Kebaikan Hati Sang Peneliti. Kompas. 22 Juli 2021. Hal 16

Nama Sarah Catherine Gilbert tengah melejit di dunia. Di ajang turnamen tenis Grand Slam Wimbledon, ia mendapatkan penghormatan khusus. Bagaimana guru besar vaksinologi Universitas Oxford itu bisa dihormati sedemikian rupa?

Sarah Gilbert adalah guru besar vaksinologi Universitas Oxford yang memimpin tim menemukan vaksin pertama untuk pandemi Covid-19. Vaksin itu kemudian dikembangkan bersama perusahaan farmasi AstraZeneca dan kini dikenal dengan nama vaksin Oxford/AstraZeneca

Gilbert bukan orang baru dalam penelitian tentang vaksin. Ibu dari tiga anak kembar ini memiliki pengalaman selama 25 tahun dalam pengembangan vaksin. Tidak mengherankan ketika pande- mi Covid-19 terjadi, ia dipercaya sebagai pemimpin tim mengembangkan vaksin untuk virus SARS-CoV-2 atau virus korona jenis baru

Gilbert pertama kali datang ke Oxford, Inggris untuk bekerja sebagai peneliti pasca- doktoral tahun 1994 bermodalkan gelar doktor di bidang biokomia dari Universitas Hull. Tahun 1999, ia bergabung menjadi dosen tetap sekaligus salah satu peneliti utama di Institut Jenner, lembaga di bawah Universitas Oxford yang meneliti vaksin dan obat-obatan.

Menurut biodata di laman resmi Oxford, di lembaga tersebut ia terlibat dalam pengembangan sejumlah vaksin untuk penyakit malaria, in fluenza, demam Nipah, demam Lassa, demam Lembah Rift, dan sindrom pernapasan akut Timur Tengah (MERS).

Tahun 2007, Gilbert dan tim memperoleh hibah untuk melakukan penelitian lebih mendalam mengenai vaksin untuk penyakit-penyakit yang telah tereradikasi tetapi masih bisa muncul kembali apabila manusia tidak melakukan pencegahan. Berkat hibah ini, ia dan tim bisa mengembangkan vaksin influenza universal yang bertujuan mengobati semua jenis influenza.

Dalam pemaparannya di majalah sains, Splice, ia menerangkan bahwa influenza masih menjadi pandemi walaupun di negara-negara Barat masyarakat umumnya telah diimunisasi setiap tahun. Selain itu, influenza merupakan penyakit yang bermutasi sangat cepat

Oleh sebab itu, vaksin yang dibuat Gilbert dan kolega berfungsi dengan cara menabah jumlah sel T, yakni sel  daya tahan tubuh, yang spesifik terbentuk apabila terkena virus influenza. Vaksin ini diujicobakan kepada 500 orang berusia 65 tahun ke atas di Inggris per April 2017 dan penelitiannya masih berlangsung.

Kajian vaksin influenza universal itulah yang mendasari tim Gilbert di Vacci tech, lembaga intra Universitas Oxford yang ia dirikan, untuk mengembangkan vak sin “Penyakit X”. Ini istilah untuk penyakit yang belum muncul.

Ketika kasus-kasus awal Covid-19, yang saat itu dikenal dengan istilah Pneumonia Wuhan, diberitakan di media arus utama pada akhir 2019, Gilbert beserta tim menyimpulkan, harus ada alternatif pengobatan untuk berjaga-jaga jika penyakit ini menyebar. Mereka mengembangkan vaksin baku berbasis adeno virus, sejenis virus yang mengakibatkan penyakit dengan gejala seperti flu.

Adenovirus ini dirancang agar tak bisa berkembang biak ketika disuntikkan ke dalam tubuh manusia. Di dalam ade novirus ada tambahan protein yang diambil dari duri per mukaan virus korona. Wal hasil, adenovirus ini akan melepas protein tersebut di da lam tubuh manusia dan men ciptakan daya tahan terhadap infeksi.

“Memang rumit karena belum ada vaksin untuk virus korona pada manusia. Vaksin virus korona selama ini hanya untuk unggas dan bovinae (keluarga sapi, kerbau, dan antelop),” kata Gilbert dalam wawancara dengan harian The Independent pada Maret 2021.

Vaksin ini diberi kode AZD1222 dan mulai diuji klinis pada April 2020. Umumnya, uji klinis memakan waktu hingga lima tahun. Tim penguji tak akan memulai kegiatan sebelum mereka mengumpulkan sukarelawan sesuai kuota dan persyaratan kesehatan.

“Kami memakai pendekatan yang berbeda dengan mengiklankan pencarian sukarelawan dan langsung melakukan uji klinis sembari terus menambah sukarelawan,” kata Gilbert.

Uji klinis yang memakan waktu empat bulan. Per September 2020 vaksin yang kemudian diproduksi bekerja sama dengan AstraZeneca ini menjadi vaksin pertama yang disetujui Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk pencegahan Covid-19.

Berdasarkan data Pemerintah Inggris per Juni 2021, di negara tersebut vaksin Oxford/AstraZeneca ini 92 persen efektif mencegah masyarakat agar tidak perlu dirawat di rumah sakit aki bat Covid-19. Dalam uji klinis, efikasi vaksin ini 74 persen, tetapi pada kenyataan setelah dilakukan imunisasi massal, angkanya naik menjadi 90 persen.

Meskipun demikian, Gil- bert dan koleganya tidak menyatakan bahwa orang orang yang disuntik vaksin itu akan kebal sepenuhnya terhadap Covid-19. Karena itu, ia menekankan bahwa memakai masker, menjaga jarak, dan sering member

Dalam dua wawancara berbeda di LBC dan I News pekan lalu, Gilbert mendorong Imunisasi Covid-19 di seluruh dunia. Ia menjelas kan, situasi tidak akan bisa kembali normal apabila daya tahan tubuh massal berskala global tidak terwujud.

Masalahnya, vaksinasi Covid-19 berjalan timpang Berdasarkan Our World in Data Juli 2021, secara total negara-negara maju telah memvaksinasi 50 persen penduduknya. Sebaliknya, negara-negara miskin baru 1 persen. Gilbert khawatir jika kesenjangan vaksinasi global masih terjadi, akan ada mutasi galur-galur baru yang tidak bisa diatasi oleh vaksin yang tersedia sekarang

Kepada BBC, April 2020 Gilbert menegaskan, hak atas kekayaan intelektual (HAKI) vaksin Oxford/AstraZeneca milik Universitas Oxford. Ia dan koleganya kan ke seluruh penjuru dunia. Bahkan, saat itu Gilbert mengatakan belum ada kepastian Inggris akan memperoleh hasil produksi pertama karena bisa saja produksi pertama justru di kirim ke negara-negara yang lebih memerlukan. Vaksin ini lalu diproduksi secara massal oleh perusahaan As traZeneca.

Pada Konferensi Tingkat Tinggi G-7 dibahas tentang penangguhan HAKI semua merek vaksin Covid-19 Perusahaan AstraZeneca termasuk yang enggan melepas paten dan royalti itu. Namun, Gilbert beserta Vaccitech yang memegang sebagian HAKI terus mendorong penangguhan.

Upayanya tidak sia-sia. Sekarang selain di Inggris, vaksin itu juga diproduksi Serum Institute di India dan Siam Bioscience di Thailand. Kemungkinan vaksin itu juga akan diproduksi di Benua Afrika.

Atas prinsipnya ini, Gilbert mendapatkan penghormatan secara global, termasuk dari penonton dan orang-orang yang hadir di turnamen Grand Slam Wimbledon.

 

Sumber: Kompas. 22 Juli 2021. Hal 16

Tangan Penyelamat Italia. Kompas. 14 Juli 2021. Hal. 16

Ketika menyaksikan laga final Italia melawan Inggris di Stadion Wembley akhir pekan lalu, Presiden Italia Sergio Mattarella diam seribu bahasa sepanjang drama adu penalti di tribune naratama. Setelah kiper Italia, Gianluigi Donnarumma, berhasil menepis sepakan pemain Inggris, Bukayo Saka, Mattarella mengangkat tangan ke udara dan tersenyum lebar.

“Saya sangat tidak percaya tendangan Jorginho gagal, tetapi tangan Donnarumma menyelamatkan italia,” ujar Mattarella kepada para tamu kehormatan dari Italia yang duduk di sekitarnya, salah satunya Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) Gabriele Gravina.

Penampilan Donnarumma di turnamen perdana sebagai kiper utama Italia memang patut diacungi  dua jempol. Kiper setinggi 1,96 meter itu memang kalah dalam catatan kebobolan dibandingkan Jordan Pickford, penjaga gawang Inggris. Donnarumma kemasukan empat sedangkan gol, seda Pickford ha memungut bola dari hanya dua kali gawangnya.

Akan tetapi, beban lawan yang dihadapi Italia dan Donnarumma jauh lebih berat dibandingkan Inggris. “Tiga Singa” menyingkirkan Jerman, pemilik tiga gelar Piala di babak besar, 16 selanjutnya tim kuda hitam, dan Denmark. Adapun seperti Ukraina dan Den Italia, untuk menembus partai puncak, harus mer adapi Belgia dan Spanyol menghadapi yang bermain menyerang dengan barisan lini i depan terbaik di Eropa saat ini.

Di sisi lain, Donnarumma juga tampil amat konsisten dalam dua drama adu penalti yang dihadapi “Gli Azzurri”, Sebelum laga final, tidak ada tim yang mampu menang dua kali beruntun dalam adu di Piala Eropa 2020. Ber penalti d 2020, untung, Italia memiliki Donnarumma onnart yang mampu mengakhiri kutukan itu.

Dari sembilan tendangan penalti yang dihadapi ketika melawan Spanyol dan Inggris, Donnarumma mampu menepis tiga di antaranya. Ketiga tendangan itu dieksekusi oleh Alvaro Morata, penyerang Spanyol; lalu Saka dan Jadon Sancho dari Inggris

Keberhasilan Donnarumma itu bukan sebuah kebetulan. Sejak menembus tim utama AC Milan pada musim 2015-2016, kiper yang akrab disapa Gigio itu telah menghadapi 40 penalti dan mampu menggagalkan 14 eksekusi.

“Kami tenang ketika menghadapi adu penalti karena memiliki Gigie,” kata kapten dan bek tengah Italia, Giorgio Chiellini, dilansir Corriere dello Sport.

Chiellini menambahkan, “Saya beruntung pernah bermain dengan Buffon, kini tampil bersama Donnarumma. Mereka kiper yang sama-sama luar biasa.”

Meskipun menjadi keberhasilan Italia pilar penting bagi Italia mengangkat trofi Henri Delaunay untuk kali keduanya, Donnarumma terkejut ketika namanya dipanggil untuk menerima trofi pemain terbaik turnamen dari Presiden UEFA Aleksander Ceferin. Bek tengah Leonardo Bonucci sampai menepuk kepala Donnarumma untuk mengingatkan rekan setimnya itu agar menuju podium juara.

“Jika saya pemain terbaik turnamen ini. saya perlu berterima kasih kepada Bonucci dan Chiellini,” ucap kiper yang akan bergabung dengan Paris Saint-Germain di musim panas ini dengan status bebas transfer.

Donnarumma yang rendah hati pun menjadi kiper pertama yang dinobatkan menjadi kiper sebagai pemain terbaik Piala Eropa. Selain itu, ia juga menjadi kiper utama termuda yang mampu membawa Gli Azzurri menjadi juara. Ia bergabung dengan empat seniornya yang telah lebih dulu mempersembahkan trofi bagi Italia.

Keempat kiper legendaris Italia itu ialah Gianpiero Combi (Piala Dunia 1934), Aldo Olivieri (Piala Dunia 1938), Dino Zoff (Piala Eropa 1968 dan Piala Dunia 1982), serta Gianluigi Buffon (Piala Dunia 2006). Dengan usia yang baru menginjak 22 tahun, Donnarumma masih memiliki kesempatan untuk menyamai prestasi Zoff.

Keluarga kiper

Donnarumma memang memiliki bakat yang luar biasa yang menjadi bekalnya menjadi salah satu kiper terbaik di Eropa, bahkan dunia. Potensi besar Donnarumma diketahui langsung oleh sang paman, Enrico Alfano, mantan kiper Juve Stabia. Alfano pertama kali mengajak keponakannya itu ke lapangan sepak bola yang berada di kampung halaman mereka, Castellammare di Stabia, Napoli.

“Pamanku membawa saya ke lapangan, memegang tangan saya, dan memberikan hasrat untuk sepak bola. Sejak saat itu saya selalu bermain sebagai kiper,” kata Donnarumma di laman FIGC. Namun, Alfano tidak bisa mendampingi dan melihat karier memesona keponakannya itu sebab Alfano tutup usia pada 21 Juni 2009.

Tak hanya paman, Gigio juga dikelilingi kiper lain. di keluarganya, yaitu sang kakak, Antonio Donnarumma. Antonio sempat membela Milan pada periode 2008-2012, kemudian bergabung kembali dengan “Si Merah Hitam” untuk menjadi pelapis Gigio pada musim 2017-2018 hingga akhir musim 2020-2021. Namun, Antonio tak sehebat adik bungsunya itu karena tidak pernah mencatat Penampilan perdananya bagi Milan tercipta pada laga me lawan Sassuolo di Stadion San Siro pada 25 Oktober 2015. Ketika itu, usianya baru 16 tahun dan 242 hari. Catatan itu men jadikannya kiper termuda ke dua yang menjalani debut di kompetisi tertinggi Italia setelah Giuseppe Sacchi. Adapun Sacchi lebih muda 13 hari ketika menjalani debut untuk Milan pada 25 Oktober 1942.

Pada 2016, ketika berusia 17 tahun dan 189 hari, ia telah bermain dengan seragam Italia. Ia menjadi kiper termuda timnas Italia. Hingga kini, Donnarumma telah 33 kali membela Gli Azzurri.

“Bagi saya, Gigie nemiliki potensi untuk memenangi Ballon d’Or,” kata Vincenco Mon tella, Pelatih Milan pada Juli 2016-November 2017.

Setelah mempersembahkan trofi Piala Eropa 2020, Don narumma akan memasuki babak baru dalam kariernya dengan PSG. Bersama raksasa Perancis itu, Donnarumma berpeluang merengkuh gelar liga perdana sekaligus bisa menjadi pesaing serius untuk juara Liga Champions Eropa.

Selain itu, ia pun berpeluang menutup tahun ini dengan persembahan satu lagi trofi untuk Italia, yaitu Liga Nasional Eropa. Italia akan kembali berjumpa Spanyol di semifinal Liga Nasional Eropa pada 7 Oktober. mendatang. Dengan usia yang baru menginjak 22 tahun, Donnarumma berpeluang meraih lebih banyak trofi di level klub dan timnas, kemudian meme cahkan banyak rekor pribadi.

 

Sumber: Kompas. 14 Juli 2021. Hal. 16

Gairah Merevitalisasi Callina. Kompas. 10 Juli 2021. Hal. 16

Kiki Wijarnako (42) menjembatani petani kecil untuk memasok pepaya callina ke pasar modern. Ia tak patah semangat meski usahanya sempat jatuh lantaran serangan penyakit. Budidaya inovasi nasional itu dipertahankan dengan dilandasi tekad untuk mengembalikan kejayaan sentranya.

Kiki menyuguhkan callina yang dipetik dari kebunnya. Legit yang tak menusuk kontan menyergap lidah. Pepaya itu sungguh terasa segar pada siang yang terik di Desa Mekarsari, Kecamatan Rancabungur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (8/7/2021).

Potongan pepaya oranye bergradasi yang cantik itu lembut dan berair. Empuknya buah selaras dengan keramahan Kiki yang menjelaskan kebunnya seluas 3.000 meter persegi. Di belakang rumahnya itu, sekitar 500 pohon pepaya tampak rimbun.

“Pepaya yang dipasok petani mitra tak kurang dari 10 ton per hari,” kata Kiki, menunjuk tumpukan pepaya di gudangnya. Truk-truk hilir mudik di pelataran parkir.

“Ada toko baru bisa ambil 3 ton per minggu. Dikirim dua kali,” katanya. Dengan semringah, ia mengungkap kan tingginya permintaan callina. Sesekali, ada persediaan berlebih, tetapi tak jadi persoalan bagi Kiki.

“Bisa disalurkan ke pasar tradisional atau pabrik koktail,” ujarnya. Setiap hari, penerimaan dan pengiriman pepaya berlangsung lewat kemitraan Kiki dengan sekitar 100 petani.

Jejaring Kiki yang luas meliputi Kabupaten Cianjur dan Sukabumi di Jabar hingga Kabupaten Tanggamus, Lampung Timur, dan Lam pung Selatan di Lampung, la mejembatani mitra-mitranya dengan pasar. Callina dikirim untuk 40 pihak, mulai dari pedagang di pasar basah hingga pusat perbelan jaan.

Kiki tak sekadar menampung komoditas, tetapi juga membina petani, mulai dari pembibitan hingga panen, agar standar mu tunya terpenuhi. “Dibantu pupuk juga meski tak banyak. Kalau belum tahu membudidayakan pepaya, petani diarahkan. Saya edukasi sampai pasca panen supaya menaikkan nilai jualnya,” ucap Kiki.

Penampilan, rasa, dan ukuran sangat berpengaruh terhadap harga Kiki membimbing petani untuk mempertahankan kualitas dan kontinuitas. “Kalau pepaya bagus, tetapi produksinya tak kontinu, percuma,” katanya.

Konsistensi Kiki menjaga mutu komo ditasnya terlihat di sejumlah toko. Pepaya itu, misalnya, dikirim ke Kebun Buah yang rapi, bersih, dan berpendingin udara di Bekasi, Jabar

Permintaan callina paling tinggi dibandingkan dengan pepaya lain. “Stoknya sering kurang,” ujar Supervisor Area Kebun Buah Wilayah Harapan Indah Joko Purwanto. Sementara itu, di toko buah yang termasuk jaringan ternama, di Kebun Jeruk, Jakarta, callina ditempatkan di depan pintu masuk.

Jadi pelarian

Callina hanya sekelumit dari khazanah buah-buahan Nusantara yang menjadi kampiun di rak-rak toko mentereng Mampu bersaing dengan komoditas impor, karya anak bangsa ini kerap disebut IPB 9 karena karya IPB University.

 

Berpijak pada kebanggaan itu, semangat Kiki untuk memuliakan callina terus menyala. Ia membudidayakan pepaya tersebut mulai tahun 2003. “Sebenarnya, pertanian malah jadi pelarian saya. Dulu, saya agen makanan ringan. Pernah juga jadi penjual mesin bahan bangunan,” katanya.

Semua usaha itu gagal hingga Kiki frustrasi. Ia pun berdiam di rumah dan mengamati keluarganya yang bertani. “Orangtua dan paman saya petani. Saya sedikit depresi lalu bantu-bantu mereka saja. Ayah saya juga pengepul meski hanya di kampung,” katanya. la sempat menanam singkong, jagung, dan pepaya lain sebelum terpikat callina. Harga callina ternyata menggiurkan. “Waktu itu, harga callina Rp 1500 per kilogram (kg). Harga pepaya lain Rp 500 per kg. Saya mulai bermitra dengan petani lokal,” katanya.

Kiki bahkan membantu mereka dengan pinjaman modal, bibit, pupuk, dan penyemprotan obat-obatan. Ia juga menyampai kan panduan.

Ia kemudian menikmati masa keemasan budidaya callina. Rancabungur lalu dikenal sebagai sentra pepaya itu. Jumlah pohon Kiki meningkat dari 275 batang menjadi 10.000 batang pada 2007. Sekali panen, setiap pohon meng hasilkan hingga 150 pepaya dengan berat 1-2 kg.

Kejayaan memudar

Busuk batang mendadak melanda perkebunan Kiki. Pohon membusuk dalam sebulan pada 2008 “Lahan harus diistirahatkan lebih dari lima tahun, padahal pasar sudah tersedia,” ujarnya.

la menjaga kepercayaan konsumennya dengan menampung callina dari provinsi lain, termasuk Jawa Tengah dan Jawa Timur. “Waktu itu, saya belum punya merek sendiri. Akhirnya, saya bisa menembus toko-toko mulai tahun 2011,” katanya.

Pasokan terus berjalan meski ia kerap gamang. Busuk batang sewaktu-waktu bisa menyerang perkebunan mitra Kiki. “Petani di Palabuhanratu (Kabupaten Suka bumi) sekarang hanya menghasilkan kurang dari 50 persen dari produksi normal,” katanya.

Petani ibarat kucing-kucingan dengan busuk batang Lahan kebun masih luas, tetapi mereka harus sering berpindah agar pepohonannya terhindar dari penyakit itu. “Saya sangat berharap, obat untuk mengatasi busuk batang bisa ditemukan,” katanya.

la bergeming menanam callina meski sisa pohonnya saat ini sewaktu-waktu bisa mati karena busuk batang. Gairah Kiki untuk merevitalisasi Rancabungur tak pernah padam. “Kalau solusi sudah ditemukan, saya tancap gas lagi mengintensifkan budidaya callina di Rancabungur,” ujarnya.

Risiko budidaya callina sangat tinggi, tetapi Kiki justru melihat celah untuk meraih peluang.

 

Sumber: Kompas. 10 Juli 2021. Hal. 16

Evolusi Sang Raksasa Yunani. Kompas. 23 Juli 2021. Hal 16

Seusai menjuarai NBA pertama kali bersama Milwaukee Bucks, Giannis Antetokounmpo (26) sulit membedakan kenyataan dan khayalan. Lelaki bertubuh kekar ini merasa seperti masih bermimpi. Antetokounmpo, yang dulu bocah miskin dan kurang gizi, kini telah menjelma menjadi “raksasa” juara NBA.

Antetokounmpo terduduk di bangku cadangan, saat rekan setimnya berpesta di lapangan. Tatapan matanya kosong, air matanya tiba-tiba mengalir. Lalu, dia menutup wajahnya dengan handuk. “Untuk mencapai titik ini adalah sebuah hal yang gila, seperti tidak nyata,” katanya seusai mengantar Bucks mengalahkan Phoenix Suns (4-2) dalam seri final NBA, Rabu (21/7/2021).

Wajar Antetokounmpo merasa masih bermimpi. Sejak kecil, hanya mimpi yang menjadi sandaran hidupnya. Anak kedua dari -tiga bersaudara, dari orangtua asal Nigeria yang jadi imigran di Yunani ini, berasal dari keluarga yang hidup dalam kemiskinan.

Antetokounmpo menjadi pemenang dalam NBA sekaligus meraih Most Valuable Player (MVP) final. Dua gelar, tim dan individu, itu merupakan capaian paling diburu para pebasket di jagat raya. Tujuan realistis Antetokounmpo pertama kali diambil Bucks pada draft 2013 hanyalah untuk menghidupi keluarga. Tanpa terasa, dia telah melampaui itu.

“Saya tidak pernah menyangka akan mencapainya pada usia 26 tahun. Perjalanan ini sudah sangat jauh dari tujuan untuk membantu keluarga keluar dari kesulitan ekonomi,” tulisnya. Malam itu seusai juara, Antetoko unmpo diperlakukan seperti pahlawan perang oleh warga Kota Milwaukee. Para pendukung di dalam Arena Fiserv Forum berisi 17431 orang dan di luar arena sekitar 65.000 orang mengelu-elukan namanya.

Mereka akhirnya punya alasan untuk berpesta lagi setelah Bucks terakhir kali juara pada setengah abad lalu, 1971. Bagi tim dari kota yang bukan pusat bola basket seperti Bucks, juara NBA sebuah kebahagiaan. Mereka hanya bisa juara saat punya pemain berta lenta dan berkelas mega bintang.

Talenta megabintang

Talenta pemain seperti itulah yang melekat pada sosok Kareem Abdul-Jabbar (1971) dan Ante tokounmpo (sekarang). “Ini (trofi juara NBA) harus membuat setiap orang, setiap anak, siapa pun di seluruh dunia percaya pada mimpi mereka. Percaya pada apa yang Anda lakukan dan teruslah bekerja,” pungkas Antetokounmpo.

Antetokounmpo saat ini bagaikan sosok manusia berbeda jika dibandingkan dengan pertama kali dikontrak Bucks, delapan tahun lalu. Perbedaan itu seperti melihat transformasi dari tokoh pahlawan super Marvel, yaitu dari sosok manusia (Bruce Banner) menjadi sosok monster (Hulk). Tubuhnya kurus kering pada 2013. Dia hanya memiliki berat 88,9 kilogram dalam tubuh setinggi 2,08 meter.

Kata penulis The Ringer, Mirin Fader, pada malam draft seluruh klub menyadari sang pemain mengalami malnutrisi. Bucks memilihnya karena tidak percaya pada bakat fisik dan tinggi pemain kelahiran Athena tersebut. Mal nutrisi itu berasal dari kehidupan keras Antetokounmpo di Yunani. Dia sering tidak sarapan ketika berangkat sekolah. Ia berkali-kali baru bisa mengisi perutnya setelah latihan, pukul 11 malam.

Ibunya, Veronica, adalah seorang pengurus bayi. Mendiang ayah, Charles, seorang tukang reparasi dari rumah ke rumah. Penghasilan itu tak cukup untuk menghidupi tiga anak. Alhasil, Antetokounmpo dan dua saudaranya juga harus mencari uang dengan menjual aksesori di jalan. Beruntung, pada 2007, ia bertemu dengan seorang pelatih amatir bernama Spiros Veliniati.  Sang pelatih melihat bakat besar dalam sosoknya, lalu minta izin kepada ibunya agar bisa melatih Antetokounmpo.

Kemudian, dua saudara Antetokounmpo, Thanasis dan Kostas, juga ikut berlatih. Singkat cerita, bakat mereka tero pemantau bakat NBA. Akhirnya, ketiga bersaudara itu bisa bermain di liga bola basket terbesar di dunia, NBA. Antetokounmpo begitu ke ras berlatih sejak diambil Bucks.

“Saat awal datang kemari, saya sudah mendengar banyak tentang etos kerja saat latihannya. Tetapi, saat saya melihat sendiri, semuanya berbeda. Latihannya jauh lebih keras dari yang saya bayangkan,” kata asisten pelatih Bucks, Andre Sullivan, yang bergabung pada 2018.

Antetokounmpo mencapai potensi fisik terbaiknya berkat gizi terpenuhi dan latihan keras. Tu buhnya kini besar dan penuh otot seperti sosok Hulk. Beratnya naik jadi 109 kg, di tubuh setinggi 2,11 meter.

Tubuh kokoh itu membantu Antetokounmpo untuk menjadi sosok paling dominan di NBA. Gerakannya tak bisa dibendung oleh Suns sepanjang seri final. Dominasi itu ditunjukkan dengan rata-rata sumbangan 35,2 poin, 13,2 rebound, dan lima asis, serta akurasi lemparan 61,1 persen. Sepanjang sejarah final, tidak ada pemain selain Antetokounmpo yang bisa menghasilkan rata-rata minimal 30 poin, 10 rebound, 5 asis, serta akurasi lemparan 60 persen.

Pebasket yang mengawali karier sebagai point guard ini juga semakin dewasa. Musim ini, dia mampu menjadi pemimpin uta ma Bucks. Dia sering memotivasi rekan ketika momen time out. Ia juga memilih bermain sepanjang final meski sempat menderita cedera lutut kiri. Akibat itu, dia harus menjalani perawatan setiap habis laga.

Pelajaran hidup di jalanan juga menjadikannya sosok yang setia. Dia memilih perpanjangan kontrak bersama Bucks selama lima tahun pada awal musim.

Antetokounmpo telah berevo lusi menjadi sosok sempurna. Di usia yang masih muda, dia sudah meraih cincin juara, MVP final, MVP musim reguler (2 kali), dan Defensive Player of The Year. Prestasi itu hanya bisa disamai duo legenda hidup NBA, Jordan dan Hakeem Olajuwon. (AP/AFP)

 

Sumber: Kompas. 23 Juli 2021. Hal 16

Dua Sahabat Pemelihara Literasi. Kompas. 9 Juli 2021. Hal. 16

Meski mulai sepi ditinggalkan pelanggan, dua sahabat, Ntis Sutisna (66) dan Makmur (59), tetap bertahan berjualan buku bekas di Kota Bandung. Bagi mereka, kegiatan ini tidak hanya untuk mencari uang, tetapi juga menjaga agar energi literasi Kota Bandung tidak redup begitu saja.

Meskipun warna buku-buku sudah seraakin menguning, Ntis terus membersihkan dan merapikannya di kios mungil miliknya, Selasa (15/6/2021). Datang sekitar pukul 09.30, dia mulai membukaan penutup setengah kiosnya yang bema “Kios Buku Persada Indah” di Pasa Cihaurgeulis atau lebih dikenal sebagai Pasar Suci di Kota Bandung.

Kios yang kira-kira berukuran 1,5 meter x 2,5 meter tersebut disesaki tumpuk Hanya an buku hingga ke langit-langit. Hanya ada sedikit ruang bagi Ntis untuk bergerak dan memutar badan saat membersihkan seluruh penjuru kios. “Sekarang (pedagang buku) yang masih bertahan di Pasar Suci cuma saya sama toko sebelah,” ujar (pemilik) Ntis yang berjualan di pasar itu sejak dibuka pada 1987.

Pasar buku bekas di sana mengalami masa kejayaan mulai 1990-an hingga awal tahun 2000-an. Saat itu, ada 60 kios buku bekas. Setelah itu, bisnis buku bekas surut. Pedagang buku di sana satu per satu hilang

Dua tahun terakhir, pandemi Covid-19 makinah penjualan buku. Pembeli jarang karena membatasi pergerakan. Pasar mereka pun makin sepi sampai ke lorong-lorongnya. Dampaknya, penjualan buku juga terjun bebas. Ntis mengaku sering pulang dengan tangan hampa lantaran tak ada satu buku pun yang terjual. Kini, kebutuhan kelu arga Ntis ditutup dari penghasilannya sebagai bendahara di Koperasi Pedagang Pasar Cihaurgeulis dan gaji istrinya sebagai guru.

Kondisi ini tidak lantas membuat Ntis meninggalkan buku. Baginya, buku tidak hanya sekadar komoditas dagang yang bisa diganti ketika sudah tidak laku. Dia merasakan jatuh bangun hidup bersama buku yang dikoleksi, disimpan, dan dijual kembali ini. “Saya hidup dari buku, anak-anak juga bisa sekolah karena saya berjualan buku. Sekarang, walaupun ti dak menutupi kebutuhan sehari-hari saya, kios ini akan tetap buka menunggu pembeli dan pembaca buku,” ujarnya.

Spirit untuk mempertahankan buku juga dimiliki oleh Makmur. Lelaki tua berkacamata ini tetap setia menunggu pembeli di salah satu sisi Jalan Cika yang memben pundung Barat. Jalanan yang tang 180 meter ini dikenal sebagai Pasar Buku Bekas Cikapundung. “Saya tidak memikirkan keuntungan lagi. Anak-anak juga sudah meminta saya untuk berhenti berjualan buku, tapi saya tidak mau,” ujarnya sambil tertawa.

Meski berada di tengah kota dan jaraknya tidak sampai 100 meter dari Alun-alun Kota Bandung, kios buku ini seakan terabaikan. Jejeran buku yang disusun rapi di salah satu sisi gedung di Jalan Cikapundung Barat ini tidak dilirik para pejalan kaki. Rabu (16/6/2021) siang “Orang-orang  sudah tidak begitu suka membaca sekarang. Kalau dulu, pasti ada saja yang berhenti karena tertarik dengan buku-buku bekas yang berjejer. Ada yang membeli setelah melihat-lihat, ada juga yang memang sengaja mencari buku,” ujarnya.

Berburu buku

Makmur bercerita sambil mengenang masa lalunya di jalanan itu. Lebih dari 10 tahun dia menikmati manisnya berjual an buku-buku bekas di Pasar Buku Cikapundung. Jalanan ini menjadi salah satu titik utama buku-buku bekas di era 1970-an hingga akhir 1990-an.

Petualangannya di dunia buku bekas bermula pada awal 1980-an. Saat itu, Makmur muda yang hanya lulusan SD diajak salah satu saudaranya merantau ke Bandung dari Cirebon. Ketika itu, dia turut membantu berjualan buku dan majalah di banyak tempat.

“Kalau tidak salah umur saya belum nyampe 20 tahun. Sete- lah beberapa bulan membantu jualan, saya rasa bisnis buku di Kota Bandung cukup bagus. Sa- ya akhirnya memutuskan untuk membuka kios sendiri dan mencari penyuplai sendiri,” ujarnya.

Jalan yang terjal menjadi awal perburuannya. Makmur mencari jejaring buku bekas hingga ke Jakarta. Tidak jarang, dia menginap semalam sampai dua malam di pasar karena saat itu akses Bandung-Jakarta tidak semudah sekarang.

“Pertama-tama, saya dikerjai sama teman. Awalnya sekitar pertengahan tahun 1980-an, dia mengajak saya ke Jakarta. Saya pikir mau dikenalkan ke pe nyuplai. Ternyata, saya diting galkan di Terminal Lapangan Banteng. Akhirnya, saya mencari sendiri,” kenangnya.

Makmur memutuskan ber kelana mencari penyuplai buku ke Pasar Senen yang berjarak 800 meter dari Lapangan Banteng. “Di sini saya juga dikerjai. Jarak sedekat itu saya malah naik bajaj,” katanya.

Jerih payah Makmur selama di Jakarta membuahkan hasil. Dia mendapatkan beberapa pe nyuplai berbagai buku, baik dari dalam maupun luar negeri. Tidak jarang, buku yang dia dapatkan merupakan edisi terbatas sehingga memiliki harga yang lebih tinggi. “Saya minimal ke Jakarta sebulan sekali untuk menambah stok. Tapi, karena tingginya pembeli, kadang buku yang ada lekas habis. Saya bisa menjual puluhan sampai ratusan buku sehari,” ujarnya.

Para pembeli pun tidak hanya berasal dari penikmat buku, tetapi juga pedagang yang mencari buku-buku langka untuk dikumpulkan.

Nama Ntis Sutisna tidak asing bagi Makmur karena mereka kerap saling mengunjungi kios untuk mencari buku-buku. “Dulu kami sering bertemu. Kalau ada buku yang bagus, saya selalu kabari Pak Ntis, begitu juga sebaliknya. Syukurlah, beliau juga seperti saya, masih tetap bertahan bersama buku-buku,” ujarnya.

Ntis pun menuturkan hal senada. Dia berujar, Makmur menjadi salah satu andalannya dalam menyuplai buku-buku bekas berkualitas, terutama un tuk perkuliahan. “Kadang beliau juga beli buku di tempat saya. Jadi, kami saling berbagi saja buku-buku yang dibutuhkan. Biasanya kalau ada buku tentang perkuliahan, saya langsung ambil ke beliau,” ujarnya.

Balas budi

Penjualan yang bagus saat itu menambah kemakmuran bagi Ntis dan Makmur Bahkan, mereka bisa menyekolahkan anak anaknya ke perguruan tinggi. Bagi kedua pria ini, sekarang saatnya untuk membalas budi pada buku-buku yang menjadi penopang hidup mereka.

“Bayangkan saja, saya hanya lulusan SD, tetapi mampu menyekolahkan tiga anak saya. sampai kuliah. Dengan buku-buku ini, anak-anak saya bi sa hidup lebih baik,” ujar Makmur.

Ntis pun berpikir sama. Dia merasa, dengan tetap bertahan, dia bisa menjadi tujuan bagi para penikmat buku-buku bekas. “Sekarang saya sudah tidak memikirkan keuntungan. Yang penting, kami tetap ada saat orang-orang kembali ingin membaca buku. Apalagi bu ku-buku ini bisa meningkatkan budaya literasi di Kota Bandung. Kami akan bertahan,” ujarnya.

 

Sumber: Kompas. 9 Juli 2021. Hal. 16

Bersinar Melewati Tantangan. Kompas 28 Juli 2021. Hal. 16

Sempat didiagnosis mengalami anemia ekstrem, gangguan kecemasan, bahkan sempat nyaris memutuskan berhenti berenang, Yui Ohashi muncul lagi dengan lebih kuat. Semangat, kegigihan, dan perjuangannya mengantar Ohashi meraih emas Olimpiade Tokyo 2020. Ia mampu membuktikan bahwa tak ada yang tak mungkin selama mau berusaha.

Ohashi mengukir kemenangan manis pada hari pertama final renang di Tokyo, Minggu (25/7/2021). Ia mempersembahkan emas pertama untuk negara tuan rumah pada nomor 400 meter gaya ganti putri dengan catatan waktu 4 menit 32,08 detik.

Ia mengalahkan dua perenang AS, Emma Weyant, yang meraih perak dengan selisih waktu 0,68 detik dan Hali Flickinger yang meraih perunggu (4 menit 34,90 detik). Ohashi juga mengalahkan pemegang rekor dunia, Katinka Hosszu, dari Hongaria yang mendominasi pada nomor ini selama delapan tahun terakhir.

Meski perlombaan dimulai tanpa penonton, kegembiraan Ohashi tak berkurang. “Awalnya saya tidak kaget. Kemudian, saya melihat sesuatu yang mengatakan ‘ju-ara Olimpiade’, saat itulah saya rasa sudah menang dan saya jadi sangat gembira. Sejujurnya, saya masih tidak percaya,” kata Ohashi, seperti kutip The Japan Times. Ohashi membuka perlombaan kupu-kupu. Ia berenang di belakang Flickinger. Perenang kelahiran 1995 ini berangkat ke perlombaan dengan keyakinan bahwa gaya dada adalah kekuatannya. Ohashi mem buktikan diri dengan tampil mendominasi pada gaya ini sehingga, bisa mengambil alih kendali per lombaan. Ohashi lalu mengamankan medali emas setelah menyelesaikan renang gaya bebas.

“Setelah berputar dari gaya pung gung, saya berpikir, inilah titik kri tisnya.’ Itulah gameplan yang saya gunakan untuk memenangi lomba,” jelasnya. Ohashi lahir di Hikone, Jepang. Ia mulai berlatih renang pada usia 6 tahun, mengikuti saudara perem puannya yang sudah berenang lebih dulu.

Pada 2015, saat duduk di bangku kuliah, penampilannya mundur drastis. Tak peduli seberapa banyak latihan yang ia lakukan, ia merasa mudah lelah. Ia juga harus melewatkan sejumlah kejuaraan karena dislokasi tempurung lutut kiri. Catatan waktunya pun kian buruk. dengan berada di urutan ketiga gaya Pada Kejuaraan Nasional, Ohashi menempati peringkat ke-40. Performa buruk Ohashi berlanjut selama enam bulan, jadi ia menjalani beberapa tes kesehatan di rumah sakit. Perenang itu kemudian didiagnosis menderita anemia, yang disebabkan kurang nya sel darah merah atau sel darah merah tak berfungsi normal.

Kegagalannya di olahraga, juga perasaan terpukul karena diagnosis dokter, membuat Ohashi sempat mempertimbangkan berhenti dari renang. Untungnya, menyerah tidak pernah ada dalam kamusnya. Setelah menjalani pengobatan dan mengubah pola makan, kondisinya mulai mem- baik, begitu pula renangnya.

“Saya tak pernah merasa bahwa berenang adalah kesenangan dari lubuk hati saya sampai saat saya didiagnosis anemia. Ketika saya mulai pulih, rasanya sangat menyenangkan bisa berenang dan berlatih,” katanya dikutip dari laman Olympics.

Setelah kesehatannya mulai membaik, Ohashi mulai berpikir untuk bersaing pada seleksi final Olimpiade Rio 2016. “Saya juga ingin membuat rekor terbaik saya. Ini adalah pertama kali saya merasakan tekad kuat. Pengalaman itu mungkin merupakan titik balik karier renang saya,” katanya.

Pada Kejuaraan Nasional 2016 yang jadi seleksi terakhir untuk Olimpiade Rio 2016, Ohashi menempati urutan kelima dalam gaya ganti individu 200 meter dan ketiga dalam gaya ganti individu 400 meter. Pencapaian ini belum cukup untuk berangkat ke Rio. Setelah melewatkan Olimpiade Rio, Ohashi menjalani debut in ternasional di Kejuaraan Dunia 2017. Ia menjadi peringkat kedua nomor 200 meter gaya ganti. Selanjutnya, di kejuaraan yang sama pada 2019 ia menempati posisi ketiga di nomor 400 meter gaya ganti.

Dia terus meningkatkan rekor nya dengan kecepatan yang me nakjubkan. Dalam kejuaraan na sional 2018, ia mencatat waktu 4 menit 30,82 detik dan mencetak rekor nasional baru untuk gaya ganti 400 meter individu yang masih bertahan sampai sekarang. Ia juga meraih emas di Pan Pacific Swimming Championships dan Asian Games 2018.

Daya juang

Semangat dan daya juangnya menjadi inspirasi. Ia memperoleh beberapa penghargaan, seperti Perenang Terbaik Japan Aquatic Awards pada 2017 dan 2018, serta Penghargaan Olahraga Kozuki oleh Yayasan Kozuki di Jepang pada 2019.

Menjadi atlet papan atas berarti selalu memasang ekspektasi tinggi. Ohashi diharapkan menyelesaikan perlombaan dengan waktu dan hasil terbaik. Secara tak sadar, ia menekan dirinya sens diri. Ia kerap merasa gugup dan mengalami gangguan kecemasan.

Pada 2019, sekali lagi ia meng alami titik terendah, yaitu gang guan mental. “Pengalaman 2015 mungkin merupakan titik balik saya. Semula saya pikir tak akan pernah menderita seperti itu lagi, tetapi pada 2019 saya menabrak tembok lain. Anemia adalah kondisi fisik sehingga masalahnya sangat jelas, tetapi pada 2019 masalahnya adalah mental dan tidak ada solusi jelas. Saya berjuang lebih dari sebelumnya,” katanya.

Pada Kejuaraan Dunia FINA 2019, Ohashi didiskualifikasi da lam gaya ganti individu 200 meter karena pelanggaran aturan renang. Ia hanya bisa menangis dan tak tahu bagaimana mendapatkan kembali kepercayaan dirinya.

Ia terselamatkan kata-kata Muramatsu Sayaka dari Federasi Renang Jepang yang melihat Ohashi tertekan. “Kamu tidak menghor mati diri sendiri jika kamu tidak berenang dengan percaya diri mengingat kamu sudah mencu rahkan begitu banyak usaha dan melakukan apa yang kamu bisa,” kata Ohashi, mengutip kata-kata Sayaka.

Dari situ, Ohashi kembali fokus. Ia kemudian tampil pada gaya ganti individu 400 meter dan memenangi medali perunggu.

Ia tahu bahwa dalam hidup ini segalanya tak selalu berjalan seperti yang diharapkan. Dalam kondisi sulit, ia merefleksikan diri mengapa berkompetisi dan mengapa ia ingin melakukannya.

 

Sumber: Kompas 28 Juli 2021. Hal. 16

Berkibar dengan Manggis Lingsar. Kompas 12 Juli 2021. Hal. 16

Manggis Lingsar menjadi salah satu komoditas ekspor Nusa Tenggara Barat. Pencapaian itu, antara lain, berkat kegigihan Sahnan Hadi (47) menggerakkan warga Dusun Ndut, Desa Batu Mekar, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, untuk membudidayakan ratu buah itu.

Di Kecamatan Lingsar, termasuk Batu Mekar, manggis bukan tanaman yang baru tumbuh “kemarin sore”. Sahnan menceritakan, sejak dulu manggis mudah ditemukan di halaman rumah warga, termasuk yang usianya puluhan tahun. Ketika masih bocah, ia biasa berkeliling kampung hingga pasar untuk mengumpulkan dan membeli biji manggis.

Sahnan mulai serius membudidayakan manggis sejak 1996. “Waktu itu saya baru menikah dan tidak ada kegiatan. Kebetulan ada sawah warisan sekitar 35 are. Lalu saya pakai 10 are untuk pembibitan manggis. Saya menye mai sekitar 2.000 biji manggis,” kata Sahnan di rumahnya di Dusun Ndut, Jumat (9/7/2021).

Apa yang dilakukan kali tidak dilirik warga. Ia bahkan cenderung diremehkan, ditertawakan, dan dianggap kurang pekerjaan. Pasalnya, warga menganggap pohon manggis di kampungnya sudah banyak dan bisa tumbuh begitu saja.

Sahnan tidak peduli dengan omongan orang. Ia meneruskan pembibitan manggis. Ketelatenannya berbuah manis dua tahun kemudian. “Ternyata bibit manggis saya laris manis. Banyak pembeli datang dari sejumlah daerah di Lombok,” cerita Sahnan.

Sahnan melanjutkan usaha pembibitan manggis pada 1999. Ia menyemai 10.000 biji. Itu pun masih ia anggap kurang karena permintaan pembeli jumlahnya lebih besar lagi. Maka, Sahnan mulai mendekati teman-teman nya di Dusun Ndut. “Saya meyakinkan mereka bahwa banyak orang yang mencari bibit manggis. Tetapi kalau sendiri, saya tidak akan sanggup memenuhi per 4810 mintaan sehingga teman-teman harus ambil bagian,” kata Sahnan. Ajakan itu direspons dengan baik, apalagi mereka telah melihat lang sung kesuksesan usaha pembibitan manggis Saat itu, ada 15 orang yang antusias terlibat mempro duksi bibit manggis.

 

“Saya memastikan bibit yang mereka produksi bisa terjual. Karena itu, saat ada permintaan bibit yang masuk ke saya, tidak semua saya ambil. Saya alihkan ke mereka juga,” ujarnya.

Bersama 15 temannya itu, Sahnan membentuk kelompok pembibitan manggis bernama Hijau Lestari pada 2011. Pada tahun yang sama, mereka membentuk kelompok bernama Maju Bersama yang dipakai sampai sekarang.

Kelompok produksi bibit manggis dibentuk salah satunya sebagai syarat mengakses bantuan yang ditawarkan pemerintah daerah. Bantuan yang mereka terima berupa bibit yang harus di tanam di lahan produksi. Sejak saat itu, Sahnan dan kelompoknya bergerak di dua lini usaha, yakni pembibitan manggis dan produksi buah manggis.

“Bibit manggis kami makin la ris. Tidak hanya untuk kebutuhan lokal yang bertambah karena ma kin banyak kelompok produksin baru, tapi juga untuk dikirim ke luar daerah, seperti Bali,” kata Sahnan yang nyaris tidak percaya dengan antusiasme warga, termasuk di desanya, untuk membibitkan dan menanam manggis.

Ekspor

Saat ini, rata-rata petani di Batu Mekar dan sekitarnya memiliki 100-150 batang pohon manggis. Pada musim panen yang berlangsung sekitar dua bulan, setiap pohon berusia 7-15 tahun secara total memproduksi 75-100 kilogram buah manggis. Sementara pohon berusia di atas 15 tahun memproduksi hingga 200 kilogram.

Manggis Lingsar dikenal karena buahnya relatif besar, kulit buah merah kehitaman, dan daging buah putih bersih dengan rasa manis. Pohon manggis Lingsar cepat berproduksi serta mampu beradaptasi dengan baik di dataran tinggi ataupun rendah. Karena kekhasan itu, Kementerian Pertanian pada September 2006 menyatakan manggis Lingsar sebagai varietas unggul. Meski produksi melimpah, kata Sahnan, mereka sempat terken dala pemasaran. Setiap panen raya, petani kebingungan mesti menjual ke mana. Di desa hanya ada satu pengepul. “Pada tahun 2013-2015, manggis produksi ka mi dijual Rp 3.000 – Rp 4.000 per kilogram. Kami tidak punya pi lihan. Apalagi jika manggis dari Bali masuk ke Lombok,” tutur Sahnan.)

Sebenarnya, saat itu ada harapan karena manggis Lingsar di minati pasar ekspor. Ekspor di lakukan lewat Bali, Namun, hal itu tidak berdampak banyak pada petani karena nilai tawar petani, termasuk kelompok Sahnan, ren dah. “Apalagi saat produksi melimpah dan pengepul hanya satu orang,” ujarnya.

Sahnan bersama kelompoknya berupaya mendorong agar pemerintah membuka jalan ekspor langsung ke negara tujuan tanpa melalui Bali. Gayung bersambut karena pemerintah daerah NTB saat itu juga tengah mendorong hal serupa. Akhirnya, pada pertengahan Desember 2021, Provinsi NTB mengekspor 1.120 ton manggis Lingsar senilai Rp 1 mi liar ke Guangzhou, China.

Ekspor itu berdampak pada banyak hal. Jumlah pengepul manggis di Lingsar bertambah, harga manggis di tingkat petani naik menjadi Rp 65.000 per kilogram. “Itu benar-benar membuat kami bersemangat dan berharap bisa terus berlanjut,” ujar Sahnan.

Selain itu, warga di tempat tinggal Sahnan termasuk desa-desa sekitar juga antusias. Saat ini, semakin banyak warga yang menanam manggis atau merawat tanaman manggis yang sudah ada. Sahnan bertekad untuk terus mengembangkan pembibitan dan produksi manggis di desanya agar bisa memenangi persaingan.

“Dulu, ketika sedang ramai, kami yang menentukan harga bibit. Sekarang sebaliknya, pembeli ka rena sudah banyak tempat pem bibitan,” kata Sahnan yang sedang berupaya mendorong manggis Lingsar bisa diserap oleh sektor pariwisata seperti hotel-hotel di NTB.

 

Sumber: Kompas 12 Juli 2021. Hal. 16