Abdul Latip Adiwijaya Pelantun Kidung Sunda dari Sungai Citanduy

Pelantun-Kidung-Sunda-dari-Sungai-Citanduy.-Kompas.5-Juni-2015.Hal.16

Di sela-sela melantunkan kidung Sunda, ia menyela, “Maaf, nama saya ujungnya P, ‘peuyeum’, bukan filter,” ujar Bah Latip (59) sambil menunjuk tulisan pada buku catatan kecil yang dipegang “Kompas”. Juru kunci makan petilasan Ratu Galuh Sanghyang Prabu Cipta Permana di Dusun Tunggal Rahayu, Desa/Kecamatan Cimaragas, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, lalu meneruskan kidungnya. “Urang Sunda geus sawawa, geura hudang tur areling…”

OLEH DEDI MUHTADI

Selain gemercik aliran Sungai Cintanduy, musik pengiring kidung itu adalah banbaraan, yakni alat musik sederhana yang terbuat dari sebilah bambu kecil mirip potongan untuk rangkaian bambu angklung. Selain bangbaraan, bambu yang berfungsi sebagai “melodi”, juga ada cemplung indung dan cemplung anak sebagai bas besar dan kecil atau gong. Di samping itu, ada musik pelengkap berupa kempringan dan kecrek.

Melodi bangbaraan suaranya mirip dangungan kumbang besar berwarna hitam (Sunda : bangbara) yang biasa mengisap bunga-bunga tanaman. Alat musik ini memang dibuat untuk menirukan suara kumbang karena merupakan simbol penyerbukan pada bunga tanaman. “Saat kumbang itu mengisap madu bunga tanaman, ia pun melakukan penyerbukan sehingga tanaman itu berbuah,” papar Bah Latip.

Buah-buah tanaman itu merupakan kebutuhan pangan, baik bagi hewan maupun manusia penghuni alam, yang membentuk suatu ekosistem kehidupan berkelanjutan. Menurut Bah Latip, musik pengiring siloka (simbol) ini dibuat secara turun-temurun oleh leluhur Galuh sebagai pesan pelestarian dan keserasian pada kehidupan manusia (sun, ingsun) dan alam (da) yang secara umum terangkai dalam kata Sunda.

Mengapa terbuat dari bambu? Tangkal awi ahur (bambu) merupakan tanaman multiguna yang mampu berfungsi secara ekologi, ekonomi, dan sosial. Pohon bambu mampu menjaga lingkungan/tebing-tebing dari bahaya banjir dan longsir sekaligus menjadi sumber air pada areal tangkapan air. Pohon-pohon bambu juga mampu menyebarkan suhu yang sejuk pada lingkungan sekitar.

Karena itu, leluhur Sunda Galuh meminta keturunannya melestarikan alam melalui pepatah lamping gancang awian  (tebing cepat tanami bambu). Bambu juga bisa digunakan untuk bahan bangunan dan keperluan lain, mulai alat minum hingga alat musik seperti angklung. Di zaman dahulu, bambu merupakan bahan pembuatan galah dan rakit yang menjadi alat trasnportasi di sungai-sungai.

 

Pepeling

Filosofi alat musik tradisional bambu ini serasi dengan kidung yang dilantunkannya, yakni berisi pepatah (pepeling) terhadap keturunan Sunda Galuh untuk membangun kehidupan yang sejahtera lahir batin. Tatanan kehidupan yang gemah ripah loh jinawi, subur makmur kerta raharja, bru di juru, bro dina panto ngalayah di tengah imah (sejahtera lahir batin).

Seperti pantun yang dilantunkannya di atas, “urang Sunda geus sawawa, geura harudang tur areling,” mengingatkan kepada keturunan Sunda kini sudah dewasa, banyak yang pintar, dan mampu mengolah negara. Karena itu, segeralah bangun (geura harudang) dan sadar (areling), jangan terlena bahwa mengolah zaman (politik, ekonomi, sosial, dan lain-lain) memerlukan kerja keras  dan cerdas.

Kidung buhun pepeling (pepatah) itu makin relevan dengan kondisi kekinian urang Sunda. Setelah berpuluh tahun merdeka dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), urang Sunda yang tinggalnya paling dekat dengan pusat kekuasaan, DKI Jakarta justru termarjinalisasi dalam setiap aspek pembangunan.

Tidak hanya di bidang infrastruktur, sumber daya manusia, atau sosial ekonomi di lemah cai (provinsi), urang  Sunda justru tertinggal dibandingkan dengan provinsi lain yang letaknya jauh dari Ibu Kota. Sebagian besar industri manufaktur (54 persen) nasional berada di Tatar Sunda, tetapi jumlah penduduk miskin paling banyak juga berada di provinsi ini.

Sebagai pusat pertumbuhan ekonomi nasional, Tatar Sunda juga pemasok tenaga kerja ke luar negeri paling banyak. Kondisi pendidikan juga sangat memprihatinkan. Peringkat pendidikan di Tatar Sunda (Jawa Barat), seperti SMP dan SMA, masih di bawah 10 besar dari 34 provinsi di Indonesia.

Malah mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh pernah menyebutkan, untuk meningkatkan indeks pembangunan manusia terkait pendidikan di Jawa Barat lebih sulit dibandingkan dengan Papua. Benar-benar ironis.

 

Sejuk

Petilasan karuhun Sunda Galuh seluas satu hektar itu terletak persis di pinggir Citanduy, sungai sepanjang 150 kilometer yang bermuara di Laguna Pulau Nusakambangan, Jawa Tengah. Di petilasan yang dinyatakan sebagai situs purbakala itu, Abdul Latip Adiwijaya, nama lengkapnya, membuat padepokan seni. Di padepokan sederhana itu ia membuat alat musik bangbaraan sekaligus melestarikan seni Sunda lewat kelompok Seni Banda Haur.

Sepenggal hutan di sisi Citanduy itu merupakan petilasan dan makan Keturunan Raja Galuh, yakni Prabu Cipta Permana. Menurut penyusun buku Kerajaan Galuh, Djadja Sukardja (1999), Prabu Cipta Permana (1595-1618) merupakan Ratu Galuh yang pertama masuk Islam karena Sang Prabu menikah dengan Tanduran Tanjung, putri Maharaja Mahadikusumah, penguasa di Kawali.

Sekitar 1570 Masehi, Kerajaan Sunda Galuh di Kawali di bawah Cirebon. Sebelum 1569, Kesultanan Cirebon belum terikat dengan Kerajaan Mataram. Bahkan, daerah Ciamisutara, yakni di utara Sungai Citanduy, sudah di bawah kekuasaan Cirebon, termasuk Panjalu. Baru setelah 1618, Mataram menjajah Galuh yang dimulai dengan gelar raja yang tadinya bergelar ratu atau sanghyang diganti dengan gelar adipati, yaitu bupati di bawah jajahan Mataram.

Petilasan Prabu Cipta yang terletak sekitar 10 kilometer timur kota Ciamis disebut juga Situs Salawe Galuh Gara Tengah. Di tengah rimbunan pepohonan bambu yang sejuk terdapat struktur petilasan keraton dengan empat gerbangm lengkap dengan singgasana raja yang terbuat dari susunan batu. Pohon besar yang berusia ratusan tahun masih tumbuh. Ada juga yang sudah tumbang dan dibiarkan tergeletak.

“Tempat ini sudah dinyatakan sebagai cagar budaya sehingga benda-benda yang ada disini tidak boleh dipindah,” ujar Bah Latip.

Seni Buhun yang dilestarikan Bah Latip, selain tampil pada acara-acara ritual, juga pernah tampil pada pergerlaran seni tradisi di Bali tahun lalu. Kelompok seni yang dipimpinnya itu juga suka tampil pada upacara hari jadi Kabupaten Ciamis.

Senin (25/5), suhu udara di kota Ciamis terasa panas menyengat. Namun, begitu sampai ke Situs Salawe, suasana dingin sejuk terasa menyegarkan. Di tengah kesunyian yang damai itulah Bah Latip menyepi seraya menjalankan nilai-nilai tradisi luhur leluhur Sunda Galuh.

 

ABDUL LATIP ADIWIJAYA

▪ Lahir : Ciamis, 4 Juli 1956

▪ Istri : Hj Masitoh

▪ Anak : Isdianto T

▪ Pendidikan :

  • SD Cimaragas, Ciamis (1969)
  • SMP Banjar (1972)
  • SMEA Ciamis (1975)
  • Akademi Ilmu Keuangan dan Perbankan Tasikmalaya (1979)

▪ Pekerjaan : Juru Kunci Situs Salawe Galuh Gara Tengah, Ciamis

 

UC Lib-Collect

Kompas. Jumat. 5 Juni 2015. Hal. 16

Stanley Harsha Menjembatani Peradaban AS-Indonesia

Menjembatani-Peradaban-AS-Indonesia.-Kompas.27-Mei-2015.Hal.16

Disanjung sebagai jembatan dua peradaban Indonesia-amerika, spontan dia berkata “kesimpulan yang terlalu cepat”. Seorang pengelana budaya? Tidak juga. Lantas apa? Katanya “saya hanya membuat catatan pengalaman seorang mantan diplomat AS yang pernah bekerja di Indonesia selama 12 tahun sebagian dari 28 tahun sebagai diplomat”

Bertemu dan ngobrol bersama Stanley harsha (58),panggilan akrabnya,Stanley, stan, atau harsha. Kami diperkaya makna idiom “jatuh hati”. Serba tenggang rasa, tidak bergaya jagoan layak orang amerika. Kata Stanley “saya toh,seorang American” yang rendah hati dan jatuh hati pada Indonesia. Berkat istrinya, henny mangoendipoero, yang muslimah solo, Stanley menikah secara islam dengan latar belakang kebudayaan keturunan ningrat jawa yang kental? Berkat karier sebagai diplomat? Berkat bawaan hatinya yang menempatkan sesame bangsa dan sesame manusia sebagai sesame ciptaan? Wah katanya,mungkin berkat semuanya! Stanley lebih dikenal public terutama setelah terbit bukunya seperti bulan dan matahari. Indonesia dalam catatan seorang diplomat amerika. Dalam peluncuran dan bedah buku itu, akhir mei, prof azyumardi azra yang sekaligus menulis kata pengantar, mengapresiasinya tidak hanya sebagai catatan pribadi. Lebih dari itu. Buku Stanley merupakan refleksi pengembaraan dua peradaban AS dan Indonesia. Kedua negara yang sama sama berlatar belakang serba majemuk. Idiom klasik e pluribus unum (dari keragaman menjadi satu) atau semboyan bhinneka tunggal ika oleh empu tantular, mewujud dalam praksis kenegaraan/kebangsaan AS dan Indonesia. Ungkapan “seperti matahari dan bulan” dia pungut dari lebih tepat disodorkan istrinya. Judul itu menggambarkan sepasang kekasih yang tampan dan cantik. Menggambarkan kiasan idealisasi kedekatan hubungan AS dan Indonesia. Pengembaraan Stanley menjadi lengkap ketika jiwa raganya dipersatukan dengan mempersunting henny, henny berasal dari lingkungan keraton solo, putri seorang pejabat, padmosawego mangoendipoero,buyut pujangga keraton solo, ki padmosoesastro. Judul buku,kata Stanley dibuat dan ditemukan bersama istrinya. Istrinya pula yang menerjemahkan, sebab naskah asli ditulisnya dalam bahasa inggris. Beberapa hari kemudian, baru terbit dalam bahasa inggris (naskah asli) berjudul like the moon and the sun. Indonesia in the words of an American diplomat.

Diluar dugaan

Bulan dan matahari,ibarat yin dan yang dalam filsafat china klasik, member terang sekelilingnya (kemajemukan sebagai realitas serba alami). Stanley tidak menyangka bukunya diapresiasi banyak orang. Analisisnya jauh dari kedalaman catatan mantan dubes AS untuk Indonesia,marshall green, yang berjudul Indonesia: crisis and transformation. Buku berisi catatan pengalaman green, khususnya kondisi Indonesia tahun 1965-1968, periode sejak adegan akhir pemerintahan soekarno dan babak awal soeharto menancapkan kekuasaan represifnya. Sebuah catatan politik. Tentang serangan AS terhadap irak,bagian penting dari perang AS melawan terorisme, sejak awal Stanley tidak setuju. Cap umum negative amerika sebagai  “polisi dunia” kadang ada benarnya. Bahkan, standar dobel dia lihat sebagai cara kerja perpolitikan amerika terhadap sejumlah negara di dunia sepanjang sejarah. “kasus Vietnam, kasus perang teluk,kasus memerangi terorisme dilator belakangi kondisi dan kepentingan yang berbeda beda” kata Stanley pada kami beberapa hari yang lalu. Bagaimana dengan kehadiran amerika deng CIA nya,diisukan terlibat dalam berbagai pergolakan politik diindonesia? Menurut Stanley, kadang amerika dan Indonesia menemukan musuh yang sama. Taruhlah kasus timor timur, dimana marisme sebagai doktrin yang menjadi musuh bersama amerika dan Indonesia, membawa amerika ikut menyetujui serangan ke timor timur yang sedang bergejolak. Kekhawatiran efek domino menjadi kekhawatiran amerika dan Indonesia. Stanley tidak ingin memasuki wilayah sensitive politik, padahal niscaya dia kaya dengan pengetahuan dan pengalaman perpolitikan hubungan Indonesia dan amerika. Stanley mendapatkan catatan diplomasi sebagai warna warni perjuangan peradaban manusia. Taruhlah tentang hubungan budaya amerika dan Indonesia, yang baginya ibarat bulan dan matahari,tanpa dipertegas siapa matahari siapa bulan. Bagi Stanley, kedua entitas itu dirasakan sebagai personifikasi perjalanan hidupnya: orang amerika yang menyatu dengan Indonesia dengan tetap mempertahankan keunikan budaya masing masing, saling melengkapi dan memperkaya, dari berbagai keragaman menjadi satu. Latar belakang pendidikan dari tiga universitas yang berbeda beda, university of Colorado, Universidad de costa rica dan Universidad de mexico, pernah bekerja sebagai wartawan di amerika dan Venezuela, berkarier sebagai diplomat 12 tahun diantaranya di Indonesia, dari “sono”nya Stanley sudah pluralis. Bapaknya berasal dari irlandia dan ibunya amerika. Nama harsha itu nama eropa,dipupuk dalam pproses pendidikan serta kariernya tanpa sadar Stanley memang menjadi “jembatan” pemersatu berbagai kebudayaan.

Tanah air kedua

Kecintaannya pada Indonesia,sekaligus karena tugasnya di Indonesia, termasuk sebagai dubes sementara amerika di timor leste (2007) bagi Stanley nyaris tidak ada peristiw peristiwa penting di Indonesia yang luput dari amatannya. Indonesia menjadi tanah air keduanya, lebih konkret dengan menikahi henny mangoendipoero pada 1987 dan dianugerahi dua anak, annisa gevievieve dan sean Ralph. Kini kegiatan dan tugasnya tidak jauh dari apa yang sudah dijalani selama ini: jembatan dua kebudayaan, Indonesia dan amerika. Kecintaannya pada Indonesia, termasuk khususnya aceh dan jawa, membuat  dia prihatin mendalam dengan terjadinya musibah tsunami aceh akhir tahun 2006. Menjadi jembatan itu terus berlanjut,seiring tugas pasca purnakarya, yakni mempromosikan hubungan antara perguruan tinggi di amerika dan Indonesia. Di hari hari mendatang, dia berencana bertemu dengan sejumlah perguruan tinggi di sumatera. Berbagi waktu tinggal di Colorado dan Indonesia, dia terus berusaha mencintai Indonesia dengan kebudayaan, dengan agama yang dianut sebagian besar rakyat Indonesia.

Sumber: Kompas, Rabu 27 Mei 2015

Amrul Sadik Daga “Memulung” Limbah Menjaga Kehidupan

Memulung-limbah-Menjaga-Kehidupan.-Kompas.17-Juni-2015.Hal.16

Awalnya, Amrul Sadik Daga (45) berkarya di bidang kesehatan masyarakat hanya sekedar mengejar status pegawai negeri sipil. Namun, setelah melihat banyak limbah kesehatan teronggok tak terurus dan menjadi tempat bermain berbahaya bagi anak-anak, ia memantapkan pilihan.

OLEH CORNELIUS HELMY

 

Saya ingin berguna bagi masyarakat. Mungkin saya diberi jalan lewat limbah kesehatan,” kata Amrul saat ditemui di rumahnya di siang yang panas di Kelurahan Sangaji Utara, Kota Ternate, Maluku Utara, akhir pekan lalu.

Pertemuannya dengan limbah kesehatan tak terurus pertama kali saat banting setir dari karyawan hotel menjadi sukarelawan di Puskesmas Kota Ternate pada 2001. Dengan alasan moral, ia meninggalkan penghasilan Rp 400.000 per bulan menjadi hanya Rp 16.000 per bulan.

Bertugas di bagian administrasi, perlahan ia mulai terusik tumpukan limbah kesehatan tak terurus disekitar puskesmas. Jarum suntik bekas, labu infus bekas, hingga kain kasa ternoda darah menjadi area bermain anak-anak. Ia gerah, tetapi tak tahu harus berbuat apa.

Sinar terang didapat saat petugas Kementrian Kesehatan datang ke Kota Ternate memberikan bantuan insinerator limbah kesehatan. Puskesmas Kota Ternate menjadi satu dari empat puskesmas yang mendapat bantuan insinerator bervolume 100 liter.

Akan tetapi, insinerator itu membutuhkan listrik yang besar. Akibatnya, insenerator  kerap tidak terpakai sehingga onderdilnya lekas aus dan rusak. Hanya insenerator di Puskesmas Sikko yang masih bertahan pada 2004.

“Saya menawarkan diri menjadi sukarelawan pengangkut dan pembakar limbah. Setiap dua kali seminggu, saya keliling ambil limbah dari Puskesmas Kota Ternate, Kalumata, dan Kalumpang, menuju Puskesmas Sikko,”katanya.

Namun, hanya dalam waktu dua tahun, insenerator di Sikko rusak akibat dipakai melebihi kapasitas. Karena tidak punya tempat menjauhkan limbah kesehatan dari masyarakat, Amrul menguburnya di hutan dataran tinggi Merikurubu, Kota Ternate.

“Saat itu, saya benar-benar bingung karena tak punya  tempat. Ketimbang berserakan dekat pemukiman masyarakat, terpaksa saya gali lubang di dalam hutan. Keterbatasan ilmu itu juga yang membuat saya ingin melanjutkan sekolah agar punya pengetahuan baru,” katanya.

Selama dua tahun ia menempuh pendidikan lanjutan di Manado, Sulawesi Utara. Saat pulang ke Ternate dua tahun kemudian, ia menemukan fakta ada sekitar 400 liter per minggu limbah kesehatan menunggu dimusnahkan.

 

Biaya sendiri

Kali ini ia meninggalkan Marikurubu dan memilih Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Buku Deru-Deru yang berjarak 32 kilometer dari pusat Kota Ternate. Dengan baya sendiri, ia membuat insenerator sederhana berbiaya Rp 2,5 juta. Setiap dua kali seminggu, ia menggunakan sepeda motor butut pinjaman dari Puskesmas Kota Ternate menuju TPA Buku Deru Deru  sembari membawa limbah plastik dalam kantong plastik hitam.

Usahanya tidak mudah. Salah satu pengalamannya ketika kewalahan ditampar hujan deras saat membawa setumpuk limbah kesehatan. Ia sempat berpikir pulang membawa jarum suntik dan infus bekas. Namun, ia mengurungkan niat itu mengingat risikonya snagat berbahaya.

Akhirnya ia tiba di TPA Buku Deru Deru saat sore. Ia mendapat kejutan. Beberapa pemulung ternyata sudah menantinya untuk bersama-sama menghancurkan limbah kesehatan.

“Ternyata saya tidak sendirian,” katanya.

Pemulung TPA Buku Deru Deru menjadi mitra utama Amrul. Dari pemulung, ia mendapat informasi asal muasal limbah kesehatan baru.

“Informasi itu digunakan sebagai langkah awal mencari dari mana limbah kesehatan itu berasal. Saya lantas menawarkan pengangkutan dan pemusnahan bersama di TPA,” katanya.

Lewat pendekatan dan informasi kesehatan, sebanyak 162 pemulung bisa diajak bekerja sama. Dari membuat pos pemantauan limbah kesehatan, penyediaan sepatu dan pelindung tangan, hingga membuat insenerator manual sederhana. Hampir semua biaya dikeluarkan Amrul dari kantongnya sendiri.

“Sesungguhnya kami ini sama, sama-sama pemulung. Hal itu membuat kerja sama kami langgeng hingga kini,” katanya.

Perlahan, peran Amrul semakin dikenal. Pemerintah Kota Ternate melirik pengabdiannya dengan menyediakan satu unit insenerator bervolume 250 liter pada 2008. Satu unit mobil bekas dipinjamkan pengganti motor butut pengangkut limbah. Mobil yang pernah rusak akibat kerusuhan pertandingan sepak bola itu diberi nama “si putih” merujuk pada warna catnya. Amrul mencetak kata biohazard  besar di tubuh “si putih”.

Amrul semakin gencar mempromosikan kegiatannya ke daerah tetangga seperti Halmahera Selatan, Halmahera Utara, Halmahera Tengah, Halmahera Barat, dan Pulau Tidore. Lewat bantuan tiga tukang ojek, limbah antar pulau itu dijemput 1-2 kali setiap minggu di Pelabuhan Ternate.

Untuk meringankan beban berat pengolahan limbah yang meningkat 2-3 kali lipat dari semula, Amrul memilah sampah sejak dini. Jarum suntik dan infus bekas dimusnahkan ke insenerator tercanggih dengan suhu 1.000 derajat celcius. Insenerator buatannya dengan suhu di bawah 1.000 derajat celcius cukup membakar selang infus atau kapas kasa  bekas.

Perlakuan berbeda dilakukan pada botol infus atau spet suntikan. Amrul memilih merendamnya dengan cairan kaporit untuk mematikan kuman sebelum kemudian dijual lagi. Dalam sebulan, barang daur ulang laku hingga Rp 600.000 hingga Rp 800.000. Semua hasil penjualan dinikmati tiga rekannya.

 

Tularkan Ilmu

Siang itu, Amrul kembali menularkan ilmu di beranda rumahnya. Akhir pekan tidak membuatnya menolak kedatangan beberapa mahasiswa di Politeknik Kesehatan (Poltekes) Ternate, tempatnya menjadi dosen tamu sejak setahun terakhir.

Ada banyak hal yang mereka bahas. Mulai dari pembuatan insenerator sederhana hingga potensi sampah memicu penyakit berbahaya seperti TBC.

Rahmat Mahmud (21), mahasiswa Jurusan Kesehatan Lingkungan di Poltekes Ternate, terang-terangan mengidolakan Amrul. Bersama rekan-rekannya, ia sudah menerapkan ilmu pembuatan insenerator sampah rumah tangga ala Amrul di kampung pemulung Sulamadaha, Kota Ternate.

Tidak hanya Rahmat yang terinspirasi. Tahun 2014, Kementrian Lingkungan Hidup memberikan penghargaan Kalpataru kepada Amrul. Perannya dianggap sebagai terobosan menjaga lingkungan dan kesehatan masyarakat.

 

AMRUL SADIK DAGA

▪ Lahir : Ternate, 20 Februari 1970

▪ Istri : Rini Mahda (45)

▪ Anak : 3 anak

▪ Pendidikan :

  • SD Kenari Tinggi II Ternate (Lulus 1985)
  • SMP I Ternate (Lulus 1988)
  • SMA I Ternate (Lulus 1991)
  • Diploma 1 Sekolah Pembantu Penilik Agen (Lulus 1996)
  • Diploma 3 Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Manado (Lulus 2006)
  • Strata 1 Jurusan Kesehatan Lingkungan Universitas Veteran, Makassar (Lulus 2013)

UC Lib-Collect

Kompas. Rabu. 17 Juni 2015. Hal. 16

Kesetiaan Latifah

Kesetiaan-Latifah-.Kompas.-30-Mei-2015.-Hal.-16

Wamena dan warga kota kecil di Pegunungan Tengah Papua tersebut cukup mengenal Latifa Anum Siregar (47) yang biasa dipanggil Anum, perempuan kecil, tetapi berhati baja. Anum kerap datang ke Wamena untuk memberikan bantuan hokum, mempromosikan kesetaraan dan demokrasi, hingga mengadvokasi berbagai persoalan terkait hak asasi manusia, terutama bagi warga Papua.

Sama sekali tak ada yang menyangka, pada pertengahan September 2014, ketika tengah mendampingi Areki Wanimbo, tokoh kampung yang diduga terlibat kasus makar, dan menerima dua wartawan asing asal Perancis, Anum diserang oleh dua orang saat keluar dari hotel tempatnya menginap.

Salah satu dari dua orang itu menusuk tangan kiri Anum dan merebut tas yang berisi sejumlah dokumen. Serangan seperti itu baru pertama kali dialaminya sejak ia mulai aktif mendampingi terdakwa kasus makar tahun 2000. Namun, hal itu tak menyurutkan niat dan semangatnya untuk terus memberi pembelaan kepada Areki. Apalagi, Cacha, keponakannya, mengirim pesan singkat yang berbunyi, “dear Amo, selamat untuk kelulusan nya, semoga Amo selalu dikuatkan dan hebat seperti biasanya. Semoga tangan segera sembuh dan Amo tetap semangat berjuang mengurus banyak orang, terutama di Wamena, karena banyak orang su menyerah urus dorang. Sayang selalu.”

Penyerangan itu memang terjadi sebelum Anum meraih magister hukum dari Universitas Cendrawasih Jayapura.

”Saya tidak akan mundur,” kata Anum, anak ke-9 dari 12 bersaudara itu.

Kata-kata yang sama yang selalu diucapkannya setiap kali ancaman muncul ketika ia memberi pendampingan hokum. Akhirnya upayanya membuahkan hasil optimal.

Majelis hakim yang diketahui diketuai Benjamin Nuboba menyatakan, Areki tidak terbukti bersalah atas semua pasal yang didakwakan kepadanya. Hakim juga meminta negara merehabilitasi nama Areki dan segera membebaskan Areki setelah putusan itu dinyatakan. Anum pun lega. Hakim menggunakan semua argumentasi hukum yang diajukannya.

Meskipun kasus yang dihadapi cukup berat, Anum yakin hakim akan melihat perkara itu secara objektif. Hal tersebut menunjukkan sikap keseharian Anum yang selalu menghargai rekan kerjanya, siapapun mereka.

”Itulah Anum,” kata Pater John Jonga, sesama pegiat hak asasi manusia di Papua dan peraih penghargaan Yap Thiam Hien 2010. John mengagumi Anum karena keuletan, keberanian, kesetiaan, dan kesetiakawanannya.

”Semua kliennya adalah orang-orang yang dianggap separatis, dianggap OPM. Ia selalu mau mendampingi kasus-kasus yang tidak banyak pengacara mau tangani. Hal itu menunjukan motivasi dan komitmennya. Ia setia membela mereka yang tidak lagi memiliki suara,” kata John Jonga.

Pernyataan tersebut menegaskan sejarah advokasi yang dilakukan Anum sejak tahun 2000 ketika ia untuk pertama kali mendampingi terpidana kasus dugaan makar. Kala itu, ia menjadi pengacara bagi tujuh anggota Presidium Dewan Papua yang diketahui diketuai almarhum Theys H Eluway, tokoh Papua yang dibunuh aparat pada 2001. Ia pun menjadi pengacara bagi para terdakwa kasus Wamena, seperti Kimanus Wenda dan Linus Hiluka, yang beberapa waktu lalu mendapat grasi dari Presiden Joko Widodo.

Bahkan, apa yang dilakukannya kerap melebihi tanggung jawabnya sebagai pengacara. Ketika Kimanus Wenda sakit dan perlu pengobatan di Jayapura, Anda merogoh kantongnya untuk memberi makanan tambahan bagi Kimanus. Setiap hari, selama Kimanus dalam perawatan, Anum dibantu dibantu pegawai di lembaga yang dipimpinnya, Aliansi Demokrasi untuk Papua, memasak umur petani yang dikenai pasal makar itu.

Penghargaan

Sebagai seseorang yang pernah duduk menjadi anggota DPRD Papua pada 1995-1997 dan menjadi staf ahli komisi hukum DPR Papua pada 2007-2012, kepiawaian Anum tentu dapat menghantarkannya pada posisi yang lebih prestisius. Kepadanya pernah ditawarkan sejumlah kasus dengan dugaan korupsi dan kemungkinan untuk kembali ke kursi DPR. Namun, ia memilih menolaknya.

“Sebagai pengacara, ada dua alasan untuk menolak. Pertama, kasus yang diajukan bukan keahlianya. Alasan kedua, bertentangan dengan hati nurani,” kata Anum menjelaskan sikapnya.

Ketika 17 Mei lali ia mendapat Gwangju Prize for Human Right 2015 di Korea Selatan terkait upayanya memperjuangkan hak dasar orang Papua, rekannya dalam Jaringan Damai Papua, Neles Tebay, menyatakan Anum memang layak mendapatkannya. Neles mengatakan, Anum setia mendampingi para korban dan memberi pembelaan serta bekerja di wilayah yang terisolasi dari media.

Ia tekun mendampingi orang orang Papua dan menunjukkan lewat pekerjaannya bahwa ada persoalan serius di Papua yang harus segera diselesaikan. Di sisi lain, apa yang dilakukan Anum, menurut Neles, mengandung ajakan agar pada masa depan tidak ada lagi pelanggaran terhadap hak hak dasar orang Papua dan mereka harus diperlakukan secara sebagai warga negara.

Anum dengan rendah hati melihat penghargaan itu sebagai tanggung jawab. Semangat tersebut mungkin mewarisi semangat almarhum Amir Husein Siregar, ayahnya, yang pernah bertugas menjadi perwira hukum dan oditur militer di Kodam Cenderawasih, Papua. Namun, tak dapat dipungkiri penghargaan bergengsi itu seakan menegaskan sikapnya sendiri sebagaimana disebutkan oleh Cacha dalam pesan pendek yang dikirimkan kepada Anum, yaitu setia mendampingi warga Papua, terutama warga Wamena, tempat banyak orang yang sudah menyerah.

Kondisi geografis wilayah itu memang sulit. Banyak sekali perkara yang melibatkan sejumlah warga Wamena tergolong sensitive. Tak jarang, Anum harus membiayai sendiri tiket pesawat pergi pulang Sentani-Wamena.

Kesetiaannya mendampingi mereka yang lemah menghadirkan simpati warga. Ketika ia menerima kasus Yosep Siep yang diduga polisi terlibat dalam kasus pembuatan bom dan rencana penggagalan pemilu, mama-mama Papua mengumpulkan uang dari penjualan betatas (ubi jalar) untuk membiayai Anum.

Keterlibatan itu membuat masyarakat Papua begitu dekat dan menjadikan Anum sebagai bagian dari komunitas mereka. Tak heran, pada 29 Mei, warga Wamena menggelar upacara adat bakar batu untuk merayakan pembebasan Areki Winambo dan penghargaan yang diterima Anum. “Mereka menyebut Anum pahlawan,” kata John Jonga.

Sumber: Kompas, Mei 2015

Lamri Idris Hijaukan Penyangga Ujung Kulon

Hijaukan-Penyangga-Ujung-Kulon.-Kompas.-28-Mei-2015.Hal.16

Lamri idris (44) tak pernah letih menebarkan semangat untuk menanam pohon. Terpaksa bermigrasi karena karut marut politik, lamri malah jatuh cinta dengan lingkungan baru dan menghijaukannya. Paling tidak, sudah 10 tahun terakhir dia senantiasa menggerakkan warga untuk menanam pohon.

Warga desa tamanjaya, kecamatan sumur, kabupaten pandeglang, banten, ini berinisiatif menggerakkan pelajar dari Sembilan sekolah pada pertengahan april 2015. Prakarsa lamri mendapatkan sambutan hangat  balai taman nasional ujung kulon (TNUK) dan pemerintah kabupaten pandeglang. Pelajar dari 6 sekolah dasar dan 3 sekolah menengah pertama di kecamatan sumur itu juga menggerakkan pelajar untuk menanam sekitar 1000 pohon. Setidaknya, sudah sejak tahun 2005 lamri menggalakkan penghijauan. Saat itu, lamri bekerja sama dengan pengelola pulau umang untuk menanam 1000 pohon. “pada 2015, sekitar 100.000 pohon ditargetkan untuk ditanam. Program yang melibatkan siswa dilakukan secara berkelanjutan” katanya. Penanaman mencakup tiga desa di kecamatan sumur, yakni tamanjaya, cigorondong dan tunggaljaya,  yang menjadi daerah penyangga TNUK. Lamri yang juga mendirikan taman kanak kanak islam cakra nusantara di desa tamanjaya mewajibkan orang tua siswa sekolah itu menanam pohon. Jumlah siswa TK yang didirikan sejak tahun 2001 itu 50 orang. Artinya, setiap tahun ada 50 pohon baru yang ditanam. Lamri tak hirau, sudah berapa kali dia mengadakan penanaman, hingga ia tak ingat jumlah pohon yang di tanam. Namun, setiap tahun lamri tak pernah alpa. Lamri pun tak segan berbicara lantang agar mereka yang merusak pepohonan di tindak. Di depan bupati pandeglang erwan kurtubi saat hari hutan internasional tahun 2015 di desa tamanjaya, misalnya, lamri meminta polisi mengenakan sanksi terhadap perusak pohon. Lamri juga senantiasa mengingatkan orangtua untuk menjaga dan menghargai pohon pohon yang ditanam. Itu adalah jerih payah anak anak. Lamri mencetuskan pendidikan lingkungan hidup disekolahnya sebagai muatan local sekaligus menjadi guru mata pelajaran tersebut. Penanaman pohon merupakan realisasi pendidikan lingkungan hidup. Pada awal tahun ajaran, murid di minta membawa lima batang bamboo untuk membuat rangka sederhana pelindung pohon. “guru guru menyediakan paku. Kami swadaya saja untuk pemeliharaan. Kalau menunggu anggaran, kami juga punya keterbatasan” katanya. Perlindungan pohon sangat penting karena banyak gangguan,  seperti ternak yang dilepas tanpa pengawasan penggembala, tangan tangan jahil, abrasi dan cuaca buruk. “dulu, tepi pantai di desa tamanjaya belum diberi penahan sehingga gelombang mudah mengempas pohon” katanya. Lantaran dirawat, pohon pohon bisa tumbuh dengan baik. Dalam dua tahun, pohon umumnya sudah tumbuh hampir 2 meter. Pohon yang ditanam umumnya jenis butun (barringtonia asiatica). Butun atau biasa juga disebut pohon keben, songgom, patut laut atau pohon perdamaian itu mudah tumbuh di daerah pesisir. Tingginya bisa mencapai 30 meter. ”setelah 6 tahun, pohon sudah berbuah. Lalu bijinya ditanam lagi. Terpenting, siswa meresapi makna dari pelestarian lingkungan” ucapnya. Setiap punya kesempatan, lamri selalu memanfaatkannya, seperti melalui mata pelajaran, kerja sama dengan balai TNUK dan kegiatan pramuka, untuk merawat pohon. Lamri menekankan kepada murid bahwa mencintai alam tercantum didalam dasa dharma pramuka. Pohon ditanam pada musim hujan dan dirawat saat kemarau. “kontroversi jangan sekadar teori, tetapi harus diaplikasikan dengan menanam pohon, bagaimana sejak dini tertanam dalam benak siswa mampu melestarikan alam” ujarnya.

Sejak mahasiswa

Lamri menghabiskan masa kecilnya di timor timur yang kini telah menjadi negara timor leste. Di daerah asalnya, kabupaten lospalos, lamri akrab dengan hutan. Minat lamri mempelajari alam bersambut saat dia melanjutkan pendidikannya di sekolah tinggi keguruan dan ilmu pendidikan (STKIP) gorontalo. “saya mengambil jenjang S1 jurusan mipa (matematika dan ilmu pengetahuan alam) program studi biologi. Waktu itu saya ikut program tunjangan ikatan dinas” katanya. Lamri yang semasa sekolah menengah atas tergolong berprestasi dikirim ke gorontalo untuk kuliah. Dia juga mendirikan biosfer, yaitu kelompok mahasiswa STKIP gorontalo yang menaruh perhatian terhadap kelestarian lingkungan. “saya lalu kembali ke timor timur karena kuliah dibiayai pemerintah daerah. Namun, gejolak politik kemudian terjadi di timor timur. Saya harus mengambil sikap” katanya. Bukan karena hidup melarat lamri lantas memutuskan angkat kaki ke jawa. Namun, sang saka merah putih tetap bersemayam di hatinya. “kepada negara kesatuan RI saya mengabdi. Saya jadi guru di desa tamanjaya sudah 16 tahun. Pernah jadi kepala SMP negeri 3 sumur sejak tahun 2009” katanya. Selanjutnya, lamri menjadi kepala SMP Negeri 2 sumur sejak tahun 2011. Antusias lamri tak disebarkan dilembaga pendidikan saja. “saya malah ingin ada kelompok guru pecinta lingkungan hidup. Itu sekelompok guru dibawah PGRI. Saya sedang merancang itu” ucapnya. Lamri yang sudah sangat kerasan di desa tamanjaya tak berniat pindah ke daerah lain hingga akhir hayatnya. Jika sudah pension dan tak jadi guru lagi, lamri bertekad untuk tetap semangat menanam pohon. Dia tak peduli dampak positif penghijauan baru dinikmati anak cucunya kelak. Kepala balai TNUK M haryono mengatakan, inisiatif lamri menggalakkan penanaman pohon membuat kagum, membanggakan dan perlu di apresiasi. Jika dilakukan di kota kota besar, penanaman dianggap sudah biasa karena pohon semakin sedikit. Di TNUK hutannya masih rimbun. “namun,pohon tetap ditanam. Lamri adalah guru yang konsisten menananmkan kecintaan terhadap alam kepada anak anak didiknya” ujar haryono. Desa tamanjaya yang terletak di pelosok berjarak sekitar 150 kilometer dari ibukota pandeglang dengan waktu tempuh empat jam. Sebagai praktisi pendidikan, lamri juga prihatin terhadap kondisi pendidikan di lingkungannya yang dinilai mirip dengan timor timur dulu. “anak mau sekolah susah. Selain kendala sumber daya manusia, infrastruktur rusak dan SMA tergolong jauh” kata lamri yang berharap didesa tamanjaya ada SMA.

 

Sumber: Kompas, Kamis 28 Mei 2015

Samuel Laufa Kamus Hidup Budaya Alor

Kamus-Hidup-Budaya-Alor.-Kompas.21-Mei-2015.Hal.16

Pendidikan resmi semuel laufa lebih bersentuhan dengan ekonomi. Dua tahap lanjutan setelah SD adalah SMEP dan SMEA. Program setahun pendidikan guru sekolah lanjutan pertama pun jurusan tata buku. Namun kiprahnya lebih sebagai budayawan. Bahkan disebut pula kamus hidup khusus aspek kebudayaan daerah kelahirannya, alor. Semuel laufa adalah warga kelahiran atoita desa waisika kecamatan alor timur laut kabupaten alor, nusa tenggara timur. Usianya dua versi. Riilnya 65 tahun atau 61 tahun berdasarkan catatan ijazah. “ya, kisahnya dulu itu hanya untuk memenuhi syarat usia agar bisa masuk sekolah” kenang semuel laufa yang akrab disapa sem tentang dua versi usianya itu, dikediamannya di kawasan oebobo kota kupang. Kamis(14/5). Menurut catatan kompas, leonard nahak yang kini kepala unit pelaksana teknis arkeologi,sejarah, dan nilai tradisional dinas pendidikan, pemuda dan olahraga NTT, merupakan pejabat pertama yang meyebut sem sebagai kamus hidup khusus untuk kebudayaan alor. “kalau mau belajar atau menulis berbagai hal tentang kebudayaan alor, narasumber andalnya sem laufa” tutur leonard nahak yang mantan kepala museum NTT di kupang. Rabu(13/5). Penyebutan itu tidak berlebihan. Salah satu contohnya, sem bisa secara detail dan mengalir mengisahkan asal usul moko atau nekara beserta maknanya bagi masyarakat alor. Kata dia, kisah tentang moko itu memang unik. Tidak ada orang alor sejak leluhur hingga sekarang pernah menjadi perajin moko. Namun, benda kuno mirip gendang yang terbuat dari perunggu, telah menjelma menjadi status social. Benda sacral hingga ikon alor. Hingga sekarang pula, keberadaan moko tidak tergantikan sebagai mas kawin atau mahar yang disebut belis oleh masyarakat setempat. Sem menyebutkan, moko pada awalnya masuk ke alor antara abad 18 dan 19. Kebetulan Karena alor dan sejumlah pulau disekitarnya merupakan bagian dari jalur pelayaran perdagangan internasional yang menghubungkan asia dengan kawasan samudra pasifik. Ada dua kelompok moko yang tersimpan dirumah warga di alor. Moko awal merupakan peninggalan zaman perundagian dari kebudayaan dongson. Lainnya kelompok moko berusaha lebih muda hasil karya perajin logam di gresik (jawa timur), awal abad 20. “moko susulan yang didatangkan dari gresik itu sebenarnya siasat politik colonial belanda guna memperkokoh posisinya di daerah jajahan baru” kata sem. Tidak hanya berkisah. Ayah empat anak itu juga meninggalkan pemahamannya tentang kebudayaan daerahnya dengan menulis buku. Dua karyanya itu masing masing berjudul mengenal obyek situs dan benda sejarah purbakala alor (2008) dan moko alor: bentuk, ragam hias dan nilai berdasarkan urutan (2009). Selain itu, sem selalu menjadi narasumber utama untuk penelitian ilmiah terkait  kebudayaan alor. Oleh periset dalam negeri atau asing. Diantaranya penelitian antropologi budaya allor oleh Emilia,antropolog  asal swedia (2013). Menyusul, penyusunan kamus bahasa kemang salah satu rumpun bahasa alor oleh antonetasaper asal belanda dan penulisan linguistic sastra daerah dalam upacara kematian di alor oleh oce langkameng lainnya. Editor buku: pembelajaran bahasa abui salah satu rumpun bahasa alor untuk mulok siswa kelas iv di alor,narasumber buuku:system pemerintahan tradisional alor, serta buku: moko dalam tatanan kehidupan masyarakat adat alor, karya made purna (2013). Dalam buku terakhir itu,sem bahkan disebutkan sebagai narasumber ahli.

Menentang saima

Leonard nahak dan sejumlah komunitas sehabitatnya dikupang menyebut sem juga sebagai budayawan alor. Begitu kuat minat sem terhadap kebudayaan daerahnya, tentu saja bukan karena pendidikan resminya yang jauh dari ranah budaya. Ternyata minatnya itu berawal dari kisah masa kecil hingga usia sekolah dasar di kampungnya,atoita. Ketika itu, ia sering diajak ayahnya karel falau (alm) menghadiri berbagai acara adat di kampong kampong sekitarnya. Tugas sem adalah menentang saima, wdah khusus berisi sirih pinang , seperti dipedesaan lain di ntt,tradisi makan sirih bagi masyarakat alor adalah bagian tidak terpisahkan dalam interaksi social termasuk mengawali berbagai ritual adat. “kisah masa lalu it uterus membekas kuat menjadi pendorong untuk semakin memahami bahkan mengawal berbagai kearifan local peninggalan leluhur” demikian sem mengakui. Selain sering menjadi penenteng saima, sem kecil sudah pandai menabuh perangkat gong dalam upacara adat. Disekolahnya, ia termasuk anggota kelompok music bumbu sebagai peniup kani, suling kecil untuk nada melodi. Meski pendidikan resminya tidak mendukung, ketika menjadi pegawai negeri sipil tahun 1976 ia ditempatkan dibagian kesenian kanwil depdikbud ntt dikupang. Selama berstatus pns hingga pension tahun 2010, sem terus bersentuhan dengan bidang kebudayaan. Termasuk jabatan terakhir sebagao kepala bidang sejarah dan kepurbakalaan dinas ppo alor. Sem sering terlibat dalam berbagai kegiatan berkesenian. Namun yang paling berkesan adalah ketika dirinya bersama sejawatnya djony thedeens memadukan pementasan music tradisi onal ntt dari jenis sasando,music bamboo dan perangkat gong. Pementasan yang berlangsung dihotel ina boi kupang tahun 1989 khusus memeriahkan penyambutan kunjungan mendikbud ketika itu,fuad Hassan. “kami sangat bangga karena bapak menteri ketika itu sampai turun dari podium untuk menyaksikan dari dekat pementasan music tradisional kami” kenangnya. Sem sudah lima tahun menjalani masa pension tetapi tetap menekuni minatnya termasuk menjadi narasumber berbagai penelitian kebudayaan alor. Ternyata semangatnya yang tak pernah pudar itu juga didorong kesaksiannya kalau kearifan local kini sedang terancam punah. Salah satu sumber penyebabnya adalah sikap kaum remaja beranggapan berbagai bentuk kebudayaan peninggalan leluhur mereka itu sesuatu yang kuno dan memalukan.

 

Sumber: Kompas, Kamis 21 Mei 2015

Deden Syarif Hidayat Pilihan Ditengah Keterbatasan

Pilihan di Tengah Keterbatasan. Kompas.4 Mei 2015.Hal.16

Warga sekitar Karst Citatah di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pernah hidup tanpa banyak pilihan. Itu sebabnya, saat kesempatan itu datang, mereka tidak ingin melewatkannya.

Obrolan hangat di saung penyimpanan panen jambu batu di kKampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, tiba-tiba terganggu suara ledakan dari sekitar kawasan Karst Gunung Hawu.

Deden Syarif Hidayat tak menunggu lama. Ia segera menaiki sepeda motornya menuju titik ledakan, sekitar 2 km dari saung bamboo.

“Bummmm…..,” bunyi ledakan kedua terdengar saat Deden baru saja menarik tuas gas sepeda motor.

Tak menghiraukan jalan berkelok dan berbatu yang dibangun petani jambu, Deden lincah mengendarai sepeda motor. Di tengah jalan, ia kembali disambut ledakan ketiga. Ia turun dari sepeda motornya ketika berjarak 1 km dari ledakan. Ia masih melihat batuan kapur berhamburan ke udara seperti air mancur. Reruntuhan kecil masih luruh dari Gunung Hawu.

”Sebelumnya saya sudah lega. Sudah 6 bulan tidak ada ledakan bom di Gunung Hawu, tapi sekarang….,” ujarnya.

Belum selesai bicara, konsentrasi Deden dibuyarkan tiupan peluit dan sirene seperti ambulans. Samar-samar terdengar orang berteriak. Entah apa yang diucapkan orang itu. Namun, Deden tahu itu isyarat aka nada ledakan selanjutnya. Sekitar 15 menit kemudian, dugaan itu benar. Bunyi ledakan keempat terjadi tepat di depan matanya.

“Bummmm….”

Deden kembali tidak bisa berbuat apa-apa. Matanya nanar. Hatinya remuk seperti tebing kapur yang runtuh.

Di dekatnya, Iim (60), petani setempat yang baru saja kemarin memanen jambunya, tersenyum kecut. Iim juga tak menyangka akan ada ledakan lagi.

”Bapak tos cape nambang. Mending ayeuna mah melak jambu ieu we (Bapak sudah lelah menambang. Lebih baik sekarang menanam jambu),” kata Iim, seperti menenangkan hati Deden yang galau.

Mendengar itu, Dadang terdiam. Hatinya sedih sekaligus lega. Diantara deru penambangan yang terus berjalan, pendampingan yang dilakukan bersama Forum Pemuda Peduli Karst Citatah (FP2KC) menjadi semangat kecil bagi warga untuk mempertahankan hidup. Budi daya jambu batu hanya salah satu alternatif yang terus didukung.

Keras

Ingatan Deden melayang pada 6 tahun lalu di Tebing 125, salah satu titik vital di Karst Citatah, Kabupaten Bandung Barat. Kecintaan pada panjat tebing membawanya kerap melatih kekuatan jari jarinya di sana, yang berjarak 1 km dari kediamannya di Kampung Cidadap.

Saat itu, kegembiraannya terganggu. Ketika asik menguras keringat menapaki tebing, konsentrasinya terganggu suara gaduh. Aktivitas penambangan, seperti garukan alat berat hingga ledakan menghancurkan tebing kapur, membuatnya khawatir.

Beragam pertanyaan berputar di kepalanya. Bagaimana jika penambangan menghancurkan Tebing 125, atau apa yang terjadi jika Karst Citatah yang ampuh menyimpan air rusak. Padahal, kawasan Karst yang berusia 20-30 juta tahun itu lama hidup bersama warga di sekitarnya.

Karst Citatah adalah salah satu kawasan kapur penting di Jabar. Di sini, kehidupan manusia prasejarah pernah tinggal. Sumber air bersih juga mengalir di rongga kapur bawah tanah. Namun, kini beberapa gunung kapur penting, seperti Pabesan, Karang Panganten, dan Pasir Manik, dipaksa mengorbankan tubuhnya digerus penambangan sejak 1970-an.

Darah mudanya bergolak. Bersama kawan-kawannya, Deden membentuk FP2KC tidak lama kemudian. Ia memimpin banyak aksi menentang penambangan. Dalam setiap aksinya, ia selalu berteriak tutup penambangan dan pabrik kapur.

Tak heran ia sering mendapatkan ancaman melalui pesan singkat. Tawaran rupiah asal Deden dan rekan-rekannya di FP2KC mengerikan aksinya juga bermunculan.

Meski demikian, seiring waktu berjalan, bukan ancaman yang membuatnya berpikir mengubah strategi. Minimnya partisipasi masyarakat hingga masih tingginya ketergantungan warga pada tambang membuatnya harus memutar otak.

”Harus ada pemahaman baru atau keterampilan baru yang melibatkan masyarakat. Aksi harus tetap jalan, tetapi harus diimbangi dengan pendidikan masyarakat,” katanya.

Ia pun mendirikan Rumah Alam 125. Letaknya di kaki Tebing 125. Remaja setempat diajak beraktivitas bersama, mulai diskusi lingkungan, pelatihan panjat tebing dan pembuatan proses produk berbasis sampah, pelatihan seni budaya, hingga siaran radio terbatas.

”Ada juga pesantren alam dengan titik berat pada penjagaan nilai lingkungan. Keterlibatan masyarakat sangat tinggi,” katanya.

Minat masyarakat itu pula yang mendorongnya menggagas program Kelompok Pemberdayaan Masyarakat (pokdarwis). Masyarakat diminta membuat kelompok khusus untuk menjaga, sekaligus mendapatkan keuntungan ekonomi dari potensi wisata di sekitar Karst Citatah. Dengan harapan, Karst tetap terjaga dan warga bisa mendapatkan penghasilan.

Kelompok pertama muncul di kampung Girimulya, Desa Gunung Masigit. Di kampung tersebut, warga diajak mengelola taman batu yang dibentuk alam sejak ratusan juta tahun lalu.

Secara swadaya, masyarakat mengumpulkan uang untuk membuat jalan yang layak bagi pengunjung. Warga juga mencari sendiri sumber mata air dan paralon untuk menyalurkan air bagi sarana-prasarana pendukung kawasan. Pelatihan bagi 70 pemandu wisata juga dilakukan. Pengunjung diminta membayar Rp3000 per orang untuk biaya perawatan kawasan, kebersihan, dan asuransi.

”Perbaikan pelayanan ini sedikit banyak berkontribusi bagi kunjungan ke Taman Batu. Tidak jarang, dalam sepekan kunjungan wisatawan hingga 1000 orang. Mayoritas pengunjung adalah pelajar dan mahasiswa,” katanya.

Sukses di Taman Batu menginspirasi berdirinya tiga pokdarwis lain di Padalarang. Pokdarwis Kampung Cinangsi Desa Gunung Masigit, sekitar Gunung Puteri; Pokdarwis Kampung Pamucatan, desa Padalarang, mendampingi area panjat Tebing 125; dan Pokdarwis Kampung Cidadap, Desa Padalarang, yang menjaga Gunung Hawu-pabeasan. Tidak sedikit anggota pokdarwis adalah mantan petambang.

”Pilihan yang dimiliki warga Ini hanya salah satu dari sekian jalan yang muncul setelah menjaga Karst. Masih banyak pilihan yang tidak disadari justru mengharumkan nama Bandung Barat,” katanya.

Sumber: Kompas, Mei 2015

Mahditia Paramita Merencanakan Kawasan untuk Masa Depan

Merencanakan Kawasan untuk Masa Depan. Kompas.5 Mei 2015.Hal.16

Sesudah menyelesaikan studi tentang perumahan dan tata kota di Belgia, Mahditia Paramita (35) pulang ke Indonesia dengan semangat menggebu untuk mengaplikasikan ilmunya. Namun, kenyataan di Tanah Air tak seindah yang dia bayangkan. Di tengah berbagai persoalan, Paramita terjun ke desa untuk membantu masyarakat membuat perencanaan kawasan yang berorientasi pada masa depan.

Tahun 2007, setamat kuliah di Katholieke Universiteit Leuven, Belgia, Paramita bergabung dengan Housing Resource Center (HRC), organisasi nirlaba di Yogyakarta yang bergerak di bidang perumahan dan tata kota. “HRC berdiri tahun 2006 setelah gempa melanda Daerah Istimewa Yogyakarta. Awalnya HRC fokus pada isu perumahan yang aman gempa,” katanya, Jumat (10/4), di Yogyakarta.

HRC merupakan lembaga yang dibentuk aktivis perumahan. Pemerintah Daerah DIY, Kementrian Perumahan Rakyat, dan Program Pemukiman Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN-Habitat).

Setahun kemudian, HRC mulai menghadapi ,masalah dana. Pasalnya, dukungan dari sejumlah lembaga, termasuk pendanaan dari Kementrian Perumahan Rakyat, mulai berhenti. “Padahal, saya waktu itu masih sangat muda dan belum terbiasa mengelola aktivitas kantor, mulai dari manajemen hingga program. Jadi agak berat juga waktu itu,” katanya.

Pada 2009, kesulitan di HRC makin parah. Dukungan dari berbagai lembaga yang menginisiasi HRC benar-benar berhenti. Paramita pun dihadapkan pada dua pilihan: menutup HRC atau mempertahankan organisasi tersebut tanpa dukungan finansial yang pasti. “Saya sempat mengalami dilemma. Sempat kepikir juga lebih baik saya tutup HRC dan kerja di organisasi nirlaba yang sudah besar,” ujarnya.

Paramita akhirnya memilih mempertahankan HRC dengan menderikan yayasan pada 2009.  Setelah memutuskan menjadi lembaga mandiri, HRC mulai menjadi konsultan dan mengerjakan aneka proyek terkait tata kota dan perumahan yang bisa menghasilkan uang. Kini HRC bahkan memiliki tiga perusahaan yang juga bergerak sebagai konsultan di bidang perumahan, perencanaan perumahan, dan pengembangan teknologi tepat guna.

“Uang yang dikumpulkan itu kami pakai untuk mendanai kegiatan sosial, misalnya mendampingi masyarakat,” ujar Paramita yang kini menempuh program studi doctoral bidang kebijakan publik di Universitas Gadjah Mada.

Pengembangan Kawasan

Salah satu program unggulan HRC yang telah berjalan adalah pengembangan kawasan, khususnya dalam lingkup dusun dan desa. Dalam program itu, HRC bermitra dengan pemerintah, masyarakat, dan lembaga lain untuk membangun suatu kawasan, baik berupa dusun maupun desa, agar menjadi tempat tinggal yang nyaman sekaligus memiliki daya saing.

Pengembangan kawasan tersebut mengacu pada potensi local dan dilakukan secara partisipatif, yakni merangkul semua elemen warga. Hasil program tersebut adalah adanya rencana pentaan kawasan pada masa depan dan rencana investasi untuk pembangunan.

Paramita menjelaskan, program pengembangan kawasan itu dimulai tahun 2007. Berdasarkan pengalaman ketika belajar di Belgia, Paramita menilai seharusnya DIY memiliki rencana pengembangan kawasan sesudah gempa bumi yang dahsyat terjadi. Di sejumlah negara maju, perencanaan kawasan yang berorientasi pada masa depan itu sudah lazim dibuat, termasuk sesudah sesuatu bencana besar melanda.

“Indonesia, kan, belum ada rencana semacam itu sehingga kami mencoba bikin rencana pengembangan kawasan dalam lingkup desa,” kata Paramita. Ternyata, ide tersebut tak disambut baik pemerintah daerah.

”Memang sangat idealis, sih, waktu itu dan ternyata tak ada yang tertarik. Kami kirim surat ke Pemerintah Kabupaten Bantul, lalu dilempar ke pemerintah desa. Dari pemerintah desa ternyata di lempar lagi ke dusun,” kata Paramita sambil tertawa.

Program pengembangan kawasan itu akhirnya berjalan di Dusun Serut, Desa Palbapang, Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul. Menurut Paramita, Kepala Dusun Serut, Rahmad Tobadiyana, menerima program tersebut dengan tangan terbuka.

”Pak Kepala Dusun Serut sangat visioner sehingga program pengembangan kawasan itu bisa berjalan dengan baik di sana,” ujarnya.

Proses perencanaan di Dusun Serut dimulai dari pengumpulan data dengan melibatkan masyarakat. Hasilnya, ditemukan potensi masalah, misalnya pertambahan penduduk, peningkatan volume sampah, serta dampak keberadaan industri dan perternakan di sana. Sesudah itu, HRC bersama warga merencanakan beberapa program untuk mengatasi masalah tersebut.

“Dalam rencana itu, sudah ada rencana membangun rumah susun, ruang terbuka hijau, dan pengelompokan kawasan industri. Benar-benar futuristik, ya?” kata Paramita yang kini menjabat Chief Executive Officer HRC.

Selain di Dusun Serut, HRC juga membantu perencanaan di wilayah lain, misalnya di Desa Kandangan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah; Kelurahan Tegalpanggung, kota Yogyakarta; dan di wilayah Kali Code, Yogyakarta.

Pprogram HRC yang cukup unik adalah Klinik Rumah Sehat, yakni layanan konsultasi dan desain rumah untuk masyarakat, terutama mereka yang berpenghasilan rendah. Melalui program itu, HRC melayani masyarakat yang ingin membangun rumah sesuai kebutuhan dan anggaran yang mereka punyai. Program itu digelar di kantor HRC ataupun di pusat kegiatan masyarakat, termasuk sejumlah kelurahan di Yogyakarta.

“Kami melayani pertanyaan dan memberikan saran kepada warga terkait pembangunan rumah mereka misalnya izin pembangunan, subsidi keuangan, serta desain,” ujar Paramita.

Paramita mengaku baru tertarik mendalami tata kota dan perencanaan kawasan saat menjalani studi magister di Belgia.

”Saat kuliah disana, saya juga belajar tentang politik perencanaan kota, yakni bagaimana mempengaruhi pemerintah dan publik agar mereka mendukung perencanaan yang kita buat,” kata pariwita yang pernah menimba ilmu di beberapa negara lain, seperti India, Belanda, dan Perancis.

Pengalaman itulah yang membuat Paramitha sadar bahwa Indonesia membutuhkan banyak pembenahan dalam bidang tata kota. Kesadaran tersebut kemudian mendorong Paramita terus menggerakkan HRC untuk membantu warga dan pemerintah mengembangkan perencanaan kawasan secara lebih baik.

“Saat ini Indonesia benar-benar mengalami krisis perencanaan. Makanya perlu peran banyak pihak untuk membenahinya,” ujarnya.

Sumber: Kompas, Mei 2015

 

Cristiyani Margaretha Melayani Petani dengan Hati

Melayani Petani dengan Hati.Kompas.6 Mei 2015.Hal.16

Cristiyani Margaretha

Matahari sore itu masih bersinar terik. Cristiyani bersama sang suami,Wawanto (42), berkeliling kawasan unit pemukiman transmigrasi kilometer 38,kelurahan Sei Gohong, menggunakan sepeda motor. Sejumlah warga yang juga petani ramah menyapa dan disapa  Cristiyani yang dikenal akrab sebagai penyuluh pertanian.

OLEH WILIBRORDUS

MEGANDIKA WICAKSONO

Cristiyani menjadi tenaga harian-lepas tenaga bentu penyuluh pertanian (THI-TBPP) di kelurahan Sei Gohong, Kecamatan Bukit Batu , Palangkaraya, Kalimantan tengah (Kalteng), sejak 2008. Kelurahan yang terletak di barat laut Palangkaraya itu terbagi menjadi dua wilayah, dikilometer 33 biasa disebut Sei Gohong Kampung yang dihuni penduduk asli  suku Dayak Kalteng dan kilometer 38 menjadi lokasi transmigrasi agribisnis dan peternakan DKI Jakarta.

Berbekal ilmu pengetahuan tentang pertanian yang ditimbah dibangku kuliah pada Fakultas Pertanian Universitas Palangkaraya  jenjang D-3 pada 1995, serta pengalaman membina 10 desa saat bekerja di perusahaan Kayu Mas di Parenggean, Kotawaringin Timur, Kalteng, Cristiyani menekuni pekerjaan sebagai penyuluh  pertanian “ penyuluh pertanian hanya sebagai jembatan antara pemerintah dan para petani,” katanya, minggu n(26/4).

Upaya dan karya Cristiyani menjembatani banyak program pemerintah bagi kemajuan pertanian di kelurahan Sei Gahong tampah dari perkembangan kesejahteraan penduduk disana. Rumah-rumah, yang dulu masih berupa bangunan kayu, sekarang mulai dibangun dengan tembok para petanipun sudah bisa memiliki alat transportasi pribadi berupa sepeda motor.

“Dulu masih banyak warga yang menggunakan  sitem ladang berpindah dan menanam tanaman tanpa memperhitungkan biaya, seperti biaya biaya tenaga kerja, listrik untuk menyedot air. Program pemerintahpun  biasanya selesai dalam  sekali masa tanaman ,”tutur Cristiyani.

Melalui pendekatan personal dan informal, secara perlahan Cristiyani mengajak para petani untuk mengelola ladang yang dimilikinya secara berkesinambungan. Program-program pemerintah juga ditawarkan dengan selektif dan penuh pertimbangan  disertai juga dengan hasil survey dilapangan.

“Program akan berjalan jika diterima oleh orang yang total dan tidak setengah-setengah. Oleh karena itu, mengenal setiap karakter petani juga menjadi hal yang penting,”ucapnya.

Dalam pelaksanaan program pemerintah oleh para petani, Cristiyani memilih tidak banyak terlibat langsung didalamnya untuk memberi jarak dan memberi kesempatan kreativitas petani. Dia tetap memantau sebagai bentuk pertanggungjawaban  serta tetap terbuka memberi masukan jika dibutuhkan kapan pun.

Kunjungan Cristiyani kepada para petani dilakukan secara informal, misalnya, dengan berkunjung dengan membeli sejumlah sayuran untuk dimasak bagi keperluan rumah tangganya,”sambil belanja kepetani tidak ada jarak  antara petani dan penyuluh,’’ kata Cristiyani yang pada awalnya sering diabaikan atau tidak dianggap oelh para petani.

Pertemuan dengan kelompok-kelompok petani juga tidak selalu dilaksanakan di tempay khusus yang resmi, melainkan di rumah warga, dikebun petani, dihalaman rumahnya, dan sesekali dibalai basara kelurahan atau balai pertemuan warga.” Pintu rumah juga terbuka 24 jam bagi para petani yang ingin menyampaikan keluhan,harapan, atau bertanya tentang program-program,”kata ibu dua anak itu.

Desa mandiri pangan

            Sei Gohong yang dihuni sekitar 1.811 orang telah menjadi desa mandiri dalam hal ketersediaan hasil pertanian khususnya hortikultura, seperti cabai,timun, kacang panjang, jagung, bawang merah, dan lain-lain. Hasil pertanian itu dipasarkan para petani di desa tradisional Tangkiling dan juga dijual ke kota Palangkaraya. Desa itu juga sedang mengembangkan bidang peternakan, antara lain, ayam, kambing, sapi, dan babi. Selain itu, warga juga mulai merintis budidaya ikan gurami, patin, dan nila.

Meski petani menghadapi tantangan geografis, yaitu jenis tanah yang berupa pasir kuarsa, gambut, dan batuan granit, hal itu pun biatasi dengan pemberian pupuk kandang dan kapur untuk mengurani tingkat keasaman tanah gambut.

Di desa itu, Cristiyani mendampingi 12 kelompok petani, yaitu kelompok Tani Harapan, Mandiri, Bersmi , Makmur, Bawi Kuwu, Dasawisma,Hapakat, Mandiri, Suka Maju, Lestari, Riang Jaya, Bagamat Jaya, Poduk Bendera, dan Wanita Tani Anggrek. Setiap kelompok petani terdiri atas 10-15 orang.kedua belas kelompok petani itu bergerak di sektor pertanian ,perkebunan dan wanita petani.

Kepada kelompok wanita petani, Cristiyani mengajak ibu-ibu memanfaatkan lahan dipekarangan rumahnya ditanami tanaman apotek hidup, seperti bawang lemba atau dikenal juga bawang suku Dayak yang berkhasiat mengobati aneka penyakit sembiloto, kencur dan lain-lain.

Selain itu, para ibu rumah tangga juga mulai mengelolah hasil perkebunan dan pertanian menjadi makanan ringan dalam kemasan, misalnya, keripik singkong, rempeyek, keripik pisang, kacang molen, dan juga kue bawang. Karya dari Wanita Tani Dasawisma  Haparat Mandiri pun pernah menangani lombah penganan tradisional tingkat kota palangkaraya pada 2012,” kita boleh bersaing sehat. Kita boleh berlombah, tetapi tidak mencela orang atau kelompok lain. Antarkelompok itu bersaing untuk maju,”ujarnya.

Berkat ketekunan dan kesetiaanya  menjadi penyuluh di desa itu, Cristiyani mendapat apresiasi dari pemerintah daerah juga pemerintah pusat. Pada juli 2013 Cristiyani mendapat penghargaan THL-TBPP Telah Tingkat Kota Palangkaraya dan Tingkat Provinsi Klimantan Tengah. Kemuadian pada agustus 2013, dia pun meraih penghargaan serupa di tingkat nasional.

Cristiyani tidak pernah bermimpi mendapatkan penghargaan itu. Meski demikian, dia sangat bersyukur. Namun, rasa syukur paling besar baginya adalah saat melihat para petani didesa semakin mandiri dan sejahtera.

Cristiyani Margareta

  • Lahir:palangkaraya,22 maret 1973
  • Pendidikan: D-3 Fakultas Pertanian, Universitas Palangkaraya (1995)
  • Suami: Wawanto S Siram (42)
  • Anak: Anggi cristam Angelo(16) dan Bernart Etwan Manuelo (8)
  • Pekerjaan: Tenaga Harian lepas-tenaga Batu Penyuluh Pertanian (THL-TBPP) di Kelurahan Sei Gohong,Palangkaraya, Kalteng
  • Penghargaan: THL-TBPP Teladan Tingkat kota Palangkaraya, THL-TBPP Teladan Tingkat Provinsi Klimantan Tengah< dan THL-TBPP Teladan Tingkat Nasional (2013)

Sumber: Kompas.6-Mei-2015.Hal_.16

Pebruarison Lampang S Tandang Merawat Budaya Dayak di Jembatan

Merawat Budaya Dayak di Jembatan.Kompas.19-Mei-2015.Hal.16

Kolong jembatan sungkahayan yang kumuh dengan sampah pedagang buah dan dindingnya penuh coretan vandalisme, kini bersih dan cerah. Lukisan dinding pemuda suku Dayak yang gagah berlatar naga atau dikenal dengan tambun dan pemudi suku Dayak menghiasi kolong jembatan yang jadi ikon kota palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Oleh Megandika Wicaksono

 

Lukisan berjudul “tari dadas” dan “kasiak tambun” karya Februarison Lampang S Tandang (45) pada dinding penyangga berukuran 3,5 meter x 11 meter itu pun sering dijadikan latar belakang foto mereka yang telah datang berkunjung. Jembatan sungai Kahayan sepanjang 645,5 meter itu diresmikan presiden Megawati Soekarnoputri pada 13 Januari 2002. Jembatan ini menghubungkan kota Palangkaraya dengan Kabupaten Gunung Mas, Barito Utara, Barito Timur, Barito Selatan dan Murung Raya, Kalimantan Tengah. Sungai kahayalan adalah salah satu dari sebelas sungai besar di Kalimantan Tengah. Panjang sungai ini sekitar 600 kilometer dengan lebar rata-rata 450 meter dan kedalaman 7 meter.

Lampang mengisahkan, awalnya lukisan-lukisannya menjadi hiasan kalender instansi pemerintahan. Kemudian, dinas pekerjaan umum provinsi Kalimantan Tengah tertarik membuat lukisan itu di kolong jembatan sambil melakukan perawatan rutin. Lampang yang bekerja sebagai pegawai Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Palangkaraya pun menerima tawaran untuk mempercantik kolong jembatan itu. Lukisan dinding “kasiak tambun” melambangkan kegagalan pemuda suku Dayak seperti seekor naga. Kasiak berarti ganas dan tambun berarti naga. Pemuda itu bersenjatakan Mandau dan telawang atau perisai khas suku Dayak. Di sampingnya, dalam lukisan berjudul “Tari Dadas” oleh seorang pemudi berbusana merah. Tarian ini zaman dulu bisa diperagakan sebagai tarian ritual penyembuhan orang sakit. Namun, saat ini Tari Dadas biasa digunakan sebagai tari penyambutan tamu.

“Lukisan itu melambangkan keseimbangan antara sisi maskulin dan feminism yang saling melengkapi. Sifat maskulin yang gagah berani itu melindungi dan Tari Dadas juga melambangkan keterbukaan suku Dayak kepada para pendatang,” kata Lampang, Selasa (5/5). Selain kedua lukisan itu, pada sisi kanan dan kiri dinsing jalan yang berukuran panjang 50 meter menuju jembatan Kahayan juga dibuat motif Tambun Bungai, yaitu lambing penguasa alam atas dan alam bawah dunia. Motif tambun atau naga yang meliuk-liuk sebagai penguasa alam bawah. Namun, pada bagian kepala burung tingang atau enggang.burung ini disakralkan oleh suku dayak karena melambangkan penguasa alam atas.

Lampang menggunakan lima ba sebagai warna, yaitu baputi (putih), bahandang (merah), bahenda (kuning), bahijau (hijau), dan babilem (hitam) yang menjadi simbol warna Kalimantan Tengah. “Putih bermakna suci, merah berani, kuning kejayaan atau keemasan, hijau kemakmuran atau kesuburan, dan hitam bermakna kekuatan atau karisma,” kata suami dari Ira Katarina (46) itu. Lampang menyelesaikan lukisan-lukisan selama sebulan, sejak 21 Maret hingga 21 April 2015. Dia bersama tujuh pelukis di Palangkaraya melukis di luar jam kantor, yaitu pada sore hingga subuh. Khusus lukisan “Kasiak Tambun” dan “Tari Dadas”, lampang menggarapnya sendiri selama 5 hari. Ketujuh rekannya, yaitu Tria, Liktarson, Juli Satrio, Sevena A, Farn, Tengang, dan Aca membantu menyelesaikan lukisan motif Tambun Bungai dan Telawang.

 

Ekspresi Jiwa

Lampang memiliki bakat melukis sejak kecil. Saat di taman kanak-kanak, ia menjuarai perlobaan lukis. Bakatnya terus berkembang dan menjuarai lebih dari 26 perlombaan hingga di SMAN 3 Palangkaraya. Pada 1989, Lampang melanjutkan studi di Jurusan Seni Murni Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Lampang mengatakan, lukisannya merupakan campuran antara realis, ekspresif, abstrak dan surealis. Namun, tema yang menjadi minatnya adalah kebudayaan suku Dayak,mulai dari motif, tari-tarian, senjata, hingga simbol-simbol lintas agama.

Bagi saya, melukis adalah ekspresi jiwa. Jiwa tumbuh dan berkembang tidak lepas dari agama dan budaya tempat saya dilahirkan. Itu akan tetap ada sampai kapan pun dan mengalir begitu saja saat melukis, “kata ayah dari Rafael Rakapela (6). Selain di kolong jembatan Kahayan, ornament dan lukisan motif suku Dayak karya Lampang juga ada di Gedung DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, Kantor Gubernur Kalimantan Tengah dan gedung pertemuan Palampang Tarung Kota Palangkaraya. Lampang menggarap ornamen dan lukisan itu sekitar 1995-1998 saat bekerja sebagai konsultan perencanaan di PT Betang Asri dan PT Buana Asri.

Lampang pernah membuka kursus melukis pada 2002-2009 di rumahnya di Palangkaraya dengan nama Kahalap (keindahan). Lebih dari 100 anak pernah menjadi muridnya. Sanggar lukisannya berhenti karena Lampang memilih membesarkan anak semata wayangnya yang telah 12 tahun dinantikan kehadirannya. Meski demikian, Lampang tetap melukis. Sebulan, rata-rata empat lukisan dihasilkan. Saat ini lebih dari 300 lukisan selesai di garap. Kendati rekan-rekannya pelukis sempat mengejek Lampang sebagai “pelukis yang ber-NIP (nomor induk pegawai)” karena menjadi aparatur sipil Negara, Lampang tetap aktif mengikuti pameran. Saat ini, Lampang menjabat sebagai Ketua Komunitas Perupa Kalimantan wilayah Kalimantan Tengah.

Lampang mengharapkan, tradisi dan seni budaya suku Dayak bisa tetap lestari dan dikenal. Ia berharap lukisan di bawah jembatan itu tidak di rusak. “Motif dan lukisan suku Dayak itu juga di harapkan bisa menjadi identitas kota Palangkaraya,”katanya.

 

Februarison Lampang S Tandang

Lahir                      : Tumbang Rahuyan, Gunung Mas, Kalteng 12 Februari 1970

Pendidikan         : SMA N 3 Palangkaraya dan Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta (1989-1994)

Istri                        : Ira Katarina (46)

Anak                      : Rafael Rakapela (6)

Pekerjaan           : Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Teknis Seni di Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Palangkaraya

Pameran              :

  • Pameran Dies Natalis ISI Yogyakarta
  • Pameran Seni Rupa Nusantara I di Jakarta, Tahun 2000
  • Pameran tunggal Seni Rupa 2002 di Palangkaraya
  • Pameran seni rupa di Museum Affandi Yogyakarta
  • Pameran tunggal di Museum Belanga Palangkaraya, tahun 2006
  • Pameran seni rupa 2008,2009,2010 di palangkaraya
  • Pameran seni lukis perupa Kalimantan dan Yogyakarta di Martapura, Kalimantan Selatan

 

Kegiatan lain      :

  • Membuat perahu Tingang di Festival Auckland New Zealand tahun 2005
  • Merancang logo kabupaten katingang, Kalteng

Kompas, Selasa, 19 Mei 2015

Halaman 16

Uc-Lib-Collect