Budi Sulistya Membantu Warga Melihat Lagi

Membantu Warga Melihat Lagi. Kompas.7 September 2016.Hal.16

Udara panas tak mengusik keramahan dokter mata Budi Salistya. Bersama tujuh yuniornya, dia menyelesaikan 182 operasi katarak di RSUD TC Hillers di Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, pertengahan Agustus lalu. Ini bagain dari kerja kemanusiaan untuk membantu warga bisa melihat lagi.

Oleh: Pieter P Gero

Dokter Budi (56) adalah ketua Program Studi Ilmu Kesehatan Mata Universitas Brawijaya dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Saiful Anwar di Malang, Jawa Timur. Dia bersama sejumlah dokter mata lain tergabung dalam perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) Malang. Mereka membantu sebanyak mungkin penderita katarak di Indonesia agar bisa melihat lagi.

“Ini tidak hanya untuk mencari makan, tetapi juga (wujud) kepekaan sosial bagi sesama,” ujarnya bersemangat

Selama tiga hari, Budi bersama para yuniornya bekerja di Maumere. Mereka bahagia saat melihat sebagian besar pasien katarak yang sudah dioperasi mulai tertawa begitu perban penutup matanya dibuka. Mereka bisa melihat lagi sekalipun masih samar-samar. Penglihatan mereka berangsur normal dua minggu setelah operasi.

“Kami bisa menenun lagi, sedikitnya bisa mengikat kain dan menggulung benang tenun,” ujar Martha Jomar (66), warga yang menderita katarak tiga tahun terakhir. Antonia Ester (79), Anastasia (71), dan Felisia (67), yang duduk di samping Martha, tersenyum mengiyakan. Mereka berterima kasih pada dokter yang membantu mereka bisa melihat lagi. Senyum para pasien ini yang membuat Budi dan rekan-rekannya bahagia.

Salah satu pasien, Varena Gracelan, siswa kelas dua SD Higetegera, Maumere, baru berusia tujuh tahun. Ini tak lazim, karena penderita katarak biasanya berusia lanjut. Tim dokter terpaksa membius total bocah itu selama 10 menit saat operasi. “Anak ini mungkin pernah sakit  mata dengan daya tahan tubuh tidak terlalu baik yang berakibat katarak,” ujar Budi

Operasi katarak gratis oleh Budi dan tim di Maumere dan Atambua (Kabupaten Belu, NTT) digelar atas kerja sama Perdami dengan dana pembaca harian Kompas yang disalurkan melalui Yayasan Kemanusiaan Kompas (DKK). Budi telah menjalankan program serupa di Bima, Nusa Tenggara Barat.

“Saya punya mimpi, suatu waktu nanti semua dokter mata di setiap kabupaten di Indonesia bisa melakukan operasi katarak,” ujarnya.

Budi berharap operasi katarak ini bisa “mewabah” ke seluruh Indonesia. Jumlah penderita katarak di Indonesia cukup besar, bahkan tertinggi di Asia Tenggara. Jumlah ini terus bertamabah setiap tahun seiring dengan usia harapan hidup orang di negeri ini yang kini mencapai 70,1 tahun.

Catatan Kompas, mengutip Riset Kesehatan Dasar 2013, prevalensi katarak di Indonesia adalah 1,8 persen dari seluruh penduduk, yakni sekitar 4 juta jiwa. Setiap tahun, ada satu penderita katarak baru dari 1.000 orang. Ini menjadi salah satu penyebab tinggi kebutaan di Indonesia. Data lain menyebutkan, penambahan penderita kebutaan katarak di Indonesia sebanyak 0,1 persen atau 210.000 jiwa per tahun.

Menurut Budi, operasi katarak kini semakin dipermudah karena adanya sejumlah peralatan pendukung, seperti mesin phacoemulsifikasi. Dengan alat ini, operasi bisa berlangsung cepat, sekitar 10 menit. “Seperti mobil yang dipasang mesin balap, larinya bisa lebih cepat,” ujarnya.

Dengan operasi lebih cepat, masa penyembuhan juga bisa lebih singkat. Kini, ada juga small incision cataract surgery yang murah dan praktis untuk operasi katarak di daerah terpencil. Semua itu dapat membantu mengurangi jumlah penderita katarak.

Jumlah dokter terbatas

            Namun, mimpi untuk semakin memperbanyak operasi katarak di Indonesia terkendala jumlah dokter spesialis mata yang tumbuh lambat. “Di Malang, peminatnya tak banyak. Dari 10 orang yang mendaftar persemester yang diterima hanya 6 orang. Kalau di Universitas Indonesia cukup banyak,” ujar Budi.

Masalah lain, peminat spesialis  mata umumnya adalah perempuan yang kemudia ikut suami mereka yang tinggal di kota. Akibatnya dokter mata sulit meyebar ke seluruh wilayah nusantara. Tak heran, masih jarang ada dokter mata di rumah sakit di kota kabupaten di daerah. Lagi pula, rumah sakit kabupaten saat ini lebih mengutamakan dokter anak, kandungan, bedah, dan penyakit dalam.

DR T BUDI SULISTYA, SPMK

  • Lahir: Kalibaru, Banyuwangi, Jawa Timur, 7 September 1960
  • Istri: Sawindry
  • Anak: Dua orang
  • Pendidikan:
  • SD Kali Baru
  • SMP Kali Baru
  • SMA Jember
  • Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Malang
  • Spesialis Mata: Universitas Airlangga, Surabaya
  • Pekerjaan:
  • Staff Medis Ilmu Kesehatan Mata Universitas Brawijaya/RS Saiful Anwar, Malang
  • Ketua Program Studi Ilmu Kesehatan Mata Universitas Brawijaya/RSUD Saifuk Anwar, Malang
  • Kegiatan:
  • Anggota Indonesia Association Cataract Surgery
  • Anggota Asia Pasifik Cataract Surgery.

Budi juga mengakui, mengambil spesialis mata itu melelahkan secara fisik dan mental serta butuh biaya. “Sebab selama mengambil (program) spesialis mata, penghasilan praktis tidak ada, sementara biaya harus keluar,” ujarnya. Untuk mengantisipasi kondisi itu, pemerintah diharapkan lebih menghargai dan mendukung dokter spesialis mata.

Bertugas di daerah

            Budi kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Lulus tahun 1985, dia lantas bertugas di Marau, Ketapang, Kalimantan Barat, selama dua tahun. Saat kembali ke Jawa Timur, Budi bertemu dengan pengajar penyakit mata di Universitas Airlangga, Surabaya, Prof Retna Kemala Tamin Radjamin. Dengan dorongan Retna, Budi mengambil spesialis mata di Universitas Airlangga dengan beasiswa dari Jakarta Eye Center. Dia belajar soal mata dari prof Istiantoro Sukardi, yang juga mengajar di Fakultas Kedokteran UI.

Kelar program spesialis, Budi langsung sibuk menjalankan program operasi mata di Kalimantan, NTB, dan NTT. Itu sejalan dengan keterlibatannya sejak mahasiswa dalam berbagai aksi kemanusiaan di berbagai daerah. Perjalanan itu juga membuat dia kian mencintai negeri ini.

“Mungkin sudah lebih dari 10.000 pasien mata yang ditangani, termasuk pasien katarak,” ujar Budi tentang kegiatan kemanusian itu.

Budi membukan klinik mata di Malang dan rata-rata menangani 600 pasien mata per tahun. “Saya ingin aksi kemanusiaan operasi katarak dilakukan di seluaruh negeri ini. Apalagi pengalaman saya membuat banyak perusahaan mau meminjamkan alat penunjang,” ujarnya.

Para penderita biasanya dari keluarga tak mampu, sementara biaya operasi katarak di daerah, seperti Flores, minimal Rp 4 juta per orang. Kalau di Malang, bisa sekitar Rp 14 juta. Karena itu, perlu bantuan program operasi katarak.

Sejak tahun 2009, Budi mengembangkan program percepat keahlian operasi katarak kepada para dokter muda, terutama dari daerah. Sejauh ini, ada 33 peserta dari Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Utara.

Dalam operasi katarak di Maumere Agustus lalu, Budi mengajak sejumlah yuniornya, yaitu Catur Kurnia, Zaltoni Tolombot, Aqida el-Fadila, Widya Damayanti, Debby Shintiya, Budi Santoso, dan Herwindo Dicky. “Mereka akan peka secara sosial dan mengenal Indonesia,” ujar Budi.

Sumber: Kompas, Rabu 7 September 2016

Keterbukaan Keluarga Jadi Kunci membangun Kecerdasan Berinternet

Keterbukaan Keluarga Jadi kunci Membangun Kecerdasan Berinternet. Kompas. 4 September 2016.Hal.6

Perkembangan internet yang sedemikian maju telah memberi pengaruh cukup besar pada kehidupan sosial, politik dan ekonomi bangsa Indonesia. Bahkan, komunikasi di dalam keluarga pun ikut berubah setelah internet menjadi sangat lazim dipergunakan.

Dalam diskusi terbatas di redaksi Kompas, Jakarta, 30 Agustus lalu, Direktur Eksekutif Information and Communication Technology (ICT) Watch Donny B Utoyo menyatakan, dinamika masyarakat Indonesia berubah akibat pengaruh internet sejak pertengahan tahun 2000-an.

“Internet awalnya hanya bisa diakses di tempat-tempat tertentu seperti warung internet yang menggunakan kabel. Namun, sejak hadirnya telepon pintar dengan harga terjangkau, seluruh kalangan masyarakat kini bisa mengakses internet secara mudah,” tutur Donny.

Selain Donny, pembicara dalam diskusi Kompas ialah psikolog keluarga Anna Surti Ariani dan pengamat pendidikan Nurul Agustina.

Praktis

Berdasarkan survei Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia tahun 2015, jumlah pengguna internet mencapai 88 juta orang. Sebanyak 79 juta orang dari jumlah tersebut aktif menggunakan media sosial, mulai dari Facebook, Twitter, Instagram, hingga moda mengobrol Whatsapp dan Blackberry Mesenger.

Dari sisi kepraktisan komunikasi, hal ini amat membantu karena tidak ada lagi penghalang jarak dan waktu. Di samping itu, jaringan pertemanan juga semakin meluas karena komunikasi tidak lagi hanya dilakukan pada orang-orang yang dikenal secara langsung atau fisik, tetapi juga pada orang-orang yang baru di kenal di dunia maya.

Di balik kepraktisan tersebut, muncul ancaman dari penggunaan internet yang tidak bertanggung jawab. Untuk mengetahui pemahaman guru mengenai ancaman yang ditimbulkan internet, ICT Watch melakukan survei pada 165 guru di Jakarta, Bogor, Bekasi, Tangerang, Depok, dan Cilegon.

Mayoritas dari mereka mencemaskan internet akan mengakibatkan kecanduan bagi para siswa. Hal ini yang menjadi kekhawatiran utama para guru adalah siswa akan membuka situs yang dinilai tidak pantas, seperti situs yang memuat materi pornografi. “Padahal, ancaman terbesar adalah penyalahgunaan data pribadi yang diunggah secara tak bertanggung jawab yang digunakan untuk pemerasan hingga kejahatan paedofilia, “tutur Donny.

Ia mencontohkan kasus eksploitasi seksual anak di bawah uur yang terjadi di Jawa Timur. Dalam kasus yang ditangani oleh ICT Watch agar bisa diproses secara hukum itu, anak perempuan yang masih duduk di bangku SD mengalami eksploitasi seksual oleh laki-laki paedofil.

“Pelaku memasang profil palsu di sebuah media sosial. Ia berpura-pura menjadi perempuan muda yang berprofesi sebagai dokter kandungan,” tutur Donny.

Pelaku memanfaatkan kepolosan anak yang bertanya mengenai perubahan fisik yang terjadi pada diri mereka hingga permasalahan terkait menstruasi. Dengan berkedok konsultasi kesehatan, selama tiga bulan, pelaku meminta korban mengirimkan foto-fotonya dalam keadaan tanpa busana.

Praktik tersebut baru berhenti setelah foto-foto sensitive itu beredar di internet dan sampai ke tangan salah satu guru korban. “Hal yang sangat mengejutkan ialah korban ternyata menggunggah foto-fotonya dari telepon pintar milik ibunya,” kata Donny.

Ibu korban tidak memahami teknologi digital sehingga tidak mampu mengawasi penggunaan dan informasi serta foto-foto yang tersimpan di dalam telepon pintarnya.

Menurut Donny, hal ini lazim terjadi di kalangan migran digital yaitu orang-orang yang baru mengenal internet saat sudah dewasa. Penggunaan internet oleh mereka umumnya terbatas untuk berkomunikasi seperti menelepon dan mengirim surat elektronik. Kaum migran digital belum sepenuhnya memahami fungsi internet untuk mencari informasi, bahkan membentuk komunitas yang tidak tampak di muka umum.

Reaksi spontan masyarakat terhadap kasus eksploitasi itu adalah menghakimi internet sebagai pintu masuk hal-hal negative. Padahal, teknologi merupakan sesuatu yang netral. Baik buruknya bergantung pada metode dan tujuan pemakaiannya.

“Pertanyaan besarnya adalah mengapa para korban justru memilih untuk mendiskusikan hal-hal yang bersifat pribadi kepada orang yang tidak mereka kenal, bukan kepada keluarga sendiri,” tutur Donny.

Pendidikan di keluarga

Dalam kesempatan terpisah, pakar teknologi digital yang juga anggota Laboratorium Teknologi Informasi untuk perubahan sosial, John Muhammad, mengungkapkan, kunci penggunaan internet yang baik terletak pada pendidikan literasi digital di keluarga dan sekolah. “Memblokir situs, memakai filter internet di komputer,telepon, dan sabak elektronik memang membantu, tetapi tidak cukup,” paparnya.

Pokok permasalahannya ialah rasa penasaran anak. Apabila pertanyaan anak tidak dijawab, mereka akan mencari sendiri jawabannya di tempat-tempat yang tidak diawasi oleh orang-orang dewasa terdekat. Menurut John, sebagai generasi yang lahir di zaman digital, mudah bagi anak untuk menerobos sistem pengamanan yang dipasang di gawai mereka.

Karena itu, diperlukan keterbukaan keluarga untuk mendiskusikan tata karma penggunaan internet dengan anak-anak. Orangtua, misalnya, perlu menjelaskan informasi yang boleh dan tidak boleh dibagikan dunia maya, termasuk hal-hal yang tidak layak diakses oleh anak. “Dalam hal ini, pendidikan kesehatan reproduksi serta tumbuh kembang yang tepat diperlukan. Informasi mengenai hal-hal yang sangat pribadi ini justru sangat minim bagi anak-anak,” jelas John.

Dari sisi pergaulan, aturan yang diterapkan dalam bermedia sosial sama dengan pergaulan yang menggunakan tatap muka, yaitu jangan berbicara dengan orang yang tak dikenal. Artinya, anak jangan sampai sembarangan menerima ajakan pertemanan, apalagi kalau orang tersebut tidak dikenal. “Padahal, di sisi lain, anak-anak umumnya senang memiliki koneksi media sosial yang banyak (follower) untuk meningkatkan popularitas mereka,” ungkap John.

Kecemasan terhadap ancaman yang muncul dari pertemanna di media sosial sejalan dengan survei yang dilakukan oleh Norton by Symantec di Indonesia tahun 2015-2016. Dari 1.000 orangtua yang disurvei, 180 responden mengakui bahwa anak-anak mereka berteman, bahkan menerima ajakan untuk bertemu dengan orang dewasa yang mereka kenal lewat media sosial.

(Laraswati Ariadne Anwar)

Sumber: Kompas.-4-September-2016.Hal_.6

Saturi Guru Rebana Barungan

Guru Rebana Barungan. Kompas.3 September 2016. Hal.16

Lebih dari separuh umur Saturi (63) dihabiskan untuk menggeluti rebana barungan. Ia dianggap sebagai guru oleh para penekun seni khas Lombok, Nusa Tenggara Barat, itu. Kini sang guru resah karena semakin sedikit anak muda yang mengikuti jejaknya sehingga tradisi ini terancam hilang.

Oleh: Khaerul Anwar

Laki-laki itu dikenal sebagai seniman tulen rebana barungan di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Warga Dusun Langko Daye (utara), Desa Langko, Kecamatan Lingsar, itu tidak hanya dikenal sebagai penabuh, tetapi juga pembuat rebana, pemaud (penyelaras nada), dan pemokok (pemilik) instrumen rebana. Itu semua adalah jejak perjalanan panjang Saturi menekuni rebana barungan.

Rebana barungan adalah ensambel rebana yang memainkan lagu lewat gending dan suling sebagai melodi. Rebana digunakan sebagai pengiring yang mengambil potongan-potongan  notasi di awal, tengah, dan akhir lagu.

Rebana yang dipakai di Lombok Barat bentuknya mirip ember, berbeda dnegan rebana kasidah yang pipih. Cara memainkannya dipukul dengan tongkat, bukan dengan telapak tangan. Laras nada rebana barungan juga khas. Nada dasarnya pentatonik, terdengar nung, ning, neng, nong, ning, nang.

SATURI

  • Lahir: Dusun Langko Daye (utara), Desa Langko, Lombok Barat
  • Usia: 63 tahun
  • Istri: Indak (60)
  • Anak: Jumasih (53)

“Saya senang main rebana barungan. Makanya, satu gending bisa saya hafal sehari,” ujar Saturi saat ditemui di rumahnya, pertengahan Agustus lalu. Di sana, ada gulungan kawat dan rotan-rotan- membuat rebana- yang tergantung pada satu tiang penyangga ruang tamu. Di depan rumahnya, ada gubuk untuk menyimpan rebana siap jual milik pemesan. Ada pula satu set rebana milik Saturi

Berproses

            Saturi menggeluti kesenian rebana barungan menjelang lengsernya Presiden Soekarno. Saat itu, ia baru saja putus sekolah di kelas V sekolah dasar karena orangtuanya tidak mampu membiayai pendidikan lanjutan. Untuk mengisi waktu, ia membantu ekonomi keluarga dengan menjadi buruh bangunan sembari menekuni rebana.

Awalnya ia memainkan kenceng, alat musik ritmik yang dinilai paling mudah dimainkan. Selanjutnya, ia menjadi penabuh instrument inti, yakni rebana. Bersama seniman rebana lain, ia berkeliling dari satu kampung ke kampung lain di Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Lombok Timur pada acara khitanan, pernikahan, dan hajatan lain.

Tahun 1979, Saturi membentuk Kelompok Rebana Barungan Buana Putra. Bersama kelompok itu, daya jelajahnya di Lombok semakin luas. “Saya pernah satu minggu tidak pulang, lelah sekali saya,” katanya.

Namun, kelelahan itu terbayar oleh sambutan meriah penonton dan perlakuan ramah tuan rumah. Sambutan itu seperti memberikan energi tambahan pada setiap penampilan Saturi dan kawan-kawan.

Pada tahun 1990-an banyak grup rebana barungan yang tidak aktif lagi. Banyak rebana yang tak lagi terurus atau rusak. Kondisi itu mendorong Saturi untuk mencoba membuat rebana sendiri. Rebana karyanya ternyata dianggap cukup baik. Sejak saat itu, ia menjadi pembuat rebana.

Selagi tidak ada undangan tampil, Saturi mengisi hari-hari dengan membuat rebana sesuai pesanan. Dalam 20 tahun terakhir, ia memenuhi pesanan 25 set rebana untuk 25 sekolah dan 5 set untuk grup kesenian. Tiap set rebana terdiri atas enam unit rebana, sepasang gendang dan gong, dan satu unit petuk yang dijual Rp 5 juta-Rp 12 juta.

Begitulah Saturi berproses. Ia tidak lagi sekedar penabuh, penyelaras nada, dan pembuat rebana, tetapi juga dianggap guru. Ia kreatif menggali gending lama yang jarang dimainkan kelompok rebana lain, seperti gending “Kepundung” yang iramanya lamban-cepat dan syairnya jenaka, “Kepundung Bawa’ Wani” (Kepundung di bawah pohon kemang), “Kelepon Jongklang Ambon Goreng” (jajan kelepon ubi goreng), Ndak Tundung Inak Janari”(jangan usir Nyonya Janari), “Lalo Nyongkol Salon Koreng” (ikut nyongkol, walaupun ia pernah menderita penyakit kulit/koreng).

Saturi juga membuat gending “Ku Belau’ Ku Bedaya” (ngalor-ngidul), “Pacek Selane Sedin Rurung” (pasang celana di pinggir jalan), “Lamun Temau’ Pade Waye” (kalau dapat menikahi gadis usia setara), “Tanggep Rebane Ndek Te Burung” (menanggap rebana itu sudah pasti).

Karyanya yang lain berisi wejangan, seperti “Hadiah: Sai Ti Ye Peletong Pao” (siapa dia yang melempar manga, “Beli Nangke Le’ Sweta” (beli nangkas di Pasar Sweta), “Sai Ti Ye Ndek Ne Nao”” (siapa dia yang tidak tahu), dan “Isin Nerake Si’ Ne Pete” (padahal pekerjaan yang dicarinya membuatnya akan masuk neraka).

Resah

            Seiring dengan waktu, masa kejayaan rebana barungan berangsur redup. Saturi mengakui hal itu. Ia bilang, rebana barungan makin terdesak oleh musik kontemporer, terutama dangdut dan pop. Masyarakat Lombok kini lebih senang menanggap grup dangdut ketimbang rebana barungan.

Undangan bermain untuk rebana barungan semakin jarang. “Paling-paling sekali sebulan,” ujarnya.

Sekali tampil, bayarannya Rp 4 juta-Rp 5 juta. Dari upah itu, setelah dibagi dengan anggota kelompok, Saturi menyisihkan jatahnya antara lain untuk biaya kuliah cucunya, Royani mahasiswa semester akhir Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Mataram.

Namun, bukan uang yang membuat Saturi risau, melainkan kelangsungan seni tabuh rebana barungan. Selain tergerus musik dangdut, kesenian ini terdesak langkanya bahan pembuat rebana. Kayu nangka sebagai watang (badan) rebana, misalnya, kini sulit ditemukan di kebun atau hutan.

Pemaud atau penyelaras nada rebana pun makin sulit ditemukan. Padahal, posisi mereka sangat penting untuk memastikan laras nada rebana Lombok yang khas bisa disetel dengan pas. Menurut almarhum Ida Wayan Pasha, penekun gemalen Sasak, Lombok, laras nada rebana Lombol, frekuensi suaranya naik kurang dari setengah dibandingkan nada B dan E pada musik diantonis (Kompas, 19 Juni 2001).

Para seniman rebana yang aktif kini semakin menua, sementara regenerasi tidak berjalan mulus. “Sudah 20 orang (usia di bawah 20 tahun) saya ajar menabuh, tapi mereka kurang sabar, cepat bosan,” kata Saturi.

Dari 25 anggota kelompoknya, 75 persen berusia 45 tahun-60 tahun. Namun, ia memaklumi kondisi itu terjadi akibat musik rebana barungan punya tingkat kesukaran yang tinggi yang disebutnya filosofi “menangkap angit”.

Artinya, memainkan rebana bukan membaca not balok, melainkan dengan ngidung, yakni menirukan notasi gending dengan mulut, biasa dilakukan pelatih kepada penabuh. Penabuh harus hafal notasi, dan itu menuntut kepekaan dan rasa musikal seseorang.

Karena rebana barungan merupakan hasil kerja kolektif, para penabuh mesti bersedia “saling mendengar” diantara mereka. Dengan begitu, keselarasan melodi dan irama tiap nada instrument rebana bisa enak didengar.

“Tapi, pelan-pelanlah saya latih. Insya, Alla satu-dua anak bisa saya bikin menjadi penabuh agar ada yang menggantikan kami yang tua-tua ini,” ungkap Saturi dengan mata berkaca-kaca.

Sumber: Kompas.3-September-2016.-Hal.16

Belajar Membuat Batik Corak Madura

Belajar Membuat Batik Corak MAdura. Jawa Pos.21 September 2016. Hal.40

Surabaya– Susah- susah gampang . Kalimat itu kerap terucap dari sebagian besar peserta saat kali pertama mencoba membuat batik tulis. Dalam event The Beauty of Batik Indonesia di East Coast Center, ada pelatihan mbatik singkat buat pengunjung.

Mereka bisa merasakan bagaimana menggoreskan malam di atas kain. Secara bergiliran, mereka mengisi pola dengan menggunakan canting yang sudah disediakan. “Kami ingin memperkenalkan batik motif Madura,” ujar Syarif Usman, pemilik rumah Batik Jawa Timur.

Pria 36 tahun itu mengajarkan pola teknik khas Madura, yaitu pembatik langsung menggenggam kain yang hendak diberi pola. Menurut dia, teknik tersebut tidak digunakan pada batik Jawa yang biasanya menggantungkan kain saat dibatik,”Teknik menggenggam kain batik menghasilkan gambar yang lebih abstrak dan bebas karena pembatik bisa leluasa memutar kain saat menggambar,” tuturnya saat ditemui Senin (19/9).

Di atas meja sudah disiapkan berbagai alat membatik seperti canting, malam yang dipanaskan di atas kompor listrik, dan kain primisima. Peserta dipandu untuk menggoreskan malam di atas kain yang sudah diberi pola dengan pensil.

Pada sesi itu, peserta diminta mengisi motif gurik gepper yang artinya kupu-kupu di dedaunan. Motif tersebut menggunakan warna cokelat sebagai dasarnya. Sementara itu, kupu-kupunya menggunakan warna yang lebih kontras seperti kuning, merah, dan hitam. “Batik Madura sangat khas dengan warna dominan hijau, biru, merah, dan cokelat,” ucapnya sambil memonitor tutor yan lain.

Di tengah sesi, syarif mengarahkan peserta agar tidak panik saat tangannya tidak sengaja terkena tetesan malam. “Kalau menetes di tangan, biarkan saja mongering. Setelah itu baru di kelupas,” ungkapnya. Ketika tangan yang terkena malam panas dilap secara paksa, tambah dia, malah menimbulkan iritasi. Maria Margaretha, 24, salah seorang peserta, mengikuti setiap arahan Syarif dengan hati-hati. “Grogi, takut salah,” tuturnya setelah menggoreskan malam sedikit demi sedikit (esa/c15/jan)

Sumber: Jawa-Pos.21-September-2016.-Hal.40

Belajar atau Dihajar

Belajar atau Dihajar. Jawa Pos. 28 September 2016.Hal.29,39

Belajar itu bikin pinter. Tapi, kalau justru bikin sakit semua sampai stres, itu namanya dihajar. Ini penuturan orang tua yang anaknya justru drop staminanya karena “kebanyakan belajar”.

Vivi Martin, 35, harus berhenti dari usahanya. Dia merelakan hidupnya untuk sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga. Bisnis-bisnis ditinggalkan. Itu dilakukan agar dia bisa berfokus pada anaknya.

Putra, sebut saja begitu, anak Vivi, menayndang attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). Putra pun hiperaktif, imulsid, serta susah memusatkan perhatian. Dulu kelainan tersebut dikenal sebagai attention deficit disorder (ADD). Begitu kelas 1 SD, Vivi merasakan anaknya berubah. Setiap hari loyo. Berangkat sekolah loyo, begitu juga saat pulang.

“Anak saya seolah tidak bergairan,” imbuhnya. Meski begitu, bocah tujuh tahun tersebut selalu menuruti jadwal hariannya. Sehari-hari Putra masuk sekolah pukul 08.00. artinya, dia harus bangun satu atau dua jam sebelumnya. Dia baru tiba di rumah sekitar pukul 17.30. pulang pun, Putra tidak bisa langsung rehat. Ada sebarek les yang harus dia ikuti. Les bahasa mandarin, piano, serta renang. Masing-masing dua kali sepekan. “untuk les piano dan renang, memang kemauannya sendiri,” ucapnya.

 

Keterbatasan Anak

Vivi sejatinya tidak memaksa anaknya ikut beragam les. Bahkan Vivi mendukung les piano dan renang yang dipilih sendiri oleh Putra. Menurut dia, itu bisa jadi cara Putra untuk refreshing. Namun, Putra telah berubah. “terkadang saya lihat dia sering melamun. Pandangannya kosong, seperti ada beban,” katanya. Memiliki anak yang mengalami ADHD, menurut Vivi, tidak mudah. Apalagi ketika sekolah tidak memahaminya. Meski IQ-nya mencapai 123 tetapi Putra sering tidak fokus ketika belajar. “Kalau dipaksa belajar nanti dia lelah, pasti semakin blank,” ucapnya.

Lani, bukan nama sebenarnya juga merasa prihatin dengan keseharian anak tunggalnya yang kelas III SD. Setiap hari si anak harus masuk sekolah pukul 07.00 hingga 15.00 dan dia juga mengikuti beberapa les tambahan. Hampir setiap hari sampai rumah pukul 18.00. “Setelah itu, biasanya malam belajar, mengerjakan PR,” ucapnya.

Lani merupakan seorang karyawan swasra. Setiap hari dia dan suaminya harus bekerja. “Kalau siang biasanya rumah memang kosong,” ujarnya. Dia sengaja menyekolahkan anaknya di sekolah full day. Dia dan suami juga ingin menambah kemampuan putri satu-satunya itu dengan berbagai kemampuan. Karena itu, putrinya didaftarkan ke tempat les.

“Awal kelas I, rankingnya bagus. Tapi, saat mulai banyak les, prestasinya malah turun,” cerita Lani. Apalagi di sekolah, menurut Lani, beban belajar anaknya makin berat. Tugas-tugas semakin banyak. “Biasanya kalau mau ujian itu, dia demam,” ceritanya.

Kesibukan menjadi pelajar, menurut psikolog National Hospital Cicilia Evi, perlu diperhatikan orang tua. Sebagian menyekolahkan anaknya ke sekolah full day. Diluar itu, orang tua mengikutkan anaknya ke berbagai les tambahan. Tujuannya sebenarnya baik, yakni anak memiliki banyak kemampuan. Namun, apakah hal itu baik untuk tumbuh kembang anak?

Secara ilmiah, beban belajar anak di setiap perkembangan sudah diatur. Dalam dunia psikologi dikenal dengan teori psikologi perkembangan. Patokan yang perlu diperhatikan antara lain, usia, perkembangan fisik, minat, kondisi emosional, serta psikologis anak. Selain itu, ketahui keterbatasan yang dimiliki anak. “pada intinya adalah memahami bahwa setiap anak itu berbeda,” tutur Cicilia.

Hal tersebut juga berlaku dalam proses belajar anak. Tidak bisa diseragamkan secara mutlak. “Ironisnya, itulah yang terjadi di sistem pendidikan Indonesia saat ini,”katanya. Cicilia mencontohkan anak usia playgroup yang semestinya tidak dibebani dengan keharusan menulis. Mereka boleh diperkenalkan dengan aktivitas menulis sejak dini, tetapi tidak harus bisa menulis.

Menulis bisa dikenalkan dengan melatih motorik halus. Misalnya, melakukan kegiatan meremas bola karet kecil dan kemampuan menggenggam alat tulis. Semakin muda usia anak, semakin pendek jangka konsntrasinya. Dengan demikian, aktivitas yang dibutuhkan seharusnya disesuaikan. “memberikan instruksi pun harus efisien agar anak bisa memperoleh informasi yang diberikan,” tambahnya.

Cicilia pernah mmenangani beberapa kasus anak yang mengalami tekanan karena belajar. Salah satunya anak yang menunjukkan perilaku mengganggu di sekolah ataupun di rumah. “Anak itu dengan sengaja tidak mengisi lembar tugas atau ujian dan tidak  memedulikan lagi ketika dihukum guru kelasnya,” ucapnya. Cicilis melanjutkan, anak tersebut menolak untuk belajar dirumah.

Perilaku anak juga menjadi agresif. Dia mudah memukul saudara dan teman-temannya. “Kepada orang tuanya pun berteriak-teriak,” ungkapnya. Akhirnya anak tersebut dipindahkan ke sekolah baru. Orang tuanya mencari kelas dangan jumlah murid yang sedikit. Tujuannya, guru bisa memantau perkembangan si anak selama proses belajar di kelas.

 

Sumber : Jawa Pos. Mei 2016. Hal 29

Working Space Apik dan Unik

Working Space Apik dan Unik.Bisnis Indonesia Weekend.23 Oktober 2016.Hal.14

Bekerja di rumah telah menjadi hal yang jamak di era modern saat ini. Orang – orang yang memilih pekerjaan sebagai freelancer menggunakan rumah sekaligus sebagai kantor. Tidak mengherankan jika sekarang ini banyak rumah yang memiliki working space atau ruang kerja yang tidak kalah dengan desain ruang kerja di kantor.

Tidak mengherankan jika sekarang ini banyak rumah yang memiliki working space atau ruang kerja yang tidak kalah dengan desain ruang kerja di kantor.

Namun, saat anda ingin membuat ruang kerja di dalam hunian, jangan pernah lupa kenyamanan dan aspek teknis yang harus dipenuhi.

Desainer interior Dimas Iman Suryono mengatakan untuk membuat ruang kerja dalam hunian harus memperhatikan terlebih dahulu latar belakang profesi si pemilik rumah.

Hal ini perlu dilakukan untuk mengetahui kebutuhan dan fasilitas penunjang pekerjaan sang pemilik. Dimas mencontohkan seorang desainer interior memerlukan meja yang lebih besar untuk menunjang pekerjaannya. Sebab kerja desainer senantiasa menggunakan kertas gambar yang lebih besar untuk menggambar sebuah rancangannya.

“idealnya ruang kerja rumah itu berdekatan dengan area yang perlu privasi seperti akmar tidur. Alasannya untuk mendapatkan ketenangan dan focus dalam menyelesaikan pekerjaannya,” ujar pemilik studio Imanoo tersebut.

Selain pemilihan ruangan, hal yang perlu diperhatikan adalah luas ruang kerja di dalam rumah. Dimas mengatakan hal itu dapat dirujuk dari kebutuhan si pemilik rumah.

Yang terpenting adalah ruangan yang dipilih harus dapat menampung kebutuhan dasar tempat bekerja seperti satu buah meja kerja, kursi kerja, cabinet penyimpanan, dan side table. “semua itu adalah keperluan dasar untuk sebuah ruang kerja”

Peletakkan perabotan di dalam ruang kerja ternyata perlu cara tersendiri. Moisalnya, peletakkan rak atau lemari buku. Biasanya perabotan ini diletakkan di belakang kursi kerja sehingga mudah dijangkau penggunanya. Penggunaan kursi model putar seringkali menjadi pilihan Karena sangat praktis.

 

PENCAHAAN

Dimas menambahkan untuk memberikan pencahayaan maksimal dalam ruang kerja, pemilik rumah dapat membuat jendela. Fungsi jendela selain memberikan cahaya matahari masuk dalam ruangan, juga membuat sirkulasi udara yang baik.

Dimas mengatakan meja tempat bekerja dapat ditempatkan menghadap jendela. Ada baiknya jika pemandangan di luar jendela berupa taman atau pemandangan yang bagus agar pengguna ruang kerja lebih nyaman. “kalau berada di samping jendela, si pengguna tentu akan lebih focus pada pekerjaannya.”

Dia menyarankan jika pemandangan di luar menghadap ke taman maka lebih baik jika ukuran jendela lebih besar.

Benda lainnya yang juga tidak boleh luput dalam ruang kerja ini adalah lampu kerja untuk membantu focus penglihatan. Meski sudah ada lampu utama, tetapi masih diperlukan lampu tersebut Karena lampu utama memiliki keterbatasan pencahayaan.

Terkait penggunaan warna dalam ruangan, pemilik ruangan dapat memilih cat berwarna cerah. Misalnya, warba merah dan turunannya, dapat diaplikasikan pada satu sisi dinding. Secara psikologis warna merah dapat memicu semangat. Namun, warna merah tidak dapat digunakan di empat sisi dinsing, Karena akan terlihat dominan.

Khusus peletakan barang pajangan, hendaknya anda tidak terlalu banyak menaruh pernak – Pernik diatas meja agar tidak memecah konsentrasi. Pilih satu atau dua pajangan yang dianggap bagus dengan ukuran tidak terlalu besar, dna berwarna tidak terlalu mencolok.

 

SUMBER : BISNIS INDONESIA WEEKEND 23 oktober 2016

Undang Suryaman Sekolah Gratis Sang Juru Pakir

Sekolah ratis sang Juru Parkir. Kompas.2016.Hal.16

Undang Suryaman bukan orang berada. Pekerjaanya sehari-hari pun “hanya” juru parkir. Tetapi, jiwa sosialnya amat tinggi. Ia rela menyisihkan penghasilannya yang pas-pasan untuk mendanai sekolah gratis bagi anak-anak dari keluarga tak mampu.

OLEH DWI BAYU RADIUS

Undang tinggal di sebuah rumah sederhana di permukiman padat di Desa Rancaekek Kulon, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Untuk mencapai rumah itu, kita mesti berjalan kaki 100 meter melewati gang-gang sempit yang becek akibat sisa air hujan.

Rumah tersebut sekaligus berfungsi sebagai Taman Kanak-Kanak (TK) Nafilatul Husna Ataullah dan Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) Raudlotul Jannah yang diperuntukkan terutama bagi anak-anak dari keluarga tak mampu. Undang menyulap ruang tamu rumahnya yang hanya sekitar 16 meter persegi menjadi kelas sekaligus perpustakaan. Ruang yang diberi alas karpet plastic itu terasa sesak dengan jejeran rak, tumpukan meja lipat, dan mainan.

“Kalau malam, (kelas ini) jadi kamar tidur keluarga. Saya, istri, empat anak, dan nenek tidur disini,” kata Undang yang mendirikan TK dan TPA itu pada 2012.

Undang juga memanfaatkan rumah mertuanya untuk dijadikan kelas. “Saya sampai ngacak-ngacak rumah mertua. Ada dua ruang tidur di rumah itu, masing-masing berukuran 10 meter persegi, juga dipakai untuk belajar,” ujarnya sambil tertawa, awal Oktober lalu.

Pria berusia 40 tahun itu terobsesi menyediakan pendidikan bagi anak-anak tak mampu karena ia sendiri tak bisa mewujudkan cita-citanya untuk sekolah. Undang yang lahir dan besar di Desa Talagasari, Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut, Jawa Barat, hanya bisa mengecap pendidikan sampai tingkat SD. Keinginannya untuk sekadar melanjutkan pendidikan ke SMP kandas.

“Waktu SD, saya hars jalan kaki 12 kilometer untuk sampai di sekolah. Kalau ke SMP, saya mesti jalan dengan jarak dua kali lipat. Saya tetap menuntut untuk sekolah,” ucapnya.

Namun, Undang hrus menerima kenyataan orangtuanya yang hanya petani gurem tidak sanggup membiayai sekolahnya. Undang sempat marah, tetapi ia tak punya daya untuk mengubah keadaan. Ia hanya bisa memendam keinginan untuk sekolah. Ia juga mmbayangkan suatu ketika, jika memiliki rezeki lebih dan umur panjang, ia akan menyekolahkan anak-anak tak mampu.

Lama terpendam, angan itu mulai terwujud pada 2012 ketika ia berhasil mendirikan tempat belajar untuk anak-anak tak mampu disekitar tempat tinggalnya. Namun, langkah pertamanya itu langsung dihadang berbagai kendala. Sejumlah warga tak percaya pada kesungguhan Undang membuka sekolah.

“Mungkin melihat saya hanya seorang juru parkir. Pendidikan saya dan istri juga rendah. Ada yang bilang saya miskin. Sekolah yang saya dirikan bohong-bohongan,” ujarnya.

Cibiran bermunculan, bahkan fitnah menyebar. Undang dituduh memungut bayaran ratusan ribu rupiah dari setiap muridnya, padahal mereka hanya belajar di masjid. Untuk menepis tuduhan seperti itu, Undang menemui para orangtua murid dan menjelaskan persoalannya.

Awalnya, hanya ada 18 anak yang dititipkan orangtuanya belajar disana. Setahun kemudian, pada 2013, jumlah murid meningkat menjadi 25 orang.

Selama dua tahun pertama, Undang masih merogoh koceknya untuk membiayai pengeluaran taman belajarnya. Agar pengeluaran bisa ditekan, ia memanfaatkan ruangan masjid untuk tempat belajar. Belakangan baru ia memanfaatkan rumahnya dan rumah mertuanya.

Pada 2014, Undang berhasil meningkatkan status taman belajarnya menjadi TK Nafiatul Husna Ataullah dan TPA Raudlotul Jannah. Hal itu dilakukan setelah ia mengikuti lokakarya pendidikan yang digelar Ikatan Guru TK Al Quran Jawa Barat. Dari pelatihan itu, ia memperoleh pengetahuan untuk menentukan kurikulum dan mendirikan TK.

Tukang Parkir

Undang bukanlah orang kaya. Sehari-hari ia bekerja sebagai juru parkir di Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjajaran (Unpad) di Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, yang berjarak sekitar 5 kilometer dari rumah Undang di Rancaekek.

Pekerjaan yang telah ia lakoni sejak tahun 1992 itu hanya memberikan penghasilan rata-rata Rp. 50.000 per hari. Penghasilannya yang pas-pasan ia sisihkan Rp. 10.000 untuk biaya operasional taman belajar. Namun, uang sebesar itu tak cukup untuk menutup pengeluaran taman belajar.

Laki-laki yang di kalangan mahasiswa Fikom Unpad dipanggil Jack itu akhirnya mengambil pekerjaan tambahan sebagai pegawai tempat pencucian mobil di Jalan Buah Batu, Kota Bandung. “Saya kerja di pelataran parkirkampus dari pagi sampai pukul 17.00. Lalu, saya kerja lagi di Jalan Buah Batu mulai pukul 18.00 hingga 03.00,” katanya.

Ia sudah tiba di Fikom Unpad pukul 07.00. Undang letih luar biasa sehingga sering mengenakan kacamat hitam untuk menyamarkan wajahnya yang pucat. “Saya sering merasa tak enak badan. Sabun untuk mencuci mobil juga mengandung obat. Tangan menjadi bengkak, kaku, dan kasar. Kalau kena kulit yang lecet, pasti sangat perih,” tutur Undang.

Pekerjaan sebagai tukang cuci mobil member Undang tambahan penghasilan sekitar Rp. 50.000 per hari. Di kampus, sesekali juga membersihkan mobil mahasiswa agar mendapat upah tambahan.

Istri Undang, Yani Novitasari, terharu melihat ikhtiar keras suaminya. Ia memutuskan membantu mencari uang dengan bekerja di tempat pencucian mobil yang sama dengan suaminya. “Seharusnya saya membahagiakan dan menghibur dia…,” cetus Undang tak menyelesaikan kalimatnya.

Satu ketika pada 2013, pemilik pencucian mobil takjub melihat kegigihan Undang dan istrinya mencari uang untuk mendanai taman belajar. Sang bos terketuk hatinya dan akhirnya memberikan bantuan berupa uang sewa rumah untuk aktivitas sekolah selama satu tahun. Ia juga memberikan bantuan buku gambar, pensil, penghapus, dan buku belajar membaca Al Quran.

“Dia orang pertama yang membantu saya. Setelah itu, dukungan dari mahasiswa juga mengalir, antara lain berupa karpet dan alat tulis,” kenang Undang. Sekarang ini, sebagian besar pengeluaran TK dan TPA ditutup dari donasi para dermawan.

Mereka hanya belajar di TPA tak dipungut bayaran. Kotak sumbangan disediakan untuk peserta TPA yang ingin mendonasikan uang. Jika dibuka, kotak itu biasanya hanya terisi uang receh pecahan Rp. 500 – Rp. 1.000.

Murid TK dari keluarga mampu dikenai iurang paling banyak, Rp. 25.000 per bulan. Mereka yang tidak mampu membayar dibebaskan dari iuran. “Ada juga orangtuanya yang hanya bisa memberikan beras untuk biaya sekolah,” cerita Undang.

Seiring waktu, TK dan TPA yang didirikan Undang semakin diminati orang. Saat ini, murid TK berjumlah 60 orang, sedangkan TPA 120 orang. “Sekitar 75 persen murid TK berasal dari keluarga tidak mampu,” katanya.

Dulu, Undang dan istrinya yang mengajar anak-anak membaca, menulis, dan berhitung. Yang Belakangan, istrinya yang pernah mengajar di sebuah TK mengajak beberapa warga untuk ikut mengajar. Saat ini ada 5 guru TK dan 10 guru TPA yang mendidik murid-murid. Mereka rela mengajar tanpa dibayar.

Kadang, jika ada dana, mereka diberi honor Rp. 10.000. Namun, uang itu biasanya digunakan untuk membeli bahan makanan. Mereka memasak bahan itu dan makan bersama-sama.

Undang kini bahagia. Impiannya untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak dari keluarga tak mampu sudah terwujud. “Saya tak punya ilmu dan harta. Hanya punya tenaga, dan itu saya gunakan untuk berbagi,” ujar Undang merendah.

Undang Suryaman

  • Lahir: Desa Talagasari, Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut, Jawa Barat, 25 Mei 1976
  • Istri: Yani Novitasari (37)
  • Anak:
  • Taufik Ahmad Iryani (18)
  • Septiani Damayanti (16)
  • Rezki Septian Nugraha (12)
  • Salsabilla Adyanafila (9)

Pendidikan: Sekolah Dasar Negeri Padahurip,

Sumber: KOMPAS, SENIN 24 OKTOBER 2016

Nursalilm dan Iim Rohimah Penjaga Napas Batik Ciwaringin

Penjaga Napas Batik Ciwaringin. Kompas.21 Oktober 2016.Hal.16

Sekitar dua dekade yang lalu, usaha batik tulis di Ciwaringin mengalami lesu darah. Para perajinnya yang sebagian besar perempuan berbondong-bondong terbang ke Timur Tengah untuk mencari nafkah. Di tengah kelesuan itu, pasangan suami-istri Nursalim dan Iim Rohimah memilih tetap bertahan di desa dan berusaha memperpanjang napas batik  ciwaringin yang tersisa.

OLEH BUDI SUWARNA

Ciwaringin adalah sebuah desa di Kecamatan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Desa itu bisa ditempuh dalam satu jam perjalanan dengan mobil dari pusat Kota Cirebon. Di Desa itu, tradisi membatik telah lama ada.

“Saya tidak tahu kapan mulainya, yang jelas neneknya nenek kami dulu sudah membatik. Mungkin kami ini pembatik Ciwaringin generasi keempat atau kelima,” ujar Nursalim, akhir September di rumahnya.

Seingat laki-laki berusia 41 tahun itu, awal 1980-an, hampir semua perempuan dewasa di Ciwaringin membatik, termasuk nenek dan ibunya. Batik tulis buatan mereka dijual ke sentra-sentra batik di Kota Cirebon.

Memasuki tahun 1990-an, usaha batik tulis ciwaringin mulai surut lantaran dihantam batik printing yang harganya lebih murah. Usaha batik tulis tidak lagi menghasilkan uang.

Di tengah situasi sulit, agen-agen pencari tenaga kerja Indonesia (TKI) masuk ke ciwaringin. Mereka membujuk warga, terutama perempuan, untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga di Timur Tengah dengan iming-iming gaji jutaan rupiah. Tawaran itu seperti sodoran air segar di tengah musim kemarau. Maka berbondong-bondonglah ratusan perempuan ciwaringin menjadi TKI.

Ketika gelombang TKI pertama pulang kampung, mereka tampak seperti rombongan orang kaya. Mereka dating dengan dandanan dan perhiasan yang wah. Sebagian lantas membangun rumah dan membeli tanah di desa.

Melihat kesuksesan mereka, semakin banyak perempuan Ciwaringin yang berangkat ke Arab Saudi. Bekerja sebagai TKI di negeri itu dianggap pilihan paling mudah untuk melawan kemiskinan. Apapun dilakukan warga agar bisa bekerja di ana. Mereka yang masih bocah di katrol usianya dan disulap menjadi “perempuan dewasa”.

“Hampir setiap keluarga ada saja anggotanya yang jadi TKI. Mungkin hanya beberapa orangtua yang melarang anak perempuannya jadi TKI, termasuk ayah saya,” kenang Iim yang kini berusia 31 tahun.

Ketika animo menjadi TKI kian menjulang, lanjut Iim, tradisi membatik di Ciwaringin berangsur sirna dan nyaris dilupakan.

Problem sosial

Uang yang dibawa pulang para TKI memang bisa memperbaiki perekonomian desa. Rumah-rumah yang tadinya reyot, misalnya, dibangun ulang, oleh para TKI menjadi mentereng. Namun, ada harga sosial yang mesti dibayar untuk semua “kemajuan” itu. Kisah perselingkuhan, perceraian, dan anak-anak yang terlantar mulai bermunculan. “Itu sudah jadi cerita biasa di Ciwaringin. Banyak orang punya duit, tapi keluarganya amburadul,” ujar Nursalim.

Saat itu, awal 1990-an, Nursalim baru saja menyelesaikan pendidikan di pesantren. Ia sedih melihat kondisi masyarakat Ciwaringin yang karur-marut. Ia pun mulai berkeliling kampung untuk mengingatkan bahwa bekerja sebagai TKI lebih banyak mendatangkan mudarat ketimbang manfaat.

Namun, warga tidak mau mendengar ocehan Nursalim yang dianggap masih anak ingusan. Nursalim geram dan mulai mengambil langkah lebih keras. Ia membuat poster dan artikel yang menyatakan menjadi TKI dan mengabaikan keluarga dalah haram. :Eh, saya malah di-musuhin orang sekampung. Mereka bilang,’baru lulus dari pesantren saja sudah sok pintar’.”

Penolakan warga membuat Nursalim sadar bahwa dakwah dengan pendekatan keras ternyata tidak pas. Apalagi, Nursalim tidak menyodorkan solusi apapun. “Ini nggak akan berhasil sebab orang perlu duit untuk tetap hidup. Saya kemudian coba beralih ke pendekatan yang lebih lunak, yakni lewat batik,” katanya.

Kembali membatik

Setelah keluar dari pesantren, Nursalim bekerja serabutan. Pada 2003, ia menikah dengan Iim Rohimah yang juga berasal dari keluarga pebatik. Untuk menghidupi keluarga, ia bekerja serabutan dan berdagang. Sementara itu, Iim menekuni usaha batik dengan hasil pas-pasan.

Pada 2009, Dinas Koperasi Kabupaten Cirebon berinisiatif menghidupkan lagi usaha batik Ciwaringin. Dinas menggandeng Iim dan sejumlah pebatik yang tersisa membentuk Usaha Kecil dan MenengaH (UKM) Sapu Jagat. “Saat itu ada 15 pebatik yang ikut. Kami dilatih manajemen produksi, diberi peralatan kerja dan bahan baku, serta modal Rp 15 juta untuk 15-20 pebatik,” cerita Iim.

Hasilnya, produksi batik Ciwaringin mulai berdenyut lagi. Namun, keuntungannya sangat minim. Selembar kain batik tulis dengan pewarna alami hanya bisa dijual Rp 35.000. Untungnya Cuma Rp 5.000-Rp 10.000, padahal satu lembar kain batik harus dikerjakan sekitar empat hari. Makanya, tidak banyak warga yang mau terjun lagi membuat batik,” kata Nursalim.

Meski begitu, Nursalim dan Iim tetap mengusahakan batik. Mereka berdua percaya suatu ketika batik ciwaringin akan berkibar lagi. Momen itu akhirnya muncul pada 2011. Awalnya para pebatik ditawari bantuan pemasaran dan pelatihan manajemen dari program tanggungjawab sosial perusahaan (CSR) Indocement. Mereka juga mendapat pinjaman bergulir Rp 20 juta untuk tiap UKM batik beranggotakan 6-7 orang.

“Kami diikutkan dalam banyak pameran, 5-6 kali setahun, dibanyak kota. Dari situ, kami mendapat banyak pesanan dengan harga jual lebih tinggi,” kata Nursalim.

Selembar kain batik tulis dengan pewarna alami bisa dijual Rp 150.000-Rp 400.000. “Kalau dulu keuntungannya hanya Rp 5.000-Rp 10.000 per lembar kain, sejak 2011 keuntungannya bisa lebih dari Rp 100.000,” ujar Nursalim.

Nursalim dan Iim kian giat merangkul kaum perempuan untuk menekuni kembali batik. “Kami bilang kepada mereka, daripada jadi TKI dan keluarga berantakan, lebih baik jadi pebatik lagi,” kata Nursalim.

Usaha mereka akhirnya membuahkan hasil. Satu demi satu, para mantan TKI terjun lagi ke bisnis batik. Saat ini, jumlah mereka sudah sekitar 100 orang. Setiap orang rata-rata bisa membuat 10-15 lembar batik tulis per bulan. Batik buatan mereka sebagian besar dijajakan melalui  belasan akun facebook. Sebagian lagi lewat pameran.

Setelah usaha batik bersinar lagi, para perempuan Ciwaringin mulai meninggalkan jalan hidup sebagai TKI. “Saat ini nyaris tidak ada perempuan Ciwaringin yang tertarik jadi TKI lagi. Yang masih bertahan di Arab Saudi paling tinggal 10 orang,” ujar Nursalim.

Kami berkunjung ke Ciwaringin akhir September dan menemukan para peremuan mantan TKI, tua dan muda, bergairah mengangkat canting dan melukis motif-motif khas batik ciwaringin, seperti pecutan, ganggengan, pring sedapur, tebu sakeret, ceker ayam, sapu jagat, dan kapal kandas, si atas mori putih.

Di antara mereka ada Ida, Rohma, dan Alifa. Mereka bilang, masa-masa menjadi TKI sudah berlalu. Sekarang mereka memilih menggantungkan masa depan pada batik tulis ciwaringin yang indah.

NURSALIM

  • Lahir: Cirebon, 25 Agustus 1975
  • Pendidikan:
  • SDN Ciwaringin I
  • MTs Pesantren Babakan
  • Madrasah Aliyah Pesantren Babakan
  • Diploma 1 STAIMA Babakan

IIM ROHIMAH

  • Lahir: Cirebon, 2 Mei 1985
  • Pendidikan:
  • SDN Ciwaringin I
  • MTs Negeri Babakan

 

Sumber: Kompas.21-Oktober-2016.Hal_.16

Abdul kadir Ibrahim Penerus Raja Ali Haji dari Natuna

Penerus Raja Ali Haji dari Natuna. Kompas.26 Oktober 2016.Hal.16

Dalam pengantar buku “ Tanah Air Indonesia”(2013), Profesor Harimurti Kridalaksana membuat catatan kecil tentang penulisnya : Abdul kadir Ibrahim (50). Pendek! Hanya satu lembar. Meskipun pendek, catatan kecil tersebut terasa bernas – berisi pas!. (Oleh Kenedi Nurhan)

Dalam satu periode, kata sang munsyi, masyarakat Melayu mengalami kejayaan ketika masyarakat di Pulau Penyengat menghasilkan karya karya sastra ciptaan para pujangga yang masih bisa dinikmati hingga kini. Sebutlah seperti Gurindam Dua Belas, Tuhfat An Mafis, Bustanul Katibin, atau Kitab Pengetahuan Bahasa-nya Raja Ali Haji. Karya – karya tersebut juga dibanggakan oleh generasi baru dewasa ini.

Namun, di balik kebanggaan itu juga terselip kegelisahan: adakah yang boleh dibanggakan di antara karya – karya ciptaan generasi baru? Bisakah kita menggubah karya seperti itu?

Setelah membaca Tanah Air Bahasa Indonesia, sang munsyi sampai pada satu pernyataan “Masyarakat kepulauan Riau beruntung karena kiprah budayawan Abdul Kadir Ibrahim.” Dia adalah anak Melayu dari abad ke-20 dan 21, periode yang bersambungan ke masyarakat Indonesia modern, yang merupakan pewaris langsung masyarakat Melayu-Riau

“Karya – karya dalam buku ini membuktikan bahwa Abdul Kadir Ibrahim menjalankan peranannya sebagai eksponen kedua periode kebudayaan itu.”

Jiwa Yang Kasmaran

Terlahir dengan nama Abdul Kadir Ibrahim, ia lebih dikenal dengan panggilan akib. Bahkan, di lingkungan kerjanya sebagai birokrat- entah guru, staff, dan pejabat teras di kota Tanjung Pinang, dan saat ini sekrestaris DPRD – nama Akib lebih kerap disebut ketimbang nama aslinya.

“Akib itu singkatan dari Abdul Kadir Ibrahim, diberikan oleh penyair Syahruddin Saleh ketika membahas puisi – puisi saya di sebuah radio swasta di Pekanbaru tahun 1986. Sejak itu, saya pakai nama tersebut, untuk pergaulan sehari – hari” kata Akib pada satu senja dalam perbincangan ringan di kedai kopi di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, awal Oktober lalu.

Datang dari Natuna, Pulau yang berhadapan langsung dengan Laut Tiongkok Selatan, Akib sudah merantau ke Riau daratan ketika melanjutkan ke Madrasah Alyah Negeri (MAN) Pekanbaru. Di sinilah, kepengarangan nya mulai tumbuh merekah.

Dalam periode awal ini, Akib remaja sempat terombang – ambing. Semula, ia ingin jadi anak “anak band” yang jadi idola remaja. Terlebih vokalisnya, sebagaimana posisi yang dirangkap Akib di kelompok bandnya.

Pada satu ketika, Akib dipanggil Ibu Rosniar, guru pengampu pelajaran Bahasa Indonesia. Lalu, ia disodori puisi – puisi Sutardji Calzoum Bachri. “Ternyata saya diminta ikut lomba baca puisi di Universita Riau. Itu tahun 1985,” kenangnya

Pihak sekolah pun mengundang penyair Ibrahim Sattah guna melatih Vocal dan gaya panggung Akib. Walaupun penampilan Akib gagal menarik perhatian juri lomba, sejak itu satu pilihan lagi di jalan hidupnya ia pancangkan lagi menjadi penyair!

Dalam gelegak jiwa yang kasmaran pada penciptakan karya, puisi – puisi mantra mengalir dari tangan Akib. Sebagai anak Pulau, ia begitu akrab dengan idiom – idiom tentang laut,ombak, pantai, gelombang, dan angin. Seperti halnya Sutardji dan Ibrahim Sattah, permainan bentuk juga menjadi bagian dari kekhasan puisi – puisi Akib.

Hingga menyelesaikan pendidikan di MAN Pekanbaru, bermusik dan berpuisi masih jalan seiring. Baru ketika Akib berniat kuliah ke Yogyakarta, dan terlebih dahulu mesti pulang ke Natuna untuk meminta restu orang tuanya, cita – cita sebagai anak band akhirnya ia tanggalkan.

Restu ke Yogyakarta di dapat, tetapi cita – cita nya jadi “anak band” ditolah dengan keras. Akib pun pasrah dan kembali ke tanah rantau di Pekanbaru. Terbayang sudah, Yogyakarta akan jadi tujuan perantauan berikutnya.

Namun, akibat cuaca buruk, sesampai di Pekanbaru ternyata pendaftaran masuk perguruan tinggi lewat sistem penerimaan mahasiswa baru (sipenmaru) sudah ditutup. Satu – satunya yang masih menerima pendaftaran itu pun sudah gelombang kedua – adalah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Syarif Qasim, Pekanbaru. Disanalah kemudian ia tercatat sebagai mahasiswa hingga rampung sambil terus mengasah baka kepengarangannya di jagat tanah Melayu.

Menjadi Guru

Sempat mengisi acara puisid dan lagu setiap Sabtu di RRI stasiun Pekanbaru (1987-1989), Akib juga mulai terlibat dalam dunia jurnalistik. Semula ia bergabung dengan Mingguan Genta (1989) , sebelum akhirnya pindah ke surat kabar harian milik grup Riau Pos (1989 – 1995).

Saat itu, Akib merasa profesi wartawan adalah jalan hidup yang ideal. Pas dengan jiwa kepengarangannya. Namun, profesi yang penuh risiko itu justru membuat orang tuanya di Natuna selalu waswas. Tak sekali-duakali mereka mendengar kabar ada wartawan yang diculik, disiksa, bahkan dibunuh hanya karena urusan pemberitaan.

Satu malam, sepulang kerja, ia mendapati sang bapak tiba – tiba sudah ada dikamar kosnya. Jauh – jauh datang dari Natuna hanya untuk meminta Akib agar berhenti jadi wartawan. “Tak dapat saya menolak permintaan itu,” kata Akib.

Alhasil, SK pengangkatan dirinya sebagai guru di SMP Negeri Midai di Pulau Natuna-yang lama dibiarkan “mengendap” di Kantor Wilayah Depdikbud Riau-akhirnya ia urus. Lalu jadilah Akib seorang guru yang mengampu sekaligus empat mata pelajaran; Agama, Bahasa Arab, Biologi, dan PPKN.

Kurang dari empat tahun di Natuna, Akib dipindahkan ke SMP Negeri 4 Tanjung Pinang di Pulau Bintan, sebelum ditunjuk sebagai Kasubdin Kebudayaan pada Dinas kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjung Pinang. Sejak itu, sejumlah jabatan di Pemerintahan Kota Tanjung Pinang sudah ia duduki. Namun, tak selintaspun terpikir olehnya untuk istirahat dari dunia kepengarangan yang telah ia tapaki lebih dari separuh hidupnya.

“Jabatan itu sementara. Umurnya pendek. Beda dengan penulis, meski telah meninggal, ‘umurnya’ panjang. Contohnya Raja Ali Haji,” kata Akib

Akib mengatakan, karya – karya Raja Ali Haji memang menjdi roh kepengarangannya. Entah itu dalam bentuk cerpen, novel, puisi, esai, ataupun tulisan – tulisan lepas. Stuardji dan Ibrahim?  “Mereka hanya semacam spirit, tetapi roh krpengarangannya mengacu kepada Raja Ali Haji,” ujarnya.

Roh yang ia maksud terutama pada pesan bahwa dalam berkarya tetap perlu mengusung konsep Melayu: Menggembirakan dan(menjadi) rahmat bagi orang lain. Karena itu, dalam menghadapi perubahan pun, karya – karya harus berangkat dari budaya tempatan. Budaya lokal! Karena itu pula, tidak aneh apabila Akib banyak menyerap unsur – unsur Hikayat, Dongeng, dan Mantra dalam karyanya.

 

Nama : Abdul Kadir Ibraham

TTL : Natuna, Kepulauan Riau, 4 Juni 1966

Riwayat Pendidikan :

  • Sekolah Dasar Kelarik Natuna (1982)
  • Sedanau-Natuna (1984)
  • Madrasah Tsanawiyah
  • Madrasah Aliyah Negeri (MAN), Pekanbaru (1987)
  • Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Syarif Qasim (SUSQA), Pekanbaru (1991)
  • Sarjana Pendidikan Agama Islam (S-1), Fakultas Tarbiyah
  • Magister Teknik (S-2) Program Magister Pembangun Wilayah dan Kota. Universitas Diponegoro, Semarang (2008)

Istri : Ermita Thaib, S. Ag

Anak : Tiara Ayu Karmita (26 September 1999), Safril Rahmat (22 April 2002), dan Sasqia   Nurhasanah (29 Juni 2006)

Karya :  66 Menguak, Menggantang Warta Nasib, “kerikil” dalam Sagang ’96, Pancang-pancang Universitas Riau, Ungkapan Tradisional Masyarakat Melayu , Cakap Rampai Orang Patut-patut, Menjual Natuna, Harta Karun, Aisyah Sulaiman Riau Pengarang dan Pejuang Perempuan, Sejarah Perjuang Raja Ali Haji sebagai Bapak Bahasa Indonesia  Negeri Airmata, Rampai Islam: Dari Syahadat Sampai Lahat, Hj. Suryatati A. Manan: Revitalisasi Sastra Melayu, Penafsiran dan Penjelasan Gurindam Dua Belas Raja Ali Haji, Nadi Hang Tuah, Tanjungpinang Punya Cerita, dan Dermaga Sastra Indonesia

 

Sumber : Kompas, Rabu 26 Oktober 2016

Seliwati Melawan dengan Jengkol

Melawan dengan Jengkol.Kompas.28 Oktober 2016.Hal.16

Jengkol bukan sekadar menu yang kerap hadir di meja makan. Di tangan Seliwati (45), sayuran itu menjadi alat perlawanan terhadap kesewenang-wenangan, sekaligus sumber penghasilan warga desa.

OLEH LARASWATI ARIADNE ANWAR

“Pohon Jengkol berkah, murah, meriah, cepat menghasilkan, dan menguntungkan,” kata Seliwati, warga Desa Uraso, Kecamatan Mappedeceng, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, ketika ditemui di Jakarta, Minggu(16/10). Ia berada di Ibu Kota untuk menerima penghargaan dari Oxfam Indonesia sebagai salah satu dari Sembilan Perempuan Pejuang Pangan 2016.

Kiprah Seliwati sebagai pejuang pangan dimulai sekitar 10 tahun lalu. Saat itu, tahun 2006, lahan di Desa Uraso diakuisisi sebuah perusahaan perkebunan swasta secara mendadak. “Tak ada pemberitahuan kepada warga, tahu-tahu lahan kami sudah diberi pagar pembatas,” kata Seliwati.

Lahan sudah dipatok-patok oleh orang tak dikenal. Berbagai pepohonan dan tanaman lain milik warga ditebang dan dibersihkan. Ketika ditanya, orang-orang itu mengatakan lahan sudah menjadi milik sebuah perkebunan swasta. Lahan yang sudah dikuasai perusahaan kemudian ditanami pohon kakao.

Peristiwa itu sangat mengagetkan warga. Pasalnya, lahan yang diakuisisi telah dimiliki warga Desa Uraso secara turun-temurun. Memang warga tidak memiliki sertifikat kepemilikan lahan, tetapi mereka sudah bercocok tanam di sana sejak zaman nenek moyang.

Seliwati dan petani lainnya hanya bisa pasrah. Mereka tidak tahu harus mengadukan nasibnya kepada siapa. Aparat pemerintahan yang diharapkan melindungi rakyat justru dianggap lebih memihak perusahaan perkebunan. Aparat penegak hokum berkantor di pusat kecamatan, jauh dari desa itu.

“Kami hanya petani sederhana. Mau demonstrasi takut ada akibatnya dan membahayakan keluarga,” ujarnya.

Setelah akuisisi terjadi, lahan garapan yang disisakan untuk warga tinggal 30 hektar. Di lahan yang terbatas itu, warga menanam merica dan durian. Hasil penjualannya lumayan. Namun, pengeluaran untuk membeli bibit, pupuk, pembasmi hama juga cukup besar. Ini membuat keuntungan yang diterima petani tidak seberapa.

Agar bisa hidup, sejumlah warga akhirnya memilih kerja sebagai buruh harian lepas di perkebunan kakao yang mengakuisisi tanah warisan mereka. “Sedih sekali rasana. Kami seperti budak di lahan milik sendiri,” ujar Seliwati.

“Ini lahan kami. Semestinya kami bisa mandiri menghasilkan sayur dan buah-buaha. Bukan dibayar diatas tanah sendiri.”

Selang dua tahun, pohon-pohon kakao yang ditanam perusahaan ternyata gagal panen. Perusahaan lantas mengganti tanaman kakao dengan kelapa sawit.

Seliwati sadar benar bahwa perkebunan sawit akan berdampak negative terhadap lingkungan Desa Uraso. Pasalnya, sawit membutuhkan lahan yang kering. “Kalau air tanah dikuras dengan menebangi pohon, bisa-bisa desa kami longsor nantinya,” ucapnya.

Menanam jengkol

Warga desa dihadapkan pada dua ancaman besar. Pertama, ketergantungan ekonomi pada pemiliki perkebunan. Kedua, ancaman bencana yang ditimbulkan perkebunan sawit. Seliwati berpikir, harus ada solusi yang cepat untuk mengatasi da persoalan itu.

Perempuan berusia 45 tahun itu kebingungan mencari tanaman pengganti. Ia tidak mungkin menanami semua lahan dengan merica dan durian karena dua tanaman itu memerlukan perawatan ekstra.

Ia kemudian berkunjung ke desa-desa lain dan menemukan sejumlah petani menanam jengkol. Setelah ia pelajari, ternyata tanaman jengkol tidak memerlukan pupuk. Petani hanya perlu membasmi gulma dan benalu dari pohon.

Pada 2011, Seliwati mulai menanam 200 batang pohon jengkol di lahan miliknya yang seluas 2 hektar. Sebagian bibit jengkol ia beli di pasar, sebagian lagi ia beli dari petani jengkol. Sisa lahan di dekat rumahnya tetap ia Tanami merica.

Empat tahun berlalu, ratusan pohon jengkol milik Seliwati berbuah lebat. Padahl, pohon jengkol ia tanam di lahan yang relative kering karena dikepung perkebunan sawit. Setiap pohon jengkol rata-rata menghasilkan 1 kuintal buah.

Sebagian jengkol ia jual ke pengepul, sisanya ia gunakan untuk pembibitan. Setelah itu, bibit-bibit tersebut ia tawarkan kepada para petani lain di desanya. Awalnya, para petani sangsi dengan ajakan Seliwati untuk menanam jengkol. Mereka berpikir, jika semua petani menanam jengkol, produksi akan surplus. Lantas, bagaimana menjual jengkol sebanyak itu?

Sliwati ternyata sudah mengantisipasi kemungkinan itu. Ia menggandeng para pengepul yang akan mengirim jengkol ke Pulau Jawa melalui Surabaya, Jawa Timur. “Harga yang ditawarkan para pengepul cukup adil dan menguntungkan bagi petani,” ujarnya.

Stu kilogram jengkol dihargai Rp. 10.000 hingga Rp. 20.000, bergantung pada mutunya. Jika satu pohon menghasilkan 100 kilogram jengkol, hasil penjualan jadi Rp 1 juta hingga Rp 2 juta. Padahal, modal untuk menanam jengkol hanya Rp 50.000 per hektar. Itu pun hanya untuk pemupukan di tahap awal ketika pepohonan masih kecil.

Seliwati dan suaminya, Esrom, juga mengingatkan bahwa pohon jengkol penting untuk menjaga kelestarian alam. Akar pohon jengkol menyebar dan menancap di bawah permukaan tanah sehingga berguna untuk menahan air.Untuk membuktikannya, Seliwati dan beberapa temannya menanam jengkol di pinggiran sunagai. Setelah empat tahun, bantaran sungai yang sering ambles saat musim hujan menjadi kokoh berkat tanaman jengkol.

Para petani pun akhirnya berbondong-bondong menanam jengkol. Pada 2016, ada 30 kepala keluarga yang menanam jengkol. Rata-rata setiap keluarga memiliki lahan seluas 1 hektar.

Kini lahan tersebut 70 persen ditanami jengkol. Sisanya ditanami durian san merica agar warga juga bisa emiliki variasi hasil tani. Lahan yang awalnya hanya berisi semak dan sedikit pepohonan kini subur dan hijau. Pohon jengkol yang berusia  tujuh tahun keatas mampu menghasilkan buah hingga 3 kuintal dan sudah sangat baik untuk dibibitkan.

Melihat lahan yang produktif, perusahaan perkebunan tidak melakukan ekspansi ke lahan warga. Berkat Seliwati, jengkol kini menjad symbol perlawanan warga untuk mempertahankan hak kedaulatan pangan mereka.

Bahkan, perlahan tetapi pasti, warga mulai menanami lahan yang berada didalam lingkup perusahaan perkebunan. Wilayah di pinggiran tapal batas sedikit demi sedikit diakuisisi petani dengan pohon-pohon jengkol.

Itulah bentuk perlawanan warga untuk merebut kembali hak milik mereka. Selama tiga tahun, perusahaan tidak melakukan apapun terhadap tindakan warga.

“Kami ingin menunjukkan bahwa kami tidak bisa berdiam diri. Tanah leluhur berfungsi untuk menyejahterakan warga, jadi itu yang kami lakukan,” papar Seliwati.

Seliwati

  • Lahir: Bone, Sulawesi Selatan 13 September 1971
  • Suami: Esrom
  • Anak: 3 orang
  • Pekerjaan: Petani jengkol di Desa Uraso, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan
  • Penghargaan: Perempuan Pejuang Pangan Oxfam Indonenesia 2016

Sumber: KOMPAS, JUMAT 28 OKTOBER 2016