Putri Kuswisnu Wardani tentang Industri Berbasis Budaya Berdaya Saing dengan Niti, Niru, dan Nambah

14 Februari 2016. Putri Kuswisnu Wardani tentang Industri Berbasis Budaya_Berdaya Saing dengan Niti, Niru, dan Nambah. Jawa Pos. 14 Februari 2016.Hal.1,11

Meskipun tidak termasuk industri utama, kosmetik tidak bisa dipandang sebelah mata. Kebutuhan akan produk tersebut tidak pernah surut.

SEBAGAI pelaku utama di bisnis kosmetik, Putri Kuswisnu Wardani, presiden direktur Mustika Ratu, menilai industrinya masih kurang dilindungi regulasi yang berpihak.

“Kosmetik impor bisa masuk tanpa melalui proses verifikasi. Sementara  sektor lain harus melalui proses itu,” kata Putri kepada Jawa Pos di Sultan Hotel, Jakarta, Jumat (12/2).

Hal tersebut berdampak besar pada industri kosmetik nasional. Bayangkan saja, dari seluruh kosmetik yang beredar di atas air, hanya 30 persen yang merupakan produk asli Indonesia. Sisanya merupakan barang impor. Baik yang legal maupun selundupan. Hal itu berdampak langsung bukan hanya pada para pelaku industri, tapi juga pemerintah dan konsumen.

Pelaku industri kosmetik nasional sudah pasti dirugikan. Produk mereka dipandang sebelah mata karena konsumen cenderung lebih percaya pada produk impor. Pemerintah pun dirugikan karena tidak semua kosmetik impor masuk melalui jalur yang benar. “Kerugian pajak pasti dialami pemerintah,” tutur ketua Dewan Pembina Yayasan Puteri Indonesia tersebut.

Dengan masuknya kosmetik tanpa verifikasi, jaminan keamanan dan keselamatan konsumen pun menjadi tidak ada. Izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang menjadi acuan keamanan produk pun belum tentu tercantum dalam kosmetik-kosmetik tersebut. Akibatnya, tidak sedikit konsumen yang menjadi korban.

Perempuan yang menjabat ketua bidang ekonomi kreatif Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) itu mengatakan pernah mendapat laporan dari seorang dokter kulit yang menangani pasien korban  kosmetik impor. Pasien tersebut terpaksa dirawat inap karena mendadak sesak napas setelah menggunakan produk pemutih impor yang dibelinya secara online.

“Ada beberapa kandungan kosmetik tertentu yang memang terlalu besar. Tidak ada izin BPOM juga,” cerita putri BRA Mooryati Soedibyo, pendiri Mustika Ratu, itu.

Jika kondisi tersebut terus-menerus dibiarkan, bukan tidak mungkin industri kosmetik Indonesia bisa luluh lantak tergilas serbuah produk impor. Kondisi itu sangat jauh berbeda dnegan ketika Putri kali pertama turut terjun ke industri kosmetik. Kala itu, pada 1985, kosmetik dalam negeri masih bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Dia mengatakan, waktu itu hanya ada Viva dan Mustika Ratu. Viva menjangkau pasar menengah ke bawah, sedangkan Mustika Ratu di pasar menengah ke atas.

“Sementara itu, jumlah kosmetik impor masih bisa dihitung jari. Tapi, sekarang ini semuanya justru berbalik karena kita sudah mulai masuk pasar bebas. Dan kita harus berusaha keras untuk bisa bersaing,” ungkap lulusan Master Of Business Administration National University Inglewood, California, Amerika Serikat, tersebut.

Sebagai pelaku, Putri tentu tidak tinggal diam. Dia pun mulai merancang strategi. Budaya dijadikan Putri sebagai filosofi dalam menghadapi tantangan. Putri memang terlahir di keluarga yang memegang teguh budaya Jawa. Nilai-nilai itu juga akhirnya diturunkan ke Putri sebagai penerima tongkat estafet dalam menjalankan perusahaan. “Niti, niru, nambah. 3N yang paling saya ingat. Itu luar biasa sekali,” ucap dia bersemangat.

Menurut Putri, filosofi yang sudah ada sejak 1700 atau 1800 tersebut masih sangat relevan untuk diterapkan dalam bisnis hingga sekarang. Niti atau niteni berarti mengamati. Melihat apa yang jadi keunggulan yang lain untuk kemudian dipelajari.

Niru atau meniru adalah langkah selanjutnya. Produk tentu tidak melulu 100 persen hasil penemuan. Bisa juga hasil inspirasi produk lain. Jika memang packaging dan cara komunikasi menjadikan produk pesaing sukses, cara tersebut tentu saja bisa ditiru. “Namun, kita tetap harus nambah. Harus ada nilai tambah yang akan membuat produk kita lebih unggul daripada produk pesaing,” jelas sekretaris Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) itu.

Putri melanjutkan, itu juga yang dilakukan Jepang dan Korea. Tiga puluh tahun lalu, mobil Jepang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan mobil Eropa. Putri mengatakan, kala itu mobil Jepang diketok pun bisa penyok seperti kaleng. “Sekarang coba lihat. Jepang punya banyak mobil mewah sekarang. Enggak kalah dengan Eropa. Korea juga mulai muncul sekarang dengan produk elektroniknya,” ungkap peremuan kelahiran Jakarta, 20 September 1959, tersebut.

Dengan filosofi Jawa itu, Putri yakin industri kosmetik Indonesia bisa maju dan bersaing dengan produk impor sekalipun. Dia juga terus meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa produk dalam negeri tidak kalah dengan produk impor. “Setiap ada kesempatan untuk berbicara, saya pasti akan terus mengampanyekan itu,” ujarnya.

Putri juga mencoba mengenalkan produk kosmetik buatan Mustika Ratu ke pasar global melalui Yayasan Puteri Indonesia. Puteri Indonesia yang bertugas ke luar negeri akan dibekali kosmetik dari Mustika Ratu. Di sana secara tidak langsung mereka juga akan mempromosikan produk Indonesia ke teman=teman sesama ratu kecantikan. Dengan begitu, orang – orang di luar sana akan makan aware dengan produk kosmetik Indonesia.

“Kami juga secara konsisten sudah melakukan ekspor produk ke 20 negara. Kan selain hanrus defense dari serangan luar, kita harus offense. Salah satunya dengan cara invansi ke luar negeri,” kata dia.

Namun, lanjut Putri, kesuksesan produk Indonesia bersaing dengan produk impor rtidak akan bisa terwujud jika tidak ada sinergi antara para pelaku bisnis, akademisi, dan pemerintah. Tiga unsur yang dikenal dengan istila ABG (academics-business-government) itu harus bekerja sama. Dengan adanya pengembangan produk dari para akademisi, strategi dari para pelaku bisnis, dan regulasi yang mendukung dari pemerintah, bukan tidak mungkin Indonesisa bisa jadi the next Jepang atau Korea.

“Enggak apa-apa kita telat. Yang penting masih bisa eksis nantinya,” ucap wakil ketua umum bidang industri tradisional berbasis budaya Kamar Dagang dan Industri (Kadin) itu. (and/c9/sof)

 

Jawa Pos 14 Februari 2016

UC Lib-Collect

Jamal Ghozi tentang Industri Padat Karya Maksimalkan Keunggulan Jumlah Tenaga Kerja

13 Februari 2016. Jamal Ghozi tentang Industri Padat Karya_Maksimalkan Keunggulan Jumlah Tenaga Kerja. Jawa Pos.13 Februari 2016.Hal.1,11

Jika dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara, sebenarnya Indonesia paling berpotensi menjadi negara industri. Dukungan tenaga kerja yang melimpah dan terampil perlu disempurnakan dengan penciptaan iklim usaha yang kondusif.

BAGI Jamal Ghozi, CEO Pisma Group, kepercayaan dari pemodal asing merupakan indikator masih besarnya peluang menjadi negara industri.

“Jepang sudah menyatakan akan menjadikan Indonesia sebagai pusat industri otomotif untuk kawasan Asia Pasifik. Nanti industri-industri lain pasti menyusul,” ujarnya saat ditemui di kawasan industri Jababeka, Cikarang, Jawa Barat, Kamis (11/2).

Dari berbagai pilihan negara di Asia, Jepang lebih memilih Indonesia untuk menjadi negara penyokong industrinya.

Sebab, Indonesia memiliki berbagai kelebihan dibanding negara lain. “Jumlah tenaga kerja kita sangat banyak. Mau berapa pun orang pasti tersedia. Untuk industri padat karya, itu sangat penting,” katanya.

Jamal membandingkan dengan Vietnam yang selama ini dianggap sebagai pesaing Indonesia dalam hal upah buruh murah. Menurut pria murah senyum itu, jumlah tenaga kerja di Vietnam kurang memadai. “Sekarang banyak pabrik di Vietnam yang tutup karena enggak ada pekerjanya. Susah cari orang,” tambahnya.

Hal itu terutama terjadi di sektor industri tekstil dan produk tekstil (TPT) yang membutuhkan banyak tenaga kerja. Akibat kekurangan pekerja tersebut, banyak industri TPT di Vietnam yang hengkang dan pindah ke Indonesia. “Di sini tenaga kerja banyak, kerjanya juga bagus,” sebutnya.

Hal tersebut tentu membawa keuntungan bagi Indonesia. Sebagai contoh, industri TPT dari yang bahan baku hingga garmen menyerap puluhan ribuh tenaga kerja. “Industri tekstil itu termasuk padat karya. Jadi tidak mungkin cuma 1.000-2.000 orang,” terangnya.

Walaupun ada yang menilai upah tenaga kerja di Indonesia termasuk tinggi, di balik itu, banyaknya jumlah tenaga kerja merupakan hal yang menarik bagi investasi industri padat karya. “Kita saja (Pisma Group, Red) untuk pabrik spare part dan tekstil menyerap 15 ribu tenaga kerja,” ungkapnya.

Jamal sangat mengapresiasi pekerja yang loyal. Sebab, semakin lama mereka bekerja semakin ahli menangani pekerjaan. “Dulu saya punya pabrik handphone  Nexian, itu tenaga kerjanya orang Indonesia semua. Artinya, skill tenaga kerja Indonesia bagus. Mereka mau belajar, semakin lama semakin pintar,” tuturnya.

Pria 56 tahun itu menilai sumbe daya manusia (SDM) di Indonesia sangat siap menghadapi persaingan global. Tak heran, sektor otomotif  yang selama ini dikuasai Jepang sekarang hampir semuanya dibuat di Indonesia. “Dulu mungkin 50 persen masih impor. Sekarang sudah lebih 70 persen dibuat di sini,” ujarnya bangga.

Jamal menilai Jepang tidak pelit dalam hal berbagi ilmu dengan tenaga kerja di Indonesia. “Jepang wajib transfer teknologi. Karena kalau tidak, bisnis mereka di sini tidak akan bisa berkembang. Di pabril spare part kami, orang Jepang Cuma tujuh orang. Itu pun karena mereka betah tinggal di Indonesia,” ungkapnya.

Menurut Jamal, pemerintah harus bersinergi dengan pengusaha, khususnya dalam hal mendongkrak industri yang banyak menyerap tenaga kerja. “Kalau industri lokal kita tidak di-support, jadinya seperti sekarang. Banyak yang ditutup, karyawan di-cut. Akhirnya pengangguran semakin banyak,” terangnya.

Sebagai pelaku usaha industri padat karya, Jamal berharap pemerintah memberikan dukungan dalam bentuk insentif pajak, penurunan tarif listrik, dan bunga bank. Jamal sangat ingin industri padat karya berkembang pesat karena orang tuanya merintis bisnis Pisma Group sejak 1972. Dimulai dengan pendirian pabrik tekstil di Pekalongan, Jawa Tengah, yang memproduksi sarung Gajah Duduk. “Ayah saya, Ghozi Salim, perintisnya. Saya generasi kedua yang mengembangkan,” kata dia.

Bisnis Pisma Group terus berkembang pesat hingga merambah berbagai jenis industri lain seperti produsen spare part kendaraan mobil dan sepeda motor melalui PT KMK Precision Indonesia yang menyiplai kebutuhan pabrik Honda, Toyota, Suzuki, dan sebagainya. “Kami juga support komponen elektronik seperti printer Epson. Tapi, 60 sampai 70 persen produk dipasok untuk otomotif,” lanjutnya.

Namun, Pisma Group lebih banyak dikenal masyarakat sebagai produsen sarung Gajah Duduk. Produk Pismatex itu tidak hanya menguasai pasar Indonesia, tapi juga Asia Tenggara. “Pangsa pasar sarung kami sekitar 60 persen. Paling besar di Malaysia. Bisa sampai 70 persen,” katanya. Pihaknya kini akan masuk Myanmar. “Sudah bangun kantor di sana. Kita lihat orang Myanmar juga pakai sarung,” ucapnya.

Jamal sangat bersyukur perusahaannya bisa berkembang pesat seperti sekarang. Dia teringat ketika kali pertama kembali ke tanah air, harus menyesuaikan diri dengan kondisi dan budaya kerja di Indonesia. “Saya 13 tahun tinggal di sana, sekolah dan kerja di sana. Januari 1993 saya balik Indonesia,” kata alumnus Teknik Pertekstilan Shinshu University, Jepang, itu. (wir/c9/sof)

 

Jawa Pos 13 Februari 2016

UC Lib-Collect

Perry Tristianto tentang Pentingnya Inovasi Karena Bisnis Ada Masanya

12 Februari 2016. Perry Tristianto tentang Pentingnya Inovasi_Karena Bisnis Ada Masanya. Jawa Pos. 12 Februari 2016. Hal.1,15

Peluang bisnis gaya hidup terbukti tidak pernah pudar. Bidang usaha itu cenderung lebih tahan guncangan ekonomi.

PERNAH menyandang predikat raja factory outlet (FO) sejak 1995 membuat Perry Tristianto tetap optimis dalam memandang bisnisnya. “Bagi saya, yang berkaitan dengan  fashion, wisata, dan makanan tidak pernah mati. Indonesia itu pasar yang sangat meriah,” tutur Perry kepada Bandung Ekspres (Jawa Pos Group) di kediamannya Jumat lalu (5/2).

Optimisme itu tidak berlebihan. Sebab, kebutuhan akan makanan, pakaian, dan hiburan bakal terus ada dalam masa ekonomi yang bergairah maupun suram. “Bergantung dari cara orang menjualnya. Dengan kata lain, perlu inovasi untuk lebih besar daripada sekadar survive dari ketatnya persaingan,” kata pemilik Big Price Cut tersebut.

Bagi dia, kondisi saat ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan resesi ekonomi pada 1997-1998. Buktinya, saat ini masih banyak yang bisa membeli mobil dan barang mewah lain.

“Lebih berat mana? Saya pikir, kondisi saat ini tidak terlalu mengkhawatirkan,” ujarnya.

Meski memang ada beberapa yang kemudian gulung tikar, lanjut dia, tidak sedikit juga yang kemudian bisa untung.

Bagi Perry, daya tahan pengusaha diuji oleh ketatnya persaingan, juga kondisi ekonomi. Termasuk saat ini. Karena itu, dia selalu berusaha mencari peluang bisnis yang lebih tahan fluktuasi. “Ketika ujian bertambah berat, dorongan untuk berinovasi itu lebih penting,” ujar pemilik lokasi wisata Farm House, Floating Market, Rumah Sosis, De’ Ranch, hingga Tahu Susu Lembang itu.

Perry mencontohkan jejak langkahnya dalam meniti karir. Itu merupakan salah satu contoh bagaimana inovasi dijunjung. Dia memulai usaha FO dari pedagang kaki lima (PKL).

Pada 1998, dia menjadi satu-satunya penjual kaus yang mengedankan ilustrasi musik jazz. Ide itu muncul setelah dia memutuskan untuk resign dari satu produksi rekaman. Setelah tiga tahun berjualan di pinggir jalan, dia kemudian bisa membeli dan mengontrak beberapa lokasi yang berbeda. Hingga akhirnya dia menjadi pendobrak bisnis FO pada 1995 dengan bendera Big Price Cut.

Dia mengatakan, saat ini sebagian orang mulai malas berbelanja langsung di toko. Apalagi, sudah banyak pedangan online. “Ini berarti kita harus menciptakan pasar. Bila perlu, di aptek pun bisa dimasuki untuk jualan kaus,” papar ayah dua anak itu.

Target pasar juga penting untuk mengetahui kemampuan bisnis dan kejelian melihat beragam peluang seseorang. Ketika satu target terlampaui, dia selalu membuat target lain.

“Dia yang pasti, juga menyesuaikan dengan tren saat ini. Dulu konsumen yang datang cukup disapa, ‘Silakan, Pak atau Bu, ada yang bisa dibantu?’ Tapi, sekarang tidak,” ucap dia sambil melambaikan tangan dan mengernyitkan dahi.

“Kelas anak muda, mungkin konsumen dipanggil kakak. Kelas distro, bisa jadi bro atau sis. Hal itu membuat konsumen lebih nyaman karena merasa tidak ada sekar usia,” urainya.

Begitu pun ketika Indonesia menjadi bagian dari Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Regulasi yang sudah ada bagi dia tidak bisa diubah. Yang harus diubah adalah cara pandang masyarakat Indonesia dalam mempekerjakan atau membeli produk dalam negeri.

Ketika produk masal dari Tiongkok bermunculan di tanah air, papar dia, banyak yang sangat murah. Dengan demikian, yang perlu dipahami adalah kualitasnya. “Sebab , produk Tiongkok yang level nomor satu juga sama mahalnya. Kalau jaket kulit Tiongkok Rp 2 jutaan, toh di Garut harganya yang mulai dari Rp 500-an ribu sudah ada yang bagus,” selorohnya.

Kemudian, dari sisi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Cara pandang pengusaha lokal kerap terpentok dengan produk itu-itu saja dan tidak memanfaatkan momen. Alasannya, mempertahankan ciri khas.

“Contoh, sekarang Februari, ada Imlek atau Valentine lah kalau anak muda. Kenapa pengusaha payung Tasikmalaya tidak membuat payung bernuansa merah dengan motif naga (liong, Red) atau kelom (sandal khas Tasikmalaya, Red) yang juga ikut menyemarakkan momen Imlek?” ucap dia.

Berhasil di bidang fashion, pria pria lulusan Stanford College, Singapura, itu juga mengembangkan bisnis wisata. Sektor itu jugalah yang membuat dia menjadi pengusaha yang menguasai kawasan Bandung utara dan selatan.

Kenapa lantas menjalani haluan lain, suami Elen Berkah itu mengatakan, masa keemasan FO mulai pudar. Sebab, setiap lini bisnis ada masanya. Bukan karena dahsyatnya gempuran toko online, melainkan lebih dipengaruhi tren kebiasaan multitasking. Berarti, bagaimana caranya menangkap peluang itu sehingga menjadi gurih dari sisi bisnis?

“Orang Jakarta datang ke Bandung cari apa? Pasti udara yang segar, suasana, dan kultur. Saya menangkap peluang itu. Dengan berbagai macam konsep yang mengutamakan kultur budaya Sunda,” beber pria kelahiran 22 Februari 1960 itu. (rie/JPG/c11/sof)

 

Jawa Pos 12 Februari 2016

UC Lib-Collect

 

Henry J. Gunawan tentang Bisnis Properti Masa Depan Hunian High Rise Bakal Jadi Tren

11 Februari 2016. Henry J. Gunawan tentang Bisnis Properti Masa Depan_Hunian High Rise Bakal Jadi Tren. Jawa pos. 11 Februari 2016.Hal.1,11

Bertambahnya kelas menengah turut mendongkrak kebutuhan hunian di segmen tersebut. Peluang itu harus disambut pemerintah dengan memperbaiki tata kota agar pebisnis piawai memaksimalkan lahan.

PRESIDEN Direktur PT Gala Bumi Perkasa Henry J. Gunawan menilai segmen menengah saat ini lebih mampu membeli hunian. Sebab, mereka punya simpanan uang yang lebih likuid. “Upah tenaga kerja sekarang sudah cukup untuk beli rumah Rp 150 juta atau apartemen Rp 200 juta,” katanya.

Henry pun berharap pemerintah mengambil peran paliing penting. Yaitu perbaikan tata kota terkait ketersediaan lahan dan pemenuhan infrastruktur. Menurut dia, lahan untuk hunian tidak bisa tumbuh, sedangkan jumlah penduduk pasti bertambah. Perbaikan tata kota itu juga harus terencana.

Pria kelahiran 1954 tersebut juga menekankan percepatan pembangunan infrastruktur. Henry meminta pemerintah menggenjot bagian luar dari proyek pengembang. “Seharusnya, kalau ada niat, pasti bisa cepat. Paling penting itu jalankan dengan cepat. Pengawasnya kasih satu pencegahan-pencegahan, otomatis jalan lancar,” urainya.

Tata kota yang terecana juga menuntut pebisnis kian piawao memaksimalkan lahan. Salah satunya menerapkan one stop living pada kawasan rumah hunian dan apartemen. Model tersebut menjadi pilihan segmen kelas menengah karena menyatukan akses semua fasilitas dalam satu lingkungan. Selain lahan bisa maksimal, waktu dan biaya hidup menjadi efisien, lebih-lebih dalam menjamin keamanan.

“Biaya dan waktu untuk transportasi saja, value-nya minim 1 juta setiap bulan. Kalau kelas menengah mampu menabung Rp 2 juta, artinya separo sudah habis untuk ongkos jalan. Padahal, tabungan itu bisa sebanding dengan angsuran hunian,” papar mantan ketua DPD Realestat Indonesia (REI) Jatim tersebut.

Henry menyebutkan, setiap pilihan hunian memiliki segmen. Sebagian orang masih menyenangi landed house dan justru kelas menengah yang sedang tren tinggal di apartemen. Pilihan itu bukan paksaan karena akan disesuaikan dengan kemampuan. “Kalau kemampuannya beli bukan landed, ya tidak usah beli landed. Perkara nanti punya uang, silakan beli landed,” ujar Henry yang juga menjabat Preskom PT Kertabakti Raharja, pengembang Apartemen Madison Avenue.

Namun, Henry yakin landed house pada waktunya nanti berkembang menjadi hunian high rise. Seperti di Singapura yang dulu menerapkan landed house, kemudian berganti bangunan hingga 50 lantai. Bahkan, Henry memastikan bahwa suatu saat lahan pedesaan turut berubah menjadi high rise. “Lihat saja, trennya seperti itu, pasti,” ucapnya yakin.

Keniscayaan lahan di desa menjadi kawasan hunian, menurut Henry, bakal menaikkan nilai aset petani. Asal dikelola dengan baik. Hal itu bagus untuk menggerakkan perekonomian negara berkembang seperti Indonesia. Dulu Tiongkok juga begitu. Sektor properti yang bergulir dari harga sangat murah hingga puluhan ribu kali lipat membuat rakyat menjadi kaya. Di kawasan terpencil sekalipun, tidak ada harga tanah di bawah ratusan juta setiap meter persegi.

“Para petani mendadak kaya karena banyak yang memiliki tanah. Intinya, kalau negara itu mau berkembang, harga tanah jangan dibatasi dan biarkan naik dengan sendirinya. Daripada petani itu jual murah kepada developer, kemudian mereka menjual mahal kepada pembeli, yang kaya bukan petani,” tuturnya.

Sekarang masalahnya, petani punya tanah, tapi tidak terjual. Saat mereka perlu uang, aset itu tidak bisa jadi uang, apalagi diatur agar harga tidak boleh mahal. “Lho, kalau harga tanah sudah mahal seperti di luar negeri, dibatasi boleh. Tapi, sekarang saya bilang masih tidak mahal. Sektor properti seharusnya didorong untuk makin menggairahkan,” ucap pria yang memiliki lima anak tersebut.

Menyinggung kebijakan untuk pengusaha properti, Henry hanya meminta tidak ada syarat yang mengikat terlalu banyak. Lebih baik lagi urusan tertentu seperti amdal menjadi tanggungan pemerintah. “Amdal itu seharusnya pemerintah yang menyiapkan. Karena harus integrated,” tuturnya. Saat ini, lanjut dia, mau tidak mau setiap pengembang menyiapkan sendiri. Padahal, pengembang pasti punya problem yang berbeda.

Langkah meminimalkan dampak perekonomian yang lambat bisa ditempuh melalui pererapan teknologi. Misalnya penggunaan material bangunan yang lebih efisien, tapi tidak mengganggu struktur. Teknologi juga perlu untuk mempercepat pekerjaan bangunan. Dulu bikin satu rumah butuh satu tahun. Lama-lama bisa jadi dalam satu bulan. “Kecepatan itu kan yang jelas sudah mengurangi bunga pijaman,” katanya. (res/c9/sof)

 

Jawa Pos 11 Februari 2016

UC Lib-Collect

Suhartono Bicara tentang Regulasi Ekonomi Pemerintah Jadi Motor Penggerak

4 Februari 2016. Suhartono Bicara tentang Regulasi Ekonomi_Pemerintah Jadi Motor Penggerak. Jawa Pos. 4 Februari 2016. Hal.1,11

Sektor swasta punya peran amat besar bagi perekonomian. Namun, regulasi yang dibuat pemerintah akan lebih menentukan secepat apa roda ekonomi berputar.

Bagi suhartono, komisaris utama ajbs group pengusaha harus mengikuti regulasi regulasi yang ditetapkan pemerintah. Itu membuat pengusaha harus siap dengan segala peraturan yang kapan aja bisa berubah. Pengusaha ritel perlengkapan pertukangan dan property tersebut menyatakan beberapa regulasi yang menjadi perhatian pengusaha adalah kesejahteraan karyawan, pajak dan suku bunga.

 

Belanja pemerintah jadi pemacu

Setiap tahun upah minimum kabupaten/kota(UMK) selalu naik 10-11 persen. Sebenarnya, pengusaha selalu siap mengikuti peraturan untuk membayar karyawan sesuai dengan umk. Namun, yang dikeluhkan adalah umk tidak selaluberbanding lurus dengan aktifitas produksi perusahaan. Suhartono mengatakan, aktivitas produksi perusahaan sangat bergantung pada permintaan, kondisi pasar, dan harga bahan baku. Nah, masalahnya, umk hanya ditetapkan berdasar komponen standar kebutuhan hidup layak tanpa memikirkan bagaimana kondisi perusahaan. “kalau produksi kita naik tinggi, umk naik tinggi nggak apa apa, kalau produktifitas perusahaan turun, ya kita mau bayar pake apa?” ungkap pria 65 tahun tersebut kemarin. Untuk itu,penetapan umk juga harus mempertimbangkan kondisi pasar agar tidak terjadi phk besar besaran. Suhartono menambahkan,hengkangnya beberapa  perusahaan asing besar di Indonesia cukup menjadi pelajaran bagi pemerintah. Pengusaha pun harus pintar pintar mengelola bisnis agar tidak menutup usaha dan pabriknya seperti yang dilakukan banyak investor asing. Ditengah tuntutan membayar biaya tinggi untuk karyawan, kakek empat cucu itu mengimbau mulai waspada pada kedatangan pekerja pekerja asing. Saat ini buruh dari tiongkok mulai berdatangan. Mereka punya tingkat produktivitas dan keterampilan yang tinggi, tapi rela dibayar murah. Jika upah karyawan Indonesia terus meninggi,tapi tidak dibarengi skill yang bagus, pekerja asing bisa menjadi ancaman. Suhartono mengaku sedapat dapatnya menggunakan tenaga kerja asal Indonesia. Sebab,dia ingin membantu meningkatkan kesejahteraan warga Indonesia. Lagipula jumlah penduduk usia produktif di Indonesia masih banyak. Kelebihan sdm itulah yang harus dimanfaatkan pengusaha agar perekonomian Indonesia bisa lebih maju. Jadi bukan hanya karena tenaga kerja murah, nasionalisme dalam berbisnis juga harus dipertahankan. “pengusaha senang kok kalau bisa bayar karyawan kita sendiri. Supaya mereka dapat gaji, bisa belanja, dan akhinya aktivitas produksi pabrik pabrik dalam negeri kita tetap jalan” paparnya. Namun, jika kondisi perusahaan sudah tidak dapat ditolong sehingga terpaksa menekan cost dari sisi sdm, barulah opsi perekrutan tenaga kerja asing itu bisa diperhitungkan. Maka, agar tidak terjadi hal yang demikian buruknya,suhartono mengingatkan pemerintah agar lebih bijak dalam membuat regulasi soal tenaga kerja. Selain peraturan tentang tenaga kerja, pemerintah harus memperhatikan regulasi soal pajak. Target penerimaan pajak terus meninggi. Artinya pemerintah harus melakukan ektensifikasi dan intensifikasi agar target tersebut dapat tercapai. Namun, yang dirasakan suhartono saat ini pemerintah belum mampu melakukan ekstensifikasi secara maksimal. Buktinya,masih banyak warga yang belum bayar pajak. Sebagai pengusaha, dia sendiri mengaku tak pernah berkeberatan dengan pajak. Namun,keadilan harus diterapkan. “siapapun yang belum bayar pajak,datangi,tagih. Supaya kita bisa betul betul merasakan imbal balik dari pajak yang telah kita bayar” tuturnya. Suhartono juga berharap pemerintah bisa menurunkan suku bunga kredit yang masih dikisaran 10 persen keatas. Padahal,pengusaha sangat membutuhkan akses keuangan agar bisa berekspansi. Dia pun berharap suku bunga kredit bisa dipangkas hingga 6 persen. Apalagi, bi rate telah dipangkas. Selain suku bunga,belanja pemerintah pun akan mendorong pertumbuhan ekonomi. Belanja pemerintah,kata suami dewi sri astuti suhartono itu, sangat ditunggu pihak swasta. Janji pemerintah untuk menggenjot pembangunan infrastruktur adalah stimulus yang positif. Sebab, dari situlah pihak swasta mendapatkan proyek. Swasta memang butuh semacam motor atau pemacu agar bisnisnya terus berjalan. Ketika swasta sudah mentok akibat permintaan dan daya beli yang turun, pemerintah yang bisa memperbaikinya lewat belanja. Pemerintah menjadi semacam obat atas kelesuan yang terjadi.

 

Sumber: jawa pos,kamis  februari 2016

 

Carmelita Hartono tentang Ekonomi Maritim Perbanyak Pelaku Usaha Pelayaran

3 Februari 2016. Carmelita Hartoto tentang Ekonomi Maritim_Perbanyak Pelaku Usaha Pelayaran. Jawa Pos. 3 Februari 2016.Hal.1,9

Komitmen pemerintahan joko widodo untuk memberdayakan ekonomi berbasis maritime perlu diterjemahkan dalam tataran kebijakan. Butuh terobosan agar industry pelaayran yang menjadi tulang punggung ekonomi kelautan bisa Berjaya.

Carmelita hartoto, presiden direktur PT Andhika lines, mengungkapkan, ekonomi berbasis maritime tidak cukup dilakukan melalui upaya pembentukan poros maritime.

 

Asing kuasai angkutan ekspor-impor

Prosedur yang berbelit harus di permudah. Juga perlu ada komitmen menurunkan biaya logistic. “kalau mau ekonomi melesat,mestinya kebijakan pemerintah benar benar memihak pengusaha dalam negri” ujar ketua umum Indonesia national shipowners association (INSA) itu. Dia memerinci sejumlah kebijakan yang perlu diperhatikan guna mendorong industry berbasis maritime. Pertama, memacu pembangunan infrastruktur disektor kelautan. Bukan saja jumlah kapalnya, melainkan juga jalur pelayaran,pergudangan, hingga dermaga serta pelabuhannya. “pemerintah memang sedang membangun semua itu. Namun, kami melihat sekarang ini kurang banyak dan kurang cepat” tuturnya. Perempuan yang akrab dipanggil memey itu menambahkan, dana APBN yang dialokasikan untuk pengembangan maritime mesti diperbesar. Terutama untuk membuka jalur jalur pelayaran baru di berbagai pelosok negeri. “swasta siap membantu di jalur jalur pelayaran yang selama ini hanya dilayani kapal pemerintah” tuturnya. Menurut dia, semakin banyak pelaku usaha dijalur pelayaran tertentu, pelayanan terhadap penumpang akan semakin membaik. Sebab, pelaku usaha akan saling berkompetisi. Hal itu lebih baik daripada satu jalur pelayanan hanya dilayani satu pelaku usaha. “pemerintah dan swasta perlu bersinergi” ujarnya. Namun, untuk rute yang sudah dilayani kapal swasta,dia menyarankan kapal pemerintah tidak masuk. Sebab,pelayaran swasta sudah pasti akan kalah. “tariff kapal BUMN disubsidi pemerintah. Pasti tariff lebih murah. Tidak fair kalau masuk kejalur swasta” ungkapnya. Kapal bumn disarankan mencari rute rute yang secara ekonomis tidak mampu dilayani swasta. Dengan begitu, dana subsidi tiket dalam bentuk anggaran PSO(public service obligation) bisa dinikmati masyarakat yang membutuhkan. “masih banyak pulau yang belum terlayani angkutan laut. Kapal pemerintah harus focus kesana” memey juga mengkritisi kebijakan pemerintah yang mewajibkan semua pelaku usaha memakai rupiah dalam transaksi. “kami mendukung kebijakan itu. Namun, untuk industry pelayaran, ada yang bisa dan ada yang tidak seperti kapal kapal offshore. Tidak bisa dipukul rata seperti itu” tandasnya. Dia mencontohkan, kapal kapal yang melayani distribusi minyak dan gas pertamina memiliki kontrak dalam mata uang dolar amerika serikat. Otomatis,pinjaman ke bank juga dibuat dalam usd dengan bunga 8 persen pertahun. “nah, karena diganti rupiah, pinjaman juga harus rupiah. Bunga bank naik menjadi 12 persen pertahun” terangnya. Akibatnya pemilik kapal membebankan bunga tinggi itu ke tariff yang dibayar pengguna. Dalam hal ini, pemerintah melalui pertamina harus mengeluarkan dana yang lebih besar untuk membayar pemilik kapal. “di singapura atau Malaysia, kebijakannya tidak seperti itu. Harus dipilah pilah. Jadi, tidak harus semua pakai rupiah” tambahnya. Dia berharap pemerintah membandingkan dengan kebijakan di negara lain. Sebab, Indonesia sudah masuk dalam era pasar bebas. “kita banyak berurusan dengan dunia internasional. Hampir semua bayar pakai dolar seperti asuransi,sparepart, dan biaya biaya lain. Kapal asing juga sama” sebutnya. Salah satu yang menjadi perhatian memey adalah tingginya suku bunga kredit bank. Menurut ibu tiga anak tersebut, bunga bank di Indonesia termasuk paling tinggi diantara negara negara asean lainnya. “kalau mau menang di masyarakat ekonomi asean, seharusnya suku bunga bank 4-5 persen saja” katanya. Selain itu kalangan pelaku usaha di bidang pelayaran meminta pemerintah kembali menurunkan harga bahan bakar minyak karena harga minyak dunia sudah sangat rendah. “harga bbm sudah turun, tapi sedikit sekali. Padahal, biaya operasional” jelasnya. Menurut dia, daya saing industry pelayaran nasional perlu ditingkatkan dengan menurunkan biaya tinggi. “meskipun kita punya asas cabotage (pelayaran didalam negeri wajib diangkut kapal berbendera Indonesia), mayoritas angkutan ekspor impor kita sekarang masih dilayani kapal asing” tuturnya. Saying, kapal kapal asing tersebut tidak dikenal pajak apa pun oleh pemerintahan Indonesia. “bagaimana kita mau bersaing dengan kapal asing di pelayaran ekspor impor kalau kita banyak dikenai pajak? Sedangkan kapal asing tidak sama sekali. Persaingan jelas tidak imbang antara kapal local dan asing” tegasnya. Karena itu, insa sudah protes ke kementerian keuangan agar kapal kapal asing juga dikenai pajak yang sama dengan kapal domestic. “potensinya sangat besar. Kalau harga komoditas sedang bagus,negara bisa dapat Rp 80 triliun pertahun dari pajak kapal asing. Itu lebih baik daripada terus menerus kejar pajak pribadi” ujarnya kesal. Sepak terjang memey dalam industry pelayaran tidak perlu diragukan lagi. Dialah satu satunya perempuan yang berhasil menjadi pemimpin industry pelayanan nasional. Pada tahun 2011 dia terpilih sebagai ketua umum insa. Lalu, akhir 2015 dia kembali terpilih untuk periode kedua hingga 2019. “dulu ayah saya juga ketua umum insa” terangnya. Perempuan ramah tersebut memang mewarisi kerajaan bisnis ayahnya,almarhum hartoto hardikusumo. Dia bisa mengembangkan bisnis perusahaan dengan apik. Terbukti, jumlah kapal berkembang dari hanya dua unit menjadi belasan unit. “sebenarnya saya terjun ke bisnis pelayaran tanpa sengaja” katanya. Perjalanan hidup memey berubah 180 derajat ketika sanga ayah meninggal pada 1994. Sebagai anak sulung diantara tiga putrid, memey harus menerima tongkat estafet bisnis yang dibangun ayahnya sejak 1972 dengan bendera andhika lines. Padahal memey telah memiliki karir mapan di sebuah perusahaan keuangan di London. “saya harus pulang dan mulai belajar dari nol” ungkapnya. Menggeluti bisnis pelayaran, pergudangan, dan bongkar muat membuat perempuan yang berulang tahun setiap 22 juni tersebut akrab dengan kehidupan pelabuhan yang dicitrakan sebagai kawasan keras. Namun, dia mengaku selama ini belum pernah ada yang kurang ajar. “dilingkungan seperti itu tidak perlu kasar dan emosian. Kalau kita senyum,mereka justru segan” katanya.

 

Sumber: jawa pos, Rabu 3 Februari 2016

Mochtar Riady Bicara tentang Peta Ekonomi Global Tiongkok Tetap Kuat, Indonesia di Jalur Tepat

31 Januari 2016. Mochtar Riady Bicara tentang Peta Ekonomi Global_Tiongkok Tetap Kuat, Indonesia di Jalur Tepat. Jawa Pos.31 Januari 2016. Hal.1,11

Lesatan ekonomi Tiongkok dalam dua dekde terakhir telah mengubah peta kekuatan ekonomi global. Indnesia pun bakal amat terpengaruh oleh tensi dari negara dengan kue ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.

MATA pelaku ekonomi pun tak henti memelototi gelagat negara berpendududk 1,3 miliar jiwa itu. Sebab dampak ekonominya akan dirasakan seluruh dunia, termasuk Indonesia karena Tiongkok adalah mitra dagang utama.

Ekonomi Biaya Tinggi Titik Lemah RI

Pergerakan harga komoditas pertambangan maupun perkebunan yang mempengaruhi kinerj ekspor dan ekonomi Indonesia berkolerasi dengan fluktuasi ekonomi pemilik mata uang yuan/renmibi tersebut.

Mochtar Riady sedikit mengernyitkan dahi saat ditanya perihal masa depan ekonomi Tiongkok yang kini terbelit perlambatan. “Ekonomi Tiongkok masih kuat. Mereka baik-baik saja,” ujarnya di sela peluncuran otobiografinya di Jakarta baru-baru ini.

Taipan pendiri Lippo Group itu mengakui, banyak analisis yang menyebut ekonomi Tiongkok sudah terlalu panas (overheat) karena terlalu banyak investasi (overinvestment). Akibatnya, kini pemerintah Tiongkok sengaja mengerem laju pertumbuhan ekonomi untuk menghindari gejolak. “Tapi, saya kira ini bentuk kehati-hatian mereka saja,” katanya.

Konglomerat kelahiran Batu, Jawa Timur, 12 mei 1929 itu memang sososk tepat untuk bicara tentang ekonomi Tiongkok. Dia menyelami ekonomi negara tersebut sejak 1970-an dan menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh penting Tiongkok. Salah satunya Xi Jinping, presiden Tiongkok saat ini. Bahkan, saat masih menjabat gubernur Provinsi Fujian, Xi, yang kagum dengan visi Mochtar pada pembangunan ekonomi berkelanjutan, mengangkatnya sebagai penasihat ekonomi internasional Provinsi Fujian.

Karena itu, ketika banyak orang mulai meragukan kemampuan Tiongkok untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonominya, Mochtar tak kehilangan sedikit pun optimisme terhadap negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia itu. “Sebab, saya melihat dan merasakan sendiri geliat ekonominya,” ucap konglomerat yang dinobatkan oleh Forbes sebagai orang terkaya kesembilan di Indonesia dengan pundi-pundi USD 2,1 miliar atau sekitar 29 triliun tersebut.

Mochtar tidak melihat adanya overkapasitas dari proyek-proyek infrastruktur yang dibangun Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir, mulai pelabuhan, bandara, tol hingga jaringan kereta cepat. “Semua dibangun begitu raksasa,” katanya, mengomentari maraknya megaproyek di Tiongkok.

Sementara itu, terkait dengan analisis bahwa Tiongkok berpotensi masuk jebakan ekonomi kelas menengah (middle income trap), banker yang bersama Liem Sioe Liong membesarkan Bank Central Asia (BCA) itu menyatakan, kecil kemungkinan ancaman middle income trap, kondisi dimana sebuah negeri gagal lepas landas menjadi negara maju, pada Tiongkok menjadi kenyataan.

“Sebab, ekonomi Tiongkok tidak bergantung besarnya indutri manufaktur saja, tapi juga sudah masuk industri teknologi informasi (TI). Jadi, kelasnya sudah lebih tinggi,” ujarnya.

Menurut Mochtar, industri berbasis TI paling kebal krisis. Dia mencontohkan, ketika ekonomi Amerika Serikat limbung dihajar krisis subprime mortgage pada 2008, hampir semua industri ikut sempoyongan, kecuali industri TI. Sebab, kebutuhan dunia terhadap TI terus naik. Karena itu Microsoft, Intel, dan perusahaan lain tetap menangguk untung segunung. “Setiap pagi, ketika kita membuka komputer atau HP, berarti kita bayar ke Intel atau Microsoft,” sebut dia.

Demikian pula industri digital semacam Amazon, jejaring sosial Facebook, mesin pencari Google, dan masih banyak lagi yang bukannya surut, tapi justru terus melesat. “Hebatnya Tiongkok, mereka mengembangkan teknologi serupa. Bahkan, banyak di antaranya yang kini lebih besar daripada perusahaan di Amerika,” katanya.

Di bidang teknologi cip komputer, dminasi Intel diproyeksikan akan digerogoti Huawei yang kian inovatif dan agresif. Untuk menyaingi Amazon, Tiongkk punya Alibaba yang kini lebih raksasa. Sistem bisnis Facebook dan Google pun disaingi Weibo dan Baidu.

Meski deikian, lanjut Mochtar, Indonesia masih punya banyak pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan. Salah satu yang utama adalah ekonomi biaya tinggi.”Diera kompetisi, ini menjadi titik lemah produk Indonesia.”

Sosok yang kini getol membangun rumah sakit dengan bendera Siloam Hospitals di berbagai wilayah Indonesia itu menyebut, high cost eonomy(ekonomi biaya tinggi) muncul karena dua faktor. Yakni, berbelitnya birokrasi atau regulasi dan minimnya infrastruktur.

Mochtar menyebut, jika langkah deregulasi untuk memangkas berbelitnya perizinan investasi dan pembangunan infrastruktur konsisten dilakukan pemerintah dalam beberapa tahun ke depan, iklim investasi akan meningkat signifikan serta menjadi landasan bagi ekonomi untuk melesat lebih tinggi. “Saya makin yakin, Indonesia akan jadi kekuatan ekonomi yang hebat, tak hanya di Asia, tapi juga dunia,” ucap dia.

(Sumber : Jawa Pos 31 Januari 2016)

Aksa Mahmud tentang Peran Korporasi Swasta Sepahit Apapun Tahun, Jangan Ragu Berekspansi

28 Januari 2016. Aksa Mahmud tentang Peran Korporasi Swasta_Sepahit Apapun Tahun, Jangan Ragu Berekspansi. Jawa Pos. 28 Januari 2016.Hal.1,11

“ombak terbesar menggulung kita pada 1997 – 1998. Kenapa mesti gentar lagi pada gelombang ?”

 

Aksa Mahmud memperbaiki letak kacamata. Urat wajahnya lebih kentara lantaran senyum. Sambil menatap dnding kaca di hadapannya, dia melontarkan kalimat yang penuh gelora itu.

PENDIRI dan chairman kelompok usaha Bosowa Corporation tersebut mengenang peristiwa yang telah berlalu hampir dua dekade. Krisis ekonomi yang menerpa Indonesia saat itu disebutnya sebagai latihan yang menguatkan.

Itu pula yang membuat Aksa sama sekali tak mengeluhkan 2015, tahun yang diwarnai pelambatan ekonomi.

REPUBLIK INI SUDAH KENYANG PENGALAMAN

Mata uang melemah. Haga komoditas anjlok. Pembangunan tak agresif. Dampaknya, bisnis semen yan juga salah satu lini bisnis Bosowa ikut terpengaruh.

“Toh kuartal keempat tahun lalu, situasi perlahan membaik,” ujarnya saat bincang dengan harian Fajar (Jawa Pos Group) di Novotel Makassar Grand Shayla Jumat lalu (15/1).

Di hotel milinya itu, Aksa sekali melayani tamu yang dating silih berganti menyodorkan berkas-berkas. “Mereka investor yang ingin bekerjasama dengan Bosowa. Awal tahun yang baik bukan ?” tuturnya.

Ya, Aksa baru saja memberikan contoh yang konkret.

Di tengah optimisme yang meluap, adik ipar Wapres Jusuf Kalla itu tetap meminta semuanya mencermati kondisi global. Riuh trompet dan kembang api malam pergantian tahun tidak berarti 2016 bisa penh pesta. Sebab, faktanya, ekonomi Tiongkok masih melemah. Padahal, negara itu mitra dagang utama Indonesia.

Tetapi, kata Aksa, liku-liku bisnis memang seperti itu. Lagi-lagi republik ini sudah kenyang pengalaman dengan banyak contoh situasi kurang menyenangkan.

Tenang saja.

Pria kelahiran Barr, Sulsel, 16 Juli 1945, ituuga cukup antusias karena perekonomian Asia sudah makin menggigit. Apalagi, khusus Asia Tenggara, era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dia nilai akan sangat membantu bila para kontestannya bermain fair. Tidak saling sikut.

Satu hal yang ditakutkan Aksa adalah tidak akurnya tiga macan Asia. Korea Selatan (Korsel), Jepang, dan Tiongkok bersaing sangat ketat dan tak jarang berupaya saling menjatuhkan. Aksa mencontohkan penerjaan pembangkit listrik 35 ribu megawatt di Indonesia. Bila sudah ada Korsel di dalam sebuah proyek, Jepang ogah merapat. Tiongkok menjauh. Begitu juga sebaliknya.

Namun, dibalik itu, ayahanda Ewin Aksa, mantan ketua umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), ituingin bangsa ini meniru semangat tiga negara tersebut.

Aksa memberikan perbandingan. Korsel dan Indonesia sama-sama pernah dijajah Jepang. Begitu Jepang menyerah setelah bom atommenghancurkan Hiroshima pada 6 Agustus 1945, Korsel langsung menyatakan merdeka 15 Agustus 1945. Indonesia menyusul dua hari kemudian.

“Sejak saat itu, Korsel bertekad mengalahkan Jepang. Sedangkan Indonesia malah selalu minta bantuan Jepang,” kata Aksa, lalu tertawa kecil, kemudian menyeruput tehnya dari cangkir putih mini.

“Korsel sudah diatas Jepang untuk beberapa sektor,” kata Aksa sambil melirik ponselnya, gadget produksi pabrikan Korsel berbasis Android. Walau dalam beberapa bidang lagi, tambah dia, Negeri Matahari Terbit tetap amat superior.

“Aksa juga senang pada semangat Tiongkok. Dia ingat betul, lebi dari 30 tahun lalu, saat dating ke Shanghai untu melihat kereta api tua dan tak layak pakai. Bangunan minim, di mana-mana pemandangan tak elok. Toilet bandara rusak. Bau. Aksa yang sudah jadi pengusaha saat itu malah digoda untuk mau membangun tol serta perumahan di dalam kota. Namun, dia tak tertarik.

Sekarang, ujar dia, Shanghai luar biasa maju dan cantik. Banyak hal yang mereka lakukan, tak dilaksanakan di Jakarta, Makassar, atau kota manapun di Indonesia.

Nah, sambil berhaap suhu eonomi global semakin sejuk, pembenahan dalam negeri juga amat penting. Bagi Aksa, ada kondisi yang tidak sinkron antara tiga lini ini : pemerintah, lembaga keuangan, pengusaha. Padahal, ketiganya harus saling menopang.

Dia beranalogi, pengusaha sebagai tubuh, pemerintah menjadi jantung, lembaga keuangan adalah darah. Bila lembaga keuangan tak melancarkan kredit, misalnya, jantung akan terganggu. Apalagi tubuh.

“pengusaha seharusnya dipermudah. Didukung. Pertumbuhan ekonomi kuncinya di pengusaha,” tegas Aksa.

“Dia uga menilai, ribut-ribut dalam pemerintahan masih lumayan mengganggu. Beberapa menteri jalan sendiri-sendiri. Undang-undang satu dengan undang-undang lain saling bantah. Satu lagi, penegakan supremasi hokum. Aksa mengatakan, Tiongkok pada awal kebangkitannya menjadikan hokum diatas segala-galanya. Pejabat korupsi dihukum mati. Itu efektif bikin kapok.

“kalau mau maju, pasal-pasal hukum tak boleh dibijaksanai,” imbuh pria yang merintis Bosowa dengan nama awal CV Moneter pada 1973 itu.

Bagaimana kedepan ? lagi-lagi Aksa tak pesimistis. Dia mengaku sangat yakin kemajuan signifikan ada di depan mata. “saya sendiri tidak pernah ragu. Tetapi, tentu tak boleh memikirkan diri sendiri. Kepentingan semua pelaku usaha di Nusantara harus terakomodasi dengan adil,” ucapnya. (Imam Dzulkifli/JPG/c10/sof)

 

(Sumber : Jawa Pos 28 Januari 2016)

Ricardo Galael dan Gairah Bisnis Waralaba Infrastruktur Tuntas, Biaya Terpangkas

27 Januari 2016. Ricardo Gelael dan Gairah Bisnis Waralaba_Infrastruktur Tuntas, Biaya Terpangkas. Jawa Pos. 27 Januari 2016.Hal. 1,13

Sejumlah kalangan memandang dengan sebelah mata bisnis waralaba. Padahal, potensi penyerapan tenaga kerjanya tidak sedikit. Juga bisa menjadi indikator menggeliatnya ekonomi suatu daerah.

BAGI Ricardo Gelael, presiden direktur PT Fast Food Indonesia, pemegang waralaba Kentucky Fried Chicken (KFC), Indonesia tinggal menuntaskan pembangunan infrastruktur agar bisnis di daerah bisa bertumbuh. Dia mencontohkan pembukaan gerai KFC di luar Pulau Jawayang masih harus “mengimpor” ayam dari Jawa.

Masyarakat Lebih Senang Santap Ayam

Menurut dia, jika pemerintah bisa memberikan infrastruktur lebih bagus, biayanya akan kian terpangkas. Dengan demikian, harga bisa ditekan. “Akan ada pemangkasan harga yang lebih banyak dalam pengiriman,” kata Ricardo.

Tentang potensi ekonomi Indonesia ke depan, Ricardo optimistis negeri in bisa bersaing dengan negara-negara di Asia Tenggara. Indnesia memiliki modal buat memenangi pasar di zona ASEAN.

Dia menyebut tenaga kerja serta sumber daya alam yang melimpah sebagai modal dasar yang patut dimaksimalkan. Menurut dia, saat bertanam modal, pengsaha akan berpikir bukan hanya lima tahun, melainkan sepuluh sampai lima belas tahun kedepan.

Dia mengatakan, asal pemerintah memberikan dukungan , ekonomi Indonesia akan terus tumbuh. Dia mengapresiasi sejumlah kebijakan pemerintah saat ini. Misalnya rencana pengampunan pajak.

Waralaba KFC di Indonesia dirintis sang ayah, (almarhum) Dick Gelael, pada akhir 1970-an. Sampai sekarang KFC sudah memiliki sekitar 500 gerai yang terbentang mulai Sabang sampai Merauke.

Ricardo tidak langsung melesat dan menikmati kesuksesan seperti saat ini. Pria kelahiran Jakarta itu belajar dari bawah. Dia pernah menjadi pelayan di supermarket Gelael, juga milik ayahnya. Bahkan, pelayanan membawakan barang milik pelanggan pun dengan rela dia lakukan. Itu dia anggap sebagai bagian dari pembelajaran.

“Itulah nilai-nilai entrepreneurship dasar yang diajarkan oleh ayah kepada saya,” tutur suami Rini S.Bono tersebut. Ricardo tak mau, mentang – mentang SoB (son of boss), perjalanan karirnya bisa berleha-leha dan mulus terus.

Pada awal 1980-an, Ricardo juga pernah turun langsung untuk menguji bagaimana memilih ayam ang baik. Oleh sang ayah, dia diharuskan memotong ayam, memilah ayam yang bagus, juga menjaga kualitas ayam yang akan disajikan di restoran miliknya.

Dalam membuka waralaba, Ricardo punya tiga prinsip. Yakni, branding, location, dan servis. Kemudian, setiap gerai KFC harus punya QSC (quick, secure, cleanliness). Dengan menjaga prinsip – prinsip tersebut, KFC terus berkembang dan menambah gerai.

Dia mengatakan aya lebih bisa diterima oleh masyarakat. Juga, orang-orang lebih senang menyantap ayam daripada burger. Sadar bahwa keunggulan KFC adalah dekat dengan budaya masyarakat Indonesia, dia merangkul anak muda dengan berbagai inovasi. Yakni, menjadikan gerai KFC sebagai lokasi nongkrong anak muda

 

(Sumber : Jawa Pos 27 Januari 2016)

Soedomo Mergonoto tentang Produktivitas Tenaga Kerja Tren Otomatisasi Tak Akan Terbendung

26 Januari 2016. Soedomo Mergonoto tentang Produktivitas Tenaga Kerja_Tren Otomatisasi Tak Akan Terbendung. Jawa Pos.26 Januari 2016. Hal.1,11

Upah tenaga kerja selalu menjadi isu pelik dalam upaya menjaga iklim investasi. Butuh solusi tepat agar bisnis tetap bertumbuh.

Soedomo Mergonoto, presiden direktur PT Santos Jaya Abadi, memprediksi tren otomatisasi terjadi dalam sepuluh tahun e depan. Sebab, pengussaha makin lama kian sulit menuruti kenaikan upah minimum kota/kabupaten (UMK) yang membumbung.

Konsumsi Kopi Masih Tumbuh

“Untungnya, di Kapal Api (brand produk kopi PT Santos Jaya Abadi), kami tidak melakukan efisiensi dibidang SDM sehingga tidak ada PHK (pemutusan hubungan kerja). Hanya, kami menahan rekrutmen karyawan baru,” katanya akhir pekan lalu.

Banyak perusahaan yang melakukan efisiensi dibidang tenaga kerja karna tak kuat membayar upah sesuai dengan UMK. Apalagi dengan perusahaan yang punya ribuan pekerja. Bukan hanya itu. Beberapa perusahaan juga melakukan investasi mesin dan robot untuk mendukung otomatisasi. Hal tersebut dilkukan untuk menggantikan tenaga mausia yang makin lama biayanya kian mahal.

Menurut Soedomo, kenaikan cost tersebut belum diimbangi dengan produktifitas karyawan. “Tiga tenaga kerja Indonesia produktifitasnya samadengan satu tenaga kerja dari Tiongkok, beda kecepatan dan produktifitasnya,” ujar dia.

Prid kelahiran 3 Juni 1950 itu mengungkapkan, secara jangka panjang, memang industri telah berpikir otomatisasi untuk efisiensi. Itu sulit dibendung bila upah nak terus, sedangkan produktifitas kurang.

Hal yang sama bahkan telah dilakukan industri-industri di Tiongkok dan AS. Soedomo mencontohkan kafe yang mengurangi tenaga kerja dengan menngunakan sistem swalayan. Pengunjung datang, pesan, dan bayar lalu bawa sendiri makanan dan minumannya ke meja.

Cara itu dilakukan untuk menghemat cost di bidang tenaga kerja. Di industri besar juga kurang lebih sama. “Kita beli mesin yang dulu dalam satu kali produksi mesinnya dijaga sepuluh orang. Sekarang beli mesin lebih canggih, sekali produksi dengan kecepatan tinggi Cuma dijaga satu orang,” tandasnya.

Soedomo mengakui, lama-lama cara itu verisiko mengurangi serapan tenaga kerja sehingga berdampak pada pendapatan masyarakat, tingkat konsumsi, dan pertumbuhan ekonomi. Namun menurut dia, itu merupakan tugas pemerintah untuk mendatangkan investor yang lebih banyak lagi.

Soedomo mengatakan, selama ini kemudahan investasi tidak merata ke daerah. Dia pernah punya pengalaman buruk dalam bertanam modal. Dia dipersulit dalam hal pembebasan lahan. Belum lagi menghadapi masyarakat yang suka mencuri hasil pertanian di daerah. Dia juga  pernah mendatangkan investor asal Tiongkok ke sebuah daerah miskin di kawasan Nusa Tenggara, tapi tidak berjalan mulus lantaran banyak kesulitan di tingkat pemda maupun masyarakat sekitar.

Padahal, niat Soedomo tidak sekedar investasi. Lebih dari itu, dia ingin memakmurkan dan meningkatkan perekonomian warga yang kebanyakan masih miskin. “Kalau kami pengusaha mau gampang, tinggal bikin aja karaoke di Surabaya, untungnya sama dengan bikin pabrik di daerah. Tapi, kan kami mau membantu rakyat miskin di daerah supaya maju,” ungkapnya.

Hal-hal seperti itulah yang membuat daerah sulit mendapatkan investor. Padahal, jika pemda dan masyarakat di daerah mau bekerja sama dengan investor, serapan tenaga kerja di Indonesia akan lebih baik. Itu baru investor dalam negeri saja. Jika sikap kooperatif itu dapat menarik investorasing, hasilnya akan lebih baik.

Apalagi, Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen. Menurut Soedomo yang juga konsul kehormatan Republik Polandia di Surabaya itu, pemerintah harus mewaspadai harga komoditas yang masih jatuh. Harga CPO, minyak, dan batu bara yanng rontok akan cukup menghambat laju pertumbuhan ekonomi. Solusinya, pemerintah harus mampu memberikan kemudahan nyata kepada investor supaya serapan tenaga kerja tinggi dan ekonomi bergerak.

Tahun lalu, kata oedomo, sektor konsumsi sebenarnya juga jatuh meski tidak sedratis komoditas. Itu bisa dilihat dari konsumsi shampo, sabun, dan mi yang turun tipis. Untung, konsumsi kopi justru masih bisa mencatatan pertumbuhan. “Cuma 5 persen sih, nggak banyak,” ucapnya.

Onsumsi kopi di Indonesia sekitar 1,2 kg per kapita per tahun. Angka tersebut terus naik seiring tren anak muda yang suka ngopi. Ayah empat anak itu mengatakan 50 persen dari rotal penduduk Indonesia adalah masyarakat produktif dibawah 30 tahun. Itu adalah potensi besar untuk industri kopi. Sebab, budaya ngopi dan nongkrong tidak hanya ada di kafe di kota-kota besar, tapi juga warung kopi di desa.

Tren ngopi itu juga membuat kafe dan warung kopi makin menjamur. Dari situlah, industri kopi bisa tertolong. Perlambatan ekonomi yang terjadi sepanjang tahun lalu pun maish bisa dilewati industri.

Di sisi lain, pemasaran kopi Indonesia di luar negeri menghadapi tantangan yang berat. “Misalnya, soal rasa, kami harus menyesuaikan diri dengan cita rasa negara tujuan ekspor,” ungkap Soedomo. Belum lagi soal persaingan di era pasar global. Menurut dia, Indonesia bersaing ketat dengan produk kopi dari berbagai negara. Terutama Tiongkok.

Salah satu keunggulan Tiongkok dalam industri kopi adalah produksi masal yang maju. Banyak juga home industry kopi di sana yang produknya sudah bisa merambah pasar ekspor. “Kita memang sudah bisa ekspor, tapi kan volume nya kecil. Belum sebesar AS, Tiongkok, dan negara-negara lain,” ungkapnya. Untuk itu, ia berharap pemerintah bisa membantu pemasaran produk kopi Indonesia keluar negeri.

Hal lain yang dibutuhkan industri adalah menjaga kestabilan nilai tukar. Itu dibutuhkan untuk memebuhi konsumsi kopi dalam negeri. Munurut lulusan SMA Sin Chung, Surabaya tersebut, tahun lalu industri kopi yang konsentrasi pada kebutuhan domestik cukup terpukul akibat melemahnya nilai tukar. “Soalnya, kopi kan ikut harga internasional. Saya harap tahun ini rupiah biasa menguat di Rp 13.000 atau Rp 12.500,” tuturnya.

Sumber : Jawa Pos 26 Januari 2016, halaman 1, sambungan ke halaman 11