Bentuk Pokja, Libatkan Seluruh Warga Sekolah.Jawa Pos.7 Februari 2021.Hal.39

Semua elemen di sekolah penting. Prinsip itulah yang terbangun di SMPN 22. Dan, terbukti manjur dalam menggerakkan partisipasi kolektif warga sekolah. Salah satunya dalam bidang lingkungan.

Kepala SMPN 22 Yulia Krisnawati sebagai motor penggerak utama memiliki “rahasia dapur”. Menurut dia, petugas keamanan maupun petugas kebersihan tidak bisa dianggap sepele. Mereka juga support system bagi sekolah. Mendekati warga sekolah pun tidak bisa asal. Mesti secara personal, sesuai karakter masing-masing.

“Semua diberi tugas untuk menjalankan komitmen dan perannya. Kalau sudah begitu tidak ada yang sulit. Karena akhirnya seluruh warga sekolah tergerak dan bergerak untuk mendukung apa pun program yang dijalankan oleh sekolah,” terangnya saat ditemui Jawa Pos Jumat (22/1).

Kelompok-kelompok kerja (pokja) pun dibentuk. Anggotanya tidak lain adalah guru, siswa, petugas, dan staf sekolah. Mereka bertanggung jawab menjalankan roda kegiatan berbasis lingkungan hidup. Mulai pokja rumah jamur, pokja tanaman kenikir, pokja bank sampah, hingga pokja kolam lele.

“Misalnya, pokja rumah jamur, berarti harus mengurus dari hulu sampai hilir. Mulai pembibitan sampai panen,” imbuh magister Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) itu.

Setiap pokja juga mengemban target tertentu. Lalu dilakukan monitoring sekaligus follow-up secara berkala. Antarpokja pun saling dukung satu sama lain. Dan, ada reward bagi pokja yang mampu menjalankan tugasnya dengan baik.

“Beri reward untuk hal sederhana pun bisa membuat semangat. Misalnya, perhatian, pujian, dan ucapan terima kasih. Kegagalan akan terjadi kalau hanya melibatkan tim lingkungan hidup. Karena kunci sukses itu terletak pada partisipasi seluruh komponen sekolah,” paparnya.

Dan benar saja. Cara tersebut bisa dibilang ampuh. Karena lewat kekompakan yang guyub, SMP yang berada di kawasan Jalan Gayungsari Barat itu dengan mulus menggondol dua piala sekaligus. Dalam kompetisi lingkungan yang digagas dari duet antara Pemkot Surabaya dan Tunas Hijau, yakni Surabaya Eco School (SES).

Pertama sebagai juara 1 Sekolah Sadar Iklim Terbaik Tingkat SMP 2020. Dan, satu piala lagi yang juga berhasil diamankan. Yakni, Guru Eco Teacher (Junior) of the Year 2020 lewat Uswatun Khasanah selaku pembina lingkungan hidup.

Guru bahasa Inggris itu menjelaskan, ada delapan poin penilaian dalam kategori Sekolah Sadar Iklim SES 2020. Yang harus betul-betul dijalankan secara real oleh pihak sekolah.

Delapan poin tersebut adalah pengolahan sampah organik di sekolah, pengolahan sampah anorganik di bank sampah, serta merawat tanaman dan pepohonan dengan sistem hidroponik maupun biasa. Lalu, membuat lubang resapan biopori serta memastikan saluran air tanpa endapan dan lancar.

Selain itu, jendela sekolah tanpa debu, tidak ada sampah nonorganik selain di tempat sampah, dan tidak ada pemborosan listrik. “Sekolah berusaha memenuhi semua tantangan. Penilaian langsung dengan sidak ke sekolah oleh Tunas Hijau sejak September-Desember,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, saat ini ada 275 lubang biopori yang sudah dibuat di lahan sekolah seluas 1,8 hektare. Fungsinya sebagai serapan air. Jendela-jendela juga dibuka setiap hari untuk menggantikan AC dan lampu.

Uswatun mengatakan, pihaknya mengajak siswa dan wali murid untuk turut serta dalam SES 2020 lewat kategori Keluarga Sadar Iklim. Dari ajakan itu, total ada 90 keluarga yang bergabung. “Kami buatkan grup Whatsapp untuk pembinaan jarak jauh dan memantau progres. Dilakukan intens sampai kami home visit. Memastikan mereka nggak merasa sendiri dalam melakukan aksi-aksi lingkungan,” katanya.

KEGIATAN ECOPRENEUR SMPN 22

  • Komposting atau mengolah sampah organik menjadi pupuk yang bisa dijual.
  • Bertanam pakcoy dan kangkong secara hidroponik. Setiap panen dijual ke warga sekolah hingga dipasarkan secara online.
  • Rumah Jamur (bisa dipanen sampai sepekan dua kali). Dijual mentah atau dijadikan produk olahan.
  • Taman produktif seperti serai, cabai, terong, kenikir, dan sebagainya.
  • Kolam lele yang baru dibuat sekitar Oktober 2020.
  • Daur ulang limbah anorganik bank sampah sekolah (kaleng, kardus, kertas, botol plastic, minyak jelantah).

 

Sumber: Jawa Pos, 7 Februari 2021