Darussalam Hidup Dari Ternak dan Pertanian Oraganik

Darussalam Hidup dari Ternal dan Pertanian Organik. Kompas. 21 Januari 2016. Hal 16

Oleh Lukas Adi Prasetya

 

Kini, Darussalam (53) tak hanya dikenal sebagai petani, tetapi juga peternak ayam kampung yang sukses, bahkan pionir di Kaltim. Desa Makarti menjelma menjadi sentra ayam kampung terbesar di Kaltim. Dia juga mengawali pertanian organik yang menginspirasi petani lain.

Kelompok Tani Makarti Jaya yang dipimpin Darussalam sejak tahun 2005 mengawali contoh penerapan pertanian yang terintegrasi di Kaltim. Memadukan usaha peternakan ayam kampung, perikanan, pertanian, dan terakhir industri tahu yang dimulai Desember lalu.

Produksi ayam kampung di Makarti saat ini 20.000 ekor per bulan, atau seperempat produksi ayam kampung se-Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Beberapa tahun lalu Makarti Jaya akhirnya memiliki penetasan ayam, untuk mengurangi “impor” bibit anak ayam berumur sehari (day old chicken) dari Jawa Barat.

Makarti Jaya pun menjadi kelompok tani-ternak pertama di Kaltim yang mengupayakan penetasan dan pembibitan sendiri. Indukan ayam kampung pun terus ditambah, seiring meningkatnya permintaan ayam kampung.

“Ayam kampung belum bisa menggeser ayam potong. Namun, saya yakin, di Kaltim, banyak konsumen yang menginginkan ayam kampung dan mau membeli. Ini peluang,” kata Darussalam yang juga Ketua Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (Himpuli) Kaltim, Senin (11/1).

Sejak tahun 2014, Darussalam menanam padi secara organic dengan mengawali dari petak kelompoknya. Ia mencoba system of rice intensification (SRI), budidaya padi yang mampu meningkatkan produktivitas melalui pengelolaan tanaman, tanah, dan air.

Petani-petani lain yang terbiasa dengan cara konvensional terheran-heran. Mereka terbiasa menanam banyak bibit dalam satu lubang dan menancapkannya kuat. Namun, dengan SRI, hanya sedikit bibit di satu lubang dan tak perlu ditancapkan dalam.

Karena ditancapkan dalam, akar padi malah rawan disantap orong-orong. Setiap bibit juga berebut hara tanah yang semakin berkurang dan mesti dipacu pupuk kimia. Ini berimbas pada produktivitas susah naik.

Darussalam yakin, investasi sesungguhnya dalam pertanian adalah terjaganya kesuburan tanah, dan itu dicapai dengan cara pertanian organik. Itu sebabnya, ia membuat kompos berbahan kotoran ayam dan sapi bagi anggota taninya.

Saat ini, Kelompok Tani Makarti Jaya sudah menjual pupuk cair organik (mol) dari bahan, antara lain, bonggol pisang, rebung, buah maja, urine sapi, dan limbah tahu. Bahkan, akhir 2015, Darussalam membuka usaha tahu karena sering kesulitan mendapat limbah tahu.

“Untuk penanaman padi cara SRI, di petak garapan kelompok, sudah dua kali panen, yang produksinya masing-masing per hektar mencapai 6,8 ton dan 8 ton. Di demplot garapan saya 6 ton. Bandingkan dengan cara lama yang hanya 2-3 ton per hektar,” katanya.

Tanah di Kaltim yang rata-rata lempung berpasir memang tidak terlalu cocok untuk padi. Namun, langkah Darussalam yang diikuti petani lain ini membuktikan sebaliknya.

Petani di Semangkok, Kecamatan Marangkayu, misalnya, kini mengawali pertanian organik di lahan seluas 25 hektar. Darussalam yakin pertanian organik akan meluas. Apalagi jika sudah merasakan keuntungannya. “Di sini, harga beras organic Rp 20.000 per kilogram, jauh dibandingkan harga beras kualitas baik yang di pasar dijual maksimal Rp 15.000 per kilogram,” ujarnya.

Selain menggarap pertanian dan peternakan, Darussalam juga memimpin kelompok taninya merintis usaha perikanan. Saat ini kelompoknya memiliki total 50 kolam/petak yang ditebari benih ikan gurami, nila, dan mas. Darussalam sendiri punya tiga petak kola mikan.

 

Karet

Darussalam juga menggarap lahan karet seluas 2 hektar. Namun, karena kesibukannya, yang menyadap karetnya orang lain. Dari sekian usahanya itu, hanya karet yang belum cerah prospeknya seiring anjloknya harga. Tetapi, dari karet inilah Darussalam mengawali perjuangan.

Darussalam mengawali masa pereantauan tahun 1989, ketika mengikuti program transmigrasi. Ia mendapat lahan garapan karet 2 hektar, ditambah 1 hektar untuk pekarangan dan tanaman pangan. Usia Darussalam waktu itu 26 tahun, telah menikah dan punya satu anak.

Darussalam meninggalkan pekerjaannya di pabrik kertas di Karawang, juga kegiatannya sebagai guru mengaji. “Waktu itu, ruas Samarinda-Bontang masih berupa tanah. Sepinya,” kenang Darussalam.

Desa Makarti terletak di tepi ruas jalan penghubung kedua kota tersebut.

Latar belakang keluarganya, yakni petani tulen, menempa Darussalam dari hari ke hari. Bahkan tahun 2000-2005 Darussalam menjabat sebagai Kepala Desa Makarti. Selepas itu, Darussalam membentuk Kelompok Tani Makarti Jaya, beranggotakan petani-petani karet.

Berawal dari harga karet yang tidak menentu, para petani karet di Makarti kelabakan. Satu demi satu petani karet enggan menyadap lagi karetnya dan sebagian lagi menjadi buruh. Darussalam termasuk yang sempat mundur, tetapi ia langsung ganti haluan dengan beternak ayam kampung.

“Saat itu belum ada peternak ayam kampung di Kaltim. Saya piker taka da salahnya mencoba usaha ini karena di satu sisi saya kan juga suka beternak,” ujar Darussalam. Pilihannya tepat dan petani-petani karet di desanya langsung “ketularan” beternak ayam kampung.

Akan tetapi, Darussalam pernah terpuruk ketika pada April 2011 merebak flu burung yang “menghabiskan” puluhan ribu ayam di Makarti. Darussalam dan kelompoknya harus memulai dari awal lagi.

Namun, pengalaman itu menempa Darussalam. Tak lebih dari lima tahun, sentra ayam kampung Makarti menggeliat lagi. Akhirnya Darussalam tahu bahwa cairan campuran rempah-rempah bisa menjadi jamu agar ayam tak gampang terserang penyakit.

“Pengalaman itu penting. Pengalaman yang pahit, atau musibah, justru membuat kita tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang jangan dilakukan. Saya selalu menekankan itu kepada teman-teman petani. Untuk bisa maju, itu tergantung keyakinan kita,” tuturnya.

Kelompok Tani Makarti Jaya yang ia pimpim beberapa kali meraih prestasi. Prestasi itu antara lain juara pertama dalam Lomba Unggas Lokal tingkat Kaltim tahun 2011 dan Lomba Kelompok Tani Perkebunan Inti Rakyat (PIR) Swadaya tingkat Provinsi Kaltim tahun 2010. UC LIB-COLLECT

 

Sumber : Kompas, Kamis, 21 Januari 2016

Amran Tambaru Menjemput Masa Depan Anak Masyarakat Adat

Amran Tembaru Menjeput Masa Depan Anak Masyarakat Adat. Kompas. 15 Januari 2016. Hal 16

Perjumpaan informal sembilan tahun silam menyibak jalan pergumulan bagi Amran Tambaru (46) bersama masyarakat adat di daerah pegunungan Kabupaten Tojo Una-Una dan Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Melalui lembaganya, dia menggagas dan menyelenggarakan sekolah kampung untuk anak-anak masyarakat adat. Anak-anak pun punya asa untuk menjemput masa depan.

 

OLEH VIDELIS JEMALI

 

Pada 1996, sejumlah warga Lipu (Kampung) Mpoa, bagian dari suku Wana, berbincang-bincang dengan Amran di pasar di Kecamatan Ampanatete, Tojo Una-Una. Mereka mengeluhkan bahwa anak-anak mereka yang mengikuti pendidikan di sekolah dasar tidak berkembang. Malah mereka minder dengan anak-anak lain yang mayoritas transmigran dari Pulau Jawa. Kondisi itu membuat mereka berhenti melanjutkan pendidikan di jenjang SD.

Warga yang tak mengenyam pendidikan formal tersebut juga menceritakan sering ditipu pembeli di pasar saat menjual damar dan rotan. Pembeli sering menciutkan berat hasil bumi mereka.

“Setelah mendengar curhat (curahan hati) warga, kami berpikir untuk merancang sebuah model pendidikan yang tidak membuat mereka terasing dengan lingkungan sekitar,” tutur Amran, Direktur Yayasan Merah Putih (YMP) di Palu, Sulteng, Rabu (6/1).

Tahun itu juga YMP mulai menyelenggarakan pendidikan informal yang dinamai skola lipu (sekolah kampung). Program menyasar anak-anak usia 7-15 tahun di Lipu Mpoa. Saat itu, jumlah anak yang mengikuti pendidikan 20 orang.

Sebagai rintisan, materi pendidikan berkisar seputar kemampuan dasar, mulai dari membaca, menghitung, hingga menulis. Sekolah dilaksanakan di banoa bae (rumah adat), balai dengan konstruksi kayu dan berbentuk panggung.

Suku Wana mendiami daerah pegunungan Tojo Una-Una dan Morowali Utara. Sejak awal, mereka sudah mendiami wilayah yang dikelilingi hutan. Mereka masyarakat adat yang mengelola wilayahnya jauh sebelum pemerintahan formal terbentuk dan punya tata kehidupan sendiri dalam memperlakukan lingkungan (hutan). Saat ini tercatat sekitar 22 kampung suku Wana. Karena topografinya di perbukitan, hingga kini kampung-kampung suku Wana tidak bisa dijangkau dengan kendaraan. Kampung hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

Melihat terselenggaranya pendidikan di Lipu Mpoa, tokoh masyarakat lipu lain pun tergerak. Mereka ingin anak-anak mengenyam pendidikan sebagai bekal mengarungi masa depan. Sejak tahun 2000, sekolah yang sama dilaksanakan di enam lipu yang lain. Di Tojo Una-Una, semuanya ada 16 lipu. Karena ada lipu yang berdekatan, sekolah diadakan di lipu yang mudah digapai warga lipu sekitar.

Untuk mencapai lipu tersebut, Amran dan delapan pengajar lain dari YMP berjalan kaki naik dan turun gunung. Ada lipu yang baru bisa di jangkau dalam dua hari perjalanan. Saat itu, jadwal sekolah sulit dipatok baik karena sulitnya mobilisasi pengajar maupun kebiasaan warga yang selalu membawa anak-anak mereka ke kebun.

“Bersama tokoh setempat, kami buat kesepakatan. Sekolah bisa diselenggarakan di kebun dan sungai. Anak-anak mengikuti pendidikan, orangtua mereka berkebun,” kata bapak dua anak yang pernah mengikuti Kongres Internasional tentang Perlindungan Hutan Berbasis Hak di Norwegia pertengahan tahun lalu.

Dengan jumlah peserta yang makin banyak, materi ajar diperluas, antara lain pengetahuan umum (sejarah, ilmu alam) dan pengetahuan lokal (kearifan lokal). Kearifan lokal terutama terkait dengan pertanian selaras alam. Di sini peserta diperkenalkan maksud di balik cara-cara orangtua memadukan kelestarian lingkungan dengan keigatan pertanian.

“Masyarakat Wana mempraktikan pangale. Kearifan lokal ini dijelaskan nilainya agar disadari dan terus dilestarikan,” tutur alumnus Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, Palu, itu.

Pangale adalah pembagian hutan berdasarkan peruntukan. Ada kawasan hutan yang boleh dimanfaatkan untuk perkebunan, ada pula yang tidak boleh dikelola karena dianggap keramat. Kearifan lokal tersebut menjaga kelestarian hutan.

Anak-anak pun diperkenalkan dengan pembuatan pupuk organik dengan bahan dasar yang ada di lingkungan sekitar. Ini juga bertujuan untuk mempertahankan kesuburan tanah.

Tak hanya bergerak di lapangan, Amran juga berjuang pada tataran advokasi kebijakan. Bersama kawan-kawannya di YMP, dia meyakinkan Pemerintah Kabupaten Tojo Una-Una untuk mengakui penyelenggaraan skola lipu. Setelah dialog yang panjang, pemerintah mengeluarkan peraturan yang intinya mengakui penyelenggaraan sekolah tersebut pada 2011.

“Peraturan itu penting karena secara tidak langsung itu pengakuan atas absennya negara bagi suku Wana,” ucap suami dari Roslina Laraga (45) ini.

Dengan peraturan tersebut, anak-anak bisa mengantongi Sukma (surat keterangan mampu), yaitu sertifikat yang bisa dipakai untuk mengenyam pendidikan formal di jenjang SD. Biasanya, peserta skola lipu meneken Sukma untuk masuk ke kelas V. Sekolah tujuan tak bisa menolak karena sertifikat itu diproses ketat dengan melibatkan tim verifikasi dari kecamatan dan kabupaten.

Tidak menyebutkan jumlah pasti, Amaran menyampaikan saat ini tidak kurang dari 20 anak duduk di bangku SMP berkat Sukma. Di Tojo Una-Una hingga 2015, tercatat 200 anak menjadi peserta skola lipu.

Melihat antusiasme suku Wana di Tojo Una-Una mengikuti pendidikan informal tersebut, Amran mereplikasi program serupa untuk menjangkau masyarakat adat di Morowali Utara. Pada 2012, enam lipu suku Wana di kabupaten pemekaran dari Morowali itu disentuh dengan skola lipu. Jumlah peserta di sana 70 orang.

Sebagaimana di Tojo Una-Una, akses ke lipu di Morowali Utara sangat minim. Masyarakat tinggal di hutan-hutan. Satu lipu bahkan “dikurung” Cagar Alam Morowali.

Selain fasilitator dari YMP, skola lipu juga dibantu oleh para mahasiswa yang menjalani kuliah kerja nyata (KKN) di Tojo Una-Una. Di Tojo Una-Una ada lima pengajar, sementara di Morowali Utara tiga pengajar. Saat ini rata-rata frekuensi pertemuan skola lipu sebanyak empat kali dalam seminggu dengan durasi pertemuan 2 jam.

Bagi Amran, skola lipu tidak hanya kritis atas absennya negara dalam memenuhi hak dasar warga, tetapi juga hikmah bahwa model pendidikan formal tidak bisa disamaratakan di semua tempat. Di wilayah tertentu, pendidikan perlu diselenggarakan dengan tidak mencerabut mereka dari akarnya.

 

AMRAN TAMBARU

  • Lahir: Palu, 3 Maret 1969
  • Pendidikan: Strata Satu (S-1)

Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, Palu (1994)

  • Pekerjaan: Direktur Eksekutif Yayasan Merah Putih
  • Istri: Roslina Laraga (45)
  • Anak:
  • Anata Amalia (12)
  • Nakita Semesta (11)
  • Penghargaan: Anugerah Trubus Swadaya Kategori Kelompok (2015)

 

 

 

 

 

Sumber: Kompas, 15 Januari 2016

Achmad Zaky Juragan E-Dagang Menatap Tiongkok

Achmad Zaky Juragan E-Dagang Menatap Tiongkok

ACHMAD ZAKY

  • Jabatan : Pendiri dan CEO Bukalapak
  • Lahir : Sragen, 24 Agustus 1986
  • Istri : Biajeng Lestari
  • Anak : Audi dan Laiqa Anzani
  • Pendidikan :
  • SD di Sragen
  • SMP – SMA di Solo
  • S-1 Teknik Informatika ITB
  • Hobi : Futsal dan membaca buku nonfiksi, khususnya bisnis
  • Tokoh yang dikagumi : Steve Jobs
  • Cita – cita : Ingin menjadikan Indonesia sebagai “Silicon Valley”

 

Laki – laki ini bukan sekedar paham konsep “dunia datar” tempat setiap orang memiliki kesempatan sama di internet, sebagaimana didengungkan Thomas L Friedman. Lebih dari itu, ia mampu meloloskan diri dri statistika umum dengan menjadi “the outliers”, seperti ditengarai Malcolm Gladwell tentang orang – orang sukses di dunia bisnis. Dia adalah Achmad Zaky dengan Bukalapak yang diciptakannya.

OLEH PEPIH NUGRAHA

Sekarang Bukalapak boleh dibilang merupakan situs jual – beli online paling popular di Indonesia. Peringkatnya di Alexa bertengger di urutan ke-9, satu peringkat dibawah Kaskus, situs berbagi sebagai benchmark untuk Forum Jual – Beli yang mengawali keriuhan situs e-dagang di Tanah Air

Penampilannya santai untuk ukuran CEO perusahaan online yang baru saja mendapat gelontoran modal ratusan miliar rupiah dari Emtek Group. “Berapa jumlah persisnya tidak bisa saya sebutkan, itu investor confidential,” kata Zaky mengawali bincang – bincang di kantor Bukalapak di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, beberapa pecan lalu.

Zaky adalah lulusan Teknik Infomatika Institut Teknologi Bandung ( ITB ) tahun 2009 yang melawan paradigm orangtua umumnya mengenai ukuran sukses anak. Orangtua Zaky, pasangan Rusdi dan Royhattul Djannah, keduanya guru, memintanya bekerja kantoran agar mendapat gaji tetap. Tetapi, Zaky dan umumnya mahasiswa ITB, seperti diakuinya, menganggap gaji bukan segalanya. “Kami lebih mengutamakan noble atau grand, mulia dan agung begitulah, yakni bagaimana bisa berguna untuk orang banyak.” Katanya.

Perlawanan terhadap paradigm orangtua ia manifestasikan dengan ngoprek teknologi informasi sejak masuk ITB pada 2004. Zaky banyak mengikuti lomba membuat aplikasi internet. Debut bisnis pertamanya saat diminta membuat software hitung cepat Pilkada DKI Jakarta 2007.

Mulanya Zaky tidak yakin bisa memenuhi tenggat yang ditentukan,  yaitu dua minggu. Namun, karena sebagaimana diakuinya memiliki “Mental ITB”, ia malah bisa menyelesaikan software dalam seminggu. “Itulah kerja komersial pertama saya dengan nilai 1,5 juta rupiah, waktu itu sudah dipakai saja senangnya minta ampun.” Katanya.

Kesadaran bahwa teknologi bisa memberikan nilai tambah setidak – tidaknya memberikan pencerahan, dimulai sejak membuat aplikasi hitung cepat dengan “hanya” mengolah SMS yang masuk ke stasiun televisi beberapa saat setelah Pilkada DKI di mulai. Zaky memproses dari server untuk menentukan siapa paling unggul. ”Tidak semata – mata nilai uang, tetapi proses mengubah paradigm bahwa persoalan rumit yang bersifat prediktif bisa diselesaikan dengan teknologi,” katanya.

BANYAK DITOLAK

Bukalapak sebagai sebuah nomenklatur lahir di akhir perkuliahan tahun 2009 dengan mengintip ramainya forum jual – beli di Kaskus. Zaky mengakui, mulanya sulit meyakinkan pelaku usaha kecil menengah (UKM) mengenai aplikasi e-dagang yang diciptakannya. Sebagian besar menolak karena inginnya langsung berjualan di kios. Bukan lapak – lapak virtual di internet. Zaky meyakinkan pengelola UKM bahwa internet adalah peluang bisnis masa depan.

Bersama rekannya, Nugroho Herucahyono yang sekarag didapuk menjadi CTO Bukalapak, Zaky lebih memilih kelayapan ke ITC Mangga Dua dan Tana Abang untuk menemui pelaku UKM, menawarkan situsnya dengan modal awal sekedar membeli domain Rp.100.000 dan hosting ratusan ribu rupiah sebulan.

Untuk mencari pelaku UKM yang mau membuka lapaknya, Zaky berpromosi “door to door”, ke toko –toko di ITC, memperkenalkan diri, berteman di facebook, kemudian mengirimkan pesan. “Sehari saya bisa menawarkan Bukalapak ke 100 sampai 200 orang, tetapi 95 persen menolak,” kenangnya.

Mengapa sasarannya UKM ? Zaky beranjak dari data pemerintah bahwa jumlah UKM mencapai 50 juta. Angka ini sama dengan 90 persen pekerja, sementara 60 persen produk domestic bruto  (PDB) disumbang UKM. “Saya melihat potensi UKM besar sekali dan saya punya cita – cita in the long term golongan UKM ini harus naik kelas, paling tidak menjadi dua atau tiga kali lipat,” urai Zaky.

Sebagai anak daerah yang lahir di Sragen, Jawa Tengah, pilihannya hanya dua, menjadi PNS atau merantau ke Jakarta. Ia memilih merantau. Zaky bertanya, apakah pengusaha harus lahir di kota – kota besar ? mengapa tidak lahir pengusaha – pengusaha yang berusaha di kampunya sendiri ? Dari pertanyaan itulah Bukalapak membuka peluang usaha dengan menjadikan seseorang sebagai pengusaha, tidak peduli ia tinggal di kampong atau di kota.

Misi Bukalapak, kata Zaky, selain menaikkan UKM, adalah memberikan nilai semangat berusaha, kreatif, inovatif, dan berpikir panjang.

Tentang bisnis e-dagangnya, Zaky mengaku melakukan benchmarking ke Alibaba di Tiongkok, perusahaan jual – beli online terjaya sejagat milik Jack Ma. Indonesia, kata Zaky, kelas UKM-nya lebih kecil ketimbang Tiongkok yang kesempatannya sudah given, yaitu pasar yang sangat besar. Zaky secara sadar menggarap komunitas, mengikuti kebiasaan mereka kumpul dan berkerumun. Zaky menilai, sebagai platform bisnis virtual, Bukalapak lebih manusiawi karena sering kumpul – kumpul itu.

Saat ini sudah tercatat lebih dari setengah juta UKM yang membuka lapaknya dengan 5.000 pelapak baru setiap hari. Secara demografis, 70 persen pelakunya adalah laki – laki dan 30 persen perempuan. Produk popular yang dominan adalah busana, makanan, gawai (gadget), aksesori, dan batu akik dengan nilai transaksi Rp. 15 miliar hingga Rp.20 miliar sehari. Saat Hari Belanja Online, beberapa pekan lalu, transaksi mencapai Rp.100 miliar. Dari setiap transaksi, Bukalapak mendapat fee  0,5 persen.

Zaky mengaku jumlah ini “kecil”. Namun ia mengandalkan fitur premium berbayar. Jika lapaknya ingin terus eksis dan dagangannya laku, ia harus menjadi lapak professional. “Tetapi, itu pilihan. Sekarang ada 50.000 pelapak profesional yang menggunakan fitur premium,” katanya.

INCAR TIONGKOK

Tentang investor, Zaky mengaku tidak pernah menawarkannya kepada siapapun. Mereka datang sendiri untuk bisnis yang mulanya sekedar bootstrap alias modal dengkul atau modal seadanya. Bukalapak akhirnya dilirik investor Jepang saat pekerjaannya masih dua. Mereka melihat peluang karena di Jepang saat itu ada Rakuten dan di Tiongkok ada Alibaba.

Pada 2013, Zaky mendapat dana lagi dari Jepang, yakni dari Gree Venture yang menanamkan uangnya Rp.25 miliar sebelum kemudian datang Emtek dengan menyuntikkan dana ratusan miliar rupiah. Dengan pengguna internet mencapai 70 juta di Indonesia dan 5 juta sampai 10 juta diantaranya pelaku e-dagang, sebagaimana harapannya. Maka, pasar Tiongkok adalah peluang baru yang akan dijajakinya. “Saya harus belajar bahasa Mandarin,” katanya.

Pesaing Bukalapak bukan direct competitor seperti Tokopedia atau Lazada, melainkan dari pengguna media sosial, khususnya Facebook dan Instagram, juga layanan pesan seperti Whatsapp dan BBM. Di Indonesia, orang mengenal media sosial lebih dulu, baru situs e-dagang. kondisi sebaliknya terjadi di Tiongkok.

“Saya ingin pengunjung Bukalapak minimal sama dengan pengunjung Facebook yang mencapai 50 juta pengunjung per hari dengan pertumbuhan anggota enam kali lipat dari sekarang atau sekitar tiga juta lapak,” Zaky menutup percakapan dengan sebuah harapan.        

 

SUMBER : KOMPAS, Rabu 6 Januari 2016

Maman Sulaeman Meronda Bencana Menyelamatkan Warga

 

Meronda Bencana Menyelamatkan Warga. Kompas.11 April 2016.Hal.16

Hidup di daerah rawan longsor di Dusun Bangbayang membuat Sulaeman waspada. I sering ronda sendirian keatas bukit saat hujan tiba untuk membaca tanda-tanda alam yang hendak murka. Aktivitas yang menyerempet bahaya itu terbukti bisa menyelamatkan nyawa warga.

Sabtu pukul 17.00 di akhir Maret. Hujan menitik dan kmembasahi lahan-lahan di Dusun Bangbayang, desa Bungurberes,Kecamatan Cilebak,Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Terlihat senyumnya mengembang. Padahal, satu jam sebelumnya, ia dan 200 warga RT 010 dan RT 11 di sergap rasa takut lantaran alarm peringatan bencana menyalak.

‘’Awas, tanah longsor! Evakuasi…evakusi!’’

Warga yang sedang beraktivitas sontak berlarian. Mereka berlombaan menuju tempat yang aman setelah perintah evakuasi terdengar. Maman berada paling belakang ketika semua warga sudah sampai di titik kumpul, tempat aman. Pemuda desa yang menjadi relawan bencana itu memastikaan tidak ada lagi warga yang berdiam di rumah ketika alarm peringatan bencana berbunnyi

Setelah itu, bersama sejumlah warga, Maman mengecek sejumlah bagian atas bukit yan gberjaraj lebih dari 1 kilometer dari permukiman warga, ‘’Alhamdulillah, tidak ada longsor. Mungkin ada monyet yang menginjak alat pendeteksi longsor sehingga berbunyi,’’ ujar Maman, pemuda dusun berusia 31 tahun itu.

Alat pendeteksi itu berupa kotak ukuran 30 cm x 40 cm dan tebal sekitar 10 cm yang di tanam di dalam tanah. Ada tiga alarm yang di pasang sejak 2015 di Dusun Bangbayang yang merupakan daerah rawan longsor.

Ketika alarm tersebut di hubungkan dengan sirene yang di passng di astap rumah. Jika terjadi gerakan tanah, alarm akan berbunti memperingatkan warga.

‘’Keberadaan alarm itu sangat membantu karena warga bisa cepat di evakuasi saat terjadi gerakan tanah,’’ kata Maman mengenai alat yang di pasang Badan Nasional Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan, dan Universitas Gadjah Mada Tersebut.

 

MEMANTAU LANGSUNG

Meski keberadaan alat pemantau longsor sangat membantu, Maman tidak mau hanya mengandalkan alat tersebut. Belajar dari kearifan lokal, Maman mengetahui tanda-tanda bakal terjadi longsor, antara lain mengalirnya air dari celah-celah tanah yang berbeda dari biasanya.

 

MAMAN SULAIMAN

  • Lahir: Kuningan, 15 Oktober 1984
  • Pendidikan:
  • SDN Bangbayung, Kuningan
  • SLTP Cilebak, Kuningan
  • SMK Pertiwi Kuningan
  • D-2 Perpustakaan Universitas Terbuka, Kuningan
  • Istri: Ita Nurbayati
  • Pekerjaan:
  • Relawan BPBD Kuningandi Dusun Bangbayang, Penjaga SDN 2 Bungurberes
  • Ketua kelompok Tani Kesambi Subur

 

Oleh karena itu setiap hari Maman memantau atau ‘’meronda’’ perbukitan yang ada di desanya. Apabila ada tanda-tanda alam yang tak lazim, ia akan meningkatkan kewaspadaan dan meminta warga desa lebih siaga. Kebisaan itu di lakukan secara rutin sejak tahun 2010.

Tak hanya itu. Maman juga menggerakkan pemuda desa untuk sama-sama memantau longsor. Jika ada tanda-tanda yang mencurigakan atau indikasi bajkal terjadi longsor, mereka saling berkomunikasi menggunakan handy talky (HT).

Sebagai pencegahan, ia juga mengajak warga desa sama-sama menanam pohon di perbukitan yang gundul. Maklum saja, sejak sekitar lima tahun yang lalu, perbukitan di desa yang terletak di lereng Gunung Ceremai itu pohonnya banyak di tebang. Akibatnya, warga merasakan dampaknya yang berupa tanah longsor yan gkerap terjadi. Kini, warga di ajak bersama-sama menanam pohon keras untuk menghijaukan bukit sekaligus  mence3gah longsor.

Ronda Bencana

Di desa Bungurberes yang berada sekitar 600 meter di atas permukaan laut, Maman di kenal sebagai relawan penanggulangan bencana. Setiap tahun, saat nmusim hujan tiba, Maman berjalan ke bukit untuk memeriksa tanda-tanda bahaya. Kadang ia di temani rekannya, Robby dan Jefri.

Apa yang mendorong Maman menjadi relawan?  Ia sadar benar bahwa Dusun tempat tinggalnya masuk dalam zona merah bencana longsor. Karena itu, ketika musim hujan tiba, banyak warga yang memilih meninggalkan dusun. Sebagian lagi merantau agar terhindar dari bencana sekaligus mencari kehidupan yang lebih baik.

Maman pun pernah sekali merantau ke kepulauan Riau pada 2002 sampai 2005 setelah menamatkan pendidikan D-2 Perpustakaan Universitas Terbuka, Kuningan.  Akan tetapi, ia memilih kembali ke kampong halamannya dan hidup di tengah zona bahaya. Ia sempat mengajar sejumlah mata pelajaran di sekolah. Namun, itu tak bertahan lama. Ia memilih banting setir untuk menjadi penjaga sekolah dengan bayaran seadanya.

‘’Buat saya, lebih baik jadi penjaga sekolah. Saya jadi punya waktu untuk mkengecek ancaman bencana. Kalau upah sebagai penjaga sekolah, nggak usah di tanyalah. Pokoknya ada saja,’’ ujar maman yang sampai sekarang masih tinggal di rumah mertuanya.

Waktu luang yang cukup banyak di manfaatkan Maman untuk belajar membaca tanda-tanda bencana. Suatu hari di musim hujan 2010, misalnya, ia melihat tanda-tanda aneh. Sejumlah rekahan tanah muncul di bukit yang ada di desanya. Awalnya ia merasa penasaran. Setelah itu ia jadi curiga, dan waspada.

Menjelang tahun 2012, kecemasan Maman akan bahaya longsor semakin menguat. Sebuah pipa saluran air terlepas. ‘’Setelah  di pasang kembali.eh sorenya kembali terlepas. Air juga tidak mengalir. Artinya, tanah longsor menimpa pipa,’’ ucapnya.

‘’jam satu malam, saya enggak tidur. Saat mendekatkan telinga di lantai, seperti ada getaran ,’’ ujar Maman mengisahkan. Bersama sejumlah warga, ia melaporkan ke BPBD Kuningan. Warga Dusun  Bangbayang pun di evakuasi,’’ kenang maman.

Keesokkan harinya longsor hebat seluas 3,5 hektar melahap setidaknya 10 rumah warga dan warga satu RT di evakuasi. Berkat Maman dan sejumlah warga yang di tanggap bencana, taka da korban jiwa dalam bencana itu.

‘’untung saja ada Maman yang menjaga dusun Bangbayang,’’ ucap Andry Kusnadi, relawan BPBD di kecamatan Cilebak yang menjadi rekan sekaligus senior Maman dalam urusan tanggap darurat longsor.

Sejak kejadian itu, niat Maman menjadi relawan bencana kian mantap. Gayung pun bersambut. Ia di angkat sebagai relawan BPBD Kuningan.

Kerja keras Maman sebagai relawan yang tanpa pamrih mulai memperlihatkan hasil. Warga yang tinggal di zona merah kini tahu kapan harus mengevakuasi diri

KELOMPOK KESAMBI SUBUR

 Meski alarm tanpa peringatan bencana dan jalur evakuasi telah ada di Dusun Bangbayang, terror longsor tidak berarti sirna. Alarm dan jalur itu sekedar sarana yang membantu warga untuk menghindar dari resiko bencana. Penyebab longsor sendiri, yakni pengungdulan bukit, belum teratasi.

Maman dan sejumlah warga berusaha mengatasi bencana longsor langsung dari sembernya. Pada tahun2012, ia merintis  usaha penanaman kembali bukit yang gundul.

Ia memulai langkah dengan mendirikan kelompok tani Kesambi Subur lengkap dengan aktanya. Tujuannya bukan untuk mendapatkan bantuan, melainkan mendapat penyuluhan. Maman ingin warga Bangbayang yang 75% adalah petani di ajari teknik pola tanam padi dan penanaman pohon di daerah rawan longsor.

Pada tahun itu juga, kelompok tani itu mendapatkan sumbangan sekitar 40.000 bibit tanaman sengon atau albasia yang di masyarakat sunda di sebut  jeunjing ( Albizia falcataria). Maman menunjukkan sejumlah pohon albasia yang mulai tumbuh di bekas kawasan yang di lahap longsor hebat pada tahun 2012.

Tumbuhnya pohon-pohon albazia itu membuatnya sangat bahagia. Ia tahu, ketika bibit albasia itu tumbuh menjadi pohon-pohon besar, terror longsor pun berangsur-angsur akan sirna.

 Sumber: Kompas, Senin 11 April 2016, Halaman 16

Nozomi Okuhara Si Mungil yang Pantang Menyerah

Si Mungil yang Pantang Menyerah. Kompas.29 Maret 2016.Hal.16

Merayakan ulang tahun ke-21 sebagai juara tunggal putri All England 2016 merupakan momen yang luar biasa dalam kehidupan pebulu tangkis asal Jepang, Nozomi Okuhara. Pencapaian itu diraih melalui kerja keras disertai karakter ulet dan pantang menyerah.

OLEH AMBROSIUS HARTO

Piala, uang senilai 41.250 dollar AS atau Rp 537 juta, dan 11.000 poin yang mengerek peringkatnya di Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) dari posisi ke-8 ke posisi ke-3 juga menjadi kado amat indah bagi Okuhara.

Setelah menjuarai All England, Okuhara sudah mengumpulkan total poin 75.722 dan uang 240.465 dollar AS atau Rp 3,13 miliar. Pemain bulu tangkis ini lantas kembali bersiap untuk menggapai mimpi dan ambisis besar lain, yaitu meraih medali Olimpiade Rio de Janeiro 2016.

Jalan menuju olimpiade musim panas di Brasil, 5-21 Agustus 2016, itu bisa jadi bakal mulus bagi Okuhara. Dengan peringkat ke-3 saat ini, posisinya terhitung lumayan aman. Apa lagi, peringkat ke-3 merupakan pencapaian tertinggi Okuhara selama berkarier di dunia bulu tangkis.

Pebulu tangkis yang lolos ke Olimpiade disektor tunggal adalah mereka yang berperingkat 16 besar dengan batas waktu Mei 2016. Sebelum batas waktu itu, peringkat masih mungkin turun, bertahan atau naik bergantung pada rajin atau tidak pebulu tangkis mengikuto dan menjuarai beberapa turnamen.

Turnamen bergengsi terdekat dan akan diikuti Okhura adalah India Terbuka, 29 Maret-3 April 2016. Diturnamen ini, beberapa pebulu tangkis elite bakal hadir kembali, antara lain Carolina Marin (Spanyol/peringkat ke-1), Li Xuerui (Tiongkok/2), Wang Shixian (Tiongkok/4), dan juara bertahan Saina Nehwal (India/6). Mereka semua pernah menang dan kalah saat menghadapi Okuhara.

Di turnamen itu, berdasarkan undian, Okuhara menjadi unggulan ke-7. Di putaran pertama, Okuhara akan menghadapi Bae Yon Ju (Korea selatan/16). Mereka sudah dua kali bertemu dan saling mengalahkan atau posisi 1-1. Akankah pamor Okuhara bakal terus bersinar? Mari kita lihat nanti.

Pendek dan Tinggi

Dengan tinggi badan 155 sentimeter. Okuhara mungkin cenderung disebut pemain pendek. Namun, prestasi dara kelahiran Prefektur Nagano, 13 Maret 1995, justru tinggi.

Di final All England 2016, Okuhara yang merupakan unggulan ke-8 mampu mengalahkan para pemain dengan tubuh yang lebih tinggi, lebi berpengalaman, dan lebih diunggulkan. Namun, ternyata Okuhara mengalahkakn lawan-lawannya. Di final, dia mengandaskan Shixian yang memiliki tinggi 168 sentimeter, berpengalaman, peringkat ke-5 BWF, unggulan ke-7, juara Asian Games Guangzhou 2010, Masters Final 2010, dan All England 2011.

Menjadi juara saat ulang tahun dengan mengalahkan pemain unggulan tentu merupakan momen penting kehidupan. “Ulang tahun terbaik dalam hidup, saya tidak punya hadiah. Tetapi, sangat bahagia karena ulang tahun tepat saat partai final dan saya memenanginya,” katanya.

Kemenangan Okuhara juga menjadi sejarah bagi bulu tangkis Jepang. Dia mempersembahkan trofi tunggal putri All England setelah 39 tahun. Getar terakhir dipersembahkan pada 1977 oleh Hiroe Yuki, legenda bulu tangkis “Negeri Sakura”. Pencapaian Okuhara di All England ibarat kejutan, hadiah, perayaan , dan prestasi tinggi oleh si pendek.

Bisa dibilang perjalanan di All England yang dilalui Okuhara cenderung mulus. Di putaran pertama, Okuhara mengandaskan Nitchaon jindapol (Thailand/28) dengan skor 21-13, 21-15. Diputaran kedua, giliran Linda Wenifanetri (Indonesia/24) dengan skor 21-11, 21-10. Diperempat final, Okuhura mulai membuat kejutan dengan mengalahkan unggulan ke-4, Wang Yihan (Tiongkok/6), dengan skor 21-9, 21-13. Disemi final, lagi-lagi dia menumbangkan pebulu tangkis terkuat, Carolina Marin (Spanyol/1), dengan skor 21-11, 16-21, 21-14. Selanjutnya, partai final yang dimenanganinya membuktikan bahwa Okuhara sebagai pebulu tangkis yang menarik.

Saat mengalahkan Wang Shixian di final, Okuhara memperlihatkan kegigihan luar biasa. Bertubuh lebih pendek, pem,ain asal Jepang itu justru mampu bergerak lincah mengejar kemana pun kok ditempatkan lawan. Dia tak mengandalkan smes, tetapi lob-lob panjang kebelakang, dropshot, netting, dan bola-bola silang di depan yang memaksa Shixian pontang-panting. Okuhura akhirnya menang berkat kegigihannya dalam tiga set permainan yang menguras tenaga.

Tak Bisa

Sebenarnya perjalanan karier Okuhura berhasil ememnangi kejuaraan Dunia Bulu Tangkis Junior dan Kanada Terbuka. Namun, pada 2013, tidak ada kejuaraan bergengsi yang diraih Okuhura. Sinarnya meredup karena cedera sehingga bolak-balik harus operasi. Kariernya mulai kembali pada 2014 dengan memenangi Vietnam Terbuka, Selandia Baru Terbuka, dan Korea Masters.

Mata pencipta bulu tangkis kian terbelalak saat melihat Okuhura menjuaraii Jepang Terbuka 2015. Prestasi pemain ini kian kinclong saat memenangi Masters Final 2015, turname super series premier. Tidak main-main, di turnamen itu, Okuhura mengalahkan Newhal yang saat itu peringkat ke-1. Dia menjadi satu-satunya pebulu tangkis putri Jepang yang menjuarai Masters Final.

Super series premier merupakan turnamen sangat bergengsi, ibarat grand slam dalam tenis. Derajat turnamen ini setingkat di bawah kejuaraan dunia dan olimpiade. Untuk super series premier, selain Masters Final dan All England, adalah Indonesia Terbuka, Malaysia Terbuka, Tiongkok Terbuka, dan Denmark Terbuka.

Dalam suatu pemberitaan, legenda bulu tangkis Indonesia, Susy Susanti, menilai, permainan Okuhara sebenarnya biasa, postur tubuh tidak setinggi pemain-pemain Indonesia. Namun, kelebihan Okuhara adalah ulet dan pantang menyerah. Mental bertandingnya sekeras baja. Dia kerap dalam posisi tertinggal, bahkan di set ketiga penentuan, tetappi pantang menyerah, terus bermain, dan berhasil menang. “gaya permainan Okuhura patut dicontoh, pantang menyerah,” kata susi.

Okuhura bermain sabar, berani menguras stamina dengan reli panjang, dan drop shot mematikan. Dengan postur pendek, sulit bagi Okuhura bisa bergerak amat lincah sehingga sulit dideteksi dan diantisipasi.

Melihat Okuhura bermain ibarat melihat prajurit Jepang saat bertempur, yang pantang menyerah, bahkan berani mati. Mungkin dalam dirinya tertanam kode etik Bushido, tradisi yang masih dipegang teguh warga Jepang. Kesungguhan, keberaniian, kebajikan, penghargaan, kejujuran, dan kehormatan dibawa dan dipraktikkan dalam segenap aspek kehidupan. Bagi seorang atlet, norma agung itu diperlihatkan di arena. Mungkin ini yang membuat permainan Okuhura ibarat bunga sakura yang mekar; begittu indah sekaligus membutakan lawan.

Sumber : Kompas selasa, 20 Maret 2016

Sheila Majid Merindukan Energi Jakarta

Merindukan Energi Jakarta. Kompas.26 Maret 2016.Hal.16

Indonesia seolah menjadi “Tanah Air” kedua bagi penyanyi jazz asal Malaysia, Sheilla Majid. Tiga dekade sudah perempuan ini berkiprah di industry bmusik dan berkali-kali tampil di Jakarta. Bisa dibilang, dia adalah salah satu ikonkemesraan hubungan di antara kedua negara bertetangga.

OLEH WISNU DEWABRATA

Menurut rencana, pada 2 April nanti, Sheila (51) kembali menggelar konser merayakan tiga dekade kiprahnya itu di Jakarta Convention Center, Senayan , Jakarta. Konser bertajuk “kerinduan” itu juga akan menggaet sejumlah musisi papan atas Indonesia, seperti Tohpati berikut rombongan orkestranya serta penyanyi rock ar,mand Maulana dan penyanyi Mike Mohede.

Seolah ingin menghadirkan kesempurnaan dalam konser tiga dejade ini, pihak promotor Chandra Satria dari 26 Gemilang juga menggaet sutradara mumpuni Jay Subyakto.

“Indonesia  suadh tidak asing lagi buat saya. Saya juga sangat bersyukur selama ini diterima tak hanya oleh para penggemar, tet5api juga industry music negeri ini.” Ujar Sheila kepada kompas, dijakarta, Rabu (23/3).

“I love the ebergy, especially Jakarta., setiap datang ke sini saya selalu dengar music yang diputar di (stasiun-stasiun) radio. Ada banyak inspirasi. Kembali kemalaysia, saya macam dapat napas baru,” ujarnya dengan logat Melayu campur Inggris yang unik.

Tak hanya “menggemari” inspirasi yang muncul penyanyi yang tenar dengan lagu “Antara Anyer dan Jakarta” ciptaan musisi Tanah Air. Odidie Agam, itu juga sangat menggemari petualangan kulinernya di Indonesia. “saya suka kalau datang sini makan terus. Saya suka nasi padang.” Ujar dengan tawa berderai.

Sheila memang gemar makanan pedas dan berbumbu. Dia mengaku tak punya pantangan makanan apa pun. Walau pedas dan berminyak, masakan Minang kegemarannya itu dia pastikan tak akan mengganggu kualitas suaranya yang prima dan “empuk”.

“kita ini orang Asia, sedari kecil sudah diekspos sambal. Alhamdulilah, taka da problem, laa. Saya boleh makan chilli (cabai) sebelum menyanyi. Mungkin, ya, Cuma dijaga jangan sampai sakit perut saja,” ujarnya.

Konsisten

Saat ditanay bagaimana bisa bertahan dan konsisten dalam industry music, penyanyi bernama lengkap Shahella binti Abud Majid itu menyebut, konsistensi hanya bisa dilkukan jika orang memahami apa yang terbaik bagi dirinya sendiri. Sheila memisalkan, untuk bisa sehat, dia pun harus berolahraga secara teratur menyukai aktivitas itu.

Ibu empat anak ini mengaku sebenarnya masuk kategori pemalas untuk berolahraga apalagi kalau harsu pergi ke pusat kebugaran. Dia mengakui tidak suka kepusat kebugaran karena harus berdandan dahulu sebelum keluar rumah.

“kalaui berolahraga dirumah, kan, ibaratnya bangun tidur cukup hanya brush my teeth pun bisa. Saya tak lakukan semua itu (berolahraga)agar jadi cantik atau kurus. Saya sadar untuk bisa menyanyi bagus, saya harus selalu sehat. Menyanyi itu periujk nasi saya,” ungkapnya jujur.

Sheila juga mengaku lebih nyaman untuk menjadi dirinya sendiri yang sersahaja. Dia bahkan menyebut dirinya sekadar orang biasa yang kebetulan punya pekerjaan dengan citra megah. Dengan begitu, dia merasa tak harus selalu berusaha tampil glamor seperti saat berada di atas panggung.

“I am just a low profilr person with a high profile job. Bagi saya, ini kerja. Di luar pesona Sheila Majid, sehari-harinya saya hanya orang biasa. Saya seorang ibu, istri, dan juga anak. Saya ke pasar, mengurus anak sekolah, seperti biasa. Cuma saya punya high profile job. Itu saja,” ujar perempuan yang hobi menyelam di Indonesia itu.

Sebagai seorang ibu, Sheila mengaku juga sangat peduli dengan apa yang dimakan anak-anaknya. Dia ingin selalu memastikan keempat anaknya bisa memakan makanan sehat buatannya sendiri walau sekadar roti isi (sandwich).

Indonesia-Malaysia

Selama ini Sheila memang dikenal dan telah menkadi slah satu ikon “kemesraan” hubungan antarkedua negara bertetangga, Indonesia dan Malaysia. Tak mudah berada di posisi itu karena hubungan di antara dua negara jiran itu terkadang juga diwarnaiu oleh ketegangan diplomatic dan sentiment yang juga naik-turun.

Bagi Sheila, music dan kesenian seharusnya bisa menjadi semacam “bahas universal” yang bisa diterima semua kalangan sekaligus menjembatani perbedaan yang ada diantara mereka, dari negara mana pun mereka berasal. Sayangnya, saat ini sejumlah pihak lebih memandang music sekadar sebuah hiburan.

“lewat lirik yang puitis dan bermakna, sebuah lagu seharusnya menyampaikan pesan positif. Bagi saya, itulah seni. Banyak orang datang ke konser saya walau tak paham bahasa Melayu. Music bersifat universal. Berbeda dengan politik, music can bridge people together,” tambahnya.

Sayangnya, bahklan Sheila pun mengakui, belakangan semakin jarang kolaborasi digelar antatr-pemusik Indonesia dan Malaysia, seperti terjadi pada eranya dahulu. Selain Sheila, sejumlah penyanyi dan pemusik Malaysia memang sempat menjadi populer di Indonesia.

Sebut saja penyanyi Siti Nurhaliza, penyanyi rock Suhaimi bin Abdul Rahman alias Amy-yang tenar bersama kelompok musiknya. Search, dan kelompok rock melayu Iklim. Pada masa jayanya, masing-masing populer, bahkan merajai dan mendominasi urutan teratas tangga lagu di Tanah Air.

“iya, kenapa ya? Saya pun tak tahu bagaimana menjawab soal itu. Tetapi, saya lihat orang Indonesia sangat patriotic dan bangga dengan produknya. Jadi, kalau ada prooduk dari luar, termasuk music, is not good enough, ya buat apa. Betul tak?” ujarnya mengakhiri percakapan.

Sumber: Kompas, Sabtu, 26 Maret 2016

I Wayan Gde Yudane Bali Mengembara dalam Komposisi

Bali Mengembara dalam Komposisi. Kompas.28 Maret 2016.Hal.16

Karya music I Wayan Gde Yudane mungkin lebih dikeanl di negeri orang ketimbang di Tanah Air. Elemen rasa Bali melebur, menyusup dalam komposisi prias kelahiran Denpasar itu. Sebuah sumbangan Indonesia untuk khazanah music universal.

OLEH FRANS SARTONO

Sebagai anak seorang undangi atau arsitek tradisional Bali, Yudene kecil ingin menjadi tukang kayu. “kalau disuruh menggambar, keluarnya hanay gergaji atau palu karena hanya itu yang ada di kepala saya,” kata Yudane dalam obrolan sebelum pentas di Bentara Budaya Bali, akhir Februari lalu.

Cita-cita itu “kandas”. Yudane malah menjadi “tukang” menggubah komposisi yang karyanya terpapar di pentas dunia. “Crossroads of Denpasar” merupakan salah satu karya Yudane pesanan radio New Zealand yang kemudian dibeli Radio Australia dan BBC London. Karya lain, “paradise Regained”, yang terinspirasi oleh peristiwa bom Bali tahun 2002, dimainkan pianis Ananda Sukarlan diberbagai pergelaran Internasional. Karya kolaborasi dengan Paul Grabowsky, “The Theft of Sita”, dipentaskan di Next Wave Festival, New York City, 2011.

Profesor I Made Bandem menyebut Yudane sebagai bagian dari komponis baru dengan pendekatan yang melampaui hal-hal papkem atau baku. Karyanya disebut Bandem mampu memberi napas baru pada gambelan Bali.

“Dipaksa”

Yudane tumbuh di lingkungan yang dekat dengan gamelan. Ayahnya, I Nyoman Gebiyuuh, yang juga pembuat gamelan, mengajak Yudane berlatiih. Suatu kali diperlukan pemain gendang untuk festival gong kebyar se-Provinsi Bali. YUudane yang masih duduk dikelas VI sekolah dasar itu pun “dipaksa” ikut menjadi pemain gendang dalam tim Gong Kebyar Banjar Geladag pedungan mewakili Kabupaten Badung. “Ngeri sekali rasanya,” kata Yudane mengenang.

Daalm perjalanan hidup Yudane, rupanaya ada langkah-langkah yang berawal dari ke(sipaksa)an. “dari dulu saya dipaksa. Tidak murni menuruti keinginan saya. Waktu kecil, cita-cita saya hanya ingin menjadi tukang kayu. Saya dipaksa (bermain music) dan akhirnya menikmati. Kalau tidak dipaksa, saya tidak akakn tahu,” kata Yudane.

Keterpaksaan mengantar Yudane ke dunia kratif penciptaan. Suatu kali ketika mengikuti program residnsi artis si Selandia Baru, Jack Body sebagai pembimbing menggenjotnya habi-habisan sebagai komponis yang harus bekerja sendiri. Padahal, sebelumnya Yudane sudah merasa sebagai seniman ternma yang pernah tamppil di Eropa dan Amerika Serikat.

“saya terkucilkan dan dipaksa bekerja sendiri, bekerja dengan pikiran, menulis (menyusun komposisi).”

Suatu kali ia mendapaty komisi atau pesanan membuat komposisi untuk piano. Ia gamang luar biasa karena sebelumnya ia tidak pernah membuat komposisi piano. Lebih kaget lagi komposisi itu akan dimainkan oleh pianis terkenal Ananda Sukarlan.

“wah, ini ngeri-ngeri sedap karena pianisnya, kan, hebat.” Itulah kompposisi “Paradise Regained” yang menjadikannya cukup percaya diri. “Lumayan, sedikit mengangkat (nama) juga. Saya jadi percaya diri sejak itu.”

Rasa percaya diri Yudane tergetar juga. Tahun 2003, ia ditantang ol;eh Radio Selandia Baru untuk membuat komposisi. “ini gawat. Karena ibarat petarung, saya waktu itu baru belajar,” kata Yudane yang memang pernah menjadi petinju antardesa.

Music dan Puisi

Sejumlah komposisi Yudane lahir atau terinspirasi dari pusis. Dari pergaulan dengan penyiar Bali. Seperti Ketut Yuliarsa, Tan Lioe le, dan Warih Wisatsana, Yudane akrab dengan karya sastra. Yudane, mislanya, tampil dalam pergelaran Musik, Rupa, Gerak, dan Lafal Puisi di Bentara Budaya Bali, 28 Februari lalu. ia membuat komposisi yang ia olah dari puisi ramalan atau cia  si karya Tari Lioe le Berjudul “berbagai cahaya”dan “ Tertawa”.

Yudane memberi tafsir atas puisi tersebut seabagai titik tolak untuk menggubah komposisi. “jadi, ini music yang saya buat untuk puisi itu. Basic dari komposisi saya adalah puisi tersebut.”

Yudane pernah pula membuat komposisi “Entering the Stream” yang berangkat dari puisi karya Putu Yuliarso. Tidak seperti “musikalisasi puisi”, kata-kata dalam puisi Yuliarsa itu sudah dikunyah oleh tafsir Yudane . “Saya memikirkannya bait demi bait, kata demi kata.”\

Pecinta kebudayaan, Jean Couteau, yang hadir di Bentara Budaya Bali, menyebut proses penciptaan karya Yudane itu sebagai dialog antara music dan puisi. Dialog tersebut kemudian mewujud dalam komposisi untuk ppiano trio yang dimainkan piano, biola, dan cello yang pertama kali disuguhkakn oleh New Zealand Trio.

“Kata-kata semua hilang. Saya sudah baca puisinya dan selesai. Orang yang dengar bisa merasa cocok atau tidak cocok,” tutur Yudae.

Akan tetapi, untuk kebutuhan sebuah pertunjukan, Yudane juga masih menggunakan puisi secara utuh dalam komposisi. Misalnya, puisi Sinta yang kebetulan juga merupakan karya Yuliarsa. “itu untuk kebutuhan pentas teater. Untuk suatu adegan, kalau tidak ada kata-kata, mungkin penonton tidak mengerti. Jadi, dalam hal ini ada kebutuhan untuk menjelaskan..”

Bukan hanya puisi, Yudane juga pernah membuat komposisi yang berangkat dari cerita pendek. Salah satunya dari cerpen karya Rasta Sindu. Komposisi berupa ansambel perkusi ittu ia gubah atas pesanan dari Queens College, New York, 2013.

Sebagai komponis, Yudane mengutamakan orisinalitas karya,. Lewat karya yang jujur dan pribadi ia ingin berbagi dengan pendengar dari belahan dunia mana saja.

“saya juga butuh dukungan orang yang mau mendengarkan. Untuk apa kita bikin kalau tidak ada yang mau mendnegarkan. Saya berusaha membuat bagaimana orang mau mendengar. Kalau tidak, ya, tidak apa-apa juga. Tetapi, saya membuat karya seperti yang saya mau,” kata Yudane.

Sumber : kompas , senin, 28 Maret 2016

Robi Pantalemba Pemulung yang Membagi Ilmu

Pemulung yang Membagi Ilmu.Kompas.27 Juni 2016.Hal.16

Di tengah kerasnya kehidupan sebagai pemulung, Robi Pantalemba (45) tetap berusaha untuk berbagi kepada sesama. Ia mengumpulkan ribuan buku bekas di gubuk retronya dan membolehkan siapapun untuk “memulung” pengetahuan di sana, termasuk para mahasiswa.

Di bukit kecil tak jauh dari pusat ekonomi di kota palu, Sulawesi Tengah, Robi Pantalemba mendirikan sebuah gubuk reot di tanah yang miring. Gubuk yang terletak 15 meter di bawah rumah sederhananya itu berantakan. Di sisi kiri gubuk, ada tumpukan kardus. Berhadapan dengan pintu masuk gubuk, berserakan kabel dan barang elektronik kumal.

Di gubuk itu, Robi setiap hari memilah barang bekas yang bisa di jual lagi dan buku yang bisa ia koleksi. Buku-buku tersebut kemudian ia simpan di sebuah ruangan sederhana yang menggantung di antara gubuk dan rumahnya. Di sana, bau apek barang bekas berganti dengan aroma ilmu pengetahuan.

Berbagai jenis buku menyesaki ruangan berukuran 2,5 meter x 3 meter itu. Sebagian buku di sandarkan begitu saja di dinding, sebagian di tumpuk, atau di gantung pada beberapa tali sepanjag 3 meter di sisi dinding kiri dan kanan. Sebagian lagi di letakkan ke dalam kardus.

Buku yang ia koleksi berjumlah 2.500-an. Ada buku pengetahuan agama isalam, pertanian, politik, buku bacaan anak-anak, dan novel yang laku di pasaran, seperti perahu kertas (2009) karya Dewi “Dee’ Lestari, Endensor (buku ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi (2007) karya Andrea Hirata, dan Gadis Kretek (2012) karangan Ratih Kumala. Di antara tumpukan buku, ada pula karya novelis ternama Brasil, Paulo Coelho, Sebelas Menit (2011)

Buku-buu bekas itu masih utuh meski di penuhi bercak kuning dan hitam. Robi memperbolehkan siapa saja untuk menikmati buku koleksinya di sana, sambil duduk di sofa butut atau di atas karpet lusuh yang bolong di sana sini.

Memulung pengetahuan

Robi dan Istrinya, Adrien V Rimbing menjadi pemulung dan pengepul sejak 2006. Sejak saat itu, mereka melalui hari-hari di tengah bau busuk sampah di tempat pembuangan akhir atau tempat pembuangan sampah sementara. Di tempat itu, mereka berdua memulung anekah barang bekas yang masih punya nilai, katakanlah seperti kardus, kertas, barang elektronik atau kabel.

Saat memulung, mereka juga kerap menemukan buku-buku bekas. “Tiap hari kamis paling sedikit mendapatkan 4-5 buku. Sayang kalau buku-buku ini tidak di simpan untuk di baca,” uajar Robi di rumah sederhananya di jalan Bali, Kelurahan Lolu Utara, Kecamatan Palu Timur, Jumat (17/6) lalu. Hingga sore hari itu, ia mendapatkan 5 buku bekas.

Kebiasaan mengumpulkan buku bekas itu Robi lakukan sejak 2007 atau setahun setelah Robi terjun sebagai pemulung sekaligus pengepul barang-barang bekas. Saat itu, Robi dan keluarga masih tinggal di rumah kontrakan di kawasan Palu Selatan.

Selain dari tempat sampah, ia juga memperoleh buku dari pemulung lainnya. Robi membeli buku-buku bekas seharga Rp 1.000 per kilogram.

Buku-buku yang Robi dan istri kumpulkan itu lama-kelamaan menumpuk. Saking banyaknya, pada 2013, tumpukan buku milik Robi dan istri tidak bisa di tampung lagi di rumah kontrakan. Karena kondisi itu, sebagian buku koleksi mereka di jual ke pengepul lain di Kota Palu. Namun setelah itu Robi menyesal.

“Itu sangat kami sayangkan juga. Tetapi, situasi membuat kami harus membuat pilihan,” ucap Robi yang intens membaca, kemudian aktif di Lembaga Adat Kelurahan Lolu Utara.

Tahun 2013, Robi dan keluarga pindah rumah ke Jalan Bali, Kelurahan Lolu Utara, Kecamatan Palu Timur. Di kedamaiannya yang baru, semangatnya untuk mengoleksi buku kembali menggelora. Seperti sebelumnya, dia tekun memilah buku dari tumpukan barang bekas lainnya.

Saat mereka menyortir barang bekas, mereka kerap di kerubungi sejumlah siswa sekolah dasar yang tertarik dengan buku-buku. Dari situlah, muncul ide di kepala Robi untuk membuat taman bacaan mini di salah satu sudut rumahnya.

Setelah ide itu dia wujudkan, anak- anak SD di lingkunganya rutin datang untuk membaca buku-buku tersebut. Tidak sedikit pula mahasiswa  yang menyambangi tamban bacaan mini tersebut untuk mencari sejumlah buku yang mereka tidak temukan di perpustakaan kampus.

“Pernah ada mahasiswa yang ingin sekali meminjam buku yang katanya langka. Tetapi, saya bilang, baca di sini aja supa buku yang sama bisa juga di nikmati orang lain, “tutur Robi. Di taman bacaan tersebut, pengunjung tidak di perkenankan meminjam buku untuk di bawa ke rumah. Buku hanya di baca di tempat itu ada difoto kopi kalau memang di perlukan. Aturan itu di tetapkan agar buku koleksi tidak hilang. Jika ada yang hilang, berarti lenyap pula kesempatan orang lain menimbah ilmu pengetahuan dari sumber yang sama.

Tamat SMP

Hidup Robi termasuk keras. Ia pernah hidup sebatang kara sebelum membentuk keluarga bersama dengan istrinya. Ia tidak sempat mendapatkan pendidkan tinggi. “Saya hanya menamatkan pendidikan SMP. Itu standard pendidikan yang tidak memungkinkan seseorang bersaing lagi unuk saat ini,” ujarnya.

Ketika memperoleh banyak buku, ia tidak hanya memikirkan diri sendii, tetapi juga orang lain. Ia ingin ribuan buku bekas koleksinya bisa di akses orang lain. Karena itu, di tengah kesumpekan hidupnya sebagai pemulung, ia membuka taman bacaan mini yang bersahaja.

Ia tidak keberatan menyisihkan uangnya yang cuman sedikit, untuk membuat taman bacaan dan membeli buku bekas dari pemulung lain. Ia tidak penah menghitung untung rugi. Ia sudah cukup puas melihat anak-anak bersemangat membaca buku-beku bekas yang ia kumpulkan.

“Saya ingin anak-anak mempunyai bekal pengetahuan agar tidak bernasib sama seperti saya, menjadi pemulung,” ujar Robi yang memperoleh Piagam Penghargaan Pemberdayaan Pemulung dari PT Telkom Indonesia pada Desember 2012.

Pria berusia 45 tahun itu berencana akan memperluas taman bacaan milinya. Dengan begitu, semakin banyak orang yang bisa “memulung” ilmu pengetahuan di sana.

 

UC Lib-Collect

KOMPAS,SENIN 27 Juni 2016

Alfatih Timur Kita Bisa Berbagi

Kita isa Berbagi. Kompas.25 Juni 2016.Hal.16

Dalam daftar 30 anak muda  berpengaruh di Asia yang dilansir “Forbes” pada awal 2016 tercantum nama M Alfatih Timur (24). Anak seorang dokter di Sumatera Barat itu di pilih karena kiprahnya di kita bisa.com

Kitabisa .com adalah laman untuk menggalang dana dan berdonasi secara daring (online). Penggalang dana menggunakan uang yang terkumpul untuk tujuan sosial, membantu sesama, atau menciptakan karya.

Saat ini laman itu tengah di pakai mantan Mentri Perencanaan Pembangunan Nasional Andrinof Chaniago dan Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Rhenald Kasali untuk menggalang beasiswa bagi Tristan Alif yang di sebut-sebut sebagai “Messi Indonesia”.

“Saya percaya yang di katakan Bung Hatta, fondasi Indonesia adalah gotong royong. Kitabisa.com menerjemahkan semangat itu. Di kitabisa.com, kami percaya ada banyak orang baik di Indonesia. Mereka hanya perku di hubungkan satu sama lain,” ujar M Alfatih Timur.

Alfatih adalah CEO kitabisa.com. Kompas mengobrol dengan anak muda yang bisa disapa Timmy itu di sela-sela pertemuan wirausaha sosial di Singapura, 16-7 juni 2016. Pada acara yang di selenggarakan oleh DBS Foundation itu, dia salah atu pembicara di hadapan 100 wirausaha sosial di Asia.

Wirausaha sosial adalah modal bisnis yang menerapkan prinsip dan tata kelola usaha profesional. Namun, alih-alih mengejar keuntungan, tujuan utama mereka adalah membantu menyelesaikan berbagai personal sosial.

Undangan yang di peroleh Timmy untuk berbicara di forum itu tak lepas dari kiprah kitabisa.com yang beroperasi sejak juli 2013. Lama yang ia dirikan bersama bebrapa temannya itu, sejauh ini, telah membantu penggalangan dana dengan nilai total Rp17 miliar. Seluruhnya dipakai mendanai 1.388 kegiatan atau inisiatif.

Layanan zakat

Bersama beberapa lembaga, laman itu juga menyediakan layanan pembayaran zakat Indonesia lebih dari Rp 200 triliun, tetapi baru terkumul Rp 2 triliun. Bukan karena orang tidak mau membayar zakat, melainkan karena pembayaran tidak punya kesempatan untuk mendatangi tempat membayar dan menunaikan kewajiban.”

“Orang Indonesia, lanjut Timmy, pada dasarnya amat mudah merogoh kocek untuk membantu orang lain. Masalahnya, banyak di antara mereka yang tidak menemukan tempat dan waktu yang sesuai dengan aktivitas untuk menyalurkan donasi.

Sebagian orang lebih suka menyelesaikan berbagi urusan dari pada telepon genggam atau komputer yang terhubung dengan internet. Dengan beberapa kali klik, berbagi urusan bisa di selesaikan “layanan yang di hadirkan ke dekat mereka, bukan mereka di minta mendatangi tempat menyalurkan zakat atau donasi,” kata lulusan Fakultas Ekonomi UI itu.

Saat ada ajakan berdonasi dan dananya bisa di salurkan tanpa meninggalkan tempat duduk, banyak orang dengan sigap mengirimkan uang. Di Indonesia, ada banyak kegiatan pengalangan dana melalui internet secara dadakan. Beberapa orang memulai kampanye untuk memulai internet secara dadakan. Beberapa orang mulai melakukan kampanye untuk mendanai atau menyumbangkan sesuatu. Orang-orang yang tertarik kemudian menyumbangkan dana.

“Banyak orang yang sama sekali tidak saling kenal, tetapi tetap menyumbang,” ujarnya.

Saat Timmy dan delapan rekannya memulai kitabisa.com, belum banyak laman yang bisa menjadi sarana pengumpulan dan penyaluran sumbangan. Dia mengaku tidak terlalu paham dengan pola itu.

Laman itu di mulai saat Timmy beberapa temannya di Rumah Perubahan tertantangmenggarap proyek sosial yang berdampak besar. Ide mereka di paparkan kepada Rhenald Kasali, pendiri Rumah Perubahan. Rhenald menyetujui gagasan itu.

Gagasan itu tidak serta-merata muncul. Dengan beasiswa, ia belajar penggalangan dana secara daring ke Australia dan Amerika Serikat. Ia belajar tentang wirausaha sosial yang kala itu mulai marak.

Namun, ada hal yang tidak bisa di pelajarinya segera untuk bisa mengoprasikan kitabisa.com: teknologi informatika. Karena itu, ia mengandeng beberapa pihak menguatkan timnya.

 

M  ALFATIH  TIMUR

Lahir: Bukittingi, 27 Desember 1991

Pendidikan: SMA 1 Padang

Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Pekerjaan: CEO kitabisa.com

–  Istri: Puti Ara Zena

 

 

Seiring waktu, ternaya sebagian pendiri kitabisa.com tidak bisa bergabung karena berbagai alasan. Bongkar pasang timterjadi hingga saat ini kitabisa.com di gawangi 13 orang. Mereka menggandeng sejumlah pihak sebagai penasihat.

Setelah tiga tahun di kitabisa.com, Timmy belum berpikir untuk menggarap hal lain. Ia masih fokus mengurus laman itu. Istrinya, Puti Ara Zena, juga mendukung kegiatannya.

Inspirasi ayah

Namun, sampai sekarang, keluarga Timmy tidak terlalu paham apa yang dilakukan pemuda itu. Ia hanya menyampaikan, kegiatan sosial itu terinspirasi dari pekerjaan ayahnya sebagai dokter di pedalaman Sumatera Barat.

Ayah Timmy adalah dokter penuh pengabdian dan ikhlas. “Waktu saya kecil, sering sekali melihat ayah mengobati orang tanpa meminta imbalan. Kadang di bayar dengan sayur,” ujarnya.

Setelah besar, Timmy semakin tertarik bergiat dalam kegiatan sosial. Namun, ia tidak ingin seperti ayahnya. Selain karena bukan sekolah kedokteran, ia juga tahu ia tidak akan bisa melakukan kegiatan sosial dengan cara ayahnya.

Ayahnya digambarkan sebagai lilin yang mengorbankan diri untuk menerangi lingkungan di sekitarnya, sementara Timmy ingin ingin punya energi menolong yang lebih tahan lama. Karena itu, ia memilih wirausaha sosial. “Bisnis sosial yang dapat memberikan dampak sosial sekaligus menciptakan profit sehingga berkelanjutan. Dengan begitu, saya tidak harus mengorbankan diri saya,” turutnya.

Minat kuat menolong orang dalam diri pemuda itu menarik minat Rhenald Kasali sehingga menjadikan pemuda itu sebagai asisten. Setelah wisuda, ia pernah meminta masukan Rhenald soal pilihan sekolah lanjut. Namun, Rhenald meminta dia bergabung selama beberapa tahun sebelum melanjutkan sekolah lagi.

Kala itu, orang tua Timmy belum sepenuhnya setuju. Namun, setelah di yakinkan, akirnya mereka mendukung keputusan pemuda itu. Selain menjadi asisten Rhenald, Timmy juga aktif di Rumah Perubahan.

Laman itu dikelolah dengan manajemen bisnis moderen. Pendapatan laman, antara lain, kutipan 5 persen dari setiap penggalangan dana. “Kutipan tidak di berlakukan untuk penggalangan dana bagi bencana alam atau pembayaran zakat,” katanya.

Atas semua usahanya itu, maka lumrah saja jika Forbase memasukkan Timmy dalam daftar 30 anak muda berpengaruh di Asia. Kiprah pemuda itu di harapkan dapat memberi inspirasi bagi masyarakat, terutama para pemuda. Di tengah berbagai masalah yang merendung negri ini, masih ada orang-orang yang mau berbagi untuk kebaikan.

Di sela-sela kesibukan di kitabisa.com, Timmy masih sempat mengeluti hobinya. Ditengah rutinitas sehari-hari, dia kerap memainkan seluang untuk mengusir kejenuhan. Seruling khas Minang itu kerap di mainkannya di kantor.

“Tidak mahir, tetapi bisalah kalau beberapa lagu Minang,” ujar pemuda yang mengaku tidak ingat apa nama adat yang di berikan keluarganya.

Seperti lazimnya seluruh pria dewasa di Sumatera Barat, Timy punya nama adat. “Saya hanya ingat Sutan saja. Tidak ingat lagi apa kelanjutannya,” katanya sembari tertawa.

 

 

UC Lib-Collect

KOMPAS, SABTU, 25 Juni 2016

 

Pono Wiguno Ahli Waris Kreasi Topeng Tari

Ahli Waris Kreasi Topeng Tari.Kompas.26 Januari 2016.Hal.16

Awalnya adalah keresahan Pono Wiguna. Kakeknya, Ki Warso Waskito, satu-satunya pembuat topeng tari gaya Yogyakarta, telah uzur. Ayah dan saudara-saudaranya tidak ada yang tertarik meneruskan kerja sang kakek. Keresahan itulah yang menyemangati Pono untuk belajar membuat topeng dari sang kakek.

Pono yang mulai belajar memahat topeng tari sejak tahun 1980-an menjadi ahli waris satu-satunya keahlian Ki Warso Waskito lantaran keuletan dan kegigihannya. Kalau kemudian Pono sering menjadi pembimbing lokakarya pembuatan topeng di kota-kota di Nusantara dan di beberapa negara, itu karena dia satu-satunya seniman yang mampu memberikan keterampilan tradisi tersebut untuk semua orang yang mencintai.

Rumah Pono Wiguno di Dusun Diro, Pendowoharjo, Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, tak hanya menjadi studio, tetapi juga semacam padepokan tempat nyantrik atau belajar membuat topeng. Siswanya bukan hanya dari Indonesia, melainkan juga dari Malaysia, Hongkong, Singapura, Australia, Spanyol, dan Perancis.

“Ya, semua harus saya jalani karena saya memang penghapus budaya tradisi dan Keraton Yogyakarta menjadi semangat saya untuk terus mengembangkan budaya tradisi,” kata Pono yang kini berusia 55 tahun.

Karena kesetiaanya mengabdi di Keraton Yogyakarta, dia diangkat menjadi abdi dalem keraton dengan pangkat Bekel Sepuh Pono Wiguno. “Dari keratin, langsung atau tak langsung, saya mendapatkan (pelajaran) tentang kebudayaan, tentang kawruh urip (teladan hidup) sampai kesenian.”

Begitu cintanya kepada kesenian Jawa, jebolan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini menguasai seni Jawa. Selain menekuni pembuatan topeng, Pono juga belajar tari di sanggar tari Keraton Krido Bekso Wiromo dan belajar seni pahat wayang kulit dari kakek pamannya, Raden Bekel Prayitnowiguno. “Semuanya saya tekuni sampai sekarang,” ucap Pono.

Topeng karakter

Pono merasa bahagia bisa mencapai ilmu membuat topeng tari dari kakeknya. “Untung saya cepat cepat belajar karena ayah saya, kakak kakak saya, tidak ada yang mau belajar. Yang pasti kini masih ada penerus membuat topeng tari,” tuturnya.

Dalam tardisi gaya Yogyakarta, tari topeng cenderung ke kisah panji-kisah sastra tentang cinta Panji Asmoro Rangun dengan Dewi Sekartaji. Membuat topeng tari, menurut Pono, lebih membutuhkan kekuatan membaca karakter. Bagaimana membuat topeng agar dari pandangan depan, samping kanan, dan kiri berkarakter.

Warna dan bentuk topeng panji, misalnya, bisa dimodifikasi dalam nuansa seni topeng, tetapi karakter itu tetap yang harus utama. “Prinsipnya, kita harus mampu menghidupkan karakter penari topeng semaksimal mungkin lewat bentuk dan tata warna topeng,” ungkap Pono.

Membuat topeng tradisi, khususnya untuk tarian topeng panji yang terus mengarus, memang tugas utama dia. Namun, sebagai seniman yang hidup dalam pergaulan dunia seni rupa modern, dia tergugah juga untuk membuat topeng kreatif meskipun lebih banyak atas dasar pesanan.

Karya kreatif topeng yang dipesan oleh penari dan koreografer legendaris Didik Nini Thowok adalah topeng yang makin mendukung kreativitas Didik Nini Thowok sebagai koreografer andal. Tarian Didik Nini Thowok berjudul Pancawarna yang semua topengnya dibuat Pono adalah tarian populer dan laris dari sisi tanggapan.

”Tarian itu memang unik, Didik Nini Thowok tanpa harus meninggalkan panggung terlebih dahulu bisa menarikan beberapa karakter, seperti Jawa, India, Tiongkok, tarian dangdut, dan tarian kocak dengan wajah topeng yang juga kocak.

“Pokoknya saya membuat topeng untuk Mas Didik itu banyak. Di antaranya, topeng Dwi Muka, topeng Ardanaresvara, topeng Hagoromo, dan topeng Mr Bean,” kata Pono.

Selain topeng Mr Bean, semua topeng yang dibuat Pono itu merupakan topeng tarian sakral yang diciptakan Didik Nini Thowok.

Ada satu kreativitas topeng yang diciptakan Pono, yakni topeng tokoh novel Anak Bajang Menggiring Angin, karya GP Sindhuta. Anak Bajang dibuat dua bentuk berupa raksasa kecil yang berwarna merah dan pink.

Pono dan kakeknya adalah orang yang memberi sumbangan tari topeng di dalam keratin.

”Sebab, tari topeng bukanlah tari (yang hidup) di dalam keratin. Tari topeng adalah tari rakyat yang hidup di luar keratin,” ujar Pono.

Menurut Pono memang ada tari memang ada tari topeng di dalam keraton pada zaman Sultan Hamengkubowo VII (1839 – 1921). Hanya saja, waktu itu topengnya hanya kertas dan kisah tariannya bukan dari cerita panji, melainkan dari cerita Mahabharata dan Ramayana.

Baru pada masa Tedjokusumo (almarhum) tokoh tari di dalam keraton yang berkiprah pada 1940 sampai 1960-an tari topeng masuk ke dalam keratin. “Waktu itu Tedjokusumo sengaja mengundang penari topeng kenamaan bernama Gondosono,” kata Pono.

Oleh Tedjokusumo, tari topeng itu digarap lebih dalam bernuansa keratin. “Sejak saat itu, tari topeng berkembang di dalam keraton dengan menggunakan topeng buatan kakek saya dan (belakangan) termasuk buatan saya,” tuturnya.

Ditanya berapa harga topeng karyanya, Pono menyatakan, paling mahal Rp 6,5 juta. “Ya, soal harga bagi saya sangat lewes, bahkan saya sering berikan saja,” katanya.

Sumber : Kompas, Januari 2016