Maharani Membuat Pupuk dari Batuan Vulkanik

Maharani Membuat Pupuk dari Batuan Vulkanik. Kompas. 12 Januari 2016. Hal 16

Maharani

Apa yang tidak mungkin menjadi kenyataan bukanlah permain kata bagi Maharani (35). Dengan semangat, rasa ingin tahu, dan percaya diri yang besar, lelaki warga Lingkungan Tiwusasem, Kelurahan Renteng, Praya, ibu kota Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, ini membuat pupuk organik cair untuk tanaman panagn dan hortikultura berbahan alami yang agak tidak umum buat kalangan awam. Ia menggunakan batuan silikat.

Oleh Khaerul Anwar

             “Jangankan masyarakat awam, kalangan intelektual pun bilang, hah… pupuk dari batuan… mimpi kali…?” begitu sementara kalangan merespons idenya. Namun, ia berupaya merangkai mimpinya dengan fakta. Logika berpikirnya sederhana, tanah berasal dari bantuan yang melapuk jutaan tahun silam. Tanah karunia Ilahi kepada manusia itu memiliki unsul hara lengkap sebagai sumber makanan dan tumbuh kembang berjenis-jenis tanaman.

Tahun 2005-2009, Maharani yang memiliki basis pendidikan ilmu tanah melakukan riset dan mengumpulkan batuan antara lain berasal dari gunung api di Kanada, Amerika, Gunung Merapi (Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta), Gunung Ijen (perbatasan Banyuwangi-Bondowoso, Jawa Timur), Gunung Agung (Bali), dan Gunung Rinjani (Lombok).

Batuan-batuan itu diteliti kandungan unsur hara oleh mitra kerjanya, seorang dosen Fakultas Pertanaian Universitas Mataram. Hasil penelitian menunjukkan batuan Gunung Rinjani, selain memiliki unsur hara makro dan mikronya, juga ada plusnya, yaitu sangat banyak kandungan silika (Si)-nya. Setelah dialami, fungsi Si diketahui dipakai untuk bahan produksi kecantikan, obat-obatan, dan industri elektronik. Si juga bisa dijadikan sebagai bahan induk yang memberikan ketahanan alami, kualitas, dan kualitas produksi tanaman.

Untuk penelitian itu, Maharani merogoh kocek untuk biaya transportasi, membuat demplot penelitian di seputar areal sawah penduduk. Uang itu didapat dari jasa membantu penelitian para dosen, juga menyisihkan uang saku dari orangtuanya.

Pupuk cair

Proses pembuatan pupuk cair sebetulnya sederhana. Dari bahan baku yang menggunakan batuan di sekitar Gunung Rinjani di Desa Akar-akar, Lombok Utara, kemudian ditumbuk menjadi tepung. Alat tumbuh yang digunakan merupakan batuan perajin di Mataram. Setelah jadi tepung, lalu menjalani proses pelarutan dengan dimasukkan ke air yang dicampur formula khusus guna melepas kandungan makanan dalam batuan itu.

Campuran unsur hara batuan dan formula itu keluarnnya dalam bentuk pupuk cair, setelah menjalani proses pelaruta selama dua jam. Kinci produk pupuk itu pada formula serta proses penumbukannya memerlukan teknik khusus. Untuk menumbuk batuan itu, misalnya, diperlukan waktu 30 menit. Pupuk bermerek dagang SiPlus itu kini dipakai untuk kalangan interen kelompok tani, dengan produk 500.000 liter setahun, dijual Rp 40.000 per liter. Pupuk itu telah lulus uji mutu oleh Kementerian Pertanian dan kini masih menunggu nomor pendaftaran produk agar bisa diedarkan di pasaran umum.

Akan tetapi, dari hasill uji coba di beberapa tempat di NTB, pupuk ini memenuhi syarat-syarat kelayakan. Indikasinya, produksi gabah di tanah garaman tanpa SiPlus bisa memproduksi 6,4 ton per hektar. Dengan SiPlus yang dikombinasi pupuk lain menghasilkan hampir 9 ton. Dari segi efisiensi, pupuk ini menghemat pembelian sarana produksi, juga mengurangi cara boros sistem pemupukan dengan ditebar. Pasalnya, 1 kuintal pupuk urea yang ditebar hanya 20 persen diserap tanah. Sisanya terbuang percuma karena menguap ataupun larut oleh air.

“Teori pemupukan adalah pupuk ditebar ke dalam tanah, lalu diserap akar dan dibawa ke daun untuk’digodok’. Setelah ‘masak’ dann jadi makanan, pupuk itu dikirim sebagai nutrisi ke seluruh oragn tanaman. Sekarang kita balik, pupuk cair itu langsung ‘disuapi’ ke ‘mulut’-nya (daun),” ungkap Maharani.

Dengan pupuk cair yang dikombinasi pupuk lain, misalnya pupuk urea, penggunaan pupuk urea sebanyak 4 kuintal per hektar bisa ditekan menjadi 50 kilogram. Artinya, penggunaan pupuk organik itu dapat meningkatkan produksi dan efisiensi biaya proses produksi usaha tani. Nyaman bekerja di luar kantor, Maharani, Direktur Lombok Research Center, melepas “baju” pegawai negeri sipil tahu 2009 sebagai peneliti di Pusat Penelitian dan Pengembangan Lahan Kering Tropika Universitas Mataram. Ia membantu dan mendorong masyarakat desa di NTB menanam gahara atau ketimun (sasak lombok).

Ia juga diundang ke Batam, Semarang, Jawa Tengah, dan Malang, Jawa Timur, menjadi konsultan budidaya gaharu, termasuk memosok kebutuhan bibit gaharu bagi daerah-daerah itu. Ia tidak segan menggunakan uang sendiri untuk membeli bibit gaharu, kemudian dibagikan gratis kepada petani. Ias tidak pelit dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, seperti ketika ia kedatangan petani Kabupaten Sorong, Papupa Barat, ke Lombok untuk menimba ilmu kepadanya. Ia tidak sekedar berteori, tetapi juga mengimplementasikan teori dengan kondisi di lapangan. Waktunya 60 persen-70 persen tersita di lapangan untuk mendampingi petani, berdiskusi seputar usaha tani yang berkaitan dengan cara-cara bertani ramah lingkungan.

Maharani juga menyew 1 hektar lahan di Desa Timbanuh, Lombok Timut, untuk ditanami cabai. Kemudian 1 hektar lagi di Desa Kutaraja, Lombok Timur, ditanamai jeruk dan jahe. Lahan dikelola empat warga, sedangkan benih tanaman dibeli Maharani. Hasil penjualan cabai, misalnya, dibagi sebagian untuk pengelola dan 50 persen untuk Maharani.

Maharani

Lahir                : Praya,16 Agustus 1980

Pekerjaan         : Peneliti di Lombok Research Center

Istri                  : Baiq Titis tini Yulianty

Anak               : Dafiqazzahra Almahira dan Emir Dzaki Abbas

Orangtua         : H Muksin-Hj Rukakyah

Pendidikan      : SDN Tiwuasem, Praya lulus (1992), SMPN Praya, lulus 1995, SMAN Praya,

lulus 1998, Fakultas Pertanian Universitas Mataram Jurusan Ilmu Tanah,   lulus 2005, pendidikan S-2 Jurusan Agronomi Universitas Negeri Jember, Jawa Timur, lulua 2009.

Penghargaan    : SATU Indonesia Award PT Astra International (Tbk), tahun 2004.

 

Sumber: Kompas, Selasa, 12 Januari 2016

Koo Siu Ling Melacak Leluhur Melalui Makanan

Koo Siu Ling Melacak Leluhur Melalui Makanan. Kompas. 8 Januari 2016. Hal 16

Koo Siu Ling

Makanan bukan hanya soal kebutuhan badan. Makanan juga menjadi identitas. Identitas sebuah suku, sebuah komunitas, hingga bangsa. Tak mengherankan apabila makanan juga menjadi salah satu ciri eksistensi masyarakat. Kehadiran makanan bisa menjadi tanda kehadiran sebuah bangsa. Namun, masih sangat sedikit orang yang mencari keberadaan bangsa atau leluhurnya melalui makanan.

Oleh Andreas Maryoto

 

Salah satunya dari sedikit orang yang mencari leluhurnya melalui makanan itu adalah Koo Siu Ling. Kematian ibunya yang meninggalkan buku resep bertulis tangan membuatnya penasaran. Perasaan ini diakuinya tidak muncul saat ia sibuk dengan pekerjaan dan kesehariannya. Namun, begitu ias melihat buku-buku itu, pikirannya melayang dengan banyak pertanyaan.

Menulis buku resep makanan sudah banyak dilakukan beberapa kalangan. Namun, menulis buku resep yang memiliki kisah di balik resep-resep tersebut masih sangat lamgka di Indonesia. Koo Siu Ling, peranakan Tionghoa yang tinggal di Belanda, melacak sejarah nenek moyangnya melalui menu makanan mereka serta buku resep warisan ibunya dan juga kerabatnya hingga ia menemukan kehidupan peranakan Tionghoa Jawa Timur dulu dan sekarang.

Ling kecil lahir tahun 1939 di Kota Malang, Jawa Timur, dididik ibunya yang seorang guru. Ia mengaku dalam kehidupan mereka sehari-hari resep makanan diperkenalkan sejak dini. Kini ia menerbitkan resep-resep makanan ibu dan kerabatnya dalam sebuah buku berjudul Culture, Cuisine, Cooking, an East Java Peranakan Memoir. Buku ini ditulis dengan bantuan Paul Freedman, seorang profesor Sejarah Chester D Tripp di Universitas Yale, Amerika Serikat.

Kisahnya berawal saat ibunya meninggalkan, ia menemukan buku-buku resep makanan yang sudah lama ditulis tangan ibunya. Ling juga mencari buku-buku resep makanan milik kerabatnya. Buku resep itu ada yang bertahun sekitar 1930. Kadang ditulis dalam bahasa Belanda, kadang Mandarin, dan kadang Jawa. Ada juga bahasa Hokkian yang merupakan warisan leluhurnya.

Dengan membaca buku resep makanan tersebut, ia melihat bahwa Tionghoa peranakan menyerap dan mengadopsi masakan Belanda dan Jawa. Di dalam buku itu, terlihat adopsi masakan tersbut, mulai dari galantine dan kue dari Belanda serta sate dan rawon yang diadopsi dari Jawa, “Ini buku masak mama saya. Tulisannya masih bagus. Ada beberapa bahasa di dalamnya. Ada bahasa Belanda, bahasa Jawa, bahasa Mandarin, dan ada bahasa Indonesia,” kata Ling sambil memperlihatkan buku setebal 5 sentimeter yang antara lain berisi tulisan tangan ibu dan familinya.

Motivasi menerbitkan buku tersebut awalnya adalah keinginan agar anaknya bisa membaca buku resep itu. Ia berpikir jika buku tersebut tidak dibukukan, resep ini akan hilang. Ibunya menulis resep mulai akhir 1920-an sampai tahun 2000. Satu ciri yang unik, disetiap resep tidak pernah diberi ukuran bahan. Akibatnya, setiap mencoba resep itu Ling harus menanyakan ke kenalannya.

“Saya memperhatikan buku itu setelah ibu meninggal tahun 2000. Dulu buku ini kan tidak dianggap. Beberapa tahun sesudahnya saya melihat itu. Saya tahu buku tersebut tidak boleh dibuang. Lama masih tersimpan dilemari hingga saya mulai mengetik ulang. Tidak ada amanah untuk tidak dibuang, tetapi saya mengerti dan wktu kecil saya mengerti buku itu dan saya tahu buku itu lebih berharga dibandingkan dengan buku-buku yang lain,” tuturnya.

Bolak-balik ke Malang

Apakah Anda pernah mencoba resep di dalam buku tersebut? “Iya. Saya harus pergi ke Malang untuk mencoba resep itu. Saya masih bertemu dengan pembantu tante saya yang umurnya sekitar 70 tahun, dan ada juga saudara saya yang pintar masak. Saya bolak-balik (ke) Malang sejak tiga tahun yang lalu,” kata Ling.

Ia mengaku tidak pernah mencoba masakan itu Belanda karena di dalam buku tersebut tidak ada ukuran bahan-bahan dalam resep, selain karena sulit mencari beberapa bahan makanan. “Saya baru mengerti, melalui buku ini kalau makanan itu bakan sekadar makanan, melainkan juga kebudayaan dan sejarah. Karena itu, makanan harus ditaruh dalam konteks sejarah. Dari masakan ini, sekarang saya mengerti sejarah orang Tionghoa di Indonesia, khususnya di Jawa Timur,” tuturnya.

Banyak makanan yang merupakan pencampuran budaya Jaaw, Tionghoa, hingga Belanda dalam resep-resep di buku itu. Ia menyebut antara lain kehadiran petis dan juga cwie mie di Jawa Timur menjadi penanda pengaruh etnis Tionghoa di Jawa Timur. Saat menulis buku itu, sesuatu yang menyulitkannya adalah mencari data tentang makanan, sejarah, dan beberapa remaph. Ia harus mencari di sejumlah perpustakaan. Ling mengaku, kalau tidak menemukan data yang benar, ia tidak berani menulis mengenai makanan itu. Untuk menyelesaikan bukunya, Ling membutuhkan waktu empat tahun. Buku tersebut terdiri dari tiga bahasa, yaitu bahasa Inggris, bahasa Belanda, dan bahasa Indonesia.

“Saya memilih tiga bahasa karena, dengan bahasa Inggris, jangkaunnya akan lebih luas. Ada bahasa Belanda agar orang Belanda bisa baca buku ini. Saya masih tetap merasa sebagai orang Indonesia, karena itu harus dengan bahasa Indonesia. Lidah saya kurang bagus,” kata Ling terkekeh. Ketika dipuji bahasa Indonesianya masih bagus, ia kembali tersenyum. “Wah bahasa Indonesia saya sudah setengah mati. Di keluarga saya berbahasa Belanda. Waktu di Indonesia belum stabil, saya dikirim ke Belanda. Waktu kecil saya juga belajar bahasa Jawa. Isih ngerti,” katanya. Ia mengaku meski lama berada di luar negeri seleranya masih terpelihara. “Karena lidah saya sebenarnya tertinggal di sini. Logat Jawa saya juga masih keluar. Kadang bahasa Jawa juga masih keluar,” katanya.

 

Koo Siu Ling

Lahir                : Tahun 1939 di Kota Malang, Jawa Timur.

Pendidikan      : SD hingga SMA diselesaikan di Jakarta, Studi Aeronautika di TU Delft

Belanda, tahun 1956

 

Pengalaman bekerja    : Bidang Aeronautika di Long Beach di Los Angelesm California

Amerika Serikat

 

Tinggal            : Sempat tinggal di Australia, tetapi sekarang menetap di Belanda

 

Sumber: Kompas, Jumat, 8 Januari 2016

KBPH Prabu Suryodilogo Mulai dari Hal Kecil

KBPH Prabu Suryodilogo Mulai dari Hal Kecil. Kompas. 5 Januari 2016. Hal 16

KBPH PRABU SURYODILOGO

  • Lahir : Yogyakarta, 15 Desember 1962
  • Pendidikan : Lulus Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta
  • Istri : BRAy Atika Suryodilogo
  • Anak :
  • BRMH Suryo Sri Bimantoro
  • BRMH Bhismo Srenggoro Kuntonugroho

 OLEH BAMBANG SIGAP SUMANTRI

Santai dan diselingi dengan cerita mulai dari kepemimpinan sampai sekrup. Ia bisa membongkar komputer dan mengoprek agar kerjanya lebih cepat, tetapi ternyata bimo tidak senang e-mail.

Salah satu yang juga menarik, di tengah wawancara ketika membutuhkan tanda tangan buku hasil karyanya berjudul Ajaran Kepemipinan Asthabrata Kadipaten Pakualaman, tiba – tiba klek, gagang kacamata Bimo putus.

Wo, lha kacamata buatan Tiongkok, harganya Cuma Rp.20.000, wajar gampang rusak, santai saja nanti cari obeng jadi beres lagi,” katanya sambil tersenyum.

Kamis Legi, 7 Januari 2016, Kadipaten Pakualaman akan mempunyai adipati baru dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam X. Bimo itulah calon adipatinya. Ia akan menggantikan Paku Alam IX yang meninggal 21 November 2015.

Bimo, lengkapnya Raden Mas Wijoseno Hario Bimo, sebenarnya panggilan karib, terutama di lingkungan pemerintahan dan teman – temannya. Posisi terakhir menjabat sebagai Kepala Biro Administrasi Kesra dan Masyarakat DIY. Sebagai putra mahkota, dia mendapat gelar Kanjeng Bendoro Pangeran Haryo (KBPH) Prabu Suryodiogo.

Pakualaman merupakan salah satu pecahan Kerajaan Mataram pasca Perjanjian Giyati (1755). Tiga yang lain, Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, dan Kadipaten Mangkunegaran. Dalam pemerintahan keistimewaan Yogyakarta, Paku Alam adalah Wakil Gubernur. Kerabat Pakualaman sebenarnya mempunyai banyak pejuang nasionalis yang melebihi jangkauan kebangsawanannya, keluar dari eksklusivitas keningratannya.

Tokoh paling terkenal, Ki Hajar Dewantara, pendiri Taman Siswa, yang sejak remaja sudah anti penjajahan Belanda. Nama aslinya Raden Mas (RM) Suwardi Suryaningrat, cucu Paku Alam III. Sang kakak, RM Suryopranoto, pahlawan nasional, dalam bahasa sejarawan Budiawan “actor pergerakan nasional yang sangat berperan dalam dalam membangun pergerakan kebangsaan”, pemimpin aksi pemogokan buruh melawan Belanda pada 1920-an.

Setelah lulus dari Fakultas Ekonomi, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta, Bimo tidak langsung mencari pekerjaan. Dia mengistilahkan “dolan” (pergi) mencari pengalaman ke Belanda, menjadi tukang masak di restoran selama enam tahun. Perjalanan ini mirip dengan Paku Alam IX yang pernah bekerja sebagai awak kapal dan berkeliling dunia sebelum dilantik menjadi adipati.

Pulang dari Belanda, baru ia mengikuti tes lowongan pegawai negeri di Kepatihan Yogyakarta. Teryata, dia tidak diterima. Baru pada tes kedua, ia lolos menjadi pegawai negeri sampai sekarang.

“Ketika ikut tes saya sengaja tidak matur (memberi tahu) kepada pejabat gubernur Paku Alam VIII (eyangnya). Kalau matur pasti langsung di terima,” ujarnya.

Keahlian memasak Bimo masih tersisa sampai sekarang. “kini, 90 persen yang menyiapkan sarapan itu saya kalau di rumah, istri masih tidur saya sudah buat sarapan,” ujarnya.

Selain hobi, Bimo juga mempunyai alasan lain untuk mencintai masak – memasak. Setiap kali memasak, ada proses rasa syukur kepada Tuhan dengan tersedianya baha makanan.

“Dan doa atas makanan itu dimakan anak – anak saya, ini salah satu cara mendoakan anak – anak di samping dengan doa biasa,” ujarnya.

Bagi Bimo, pelajaran kehidupan dari ayahnya adalah kesederhanaan yang apa adanya.

“Apa adanya, kita ini hidup mau untuk apa to, Le (panggilan Jawa untuk anak laki – laki). Barang berharga enggak ada, arloji Cuma Alba dan Casio. Mobil ya hanya Suzuki Karimun, motor bebek merek Kymco. Jadi, anak – anak itu tenang karena tak memikirkan soal harta. Malahan kita diwarisi tanggungjawab besar untuk Puro Pakualaman,” kata Bimo yang berbahasa ngoko kepada PA IX. Satu tanda pendidikan egalitarian, dalam keluarga Jawa apalagi bangsawan, berbicara dengan orangtua atau yang lebih tua harus memakai bahasa karma inggil ( tingkatan bahasa Jawa halus tertinggi ).

Saya butuh teman sebanyak – banyaknya, teman yang kritis, supaya saya tidak selalu merasa benar.

Bimo juga dikenal sebagai pecinta alam, panjat tebing, dan pernah terlibat saat pengambilan jenazah di sumur raksasa Jalatunda, Dieng, Jawa Tengah. Pemahaman soal mesin motor, komputer arloji, pisau, dan kamera sama luasnya dengan pengetahuan dia tentang seluk – beluk budaya dan kepemimpinan ala Puro Pakualam. Untuk yang terakhir ini, dia sudah menulis buku.

Ia merasa selama ini memperoleh daya kemandirian karena selalu dididik untuk selalu mengerjakan apa – apa tanpa bantuan orang profesional. “Kalau ad barang rusak, perbaiki sendiri, diutak – atik, akhirnya ketemu jalannya, pokoknya DIY (do it yourself ),” ujarnya.

Tak heran dia senang “nyusuh”, menyimpan barang apapun di rumah, karena dengan cara itu dia punya banyak persediaan untuk memperbaiki apa saja. Sekrup, benda kecil yang termasuk ditimbun, dia punya koleksi enam botol.

Menjadi adipati bagi Bimo lebih merupakan suatu sistem karena dia anak tertua.iaakan lebih banyak fokus pada kebudayaan. “Bukan mau mong soal budaya adiluhung begini begitu la wong kenyataannya Yogyakarta kota budaya, tetapi penuh dengan hotel yang tidak tertata tidak mencerminkan kota budaya,” katanya. Dia akan melakukan hal yang kecil tetapi konkret.

Setiap bangsawan selalu dibekali dengan pelajaran  kesenian di lingkungan keluarga maupun istananya. Bimo akan melakukan rekonstruksi seni tari, memperbaiki perpustakaan Puro Pakualam, merawat wayang, menghidupkan lagi seni membuat batik, kegiatan panahan tradisional, dan berbagai hal lain yang selama ini tidak banyak ditengok orang lain.

Selain mengarang buku kepemimpinan, satu hal konkret yang dilakukan Bimo bersama adiknya adalah membuat kereta kencana yang sekarang dalam tahap penyelesaian. “Kereta ini proyek pertama, tentu banyak kekurangan, tetapi lebih baik mulai dibuat daripada sekadar digagas. Ini sesuatu yang harus di Puro Pakualaman karena sesudah kemerdekaan tahun 1945, kan, tida ada lagi penambahan kereta,” kata Bimo.

Tidak semua orang atau kerabat Pakualaman sependapat soal suksesi. Bimo memaklumi betul hal itu, tetapi dia tetap terus berusaha menyapa dan merangkul. “Kepada semua orang saya sampaikan, saya ini tidak bisa ijen (sendirian), saya butuh teman sebanyak – banyaknya, teman yang kritis supaya saya tidak selalu merasa benar.”

SUMBER : KOMPAS, selasa 5 Januari 2016

Endri Susanto Mengabdi Kepada “Si Sakit”

Endri Susanto Mengabdi kepada Si Sakti. Kompas. 9 Januari 2016. Hal 16

Berbuat kebaikan, selain membantu orang lain, adalah membantu diri sendiri mendapatkan kebahagiaan dari memberi. Begitu kata orang bijak. Endri Susanto (29), warga Dusun Pekatan, Desa Jenggala, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, mencoba mengamalkan kata bijak itu dan nyata.

Endri membantu anak anak berkebutuhan khusus dan penyandang disabilitas untuk mendapatkan kursi roda, para penyandang tunanetra mendapatkan tongkat, dan anak penderita hydrocephalus mendapatkan pengobatan / perawatan. Ia juga mencarikan dana dan donatur bagi anak penderita kanker agar bisa dioperasi demi penyembuhan penyakitnya.

Merujuk si sakit ke Puskesmas dan rumah sakit di NTB, kemudian mengawalnya apabila menjalani operasi di luar NTB, menjadi pekerjaan rutin Endri. Seperti pada hari Minggu (3/1) lalu, ia bersiap merujuk seorang anak penderita hydrocephalus ke Rumah Sakit Sanglah di Denpasar, Bali. Endri menerima konsekuensinya, dia meninggalkan keluarga untuk menemani penderita mondok di luar NTB.

Persinggungannya dengan kemanusiaan dimulai 2014 saat berkeliling ke desa-desa di Pulau Lombok selama dua hari dua malam. Belakangan, ia bertemu rekannya dari Selandia Baru yang peduli terhadap masalah social. Mereka kemudian sepakat melakukan aksi, sebagai tindak lanjut temuan di lapangan, bahwa ada benang kusut yang harus diurai terkait dengan pelayanan kesehatan.

Benang kusut tersebut, antara lain adanya ratusan orang, baik anak maupun dewasa, menderita beragam penyakit yang jarang diketahui public. Penyakit-penyakit itu, di antaranya down syndrome (keterbelakangan perkembangan fisik dan mental), brain damage (kanker pada otak), cerebral palsy (kelumpuhan otak besar), dan Ewing’s sarcoma (tumor ganas).

Penderita umumnya berasal dari keluarga miskin, yang tidak punya biaya untuk berobat. Sebagian besar dari mereka bekerja sebagai buruh tani, yang penghasilannya sekedar untuk bertahan hidup.

Warga umumnya belum mengetahui ada layanan kesehatan gratis yang bisa didapatkan, asal terdaftar sebagai anggota Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Namun, pengurusan proses persyaratan administrasi keanggotaan dari dusun sampai institusi teknis memakan waktu relatif lama, bisa sampai satu sampai dua pecan.

Terkadang Endri harus mengabaikan akal sehat untuk menghadapi masyarakat. Seorang anak yang terdapat benjolan di bagian matanya, misalnya, tidak diizinkan orang tuanya diperiksa dokter. Sang ayah beralasan, benjolan tersebut sudah ada sejak anaknya lahir. Untuk menghadapi warga seperti ini, ia meminta bantuan kepala dusun dan kepala desa untuk “mencuci otak” pemahaman orang tua yang salah itu.

Lewat media social, Endri menggalang partisipasi dan menemukan donatur buat si sakit. Selain itu, keberadaan program BPJS telah membangkitkan semangatnya untuk membantu si sakit. Saat ini, ada 50 relawan, 2 dokter, dan 1 perawat bergabung dengannya. Selain itu, satu unit sepeda motor untuk kegiatan operasional juga dari uluran tangan penyumbang.

Sumbangan uang dari perorangan dan yayasan digunakan untuk ongkos transportasi dan sewa penginapan selama penderita dirujuk dan dirawat di rumah sakit. Berkat upayanya, ada 14 anak penderita hydrocephalus asal NTB yang sudah memperoleh pengobatan atas bantuan sebuah yayasan di Denpasar, Bali. Dua anak penderita penyakit yang sama kini dalam penanganan dokter Rumah Sakit Sanglah, Bali.

Lainnya, seorang anak perempuan (11 tahun) yang menderita kanker di jaringan kaki kirinya kini dalam penyembuhan. Vonis amputasi kepada anak tersebut oleh dokter di Mataram “dipatahkan” seorang dokter ahli di rumah sakit swasta di Surabaya, Jawa Timur, lewat operasi.

Media social

Dari sponsor di Australia, Endri mendapat bantuan 20 tongkat bagi penyandang tunanetra dan 45 unit kursi roda untuk anak-anak dengan harga Rp20 juta per unit pada periode Agustus-Desember 2015 lalu.

Kursi roda dan sumbangan pakaian di bawa pelancong Australia yang berwisata ke Bali dan Lombok. Untuk itu, ia membuat tulisan di media sosial yang berisi permintaan bantuan tersebut. Sebelum sampai ke tangan Endri, kursi itu mampir di drop point yang terdapat di Kuta, Bali, objek wisata Gili Trawangan dan Senggigi, Lombok Barat. Selanjutnya, Endri membuat foto “barang bukti” dan penerimanya yang dikirimkan kepada penyumbang.

Totalitas

Menurut Endri, saat ini lebih dari 200 orang membutuhkan kursi roda dan tongkat. Ia berharap dan yakin sumbangan akan bertambah pada tahun ini. Keyakinannya itu mulai terbukti setelah seorang sponsor memberinya honor Rp 2 juta sebulan setelah melihat wujud nyata ketulusan Endri.

Ia tak berhenti menyisir desa-desa di Lombok untuk menemui “si sakit” yang perlu bantuan dan meyakinkan orang lain tentang langkah yang dilakukannya.”Jujur, amanah, komitmen, dan fokus adalah perilaku dan sikap untuk mendapat kepercayaan orang lain,” katanya.

Sikap kepedulian nya itu sudah di tempa sejak kecil. Ia membantu orang tuanya, Irsah-Miarnip, yang bekerja sebagai buruh tani. Selain buruh tani, ayahnya acapkali juga bekerja sebagai buruh pikul kayu dan balok.

Kehidupan sulit keluarganya mendorong Endri juga menyambi menjadi kuli pikul batu dan pasir serta menyambit rumput setelah jam sekolah. Itu rutin dijalaninya sejak SD hingga SMA. Ia pun beruntung karena bisa sekolah dengan mendapat beasiswa.

Bekerja membantu orang tuanya berakhir setelah ia bekerja di sebuah hotel di Lombok Utara dengan gaji Rp 5 juta – Rp 6 juta sebulan pada 2006-2007. Berkat keuletannya, ia pun sempat menjadi wakil kepala dapur (chef de partie) untuk makanan dingin (cold kitchen) di sebuah hotel di Singapura (2007-2008) dengan gaji sekitar 19 juta sebulan. Setelah itu, Endri pulang kampung dan menggunakan uang tabungannya untuk memperbaiki rumah orang tuanya, dan biaya kuliah.

Endri pun melepaskan pekerjaan sebagai anggota staf ahli Komisi IX DPR dan membentuk Endri’s Foundation dengan niat bisa total mengurus masalah sosial.

Sumber : Kompas , Januari 2016

 

Dodo Darsa Belajar Dari lebah

Dodo Darsa Belajar dari Lebah.Kompas. 18 Januari 2016. Hal 16

Penulis : Abdullah Fikri Ashri

Andai bisa menjelma menjadi hewan, lelaki ini mengangankan menjadi lebah, penghasil madu yang bermanfaat bagi manusia. Namun, itu mustahil. Ia hanyalah orang biasa yang mencoba memberdayakan masyarakat di sekitarnya untuk memanen madu tanpa mencederai hutan.

Itulah Dodo Darsa (43), pemanen sarang lebah di Desa Padabeunghar, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Tahun demi tahun, ia hidup dan belajar dari lebah.

Saat malam sudah terlalu larut, pertengahan Desember lalu, di rumahnya yang tak bertegel di Padabeunghar. Dodo masih sibuk menyiapkan perlengkapan mengajar. Sarang lebah yang kosong dan stoples madu menjadi alat peraganya.

Ia bukanlah dosen atau guru. Namun, bagi masyarakat setempat. Dodo adalah “suhu” tentang lebah, utamanya lebah hutan (Apis dersata). Bahkan, sejumlah wisatawan asal Jakarta datang ke kawasan Batu Tulis, Padabeunghar, untuk melihat bagaimana pengolahan madu hutan ala Dodo.

Siang sebelumnya, Dodo meneruma rombongan wartawan yang juga penasaran dengan madu lebah hutan atau dikenal sebagai lebah odeng. Dengan senyum merekah, lelaki bertubuh kurus ini meniriskan madu segar langsung dari sarangnya. Rasa lelah pun lenyap, tergantikan wajar mesem, ketika madu lumer di mulut.

Tak tampak seekor anak lebah pun di sarang yang berbentuk seperti bola rugbi itu. Sebuah pertanda sarang tersebut diambil setelah para penghuninya pergi.

Cara memanen Dodo masih tradisional dan arid. Ia tidak memotong dalam pohon tempat sarang lebah bertengger, tetapi menyingkap dahan-dahan pohon dengan tangan sendiri.

Untuk mengusir lebah, ia menggunakan asap dari karung goni atau sabut kelapa yang dibakar. Hanya sarang yang sudah tua, bulatan sarang sudah tertutup, yang diambil. Pun, hanya tiga perempat bagian sarang yang boleh diraup. Sisanya merupakan bagian larva lebah. “Itu cara agar regenerasi lebah masih ada,” ucap Dodo.

Pantang pula mengambil dua sarang dalam satu pohon. Madu juga hanya boleh dipanen paling cepat 15 hari sekali.

Begitulah ajaran ayahnya. Sang-sang, tentang alam. Hidup di kawasan kaki Gunung Ciremai, puluhan warsa silam, ayah Dodo kerap memanen lebah odeng. Madu lebah odeng lalu menjadi konsumsi rumah tangga. Tak banyak warga yang memanen madu. Selain karena takut disengat, warga lebih menggantungkan diri pada bercocok tanam.

Namun, sejak 2004, sekitar 20 persen dari 2000 warga Padabeunghar, termasuk para tatangga Dodo, terpaksa tak lagi bercocok tanam. Hal itu berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 424/Menhut-H/2004 tentang Perubahan Fungsi Kawasan Hutan Lindung Gunung Ciremai Menjadi Taman Nasional.

Paling tidak 2000 hektar area Gunung Ciremai di Kabupaten Kuningan dan Majalengka rusak. Perubahan fungsi hitan menjadi lahan sayuran serta penebangan liar menjadi penyebabnya. Dodo pun berinisiatif mengajak warga untuk belajar memanen madu lebah. Apalagi, panen madu lebah tak perlu menebang pohon dan mengubah fungsi hutan. “Ya… Cuma digigit, sih,” ucapnya terkekeh.

Sakitnya sengatan lebah yang membuatnya hampir pingsan tiga kali tidak melunturkan semangatnya di dunia perlebahan. Hal itu dijadikan pertanda, mungkin ada caranya yang mencederai lebah.

Difasilitasi Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Dodo mendirikan Kelompok Pujangga Manuk Batu Luhur (KPMBL) pada 2010. Melalui kelompok tersebut, ia mencoba merangkul satu per satu tetangganya untuk memanfaatkan potensi hutan tanpa mesti menggarap lahan yang dilindungi tersebut.

Warga yang masih sulit menerima kenyataan kehilangan mata pencarian emoh dengan ajak Dodo. Bahkan, ia dituding sebagai perpejangan tangan Balai TNGC. Hanya satu-dua orang yang bergabung.

Tak ada masalah baginya. Dodo, yang sejak belasan tahun belajar memanen madu, tidak ingin “pintar” sendiri soal panen lebah. Ia mulai mengajar satu-dua warga setempat soal panen madu odeng.

Lewat KPMBL pula, Dodo mengajak warga setempat mengelola wilayah Batu Luhur, yang dikelilingi batu cadas seukuran kerbau, sebagai kawasan wisata. Di sana, madu lebah odeng dijajakan kepada pengunjung.

Lebah madu yang sebelumnya hanya dijadikan konsumsi rumah tangga pun menjadi salah satu penghasilan Dodo dan kawan-kawan. Harga sebotol madu ukuran 600 mililiter, misalnya, Rp 250.000.

Di pasaran, madu alami tersebut dibanderol hingga Rp 450.000 untuk ukuran yang sama. Kota Cirebon dan Jakarta merupakan beberapa tempat tujuan penjualan maju odeng. “Cara memanennya tetap sama, tidak boleh serakah,” katanya.

Dodo pun kedatangan banyak tetangga yang ingin belajar panen madu lebah. Kini, KPMBL memiliki 50 orang anggota, termasuk ibu-ibu yang juga berusaha menyuguhkan es cuing (cincau/Cyclea barbata), sejenis tumbuhan merambat berwarna hijau, kepada pengunjung.

Saat ditanya tentang ketakutan lahan panen berkurang karena semakin banyaknya pemanen madu, yang juga muridnya, Dodo spontan menjawab, “Supaya rezekinya berkah, ilmunya harus dibagi.”

Bahkan, Dodo kerap menjadi narasumber dunia perlebahan di Kuningan hingga Jakarta. “Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kuningan serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pernah datang ke sini untuk belajar,” ujar tamatan sekolah dasar ini.

Di samping rumah Dodo yang tak berplafon tertampang empat baris bambu memanjang layaknya pagar bambu tempat budidaya lebah Apis trigona. Di sanalah “mata pelajaran lebah” kerap disesuaikan.

 

Jaga hutan

Namun, pengalaman dari alam blum mampu membuatnya menghentikan kebakaran hutan di sekitar Gunung Ciremai. Tidak hanya merusak hutan, kebakaran yang dipicu aktivitas manusia juga memaksa lebah odeng hidrah. Dari 50 koloni-sekitar 25.000 lebah-yang berdiam di sekitar Batu Luhur, hanya 25 koloni yang mempu bertahan.

Bersama Balai TNGC di Pasawahan dan anggota KPMBL Dodo rela menghabiskan malam demi malam di hutan, mengantisipasi kebakaran hutan. Sarana komunikasi radio (HT) menjadi alat untuk mengabarkan kepada Balai TNGC jika titik api terlihat. “Biasanya saya sendiri di hutan, tetapi bilang kepada istri ada teman,” katanya tertawa.

Hawal Widodo, Kepala Seksi TNGC Wilayah I Kuningan, mengatakan, Dodo tidak hanya memberdayakan warga setempat, tetapi juga ikut menjaga hutan. “Kalau enggak ada Pak Dodo dan teman-temannya, Gunung Ciremai bisa terbakar terus,” ujarnya.

“Saya ambil hidup dari hutan. Kalau hutan terbakar, sama saja hidup saya hilang,” kata Dodo sembari menatap langit mendung pagi itu. Satu per satu anggota KPMBL datang ke rumahnya, bersiap mengikuti acara penanaman pohon di salah satu bukit di Padabeunghar.

Blum sempat mandi, Dodo bergegar pergi. Ia tak terbang seperti lebah yang bisa ke sana kemari. Namun, ia mencoba bermanfaat seperti lebah.

Sumber : Kompas Senin 18 Januari 2016

 

Denok Marty Astuti Srikandi Sampah Kota Solo

Denok Marty Astuti. Kompas. 14 Januari 2016. Hal 16

Oleh Gregorius Magnus Finesso

 

Tutur sapanya ramah. Senyum selalu mengembang dari roman mukanya yang terus berbinar, terlebih saat bertukar pikiran mengenai pengelolaan sampah di Kota Solo, Jawa Tengah.

“Dalam satu hari di Solo, sampah yang menumpuk dari segala penjuru mencapai 300 ton. Kalau mau membayangkan, satu gajah itu beratnya 3.000 kilogram. Artinya, sehari-hari, warga Solo menghasilkan sampah dengan ukuran lebih kurang sama dengan 100 gajah,” tutur Denok.

Bisa dibilang, lebih dari 10 tahun terakhir, pergumulan hidup Denok tidak jauh dari urusan sampah. Itu semua sudah dimulai sejak dia masih tinggal di Ibu Kota, jauh sebelum kiprahnya dalam pemberdayaan masyarakat marjinal Kota Solo dilakukannya.

Lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Denok mulai menapaki kehidupan mapan sebagai akuntan di PT Astra Honda Motor (AHM) sejak 2003. Namun, dorongan memberikan perhatian lebih kepada lingkungan tak jua bisa dibendung.

Setiap menyusuri gang permukiman padat penduduk Kawasan Sunter Jaya yang berada begitu dekat dengan perusahaan tempatnya bekerja, Denok prihatin melihat kampung nan kumuh, penuh sampah. Kebiasaan membuang dan menumpuk sampah di sembarang tempat membuat hidup warga tak sehat.

Hatinya mulai risau. Tersirat di benaknya, tidakkah mungkin sampah yang mengotori lingkungan permukiman jadi hal bermanfaat. Pemikiran tersebut yang melahirkan ide mendampingi warga untuk mengelola sampah menjadi barang berguna. Dia dibantu seorang tokoh masyarakat yang ikut mengenalkan cara membuat kompos dari sampah.

Setelah perubahan mulai dirasakan, Denok menawarkan ke perusahaannya untuk menjadikan Kawasan Sunter Jaya sebagai kampung pro iklim melalui program tanggung jawab social perusahaan (CSR). Saat ini, kampung binaan PT AHM itu telah jadi kawasan pro lingkungan percontohan di Jakarta.

Tak hanya kepeduliat terhadap lingkungan, Denok juga tidak segan terjun bergaul dengan anak-anak jalanan, pemulung sampah, serta menyambangi panti jompo dan panti asuhan. Aktivitas tersebut rutin dijalani setiap Sabtu-Minggu dan hari libur lain.

Bagi Denok, nyala lilin dalam jiwanya kian menyala terang setiap berbagi dengan kaum marjinal seperti mereka. “Saya lagi-lagi terpikir bagaimana cara memberdayakan mereka yang lemah secara ekonomi ini dengan modal murah? Jawabannya, ya, sampah,” kata perempuan berkacamata ini penuh semangat.

 

Dampingi narapidana

Semangat itu pula yang mendorong Denok memutuskan berhenti bekerja setelah 12 tahun. Pada 2014, dia kembali ke Solo, tanah kelahirannya.

Tidak butuh waktu lama bagi seorang Denok kembali bergumul dengan sampah seperti yang dilakukannya di Jakarta. Pada Januari 2015, Denok mendirikan Gerakan Orang Muda Peduli Sampah (Gropesh) Solo Raya. Sebelumnya, dia pun tergabung dengan Gropesh Jakarta yang berdiri sejak 2007.

Namun, jika di Jakarta Denok punya banyak rekan, di Solo, dia harus berjuang memulai semuanya sendiri. Program rintisan dikembangkan dengan mendampingi narapidana (napi) Rumah Tahanan Kelas IA Solo untuk mengelola sampah organik dan non-organik.

Bukan tanpa alasan Denok melibatkan napi. “Banyak napi ketika keluar dari bui tidak mengerti harus berbuat apa. Akhirnya, mereka melakukan nkejahatan dan masuk penjara lagi,” ujarnya.

Tak mudah baginya mengajak napi ikut pelatihan keterampilan mengolah sampah. Setelah rutin berkunjung dan berdialog dari hati ke hati dengan para napi, akhirnya Denok mampu mengajak 80 napi bergabung.

Mereka kini mampu menghasilkan pupuk dari sampah yang diberi nama Kompos Organik Biorutani. Sekitar 30 persen dari hasil penjualan diberikan kepada napi dan 70 persen untuk membeli bahan baku.

Selain kompos, hasil karya lain kelompok ini ialah aneka aksesori, seperti kerajinan keranjang, kap lampu, vas bunga, miniature becak, miniature angkringan, dan sangkar burung.

“Kebetulan, sejak kecil, saya memang sudah berminat terhadap kegiatan prakarya dengan membuat berbagai aksesori dan hiasan. Sekarang, keterampilan itu bisa berguna buat orang lain,” ucap Denok.

Produk-produk para napi dibanderol Rp 3.000 – Rp 300.000 per item. Ragam aksesori dan hiasan dari sampah ini dipasarkan melalui berbagai ajang pameran bekerja sama dengan Pemerintah Kota Solo. Para napi juga rutin menggelar pameran setiap Minggu di car free day dan lewat jual-beli daring. Omzetnya kini mencapai puluhan juta rupiah per bulan.

Kiprah Denok Bersama Gropesh terus berkembang. Anak-anak muda Solo kian tertarik bergabung dengan gerakan itu. Mereka lalu merambah ibu-ibu rumah tangga di seputaran Kota Solo.

Ibu rumah tangga diajak mengolah sampah organic menjadi pupuk kompos. Dari situ, ibu-ibu bisa menjual 1 kilogram kompos padat seharga Rp 10.000 dan kompos cair seharga Rp 7.000 per liter.

Tak henti berkreasi

Denok juga tak berhenti berkreasi. Baginya, kreativitas adalah hal tanpa batas asal jeli dan mau belajar. Hingga kini,dia mengingat, lebih dari 300 ragam kerajinan dihasilkannya dari bahan baku sampah.

Kerajinan dari bahan baku sampah plastic, misalnya, kini mulai dijadikan tas elegan tanpa terlihat “murahan”. Caranya, anyaman bekas bungkus kopi instan yang memiliki motif indah kemudian dijahit di atas kulit sintetis dan dipadukan dengan hiasan manik-manik hingga kristal. Usaha ekonomi kreatif itu sangat menguntungkan karena bisa dijual hingga Rp 300.000 dengan modal tak lebih dari separuhnya.

“Ibu-ibu rumah tangga yang sebelumnya tidak punya uang belanja lebih sekarang mulai bisa menambah pendapatan suaminya,” ucap Denok yang kini mendampingi 13 kelurahan di Kota Solo dan terus meluas hingga Boyolali, Sukoharjo, dan Wonogiri.

Bersama Gropesh, Denok juga mengajak anak-anak memungut sampah setiap selesai gelaran car free day di sepanjang Jalan Slamet Riyadi. Dia yakin penanaman kesadaran membuang sampah pada tempatnya lebih mudah ditanamkan saat masih bocah.

Untuk memperluas pemasaran produk kerajinan kreatif, Denok memfasilitasinya dengan mendirikan CV Republik Hasta Kriya. Pemasaran daring yang dilakukan bahkan mengundang minat pembeli luar negeri, seperti Amerika Serikat dan Inggris.

“Kapan lagi kita bisa ekspor sampah?” ucap Denok tertawa lebar.

 

Sumber : Kompas, Kamis, 14 Januari 2016

Darussalam Hidup Dari Ternak dan Pertanian Oraganik

Darussalam Hidup dari Ternal dan Pertanian Organik. Kompas. 21 Januari 2016. Hal 16

Oleh Lukas Adi Prasetya

 

Kini, Darussalam (53) tak hanya dikenal sebagai petani, tetapi juga peternak ayam kampung yang sukses, bahkan pionir di Kaltim. Desa Makarti menjelma menjadi sentra ayam kampung terbesar di Kaltim. Dia juga mengawali pertanian organik yang menginspirasi petani lain.

Kelompok Tani Makarti Jaya yang dipimpin Darussalam sejak tahun 2005 mengawali contoh penerapan pertanian yang terintegrasi di Kaltim. Memadukan usaha peternakan ayam kampung, perikanan, pertanian, dan terakhir industri tahu yang dimulai Desember lalu.

Produksi ayam kampung di Makarti saat ini 20.000 ekor per bulan, atau seperempat produksi ayam kampung se-Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Beberapa tahun lalu Makarti Jaya akhirnya memiliki penetasan ayam, untuk mengurangi “impor” bibit anak ayam berumur sehari (day old chicken) dari Jawa Barat.

Makarti Jaya pun menjadi kelompok tani-ternak pertama di Kaltim yang mengupayakan penetasan dan pembibitan sendiri. Indukan ayam kampung pun terus ditambah, seiring meningkatnya permintaan ayam kampung.

“Ayam kampung belum bisa menggeser ayam potong. Namun, saya yakin, di Kaltim, banyak konsumen yang menginginkan ayam kampung dan mau membeli. Ini peluang,” kata Darussalam yang juga Ketua Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (Himpuli) Kaltim, Senin (11/1).

Sejak tahun 2014, Darussalam menanam padi secara organic dengan mengawali dari petak kelompoknya. Ia mencoba system of rice intensification (SRI), budidaya padi yang mampu meningkatkan produktivitas melalui pengelolaan tanaman, tanah, dan air.

Petani-petani lain yang terbiasa dengan cara konvensional terheran-heran. Mereka terbiasa menanam banyak bibit dalam satu lubang dan menancapkannya kuat. Namun, dengan SRI, hanya sedikit bibit di satu lubang dan tak perlu ditancapkan dalam.

Karena ditancapkan dalam, akar padi malah rawan disantap orong-orong. Setiap bibit juga berebut hara tanah yang semakin berkurang dan mesti dipacu pupuk kimia. Ini berimbas pada produktivitas susah naik.

Darussalam yakin, investasi sesungguhnya dalam pertanian adalah terjaganya kesuburan tanah, dan itu dicapai dengan cara pertanian organik. Itu sebabnya, ia membuat kompos berbahan kotoran ayam dan sapi bagi anggota taninya.

Saat ini, Kelompok Tani Makarti Jaya sudah menjual pupuk cair organik (mol) dari bahan, antara lain, bonggol pisang, rebung, buah maja, urine sapi, dan limbah tahu. Bahkan, akhir 2015, Darussalam membuka usaha tahu karena sering kesulitan mendapat limbah tahu.

“Untuk penanaman padi cara SRI, di petak garapan kelompok, sudah dua kali panen, yang produksinya masing-masing per hektar mencapai 6,8 ton dan 8 ton. Di demplot garapan saya 6 ton. Bandingkan dengan cara lama yang hanya 2-3 ton per hektar,” katanya.

Tanah di Kaltim yang rata-rata lempung berpasir memang tidak terlalu cocok untuk padi. Namun, langkah Darussalam yang diikuti petani lain ini membuktikan sebaliknya.

Petani di Semangkok, Kecamatan Marangkayu, misalnya, kini mengawali pertanian organik di lahan seluas 25 hektar. Darussalam yakin pertanian organik akan meluas. Apalagi jika sudah merasakan keuntungannya. “Di sini, harga beras organic Rp 20.000 per kilogram, jauh dibandingkan harga beras kualitas baik yang di pasar dijual maksimal Rp 15.000 per kilogram,” ujarnya.

Selain menggarap pertanian dan peternakan, Darussalam juga memimpin kelompok taninya merintis usaha perikanan. Saat ini kelompoknya memiliki total 50 kolam/petak yang ditebari benih ikan gurami, nila, dan mas. Darussalam sendiri punya tiga petak kola mikan.

 

Karet

Darussalam juga menggarap lahan karet seluas 2 hektar. Namun, karena kesibukannya, yang menyadap karetnya orang lain. Dari sekian usahanya itu, hanya karet yang belum cerah prospeknya seiring anjloknya harga. Tetapi, dari karet inilah Darussalam mengawali perjuangan.

Darussalam mengawali masa pereantauan tahun 1989, ketika mengikuti program transmigrasi. Ia mendapat lahan garapan karet 2 hektar, ditambah 1 hektar untuk pekarangan dan tanaman pangan. Usia Darussalam waktu itu 26 tahun, telah menikah dan punya satu anak.

Darussalam meninggalkan pekerjaannya di pabrik kertas di Karawang, juga kegiatannya sebagai guru mengaji. “Waktu itu, ruas Samarinda-Bontang masih berupa tanah. Sepinya,” kenang Darussalam.

Desa Makarti terletak di tepi ruas jalan penghubung kedua kota tersebut.

Latar belakang keluarganya, yakni petani tulen, menempa Darussalam dari hari ke hari. Bahkan tahun 2000-2005 Darussalam menjabat sebagai Kepala Desa Makarti. Selepas itu, Darussalam membentuk Kelompok Tani Makarti Jaya, beranggotakan petani-petani karet.

Berawal dari harga karet yang tidak menentu, para petani karet di Makarti kelabakan. Satu demi satu petani karet enggan menyadap lagi karetnya dan sebagian lagi menjadi buruh. Darussalam termasuk yang sempat mundur, tetapi ia langsung ganti haluan dengan beternak ayam kampung.

“Saat itu belum ada peternak ayam kampung di Kaltim. Saya piker taka da salahnya mencoba usaha ini karena di satu sisi saya kan juga suka beternak,” ujar Darussalam. Pilihannya tepat dan petani-petani karet di desanya langsung “ketularan” beternak ayam kampung.

Akan tetapi, Darussalam pernah terpuruk ketika pada April 2011 merebak flu burung yang “menghabiskan” puluhan ribu ayam di Makarti. Darussalam dan kelompoknya harus memulai dari awal lagi.

Namun, pengalaman itu menempa Darussalam. Tak lebih dari lima tahun, sentra ayam kampung Makarti menggeliat lagi. Akhirnya Darussalam tahu bahwa cairan campuran rempah-rempah bisa menjadi jamu agar ayam tak gampang terserang penyakit.

“Pengalaman itu penting. Pengalaman yang pahit, atau musibah, justru membuat kita tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang jangan dilakukan. Saya selalu menekankan itu kepada teman-teman petani. Untuk bisa maju, itu tergantung keyakinan kita,” tuturnya.

Kelompok Tani Makarti Jaya yang ia pimpim beberapa kali meraih prestasi. Prestasi itu antara lain juara pertama dalam Lomba Unggas Lokal tingkat Kaltim tahun 2011 dan Lomba Kelompok Tani Perkebunan Inti Rakyat (PIR) Swadaya tingkat Provinsi Kaltim tahun 2010. UC LIB-COLLECT

 

Sumber : Kompas, Kamis, 21 Januari 2016

Amran Tambaru Menjemput Masa Depan Anak Masyarakat Adat

Amran Tembaru Menjeput Masa Depan Anak Masyarakat Adat. Kompas. 15 Januari 2016. Hal 16

Perjumpaan informal sembilan tahun silam menyibak jalan pergumulan bagi Amran Tambaru (46) bersama masyarakat adat di daerah pegunungan Kabupaten Tojo Una-Una dan Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Melalui lembaganya, dia menggagas dan menyelenggarakan sekolah kampung untuk anak-anak masyarakat adat. Anak-anak pun punya asa untuk menjemput masa depan.

 

OLEH VIDELIS JEMALI

 

Pada 1996, sejumlah warga Lipu (Kampung) Mpoa, bagian dari suku Wana, berbincang-bincang dengan Amran di pasar di Kecamatan Ampanatete, Tojo Una-Una. Mereka mengeluhkan bahwa anak-anak mereka yang mengikuti pendidikan di sekolah dasar tidak berkembang. Malah mereka minder dengan anak-anak lain yang mayoritas transmigran dari Pulau Jawa. Kondisi itu membuat mereka berhenti melanjutkan pendidikan di jenjang SD.

Warga yang tak mengenyam pendidikan formal tersebut juga menceritakan sering ditipu pembeli di pasar saat menjual damar dan rotan. Pembeli sering menciutkan berat hasil bumi mereka.

“Setelah mendengar curhat (curahan hati) warga, kami berpikir untuk merancang sebuah model pendidikan yang tidak membuat mereka terasing dengan lingkungan sekitar,” tutur Amran, Direktur Yayasan Merah Putih (YMP) di Palu, Sulteng, Rabu (6/1).

Tahun itu juga YMP mulai menyelenggarakan pendidikan informal yang dinamai skola lipu (sekolah kampung). Program menyasar anak-anak usia 7-15 tahun di Lipu Mpoa. Saat itu, jumlah anak yang mengikuti pendidikan 20 orang.

Sebagai rintisan, materi pendidikan berkisar seputar kemampuan dasar, mulai dari membaca, menghitung, hingga menulis. Sekolah dilaksanakan di banoa bae (rumah adat), balai dengan konstruksi kayu dan berbentuk panggung.

Suku Wana mendiami daerah pegunungan Tojo Una-Una dan Morowali Utara. Sejak awal, mereka sudah mendiami wilayah yang dikelilingi hutan. Mereka masyarakat adat yang mengelola wilayahnya jauh sebelum pemerintahan formal terbentuk dan punya tata kehidupan sendiri dalam memperlakukan lingkungan (hutan). Saat ini tercatat sekitar 22 kampung suku Wana. Karena topografinya di perbukitan, hingga kini kampung-kampung suku Wana tidak bisa dijangkau dengan kendaraan. Kampung hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

Melihat terselenggaranya pendidikan di Lipu Mpoa, tokoh masyarakat lipu lain pun tergerak. Mereka ingin anak-anak mengenyam pendidikan sebagai bekal mengarungi masa depan. Sejak tahun 2000, sekolah yang sama dilaksanakan di enam lipu yang lain. Di Tojo Una-Una, semuanya ada 16 lipu. Karena ada lipu yang berdekatan, sekolah diadakan di lipu yang mudah digapai warga lipu sekitar.

Untuk mencapai lipu tersebut, Amran dan delapan pengajar lain dari YMP berjalan kaki naik dan turun gunung. Ada lipu yang baru bisa di jangkau dalam dua hari perjalanan. Saat itu, jadwal sekolah sulit dipatok baik karena sulitnya mobilisasi pengajar maupun kebiasaan warga yang selalu membawa anak-anak mereka ke kebun.

“Bersama tokoh setempat, kami buat kesepakatan. Sekolah bisa diselenggarakan di kebun dan sungai. Anak-anak mengikuti pendidikan, orangtua mereka berkebun,” kata bapak dua anak yang pernah mengikuti Kongres Internasional tentang Perlindungan Hutan Berbasis Hak di Norwegia pertengahan tahun lalu.

Dengan jumlah peserta yang makin banyak, materi ajar diperluas, antara lain pengetahuan umum (sejarah, ilmu alam) dan pengetahuan lokal (kearifan lokal). Kearifan lokal terutama terkait dengan pertanian selaras alam. Di sini peserta diperkenalkan maksud di balik cara-cara orangtua memadukan kelestarian lingkungan dengan keigatan pertanian.

“Masyarakat Wana mempraktikan pangale. Kearifan lokal ini dijelaskan nilainya agar disadari dan terus dilestarikan,” tutur alumnus Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, Palu, itu.

Pangale adalah pembagian hutan berdasarkan peruntukan. Ada kawasan hutan yang boleh dimanfaatkan untuk perkebunan, ada pula yang tidak boleh dikelola karena dianggap keramat. Kearifan lokal tersebut menjaga kelestarian hutan.

Anak-anak pun diperkenalkan dengan pembuatan pupuk organik dengan bahan dasar yang ada di lingkungan sekitar. Ini juga bertujuan untuk mempertahankan kesuburan tanah.

Tak hanya bergerak di lapangan, Amran juga berjuang pada tataran advokasi kebijakan. Bersama kawan-kawannya di YMP, dia meyakinkan Pemerintah Kabupaten Tojo Una-Una untuk mengakui penyelenggaraan skola lipu. Setelah dialog yang panjang, pemerintah mengeluarkan peraturan yang intinya mengakui penyelenggaraan sekolah tersebut pada 2011.

“Peraturan itu penting karena secara tidak langsung itu pengakuan atas absennya negara bagi suku Wana,” ucap suami dari Roslina Laraga (45) ini.

Dengan peraturan tersebut, anak-anak bisa mengantongi Sukma (surat keterangan mampu), yaitu sertifikat yang bisa dipakai untuk mengenyam pendidikan formal di jenjang SD. Biasanya, peserta skola lipu meneken Sukma untuk masuk ke kelas V. Sekolah tujuan tak bisa menolak karena sertifikat itu diproses ketat dengan melibatkan tim verifikasi dari kecamatan dan kabupaten.

Tidak menyebutkan jumlah pasti, Amaran menyampaikan saat ini tidak kurang dari 20 anak duduk di bangku SMP berkat Sukma. Di Tojo Una-Una hingga 2015, tercatat 200 anak menjadi peserta skola lipu.

Melihat antusiasme suku Wana di Tojo Una-Una mengikuti pendidikan informal tersebut, Amran mereplikasi program serupa untuk menjangkau masyarakat adat di Morowali Utara. Pada 2012, enam lipu suku Wana di kabupaten pemekaran dari Morowali itu disentuh dengan skola lipu. Jumlah peserta di sana 70 orang.

Sebagaimana di Tojo Una-Una, akses ke lipu di Morowali Utara sangat minim. Masyarakat tinggal di hutan-hutan. Satu lipu bahkan “dikurung” Cagar Alam Morowali.

Selain fasilitator dari YMP, skola lipu juga dibantu oleh para mahasiswa yang menjalani kuliah kerja nyata (KKN) di Tojo Una-Una. Di Tojo Una-Una ada lima pengajar, sementara di Morowali Utara tiga pengajar. Saat ini rata-rata frekuensi pertemuan skola lipu sebanyak empat kali dalam seminggu dengan durasi pertemuan 2 jam.

Bagi Amran, skola lipu tidak hanya kritis atas absennya negara dalam memenuhi hak dasar warga, tetapi juga hikmah bahwa model pendidikan formal tidak bisa disamaratakan di semua tempat. Di wilayah tertentu, pendidikan perlu diselenggarakan dengan tidak mencerabut mereka dari akarnya.

 

AMRAN TAMBARU

  • Lahir: Palu, 3 Maret 1969
  • Pendidikan: Strata Satu (S-1)

Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, Palu (1994)

  • Pekerjaan: Direktur Eksekutif Yayasan Merah Putih
  • Istri: Roslina Laraga (45)
  • Anak:
  • Anata Amalia (12)
  • Nakita Semesta (11)
  • Penghargaan: Anugerah Trubus Swadaya Kategori Kelompok (2015)

 

 

 

 

 

Sumber: Kompas, 15 Januari 2016

Achmad Zaky Juragan E-Dagang Menatap Tiongkok

Achmad Zaky Juragan E-Dagang Menatap Tiongkok

ACHMAD ZAKY

  • Jabatan : Pendiri dan CEO Bukalapak
  • Lahir : Sragen, 24 Agustus 1986
  • Istri : Biajeng Lestari
  • Anak : Audi dan Laiqa Anzani
  • Pendidikan :
  • SD di Sragen
  • SMP – SMA di Solo
  • S-1 Teknik Informatika ITB
  • Hobi : Futsal dan membaca buku nonfiksi, khususnya bisnis
  • Tokoh yang dikagumi : Steve Jobs
  • Cita – cita : Ingin menjadikan Indonesia sebagai “Silicon Valley”

 

Laki – laki ini bukan sekedar paham konsep “dunia datar” tempat setiap orang memiliki kesempatan sama di internet, sebagaimana didengungkan Thomas L Friedman. Lebih dari itu, ia mampu meloloskan diri dri statistika umum dengan menjadi “the outliers”, seperti ditengarai Malcolm Gladwell tentang orang – orang sukses di dunia bisnis. Dia adalah Achmad Zaky dengan Bukalapak yang diciptakannya.

OLEH PEPIH NUGRAHA

Sekarang Bukalapak boleh dibilang merupakan situs jual – beli online paling popular di Indonesia. Peringkatnya di Alexa bertengger di urutan ke-9, satu peringkat dibawah Kaskus, situs berbagi sebagai benchmark untuk Forum Jual – Beli yang mengawali keriuhan situs e-dagang di Tanah Air

Penampilannya santai untuk ukuran CEO perusahaan online yang baru saja mendapat gelontoran modal ratusan miliar rupiah dari Emtek Group. “Berapa jumlah persisnya tidak bisa saya sebutkan, itu investor confidential,” kata Zaky mengawali bincang – bincang di kantor Bukalapak di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, beberapa pecan lalu.

Zaky adalah lulusan Teknik Infomatika Institut Teknologi Bandung ( ITB ) tahun 2009 yang melawan paradigm orangtua umumnya mengenai ukuran sukses anak. Orangtua Zaky, pasangan Rusdi dan Royhattul Djannah, keduanya guru, memintanya bekerja kantoran agar mendapat gaji tetap. Tetapi, Zaky dan umumnya mahasiswa ITB, seperti diakuinya, menganggap gaji bukan segalanya. “Kami lebih mengutamakan noble atau grand, mulia dan agung begitulah, yakni bagaimana bisa berguna untuk orang banyak.” Katanya.

Perlawanan terhadap paradigm orangtua ia manifestasikan dengan ngoprek teknologi informasi sejak masuk ITB pada 2004. Zaky banyak mengikuti lomba membuat aplikasi internet. Debut bisnis pertamanya saat diminta membuat software hitung cepat Pilkada DKI Jakarta 2007.

Mulanya Zaky tidak yakin bisa memenuhi tenggat yang ditentukan,  yaitu dua minggu. Namun, karena sebagaimana diakuinya memiliki “Mental ITB”, ia malah bisa menyelesaikan software dalam seminggu. “Itulah kerja komersial pertama saya dengan nilai 1,5 juta rupiah, waktu itu sudah dipakai saja senangnya minta ampun.” Katanya.

Kesadaran bahwa teknologi bisa memberikan nilai tambah setidak – tidaknya memberikan pencerahan, dimulai sejak membuat aplikasi hitung cepat dengan “hanya” mengolah SMS yang masuk ke stasiun televisi beberapa saat setelah Pilkada DKI di mulai. Zaky memproses dari server untuk menentukan siapa paling unggul. ”Tidak semata – mata nilai uang, tetapi proses mengubah paradigm bahwa persoalan rumit yang bersifat prediktif bisa diselesaikan dengan teknologi,” katanya.

BANYAK DITOLAK

Bukalapak sebagai sebuah nomenklatur lahir di akhir perkuliahan tahun 2009 dengan mengintip ramainya forum jual – beli di Kaskus. Zaky mengakui, mulanya sulit meyakinkan pelaku usaha kecil menengah (UKM) mengenai aplikasi e-dagang yang diciptakannya. Sebagian besar menolak karena inginnya langsung berjualan di kios. Bukan lapak – lapak virtual di internet. Zaky meyakinkan pengelola UKM bahwa internet adalah peluang bisnis masa depan.

Bersama rekannya, Nugroho Herucahyono yang sekarag didapuk menjadi CTO Bukalapak, Zaky lebih memilih kelayapan ke ITC Mangga Dua dan Tana Abang untuk menemui pelaku UKM, menawarkan situsnya dengan modal awal sekedar membeli domain Rp.100.000 dan hosting ratusan ribu rupiah sebulan.

Untuk mencari pelaku UKM yang mau membuka lapaknya, Zaky berpromosi “door to door”, ke toko –toko di ITC, memperkenalkan diri, berteman di facebook, kemudian mengirimkan pesan. “Sehari saya bisa menawarkan Bukalapak ke 100 sampai 200 orang, tetapi 95 persen menolak,” kenangnya.

Mengapa sasarannya UKM ? Zaky beranjak dari data pemerintah bahwa jumlah UKM mencapai 50 juta. Angka ini sama dengan 90 persen pekerja, sementara 60 persen produk domestic bruto  (PDB) disumbang UKM. “Saya melihat potensi UKM besar sekali dan saya punya cita – cita in the long term golongan UKM ini harus naik kelas, paling tidak menjadi dua atau tiga kali lipat,” urai Zaky.

Sebagai anak daerah yang lahir di Sragen, Jawa Tengah, pilihannya hanya dua, menjadi PNS atau merantau ke Jakarta. Ia memilih merantau. Zaky bertanya, apakah pengusaha harus lahir di kota – kota besar ? mengapa tidak lahir pengusaha – pengusaha yang berusaha di kampunya sendiri ? Dari pertanyaan itulah Bukalapak membuka peluang usaha dengan menjadikan seseorang sebagai pengusaha, tidak peduli ia tinggal di kampong atau di kota.

Misi Bukalapak, kata Zaky, selain menaikkan UKM, adalah memberikan nilai semangat berusaha, kreatif, inovatif, dan berpikir panjang.

Tentang bisnis e-dagangnya, Zaky mengaku melakukan benchmarking ke Alibaba di Tiongkok, perusahaan jual – beli online terjaya sejagat milik Jack Ma. Indonesia, kata Zaky, kelas UKM-nya lebih kecil ketimbang Tiongkok yang kesempatannya sudah given, yaitu pasar yang sangat besar. Zaky secara sadar menggarap komunitas, mengikuti kebiasaan mereka kumpul dan berkerumun. Zaky menilai, sebagai platform bisnis virtual, Bukalapak lebih manusiawi karena sering kumpul – kumpul itu.

Saat ini sudah tercatat lebih dari setengah juta UKM yang membuka lapaknya dengan 5.000 pelapak baru setiap hari. Secara demografis, 70 persen pelakunya adalah laki – laki dan 30 persen perempuan. Produk popular yang dominan adalah busana, makanan, gawai (gadget), aksesori, dan batu akik dengan nilai transaksi Rp. 15 miliar hingga Rp.20 miliar sehari. Saat Hari Belanja Online, beberapa pekan lalu, transaksi mencapai Rp.100 miliar. Dari setiap transaksi, Bukalapak mendapat fee  0,5 persen.

Zaky mengaku jumlah ini “kecil”. Namun ia mengandalkan fitur premium berbayar. Jika lapaknya ingin terus eksis dan dagangannya laku, ia harus menjadi lapak professional. “Tetapi, itu pilihan. Sekarang ada 50.000 pelapak profesional yang menggunakan fitur premium,” katanya.

INCAR TIONGKOK

Tentang investor, Zaky mengaku tidak pernah menawarkannya kepada siapapun. Mereka datang sendiri untuk bisnis yang mulanya sekedar bootstrap alias modal dengkul atau modal seadanya. Bukalapak akhirnya dilirik investor Jepang saat pekerjaannya masih dua. Mereka melihat peluang karena di Jepang saat itu ada Rakuten dan di Tiongkok ada Alibaba.

Pada 2013, Zaky mendapat dana lagi dari Jepang, yakni dari Gree Venture yang menanamkan uangnya Rp.25 miliar sebelum kemudian datang Emtek dengan menyuntikkan dana ratusan miliar rupiah. Dengan pengguna internet mencapai 70 juta di Indonesia dan 5 juta sampai 10 juta diantaranya pelaku e-dagang, sebagaimana harapannya. Maka, pasar Tiongkok adalah peluang baru yang akan dijajakinya. “Saya harus belajar bahasa Mandarin,” katanya.

Pesaing Bukalapak bukan direct competitor seperti Tokopedia atau Lazada, melainkan dari pengguna media sosial, khususnya Facebook dan Instagram, juga layanan pesan seperti Whatsapp dan BBM. Di Indonesia, orang mengenal media sosial lebih dulu, baru situs e-dagang. kondisi sebaliknya terjadi di Tiongkok.

“Saya ingin pengunjung Bukalapak minimal sama dengan pengunjung Facebook yang mencapai 50 juta pengunjung per hari dengan pertumbuhan anggota enam kali lipat dari sekarang atau sekitar tiga juta lapak,” Zaky menutup percakapan dengan sebuah harapan.        

 

SUMBER : KOMPAS, Rabu 6 Januari 2016