Bangkitkan Varietas Avokad Sindangseret. Kompas. 21 Juli 2021. Hal. 16

Reza Mulyana (26) membangkitkan kembali avokad Sindangreret setelah hampir satu dekade tidak terdengar. Petani muda ini ingin membangun mata rantai produksi sehingga kelezatan avokad superior asal Garut ini bisa dinikmati petani, penjual hingga penggemar buah.

Namun, mencapai tujuan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi, tantangan Reza harus memastikan kualitas buah yang konsisten. Artinya, bibit diproduksi harus tetap yang mempertahankan cita rasa buah yang menjadi keunggulannya.

Ketekunan ini tergambar dari hamparan bibit avokad Sindangreret yang ada di belakang rumah kakeknya di Kampung Sindangreret, Desa Karangpawitan, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Sabtu (22/5/2021). Selain itu, sejumlah umlah bibit jeruk menyempil di beberapa sisi lahan.

Di salah satu sudut, Iwan (25), salah satu pembibit avokad, tekun melakukan kegiatan pucuk. Pria asal Malangbong, Garut ini turut membantu Reza membudidaya avokad. Matanya tajam, berkonsentrasi untuk emastikan sambungan tidak gagal.

“Saya membudidayakan avokad introduksi (impor) dari Meksiko, Thailand, Vietnam, dan Australia. Salah seorang rekan mengatakan di Garut ada budidaya avokad superior. Jadi, saya belajar dengan Kang Reza,” ujarnya.

Reza pun mengamati pekerjaan Iwan dan sejumlah pemulia tanaman lain di lahan sekitar 10 meter x 10 meter itu. Dia bersyukur, kerja kerasnya membuahkan hasil. Dalam setahun, bibit avokad Sindangreret sudah mulai dilirik. “Sekarang bibit-bibitnya sudah mulai dicari. Saya mencoba memperbanyak  aslinya. Sekarang masih fokus untuk konsistensi kualitas bibit,” ujarnya.

Dimulai sejak akhir 2019, Reza mem budidayakan benih-benih indukan sehingga avokad Sindangreret ini bisa menjadi pilihan menarik bagi para petani buah. Reza memulainya dengan pemuliaan bibit avokad.

Sebenarnya, ketertarikan Reza terhadap avokad Sindangreret sudah ada sejak beberapa tahun sebelumnya. Dia menyadari avokad ini belum mendapatkan perhatian. Padahal, keistimewaannya di akui Kementerian Pertanian selama lebih dari satu dekade.

Kakek Reza, Dede Rustandi (73), menjadi pemilik dari pohon induk tunggal yang mendaftarkan varietas ini bersama Pemerintah Kabupaten Garut pada tahun 2010. Buah asli dari tanah kelahiran Reza ini menjadi salah satu dari dasar), ungu (benih pokok), dan 23 jenis avokad superior di Indonesia.

Dengan semangat Reza memaparkan kelebihan buah ini. Daging buah avokad Sindangreret legit dan berwarna kuning mentega, Tekstur daging buah ini halus tidak berserat dengan ketebalan hingga 4,1 sentimeter. Ukuran bijinya juga kecil sehingga dagingnya tebal. Kadar proteinnya juga sekitar 0,82 persen sehingga bergizi tinggi dibandingkan dengan avokad biasa.

Terabaikan

Semua keunggulan ini tidak lantas membuat avokad Sindang reret ini langsung menjadi primadona di Garut. Reza bercerita, pada saat yang bersa maan, pemerintah daerah Garut tengah fokus menangani pe lestarian jeruk Garut melalui Program 1 Juta Pohon Jeruk sejak 2008.

Dampaknya, nama avokad Sindangreret kembali samar setelah diresmikan. Bibit indukan yang dibagikan setelah peresmian banyak yang tidak terlacak. Yang tersisa hanya beberapa pohon induk label putih yang berada di sekitar rumah kakeknya.

Label putih atau benih dasar adalah indukan yang disertifikasi resmi untuk budidaya tanaman. Pelabelan dibagi menjadi empat, yaitu label kuning (benih penjenis), putih (benih dasar), ungu (benih pokok), dan biru (benih sebar).

Label kuning menandakan pohon induk memiliki kemurnian tinggi dan menjadi varietas awal yang diajukan oleh pemilik pohon induk tunggal. Setelah itu, label putih adalah turunan pertama dari label kuning dengan kemurnian tinggi.

Namun, bibit label putih pun tidak bisa diperbanyak lagi karena label kuning sudah lama mati. Karena itu, dengan sisa yang ada, Reza mencoba mem perbanyak benih label ungu dan biru.

 

“Pohon induk label kuning sudah lama mati saat saya kecil. Beruntung, waktu itu kakek menanam langsung dari biji sehingga sekarang menjadi label putih. Hanya ini yang sekarang kami miliki karena yang lain sudah tidak terlacak lagi sewaktu peresmian varietas,” ujarnya

Kondisi inilah yang membuat Reza memutuskan fokus budidaya bibit untuk menyela matkan varietas tersebut. Dengan sisa label putih yang ada, dia mencoba membangkitkan kembali avokad Sindangreret.

“Bisa dikatakan ini (label putih) adalah harta Garut. Saya harus memanfaatkan ini untuk sebelum mereka mati. Jika mereka mati, tidak ada harapan lagi bagi avokad Sindangreret. Jadi, saya memulai dengan memperbanyak label ungu,” ujarnya.

Label ungu menjadi target karena memiliki kemurnian yang hampir menyamai label putih. Reza berpikir, jika label ungu sudah bisa diperbanyak, varietas avokad Sindangreret yang dihasilkan akan memiliki kualitas yang konsisten.

Meskipun baik, niat ini tidak langsung mendapatkan respons positif. Sejumlah rekan sesama mahasiswa dan para pembibit seakan meremehkan tekad Reza karena avokad tidak lebih laku daripada jeruk Garut.

Reza pun tidak menampik hal tersebut. Dia berujar, jika dihitung, omzet tahunan menjual bibit jeruk mencapai Rp 100 juta, sedangkan bibit avokad hanya berkisar Rp 80 juta per tahun.

“Kalau bukan saya siapa lagi. Ini adalah warisan keanekaragaman varietas unggulan yang ada di Garut. jangan sampai hilang,” ujarnya. hodno

Pandemi yang muncul pada Maret 2020 pun memukul telak usaha pembibitan. Reza bercerita, selama tiga bulan pertama pandemi, tidak ada bibit yang terjual.

Meskipun belum terlihat menguntungkan, Reza tetap bertahan dengan penuh strategi. Dia memiliki impian untuk membentuk rantai produksi avokad Sindangreret dari hulu ke hilir sehingga kestabilan suplai, dari kuantitas hingga ku- alitas dapat terjamin dan konsisten. “Karena itu, di awal saya harus memastikan buah yang beredar ini memiliki kualitas yang tidak berubah. Sektor hulu yang harus diperkuat, yaitu kualitas bibit yang beredar harus konsisten. Tidak apa-apa sekarang belum kelihatan hasilnya, semua tidak instan,” ujarnya.

Selama pemuliaan, Reza akhirnya menghasilkan kurang lebih 60 label ungu hingga pertengahan 2021. Selain itu, dia mencoba mencari dan belajar dari berbagai cara untuk meningkatkan label ungu secepat dan sebanyak mungkin

Selain label ungu, Reza telah menghasilkan lebih dari 5.000 bibit avokad Sindangreret dari metode sambung pucuk. “Setelah bibit mencukupi, sava berencana untuk memberikan pelatihan kepada petani buah. Dengan berbagi ilmu, semoga kami semua bisa menghasilkan buah terbaik,” ujarnya.

Jika konsistensi kualitas dan kuantitas bibit serta buah tercapai, Reza memiliki modal untuk memasarkannya di pasar premium sehingga memiliki ni lai tambah. Hal tersebut tentu menambah nilai ekonomi dari komoditas yang bakal mening katkan kesejahteraan petani buah.

Impian dari petani milenial ini bukan hanya isapan jempol belaka. Jika tercapai, avokad asal Garut ini pun bisa bertahan dan menambah keanekaragaman buah superior di Nusantara.

Bahkan, sejumlah petani mu da seperti Iwan pun mulai menunjukkan ketertarikan. “Meski buah luar negeri terlihat lebih besar, buah lokal ini punya ciri khas. Seperti kata Kang Reza, sayang saja kalau ini tidak di pertahankan,” ujarnya.

 

Sumber: Kompas. 21 Juli 2021. Hal. 16

Presiden Pembela Kaum Miskin Peru. Kompas. 31 Juli 2021. Hal. 16

“Saya akan memberikan seluruh keringat saya untuk rakyat.” Itu tekad Pedro Castillo, presiden terpilih Peru, beberapa hari sebelum la dilantik, Rabu (28/7/2021). Guru sekolah dasar di kawasan perdesaan Peru itu menjadi presiden pertama yang tidak memiliki hubungan dengan para elite, yang telah memerintah negara itu selama beberapa dekade terakhir. Ia meminjamkan menjadi pembela kaum miskin.

Castillo lahir 51 tahun lampau dari pasangan petani di desa kecil Puna, kawasan bersejarah Cajamarca, tempat ia mengabdi sebagai guru selama 24 tahun. Dia dibesarkan membantu orangtuanya berjibaku dengan dunia pertanian. Menghancurkan dan memeras tebu adalah bagian dari kesehariannya kala itu.

Saat menuntut ilmu, ia harus berjalan kaki beberapa kilometer untuk sampai ke sekolah. “Ini adalah pertama kalinya negara ini akan diperintah oleh seorang petani, seseorang yang termasuk dalam kelas tertindas,” kata Castillo pada hari pelantikannya.

Hari itu ia mengenakan sombrero putih bermerek dagang Cajamarca yang dicintainya dan pakaian hitam, setelan khas orang Pegunungan Andes. Untuk acara yang tidak terlalu formal, Castillo suka mengenakan ponco dan sepatu yang terbuat dari ban daur ulang. Dia mengatakan tak akan menerima gajinya sebagai presiden dan terus hidup dari penghasilan sebagai guru.

Dalam sikap yang sangat simbolis, seperti dilaporkan The Guardian, ia juga dia tidak akan memerintah dari istana presiden di Lima, ibu kota Peru. Istana itu dikenal sebagai “Rumah Pizarro” setelah pemimpin penaklukan Spanyol atas Peru, Francisco Pizarro, mendirikan Lima pada tahun 1535. “Kami akan menyerahkan istana ini kepada Kementerian Kebudayaan agar dapat digunakan sebagai pajangan sejarah kami, dari asalnya hingga hari ini,” katanya.

Selisih tipis

Kursi kepresidenan Peru diraih Castillo seusai memenangi pemi lihan 6 Juni dengan selisih tipis, 40.000 suara melawan saingan sayap kanan, Keiko Fujimori, yang mengarah kepertarungan hukum yang sengit atas hasil tersebut. Castillo telah bersumpah untuk melawan aneka dugaan lawan-lawan politiknya, yakni membawa Peru menuju komunisme dan menyusuri jalan Venezuela ala mantan Presiden Hugo Chavez. “Kami bukan Chavistas, kami bukan komunis, kami bukan ekstremis,” tegas Castillo.

Castillo menggambarkan dirinya sebagai “pria yang terus bekerja, seorang yang beriman, sekaligus seorang yang penuh harapan”. Empat tahun lalu, dia memimpin ribuan guru menggelar aksi mogok selama hampir 80 hari untuk menuntut kenaikan gaji. Hal tersebut menyebabkan 3,5 juta siswa sekolah umum tidak dapat hadir di kelas. Aksi ini memaksa presiden saat itu, Pedro Pablo Kuczynski, yang awalnya menolak untuk bernegosiasi, akhirnya mengalah.

Dalam kampanyenya, ia kerap kali menyuarakan rasa frustrasi rakyat Peru. Castillo menampilkan dirinya sebagai seorang tokoh rakyat. “Tak ada lagi orang miskin di negara kaya,” ujarnya saat berkampanye untuk Partai Peru Libre.

Pada April lalu, Castillo menge mimpin persaingan untuk menjadi presiden kelima Peru. Ia menyisihkan 17 kandidat lainnya pada putaran pertama pemilu. Dia kemudian berhadapan dengan Fujimori di putaran kedua dan kembali unggul.

Perubahan radikal

Castillo menjanjikan perubahan radikal untuk memperbaiki nasib rakyat Peru yang menghadapi resesi yang diperparah oleh pandemi Covid-19 hingga meningkatnya pengangguran dan kemiskinan. Satu hal yang tidak mungkin berubah di bawah kepresidenan Castillo adalah karakter konservatif sosial negara Peru: dia seorang penganut Katolik serta sangat menentang pernikahan sesama jenis, aborsi, dan eutanasia.

Kerap kali Castillo mengutip Al kitab untuk menyampaikan poin-poin pesannya kepada para pendukungnya.

Prioritas pertamanya sebagai presiden adalah memerangi pandemi Covid-19, yang menewaskan lebih dari 196.000 warga Peru dan membuat satu dari setiap 100 anak-anak menjadi yatim atau piatu. Di bidang ekonomi, ia bertekad menciptakan 1 juta pekerjaan dalam setahun. Di awal kampanyenya, ia juga bersumpah untuk menasionalisasi pertambangan dan kekayaan hidrokarbon Peru. Namun, belakangan ia cenderung memperlunak pesannya soal nasionalisasi itu.     Dia menjanjikan investasi publik untuk mengaktifkan kembali ekonomi melalui aneka proyek infrastruktur, pengadaan publik dari usaha kecil dan untuk “mengurangi impor yang memengaruhi industri nasional dan petani”. Di antara janji kampanyenya yang lebih kontroversial, Castillo akan mengusir warga asing ilegal yang melakukan kejahatan di Peru.

Untuk memerangi kejahatan, Castillo telah mengusulkan penarikan Peru dari Konvensi tentang Hak Asasi Manusia atau Pakta San Jose guna memungkinkannya menerapkan kembali hukuman mati. Castillo berjanji untuk menghadirkan “konstitusi baru” yang menggantikan undang-undang ramah pasar bebas yang tersisa dari mantan Presiden Alberto Fujimori. (AFP/REUTERS)

 

sumber: Kompas. 31 Juli 2021. Hal. 16

Pengepul Ceceran Ilmu. Kompas. 24 Juli 2021. Hal. 16

Lebih dari 20 tahun Ependi Simanjuntak berburu “ilmu yang tercecer” di tumpukan buku-buku bekas di lapak tukang loak. Hasil buruannya menjadi andalan banyak mahasiswa, dosen, wartawan, dan para kutu buku yang haus ilmu.

Petang hampir datang ketika dua mahasiswa masuk ke kios buku bekas Guru Bangsa di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, pertengahan Juni lalu. Mereka segera tenggelam di antara jejeran rak yang menyimpan buku-buku sastra dan politik di kios milik Ependi Simanjuntak tersebut.

Ependi, yang biasa disapa Ucok, senang melihat masih ada anak muda. berkunjung dan mengubek-ubek kios buku bekasnya. “Makin ke sini makin sedikit anak muda yang datang dan beli buku. Kebanyakan anak muda sekarang lebih senang main hape. Mudah-mudahan mereka baca buku lewat hape, bukan cuma main medsos,” ujar Ucok, Rabu (16/6/2021), di Ciputat.

Ucok yang berbicara dengan logat Batak nan kental menceritakan, dulu sebagian besar pelanggannya adalah mahasiswa. Mereka umumnya mencari buku teks wajib yang harga barunya sangat mahal untuk ukuran kantong mahasiswa, seperti buku-buku kedokteran, farmasi, biologi, dan hukum. Di luar itu, banyak yang mencari buku-buku sastra, politik, dan kajian agama.

“Buku bekas dari kiosku ini sudah mencetak banyak sarjana, Bang. Selain itu, beberapa pelanggan aku sekarang sudah jadi ‘orang. Ada yang jadi menteri, pejabat kampus, wartawan hebat, dan sastrawan. Beberapa di antaranya dulu suka ngutang buku sama aku, ha-ha-ha,” kata Ucok sambil terkekeh. Ia yakin mereka bisa sukses karena banyak membaca buku banyak meski yang dibaca buku bekas.

Sekarang, kata Ucok, pelanggannya kebanyakan kutu buku, dosen, dan pedagang buku di sejumlah daerah. “Kalaupun mahasiswa, yang datang ke sini paling mahasiswa S-1 yang sebentar lagi lulus atau mahasiswa S-2,” ujarnya.

Sebagian dari mereka kadang datang ke toko buku Guru Bangsa milik Ucok dan ngobrol ngalor ngidul soal buku hingga malam. Dari obrolan itu, Ucok mencatat di kepalanya buku apa yang disukai pelanggannya. “Aku juga baca buku. Ada 2.000 an buku bacaanku di rumah. Malu aku kalau ngobrol sama pelanggan dan aku enggak ngerti apa-apa,” kata Ucok.

Selama pandemi, pelanggan yang datang ke toko buku Guru Bangsa berkurang. Tak banyak lagi kesempatan ngobrol ngalor ngidul soal buku yang membuat Ucok bergairah. Meski begitu, usaha buku bekasnya tidak meredup. Ia memanfaatkan betul lapak virtual dan media sosial. Ia foto sampul buku yang ia jual lantas mengunggahnya di lapak dan media sosial. Harga yang ia pasang mulai Rp 5.000 hingga sekitar Rp 100.000 per buku.

Merantau

Ucok merantau dari Sialang Buah, daerah di pantai timur Sumatera Utara, ke Jakarta pada 1986 untuk meneruskan pendidikan menengah atas. Sembari se kolah, ia jualan koran di Terminal Kalideres, Jakarta Barat. Pekerjaan itu ia tekuni hingga menjelang krisis ekonomi pada 1997. Selanjutnya, ia bekerja sebagai tenaga survei lembaga riset pasar ternama.

“Namun, pekerjaanku dicurigai orang terus, maklum waktu itu suasana politik sedang panas. Akhirnya aku berhenti,” kenangnya. Ucok lantas meneruskan pekerjaan lamanya, jualan koran dan ma jalah di Terminal Lebak Bulus, Jakarta Selatan sejak 1998.

Suatu ketika ketika diajak kawannya untuk menjual buku bekas. Ia dibawa ke lapak-lapak pemulung dan membeli berapa karung buku atau majalah bekas yang mereka kumpulkan. Lantas ia jajakan sembari jualan koran. Awalnya pelanggan Ependi adalah tukang sayur yang perlu kertas bekas untuk bungkus. Lama-kelamaan mulai ada beberapa wartawan yang membeli buka bekas di lapaknya. Kadang mereka nongkrong seharian di kontrakan Ependi untuk mencari buku atau diskusi.

“Ada beberapa nama wartawan yang masih aku ingat. Ada Bang Eros Djarot, Imam Wahyudi, Hawe Setiawan, AS Laksana, dan Richard Oh. Mereka cari buku bekas yang bisa menjadi referensi tulisan,” kata Ucok.

Singkat cerita, bisnis buku dan majalah bekas Ucok terus berkembang. Ia memasok buku ke lapak-lapak buku bekas di Kwitang dan Pasar Senen. Ia juga membuka kios di Pondok Pinang, Jakarta Selatan.

Ucok mengaku banyak men dapat buku bekas dari rumah mantan pejabat militer, pejabat sipil, akademisi, dan tokoh-tokoh penting negeri ini. Ia menyebut beberapa nama pejabat yang koleksi bukunya ia peroleh, antara lain Adam Malik, Ali Sadikin, Ali Said, R Soebiakto, Frans Seda, Buya Hamka, Soedharmono, dan Soesilo Soedarman.

Tokoh seperti mereka, kata Ucok, paling sedikit memiliki koleksi 5.000 buku. Makanya, buku yang ia angkut bukan sekardus dua kardus, melainkan bertruk-truk. “Aku sampai dijuluki tukang kuras buku perpustakaan mantan pejabat oleh teman-temanku,” ujar Ucok.

Sebagian buku bekas milik mantan pejabat itu ia peroleh dari tukang loak. Sebagian lagi ia peroleh langsung dari keluarga mantan pejabat, baik secara gratis maupun mesti ia beli. “Mereka membuang buku koleksi perpustakaan bapak atau ibunya karena tidak sang- gup lagi mengurus atau karena tidak suka baca. Ada juga yang butuh uang,” kata Ucok.

Ucok mengaku kadang merasa sedih melihat buku-buku berikut dokumen penting dan surat pribadi milik para mantan pejabat dan orang penting dalam sejarah bangsa ini berakhir di lapak-lapak tukang loak. Ini bukan omong kosong. Ucok pernah mendapat segerobak buku milik politisi hebat masa lalu dari tukang loak di Kemang, Jakarta Selatan.

“Aku sampai merinding, Bang. Itu buku bagus semua, kok bisa sampai di tukang loak. Ilmu yang ada di buku itu tercecer begitu saja. Kalau tidak aku beli, mungkin buku itu jadi bungkus sayuran,” ceritanya.

Ucok mengatakan, awalnya ia menjual buku bekas semata-mata untuk mencari uang. Kini, ia berpikir apa yang ia lakukan selama lebih dari 20 tahun ini sebenarnya cukup penting, yakni mengumpulkan “ilmu yang tercecer” di lapak tukang loak atau di perpustakaan pribadi yang tidak diurus.

“Aku pikir lebih baik buku-buku bekas yang berharga itu dirawat oleh orang yang suka membaca. Itu lebih bermanfaat,” katanya.

 

Sumber: Kompas. 24 Juli 2021. Hal. 16

Pembuka Jalan Perburuan Medali. Kompas. 26 Juli 2021. Hal. 16

Sejak kecil, lifter putri Indonesia, Windy Cantika Aisah (19), telah mewarisi jiwa petarung dan kegigihan dari ibunya yang mantan atlet angkat besi, Siti Aisah. Berawal dari mengangkat gagang sapu, Cantika meraih medali perunggu pada debutnya di Olimpiade, yaitu di Tokyo 2020.

Suasana tegang menyelimuti salah satu rumahdi Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (24/7/2021). Pe- m rumah, Siti Aisah (51), menanti dengan cemas aksi putrinya, Cantika, di laga angkat besi kelas 49 kilogram. Meskipun terpisah sekitar 5.800 kilometer dan terhalang layar kaca, semuanya terasa begitu nyata bagi Aisah.

Ketegangan ini berakhir dengan air mata bahagia saat Cantika mendapatkan posisi ketiga dengan total angkatan 194 kilogram. Dara asal Kabupaten Bandung ini menjadi penyumbang medali pertama bagi Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020. Cantika mencatat angkatan snatch seberat 84 kg dan clean and jerk 110 kg.

Tiada yang lebih bangga ketimbang ibunya, Aisah. “Saya melihatnya sambil berurai air mata. Doa kami dari awal mengantar Cantika ke Olimpiade terjawab (lewat raihan) medali,” ujarnya.

Aisah mengatakan, prestasi itu berasal dari kerja keras dan disiplin anaknya. Padahal, capaian anaknya di Tokyo itu belum pernah dibayangkannya saat masih muda. “Dulu boro-boro memikirkan Olimpiade seperti apa, menganggap seperti apa. Yang penting latihan saja. Pelatih minta ikut campur tangan ini atau itu, saya tinggal mengikuti, apalagi pada zaman saya dulu belum ada (nomor) angkat besi  putri di olilpiade,” ujarnya.

Sebagai mantan lifter, Siti pernah membela Indonesia di sejumlah kejuaraan angkat besi kelas dunia, di antaranya Kejuaraan Dunia Angkat Besi di Daytona, Amerika Serikat, tahun 1987 dan Kejuaraan Dunia Angkat Besi di Jakarta tahun 1988. Minat dan bakatnya itu menurun ke anak anaknya, termasuk Cantika.

Gagang sapu

Anak-anak Aisah ikut dan berlatih sejak mereka bocah, termasuk Cantika. Si bungsu kerap mengamati gerak-gerik kakak-kakaknya saat berlatih. Bahkan, sesekali dia menirukan teknik angkat besi dari kakak-kakaknya menggunakan gagang sapu.

“Kalau tidak salah, kelas IV SD itu dia sering meniru gerakan kakaknya. Setelah itu, bapaknya lalu membuat alat angkat beban dari pipa paralon. Di setiap sisinya dibuat beban dari semen yang dicetak pakai kaleng roti. Saya lalu mengajarkan tekniknya dulu, se suai dengan porsi umurnya,” papar Aisah.

Ternyata ketertarikan ini berlanjut menjadi kegigihan dan ke tekunan Cantika dalam menggeluti angkat besi. Melihat keseriusan anaknya, Aisah mendukung sepenuhnya asalkan sang anak mau konsisten berlatih dan tidak menyerah di tengah jalan.

“Kalau memang mau jadi atlet jangan setengah-setengah. Cantika dan dua kakaknya terus saya ingatkan. Ujung dari setiap latihan adalah prestasi. Target ke sana, nanti dapat atau enggak, ada rezekinya,” ujar Aisah.

Tidak hanya berlatih di rumah, Cantika juga mempertajam kemampuannya di pusat pelatihan Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PABSI) Kabupaten Bandung. Namun, Aisah mengatakan tidak pernah memaksakan anak-anaknya untuk berlatih.

Semua disesuaikan dengan porsi dan kemampuan sang anak untuk memunculkan keinginan dari dalam diri. “Kalau dipaksa, bahaya. Makanya saya selalu menyerahkan kepada mereka,” ujarnya.

Kegigihan

Di tempat pelatihannya, Can tika menunjukkan kegigihannya. Dewi Nuranis (36), salah satu pelatih di pedepokan latihan yang didirikan oleh Aisah, melihat Can tika sebagai anak yang tidak kenal menyerah.

“Cantika mulai berlatih di sini umur 11-12 tahun. Dia juga berlatih bersama ibunya, Teh lim (panggilan Aisah). Saya sendiri melihat tekad menjadi atlet dalam diri Cantika. Dia lebih disiplin dibandingkan dengan yang lain,” ujarnya.

Tekad ini, lanjut Dewi, terlihat dari latihan yang dia lakukan memiliki porsi yang lebih dibandingkan dengan anak lainnya. Dia tidak akan beristirahat sebelum targetnya tercapai atau mengalami gangguan kesehatan. “Jadwal latihannya kira-kira pukul 16.00-18.30. Akan tetapi, tidak jarang dia menambah waktu latihannya sampai pukul 19.00 kalau ada target yang belum tercapai,” ujarnya.

Kegigihan dan semangat pantang menyerah itu terlihat saat bertan ding di Tokyo, Sabtu. Peluangnya meraih medali nyaris melayang setelah hanya sekali berhasil mela kukan angkatan dari tiga kesempatan pada angkatan snatch. Dia baru bisa mengangkat beban 84 kg pada kesempatan kedua. Pada kesempatan ketiga, ia lalu tidak mampu menuntaskan angkatan beban 87 kg.

Padahal, saat tampil di Kejuaraan Dunia Yunior 2021, Cantika bisa melakukan angkatan snatch 86 kg. Ia bahkan menggondol tiga medali emas di sana. Namun, di Olimpiade, konsentrasinya sempat buyar di awal-awal pertandingan kelas 49 kg putri.

Kegagalan semacam itu bisa memukul siapa saja, apalagi bagi debutan di ajang terbesar dunia, Olimpiade, seperti Cantika. Namun, tidak demikian dengan atlet muda yang menyabet medali emas SEA Games Filipina 2019 itu.

Cantika memperbaikinya pada angkatan clean and jerk. Dari tiga kesempatan, ia selalu sukses melakukan angkatan, yaitu yang terbaik seberat 110 kg. Angkatan itu melampaui batas hasil latihannya selama pandemi Covid-19, satu setengah tahun terakhir. Tak pelak, ia berteriak girang. Tepuk tangan pun membahana di Tokyo International Forum, arena pertandingan itu.

“Di angkat besi, (pertandingan) tidak selesai hanya dengan snatch. Masih ada clean and jerk. Jadi, harus tetap semangat. Jangan pantang menyerah,” ujar Cantika seperti di laporkan Agung Setyahadi dari Tokyo, Jepang.

Tak pelak, atlet yang bergabung dengan pelatnas angkat besi sejak 2019 itu menuai pujian dari banyak pihak. Presiden Joko Widodo hingga Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengucapkan selamat kepada Cantika melalui akun resmi media sosial mereka masing-masing.

Menurut Presiden Jokowi, keberhasilan Cantika meraih medali adalah kabar baik dari Tokyo untuk Indonesia. “Pertama kali ikut Olimpiade, dan langsung mendapat medali. Keren pisan. Selamat Teh Windy,” ujar Ridwan Kamil melalui akun Instagramnya.

Menurut Kamil, raihan medali di Olimpiade tidak hanya menjadi kebanggaan Jabar dan Indonesia. Pencapaian itu juga memberikan gairah, harapan, dan semangat baru bagi masyarakat dalam suasana keprihatinan menghadapi gelombang pandemi Covid-19.

Di mata Aisah dan orang-orang terdekatnya, pencapaian ini menjadi buah dari kegigihan Cantika dalam menekuni angkat besi. Berawal dari gagang sapu, kerja keras, dan kedisiplinan dalam berlatih mengan tarkan si bungsu menjadi lifter kelas dunia. Kini, Cantika memburu emas di ajang bergengsi berikutnya, yaitu Asian Games 2022 di Hangzhou, China.

 

Sumber: Kompas. 26 Juli 2021. Hal. 16

Mengembalikan Kejayaan Nanas Prabumulih. Kompas. 16 Juni 2021. Hal.16

Hais (57) membuat kebun nanas seluas 4 hektar di tengah kebun karetnya untuk mewujudkan tekad, yakni mencegah nanas Prabumulih lenyap. Kebun itu jadi tonggak kebangkitan nanas Prabumulih untuk kembali berjaya seperti beberapa dekade silam.

Sekitar enam tahun lalu, Hais membuka kebun nanas yang terletak di kawasan Patih Galung, Kecamatan Prabumulih, Kota Prabumulih, Sumatera Selatan. Kala itu, dia baru menjadikan nanas sebagai tanaman pendamping kebun karetnya. “Dulu nanas yang saya tanam hanya sebagai tanaman sela di tengah tanaman karet yang baru saja diremajakan,” ucapnya, Selasa (25/5/2021).

Bibit nanas pun Hais peroleh dari kebun saudaranya yang ada di sekitar ladang karetnya. Hasilnya, nanas dengan varietas queen yang ia hasilkan kala itu sangat manis dan berkadar air sedang. Nanas ternyata sangat cocok dengan kondisi lahan di Prabumulih. “Rasanya sangat enak. Pantas saja, Prabumulih dijuluki kota nanas,” ujarnya.

Namun, tiga tahun berselang dia menyadari bahwa tanaman nanas tidak akan tumbuh subur jika hanya dijadikan tanaman sela. Seiring pohon karet yang semakin tinggi, pertumbuhan nanas akan terhambat dan kian kerdil. “Sejak saat itu, saya memutuskan untuk membuat hamparan kebun nanas,” ucapnya.

Pembudidayaan nanas ini memiliki misi melestarikan dan me ngembalikan kejayaan nanas Pra bumulih. Sekitar tahun 1980, nanas Prabumulih pernah menjadi primadona di kalangan warga lokal, bahkan nasional.

“Rasanya yang manis membuat nanas Prabumulih jadi incaran pelancong yang mampir ke Prabumulih. Ketika itu, hampir di tiap gang kota ada yang jual na nas,” kata bapak enam anak ini.

Kini banyak warga yang beralih ke komoditas lain, seperti sawit dan karet, sehingga nanas susah didapat. “Nanas hanya ikon kota. Nanas yang dijual di Prabumulih pun kebanyakan berasal dari daerah tetangga,” ucap Hais.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi nanas di Prabumulih pada tahun 2020 sekitar 9.552 ton. Itu masih lebih kecil dibandingkan dua kabupaten yang mengapitnya, yakni Ogan Ilir (81.782 ton) dan Muara Enim (20.821 ton).

Padahal, lanjut Hais, cita rasa nanas Prabumulih unik karena kondisi tanah dan juga proses pengolahannya. Hais bahkan mengklaim, nanas queen asal Prabumulih lebih manis dibandingkan nanas yang ada di Indonesia.

“Tingkat kemanisan dari nanas Prabumulih sekitar 13 derajat briks lebih tinggi dari nanas kebanyakan di Indonesia yang tingkat kemanisan sekitar 8-11 derajat briks,” ujarnya.

Butuh waktu sekitar 1 tahun 4 bulan untuk merawat bibit nanas menjadi hamparan yang produktif. Dengan ketelatenannya, hamparan kebun nanas milik Hais kini bisa menghasilkan sekitar 1.000 buah nanas per hari. Nanasnya kini sudah melanglang hingga sekitar Sumatera Selatan, bahkan ke DKI Jakarta. “Dalam satu kali angkutan, saya mengirim sekitar 6.500 buah nanas ke Jakarta,” tuturnya.

Dia tetap menyisihkan nanas nya untuk konsumen di dalam kota Prabumulih. Konsumennya adalah mereka yang berkunjung ke ladangnya, antara lain, untuk melihat proses pengelolaan nanas langsung dari kebunnya, serta membeli nanas yang hanya Rp 3.000 per buah itu.

Produk turunan

Tidak hanya menjual produk mentah nanas, Hais juga mengolah nanas menjadi sejumlah produk turunan, seperti selai, keripik, sirup, manisan, dan permen. Nanas juga bisa dijadikan bahan pewarna tekstil, bahkan daunnya juga bisa dijadikan benang sebagai bahan dasar pembuat kain.

“Setidaknya ada 50 produk turunan yang bisa dibuat dari olahan nanas,” ujarnya. Kemampuan Hais mengolah nanas didapat dari melihat Youtube. “Saya belajar sendiri dan langsung dikembangkan di lapangan,” ucapnya.

Hai yang hanya berpendidikan formal sampai sekolah dasar ini berpendapat, kemampuan seseorang diperoleh dari mereka yang mau belajar. Istrinya, Yusmaidah, turut membantunya mengolah nanas dan terkadang memberikan masukan yang memperkaya hasil olahan yang mereka buat.

Pengetahuan ini kemudian di tularkan Hais kepada generasi muda. “Ada 30 pemuda yang saya ajak untuk berkreasi. Beberapa mahasiswa juga kerap datang ke sini untuk melihat proses pengolahan nanas,” ucapnya.

Mengolah nanas menjadi beragam produk turunan akan memberikan nilai tambah. Bahkan, dari berkebun dan mengolah nanas, Hais dapat menghasilkan sekitar Rp 30 juta per bulan.

Hais pernah diajak eksportir dari China untuk bekerja sama. Bahkan, harga dari setiap nanas yang diekspor dihargai Rp 6.000 per buah. Bahkan, sang eksportir tetap menerima segala bentuk na nas yang dia hasilkan. Namun, tawaran itu dia tolak.

Hais menilai, ketika nanas Prabumulih sudah dikirim untuk ekspor, tidak ada lagi nanas yang tertinggal. “Dengan begitu, nanas Prabumulih sekadar nama di kotanya sendiri,” tuturnya. Hal ini dikhawatirkan membuat identitas Prabumulih sebagai kota na nas akan hilang.

Kini, sudah banyak warga yang tertarik untuk mengembangkan nanas. Mereka mengubah lahan karetnya menjadi hamparan nanas yang hasilnya ternyata lebih menguntungkan.

Pemerintah Kota Prabumulih pun tertarik dengan konsep yang dibuat Hais. Bahkan, Hais diminta pemerintah kota untuk mengembangkan nanas di beberapa lokasi yang lahannya belum produktif. Dengan sukarela dia membantu semua yang ingin belajar mengembangkan nanas. “Semua ini saya lakukan untuk satu tujuan, yakni melestarikan nanas Prabumulih,” katanya.

 

Sumber: Kompas. 16 Juni 2021. Hal.16

Wawan Hawe_ Setiawan Bercermin lewat Sastra Sunda.Kompas.Hal.16

Siapa lagi yang mau mempertahankan budaya Sunda selain orang Sunda itu sendiri? Pertanyaan retoris itu memotivasi Wawan “Hawe” Setiawan untuk ikut menjaga budaya Sunda agar tetap relevan di tengah zaman yang terus berubah. la memilih bahasa dan sastra Sunda sebagai mediumnya.

Diteundeun di jalan gedé,

Dibuka ku nu ngaliwat,

Anu weruh di semuna,

Anu terang, di jaksana,

Au rancagé di haté.

“Simpanlah sesuatu yang berharga di jalan besar/supaya bisa dibuka oleh siapa pun yang lewat/ yang bisa mengetahui isyarat/ yang bisa menangkap tanda-tanda/yang kreatif di dalam hatinya”.

Demikian terjemahan harfiah Hawe untuk sepenggal pantun dari “Cerita Pantun Sunda”. Penggalan pantun itu menjadi jiwa Yayasan Kebudayaan Rancagé yang didirikan oleh sastrawan Ajip Rosidi bersama budayawan lainnya pada 1993. Pantun ini juga menjadi salah satu prinsip Hawe dalam melestarikan dan mengembangkan budaya Sunda.

“Secara personal saya berpendapat, budaya setempat mesti dikelola. Itu bisa dilakukan dengan menjaga relevansinya terhadap kehidupan universal. Hanya dengan cara itu, budaya tidak kehilangan potensi sebagai pemberi inspirasi bagi manusia untuk merefleksikan diri supaya lebih kreatif dan budaya tidak punah,” kata Hawe di Perpustakaan Ajip Ro sidi, Bandung, Jawa Barat, Senin (14/6/2021).

Gelar sebagai budayawan Sunda disematkan pada Hawe sejak 2000-an. Pertanyaan tentang gelar itu membuat Hawe tersipu. Dengan rendah hati ia mengatakan, dirinya hanyalah orang yang rajin menulis. Tulisan Hawe bukan tulisan sembarangan, melainkan akumulasi dari pengetahuan dan pengalaman panjang. Ia merekam banyak jejak perjalanan budaya, sastra, dan bahasa Sunda. Ia juga berusaha meneropong kesundaan dengan lebih segar melalui pembacaan atas simbol-simbol yang samar.

Kecenderungan itu, antara lain, terlihat dalam karya Hawe berjudul Sunda Abad Ke-19: Tafsir atas Ilustrasi-ilustrasi Junghuhn (2019) yang berusaha menggali representasi visual lanskap alam Sunda abad ke-19 dari gambar Franz Wilhelm Junghuhn. Sementara itu, Bocah Sunda di Mata Belanda (2019) menginterpretasi penggambaran anak Sunda dari ilustrasi Roesdi djeung Misnem.

Setidaknya sudah 20 buku yang ditulis Hawe sendiri atau bersama penulis lain. Jumlah ini belum termasuk buku yang ia terjemahkan dan sunting serta puluhan. artikel di surat kabar, jurnal, serta esai berbahasa Sunda.

Hawe lebih sering menggunakan teks sebagai medium karena bahasa adalah kunci dalam melestarikan budaya Sunda. Berbeda dengan budaya Bali yang identik dengan ritual upacara keagamaan, fondasi budaya Sunda adalah bahasa dan karya sastra.

“Dari bahasa, kita bisa mempelajari etos, etika, dan filsafat Sunda yang mulai terkikis. Apalagi pada masyarakat Sunda saat ini, nilai kesundaan memudar. Itu terlihat dari polarisasi selama pilpres. Padahal, ada ungkapan, memelihara kejernihan di antara dua kekeruhan,” ujar Hawe yang terlibat dalam berbagai penelitian tentang masyarakat Sunda. Ia, antara lain, membantu Julian Millie dari Monash University yang meneliti Haji Hasan Mustapa, sastrawan besar Sunda.

Banyak garis merah yang Hawe temukan selama meneliti budaya Sunda dari segi gambar, kata, dan lanskap. Salah satunya, kata Hawe, terkait prinsip hidup orang Sunda yang menghargai harmoni dengan alam, yakni hirup cicing, hirup nyaring, hirup eling. Masyarakat adat di Kasepuhan Ciptagelar, contohnya, tidak boleh menjual padi karena menanam padi adalah darma manusia di Bumi.

Bocah Cisalak

Hawe lahir di Desa Cisalak, sekitar 40 kilometer dari Tangkubanparahu, pada 1968. Di daerah bekas perkebunan teh itu, ia tumbuh bersama ayah yang bekerja di kantor camat. Sang ibu mengurus rumah tangga, dan enam saudara kandung. Karena tidak ada teman sebaya, ia menghabiskan waktu membaca buku di taman bacaan ayahnya.

Hobi membaca ini membawa Hawe ke jalan hidup yang lebih jauh dari ekspektasi orangtuanya. Ayahnya semula berharap Hawe menjadi camat atau insinyur pertanian. Nyatanya, gara-gara membaca cerpen kritis karya Mochtar Lubis, Hawe ogah menjadi pegawai pemerintahan. Ia memilih kuliah di Jurusan Jurnalistik Universitas Padjadjaran, Bandung, pada 1987. Setelah lulus, ia bekerja sebagai wartawan di Jakarta pada periode 1995-2000.

Pilihan hidup Hawe membuat hubungan dengan ayah sempat merenggang. Profesi wartawan waktu itu dianggap identik dengan kerjaan ngomongin pejabat. Sungguh miris lantaran sang ayah adalah camat teladan yang pernah diundang ke Istana. Setelah era Reformasi, anggapan ayah Hawe soal profesi “kuli tinta” membaik.

Ketertarikannya pada sastra Sunda mendorong ia mendirikan Komunitas Dangiang yang menerbitkan esai mengenai kebudayaan Sunda pada 1999. Sayang, komunitas ini hanya berumur seumur jagung. Belakangan, bertemu dengan Ajip Rosidi yang menuntunnya menjadi editor di Dunia Pustaka Jaya (2000-2002). Dari sini ia menyelami dunia penerbitan, kesusastraan, dan budaya Sunda lebih dalam.

Terpengaruh Ajip, dia mulai menulis dalam bahasa Sunda. “Sebelumnya saya tidak bisa menulis bahasa Sunda meskipun selalu berbicara dengan orangtua dalam bahasa Sunda,” ujar Hawe yang kemudian membantu Yayasan Kebudayaan Rancagé yang didirikan Ajip. Di Yayasan Rancagé, Hawe menjadi juri untuk Hadiah Sastra Rancagé kategori Sastra Sunda.

Sebagai orang yang menyelami budaya Sunda, ia optimistis dengan perkembangan budaya Sunda di masa mendatang. Ia melihat ada adaptasi bahasa Sunda di masyarakat sekarang ini. “Saya menemukan banyak ungkapan dalam bahasa Sunda tetap muncul di ruang publik, seperti Wi-Fi ditulis waifai, malahan kata aing tiba-tiba populer di kota besar,” ujarnya.

Meski diratapi, lanjut Hawe, elemen budaya Sunda ternyata beradaptasi dengan caranya sendiri.

 

Sumber:

Rithaony Hutajulu Penyambung Rantai Regenerasi Musik Tradisi.Kompas.19 Juni 2021.Hal.16

Pemain musik tradisi Batak kian berkurang lantaran regenerasi berjalan lambat. Banyak pemain musik tradisi yang justru melarang anaknya meneruskannya karena tidak menjanjikan secara ekonomi. Dalam situasi seperti itu, Rithaony Hutajulu (57) menggairahkan kembali regenerasi itu. Para pemain musik tradisi dia carikan panggung sampai ke Europalia di Spanyol.

Semula, amat sulit mencari anak muda pemain musik tradisi Batak. Pada upacara adat seperti Sipaha Lima atau Mardebata sebagai bagian dari ritual agama lama orang Batak, Ugamo Malim, misalnya, nyaris tak ada anak muda yang memainkan alat musik Batak mengiringi ritual tersebut.

Sebagai akademisi yang lahir dan besar di tanah Batak, Ritha, sapaan akrab Rithaony Hutajulu, khawatir suatu saat tak ada lagi orang Batak yang memainkan alat musik tradisi. Ia sadar, untuk bisa memainkan musik tradisi, Batak, seperti taganing, sarune, dan hasapi, tidak hanya butuh kemampuan teknis. “Juga perlu pengetahuan tentang budaya, upacaranya. Dia harus tahu apa yang dimainkan untuk upacara apa. Ini sudah sulit menemukan generasi muda. Sementara untuk belajar musik tradisi, gondang khususnya, di Batak itu butuh waktu lama,” kata Ritha.

Dalam tradisi Batak, anak muda yang belajar menjadi pemain musik tradisi harus tinggal bersama dengan pemusik Batak senior selama bertahun-tahun. Itu pun belum tentu diberi kepercayaan untuk memegang alat musik. Mereka juga harus membantu bekerja di sawah atau mengangkat alat musik saat hendak dimainkan. Proses ini di perlukan untuk menanamkan tradisi berikut sistem pengetahuannya. Selain itu, “Guru dan murid harus punya kepatuhan dan bonding yang kuat, juga cara belajar yang berbeda. Dengan melihat saja itu proses belajar,” ujar Ritha.

Masalah lainnya, para pemain alat musik tadisional ini, misalnya pargonsi (pemain gondang), sering kali tak ingin anaknya juga. menjadi pargonsi. Alasannya, menjadi pargonsi itu tak menentu penghasilannya karena hanya mengandalkan pita-pita alias saweran penonton.

Faktor-faktor di atas menyebabkan banyak maestro pemain musik tradisi makin berkurang karena terputusnya rantai regenerasi. “Juga ada pelarangan-pelarangan dari lembaga agama,” kata. Ritha yang menjelaskan beberapa lembaga agama modern menilai musik tradisi bagian dari pemujaan setan atau kemusyrikan.

Kesadaran tradisi

Kecintaan terhadap musik sudah lama ada pada diri Ritha. Pada 1980-an dia penyanyi pop lewat kelompok RIS Trio. Amat tenar di Medan kala itu karena sering muncul di TVRI menyanyikan lagu-lagu ABBA dan se kelasnya. Dia kuliah mengambil jurusan etnomusikologi tahun 1982 di Universitas Sumatera Utara. Ia dikirim ke Bali dan Jawa untuk memahami tradisi, terutama gamelan. Di situlah Ritha memahami kekayaan musik tradisi lalu mencintainya.

Latar belakang itu membuat Ritha memanggul dorongan sekaligus beban menjaga keber langsungan musik tradisi Batak.

Musik tradisi Batak bisa mati lantaran banyak pemainnya meninggal sebelum mewariskan keterampilan dan pengetahuannya. Agar hal itu tidak terjadi, Ritha lalu mengajukan proposal penelitian dan pendokumentasian musik tradisi pada 2001 sampai 2003 kepada The Ford Foundation. Dia menggali semua unsur dalam musik itu. Misalnya untuk Batak Toba mencakup gondang hasapi, gondang Batak Toba, uning-uningan, opera Batak, sampai nyanyian-nyayiannya.

Sejak tahun 2007 Ritha merancang program revitalisasi musik tradisi Batak dengan bantuan dana dari The Ford Foundation. Ia mencari dan menemukan tujuh pemain musik tradisi yang sudah sepuh untuk dijadikan guru. Setiap guru dia minta mencari tiga murid untuk diajari alat yang berbeda, seperti gondang, serune, taganing, dan garantung. Baik guru maupun murid mendapat honor dan biaya transportasi serta disediakan alat musik. Mereka berlatih sepekan sekali secara tatap muka guru dan tiga muridnya. Lalu sebulan sekali para guru kumpul bersama para murid bersamaan. Itu berjalan selama dua tahun. “Mereka latihan memainkan ensambel, itu intinya. Jadi, harus bertemu. Saya monitoring dan merekam setiap bulan tentang perkembangan teknik,” kata Rita.

Rantai regenerasi Ritha sambung lagi. Hampir semua murid itu akhirnya menjadi pemain alat musik tradisi. Bahkan, tak sedikit yang mampu bermain di ranah ritual, sebuah fase paling sulit dalam permainan alat musik tradisi karena mereka juga harus menghayati makna setiap bunyi.

Bahkan, dua dari murid-murid itu pada 2017 dibawa Ritha bersama kelompok Mataniari yang dipimpinnya dengan sponsor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Pariwisata ke Festival Seni Europalia, sebuah ajang bergengsi. Mereka tampil di Belanda, Belgi, dan Spanyol. Europalia menjadi salah satu ajang pembuktian bahwa regenerasi pemain musik tradisi Batak masih berlangsung.

Ritha juga mengembangkan revitalisasi musik tradisi, khususnya Batak, dengan mempromosikan lewat pertunjukan musik Mataniari dalam beberapa festival musik, seperti Kongres Kebudayaan 2018 dan Pekan Kebudayaan Nasional 2020. Juga menggagas Festival World Music di Danau Toba “Toba Caldera World Music Festival” sejak 2019 yang di dalamnya, antara lain, menampilkan musik Batak. Selain itu, dia juga menulis buku-buku tentang musik tradisi Batak.

Semua upaya Ritha itu menyebabkan regenerasi pemain musik tradisi terselamatkan. Tentu masih butuh perjuangan panjang untuk mempertahankan keberlanjutannya. Pada titik itulah, Ritha butuh banyak sokongan.

 

Sumber: Kompas.19 Juni 2021.Hal.16