atau perusahaan keluarga, kondisi ini masih dapat dipahami, tetapi kalau ini terjadi di perusahaan publik, organisasi massa dan pejabat, sungguh merupakan lampu kuning. Kematangan kader dan pemimpin menjadi pertanyaan besar.

Saya jadi miris dan bertanya-tanya, ini yang salah pemimpin atau yang dipimpin? Bahwa selalu ada keraguan untuk memberikan tongkat estafet kepada pemimpin baru adalah wajar, tetapi bukan berarti tongkat itu tidak dipindahtangankan. Kemandekan aliran “selamat jalan” dan “selamat datang” menyebabkan kemandekan kaderisasi yang digadang-gadang sebagai salah satu pilar kuat untuk menghasilkan organisasi yang kuat dan sehat.

Karena tidak ada kesadaran pribadi untuk meneriakkan “selamat datang” kepada calon penggantinya, maka banyak organisasi yang memutus rantai kesinambungan tidak sehat ini dengan aturan hanya dua periode atau satuan waktu tertentu. Ini akan membuat pemimpin memikirkan regenerasi pada jabatan di periode terakhir. Ini jauh lebih baik dibanding tidak.

Nah, sayangnya tidak semua organisasi memiliki disiplin ini, akibatnya organisasi jadi mundur. Kalau ini terjadi di level nasional, sungguh memiriskan apalagi kalau menjangkit di hampir semua organisasi besar yang katanya professional dan modern.

Sebaiknya, ketika terjadi revolusi mental di level pimpinan, maka akan terjadi paradigm yang sehat ketika mereka didaulat dengan ucapan selamat datang. Ketika ia datang, ia sudah merancang kapan ia mau pergi. Ketika ia disumpah menjabat, sudah memikirkan siapa calon penggantinya. Ketika ia mulai merancang 100 hari pertama, ia sudah pula memikirkan 100 hari terakhir ketika ia harus mengucapkan salam selamat tinggal. Ketika ia tahu, ia tidak mampu, ia akan segera mencari calon lain yang mampu. Ketika ia sadar, kinerjanya jauh dari harapan, ia merancang gapura selamat datang bagi calon penggantinya.

Kalau revolusi mental ini jadi “terpental”, yang tidak siap dengan ucapan selamat jalan akan mengacak-acak, mengobok-obok, mengobrak-abrik organisasi yang membesarkannya, menyedihkan sekali. Perpecahan terjadi, hanya karena ego maka yang dikorbankan organisasi dan rakyat banyak.

Semoga revolusi mental ini bukan angan-angan. Kalau tidak, harga yang harus kita bayar terlalu mahal hanya untuk melihat ego bermain di level atas sana.

Memang, kita masih harus belajar sabar untuk menyadarkan lagi para pemimpin untuk arti “selamat jalan” dan “selamat datang”.

Sumber : SWA, April 2015