Pelajar SMP Hamili Pacarnya

Pelajar SMP Hamili Pacar. Jawa Pos.18 Mei 2016. Hal.25,35

Pelajar SMP Hamili Pacar

Kasus pencabulan selama sepekan bagai efek domino. Sekali satu kasus meledak, aksi-aksi pencabulan lainnya secara berantai ikut terkuak. Tercatat, selama sepekan ada lima kasus yang diungkap pihak kepolisian.

Ketahuan Saat Hamil Tujuh Bulan

Terbaru, unit PPA Polrestabes Surabaya mengamankan remaja berinisial AAP, Pelajar berusia 15 tahun itu mencabuli pacarnya, sebut saja Oca (nama samaran), hingga hamil. Usia kandungan korban sekarang 7 bulan,” ujar salah seorang penyidik PPA Polrestabes Surabaya kepada Jawa Pos kemarin (17/5).

Berdasarkan informasi yang dihimpun Jawa Pos, pelaku merupakan pelajar kelas IX SMP. Dia bersekolah di salah satu SMP swasta di kawasan Manukan Wetan. AAP satu sekolah dengan Oca dan keduanya berpacaran cukup lama.

Perbuatan asusila itu dilakukan di rumah tersangka di kawasan Tanjungsari. Selama ini korban dibujuk pelaku untuk berhubungan badan. Tindakan itu dilakukan tanpa sepengetahuan orang tua masing-masing. Setelah hubungan badan tersebut terjadi berulang, Oca akhirnya hamil.

Awalnya, orang tua korban tidak menyadari kehamilan anaknya. Namun, Oca tidak lagi bisa menyembunyikan perutnya yang membuncit saat kehamilannya memasuki usia tujuh bulan. Setelah didesak, Oca mengaku bahwa AAP yang telah membuatnya berbadan dua. Orang tua Oca tidak terima, kemudian melapor ke polisi. “Kami tunggu sampai pelaku selesai mengikuti ujian nasional. Baru kemudian ditangkap,” jelasnya.

AAP diamankan polisi di sekolah tepatnya setelah jam pelajaran habis. Dia langsung digelandang ke Mapolrestabes Surabaya. Kini AAP masih menjalani pemeriksaan terkait perbuatan asusila yang dilakukannya sesuai laporan korban.

Sementara itu, Kanit PPA Polrestabes Surabaya AKP Ruth Yeni mengakui, pihaknya menangkap satu lagi pelaku pencabulan. Namun, polisi asal Banyuwangi itu masih belum bisa memberikan banyak keterangan. Jajarannya masih fokus merampungkan berkas pencabulan Kalibokor Kencana. “Tunggu saja. Nanti pasti dirilis,” ungkapnya.

Rilis Kasus Pencabulan Sepekan Terakhir

  • 8 Mei 2016 : Bocah berusia 5 tahun dicabuli Soepardi, 64, di tepi jalan tol Simo. Pelaku adalah tetangga korban.
  • 12 Mei 2016 : Siswi SMP berusia 13 tahun menjadi korban pencabulan delapan bocah yang merupakan tetanggana sendiri di Kalibokor Kencana. Usia para pelaku antara 9 sampai 14 tahun.
  • 13 Mei 2016 : Penjaga sekolah berusia 23 tahun mencabuli siswi kelas I SD di kamar mandi sekolah. Pencabulan dilakukan beberapa kali. Saat pencabulan, tangan dan kaki bocah berusia 7 tahun itu diikat. Mulutnya juga dilakban.
  • 16 Mei 2016 : Pelayan kafe berusia 22 tahun yang indekos di kawasan Tambaksari mencabuli anak ibu kos yang berusia 12 tahun. Pelaku berjanji menikahi korban jika hamil.
  • 17 Mei 2016 : Siswi SMP berusia 15 tahun mencabuli temannya yang berusia 16 tahun. Saat ini korban hamil tujuh bulan.

 

Sumber : Jawa Pos. 18 Mei 2016. Hal 25,35

Bocah TK Jadi Korban Pecabulan

Bocah TK Jadi Korban Pencabulan. Jawa Pos.28 Mei 2016.Hal.29,43

SURABAYA – Pencabulan terhadap anak terjadi lagi. Korbannya adalah Lisa (nam samaran). Bocah perempuan berusa 6 tahun itu dicabuli Didin Arya Putra alias Odik. Pria berusia 27 tahun tersebut adalah tetangga kamar kos keluarga Lisa.

Perbuatan bejat itu dilakukan Odik di kamar kosnya, kawasan Jalan Jemursari Utara. Kamar di dalam rumah kos tersebut memang berimpitan rapat. Hampir setiap hari Odik bertemu dengan Lisa.

Pencabulan tersebut terbongkat setelah orang tua Lisa mencium gelagat mencurigakan. Saat dimandikan ibunya, Lisa mengeluh perih di bagian kelaminnya. Saking sakitnya, Lisa sampai menangis kencang.

“Awalnya korban takut untuk bercerita. Namun, akhirnya keluarga bisa membuatnya berterus terang,” jelas Kasubnit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Surabaya Ipda Harun kemarin (27/5).

Kepada orang tuanya, Lisa tidak bisa menyebutkan secara pasti hari atau tanggal saat dirinya dicabuli Odik. Dia hanya menceritakan hari itu Odik memanggilnya dan meminta dibelikan mie goreng dan rokok. Dengan polos, Lisa menuruti perintah itu, lalu pergi ke warung dekat rumah kos.

“Setelah kemabli dari warung, Lisa disuruh masuk ke kamar Odik. Bocah yang masih duduk di bangku TK B itu kemudian disuruh menunggu di dalam. Agar tidak menolak, Odik memberikan uang kembalian belanja tadi ke Lisa. “Korban dikasih uang Rp 2.500, agar mau menuruti pelaku,” tambah Harun.

Lisa kemudian duduk diatas kasur. Saat itulah Odik menyuruh Lisa berbaring. Nafsu Odik tidak bisa ditahan lagi. Pria asal Jombang tersebut mencabuli bocah kecil itu dengan tangannya. Pencabulan tersebut dilakukan sebanyak dua kali.

Mendengar cerita Lisa, keluarganya pun berang. Kabar itu juga langsung menyebar ke bebrapa warga lain. Setelah berembuk, keluarga dan warga sepakat untuk membawa kasus tersebut ke polisi.

Rabu (25/5) mereka mendatangi Polsek Wonocolo untuk melapor. Oleh petugas, mereka diarahkan langsung mendatangi Unit PPA Polrestabes Surabaya. “Kami meminta korban untuk menjalani visum di polda,” ujar mantan Panitreskrim Polsek Bubutan tersebut.

Hasil visum itu membuktikan bahwa alat kelamin korban memang robek. Berdasar pemeriksaan medis, Odik sempat berusaha memasukkan penisnya ke dalam alat kelamin korban, tapi tidak berhasil. Dia lalu memasukkan jarinya. Itu yang membuat alat kelamin korban terluka. Setelah hasil visum keluar, Odik digelandang ke Mapolrestabes Surabaya pada Kamis malam (26/5).

Meski hasil visum sudah keluar, Odik tetap tidak mengakui perbuatannya. Kepada polisi, dia mengelak semua tudingan keluarga dan warga sekitar. “Dia (korban, Red) Cuma gulung-gulung aja di kasur sambil menangis. Saya panggil ibunya, tapi malah dibawah kesini,” katanya.

Odik melanjutkan, dirinya merupakan penghuni baru kos tersebut. Baru dua bulan dia tinggal bersama istri sirinya disana. Sebelumnya, dia merantau sebagai tenaga pertambangan di Kalimantan.

Meski pelaku tidak mengakui perbuatannya, polisi tetap tidak mempercayainya. Mereka mengambil tindakan tegas dengan menahan Odik. “Kami tidak butuh pengakuan pelaku. Bukti visum dan keterangan di lapangan sudah cukup untuk menjeratnya,” tegas Kanit PPA Polrestabes Surabaya AKP Ruth Yeni. (did/c7/fat)

Sumber : Jawa-Pos.28-Mei-2016.Hal_.2943

Verlita Baby Wear and Toys Membalik Ramalan Pemasaran

Verlita Baby Wear and Toys. Surya. 14 september 2016.Hal.7

Vania Erlita memberanikan diri menawarkan produknya secara personal ke beberapa toko grosir di Surabaya. Ternyata, responsnya cukup bagus.

Buka Toko dan Jasa Konsultasi

Koleksi produk milik Vania Erlita Pratama bisa diterima masyarakat. Beberapa pesanan sudah sampai Jakarta. Bahkan, tak sedikit teman atau kenalannya yang menikah, bersiap memesan baju bayi dan mainan ketika mereka memiliki anak nantinya.

Beberapa kali, Vania memperoleh pesanan dalam jumlah besar. Saat ini, bersiap mengembangkan usaha yang diawali dengan hanya menjual maninan edukatif itu. Apalagi, Vania sudah mampu menutup modal yang banyak dikeluarkan diawal usaha.

Produk baju bayi juga cukup laris, membuatnya ingin memperbesar bisnis di bidang perlengkapan anak dan bayi. Vania sudah bekerja dengan beberapa penjahit yang masing-masing khusus membuat bagian mainan tertentu.

“Setiap penjahit mendapatkan tugas yang berbeda dan spesifik, jadi hasinya tetap sama dalam setiap produksi,” katanya.

Dengan hasil penjualan hingga kini, Vania sudah memulai pembangunan toko setinggi dua lantai di kota kelahirannya, Malang. Setelah lulus kuliah, dia berencana memfokuskan diri pada usaha perlengkapan bayi sambil melanjutkan kuliah S2 di Malang.

“Toko dua lantai itu akan saya jadikan toko perlengkapan bayi di lantai satu, dan praktik konsultasi di lantai dua,” ujarnya.

Vania berharap mimpinya itu segera terwujud karena kurangnya pemahaman masyarakat akan pentinya bantuan psikolog atau terapis dalam perkembangan anak.

Selama ini, masyarakat berasumsi psikolog hanya untuk menangani anak yang bermasalah. Padahal, dalam proses perkembangan, anak membutuhkan konsultasi. Salah satunya, tes bakat minat yang akan Vania sediakan di tempat praktik. (nh)

            Kalimat dari seorang dosen itu masih melekat benar di benak Vania Erlita Pratama. Kalimat itu pula yang mengantarkan dan meyakinkannya untuk membangun usaha mainan edukatif dan baju bayi bernama Verlina Baby Wear and Toys sejak 2015. Kalimat itu adalah ‘Mulailah bisnis dari apa yang kita sukai dan didasari dengan passion’.

            Perempuan dengan rambut bergelombang hingga bahu ini sangat menyukai anak kecil dan menyayangkan harga mainan edukatif di pasaran sebagian besar harganya cukup tinggi.

Vania beberapa kali mendapatkan keluhan dari sang kakak, yang terpaksa tidak jadi membelikan putrinya mainan edukatif karena harga yang mahal.

“Miris sekali mendengarnya. Saya sempatkan melihat langsung ke toko mainan, memang benar,” kata mahasiswi Psikologi Universitas Ciputra Surabaya ini.

Selain harga, masih sangat jarang pula toko yang menjual mainan edukatif. Jadilah, ide membuat usaha mainan edukatif semakin mengumpal di otak Vania.

Semangatnya semakin membara setelah mendapatkan mata kuliah perkembangan anak di semester 1 masa kuliahnya pada 2014. Vania mencoba membuat mainan pertama berbentuk ayam, dengan telur yang diletakkan di bagian dalam. Bahannya cukup bagus namun harganya terjangkau.

Gadis asal Malang itu banyak melakukan konsultasi dengan beberapa dosen sehingga mendapatkan banyak masukan atau produk pertamanya.

Mereka mengatakan produk kreasinya sudah bagus karena memiliki dasar yang kuat, tapi akan sulit memasarkannya, beberapa teman ikut meragukan keberhasilan usahanya dari sesi pemasaran.

Tapi dara kelahiran 25 Oktober 1996 ini pantang menyerah. Dia memberanikan diri menawarkan produknya secara personal ke beberapa toko grosir di Surabaya. Ternyata, responsnya cukup bagus. Sampai saat ini, tiap bulannya Vania memproduksi sekitar 10 lusin mainan edukatif. Mainan edukasi ini punya branding Verlita Shop. Cukup beragam, mulai boneka peraga dongeng hingga mainan untuk perkembangan motorik anak.

Semuanya memiliki output dalam perkembangan anak. Misalnya, saja mainan berbentuk buah-buahan dengan kancing untuk latihan motorik halus. “Latihan motorik halus sangat penting untuk anak usia 1,5-2 tahun sebagai dasar menulis,” jelas Vania.

Ada mainan berbentuk bola berbagai ukuran untuk latihan menggenggam, boneka ayam dan buaya yang berisi telur untuk mengajarkan pada anak bahwa beberapa hewan berkembang biak dengan bertelur.

Ada pula boneka kodok yang disertai kecebong untuk memperkenalkan metamorphosis. Vania menjual mainan edukatif itu dengan harga sekitar Rp 30.000.

Selain mainan edukatif, Vania memproduksi baju bayi dengan harga terjangkau. Ide kreasi lain ini karena ketika menawarkan mainan pada orang-orang atau toko grosir banyak yang bertanya tentang baju bayi.

Dari situlah, Vania memutuskan untuk membuat baju bayi. Harga baju bayinya Rp 50.000 per satuan dan berupa paket berisi tujuh baju anak satu minggu, dengan harga Rp 100.000, (nh)

Sumber: Surya.-14-september-2016.Hal_.7

Agus Noor Siasat Pangeran Kunang-Kunang

Siasat Pangeran Kunang-Kunang. Kompas.17 September 2016.Hal.16

Sejak cerpennya dimuat di surat kabar nasional tahun 1988. Agus Noor menetapkan jalan hidupnya sebagai sastrawan. Ia mengarungi dunia menulis yang soliter sambil bergelut di dunia teater solider. Kini, ia menjadi satu dari dari sedikit seniman Indonesia yang konsisten dan produktif berkarya.

Oleh: Budi Suwarna & Aryo Wisanggeni Gentong.

Akhir Agustus lalu, kami bertemu Agus Noor di sebuah rumah besar di kawasan Tebet Barat, Jakarta Selatan. “Hari ini, saya menyediakan waktu khusus untuk kamu,” katanya sambil tersenyum.

Seniman berusia 48 tahun yang terkesan santai dan urakan itu sesungguhnya orang yang tertib. Ia disiplin membagi waktu untuk menulis, menyiapkan pertunjukan, nge-gym, nongkrong di kafe, dan berceloteh di dunia maya. “Penulis ini mesti mengatur dirinya sendiri agar tetap waras dan produktif, ha-ha-ha,” katanya.

Siang itu, Agus Noor membiarkan laptopnya tetap hidup. Di sana ada jejak naskah yang belum kelar. Ia sedang menyiapkan naskah Hakim Sormin untuk Teater Gandrik yang mengisahkan para hakim yang berbondong-bondong masuk ke rumah sakit jiwa,

Hakim Sarmin hanya satu dari sekian garapannya. Ia terbiasa mengerjakan beberapa tulisan sekaligus. “Saya memasang target. Setiap bulan, saya mesti menulis empat cerpen, beberapa naskah televisi, dan draft-draft novel.”

Sebagian karyanya ia simpan dan keluarkan satu per satu. Begitu ia bersiasat agar karynya eksis lebih lama. “Ada cerpen yang saya tabung dan akan saya keluarkan nanti pada masa pension. Penulis, kan, tidak punya uang pension, ha-ha-ha.”

Ia mengaku bisa menulis di rumah atau di kafe. Saat menulis, ia menjadi makhluk soliter yang seolah putus dengan dunia sekitar. Ia tenggelam dalam imaji-imaji aneh, termasuk sering membayangkan dirinya menjelma menjadi kunang-kunang, hewan yang menurut dia mistis sekaligus romantis. Kata kunang-kunang bertebaran di cerpen-cerpennya sehingga ia dijuluki penggemarnya “Pangeran Kunang-kunang”.

Manusia Solider

Selesai menulis, ia kembali berproses bersama teman-temannya di teater. Ia pun menjadi manusia solider yang rindu bertukar gagasan dan ego. Ia kembali menyapa “Jemaah”-nya di sosial media dengan cuitan, kutipan mini fiksi, atau sekedar ucapan terima kasih kepada follower barunya di Steller atau Twitter.

“Aku tidak ingin menjadi penulis penyendiri, merasa sebagai nabi yang mewakili zamannya, padahal ide-idenya belum tentu sesuai dengan hasrat dan impian pembaca. Aku memilih menjadi penulis yang menyelami perubahan zaman sehingga ide-ideku punya relasi dengan masyarakat sekarang.”

Dengan cara itu, ia jadi lebih peka menangkap perubahan. Pertengahan 2000-an misalnya, ia melihat gejala menguatnya intoleransi dan disintegrasi di Tanah Air. Orang makin sensitif terhadap perbedaan.

Merespons fenomena itu, ia bersama Butet Kartaredjasa Djaduk Ferianto menggagas Indonesia Kita, forum para seniman bekerja sama merancang pentas yang merangsang imajinasi keindonesiaan. Mereka mencari tali pengikat sebagai bangsa.

“Selain bahasa Indonesia, tali pengikat saat ini  ternyata produk budaya pop. Generasi muda mengidentifikasi keindonesiannya, misalnya, melalui lagu-lagu Slank atau Iwan Fals, kita tahu di situ masih wilayah Indonesia.”

Karena itulah, Indonesia Kita memberi tempat luas pada produk budaya pop di sejumlah daerah, seperti hip hop jogja dan telempong rock minang. Sejumlah lakon telah dipentaskan, antara lain Laskar Dagelan, Bata Maluku, dan Kabayan Jadi Presiden. Agus menulis naskan dan menyutradarai sebagian besar pentas itu.

Indonesia Kita digelar rata-rata empat kali setiap tahun mulai dari 2011 hingga 2016. Ini pentas yang paling teragenda dan rutin di Jakarta, biasanya digelar setiap Maret. Konsistensi itu berhasil membangun komunitas baru penonton teater di Jakarta, yang sebagian adalah kalangan eksekutif dan kaum muda urban. “Setiap Maret mereka sudah mengagendakan nonton Indonesia Kita,” ujar Agus,

Ini menunjukkan, pasar teater di Jakarta itu ada dan punya daya beli tinggi. Justru pertunjukkan teaternya yang masih jarang sehingga mereka akhirnya terbang ke Singapura atau Amerika Serikat sekedar untuk nonton teater. “Kedepan, kami ingin bisa pentas dua kali sebulan.”

Untuk itu, Agus dan kawan-kawan berusaha mengelola pertunjukan teater secara modern. “Zaman menuntut itu. Nah, banyak kelompok seniman tidak siap dengan tuntutan. NPWP saja enggak punya, bagaimana mau dapat sponsor pertunjukan,” tambahnya.

Ke Yogyakarta

            Agus berasal dari keluarga yang sederhana di Tegal, Jawa Tengah. Ketika kecil, ia cadel. Untuk mengatasi kekurangan itu, orangtuanya menyuruh bocah itu membaca buku apa saja dengan suara keras. Tiap hari membaca ia jatuh cinta pada buku.

AGUS NOOR

  • Lahir: Tegal, 16b Juni 1968
  • Pendidikan:
  • SMP Negeri I Margasari Tegal
  • SMA 17/I Yogyakarta
  • Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
  • Penghargaan
  • Cerpenis Terbaik Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) IV (1992)
  • Anugerah Cerpen Indonesia oleh Dewan Kesenian Jakarta (1999)
  • Karya Terbaik Majalah “Horison” selama kurun waktu 1990-2000
  • Anugerah Seni dari Menbudpar (2006)
  • Pemenang Cerpen Terbaik “Kompas” 2011
  • Buku (antara lain): Bapak Presiden yang Terhormat, Selingkuh Itu Indah, Matinya Toekang Kritik, Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia (2007), Ciuman yang Menyelamatkan dari Kesedihan, Cerita buat Para Kekasih, Barista Tanpa Nama.

Orangtuanya menjual buku, novel, majalah, buku anak-anak, dan koran. Sebelum majalah dkirim ke pelanggan, Agus membacanya lebih dulu. Ia melahap novel John Steinbeck, Dataran Tortila, dan novel Iwan Simatupang, Kering dan Ziarah.

Masuk SMP, ia kian keranjingan membaca dan mulai menulis puisi cinta pesanan teman-temannya. Suatu ketika, ia bertemu sastrawan angkatan 66 asal Tegal, Piek Ardijanto Soeprijadi. Piek menyarankan Agus meneruskan SMA ke Yogyakarta agar bertemu dengan seniman-seniman besar.

Orangtua Agus tidak setuju. “Kami tak punya saudara di Yogyakarta. Lagi pula orang Tegal lazimnya merantau ke Jakarta supaya bisa buka warteg, ha-ha-ha,”

Pemuda itu nekat merantau dan sekolah di Yogyakarta. Namun, alih-alih duduk manis di kelas, ia malah suka keluyuran ke berbagai perpustakaan, toko buku, atau kios penyewaan buku. “Pernah tiga bulan tidak masuk sekolah karena keasyikan baca Kho Ping Ho, ha-ha-ha,” kenang Agus yang tiga kali pindah sekolah.

Di SMA terakhir. SMA 17/I Badran, ia bertemu Nunik T Harayani, guru Sastra dan Bahasa Indonesia yang juga penulis. Guru itu mendorong Agus ikut kelompok teater dan nonton pertunjukan.

Ketika kuliah, Agus mendatangi tempat nongkrong para seniman. Bertemulah ia dengan Indra Tranggono, Butet Kartarejadsa, Emha Ainun Nadjib, Genthong HAS, Bakdi Soemanto, Umar Kayam, Ashadi Siregar, dan Linus Suyadi Ag. Agus rajin menyerap ilmu sastra dan teater dari mereka.

“Linus bilang, ‘Gus, kamu lebih bagus kalau nulis cerita daripada nulis puisi,” kenang Agus yang merasa gayanya menulis naskah teater sangat dipengaruhi Emha.

Agus akhirnya menetapkan jalan hidupnya sebagai penulis ketika cerpennya, Kecoa, dimuat harian Kompas tahun 1988. “Cerpen itu saya pigura ha-ha-ha,” katanya. Banyak cerpen Agus masuk dalam ontology Cerpen Pilihan Kompas.

Sejak saat itu, Agus benar-benar hidup dari menulis, “Saya telah memilih jalan yang benar, melakukan sesuatu yang saya cinta dan membahagiakan,” katanya.

Sumber:  Kompas, 17 September 2016.

Sengkarut Riset Kita

Sengkarut Riset Kita. Kompas.27 September 2016

Oleh JOHANES EKA PRIYATMA (Rektor Universitas Sanata Dharma Yogyakarta)

Harian Kompas selama tiga hari berturut-turut, 19-21 September 2016, melaporkan hasil diskusi tentang kuantitas, kualitas, dan kontribusi riset bagi pembangunan Indonesia. Diskusi yang melibatkan para pihak yang berkompeten serta terkait langsung dengan pengembangan riset di Indonesia itu menghasilkan kesimpulan yang menciutkan nyali kita.

Intinya, hasil kegiatan riset di Indonesia sangat jauh tertinggal dari negara tetangga, apalagi jika dibandingkan dengan negara-negara G-20. Diskusi juga menyimpulkan bahwa keadaan riset yang seperti ini menjadi penyebab utama Indonesia kalah bersaing dengan negara lain dalam banyak bidang, khususnya inovasi teknologi dan pengolahan sumber daya alam.

Diskusi juga menyimpulkan bahwa akar masalah riset di Indonesia bersifat multidimensi menyangkut dana, sumber daya manusia, koordinasi lintas lembaga, dan kebijakan pemerintah. Diskusi mengakui bahwa pemerintah sebenarnya sudah melakukan berbagai langkah, mulai dari meningkatkan anggaran riset, menggabung Direktorat Pendidikan Tinggi dengan Kementerian Riset dan Teknologi, hingga membuat Rencana Induk Riset Nasional.

Meski demikian, langkah yang diambil pemerintah tersebut belum membuahkan hasil signifikan. Situasi menjadi semakin runyam karena saat ini pemerintah justru terpaksa memangkas anggaran karena target pendapatan tidak terpenuhi.

 

Solusi tak sentuh akar masalah

Saya mengapresiasi diskusi Kompas tersebut, tetapi kurang setuju terhadap rekomendasi yang dirumuskan. Persoalan yang membelit kegiatan riset di Indonesia jauh lebih kompleks daripada yang di diskusikan karena bersifat struktural dan kultural. Oleh karena itu, solusi yang ditawarkan juga tidak akan mampu membalikkan keadaan karena tidak menyentuh akar masalah. Menyoal kuantitas dan kualitas riset di Indonesia tidak akan memadai apabila pisau analisisnya hanya memakai pendekatan sumber daya manusia, regulasi, dan agenda jangka panjang.

Telah terbukti bahwa peningkatan anggaran riset dari pemerintah tidak serta-merta meningkatkan kualitas hasil riset. Demikian pula bertambahnya tenaga peneliti tak akan signifikan meningkatkan kualitas hasil riset. Kita memerlukan analisis yang lebih komprehensif dan mendasar. Untuk itu, kegiatan riset harus kita pandang sebagai sebuah realitas yang tidak terpisah, tetapi malah menjadi akibat dari suprastrukturnya, yakni strategi pembangunan yang telah kita pilih, khususnya dalam hal inovasi dan kreasi teknologi.

Analisis yang lebih komprehensif terhadap kegiatan riset di Indonesia dapat kita lakukan memakai pendekatan Teori Jejaring Aktor yang dikembangkan Callon, Latour, dan Law di era 1980-an. Dengan teori yang berasal dari disiplin ilmu sosiologi Sains dan Teknologi ini, kegiatan riset paling tepat dipahami sebagai sebuah jejaring kompleks yang melibatkan banyak unsur, baik yang bersifat manusiawi maupun bendawi. Unsur-unsur tersebut saling memengaruhi karena saling berinteraksi dalam pola relasi yang bersifat dinamis dari waktu ke waktu.

Sebagai sebuah jejaring kompleks, kegiatan riset bukan hanya menjadi penyebab bagi berkembangnya inovasi dan kreasi bangsa, melainkan juga sekaligus menjadi akibat dari pola kegiatan inovasi dan kreasi tersebut. Dengan demikian, berkembangnya kegiatan riset merupakan akibat langsung dari kegiatan inovasi dan kreasi kita.

Kegiatan riset akan otomatis berkembang apabila riset sudah menjadi kebutuhan industri, pemerintah, atau kegiatan masyarakat lain. Masalahnya, sebagian besar industri kita tidak membutuhkan riset. Pemerintah juga tidak begitu membutuhkan hasil riset dalam menjalankan amanat pembangunan bangsa. Kegiatan masyarakat pun sebagian besar juga tidak membutuhkan riset. Oleh karena itu, masalahnya menjadi sangat sederhana, yakni bahwa riset kita tidak berkembang karena memang tidak begitu dibutuhkan.

Dengan situasi ini, kegiatan riset kehilangan geloranya karena sebagian besar dilakukan hanya demi memperoleh pengakuan akademik dan tidak terkait langsung dengan persoalan konkret kegiatan kreasi dan inovasi di industri. Akibatnya, aspek teknis dan formalitas lebih dominan ketimbang terjadinya siklus otentik riset, yakni masalah, teori, solusi, dan aplikasi yang terus maju secara bertahap.

Keadaan akan menjadi sangat berbeda apabila sejak awal kita memakai strategi kemandirian atau swadaya dalam pembangunan bangsa. Jika strategi ini kita pakai, kegiatan inovasi dan kreasi kita harus bersifat mandiri dan sesedikit mungkin mengambil jalan pintas dengan mengimpor teknologi. Memang, strategi swadaya tidak akan mampu menghasilkan pembangunan yang cepat dan gemerlap.

 

Strategi Swadesi

Kita dapat mencontoh India yang sejak zaman Gandhi setia memakai strategi swadesi. Meskipun strategi ini memaksa rakyat India memakai mobil yang ketinggalan zaman selama puluhan tahun, sekarang India sudah bisa mengekspor mobil ke Indonesia. Saya kira, strategi swadesilah yang telah mengantar India sebagai negara yang unggul di bidang riset dan teknologi angkasa.

Hal yang sama terjadi di Korea Selatan. Karena sebelumnya dijajah Jepang, bangsa Korea tidak suka pada produk Jepang. Akibatnya, bangsa Korea Selatan mempunyai keteguhan untuk mandiri sejak merdeka. Hasilnya, sekarang Korea Selatan menjadi salah satu negara maju dan menghasilkan banyak produk inovatif. Sejarah mencatat bahwa Korea dan Indonesia mendapat kemerdekaan pada tahun yang hampir bersamaan dan waktu itu sama-sama sebagai salah satu negara termiskin di dunia.

Meskipun agak terlambat, masih banyak bidang pembangunan yang dapat kita kelola secara swasembada. Bidang yang sangat relevan dan kontekstual bagi pembangunan Indonesia adalah pertanian, budidaya laut, kehutanan, dan pengolahan sumber daya alam. Berkembangnya industri di bidang ini secara swasembada akan memacu berkembangnya kegiatan riset yang kontekstual dan sangat bermanfaat bagi bangsa Indonesia.

Dengan cara pandang ini, rekomendasi yang diberikan para ahli yang terlibat dalam diskusi Kompas perlu dilengkapi sebuah rekomendasi lain di di wilayah yang lebih bersifat struktural dan mendasar, yakni perubahan paradigma pembangunan kita. Yang kita butuhkan bukan hanya perubahan tata kelola riset, melainkan lebih daripada itu, yakni perubahan mendasar dalam kegiatan riset kita.

Namun, perlu kita sadari bahwa perubahan paradigma pembangunan menuntut perubahan banyak hal, khususnya terhadap apa yang menjadi tanggung jawab pemerintah. Secara umum, industri hanya akan berkembang di Indonesia apabila pemerintah mampu mewujudkan iklim usaha dan investasi yang kondusif. Hal ini berarti menuntut terciptanya sistem politik dan birokrasi yang akuntabel, transparan, dan berorientasi kepada kepentingan umum. Kita sudah memperjuangkan itu sejak gerakan reformasi bergurlir pada tahun 1998, tetapi hasilnya belum signifikan sampai sekarang. Reformasi birokrasi yang mestinya sangat mungkin dilakukan dan menjadi kunci berkembangnya industri malah sudah lama tidak terdengar gaungnya. Riset hanya akan berkembang optimal jika didukung oleh sistem dan kultur masyarakat akademik yang sesuai. Iklim riset yang baik memerlukan sistem nilai yang menghargai kejujuran, keterbukaan, dan kritik. Nilai-nilai ini masih perlu kita bangun karena baru di era Reformasi kita bisa leluasa memperjuangkannya.

Reformasi yang masih berusia kurang dari 20 tahun belum cukup bagi berkembangnya nilai-nilai tersebut. Nilai-nilai keutamaan riset ini harus terus kita kembangkan dalam sistem pendidikan kita karena akan menjadi fondasi tata nilai asosiasi keilmuan yang dapat terus berkembang baik.

Asosiasi keilmuan yang menghargai kejujuran, keterbukaan, dan kritik akan menjadi ekosistem yang subur bagi berkembangnya kegiatan riset di Indonesia. Ini sangat penting karena berkembangnya budaya riset akan dipengaruhi oleh kualitas relasi yang dibangun di antara pihak yang terlibat dalam jejaring di asosiasi ini. Kita meyakini bahwa kualitas relasi itu dipengaruhi oleh berkembangnya nilai-nilai tersebut. Namun, dalam konteks reformasi demokrasi dan politik saat ini, asosiasi keilmuan harus berani mengambil jarak dari kepentingan politik meskipun sangat ekonomis.

Nilai-nilai keutamaan riset akan luntur apabila kepentingan politik sudah menjadi agenda asosiasi keilmuan. Hanya lewat berkembangnya asosiasi keilmuan yang baik dan terbebas dari kepentingan politik, kita akan mampu melahirkan periset andal yang rela menggali kebenaran seraya tekun menghidupi etos keilmuan.

 

Sumber: Kompas, 27 September 2016

Visi Pembanguan SDM Riset Menua dan Kurang Berkualitas

SDM Riset Menua dan Kurang Berkualitas. Kompas.20 September 2016.Hal. 1,15

Jakarta, kompas – Anggaran riset Indonesia ada di posisi paling rendah di antara negara anggota G-20. Banyak soal mendasar membelit dunia riset Tanah Air, mulai dari rendahnya kualitas periset, peneliti yang menua, tidak menariknya dunia riset, hingga sistem pendidikan yang tidak mendukung. Menambah anggaran hingga 2 persen dari produk domestik brutopun tidak otomatis akan menyelesaikan masalah.

Dari sisi jumlah pegawai, ada ribuan orang bekerja di beberapa lembaga riset. Namun, yang melakukan riset sangat terbatas. Lebih dari separuh pegawai adalah tenaga pendukung. Akibatnya, meskipun ditambah besar-besaran, dana riset tak akan banyak terserap dan mampu menarik banyak peneliti. Di perguruan tinggi, kondisinya relatif sama. Banyak dosen terfokus pada pengajaran atau sibuk menjadi konsultan sejumlah proyek. Meski pemerintah sudah menyediakan dana riset memadai, tetap saja tak termanfaatkan semua.

“Indoneisa kekurangan peneliti,” kata Wakil Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia Satryo Soemantri Brodjonegoro dalam diskusi “Masa Kini dan Masa Depan Riset dan teknologi Indonesia” yang diadakan Kompas di Jakarta, Rabu (14/9). Lihat saja posisi Indonesia di antara negara anggota G-20. Jumlah peneliti di Indonesia paling kecil, hanya 89 orang per 1 juta penduduk. Bandingkn dengan Korea Selatan dengan 6.899 peneliti per 1 juta penduduk. Di ASEAN, Indonesia juga jauh tertinggal dibandingkan jawara riset ASEAN, Singapura, yang punya 6.658 peneliti per 1 juta penduduk (UNESCO, 2016).

Selain jumlahnya kecil, kualitasnya pun relatif rendah. Di antara Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), serta Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), hanya BPPT yang 10 persen pegawainya berpendidikan doktor, sedangkan di Lapan hanya 2 persen. Di sejumlah negara maju hanya peneliti berkualitas doktor yang meneliti, lalu dibantu peneliti berpendidikan magister dan sarjana. “Di Indonesia, sarjana sudah meneliti,” kata Kepala BPPT Unggul Priyanto.

Pentingnya peneliti berkualitas doktor juga diungkapkan Kepala Bidang Teknologi Radiofarmaka Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka Batan Rohadi Awaludin. Pendidikan strata tiga merupakan landasan untuk membentuk kemtangan intelektual dan memperluas jejaring dengan ilmuwan dunia. “Periset butuh kematangan intelektual agar mampu menemukan dan menyelesaikan masalah dengan kaidah ilmiah yang benar,” katanya.

Minat menjadi peneliti

            Sejumlah kondisi yang ada saat ini diperintah kualitas sebagian besar pelamar di lembaga riset. Mereka bukan yang berkualitas terunggul. Di BPPT, kata Unggul, sangat sulit mendapatkan pelamar lulusan Institut Teknologi Bandung yang masih dianggaps sebagai perguruan tinggi teknik terbaik di Indonesia. Jika ada, biasanya tak bertahan lama. Banyak lulusan terbaik perguruan tinggi Indonesia memiliki bekerja di sektor industri. Keberadaan mereka sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk mendukung riset. Masalahnya, sangat jarang industri Indonesia mau melakukan riset dan lebih memilih membeli membeli teknologi. Sementara itu, banyak pula pelamar di lembaga riset dengan minat meriset rendah. Tak jarang, mereka hanya mencari pekerjaan sebagai PNS. Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain menilai salah satu pemicu rendahnya kualitas peneliti adalah kurang kenalnya siswa dengan dunia riset sehingga minat jadi peneliti rendah. Mahasiswa baru mengenal riset saat skripsi, itu pun untuk memenuhi syarat kelulusan. “Tak ada informasi jelas dan komprehensif tentang dunia penelitian,” katanya.

Menua

Tenaga peneliti di sejumlah lembaga riset juga menua. Sekitar separuh tenaga di LIPI, BPPT, Batan, dan Lapan berumur lebih dari 45 tahun. Bahkan, di Batan hampir 70 persennya. Moratorium perekrutan pegawai yang juga berlaku di lembaga riset mengancam regenerasi periset sehingga membuat rencana riset tidak berkelnnjutan. Kepala Batan Djarot S Wisnubroto mengatakan, umur rata-rata pegawai Batan saat ini 48 tahun. Bahkan, di Batan Yogyakarta, 44 persen pegawainya berumur lebih dari 56 tahun. Dalam tiga tahuun mendatang, sekitar 600 orang atau 22 persen pegawai Batan akan pensiun. “Usia menua berdampak pada rendahnya inovasi. Itu hukum alam,” katanya. Menyekolahkan pun sulit karena melanjutkan pendidikan ke jenjang strata dua dan strata tiga dibatasi umur. Untuk saat ini, regenerasi peneliti di lembaga riset mendesak, selain membangun budaya, riset bangasa sejak dini.

 

Sumber: Kompas. 20 September 2016

Visi Pembanguan Risert dan Inovasi Tak Terserah

Riset dan Inovasi Tak Terarah. Kompas. 19 September 2016.Hal.1,15

Jakarta, Kompas – Riset dan inovasi merupakan syarat utama meningkatkan produktivitas dan daya asing bangsa. Saat semua negara berlomba meningkatkan anggaran riset, Indonesia justru memangkas anggarannya yang sudah kecil. Keberlanjutan pembangunan ekonomi dan kemandirian bangsa terancam. Di antara negara-negara dengan ekonomi tangguh anggota G-20, hanya Indonesia dan Arab Saudi yang anggaran risetnya kecil, yaitu 0,1 persen dari produk domestik bruto (data UNESCO 2016). Tanpa riset, tak ada inovasi. Tanpa inovasi, bangsa akan sangat bergantung pada produk teknologi bangsa-bangsa lain.

Lihat saja, betapa teknologi negara lain menguasi Indonesia, mulai dari telepon seluler, otomotif, hingga teknologi tinggi. Padahal, peneliti, perekayasa, dan industri Indonesia mampu membuat sebagian besar produk tersebut. “Butuh perubahan sistem yang signifikan dalam pengebangan riset di Indonesia,” kata Wakil Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Satryo Soemantri Brodjonegoro dalam diskusi “Masa kini dan Masa Depan Riset dan Teknologi Indonesia” yang diselenggarakan Kompas di Jakarta, Rabu (14/9). Diskusi diadakan dua kali. Diskusi pertama menghadirkan Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaludin, Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Djarot S wisnubroto, dan Ketua Dewan Riset Nasional (DRN) Bambang Setiadi.

Diskusi kedua menghadirkan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Iskandar Zulkarnain, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Unggul Priyanto, Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset. Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristek dan Dikti) Muhammad Dimyanti, serta Satryo Soemantri Brodjonegoro dari AIPI. Meskipun anggaran riset kecil, 74 persennya masih terkumpul dari pemerintah dan perguruan tinggi. Hanya 26 peren dari sektor binis. Itu berbanding terbalik dengan situasi negara maju, seperti Korea Selatan yang 78 persen anggaran risetnya ditopang industri, “Artinya, riset di negara maju berbasis kebutuhan industri,” kata Satryo.

Indonesia sebenarnya mampu membuat produk-produk teknologi meski pada fase awal kualitasnya belum sepadan produk negara maju. Namun, keberpihakan negara untuk memberdayakan produksi bangsa sendiri diperlukan guna memicu riset dan inovasi baru hingga mampu menghasilkan produk unggul. “Inovasi anak bangsa belum menjadi tuan di negerinya sendiri karena 58 persen sumber teknologi Indonesia dari luar negeri,” kata Dimyati. Bambang mengingatkan, yang di takuti negara lain dari Indonesia bukanlah jumlah publikasi atau doktor. “Mereka takut jika Indonesia berkomitmen menggunakan hasil risetnya,” katanya. Anggaran riset kecil tecermin dari keterbatasan sarana dan prasarana riset di sejumlah lembaga. Keterbatasan itu bukan hanya pada peralatan penelitian yang mahal dan berteknologi tinggi, melainkan juga pada infrastruktur dasar seperti listrik.

Di Pusat Penelitian (Puslit) Biomaterial LIPI, daya listrik yang terpasang hanya 144 kilowatt (kw). Jika ada peneliti yang mengoperasikan alat hot press yang butuh data 30-40 Kw,peralatan riset lain distop operasi. Jika daya listrik dinaikkan, Puslit Biomaterial LIPI tidak akan sanggup membayar tagihan listrik yang saat ini berkisar Rp 25 juta hingga Rp 30 juta perbulan. Padahal, 80 persen proses riset di sana sangat bergantung pada pasokan listrik. “Untuk memberi hasil riset maksimal, pemerintah selayaknya mengupayakan dulu penyempurnaan fasilitas riset, bukan menuntut hasil,” kata peneliti biokomposit Puslit Biomaterial LIPI, Ismadi.

Pemotongan

            Meski anggaran riset sekarang kecil, pemerintah masih memangkas demi keseimbangan anggaran negara. Selama 2016, pemerintah sudah dua kali memotong anggaran lembaga negara, yaitu sebelum APBN Perubahan 2016 ditetapkan dan akhir Agustus. Kini, muncul wacana pemotongan ketiga. Pemotongan membuat lembaga riset memangkas dna riset karena tak mungkin mengurangi anggaran gaji pegawai dan operasional lembaga. Akibatnya, lembaga riset mengubah rencana dan menjadwal ulang agenda riset. Menurut Thomas, anggaran Lapan 2016 setelah dua kali dipangkas susut 15 persen dari Rp 777,5 miliar menjadi Rp 664 miliar. Itu membuat Lapan menunda pembelian citra satelit resolusi tinggi untuk pemetaan kawasan dan perencanaan tata ruang wilayah. Pengembangan roket sonda untuk penelitian juga dihentikan sementara. Sementara anggaran Batan terpangkas 8 persen dari Rp 814,9 miliar jadi Rp 748,7 miliar. “Meski kecil, dampaknya tetap signifikan karena dana riset murni Batan hanya 11 persen dari total anggaran Batan,” ujar Djarot.

Pemotongan dana riset di tengah tahun anggaran, kata Unggul, memperumit pertanggungjawaban anggaran riset. Proyek riset yang sudah dalam tahap belanja bahan dan tak bisa dilanjutkan karena kekurangan dana justru bisa dianggap sebagai pemborosan. “Itu bisa jadi temuan kasus korupsi oleh Badan Pemeriksa Keuangan,” katanya. Pemangkasan anggaran lembaga riset itu menunjukkan kebijakan anggaran riset disamakan dengan anggaran lembaga atau kementerian lain. Itu menunjukkan pemerintah kurang peduli pada riset. Tertundanya sejumlah rencana riset membuat Idonesia masih akan lebih lama mencapai kemandirian teknologi. Tanpa riset, tidak akan ada inovasi dan tanpa inovasi, tidak mungkin daya saing bangsa terbangun. “Padahal peningkatan daya saing dan produktivitas sumber daya manusia merupakan salah satu program Nawacita Presiden Joko Widodo,” ujar Bambang.

Tak terkoordinasi

Selain terkendala anggaran, koordinasi antarlembaga riset di Indonesia hingga kini masih jadi persoalan yang sulit dipecahkan. Egosektoral masih menjadi kendala yang membuat banyak hasil penelitian tidak tersosialisasikan dan termanfaatkan baik. Sebagai contoh, Batan memiliki penelitian binih padi varietas unggul, tetapi tak termanfaatkan karena Kementan lebih memprioritaskan varietas padi unggul hasil riset Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Pertanian Kementan. Karena itu, Iskandar mengusulkan agar balitbang di kementerian teknis dilebur dengan lembaga riset pemerintah. Selain mengurangi egosektoral dan meningkatkan kemanfaatan hasil riset, upaya itu akan membuat pemanfaatan dana riset yang kecil lebih fokus dan efisien sesuai agenda nasional.

Sejumlah persoalan yang mengimpit dunia riset Indonesia itu diakui Dimyati. Namun, pemerintah sudah berusaha membuat sejumlah kebijakan baru untuk memperbaiki iklim riset, seperti pertanggungjawaban anggaran riset yang didanai Kemenristek dan Dikti tak lagi berbasis kegiatan, tetapi hasil atau keluaran mulai tahun 2017. Meski demikian pemerintah belum optimal sehingga suasana riset Indonesia masih terlihat suram dibandingan dengan negara lain. Persoalan riset Indonesia tidak bisa diselesaikan hanya oleh Kemristek dan Dikti karena masalah yang membelit tersebar lintasan kementerian dan lembaga. Saat ini, komunitas riset Indonesia berharap ada visi kuat dan kepemimpinan nyata dari Presiden Joko Widodo untuk pengembangan riset dan inovasi di Indonesia. Hanya dengan keberpiahakan semacam itu, Indonesia bisa meningkatkan daya saingnya dan sejajar dengan bangsa maju.

 

Sumber: Kompas. 19 September 2016

Visi Pembanguan Perbaikan Sistem Riset Mendesak

Perbaikan Sistem Riset Mendesak. Kompas.21 September 2016.Hal.1,15

Jakarta, Kompas – Tidak ada bangsa maju dan berdaya saing tanpa didukung riset dan inovasi. Hanya dengan riset dan inovasi terarah, pembangunan ekonomi Indonesia berkelanjutan dan bernilai tinggi. Untuk itu, perbaikan dan penataan sistem riset beserta sistem pendukungnya mendesak dilakukan. Pengembangan riset melibatkan banyak lembaga, investasi besar, berdimensi jangka panjang, dan butuh kepastian agar berkesinambungan riset dan teknologi guna mendorong inovasi harus menjadi visi setiap pemimpin Indonesia. Pentingnya keberpihakan Presiden terhadap pengembangan riset dan teknologi itu diungkapkan semua komunitas riset yang hadir dalam diskusi “Masa Kini dan Masa Depan Riset dan Teknologi Indonesia” yang diselenggarakan Kompas di Jakarta, Selasa (6/9) dan Rabu (14/9).

“Butuh saling kepercayaan untuk menjadikan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) berpengaruh signifikan dalam pembangunan dan itu butuh keputusan politik Presiden yang berpihak pada riset,” kata Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Muhammadi Dimyati. Secara terpisah, profesor riset bidang kebijakan iptek di Pusat Penelitian Perkembangan Iptek Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Erman Aminullah, Selasa (20/9), mengatakan, pengalaman pada era BJ Habibie menunjukkan, visi jelas dan keberpihakan pemerintah mendorong pengarusutamaan iptek dalam pembangunan. Saat itu sejumlah infrastruktur pendukung riset dibangun. Banyak siswa dan peneliti disekolahkan ke luar negeri dengan harapan saat selesai mampu.

Perbaikan Sistem Riset Mendesak

Mengembangkan riset Indonesia. Anggaran riset pun memadai. Meski demikian, Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain mengingatkan, mengembangkan iptek tak bisa lagi bertumpu pada figur tertentu karena tak akan berkelanjutan. Sistem yang mendukung iptek harus dibangun. “Pemahaman pentingya iptek harus dimiliki semua lembaga, termasuk DPR dan Kementerian Keuangan, yang turut menentukan anggaran riset,” katanya. Selain itu, penataan lembaga riset yang tersebar di lembaga riset, kementerian, dan perguruan tinggi harus dilakukan. Penataan memutus ego sektoral, tumpang tindih materi dan optimalisasi anggaran yang kecil.

Untuk menjaga agar riset dan pengembangan teknologi Indonesia terarah dan berdaya ungkit maksimal, pemerintah menyusun Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) 2015-2045. Peta jalan itu diharap diacu semua lembaga terkait riset. Konsistensi pelaksanaan peta jalan riset itu akan menjadi tantangan. “Agar berkelanjutan, RIRN diharapkan bisa segera ditetapkan dengan peraturan presiden,” kata Dimyati.

Butuh terobosan

Pemerintah sudah berupaya memperbaiki iklim riset, mulai dari mendorong peningkatan anggaran, memperkuat lembaga, mengadvokasi sejumlah kebijakan terkait riset di pemerintah dan DPR, hingga meniru pola negara maju untuk pengembangan iptek. Namun, itu belum optimal. “Ada keterbatasan pemerintah sehingga peningkatan pengembangan riset dan inovasi belum signifikan. Harus ada terobosan,” kata Erman. Beberapa upaya juga tidak berkelanjutan, seperti program ABG (academic, busuness, goverment) untuk mendorong keterlibatan industri dalam riset dan hilirisasi hasil riset. Konsep ABG di Jepang menjadikan Jepang sebagai kekuatan otomotif dunia, di Indonesia, intensitas penerapan program itu tidak stabil. Ketidakonsistenan penerapan program pengembangan iptek juga terlihat dari terbatasanya pengembangan dan optimalisasi pemanfaatan peralatan dan fasilitas riset. Padahal untuk meriset dan menghasilkan inovasi butuh pembaruan terus-menurus. Banyak peralatan dan fasilitas yang dibangun di era Habibie tak ada revitalisasi. Selain itu, banyak fasilitas yang dibangun belum dimanfaatkan optimal lembaga lain, termasuk perguruan tinggi.

Dengan anggaran dan sumber daya manusia riset yanag terbatas, prioritas riset yang ditetapkan pemerintah harus dijalankan konsisten. Dengan kekayaan hayati melimpah di darat dan laut, ketersediaan peneliti dalam jumlah dan kualitas memadai, maka riset bidang keanekaragaman hayati, baik untuk program ketahanan pangan maupun energi harus, menjadi prioritas. “Namun, pengembangannya harus tetap dalam konteks ABG sehingga antara industri dengan lembaga riset dan perguruan tinggi saling membutuhkan serta menguntungkan,” kata Erman.

 

Sumber: Kompas. 21 September 2016

Bahrudin Pengerak Kesadaran Bersanitasi

Penggerak Kesadaran Bersanitasi. Kompas. 6 September 2016. Hal.16

Sore yang cerah pada akhir Agustus lalu. Ustaz Bahrudin (51) tengah mengenakan baju koko putih bersih, peci hitam di kepala, dan sorban di pundak. Ia bersiap  memberikan ceramah di kelompok pengajian ibu-ibu di Desa Gumuk Mas, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pringsewu, Lampung.

Oleh: Angger Putranto

Puluhan ibu-ibu sudah menunggu kedatangan Ustaz Bahrudin sembari membaca shawalat. Setelah tiba, ustaz itu segera mengambil posisi, mengucapkan salam dan shawalat, lantas memulai ceramah.

Serupa dengan sore-sore lainnya, di hadapan Jemaah, Bahrudin membawakan tema kesehatan dan kebersihan. Dia mengingatkan umat Islam bisa beribadah dengan khusyuk dan bekerja dengan giat jika dalam keadaan sehat.

Salah satu cara menjadi sehat ialah dengan menjaga kesehatan diri dan lingkungan sekitar. “Allah menyukai orang yang bertobat dan orang-orang yang membersihkan diri. membersihkan diri itu berkaitan dengan membersihkan badan dan lingkungan kita,” ujarnya.

Bahrudin adalah pengasuh Majelis Talkim Al-Khoir dan Al-Hikmah. Tak terbatas di kelompoknya, ia rajin mengisi berbagai acara pengajian di sejumlah tempat di Kabupaten Pringsewu dan sekitarnya.

Ayahny, Kiai Tohir, adalah penggagas berdirinya Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Lampung. Karena itu, sejak kecil Bahrudin hidup di lingkungan pondok pesantren dan telah digembleng ilmu agama.

Namun, ada sesuatu yang berbeda dengan Bahrudin dibandingkan dengan ustaz-ustaz lain. Dalam setiap ceramah, ia biasa menyisipkan pesan tentang pentingnya menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan.

Sanitasi menjadi salah satu tema yang paling kerap ia bawakan. Ajakan untuk mengutamakan kesehatan menjadi salah satu ajaran yang rajin ia gaungkan di depan jemaah.

“Salah satu bentuk nyata perbuatan zalim ialah dengan tidak menjaga kebersihan lingkungan,” ujarnya.

Ia mengingatkan, Islam menganjurkan agar menjaga kebersihan. Kewajiban untuk wudu, misalnya merupakan cerminan Islam sangat mengutamakan kebersihan.

Karena itu membuang sampah sembarangan, buang air besar sembarangan, dan berbagai tindakan pencemaran lingkungan merupakan perbuatan zalim. Tindakan tersebut berpotensi merugikan, menyakiti, dan melukai orang lain.

Bahrudin mencontohkan, buang air besar sembarangan sebagai tindakan zalim karana kuman atau bakteri dari kotoran manusia itu bisa menjadi penyakit bagi orang lain. Di depan ibu-ibu pengajian yang hadir saat itu, Bahrudin mengatakan kotoran manusia bisa membawa berbagai penyakit, salah satunya diare.

Guna membuat pesannya mudah diingat jemaah yang hadir, ia membuat slogan menarik. “Dandane memblong-memblong, omahe magrong-magrong, mobile kinclong-kinclong, tetapi mbuange ning mbalong (kolam), sama aja bohong. (Riasannya menor, rumahnya megah, mobilnya mengilap, tetapi buat air besar sembarangan, sama saja bohong),” ucapnya.

Pengalaman buruk

            Sehari-hari Bahrudin bekerja sebagai petani, ia juga menjadi guru agama Islam dan aktif sebagai Ketua Nahdlatul Ulama Kecamatan Pagelaran, Pringsewu.

Hidupnya berangsung berubah pada 2013 ketika ia direkrut menjadi salah satu anggota tim Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) pada 2013. Ia disadarkan kondisi lingkungan dan masyarakat di sekitarnya yang masih kerap membuang sampah sembarangan dan buang air sembarangan.

Ia masih kerap menemui tetangga yang buang air besar di kolam atau di sungai. Tak jarang ia juga menemukan tetangganya yang sudah memiliki kamar mandi bagus, tetapi saluran pembuangannya dialirkan ke sungai  atau ke kolam.

Keresahan ini membuatnya merenung. Ia lantas membuka buku-buku agama. Di sana ia menemukan, Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga kebersihan lingkungan. Dari permenungan itulah, ia memutuskan memulai upaya penyadaran masyarakat melalui menyampaikan dakwah dengan materi kebersihan lingkungan, kesehatan, dan sanitasi.

Keinginannya menyadarkan masyarakat tentang kebersihan juga tidak dapat dilepaskan dari pengalaman buruknya saat kecil. “Orangtua saya memiliki 11 anak. Namun, hanya 5 yang bisa bertahan hidup. Keenam saudara saya meninggal saat masih bayi,” katanya.

Bahrudin menduga, kematian keenam saudaranya akibat kebersihan lingkungan yang buruk di sekitar rumahnya saat itu. Pasalnya, kolam ikan keluarga Bahrudin merupakan tempat buang air besar untuk orang sekampung. Lebih parahnya lagi, ikan-ikan dalam kolam itu biasa dikonsumsi keluarganya.

H BAHRUDIN

  • Istri: Hj Enis Sabanyah (44)
  • Anak:
  • Didin Rosidin
  • Ifa Latifah Hilyah
  • Pendidikan:
  • SDN Fajarbaru, Lampung Selatan
  • SMPN Banyumas, Pringsewu
  • PGAN Bandar Lampung
  • Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bandar Lampung
  • Kegiatan
  • Guru Agama Islam serta Guru Fikih dan Hadis
  • Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Pagelaran
  • Tokoh Kesehatan 2015 Kabupaten Pringsewu (2015)
  • Mewakili Provinsi Lampung dalam Konferensi Air Minum dan Sanitasi (2016)
  • Anggota Tim STBM Kecamatan Pagelaran

Baru beberapa tahun belakangan Bahrudin paham, kotoran manusia itu membawa penyakit yang bisa menyerang siapa saja, terutama bayi yang masih l                  emah. “Cukup keluarga saya saja yang mengalami. Saya tidak ingin orang-orang di sekitar saya kehilangan putra-putri kesayangannya yang masih bayi, karena kebersihan lingkungan yang buruk,” ujarnya.

Bahrudin mengatakan, upaya penyadaran kebersihan harus bermula dari keluarga. Oleh karena itu, ia segera memberi contoh dengan membangun septic tank yang layak agar tidak menyebarkan penyakit bagi tetangganya.

Tak cukup sampai di situ, tetangga di sekitar rumahnya juga menjadi sasaran utama untuk menyosialisasikan pentingnya sanitasi. Dia mengajak orang-orang di rumahnya dan sekitarnya untuk bersama-sama menjaga kesehatan dan mencegah penyakit yang rentan muncul akibat lingkungan yang tak bersih.

Kampanye sanitasi

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, pada 2015 masih ada 45 persen atau sekitar 3 juta lebih warga dari total dari 8.196.162 jiwa penduduk Lampung yang masih kerap buang air besar sembarangan. Salah satu daerah yang warganya masih kerap buang air besar sembarangan ialah Kabupaten Pringsewu, tempat Bahrudin tinggal.

Dari kenyataan tersebut, Stichting Nederlanse Vrijwilligers (SNV), lembaga dari Belanda, memilih Pringsewu menjadi salah satu daerah proyek mereka. Bahrudin digandeng menjadi salah satu juru kampanye program tersebut.

Di sejumlah tempat, program dan kampanye sanitasi yang disiarkan Bahrudin sudah mulai menunjukkan hasil positif . sejumlah warga mulai tergerak untuk membangun jamban yang sehar.

Namun, Bahrudin mengakui tak mudah menyebarkan virus positif tersebut. “Penolakan biasa saya temui. Alasan selalu klasik, apalagi kalau bukan masalah ekonomi. Namun, ia selalu punya cara untuk menularkan sesuatu yang baik tersebut,” ujarnya.

Bahrudin, tim STMB, dan SNV menawarkan beberapa solusi. Mereka mengajak masyarakat untuk arisan pembuatan jamban sehat, memberikan pelatihan pembuatan septic tank, membangun jamban murah dengan kualitas tinggi, dan berbagai upaya lain.

Bagi Bahrudin, perjuangan untuk menciptakan lingkungan bersih merupakan upaya yang tak kenal kata lelah. Sebuah perjuangan yang harus dilakukan terfokus. Tujuannya jelas, yaitu meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.

Sumber: Kompas, Selasa 6 September 2016

Akhmad Supriyatna Mengatasi Anak Putus Sekolah

Mengatasi Anak Putus Sekolah. Kompas. 8 September 2016.Hal.16

Demi menyambung pendidikan remaja kurang mampu di Desa Rancasumur, Kecamatan Kopo, Kabupaten Serang, Banten, Akhmad Supriyatna (49) nekat mendirikan Sekolah Menengah Atas Bina Putera. Ia menggenjot semangat belajar anak muda sembari mempertahankan kepercayaan para penyandang dana. Kini, banyak anak bersekolah, bahkan sebagian melanjutkan kuliah.

Oleh: Dwi Bayu Radius

Meski berasal dari keluarga bertaraf hidup di bawah rata-rata, murid Sekolah Menengah Atas (SMA) Bima Putera punya banyak prestasi. Saat Kompas mengunjungi SMA itu pertengah Agustus lalu, piala-piala tampak berderet di rak.

Kebanyakan dari piala tersebut diraih dari kejuaraan olahraga, seperti bulu tangkis, voli, atletik, dan marathon. Para siswa Bina Putera memiliki fisik prima karena terbiasa dengan kegiatan di luar kelas. Kegiatan ini juga yang menempa mereka sehingga memiliki karakter yang matang.

Tidak hanya di bidang olahraga, para murid itu juga kreatif mengembangkan teknologi serta mengolah berbagai produk dan kerajinan. Itu terlihat dari penemuan mereka dalam mengolah tempe hemat energi, mengawetkan tahu secara alami tanpa formalin, memanen kangkong, dan menjahit. “Banyak teman ngeledek, Bina Putera itu SMA atau SMK (sekolah menengah kejuruan)? Saya menyebutnya kampung belajar,” ujar Supriyatna sambil tersenyum.

Jumlah murid Bina Putera sekitar 260 orang. Semangat sebagian remaja di Kopo untuk belajar sebenarnya termasuk rendah. Kodisi tersebut menciptakan dilema. Remaja putus sekolah akan lontang-lantung, berisiko terjerumus narkoba, hingga terlibat kriminalitas.

“Di sini budayanya, ngapain sekolah? Saya harus yakinkan mereka, sekolah itu bermanfaat. Ketika sudah masuk sekolah, saya harus menjaga semangat mereka,” katanya. Di sisi lain, mereka yang masih ingin melanjutkan pendidikan terbentur ketidakmampuan membayar iuran sekolah.

“Kata orang, remaja di sini tidak siap bersekolah, tetapi kalau dibiarkan, mereka akan menghabiskan energi dengan kegiatan yang tidak konstruktif,” ucapnya.

Rasa memiliki yang kuat terhadap lingkungannya membuat Supriyatna merasa bertanggung jawab untuk mengentaskan remaja putus sekolah. “Tugas murid hanya belajar. Mencari biaya sekolah dan pihak yang mau membantu adalah tugas kami,” ucapnya.

Biaya yang dibutuhkan dari setiap murid agar sekolah bisa beroperasi sebesar Rp 350.000. Jika orangtua murid dikenai biaya sebesar itu, mereka tak akan mampu membayarnya. Iuran yang ditarik hanya Rp 50.000 per bulan dan tidak pernah naik sejak SMA Bina Putera didirikan pada 2003.

“Kami sudah survei. Kalau lebih dari itu, orangtua berat membayarnya. Itupun kalau mampu. Kalau mereka minta dibebaskan dari biaya, kami carikan donator,” ucapnya.

Gundah

            Pembentukan SMA Bina Putera berasal dari kegundahan orangtua dan lulusan sekolah menengah pertama setempat yang ingin melanjutkan pendidikan. Jarak SMA terdekat berada di Kecamatan Jawilan, Kabupaten Serang, sekitar 10 kilometer. Tidak ada angkutan umum ke SMA itu.

Sekolah lain, yakni SMA di Rangkasbitung, ibu kota Kabupaten Lebak, Banten, berjarak 17 kilometer. Transportasi publik yang tersedia hanya kereta. “Muncul ide, mengapa tidak mendirikan SMA saja. Waktu itu, saya masih tinggal di Bogor (Jawa Barat),” katanya.

Ternyata, pengelola SMP setempat manaruh harapan kepada Supriyatna. Dia mulai mewujudkan keinginan itu. Sekolah didirikan di lahan hibah dari masyarakat. “Lahan seluas 1 hektar dititipkan kepada saya. Jadi, saya tidak bisa lari,” ucapnya.

Berkat jaringan pertemanan, Supriyatna mengenal anggota komunitas sepeda motor besar. Dia berhasil meyakinkan anggota komunitas itu untuk berkunjung ke lahan tersebut. “Kebiasaan mereka, kalau berkunjung ke suatu daerah, pasti mengadakan bakti sosial,” ucapnya.

Mereka datang dengan berkonvoi dan menyumbang Rp 43 juta. Selanjutnya, beberapa anggota komunitas sepeda motor besar menanyakan kemajuan pembangunan sekolah dan memberikan sumbangan lagi. Uang yang terkumpul digunakan untuk membangun tiga kelas.

Sekolah pun dimulai dengan 38 murid saja. Sesekali, mereka ikut membantu membersihkan lahan yang sebelumnya masih berupa hutan. Kiprah Supriyatna menarik BRI. Dia diminta menyelesaikan pembangunan SMA Bina Putera. Donator lain memberikan 20 kambing untuk dikembangbiakkan dan dijual.

AKHMAD SUPRIYATNA

  • Lahir: Serang, Banten, 30 Maret 1967
  • Istri: Eka Nurwulan Asriani (47)
  • Anak:
  • Akhmad Reza Fathan (23)
  • Fia Fathiana Wulan (18)
  • Akhmad Rafif Fathian (10)
  • Pendidikan:
  • SDN 1 Kopo, Kabupaten Serang, Banten
  • SMP PGRI Kopo, Kabupaten Serang, Banten
  • SMAN 2 Kota Serang, Banten
  • S-1 Jurusan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB)
  • Program Studi Teknologi Pembelajaran Pascasarjana Universitas Sultan Agen Tirtayasa (Untirta) Serang.

Reputasi yang bisa dijaga membuat Bina Putera mendapatkan sumbangan Rp 150 juta lagi untuk membeli lahan. Luas SMA itu bertambah menjadi 3,5 hektar sejak tahun 2010. Pemerintah Kabupaten Serang juga memberikan bantuan untuk membangun dua kelas baru tahun 2011 dan dua kelas lagi tahun 2012.

Jarak SMA Bina Putera dari Kota Serang hanya 44 kilometer, tetapi kondisi infrastruktur membuatnya cukup terpencil. Akses dari jalan raya ke SMA itu masih berupa jalur tanah berbatu. Kemacetan dan perbaikan jalan membuat perjalanan dengan kendaraan pribadi harus ditempuh hingga dua jam.

Mandiri

            Namun, berbagai keterbatasan itu justru memicu murid-murid SMA Bina Putera menjadi mandiri. Mereka antara lain menjadi petugas kebersihan, penjaga toilet, dan resepsionis. “Kami tak punya uang untuk membayar cleaning service (petugas kebersihan). Maka murid-murid diberdayakan,” ucapnya.

Dia bersyukur, di tengah kekurangan pun, Bina Putera masih meraih penghargaan sekolah dengan indeks integritas penyelenggaraan ujian nasional yang tinggi dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2015. Sejumlah murid juga berhasil diterima di perguruan tinggi negeri.

Tahun 2016 ini, misalnya 2 murid diterima di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto, 1 orang di IAIN Salatiga, 4 orang di IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Serang, dan 2 murid diterima tanpa tes di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Serang.

Perguruan tinggi negeri lain yang dapat ditembus murid-murid Bina Putera adalah Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Supriyatna masih membantu hingga lulusan Bina Putra benar-benar bisa kuliah dengan lancar.

“Untuk ukuran kampung, mereka sangat memberikan harapan. Kalau mereka kuliah, saya harus cari dana. Saya menjembatani mahasiswa dengan donator,” katanya. Donator kemudian langsung berkomunikasi dengan lulusan Bina Putra. Mahasiswa-mahasiswa itu juga diupayakan mendapatkan beasiswa.

Ketika kami pantau, lulusan Bina Putra bisa bersaing. Ada yang meraih IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) 3,5,” ucapnya.

Padahal, sebelum mendirikan SMA Bina Putra, Supriyatna tak menyukai profesi guru karena nasib sebagian guru memprihatinkan. “Jadi, saya kualat. Teman-teman juga meledek. Orang biasanya ke kota, saya malah pulang kampung,” katanya sambil tertawa.

Sumber: Kompas, Kamis 8 September 2016