Muhammad Sahidul Wathan Menghidupkan Kopi Sembalun

Menghidupkan Kopi Sembalun. Kompas. 30 Desember 2016.Hal.16

Desa Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, pernah menghasilkan kopi arabica tahun 1940-an. Namun, potensi itu mati suri selama beberapa dekade, terutama setelah kampung itu “demam” komoditas bawang putih dan kentang. Muhammad Sahidul Wathan, pemuda setempat, menghidupkan kembali kopi lokal itu sehingga menembus pasar nasional bahkan internasional. (Oleh Khaerul Anwar)

“Dulunya, satu bakul kecil kopi dibarter dengan dua ikan pindang,” kata Sahidul Wathan (37) saat ditemui di rumahnya di Desa Sembalun, pertengahan Desember lalu.

Saat itu, warga biasa menyimpan biji kopi dalam losok, yaitu wadah dari bambu sepanjang sekitar 30 sentimeter. Kopi itu baru dikeluarkan, ditumbuk buat minuman tamu pada acara pesta pernikahan ataupun khitanan.

Menurut Wathan, demikian ia biasa disapa, kopi si Sembalun-yang mencakup Desa Sembalun, Desa Sembalun Bumbung, dan Sembalun Lawang-dari jenis arabica dibawa seorang Tionghoa pada tahun 1942. Kopi itu lalu dibudayakan di kebun dan kawasan hutan desa tersebut. Namun, selanjutnya tanaman itu tidak terawat karena buahnya kurang laku dijual. Warga memetik buah kopi hanya untuk dikonsumsi sendiri.

“Warga sukanya yang instan, lebih baik menanam sayur dan palawija dengan masa pemeliharaan tiga bulan sudah bisa dijual. Sedangkan kopi, panennya sekali setahun. Itupun kalau ada yang beli,” tuturnya.

Kopi Sembalun mengalami nasib lebih buruk pada 1985. Tanaman kopi di Desa kaki Gunung Rinjani itu di babat. Lahan tersebut lantas dimanfaatkan budidaya bawang putih.

Komoditas itu menjadi primadona sampai – sampai muncul sebutan “Haji Bawang Putih”. Ini istilah untuk menyebut para petani yang berhasil mennunaikan ibadah haji dari hasil menjual komoditas itu. Pada tahun – tahun tersebut, warga desa berhawa sejuk ini pertama kali menggunakan antena parabola untuk menyaksikan acara televisi.

Namun, era bawang putih berangsur berakhir. Produksi bawang putih berkualitas merosot karena tanah menjadi jenuh setelah dieksploitasi dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia. Belakangan, kesejahteraan warga desa itu kembali terang – terangan berkat budidaya kentang.

Mati Suri

Selama beberapa dekade itu, produk kopi di desa tersebut seakan mati suri. Padahal, secara sosial budaya, masyarakat Pulau Lombok termasuk tukang ngopi alias gemar meminum kopi. “Tiga tempat anda bertamu, tiga kali pula tuan rumah menyuguhkan kopi,” tutur Wathan.

Tradisi itu semakin mendorong niat pemuda tersebut untuk mencari solusi menghidupkan kopi sembalun. Tahun 2013, ia mengajak beberapa rekannya dan petani berdialog seputar peluang bisnis kopi. Pada 2015, ia berguru kepada seorang pakar kopi di Jawa Barat, mulai dari teknik budidaya, pengolahan buah kopi pasca panen, cara perawatan pemilahan, sangrai, sampai coffee cupping (mencicipi rasa kopi sebelum dijual). Ilmu yang diperoleh selama sebulan itu kemudian ditularkan kepada warga.

Wathan juga menjajal usaha sendiri. Ia membeli seluruh produk kopi petani, yaitu sebanyak 300 kilogram, seharga Rp 5.000 per kilogram. Ia lantas mengerjakan sendiri semua proses pasca panen, mulai dari menjemur, menyortir, mengupas, sampai memasarkan kopi. Produk kopinya saat itu diberi nama “Kopi Pahlawan”.

“Saya ingin petani menjadi pahlawan bagi dirinya, keluarganya, dan desanya,” katanya. Belakangan, ia dibantu sejumlah lembaga yang menghubungkannya dengan konsumen di beberapa kota di Indonesia.

Usahanya kian berkembang. Ada 50 petani yang bersedia memasok kopi yang dibelinya Rp 7.000 per kg. Untuk memudahkan komunikasi, Wathan memberikan telepon genggam kepada 25 petani. Ia juga mempekerjakan 8 tenaga sortir, 5 pembilas biji kopi, dan 4 pekerja pulping ( pengupas kulit buah ) kopi. Penyortir, pembilas, dan petugas sangrai dibayar Rp 40.000 sehari, sementara pengupas kulit rp 70.000 sehari.

Produk kopinya dalam bentuk green bean dijual Rp 150.000 per kg. Dalam bentuk bubuk, dijual Rp 250.000 sampai Rp 350.000 per kg. Selain untuk beberapa kafe lokal di Lombok, produknya juga dikirim ke sejumlah kafe di Jakarta, rata – rata 300 kg sekali pesanan. Ada juga kopi bubuk kemasan 100 gr dan 200 gr yang dijual masing – maisng harga Rp 25.000 dan Rp 50.000

Lewat cerita dari mulut ke mulut, kopi Sembalun mulai dipesan kedutaan besar Negara – Negara asing di Jakarta, seperti Kedubes Belanda, Jepang, Australia, dan Singapura meski baru sanggup memenuhi dalam skala kecil. Menurut Wathan, sejumlah kedubes asing tertarik dengan kopi Sembalun karena dinilai memiliki aroma dan cita rasa khas, terutama karena mengandung rasa rempah – rempah, cokelat, dan karamel.

Rumah Belajar

Wathan tak hanya fokus pada kopi. Ketika petani mulai merasakan manfaat dari tanaman kopi, perhatian pemuda itu menyasar pada pendidikan. Ia ingin mengembangkan pendidikan tambahan untuk menanamkan budi pekerti dan nilai – nilai budaya lokal yang dianggap mulai luntur di desa. “kami punya falsafah sangkabira, hidup saling tolong mrnolong. Ada solidaritas antarsesama,” ungkapnya.

Bersama para petani dan bantuan sejumlah sukarelawan di Jakarta, Bandung, dan daerah lain, Wathan membangun Rumah Belajar pada April 2016. Pesertanya adalah 50 anak petani setempat, rata – rata dari kelas 1 SD hingga kelas 1 SMP. Mereka mengikuti pendidikan di Rumah Belajar seusai jam sekolah, yaitu dari pukul 14.00 sampai 17.00 wita.

Anak – anak diajari pendidikan budi pekerti, tanggung jawab, kejujuran, dan kepemimpinan. Semua itu diterapkan dengan kegiatan kemah rutin kelompok di seputar Rumah Belajar. Caranya, seorang siswa ditunjuk menjadi ketua yang bertanggung jawab atas kelompok.

Apabila ketua bersalah, harus minta maaf dan jujur menyatakan kesalahannya kepada anggota. Pembelajaran itu mengacu pada nilai falsafah Sembalun, Lamun jau’ jarum, linggis ilang, jau’ awis batek Ilang. Artinya, jika mengambil jarum (orang lain), linggis yang hilang; mengambil sabit, parang yang hilang.

Agar lebih menarik, kegiatan belajar dikemas dalam tema – tema khusus, seperti Bulan Dongeng, Bulan Bahasa Inggris, dan Bulan Seni. Pada Bulan Dongeng, orang tua pelajar diajak mendongeng di depan siswa. Saat Bulan Bahasa Inggris, siswa berkomunikasi dengan bahasa inggris. Bahkan ada seorang volunteer guru Bahasa Inggris di Australia, menyampaikan materi bahasa inggris melalui video call kepada siswa di Sembalun.

Wathan pun lebih selektif menerima sukarelawan yang ingin membantu mengisi kegiatan belajar, seperti mengajukan proposal terkait materi yang bakal disampaikan kepada siswa. “Materi ajar harus bertali – temali dengan membangun karakter sesuai kultur Bangsa kita.itu intinya,” katanya.

Di tangan Wathan, kopi sembalun hidup lagi. Saat bersamaan, ada Rumah Belajar yang menanamkan budi pekerti untuk anak – anak setempat. Desa ini juga menjadi salah satu tujuan Wisata Halal di Lombok.

Perkembangan itu membuka langkah Wathan berikutnya. “Petani harus berdaulat di tanahnya sendiri. Makanya tanah jangan dijual ke pemodal,” ujarnya.

 

Nama : Muhammad Sahidul Wathan

TTL  : Desa Sembalun, 10 November 1979

Istri   : Diah Handriani

Anak : Rifka El Wathan, Denda Sembahulun El Wathan

Orang Tua : H Aepudin (Ayah), HJ Zulmini (Ibu)

Riwayat Pendidikan :

  • SDN 3 Sembalun Lawang (lulus1991)
  • MTs Al Kautsar Al Gontori (lulus 1994)
  • MA Al Kautsar Al Gontori (lulus 1997)

 

Sumber : Kompas, Jumat, 30 Desember 2016

Sukaryadi “Lolo Biru” Membangkitkan “Superhero” Indonesia

Membangkitkan Superhero Indonesia.Kompas.17 Desember 2016.Hal.16

Selama bertahun – tahun ini, komik Jepang dan Amerika Serikat dengan “Superhero”-nya mendominasi Indonesia. Gelisah terhadap situasi ini, Sukaryadi “Lolo Biru”  (32) mengembangkan komik dengan pahlawan lokal. Ia ingin generasi muda kian bangga terhadap bangsanya. (Oleh Erwin Edhi Prasetya)

Lolo, yang memiliki nama asli Sukaryadi, melahirkan komik perdananya pada Agustus 2015. Dua komik superhero lokal karyanya, yaitu Biru Putera Langit dan Executor diproduksi massal dan telah terjual sekitar 2.000 eksemplar. Biru merupakan hasil kolaborasi dengan ilustrator komik Dicky Maulana, sedangkan Executor berkolaborasi dengan ilustrator Aris Naka Abee dan Mas Poer.

Lolo kini tengah menyiapkan edisi bahasa Inggris kedua komik itu. “Ada permintaan dari penggemar komik di Australia, Singapura, dan Filipina sehingga dibuat versi bahasa Inggris,” ujarnya saat ditemui di rumahnnya di Mojolaban, Sukoharjio, Jawa Tengah, pertengahan November lalu.

Biru Putera Langit mengisahkan kepahlawanan Punta atau Biru Putera Langit yang berjuang menjaga kedamaian Bumi. Biru memiliki kemampuan terbang, bahkan mengendalikan petir sebagai senjatanya. Ia punya kekuatan super karena merupakan anak dari Raja Langit bernama Dirgantara dengan Ibu seorang manusia, Pertiwi.

Executor mengisahkan sosok Caka. Pahlawan lokal ini memiliki senjata andalan berupa bumerang pemberian tetua suku Dayak. Kedua komik itu mengambil latar era modern.

Komik Baru

Setelah melahirkan dua komik itu, Lolo memproduksi komik baru dengan tokoh berbeda. Ia menciptakan karakter Ayu Srikandi dan membuat komik Gatotkacareo. Ayu dikisahkan sebagai perempuan muda cantik bernama Sekar Ayu. Ayu adalah anak Profesor Candra, ilmuwan yang dalam komik Gatotkacareo diceritakan membangkitkan kembali Gatot Kaca dari mati suri.

Ayu piawai menggunakan senjata panah sehingga dijuluji Srikandi. Anak panahnya canggih sehingga bisa melumpuhkan penjahat dengan berbagai cara: menebarkan gas bius, mengluarkan jaring yang kuat, atau bermedan magnet.

Komik Gatotkacareo dalam edisi perdana, yang berjudul Reborn, Lolo memodifikasi kisah Mahabharata. Diceritakan tentang Gatotkaca yang kembali siuman setelah mati suri akibat bertarung dengan Adipati Karna dan terkena senjata Kunta Wijaya dalam perang Bharatayudha.

Setelah terkena Kunta Wijaya, Gatotkaca terlempar jauh hingga ke Gunung Lawu di Karanganyar, Jawa Tengah. Tubuhnya tercebur dalam lava pijar di perut Gunung Lawu. Namun, justru lava itu menyusupkan kekuatan untuk bertahan hidup, seperti ketika ia dimasukkan ke dalam kawah Candradimuka.

Kisah melompat era saat ini ketika Prof Candra  sedang melakukan ekspedisi di Gunung Lawu. Ia terperosok dalam lubang dan secara tidak sengaja menemukan tubuh Gatotkaca terselimuti lava pijar. Dengan bantuan teknologi, ia memulihkan tokoh itu dan memberinya kostum modern, hasil modifikasi dari baju klasik

Gatotkaca modern berkekuatan super. Kostumnya mirip superman, dengan topeng kecil di bagian mata sehingga mirip Robin. Ia juga digambarkan berotot kekar, berbadan tegap, berambut pendek, dengan kostum yang ketat.

Ayu Srikandi, selain cantik, digambarkan memiliki rambut sebahu yang dibiarkan terurai. Kostumnya juga ketat berwarna biru dengan lambang anak panah di bagian depan, mengenakan rok pendek, dan bersepatu bot merah setinggi hampir selutut.”Kalau menggambarkan gatotkaca dalam pewayangan, akan sulit diterima kalangan. Jadi, kami sesuaikan dengan tema sekarang dan latar cerita zaman modern,” katanya.

Meskipun gambarnya bergaya layaknya komik Amerika, latar tempat tetap dibuat berada di Indonesia, seperti Kota Solo, Jakarta, dan Yogyakarta. Dengan begitu, pembaca lebih merasakan kedekatan emosional dibandingkan saat – saat menikmati komik –kmoik impor.

Lolo juga melahirkan komik Anoman yang juga mengadopsi cerita Wayang, serta komik untuk anak – anak, yakni Global Heroes, yang bergaya komik Jepang. Semuanya bersemangat mengusung pahlawan lokal.

Berimajinasi

Lolo menyukai komik sejak di bangku Sekolah Dasar. Ia sangat suka Superman, Gundala Putera Petir, Godam, Batman, dan juga Dragon Ball. Aksi – aksi pahlawan super asing itu memenuhi runag imajinasinya. “Imajinasi itu terbawa sampai saya besar hingga kemudian mulai koleksi komik dari sejumlah negara, termasuk komik indie,” katanya.

Beberapa tahun belakangan, di saat komik Indonesia mulai bangkit dari tidur panjangnya, Lolo melihat negara ini krisis komik superhero lokal. Indonesia terlanjur dikuasai komik asing, terutama manga dari Jepang atau komik Amerika.”Superhero Jepang dan Amerika mendominasi sehingga kepikiran untuk membuat superhero Indonesia yang kemasannya beda dengan komik jaman dulu,”

Lolo mulai merintis dengan menyiapkan konsep komik di tahun 2014. Ia melakukan riset mandiri soal karakter tokoh, cerita, dan gaya komik yang akan dikembangkan. Setahun penuh melakukan persiapan, ia akhirnya meluncurkan pahlawan kreasinya. Selain menggambar sendiri, ia juga menggandeng para ilustrator untuk mewujudkan ide – ide nya.

Semua komik karyanya diluncurkan dalam warna penuh kertas mengilap. Harapannya, penggemar benar – benar bisa menikmati gambar dan cerita yang hidup. Komik dicetak dengan standar ukuran Amerika, yakni 17 sentimeter  x  26 sentimeter. Komik buatan Supermoon Comics dijual seharga Rp 35.000 per eksemplar yang terdiri atas 28 halaman.

Selain dipasarkan langsung melalui pameran – pameran, komik itu juga dijual secara daring. Ia juga memanfaatkan media sosial seperti Facebook, twitter, dan Instagram untuk promosi. Komik – komik terbarunya, selain Biru dan Executor edisi 1, hingga kini telah terjual sekitar 3.000 eksemplar.

Dalam wadah Supermoon Comics, Lolo menggandeng tujuh mitra kerja yang masing – masing memiliki tugas khusus sesuai dengan keahliannya, seperti sebagai ilustrator, pewarna, editor, dan bagian promosi. Ia menjadikan tempat tinggalnya di Mojolaban, Sukoharjo, merangkap sebagai tempat kerja karena belum memiliki studio khusus. Ilustrator, Colorist, dan Editor juga bekerja secara terpisah. “Kami belum memiliki percetakan sendiri sehingga pencetakan komik diserahkan kepada pihak lain,” katanya.

Lolo berharap, komik Indonesia yang kembali bergairah menyentuh hati masyarakat di Nusantara dan mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri. “Harapan terbesar saya, anak – anak Indonesia memiliki superhero di dalam negeri sendiri,” ujarnya

 

Nama : Sukaryadi

TTL   : Grobogan, 19 Oktober 1984

Riwayat Pendidikan :

  • SD Kristen purwodadi, Grobogan (1991-1997)
  • SMP Kristen Purwodadi, Grobogan (1997-2000)
  • SMA Kristen Purwodadi, Grobogan (2000-2003)
  • Pertelevisian, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta (2003-2008)

Istri  : Novita Indrasari

Anak : Alecia Aiko Kirani , Acitia Jingga Kirani

Pekerjaan : Karyawan Swasta, Pendiri, Penulis, Editor, Creator Design Comics Supermoon Indonesia

Penghargaan : Indonesia Creative Cities Network (ICCN) Award 2015 kategori Young Creative People.

 

Sumber : Kompas, Sabtu 17 Desember 2016

Popo Danes Memanggungkan Arsitektur Bali

Memanggungkan Arsitektur Bali. Kompas. 31 Desember 2016.Hal.16

Bali memiliki khazanah arsitektur unik yang diwariskan turun-trmurun. Ditangan arsitek Popo Danes, ilmu rancang bangun tradisional itu dikembangkan dalam kemasan modern, terndi, dan ramah lingkungan. Karya-karyanya-terutama terkait fasilitas pariwisata-diapresisasi luas, termasuk di tingkat internasional.

Oleh ILHAM KHOIRI & COKORDA YUDISTIRA.

 

NAMA: Nyoman Popo Priyatna Danes.

LAHIR: Denpasar, 6 Februari 1964.

ISTRI: Ni Wayan Melati Blanca Danes (39).

PENDIDIKAN: Jurusan Arsitektur, Universitas Udayana, Bali, (belum tamat), S-2 kajian lingkungan binan etnik universitas udayana, Bali (belum tamat), Rotary group study exchange, Belanda, (April-Juni 1992).

PEKERJAAN: Arsitek, pendiri dan pemimpin Danes art, pendiri dan pemimpin Danes Art veranda (2002- sekarang).

ORGANISASI: Wakil Ketua indonesia Institute of Architects, Bali Chapter (2002-2008), direct of artmark Indonesia.

PENGHARGAAN: Juara 1 kompetisi arsitektur di bali art festival (1986), pengharagaan Arsitektur dari Indonesia Institute of Architects for Architectural Conversation (2002), Juara I ASEAN Energy Award for Tropical Building category (2004 dan 2008).

 

 

Sumba keren,” tulis Nyoman Popo Priyatna Danes 952)-begitu nama lengkapnya- dalam pesan singkatnya akhir novemberlalu. Saat itu, ia berkelana di sumba, Nusa Tenggara Timur, dan mengirimkan sjumlah foto pemandangan padang rumput, sawah, dan rumah penduduk.

Di Sumba, Popo tak lupa blusukan di alam terbuka dan bersentuhan langsung dengan geliat budaya lokal. Itu salah satu caranya untuk mencari inspirasi berkarya. Ia berharap, kawasan timur indonesia memiliki fasilitas akomodasi yang terencana baik dan mewakili unsur budaya lokalnya. Sebelumnya, pertengahan Juni lalu, kami ngobrol dengan Popo di Danes Art Veranda di Denpasar. Waktu itu, ia baru pulang dari mengurus proyek membangun resor di Goa dan Coorg, India. Ia juga membantu merancang rumah pesawat-copot 9knockdown0 di maladewa. Ia juga pernah menjadi konsultan di Zhejiang (China) dab Bangkok (Thailand).

Di Indonesia, karya Popo bisa ditemuai disejumlah kota, seperti di Bali, kepulauan Riau, Raja Ampat (Papua Barat), atau Sumba Barat. Di Bali, ia mengerjakan desain natura Resort and Spa di ubud, Gianyar. Popo memang banyak menangani bangunan terkait pariwisata, seperti hotel, resor, atau vila. Rancangannya berkarakter tropis, kental dengan budayalokal, ramah lingkungan, sekaligus modern.

Bagi Popo, budaya lokal atau estetika setempat merupakan identitas arsitektur. Imaji dari tempat yang didesain menjadi penanda dimana seorang berada. Meski mengacu khazanah lokal, arsitek perlu menggamit kenyamanan, gaya, dan fungsi. Khusu terkait bangunan di Bali, Popo ingin mempertahankan identitas budaya setempat, tetapi dengan takaran yang sesuai di setiap fungsi bangunannya. “ Dunia menganggap bali berhasil mengembangkan budaya lokal dalam pariwisata. Kita perlu menjaga Bali sebagai referensi dunia “ katanya.

Karya Popo pernah dipamerkan di Bentara Budaya Bali tahun 2011. Peneliti budaya Jean Couteau mengatakan, arsitek itu piawai memadukan teknik lokal, ruang interior modern, serta ruang luar yang teradaptasi pada kondidi lokal (Kompas, 14 Agustus 2011). Karakter semacam itu juga tercermin dirumah pribadi Popo di kawasan Padang galak, Kota Denpasar. Bangunan tiga lantai seluas sekitar 300 meter persegi di atas lahan 1.200 meter persegi tersebut terkesan sangat modern dari luar. Namun, begitu masuk kedalam, kental dengan suasana Bali, terutama di halaman belakang.

Pada bagian paling belakang terdapat merajan (tempat sembahyang keluarga) yang dilengkapi bale piasan (untuk persiapan ritual). Di depannya terdapat kolam. Di samping kolam, terhampar lahan terbuka yang dipenuhi rumput hijau. Kami berbincang diteras terbuka yang menghadap di halaman belakang yang asri itu. Popo sosok yang ramah, betah ngobrol. Sesekali, pria berkacamata bulat itu mengusap rambut putihnya yang agak panjang.

Ramah Lingkungan

Karya Popo dikenal ramah lingkungan. Kebetulan, ia banyak menangani proyek bangunan yang berada di pinggir laut, tebing, atau hutan. Ia berusaha merancang desain yang selaras dengan tantangan itu. “Saya sangat hati-hati, berusaha tidak menebang pohon atau mengubah kontur (tanah),” katanya. Material bangunan dipilih yang ramah lingkungan, seperti bahan daur ulang dan mengutamakan bahan lokal. Sebisa mungkin ia mengurangi pemakaian listrik dengan memaksimalkan energi alam, seperti cahaya dan sirkulasi udara. Air dikelola sebaik mungkin. Desain juga harus sesuai dengn iklim dan terhubung dengan lanskap.

Popo pernah menolak satu proyek di Ubud dan tabanan karena akan mengubah swah produktif menjadi bangunan. “ Saya tidak ingin ikut mengurangi lahan untuk menumbuhkan padi yang kita makan. Disitu ada jaringan air yang mrupakan amerta (anugrah kehidupan). Saya tak mau memotongnya,” katanya. Atas karya-karyanya yang mengacu pada lingkungan tropis, Popo memperoleh Juara 1 ASEAN Energy Award for Tropical Building category tahun 2004 dan 2008.

Merangkak dari bawah

Popo lahir dari keluarga yang kental dengan dunia arsitektur. Kakek buyutnya, Made Sukerata, adalah seorang undagi atau arsitek tradisional bali. Ayah Popo, Nyoman Danes, seorang pengembang perumahan. Nyoman sangat serius membangun rumah untuk keluarganya. Namun, setiap kali dibangun, rumah itu dibeli orang karena dinilai bagus. Itu terjadi berulang kali.

‘Jadi, sejak kecil, saya selalu melihat tukang-tukang bikin rumah,” kenng Popo. Saat remaja, ia punya tetangga baru, seorang arsitek dari jakarta, robi Sularto. Sering melihat tetangga itu menggambar, Popo kian tertarik dengan arsitektur. Kelas II SMA, Popo menjajal merancng bangunan rumah dibantu saudaranya yang mendalami teknik sipil. Popo mantap kuliah jurusan Arsitektur di Fakultas Teknik Universitas Udayana, Bali, sembari mengerjakan beberapa proyek bangunan. Saat lulus kuliah tahun 1991, ia memiliki perusahaan dengan tiga kaaryawan.

Bali yang dikunjungi orang-orang dari sejumlah negara, memberinya nilai lebih. “Dengan lahir sebagai orang Bali, saya seperti dapat password (kunci). Orang dari dunia mau kesini dan saya diterima dimana-mana,” katanya. Tahun 1992, Popo mengikuti Rotary group Study Exchange di Belanda. Setahun kemudian, ia diminta merancang satu restoran di HotelIntercontinental di Dubai. Ia bawa beberapa material lokal bali, seperti bambu, rotan, alang-alang.

‘Awalnya saya banyak gerogi, tetapi lancar,” katanya. Puas dengan kerja Popo, hotel di dubai itu kembali memintanya mendesain restoran yang diperluas tahun 1995. Popo mengembangkan perusahaannya menjadi berbadan hukum, CV popo danes lewat perusahaan inin, ia menangani banyak proyek, terutama terkait fasilitas bangunan pariwisata. Kini, ia membawahi 24 karyawan. Tak hanay untuk dirinya, Popo bersemangat menularkan ilmu kepada generasi muda. Ia ajak arsitek muda untuk bekerja atau magang dikantotnya. Tahun 2002, ia membangun Danes Art Veranda sebagai ruang pertemuan, pameran, pergelaran, dan diskusi. Setiap bulan, ada presentasi arsitek muda dibawah usia 30 tahun. ‘saya ingin bantu anak-anak muda untuk berkarier dibidang arsitektur,” ujarnya.

 

Sumber: Kompas.-31-Desember-2016.Hal_.16

Mohmmad Syahril “Mantri” Mangrove dari Madura

Mantri Mangrove dari Madura. Kompas. 1 Desember 2016.Hal.16

Tanpa berucap sepatah kata pun, Mohammad Syahril (45) memungut bungkus makanan dan memasukkannya ke tong sampah. Ia lantas bercerita soal pentingnya menjaga Taman Pendidikan Mangrove di desa Labuhan, Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur.

Oleh Agnes Swetta Pandia & Iqbal Basyari

“Kesadaran membuang sampah di tempatnya masih sangat rendah, terutama di kalangan pengunjung yang bukan pelajar atau mahasiswa.” Kata Syahril saat berbincang di kawasan mangrove di Desa Labuhan, Sabtu (19/11) siang itu.

Lelaki itu tekun membersihkan kawasan itu.”Ini contoh pengunjung yang tidak taat kebersihan, padahal sudah disediakan tempat sampah,” lanjutnya.

Bisa dibilang , Syahril adalah “mantri” yang merawat hutan mangrove di Desa Labuhan. Dia terlibat langsung dalam pelestarian hutan seluas 6,64 hektar lebih yang berada di dekat beberapa sumur minyak PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore(PHE WMO) itu. Berkat sentuhannya, kawasan yang sebelumnya tandus kini sudah hijau, bahkan menjadi tempat berkembangnya berbagai jenis flora dan fauna.

Saat ini, ada sekitar 17 jenis mangrove yang tumbuh baik di area itu, antara lain rhizopora, sonneratha, bruguira, dan avicennia. Ada pula hutan pohon cemara laut sepanjang 1,5 hektar yang melindungi rumah penduduk dari terpaan angin laut.

“area yang dulu tidak ada kehidupan,kini menjadi habitat ikan dan udang sejak tanaman mangrove tumbuh subur,” katanya.

Terjaganya kawasan hutan mangrove tersebut menarik berbagai jenis burung, seperti burung blekuk dan bangau, untuk bersarang di situ . bahkan , kawanan burung gajahan dari Siberia transit di tempat tersebut sebelum melanjutkan migrasi ke wilayah lain.

Tempat itu tidak hanya menjadi tempat flora dan fauna berkembang. Penduduk sekitar pun mulai kecipratan rezeki setelah hutan itu menjadi objek wisata, tempat belajar sambil bermain. Tak kurang dari 400 pengunjung datang ke situ, terutama pada akhir pekan. Para peneliti, terutama dari kalangan mahasiswa,juga menjadikan tempat itu sebagai obyek kajian ilmiah.

 Mantan TKI

Bagaimana Syahril menyulap kawasan yang dulunya tempat peternakan ayam dan rutin diterjang laut pasang itu menjadi hutan mangrove? Dulu, lelaki asal Bangkalan itu pernah merantau sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia selama setahun. Selama enam tahun berikutnya, ia bekerja sebagai petambak udang di Jawa Barat.

Meski mangadu nasib di daerah lain, ternyata hati Syahril tetap tertambat di kampung halamannya. Maka, pada 2008 ia kembali ke desanya yang berjarak sekitar 50 kilometer dari Jembatan Suramadu itu.

Lalu, apa yang ia temukan di tanah kelahirannya? Ternyata, kondisi pesisir pantai utara Madura di desanya tak berubah sejak ditinggalkan para petambak udang pada 1990-an. Pantai itu tetap gersang dan tak memiliki nilai ekonomi.

Prihatin dengan keadaan itu, Syahril tergerak untuk menghijaukannya. Ia mulai menanam pohon bakau ( Rhizopora sp) di area yang tak lagi dilirik warga sebagai sumber penghidupan. Atasa usahanya itu, ia kemudian dipercaya menjadi ketua kelompok Tani Mangrove Cemara Sejahtera.

Kepercayaan itu membuatnya tidak terpikir lagi untuk kembali merantau. “kalau tidak ada hutan mangrove ini, bisa jadi saya kembali menjadi TKI seperti warga lain,” katanya.

Sebagai ketua kelompok, Syahril selalu berada di garis terdepan untuk mengembangkan area hutan mangrove. Segala hal diurusinya, mulai dari mengawasi ekosistem mangrove dari penduduk sekitar, menanam aneka tanaman mangrove, mengingatkan pengunjung untuk menjaga kebersihan, hingga menyalakan sirene tanda berakhirnya kunjungan ke kawasan itu pada pukul 17.00 WIB.

“Orang di sini menyebut saya sebagai mantri kesibukan karena saya mengurusi segala hal meski ada anggota lain dalam kelompok,” katanya. Ia hafal nama dan jenis mangrove yang dikembangkan di kawasan itu. Pria berkumis yang gemar memakai topi hijau itu sering kali dipanggil anggota kelompoknya untuk diminta pendapat.

Program itu kian berkembang pada 2014 ketika PT PHE WMO menggandeng penduduk setempat untuk menggembangkan kawasan tersebut menjadi area konservasi mangrove. Mereka diberi bibit dan pelatihan cara menanam mangrove, seperti di Probolinggo, Tuban , dan Bali.

Tantangan

Meski pelestarian tanaman mangrove itu demi kepentingan masyarakat, tak sedikit warga sekitar yang tidak sepaham dengan Syahril. Belum semua warga memahami pentingnya melestarikan area tersebut. Alhasil , lelaki itu pun harus berhadapan dengan warga yang mencari nafkah dengan berburu ikan, kepiting,dan burung di tanaman mangrove yang tumbuh subur.

“Bukannya tidak boleh mencari rezeki di sini, tetapi harus memperhatikan keberlanjutan ekosistem,” katanya.

Ia mengingatkan , ada tanaman atau hewan yang tidak bisa disentuh dan ada yang bisa diambil untuk dimanfaatkan sebagai ladang rezeki. Namun, masih ada warga mencari ikan dengan meracuni area tersebut sehingga banyak ikan mati. Bahkan,ada warga yang mencari pakan sapi dengan menebang tanaman mangrove dan mencari kepiting dengan linggis yang bisa merusak akar tanaman mangrove.

Sebagai orang asli Madura , Syahril paham betul karakter masyarakat di sekitarnya. Oleh karena itu, saat mengingatkan warga yang mengambil tangkapan yang bisa merusak lingkungan, dia menggunakan cara yang lembut dan rendah hati. Dia selalu memulai dengan kata “tolong”, bukan “jangan”.

“Meskipun niatnya baik, kalau salah dalam penyampaian bisa berakibat fatal,” katanya.

Dia rajin mengampanyekan pelestarian lingkungan kepada anak-anak sekolah dasar yang berkunjung. Lewat anak-anak sekolah, ia berharap pesan tersebut sampai ke orangtua masing-masing.

Berkat ketekunan Syahril, hutan di Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu, Bangkalan, itu berkembang menjadi Taman Pendidikan Mangrove. Berbagai fasilitas penunjung telah dibangun di situ, seperti tempat parkir, menara pandang burung, jembatan, dan pemondokan.

Jika awalnya Kelompok Tani Mangrove Cemara Sejahtera berjumlah sembilan orang, kini anggotanya bertambah menjadi 45 orang. Mereka adalah orang-orang yang menggantungkan nafkah dengan berjualan serta menjadi tukang parkir, pemandu wisata, dan penarik perahu. Setiap orang yang menjadi bagian dari kawasan itu otomatis menjadi anggota kelompok sehingga semuanya merasa memiliki dan bersama-sama turut melestarikan hutan itu.

Kini, penduduk Desa Labuhan tak lagi mendulang nafkah di negeri jiran sebagai TKI, tetapi memilih tinggal di desanya. Kawasan mangrove itu ternyata bisa menjadi sumber penghasilan baru bagi mereka. Berkat hutan itu, warga mampu membangun kehidupan melalui berbagai usaha. Mereka menjadi berdaya dengan menjadi petani, tukang parkir, hingga menjadi “polisi” yang menjaga seisi kawasan hutan mangrove tetap aman dari tangan-tangan jahil.

 

Kompas, Kamis , 1 Desember 2016

Fauzal Bahri Kaki Palsu untuk Para Sahabat

Kaki Palsu untuk Para Sahabat. Kompas. 15 Desember 2016.Hal.16

Kaki kiri fauzal bahri diamputasi hingga bawah dengkul akibat kecelakaan sepeda motor 10 tahun lalu. sempat terguncang, pemuda itu bangkit dan membuat sendiri kaki palsu. Kini lewat keterampilan itu, ia bahkan membantu banyak orang yang membutuhkan karyanya.

Fauzal bahri (30) memproduksi kaki palsu dari bahan yang mengandung fiberglass dan serabut kelapa. Atas prestasinya itu, ia meraih juara 3 lomba inovasi teknologi tepat guna nasional 2016. “inilah berkah kerja sambil beramal” katanya saat ditemui didusun bangle, desa pesanggrahan, Lombok timur,nusa tenggara barat, akhir November. Pemuda itu lantas menceritakan detik detik dramatis yang menimpanya pada 2006. Suatu pagi ia memacu sepeda motor dengan kecepatan tinggi dari tempat kosnya dikota selong ibu kota Lombok timur, mnuju kampusnya sekolah tinggi keguruan dan ilmu pendidikan nahdlatul wathan,dikelurahan pancor,Lombok timur. Dalam kecepatan tinggi tiba tiba roda depan sepeda motor itu meleset jatuh ke kiri. Motor itu menimpa tubuh fauzal. Pergelangan tangan kanannya patah. Kaki kirinya luka parah sehingga harus di amputasi. “saya tidak tahu kenapa bisa jatuh. Yang saya tau, saya sudah dirumah sakit dan harus di amputasi. Saya pasrah” tuturnya. Sekitar tiga bulan dirumah sakit Dr soedjono,selong,fauzal diizinkan pulang. Hidup “terasing” didalam rumah, tidak bisa jalan, dan dikucilkan oleh temannya terus menggelayuti benaknya. Untuk membeli kaki palsu, orang tuanya tidak mampu. Namun, setelah berusaha keras semangat hjidup fauzal berangsur angsur pulih. Apalagi, rekan rekannya acap kali menjenguk dan menyuntikkan motivasi kepadanya. Tahun 2007, ia berinisiatif membuat kaki palsu berbahan pipa paralon. Tetapi, ia harus kerap berganti kaus kaki demi mengurangi rasa sakit dan kulit yang lecet akibat gesekan  dengan pipa. Tahun 2011, ia mencoba membuat kaki palsu berbahan fiberglass, serat pohon pisang, dan serat bamboo. Hanya saja, jika menggunakan fiberglass yang terlalu tipis, kaki palsu itu gampang retak sehingga tidak tahan menyangga berat badan. Namun, apabila fiberglass lebih tebal, maka kaki palsu itu menjadi lebih berat. Pengerjaan serabut pohon pisang dan serabut bambu sebagai pengikat bahan serat kaca itu agak ribet. Bahan itu perlu dikeringkan selama berhari hari. Baru pada 2015 fauzal menemukan bahan yang lebih pas untuk produk kaki palsu, yaitu fiberglass yang diikat dengan serabut kelapa. Dengan olahan material ini, kaki palsu menjadi lebih pegas dan nyaman dipakai. “mau bukti?” ksts fauzal, lalu melompat beberapa kali dengan disangga kaki palsu karyanya. Kemampuan pemuda itu membuat kaki palsu didapat dari membaca sejumlah referensi selain pernah bekerja pada bengkel perawatan mobil. Dibengkel, ia terbiasa meracik komponen bemper mobil berbahan fiberglass, mengamplas dan mengecatnya. Kini pengalaman itu dimanfaatkan untuk membantu orang lain yang menderita cacat kaki bawaan ataupun akibat kecelakaan.

Terapi

Sedikitnya 100 kaki palsu sudah fauzal produksi. Selain di Lombok, pengguna karyanya berasal dari pulau Sumbawa: balli; dan bogor, jawa barat. Satu kaki palsu dibawah lutut biasanya dijual 3 juta. Satu kaki palsu diatas lutut seharga 4 juta. Harga itu sudah termasuk biaya makan minum pengguna yang harus menginap di rumahnya. Selama menginap, fauzal juga memberikan terapi psikologis kepada calon pengguna. Mereka diajak ngobrol demi menumbuhkan motivasi dan kepercayaan dirinya. Setiap calon pengguna juga diajari tentang cara berdiri dan mengatur keseimbangan tubuh saat menggunakan kaki palsu. Misalnya, apabila naik tangga, sebaiknya dahulukan kaki normal. Jika turun tangga,kaki palsu mendahului kaki asli. Cara itu dilakukan untuk mengurangi tumpuan berat badan pada kaki palsu. Fauzal kerap dipanggil rumah sakit di selong untuk menyiapkan karyanya bagi pasien baru. “pasien akibat kecelakaan sepeda motor umumnya baru bersedia diamputasi apabila ada kepastian kaki penggantinya. Makanya, saya selalu dipanggil untuk memberikan motivasi kepada pasien dan saya menjanjikan untuk membuatkan kaki palsu” paparnya.

Bertani

Tidak hanya menunnggu pemesan, fauzal juga memberikan perhatian para penderita cacat kaki yang sebagian mengemis dipinggir jalan. Salah satunya seorang warga Lombok timur yang kaki kanannya diamputasi. Fauzal membuatkan kaki palsu gratis buat lelaki itu. Dan dengan produk itu, ia bisa bekerja secara normal, bahkan menjadi pengusaha yang sukses. Bisa dibilang, fauzal adalah juga seorang motivator. Dengan kekurangannya, ia tetap aktif berkegiatan dan bersosialisasi seperti bermain bulu tangkis, menjadi perakit instalasi listrik,bahkan bertani. Sebagian orang tidak menyangka bahwa pemuda itu menggunakan kaki palsu karena mampu naik atap rumah,memasang colokan listrik di dinding. Begitu juga saat bekerja disawah, fauzal bekerja seperti manusia normal saat bercocok tanam. Ia memiliki 38 are (1 are setara 100 meter persegi) sawah yang ditanami cabai, tomat, dan sayur sayuran. Dari total area itu bisa memanen 2,5 kuintal cabai. Ia bahkan sempat menikmati harga cabai yang pernah mencappai 50000 perkg dua pekan terakhir November lalu. dari hasil menjual cabai,dan jasa sebagai pemasang instalasi listrik. Fauzal bisa membantu kehidupan keluarganya. Ia juga merenovasi rumahnya menjadi rumah permanen yang sekaligus dijadikan tempat praktik membuat kaki palsu serta penginapan untuk calon pengguna produknya. Menurut fauzal. Banyak orang di Lombok yang memerlukan bantuan kaki palsu karena tidak memiliki biaya membeli alat bantu berjalan itu. Sebagian dari mereka adalah petani dan buruh tani dengan penghasilan terbatas. Saat bersamaan, perhatian terhadap penyandang disabilitas masih kurang. Di tempat tempat umum belum banyak tersedia fasilitas bagi mereka. Melalui media sosial, fauzal mengajak para donator untuk membantu orang orang yang membutuhkan kaki palsu. “sudah ada beberapa donator yang menyumbang dana, tetapi jumlahnya masih kurang dibandingkan dengan orang orang yang membutuhkan kaki palsu” tuturnya. Harapannya, pada peringatan hari disabilitas international setiap 3 desember, semua kalangan mau meningkatkan perhatian bagi kalangan berkebutuhan khusus. “kalau saya inginnya mau bikin kaki palsu gratis untuk kalangan difabel” ujarnya. Fauzal telah membuktikan keterbatasannya bukan masalah besar untuk menggapai cita cita. Dengan keterbatasannya, ia justru bisa memberikan manfaat bagi banyak orang yang membutuhkan karyanya.

Sumber: Kompas, Kamis 15 Desember 2016

Jemi Delvian Hutan, Kopi, dan Musik Balada

Hutan, Kopi, dan Musik Balada. Kompas.9 Desember 2016.Hal.16

 

Dalam satu dua dekade terakhir, kian banyak anak muda di negeri ini yang berpaling dari profesi sebagai pekerja kantoran. Mereka kemudian memilih mengabdikan diri untuk merawat dan memuliakan alam lingkungan tempat mereka berasal. Jemi delvian (39) adalah salah satunya.

Lahir dan tumbuh dibentang alam yang nyaman, sejuk dan indah di kaki gunung dempo, sumsel, bagi jemi adalah anugrah luar biasa. Suasana pegunungan dengan perkebunan teh yang menghijau serta semerbak harum kopi kala berbunga seperti memanggil manggil, membuat jemi kerap merasa disergap rasa rindu ingin pulang. Perantauannya ke lampung hingga lulus SMA lalu ke Yogyakarta untuk kuliah, dan bekerja dijakarta tak membuat jemi lupa dari mana ia berasal. Persentuhan dengan beragam persoalan ditanah rantau justru kian menumbuhkan semacam kesadaran baru pada dirinya. “aku harus pulang” begitu ia bertekad selepas merampungkan kuliah. Namun tekad itu tak segera terwujud. Tawaran kerja di beberapa tempat di Jakarta, juga hobinya pada dunia music yang dirintis sejak SMA dengan bergabung bersama sejumlah band di Bandar lampung dan Yogyakarta, tak kalah menarik untuk di tekuni. Ia sempat bimbang; pulang dan membaktikan hidup di kampung, kerja sebagai pegawai kantoran, atau bermusik. Dijakarta, ia sempat bekerja di perusahaan ekspor impor setelah terlihat sebagai volunteer kolektor data di lembaga ilmu pengetahuan Indonesia. Hanya kurang dari dua tahun ia mampu bertahan dengan rutinitas kerja kantoran. Kata “pulang” sepertinya terus memanggil. “kali ini, aku benar benar harus pulang”. Pulang! Lalu untuk apa?

Sang pionir

“disana, disisi bukit itu, dulu ada pohon besar tinggi menjulang. Kami menyebutnya pohon sialang” kata jemi bercerita saat kami melintas menuju dusun bintuhan di kecamatan kota agung, kabupaten lahat, sumatera selatan. Bintuhan adalah desa kecil tempat kedua orang tuanya, arsyan djatoha (71) dan yasmana (66), berasal. Di kanan kiri jalan, rerimbunan perdu menyungkup hingga ke sisi terluar jalan desa yang sempit dan berkelok kelok. Agak jauh ke belakang, di tebing tebing bukit, pohon pohon mulai bertunas kembali setelah habis terbakar bersamaan peristiwa kabut asap yang mengharu biru negeri ini pada 2015. Cerita tentang pohon sialang adalah kisah masa lalu ketika pada 1998 ayahnya memutuskan akan menghabiskan masa tuanya di bintuhan begitu pension dari PTPN VII perkebunan teh gunung dempo. Di sana, mereka membangun rumah tinggal dengan mnyisakan lahan luas di belakangnya untuk ditanami aneka jenis pohon buah. Setiap pulang ke bintuhan, jemi selalu merasa kagum pada pohon besar tinggi menjulang itu. “di pohon itu banyak monyet bergelantungan, berteriak teriak seperti memanggil orang orang yang lewat. Sesekali ada juga kawanan lebah bergantung yang bisa dipetik madunya” ujar jemi mengenang masa lalunya. Namun, kini semua sudah jatuh berubah. Bukan hanya pohon sialang yang hilang dari pemandangan, aneka satwa yang kerap singgah disana pun tak lagi terlihat. Tradisi mengambil madu di hutan ikut terkubur. Sementara masyarakat yang sebagian besar hidup dari bertanam padi dan berkebun kopi jenis robusta tak juga beranjak sejahtera. Ada rasa sedih, kata jemi, tetapi apa yang mesti diperbuat? Bersama sang adik, Erwin madison (36) alias wiwin, alumnus psikologi universitas ahmad dahlan, Yogyakarta, jemi mulai menaruh perhatian pada pemulihan tanaman kopi penduduk yang umumnya sudah tua. Keduanya melakukan semacam penyuluhan kecil tentang bagaimana seharusnya penanganan pasca panen agar kopi masuk ke pasar premium dan bernilai tinggi. Meski tetap lebih banyak  tinggal di kota Palembang, terutama sejak menikahi dwina pratiwi (30) pada tahun 2008, tiap minggu ia rutin pulang kampung. Awalnya, ia fokus mengurus kebun kopi milik orang tuanya. Uji coba dilakukan dengan memangkas batang batang kopi yang sudah tua, lalu “diremajakan” kembali  lewat teknik okulasi dengan tanaman kopi baru yang lebih menjanjikan hasilnya. Kini meski baru pada latihan terbatas,kebun kopi mereka sudah ditoleh penduduk. “disini, segala sesuatu yang baru memang mesti ada yang memulai lebih dahulu untuk dijadikan contoh. Tidak bisa sekadar ajakan untuk berubah” kata jemi. Tak Cuma itu, jemi bersama wiwin juga melakukan semacam tes uji kualitas dalam proses penyaringan biji kopi sampai ditemukan komposisi yang pas untuk mendapatkan karakter khas dan cita rasa terbaik. Upaya pemulihan tanaman kopi dari hulu hingga ke hilir itu adalah bagian dari upaya mereka mengangkat derajat kesejahteraan petani kopi di sumsel,khususnya kopi dari lahat, pagar alam, dan sekitarnya. Tak berhenti disitu, guna memperkenalkan cita rasa kopi robusta dari sumsel, jemi dan wiwin beserta penyair T wijaya sengaja membuka kedai kopi di Palembang lewat kedai kopi berlabel le café talang tuwo ini, mereka berharap kejayaan kopi robusta dari kawasan bukit barisan di wilayah sumsel bisa kembali terangkat. “dulu hingga 1958, kopi dari daerah ini sangat terkenal hingga ke pasar dunia” kata jemi.

Aktivitas lingkungan

Selain bergelut memuliakan kopi para leluhur, jemi juga dikenal sebagai aktivis lingkungan. Jalan yang ia pilih cukup unik: melalui music! Lewat band hutan tropis yang ia dirikan, sejak awal jemi banyak terlibat dalam isu isu lingkungan, khususnya masalah hutan dan lahan gambut. Terlebih ketika hampir tiap tahun kawasan hutan dan lahan gambut didaerah ini terbakar atau dibakar. Selain daya dukung lingkungan turun drastic, kegiatan ekonomi masyarakat pun terganggu. Dalam perkembangannya, grup band hutan tropis bermetamorfosis menjadi komunitas hutan tropis. Tak hanya lewat lagu, kampanye soal lingkungan juga sampai pada aksi turun ke lapangan. Wiwin, sang adik, selalu ikut terlibat, juga penyair T wijaya yang menciptakan sebagian besar syairlagu bertemakan lingkungan yang dinyanikan jemi. Panggung mereka tak hanya lingkungan perkotaan atau lewat album rekaman yang diunggah gratis di internet. Lewat lagu lagu dijalur balada, jemi bernyanyi hingga kepelosok dusun mengingatkan semua pihak akan pentingnya menjaga dan menyelamatkan lingkungan. Perkampungan di tengah rawa, desa desa terpencil dipinggiran kawasan lahan gambut, hingga dusun dan talang kawasan pegunungan kerap mereka datangi. “bersentuhan langsung dengan masyarakat di wilayah pinggiran membuat kami makin sadar betapa kerusakan lingkungan sudah menggerus kehidupan disana” ujar jemi.

Sumber: Kompas, Jumat 9 Desember 2016

Pajri Tibak Bank Sampah Kebaikan Bersama

Bank Sampah Untuk Kebaikan Bersama. Kompas.23 Desember 2016.Hal.16

Setiap kali melihat warga membuang sampah di tepi jalan dan sungai, pajri tibak prihati dan gelisah. Ia berusaha menghentikan kebiasaan buruk itu dengan menyodorkan bang sampah. Warga bisa menukarkan sampahnya dengan pulsa, listrik, atau rupiah. Usaha kerasnya yang berliku akhirnya berbuah manis.

Pukul 13.00, hujan yang menggguyur sampit sejak pagi baru saja reda. Meski mobil bak terbukanya sempat mogok, pajri tibak (27) tetap bersemangat menjemput sampah para nasabah bank sampah sadar lingkungan (BSSL). Ditemani husnul khotimah (31) kakaknya dan fitriyati (37),salah satu petugas bank sampah,pajri mengisi penuh bak mobil dengan sekitar 300 kilogram sampah. “melalui bank sampah ini, saya ingin mengajak warga memilah sampah dan peduli terhadap lingkungan” kata pajri,perintis dan pengelola BSSL,saat ditemui dikediamannya sekaligus lokasi BSSL dijalan kenan sandan,kelurahan baamang tengah,kecamatan baamang,sampit , kabupaten kotawaringin timur, Kalimantan tengah akhir November lalu. pajri mendirikan BSSL karena sering melihat warga seenaknya membuang sampah. Pada 2013, ketika ia tinggal dijalan muchran ali, gang kayu putih, disekitar tepi sungai mentaya,ia prihatin sekaligus gelisah melihat sampah yang dibuang warga menumpuk disungai dan tepi jalan. Dari situ, ia mulai tertarik membaca sejumlah referensi tentang sistem pengelolaan bank sampah diinternet. Ia juga mencoba bertanya kepada sejumlah  pengelola bank sampah di beberapa kota besar seperti malang,Yogyakarta, Banjarmasin, dan Balikpapan. Setelah mendapat pengetahuan tentang bank sampah, pajri bersama kakak dan istrinya,badariah, merintis bank di sampit. Awalnya, ia mencoba mengajak delapan murid SD untuk mengumpulkan sampah. Usahanya ternyata tidak mulus. Ia justru mendapat ejekan, cibiran dan label sebagai pemulung. Orangtua anak anak SD yang pajri libatkan untuk mengumpulkan sampah pun marah. Karena idenya belum diterima, sampah yang dikumpulkan pun tidak banyak, hanya 14 kilogram. Jika diuangkan hanya Rp 18000.  Pajri pun kemudian membuat strategi lain. Ia dekati kerabat dan keluarganya untuk meminta mereka tidak membuang sampah sembarangan. Ia juga mengajak mereka untuk memilah dan menabung sampah. Dari keluarga dan kerabat, gerakan menabung sampah ditularkan kepada para tetangga. Mereka tertarik karena pajri memberikan layanan yang menarik, yakni ,membayar sampah yang mereka setor dengan pulsa telepon genggam. “orang orang mulai sadar bahwa sampah bisa dimanfaatkan. Selain bisa untuk membeli pulsa, mereka juga bisa membayar listrik dan air dengan sampah” tuturnya. Perlahan tapi pasti, jumlah nasabah bank sampah bertambah, apalagi pajri mau menjemput ke rumah rumah nasabah. Hingga akhir oktober 2016, pria yang juga bekerja sebagai teknisi telepon seluler itu berhasil mengajak 858 orang untuk menjadi nasabah di BSSL. “para nasabah berasal dari sekitar 100 RT di tiga kecamatan,yaitu baamang,kota besi, dan ketapang” paparnya. Untuk menjadi nasabah,warga hanya perlu mngisi formulir pendaftaran dan menabung sampah, baik plastic, kertas, koran,kardus, logam, kaleng maupun barang bekas seperti baju bekas minimal seberat 2kg. kemudian nasabah akan mendapatkan buku tabungan untuk mencatat setiap transaksinya. Dari para nasabah itu, kini pajri bisa mengumpulkan 6-7 ton sampah dengan omzet perbulan mencapai Rp 16 juta dan laba 2 juta. Gerakan bank sampah yang di inisiasi pajri ini telah dilirik oleh bank kalteng. Bank itu memberikan bantuan sebuah kendaraan bermotor roda tiga untuk menjemput sampah ke pemukiman padat pada 2015. Oktober 2016, pajri terpilih menjadi terbaik pertama pemuda pelopor tingkat nasional bidang kepeloporan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan oleh kementrian pemuda dan olahraga

Penyulingan

Tidak berhenti sampai disitu, pajri mengamati bahwa sampah plastic keresek sangat melimpah, tetapi harganya sangat murah, yaitu 800 per kg. harga itu jauh lebih rendah dibandingkan dengan harga plastic bak campur (PBC) yang mencapai 1600 per kg. atas pertimbangan itu, pajri pun berinisiatif membuat alat penyuling sampah plastic atau disebut pyrolysis reactor machine. Dalam tiga tahun terakhir, pajri sedikitnya telah 13 kali mencoba membuat alat penyuling sampah plastic yang bisa menghasilkan minyak setara solar. Ia belajar secara otodidak dan belajar dari internet. Dengan bahan pelat besi bekas, pajri membuat alat penyuling yang terdiri atas tiga ruang, yaitu kotak pembakaran dibagian bawah dan dua tabung kondensor atau tempat penampungan asap dibagian tengah dan atas. “dari 5 kg  sampah plastic keresek, bisa dihasilkan 1 liter minyak setara solar” ujar pajri. Berkat karya tersebut, pajri mendapat kesempatan bertemu dengan menteri energy dan sumber daya mineral ignasius jonan di Jakarta, awal November lalu. ia masih memproses hak paten atas karyanya tersebut. Pada peringatan yang ke 88 hari sumpah pemuda dan jamboree pemuda Indonesia, oktober lalu, dipalangkaraya, kalteng, menteri pemuda dan olahraga imam nahrawi di istana isen mulang,palangkaraya,mengapresiasi karya dan usaha pajri. Meski telah mendapatkan apresiasi, bantuan dan penghargaan dari sejumlah pihak,menurut pajri, pemerintah daerah setmpat justru kurang memberikan perhatian pada upaya pengelolaan sampah melalui bank sampah. Padahal, ia mengatakan mendapat tawaran untuk mengelola sampah dikota palangkaraya, bahkan mengelola sampah di bantargebang, bekasi, jawa barat.

Sumber: Kompas, 23 Desember 2016