Butuh Solusi Sistematik untuk Berantas Plagiasi.Kompas.20 Februari 2021.Hal.5

Seri 3. Oei Hiem Hwie. Merawat Sejarah. Kenang-kenangan Jam Tangan Bung Karno. Harian Disway. 3 April 2021. Hal.6,7

Sebagai jurnalis Terompet Masjarakat, Oei Hiem Hwie mendapat kesempatan emas mewawancarai Bung Karno. Ia bertemu langsung di bandara Abdulrachman Saleh, Malang. Lalu diajak Bung Karno terbang ke istana negara. Saat itu adalah momen paling berkesan. Berdua saja dengan Bung Besar.

Kakek satu cucu yang tetap bersemangat di usia senja itu memperlihatkan sebuah foto pada Harian Disway. Foto itu terletak dalam lemari kaca di halaman depan Perpustakaan Medayu Agung, yang terletak di jalan Medayu Selatan gang IV 42-44.

Dalam foto itu tampak Bung Karno sedang berbincang dengan seorang pemuda yang mengenakan pakaian jas dan dasi. “Nah, pemuda itu saya!” serunya. Foto itu diambil oleh rekan jurnalisnya ketika Oei bertemu Soekarno di bandara Abdulrachman Saleh, Malang.

Sebagai jurnalis harian Terompet Masjarakat, ketika itu Oei mendapat kemudahan untuk bertemu Bung Karno. Harian yang dulu berkantor di sisi timur Tugu Pahlawan, Surabaya, itu memang dikenal selalu mendukung kebijakan Presiden pertama Republik Indonesia itu.

Oei lalu bercerita bahwa ia sempat diajak bersafari keliling Malang oleh Bung Karno. Lalu ketika pulang ke Jakarta, Oei masih dibawanya serta. Satu pesawat dengan Bung Karno. Terbang ke ibu kota, lalu menuju istana negara.

Bung Karno mengajak Oei duduk di halaman belakang istana negara. Di bawah pilar, di depan taman bunga. Sang Presiden memberi kesempatan Oei untuk mewawancarainya langsung. Face to face. Duduk saling berhadapan.

Ketika itu banyak hal yang ditanyakan Oei. Mulai kebijakan-kebijakan Bung Karno, perlawanannya terhadap nekolim, serta ketegasan sikapnya. “Intinya itu. Tapi untuk detail pertanyaannya saya sudah lupa. Rentang waktunya terlalu jauh. Wong kejadiannya kalau tidak salah thun 1964, kok,” ujar Oei.

Menurut penuturannya, usai berbincang-bincang akrab dengan Bung karno, Oei meminta kesediaan Bung Karno untuk difoto.

“Lihat ini!” ujarnya kepada Harian Disway. Ia menunjuk sebuah foto Bung Karno berukuran besar. Bung Karno berpose duduk sambil menyerongkan kaki. Senyum mengembang. Cekung lesung pipitnya tampak. Kiranya itulah bagian dari Soekarno yang menawan hati para gadis.

Si Bung Besar memang akrab dengan kaum hawa. Namun dalam foto itu kedua mata sang proklamator tak melihat kamera. Melainkan memandang ke kiri. Sungguh, foto itu memiliki nilaih kisah: Seakan Bung Karno sedang melirik gadis cantik di sampingnya.

“Yang sampeyan lihat itu adalah foto Bung Karno. Disulap jadi besar berkat teknologi masa kini,” ujar Oei sambil memandangi foto idolanya itu.

“Nah, kalau ini foto aslinya,” ujarnya. Lalu menunjuk bagian dalam lemari kaca. Di dalam lemari itu terdapat foto serupa. Namun berukuran kecil. Mungkin ukurannya 3R. Foto itu adalah satu dari beberapa koleksinya yang berhasil diselamatkan.

Menurut kesaksian Oei, ketika itu Bung Karno tampak senang ketika diajak berbincang. Bagi Oei, mewawancarai orang nomor 1 di Indonesia itu adalah pengalaman terbaik seumur hidup. Ketika keduanya mengakhiri pembicaraan, Oei dan Bung Karno saling bersalaman.

Bung Karno sempat melihat tangan Oei. Lalu ia bertanya, “Oei, kenapa kamu tak mengenakan jam tangan?”. Lalu Oei menjawab, “Maaf Bapak, saya memang tidak punya jam tangan”.

Mendengar jawaban Oei, Bung Karno tertawa. Ia tiba-tiba membetulkan kerah jas yang dikenakan oleh Oei. Lalu menasihatinya, “Kamu itu pakai jas dan celana rapi, rambut pun klimis. Kurang padu jika tanpa jam tangan!” ujarnya.

Tiba-tiba Bung Karno melepas jam tangannya. Kemudian diberikannya pada Oei.

“Tak terbayangkan. Saya mendapat jam tangan langsung dari Presiden Soekarno,” kenang Oei dengan berapi-api.

Jam tangan pemberian Bung Karno itu hingga kini masih terpasang rapi di lemari kaca bagian paling depan. Harian Disway diajaknya melihat kondisi jam itu. Ternyata masih terawat dengan baik. Warnanya kuning keemasan.

Di atas bulatan penanda waktunya terdapat gambar burung garuda Pancasila. Di bawahnya tertulis: Istana Presiden RI.

Ia memandanginya cukup lama. Memang setiap benda yang memiliki kenangan, meski ada dan dipajang setiap hari, tak pernah bosan untuk dinikmati.

Oei kembali berjalan menuju kursi tempat kami semula berbincang. Ia duduk. Matanya memandang nanar ke tiap sudut ruangan perpustakaan. Sebagian besar foto yang dipajang adalah foto-foto Bung Karno. Ayah dua anak itu memang Soekarnois sejak muda. Sayang, kedekatannya itu di kemudian hari membawanya pada peristiwa-peristiwa pahit sepanjang hidupnya. Namun tak sekalipun ia mengeluh atau memendam sesal dan dendam.

“Sebenarnya dua kali saya bertemu Bung Karno. Pertemuan terakhir di Istana Negara, pada tanggal 29 September 1965,” ungkapnya. Itulah kali terakhir Oei bertatap muka dengan Bung Besar. Setelah itu ia melanglang buana. Dari penjara ke penjara. (Doan Widhiandono-Guruh Dimas Nugraha)

 

Sumber: Harian Di’s way, 3 April 2021

Seri 2. Oei Hiem Hwie. Merawat Sejarah. Tangan Bung Karno Bisa Nyetrum. Harian Di’s way. 2 April 2021. Hal.6,7

Oei Hiem Hwie, mantan tahanan politik Pulau Buru dan penyelamat naskah tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer itu, memulai kariernya sebagai jurnalis. Tugas pertamanya cukup berat. Jurnalis pemula tapi langsung diserahi amanat untuk mewawancarai Presiden.

Pria tua itu beranjak dari tempat duduknya. Tangannya melambai-lambai, menyuruh Harian Disway agar mengikutinya dari belakang. Usianya telah sepuh meski masih terlihat gagah. Langkah kakinya perlahan dan terseok-seok. Namun itu tak menghalangi antusiasmenya untuk bercerita tentang pengalaman masa lalunya.

Sambil berjalan, Oei menceritakan pengalaman masa lalunya saat menjadi jurnalis. Setelah kuliah di Akademi Ilmu Politik dan Hukum Universitas Malang, Oei sempat mengikuti kursus jurnalistik dengan Manan Adinda, staff Goei Poo An, pimpinan harian Terompet Masjarakat. Lalu ia dikuliahkan di Akademi Pro Patria, Yogyakarta. Mengambil jurusan jurnalistik.

Setelah lulus dan mendapat ijazah dari Jogja, ia menunjukkan ijazahnya itu pada para petinggi harian Terompet Masjarakat. Oei kembali mendapat pelatihan oleh Manan Adinda selama satu tahun. Setelah itu barulah ia ditugaskan liputan.

“Ikut saya. Dokumentasikan ijazah saya sebagai lulusan Pro Patria masih ada,” ujarnya. Ia berjalan menuju ruang samping perpustakaan Medayu Agung. Rupanya ruangan itu selain difungsikan sebagai tempat pemajangan sertifikat dan ijazah Oei, juga dipakai sebagai ruang kantor. Di situ ada dua pegawainya yang sedang serius mengerjakan sesuatu.

“Jangan sungkan. Masuk saja. Nah, ini ijazah saya sebagai tahanan Pro Patria,” ujarnya sambil menunjuk kertas lawas yang dibingkai. Ternyata benar. Kertas itu adalah ijazah. Ejaannya masih memakai ejaan lama dan tertulis angka tahun 1962. Terdapat pula foto Oei semasa muda. Waktu itu usianya masih 27 tahun. Lalu Oei melanjutkan ceritanya.

Setelah merasa puas terhadap perkembangan tulisan Oei, Manan, staff Goei Poo An memberinya mandate. Tugas pertamanya adalah interview dengan sosok terkenal. Oei tanya, “siapa?”. Dengan tegas Manan menjawab, “Bung Karno!”.

Meski merinding mendengar tugas itu, Oei bertanya tentang cara untuk menemui Bung Karno. Apakah ia harus pergi ke istana negara? Atau bagaimana?

“Dua hari lagi Bung Karno ada acara di Malang. Sambutlah di bandara. Bilang saja kalau kamu jurnalis Terompet Masjarakat,” ujar Manan pada Oei.

Pada hari yang ditentukan, sepagi mungkin Oei telah berada di bandara Abdulrachman Saleh, Malang. Ia menantikan kehadiran presiden pertama Republik Indonesia itu.

Ketika pewasat kepresidenan tiba, para pengawal Bung Karno segera bersiap. Mereka menghalau orang yang berusaha mendekat. Kecuali Oei. Pasalnya, ia telah memberi tahu bahwa dirinya berasal dari Terompet Masjarakat. Jurnalis dari harian itu memang diistimewakan, karena Haluan politiknya mendukung arah kebijakan Soekarno.

“Saya melihat Bung Karno datang. Ketika itu beliau menyalami para pegawai pemerintahan yang turut menyambutnya. Terakhir, ia berdiri di hadapan saya,” ungkap Oei.

Waktu itu ia gugup. Salah satu pengawal memberitahukan pada Presiden bahwa pria di hadapannya adalah jurnalis dari Terompet Masjarakat. Si Bung menatap Oei dari ujung rambut sampai ujung kaki. Oei tampak menunduk, gugup dan berusaha tersenyum. Tak berani menatap. Hingga ia lihat uluran telapak tangan Bung Karno padanya.

Oei menjabat tangan sang Proklamator. Lalu Oei terkejut. Telapak tangan Bung Karno seperti dialiri listrik. Lengan hingga wajah Oei rasanya tersengat.

“Betul! Wibawanya itu membuat siapa pun tak berani memandang. Bersalaman dengannya, tangan saya seperti kesetrum!” ungkapnya sambil mengetar-getarkan tangannya sampai ke Pundak. Seolah ingin memeragakan peristiwa saat itu. Bahkan ekspresinya pun ia peragakan. Oei memang menjiwai saat bercerita.

“Bung, kenapa tanganmu bergetar? Kamu takut pada saya?” kata Bung Karno waktu itu. Lalu tertawa. Saat itulah Oei mulai berani memandang Bung Karno dan tersenyum padanya.

“Mau wawancara? Di istana negara saja. Sekarang kamu ikut saya,” perintah Bung Karno pada Oei. Ia menurutinya. Saat itu Oei diajak Bung Karno bersafari ke berbagai tempat di Kota Malang. Sore harinya, Oei bersama rombongan presiden terbang ke Jakarta. Menuju istana negara.

Oei tersenyum mengenangnya. Baginya, peristiwa itu adalah momen terindah dalam hidupnya.

Sampeyan tahu, kira-kira apa yang saya dapatkan di istana negara?” tanyanya pada Harian Disway. Tentu saja Harian Disway menggelengkan kepala. “Ini!” serunya tiba-tiba sambil menunjuk ke arah sebuah benda yang tergeletak di lemari kaca.

Benda itu adalah jam tangan.

Ada apa dengan jam tangan?

 

Sumber: Harian Di’s way, 2 April 2021

Seri 1. Oei Hiem Hwie. Merawat Sejarah. Sejak Kecil Tertarik Jurnalistik. Harian Di’s way. 1 April 2021. Hal.6,7

Jika saja Oei Hiem Hwie tak berupaya menyelamatkan naskah Pramoedya Ananta Toer, maka kita tak pernah tahu tetralogy dahsyat yang menghiasi khazanah sastra Indonesia. Oei masih sehat dan segar bugar. Meski langkahnya terseok. Perjalanan hidupnya penuh warna. Sedih, luka dan letih. Sebagian besar kenangan itu masih melekat di benaknya.

 

Setiap pagi, Oei selalu hadir di Perpustakaan Medayu Agung miliknya. Terletak di jalan Medayu Selatan gang IV no. 22-24. Oei masih menjalani rutinitasnya seperti biasa. Membaca berlembar-lembar koran, buku, lalu berkeliling untuk menyapa satu per satu stafnya. Ia bahkan telah hadir lebih pagi dari jadwal wawancara dengan Harian Disway kemarin.

Duduk di kursi ruang tamu, Oei masih setia dengan kemeja favoritnya yang bermotif batik. Tubuhnya masih kekar, tinggi semampai. Namun kini sedikit membungkus. Garis-garis wajahnya seakan kumpulan aksara yang membentuk rangkaian panjang jalan hidupnya. Memandangnya seperti memandang sebuah ketegaran. Keteguhan tanpa akhir.

“Ini nanti difoto juga ta? Dandanono fotoe yo cek aku ketok enom titik,” ujarnya memulai pembicaraan. Ia ingin jika difoto nanti, fotonya diedit. Agar terlihat lebih muda. Oei memang sosok humoris. Lekat dengan candaan-candaan. Kontras dengan masa lalunya yang keras. Sama sekali tak terlihat seperti pria yang pernah menghabiskan 13 tahun masa tahanan.

Oei adalah pria asli Malang. Tepatnya dari desa Lowokwaru. Tanah kelahiran sekaligus tanah yang kelak memenjarakannya. Ia adalah anak seorang pedagang yang berkeinginan kuat menjadi jurnalis. Kedua orang tuanya sebenarnya menolak niatnya. Karena sebagai anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga Tionghoa, seharusnya Oei meneruskan usaha berdagang ayah ibunya. Bukannya bekerja di bidang lain.
“Sempat ditolak. Tapi saya tetap teguh pada pendirian. Apalagi saya suka kalau lihat jurnalis. Bisa keliling, menulis dan bertemu banyak orang,” ungkap anak kedua dari tiga bersaudara itu. Ia sedari kecil memang gemar menulis. Menuliskan apa pun yang diamati maupun menulis tentang perasaan-perasaannya. Terlebih pada masa itu, Oei memandang profesi jurnalis laiknya seorang raja. Siapa saja pasti menaruh segan dan hormat bila bertemu seorang jurnalis.

“Tapi di balik segala penghormatan, profesi jurnalis dulu dijalani dengan sangat keras. Kalau jurnalis sekarang enak. Tinggal buka Google,” ujarnya. Kerasnya kerja jurnalis masa itu adalah minimnya bahan atau sumber lain yang sulit didapatkan. Oei sedari kecil memahami hal itu. Bahkan ketika SD ia mulai mengumpulkan dan menyimpan surat kabar. Siapa tahu besok ketika jadi jurnalis, ia dapat menemukan narasi tambahan dari artikel-artikel surat kabar itu.

Kegemaran Oei terhadap profesi jurnalis semakin menguat. Terlebih tetangga depan rumahnya yang bernama Na Hong Siong adalah jurnalis surat kabar Terompet Masjarakat. Ia kerap memberikan tulisan-tulisannya pada tetangganya itu. Ia meminta untuk dikoreksi. Diajak menulis dengan baik, juga kerap diajak liputan.

Dengan kata lain, Na Hong Siong adalah guru pertamanya dalam jurnalistik. “Pak Na Hong Siong yang banyak menuntun saya dalam menulis. Termasuk bertanya tentang tema-tema penulisan yang saya minati,” ungkap pria berusia 85 tahun itu. Oei selama ini berminat dengan tema-tema politik. Gurunya itu pula yang menyuruhnya agar kelak setelah lulus SMU, melanjutkan kuliah jurusan politik. Demi mendalami niatnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan di tingkat dasar hingga SMA di sekolah Tionghoa Hwie Kwan, Malang. Oei menuruti saran Na Hong Siong. Ia melanjutkan kuliah ke Akademi Ilmu Politik dan Hukum di kota Malang.

Ia dengan tekun mempelajari ilmu politik dan hukum. Dari studinya itu Oei menyerap banyak ilmu. Ia banyak menulis tentang politik, baik esai maupun tulisan-tulisan jurnalistik. Karya tulis Oei juga pernah dikirimkan ke media massa dan dimuat. Saat itulah Na Hong Siong, yang intens membaca tulisan-tulisan Oei mulai menangkap kesungguhan muridnya itu.

“Suatu siang, Pak Na Hong Siong mendatangi rumah saya. Memberitahukan bahwa pimpinan harian Terompet Masjarakat akan singgah ke rumahnya. Saya disuruh datang,” ungkapnya. Tanpa pikir panjang Oei menyetujuinya. Ia mulai menyiapkan naskah-naskah tulisannya. Dengan harapan ketika bertemu pimpinan, ia dapat menunjukkannya. “Siapa tahu dia suka, dan saya diangkat jadi jurnalisnya,” tambahnya.

Pada hari yang telah ditentukan, sedari pagi Oei telah bersiap di rumah Na Hong Siong. Seseorang yang dinantikan akhirnya tiba. Ialah Goei Poo An, pimpinan harian Terompet Masjarakat. Harian ternama yang ketika itu berkantor di sebelah timur Tugu Pahlawan. Sekarang jadi kantor gubernur Jawa Timur.

Na Hong Siong berbincang-bincang dengan pimpinannya, lalu mengenalkan Oei padanya. “Pak pimpinan, ini Oei Hiem Hwie. Anak ini berbakat menulis. Mungkin bisa dibaca dulu tulisan-tulisannya,” ujar Na Hong Siong ketika itu, seperti dituturkan oleh Oei.

Oei pun menyerahkan naskah-naskahnya. Ketika usai berbincang serius dengan Na Hong Siong, Goei Poo An tampak kembali serius membaca naskah-naskah Oei. Lembar per lembar dibalik, dibacanya dengan tuntas.

“Oei, kamu mau jadi jurnalis?” tanya Goei Poo An.

Oei mengangguk.

“Kursus dulu di Manan Adinda, lalu berangkatlah ke Yogyakarta. Kuliah lagi di Akademi Pro Patrial,” perintah Goei Poo An pada Oei. Namun ketika itu Oei belum menyelesaikan studinya di akademi Malang.

Jadi selagi Oei menyelesaikan studinya, ia juga mengikuti kursus jurnalistik pada Manan Adinda, staff Goei Poo An. Kemudian melanjutkan kuliah di Akademi Pro Patria. Ia dijanjikan setelah lulus, diterima sebagai jurnalis Terompet Masjarakat.

“Saya dengan segera menyelesaikan kuliah pertama saya. Lalu langsung ke Surabaya, ke kantor Terompet Masjarakat. Dibiayai penuh, saya mendaftar di Pro Patria dan diterima,” ungkapnya. Sekitar empat tahun lamanya Oei kuliah dan lulus dengan nilai tinggi. Sesuai janji Goei Poo An, Oei langsung diangkat sebagai jurnalis Terompet Masjarakat.

“Tugas pertamamu adalah mewawancarai tokoh terkenal!” perintah Manan Adinda pada Oei.

“Siapa?”

“Bung Karno!”

Oei menelan ludah. Tubuhany menggigil. Ia menerima tugas pertamanya yang sungguh berat: Mewawancarai pemimpin tertinggi Republik.

(Doan Widhiandono-Guruh Dimas Nugraha)

 

 

Sumber: Harian DI’s Way, 1 April 2021

Dilema Pembelajaran Tatap Muka. Kompas. 5 Mei 2021. Hal.5

Pembukaan sekolah tatap muka secara menyeluruh masih menimbulkan kegamangan dan kekhauatiran.  Masyarakut menikai pembelajaran berani tak efekrif dan di sisi lain khawatir penularan Covid-19 di sekolah.

Hasil survei Kompas April lalu masyarakat dalam menanggapi kebijakan pemerintah yang akan membuka kembali pembelajaran tatap muka pada tahun ajaran baru Juli mendatang.  Respons masyarakat terbelah, antara yang masih merasa khawatir (50,1 persen) dan yang merasa tidak khawatir (49,2 persen).

Melalui Surat Keputusan Bersama (SKP) empat menteri, akhir Maret 2021, pemrintah mendorong akselerasi pembelnjaran tatap muka ter- batas dengan tetap menjalan- kan protokol kesehatan yang ketat, inilal juga sejalan dengan percepatan vaksinasi terhadap guru  dan tenaga kepen didikan.

Sejak dimulainya penutupan sebuah sekolah pada Maret 2020 akibat pandemi Covid-19, tidak pemerintah sudah empat kali mengeluarkan SKB empat menteri terkait renca-na pembukaan sekolah untuk pembelajaran tatap muka.  Namun, sudah satu tahun lebih hingga hari ini dunia pendikan masih untuk menerapkannya.

Pasalnya, pandemi Covid-19 tidak kunjung mereda, bahkan kini ada potensi kecenderungan kasusnya meningkat.  Sementara itu tak dapat dimungkiri dunia pendidikan menghadapi tantangan yang berat dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Pemberian vaksin kepada sekitar 5 juta guru dan tenaga kependidikan, yang ditargetkan bisa selesai pada akhir Juni 2021, menjadi harapan terselenggaranya kembali pemelajaran tatap muka (PTM) pada Juli mendatang.  Secara umum, mayoritas responden merespons kebijakan positif pemerintah untuk memulai PTM.  Namun, sebagian besar ukuran (84,2 persen) menekankan persyaratan ketat terkait PTM tersebut.  Sementara itu, kelompok responden lainnya, yakni sekitar 13,5 persen, hanya mendukung agar pemerintah menunda kebijakan tersebut.

Syarat utama yang ditekankan responden adalah terkait kondisi kasus Covid-19.  Sebagian besar kelompok responden yang merespons kebijakan positif belajar tatap muka ini menerapkan dibuka hanya di wilayah yang tidak ada penambahan kasus Covid-19 atau penambahan kasusnya sedikit.  Hanya 15 persen responden yang secara tegas setuju untuk melakukan di seluruh wilayah, termasuk di wilayah dengan penambahan kasus Covid-19 tinggi (zona merah).

Tentu, respon masyarakat ini menggambarkan bahwa sebenarnya masih ada keragu-raguan dan melepaskan anak-anak kembali masuk sekolah.

Kluster sekolah

Kekhawatiran syarakat terbesar jika sekolah dibuka kembali adalah besarnya peningkatan penyebaran Covid-19 di ruang kelas.  Sebanyak 61,9 persen responden menyatakan alasan tersebut.  Sementara 21,5 persen responden khawatir siswa atau guru dapat menjadi pembawa (carrier) penyebaran SARS-CoV-2, virus penyebab Covid-19.

Kekhawatiran cukup tersebut beralasan mengingat kasus terkonfirmasi positif pada disia tergolong tinggi meski rendah dibandingkan dengan usia kelompok lainnya.  Data pada laman covid19.go.id per 24 April 2021 menunjukkan, kasus Covid-19 pada anak mencapai 12,2 persen.  Tingkat kematian akibat Covid-19 pada anak juga tinggi, sekitar 3 persen dan merupakan yang tertinggi di Asia Pasifik.  Apalagi muncul kluster penularan Covid-19 di sejumlah sekolah berasrama setelah menjalankan pembelajaran tatap muka (Kompas, 1/4/2021).  Hal ini menunjukkan, pembukaan sekolah masih berisiko tinggi bagi siswa.  Kasus Covid-19 pada anak memang umumnya bergejala ringan, bahkan tidak bergejala, tetapi bukan berarti anak tidak rentan dan tidak berbahaya jika terpapar.

“Normal baru” dengan berbagai pembatasan juga dinilai sebagian responden (6,3 persen) tidak nyaman dan tidak efektif untuk belajar.  Di samping itu, masyarakat juga menilai kedisiplinan sekolah menerapkan protokol kesehatan masih minim.  Munculnya kluster penyebaran Covid-19 di sejumlah sekolah ditenggarai akibat kendurnya pengawasan protokol kesehatan.

 Tidak efektif

Namun, di sisi lain, tidak efektifnya pembelajaran menjadi alasan utama yang paling menonjol (36,9 persen) dari responden yang menyatakan tidak khawatir dengan pelaksanaan PTM di masa pandemi ini.  PJJ, baik dare maupun luring, dinilai tak efektif dan menimbulkan dampak learning loss (hilangnya pengalaman belajar) yang semakin dalam.  Pembukaan sekolah diharapkan mencegah kerugian yang lebih besar lagi akibat penutupan sekolah.

Di samping itu, sepertiga responden tidak khawatir ka-rena yakin kegiatan di sekolah dapat dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat.  Kerinduan siswa untuk kembali ke sekolah (13,3 persen) juga menjadi alasan yang mendorong pembelajaran tatap muka segera dilaksanakan. Tak dapat dimungkiri, PJJ yang berkepanjangan telah menimbulkan kejenuhan bagi siswa dan membuat siswa malas belajar.  Ini dikuatirkan sebagai demotivasi untuk melanjutkan sekolah.

Vaksinasi yang mulai dilaksanakan sejak medio Januari 2021 sebagai salah satu upaya penanganan pandemi menjadi alasan 16,4 persen responden tidak merasa khawatir lagi belajar tatap muka.  Apalagi guru dan tenaga kependidikan juga mendapat prioritas pemberian vaksin.

Tidak hanya pendidik, mayoritas responden (72,4 persen) juga mengharapkan para siswa bisa mendapatkan vaksinasi agar lebih terjamin ke- selamatannya.  Apalagi perusa-haan farmasi asal China, Sinovac, mengklaim bahwa vaksin Covid-19 mereka aman dan efektif untuk anak usia 3-17 tahun.  hal yang terkait tersebut, pemerintah (Kementerian Kesehatan) masih menanti hasil uji klinis secara keseluruhan.

 Protokol Kesehatan

Meskipun demikian, jika pun semua guru telah divaksin, belum menjamin sekolah aman dibuka kembali.  Ini karena kekebalan kelompok di lingkungan sekolah belum terbentuk sehingga berisiko siswa terpapar Covid-19 masih tinggi.

Karena itu, infrastruktur dan prosedur standar protokol kesehatan menjadi syarat mutlak jika sekolah tidak akan dibuka lagi.  Pemerintah menetapkan 15 indikator atau daftar periksa bagi sekolah sebelum menyelenggarakan PTM.

Hasil survei juga menun-i jukkan, sebagian besar responden (44 persen) terpisah menjadi penyediaan infrastruktur protokol kesehatan di sekolah yang memadai, seperti masker, air bersih, tempat cuci tangan, dan cek suhu, hal yang paling penting dipemerintah.  Sayangnya, data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tentang kesiapan belajar menunjukkan, baru 280.372 atau 52,44 persen sekolah yang mengisi daftar kesiapan ses belajar mengajar di masa pandemi.  Itu pun baru sekitar 10 persen yang siap (Kompas, 18/3/2021).

Tidak kalah pentingnya adalah pengawasannya. Pembukaan sekolah tatap muka harus tetap mengacu pada protokol kesehatan yang ketat.  Setidaknya ini mampu menjadi pertimbangan untuk sedikit menjawab dilema publik ter kait rencana pembukaan sekolah tatap muka.

(MB DEWI PANCAWATI/ LITBANG KOMPAS)

Sumber: Kompas. 5 Mei 2021. Hal.5