Painah Menghidupkan Batik Kenongo

Menghidupkan Batik Kenongo. Kompas.22 November 2016.Hal.16

Sekitar 20 tahun lalu, sentra kerajinan batik tulis di Desa kenngo, Kabupaten Sidoarjo. Jawa Timur, hampri mati setelah perusahaan yang menaungi mereka tutup. Berkat kerja keras Painah (55), seorang pebatik yang merintis usaha, industri rakyat itu menggeliat lagi, bakan menembus pasar mancanegara.

OLEH RUNIK SRI ASTUTI

Desa Kenongo sejatinya dikenal sebagai kampung perajin batik sejak zaman Belanda. Kaum perempuan di desa ini membatik sedari kecil. Mereka belajar secara otodidak dengan membantu orangtua bekerja sebagai buruh batik selain buruh tani.

Para pebatik biasanya mengambil kain dari juragan di Kelurahan Jetis, Kecamatan Sidoarjo. Juragan itu berperan sebagai pemodal dan pemasar. Kain itu kemudian dibawa pulang untuk dibatik dan setelah jadi, dikembalikan ke juragan untuk mendapat upah.

Painah menceritakan, pada 1972 seorang investor datang ke kampungnya dan tertarik banyaknya perempuan pebatik. Investor ini kemudian membangun perusahaan dan menyerap 800 pebatik dari delapan desa di Kecamatan Tulangan. Beberapa produknya bahkan telah dipasarkan ke manacanegara.

“Syaa bekerja sebagai buruh biasa yangg mengurus dengan pebatik. Tetapi, untuk urusan pemasaran dan pembukaan, saya tidak tahu karena sekolah dasar (SD) saja tidak tamat,” ujar Painah, di rumahnya di Desa Kenongo. Selas (15/11).

Namun, pada 1997, pemilik perusahaan itu meninggal dunia Ahliwaris atau keluarga tak mampu mengelola karena tak memiliki keahlian membatik. Usaha itu pun tutup

Tak hanya sedih karena kehilangan bos, Painah juga sedih bingung karena kehilangan pekerjaan. Apalagi, banyak perempuan desa yang kemudian menganggur. Tak ada lagi tambahan penghasilan bagi rumah tangga buruh tani di desanya.

Merintis

Painah terdorong untuk merintis usaha. Namun, tanpa modal, dia seakan tak berdaya. Suaminya, Hartono, bekerja sebagai tukang bangunan dengan penghasilan pas – pas. Namun, niat yang tulus mendorong mereka nekat menjual harta berharga berupa sepeda motor untuk mendapatkan modal.

“Membangun usaha batik itu modalnya harus berlipat karena harus belanja kain dan bahan baku lain, membayar upah pekerja, hingaa menyiapkan stok barang yang cukup. Saat itu tidak ada satu pihak pun yang percaya memberikan pinjaman kepada kami,”kata Painah.

Di tengah kondisi serba terbatas, Painah akhirnya memantapkan diri merintis usaha batik tulis. Dia mendesain sendiri motif batik, memilih kain, berbelanja bahan baku, hingga menangani proses produksi dan memasarkannya.

Karena skala usahanya masih kecil, dia hanya mampu mempekerjakan delapan perempuan pebatik. Dalam proses pewarnaan kain batik, dia kerap dibantu oleh Hartono.

Untuk mengembangkan jaringan pasar, painah mempromosikan batiknya dari pameran satu ke pameran lain. Berkat kerja gigihnya, batik Kenongo kembali hadir dan dikenal pasar.

Kini, produknya tak hanya dipasarkan di banyak kota di Indonesia, tetapi juga di luar negeri, seperti Jepang dan Amerika Serikat. Hanya saja, pemasaran ke mancanegara itu masih melalui pihak ketiga.

Untuk mengembangkan usaha, dia sudah mengurus hak paten pada 2000 untuk merek SARI dari Desa Kenongo atau yang dikenal Batik Sari Kenongo. Kata sari memiliki makna intisari karena dia menggunakan pewarna alam berbahan sari tumbuh – tumbuhan.

Batik tulis produksi Painah cepat dikenal karena berkualitas tinggi, menggunakan pewarna alam, dan memiliki motif beragam serta terjaga keasliannya. Satu motif untuk satu kain, hanya beda pada warna.

Sudah ribuan motif diciptakan oleh Painah. Sebagai gambaran, dia memproduksi ratusan kain batik per bulan. Per lembar batik tulis dijual dari harga Rp 400.000 hingga jutaan rupiah. Beberapa motif sudah dipatenkan seperti kembang sirih dan sunduk kentang yang mendapatkan hak ciptanya tahun 2016.

Lebih dari 200 perempuan di Desa Kenongo dan sekitarnya telah diberdayakan sebagai pebatik. Mereka bekerja di rumah sehingga tetap bisa mengurus anak dan keluarga. Dengan usaha itu, mereka memperoleh penghasilan tambahan untuk meningkatkan taraf ekonomi.

Keberhasilan perempuan yang kini melebarkan sayap pada usaha batik prinring tau cap ini menginspirasi warga lain untuk mengembangkan usaha batik sebagai tulang punggung ekoomi rakyat. Alhasil, industri kerajinan batik di Desa Kenongoo makin menggeliat.

Kiprah Pinah tak berhenti di situ Perempuan yang didiagnosis menderita kanker leher rahim stadium tiga sejak 2010 ini aktif memberikan pelatihan membatik untuk menumbuhkan jiwa wirausaha baru. Dia juga terbuka menerima kunjungan dari berbagai pihak.

“Saya prihatin melihat rendahnya minat generasi muda menekuni usaha batik dan lebih memilih bekerja dipabrik. Mereka enggan mengembangkan jiwa wirausaha dan lebih suka menjadi pekerja,” ujarnya.

Painah mengaku bersyukur karena anak – anaknya berminat mengikuti jejaknya menekuni usaha kerajinan batik. Purti dan menantunya bahkan sudah bisa menggantikan Painah memberikan pelatihan membatik kepada para pelajar.

Pemerintah

Painah berharap, pemerintah serius membantu pelaku usaha kecil menengah (UKM). Mereka membantu bangsa dengan membuka lapangan kerja, bahkan bagi warga tak berdaya, tak berpengetahuan, dan tak memiliki keterampilan.

Perajin batik seperti Pinah memiliki andil dalam melestarikan warisan budaya bangsa dan menularkan nilai – nilai luhur seperti filosof batik kepada generasi masa kini. Produknya juga kerap mewakili wajah budaya bangsa di mancanegara.

Kendati pelaku UKM memiliki inovasi dan krativitas tinggi, mereka tetap memerlukan pembinaan. Dukungan pemerintah terasa kian dibutuhkan di era global dengan persaingan yang kian ketat dan terbuka.

 PAINAH

Lahir : 11 Desember 1961

Suami : Hartono (63)

Anak :

Heny urwanto (38)

Lis (37)

Haimin (1983)

Lintang (28)

Pendidikan : Kelas V SD Desa kenongo, Kecamatan Tulangan

Sumber: Kompas.22-November-2016.Hal_.16

Tunov Mondro Atmodjo Menggunting Mafia Bisnis cabai

Menggunting Mafia Bisnis Cabai.Kompas.15 November 2016.Hal.16

Tahun 2010 petani cabai di Magelang, Jawa Tengah, terpukul akibat harga jual cabai terjun bebas hingga Rp 2.000 per kilogram. Ratusan petani bangkrut dan terjerat utang. Belajar dari peristiwa itu, Tunov Mondro Atmodjo turun ke ladang untuk mengurai akar masalah.

OLEH WINARTO HERUSANSANO

Pemuda berusai 34 tahun itu mengedukasi para petani cabai dengan lahan kurang dari 3.000 meter persegi di Dusun Tanggulangin. Desa Girikulon, Kecamatan Secang, Kabupaten Megelang, Jawa Tengah. Ia tak menyentuh petani besar yang lahannya di atas 1 hektar.

“Cabai itu bukan komoditas yang bisa disimpan lama. Pengembangan tanaman cabai di lahan yang luasnya kurang dari 3.000 meter persegi lebih efektif. Panennya akan maksimal dan harga terhaga sesuai ongkos budidaya,” tutur Turnov.

Oleh karena itu, alih – alih mengejar peningkatan produksi cabai, ia emilih membangun kesadaran petani pada seluk – beluk bisnis cabai. “ Saya mengubah ola pikir perani engenai budidaya cabai, mulai dari pemeliharaan hingga penanganan pasca panen,” kata Tunov. Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Giri Makmur, Kabupaten Magelang, ini.

Cabai bisa dipanen mulai umur 90 hari sampai 6 bulan. Setiap minggu pada musim panen, cabai bisa dipetik 2 – 3 kali. Satu pohon menghasilkan sekitar 115 cabai dan 1 kilogram (kg) setidaknya 250 cabai.

Kalau harga jual terendah Rp 15.000 per kg, petani memperoleh hasil bersih Rp 5 juta. Idealnya, harga jual cabai di tingkat petani minimal Rp 20.000 per kg supaya petani untung 20 persen. Kenyataannya, harga cabai sering jatuh karena adanya mafia.

Mereka bisa menekan harga ditingkat petani serendah mungkin, kemudian menjual harga cabai di pasar setinggi mungkin. Akibatnya, harga cabai tak terkendali dan menjadi pemicu inflasi.

Perang

Bisnis cabai memang menggiurkan. Setiap hari Jakarta saja membutuhkan pasokan 120 ton cabai. Pemasok cabai menyetor jam berapa pun pasti diterima pasar. Sayang, jalur distribusi cabai dari petani ke pedagang pasar dikuasai mafia. Akibatnya, perbedaan harga jual di tingkat petani dan harga jual di pasar bisa sampai 120 persen.

Tunov ingin petani setidaknya bisa menguasi 30 persen pasar cabai di Jakarta. Menurut dia, kunci dalam bisnis cabai sederhana. Siapa yang menguasai cabai pasti menguasai pasar. Karena itu, Tunov membuat jalur pemasaran tunggal sejak 2105. Ia melarang petani menjual cabai sendiri – sendiri.

Cabai yang dipanen dikumpulkan di rumah kelompok tani. Ia lalu memanggi pedagang untuk membeli cabai secara lelang. Penjualan cabai bisa dilakukan taanpa lewat tungkulak atau mafia cabai. Harga cabai di tingkat petani pun meningkat. Selain itu, sebagian cabai dikirim langsung ke pasar induk di Jakarta. Mereka menyebut strategi ini operasi pasar”.

Meski risiko “operasi pasar” cukup besar, strategi ini ampuh menghancurkan monopoli mafia. Ia bercerita, Oktober lalu harga cabai di pasar merangkak di kisaran Rp 45.000 per kg. Dia dan kawan – kawan melancarkan “operasi pasar” ke Jakarta. Mereka emebanderol cabai segar Rp 20.000 per kg. Dalam dua jam, cabai mereka ludes terjual.

Mafia cabai yang berharap mendapt untung besar dari menggoreng” harga pun merugi. Ada tengkulak yang rugi hampir Rp 2 miliar akibat gelontaran cabai segar Tunov dan kawan – kawan.

Gerakan Tunov dan para petani itu mendapatkan perlawanan. Sejumlah tengkulak menbar teror dan ancaman kepada petani  dan pedagang yang menerima pasokan cabai dari Magelang. Namun, Tunov dan kawan – kawan tetap bergeming.

Berkat usaha keras mereka, harga cabai di tingkat petani bisa menguntungkan. Gerakan mereka juga mendapat dukungan para petani cabai lainnya, bahkan yang berasal dari kecamatan lain, seperti Grogol, Kajoran, Dukun, Pakis, dan Kopeng di Kota Salatiga.

Gapoktan Giri Makmur yang dipimpin Tunov semakin berkembang. Anggotanya kini berjumlah 700 petani yang tersebar di Kecamatan Secang dan Grabag.

Gereka mereka juga memengaruhi harga jual cabai di pasar Jakarta. Jadilah Tunov sering diajak rembuk di tingkat Kementerian Pertanian dan instansi lain untuk menemukan formula pertanian dan tata niaga cabai ditingkat nasional. Ia menjadi salah satu dari sembilan petani andalan cabai dari sejumlah daerah di Indonesia.

Anak petani

Pertanian lekat dengan kehidupan Tunov. Sang ayah. Martoyo Cokro Miharjo, adalah petugas penyuluh pertanian sekaligus sahabat petani, khususnya petani cabai.

“Orangtua saya memberi nama Tunov karena lahir pada tujuh November,” kata Tunov, petani cabai di lereng Gunung Merbabu ini seraya tertawa.

Sebelum menjadi petani cabai, Tunov sempat mengambil jalan hidup lain. Dia memilih bersekolah di Akademik Seni Rupa dan Desain Modern, School of Design Yogyakarta. Setelah itu, dia sempat bekerja dalam industri film. Tunov antara lain pernah menjadi prosedur film dan bekerja dengan Deddy Mizwar pada 2009.

Baru pada 2013 Tunov memutuskan kembali ke ‘akar” kehidupan masa kecilnya, yakni pertanian. Tanpa merasa canggung sedikit pun, dia kemudian mengolah tanah dan menanam cabai di lahan milik bersama para petani.

Tunov kemudian menikmati kehidupannya sebagai petani. Dia kembali akrab dengan para petani, hingga diangkat sebagai pembina petani pada 2013. Belakangan, setelah ia berhasil menggunting cengkeraman mafia, budidaya cabai semakin ramai dan menyebar di Magelang dan sekitarnya.

Melihat keberhasilan itu, Bank indonesai perwakilan Jawa Tengah selaku ketua tim pengendali inflasi daerah tertarik dengan pola pengembangan cabai yang dilakukan Gapoktan Giri Makmur.

Instansi itu lantasmemberikan tugas kepada dai untuk menyiapkan sekitar 6.000 benih cabai. Bibit itu nantinya akan ditanam para ibu dalam program Kampung Cbai di 35 kabupaten dan kota di Jawa Tengah.

“Kalau satu desa menanam 15.000 pohon cabai sudah setara dengan menanam pohon cabai 1 hektar. Para ibu menanam cabai di rumah, cukup 10-20 pohon caai di polybag. Hasilnya bisa mencukupi kebutuhan mereka sendiri,” ujar pria lajang tersebut.

Gerakan in digulirkan guna mendorong swasembada cabai untuk rumah tangga. Tujuannya para ibu tetap bisa membuat sambal meski harga cabai melangit.

TUNOV MONDRA ATMODJO

  • Lahir : Magelang, Jawa tengah, 7 November 1982
  • Pendidikan :
  • SMA Muhammadiyah Magelang, 2001
  • Akademi Seni Rupa dan Desain Modern School of Desain, Yogyakarta, 2005
  • Pekerjaan : Pembina petani cabai di Magelang dan sekitarnya, 2013
  • Organisasi : Ketua Gabungan Kelompok Tani Giri Makmur, Kabupaten Magelang
  • Penghargaan :
  • Petani Penggerak Cabai Kementerian Pertanian 2016
  • Pemuda Berprestasi Bidang Pertanian, Kementerian Pertanian 2016

Sumber: Kompas.15-November-2016.Hal_.16

Itmamul Khuluq Maju bersama Peternak

Maju Bersama Peternak. Kompas. 28 November 2016.Hal.16

Semula Itmamul Khuluq (30) hanya membantu peternak puyuh Desa Blumbang, Kecamatan Karanggede, Boyolali, Jawa Tengah, untuk menjual produknya. Langkah itu mendorongnya membangun perusahaan. Di tengah geliat bisnisnya, ia tetap mementingkan misi sosial untuk kemajuan bersama.

Oleh Ida Setyorini

Pada 2011, para peternak puyuh Desa Blumbang sedih dan kebingungan. Banyak telur puyuh yang tak terjual, bahkan sebagain sampai membusuk. Saat itu bulan Sura yang sepi acara dan kegiatan. Daya serap produksi peternakan rendah.

Itmamul, yang bekerja di salah satu pabrik pakan ternak, prihatin. Sebagai sarjana peternakan, ia terketuk untuk membantu para peternak menjual produk. Ia bertekad memberikan seluruh harga jual kepada peternak tanpa mengambil untung sama sekali. Ini merupakan kerja sosial.

Telur saat ini hanya dijual per dus berisi 750 butir. Kemasan besar itu jelas bukan untuk pembeli eceran. Itmamul membuat terobosan dengan menjual telur dalam kemasan kecicl, berisi 18 butir seharga Rp 5.000. Strategi ini berhasil dan semua telur dari seorang peternak terjual.

Mendengar sukses itu, para peternak lain ikut meminta bantuan serupa. Itmamul memnuhinya dan tetap tidak menarik bayaran ataupun mengambil selisih penjualan telur. Kegiatan itu dilakukan di sela – sela rutinitas kerjanya.

Selama beberapa bulan, Itmamul terus membantu mereka menjualkan telur puyuh. Ia tak memikirkan pengeluaran pribadi seperti tenaga, ongkos, dan bahan bakar untuk mengantar telur ke dstributor.

“Lama – lama peternak dari satu desa meminta bantuan saya. Mereka percya saya mamapu menjualkan telur ternak mereka,” kata Itmamul saat ditemui di rumahnya di Dusun Bongkol, Desa Pengkol, Karanggede Boyolali, Minggu (10/11).

Dengan pendekatan pemasaran baru, harga jual telur berangsur membaik. Penjualan telur puyuh meningkat sehingga peternak senang. Para peternak dari empat desa mempercayakan penjual telur kepada Itmamul. Pasaran meluas hingga ke Lampung dan Kalimantan.

Saat masalah pemasaran teratasi, peternak meminta. Itmamul mencarikan pakan. Ia memenuhinya dan lagi – lagi tidak mengambil untung. Padahal, ia makin sibuk dan mengeluarakan uang serta tenaga tak sedikit. “Ternyata ssya tetap tidak kekurangan, ada saja rezeki walaupun kerja sosial lebih banyak,” katanya.

Sempat diremehkan

            Tahun 2012, Itmamul mendirikan perusahaan yang berbasis sosial, CV Holstein Indonesia. Untuk soal pakan, Itmamu mengambil langsung dari pemasok. Ia memotong jalur distribusi. “Inilah yang saya ambil untuk pribadi. Saya tidak menaikan harga jual pakan kepada peternak,”katanya.

Pasoka pakan datang bertumpuk – tumpuk ke rumah mertuanya. Saat itu ia belum punya rumah sendiri. belum lagi kiriman telur puyuh dari para peternak. “Tumpukan karung pakan dan dus telur sampai langit – langit rumah. Rumah mirip kapal pecah,” ujarnya.

Sang mertua tidak ribut, tapi sebagian tetangga meremehkan kegiatan itu. Namun, Itmamul kebal dengan komentar miring karena sejak usai muda sering diremehkan.

Ayah itmamul adalah seorang TKI di Malaysia, sementara ibunya tinggal di rumah bambu berlantai tanah di pojok desa di Lamongan, Jawa Timur. Pemuda itu terbiasa diremehkan. Omongan miring itu baru berhenti ketika Itmamul masuk Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Naluri bisnis itmamul terasah sejak SMA di Yogyakarta. Dia tinggal di pesantren dengan hanya dapa makan pagi dan malam. Untuk makan siang, ia mengumpulkan kertas dan menjualnya kiloan. Lumayan, ia bisa mengumpulkan peling tidak Rp 2.500. Padahal, harga nasi kucing saat itu Rp 500 per bungkus. “Saya bisa punya uang untuk makan siang seminggu, aman,” kenang prai yang senang bercanda itu.

Itmamul hanya dua tahun bekerja di perusahaan pakan ternak. Meski sebentar, dia mendapat pelajaran berarti. Salah satunya dari penyelianya, seorang pria yang berbicara tanpa basa – basi, tapi banyak menurunkan ilmu.

“Dia menyuruh saya mengetes pakan dengan melihat, mendengar, meraba, membaui, dan seterusnya. Begitu pula dengan hewan ternak. Dia bilang, Tuhan menurunkan limaindera untuk dimanfaatkan,” tuturnya.

Imu itu membantu Itmamul mengelola bisnis sekarang, dari mendengar bunyi jatuh karung pakan ternak yang diturunkan dari truk, ia langsung tahu apakah pakan tersebut baik atau rusak akibat tebasan air.

Ia juga belajar untuk menjaga kebersihan. Saat membuat pakan, pekerja harus mandi dua kali dan menghitung nilai nutrisi. Pengetahuan itu diterapkan dalam usahanya. Siapa pun yang masuk ke rumah telur atau tempat penyimpanan pakan harus melepas sepatu atau sandal serta harus mencucui tangan.

Itmamul bahkan selalu berwudu agar bisa memperlakukan telur puyuh dengan baik. A juga tidak mau sewenang – wenang terhadap telur, seperti meletakkan sejajar kaki dan selalu menjaga omongan agar tak ada energi negatif yang terserap telur.

“Mungkin mata biasa tidak melihat bedanya, tetapi mata batin pasti bisa melihat. Telur itu akan menjadi makanan manusia. Menurut distributor telur – elur dari saya berbeda dan merkea ingin terus menjadi pelanggan saya,” katanya.

Maju bersama

Urusan pasar telur puyuh dan pakan ternak beras, Itmamul menghadapi soal lain. Sebagai peternak mengembalikan pakan yang mulai menjamur atau pakan tak tepat lagi untuk perkembangan puyuh. Ia pun mengalihkan pakan bekas itu untuk ternak lele, ayam, dan entok didekat rumahnya.

Dia juga turut mengusahakanagar puyuh apkir tetap berdaya jual. Pernah harga puyuh apkir hanya Rp 900 per ekor dan membuat petani tak berdaya untuk membeli bibit lagi. Dia juga mengolah telur menjadi penganan yang mudah dibawa seperti rundeng.

Itmamul kini menyusun empat kebijakanagar bisnis para peternak lebih maju. Pertama, peternak mendiri secara finansial dan membentuk mlembaga keuangan seperti koperasi yang memeberikan keadilan dan toleransi kepada peternak. Kedua, peternak harus mandiri secarapakan. Ketiga, pengolahan puyuh yang tidak produkstif. Keempat, penangana limbah yang dapat dimanfaatkan.

“Saya ingin mengajak para peternak maju bersama,” ucapnya.

ITAMUL KHULUQ

Lahir : Lamongan, 17 Januari 1986

Istri : Ferra Sekar P

Anak :

  • Holstein Ifara RLA
  • Holstein Muharrib RLA

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah 4 Yogyakarta
  • Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (2005 – 2010)

Penghargaan : Peraih Danamon Social Entrepreneuer Awards (DSEA) 2016

Sumber: Kompas.-28-November-2016.Hal_.16

Maksimus Lani Kerja Keras Petani Kopi Papua

Kerja Keras Petani opi Papua. Kompas.1 November 2016.Hal.16

Dua tahun lalu, Maksimus Lani mampir ke sebuah kedai kopi modern di Jakarta. Ia memesan secangkir kopi arabika wamena. Ia kaget bukan kepalang begitu tahu harga secangkir kopi wamena mencapai Rp 100.000.

Oleh Fabio Maria Lopes Costa

Dari pengalaman di Jakarta, Maksimus sadar bahwa kopi yang ditanam di Lembah Baliem, Pegunungan Tengah Papua, itu punyai nilai ekonomi tinggi. Ia senang mengetahui hal itu,tapi pada saat bersamaan ia merasa miris. Pasalnya, ia tahu perkebunan kopi arbika di Pegunungan Tengah belum dimanfaatkan secara maksimal.

Ketika berkunjung ke sejumlah daerah perekbunan opi di Kabupaten Jayawijaya dan Yahukimo beberapa tahun lalu, ia melihat banyak petani membiarkan biji – biji kopi yang ranum perlahan membusuk di pohon. Itu terjadi karena harga kopi di tingkat petani sangat rendah.

Tengkulak hanya mau membayar Rp 5.000 –  Rp 10.000 per kilogram. Akibatnya, petani tidak bergairah membudidayakan kopi secara serius. Mereka pasrah pada alam yang berbaik hati memberikan kopi serta tengkulak yang mematok harga rendah.

Maksimus merasa bisa mengubah keadaan itu. Ia memiliki engalaman menjadi petani kopi di Walesi, Kabupaten Jayawijaya, sejak 1997. Ia juga pernah mengikuti program magang mengelola kopi di Jember, Jawa Timur, pada September 2010 yang di gelaar oleh Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya. Saat itu, ia belajar mulai dari cara menanam, mengolah biji kopi pasca panen,hingga mengemas biji kopi yang akan dijual.

Laki – laki yang semula bertani sayur, ubi, dan berternak babi itu akhirnya mengambil inisiatif untuk menularkan pengetahuannya kepada petani kopi di Pegunungan Tengah Papua sejak Januari 2014. Melalui para tetua adat, ia temu para petani di sentra – sentra perkebunan kopi.

Pertama – tama, ia menyandarkan petani bahwa kopi arabika dari Pegunungan Tengah Papua punya nilai ekonomi tinggi sehingga mesti dikembangkan untuk kesejahteraan petani. Berikutnya, ia mengajarkan dasar – dasar pengolahan biji kopi arabika mulai dari pengupasan kulit, penjemuran, hingga proses fermentasi biji kopi dan pengemasan.

“Biasanya proses penjemuran biji kopi memakan waktu hingga sepekan karena cuaca di wilayah ini sejuk. Tetapi, proses fermentasi biji kopi hanya memkan waktu sehati,” papar Maksimus yang ditemui di Okesa, sekitar 20 kilometer dari Waena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya, pertengahan Agustus lalu.

Nekat

Perlahan tapi pasti, kegairahan petani untuk memproduksi kopi muncul. Sejak pertengahan 2014, mereka giat merawat perkebunan kopi yang ada di Lembah Baliem pada ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut di tengah udara yang sejuk. Lingkungan seperti ini menghasilkan kopi beraroma kuat dan harum.

Persoalaan berikutnya adalah siapa yang mau membeli kopi petani dengan harga beli tinggi daripada yang ditawarkan tengkulak? Maksimus dengan setengah nekat bersedia membeli kopi petani. Ia menawarkan harga Rp 30.000 – Rp 40.000 per kilogram biji kopi., bergantung pada kadar airnya. Harga itu 3 – 5 kali lipat harga yang dipatok tengkulak. Pembelian dilakukan melalui Koperasi Okesa yang didirikan Maksimus dengan bantuan modal dari Pemerintah Kabupaten Jayawijaya. Saat ini, jumlah anggotanya sekitar 500 petani.

Mendapatkan harga yang tinggi, petani semakin giat mengembangkan kopi. Dari anggota Koperasi Okesa. Maksimus bisa mendpaatkan 20 ton biji kopi kering per tahun dari perkebunan kopi seluas 272 hektar. Perkebunan itu terdiri dari 152 hektar di Jayawijaya serta 120 hektar di Tagma dan Kurima yang masuk wilayah Kabupaten Yahukimo.

Dengan setoran kopi sebanyak itu, Maksimus mesti bekerja keras memasarkan lagi kopi yang dibeli dari petani ke distributor dan pabrik pengolahan kopi. Ia terbang ke Jayapura, ibu kota Papua, membawa sampel kopi untuk ditawrkan kepada PT Garuda Mas. Ia juga menemui pengurus Koperasi Kopi Amungme bernama Arnold di Kabupaten Mimika.

“Saya hanya modal nekat memasarkan biji kopi lewat petani di Jayapura dan Timika (ibu kota Kabupaten Mimika). Puji Tuhan, usaha saya berhasil,” ujar Maksimus.

Ia menjual biji kopi kepada pembeli di Jayapura seharga Rp 70.000 per kilogram dan di Timika seharga Rp 80.000 per kilogram. Harga penjualan masih tinggi karena biaya angkut kopi dengan pesawat dari Wamena cukup mahal.

Meski begitu, permintaan kopi dari Pegunungan Tengah, yang di pasar sering disebut kopi wamena, terus mengalir. Dalam satu pengiriman, Maksimus bisa memasok 1 ton-2 ton kopi ke Jayapura dan Timika.

Di Jayapura, satu kemasan biji kopi arabika seberat 250 gram dijual pedagang Rp 70.000. Setelah masuk ke kota – kota besar lain, seperti Jakarta, harganya lebih tinggi lagi.

Buah kerja keras

Kini petani kopi di Pegunungan Tengah Papua bisa tersenyum. Pada masa panen raya kopi yang berlangsung Juni-Agustus dan November-Desember, petani semakin rajin mendatagi Koperasi Okesa untuk menyetor biji kopi. Mereka berasal dari tujuh sentra perkebunan kopi di Jayawijaya, yakni Jagara, Piramid, Hubi Kosi, Muliama, Kurulu, Jalengga, dan Pugima, serta dua distrik di Kabupaten Yahukimo, yakni Tangma dan Kurima.

Kamis pagi, pertengahan Agustus lalu, terlihat 20 petani daerah Tangma dan Kurima datang ke kantor Koperasi Okesa yang terletak di Kampung Jagara, Distrik Walesi, Kabupaten Jayawijaya. Petani masing – masing membawa dua karung biji kopi kering. Mereka disambut oleh dua pegawai koperasi yang segera menimbang biji kopi kering yang mereka bawa.

Saat itu juga, Maksimus membayar biji kopi yang dijual anggota koperasi. Hari itu, para petani bisa membawa pulang uang Rp 800.000. Dengan wajah gembira, mereka meninggalkan kantor Koperasi Okesa menuju Wamena untuk membeli berbagai kebutuhan pokok.

Ketika mereka sibuk berbelanja, Maksimus dan pegawai koperasi sibuk mengolah biji kopi yang baru tiba. Mereka mengupas kulit tanduk kopi dengan menggunakan alat khusus yang biasa disebut huller. Setelah itu, mereka memilah biji kopi berkualitas baik.

Begitulah rutinitas Maksimus beberapa tahun terakhir. Berkat kengototannya mengembangkan kopi Pegunungan tengah, banyak petani yang mulai meningkat taraf hidupnya. Mereka tidak hanya bisa memenuhi kebutuhan pokok, tetapi juga membiayai anak – anaknya sekolah.

Namun, Maksimus masih beum puas. “Saya ingin petani tak hanya memasok bahan baku. Suatu hari, kami mesti memiliki industri pengolahan kopi sendiri sehingga bisa mendapat keuntungan yang layak,” tutur ayah tujuh anak ini.

MAKSIMUS LANI

Lahir : Jayaeijaya, 25 Mei 1964

Istri :

  • Suyati Lokobal
  • Salemina Yelipele

Anak :

  • Hengky Lani
  • Heli Lani
  • Sony Lani
  • Yanuarius Lani
  • Wim Lani
  • Simeka Lani
  • Ema Lani

Pendidkan : SD YPPK Sinakma Walesi, 1973-1980

Pekerjaan : petani kopi

 

Sumber: Kompas.1-November-2016.Hal_.16

Mario Andramartik Kenalkan Lahat kepada Dunia

Kenalkan Lahat Kepada Dunia. Kompas.12 November 2016.Hal.16

Setelah menjelajah mencanegara, Mario Andramartik mengulik tanah kelahirannya, yaitu Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Ia mendata ribuan peninggalan megalit dan beragam potensi wisata di daerah itu, lantas mempromosikannya kepada khalayak international. Kini, Lahat pun kian dikenal dunia.

Oleh Rahma Purna Jati

Mario (46) pernah bekerja pada sebuah perusahaan pariwisata. Profesi itu memberikan kesempatan untuk menjelajahi tempat – tempat wisata di dunia. Sejak tahun 1997, ia menjejakan kai di beberapa negara di benua Eropa, Aamerika, Australia, dan Asia, seperti Yunani, Amerika Serikat, kanada, inggris, Australia, Italia, Norwegia, Jerman, Rusia, dan Perancis.

Pengalaman itu menorehkan kesan mendalam. Saat tinggal selama dua bulan di Italia, misalnya, a mengunungi Menara Pisa Koloseum, dan Venesia. Tidak sekadar jalan – jalan, ia juga menyelisik, kenapa semua tempat ini terus ramai dikunjungi.

“Di bangunan – bangunan itu terdapat bilai sejarah yang sangat menarik wisatawan,” ujarnya saat ditemui di Lahat, awal November lalu.

Selama 13 tahun, sudah 202 kota wisata dari 100 negara yang ia kunjungi. Ketika kembali ke Lahat pada 2008, Mario tergelitik. “Saya malu sudah engunjungi banyak kota wisata, tapi tak kenal potensi wisata di tanah kelahiran sendiri.”

Sejak itu, Mario engumpulkan sebanyak mungkin data mengenai potensi pariwisata di Lahat. Ia membentuk komunitas Panoramic of Lahat dan menjelajahi kabupaten berjuluk “Bumi Seganti Setungguan” itu.

Dalam catatan mario, setidaknya terdapat 1.025 karya mengalit di 44 situs di seluruh Lahat.Ini angka terbanyak di Indonesia. Kekayaan itu membuat Lahat menyabet gelar di Museum Rekor-Dunia Indonesia (Muri) pada 2012. Komunitas Panpramic of Lahat juga mendapat rekor sebagai kolektor data mengalit terbanyak se – Indonesia.

“Ini modal penting untuk memperkenalkan pariwisata Lahat di Indonesia dan mancanegara,” ujarnya. Mario hafal mengenai seputar kekayaan pariwisata Lahat. Tanpa menengok buku petunjuk, ia memaparkan segala kekayaan pariwisata secara detail. Ia juga mahir menelaah karya – karya mengalit.

Kekayaan mengalit di Lahat berupa arca, arca menhir, menhir, batu datar, dolmen, lesung batu, lumpang batu, tetralit, batu gelang, bilik batu, lukisan di dalam bilik batu, dan tampayan. Tinggalan itu tersebar di beberapa kecamatan, seperti Merapi, Lahat, Pulau Pinang, Pajar Bulan, Tanjung Tebat, Gumay Ulu, Kota Agung, Pagar Gunung, Mulak Ulu, Muara Payang, dan Jarai. Semua itu menggambarkan kebesaran kebudayaan mengalitik di Dataran Tinggi Pasemah (Lahat, Pagar Alam dan Empat Lawang) sejak ribuan tahun silam.

Nilai budaya

Bagi Mario, setiap karya mengalit mengandung nilai budaya yang menarik. Itu terlihat dari bentuk perhiasan seperti topi, kalung, gelang tangan, gelang kaki, baju, ikat pinggang, dan pedang. “Setiap karya memiliki makna tersendiri. Sejak dulu peradaban manusia sudah tinggi.”

Ambil contoh, arca oran naik gajah di situs Tanjung Telang. Mario bisa menjelaskan secara rinci maksud dari pembuatan arca itu. Begitu pula lesung batu untuk menumbuk biji – bijian. Alat ini menggambarkan peradaban yang sudah cukup tinggi kala itu. Bagi Mario, situasi di Lahat tidak kalah hebat dari situs serupa di Carnac, Perancis, atau situs Stonehenge di Inggris.

Tidak hanya suntuk dengan situs megalit, mario juga mencatat potensi pariwisata lain dengan merangkul kaum muda pencinta alam. Dari penelusuran itu, ternyata Lahat memiliki sekitar 126 air terjun. Jumlah ini bertambahdibandingkan dengan penemuan 41 air terjun pada 2010.

“Bukan tidak mungkin, akan lebih banyak air terjun yang ditemukan nantinya,” katanya. Lahat juga punya rumah adat khas budaya Pasemah. Ada rumah Baghi berkonstruksi anti gempa dan tanpa paku. Rumah ini memiliki kualitas kayu berukir yang sangat baik. Ada nilai filosofi di dalamnya. “bahkan, ada rumah Baghi yang usainay sudah lebih dari 200 tahun,” katanya.

Ada juga karya – karya peninggalan kolonial Belanda yang masih kokoh berdiri di kota Lahat. Bentuknya mulai dari teroeongan, bengkel kereta api, stasiun kereta api, gereja, sampai perumahan khas Belanda. Jika didata, peninggalan masa kolonial Belanda di Lahat merupakan yang terbanyak kedua di Sumatera Selatan setelah pelembang. “Dengan kekayaan ini, bisa dikatakan Lhat adalah surganya Pulau Sumatera,” katanya.

Menyadari potensi itu, Mario getol mempromosikan Lahat dalam sejumlah buklet. Selanjutnya, ia menjaring remaja dan pemuda yang peduli pada pariwissata untuk membantu promosi. Ia juga kerap menjadi pembicara pada sejumlah kegiatan edukasi pariwisata. “Yang penting, kesadaran masyarakatakan keberadaan pariwista kian tinggi,” ucapnya.

Perlu terobosan

Bekerja di salah satu hotel di Lahat juga menjadi kesempatan bagi Mario untuk memamerkan kekayaan pariwisata Lahat kepada masyarakat luas. Ia membuat paket wisata yang menawarkan eksotika Lahat. Tentu saja, ia juga menyebarkan informasi kekayaan pariwisata kabupaten itu melalui media sosial.

Lebih dari itu, Mario bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Lahat untuk mempromosikan pariwisata dengan menyematkan gambar mengalit dan air terjun di beberapa bus pemerintahan. “Biar bus itu menjadi iklan pariwisata berjalan,” ujarnya.

Ide itu sudah diterapkan pada bebrapa bus milik Pemerintahan Kabupaten Lahat. Ia pun tekun menulis di sejumlah media tentang Lahat. Hanya saja, hingga kini mengalit belum terpelihara baik. Tersebar disejumlah tempat, termasuk di pekarangan rumah warga, sebagian warisan budaya itu hilang atau rusak.

Mario berharap ada tim ahli cagar budaya yang serius mengkaji benda – benda bersejarah ini dan mendorong situs mengalitik di Dataran Tinggi Pasemah menjadi cagar budaya nasional, bahkan warisan budaya tersebut kian dikenal dan dapat terus dilindungi.

Sejauh ini, kunjungan wisatawan ke Lahat lumayan tumbuh. Menurut Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lahat Deswan irsyad, ada sekitar 6.000 turis lokal yang datang ke daerah itu pada 2016. Angka itu meningkat dibandingkan jumlah pada 2015 sebesar 4.000 orang. Jumlsh turis asing masih minim,sekitar 100 orang pada 2016, atau bertambah sedikit dari 60 sampai 80 orang pada 2015.

Untuk menggenjot pariwisata, Mario mengusulkan pembangunan karya monumental yang menggambarkan kekayaan potensi wisata Kabupaten lahat. Bisa saja pemerintahan setempat membuat replika arca megalit terbesar di dunia sebagai ikon yang mudah dikenali publik. “Ide konyol begini kadang jadi cara terbaik untuk memberi kesan kepada wisatawan,” ucapnya.

Jika potensi pariwisata bisa tergali, akan banyak wisatawan yang berkunjung ke Lahat. Selain memberikan pendapatan bagi pemerintahan daerah, perkembangan itu juga berpotensi mendongkrak pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal. “Jika bicara pariwisata, maka kita bicara ekonomi rakyat,” kata Mario.

Sumber: Kompas.12-November-2016.Hal_.16

Soekirman Berjuang Memenuhi Gizi Rakyat

Berjuang Memenuhi Gizi Rakyat.Kompas. 14 November 2016.16

Soekirman pernah hampir kehilangan jabatan deputi di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional gara – gara menentang program pemberian susu. Namun, argumentasi berbasis kajinya terbukti tidak terbanyahkan, bahkan oleh Presiden Soeharto. Ini bagian dari perjuangan panjangnya untuk memnuhi gizi rakyat Tanah Air sesuai kaidah ilmiah.

OLEH J GALUH BIMANTARA

Soekirman adalah Guru Besar Emeritus Departmen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor, Jawa Barat. Berusai 80 tahun, lelaki itu bersemnagat dan aktif bekerja. Itu terlihat saat Kompas mengunjunginya di sebuah rumah di Jakarta Selatan, pertengahan Oktober lalu.

Dilantai du arumah itu, puluhan bungkus minyak goreng rupa – rupa merek berdiri di meja. Dua perempuan mengambil sedikit minyak dari setiap bungkus dengan suntikan, dan seorang perempuan lain mencatat di komputer jinjing. Mereka menguji ada tidaknya kandungan vitamin A pada minyak goreng itu.

Penambahan bitamin A pada minyak goreng adalah salah satu bentuk fortifikasi pangan yang diadvokasi Yayasan Kegizian untuk Pengembangan Fortifikasi Pangan indonesia (KFI). Rumah itu adalah kedamaiannya sekaligus kantor yayasan. “Maaf, maaf, berantakan,” ucapnya terkait kemasan minyak goreng yang memenuhi mejanya.

Soekirman mendirikan KFI pasa 2002, 16 tahun setelah pensiun dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Itu ia lakukan demi melanjutkan 50 tahun perjuangannya di bidang gizi. Sejak masih staf biasa di Bappenas, dia telah memikat Ketua Bappenas saat itu, Widjojo Nitisastro, untuk memasukan gizi dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) III-VI (1983-1999).

Bagi Soekirman. Slogan empat sehat lima sempuran (4S5S) sudah tidak relevan lagi karena belum tentu mencukupi jumlah zat gizi makro dan mikro yang dibutuhkan tubuh. Tubuh perlu gizi seimbang antara asupan gizi serta faktor lain, seperti keanekaragaman jenis pangan, aktivitas fisik, kebersihan, dan berat badan ideal. Selaras dengan itu, kementerian kesehatan menerbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 41 Tahun 2014 tentang Pedoman Gizi Seimbang.

Produktif

Soekirman gemas pada fortifikasi minyak goreng kelapa sawit dengan vitamin A yang tidak kunjung diwajibkan pemerintah. Penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) fortifikasi minyak goreng sawit dengan vitamin A sedianya wajib mulai Maret 2015, tetapi diundur Maret 2016. “Berkat” deregulasi dalam paket kebijakan ekonomi tahap I, kewajiban penerapan kembali diundur lagi, kali ini menjadi Desember 2018.

Fortifikasi perlu untuk membantu memnuhi gizi rakyat miskin. Mereka biasanya membeli beras, garam, miinstan, dan minyak goreng curah. Mereka kurang memperhatikan kecukupan gizi untuk kesehatan jiwa dan raga, Ini disebut “kelaparan tak kentara”.

Untuk mengatasinya, pemerintahan perlu menitipkan zat – zat gizi tambahan pada proses produksi bahan pangan yang mampu dibeli warga miskin. Fortifikasi vitamin A pada minyak goreng, misalnya, hanya butuh Rp 50 per liter.

Soekirman bersyukur, fortifikasi beberapa bahan pangan sudah berjalan, seperti iodium pada garam, serta zat besi, zat seng, asam folat, vitamin B1, dan vitamin B2 pada tepung terigu (bahan baku mi).

Kawah Candradimuka

Ayah Soekirman adalah seorang butuh tani yang meninggal ketikaSoekirman berusia 5 tahun. Ibunya berjualan kue untuk menyambung hidup. Meski buta huruf, sang ibu mendorong anaknya sekolah. “Jika tidak pergi sekolah, saya tidak boleh ikut bantu Ibu berjualan,” kenangannya.

Soekirman remaja bercita – cita menjadi dokter. Lulus SMA tahun 1956, ia mencari beasiswa dengan mendaftar menjadi anggota TNI Angkatan Darat. Namun, ia gagal karena terjatuh saat ujian lompat dari truk yang berjalan.

Soekirman lantas masuk Sekolah Ahli Diet (sekarang Politeknik Kesehatan Kemenkes Jakarta II) di Jakarta dan kemudian pindah ke Bogor. Ia mendapat beasiswa. Lulus tahun 1960, ia ditugaskan sebagai ahli gizi di Aceh.

Provinsi itu jadi kawah candradimuka yang menempanya. Agar pengetahuan gizi menyebar luas dan cepat, ia menulis artikel di satu – satunya koran di Banda Aceh, Pantha Tjita. Tulisan – tulisan itu membuat Dinas Penerangan (Radio Republik indonesia) di Aceh meminta Soekirman berbicara dalam siaran setiap pekan.

Di Aceh pula, ia menulis buku pertamanya tahun 1962, Dasar Pokok Ilmu Gizi. Karya ini menjadi buku ajar ilmu gizi untuk sekolah keperawatan dan kebidanan di Badan Aceh dan Medan, Sumatera Utara.

Tahun 1965, Soekirman ditraik ke Jakarta untuk mengajar di Akademik Gizi, sambilmeneruskan kuliah untuk gelar sarjanan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI). Ia juga terlibat sebagai penelitian yunior pada riset tentang dampak kurang anemia pada pekerja, kerja sama Massachusetts Institute of Technology (MIT) Amerika Serikat dengan Depkes dan Akademik Gizi.

Soekirman lantas mendapat beasiswa studi magister gizi pembangunan di Universitas CornelL, Amerika Serikat,tahun 1973 – 1974. Tesisnya, “Prioritas in Dealing with Nutrision Problem in Indonesia”, diterbitkan dalam bentuk Monograph Series. Karya itu dibaca pejabat Bappenas. Sejak 1975, ia diangkat menjadi staf perencanaa Bappenas yang dipimpin Widjojo Nitisastro.

Soekirman kembali ke Cornell untuk meraih gelar doktor tahun 1983. Sembari studi, ia diangkat, sebgai Kepala Bidang Ksehatan dan Gizi Bappenas. Kata gizi di jabatan ini merupakan desakan dari Soekirman. Pada 1998, ia menjadi Deputi Bidang Sosial Budaya dan tahun 1993 – 1997 sebagai Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia.

Meski menjadi pejabat, Soekirman termasuk keras kepala demi membela kebijakan pemenuhan gizi yang tepat. Suatu ketika, saat Bappenas dipimpin Ginandjar Kartasasmita, PERSATUAN Istri Menteri mendorong susu masuk program makanan anak sekolah. Presiden Soeharto juga memerintahkan hal itu kepala Ginandjar.

Ginandjar minta Soekirman dan tim mengkaji program itu. Soekirman menegaskan, susu tidak realitis dan tidak mutlak ada dalam program pemenuhan gizi. Harga susu mahal dan tergantung impor. Susu malah bisa memicu duiare jika kebersihan air dan lingkungan tidak terjamin. Selain itu, susu perlu yang rendah laktosa guna mencegah diare akibat intoleransi laktosa.

Soekirman merekomendasikan pangan lokal untuk makanan anak seklah. Ia dimusuhi banyak pihak. “Kami profesional. Kalau karena ini saya dipecat, pecat saja,” ujarnya. Ternyata, Soeharto menyetujui pandangannya.

Pengalaman itu kian mementapkan hati Soekirman untuk terus berjuang di jalan pemenuhan gizi sampai sekarang ini.

SOEKIRMAN

Lahir : Bojonegoro, 2 Agustus 1936

Istri : Sri Wahyu Soekirman (78)

Pendidkan :

  • PhD dari Universitas Cornell, AS (1983)
  • Mater of Professional Studies Bidang International Nutrition, dari Universitas Cornell (1973)
  • Sarjana Kesehatan Masyarakat, FKM UI (1969)
  • Bachelor of Science, Akademik Gizi Kementerian kesehatan, Bogor (1960)

Pekerjaan sekarang :

  • Direktur Eksekutif Yayasan Kegizian Pengembangan Fortifikasi Pangan Indonesia (KFI)
  • Guru Besar Emeritus, Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia IPB, Bogor.

Riwayat karier :

  • Kepala Bidang Kesehatan dan Gizi Bappenas (1983-1988)
  • Deputi Menteri Bappenas Bidang Sosial Budaya (1988-1993)
  • Deputi Menteri Bappenas Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia (1993-1997)

Sumber: Kompas.-14-November-2016

Surya Agung Saputra Wisata Salak di Lereng Merapi

Wisata Salak di Lereng Merapi. Kompas.21 Desember 2016.Hal.16

Terlahir dari keluarga petani salak Surya Agung Saputra (40) tidak ingin sekedar melanjutkan hidup dengan bertani di lereng Gunung Merapi. Ia berinovasi menjadikan lahan perkebunan salak sebagai tempat wisata berbasis pertanian. Kini, setiap tahun, puluhan ribu pelancong mengunjungi perkebunan itu.

 

OLEH REGINA RUKMORINI

Agung, demikian sapaan akrabnya, adalah warga desa Wonokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa Wonokerto merupakan salah satu sentra salak di Sleman. Itu terlihat dari deretan tanaman salak dan puluhan pedagang buah itu yang menjadi pemandangan di jalan-jalan di daerah ini.

Tak puas dengan tradisi bertani salak saja, Agung mencoba terobosan. Mulanya uji coba itu diterapkan di kebunnya sendiri, seluas 2.000 meter persegi, yang bersebelahan dengan rumahnya. Kebun itu dikembangkan menjadi objek agrowisata dengan nama Omah Salak.

Salah satu andalan wisatanya adalah praktik memetik salak. Ada juga beberapa paket layanan pendidikan, diantaranya outbound (kegiatan luar ruang), coaching (bimbingan) pertanian salak, study tour, pelatihan dan tur ke home industry makanan berbahan salak.

Kebun Agung pun ramai dikunjungi banyak wisatawan baik dalam maupun luar negeri. “Banyak orang bisa ikut memanen di kebun salak ini,” ujarnya saat ditemui di Omah Salak, akhir November.

Tidak hanya di lahan sendiri, paket-paket wisata serupa juga dikembangkan Agung di kebun salak milik lebih dari 1.000 petani dari 40 kelompok tani dari kecamatan Turi Pakem, dan Tempel di Kapubaten Sleman, serta Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Mereka semua tergabung dalam Asosiasi Petani Salak Indomerapi (APSI) yang diketuai Agung.

Setiap kelompok tani beranggotakan 30-40 petani, masing-masing rata-rata memiliki 1.000-2.000 meter persegi kebun salak. Kebun yang menjadi obyek wisata itu tersebar di 100 lokasi.

Jumlah wisatawan yang mengunjungi kebun salak milik petani APSI mencapai 50.000 orang per tahun. Kunjungan itu diatur secara bergilir sehingga setiap petani bisa berkesempatan menjadi “tuan rumah” bagi tamu.

Dengan program wisata itu, rata-rata petani bisa mendapatkan penghasilan tambahan berkisar Rp 5 juta hingga Rp 10 juta per bulan. Pada saat-saat tertentu, tambahan itu bisa lebih besar, bergantung pada jumlah wisatawa dan transaksi.

“Saya pernah kedatangan satu bus wisatawan yang memborong hingga 1 ton salak, saya bisa dapat keuntungan bersih Rp 98 juta,” ujarnya. Hal serupa juga sempat dialami oleh petani-petani lain.

Besarkan bersama salak

Agung memang besar dalam budaya pertanian salak. Menanam salak sejak tahun 1970-an, keluarga Agung sempat mengalami kejayaan pada era tahun 1980-an dan 1990-an. Satu kilogram salak saat itu laku terjual dengan harga Rp 8000 sampai Rp 9000 per kilogram, setara dengan harga 1 kilogram beras. Kehidupan keluarganya kala itu sangat sejahtera.

Namun, masa keemasan itu tidak berlangsung selamanya seiring dengan harga salak yang menurun. Ekonomi keluarga Agung pun naik-turun, mengikuti fluktuasi harga salak, bahkan pernah beberapa kali anjlok.

Kesulitan ekonomi juga berdampak terhadap pendidikan Agung, kakak, dan dua adiknya. Kakaknya putus kuliah karena penghasilan karena penghasilan dari salak tak lagi menjangkau biaya kuliah. Melihat itu, Agung bertekad mancari jalan keluar.

“Saat menginjak semester II di bangku kuliah, Agung mencoba bisnis menjual dan mengirim salak ke tempat asal teman kuliahnya ke Kalimantan. Pengiriman biasanya dengan kapal dan dikawal oleh dirinya sendiri. Dalam seminggu, dia bisa mengirim 2-3 kali dengan volume 0,5 ton salak sekali pengiriman. Usaha ini membantu dirinya menuntaskan pendidikan perguruan tinggi pada 1998.

Lulus kuliah, Agung menjual salaknya ke pedagang-pedagang lokal sembari berpirik keras cara mendapatkan lebih banyak pemasukan dari kebun salak. Saat itulah terbetik ide membuka kebun salak ayahnya seluas 2.000 meter persegi di Desa Bangunkerto untuk objek wisata.

Pada awal usaha Agung mendatangkan wisatawan dengan menghubungi Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dan Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita). Dia juga mengirimkan tawaran wisata ke sekolah-sekolah disejumlah kota besar, seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

“Karena belum ada teknologi yang mendukung, promosi wisata kami jelaskan dan kirimkan dalam surat lewat faks,” ujarnya.

Manajemen pengolahan wisata sempat beberapa kali berubah. Pertama, mereka menerapkan sistem bisa memetik salak sepuasnya hanya dengan membayar satu tiket. Dalam perkembangannya, jumlah salak yang dipetik dibatasi. Terakhir, hingga saat ini, diterapkan sistem harga Rp 1.000 per biji salak yang dipetik.

Tahun 2009, Agung melibatkan semakin banyak petani dengan membentuk APSI yang merupakan gabungan dari petani di empat kecamatan di dua kabupaten di dua provinsi. Total petani yang terlibat mencapai lebih dari 1.000 orang.

Paket-paket wisata pun ditambah sehingga kini mancapai lima paket tawaran. Setelah mendapatkan pelatihan dari Universitas Negeri Yogyakarta, para ibu, istri-istri dari para petani salak juga menambah keterampilan dengan membuat aneka jajanan berbahan salak. Beberapa dari mereka menjadikan usaha itu sebagai industri rumah tangga. Dari sitinilah, ibu-ibu itu akhirnya membuat paket wisata baru, seperti berkunjung ke produsen pembuat jajanan dan pelatihan membuat makanan berbahan salak.

Sembari menjalankan kegiatan wisata, Agung juga mengembangkan pemasaran produk salak, termasuk ke toko-toko modern dan pedagang-pedagang lain di luar pulau Jawa.

Kembangkan diri

            Dengan penghasilan dari program wisata salak di kebun ayahnya, Agung lantas membeli 2.000 meter persegi lahan yang kemudian juga dijadikannya kebun dan obyek wisata salak bernama Omah Salak. Kebun ini berlokasi di Desa Wonokerto, tempat tinggalnya saat ini.

Erupsi Gunung Merapi akhir 2010 merusak hampir semua tanaman salak milik petani. Produksi dan wisata kebun salak sempat terhambat, bahkan nyaris berhenti selama satu tahun. Namun, perlahan mereka bangkit dan terus mengembangkan diri hingga kini.

SURYA AGUNG SAPUTRA

  • Istri: Ari Erta (39)
  • Anak:
  • Aulia Zahra (13)
  • Tahta Kautzar Muhammad (9)
  • Amru Majid Muhammad (7)
  • Annasya Raesha Faiha (3 bulan)
  • Pendidikan terakhir:

Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

  • Pekerjaan:

Petani salak dan dan pelaku wisata kebun salak

  • Organisasi

Ketua Asosiasi Petani Salak Indomerapi

Wisata kebun salak memberdayakan banyak orang. Bukan hanya petani beserta para istrinya, program ini juga memberikan peluang kerja bagi para pemuda desa sebagai pemandu wisata kebun dan outbound.

Lebih dari itu, Agung juga mengirimkan bibit tanaman salak ke seluruh Nusantara mulai dari Aceh hingga Papua. Di saat bersamaan para petani diajak melakukan sertifikasi lahan sehingga mampu melakukan ekspor ke banyak negara, seperti yang dilakoninya sejak 2008.

Agung ingin mendorong petani memperbaiki nasib dengan terus melakukan berbagai inovasi dan terobosan dengan memanfaakan lahan salak dan kekayaan alam di desa.

“Agar dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya, setiap petani harus kreatif,” ujarnya.

 

Sumber: Kompas, 21 Desember 2016 Hal 16

Herlina Triesnayati Pintu Rezeki bagi Pengungsi

Pintu Rezeki bagi Pengungsi. Kompas. 22 Desember 2016.Hal.16

Awalnya, Herlina Triesnayati (32) adalah seorang relawan kesehatan bagi para korban tragedi sambas, Kalimantan Barat, yang mengungsi di Bangkalan, Madura, Jawa Timur. Saat bantuan untuk pengungsi kian menipis, ia memberdayakan mereka dengan keterampilan memproduksi kerajinan tas dari tali agal. Kini pintu rezeki pun lebih terbuka bagi masyarakat.

OLEH IQBAL BASYARI

Herlina sibuk mengecek tas dari tali agal buatan warga Dusun Pangloros, Desa Kelbung, Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangklan, Jawa Timur, Selasa (13/12). Tali agal berasal dari tangkai daun pohon gabang, sejenis pohon palem berbatang tungal setinggi 15-20 sentimeter. Di Bangkalan, pohon itu hanya tumbuh di wilayah perbukitan dekat pantai.

Perempuan itu mengembil sejumlah produk secara acak dari puluhan tas yang sudah diselesaikan para perajin. Ia lantas mengamati tas itu dan menilai kualitasnya.

“Tas ini tidak bisa dikirim karena rujatannya tidak simetris. Tolong dikembalikan lagi kepada pembuatnya untuk dibongkar ulang,” kata Herlina kepada Hamidah (41), salah seorang ketua kelompok perajin tali agal binaannya.

Herlina dan para perajin-yang semuanya korban konflik Sambas, Kalimantan Barat, pada 1999-sedang mengejar target pembuatan tas. Maklum mereka mendapat pesanan 1.400 dari Jepang yang mesti dikirim akhir Januari 2017.

Keseragaman kualitas perlu diperhatikan para perajin agar produk yang mereka buat bisa diterima pasar dan pada akhirnya menghasilkan uang. Ia teringat pengalaman pada 2008 ketika pertama kali mengirim tas tali agal ke Jepang, sebanyak 80% dari 500 tas dari tali agal yang dikirim sempat dikomplain pembeli karena kualitasnya tidak sama.

Herlina tidak ingin kejadian yang serupa terulang. Karena itu, sebulan sekali ia dating kepada perajin untuk memeriksa tas yang telah jadi. Jika ada kekurangan pada produk itu, segera bisa dideteksi dan diperbaiki agar tidak mengecewakan pembeli di kemudian hari.

Menjadi relawan

            Herlina bukan warga setempat. Dia tinggal di Bangkalan, sekitar 60 kilometer dari Dusun Pangloros. Pertemuannya dengan para pengungsi kerusuhan Sambas berawal saat dirinya menjadi relawan kesehatan dari yayasan Sumbangsih Nuansa Madura.

Sejak lulus kuliah pada 2006, dia tidak langsung bekerja meskipun ditawari pekerjaan sebagai perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Bangkalan. Ia memilih mengabdikan dirinya menjadi relawan untuk pengungsi korban kerusuhan berlatar etnis

Selama setahun memberikan penyuluhan kesehatan, dia melihat para perempuan desa tidak produktif meski memiliki banyak waktu luang. Mereka hanya menghabiskan waktu dengan mengobrol sambil menjaga anak ataupun cucu di teras rumah. Saat itu, bantuan hidup dari pemerintah dan relawan masih mengalir kepada warga sehingga mereka tidak perlu bersusah payah bekerja.

“Suatu saat, bantuan pasti akan berhenti. Para pengungsi harus menghidupi keluarganya dari uangnya sendiri,” ujarnya.

Melihat kemungkinan tersebut, Herlina memberikan pelatihan keterampilan bagi warga desa. Sasarannya adalah para wanita karena laki-laki pada umumnya memilih bekerja manjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) karena sudah tidak lagi memiliki ladang untuk bercocok tanam seperti saat masih di Sambas dulu.

HERLINA TRIESNAYATI

  • Lahir: Bangkalan, 20 November 1984
  • Suami: Nanang Muldianto (40)
  • Anak: Dea Navalina A (7)
  • Pendidikan:
  • SDN 2 Pejagan, Bangkalan
  • SMPN 2 Bangkalan
  • SMAN 2 Bangkalan
  • Akademi Keperawatan Nazhatut Thullab Sampang
  • Pekerjaan dan Kegiatan
  • Relawan kesehatan Yayasan Sumbangsih Nuansa Madura (2006-2007)
  • Pendamping perajin tali agal pengungsi tali agal pengungsi Sambas di Bangkalan (2006-sekarang)
  • Penghargaan
  • Wirausaha Muda Mandiri (2013)
  • Wirausaha Muda Berprestasi Kementrian Pemuda dan Olahraga (2014)
  • Perempuan Inspiratif NOVA (2016)

Pada awalnya dia ingin memberikan pelatihan membuat kue. Namun, jarak yang begitu jauh dari kota membuat pemasaran kue sulit dilakukan. Padalah, kue memiliki batas kadaluarsa sehingga harus segera laku agar tidak merugi.

Pilihan akhirnya jatuh pada kerajinan tali agal kerajinan tersebut dipilih karena pada 2001 ada sejumlah warga yang pernah mendapatkan pelatihan kerajinan tersebut di Surabaya. Namun, keterampilan yang dimiliki warga tidak berkembang karena kesulitan mendapatkan pasar dan kualitas produknya masih di bawah tuntutan pasar.

“Bahan baku tali agal juga mudah didapatkan karena ada perajinnya di Desa Dupok, di sebelah Desa Kelbung. Harganya juga terjangkau sekitar Rp 45.000 per kilogram,” kata Herlina

Selama setahun, keterampilan membuat kerajinan berupa tas, dompet, dan tempat tisu diberikan kepada warga. Warga pernah trauma saat harus keluar desa untuk mendapatkan pelatihan keterampilan. Para suami tidak mengizinkan istrinya keluar dengan orang yang belum dikenal.

Ia mengemukakan, “Mungkin karena saya warga asli Madura, mereka lebih percaya. Dari awalnya hanya 10 perajin, sekarang berkembang menjadi 100 perajin. Mereka saling bertukar ilmu kepada perajin baru.”

Pada 2007, ketika seluruh relawan meninggalkan para pengungsi, Herlina masih setia mendampingi penduduk untuk melanjutkan kerajinan tali agal. Dia berusaha mencari pembeli dari dalam dan luar negeri agar para pengungsi tetap mendapatkan pemasukan. Saat ini, kerajinan seharga Rp 50.000 hingga Rp 200.000 itu dipasarkan disejumlah wilayah, antara lain Bangkalan, Surabaya, Jakarta, hingga Amerika Serikat dan Jepang.

Kelompok

            Untuk mengerjakan pemesanan, Herlina membagi para perajin ke dalam enam kelompok dengan masing-masing beranggotakan 15 orang. Perajin tinggal mengerjakan produk, sementara alat, bahan, dan pemasaran disediakan Herlina.

Sudah dua kali perempuan itu merombak kelompok binaannya. Dulu, upah bagi perajin diberikan kepada ketua kelompok saat pekerjaan sudah selesai. Upah tersebut dibagi rata kepada setiap anggota yang tertulis di daftar kelompoknya. “Seiring perjalanan, ada perajin yang tidak bekerja karena pindah menjadi TKI, tetapi tetap mendapatkan upah, itu menimbulkan kecemburuan,” katanya.

Akhirnya upah diberikan langsung kepada perajin sesuai barang yang dihasilkan. Untuk satu buah tas, perajin mendapatkan upah Rp 25.000. Rata-rata dalam sebulan, satu perajin bisa menyelesaikan 30 tas.

Untuk meningkatkan kualitas produk, Herlina selalu mengajarkan motif baru setiap kali berkunjung. Perajin masih belum mengenal teknologi sehingga sulit mengembangkan produk sendiri. Sinyal internet pun sulit didapat sehingga sulit mengeksplorasi model kerajinan tangan dari dunia maya.

Hal itu membuat warga masih bergantung kepada Herlina untuk mengembangkan produknya. Bahkan mereka masih belum bisa mendapatkan pasar sendiri. Mereka masih bergantung pada pesanan yang didapatkan Herlina. ”Untuk menentukan harga jual saja, perajin belum bisa,” ujarnya.

Herlina berharap semakin banyak pihak yang membantu memberikan pelatihan dan mengembangkan produk kerajinan tali agal karya para pengungsi. “Harapan terbesar saya, para pengungsi bisa mandiri dalam produksi, promosi, dan penjualan kerajinan tali agal sendiri,” ujarnya.

Sumber: Kompas, 22 Desember 2016 Hal 16

Mehamat Br Kara Sekali Pejuang Alih Aksara Batak

Pejuang Alih Aksara Batak. Kompas. 2 Desember 2016.Hal.16

Ditengah senyapnya ruang koleksi Museum Negeri Sumatera Utara, Mehamat Br Karo (51) tampak serius memandangi naskah kuno sembari sesekali mengetik di komputer jinjing miliknya. Sama seperti hari-hari lain, ia sibuk dan asyik sendiri menerjemahkan serta mengalihaksarakan naskah kuno beraksara Batak ke aksara Latin berbahasa Indonesia.

OLEH ANGGER PUTRANTO

Di meja kerjanya sebuah kitab yang terbuat dari kulit kayu berumur ratusan tahun bersanding dengan komputer jinjing keluaran tahun 2010-an. Ia perhatikan dengan seksama aksara Batak yang ada di kitab kuno itu, lantas mengetik beberapak kata di komputer jinjingnya hingga tersusun belasan baris bahasa Batak. Setelah proses alih aksara selesai, ia mulai menerjemahkan bahasa Batak ke dalam bahasa Indonesia.

Saat itu, Mehamat adalah satu-satunya tenaga alih aksara dan penerjemah kuno Batak di Museum Negeri Sumatera Utara. Padahal, jumlah naskah kuno yang dimiliki museum itu tergolong banyak, yakni 200 naskah kuno beraksara Batak. Karena keterbatasan tenaga ahli, baru 70 naskah yang diahliaksarakan. Sebanyak 50 naskah diantaranya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

“Saat ini sedikit sekali warga yang bisa membaca aksara Batak. Sekarang saya harus berkejaran dengan waktu karena sejumlah naskah mulai rusak dimakan usia,” ujarnya, akhir November lalu.

Sejumlah naskah di ruang penyimpanan koleksi memang mulai terkoyak. Lembaran-lembarannya mulai rusak dan berlubang dimakan rayap. Selain itu beberapa tulisan juga mulai kabur tak terbaca.

Sejak 1998, Mehamat terdaftar sebagai pegawai negeri sipil yang bertugas di Museum Negeri Sumatera Utara. Ia beberapa kali terlibat dalam tim penerjemah aksara Batak yang dibentuk Dinas Pariwisata Sumatera Utara. Namun, lima tahun terakhir, proyek tersebut tak pernah bergulir.

Meski begitu, Mehamat tetap bersemangat mengahliaksarakan dan menerjemahkan naskah-naskah kuno Batak. Hal itu ia lakoni kendati tidak ada pemasukan tambahan dari proyek terjemahan. Sejauh ini, setidaknya ia telah mengalihaksarakan 10 naskah kuno dan menerjemahkan 5 naskah kuno ke dalam bahasa Indonesia dengan biaya pribadi.

“Teks yang menurut saya menarik saya ambil dan saya terjemahkan. Ini untuk memuaskan hasrat pribadia saja. Nilai lebihnya dalam terjemahan tersebut bisa dimanfaatkan oleh orang lain,” katanya.

Salah satu naskah yang getol ia terjemahkan ialah naskah kuno Injil Markus yang ditulis dalam bahasa batak. Naskah yang ia temukan tersebut dicetak pada 1867. Mehamat bersemangat mengalihbahasakan naskah itu karena penasaran mengetahui bagaimana orang Belanda menyebarkan agama Kristen ke tanah Batak pada zaman dahulu.

Otodidak

Mehamat menuturkan, ia sejatinya tidak memiliki latar belakang keilmuan yang memadai dalam sastra Batak. Saat kuliah di Universitas Sumatera Utara, ibu dua itu merupakan lulusan Sastra Melayu. Namun, karena kecintaannya pada budaya luhur dan adat istiadat batak, ia menekuni sastra Batak secara otodidak. Kini, ia mencurahkan tenaga, waktu, dan seluruh hidupnya untuk sastra Batak.

Mehamat mengatakan, tidak mudah mengalihaksarakan dan menerjemahkan naskah-naskah kuno Batak. Pasalnya, naskah-naskah itu tidak mencantumkan penulis dan tahun pembuatan. Akibatnya dia kesulitan mengetahui konteks tulisan dalam naskah.

Namun, hal itu sama sekali tidak menyurutkan semangatnya untuk menerjemahkan akasara batak. Mehamat terus berusaha agar aksara Batak dapat dipahami dan dimengerti oleh orang-orang Batak di zaman modern saat ini.

MEHAMAT BR KARO SEKALI

  • Lahir: Seberaya, 12 Agustus 1965
  • Suami: Hotlan Simanjuntak
  • Anak:
  • Febe L Nosa Kasih
  • Steven Minuel
  • Pendidikan
  • SDN Seberaya
  • SMP 1 Kabanjahe
  • SMA 1 Kabanjahe
  • Sastra Melayu Universitas Sumatera Utara
  • Pekerjaan
  • Anggota staf koleksi Museum Sumatera Utara.

“Banyak ajaran penting dan berguna (dalam aksara kuno) yang bisa diterapkan dalam kehidupan saat ini. Sayang, kalau petuah-petuah tersebut hanya dibiarkan begitu saja. Kerja saya hari ini merukapan upaya untuk menyampaikan ajaran nenek moyang kami kepada generasi saat ini,” tuturnya.

Bulu kuduk

            Mehamat yaki, ajaran-ajaran yang dituliskan nenek moyang orang Batak tidak ditulis sembarangan. Ada doa dan tirakat dalam setiap aksara yang ditulis. Berbagai pengalaman ia rasakan saat mencoba membaca naskah kuno yang ternyata isinya mantra. Tak jarang ia menghentikan kegiatannya karena merasa ketakutan dan bulu kuduknya berdiri.

Kitab-kitab kuno Batak, lanjut Mehamat, biasanya berisikan keterangan tentang ramuan obat-obatan, ramalan hari buruk dan hari baik, mantra-mantra, serta berbagai pedoman dalam hidup sehari-hari. Naskah-naskah itu biasanya ditulis di atas kulit kayu ulin, gading gajah, tulang kerbau, dan bambu.

Alat yang digunakan menulis naskah-naskah kuno tersebut adalah bulu ayam. Adapun tinta yang digunakan berasal dari ramuan hasil bakaran kayu jeruk purut yang dicampur air tebu.

Khusus untuk naskah yang ditulis dari kulit kayu, orang-orang tua zaman dulu membentuknya menjadi sebuah kitab yang terdiri dari atas 30 lembar hinga ratusan lembar. Biasanya Mehamat membutuhkan waktu 1 minggu hingga 3 bulan untuk menerjemahkan sebuah naskah.

Saat ditemua pada jumat (28/10), ia sedang menerjemahkan naskah Matiri Ari. “Naskah ini berisi anjuran atau pedoman untuk menentukan hari baik dan buruk. Kapan waktu bercocok tanam yang baik, kapan waktu mengadakan upacara yang baik, semua ada di sini,” ujarnya.

Sadar akan kekayaan naskah kuno, Mehamat terkadang mencari tahu dimana naskah-naskah kuno Batak tersimpan. Ia kaget bukan kepalang saat mengetahui ada ratusan naskah kuno tersimpan di Perpustakaan Leiden di Belanda.

Sebenarnya kata Mehamat, sudah ada upaya untuk membawa pulang naskah-naskah kuno Batak itu ke Indonesia. Namun, pihak Perpustakaan Leiden keberatan karena Indonesia belum memiliki ruang penyimpanan yang sesuai dengan standar yang berlaku di Belanda.

Oleh karena itulah, Mehamat memiliki keinginan besar untuk dapat berkunjung ke Perpustakan Leiden. Ia ingin mengetahui naskah apa saja yang tersimpan di sana.

“Satu bulan saja saya di sana, ingin saya baca semua naskah yang ada di sana. Siapa tahu ada kisah atau ajaran penting yang belum kita ketahui, padahal itu berguna bagi kehidupan orang Batak,” katanya.

Fenomena letusan Gunung Sinabung yang tak kunjung henti merupakan salah satu pertanyaan besar buat Mehamat. Ia yakin, ada sebuah naskah kuno yang bercerita tentang Gunung Sinabung. Namun, hingga saat ini, ia belum menemukan naskahnya. Ia berharap suatu ketika menemukan naskah itu.

“Mungkin naskah itu tersembunyi di Leiden,” ujarnya,

Mehamat mengatakan, aksara Batak sejatinya tak jauh beda dengan aksara-aksara tradisional lain. Jika suku Jawa memiliki aksara Hanacaraka dan suku Lampung memiliki aksara Kaganga, suku Batak memiliki aksara Hakabapa yang terdiri atas 16 aksara.

“Suku Batak memiliki lima sub-suku besar, yaitu Karo, Toba, Simalungun, Angkola/Mandailing, dan Pakpak/Dairi. Kelimanya memiliki aksara tersendiri. Namun, kalau sudah menguasai salah satu aksara, mudah untuk memahami aksara lain,” ujar perempuan kelahiran 12 Agustus 1965 itu.

Sumber: Kompas, 2 Desember 2016 Hal 16

Shazia Sissiqi Menyuarakan Hak-hak Tunarugu

Menyuarakan Hak-Hak Tunarungu. Kompas.16 Desember2016.Hal.20

Meskipun tidak “memiliki bahasa” hingga berumur empat tahun, Shazia Sissiqi (37) tatap bisa melampaui berbagai keterbatasan. Melalui pendidikan yang baik serta kegigihan, perempuan tunarungu asal Amerika Serikat itu berhasil menjadi dokter sekaligus pegiat hak-hak kaum tunarungu agar mendapat pendidikan serta layanann kesehatan yang layak di tanah kelahirannya.

OLEH LARASATI ARIADNE ANWAR

Tidak ada yang mustahil kalau negara beserta masyarakat memiliki sistem yang baik untuk menyokong anak-anak berkebutuhan khusus,” kata Shazia di Jakarta pertengahan November.

Ia berada di Indonesia untuk menjadi salah satu narasumber dalam diskusi tingkat tinggi mengenai masyarakat inklusif disabilitas yang diadakan Kementrian Sosal.

Selama kegiatan tersebut Shazia didampingi Asiah Mason, Direktur Mason Global, lembaga pemrakarsa Program Kepemimpinan Pemuda Tuli, yang diikuti oleh 10 pegiat tunarungu Indonesia. Mason juga bertindak sebagai penerjemah bahasa isyarat untuk Shazia. Adapun Shazia merupakan bagian dari delapan anggota delegasi Amerika Serikat (AS) yang mengunjungi Indonesia pada Januari 2016 untuk memberikan inspirasi.

Shizia lahir di kota Houston, Texas, dari pasangan suami-istri yang bermigrasi dari Pakistan. Ia sulung dari dua bersaudara. Ketika ia berumur 2 tahun, keluarga kecil itu pindah ke kota Los Angeles di negara bagain California.

Menurut dia sedari awal, orangtua menyadari bahwa Shazia mengalami keterlambatan berbicara. Akan tetapi, mereka tidak pernah menghiraukannya. “Saya berbicara’ dengan bahasa isyarat rumahan. Berkomunikasi dengan cara tunjuk sana dan tunjuk sini disertai mimik wajah,” kenangnya.

Baru ketika Shazia berumur 3,5 tahun orangtua membawanya ke dokter untuk mencari tahu alasan putri mereka belum bisa berbicara oral. Pemeriksaan tersebut mengungkapkan bahwa Shazia ternyata tunarungu. Disabilitas itu mengakibatkan Shazia tidak mengetahui cara mengucapkan kata. “Orangtua saya kaget dan sedih. Mereka bertanya-tanya apakah ada yang salah semasa kehamilan ibu,” ujarnya.

Jangan putus asa

            Beberapa hari setelah pemeriksaan, seorang pekerja sosial mendatangi rumah Shazia. Rupanya rumah sakit tempat Shazia diperiksa memasukkan namanya ke dalam daftar nama anak-anak berkebutuhan khusus di kota tersebut. Pemerintah daerah segera menugasi pekerja sosial untuk memberikan pemahaman kepada orangtua serta mendampingi mendidik gadis tunarungu itu.

Pekerja sosial itu menjelaskan bahwa anak-anak tunarungu juga bisa mencapai cita-cita. Orangtua tidak perlu cemas. Aturan di AS mewajibkan setiap lembaga layanan publik seperti Sekola, rumah sakit, dan transportasi umum ramah kepada penyandang disabilitas. Di sekolah, Shazia akan selalu didampingi oleh penerjemah bahasa isyarat.

Orangtau diminta untuk selalu menunjukkan sikap mendukung dan tidak mengisolasi anak berkebutuhan khusus dari kehidupan sosial. “Untungnya, keluarga besar juga sangat mendukung dan menciptakan suasana yang kondusif bagi saya,” ujarnya.

Mereka menulis setiap nama benda di rumah seperti meja, kursi, dan piring di kertas. Carikan-carikan kertas itu kemudian ditempel di benda-benda tersebut. Tujuannya agar Shazia mengenal abjad dan kata. Ia pun dimasukkan ke pendidikan anak usia dini (PAUD) agar bisa bersosialisasi dengan anak-anak lain. Di tempat itu, ia selalu didampingi seorang guru bahasa isyarat.

Berprestasi

            Shazia mengenang masa-masa sekolahnya penuh suka dan duka. Suka karena ia tetap menerima pendidikan layaknya anak-anak lain. Duka karena teman-teman di sekolah sering mengejek ketidakmampuannya berbicara oral. “Bahkan, ketika sudah SMA pun saya masih sering menangis karena diejek. Untung guru-guru selalu menyemangati agar saya tidak memasukkannya ke dalam hati,” ucapnya.

Hal tersebut memicu Shazia untuk giat belajar. Ia selalu menjadi juara di kelas. Bahkan, ketika menimba ilmu di SMA Moreno Valley, ia sering mengikuti lomba menulis esai. Prestasi ini membuat Shazia lulus SMA dengan nilai rata-rata tertinggi di sekolahnya.

Tawaran beasiswa pun datang dan tidak tanggung-tanggung, yaitu di Universitas California Berkeley yang bergengsi. Di sana, Shazia memilih program studi Biologi. “Ilmu genetika sangat misterius dan menarik. Pertanyaan terbesar dalam hidup saya adalah kenapa saya bisa tuli? Ilmu genetika bisa menjawabnya,” tutur Shazia.

Namun seiring berjalannya masa kuliah, Shazia menyadari bahwa dirinya tidak ingin berkarier di dalam laboratorium. Ia senang bergaul dengan orang-orang. Karena itu, setelah lulus dari Berkeley, ia melanjutkan pendidikan sarjana strata 2 Kesehatan Masyarakat di Universitas Dartmouth yang juga bermutu tinggi.

Selama masa kuliah, ia juga terjun menjadi pegiat yang mengadvokasikan pendidikan kesehatan reproduksi kepada komunitas tunarungu di sekitar kampus. Dari sana, Shazia menemukan fakta bahwa 90 persen orang tuli di AS berorangtuakan non-disabilitas. Akan tetapi, 70 persen orangtua tidak mau menggunakan bahasa isyarat  dengan anaknya.

“Ini yang menjadikan anak tuli terisolasi. Akibatnya mereka tidak pandai bersosialisasi sehingga mereka susah mendapat pendidikan atau pekerjaan yang baik,” ujar Shazia’

Selain itu , ia juga menemukan banyak kaum tuli yang tidak memiliki akses ke layanan kesehatan karena tidak pernah diajar ataupun diajak untuk menggunakan sarana kesehatan setempat. Hal itu memicu dia untuk mengambil kuliah kedokteran selepas S-2.

Manfaatkan teknologi

            Bermodal tekat yang kuat, Shazia terbang ke Grenada di Karibia untuk menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Saint George’s. Di sana, ia mematahkan anggapan bahwa hanya orang-orang yang mendengar bisa menjadi dokter.

Telepon pintar adalah senjata andalan Shazia karena di dalamnya terdapat aplikasi canggih untuk mengukur detak jantung, pernapasan, perkembangan paru-paru, hingga tekanan darah pasien. “Bahkan, dokter-dokter senior bertanya cara mengunduh aplikasi tersebut karena beberapa diantara mereka pendengarannya semakin berkurang akibat usia tua,” katanya sambil tergelak.

Reaksi dari pasien juga positif. Mereka senang memiliki dokter tuli. Kehadirannya membuktikan bahwa cita-cita apa pun bisa digapai apabila berusaha keras.

Layani masyarakat

Setelah dilantik menjadi dokter, Shazia kembali ke AS. Kali ini ia memutuskan untuk tinggal ibu kota negara tersebut, yakni Washington DC. Di sana, ia bergabung dengan Deaf Woman’s Abuse Network (Jaringan Perempuan Tunarungu Korban Kekerasan).

Organisasi itu membantu laki-laki beserta anak-anak berkebutuhan khusus yang membutuhkan pertolongan, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga bantuan hukum. Shazia tidak hanya mendobrak berbagai batasan, tetapi ia juga menunjukkan bahwa tunarungu juga sangat berguna bagi kesejahteraan bangsanya.

Sumber: Kompas, 16 Desember 2016 Hal 20