Self Leadership. Kompas. 30 Januari 2021.Hal.7

Seorang atasan mengeluhkan seorang manajer di bawahnya yang cerdas dan berprestasi bagus, tetapi tidak bisa melakukan bimbingan kepada anak buahnya. Ia memang melakukan koordinasi dan pemecahan masalah, tetapi tidak memberikan umpan balik yang membuat performa kerja anak buahnya berkembang menjadi lebih baik.

Dalam pembicaraan empat mata dengannya, tambak bahwa memberi masukan kepadanya pun tidak mudah. Semua masukan dari hasil assessment tentang kepribadiannya cenderung ia bantah dengan, “Kalau saya memang begini, kenapa? Apa saya harus berubah? Kalau tidak bisa, bagaimana?” atau “Ya, itu sudah saya lakukan. Saya sudah banyak berubah kok sekarang.”

Setiap manusia memang pasti memiliki kekurangan dan kelebihan, tetapi bisakah Anda membayangkan orang yang tetap begitu saja dan tidak mau mengembangkan diri? Di sinilah self leadership berperan. Orang sering berpikir untuk meningkatkan dan memperbaiki keterampilan leadershipnya, tetapi lupa bahwa leadership yang efektif didahului oleh self leadership. “Self-leadership is the practice of intentionally influencing your thinking, feeling, and actions towards your objectives” (Bryant and Kazan, 2012).

Walaupun studi mengenai kepemimpinan sudah lama dilakukan, self leadership tampaknya baru disebut pada 1983 oleh Charles Manz yang mendefinisikannya sebagai: “a comprehensive self-influence perspective that concerns leading oneself”. Peter Drucker juga mengatakan, sebelum seseorang menjadi chief, captain, atau CEO, ia harus menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri dulu. Ia harus menentukan tujuan yang ingin ia raih dalam hidupnya, berusaha mencapainya, dan bertanggung jawab terhadap pencapainnya.

Mastering others is strength. Mastering yourself is true power,” -Lao Tzu

Banyak sekali yang merasa, latihan kepemimpinan sulit mendapatkan hasil yang terlihat signifikan dalam waktu singkat. Padahal, kepemimpinan ini masih bersifat eksternal. Apalagi self leadership yang lebih bersifat inner game. Individu yang ingin mengembangkan self leadershi-nya harus menyadari intensi, rasa percaya diri, dan keyakinan dirinya terlebih dahulu.

Intensi selalu mempertanyakan “mengapa” kepada diri sendiri. Mengapa saya mengambil tindakan ini atau mengapa saya berbicara seperti ini.

Self awareness berkenaan dengan menyadari intensi dan nilai-nilai yang kita anut, tentang apa yang membuat kita bergerak, terganggu, ataupun menarik diri.

Self confidence bersumber dari kesadaran akan kekuatan dan kelemahan kita sehingga sigap menyusun strategi pengembangan diri.

Self efficacy adalah keyakinan bahwa kita bisa menanggulangi apa pun rintangan yang menghalangi. Kemampuan untuk menerima dan menggarap umpan balik serta melihat efeknya terhadap pengembangan diri.

Bila inner game ini dijalankan dengan baik, kita akan mendapat dua kekuatan baru sekaligus dalam proses kepemimpinan. Influence sebagai hasil dari purpose yang jelas dan kita yakini betul. Kita dengan mudah menularkan semangat untuk berubah. Penguasaan self leadership kita akan membawa impact yang besar.

Komponen yang utama dalam memimpin diri sendiri adalah bagaimana kita melihat dan mengelola masalah. Individu dengan self leadership yang kuat, mampu mengambil tanggung jawab untuk memecahkan masalah. Seorang pemimpin tidak mungkin berharap orang lain yang memimpin pemecahan masalah. Ia sendiri yang harus mendorong kreativitas tim dalam berpikir kritis dan berkolaborasi.

3 pilihan “self leadership”

Mereka yang memiliki self leadership yang kuat akan mampu menyeimbangkan kebutuhan pribadinya dengan organisasi. Ada tiga pilihan yang dihadapi seorang pemimpin: pertama, melakukan dengan caranya, kedua melakukan sesuai dengan keinginan organisasi, dan ketiga mencari jalan agar kita dan organisasi berjalan berdampingan dan tumbuh bersama.

Dalam memimpin, ada saat-saat ketika tidak sejalan dengan situasi, pelanggan atau otoritas tertentu. Di sinilah pemimpin perlu menyinkronkan antara kehendak jati dirinya dan tuntutan eksternal.

Implementasi “self leadership”

Pernahkan kita melihat seorang pemimpin yang tetap tenang ketika krisis melanda, bahkan terus memimpin timnya menembus kesulitan? Seorang pemimpin harus mampu memimpin timnya dengan tujuan jangka pendek, panjang, bahkan dalam menghadapi krisis. Di sinilah self leadership berperan.

Ada beberapa strategi berikut ini, yang bisa dilakukan para self-leaders agar bisa sukses.

Perjelas nilai yang dijunjung tinggi. Kepemimpinan akan tergambar dari bagaimana kita berhubungan dengan kolega dan stakeholder lain serta bagaimana kita mengambil keputusan. Hal ini didasari oleh nilai dan prinsip yang kita pegang. Bila kita memahami nilai-nilai kita sendiri, kita akan semakin engage dan dapat mengirim pesan yang jelas pada para pengikut sehingga mereka tahu alasannya mengikuti kita.

Kembangkan “common language” dengan pengikut. Bila antara pemimpin dan pengikut tidak ada pemahaman yang sama, proses kemajuan yang diharapkan akan sulit terjadi.

Rancang kemenangan Anda. Menggerakkan tim tidak sama dengan menggerakkan diri sendiri. Karenanya, kita perlu membuat rencana detail menuju kemenangan, meninjaunya dari hari ke hari, agar pengikut juga bisa mengejarnya dengan derap yang sama. Kita juga perlu mengantisipasti tantangan yang mungkin muncul dalam perjalanannya dan bereaksi dengan bijak sesuai dengan nilai yang kita anut.

Dalam setiap kepemimpinan, self awareness yang kuat dan kemampuan memanfaatkan pengetahuan tentang diri sendiri ini akan membuat kita menjadi pemimpin yang kuat. Empowerment is a concept; sel-leaderhip is what makes it work. Empowerment can’t exist, won’t work and is meaningless without self leaders – people who passes the ability, energy and determination to accept responbility for success in their work-related role.

EILEEN RACHMAN & EMILIA JAKOB

EXPERD

HR CONSULTANT/KONSULTAN SDM

 

 

Sumber: Kompas, 30 Januari 2021

Nyali Melakonkan Insecurity_Kompas.31 Januari 2021.Hal.10

Ernest Prakasa melanjutkan keberaniannya menyajikan ketidakrupawanan dalam Imperfect The Series, serial yang mengetengahkan tentang Geng Kosan. Disajikan lewat komedi, sineas-sineasnya mendekatkan keseharian kawanan tersebut dengan penonton.

Dwi Bayu Radius

Produk samping atau spin-off dari Imperfet: Karier, Cinta, & Timbangan (2019) itu dirilis sejak 27 Januari lalu. Ernest yang sebelumnya mengarahkan film tersebut meyakini roh cerita sempalannya bakal lebih kuat dengan sutradara perempuan.

Komika, aktor, dan penulis skenario itu menyerahkan tongkat estafet penyutradaraan kepada Naya Anindita. Imperfect The Series melakonkan empat gadis yang berbeda kultur satu sama lain. Hidup mereka tak bisa dibilang sejahtera, bahkan kerap merana.

Neti (Kiky Saputri), Prita (Aci Resti), Endah (Neneng Wulandari), dan Maria (Zsa Zsa Utari) indekos di kediaman Ratih (Dewi Irawan), induk semang yang luar biasa sabar. Serial itu diset prekuel atau berlatar setahun mendahului filmnya.

Hingga episode keempat, bintang-bintang tampan dan cantik hanya lewat sekelebat. Jangan harap Dika (Reza Rahadian), karakter sentral dalam Imperfect: Karier, Cinta, & Timbangan wira-wiri di layar gawai. Anak Ratih itu dikisahkan tengah bertugas di Surabaya, Jawa Timur.

Demikian pula pacar Dika, Rara (Jessica Mila) yang tak muncul batang hidungnya. Adik Rara yang semampai, Lulu (Yasmin Napper), juga hanya tampil beberapa menit sebagai juri lomba joget bermediakan internet. Ernest lantas menyatakan rekognisinya.

“Serialnya bukan soal cewek-cewek dengan standar kecantikan seperti iklan,” kata produser kreatif Imperfect The Series itu saat konferensi pers daring, Rabu (13/1/2021). Tak ayal, butuh nyali meneruskan plot yang menyimpang dari pakem tontonan kebanyakan.

Naya yang berkiprah, antara lain, dengan Berangkat!, Eggnoid: Cinta & Portal Waktu, dan Sundul Gan: the Story of Kaskus sejauh ini lincah memberdayakan talenta Ernest. Humor-humor taktis dilancarkan Kiky, Aci, dan Neneng yang memang menjejaki debut dunia hiburan sebagai komika.

Hanya Zsa Zsa yang mengawli ketenarannya sebagai bintang cilik, tetapi bisa mengimbangi tiga rekannya. Mereka berbalas umpan dan serangan lelucon. Gaya komikal yanag disodorkan mengingatkan pada film-film pelawak tunggal, seperti seri Comic 8, Koala Kumal, dan Ngenest.

Ekspetasi penonton yang menautkan film dan turunannya untuk menyaksikan kedalaman makna, seperti Imperfect: Karier, Cinta, & Timbangan, tidak dapat dimungkiri turut mengemuka. Fenomena sosial mengenao kemolekan yang digali dengan subtil dalam layar lebar belum terlampau kentara, tetapi bukan tidak mungkin kejutan-kejutan menyeruak di kemudian hari mengingat serialnya terdiri atas 12 episode.

Semangat film

Serial berdurasi 30 menit per episode hasil kolaborasi Starvision dengan WeTV Original itu ditayakan Iflix dan WeTV. Ernest menjajikan semangat filmnya masih diusung dalam serial, soal persekusi tubuh, standar keelokan fisik, dan insecurity.

Sementara ini, penonton disuguhi potret komunal berbeda. Neti dan sobat-sobatnya merepresentasikan generasi muda yang gandrung akan Tek Tok, pelesetan program musik berpadu tarian. Tak dinyana, ayah Prita, Rohman (Rachman Avri), dan Ratih ikut kompetesi aplikasi itu bersama Geng Kosan yang berakhir semrawut.

“Biasanya pemeran berambut panjang dan cantik, tetapi mereka cewek-cewek polos. Penonton dan serialnya jadi tak berjarak,” ucap Naya.

Serial itu sekilas juga menyentil sinetron atau film televisi (FTV) dengan judul bombastis, tetapi klise dan mengada-ada. “Youtuber ngeprank ojol yang ternyata ibunya sendiri tewas ketiban meteor,” jerit seorang kru untuk menandakan dimulainya adegan.

Setidaknya, Imperfect The Series bisa sangat menghibur pemirsanya di rumah dengan plot kocak di sela pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang silih berganti. Keharuan, kekeluargaan, dan cinta menyelingi drama di permukiman padat dengan gangnya yang sempit itu.

Produksi di tengah pandemi pula yang bikin pening para kru. Ernest mengakui betapa stress dan repot mengantisipasi beragam kendala. “Aku jadi bawel menegur mereka yang pakai masker di dagu. Biar dikatain rewel daripada kru kenapa-kenapa,” ucapnya.

Beberapa kali, shooting juga terjeda. Produksi molor lantaran memakan waktu lama. Semua kru pernah dites dengan biaya besar. “Enggak seperti antigen sekarang. Tes waktu itu ongkosnya Rp 1-2 juta per orang. Suatu hari, 120 orang harus dicek. Semahal dan seribet itu,” katanya.

Saking berlarut-larunya produksi, Ernest sampai sulit menyebutkan rentang waktu sejak seleksi pemain hingga peluncuran serialnya. “Puyengnya setengah mati. Aku berupaya enggak menginterupsi Naya karena harus menyediakan ruang yang nyaman untuk bekerja tanpa pusing masalah lain,” katanya.

Masih dibajak

Gagasan menggarap Imperfect The Series bermula saat filmnya masih dituntaskan. Geng Kosan sudah menunjukkan chesmitry atau hubungan kuat sejak masih membaca naskah. “Aku punya feeling (firasat) anak-anak itu bisa dieksplorasi. Ruang mereka belum cukup besar,” ujar Ernest.

Proporsi mereka minoritas tetapi mampu mencuri perhatian. Ernest memandang Geng Kosan layak mengaktualisasi diri dengan panggung yang lebih besar. “Kalau boleh jujur, itu termasuk karya paling memuaskan yang kukerjakan. Aku kagum melihat hasilnya,” ujarnya.

Lesley Simpson, Country Manager WeTV dan Iflix Indonesia mengungkapkan deg-degannya shooting saat kasus Covid-19 terus bertambah. “Protokol kesehatan pun di terapkan dengan ketat. Banyak juga yang mengepos kesehatan mental. Kami sekaligus membawa pesan untuk mencintai diri sendiri,” katanya.

Ia mengajak masyarakat menonton Imperfect The Series orisinal. Setiap pekan, dua episode terbaru ditayangkan yang bisa disaksikan dengan akun berbayar. Episode-episode pendahulunya kemudian bisa disaksikan gratis. Walakin, pembajakan masih terjadi. “Ernest sampai kesal,” kata Lesley sembari menunjukkan video suami Meira Anastasia itu yang tengah menggerutu.

Produser Imperfect The Series, Chand Parwez Servia, mengutarakan harapan untuk mengangkat serial yang tidak senjang dengan khalayaknya.

“Bukan sekadar komedi, tetapi juga isu yang sangat dekat dengan kita. Bicara soal body shamming (perundungan badaniah), itulah realitas terkini,” ucapnya.

Urgensi kesadaran untuk meneriman eksistensi rasa dicantumkan dalam buku Menjadi Diri Sendiri yang ditulis Carl Gustav Jung dan diterbitkan PT Gramedia tahun 1986. Ada jauh lebih banyak orang yang takut terhadap ketidaksadaran daripada yang kita sangka. Mereka, tutur psikiater legendaris dari Swiss itu, malah takut terhadap bayangan sendiri.

 

Sumber: Kompas, 31 Januari 2021

Membangun Sikap Asertif_Bekal Anak untuk Membangun Relasi. Jawa Pos. 24 Januari 2021.Hal.40

Menghadapi anak memang tak mudah. Ada kalanya mereka membantah, tidak memedulikan, hingga sulit mengontrol emosi.  Agar kondisi itu tak terjadi, orang tua bisa mengenalkan pola komunikasi yang sehat dan sikap asertif kepada buah hati.

SEPERTI APA SIH KOMUNIKASI YANG ASERTIF?

Komunikasi asertif diartikan sebagai strategi komunikasi dengan penyampaian terbuka, tegas, dan tetap menghormati lawan bicara.  Seperti apa aplikasinya?

  • Menatap mata lawan bicara secara positif, tetapi tak mengintimidasi.
  • Tak mendominasi atau hanya menjadi pendengar dalam percakapan.
  • Mengungkapkan pendapat langsung pada poinnya.
  • Penyampaian jujur, sesuai dengan bahasa tubuh.
  • Tegas dan ramah tanpa menampakkan emosi negatif atau kebencian.
  • Yang disampaikan logis dan berdasar fakta.
  • Mampu menggunakan pengandaian seperti ilustrasi cerita yang serupa dengan apa yang sesuai untuk anak.
  • Bisa mėnginisiatori sekolah percakapan dengan gaya S bertanya (misalnya, “Tadi, di kantor Ibu. Kalau kakak di tadi, gimana? Ada cerita apa?”).
  • Melibatkan anak untuk mencapai solusi sehingga kesepakatan yang dicapai kedua belah pihak.

 TEGAS, BUKAN GANAS

  • Marah adalah emosi yang wajar. Namun, ayah dan ibu perlu berhati-hati dalam menyampaikannya ya.
  • Oracle diskusi ketika kondisi emosi orang tua maupun anak masih “panas”. Jujur kepada anak dan tak ragu minta maaf. Contoh: “Nak, maaf tadi Mama marahin kamu karena …”
  • Bagi orang tua yang dulu yang dulu diasuh secara otoriter dan keras, jangan marahkan “dendam” masa lalu kepada anak.

ANAK-ANAK masa kini dihadapkan dengan tantangan yang berbeda dengan orang tuanya.  Pandemi, perundungan di dunia maya, dan banyak lainnya.  Mereka tumbuh sebagai generasi yang “menantang” bagi ayah dan ibunya.  Psikolog Lucy Lau menilai bahwa sikap tersebut muncul sebagai cara untuk menarik perhatian dari lingkungan sekitar.

“Ngelawan ucapan orang tua atau membandel adalah cara anak menyampaikan pesan bahwa mereka bosan, sedih, dan tersakiti,”paparnya.  Sikap itu muncul karena anak-anak yang memiliki keterampilan komunikasi yang dibutuhkan.

Menurut Lucy, untuk menghindari hal tersebut, orang tua perlu menanamkan sikap asertif di diri anak.  Ibu dan ayah perlu membangun kedekatan yang hangat.  Prinsipnya, layani diinterupsi pekerjaan atau anak dengan utuh. Ketika mereka berkeluh kesah, dengarkan dan tanggapi, “tegas pakar parenting tersebut.  Dia menekankan bahwa obrolan sebaiknya tidak kesibukan lain.

Ibu empat anak itu sadar, membangun komunikasi dengan anak tak mudah.  Apalagi saat buah hati mulai usaha semaunya sendiri.  Lucy menjelaskan, dalam kondisi tersebut, orang tua boleh menegur.  Ingat, jangan asal bentak dan kasih label nakal. Yang kita tegur adalah kelakuan, bukan si anak, “jelasnya.

Jika emosi anak mereda, barulah ibu atau ayah ajakan buah hati berbincang lebih lama.  “Posisi orang tua tidak cuma menasihati. Misalnya, anak ngelunjak karena kesal. Tanyakan, keselnya karena apa? Karena tugas sulit atau temankah?”  katanya.  Berikan dukungan kepada anak dengan penuh simpati.  Misalnya, dengan sahutan, “Ibu dulu juga begitu atau oh, ayah baru tahu bahwa teman kakak.”  Lalu, mulai bangun solusi bersama.  Lucy mengungkapkan, pola komunikasi seperti itu membuat anak lebih terbuka karena takmerasa dihakimi.  Hubungan hangat tak hanya bermanfaat bagi orang tua.

Lucy mengungkapkan bahwa komunikasi komunikasi dua arah juga menjadi bekal anak untuk membangun relasi.  Mulai dengan teman, rekan kerja, hingga pasangan.  Ujamya “Anak kelak mampu berunding sehingga bisa berkomunikasi untuk menemukan win-win solution”.

Di sisi lain, penerapan komunikasi yang asertif juga membantu anak menerima dirinya sendiri.  Lucy menuturkan bahwa anak-anak yang diasuh secara otoriter oleh orang tua yang tak mau mendengar cenderung memiliki self-talk yang negatif.  “Ketika mengalami masalah atau kesulitan, mereka menyalahkan dir. ‘Emang aku enggak becus dan sebagalnya, lanjutnya.

Alhasil, hubungan orang tua-anak renggang. Saat anak beranjak dewasa, efeknya pun masih melekat. Contohnya, penolakan atau penolakan terhadap perasaan diri sendiri.  “Merela rentan menjadigenerasi BLAAST-boreri, kesepian, takut, marah, stres, lelah (pembosan, merasa sendir. Penakut, pemarah, mudah tersinggung, dan lelah)” tegas Lucy. (Fam / cl4 / nor)

 

Sumber: Jawa Pos. 24 Januari 2021.Hal.40

Proteksi Si Buah Hati dari Risiko Depresi. Bisnis Indonesia. 23 Januari 2021. Hal.7

Ekspresi menjadi masalah kesehatan mental yang patut diwaspadai.  Gangguan suasana hati yang mengatasi perasaan sedih yang dalam dan rasa tidak peduli ini, jika tidak peduli dapat berisiko produktivitas kerja, gangguan hubungan sosial, gangguan hubungan sosial, gangguan hubungan sosial, gangguan hubungan sosial, gangguan hubungan sosial .

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada 2018 menunjukkan bahwa gangguan depresi mulai terjadi sejak rentang usia 15-24 tahun, dengan prevalensi 6,2%.  Pola prevalensi depresi kian meningkat seiring dengan pertambahan usia.

Selama ini depresi memang toilet remaja hingga orang dewasa.  Padahal anak-anak juga bisa mengalaminya.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan Provinsi Jatim Andriyanto mengungkapkan Berdasarkan Riskesdas sekitar 1,6% anak mengalami depresi, selama pandemi.

Menurut Psikolog & Mental Health Advocate Anastasia Satrió, ada sejumlah faktor pemicu depresi pada anak, misalnya karena faktor genetika memiliki berlebih ketika tidak bisa menyelesaikan sesuatu, serta merasa sedih yang mendalam dan berlarut.

Pada kondisi ini, orang tua harus mendampingi dan meyakinkan bahwa anak dapat melewatinya dan tidak perlu anak untuk bisa menuntaskan pekerjaannya.  “Jika anak sudah ada kecenderungan tinggi, jangan anggap sepele.”  Penyebab depresi pada anak umumnya faktor ketidakharmonisan orang tua dan perceraian.  Rumah sebagai tempat tumbuh kembang anak sehingga jika dilingkupi pertengkaran, akan berdampak buruk bagi psikologis anak.  Pengalaman masa kecil kita itu sampai memengaruhi pernikahan, relasi, atau pertemanan. ”

Jika terjadi perceraian, sebisa mungkin orang tua mempertontonkan perilaku yang baik pada anak dan menjadi pengayom yang baik untuk mereka.

Guna mencegah depresi pada anak, orang tua harus memberikan rasa cinta, aman, dan nyaman.  jika anak tak bisa mengerjakan sesuatu, dan buat anak berharga dengan membiarkannya berekspresi dan mencurahkan emosinya. ”

Pada usia 5-7 tahun, bangun rasa aman dan nyaman, sebagai dasar anak mempunyai sistem kekebalan dalam menghadapi tantangan hidup dan mencegah depresi.”  laksanakan orang tua Manajer diri dan emosinya terlebih dahulu karena mereka adalah figur utama bagi anak.  Di sisi lain, penderitaan gejala depresi pada anak memang agak sulit.

Setidaknya, butuh dua hingga tiga kali konsultasi.  Untuk mendiagnosis depresi, terdapat gejala yang muncul bersamaan.  Contohnya, sulit bangun tidur, mudah lelah saat berkegiatan, penurunan kemampuan, perubahan emosi, hingga tak berharga.

Kementerian Kesehatan sendiri mencatat ada 6 gejala depresi pada anak a.l menyendiri, menjauhi teman-pertanyaan, rewel atau mudah marah.  sering menangis, sulit konsentrasi, dan perubahan nafsu makan atau tidur, berlebihan atau berkurang.

MENJADI TEMAN

Parenting Influencer Rhyma Permatasari mengatakan untuk membangun kesehatan mental anak, orang tua harus bisa menjadi tempat mengadu.  Biarkan anak meluapkan emosinya baik saat marah, sedih, atau kesal.

“Jangan mengabaikan emosi anak dan terima saja. Biasanya aku hanya mengaturnya tanpa bersuara. Aku benar-benar nungguin saat emosinya mereda,” tuturnya.

Usai emosinya mereda, orang tua baru bisa bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada anak, dan apa yang harus dilakukan.  Beri masukan dan penawaran solusi seperti anak tertabrak meja, jangan salahkan mejanya, tetapi imbau agar anak lebih berhati-hati dan tidak mencari sasaran atas kesalahan yang diperbuat.

 

Sumber: Bisnis Indonesia, 23 Januari 2021. Hal.7

Bentuk Karakter Anak Lewat Literasi. Bisnis Indonesia. 23 Januari 2021.Hal.7

Rekomendasi rekomendasi Kementerian Kesehatan dan American Academy of Pediatric (AAP).  dalam 1.000 hari pertama kehidupan, 80% otak seorang anak sedang terbentuk.  Periode ini merupakan masa emas untuk mulai menanamkan sikap baik sejak usia dini, termasuk melalui media buku.

Selain sebagai landasan kesuksesan akademis dan meningkatkan kognitif, membaca buku bersama anak dapat meningkatkan kualitas hubungan orang tua dan anak untuk saling menyayangi dan meningkatkan mutu komunikasi.

Membaca buku bersama juga akan bermanfaat untuk meningkatkan keterampilan bahasa, pengembangan literasi, dan meningkatkan ketertarikan anak terhadap kebiasaan membaca sejak dini.

Dokter Spesialis Anak Mesty Ariotedjo membuat buku menjadi satu wadah bagi orang tua mengenalkan anak membaca.  Menurutnya, orang tua harus berupaya meningkatkan antusiasme membaca pada anak usia dini dengan pendampingan, karena anak pada usia tersebut belum bisa mengenal huruf dan kalimat dengan benar.

“Membaca buku itu membangun komunikasi dua arah dan menjalin rutinitas. Rutinitas penting untuk setiap anak. Jika aktivitas tidalk teratur, menjadikan mereka tantrum, emosional, mereka tidak siap dengan kegiatan yang akan dilakukan,” ujamya baru-baru ini.

Rutinitas membaca buku bisa dilakukan pada malam hari sebelum tidur dan siang hari saat bermain, Sementara bahan bacaannya 44.

Orang tua harus mampu meningkatkan antusiasme membaca pada anak saat melakukan pendampingan.

petunjuk yang mengajarkan nilai-nilai perilaku yang baik dan penuh ilustrasi seperti serial buku “Terima Kasih” dan “Maaf” yang baru dirilis Mesty dan ketiga.

Kata “Terima Kasih” dan “Maaf” terdengar sederhana.  Namun sejatinya merupakan ungkapan penghargaan dan penghormatan yang penuh makna.  Dengan ditanamkannya nilai-nilai moral sejak dini, anak dapat memproses dan menyerap makna utama dari ungkapan tersebut.

Mengajarkan anak usia dini untuk mengucapkan terima kasih kepada orang lain sangat penting karena bisa menjadi bekal untuk mengembangkan rasa bersyukur kepada Tuhan dan diri sendiri.

Kelak anak tersebut dapat menjadi pribadi yang merasa cukup atas nikmat yang didapatnya.  Begitu pula dengan kata maaf.  “Dengan maaf, dia belajar menyadari kesalahan dan coba memperbaiki. Untuk berkembang lebih baik itu dimulai dari kata maaf.”

Seperti kata Presiden Amerika Serikat ke-26, Theordore Rosevelt, “Aku adalah bagian dari semua yang telah aku baca”.  Begitu lah membaca buku membentuk karakter anak.

Principal Child Psychologist tentang Anak Grace Eugenia Sameve mengatakan sikap baik harus ditanamkan orang tua kepada anaknya yang sedini mungkin melalui keteladanan dan mencontohkan.

“Begitu pula dengan cara berkomunikasi. Orang tua adalah guru pertama anak. Negara kita ada nilai tradisi komunikasi yang berbeda-beda, itu disesuaikan, dan dicontohkan dari kecil agar setelah besar, anak menunjukkan kemampuan komunikasi dengan baik,” jelasnya.  Selain orang tua mencontohkan langsung.  buku menurutya juga menjadi media yang asyik dan mudah untuk mengajarkan nilai baik tersebut.  Apalagi saat ini banyak buku berkarakter yang memberi kesempatan kepada anak untuk belajar cara berempati dan memahami pikiran orang lain.

 MANFAAT PSIKOLOGIS

Psikolog Klinis Anak dan Remaja Amanda Margia Wiranata menyebut bahwa membaca buku dapat berdampak pada psikologis anak.  Menurutnya, aktivitas membaca buku bersama dapat menumbuhkan minat baca pada anak.  Apabila minat baca anak sudah terbangun, anak akan semakin tergugah rasa ingin tahunya akan isi atau konten dari buku tersebut.  Makin besar rasa ingin tahu anak, dapat memotivasi untuk mbaca dengan baik dan memahami isi buku.

Selanjuthya, ketika anak sudah dapat memahami isi buku yang dibaca, maka dia akan mendapat wawasan yang lebih luas, baik belajar pengetahuan atau kebijakan yang terkandung di dalamnya.

Anak yang senang membaca buku, terlebih dahulu jika bukunya bervariasi, akan memiliki rentang atensi yang lebih lama, mampu berpikir terbuka, coba kritis, mengasah logika berpikir, mengembangkan pemahaman, berpikir abstrak, memiliki kekayaan perbendaharaan kata, pemahaman bahasa yang lebih baik, dan pengetahuan yang pengetahuan  luas.

“Pada umumnya anak yang senang membaca akan lebih percaya diri dan mampu menunjukkan prestasi akademik yang lebih baik dibandingkan dengan anak lainnya,” sebut Amanda.

Lantas bagaimana meningkatkan minat baca pada anak?  Menurutnya, bisa dilakukan bersama antara orang tua dan anak secara rutin, sedini mungkin, bahkan sejak dalam kandungan.  Aktivitas membaca dapat dilakukan saat sebelum tidur atau saat bermain bersama.

Ketika membacakan cerita, usahakan induk membacakan dengan cara dan nada yang menarik minat anak, seperti seorang pendongeng.

Tunjukkan ekspresi yang sesuai dengan emosi yang terkandung dalam bacaan, misalkan senang, menjadi sedih, dan marah.  “Mengacakan dengan nada datar, yang dapat menurunkan minat anak pada cerita yang sedang dibacakan.”  tegasnya.

Untuk anak usia dini, Amanda menyarankan agar memilih buku yang lebih banyak gambar dan sedikit tulisan.

Secara bertahap dapat menggunakan buku yang memiliki tulisan lebih banyak, dengan tingkat kesulitan membaca atau kompleksitas cerita yang lebih tinggi, sesuaikan dengan usia, rentang atensi, dan kemampuan membaca anak.

Sambil membaca, orang tua dapat menunjuk gambar yang terdapat pada buku dan meminta anak memerhatikan hal-hal yang dapat ditemukan pada gambar tersebut.

Sesekali tanyakan kembali mengenal tokoh, cerita kronologi, karena akibat dari peristiwa dalam cerita dan wawasan yang didapat dari cerita tersebut.  Ajak anak untuk menceritakan kembali isi buku dengan bahasanya sendiri.

Orang tua sebaiknya menerima cerita apapun yang disampaikan oleh anak dan menghindari kritik kritik saat anak bercerita.  Ide bentuk kata- kata yang runut dan teratur.

“Berikan apresiasi atas keberaniannya mencoba. Hal ini akan melatih kemampuan anak berekspresi, mengungkapkan mendorong anak memahami bacaan.”  jelasnya.  Jika ingin membantu anak bercerita dengan lebih runut dan tertata, menurut Amanda, orang dapat mengajukan pertanyaan 4WIH (uhat, who, when, where, how), dan dorong anak merangkai kembali ceritanya dengan kalimat yang lebih tertata dan runut.

“Dorong anak untuk mulai mencoba membaca kata satu per satu, dan hargal usahanya walaupun masih melakukan kesalahan.”

Kritikan berlebihan saat anak salah membaca buku harus dihindari.  Orang tua dapat mengoreksi kesalahan membaca, dengan mengulang pengejaan kata secara benar.  Kata pula ungkapan yang menimbulkan tekanan seperti “kamu salah” atau “bukan begitu bacanya”.  Apalagi memojokkan dengan kalimat “begitu saja tidak bisa” dan ungkapan negatif lainnya.

 

Sumber: Bisnis Indonesia, 23 Januari 2021.Hal.7

Hidup Suram, Saatnya Detoks Digital. Harian Di’s Way. 18 Januari 2021. Hal.40-41

  1. Masihkah Anda merasa bahwa begitu begitu suram dengan banyaknya berita- berita tentang lonjakan kasus virus korona? Masihkah Anda merasa hidup Anda terjebak di rumah sehingga yang bisa Anda lakukan adalah streaming di Netflix, melihat video aneka video yang “sangat penting” di YouTube, atau video game utama. Semua aktivitas membuat Anda terpaku di depan layar.

Padahal, harus ada kehidupan yang lebih baik dari ini.  Dengan banyaknya aktivitas yang bisa kita lakukan secara fisik, momentum tahun baru ini bisa dijadikan pemacu semangat untuk melakukan detoksifikasi digital.

Tidak Kami tidak membuat Anda akan benar-benar berhenti dari internet.  Siapa sih yang saat ini bisa lepas dari Internet?  Wong sekolah dan kerja saja sekarang harus nyantol ke internet.

Maka, Anda tidak harus mandek total dari intermet.  Anggap saja Anda yang tidak sehat dengan hal lain yang istirahat untuk mata juga otak kita sedang berdiet: mengganti sesuatu yang lebih baik.  Dan memberikan waktu yang bisa jadi sudah lelah dengan teknologi.

“Ada banyak hal hebat yang bisa dilakukan secara online. Tetapi, bijak dan melakukan sesuatu secara wajar tetap menjadi aturan terbaik dalam hidup. Itu termasuk dalam hal menatap layar,” kata Jean Twenge, profesor psikologi di San Diego State University, seperti dikutip New  York Times.  Twenge juga penulis buku iGen tentang generasi muda yang tumbuh di era smartphone.

Para ahli mengatakan, terlalu banyak waktu di depan layar bisa merusak kesehatan mental, membuat orang kurang tidur, justru membuat orang mengabaikan tugas-tugas lain yang lebih produktif.  D mengutip Channel News Asia, rata-rata waktu harian seseorang di ponsel selama pandemi meningkat dua hingga tiga kali lipat.

Lalu, apa yang harus kita lakukan?  Sebab, pandemi ini memang membuat kita enggak bisa ke mana-mana.  Satu-satunya cara kita berkeliling ya melalui layar handphone atau laptop tersebut.

Ini langkah yang bisa Anda ambil menurut Channel News Asia:

Selalu Patuhi Rencana Bukan berarti seluruh waktu Anda bekerja atau kuliah lewat handphone.  Kira aktivitas digital yang kira-kira bersama layar gadget adalah kesia- siaan.  Ingat, anak-anak pun sekarang sekolah lewat layar gawai.  Anda pun Maka yang harus Anda lakukan adalah memilah-milah, mana kira membuat Anda merasa toksik dan bikin enggak bahagia.  Contohnya, mengakses berita lewat Twitter atau Facebook.  Coba tengok, mana yang sejatinya Anda baca?  Beritanya atau komen-komennya?

Anda juga bisa membuat rencana baku untuk otak Anda mengonsumsi berita-berita buruk.  Pastikan tujuan.  Misalnya, maksimal 20 menit membaca berita saat akhir persingkat waktunya dan buatlah menjadi tujuan harian.  Sebab, hanya pekan.  Kalau itu bisa dilakukan, dengan berkali-kali Anda bisa membentuk kebiasaan baru.

Tapi, hal itu lebih mudah dilakukan, Adam Gazzaley, yang seorang ahli saraf dan penulis buku The Distracted Mind: Ancient Brains in a High-Tech World, punya jurus yang lebih jitu.  Yakni buatlah daftar komplet untuk segala hal.  Termasuk jadwal menjelajah internet dan istirahat.  Itu akan menciptakan struktur hidup yang.

Contohnya, Anda bisa meluangkan waktu pukul 08.00 untuk membaca jadwal 20 menit mulai pukul 13.00 Anda tergoda mengintip handphone baku.  berita selama 10 menit.  Lalu, untuk mengayuh sepeda statistik.  Kalau selama waktu latihan itu, hati-hati.  Itu artinya Anda merusak waktu yang sudah Anda dedikasikan untuk berlatih.

Yang penting, Anda harus perlakukan waktu mengintip handphone itu sebagai sebuah kemewahan yang sesekali bisa Anda nikmati.  Jangan jadikan itu sebagai hal yang bisa Anda lakukan bersantai.  “Jika Anda menjelajahi media sosial saat bersantai, itu artinya Anda tidak akan pernah keluar dari benang kusut dunia digital,” ungkap Gazzaley.

Ciptakan Zona tanpa Telepon Memang, kita perlu mengisi baterai telepon saat malam.  Tetapi, bukan berarti handphone itu harus di samping kita saat tidur.  Hal tersebut menunjukkan bahwa orang yang tidur bersanding dengan handphone akan susah tidur.

Telepon cerdas itu dilarang.  Sinar dari layarnya dapat menipu otak dengan memberikan kesan bahwa hari masih siang.  Konten terutama berita-juga bisa menstimulus kita untuk tetap terjaga.  Yang terbaik adalah, hindari teiepon sekitar sejam sebelum Anda berbaring di tempat tidur.

Karena dekat, telepon juga bisa membantu Anda untuk meliriknya saat Anda bangun tengah malam.  “Saran utama saya, jangan ada telepon di dalam kamar tidur. Ini saran untuk siapa pun. Biarlah telepon diisi dayanya di luar kamar,” tegas Tenge.

Di luar tempat tidur, Anda juga bisa menciptakan zona tanpa telepon.  Misalnya di meja makan.  Ini adalah kesempatan bagi keluarga untuk berkumpul tanpa diganggu telepon.  Bikin perjanjian.  Jangan ada yang mengutak-atik telepon saat makan.  Setidaknya 30 menit.

Tolak Godaan-Godaan Itu. Dunia internet sudah membuat kita selalu lengket dengan layar.  Facebook dan Twitter, misalnya.  Mereka membuat garis waktu sistem yang kalau ada scroll, ia tidak akan pernah habis.  Jangan tergoda pada istilah selalu ada yang baru.  Sebab, kalau Anda menuruti timeline, Anda akan terus tenggelam pada hal-hal baru yang Anda temukan.

Adam Alter, profesor di Stern School of Business, New York, pernah menjelaskan hal itu pada buku Irresistible: The Rise of Addictive Technology dan the Business of Keep Us Hooked.  Menurutnya, setidaknya ada dua hal yang membuat kita terikat dengan produk-produk digital.

Yang pertama adalah utan palsu.  Seperti video game utama, media sosial terus berupaya membuat kita terikat.  Salah satunya adelal jeratan kepuasan jumlah like dein pengikut Facebook atau Twitter.  Problemnya?  Tujuan akhirnya pernah ada.  Tidak ada batasan.  Akhirnya, kita pun berupaya terus dan terus menambah like dan follower.  “Padahal, apa bedanya 10 like dan 20 like? Tidak ada maknanya,” kata Alter.

Jeratan yang kedua adalah media tanpa akhir.  Tengok saja, YouTube otomatis memutar video yang tidak mendukungnya.  Belum lagi Facebook dan Twitter yang timeline nya tak ada habisnya itu.  “Sebelum ini, selalu ada hukum alam bahwa setiap hal ada masa berhentinya.      Misalnya, buku punya terakhir. Yang dilakukan perusahaan teknologi adalah halamankan titik akhir itu,” ungkap Alter.

Nah, untuk bisa lepas dari jerat itu, ada yang kecil yang bisa Anda lalukan.  Yakni, matikan pembongkaran.  Sehingga, kapanpun Anda melihat handphone, kehendak bebas Anda sendiri.  Bukan “keberangkatan” atau “ditarik” oleh notifikasi.  (Doan Widhiandono)

 

Sumber: Harian Di’s Way. 18 Januari 2021. Hal.40-41

 

Bagaimana Kabar Toleransi di tahun 2021?

Pada tahun 2020 lalu, internet sempat diramaikan dengan tagar blacklivesmatter. Gelombang protes ini berawal dari munculnya video kekerasan kepada seorang warga kulit hitam di AS bernama George Floyd oleh beberapa oknum polisi. Dalam video tersebut, seorang polisi terlihat menindih leher George Floyd yang tertelungkup di aspal dan beberapa kali berteriak “aku tak bisa bernapas”, memanggil-manggil ibunya dan mengatakan “tolong, tolong” sampai akhirnya tak bergerak lagi dan meninggal. Peristiwa ini diketahui berlangsung selama hampir 9 menit dan terekam oleh beberapa video amatir beberapa orang yang menyaksikan kejadian tersebut dan security camera. Kekerasan ini melibatkan empat orang oknum polisi yang kemudian diketahui bernama Derek Chauvin, Thomas Lane, Alexander Kueng, Tou Thao. Peristiwa yang berujung pada kematian Floyd ini diawali oleh laporan pegawai sebuah toko Cup Foods yang mencurigai Floyd menggunakan uang palsu saat melakukan transaksi pembelian. Video tersebut tersebar di internet dan langsung menuai aksi protes dari seluruh orang di dunia. Selang beberapa hari, orang-orang dari berbagai kota di Amerika turun ke jalan memprotes aksi rasis yang berujung pada hilangnya nyawa ini. Gelombang protes besar-besaran ini membuat empat orang polisi yang terlibat dalam kasus George Floyd ditangkap dan akhirnya dipecat. Namun proses hukum yang berjalan ini, tidak meredakan demonstrasi besar-besaran. Demonstran kemudian tidak hanya menuntut keadilan untuk George Floyd tetapi juga beberapa tuntutan lainnya, dikutip dari m4bl.org, terdapat 6 tuntutan lain seperti 1. Mengakhiri perang terhadap orang kulit hitam 2. Reparation 3. Invest-Divest 4. Keadilan ekonomi 5. Kontrol komunitas 6. Kekuatan politik, yang kemudian diperinci lagi menjadi beberapa hal seperti pengurangan pendanaan untuk polisi dan penyelesaian kasus-kasus kematian warga kulit hitam lainnya. Data dari mappingpoliceviolence.org menunjukkan bahwa warga kulit hitam tiga kali lebih mungkin meninggal karena kebrutalan polisi dibanding warga kulit putih. Kebrutalan polisi AS terhadap warga kulit hitam beriringan dengan diskriminasi rasial yang sudah sistemik. AS sudah lama meninggalkan era segregasi dan perbudakan, tetapi rasisme terhadap warga kulit hitam tetap ada dalam bentuk yang berbeda dan hidup dalam sekat bermasyarakat warga AS.

Buku berjudul “The Logic of Life” (Call No.339 HAR l) karya Tim Harford menjelaskan bagaimana banyak hal yang dirasa irasional sebenarnya rasional dan logis, tidak terkecuali rasisme. Dalam buku ini terdapat satu bab yang menjelaskan bahwa beberapa perilaku rasis dapat dijelaskan secara logis, bagaimana seseorang terkadang secara tidak sadar memiliki asumsi & prasangka yang kemudian membentuk keputusan-keputusan yang merugikan ras tertentu. Menurutnya terdapat dua jenis diskriminasi, Harford memberikan contoh dari sudut pandang ekonomi yang dalam hal ini perekrutan kerja, diskriminasi tersebut yaitu diskriminasi “berdasarkan selera” atau fanatisme, yaitu ketika pemberi kerja menolak memberikan pekerjaan pada orang kulit hitam karena tidak menyukai orang-orang kulit hitam dan yang kedua adalah diskriminasi statistik atau rasisme rasional yang mana pemberi pekerjaan menggunakan kinerja rata-rata dari kelompok rasial pelamar sebagai bagian informasi untuk memutuskan apakah akan melamar pekerja tersebut atau tidak. Penulis juga mencantumkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Marrianne Bertrand dan Sendhil Mullainathan, mereka membuat 5000 CV (Curriculum Vitae), beberapa dari CV tersebut digolongkan berdasarkan kualitasnya yaitu CV berkualitas tinggi, CV berkualitas sedang dan CV berkualitas rendah, kemudian, secara acak peneliti memberikan nama-nama orang kulit hitam seperti Tyrone Jones dan nama2 orang kulit putih seperti Brendan Baker. Peneliti mengirimkan CV ini ke lebih dari 1000 perusahaan, dua CV dengan nama kulit hitam: satu berkualitas baik dan satu sedang, dan dua CV dengan nama kulit putih, dengan format yang sama. Dan hasilnya CV dengan nama orang kulit putih menerima undangan wawancara 50 persen lebih banyak. Hal ini dapat terjadi bisa karena diskriminisi fanatis yang berarti employer (pemberi kerja) tidak suka dan tidak ingin orang kulit hitam bekerja di tempat mereka atau yang kedua, rasisme rasional yang berarti employer menggunakan kinerja rata-rata kelompok kulit hitam dan bukan murni dari kualitas CV pelamar. Jika hal ini terjadi secara terus menerus dan terjadi di semua kota maka dapat dikatakan keputusan orang kulit hitam untuk tidak melanjutkan pendidikan yang tinggi adalah hal yang rasional karena tidak peduli seberapa baik CV mereka, mereka tidak akan menerima panggilan kerja karena employer hanya menilai dari rata-rata kinerja kelompok ras saja dan bukan keberhasilan pribadi mereka. Hal ini dapat memperlebar kesenjangan antar ras, misalnya saja selama pandemi COVID-19 terjadi, dikutip dari Tirto.id, the Economic Policy Institute (EPI), melakukan riset yang hasilnya menyebutkan selama wabah corona terjadi, rata-rata pengangguran di komunitas kulit hitam mencapai 16,8 persen dan kulit putih 14,2 persen.

Perilaku rasis ini bisa merugikan untuk kedua pihak, baik dari pihak employer maupun warga kulit hitam, dari sudut pandang employer, employer akan kehilangan calon pekerja yang lebih baik dan handal, yang membuat mereka kalah bersaing dengan perusahaan lain yang tidak rasis. Sedangkan untuk calon pelamar kerja jelas hal tersebut akan berdampak besar pada ekonomi mereka. Sementara perusahaan akan terdampak dalam jangka waktu yang cukup lama, untuk orang kulit hitam dampak ekonomi akan terasa secara langsung. Buku ini mengutip penelitian Glaeser & Vigdor yang menyatakan bahwa kejatuhan segregasi (pemisahan orang kulit hitam & putih) terjadi lebih awal dikota-kota besar yang permintaan ekonominya baik dimana perusahaan-perusahaan menjadi semakin dinamis. Tapi hal ini sulit berubah dalam hal pelayanan publik, karena meskipun perilaku rasis tetap ada dalam tubuh pemerintahan, pelayanan publik tidak akan mengalami kebangkrutan. Tim Harford bukan hanya seorang jurnalis tetapi juga seorang ekonom, maka dalam bab Rasisme Rasional ini banyak penelitian yang berkutat di bidang ekonomi tapi dengan logika yang sama hal ini bisa dilihat pada konsep lain, misalnya secara statistik orang kulit hitam merupakan kelompok minoritas yaitu sebanyak 13% dari total penduduk dan memiliki modal sosial yang rendah seperti terbatasnya akses ekonomi dan pendidikan dan lingkungan yang tidak suportif terhadap keberhasilan sebayanya (dalam buku Harford, orang kulit hitam yang berhasil dianggap berperilaku seperti orang kulit putih (acting white) dikucilkan) yang akhirnya membuat mereka sering turut andil dalam kegiatan ilegal, sehingga mereka dianggap sering melakukan kejahatan dan berbahaya, hal ini membuat petugas kepolisian lebih sering mengawasi area tempat tinggal orang kulit hitam, maka lebih banyak orang kulit hitam yang ditangkap polisi dan masuk penjara karena hal-hal sepele, semakin tinggi lagi asumsi bahwa orang kulit hitam berbahaya. Teori ini semakin mendukung gerakan Black Lives Matter, karena hampir tidak ada cara lain selain demo menuntut Negara untuk memperbaiki sistem, mulai dari tata aturan non diskriminatif, ekonomi hingga pendidikan untuk memberi peluang yang sama untuk orang kulit hitam.

Kita bisa membantu gerakan ini dengan menyebarkan kesadaran tentang isu rasial, mengisi petisi, melakukan donasi dan mempelajari sejarah yang ada. Sebagai orang awam kita dapat mempelajari sejarah kulit hitam yang terjadi dengan menonton film. Berikut beberapa film yang bisa ditonton

  1. The Help (2011)

Merupakan film hasil adapatasi dari buku fiksi dengan judul yang sama yang ditulis oleh Kathryn Stockett yang menceritakan tentang perempuan kulit putih muda bernama Euginia “Skeeter” Phelan (Emma Stone)  dan hubungannya dengan dua pekerja rumah tangga kulit hitam bernama Aibileen Clark (Viola Davis) dan Minny Jackson (Octavia Spencer). Berlatar belakang Pergerakan Hak Warga Sipil (Civil Rights Movement) di tahun 1963 di Missisipi, Skeeter yang sedang berusaha menjadi jurnalis dan penulis, memutuskan untuk menulis buku tentang kisah hidup pekerja rumah tangga kulit hitam yang harus menghadapi perilaku rasis oleh keluarga kulit putih tempat mereka bekerja. Misalnya ketika Hilly (Bryce Dallas Howard) memecat Minny karena Minny terpaksa menggunakan toilet tamu saat badai (Minny tidak menggunakan toilet khusus kulit hitam). Film yang mendapatkan penghargaan Aktris Pendukung Terbaik oleh Academy Awards ini memperlihatkan bahwa rasisme adalah perilaku yang diajarkan, karena anak asuh yang berkulit putih memiliki hubungan yang dekat dengan pekerja rumah tangga yang berkulit hitam, perilaku rasis di masa itu juga banyak dilakukan karena adanya tekanan sosial.

  1. Hidden Figures (2016)

Film ini menceritakan tentang kehidupan tiga perempuan kulit hitam bernama Katherine G. Johnson (Taraji P. Henson), Dorothy Vaughan (Octavia Spencer), Mary Jackson (Janelle Monae). Mereka adalah matematikawan yang bekerja untuk NASA dan berperan penting selama tahun-tahun awal program ruang angkasa. Berlatar tahun 1950-an dan 1960-an dimana  pekerjaan ini didominasi oleh laki-laki dan segregasi masih terjadi seperti pemisahan sekolah, pemisahan toilet untuk kulit hitam dan putih, bahkan pemisahan alat makan & minum, film ini menggambarkan perjuangan yang harus dilakukan oleh warga kulit hitam saat itu untuk dapat bertahan dan diterima rekan kulit putihnya. Film yang disutradarai oleh Theodore Melfi ini ditutup dengan keberhasilan peluncuran roket berkat penghitungan Katherine. Hidden Figures yang merupakan hasil adaptasi buku dengan judul yang sama yang ditulis oleh Margot Lee Shetterly menunjukkan bagaimana orang kulit hitam dapat berhasil jika diberi kesempatan yang sama.

  1. 12 Years Slave (2013) non fiksi

Film ini berlatar tahun 1841 sebelum perang saudara terjadi di Amerika. Menceritakan tentang Solomon Northop (Chiwetel Ejiofor), seorang warga kulit hitam merdeka yg diculik lalu kemudian dijual untuk perbudakan di Lousiana, Amerika. Solomon Northop menjadi budak selama 12 tahun sebagai budak pertanian kapas, perjalanannya sebagai budak semakin sulit ketika Platt (nama budak Northop) menjadi properti Edwin Epps (Michael Fassbender) yang meyakini bahwa perbudakan adalah budaya Amerika bagian selatan  yang diperbolehkan Tuhan dan perlu dipertahankan. Platt dan rekan-rekannya dipekerjakan siang malam dengan kebersihan yang minim, diperlakukan tidak manusiawi, dicambuk, disiksa, bahkan diperkosa. Platt beberapa kali mencoba untuk membebaskan diri namun gagal sampai akhirnya ia bertemu Bass (Brad Pitt) yang membantu mengirimkan suratnya kepada rekannya di Utara. Film ini berakhir ketika Platt dijemput pihak berwajib dan dibawa kembali ke keluarganya dan kembali manusia merdeka. Kisah ini merupakan  kisah nyata dari memoar Northop yang disunting oleh Sue Eakin dan Joseph Logsdon pada tahun 1968 yang kemudian diangkat ke layar lebar dan disutradarai oleh Steve Mcqueen. Ada banyak scene dalam film ini yang dirasa sangat disturbing, menunjukkan betapa kejamnya era perbudakan. Film ini mendapatkan tiga penghargaan di Academy Awards yaitu Film Terbaik, Aktris Pendukung Terbaik, dan Skenario Adaptasi Terbaik.

Dari sejarah kita dapat melihat bahwa era perbudakan dan era segregasi berhasil dihentikan karena ada orang-orang yang berbagi nilai-nilai yang sama kemudian memperjuangkan hal tersebut. Pun di tahun 2021 ini, kita sedang menghadapi bentuk baru musuh masa lampau, perlu dukungan dari banyak orang yang percaya bahwa perilaku rasis, dari sisi manapun tidak dibenarkan. Terlebih di masa pandemi ini, ketika seluruh dunia terdampak secara kesehatan, ekonomi maupun sosial, kita perlu bahu-membahu menguatkan sesama terlebih membantu mereka yang termarjinalkan. Mari introspeksi diri sendiri apakah kita sudah memiliki sikap toleransi terhadap perbedaan? It takes all of us, to stand on the right side of history.

Seo Dal-mi “StartUp” Ajarkan Kita Untuk Tidak Insecure

Latar belakang bukan alasan untuk tidak bisa sukses.

Memiliki keluarga yang broken home harus putus kuliah tidak membuat seorang Dal-mi menyerah. Dengan tekad yang kuat dan jiwa yang pantang menyerah, Dal-mi akhirnya sukses mendirikan start-upnya sendiri.

Selalu ada jalan. Tenang!

“Usaha tidak mengkhianati hasil” ya, seorang Seo Dal-mi percaya akan hal itu. selama kita mau berjuang dan terus berusaha, maka semua itu akan memberikan hasil yang indah akhirnya. Meskipun terkadang butuh waktu dan proses yang lama.

Jangan hidup untuk membandingkan.

Seo Dal-mi sempat iri dengan kehidupan dari In-Jae yang terlihat lebih bahagia dibandingkan dirinya. Faktanya, seorang In-Jae pun punya masalah berat dalam hidupnya. Jadi, jangan membandingkan diri dengan orang lain. Karena sekalipun mereka terlihat bahagia, kenyataannya belum tentu demikian.

Berdamai dengan masa lalu.

Kembalinya Seo Dal-mi dengan Do-san membuat banyak orang tercengang. Namun yang bisa di pelajari adalah menerima dan memaafkan masa lalu adalah cara untuk kita bisa hidup bahagia tanpa rasa insecure. Dengan berdamai, itu berarti kita sudah menerima semua hal buruk yang terjadi di masa lalu sebagai bagian dari diri kita.

 

Nah itu tadi pelajaran yang bisa kita ambil dari seorang Seo Dal-mi agar kita tidak insecure dengan hidup kita. masih banyak lagi pelajaran yang bisa di ambil dari kehidupan Seo Dal-mi. Buat kalian yang sudah nonton, boleh dong share hal lain yang kalian pelajari dari seorang Seo Dal-mi. Tulis di kolom komentar ya UC People 😊