Riwu Ga Ajudan Bung Karno Pertama. menaramadinah.com. 17 Agustus 2021

http://menaramadinah.com/50864/riwu-ga-ajudan-bung-karno-pertama.html

Catatan Beny Rusmawan.

Riwu adalah pembantu kesayangan Sukarno dan Ibu Inggit. Saat teks Proklamasi 1945 dibacakan dan Fatmawati isteri baru Sukarno berada di samping Bung Karno ketika akan membacakan Proklamasi, mata Riwu berkaca-kaca dalam hatinya berteriak….

“Mustinya Ibu Inggit yang disana, mustinya Ibu Inggit yang berdiri di bawah kibaran merah putih, karena Inggitlah yang tau susah dan jerih payah Sukarno”…bisik Riwu dalam hatinya.

Siapa diantara anda yang mengenal Riwu? Di hari tuanya, ia kembali ke desanya, hanya memacul tanah tandus di Flores.

Riwu tak seperti pejabat yang dengan mobil mewah ke Istana berikut dengan jas berharga puluhan juta Rupiah, menghormat pada bendera Indonesia Raya.

Ia hanya orang tua yang rapuh dan ia tidak pernah diundang ke Istana saeumur hidupnya, karena mungkin saja bau dekil dan baju kotor tak pantas bagi Istana yang megah. Tapi tanpa Riwu, bisa jadi kita tak mengenal Indonesia seperti apa yang kita kenal sekarang.

Riwu Ga, pria asal Sabu, Nusa Tenggara Timur ini, namanya seperti dipeti-eskan bila kita membicarakan proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945.

Namanya benar-benar dilupakan dan dikuburkan dalam-dalam. Dia memang tidak berperang secara fisik mempertahankan negara. Juga dia tidak melakukan diplomasi di luar negeri membela keberadaan negaranya dengan argumentasi tajam.

Jauh sebelum negaranya lahir tanggal 17 Agustus 1945, Riwu Ga seperti sudah ditakdirkan untuk selalu berperan dan berhubungan dengan hari yang tidak pernah akan dilupakan oleh setiap orang Indonesia itu.

Bila Ibu Inggit Garnasih, istri Soekarno, dijuluki banyak orang sebagai sosok wanita yang mengantarkan Soekarno ke gerbang kemerdekaan 17 Agustus 1945, maka Riwu Ga-lah orang yang menjaga kunci gerbang itu agar tidak hilang, sehingga bisa dibuka oleh Soekarno bersama patriot-patriot sejati lainnya.

Pada usia 13 tahun di tahun 1934 Riwu Ga berkenalan pertama kali oleh Soekarno di Ende, Flores, semasa menjalani pengasingannya oleh pemerintah kolonial Belanda. Sikapnya yang rendah hati dan penuh kepatuhan pada peraturan dan etika, membuat dia dipercaya Soekarno dan disayang oleh keluarga besar proklamator itu, baik oleh pihak Ibu Inggit maupun oleh Ibu Fatmawati.

Sebelum Soekarno shalat shubuh selama di Ende, Riwu Ga bangun lebih dulu dan mempersiapkan segelas air putih dicampur kapur. “Biar suara Bung Karno lebih menggelegar”.. katanya.

Ketika Soekarno dipindahkan ke Bengkulu, dia diikutsertakan bahkan sampai berakhir masa pembuangan dan Indonesia merdeka, Riwu Ga tetap mengabdi kepada keluarga Soekarno.

Dia juga dijadikan harta yang diperebutkan oleh Inggit dan Soekarno ketika pasangan itu bercerai. Riwu Ga berat hati memilih ikut Soekarno, meski Inggit tetap menyayanginya.

Setelah turut mempersiapkan upacara pembacaan proklamasi, Riwu Ga diperintahkan Soekarno untuk menyebarkan berita proklamasi kemerdekaan itu ke sekeliling Jakarta. Banyak rakyat Indonesia tidak tahu bahwa negera mereka sudah merdeka, karena kemerdekaan itu ditentang banyak pihak termasuk penguasa Jepang pada kala itu.

Bersama Sarwoko yang mengemudikan mobil jeep, Riwu Ga berteriak-teriak heroik mengumumkan kepada kumpulan rakyat sambil membawa bendera berah putih.
“Kita sudah merdeka, kita sudah merdeka!” Tindakannya sangat konyol dilakukan saat itu, karena bisa saja aparat keamanan tentara Jepang menembaknya sesuka hati.
Hasil tugas Riwu Ga itu membuat banyak rakyat Jakarta percaya bahwa Indonesia sudah merdeka. Berita proklamasi kemerdekaan Indonesia, mirip berita pendaratan Christopher Columbus ke Dunia Baru, yang baru diketahui oleh rakyat Eropa berbulan-bulan kemudian.

Memang ada yang mewartakan berita kemerdekaan RI secepat mungkin melalui medium elektronik berupa radio. Namun barang kotak bersuara itu sangat langka dimiliki oleh kebanyakan orang pada masa itu, dan kalaupun ada, isi beritanya sudah dikontrol penuh oleh penguasa Jepang.

Jusuf Ronodipuro juga menyiarkan berita kemerdekaan RI secara heroik melalui stasiun radio yang dikuasai Jepang. Juga di daerah-daerah pelosok, berita proklamasi disiarkan ulang, seperti di Sumatera oleh Mohammad Sjafe’i atau di Riau oleh Angkatan Muda Perusahaan Telefon dan Telegraf beberapa minggu setelah 17 Agustus 1945.
Riwu Ga (bersama Sarwoko) adalah orang yang pertama kali menyiarkan berita proklamasi kemerdekaan secara langsung kepada rakyat Indonesia. Selama tahun 1945 tidak ada berita apapun di surat kabar manapun tentang proklamasi kemerdekaan. Keadaan ini memang aneh tetapi bisa dimengerti mengingat keadaan masa itu yang kritis.

Riwu Ga memang tinggal kenangan. Dia sepenggal sejarah yang kini terhempas jauh dari hiruk pikuk kemerdekaan. Menjadi yang tak diperhitungkan bangsa, konsekuensi dari seorang Riwu Ga. Keringat dan darahnya melayani bangsa terhapus carut marut birokrasi
sebagai satu dari delapan anak Riwu Ga, mereka sering diceritakan oleh ayahnya tentang kisah perjuangannya bersama Bung Karno baik itu di Ende lokasi pengasingan Soekarno maupun di Jakarta.

“Kami dengar banyak cerita. Mulai dari masa pembuangan, hingga kemerdekaan. Kami sangat bangga pada ayah kami. Malah, ketika hendak dibuang ke Australia, Bung Karno tidak mau jalan kalau Riwu Ga tidak dibawa” tutur salah satu putra Riwu

Sayang, di masa tuanya, garis tangan majikan dan pembantu itu berbeda. Sukarno menjadi presiden, dan Riwu Ga justru menjadi seorang penjaga malam pada kantor Dinas PU Kabupaten Ende hingga pensiun pada tahun 1974.

“Tapi kami bangga pada bapa,” ungkap Yance. Di usia senjanya, Riwu memang menghilang dari panggung gemerlap kemerdekaan. Dia menyingkir jauh, hingga ke Naikoten, Kota Kupang, kemudian ke Nunkurus di Kabupaten Kupang tahun 1992.

Di Kupang, Riwu hanya beberapa tahun, kemudian bersama isterinya Belandina Riwu Ga-Kana pun meniti hidup sebagai petani di Nunkurus, tepat di sebuah area pertanian yang dipadati gewang dan jati, di depan markas TNI Naibonat.

“Di sana bapa dan mama menetap selama beberapa waktu, hingga bapa sakit dan dirawat di RSU Kupang selama hampir dua minggu. Dia dirawat di ruang kelas tiga. Sakitnya sakit orang tua, bapa mengeluh ada sakit di bagian perut,” ungkap Yance polos.

Takdir berkata lain. Tepat pukul 17.00 Wita, di hari kemerdekaan RI, 17 Agustus 1996, ketika masyarakat Indonesia sedang menyanyikan lagu Indonesia Raya, dalam prosesi penurunan bendera, Riwu Ga meninggal dunia.

Takdir berkata, bahwa Riwu memang harus menutup matanya ketika Merah Putih benar-benar sudah diturunkan oleh pasukan pengibar, untuk disimpan. Jenazahnya lalu dimakamkan di TPU Kapadala, Kelurahan Airnona, Kecamatan Kota Raja, Kupang pada 19 Agustus.

HUT RI: Doa dan kaligrafi Arab dalam batik peranakan di ‘Tiongkok Kecil’, penerus batik tulis Lasem. bbc.com. 17 Agustus 2021

https://www.bbc.com/indonesia/dunia-57549497?at_custom2=facebook_page&at_custom3=BBC+Indonesia&at_custom4=27B29AC0-FF42-11EB-B3DF-3AECBDCD475E&at_medium=custom7&at_campaign=64&at_custom1=%5Bpost+type%5D&fbclid=IwAR0mhB0BooM-jobpYuvNaBZTbmoiqwwmjcq01QRQIA8kJHcgXrUhj00nk-Y

  • Callistasia Wijaya
  • Wartawan BBC News Indonesia

Seorang anak muda dari kota ‘Tiongkok Kecil’, Lasem, berinovasi demi melestarikan batik tulis peranakan keluarganya, di tengah membanjirnya batik cetak (printing) yang jauh lebih murah di pasar.

Javier Hartono, 24, guru bahasa Arab, kini memegang tongkat estafet batik batik buatan kakeknya, Sigit Witjaksono, salah seorang yang disebut legenda batik Lasem.

Sigit meninggal dunia Juni 2021 lalu.

Dalam selembar katin batik tulis peranakan itu, tercermin simbol keberagaman Tionghoa, Jawa, hingga sekelumit doa dan pesan bagi mereka yang memakainya.

‘Legenda’ batik Lasem

Setelah tersasar hampir setengah jam, saya akhirnya sampai di rumah keluarga Javier, yang letaknya terletak di desa wisata batik Babagan, Lasem, Jawa Tengah.

Bangunan itu tersembunyi di balik pagar tinggi khas Pecinan kota itu.

Dengan batik warna merah dan sarung ungu, Javier Hartono, menyambut saya di teras rumah keluarganya, bangunan tua berusia lebih dari 100 tahun.

Sejenak rumah itu terasa familiar.

lasem

Javier Hartono adalah cucu Sigit Witjaksono, yang sering disebut sebagai salah satu legenda batik Lasem.

Dari Javier, saya kemudian tahu bahwa rumah itu memang pernah menjadi lokasi syuting film besutan Nia Dinata, Ca-Bau-Kan, hampir dua dekade silam.

Di rumah itulah, Tinung, yang diperankan Lola Amaria, belajar menari cokek.

Saya dapat melihat sisi dalam rumah itu melalui pintu yang terbuka.

Terlihat di sana meja abu atau altar untuk sembayang leluhur (tokwi) yang tetap berdiri, meski kini sang pemilik rumah Muslim.

“Bangunan ini usianya sudah 140 tahun ketika dibeli keluarga kami,” ujar Javier seraya menunjukkan bagian-bagian rumah itu.

Kediaman Sigit

Dia mengajak saya berkeliling, seraya menunjukkan sebuah lubang di satu sisi tembok yang disebutnya sebagai “tempat perempuan bersembunyi dari pasukan Jepang”.

Di rumah tua itulah perjalanan batik buatan kakeknya, Sigit Witjaksono, dirintis.

Pecinta batik dan budayawan menyebut Sigit sebagai salah seorang “legenda” batik di Lasem, kota yang disebut Tiongkok kecil.

Ada doa dalam selembar kain

LAsem

Javier dan Sigit Witjaksono di rumah mereka di Desa Babagan, Lasem, Jawa Tengah.

Sejumlah pembatik sibuk bekerja di rumah itu, dengan teliti dan hening menggambar titik, lengkung, dan garis di kain berwarna putih.

Di sisi belakang rumah, sejumlah laki-laki muda melorot (melepaskan lilin dari batik) batik.

Di samping mereka, batik-batik yang baru jadi digantung.

Salah satunya memuat pepatah China.

“Ini yang paling khas, di dalam kain batiknya ada peribahasa atau kata-kata bijak confusius,” kata Javier.

“Ini artinya, bila dua hati sedang membara, maka cinta kasih akan kekal abadi.

“Ada juga yang isinya doa-doa, seperti ‘usianya setinggi gunung Himalaya, rezekinya seluas Samudera Pasifik.”

Koleksi batik lainnya memuat doa “semua keluarga selamat” dan pepatah “di empat penjuru, semua manusia bersahabat”.

batik

Kain batik peranakan ini berisi kata-kata doa dan pesan lainnya.

Menurut peneliti budaya Tionghoa, Agni Malagina, Sigit adalah pelopor batik dengan motif sinografi China.

“Beliau adalah salah satu pionir penggunaan aksara Han atau sinografi yang ada di batik Lasem.

“Sebenarnya sebelum beliau, saya mensinyalir terdapat penggunaan sinografi juga di batik Lasem tapi tidak masif, tidak terkenal. Setelah dibuat Pak Sigit jadi booming,” katanya.

sigit

Sigit Witjaksono di tahun 2014

Putri ketiga Sigit, Safitri Rini, 47, yang juga ibu dari Javier, mengatakan motif itu ditemukan Sigit ketika usianya sudah di atas 60.

“Saat itu, usianya sudah nggak produktif lagi, tapi semangatnya masih ada. Papa menemukan tulisan (sinografi) itu sudah di atas usia 60-an,” ujarnya.

Karya Sigit memperkaya batik peranakan Lasem, yang populer karena perpaduan motif Tionghoa dan motif Jawa.

Batik peranakan Lasem sendiri telah berkembang selama ratusan tahun, seiring kedatangan orang Tionghoa ke Lasem.

batik

Salah satu motif kain batik buatan Sigit Witjaksono

Kota itu telah mencatat produksi batik sejak masa pemerintahan Bhre Lasem I, penguasa Lasem. Saat itu, batik digunakan hanya oleh kaum bangsawan.

Menurut penelitian yang dilakukan Nazala Noor Maulany dan Noor Naelil Masruroh dari Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, momentum perkembangan batik Lasem adalah sekitar abad XIV.

Saat itu, salah seorang anak buah armada laut Cheng Ho, bernama Bi Nang Un, memutuskan menetap di Lasem. Ia membawa istrinya Na Li Ni dan dua anak mereka.

Lasem

Usaha batik Lasem mencapai kejayaan di awal tahun 1.900-an

Istri dan putri Bi Nang Un belajar membatik dari penduduk setempat. Tak hanya belajar, ada juga proses bertukar ilmu.

Salah seorang dari anak Bi Nang Un itu juga mengajari perempuan Jawa membatik dengan motif yang lebih beragam.

Interaksi itu yang kemudian menciptakan batik ala Lasem, yang ikonik dengan gambar-gambar seperti burung, kupu-kupu, hingga naga.

Usaha batik Lasem mencapai kejayaan di awal 1900-an, bahkan sampai diekspor ke Singapura, dan terus berkembang hingga tahun 1970-an, sebelum sempat mundur di tahun 1980 hingga 2000-an.

peta

Beda agama, beda budaya

Di tahun 1967, Sigit memulai usaha batiknya, yang dinamainya Batik Kencana, meneruskan usaha ayahnya yang juga pengusaha batik, dengan merek berbeda.

Usaha itu dirintis Sigit dengan istrinya Marpat Rochani, seorang Muslim, keturunan darah biru dari Jawa.

Safitri Rini, bercerita dulu ayahnya adalah seorang guru. Sementara, Marpat adalah perawat rumah sakit swasta, yang pernah merawat Sigit.

Lasem

Rini tak meneruskan usaha batik keluarga, tapi anaknya Javier, memutuskan meneruskan usaha itu.

Keduanya kemudian menjalin hubungan, yang awalnya ditolak keluarga Marpat.

“Istilahnya, mereka [keluarga Marpat] adalah salah satu keluarga terpandang, darah biru… ketika dapat orang Tionghoa dianggap nggak pantes,” ujar Javier mengulangi sejarah keluarganya.

Meski demikian, keduanya menikah dan hubungan itu bertahan kokoh hingga Sigit meninggal dunia.

Anak-anak mereka dibesarkan secara Katolik, lalu dibiarkan memilih agama masing-masing ketika besar.

Latar belakang Sigit dan istrinya, Tionghoa dan Jawa tercermin dalam kain-kain yang dibuat Sigit, misalnya dalam kain tokwi atau meja altar yang dominan dengan warna merah.

“Kain itu diisi motif naga dan ‘sekar jagad’,” kata Javier.

LASEM

Kain tokwi di rumah keluarga Sigit Witjaksono.

Dalam bahasa Jawa, sekar jagad artinya kembang sedunia, yang bermakna sebuah perjalanan kehidupan.

Warna merah “darah ayam” dari Sigit hingga generasi di atasnya, masih dipertahankan hingga kini.

“Pakem yang kita tetap pertahankan dari generasi ke generasi itu pewarnaan, terutama warna merahnya, warna biru Indigo.

“Kita boleh berkreasi, tapi dengan pakem warna yang mungkin berperan menjaga kekhasan klasik itu tadi,” kata Javier.

Kini, Marpat, yang menurut Javier memegang “kunci penting batik Sigit”, memastikan warisan resep pewarnaan itu diteruskan cucunya.

“Dari 70 pembatik Lasem, hitungan jari yang bisa menyerupai ciri khas warna oma. Memang itu harus dijaga,” ujarnya.

batik

Javier dan ibunya, Safitri Rini, di depan meja sembahyang leluhur.

Motif Muslim

Tak hanya itu, perpaduan agama, baik dalam keluarganya dan di Lasem secara keseluruhan, menginspirasi Sigit untuk memasukkan motif kaligrafi dalam kain yang dibuatnya, bahkan saat ia masih menganut agama Kong Hu Cu.

“Sebelum memeluk agama Islam beberapa tahun belakangan ini, dia bersahabat dengan satu pemuka agama Islam. Dia ingin buatkan salah satu kaligrafi, tapi ada di batiknya.

“Ketika mencucinya pun kalau ada yang lafadz Allahu akbar, kalau kain lain biasa dengan kaki, itu dengan tangan. Nggak boleh sampai jatuh ke bawah.

“Engkong saking menghormati agama lain, sampai begitu,” ujarnya.

batik

Motif kaligrafi dalam batik buatan Sigit Witjaksono.

Motif-motif binatang yang digambarnya pun tak pernah menyerupai bentuk asli untuk menghormati ajaran Islam.

Motif kaligrafi ini juga sering dibuat oleh Javier, alumni Pondok Modern Darussalam, Gontor, Jawa Timur, itu.

“Batik itu tentang keberagaman. Semua yang menggunakan batik itu pantas.

“Di setiap kain ada warna-warna, spirit-spirit (semangat) dari semua etnis,” ujarnya.

‘Anak sekarang tak mau membatik’

Meski awalnya hanya untuk “bantu-bantu oma”, Javier jatuh cinta pada batik ketika mempelajarinya selesai SMA.

“Ternyata setelah saya belajar batik kok ternyata menarik? Banyak hal yang menantang.

“Kalau kita liat secara kasat mata, prosesnya hanya produksi, jual, selesai. Ternyata nggak, ada nilai seni di situ.

“Kain yang diperlakukan sama, hasilnya bisa berbeda. Saya tertarik dengan seninya,” ujar Javier.

batik

“Kalau kita liat secara kasat mata, prosesnya hanya produksi, jual, selesai. Seperti nggak, ada nilai seni di situ.”

Meski semangat menjalankan bisnis itu, tak dipungkiri Javier menghadapi sejumlah tantangan.

Salah satunya, jumlah pembatik berkualitas yang semakin sedikit.

Suparmi, salah satu pembatik di tempat itu, mengiyakan soal langkanya penerus.

“Sulit anak-anak sekarang itu. Nggak banyak yang mau membatik karena mereka kuliah, bekerja.

“Nenek-nenek ini yang masih membatik. Anak saya menjadi guru dan perangkat desa,” kata Suparmi seraya tertawa.

Lasem

Suparmi mengatakan anak-anaknya enggan membatik.

Menanggapi masalah itu, Javier berupaya untuk mengadakan sejumlah pelatihan untuk para pembatik muda.

Ia juga berupaya memberi insentif layak agar makin banyak anak muda yang mau membatik.

“Karena masalah langkanya pembatik disebabkan karena rendahnya penghasilan sebagai seorang pembatik,” ujarnya.

Bagaimana bisa bersaing?

Tantangan lain yang dihadapinya adalah persaingan dengan batik cetak atau printing, yang biasanya dijual dengan sangat murah.

Batik Javier yang berukuran 240x115cm, misalnya, dihargai sekitar Rp3 juta.

Batik ukuran sama yang diproduksi dengan cetakan atau printing, harganya jauh lebih murah, yakni sekitar Rp 150.000.

Namun, Javier percaya diri mereka yang mengerti nilai batik tulis akan setia membeli batik itu.

“Ada perbedaan mendasar dari batik printing dan batik tulis, nilai artistik batik tulis sangat tinggi,” katanya.

Selain itu, dia pun merangkul inovasi-inovasi yang ada demi membuat bisnisnya berkelanjutan.

lasem

Javier berupaya menekan harga produksi batik dengan teknologi terkini, tanpa melupakan resep warna batik keluarga.

Salah satunya terkait teknologi baru pengolahan kain.

Dengan teknologi tekstil baru, ujarnya, pengolahan kain bisa lebih efisien, sehingga “dapat menekan harga jual secara signfikan”.

Dengan harga terjangkau itu, ia berharap banyak orang akan membeli batiknya, terutama anak-anak muda, pasar yang diincarnya melalui pemasaran di media sosial.

Tak hanya Javier, neneknya Marpat, juga menginspirasinya untuk tetap berinovasi dari sisi motif.

“Bahkan oma tetap berinovasi. Saya juga tetap berinovasi,” ujarnya.

batik

Javier memasarkan kain-kain buatannya melalui media sosial.

Ia misalnya, mengembangkan motif monokrom yang kini digemari anak muda.

Dengan melakukan itu, Javier mengatakan yakin batik tulis peranakan yang diwariskan leluhurnya tak akan punah.

“Kita sedang tidak hanya mencari pundi-pundi ekonomi. Yang kita lestarikan, yang kita usahakan itu, adalah sesuatu usaha yang mulia, mempertahankan budaya sendiri.

“Jangan kita terus berkecil hati, berpikir negatif suatu saat batik itu akan punah. Tetap berinovasi,” ujarnya.

The Sin Nio dan Ho Wan Moy, Srikandi Tionghoa untuk Kemerdekaan. nationalgeographic. 20 Januari 2021grid.id.

https://nationalgeographic.grid.id/read/132501060/the-sin-nio-dan-ho-wan-moy-srikandi-tionghoa-untuk-kemerdekaan?page=all

Afkar Aristoteles Mukhaer

Nationalgeographic.co.id—Perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan tak hanya berasal dari golongan laki-laki pribumi saja. Ketika Belanda yang menginginkan kembali menancapkan bendera triwarnanya di Bumi Pertiwi, semua rakyat Indonesia berjuang bersama—tanpa meamndang gender, keturunan, dan agama.

Kebanyakan perempuan memberi dukungan dan bantuan kepada para pejuang dari logistik. Sebab, lingkungan perjuangan garis terdepan bernuansa patriarkis pada masanya. Namun, ada segelintir perempuan Tionghoa, demi cintanya untuk negeri ini, bersedia tampil di garis depan perjuangan fisik dan bergerilya dengan para pejuang lainnya.

Demi dapat bergabung dengan gerilyawan, The Sin Nio merubah identitas administrasinya sebagai laki-laki dengan nama Mochamad Moeksin. Sehingga dia pun dapat bergabung dengan pejuang lainnya dalam Kompi 1 Batalyon 4 Resimen 18, demikian berdasarkan laporan majalah Sarinah edisi 6 Agustus 1984. Majalah itu koleksi Museum Pustaka Peranakan Tionghoa di Tangerang Selatan.

Perempuan asal Wonosobo tersebut, menurut keterangan cucunya, Rosalia Sulistiawati saat dihubungi National Geographic Indonesia, ia turut berperan di bidang logistik dan persenjataan. Setelah menjadi bagian logistik, ia dipindahkan ke bagian perawat.

 

Tak banyak gambaran secara detail mengenai sosok The Sin Nio pada masa perjuangan kemerdekaan.

Sejak 1973 ia meninggalkan keluarganya untuk pergi ke Jakarta untuk menuntut haknya sebagai veteran. Ia baru mendapatkan pengakuan sebagai veteran pada 15 Agustus 1981, berdasarkan Surat Keputusan yang ditandatangani Wakil Panglima ABRI, Laksamana Sudomo. Akan tetapi, pengakuan tersebut tak beriringan dengan cairnya hak tunjangan veterannya.

“Oma terlunta-terlunta sampai menempati rumah di pinggir rel, saya pernah ke sana sama Papa. Seperti kontrakan gitu. Kalau kereta lewat rumahnya bergetar,” kenang Rosalia. “Hanya papa saya yang sering berkunjung ke Jakarta, nengokin Oma. Kalau ada papa ada urusan di Jakarta sering menyempatkan ketemu Oma.”

Ia menghabiskan sisa hidupnya hingga meninggal pada 1985 di usia 70 tahun di kawasan kumuh di dekat Stasiun Juanda, Jakarta. “Saya tidak mau merepotkan bangsa saya, biarlah saya hidup dan mati dalam kesendirian, karena hanya Tuhan yang mampu memeluk dan menghargai gelandangan seperti saya!” ucap The Sin Nio pada majalah Sarinah.

Ho Wan Moy (Tika Nurwati)

Sejak muda, Tika Nuwrwati telah terlibat perjuangan kemerdekaan di Jawa Tengah. Ia pun mendapat penganugerahan Bintang Gerilya dan Bintang Veteran pasca kemerdekaan. Keberaniannya, diungkap oleh Lisa Suroso dalam Suara Baru edisi Maret-April 2008 berkat pejuang yang datang padanya, Herman Sarens Soediro dari Kompi Tentara Pelajar Siliwangi.

“Kamu jangan takut. Walaupun kamu perempuan dan Tionghoa, kamu harus berani,” ucap pejuang muda itu pada Ho Wan Moy.

Dorongan itulah yang membuatnya ikut berperan dalam gerilya. Ia sempat menjadi para pejuang ke tempat persembunyian senjata di Banjar. Kemudian bergabung Palang Merah Indonesia dan Laskar Wanita Indonesia untuk merawat pejuang yang terluka, mengurusi logistik tentara, dan merangkap sebagai mata-mata.

Tika Nurwati (Ho Wan Moy)

Tika Nurwati (Ho Wan Moy)

Kisahnya menjadi mata-mata bermula dari habisnya persediaan singkong dan beras milik keluarganya setelah disumbangkan kepada gerilyawan. Ia terpaksa harus ke kota melewati pos-pos Belanda untuk belanja. Beruntung ia tak dicurigai.

Sesaat melewati pos-pos Belanda, ia juga mencatat jumlah tantara yang berjaga. Ia mengungkapkan bila tentara yang berjaga adalah pasukan Belanda Hitam (sebutan untuk tentara KNIL pribumi saat itu), dan sedikit yang Belanda putih.

Setelah melewati perjalanan yang menegangkan, ia langsung memberikan data-datanya kepada Soediro Wirjo Soehardjo—ayah dari Herman—yang menangani masalah logistik Batalyon IV Resimen XI Divisi III Siliwangi.

Desember 1947, Ho Wan Moy dipercaya oleh Soediro untuk dititipkan rombongan perempuan ketika kampungnya hendak digempur. Ia mendapat kabar bahwa orang Tionghoa di Banjar, Jawa Barat, menjadi sasaran pembantaian di tengah-tengah suasana kacau.

Ia juga menyampaikan kesaksiannya saat nekat ke kota untuk mencari Soediro yang bergerilya. Ia menemukan jasad bapak—panggilannya untuk Soediro—tak bernyawa tak jauh dari jenazah pamannya yang juga turut berjuang. Malam itu juga, keduanya dimakamkan Ho Wan Moy bersama ibu dan neneknya.

Pahlawan Perempuan Asal Wonosobo The Sin Nio, Pejuang Bersenjata Bambu Runcing, Sosok Kartini Sebenarnya

https://kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-1561806383/pahlawan-perempuan-asal-wonosobo-the-sin-nio-pejuang-bersenjata-bambu-runcing-sosok-kartini-sebenarnya

Erwin Abdillah

KABAR WONOSOBO – Nyatanya nasib pejuang kemerdekaan tidak selalu sama, seperti mendapatkan haknya seperti jaminan pensiun hingga pengakuan dari Negara secara langsung.

Kehidupan yang cukup berat dialami oleh pejuang perempuan bernama The Sin Nio, seorang keturunan Tionghoa asal Wonosobo yang turut bertempur melawan belanda. Sin Nio meninggal dunia dan dimakamkan di Jakarta pada tahun 1985 di usia 70 tahun.

Dikutip Kabar Wonosobo dari Majalah Sarinah yang terbit 6 Agustus 1984, Koleksi Museum Pustaka Peranakan Tionghoa, berikut fakta mengenai kehidupan Sin Nio yang patut diangkat sebagai sosok teladan dan perwujudan Kartini lewat jalan sunyi sebenarnya.

“Saya tidak mau merepotkan bangsa saya, biarlah saya hidup dan mati dalam kesendirian, karena hanya Tuhan yang mampu memeluk dan menghargai gelandangan seperti saya!” sebuah kutipan dari Majalah Sarinah yang sangat menohok dan pengingat untuk generasi ini agar lebih menghargai pahlawan dan pejuangnya.

Di sisa usianya yang senja, Sin Nio menghabiskan sisa hidupnya bertahan hidup di kawasan kumuh di dekat Stasiun Juanda, Jakarta.

Bahkan, setelah masa kemerdekaan dan kondisi negara aman, Sin Nio yang asli Wonosobo, sempat hidup terlantar ketika berjuang bertahan hidup di Jakarta.

Sin Nio memiliki enam anak dari dua orang suami, keduanya ikatan pernikahannya berakhir dengan perceraian.

Sebagai janda dengan enam anak, hidup Sin Nio sangatlah berat, dan atas itu, tekad semakin bulat untuk pindah dari Wonosobo ke Jakarta pada tahun 1973.

Alasan lain ke Jakarta adalah karena pejuang perempuan Wonosobo itu tidak mendapatkan pensiun sebagai pejuang kemerdekaan.

Maka Sin Nio mantap berangkat ke Jakarta untuk mengurus hak pensiunnya dan meskipun dinilai cukup jarang adanya pejuang Tionghoa, nyatanya ada sederet pejuang Tionghoa yang hingga kini tercatat sebagai pahlawan pejuang kemerdekaan.

Dalam catatan perjuangannya, Sin Nio ikut bertempur melawan Belanda dan bergabung dalam Kompi 1 Batalion 4 Resimen 18.

Berada di bawah komando Sukarno yang terakhir berpangkat Brigjend dan pernah menjadi Duta Besar RI untuk Aljazair. Di Resimen itu, Sin Nio adalah satu-satunya prajurit perempuan dalam kompi tersebut dan bersenjatakan golok, tombak, bahkan bambu runcing.

Baru setelah berhasil merampas senapan jenis LE dari pihak BelandaSin Nio memiliki senjata api.

Sin Nio pernah dipindah ke bagian perawat palang merah karena banyak sekali pejuang terluka dan butuh perawatan medis.

Hidup sebagai janda dengan 6 anak di Wonosobo, hidupnya sangat berat, terlebih dalam usia yang senja.

Usai berangkat ke Jakarta untuk mengurus hak pensiunnya pada 1973, Sin Nio sempat menumpang tinggal selama sembilan bulan di Markas Besar Legiun Veteran Republik Indonesia, di Jalan Gajah Mada.

Usai tinggal menumpang, lalu Sin Nio menggelandang di ibukota di usia 60 tahun harus kehujanandan  kepanasan tanpa tempat tinggal layak.

Setelah perjuangan panjang, pada tanggal 29 Juli 1976, Sin Nio berhasil mendapatkan pengakuan sebagai pejuang yang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Pengakuan itu tertuang di Surat Keputusan pengakuan The Sin Nio yang dikeluarkan oleh Mahkamah Militer Yogyakarta, ditandatangani oleh Kapten CKH Soetikno SH dan Lettu CKH Drs. Soehardjo.

Tetapi nahas, SK tersebut tidak diiringi dengan hak pensiun untuk Sin Nio, sehingga dirinya harus bertahan sebagai gelandangan di seputaran pintu air dekat masjid Istiqlal Jakarta.

Akhirnya, beberapa tahun kemudian, uang pensiun sebesar Rp28.000 per bulan diperolehnya, namun tidak mencukupi kebutuhannya.

Terpaksa, Sin Nio tinggal di gubuk tanah pinggiran rel kereta api milik PJKA dan bersikeras enggan pulang lagi ke Wonosobo.

Namun Sin Nio tak pernah lupa mengirimkan uang kepada anak cucunya di Wonosobo.

Dalam sebuah petikan di Majalah Sarinah (1984) Sin Nio menyebut lebih memilih hidup sendiri di Jakarta.

“Saya tak mau merepotkan anak cucu saya, biarlah saya hidup sendiri di Jakarta, meski dalam tempat seperti ini!” tutur pejuang Wanita itu.

Selain itu, Sin Nio pernah dijanjikan sebuah rumah di Perumnas dari Menteri Perumahan di masa itu, Cosmas Batubara, namun diduga tidak dipenuhi hingga akhir hayatnya.***

Editor: Erwin Abdillah

Sumber: Majalah Sarinah

 

Rekomendasi Film Menyambut 17 Agustus 2021

Pada 17 Agustus ini kita semua siap bersukacita memperingati Hari Kemerdekaan ke-76 Republik Indonesia. Nah, bagi kalian yang hendak merayakan kemerdekaan negara kita di rumah aja, berikut rekomendasi deretan film-film lokal bercitarasa nasionalisme dan patriotisme buat kalian!

  1. Kartini

Siapa sih yang tidak mengenal sosok pahlawan yang telah memperjuangkan emansipasi wanita ini? Film Kartini yang tayang pada tahun 2017 lalu, mengisahkan perjuangan beliau dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dalam mengenyam pendidikan, yang diperankan oleh Dian Sastrowardoyo.

  1. Soekarno : Indonesia Merdeka

Film yang dirilis pada tahun 2013 ini mengisahkan biografi Soekarno sejak masa kecilnya yang perankan oleh Ario Bayu dan juga menampilkan sosok Mohammad Hatta yang diperankan oleh Lukman Sardi.

  1. Merah Putih

Film ini ditayangkan pada tahun 2009 yang dibintangi oleh Darius Sinathrya (Marius), Donny Alamsyah (Tomas), Rahayu Saraswati (Senja), Lukman Sardi (Amir), Joe Sims (Sergeant De Graffe), dan beberapa aktor lainnya. Film ini mengisahkan pemuda yang berlatar belakang suku yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari serangan Belanda.

  1. Naga Bonar (1987) dan Nagabonar Jadi 2 (2007)

Film yang mengambil latar peristiwa perang kemerdekaan Indonesia di daerah Sumatera Utara. Sekuelnya, Nagabonar Jadi 2, bercerita Bonaga, seorang pengusaha sukses, mendapat proyek pembangunan resort dari perusahaan Jepang. Sialnya, lahan yang diincar perusahaan Jepang tersebut tak lain adalah lahan perkebunan sawit milik ayahnya, Nagabonar. Maka Bonaga pun memboyong ayahnya ke Jakarta agar dia bisa membujuk Nagabonar menjual lahannya.

5. Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015)

Film ini menceritakan setelah lepas dari era tanam paksa di akhir tahun 1800, Hindia Belanda memasuki babak baru yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakatnya, yaitu dengan gerakan politik etis yang dilakukan oleh pemerintah Belanda. Tetapi kemiskinan masih banyak terjadi. Rakyat banyak yang belum mengenyam pendidikan, dan kesenjangan sosial antaretnis dan kasta masih terlihat jelas.
Oemar Said Tjokroaminoto (Tjokro) yang lahir dari kaum bangsawan Jawa di Ponorogo, Jawa Timur, dengan latar belakang keislaman yang kuat, tidak diam saja melihat kondisi tersebut. Walaupun lingkungannya adalah keluarga ningrat dengan hidup yang nyaman dibandingkan rakyat kebanyakan saat itu, ia berani meninggalkan status kebangsawanannya dan bekerja sebagai kuli pelabuhan dan merasakan penderitaan sebagai rakyat jelata.
Tjokro yang intelektual, pandai bersiasat, mempunyai banyak keahlian, termasuk silat, mesin, hukum, penulis surat kabar yang kritis, orator ulung yang mampu menyihir ribuan orang dari mimbar pidato, membuat pemerintah Hindia Belanda khawatir, dan membuat mereka bertindak untuk menghambat laju gerak Sarekat Islam yang pesat. Perjuangan Tjokro lewat organisasi Sarekat Islam untuk memberikan penyadaran masyarakat, dan mengangkat harkat dan martabat secara bersamaan, juga terancam oleh perpecahan dari dalam organisasi itu sendiri.

6. Jenderal Soedirman (2015) 

Menceritakan tentang Belanda menyatakan secara sepihak sudah tidak terikat dengan perjanjian Renville, sekaligus menyatakan penghentian gencatan senjata. Pada tanggal 19 Desember 1948, Jenderal Simons Spoor Panglima Tentara Belanda memimpin Agresi militer ke II menyerang Yogyakarta yang saat itu menjadi ibukota Republik.

Itulah beberapa deretan film yang cocok kamu tonton untuk memaknai kemerdekaan mendatang, gengs! Gimana? Tertarik untuk menontonnya??

 

Sumber :

Dayana, Anggit (2019, Agustus 14). 7 Rekomendasi film Indonesia menyambut 17 Agustus 2019. Tirto.id. diakses pada https://tirto.id/7-rekomendasi-film-indonesia-menyambut-17-agustus-2019-egel. 9 Agustus 2021.

 

Gunadha, Reza (2020, Agustus 1). Daftar Film yang Cocok Ditonton saat 17 Agustus, Sambut Kemerdekaan ke-75. Suara.com. diakses pada https://www.suara.com/entertainment/2020/08/01/192755/daftar-film-yang-cocok-ditonton-saat-17-agustus-sambut-kemerdekaan-ke-75. 9 Agustus 2021.

 

Mulyani, Rizky (2019, Agustus 16). Sambut Hari Kemerdekaan Indonesia, 5 Film Bertema Nasionalis Ini Patut Ditonton. Fimela.com. diakses pada https://www.fimela.com/news-entertainment/read/4039564/sambut-hari-kemerdekaan-indonesia-5-film-bertema-nasionalis-ini-patut-ditonton. 9 Agustus 2021.

 

Indonesia History Trivia

Hi UC people👋
Pada 17 Agustus ini kita semua siap bersukacita memperingati Hari Kemerdekaan ke-76 Republik Indonesia. Tapi seberapa jauh sih kita mengenal sejarah negara kita?
Yuk cari tau and try to answer this question!

  1. Indonesia pernah masuk dan bermain di Piala Dunia pada tahun?

Hint: Pada masa penjajahan Belanda.

  1. Lokasi diculiknya Soekarno-Hatta supaya segera memproklamirkan kemerdekaan.

Hint: prajurit PETA.

  1. Nama penjahit bendera merah putih Indonesia pertama kali?

Hint:  Istri Presiden Indonesia pertama.

  1. Penemu draft asli naskah proklamasi yang sempat hilang.

Hint:  Tokoh pers era kemerdekaan.

  1. Pada tahun 1922, Ki Hajar Dewantara mendirikan sekolah untuk kaum pribumi.

Hint: Yogyakarta.

  1. Presiden sementara saat Bung Karno diasingkan Agresi Militer Belanda kedua tahun 1948.

Hint: Roem-Royen.

  1. Peristiwa pejuang membumihanguskan kota Bandung pada tanggal 23 Maret 1946.

Hint: Halo Halo Bandung.

  1. Pada siding PPKI 1945, Kalimat ini diganti menjadi “Ketuhanan yang Maha Esa”.

Hint: Sila Pertama.

  1. Negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia adalah?

Hint: Sungai Nil dan bangunan Piramid.

Jawaban :

  1. 1938
  2. Rengasdengklok
  3. Ibu Fatmawati
  4. M. Diah
  5. Perguruan Taman Siswa
  6. Sjafruddin Prawiranegara
  7. Bandung Lautan Api
  8. “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”
  9. Mesir

Sumber : Gogirl! #139 AGUSTUS 2016

Produktivitas Pertanian Kita. Kontan Mingguan 16 Agustus 2021. Hal. 23

Oleh F Rahardi, Pengamat Agribisnis

Dalam acara Pembukaan Pelatihan Petani dan Penyuluh Pertanian secara daring, yang diselenggarakan Kementerian Pertanian pada 6 Agustus 2021; Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak kita semua “Membuat generasi muda lebih berminat menjadi petani”. (Kompas.com 06/08/2021). “Sebab dari total petani Indonesia, sebanyak 71 persen berusia 45 tahun ke atas. Sedangkan yang di bawah 45 tahun sebanyak 29 persen,” kata Presiden.

Sebenarnya, presiden tak perlu risau. Penurunan minat generasi muda untuk menjadi petani, justru sesuatu yang sehat. Pertama, karena pilihan lapangan kerja semakin banyak. Kedua, mekanisasi akan menurunkan kebutuhan tenaga kerja di sektor pertanian.

Di banyak negara maju, populasi petani menyusut, tetapi dibarengi tingkat produktivitas yang semakin tinggi. Jadi parameternya bukan populasi dan usia petani, melainkan tingkat produktivitas.

Di Australia misalnya, yang berminat menjadi petani, mayoritas justru para pensiunan profesi lain: tentara, dokter, pengacara, mekanik dll. Petani di Australia tidak identik dengan mencangkul dan menanam, tapi fokus pada mengelola usaha pertanian. Misalnya pensiunan tentara yang ingin jadi petani, akan menghubungi kantor asosiasi petani.

Oleh asosiasi, si pensiunan itu akan ditanya dua hal: 1 Mau jadi petani komoditas apa? 2 Apakah sudah punya lahan dan modal? Kalau jawabnya belum, si pensiunan itu akan diberi pilihan lebih lanjut. Bisa petani pangan, sayuran atau buah-buahan.

Kalau ia pilih komoditas jeruk, padahal belum punya modal dan lahan, si pensiunan akan dihubungkan dengan Asosiasi Pe tani Jeruk. Oleh asosiasi, si pensiunan di minta jadi anggota, sekaligus anggota Koperasi Petani Jeruk. Kemudian dia diberi akses untuk mendapat lahan (sewa); akses kredit bank; akses ke perusahaan land clearing, pembenih/penanam, pemupukan, pengendalian hama/penyakit dan perusahaan pemanen/pemasaran.

Praktis petani jeruk yang rata-rata mengelola lahan puluhan hektare, hanya berperan sebagai “penunggu kebun”. Karena semua pekerjaan ditangani oleh tenaga outsourching yang profesional. Jadi, petani Australia justru didominasi oleh para lansia. Mereka tidak perlu mengendarai traktor, apalagi mencang kul. Saat tanaman rimbun dan perlu dipangkas, petani lansia itu menghubungi perusahaan pemangkasan. Hari itu juga datang orang untuk melihat dan mencatat, lalu dijadwalkan hari, tanggal, jam, jumlah tenaga, alat yang digunakan dan perkiraan lama pemangkasan.

Masalah serius

Tahun 1960, populasi penduduk Indonesia 87,75 juta. Jumlah petani 61,4 juta (70% dari populasi). Produksi beras nasional 8 juta ton. Produktivitas per petani 130,2 kilogram beras per tahun. Tahun 2020, penduduk Indonesia 270,2 juta. Jumlah petani tinggal 33,4 juta (12,3% dari populasi). Produksi beras nasional 31,33 juta ton. Produktivitas per petani 938 kilogram beras per tahun. Produktivitas petani kita pada tahun 2021, 7,2 kali dibanding petani kita tahun 1960. Jadi meski jumlah petani tinggal 33,4 juta jiwa, dan kata presiden yang 71% berusia di atas 45 tahun; tidak ada masalah. Sebab produksi beras terus naik. Padahal pencetakan sawah baru sangat terbatas, dan lahan sawah di Jawa banyak diubah menjadi jalan dan bangunan.

Tahun 1960, andalan minyak nabati Indonesia masih berasal dari kelapa (kopra). Sejak dekade 1980, kopra mulai tergeser oleh sawit. Rata-rata produktivitas kelapa per hektar per tahun 2,5 ton minyak nabati. Rata-rata produktivitas sawit 5,5 ton minyak sawit mentah (crude palm oil, CPO), per hektar per tahun; dua kali lipat lebih dari kelapa. Tahun 2019, produksi minyak sawit mentah Indonesia sebesar 24,5 juta ton, tertinggi di dunia. Maka, komoditas ini selalu diserang oleh negara-negara penghasil minyak nabati lain, terutama bunga matahari, kacang tanah dan kedelai; dengan produktivitas rata-rata di bawah 0,5 ton minyak nabati per hektar per tahun.

Sebagian besar CPO andalan Indonesia diproduksi BUMN dan perusahaan swasta be sar. Tetapi yang menanam, merawat, dan me manen tandan buah sawit tetap tenaga buruh tani, atau petani plasma.

Angka 33,4 juta jiwa petani Indonesia tahun 2020, termasuk buruh tani yang bekerja di perkebunan kelapa sawit, yang pada tahun 1960 belum ada. Tahun 2020, Indonesia tidak hanya menghasilkan beras dan minyak sawit, tetapi juga komoditas lain. Komoditas perkebunan warisan Belanda seperti karet, kopi, kakao, teh, tembakau; masih dibudidayakan BUMN kita PT Perkebunan Nusantara, perusahaan swasta, dan juga para petani.

Tahun 1960, produk si singkong Indonesia belum tercatat FAO. Catatan paling awal Foto/F.Rahardi tahun 1961, dengan produksi 11,1 juta ton. Tahun 2019, produksi singkong nasional 14,5 juta ton. Kenaikan produksi singkong selama 42 tahun hanya 3,4 juta ton (30,6%); atau rata-rata 0,72% per tahun. Jadi dekade 2010, Indonesia terpaksa mengimpor tapioka dari Thailand rata-rata sebesar 500.000 ton/ tahun.

Angka ini masih relatif kecil dibanding impor gula tebu kita yang rata-rata lebih dari 4 juta ton per tahun. Padahal zaman Belanda kita penghasil gula tebu utama dunia. Defisit gula tebu juga jadi fokus presiden, hingga pemilik modal diminta investasi komoditas ini.

Sebenarnya ada masalah pertanian yang cukup serius di Indonesia. Kita terlalu mengandalkan beras dan gandum sebagai sumber karbohidrat pangan nasional. Karena gandum tumbuhan sub tropis, hampir tidak mungkin dibudidayakan di sini dengan hasil optimum. Akibatnya impor gandum kita 2019 sebesar 10,6 juta ton dengan nilai 2,7 juta dollar AS (Rp. 39,1 triliun). Kita tak mungkin stop impor gandum, sebab mi instan sudah jadi alternatif pangan murah. Tetapi kita perlu menggiatkan produksi serealia selain padi dan jagung; serta umbi-umbian termasuk singkong. Itu tak masalah dilakukan petani tua atau muda.

 

Sumber: Kontan Mingguan 16 Agustus 2021. Hal. 23