Pahami dan Motivasi Anak Disleksia

Pahami dan Motivasi Anak Disleksia. Jawa Pos. 23 Juli 2015. Hal 32

GRESIK – Banyak orang tua yang belum memahami disleksia pada anak. Gangguan belajar berupa kesulitan dalam berbahasa, terutama membaca dan menulis, itu lebih baik sejak didini diketahui agar bisa cepat diatasi. Diperlukan terapi motivasi.

Dokter RS Petrokimia dr Erica Jahja SpA mengatakan, tanda anak disleksia terlihat dari gejala awal. Misalnya sulit membedakan huruf d dan b atau a dan e. Sering terbalik. Ada juga gejala lain. Anak disleksia akan sulit memahami dan memproses apa yang didengarnya. Saat membaca juga, sering salah. Selanjutnya, proses belajar menulis pun menjadi lamban.

Erica mengatakan, kasus anak disleksia memang tidak banyak ditemukan di Kota Pudak. Nmaun, semua anak bisa mengalaminya. Disleksia bisa terjadi pada anak di semua tingkat kecerdasan. Mulai anak yang memiliki tingkat inteligensi tinggi hingga rendah. Bahkan, ilmuwan seperti Albert Einstein, konon, mengalami disleksia saat masih anak-anak.

Rata-rata, kata Erica, penyebab dominan disleksia adalah faktor genetik. Anak lebih berisiko mengalami disleksia jika orang tua pernah mengalaminya. Ada bebrapa gen keturunan yang memang dapat mempengaruhi perkembangan otak. Salah satunya, gen yang mengendalikan fonologi. Jika terjadi gangguan, anak akan sulit memahami suara atau bahsa lisan. Misalnya, antara kata luka dan lupa.

Adakah dampak psikologis bagi anak ? Menurut Erica, masalah disleksia memang berdampak pada perkembangan anak. Khususnya, saat masa usia prasekolah. “Meraka cenderung mengalami tekanan secara psikis dari lingkungan,” katanya. Misalnya, diolok-olok atau dinilai lambat belajar. Padahal, tingkat disleksia anak juga mungkin berbeda. Karena itulah, peran orang tua sangat penting agar gangguan tersebut segera disembuhkan.

“Orang tua perlu tahu sejak awwal gejala muncul,” ungkapnya. Penanganan sejak dini bakal membantu menemukan solusi. Salah satunya, intens memberikan motivai kepada anak. Penanganan itu butuh waktu. Namun, jika itu dilakukan intens, disleksia bisa berkurang, bahkan hilang saat dewasa. “Motivasi itu terapi bagus untuk penderita disleksia,” jelasnya. (adi/c10/roz)

Sumber : Jawa-Pos.-23-Juli-2015.-Hal-32

Belum Saatnya John Connor Selamatkan Manusia

Belum Saatnya John Connor Selamatkan Manusia. Jawa Pos. 25 Juli 2016. Hal 5

Oleh Dhimas Ginanjar (Wartawan Jawa Pos, penyuka dan pengguna teknologi)

SIAPA di antara pembaca Jawa Pos yang mengikuti film Terminator ? Kalau suka film itu, anda pasti ingat dengan Skynet. Program canggih dengan kecerdasan buatan yang diciptakan oleh Cyberdyne dan mulai online pada 2004.

Skynet kemudian menjadi berbahaya. Sebab, pada 2018, program yang awalnya untuk sistem pertahan militer Amerika Serikat itu justru memicu perang nuklir dan membumihanguskan manusia.

Serius, dalam beberapa minggu ini, rasanya film yang diperankan Arnold Schwarzenegger itu menjadi kenyataan. Linimasa Twitter, Facebook, Blackberry Messenger, sampai WhatsApp terus membicarakannya.Skynet terasa benar-benar ada.

Tapi “Skynet” yang ditakuti itu hadir dalam bentuk imut: monster di Pokemon Go. Senasib dengan Skynet, Pokemon yang diciptakan untuk membantu (baca : senang-senang-senang) eh sekarang malah dikhawatirkan membocorkan rahasia negara.

Permainan yang membuat pemainnya seolah melihatolah melihat dan menangkap monster itu sebenarnya belum resmi di Indonesia. Tapi hebohnya Subhanaallah.

Banyak yang menyambut positif. Namun ada juga yang menentang ala John Connor, sang penyelamat di film Terminator. Mulai dari arguman yang masuk akal sampai konyol seperti arti kata Pokemon dalam bahasa Syriac,yakni Aku Yahudi.

Saking banyaknya perdebatan, beneran deh kalau ada pembangkit listrik tenaga debat pokemon Go (PLTTDpg), Presiden Jokowi tidak perlu khawatir atas masa depan program pembangkit listrik 35 ribu mw. Pasokan energinya melimpah. Hehehe..

***

Selamat datang di era big data, zaman ketia data menajdi raja. Jika Pokemon Go dianggap menjadi mata-mata, lantas kita menyebut google, Facebook, bahkan layanan  transportasi/ojek online sebagai apa ?

Mereka lebih dulu mengoleksi data. Tapi entah karena informasinya, tidak sederas Pokemon Go atau aplikasinya dianggap bermanfaat, jadinya semua cuek.

Di era big data, “sah” untuk mengumpulkan berbagai informasi yang nantinya digunakan untuk keperluan lain. Jika tidak mau, ya balik ke ponsel tanpa internet saja. Google, misalnya, mengumpulkan data atas perilaku yang tertarik terhadap sesuatu saat browsing. Lantas, data itu digunakan untuk menampilkan iklan yang tepat.

Jadi, jangan kaget, ketika membuka suatu website, yang mendukung iklan dari Google, muncul barang favorite anda. Atau, tiba-tiba muncul iklan website porno. Jangan-jangan sebelumnya anda surfing hal-hal yang erotis. Langkah yang sama konon dilakukan transportasi online.

Mereka mengumpulkan data diri lengkap denga rute yang biasa kita pakai. Server mereka bisa memetakan, misalnya, Jalan Mawar pukul 13.00 sampai 16.00 lebih banyak dilewati perempuan muda.

Data itu lantas ditawarkan kepada biro iklan atau perusahaan. Dengan iming-iming, produk kecantikannya ditampilkan di jalan itu. Iklan pun jadi lebih tepat sasaran.

Di Facebook, cukup tekan tombol like, aktifitas menjelajah dunia yang tersimpan dalam cookie langsung dikumpulkan. Lebih gila lagi, tim Mark Zuckerberg berhasil meluncurkan graph search yang disebut sebagai harta karun.

Saat diaktifkan, mesin pencarinya mampu menemukan orang berdasarkan jenis kelamin, sekolah, kota, sampai jomblo. Contoh magic-words-nya : singles who live in Jakarta.

Metode pengumpulan itu bisa berupa banyak hal dengan ada timbal balik. Maksudnya, Google mengoleksi data kita karena layanan email, You Tube, dan lain-lain diberikan gratis. Termasuk, melalui aplikasi Google Maps yang saya yakin penggunaannya lebih banyak dari Pokemon Go.

Rasanya aneh ketika menghujat kemampuan game untuk mengetahui lokasi tapi membiarkan aplikasi  peta yang lebih akurat.Malah teknologi itu kini mampu memberikan informasi detail lewat Street View yang sangat memudahkan mencari alamat. Hal yang sama dilakukan Niantic, pembuat game Pokemon Go.

Mereka lebih dulu membuat Google Earth, lantas mengembangkan game Ingress yang mengoleksi data dari unggahan foto dan koordinat para pemain. Data yang mereka kumpulkan itulah yang saat ini berevolusi menjadi Pokemon Go, bukan yang lain.

***

Pengumpulan data saat ini bukanlah hal  yang asing. Google, Facebook, dan transportasi online adalah sebagian kecil contoh perusahaan yang memanfaatkan data. Apakah kita perlu takut ? Untuk saat ini, belum ada bukti apakah mereka mamanfaatkan itu untuk aktifitas intelijen.

Ada pernyataan bahwa pengumpulan data itu lantas digunakan Amerika untuk menemukan Osama Bin Laden maupun aksi lain. Jika Amerika menggunakan Google Maps untuk itu, saya menggunakan satelit supaya tidak tersesat saat tugas ke luar kota atau negara lain. Apakah lantas saya disebut melakukan aksi intelijen ?

Pokemon Go ketika dipasang memang meminta izin untuk menggunakan kamera. Namun, sampai saat ini belum ada bukti game tersebut memotret sendiri dan mengupload foto sendiri. Jika itu terjadi, tentu akan ada protes besar dan lonjakan lalu lintas data yang sangat besar. Gampangnya, kuota internet anda bakal cepat  habis.

Sebagai contoh, memata-matai lewat streaming video. Untuk kualitas standar, dalam satu jam butuh kuota 700 mb. Kalau high definiition (HD), angkanya malah sampe 3 gb per jam. Jadi, bagaimana mereka bisa memata-matai atau mengambil data tanpa membuat kita kehilangan data sebesar itu secara sadar ?

Hal yang sama berlaku untuk foto. Saya menggunakan ponsel dengan kamera 12 mrgapixel (mp). Satu file foto memakan tempat sekitar 3,5 mb. Jika ada 10 foto yang terunggah, berarti kuota sebesar 35 mb akan terpotong. Tapi, gerakan mata-mata butuh lebih dari 10 foto dengan kualitas jernih. Dan, itu butuh kuota besar.

Untuk mengecek apakah Pokemon Go dikontrol dari tempat lain untuk mengunggah data, bagi ponsel Android, bisa dilakukan pengecekan dengan masuk ke setting atau pengaturan. Pilih menu aplikasi dan cari Pokemon Go. Akan muncul beberapa data usage yang terpakai. Apakah sudah lebih dari puluhan gigabyte ?

Meski demikian, saya sepakat. Apa pun itu, kalau dilakukan dengan cara berlebihan, dampaknya akan jadi tidak baik. Efek Pokemon Go membuat orang jadi tidak fokus bekerja dan menyetir.

Sampai-ssampai ke tempat ibadah pun hanya dilakukan untuk mencari monster. Perlu ada rambu-rambu, tetapi tidak perlu khawatir secara berlebihan. Jadi, John Connor kita minta untuk berlatih dulu. Hehehe…

Sumber: Jawa-Pos.-25-Juli-2016.-Hal-52

Penjual Jus Cabuli Siswa MTs Selama Sepekan

Penjual Jus Cabuli Siswi MTs Selama Sepekan. Jawa Pos.3 Juni 2016.Hal.33,47

Bermula dari perkenalan lewat facebook

Surabaya- lagi-lagi, media sosial menjadi perantara terjadinya kasus pencabulan anak-anak dibawah umur. Yang terbaru, seorang siswi madrasah tsanawiyah (MTs), sebut saja bernama Rani dicabuli Novan Chandra, 20, selama sepekan. Hubungan badan itu terjadi di rumah kos Novan, Wonosari Kidul Gang V. Dalam pengakuannya kepada polisi, pemuda penjual jus itu mengenal Rani sekitar empat bulan lalu melalui facebook. Saling berbalas pesan di media sosial tersebut membuat keduanya merasa ada kecocokan. Keduanya pun sepakat berpacaran meski hanya di dunia maya.

Novan Kena UU Perlindungan Anak

Selama berpacaran, keduanya terus berkomunikasi via facebook. Kadang mereka juga berbalas pesan lewat short message service (SMS). Maklum, pasangan yang sedang dimabuk cinta itu dipisahkan jarak yang jauh. Novan tinggal di Surabaya, sedangkan sang kekasih berada di Kediri. Karena sudah terlaly kangen, keduanya sepakat bertemu di Surabaya. Tanggal pertemuan pun ditetapkan, yakni 22 Mei. Sesuai jadwal yang disepakati, siswi berusia 15 tahun itu pun pergi ke Surabaya. Untuk kali pertama, keduanya bertemu pada pukul 15.30 di Terminal Purabaya; Sidoarjo. “Saya tidak menyangka wajahnya lebih cantik daripada fotonya di facebook,” ujar Novan saat ditanya Jawa Pos kemarin (2/6).

Melihat kecantikan pacarnya itu, Novan tidak kuat lagi menahan nafsu. Dia langsung mengajak Rani ke tempat kosnya. Berawalnya dari sekadar ngobrol dan saling peluk, keduanya lantas berciuman hingga akhirnya berhubungan badan. Tidak hanya sekali, hubungan badan layaknya suami istri itu berlangsung tujuh kali. Tiap malam, mulai 22-28 Mei. “Saya iming-imingi dia baju baru agar mau,” ujar Novan.

Novan yang juga berasal dari Kediri itu sebenarnya sadar bahwa Rani masih duduk di bangku kelas IX MTs. Itu berarti Rani masih dibawah umur dan Novan terancam hukuman pidana. Meski demikian, Novan tetap berusaha membela diri dengan dalih hubungan tersebut dilakukan atas dasar suka sama suka. “Tidak ada paksaan. Saya juga berjanji menikahi dia,” kata Novan sambil mewek.

Sementara itu, Rani yang tidak pernah lama meninggalkan rumah akhirnya dicari orang tuanya. Handphone yang sulit dihubungi membuat ayah dan ibunya mencari Rani dari teman-teman dekatnya. Untung, salah seorang teman Rani mengatakan bahwa sang anak pergi ke Surabaya untuk bertemu dengan Novan.

Pada 28 Mei pukul 16.00, orang tua Rani menemukan anaknya bersama Novan. Keduanya ditemukan saat sedang bermesraan di Jalan Hayam Wuruk, Surabaya. “Orang tuanya tidak terima dengan perlakuan tersangka. Lalum melapor ke Polsek Wonokromo,” jelas Kapolsek Wonokrompo Kompol Arisandi.

Polisi lantas menangkap Novan di kamar kosnya. Dalam penangkapan itu, polisi menyita barang bukti berupa empat kaus, celana dalam, dan celana jins yang digunakan korban selama tinggal bersama tersangka. “Dia (tersangka) akan kami amankan dengan dugaan kasus pencabulan,” imbuhnya. Arisandi mengatakan, tersangka akan dijerat dengan pasal 81 UU No. 3 Tahun 2014 tentang Pelindungan Anak. Sebab, korban terhitung masih dibawah umur dan sudah disetubuhi secara sengaja oleh tersangka. “Kami masih menunggu proses pengadilan. Bisa saja tersangka terkena ancaman Perppu No. 1 Tahun 2016 yang hukumannya kebiri atau ekspos identitas,” tegasnya.

Sumber : Jawa Pos. 3 Juni 2016. Hal 33,47

Materi Tersebar di Lingkungan

Pendidikan Seksualitas Ditempuh Lewat Diskusi Orangtua -Anak. Kompas.8 Juni 2016.Hal.11

Pendidikan Seksualitas Ditempuh Lewat Diskusi Orangtua-Anak

Jakarta, Kompas – Paparan pornografi terhadap anak-anak tidak hanya berlangsung lewat internet, tetapi juga lewat kehidupan nyata sehari-hari. Bahkan, anak-anak mengenal pornografi pertama-tama justru dari tontonan, bacaan, hingga candaan orang dewasa.

“Anak-anak tidak serta merta bisa mengakses materi pornografi secara daring (dalam jaringan). Keinginan itu timbul akibat timbunan memori yang didapat sedari kecil,” ucap psikolog seksual Baby Jim Aditya, ketika ditemui di Jakarta, Selasa (7/6). Materi ini dipapar tanpa sadar oleh orang tua kepada anak.

Baby menjelaskan, ketika bercanda di media sosial dengan sesama orang dewasa, orangtua sering saling mengirim meme, foto, atau video yang bersifat pornografi. Menurut dia, berdasarkan pengakuan klien anak-anak yang ditanganinya, mereka berada di sebelah orangtua saat foto atau meme muncul di gawai.

Anak-anak juga terpapar pornografi ketika secara tak sengaja melihat gambar-gambar yang tersimpan di gawai milik orangtua. Hal ini terjadi karena orangtua tidak menghapus materi pornografi di gawai. “Anak tidak segera beraksi. Namun, materi tersebut terpendam di dalam ingatan selamanya,” ucap Baby.

Menurut dia, seiring berjalannya waktu, anak berkembang secara fisik dan mental. Merekapun semakin terpapar dengan berbagai hal yang bersifat seksis. Situasi ini bisa memicu anak-anak untuk menggali ingatan pada materi pornografi di benak mereka.

“Ketika keinginan itu muncul, ia mencari konten pornografi. Hal pertama yang ia coba ialah gawai di sekitarnya,” ujar Baby.

Secara terpisah, Ryan Syakur dari bagian advokasi dan humas Persatuan Keluarga Berencana Indonesia Pusat mengatakan, sumber pertama pornografi bagi anak adalah koleksi milik orangtua. Bentuknya bisa berupa film, majalah, tulisan, hingga gambar.

“Dari siswa-siswa SMA yang diteliti, mereka semua menyebut orangtua tidak cermat dalam menyimpan materi pornografi,” kata Ryan yang pernah meneliti akses anak terhadap pornografi.

Materi pornografi lalu disebar dengan mudah di media sosial sehingga akses anak terhadapnya dilakukan diantara sesama pengguna medsos atau tidak lagi melalui situs dewasa.

 

Korban sekaligus pelaku

Paparan pornografi terhadap anak juga terjadi karena lingkungan sekitar cenderung tidak mendukung perlindungan pada mereka. Orang dewasa di sekitar anak, misalnya, sering mengutarakan lelucon yang bersifat merendahkan perempuan. “Orangtua secara tidak sadar membuat lawakan seksis kepada anak laki-laki,” ujar Baby.

Bentuk lelucon itu antara lain pernyataan seorang ayah bahwa ketik seusia anaknya, ia memiliki banyak pacar. “Laki-laki dewasa malah meremehkan adik, anak, atau keponakan laki-laki yang belum memiliki pengalaman mengeksploitasi perempuan,” tutur Baby.

Lawakan ini kemudian menjadi hal lumrah diutarakan di kelompok pergaulan anak laki-laki. Alhasil, terbentuk pola pikir mereka mengenai tubuh sendiri ataupun ketubuhan perempuan.

Pemahaman semcam itu pula yang membuat anak menjadi korban sekaligus pelaku pornografi. Berdasarkan riset Ryan, siswa SMA gemar mengunggah foto ataupun video saat bermesraan dengan pasangan. Konten ini sangat populer di kalangan anak dan remaja.

Maka, muncul pemikiran bahwa berpacaran lazim dilakukan sambil beradegan mesra dan mempertontonkannya kepada kawan sebaya sebagai bentuk aktualisasi diri. “Hal ini juga didukung tidak adanya kesadaran orangtua dan guru memberikan pendidikan seksualitas untuk menyikapi perubahan hormon dan pemikiran anak,” ujar Ryan.

Baby menekankan pula pentingnya komunikasi antara orangtua dan anak. Komunikasi diwujudkan tidak dalam bentuk menakut-nakuti anak, tetapi pada diskusi dan pemberian pemahaman. Diskusi lebih efektif apabila menggunakan perspektif lawan jenis, yakni ayah mendidik anak perempuan, sementara ibu mengajar anak laki=laki.

“Ayah yang pernah menjadi anak dan remaja laki-laki menceritakan pengalamannya kepada anak perempuannya sehingga putrinya memahami dinamika hubungan dengan lawan jenis dan bisa menjaga diri,” tuturnya.

Sumber: Kompas.8-Juni-2016.Hal_.111

Pendeta Gea Bantah Cabuli 7 anak

Pendeta Gea Bantah Cabuli 7 anak. Surya.3 Juni 2016.Hal.11

Sidang di PN Surabaya

Surabaya, Surya – Pendeta Idaman Asli Gea alias Idaman Asli Telambanua harus duduk di kursi pesakitan Pengadilan Negeri (PN) Surabaya atas tuduhan pencabulan terhadap tujuh anak.

Dalam sidang pemeriksaan saksi di ruang Sari II yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Maxi Sigarlaki SH, ketujuh saksi terdiri dari lima perempuan dan dua laki-laki diperiksa satu persatu secara tertutup. Mereka adalah F (21), MM (17), R (20), MN (21), AP (8), F (13), dan YN (13).

Ketika sidang berlangsung dari balik kaca jendela terlihat majelis hakim berargumen dengan terdakwa Idaman Asli Gea. Di depan ruang Sari II pun terlihat ramai. Ada beberapa perempuan terlihat mendampingi ketujuh korban pelecehan seksual. Mereka melakukan pendampingan karena kondisi korban mengalami trauma berat.

Dalam kasus ini, terdakwa dijerat pasal berlapis yakni Pasal 81 ayat 1 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo Pasal 64 ayat 1 KUHP, ancaman hukumannya 15 tahun penjara.

Sesuai dakwaan yang ada, terdakwa diduga melakukan persetubuhan terhadap keponakannya sendiri, MM. Dalam dakwaan itu disebukan, korban tinggal bersama terdakwa sejak tahun 2012, saat itu korban kelas 3 SMP.

Kerjadian itu terjadi saat korban pulang dari sekolah dan disuruh terdakwa untuk membikinkan teh. Setelah itu disuruh mengantar ke kamar terdakwa.

Lantas korban disuruh mengunci pintu kamar. Selanjutnya terdakwa menyuruh korban untuk mengerok terdakwa di bagian bawah perut. Akhirnya korban disuruh melayani terdakwa sambil berkata: “aku itu membutuhkan kamu, aku tidak merusak kamu, itu kebutuhanmu, jangan bohongi dirimu sendiri:.

Korban saat itu menjawab “tidak mau om” sambil beranjak dari tempat tidur. Lalu terdakwa mengambil pisau diatas lemari pakaian dan menodongkan pisau di leher korban. Tetapi saat itu terdengar suara pintu pagar terbuka oleh adik kandung korban yang pulang dari sekolah.

Karena kondisi tidak memungkinkan, terdakwa menyuruh korban keluar dari kamar dengan berkata: “keluar kamu, kalau kamu gak nurut saya pulangkan kamu ke Nias dan jangan harap kamu bisa sekolah di sini”.

Korban saat itu hanya bisa menangis sambil keluar kamar terdakwa.

Persoalan tak berhenti disitu. Agustus 2014, korban saat itu diantar terdakwa ke sekolah bersama dengan saudara-saudara saksi korban lainnya dengan menggunakan mobil Suzuki Ertiga. Setelah terdakwa mengantar semua saudara-saudara korban ke sekolah, terdakwa tidak mengantar korban langsung ke sekolahnya. Namun terdakwa menghentikan mobil di daerah sepi. Terdakwa yang awalnya duduk di kursi depan melompat ke kursi tengah tempat korban sembari berkata: “itu sudah kebutuhan kamu, kamu itu harus bisa merasakan laki-laki itu seperti apa, suapaya kamu kedepannya itu punya pengalaman dan tidak mudah luluh dengan laki-laki lain.”

Korban yang diliputi rasa ketakutan itu tidak bisa mengatakan apa-apa dan berusaha keluar dari mobil. Namun, pintu mobil sudah dikunci dan terdakwa menyuruh korban untuk membuka baju sambil berkata ‘buka bajumu daripada aku sobek nanti kamu gak bisa sekolah’.

Dalam kejadian ini, korban harus merelakan mahkotanya direnggut terdakwa. Usai melampiaskan nafsunya, terdakwa justru mengatakan jangan bilang siapa-siapa, kalau kamu bilang nyawa taruhannya.

Pada minggu ketiga Agustus 2014, terdakwa pulang dari gereja bersama korban dan dibawa ke tempat sepi dan kejadian itu terulang lagi. Usai menyalurkan hasratnya, terdakwa mengatakan jangan bilang ke mamamu (istri terdakwa).

Pascakejadian, masih dalam bulan Agustus, saat terdakwa dan korban melakukan pelayanan doa di sebuah Gereja di daerah Tambakrejo akan tetapi pelayanan doa itu tidak jadi. Akhirnya pulang dan terdakwa menghentikan mobil di tempat sepi di daerah Kenjeran dan terdakwa kembali melakukan persetubuhan dengan korban. Kejadian itu terulang sampai September 2014 dengan cara yang sama.

Korban yang terus diliputi perasaan ketakutan, akhirnya menceritakan kepadakan istri terdakwa. Istri terdakwa saat itu hanya menangis dan kaget karena tidak tahu kalau suaminya melakukan perbuatan seperti itu. Istri terdakwa berpesan agar lebih hati-hati lagi dengan terdakwa dan banyak berdoa.

Korban juga pernah menceritakan kejadian itu kepada F. Ternyata F yang juga masih bersaudara juga mendapat perlakuan sama. Begitu pula MN juga mengalami hal yang sama. Dari persoalan yang ada, akhirnya mencuat dan ternyata banyak korban lainnya.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Suci Anggraeni SH, menuturkan dalam sidang pemeriksaan saksi sama dengan dakwaan yang ada. “Tapi terdakwa mengaku tidak pernah melakukannya. Kan itu hak terdakwa,” ungkap Jaksa Suci usai sidang.

Kuasa hukum terdakwa Idaman Asli Gea, saat ditanya cerita dalam sidang kesaksian, enggan memberi komentar. “Tanya ke jaksa dulu. Baru nanti saya jelaskan,” ungkap kuasa hukum terdakwa.

Ketika ditanya siapa namanya, pengacara itu menyuruh ke jaksa. Setelah jaksa menjelaskan, pengacara terdakwa sudah tidak ada.

 

Sumber : Surya Lines. 3 Juni 2016. Hal. 11

Penyelidik Tersangka Pelajar Otak Pencabulan

Pemyidik Tersangkakan Pelajar Otak Pencabulan. Jawa Pos.31 Mei 2016.Hal.41

Kapolres Ajak Keluarga Gandeng Tangan Jaga Anak

GRESIK – Kejahatan seksual bukan tindakan pidana ringan. Sekalipun pelakunya masih berstatus pelajar dengan usia dibawah umur, anggota Polres Gresik menetapkan seseorang tersangka kasus pesta minuman keras berujung pencabulan di Desa Cerme Kidul, Kecamatan Cerme, Sabtu (28/5). Jumlah tersangka bakal bertambah.

Sumber Jawa Pos menyebutkan, tersangka itu adalah Eg, siswa SMP yang mengajak korban Putri (samaran), ke sebuah rumah kosong. Dia juga yang diduga meminta teman-temannya datang minuman keras jenis tuak. Lalu mencekoki Putriu dengan miras, kemudian mencabulinya.

Polres Gresik menetapkan status tersangka setelah memeriksa Eg dan kelima kawannya. Oleh penyidik unit PPA Satreksrim Polres Gresik, Eg dinyatakan sebagai anak berhadapan dengan hukum (ABH) alias tersangka. Namun, polisi mengisyaratkan tersangka akan lebih dari seseorang.

“Sudah ditetapkan seorang anak sebagai pelaku,” ujar Kapolres Gresik AKBP Adex Yudiswan setelah bertemu komunitas Porttil, buruh bongkar muat barang dan jasa penambang perahu di Terminal Pelabuhan Gresik, kemarin (30/5)

Menurut Adex, penyidik sudah berkoordinasi dengan Badan Permasyarakatan (Bapas) Surabaya terkait penetapan anak sebagai pelaku pencabulan. Pelaku dan korban sama-sama anak di bawah  umur. “Insya Allah secepatnya kami kirim berkas ke JPU karena menyangkut anak dibawah umur,” tambah alumnus Akpol 1996 tersebut.

Untuk kasus seperti itu, kata Adex, polisi akan  mengupayakan yang terbaik buat korban. Namun tetap menindak siapapun yang terlibat. “Sementara memang satu pelajar sebagai tersangka. Mungkin akan bertambah,” tegasnsya.

Dalam kesempatan bertemu warga pesisir di pelabuhan kemarin, Adex meminta para orang tua dan kerabat agar mewaspadai pergaulan anak-anak. Dia berharap seluruh elemen masyarakat bergandengan tangan. Bahu-membahu agar tidak terjadi lagi. “Ini untuk melindungi generasi muda kita dan anak di bawah umur,” jelasnya.

Bahkan, Adex menyatakan sepakat dengan hukuman kebiri bagi pemerkosa.Namun yang lebih penting ialah melibatkan keluarga sebagai garda terdepan untuk melindungi anak-anak.

Sebagaimana diberitakan, Sabtu sekitar pukul 14.00 Egbertemu Putri dan mengajaknya masuk ke bangunan kosong di Desa Cerme Kidul. Disana ada gubuk beralas anyaman bambu. Tidak lama kemudian, lima pelajar lain, yakni RV, RAS, AL, MIF dan AMI, datang. Usia mereka sekitar 14-15 tahun. Semua warga Cerme dan kabarnya berasal dari empat sekolah di Kecamatan Cerme dan Kebomas.

Mereka membawa miras jenis tuak. Putri dan enam cowok itu lantas minum miras hingga teler. Ketika korban tidak sadar, Eg mencabuli korban. Selain Eg, ada satu pelajar lagi yang diterangi sampai menyetubuhi korban. Pelajar kkelewat batas. “Besar kemungkinan dia yang akan menjadi tersangka tambahan,” jelas sumber Jawa Pos di kepolisian.

Di sisi lain, pukul 12.30 Putri menjalani pemeriksaan di ruang unit PPA Satreskrim Polres Gresik. Putri didampingi orang tuanya dan aktivis Pusat Pelayan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Gresik. Gadis ABG itu menggunakan jilbab merah. Dari celah lubang jendela, postur tubuhnya terlihat mungil. (yad/c15/roz)

Sumber : Jawa-Pos.31-Mei-2016.Hal_.41

Pelajar SMP Hamili Pacarnya

Pelajar SMP Hamili Pacar. Jawa Pos.18 Mei 2016. Hal.25,35

Pelajar SMP Hamili Pacar

Kasus pencabulan selama sepekan bagai efek domino. Sekali satu kasus meledak, aksi-aksi pencabulan lainnya secara berantai ikut terkuak. Tercatat, selama sepekan ada lima kasus yang diungkap pihak kepolisian.

Ketahuan Saat Hamil Tujuh Bulan

Terbaru, unit PPA Polrestabes Surabaya mengamankan remaja berinisial AAP, Pelajar berusia 15 tahun itu mencabuli pacarnya, sebut saja Oca (nama samaran), hingga hamil. Usia kandungan korban sekarang 7 bulan,” ujar salah seorang penyidik PPA Polrestabes Surabaya kepada Jawa Pos kemarin (17/5).

Berdasarkan informasi yang dihimpun Jawa Pos, pelaku merupakan pelajar kelas IX SMP. Dia bersekolah di salah satu SMP swasta di kawasan Manukan Wetan. AAP satu sekolah dengan Oca dan keduanya berpacaran cukup lama.

Perbuatan asusila itu dilakukan di rumah tersangka di kawasan Tanjungsari. Selama ini korban dibujuk pelaku untuk berhubungan badan. Tindakan itu dilakukan tanpa sepengetahuan orang tua masing-masing. Setelah hubungan badan tersebut terjadi berulang, Oca akhirnya hamil.

Awalnya, orang tua korban tidak menyadari kehamilan anaknya. Namun, Oca tidak lagi bisa menyembunyikan perutnya yang membuncit saat kehamilannya memasuki usia tujuh bulan. Setelah didesak, Oca mengaku bahwa AAP yang telah membuatnya berbadan dua. Orang tua Oca tidak terima, kemudian melapor ke polisi. “Kami tunggu sampai pelaku selesai mengikuti ujian nasional. Baru kemudian ditangkap,” jelasnya.

AAP diamankan polisi di sekolah tepatnya setelah jam pelajaran habis. Dia langsung digelandang ke Mapolrestabes Surabaya. Kini AAP masih menjalani pemeriksaan terkait perbuatan asusila yang dilakukannya sesuai laporan korban.

Sementara itu, Kanit PPA Polrestabes Surabaya AKP Ruth Yeni mengakui, pihaknya menangkap satu lagi pelaku pencabulan. Namun, polisi asal Banyuwangi itu masih belum bisa memberikan banyak keterangan. Jajarannya masih fokus merampungkan berkas pencabulan Kalibokor Kencana. “Tunggu saja. Nanti pasti dirilis,” ungkapnya.

Rilis Kasus Pencabulan Sepekan Terakhir

  • 8 Mei 2016 : Bocah berusia 5 tahun dicabuli Soepardi, 64, di tepi jalan tol Simo. Pelaku adalah tetangga korban.
  • 12 Mei 2016 : Siswi SMP berusia 13 tahun menjadi korban pencabulan delapan bocah yang merupakan tetanggana sendiri di Kalibokor Kencana. Usia para pelaku antara 9 sampai 14 tahun.
  • 13 Mei 2016 : Penjaga sekolah berusia 23 tahun mencabuli siswi kelas I SD di kamar mandi sekolah. Pencabulan dilakukan beberapa kali. Saat pencabulan, tangan dan kaki bocah berusia 7 tahun itu diikat. Mulutnya juga dilakban.
  • 16 Mei 2016 : Pelayan kafe berusia 22 tahun yang indekos di kawasan Tambaksari mencabuli anak ibu kos yang berusia 12 tahun. Pelaku berjanji menikahi korban jika hamil.
  • 17 Mei 2016 : Siswi SMP berusia 15 tahun mencabuli temannya yang berusia 16 tahun. Saat ini korban hamil tujuh bulan.

 

Sumber : Jawa Pos. 18 Mei 2016. Hal 25,35

Bocah TK Jadi Korban Pecabulan

Bocah TK Jadi Korban Pencabulan. Jawa Pos.28 Mei 2016.Hal.29,43

SURABAYA – Pencabulan terhadap anak terjadi lagi. Korbannya adalah Lisa (nam samaran). Bocah perempuan berusa 6 tahun itu dicabuli Didin Arya Putra alias Odik. Pria berusia 27 tahun tersebut adalah tetangga kamar kos keluarga Lisa.

Perbuatan bejat itu dilakukan Odik di kamar kosnya, kawasan Jalan Jemursari Utara. Kamar di dalam rumah kos tersebut memang berimpitan rapat. Hampir setiap hari Odik bertemu dengan Lisa.

Pencabulan tersebut terbongkat setelah orang tua Lisa mencium gelagat mencurigakan. Saat dimandikan ibunya, Lisa mengeluh perih di bagian kelaminnya. Saking sakitnya, Lisa sampai menangis kencang.

“Awalnya korban takut untuk bercerita. Namun, akhirnya keluarga bisa membuatnya berterus terang,” jelas Kasubnit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Surabaya Ipda Harun kemarin (27/5).

Kepada orang tuanya, Lisa tidak bisa menyebutkan secara pasti hari atau tanggal saat dirinya dicabuli Odik. Dia hanya menceritakan hari itu Odik memanggilnya dan meminta dibelikan mie goreng dan rokok. Dengan polos, Lisa menuruti perintah itu, lalu pergi ke warung dekat rumah kos.

“Setelah kemabli dari warung, Lisa disuruh masuk ke kamar Odik. Bocah yang masih duduk di bangku TK B itu kemudian disuruh menunggu di dalam. Agar tidak menolak, Odik memberikan uang kembalian belanja tadi ke Lisa. “Korban dikasih uang Rp 2.500, agar mau menuruti pelaku,” tambah Harun.

Lisa kemudian duduk diatas kasur. Saat itulah Odik menyuruh Lisa berbaring. Nafsu Odik tidak bisa ditahan lagi. Pria asal Jombang tersebut mencabuli bocah kecil itu dengan tangannya. Pencabulan tersebut dilakukan sebanyak dua kali.

Mendengar cerita Lisa, keluarganya pun berang. Kabar itu juga langsung menyebar ke bebrapa warga lain. Setelah berembuk, keluarga dan warga sepakat untuk membawa kasus tersebut ke polisi.

Rabu (25/5) mereka mendatangi Polsek Wonocolo untuk melapor. Oleh petugas, mereka diarahkan langsung mendatangi Unit PPA Polrestabes Surabaya. “Kami meminta korban untuk menjalani visum di polda,” ujar mantan Panitreskrim Polsek Bubutan tersebut.

Hasil visum itu membuktikan bahwa alat kelamin korban memang robek. Berdasar pemeriksaan medis, Odik sempat berusaha memasukkan penisnya ke dalam alat kelamin korban, tapi tidak berhasil. Dia lalu memasukkan jarinya. Itu yang membuat alat kelamin korban terluka. Setelah hasil visum keluar, Odik digelandang ke Mapolrestabes Surabaya pada Kamis malam (26/5).

Meski hasil visum sudah keluar, Odik tetap tidak mengakui perbuatannya. Kepada polisi, dia mengelak semua tudingan keluarga dan warga sekitar. “Dia (korban, Red) Cuma gulung-gulung aja di kasur sambil menangis. Saya panggil ibunya, tapi malah dibawah kesini,” katanya.

Odik melanjutkan, dirinya merupakan penghuni baru kos tersebut. Baru dua bulan dia tinggal bersama istri sirinya disana. Sebelumnya, dia merantau sebagai tenaga pertambangan di Kalimantan.

Meski pelaku tidak mengakui perbuatannya, polisi tetap tidak mempercayainya. Mereka mengambil tindakan tegas dengan menahan Odik. “Kami tidak butuh pengakuan pelaku. Bukti visum dan keterangan di lapangan sudah cukup untuk menjeratnya,” tegas Kanit PPA Polrestabes Surabaya AKP Ruth Yeni. (did/c7/fat)

Sumber : Jawa-Pos.28-Mei-2016.Hal_.2943

Sengkarut Riset Kita

Sengkarut Riset Kita. Kompas.27 September 2016

Oleh JOHANES EKA PRIYATMA (Rektor Universitas Sanata Dharma Yogyakarta)

Harian Kompas selama tiga hari berturut-turut, 19-21 September 2016, melaporkan hasil diskusi tentang kuantitas, kualitas, dan kontribusi riset bagi pembangunan Indonesia. Diskusi yang melibatkan para pihak yang berkompeten serta terkait langsung dengan pengembangan riset di Indonesia itu menghasilkan kesimpulan yang menciutkan nyali kita.

Intinya, hasil kegiatan riset di Indonesia sangat jauh tertinggal dari negara tetangga, apalagi jika dibandingkan dengan negara-negara G-20. Diskusi juga menyimpulkan bahwa keadaan riset yang seperti ini menjadi penyebab utama Indonesia kalah bersaing dengan negara lain dalam banyak bidang, khususnya inovasi teknologi dan pengolahan sumber daya alam.

Diskusi juga menyimpulkan bahwa akar masalah riset di Indonesia bersifat multidimensi menyangkut dana, sumber daya manusia, koordinasi lintas lembaga, dan kebijakan pemerintah. Diskusi mengakui bahwa pemerintah sebenarnya sudah melakukan berbagai langkah, mulai dari meningkatkan anggaran riset, menggabung Direktorat Pendidikan Tinggi dengan Kementerian Riset dan Teknologi, hingga membuat Rencana Induk Riset Nasional.

Meski demikian, langkah yang diambil pemerintah tersebut belum membuahkan hasil signifikan. Situasi menjadi semakin runyam karena saat ini pemerintah justru terpaksa memangkas anggaran karena target pendapatan tidak terpenuhi.

 

Solusi tak sentuh akar masalah

Saya mengapresiasi diskusi Kompas tersebut, tetapi kurang setuju terhadap rekomendasi yang dirumuskan. Persoalan yang membelit kegiatan riset di Indonesia jauh lebih kompleks daripada yang di diskusikan karena bersifat struktural dan kultural. Oleh karena itu, solusi yang ditawarkan juga tidak akan mampu membalikkan keadaan karena tidak menyentuh akar masalah. Menyoal kuantitas dan kualitas riset di Indonesia tidak akan memadai apabila pisau analisisnya hanya memakai pendekatan sumber daya manusia, regulasi, dan agenda jangka panjang.

Telah terbukti bahwa peningkatan anggaran riset dari pemerintah tidak serta-merta meningkatkan kualitas hasil riset. Demikian pula bertambahnya tenaga peneliti tak akan signifikan meningkatkan kualitas hasil riset. Kita memerlukan analisis yang lebih komprehensif dan mendasar. Untuk itu, kegiatan riset harus kita pandang sebagai sebuah realitas yang tidak terpisah, tetapi malah menjadi akibat dari suprastrukturnya, yakni strategi pembangunan yang telah kita pilih, khususnya dalam hal inovasi dan kreasi teknologi.

Analisis yang lebih komprehensif terhadap kegiatan riset di Indonesia dapat kita lakukan memakai pendekatan Teori Jejaring Aktor yang dikembangkan Callon, Latour, dan Law di era 1980-an. Dengan teori yang berasal dari disiplin ilmu sosiologi Sains dan Teknologi ini, kegiatan riset paling tepat dipahami sebagai sebuah jejaring kompleks yang melibatkan banyak unsur, baik yang bersifat manusiawi maupun bendawi. Unsur-unsur tersebut saling memengaruhi karena saling berinteraksi dalam pola relasi yang bersifat dinamis dari waktu ke waktu.

Sebagai sebuah jejaring kompleks, kegiatan riset bukan hanya menjadi penyebab bagi berkembangnya inovasi dan kreasi bangsa, melainkan juga sekaligus menjadi akibat dari pola kegiatan inovasi dan kreasi tersebut. Dengan demikian, berkembangnya kegiatan riset merupakan akibat langsung dari kegiatan inovasi dan kreasi kita.

Kegiatan riset akan otomatis berkembang apabila riset sudah menjadi kebutuhan industri, pemerintah, atau kegiatan masyarakat lain. Masalahnya, sebagian besar industri kita tidak membutuhkan riset. Pemerintah juga tidak begitu membutuhkan hasil riset dalam menjalankan amanat pembangunan bangsa. Kegiatan masyarakat pun sebagian besar juga tidak membutuhkan riset. Oleh karena itu, masalahnya menjadi sangat sederhana, yakni bahwa riset kita tidak berkembang karena memang tidak begitu dibutuhkan.

Dengan situasi ini, kegiatan riset kehilangan geloranya karena sebagian besar dilakukan hanya demi memperoleh pengakuan akademik dan tidak terkait langsung dengan persoalan konkret kegiatan kreasi dan inovasi di industri. Akibatnya, aspek teknis dan formalitas lebih dominan ketimbang terjadinya siklus otentik riset, yakni masalah, teori, solusi, dan aplikasi yang terus maju secara bertahap.

Keadaan akan menjadi sangat berbeda apabila sejak awal kita memakai strategi kemandirian atau swadaya dalam pembangunan bangsa. Jika strategi ini kita pakai, kegiatan inovasi dan kreasi kita harus bersifat mandiri dan sesedikit mungkin mengambil jalan pintas dengan mengimpor teknologi. Memang, strategi swadaya tidak akan mampu menghasilkan pembangunan yang cepat dan gemerlap.

 

Strategi Swadesi

Kita dapat mencontoh India yang sejak zaman Gandhi setia memakai strategi swadesi. Meskipun strategi ini memaksa rakyat India memakai mobil yang ketinggalan zaman selama puluhan tahun, sekarang India sudah bisa mengekspor mobil ke Indonesia. Saya kira, strategi swadesilah yang telah mengantar India sebagai negara yang unggul di bidang riset dan teknologi angkasa.

Hal yang sama terjadi di Korea Selatan. Karena sebelumnya dijajah Jepang, bangsa Korea tidak suka pada produk Jepang. Akibatnya, bangsa Korea Selatan mempunyai keteguhan untuk mandiri sejak merdeka. Hasilnya, sekarang Korea Selatan menjadi salah satu negara maju dan menghasilkan banyak produk inovatif. Sejarah mencatat bahwa Korea dan Indonesia mendapat kemerdekaan pada tahun yang hampir bersamaan dan waktu itu sama-sama sebagai salah satu negara termiskin di dunia.

Meskipun agak terlambat, masih banyak bidang pembangunan yang dapat kita kelola secara swasembada. Bidang yang sangat relevan dan kontekstual bagi pembangunan Indonesia adalah pertanian, budidaya laut, kehutanan, dan pengolahan sumber daya alam. Berkembangnya industri di bidang ini secara swasembada akan memacu berkembangnya kegiatan riset yang kontekstual dan sangat bermanfaat bagi bangsa Indonesia.

Dengan cara pandang ini, rekomendasi yang diberikan para ahli yang terlibat dalam diskusi Kompas perlu dilengkapi sebuah rekomendasi lain di di wilayah yang lebih bersifat struktural dan mendasar, yakni perubahan paradigma pembangunan kita. Yang kita butuhkan bukan hanya perubahan tata kelola riset, melainkan lebih daripada itu, yakni perubahan mendasar dalam kegiatan riset kita.

Namun, perlu kita sadari bahwa perubahan paradigma pembangunan menuntut perubahan banyak hal, khususnya terhadap apa yang menjadi tanggung jawab pemerintah. Secara umum, industri hanya akan berkembang di Indonesia apabila pemerintah mampu mewujudkan iklim usaha dan investasi yang kondusif. Hal ini berarti menuntut terciptanya sistem politik dan birokrasi yang akuntabel, transparan, dan berorientasi kepada kepentingan umum. Kita sudah memperjuangkan itu sejak gerakan reformasi bergurlir pada tahun 1998, tetapi hasilnya belum signifikan sampai sekarang. Reformasi birokrasi yang mestinya sangat mungkin dilakukan dan menjadi kunci berkembangnya industri malah sudah lama tidak terdengar gaungnya. Riset hanya akan berkembang optimal jika didukung oleh sistem dan kultur masyarakat akademik yang sesuai. Iklim riset yang baik memerlukan sistem nilai yang menghargai kejujuran, keterbukaan, dan kritik. Nilai-nilai ini masih perlu kita bangun karena baru di era Reformasi kita bisa leluasa memperjuangkannya.

Reformasi yang masih berusia kurang dari 20 tahun belum cukup bagi berkembangnya nilai-nilai tersebut. Nilai-nilai keutamaan riset ini harus terus kita kembangkan dalam sistem pendidikan kita karena akan menjadi fondasi tata nilai asosiasi keilmuan yang dapat terus berkembang baik.

Asosiasi keilmuan yang menghargai kejujuran, keterbukaan, dan kritik akan menjadi ekosistem yang subur bagi berkembangnya kegiatan riset di Indonesia. Ini sangat penting karena berkembangnya budaya riset akan dipengaruhi oleh kualitas relasi yang dibangun di antara pihak yang terlibat dalam jejaring di asosiasi ini. Kita meyakini bahwa kualitas relasi itu dipengaruhi oleh berkembangnya nilai-nilai tersebut. Namun, dalam konteks reformasi demokrasi dan politik saat ini, asosiasi keilmuan harus berani mengambil jarak dari kepentingan politik meskipun sangat ekonomis.

Nilai-nilai keutamaan riset akan luntur apabila kepentingan politik sudah menjadi agenda asosiasi keilmuan. Hanya lewat berkembangnya asosiasi keilmuan yang baik dan terbebas dari kepentingan politik, kita akan mampu melahirkan periset andal yang rela menggali kebenaran seraya tekun menghidupi etos keilmuan.

 

Sumber: Kompas, 27 September 2016

Keterbukaan Keluarga Jadi Kunci membangun Kecerdasan Berinternet

Keterbukaan Keluarga Jadi kunci Membangun Kecerdasan Berinternet. Kompas. 4 September 2016.Hal.6

Perkembangan internet yang sedemikian maju telah memberi pengaruh cukup besar pada kehidupan sosial, politik dan ekonomi bangsa Indonesia. Bahkan, komunikasi di dalam keluarga pun ikut berubah setelah internet menjadi sangat lazim dipergunakan.

Dalam diskusi terbatas di redaksi Kompas, Jakarta, 30 Agustus lalu, Direktur Eksekutif Information and Communication Technology (ICT) Watch Donny B Utoyo menyatakan, dinamika masyarakat Indonesia berubah akibat pengaruh internet sejak pertengahan tahun 2000-an.

“Internet awalnya hanya bisa diakses di tempat-tempat tertentu seperti warung internet yang menggunakan kabel. Namun, sejak hadirnya telepon pintar dengan harga terjangkau, seluruh kalangan masyarakat kini bisa mengakses internet secara mudah,” tutur Donny.

Selain Donny, pembicara dalam diskusi Kompas ialah psikolog keluarga Anna Surti Ariani dan pengamat pendidikan Nurul Agustina.

Praktis

Berdasarkan survei Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia tahun 2015, jumlah pengguna internet mencapai 88 juta orang. Sebanyak 79 juta orang dari jumlah tersebut aktif menggunakan media sosial, mulai dari Facebook, Twitter, Instagram, hingga moda mengobrol Whatsapp dan Blackberry Mesenger.

Dari sisi kepraktisan komunikasi, hal ini amat membantu karena tidak ada lagi penghalang jarak dan waktu. Di samping itu, jaringan pertemanan juga semakin meluas karena komunikasi tidak lagi hanya dilakukan pada orang-orang yang dikenal secara langsung atau fisik, tetapi juga pada orang-orang yang baru di kenal di dunia maya.

Di balik kepraktisan tersebut, muncul ancaman dari penggunaan internet yang tidak bertanggung jawab. Untuk mengetahui pemahaman guru mengenai ancaman yang ditimbulkan internet, ICT Watch melakukan survei pada 165 guru di Jakarta, Bogor, Bekasi, Tangerang, Depok, dan Cilegon.

Mayoritas dari mereka mencemaskan internet akan mengakibatkan kecanduan bagi para siswa. Hal ini yang menjadi kekhawatiran utama para guru adalah siswa akan membuka situs yang dinilai tidak pantas, seperti situs yang memuat materi pornografi. “Padahal, ancaman terbesar adalah penyalahgunaan data pribadi yang diunggah secara tak bertanggung jawab yang digunakan untuk pemerasan hingga kejahatan paedofilia, “tutur Donny.

Ia mencontohkan kasus eksploitasi seksual anak di bawah uur yang terjadi di Jawa Timur. Dalam kasus yang ditangani oleh ICT Watch agar bisa diproses secara hukum itu, anak perempuan yang masih duduk di bangku SD mengalami eksploitasi seksual oleh laki-laki paedofil.

“Pelaku memasang profil palsu di sebuah media sosial. Ia berpura-pura menjadi perempuan muda yang berprofesi sebagai dokter kandungan,” tutur Donny.

Pelaku memanfaatkan kepolosan anak yang bertanya mengenai perubahan fisik yang terjadi pada diri mereka hingga permasalahan terkait menstruasi. Dengan berkedok konsultasi kesehatan, selama tiga bulan, pelaku meminta korban mengirimkan foto-fotonya dalam keadaan tanpa busana.

Praktik tersebut baru berhenti setelah foto-foto sensitive itu beredar di internet dan sampai ke tangan salah satu guru korban. “Hal yang sangat mengejutkan ialah korban ternyata menggunggah foto-fotonya dari telepon pintar milik ibunya,” kata Donny.

Ibu korban tidak memahami teknologi digital sehingga tidak mampu mengawasi penggunaan dan informasi serta foto-foto yang tersimpan di dalam telepon pintarnya.

Menurut Donny, hal ini lazim terjadi di kalangan migran digital yaitu orang-orang yang baru mengenal internet saat sudah dewasa. Penggunaan internet oleh mereka umumnya terbatas untuk berkomunikasi seperti menelepon dan mengirim surat elektronik. Kaum migran digital belum sepenuhnya memahami fungsi internet untuk mencari informasi, bahkan membentuk komunitas yang tidak tampak di muka umum.

Reaksi spontan masyarakat terhadap kasus eksploitasi itu adalah menghakimi internet sebagai pintu masuk hal-hal negative. Padahal, teknologi merupakan sesuatu yang netral. Baik buruknya bergantung pada metode dan tujuan pemakaiannya.

“Pertanyaan besarnya adalah mengapa para korban justru memilih untuk mendiskusikan hal-hal yang bersifat pribadi kepada orang yang tidak mereka kenal, bukan kepada keluarga sendiri,” tutur Donny.

Pendidikan di keluarga

Dalam kesempatan terpisah, pakar teknologi digital yang juga anggota Laboratorium Teknologi Informasi untuk perubahan sosial, John Muhammad, mengungkapkan, kunci penggunaan internet yang baik terletak pada pendidikan literasi digital di keluarga dan sekolah. “Memblokir situs, memakai filter internet di komputer,telepon, dan sabak elektronik memang membantu, tetapi tidak cukup,” paparnya.

Pokok permasalahannya ialah rasa penasaran anak. Apabila pertanyaan anak tidak dijawab, mereka akan mencari sendiri jawabannya di tempat-tempat yang tidak diawasi oleh orang-orang dewasa terdekat. Menurut John, sebagai generasi yang lahir di zaman digital, mudah bagi anak untuk menerobos sistem pengamanan yang dipasang di gawai mereka.

Karena itu, diperlukan keterbukaan keluarga untuk mendiskusikan tata karma penggunaan internet dengan anak-anak. Orangtua, misalnya, perlu menjelaskan informasi yang boleh dan tidak boleh dibagikan dunia maya, termasuk hal-hal yang tidak layak diakses oleh anak. “Dalam hal ini, pendidikan kesehatan reproduksi serta tumbuh kembang yang tepat diperlukan. Informasi mengenai hal-hal yang sangat pribadi ini justru sangat minim bagi anak-anak,” jelas John.

Dari sisi pergaulan, aturan yang diterapkan dalam bermedia sosial sama dengan pergaulan yang menggunakan tatap muka, yaitu jangan berbicara dengan orang yang tak dikenal. Artinya, anak jangan sampai sembarangan menerima ajakan pertemanan, apalagi kalau orang tersebut tidak dikenal. “Padahal, di sisi lain, anak-anak umumnya senang memiliki koneksi media sosial yang banyak (follower) untuk meningkatkan popularitas mereka,” ungkap John.

Kecemasan terhadap ancaman yang muncul dari pertemanna di media sosial sejalan dengan survei yang dilakukan oleh Norton by Symantec di Indonesia tahun 2015-2016. Dari 1.000 orangtua yang disurvei, 180 responden mengakui bahwa anak-anak mereka berteman, bahkan menerima ajakan untuk bertemu dengan orang dewasa yang mereka kenal lewat media sosial.

(Laraswati Ariadne Anwar)

Sumber: Kompas.-4-September-2016.Hal_.6