Shinta Widjaja Kamdani Agar Produk Luar Tak Berpesta di Rumah Kita

13 Januari 2016. Shinta Widjaja Kamdani tentang Penguatan Pasar Domestik_Agar Produk Luar tak Berpesta di Rumah Kita. Jawa Pos.13 Januari 2016.Hal.1,3

Konsumsi domestic selalu menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Daya dorong sector konsumsi pun diproyeksikan terus membesar seiring dengan akselerasi pertumbuhan masyarakat kelas menengah.

SINAR optimism berpendar kuat dari benak owner sekaligus CEO Sintesa Group Shinta Widjaja Kamdani. Sebuah keyakinan bahwa Indonesia akan tumbuh menjadi salah satu kekuatan ekonomi, bukan hanya di Asia, tapi juga dunia.

AGAR

            “Banyak proyeksi tentang kebangkitan ekonomi Indonesia. Saya percaya itu,” ujarnya saat ditemui di kantor Sintesa Group pada Desember 2015.

Pebisnis yang pada 2012 dan 2013 masuk jajaran Asia’s 50 Powerful Businesswoman atau 50 perempuan pengusaha paling berpengaruh di Asia versi Forbes itu pun menyebut hasil riset lembaga konsultan ternama, Boston Consulting Group (BCG). Pada 2013, BCG memang merilis hasil riset yang menjadi perhatian investor global. Itu terkait dengan proyeksi bahwa jumlah masyarakat kelas menengah di Indonesia yang pada 2013 sekitar 74 juta orang bakal melonjak hingga dua kali lipat sehingga menjadi 140 juta orang pada 2020.

Yang menarik, BCG juga menyebut fakta bahwa masuarakat kelas menengah di Indonesia memiliki level optimisme yang sangat tinggi, jauh di atas lebel kelas menengah di emerging market lain dari kelompok BRIC (Brasil, Rusia, India, dan China). Karena itu BCG pun tanpa ragu menyebut Indonesia sebagai Asia’s Next Big Opportunity atau peluang besar lain di Asia. “Dengan bonus demografi dan potensi ekonomi yang kita miliki, proyeksi BCG memang realistis,” kata Shinta.

Besarnya pasar kelas menengah memang menggiurkan. Ibarat raksasa lapar, kelompok itu akan menyerap beragam produk, mulai otomotif, gadget, fashion, makanan dan minuman, hingga berbagai jasa. Di mata Shinta, besarnya potensi itu menjadi peluang besar bagi pelaku usaha domestic. Namun, di tengah era perdagangan bebas, peluang besar tersebut sekaligus menjadi incaran pelaku usaha asing untuk menancapkan kuku penetrasi di Indonesia.

Menurut dia, tantangan nyata masa depan ekonomi Indonesia ada di depan mata. Yakni, bagaimana mengoptimalkan potensi besarnya pasar agar bisa dinikmati pelaku usaha domestic. “Artinya, produk dalam negeri harus bisa menang dalam negeri harus bisa menang dalam kompetisi. Jangan sampai produkluar yang justru berpesta di rumah kita,” ucap pebisnis kelahiran Jakarta, 9 Februari 1967, yang kini memimpin 17 perusahaan di bidang property, industry manufaktur, energy, dan consumer product tersebut.

Karena itu, daya saing menjadi mantra ampuh yang bakal menentukan sukses atau tidaknya produk Indonesia menjadi tuan di rumah di negeri sendiri. Apalagi, papar Shinta, pada era globalisasi ini, skema perdagangan bebas akan kian luas. Misalnya, setelah ASEAN –China Free Trade Agrement, mulai akhir Desember 2015 skema pasar bebas ASEAN (Masyarakat Ekonomi ASEAN) juga efeltif berlaku.

Pebisnis yang mendudui posisi wakil ketua umum Kamar Dagang dian Industri (Kadin) Indonesia (Apindo) itu mengakui, Indonesia masih harus bekerja keras meningkatkan daya saing. Dia menyebut, minimnya infrastruktur maupun rumitnya deregulasi memicu ekonomi biaya tinggi.

Dia mencontohkan, rata-rata pelaku usaha di Indonesia harus menganggung biaya transportasi hingga 20 persen dari harga produk. Padahal, di beberapa negara ASEAN lainnya, biaya transportasi bisa ditekan di kirsaran 7 persen. Akibatnya, dengan kualitas sama, harga produk asal Indonesia bisa lebih mahal jika dibandingkan dengan produk impor. “Ini yang saya sebut tantangan di depan mata,” ujar presiden Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) tersebut.

Namun, Shinta menyatakan bahwa para pelaku usaha di Indonesia adalah jenis yang tahan banting. Karena itu, meski bertahun-tahun menghadapi beragam kendala, mereka tetap mampu bertahan, bahkan bertumbuh. Karena itu, gelora optimism tak pernah redup.

Salah satu alasannya adalah gerak pemerintah di era Jokowi-JK, yang dinilainya sangat paham dengan mendesaknya kebutuhan perbaikan iklim investasi. Latar belakang keduanya sebagai pengusaha, menurut Shinta, menjadi salah satu kunci. Selain itu, keberanian politik untuk mengambil tindakan yang tidak popular seperti mengalihkan subsisidi bahan bakar minyak (BBM) ke sector infrastruktur maupun deregulasi dan debirokratisasi layak diapresiasi. “Setidaknya gerak pemerintah sudah benar, tinggal terus didorong agar geraknya makin cepat,” katanya.

Lulusan Barnard College Columbia University dan Harvard Business School Executive Education (AS) itu kini memang tak hanya bersuara di luar system sebagai pengusaha. Kini dia ada di dalam system setelah diminta Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk memperkuat tim ahli bidang ekonomi di kantor Wapres. Dia emnyebut keterlibatannya di tim ahli Wapres sebagai bagian dari national service –nya.

Karena itu, di antar beragam paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintahan Jokowi-JK, sebagian lahir dari buah pemikiran Shinta. Mulai deregulasi aturan-aturan penghambat investasi, program listrik 35 ribu megawatt (mw), percepatan belanja infrastruktur, hingga Peraturan Pemerintah tentang Pengupahan yang memuat formula upah minimum.

Putri pengusaha Johnny Widjaja itu mengakui, infrastruktur maupun upah tenaga kerjamemang menjadi titik lemah Indonesia saat harus bersaing merembut investor dengan competitor utama seperti Vietnam. Karena itu, dia menyebut lainnya PP Pengupahan setelah 13 tahun tertunda sebagai salah satu kebijakan terbaik yang diambil pemerintahan Jokowi-JK. Sebab, PP itu mengeliminasi ketidakpastian yang selama ini dihadapi pelalu usaha tiap tahun. “Artinya mempermudah kalkulasi bisnis. Itu factor utama bagi investor,” jelasnya.

Namun, Shinta menyebutkan, masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Misalnya, suku bunga kredit perbankan yang masih mangkring di kisaran 13 persen untuk korporasi, bahkan sampai 22 persen untuk pelaku usaha mikro dan kecil. Pemerintah pun sudah berkali-kali mendorong perbankan untuk menurunkan suku bunga, tapi tak juga terealisasi.

Menurut Shinta, yang bisa dilakukan pemerintah saat ini adalah melakukan investasi pada kredit sector mikro dan kecil melalui program kredit usaha rakyat (KUR). Dengan begitu, suku bunga bisa ditekan dari 22 persen menjadi 9 persen. Namun, untuk kredit korporasi, yang bisa dilakukan masih sebatas imbalan. “Padahal, akses kredit dengan bunga kompetitif ini sangat pentng bagi pelaku usaha,” ujarnya.

Tantangan lain yang dihadapi adalah volatilitas nilai tukar rupiah. Shinta mengakui, factor gejolak ekonomi global memang menjadi pemicu dominan naik turunnya rupiah. Bagi pelaku usaha, papar dia, yang paling penting adalah stabilitas nilai tukar. Karena itu,rupiah di level 12.000 atau 14.000 per USD juga bisa diterima, asalkan pergerakannya tidak liar. “Stabilitas moneter itu tidak hanya menjadi PR Bank Indonesia, tapi juga pemerintah,” katanya.

Di luar berbagai hal itu, Shinta rupanya punya misi pribadi yang terus digusung. Apa itu? Pemberdayaan perempuan. Matanya berbinar dan nada suaranya meninggi saat bicara tentang pembudayaan perempuan, menunjukkan besarnya kepedulian Shinta. Dia pun sudah membangun jejaring di Kadin maupun Apindo untuk menjalankan program-program pemberdayaan perempuan.

Menurut Shinta, perempuan Indonesia memiliki potensi besar di level besar maupun usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). “Lihat saja, di Indonesia banyak sekai UMKM yang dikelola ibu-ibu rumah tangga. Bahkan, tidak jarang mereka menjadi tulang punggung keluarga,” katanya. Karena itu, istri bos Datascrip Irwan Kamdani tersebut menyakini bahwa pemberdayaan ibu rumah tangga di Indonesia merupakan bagian dari penguatan sector UMKM yang menjadi salah satu penyokong utama ekonomi Indonesia.

Shinta mendorong tetap optimistis menatap masa depan ekonomi Indonesia. Dia yakin bahwa perlambatan ekonomi yang mendera Indonesia dalam beberapa tahun ini sudah berakhir. Pertumbuhan ekonomi 5,3 persen yang menjadi target pemerintah pada 2016 pun disebutnya realistis untuk digapai.

“Jadi, bagi para pelaku usaha, jangan ragu bergerak,” pungkasnya.

 

 

JAWA POS 3 JANUARI 2016

Raam Punjabi Bicara tentang Industri Kreatif Berharap Pemerintah Tidak Tutup Mata

12 Januari 2016. Raam Punjabi Bicara tentang Industri Kreatif_Berharap Pemerintah Tidak Menutup Mata. Jawa Pos. 12 Januari 2016.Hal.1,3.

Jika dibandingkan dengan negara lain di zona ASEAN, industry kreatif kita bisa diadu. Apabila ada dukungan nyata dari regulator, bukan tidak mungkin industry kreatif Indonesia menjadi roda baru penggeran ekonomi.

MODAL kreativitas yang dimilik pekerja seni tanah air membuat industry kreatif, khususnya pertelevision dan periklanan, Indonesia bakal berkibar pada masa mendatang.

Proteksi Film Ta Efektif

BERHARAP

            Raam Jethmal Punjabi amat optimistis industry yang dia geluti sejak 1960 itu bisa menggurita dan kian terpandang di zona ASEAN.

Pendiri Multivision, rumah produksi paling produktif  tersebut menyatakan, pelaku industry kreatif Indonesia tinggal membenahi persoalan promosi dan pemasaran. “Dari segi kualitas, kita di atas Malaysia. Meskipun masih kalah oleh Thailand,” kata pria asal Surabaya itu kepada Jawa Pos saat ditemui di ruang kerjanya di MVP Tower, Kuningan, Jakarta.

Raam bercerita, Malaysia memilik fasilitas pendukung sehingga film-film produksi dalam negeri mampu menjangkau pelosok daerah. Vietnam dan Kamboja yang dari sisi kualitas film masih kalah jauh, kata dia, tidak menghadapi kendala peredaran seperti Indonesia.

Di Indonesia, lanjut Raam, film hanya bisa dinikmati orang-orang perktoaan. Maklum saja, jumlah bioskop di Indonesia masih jauh dari ideal. Jumlah bioskop di Indonesia hanya sekitar seribu. Angka yang amat sedikit jika dibandingkan dengan penduduk yang mencapai hampir 250 juta jiwa.

Idealnya, Indonesia punya sekitar 5.000-6.000 gedung bioskop. Pria 72 tahun tersebut mengatakan, pada perhotelan Festival Film Indonesia (FFI) 2014, Presiden Joko Widodo menyatakan sudah mengintruksi langsung menteri untuk menambah jumlah gedung bioskop. “Katanya, kalau dalam setahun tidak ada kemajuan, laporkan. Tapi, sampai sekarang tidak ada hasilnya,” ucap dia.

Raam mengkritik gedung bioskop yang hingga kini masih didominasi kelompok usaha tertentu saja. Itu dinilai Raam menghambat distribusi film-film ke daerah. Akibatnya, perkembangan industry film nasional bisa tersendat.

Munculnya praktek oligopoly tersebut merupakan dampak kebijakan daftar negatif investasi yang diterapkan pemerintah selama ini. Pemerintah menilai produsen dan pengusaha film nasional harus diproteksi dari serbuan asing. Melalui kebijakan itu, pemeritnah melarang pihak asing membangun gedung bioskop dan memproduksi film di Indonesia. Namun, tujuan proteksi tersebut tidak tepat sasaran. Sebab, bioskop ialah dikuasai pemain lama.

Saat ini produser dan pengusaha bioskop lainnya kesulitan bergerak. “Ini sudah ada dari zaman Orba sampai sekarang dan bibitnya sudah kuat. Pemerintah tahu, tapi seolah menutup mata dan telinga,” ungkap anak ketiga di antara tujuh bersaudara itu.

Kebijakan yang awalnya untuk proteksi tersebut malah berakhir sebagai boomerang bagi industry film Indonesia. Di sisi lain, industry film di negara-negara yang tidak menerapkan kebijakan itu malah berkembang pesat. Raam mencontohkan India dan Thailand.

Raam yang terjun ke bisnis jaringan bioskop dengan brand Platinum Cineplax merasakan sendiri bagaimana tidak mudahnya menuju angka ideal jumlah gedung bioskop. Tidak ingin ikut bersaing dengan pemain besar di perkotaan. Raam meneguhkan niatnya untuk memperluas jangkauan film-film hingga ke daerah. “Kami mulai dari kota kecil yang sebelumnya tidak punya bioskop seperti Sidoarjo dan Magelang,” ungkap dia.

Kendati secara jumlah belum terasa kontribusinya terhadap penambahan jumlah bioskop di Indonesia, Raam tidak patah arang. Dia yakin upayana untuk memperluas distribusi film akan membuahkan hasil. Yang terpenting, niat awalnya untuk menjangkau daerah sudah dia lakukan.

Industri pertelevisian pun ternyata tidak lupus dari praktik penguasaan oleh sedikit kelompok usaha. Padahal, lagi-lagi, ada peraturan yang pada mulanya diterbitkan untuk menghindari terjadinya praktik seperti itu. Raam menjelaskan, pemerintah punya aturan bahwa stasiun televisi hanya boleh memproduksi kebutuhan programnya sebanyak 30 persen. Sisanya dikerjakan rumah produksi.

Jika dilihat sepintas, kondisinya memang sudah sesuai peraturan. Namun, saat diperdalam, tetap saja yang terjadi adalah penguasaan oleh satu kelompok usaha tertentu. Stasiun-stasiun televisi berlomba membentuk anak perusahaan berupa rumah produksi yang bertugas membuat program-program untuk stasiun televise itu. Pasar rumah produksi pun semakin sempit. Belum lagi tren beberapa stasiun televise dimiliki satu holding company.” Pemerintah tahu semua itu, tapi seolah tutup mata. Kapan majunya?” cetus kakk satu cucu tersebut.

Melihat kondisi industry yang menjadi passion-nya sejak dulu itu sekarang, Raam tidak bisa diam begitu saja. Bukan sekali dua kali Raam mencoba berkomunikasi dengan pemerintah untuk membantu para pelaku industry film dan televise agar berkembang. Namun, hasilnya tetap saja nihil. Selain adanya peraturan yang malah mengerdilkan industry itu, pemerintah terkesan mengesampingkan industry tersebut.

Indonesia, tutur Raam, butuh sebuah badan yang mengurus perfilman. Sebuah badan usaha negara (BUMN) yang mengurus tetek bengek industry perfilman dan pertelevisian Indonesia agar lebih tertata dan jelas. Raam mengaku pernah mengajukan usul tersebut kepada Dahlan Iskan saat masih menjadi menteri BUMN. “Dia (Dahlan) bilang oke, akan dibicarakan. Tapi, ternyata semua menteri lain menganggap film bukan hal urgen,” sesal anak pasangan Jethmal Tolaram Punjabi dan Dhanibhai Jethmal Punjabi itu.

Raam pun pernah berbicara dengan Jero Wacik dan Mari Elka Pangestu saat keduanya menjabat menteri pariwisata dan ekonomi kreatif, tapi masih juga tidak berjalan. Dia bahkan mendapatkan jawaban mengejutkan dari Jero saat mengajukan usul tersebut. Jero mengatakan, bagaimana pemerintah mau membentuk BUMN film, negara saja masih perlu beli beras.

Dengan adanya Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Raam melihat ada upaya pemerintah untuk setidaknya memberikan ruang bagi para pelaku industry kreatif termasuk perfilman dan menata diri. Namun, setelah setahun berjalan, badan yang dipimpin Triawan Munaf itu belum memperlihatkan tajinya. Dan wacana BUMN film dianggap Raam masih perlu digulirkan meskipun nanti terbentur DPR.

“Yang penting ada niat dan langkah awal. Saya akan ngotot untuk memperjuangkan ide saya ini sampai terlaksana,” tegas Raam.

Dengan adanya BUMN film itu, nanti para produser bisa patungan dengan pemerintah untuk memproduks film-film berkualitas yang jelas akan mendorong industry tersebut. Pemerintah juga bisa menggunakan media film untuk mengenalkan pahlawan-pahlawan nasioal. Menghidupkan kembali sosok pahlawan nasional ke masyarakat tentu menjadi tanggung jawab pemerintah.

 

 

JAWA POS SELASA 12 JANUARI 2016

 

Perry Tristianto tentang Pentingnya Inovasi Karena Bisnis Ada Masanya

12 Februari 2016. Perry Tristianto tentang Pentingnya Inovasi_Karena Bisnis Ada Masanya. Jawa Pos. 12 Februari 2016. Hal.1,15

Sandiaga Uno Tingkatkan Kualitas Produk Unggulan

10 Januari 2016. Sandiago Uno tentang Peluang di Tengah Turbulensi_Tingkatkan Kualitas Produk Unggulan. Jawa Pos. 10 Januari 2016. Hal.1,11

Gabungan anatara stabilitas politik dan deregulasi yang mengurangi hambatan dunia usaha bakal memaksimalkan peluang perbaikan perekonomian.Kepercayaan diri pebisnis akan pulih jika dua hal itu terwujud.

BAYANG-BAYANG perlambatan ekonomi yang tercermin dari rendahnya daya beli masyarakat masih akan menjadi tantangan para pengusaha tahun ini.Selain itu,turbulensi perekonomian yang ditandai dengan tren pelemahan nilai tukar terhadap USD dan perlambatan ekonomi di Tiongkok akan menjadi titik kekhawatiran.

 

Kurangi Volume Impor Bahan Pangan

Namun,menurut Sandiaga Salhudin Uno,sejumlah tantangan tersebut harus menjadi peluang bagi pemerintah untuk mencari ruang kesempatan menumbuhkan perekonomian.”Sebagai seorang entrepreneur,tahun 2016 merupakan tantangan dan kesempatan bagi Indonesia untuk memperbaiki perekonomian,” ujar pendiri Saratoga Investama Sedaya,perusahaan investasi yang merambah berbagai bidang,mulai consumer,infrastruktur,hingga komoditas sumber daya alam.

 

Pengusaha 46 tahun tersebut menuturkan,pelaksanaan pilkada serentak yang terbilang sukses pada Desember 2015 bisa menjadi modal bagi pemerintah untuk memperkuat kelembagaan politik di tanah air.Dia pun berharap stabilitas politik Indonesia bisa membaik.Sebab,hal tersebut menjadi factor penting dalam menciptakan euphoria kepercayaan untuk menggerakkan aliran modal.”Dengan adanya kepercayaan dari para investor terhadap Indonesia,rupiah dan pasar modal bisa mengalami pemulihan,”katanya.

 

Putra pengusaha Mien Uno itu pun optimistis pemulihan perekonomian di negara-negara kawasan Eropa dan Amerika Serikat plus pertumbuhan di negara-negara emerging market akan memeberikan keuntungan bagi perekonomian nasional.Dia pun menilai target pemerintah soal pertumbuhan ekonomi 5,3 persen tahun ini cukup rasional.Apalgi,sejumlah paket kebijakan ekonomi telah dikeluarkan pemerintah.

 

Dia juga optimistis paket deregulasi kebijakan ekonomi bakal mampu membawa perbaikan bagi iklim investasi .Deregulasi tersebut mambantu menghalau hembatan aktivitas usaha,”Dengan adanya deregulasi tersebut,diperkirakan dapat meningkatkan investasi 8,6 persen hingga 9 persen yang  didorong dengan meningkatnya permintaan domsetik dan aktivitas ekspor,”papar Sandiaga.

 

Dia memeprediksi kinerja ekspor mampu dimaksimalkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.Sebab,Indonesia memiliki banyak produk unggulan ekspor seperti kelapa sawit atau CPO,batu bara,timah,kakao,kopi,nikel,emas,hingga tembaga.Meski harga komoditas saat ini anjlok,pengelolaan dan peningkatan kualitas produk unggulan ekspor itu bisa menaikkan daya jual.

“Hal yang diutamakan saat ini adalah meningkatkan kualitas CPO dan batu bara agar tetap manjadi produk unggulan di pasar dunia.Indonesia juga negara penghasil kopi terbesar ketiga setelah Brasil dan Vietnam.Karena itu,ekspor kopi juga harus digenjot,”paparnya.

 

 

Di samping komoditas,peraih summa cum laude dari Wichita State University,Amerika Serikat (AS),itu juga menyoroti sektor industri lainnya yang cukup potensial di Indonesia.Di antaranya,sektor industri kreatif,teknologi dan digital,pariwisata,tekstil berbasis ekspor,dan agrobisnis.”Sektor industri kreatif itu harus mulai dikembangkan.Kita bisa fokus pada hasil kerajinan yang bernilai seni dan budaya tinggi.Peluang pasar di sektor-sektor tersebut juga makin lama makin besar,”ujarnya.Setidaknya,lanjut dia ,sekitar USD 1,8 trilliun peluang pasar ada di sektor,layanan konsumen,argobisnis,sumber daya,dan pendidikan.

 

Terkait dengan impor,Sandiaga meminta pemerintah mengurangi volume,khususnya bahan pangan.”Sebagai negara agraris yang kekayaannya berlimpah,tidak seharusnya Indonesia melakukan kegiatan impor bahan pangan.Kebijakan impor itu harus di kurangi dan dicegah Karena berbanding terbalik dengan data pemerintah,”tuturnya.

 

Selain itu,alumnus program master business administration George Washington University tersebut mengamati program pembangunan infrastruktur yang tengah gencar dilakukan pemerintah.

 

Menurut dia,program pembangunan infrastruktur tersebut harus direalisasikan secara menyeluruh.Mulai infrastruktur jalan,pelabuhan bandara,hingga kereta api.

 

”Karena Indonesia punya potensi cerah di sektor logistik,namun infrastruktur pendukung utamanya masih tertinggal jika dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN.Selain itu,infrastruktur pembangkit listrik serta eksplorasi minyak dan gas harus digenjot.Karena itu juga berperan menunjang pembangunan infrastruktur lainnya,”katanya.

 

Terakhir,Sandiaga menuturkan bahwa rendahnya kualitas sumber daya manusia(SDM) Indonesia juga harus menjadi perhatian pemerintah.Khususnya terkait dengan pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang dimulai tahun ini. Seperti diketahui,kualitas SDM Indonesia berada di peringkat kelima di bawah Singapura,Brunei Darussalam,Malaysia,dan Thailand.Karena itu,dari segi kualitas SDM,Indonesia belum sepenuhnya siap menyambut MEA.

 

“Salah satu problem yang bisa menjadi ancaman utama ekonomi Indonesia tahun ini adalah kualitas SDM kita.Pemerintah harus segara melakukan sesuatu untuk meningkatkan kualitas SDM kita agar mampu bersaing dengan negara seperti Singapura dan Malaysia.”

UC Lib-Collect

Kompas,19 Januari 2016

Parwati Surjaudaja tentang Kompetisi dan Kreativitas Tak Ada yang Tiba-tiba Turun dari Langit

9 Januari 2016. Parwati Surjaudaja tentang Kompetisi dan Kreativitas_Tak Ada Yang Tiba-tiba Turun dari Langit. Jawa Pos.9 Januari 2016.Hal.1,11

Didominasi penduduk usia produktif membuat Indonesia bakal mampu berbuat lebih banyak, jika diasah, kreativitas masyarakatnya bisa membuat daya saing ekonomi lebih kompetitif.

BAGI Parwati Surjaudaja, Indonesia termasuk negara yang memiliki modal lengkap untuk terus berkembang. Dalan sepuluh tahun mendatang, Indonesia bisa menyandang predikat negara maju.

Perlu Beralih ke Ekspor yang Produktif

TAK ADA

            Presiden direktur Bank OCBC NISP itu menyebutkan, sumber daya alam yang kaya, usia produktif yang dominan, serta karakteristik masyarakat yang kreatif bakal membuat Indonesia lebih unggul. “Itu sulit ditiru. Kita punya kelebihan. Itu bisa jadi keunggulan,” ujar perempuan 51 tahun tersebut.

Bahkan, dia berani membandingkan Indoensia dengan negara besar seperti Tiongkok. Dia menyebut kreativitas orang Indonesia bisa menandingi negara dengan kue ekonomi terbesar kedua sejagat itu. Syaratnya, Indonesia bisa memanfaatkan dengan baik warisan kebudayaan dan kekayaan alam yang melimpah.

“Tiongkok pasti jadi saingan. Tapi, soal kreativitas, kita bisa menang karena budaya dan kekayaan alam itu jadi harta karun yang luar biasa,” ujarnya.

Dia menuturkan, komposisi masyarakat yang berbeda suku dan keyakinan dapat membuat ciri khas yang susah ditemui negara-negara lain. “Perbedaan itu melengkapi,” rambah perempuan yang setia dengan rambut pendek tersebut. Mengingat kodisi ekonomi global beberapa tahun terakhir masih tak menentu. Pelemahan tersebut menjadi tantangan bagi seluruh negara, termasuk Indonesia.

Namun, dia juga mengingatkan agar Indonesia tidak terlena dengan kelebihan-kelebihan tersebut. Mengingat, kondisi ekonomi global beberapa tahun terakhir masih tak menentu. Pelemahan tersebut menjadi tantangan bagi seluruh negara, termasuk Indonesia.

Dia menambahkan, dalam sepuluh tahun ke depan, mesin penggerak ekonomi Indonesia akan dimotori oleh sector manufaktur, industry kreatif, dan pariwisata.

Sementara itu, tantangan ekonomi Indonesia bakal didominasi sentiman eksternal seperti normalisasai suku bunga AS dan perlambatan ekonomi Tiongkok. Bahkan, dia menyebutkan, masih akan ada sector-sektor dengan kondisi yang lebih buuk daripada saat ini. Beberapa di antranya adalah sector midas dan komoditas. Misalnya batu bara yang akan susah untuk kembali bangkit. Tetapi, lanjut Parwati, ada pula sector-sector seperti consumer goods yang semakin menunjukkan tren perbaikan.

Kondisi suku bunga yang cukup tinggi juga dia sebut sebagai kendala bagi beberapa sector. “Kalau nanti ada ruang untuk suku bunga acuan turun, efeknya akan baik. Banyak orang yang menabung. Dari sisi debitor, juga nanti mereka bisa menjalankan usaha dengan baik,” katanya.

Rapor ekspor yang akhir-akhir ini merah juga harus menjadi bahan koreksi. Dari yang awalnya terus-terusan berfokus pada ekspor komoditas, semestinya bisa beralih ke ekspor yang lebih produktif. Jika terus-terusan bergantung pada ekspor yang itu-itu saja, lanjut dia, Indonesia bakal susah move on. “Kita harus lihat dong kelebihan kita apa saja. Orang Indonesia itu jauh lebih kreatif daripada bangsa lain. Saya dukung sekali industry kreatif. Manufaktur, jasa, atau film dan tourism itu lebih baik,” jelasnya.

Dari sisi impor, perempuan yang pernah masuk 99 Most Powerful Women 2009-2013 dari majalah Globe Asia tersebut mendorong agar Indonesia bisa meningkatkan kapasitas dan swasembada di berabgai elemen. Impor barang konsumtif yang tidak memberikan nilai tambah semestinya dapat ditekan. “Memang ada hal-hal yang tidak bisa dihindari. Tapi, bagaimana bisa sustain kalau terus-terusan mengandalkan impor? Indonesia harus bisa swasembada,” tuturnya.

Ibu empat anak tersebut menyebutkan tantangan lain yang harus dihadapi Indonesia. Yakni, tingkat produktivitas pekerja dan disiplin yang masih bisa dibilang rendah. Sumber daya manusia yang sangat banyak, meski menjadi bonus demografi, juga dapat menjadi tantangan.

“Saya pernah baca, produktivitas orang Indonesia per kepalanya itu bisa menghasilkan USD 14 ribu dalam setahun, orang Tiongkok USD 57 ribu, orang Singapura USD 187 ribu, dan Malaysia USD 33 ribu. Dari data itu, bisa dilihat bahwa ada sesuatu yang fundamental soal efisiensi tenaga kerja kita ya,” tutur perempuan yang gemar mendengarkan alunan music klasik dari composer Jerman Johann Sebastian Bach tersebut.

Dengan mengetahui letak permasalahan yang dihadapi, selanjutnya diharapkan muncul solusi untuk menghadapi kendala tersebut. “Kuncinya, disiplin dan produktivitas. Soal skill, kita tidak perlu takut. Attitude orang kita baik. Yang kurang hanya disiplin dan produktivitas,” katanya.

Belum rampungnya masalah infrastruktur pun, menurut dia, dapat menjadi kendala bagi kemajuan Indonesia. Sebab, ketersediaan infrastruktur yang mumpuni akan menjadikan biaya logistic dapat ditekan.

Parwati menyebutkan tiga aspek infrastruktur yang mesti segera dibenahi, yakni, infrastruktur dalam kota, kualitas pelabuhan maupun bandara, serta ketersediaan tenaga listrik.

“Kemampuan kita bergerak dari satu titik ke titik lain itu sangat penting. Kualitas pelabuhan maupun bandara sangat menentukan. Listrik itu juga basic. Bukan tidak mungkin di kota besar seperti Jakarta itu Byarpet. Klau sudah begitu, pekerjaan akan terbengkalai, produktivitas jadi terhambat juga,” ujarnya.

Tetapi, dia yakin bahwa Indonesia akan mampu menghadapi persaingan di kancah Asia maupun global, mengingat potensi-potensi menggiurkan yang dimiliki negeri ini. Putri perintis Bank OCBC NISP Karmana Surjaudaja tersebut juga berpesar agar setiap elemen masyarakat mendapatkan pendidikan yang layak. Hal itu pula prinsip turun-temurun yang diwariskan oleh keluarganya.

“Ayah-ibu saya tidak akan mewariskan apa pun, kecuali memastikan anak-anaknya punya pendidikan yang cukup. Prinsip itu pula yang saya terapkan kepada anak-anak saya agar mereka siap terjun ke masyarakat. Tunjukkan bahwa kita semua bisa, you’ve got to earn it, harus usaha, mencari, doa, niat baik. Sebab, tidak ada yang tiba-tiba turun dari langit. Karena tidak ada sesuatu yang gratis di dunia ini,” bebernya.

SABTU 9 JANUARI 2016

 

Rachmat Gobel Butuh Pekerja yang Tak Hanya Pandai Menurut

9 Februari 2016. Rachmat Gobel tentang Daya Saing Global_Butuh Pekerja yang Tak Hanya Pandai Menuntut. Jawa Pos. 9 Februari 2016. Hal.1,11

Wilayah luas dengan ratusan juta penduduk telah membuat Indonesia menjadi pasar yang menggiurkan bagi investasi global. Tak terkecuali pabrikan elektronik. Mereka berlomba menciptakan investasi.

KETEGASAN pemerintah menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) membuat industry elektronik bergairah. Itu menjadi kesempatan emas bagi para produsen untuk bersaing dengan barang tiduran dan impor illegal.

Transfer Teknologi Tidak Bisa Instan

BUTUH

“Sudah sejak beberapa tahun lalu, kebutuhan elektronik Indonesia 50 persennya dari impor,” terang Rachmat Gobel, chairman Panasonic Gobel Group. Persaingan menjadi tidak  fair karena 80 persen dari total impor merupakan baranag illegal. Bahkan, banyak barang elektronik yang masuk ke tanah air yang berkualitas di bawah standar.

Fakta itu membuat produsen elektronik gundah. Impor illegal dengan kualitas rencah membuat industry kembang kempis. Harga yang terlalu murah tidak bisa begitu saja dikalahkan kualitas. “Yang masuk KW 4 dan 5. Bagaimana kami bisa melawan mereka? Makanya perlu penerapan SNI,” tuturnya.

Lebih lanjut, Gobel menjelaskan bahwa komoditas yang berhadapan dengan impor illegal bukan hanya elektronik. Tetapi, bukan itu yang menjadi titik tekan. Gobel melihat pembiaraan terhadap proses tersebut membuat industry tidak bisa tumbuh dengan baik. Ujung-ujungnya bisa berdampak pada efisiensi bekerja.

Gobel pun berharap pemerintah bisa tegas menerapkan SNI. Sebab, itu menjadi salah satu kunci agar industry Indonesia bisa tumbuh dengan baik. Apalagi jika pemerintah mampu memberangus praktik impor illegal. “Ekonomi Indonesia katanya lesu. Tapi, kondisi itu tidak hanya di sini. Harus jadi momen kebangkitan industry kita.”

Oengusaha kelahiran Jakarta, 3 September 1962, tersebut juga menekankan pentingnya kualitas sumber daya manusia (SDM). Para pengusaha punya peran penting agar para pegawainya menjadi lebih berkualitas. Namun, pekerja juga harus punya kemauan untuk menjadi lebih baik.

“Sukses menghadapi globalisasai ya dari SDM itu. Makanya perlu hubungan yang harmonis (antara pengusaha dan pekerja, Red). Pekerja juga jangan hanya bisa menuntut. Berikan yang terbaik,” tuturnya.

Gobel mencontohkan Panasonic Gobel Group yang dipimpinnya saat ini. Dia menyebutkan, Panasonic tidak hanya ada untuk berbisnis, tetapi juga untuk membangun SDM Indonesia. Itulah penyebab dia berusaha keras agar tidak ada penutupan pabrik yang berakibat pada tingginya pemutusan hubungan kerja (PHK). Para pekerjanya yang saat ini mencapai 15 ribu orang disebutnya punya peran vital.”Penting membentuk SDM yang lebih berdaya saing. Sebab, mereka yang memberikan keuntungan bagi perusahaan”.

Mantan memberi perdagangan itu optimis SDM yang kuat membuat investor berbondong-bondong menanamkan uangnya di Indonesia. Malah, perusahaan yang sudah ada jadi engga beranjak dari tanah air. “Makanya, serikat pekerja jangan cuma menuntut. Skill angkatan kerjanya juga harus terus diperbaiki,” ujarnya.

Lulusan Chuo University, Tokyo, Jepang, tersebut menilai industry saat ini sarat dengan teknologi. Hal itu membuat perusahaan yang memiliki pekerja dengan kualitas kurang bisa dengan mudah pergi. Salah satu cara untuk meningkatkan daya saing SDM adalah transfer teknologi.

Gobel juga menyoroti potensi industry lain yang perlu digenjot keberadaannya. Misalnya sector pertanian, perkebunan, dan kelautan. Dia menganggap tiga industry itu mampu menyerap tenaga kerja dengan jumlah yang sangat besar. Gobel juga menyinggung perhatian dunia terhadap makanan halala yang makin tinggi sebagai peluang. “Banyak tema benar. Misalnya krisis pangan. Industry elektronik, dibanding pangan, itu kecil,“ terangnya.

SELASA 9 FEBRUARI 2016

Hariyadi B. Sukamdani Pariwisata Topang Fondasi Ekonomi

8 Januari 2016. Hariyadi B.Sukamdani Targetkan Indonesia Jadi Pemain Utama Asia_Pariwisata Topang Fondasi Ekonomi. Jawa Pos. 8 Januari 2016.HAl.1,11

 

Indonesia bakal menjadi pemain utama ekonomi Asia dalam beberapa tahun mendatang. Syaratnya, segala potensi yang ada bisa dimaksimalkan dan sejumlah persoalan yang mengganjal diselesaikan.

KRT Hariyadi Budisantoso yang akrab disapa Hariyadi B. Sumkandani yakin Indonesia akan menjadi salah satu pemimpin bidang perekonomian Asia.

Sinkronisasi Birokrasi dan Pelaku Usaha

PARIWISATA

            Putra keempat pendiri Group Sahid Sukamdani Sahid Gitosardjono itu menilai hal tersebut bisa diraih jika mulai tahun ini segala persoalan yang ada benar-benar dituntaskan.

Hariyadi yang kini dipercaya memimpin jaringan propergi Grup Sahid sekaligus ketua umum Asosiasi Pengusaha Indoesia (Apindo)mengajak semua pihak menyadari betapa terbukanya peluang Indonesia menjadi negara besar. Modalnya sudah sangat nyata telihat.

“Sebagai pimpinan organisasi pengusaha maupun sebagai pengusaha, saya lihat Indonesia punya potensi besar menjadi pemimpin Asia, paling tidak ASEAN,” ungkapnya ketika berbincang dengan Jawa Pos di Hotel Trans Luxury Bandung.

Pertama, Indonesia mulai menegakkan berbagai aturan positif mengenai transparansi serta mengedepankan perimbangan antara hak dan kewajiban. Perusahaan-perusahaan juga meningkatkan prinsip kata kelola yang baik (GCG). “Itu sudah jalan. Karena kita memilih jalan demokratisasi secara penuh,” ucap pria kelahirn Jakarta, 4 Februari 1965, tersebut.

Kedua, masyaralat Indonesia dinilai luar biasa dewasa menghadapi perubahan. Juga tidak gagap menghadapi guduhnya politik, tidak serta-merta panic yang malah bisa membuat situasi tidak karuan, “Bandingkan, misalnya, dengan negara-negara lain yang punya problem macam-macam rakyatnya ikut bergejolak. Kita tidak,” ujarnya.

Ketiga dana untuk pendidikan yang mencapai 20 persen dari total anggaran tahunan total kementerian merupakan modal kuat untuk menelurkan sumber daya manusia (SDM) mumpuni di masa mendatang. Tinggal mengelolanya harus lebih baik.

Potensi keempat, bonus demografi. Populasi sekitar 250 juta orang itu bukan pasar yang kecil. Terbesar di ASEAN. Lalu kelima, potensi alam yang belum tergarap dengan optimal. “Kita punya bebagai macam, mulai yang sifatnya extracting atau yang sifatnya tinggal mengeruk saja sampai yang terbarukan. Semua ada,” papar alumnus Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo itu.

Sector pariwisata termasuk sumber daya alam (SDA) sangat potensial yang belum tergarap dengan baik itu. Indonesia memiliki variasi destinasi wisata yang tidak dimiliki negara kawasan ASEAN lainnya. Begitu pula SDA yang ada di bawah sector maritim. Potensi keenam ada pada perusahaan-perusahaan dalam negeri. Seluruhnya masih punya peluang besar untuk berkembang di sector masing-masing.

Dengan berbagai potensi tersebut, tidak sulit bagi Indonesia mewujudkan sebagai negara dengan perekonomian kuat dan salah satupaling berpengaruh secara global. Itu bisa diraih setidaknya dalam satu decade dari sekarang atau pada 2025 asalkan berbagai persoalan yang ada bisa diselesaikan. Antara lain, kata dia, memaksimalkan system demokrasi.

Kebijakan fiscal juga perlu diciptakan secara mendalam. Terkait kebijakan moneter, termasuk di dalamnya perpajakan. “Yang kita pandang aturan perpajakan itu lebih pada fungsinya sebagai anggaran. Karena pajak itu kan ada fungsi sebagai anggaran juga sebagai stimulus. Nah, yang anggaran itu yang kita punya masalh,” ujarnya.

Selebihnya tinggal memperkuat basis ekspor dan mengurangi impor dengan menyediakan berbagai kebutuhan yang selama ini diimpor agar bisa tersedia di dalam negeri. Salah satu caranya adaah melakukan program hilirisasi.

Ketika itu semua teratasi, Indonesia bisa lepas landas ke level lebih tinggi. Dengan asumsi semua berjalan baik, sector manufaktur akan tumbuh. Begitu pula sector pariwisata. Dia yakin pariwisata masuk tiga besar sebagai penyumbang devisa negara dan tiga besar sebagai contributor pertumbuhan ekonomi. “Karena kita masih punya ruang sangat luas,” kat dia meyakinkan.

Hariyadi tidak melihat satu pun sector di Indonesia yang akan melemah. Tidak ada sector lain atau sector baru yang hadir yang akan melemahkan sector lain. Sebab, semua masih memiliki potensi untuk tumbuh. Yang terpenting, terus melakukan inovasi dan meningkatkan kualitas. Sebab, dia yakin akan terjadi perubahan sangat signifikan dari bisnis model di Indonesia sejalan dengan perubahan perilaku konsumen.

 

 

JUMAT 8 JANUARI 2016

Harry Sunogo Genjot Industrialisasi Pertanian

8 Februari 2016. Harry Sunogo tentang Industri Berbasis Konsumsi_Genjot Industrialisasi Pertanian. Jawa Pos. 8 Februari 2016.Hal.1,11

Konsumsi rumah tangga selalu menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Terutama industry makanan menjadi salah satu penopang.

Harry Sunogo, Presiden Direktur PT. Sekar Laut tbk, menganggap factor demografi mampu menjadi penopang naiknya permintaan di industry makanan. Khusus untuk indsutri,makanan kemasan siap saji, tren gaya hidup juga menjadi pendongkrak permintaan

Lebih mahal kirim ke Sulawesi daripada Singapura

“saat ini orang menjadi semakin sibuk. Suami istri kerja. Belum lagi sekarang juga sudah mulai banyak yang tinggal di apartemen. Mereka lebih memilih yang instan” katanya. Dia melanjutkan, mayoritas industri makanan diindonesia pun menggunakan bahan baku local. Pangsa pasar produk makanan local masih bisa dominan dan mampu bersaing dipasar global saat menghadapi masyarakat ekonomi asean (MEA). Itu juga ditunjang cita rasa orang Indonesia yang tetap menyukai makanan lokal. Kemasan makanan produksi dalam negri juga tidak kalah bersaing dengan negara lain. Selama ini makanan impor hanya tersebar dikota. Itu pun juga lebih disebabkan gaya hidup. Saat ini, kata Harry,yang terpenting adalah mendorong industrialisasi pertanian. Adanya bahan makanan pokok yang masih impor, kata dia, lebih disebabkan rendahnya riset dan pengembangan dibidang pangan. Juga karena penggunaan teknologi yang terbatas. “Padahal, teknologi bisa meningkatkan produktivitas”, paparnya. Menurut dia, industrialisasi untuk sektor pertanian harus dilakukan. “dengan penggunaan bibit unggul serta peralatan pertanian yang canggih, produktivitas bisa bertambah” katanya. Dia mengatakan, secara iklim pun, Indonesia punya keunggulan untuk bisa mengembangkan beberapa komoditas seperti udang, singkong dan tebu. Khusus komoditas udang, Indonesia punya garis pantai yang panjang sehingga bisa digunakan untuk budidaya komoditas tersebut. Disisi lain,harry mengatakan bahwa Indonesia masih memiliki kelemahan di sector infrastruktur. Kendala di infrastruktur itulah yang membuat biaya logistic di Indonesia termasuk tinggi jika dibandingkan dengan negara lain. “kami mengirim barang ke Sulawesi dan ke singapura. Biayanya lebih mahal ke Sulawesi daripada ke singapura” katanya. Selama ini, kata dia, masih banyak potensi bahan baku yang berada di daerah, tapi belum bisa dimaksimalkan untuk industri. Salah satu sebabnya adalah factor infrastruktur. Indonesia yang kaya akan komoditas seperti sektor pertanian dan perkebunan harus diberi nilai tambah dengan diolah menjadi industri. Dia berharap konsep tol laut yang diangankan pemerintah bisa diimplementasikan pada pembangunan infrastruktur maritime. Dengan demikian, pengiriman bisa menjadi lebih efisien dan produk dari jawa bisa semakin luas lagi masuk ke luar pulau. Dia mengatakan selama ini biaya logistik untuk pengiriman produk di jawa dan bali bisa mencapai 10 persen dari total biaya produksi. “jika sudah di luar wilayah tersebut,biaya bisa mencapai 20 persen. Akibatnya, harga untuk di luar Jawa dan Bali lebih mahal” ujarnya. Mengenai paket kebijakan ekonomi, dia cukup mengapresiasi paket kebijakan tentang perizinan. Menurut dia, izin tiga jam dan one stop servis saat ini sudah mulai berjalan baik. Di tingkat daerah, menurut dia, beberapa daerah sudah mulai terbuka dengan memahami bahwa tujuan masuknya investasi ke daerah mereka adalah kepentingan masyarakat. Dia juga mengungkapkan, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi daripada tahun lalu, perlu ada sinergi antara pemerintah pusat dan daerah. Juga stabilnya kondisi kondisi politik dan nilai tukar serta infrastruktur yang tertata. “jika beberapa hal tersebut bisa dibenahi, pertumbuhan ekonomi kita mampu melampaui negara lain” ujarnya.

Sumber: Jawa Pos, Senin, 8 Februari 2016

Bani Maulana Mulia tentang Kemudahan Berbisnis Kian Cantik dengan Tekan Biaya Logistik

7 Februari 2016. Bani Maulana Tentang Kemudahan Berbisnis_Kian Cantik dengan Tekan Biaya Logistik. Jawa Pos. 7 Februari 2016.Hal.1,11

 

Banyak optimism tentang wajah Indonesia yang bakal menjadi negara dengan kekuatan ekonomi yang diperhitungkan di asia. Namun, ada sejumlah syarat yang mesti dipenuhi. Salah satu yang utama adalah biaya logistic yang masih harus ditekan.

Liburan akhir tahun lalu bani maulana mulia memilih ke candi Borobudur di jawa tengah sebagai tujuan. Betapa ramai disana.

 

Bangun pelabuhan harus seperti mendirikan mal

Sopir yang mengantarkannya kemudian bercerita tentang hal kurang menyenangkan beberapa waktu sebelumnya. Pengalaman buruk yang sulit dilupakan. Sopir tersebut pernah mengantarkan tamu warga negara asing yang sengaja  datang hanya untuk melihat keindahan candi Borobudur. Namun, sesaat setelah mereka turun dari kendaraan, pedagang souvenir keliling menghampiri dan menjajakan dagangan dengan memaksa. Merasa terintimidasi, turis itu memutuskan balik badan dan masuk kembali ke kendaraan. Kemudian pulang. “ribuan kilometer yang sudah dia lalui dari negaranya ingin lihat candi Borobudur jadi batal. Kasihan kan? Hanya karena pengalaman yang tidak menyenangkan bagi dia, dia cabut(hengkang). Nah, investor juga sama!” kata bani saat berbincang dengan jawa pos di gedung samudera Indonesia,Jakarta, jumat (5/2). Managing director PT Ngrumat bondo utomo,holding samudera Indonesia group, itu mengungkapkan, turis tersebut sudah mendengar betapa cantiknya Borobudur. Sama halnya dengan investor yang sudah mendengar betapa cantiknya iklim investasi di Indonesia. Namun,hanya gara gara ketemu pengusaha yang salah untuk jadi mitra local,mereka bisa kapok. “banyak kejadian” ujar bani. Di industry yang dijalankan samudera Indonesia, kata bani, banyak ditemukan pihak yang mengejar keuntungan sesaat. “itu pedagang diborobudur, kalau baik, pulangnya mungkin itu bule belanja. Tapi, sikapnya yang mau kemaruk di depan mendorong orang pergi” ungkap pria kelahiran Jakarta,25 februari 1980, itu beranalogi. Bani mengakui, banyak investor asing yang antre masuk ke industry berbasis kelautan di Indonesia. Mulai investasi penunjang bisnis perkapalan atau pelayaran membangun atau mengelola infrastrukturnya seperti pelabuhan,bahkan menjadi operator perkapalan itu. Cucu soedarso sastrosatomo,pendiri samudera Indonesia group, tersebut menuturkan, pihak asing sangat menyadari potensi dan kebutuhan modal transportasi laut di Indonesia. Itulah yang membuat calon investor berbondong bonding masuk. Saying,masih banyak orang Indonesia yang belum menyadari hal tersebut. Karena itu, sejauh ini pembangunan dan pengoptimalan sector kelautan berjalan lambat. Syukur pemerintah saat ini mulai menggalakkan berbagai rencana disektor maritime, baik untuk transportasi maupun arus barang.  “tanpa pemerintah koar koar saja, kita tetap akan membangun. Jalan sendiri. Apalagi pemerintah koar koar, ikut terlibat langsung juga. Itu akan lebih baik” tegasnya. Menurut dia, harus disadari, tidak ada satu pun negara seperti Indonesia yang memiliki 17 ribu pulau dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta. Kebutuhan untuk memperbaiki pelayanan sangat mendesak. “moda paling efisien untuk transportasi barang itu lewat laut. Karena itulah 90 persen global trade lewat laut. Lagi pula, sejak zaman (patih) gadjah mada pun, kekuatannya maritime juga” ungkapnya. Terlebih, teknologi untuk mesin dan desain kapal saat ini semakin maju. Semakin efisien dari sisi bahan bakar dan cepat dari sisi pergerakan. Daya angkut semakin besar. Tantangan pemerintah Indonesia menuju negara dengan perekonomian berpengaruh di dunia saat ini adalah meningkatkan daya saing. Salah satunya menekan biaya logistik. Jika itu bisa diatasi, Indonesia akan makin cantik di mata pemodal asing. Biaya logistic di Indonesia saat ini sangat tinggi. Berdasar riset biaya logistic 2015 dari kadin, biaya logistic di Indonesia saat ini mencapai 24 persen dari total produk domestic bruto atau senilai rp 1820 triliun per tahun. Itu merupakan biaya logistic termahal di dunia. Biaya logistic di Indonesia jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan Malaysia yang hanya sekitar 15 persen serta amerika serikat dan jepamh yang masing masing 10 persen. Kadin memerinci biaya logistic itu terbagi dalam biaya penyimpanan (rp 546 triliun) dan transportasi (rp 1092 triliun) serta biaya administrasi (rp 182 triliun). Selain sangat tingginya biaya, mutu pelayanan logistic ditanah air dinilai buruk.  Contohnya, waktu jeda untuk barang barang impor  mencapai 5,5 hari dan biaya angkutnya mahal.karena itu tidak heran jika belum lama ini presiden joko widodo geram dan memerintahkan persoalan dwelling time segera dituntaskan. Biaya tinggi tersebut terjadi karena masih minimnya infrastruktur. Contohnya, galangan kapal. Untuk servis saja, kata dia, jauh lebih banyak kapal yang antre masuk docking daripada jumlah galangannya. “itu belum bicara yang berkualitas. Yang sekadar ada saja masih sangat kurang” katanya. Populasi kapal sekarang dirasa tidak cukup untuk memenuhi permintaan. Dari sisi kapasitas daya angkut juga tidak cukup. Jumlah pelabuhan pun tidak cukup. Akhirnya tidak efisien. Prinsip membangun infrastruktur laut, terutama pelabuhan, kata bani harus membangun seperti mal di perkotaan. Di satu kota seperti Jakarta atau Surabaya, misalnya bisa terdapat banyak mal. Lalu, apakah ketika satu mal beroperasi mal yang lama menjadi sepi? “tidak! Malah sama sama penuh kan? Akhirnya dari sisi harga juga bersaing memberikan yang terbaik. Pelabuhan juga begitu” tegas alumnus faculty business and law di deakin university,Melbourne, Australia,itu.  Kunci membuka bottleneck logistic itu memang dimulai dari pelabuhan. Ketika itu terjadi, kapal besar bisa masuk. Kapasitas pun naik. “jadi apapun lah judulnya. Mau tol laut, taksi laut apapun lah. Yang terpenting segera direalisasikan” ujarnya. Bani yakin jika pelabuhan dijawa dibangun, bahkan tidak jauh dari tanjung priok, misalnya di cilamaya, keduanya akan tetap sibuk. Sebab memang kebutuhannya tinggi. Antrean yang ada sekarang terlalu panjang. Memang, menurut dia Indonesia relative sulit mengejar atau bahkan menggantikan singapura sebagai hub pelabuhan untuk transportasi laut inteernasional,tapi setidaknya bisa bersaing. Jangan ragu untuk mencontek kebijakan yang diberlakukan di negara lain seperti singapura. “sontek saja. Singapura, misalnya. Dia bahkan berani kasih insentif aka ada bonus cash back bagi perusahaan pelayaran yang mencapai volume tertentu. Siapa yang tidak mau? Perushahaan kami juga sering dapat bonus itu” ujarnya. Indonesia merupakan negara yang penuh anugrah, terutama jika dikaitkan dengan sector kelautan. Tidak mungkin semua lokasi diakses dengan pesawat terbang. Bani yakin, ketika infrastruktur laut memadai,bukan hanya urusan arus batang, potensi pariwisata juga terbukak lebar. Wisatawan akan bingung memilih lokasi tujuan karena terlalu banyak tempat indah yang mudah serta murah untuk di gapai.

 

Sumber: Jawa pos,7 februari 2016

T. P. Rachmat tentang Iklim Bisnis dan Fondasi Ekonomi Yang Terburuk Sudah Berakhir

6 Januari 2016. T.P. Rachmat tentang Iklim Bisnis dan Fondasi Ekonomi_Yang Terburuk Sudah Berakhir. Jawa Pos. 6 Januari 2016.Hal.1,11

T.P.  Rchmat Tentang Iklim Bisnis dan Fondasi Ekonomi

Yang Terburuk Sudah Berakhir

 

Turbulenso perekonomian global  yang merontokan harga-harga komoditas membuat perlambatan ekonomi Indonesia dalam  4 tahun terakhir kian parah.Namun, tak perlu gundah dan gelisah. Pasaa 2016 ini, ekonomi diproyeksikan kembali bergairah.

PROYEKSI itu muncul dari buah pemikiran dan analiss Theodore Permadi (T.P.) Rachmat yang pernah menjadi salah satu chief executive officer (CEO) tersukses di Astra Internasional. Dia kini memimpin Triputra Investindo Arya (Triputra Group). Kerjaan bisnis di sector manufaktur,pertambangan,agrobisnis, dealership motor,logistic hingga karet olahan yan dirintisnya sejak 1998.

JawaPos berbincang dengan Rachmat sepanjang satu jam dikantor Triputra Group di Menara Kadin, Kuningan,Jakarta 17 Desember lalu.

Sosol yang berkali-kali dinobatkan sebagai CEO terbaik di berbagai ajang penghargaan itu terus menyuarakan optimismenya meskipun ekonomi Indonesia didera pelemahan dalam beberapa tahun terakhir.

Rupanya, Begawan bisnis kelahiran Majalengka, Jawa Barat, 15 Desember 1943, itu memang tak menyisakan satu lembarpun bagi pesimisme untuk menyusup dalam kamus hidupnya. “The Worst is already over” (Yang terburuk sudah berakhir,Red).” Ujarnya dengann mantap saat  mengomentari tren perlambatan ekonomi Indonesia.

Diawal perbincangan pebisnis  yang akrab disapa Teddy itu menguraiakan refleksi singkat perekonomian global dan Indonesia dalam bebrapa tahun terakhir. Kisahnya dimulai pada 2008, ketika krisis subprime mortagage atau kredit beresiko tinggi disektor properti Amerika Serikat (AS) menjalar cepat bagi kanker ganas yang merontokan kedigdayaan ekonomi Negri Paman Sam, lalu menular cepat melalui Instrumen pasar financial ke Eropa  dan berbagao belaha dunia lain, “ ketika itu eknomi Indonesia sempat terkena demam sedikit.” Kata keponakan pendiri grup Atra, William Soerydjaya, tersebut.

Untung meriang ekonomi Indonesia segera reda karena datangnya obat dari tiongkok. Teddy menyebutkan,saat itu raksasa ekonomi Asia yang tengah bengkit tersebut tak ingin tertular krisis ekonomi global. Langkah strategus pun diambil pemerintah Tiongkok dengan mengenjot investasi besar-besaran agar terus bisa menyerap tenaga kerja. Kaarena itupun Tiongkok menjelma  “ naga lapar” yang menyedot  berbagai komoditas baik pertambangan maupun perkebunan. “itulah pemicu Commodity boom (bomming komoditas,Red). Yang menjadi motor ekonomi Indonesia sejak 2009.” Jelasnya.

Sayang papr Teddy, booming Komoditas itu membuat Indonesa terlena. Kita tak kunjung memperbaiki struktur fundamental ekonomi. Minimnya infrastruktur serta rumitnya regulasi dan birokraso membuat pelaku usaha harus menanggung ekonomi biaya tinggi. Akibatnya, produk Indonesia  kurag memiliki daya saing saat  produk asing menyerbu. Imbasnya deficit neraca perdagangan kian meganga. “ mestinya, penerimaan pajak booming komoditas ketika itu dipakai  untuk membangun infrastruktur. Tapi, sayangnya uang r atusan triliun justru habis untuk subsidi BBM ( bahan bakar minyak,Red) tiap tahun”. Ujarnya.

Sikap terlena itu harus dibayar mahal ketika pada 2013 pemerintah Tiongkok mengerem laju pertumbuhan ekonomi karena merasa ekonominya sudah overheat  alias terlalu panas. Strategi pertumbuhan berbasis inrfastruktur dan industri dirubah menjadi berbasis konsumsi serta jasa. Dengan demikian, permintaan komoditas dari Tiongkok merosot tajam. Buntutnya, harga komoditas seperti batu bara,tembaga,timah,,CPO,karet dan lainya anjlok.” Akibatnya  ekonomi Indonesia terus melemah”.  Kata pengusaha bersaa saudara sepupunya, Edwin Soeryadjaya. Membesarkan raksasa batu baera Adaro Energy itu.

Lantas apa yang masih membuat  optimis? Teddy menyebutkan, salah satu yang utama adalah reformasi structural yang dijalankan pemerintahan Jokowi-JK. Pertama, kebijakan memangkas subsidi BBM untuk dialihkan ke sector infrastruktur. Kedua, perbaikan iklim investasi melalui berbagai kebijakan ekonomi, terutama deregulasi berbagai aturan yang tak ramah pada dunia usaha. Ketiga, penetapan Peraturan Pemerintah (PP) Pengupahan yang memberikan  kepastian bagi pelaku usaha. “ keberaniaan politik Jokowi-JK untuk mengambil kebijkan yang tidak popular, seperti menaikan harga BBM, layak diapresiasi.

Keberanian politik seperti itu menurut Teddy, sanggat dibutuhkan. Dia mengibaratkan, struktur ekonomi Indonesia yang tengah sakit butuh obat yang harus ditelan meski pahit agar kedepan lebih sehat. Seperti pepatah berakit-rakit kehulu, berenang ketepian. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.

“Good times create good policy(kondisi baik biasnaya menciptakan kebijakan buruk. Kondisi buruk biasanya menciptkan kebijakan baik,Red).” Ucap dia soal kebijakan susbsidi BBM kala booming komoditas dan perlambatan ekonomi saat ini. (owi/c11/sof)

 

 

Sumber : jawaPos , rabu 6 januari 2016

T.P.  Rchmat Tentang Iklim Bisnis dan Fondasi Ekonomi

Yang Terburuk Sudah Berakhir

 

Turbulenso perekonomian global  yang merontokan harga-harga komoditas membuat perlambatan ekonomi Indonesia dalam  4 tahun terakhir kian parah.Namun, tak perlu gundah dan gelisah. Pasaa 2016 ini, ekonomi diproyeksikan kembali bergairah.

PROYEKSI itu muncul dari buah pemikiran dan analiss Theodore Permadi (T.P.) Rachmat yang pernah menjadi salah satu chief executive officer (CEO) tersukses di Astra Internasional. Dia kini memimpin Triputra Investindo Arya (Triputra Group). Kerjaan bisnis di sector manufaktur,pertambangan,agrobisnis, dealership motor,logistic hingga karet olahan yan dirintisnya sejak 1998.

JawaPos berbincang dengan Rachmat sepanjang satu jam dikantor Triputra Group di Menara Kadin, Kuningan,Jakarta 17 Desember lalu.

Sosol yang berkali-kali dinobatkan sebagai CEO terbaik di berbagai ajang penghargaan itu terus menyuarakan optimismenya meskipun ekonomi Indonesia didera pelemahan dalam beberapa tahun terakhir.

Rupanya, Begawan bisnis kelahiran Majalengka, Jawa Barat, 15 Desember 1943, itu memang tak menyisakan satu lembarpun bagi pesimisme untuk menyusup dalam kamus hidupnya. “The Worst is already over” (Yang terburuk sudah berakhir,Red).” Ujarnya dengann mantap saat  mengomentari tren perlambatan ekonomi Indonesia.

Diawal perbincangan pebisnis  yang akrab disapa Teddy itu menguraiakan refleksi singkat perekonomian global dan Indonesia dalam bebrapa tahun terakhir. Kisahnya dimulai pada 2008, ketika krisis subprime mortagage atau kredit beresiko tinggi disektor properti Amerika Serikat (AS) menjalar cepat bagi kanker ganas yang merontokan kedigdayaan ekonomi Negri Paman Sam, lalu menular cepat melalui Instrumen pasar financial ke Eropa  dan berbagao belaha dunia lain, “ ketika itu eknomi Indonesia sempat terkena demam sedikit.” Kata keponakan pendiri grup Atra, William Soerydjaya, tersebut.

Untung meriang ekonomi Indonesia segera reda karena datangnya obat dari tiongkok. Teddy menyebutkan,saat itu raksasa ekonomi Asia yang tengah bengkit tersebut tak ingin tertular krisis ekonomi global. Langkah strategus pun diambil pemerintah Tiongkok dengan mengenjot investasi besar-besaran agar terus bisa menyerap tenaga kerja. Kaarena itupun Tiongkok menjelma  “ naga lapar” yang menyedot  berbagai komoditas baik pertambangan maupun perkebunan. “itulah pemicu Commodity boom (bomming komoditas,Red). Yang menjadi motor ekonomi Indonesia sejak 2009.” Jelasnya.

Sayang papr Teddy, booming Komoditas itu membuat Indonesa terlena. Kita tak kunjung memperbaiki struktur fundamental ekonomi. Minimnya infrastruktur serta rumitnya regulasi dan birokraso membuat pelaku usaha harus menanggung ekonomi biaya tinggi. Akibatnya, produk Indonesia  kurag memiliki daya saing saat  produk asing menyerbu. Imbasnya deficit neraca perdagangan kian meganga. “ mestinya, penerimaan pajak booming komoditas ketika itu dipakai  untuk membangun infrastruktur. Tapi, sayangnya uang r atusan triliun justru habis untuk subsidi BBM ( bahan bakar minyak,Red) tiap tahun”. Ujarnya.

Sikap terlena itu harus dibayar mahal ketika pada 2013 pemerintah Tiongkok mengerem laju pertumbuhan ekonomi karena merasa ekonominya sudah overheat  alias terlalu panas. Strategi pertumbuhan berbasis inrfastruktur dan industri dirubah menjadi berbasis konsumsi serta jasa. Dengan demikian, permintaan komoditas dari Tiongkok merosot tajam. Buntutnya, harga komoditas seperti batu bara,tembaga,timah,,CPO,karet dan lainya anjlok.” Akibatnya  ekonomi Indonesia terus melemah”.  Kata pengusaha bersaa saudara sepupunya, Edwin Soeryadjaya. Membesarkan raksasa batu baera Adaro Energy itu.

Lantas apa yang masih membuat  optimis? Teddy menyebutkan, salah satu yang utama adalah reformasi structural yang dijalankan pemerintahan Jokowi-JK. Pertama, kebijakan memangkas subsidi BBM untuk dialihkan ke sector infrastruktur. Kedua, perbaikan iklim investasi melalui berbagai kebijakan ekonomi, terutama deregulasi berbagai aturan yang tak ramah pada dunia usaha. Ketiga, penetapan Peraturan Pemerintah (PP) Pengupahan yang memberikan  kepastian bagi pelaku usaha. “ keberaniaan politik Jokowi-JK untuk mengambil kebijkan yang tidak popular, seperti menaikan harga BBM, layak diapresiasi.

Keberanian politik seperti itu menurut Teddy, sanggat dibutuhkan. Dia mengibaratkan, struktur ekonomi Indonesia yang tengah sakit butuh obat yang harus ditelan meski pahit agar kedepan lebih sehat. Seperti pepatah berakit-rakit kehulu, berenang ketepian. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.

“Good times create good policy(kondisi baik biasnaya menciptakan kebijakan buruk. Kondisi buruk biasanya menciptkan kebijakan baik,Red).” Ucap dia soal kebijakan susbsidi BBM kala booming komoditas dan perlambatan ekonomi saat ini. (owi/c11/sof)

 Sumber: Jawa Pos, Rabu 6 Januari 2016