Martha Tilaar tentang Bisnis Berbasis Kearifan Budaya Manfaatkan Pengakuan Global atas Produk Herbal

24 Januari 2016.Hal .Martha Tilaar tentang Bisnis Berbasis Kearifan Budaya_Manfaatkan Pengakuan Global atas Produk Herbal. Jawa Pos. 24 Januari 2016.Hal. 1,11

Membicarakan bisnis kecantikan tanah air menjadi tidak lengkap bila tidak menyebut sosok Martha Tilaar. Founder Martha Tilaar grup itu bicara tentang mimpi besar serta keunggulan produk lokal di pasar global.

DARI garasi berukuran 4×6 meter di rumahnya, menteng Jakarta. Martha Tilaar mengawali mimpinya pada awal 1970. Ketika itu dia baru kembali dari mendampingi suami bersekolah di AS

Jangan Jealous pada Kemampuan Orang Lain

Bagian rumah yang di gunakan untuk salon tersebut menjadi awal cita cita besar yang kini mewujud.

“Mimpi besar saya adalah mempercantik perempuan Indonesia dan Asia dengan menggunakan kearifan budaya dan kekayaan alam Indonesia.” Ucapnya ketika di temui di kantor sekaligus pabriknya di kawasan Pulogadung, jakarta , selasa (12/1).

Hari itu istimewa. Sebab merupakan anniversary ke-52 pernikahan Martha dan suami tercinta Prof Dr H.A.R tillar atau yang di kenal dengan sapaan Alex Tilaar, lima tahun mendampingi suami di AS membuat pemikiran Martha terbuka. Mereka sangat kreatif dan melek teknologi. Semua dikerjakan berdasarkan riset. “ nah, saya berfikir, kekayaan alam kita luar biasa. Tanaman herbal kita banyak sekali jenis dan menfaatnya. Kalau dipadukan dengan high technology akan sangat kuat” tutur perempuan kelahiran Kebumen, jawa tengah 4 September 1937.

Dari salon kecil di garasi, bisnis kecantikan Martha mekar tahap demi tahap. Pada tahun 1977 dia mendirikan PT Martina Berto bersama dua mitra usaha. Hingga kemudian , membangun pabrik sendiri di Pulaugadung pada 1981. Produk-produk kosmetik dalam negeri berkualitas tinggi lahir dari kreativitas dan keuletannya.

Ibu empat anak serta nenek delapan cucu itu ingin fokus pada bidang kecantikan. Rantai bisnisnya mulai salon dan spa pabrik kosmetik, sekolah kecantikan hingga distribusi dan packaging. “dari hulu ke hilir tapi semuanya berkaitan dengan kecantikan “ ucapnya.

Perempuan yang tetap ayu pada usia 78 tahun tersebut membeberkan filosofinya dalam berbisnis yaitu, filosofi DJITU. Disiplin , jujur, iman, tekun, dan ulet. “sekarang  “I – nya juga bisa berarti inovasi. Kita harus terus kreatif melahirkan inovasi-inovasi baru agar mampu bersaing, “ucapnya”.

Di tengah-tengah serbuan brand kosmetik luar negeri yang terlihat eksklusif, martha optimis sektor industri kosmetik lokal tak kalah saing. Kuncinya, masyarakat kita harus bangga dengan identitas bangsa, yaitu kearifan budaya dan kekayaan alam sendiri. Tidak semua hal yang berasal dari barat lebih baik daripada hasil tanah air.

Dia menuturkan , justru sebenarnya pembisnis global sudah mengakui keunggulan produk herbal indonesia. Martha mencontohkan ,bahan jenis temu-temuan seperti temulawak,temugiring, dan curcuma (kunyit) diminati belanda,prancis,dan jerman.

Namun, yang sering terjadi , bahan asli indonesia di ekspor dalam bentuk raw material, kemudian di kembangkan di luar negeri sehingga nilai ekonomis nya kecil. “beda apabila sudah di ekstrak, apalagi di proses sesuai good manufacturing practices (GMP), nilainya pasti lebih mahal, petani bisa lebih makmur. Papar Martha. Sebagai negara agraris, lanjut Martha Indonesia seharsunya bisa menjadikan sektor pertanian sebagai kekuatan ekonomi.

Martha juga berbicara tentang masalah standarisasi yang masih menjadi kelemahan produk-produk dalam negeri. Agar mampu bersaing di pasar global, produk harus memiliki standarisasi pengendalian mutu. Pada 1996 pabriknya mendapatkan sertifikat mutu ISO 9001, kemudian pada 2000 meraih           ISO 14001.

Menghadapi masyarakat Ekonomi Asean (MEA), tantangan yang di hadapi Indonesia makin besar. Terutama kualitas sumber daya manusia. Dengan adanya MEA, puluhan ribu tenaga kerja terlatih dari luar negeri bisa datang ke tanah air . Kalau tidak siap, SDM akan kalah bersaing. Orang orang asing yang jadi pemimpin pun akan banyak. “ kalau saya jelas tidak rela “ tegasnya.

Martha  menuturkan, potensi SDM Indonesia sangat besar dan harus di motivasi untuk terus belajar. Jangan mudah puas dengan apa yang sudah di capai. Harus terus berfikir what’s next. “ Apa lagi yang bisa kita kerjakan . Jangan jealous pada kemapuan orang lain, tapi what can we do, terus engga boleh berhenti biar tidak ketinggalan , lanjutnya.

Kreativitas pula yang menjadi pasangannya untuk melewati pegangannya untuk melewati krisis. Dia mengingatkan moment krisis ekonomi 1998. Semua sektor bisnis mengalami penurunan . puluhan pabrik di kawasan Pulau Gadung guklung tikar. Bukan martha namanya bila cengeng dan menyerah. Ketika itu dia pergi ke Ranah Minang dan bertanya kepada nenek-nenek penenun. “ warna apa yan paling dominan disini?” Jawabannya merah dan kuning.

“Sepulang dari sana , saya bilang ke insinyur saya untuk membikin cetakan lipstick merah dan gold dalam satu produk,” kenang Martha. Produk yang terinspirasi dari obrolannya dengan perempuan Minang itu mencatat kenaikan penjualan hingga 400 persen. “Jadi saya enggak sampai pihak PHK karyawan, malah banyak yang lembur,”ucapnya. Kini dengan total karyawan sekitar 5 ribu orang , omzet martha tilaar group lebih dari 2 triliun.

Dengan karyawan yang 70 persennya perempuan, martha turut berupaya memberdayakan perempuan Indonesia. Dia membuat martha Tilaar Training Center untuk menghasilkan terapis terapis spa berkualitas. Pelatihan gratis , bahkan peserta mendapatkan uang saku rp.800 ribu per bulan. Nanti , setelah menuntaskan pelatihan mereka mendapatkan tiap cabang Martha Tilaar Salon dan Day Spa.

Sejak beberapa tahun belakangan ini martha mulai menyerahkan bisnis kepada anak anaknya sebagai penerus . Brayn pingkan, wulan, dan kilala. Meski begitu perjuangan martha belum selesai. Dia terus berusaha melestarikan produk herbal tanah air. Kegigihan martha berubah. Pada 2010 Martha berubah. Pada 2010 Martha Tilaar Group menjalin kerja sama untuk membuka progam magister ilmu herbal di universitas indonesia. Sembilan orang dari tim research dan development Martha Tilaar menjadi dosen. Martha pun sesekali memberi kan kelas.

 

JAWA POS 24 JANUARI 2016

Mulyo Rahardjo tentang Industri Kesehatan Jamu Bakal Jadi Produk Nasional

23 Februari 2016. Mulyo Rahardjo tentang Industri Kesehatan_Jamu Bakal Jadi Produk Nasional. Jawa Pos. 23 Februari 2016.Hal.1,15

Industri kesehatan tidak bisa dianggap sebelah mata. Selain lebih tahan gejolak ekonomi, negara akan kuat jika masyarakatnya sehat.

TURBULENSI ekonomi pada pertengahan 2015 menjadi mimpi buruk bagi kalangan pengusaha. Daya beli masyarakat jeblok. Penjualan pun menurun. Namun, itu tidak terlalu dirasakan PT Deltomed Laboratories yang menjadi pelopor obat herbal di tanah air.

Direktur Pengelola Deltomed Mulyo Rahardjo mengatakan, ada banyak alasan obat-obatan yang diproduksinya tidak terlalu kena efek turbulensi ekonomi.

Rakyat Sehat, Ekonomi Kuat

Diantaranya, bahan baku herbal yang digunakan murni dari dalam negeri. Konsumennya juga bangsa sendiri. “Orang selalu butuh sehat. Ekonomi lemah, (penjualan,Red) tidak turun banyak. Ketika ekonomi booming penjualan tidak langsung naik juga,” terangnya.

Itulah mengapa dia menyebut produk dari industri herbal lebih kebal terhadap fluktuasi ekonomi. Bahkan, jika dia bandingakan dengan property yang terpukul akibat perlemahan ekonomi.

Kebutuhan akan kesehatan ditunjukkan dengan tingginya permintaan. Khusus untuk Deltomed yang punya produk andalan Antangin, pertumbuhan konsumen dari 2014 ke 2015 mencapai 16 persen. “Industri farmasi memang masih nomer satu. Tapi pertumbuhan herbal semakin lama makin besar,” katanya.

Itu dibuktikan dengan makin banyaknya perusahaan farmasi yang mengeluarkan formula obat herbal. Perusahaan tersebut umumnya tidak mematikan bisnis obat kimianya. Namun, memberikan alternative kepada masyarakat.

Atas dasar itu, dia melihat prospek ekonomi dari bisnis obat-obatan, terutama herbal, masih akan bagus. Apalagi, bumi Indonesia masih menyediakan bahan baku dengan kualitas jempolan. Selain itu, pemerintah disebutnya sudah menjalankan tugas dengan baik dalam memproteksi jamu luar negeri.

“Ini salah satu industri yang di-protect. Jamu dari luar negeri agak susah masuk ke Indonesia,” katanya. Dukungan pemerintah itu wajar diberikan karena bahan baku industri herbal punya efek pengali yang kuat. Sebab, mendukung ekonomi kerakyatan dari petani lokal.

Lulusan Radford University Business School, Virginia, Amerika Serikat, itu melihat prospek industri herbal sampai 10 tahun ke depan masih terang. Dia tidak mempermasalahkan dengan banyaknya pemain baru obat erbal yang tumbuh. “Kami makin suka. Berarti industrinya, seperti jamu masuk agin, bisa jadi produk nasional,” tuturnya.

Pemerintah juga perlu melihat bahwa tren herbal terus tumbuh sebagai pilihan konsumen. Karena itu, dia berharap pemerintah bisa memberikan dukungan riset sampai ampanye di mancanegara. “Intinya bagaimana agar produk ini diperkenalkan dan menjadi kebanggan nasional,” ujarnya.

Produk Deltomed memang sudah berekspansi ke luar negeri. Namun, banyak negara yang enggan menerima karena ingin agar perusahaan herbal membangun pabrik di negara itu. Dia ingin negara menjalankan perannya untuk membantu agar produk dalam negeri itu bisa diekspor ke berbagai negara.

Dia meyakinkan bahwa produk ekspor dari berbagai produsen herbal tersebut sudah memenuhi standar. Bahkan, para pemain besar yang ada pada saat ini tidak akan berlaku curang terhadap komposisi bahan baku.

(Sumber : Jawa Pos, Selasa 23 Februari 2016)

Presdir Sritex Iwan Setiawan Lukminto tentang Industri Padat Karya Menangi MEA dengan Tambahan Sekolah Tenaga Kerja

22 Januari 2016. Presdir Sritex Iwan Setiawan Lukminto tentang Industri Padat Karya_Menangi MEA dengan Tambahan Sekolah Tenaga Kerja. Jawa Pos

Industri padat karya seperti pabrik tekstil memiliki peran menentukan dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Mereka bisa semakin terampil dan beragam produk andalan. Namun, ada peluang terpuruk jika SDM minim skill dan variasi produk terbatas.

SEBAGAI pemimpin perusahaan tekstik terbesar di Asia Tenggara, PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), Iwan Setiawan Lukminto paham benar masalah yang membelenggu industri saat ini. Presiden direktur PT Sritex Tbk itu meyakini tenaga kerja adalah aset industri yang harus dilindungi pemerintah.

“Perlindungan itu dalam bentuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja sehingga mampu bersaing dengan tenaga kerja asing,” ujar Iwan saat ditemui di kantornya Selasa (19/1). Peraih nominasi EY World Entrepreneur of the Year 2015 di Monaco itu melihat, pemerintah saat ini masih kurang mendukung kebutuhan industri padat karya akan tenaga kerja berkualitas. “Di industri tekstil, misalnya, pemerintah kurang mendukung pertambahan jumlah jurusan pertekstilan di perguruan tinggi,” ujarnya.

Jumlah institut dan kampus yang menyediakan jurusan itu semakin berkurang. Saat ini industri sangat sulit menemukan tenaga kerja lulusan jurusan pertekstilan. “Padahal, industri tekstil adalah salah satu sektor yang serapan tenaga kerjanya tinggi,” tutur Iwan.

Jika industri itu mampu menyerap banyak tenaga kerja, jumlah penganggur akan berkurang.

Multiplier effect-nya, pendapatan masyarakat akan naik. Tingkat konsumsi dan pertumbuhan ekonomi pun akan lebih cepat melaju,” lanjut pengusaha 40 tahun itu.

Menurut Iwan, pemerintah sebetulnya tahu bahwa penyebab semakin berkurangnya jumlah perguruan tinggi pencetak tenaga profesional di bidang tekstik adalah minat generasi muda yang juga rendah. Lulusan SMA saat ini lebih suka memilih jurusan yang populer dan “cepat laku”. Contohnya, kedokteran, TI, ekonomi, dan ilmu komunikasi. “ Bagaimana mendorong minat anak muda ke jurusan tekstil dan bagaimana dunia pendidikan kita memfasilitasi hal tersebut, itu tanggung jawab pemerintah. Ini industri padat karya, kebutuhannya soal tenaga kerja sangat tinggi,” lanjutnya.

Putra almarhum H M. Lukminto itu mnengatakan, industri kini semolah “berjalan sendirian” dalam mengatasi masalah tersebut. Bukan hanya industri tekstik, tapi juga industri-industri padat karya lainnya. Mereka merasa kurang dibantu pemerintah. “Akhirnya industri terpaksa menerima karyawan yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya,” tambah dia.

Dengan bekal pengetahuan yang minim, karyawan baru harus diajari industri dari awal. “Mulai cara kerja, pemasaran, produk, hingga menjelaskan prospek industri tekstil ke depan,” ungkapnya.

Di Sritex, bahkan sampai ada pusat pendidikan khusus untuk melatih tenaga kerja baru seputar industri tekstil. “Industri sebenarnya berharap pemerintah bisa bantu, tapi kami pun tidak boleh berpangku tangan menunggu pemerintah. Kalau kami tidak mendidik tenaga kerja kami sendirim susah nanti produksi kami.”

Iwan mengingatkan, ancaman selain kurangnya tenaga kerja profesional dan terdidik adalah mesin. Ya, industri pada akhirnya bisa saja berpikir lebih baik menggunakan banyak mesin.

“Tidak perlu repot-repot mendidik tenaga kerja dari awal, karena toh mesin saja bisa melakukan hal yang sama. Namun, jika itu terus terjadi, risikonya penyerapan tenaga kerja akan berkurang sehingga laju perekonomian memburuk,” jelasnya.

Namun, Iwan berpesan agar perusahaan dan tenaga kerja di Indonesia tidak takut menghadapi MEA. Sebab, Indonesia pun punya kesempatan yang sama untuk bisa go global. Industri dan pengusaha bisa meraih pasar di luar negeri. Tenaga kerja di Indonesia pun bisa bekerja ke banyak negara di ASEAN. “Tenaga kerja dari luar kebanyakan unggul di bahasa Inggris saja kok. Belum tentu mereka paham soal tekstil,” ungkapnya.

Menurut Iwan , Indonesia semestinya bisa mencapai pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen. Namun, Indonesia harus mewaspadai harga minyak dan komoditas yang terus turun. Untuk itu, dibutuhkan upaya pemerintah dalam mendukung industri di luar sektor energi dan komoditas agar bisa maju.

Di sisi lain, substitusi harus dilakukan industri. Tahun lalu banyak dberitakan bahwa industri padat karya melakukan efisiensi, terutama dalam hal tenaga kerja. Menurut Iwan, efisiensi itu dilakukan kebanyakan industri yang hanya bertumpu pada satu market.

“Di tekstil, yang pabriknya banyak kukut (tutup, Red) itu, misalnya, hanya mengerjar pasar tekstil untuk fashion. Sehingga kalau konsumsi fashion itu turun akibat perlambatan, dia mati,” papar ayah tiga anak tersebut.

Beruntung, Sritex punya produk andalan. Selain fashion yang kontribusinya 20 persen terhadap total produksi, pabrik di Sukoharjo, Jawa Tengah, tersebut sukses menjual seragam, benang, kain, dan produk turunan tekstil lainnya. Walhasil, ketika pasar fashion jatuh, substitusi dan kontribusi dari market lain cukup membantu kinerja perusahaan. (rin/c10/kim)

 Sumber: Jawa Pos, Jumat 22 Januari 2016

Roy Nirwan soal Peluang Bisnis Konstruksi di Era Kompetisi Global Kurangi Ketergantungan Produk Impor

22 Februari 2016. Roy Nirwan soal Peluang Bisnis Konstruksi di Era Kompetisi Global_ Kurangi Ketergantungan Produk Impor. Jawa Pos. 22 Februari 2016.Hal. 1,11

Ang Hoey tentang Industri Otomotif Riset dan novasi Menjadi Kunci

21 Februari 2016. Ang Hoey tentang Industri Otomotif_Riset dan novasi Menjadi Kunci. Jawa Pos.21 Februari 2016. Hal.1,11

Ronald Walla tentang Tantangan Industri Padat Karya Atasi Dulu Masalah Produktivitas

20 Januari 2016. Ronald Walla tentang Tantangan Industri Padat Karya_Atasi Dulu Masalah Produktivitas. Jawa Pos. 20 Januari 2016.Hal.1,3

Pengembangan industri padat karya tidak bisa lepas dari ironi pabrika tembakau. Digencet sana – sini. Namun, tetap menjadi pilar pada peta jalan industri nasional. SEBAGAI pebisnis yang bekecimpungan di industri padat karya, Presdien Direktur (Presdir) Wismilak Ronald Walla Menganggap tenaga kerja di Indonesia, papar pria yang hobi bersepeda itu, punya tantangan dala hal produkstivitas.

Perusahaan Keluarga Punya Peran Besar

Menurut dia, jika ingin ekonomi kuat dan Indonesia menjadi kekuatan besar dunia, daya beli masyarakat mesti dijaga. “Logikanya, kalau daya beli meningkat, kan gaji karyawan pasti naik. Kalau gaji karyawan naik, otomatis produktivitasnya harus ditingkatkan dong,” ujarnya.

Sumber daya manusia memang punya posisi yang penting dalam perussahaanya. Dulu, papar Ronald, staf yang mengurusi maslah sumber daya manusia (SDM) hanya lima orang. Sekarang sudah 30 orang. Meski tergolong tidak banyak, pertambahan jumlah staf di bidang SDM itu menunjukan keseriusan perushaan dalam memandang fungsi tenanga kerja.

Tantangan industri rokok memang tidak ringan. Tiap tahun digencat dengan tarif cukai yang tinggi. Banyak perushaan kecil dan menengah yang berguguran. PT Wismilak Inti Makmur Rbk termasuk yang bertahan.Wismilak, yang banayk memproduksi sigaret keretek tangan (SKT), mendapat untung dari market yang terus tumbuh.

“Kami punya strategi di SKT. Jadi, penjualannya tumbuh 20 sampai 40 persen tiap tahun,” katanya saat ditemui di kantor Wismilak di Surabaya. SKT mempunyai pasar yang bagus dan kuat di Jawa Barat. Meski SKT hanyalah salah satu di anatara jenis rokok yang diproduksi Wismilak, tingginya cukai rokok tetap membuat perusahaan mempertahankan produksi SKT.

Wismilak, menurut Ronaldtetap bertahan dan tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Perusahaan juga tidak mengurangi jam kerja. Sebab, penjualan dan permintaan memang terus tumbuh.

Menurut Ronald, memang ada perusahaan rokok yang memilih efisiensi dalam hal jumlah karyawan. Namun, rata – rata tindakan tersbut dilakukan oleh perusahaan top leader di industri. “Kami kan di level small mediun. Jadi, ruang untuk terus berkembang tetap ada,” lanjutanya.

Industri rokok punya beberapa tantangan. Bagi Ronald, cukai yang tinggi sebenarnya tidak memberatkan industri rokok. Asal, pemerintahan mampu mengembalikan manfaat cukai tersebut keapda rakyat. Industri rokok sadar bahwa tanggung jawab perusahaan terhadap masyarakat cukup tinggi. Namun, tingginya cukai yang dibayrakan oleh ondustri rokok tidak sebanding dengan apa yang ditawarkan pemerintah.

Misalnya dalam hal pembebasan lahan untuk investasi. Pembebasan lahan masih rumit dan berbelit – belit. Selain itu, perizinan cukup membingungkan perusahaan yang akan melakukan investasi. Meski regulasi sama, sering kali penerapan proses izin usaha bisa berbeda antara satu daerah dan daerah lain. “Misalnya, di Surabaya tidak boleh, di Sidoarjo boleh. Nah, pengusaha kan jadi bingung,” tambah pria yang pernah bekerja sambil kuliah di Virginia AS, tersebut.

Selain itu, pemerintah belum cukup membantu petani tembakau. Misalnya dalam hal infrastruktur, pengairan, pemupukan, dan cara panen. Ronald memaparkan, tembakau adalah tanaman yang rentan air. Biasanya, petani menanam tembakau pada April dan Mei, ketika musim hujan akan berakhir. Namun, dengan pemanasan global dan bencanaseperti El Nino, petani akhirnya asal tanam saja. “Tanam bibit saja bisa sampai lima kali. Berapa biayanya? Pasti mahal, kan,” katanya.

Akhirnya, produksi petani yang biasanyabisa sampai 50 ribu ton per tahun berkurang hingga 80 persen. Tu terjadi lantaran tembakau kena hujan, sementara petani tidak tahu cara yang tepat untuk mengatasi maslaah tersebut. Nah, peran pemerintah menjadi sangat penting untuk mengatasi persoalan itu. Pemerintah harus mendukung hulu industri rokok dengan komunikasi, penyuluhan, dan pendampingan yang tepat.

Masalah lainnya adalah sikap petani yang tidak menjual hasil panen tembakaunya kepada pemberi bantuan, “Kami sering kasih bantuan bibit, pupuk, dan lain – lain kepada petani. Tapi, setelah panen, mereka jualnya ke siapa saja yang mau beli dengan harga tinggi,” tutur putra taipan Willy Walla tersebut.

Hal ini membuat industri rokok enggan membeli lahan sendiri untuk ditanami tembakau. Siatem beli putus pun kebanyakan menjadi solusi agar perushaan juga tidak merugi. Padahal, industri punya niat yang baik, yakni membantu dan mengedukasi petani tembakau.

Soal perekonomian Indonesia, menurut Ronald, salah satu kuncinya ada di erusahaan keluarga. Indonesia punya banyak perusahaan keluarga di berbagai sektor dengan pengaruh yang cukup besar pada laju perekonomian domestik. Dia mengatakan, perusahaan keluarga harus kuat dan solid di level top management.

Jika tidak, level manajemen di bawah akan rusak dan kinerja perusahaan bisa terpengaruh. Persoalaan yang sering ditemui di perusahaan keluarga adalah masalah pribadi keluarga yang akhirnya berimbas ke perusahaan. Misalnya, ketidakkompakan manajemen dan meninggalnya sosok keluarga yang menjadi top manajemen perusahaan.

Dari situ, top manajemen punya tantangan, bagaimana membangun perusahaan yang profesional di tengah masalah yang mendera. Jika semua perusahaan keluarga mampu tetap bersikap profesional dan bisa bangkit, multiplier effect –nya akan besar terhadap perekonomian Indonesia. “kalau perusahaan keluarga tidak stuck dan bangkit untuk maju, perusahaan keluarga itu akan sukses dan bisa menghidupi banyak karyawan. Ekonomi pun akan ikut bergerak,”tutur penerus Wismlika itu. (rin/c11/sof)

Sumber: Jawa-Pos.-20-Januari-2016.Hal_.13

Hengky Setiawan tentang Arah Kebijakan Ekonomi Kapal Besar Mesti Tahan Gelombang

20 Februari 2016.Hengky Setiawan tentang Arah Kebijakan Ekonomi_Kapal Besar Mesti Tahan Gelombang. Jawa Pos.20 Februari 2016.Hal. 1,11

Ibarat kapal besar,perekonomian Indonesai bakal selamat sampai tujuan.Syaratnya,tidak panik saat menghadapi gelombang.

HENGKY Setiawan,chairman Telesindo Group,mengatakan bahwa jumlah penduduk Indonesai merupakan pasar besar nan potensial.”Dari situ saja sudah merupakan poin penting,”ucapnya kepada Jawa Pos di kantornya pada Selasa (16/2).

 

Indonesia Kini Ibarat Start-up

       Berkah Indonesia kini bertambah dengan “harta karun” berupa komodiatas dan kekayaan alam lain yang ada di perut serta permukaan bumi pertiwi.Mengolah sebagiannya secara sederhana saja bisa membuat Indonesia menjadi penyulapi pasar dengan kekhasan tersendiri.Yang terpenting papar Hengky,ada akses dan regulasi yang kondusif.

Tidak ada keraguan sedikit pun pada diri Hengky bahwa kelak Indonesia menjadi salah satu kekuatan ekonomi global.Pria kelahiran Jakarta , 7 Juli 1969,itu yakin bahwa Indonesia akan menempel ketak Tiongkok dan India.

Namun , mimpi itu tidak bisa diraih begitu saja.Dari sisi pemerintahan,Hengky berharap para pemimpin menyadari bahwa Indonesia ibarat kapal besar yang sedang melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi.Tidak terlalu ngebut,tapi juga tidak pelan.

Di tengah perjalanan,bisa saja ada gelombang,baik dampak luar negeri maupun dalam negeri.Atau tidak ada gelombang,tapi ingin berbelok kea rah yang diyakini lebih baik.Saat menghadapu itu,Hengky berharap sang nahkoda tidak banting setir secara membabi buta.”Kapal bisa oleng dan isinya berntakan ,” tutur dia.

Menurut suami Wan Hong tersebut ,gejala kekhawatiran itu ada.Misalnya penyikapan saat hendak menggenjot sisi perpajakan.Dia mengakui,niat mendapatkan hak negara yang berupa pajak maksimal memang sesuatu yang benar.Tetapi,hal itu tidak bisa di lakukan seperti menebang rumput liar agar cepat-cepat rapid an bersih tanpa mempertimbangkan factor lain.”Coba saja lihat.Hanya Karena mungkin salah informasi ,salah penerapan aturan ,atau kurang pertimbangan ,ada berapa banyak perusahaan yang terbebani .Akhirnya tutup atau PHK karyawan,” sesal pengusaha yang dijuluki Raja Voucher(pulsa) Karena prestasinya membangun bisnis dengan modal Rp 5 juta dan berpendapatan Rp 21 triliun pada akhir 2015 itu.

Bagaimanapun,papar dia,segala sesuatu memiliki proses.Diperlukan langkah yang win-win solution.Tidak ada satu pun perusahaan yang beroperasi di Indonesia yang tidak ingin tumbuh,apalagi merugi.

Menentukan kebijakan ,tertutama yang berkaitan dengan perekonomian dan iklim usaha ,memerlukan frame berpikir secara jangka panjang.Pada akhirnya ,negara tetap akan diuntungkan .”Memang sekarang sudah saatnya merapikan semuanya.Pajak,tata kelola  perusahaan,semuanya lah.Tapi,jangan berlebihan ,”taegasnya lagi.

Sebab,perlu disadari juga ,tambah Hengky,dari sisi industri atau bisnis,Indonesia sedang bertumbuh.Belum benar-benar mapan,sedang terus berupaya mengundang lebih banyak investasi.”Ini masih baru lah .Indonesia Indonesia ini start-up,”ujarnya.

Indonesia pernah lebih maju daripada Malaysia sehingga banyak pelajar dari negara tetangga yang mengais ilmu ke sini.Tapi,sekarang sebaliknya.Singapura yang lebih muda dan lebih kecil juga lebih melesat.

Dengan dasar itu,negara ini seolah sedang memulai hal baru.Sebagai start-up,tapi memiliki bekal pengalaman yang melimpah dan kuat .Agar tidak terjadi kemunduran lagi,Indonesia perlu belajar dari kesalahan masa lalu.”Sekarang era mandiri,Bangkit!”.ucap dia.

Pria yang hobi mengkoleksi barang antic,terutama mobil Mercedes-Benz,itu menilai pemerintahan  Jokowi sedang bergerak ke arah yang benar .Meskipun,pada praktiknya masih perlu waktu dan dukungan dari semua pihak.”Kita butuh tim ekonominya harus benar-benar prorakyat dan probisnis,”tegas dia.

 

 

 

UC Lib-Collect

Sabtu,20 Februari 2016

Rizal Tandiawan tentang Iklim Bisnis Kemudahan Berusaha hingga ke Daerah

19 Februari 2016. Rizal Tandiawan tentang Iklim Bisnis_Kenudahan Berusaha hingga ke Daerah. Jawa Pos. 19 Februari 2016.Hal.1,15

Hari Hardono tentang Upaya Pemulihan Ekonomi Fokus Saja ke Pasar Domestik

18 Februari 2016. Y.N. Hari Hardono tentang Upaya Pemulihan Ekonomi_Fokus Saja ke Pasar Domestik. Jawa Pos. 18 Februari 2016.Hal.1,11

Lesunya harga komoditas telah memperparah perlambatan ekonomi tahun lalu. Roda bisnis yang terkait dengan komoditas pun berjalan cukup berat. Namun, diproyeksikan mulai terjadi pemulihan tahun ini.

CEO sekaligus pendiri Saraswanti Group Yohanes Nugroho Hari Hardoono mengakui, tahun lalu bisnis memang mesti menerima tergerusnya keuntungan. “Secara profit hampir keseluruhan memang turun jika dibandingkan 2014. Tapi, masih kami syukuri karena tidak semua divisi bisnis kami profitnya turun dalam,” papar Hari saat berbincang dengan Jawa Pos  di Hotel Borobudur, Jakarta, awal pecan lalu.

PT Saraswati Anugrah Makmur, kelompok usaha yang bergerak di bisnis pupuk, perkebunan sawit, kertas, perumahan, perhotelan, serta laboratorium pangan, termasuk bisnis yang terkena dampak langsung.

Hari menguraikan, divisi pupuk yang menjadi andalan utama Saraswati masih aman. Secara volume, produksi pupuk masih meningkat, meski secara profit menurun. Namun, tergerusnya keuntungan tidak besar jika dibandingkan dengan divisi perkebunan sawit. “Kebetulan sawit kami memang sedikit merah (rugi) ya, cukup lumayan. Sedangkan untuk properti memang sangat berat di 2015,” ujarnya.

Alumnus Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) itu pun menyiasati pelemahan ekonomi dengan menunda realisasi sejumlah proyek yang sejatinya mulai berjalan tahun lalu. Pihaknya pun memilih melanjutkan proyek-proyek yang usdah berjalanan. “Namun, kami sebetulnya sudah ancang-ancang dengan kondisi ekonomi yang kurang baik pada tahun 2015,” katanya.

Meski kondisi perusahaannya sempat tertekan hampir disepanjang tahun lalu, pengusaha 54 tahun tersebut mengaku optimis dengan kondisi ekonomi 2016. Hari yakin perekonomian Indonesia akan membaik, bahkan tumbuh hingga di kisaran 5 persen. Menurut dia, hal tersebut terlihat dari mulai membaiknya harga sawit dan turunannya.

“Kalau kita berharap tahun ini bisa seperti semester I/2014 atau tahun sebelumnya, ya boleh dibilang masih susah. Tapi, saya optimis tahun ini ekonomi akan membaik,” ujarnya.

“Ini harga sawit mulai merangkak naik. Kemudian, di properti perhotelan, kami Januari ini juga cukup bagus okupansinya. Biasanya kalau Januari itu kami sepi.”

Meski begitu, pengusaha dengan omzet Rp 2 triliun per tahun itu juga mengakui ada beberapa tantangan tahun ini. Antara lain, berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). MEA membuat pengusaha domestik mau tidak mau menaikkan daya saing. Pihaknya pun cukup waspada dengan hal tersebut. Karena itu, Hari pun elah memikirkan langkah inovasi untuk meningkatkan daya saing perusahaanya.

Pengusaha yang berdomisili di Surabaya itu mencontohkan, di sektor pupuk, pihaknya mebuat pabrik yang dekat dengan lokasi perkebunan. “Kami mengutamakan mutu lewat kerja sama dengan pusat-pusat penelitian. Kemudian, kami upayakan pelayanan delivery tepat waktu. Intinya, kami main efisien,” tuturnya.

Hari juga menekankan, pemerintah sebaiknya berfokus pada sektor domestik. Dengan jumlah populasi yang besar hingga 250 juta jiwa, masih banyak sektor usaha yang bisa digarap. Hal tersebut bisa membantu menggenjot pertubuhan ekonomi. Karena itu, pihaknya kurang sreg dengan kebijakan 35 bidang usaha yang diputuskan terbuka untuk asing, termasuk sektor perhotelan.

“Sebab, pasar kita ini cukup besar jadi menurut saya, fokus saja ke sektor domestik,” tegasnya.

Hari meyakini. Dengan konsistensi dengan kerja keras, Indonesia bisa bersaing dengan negara-negara lain. Pihaknya juga menggarisbawahi pentingnya pendidikan. Sebab. Latar belakang pendidikan mayoritas pekerja Indonesia cukup rendah, yakni SMP.

“Kerja keras, konsisten, dan cerdas. Dengan segala macam (SDA) yang dimiliki Indonesia, SDM yang memiliki karakter tersebut bakal bisa memajukan Indonesia. Tidak ada negara maju yang tingkat pendidikan penduduknya rendah,” paparnya. (ken/c5/sof)

Sumber: -Jawa-Pos.-18-Februari-2016.Hal_.111

Harry Gunawan Ho tentang Pemerataan Pembangunan Berikan Harapan kepada Tempat yang Sulit

16 Februari 2016. Harry Gunawan o tentang Pemerataan Pembangunan_Berikan Harapan kepada Tempat yang Sulit. Jawa Pos.16 Februari 2016. Hal.1,11

Seberat apa pun tantangan menuju negara dengan perekonomian maju, akan selalu ada ruang untutk menggapainya. Kunci utamanya adalah pembangunan infrastruktur sebagai gerbang pembuka pertumbuhan bersama.

Pemilik sekaligus Presiden Direktur PT Kencana Graha Global Harry Gunawan Ho teringat Tiongkok sekitar awal dekade 1990-an. Kala itu perekonomian negara tersebut belum diperhitungkan.

Di kota sekelas Guangzhou saja, jalanan masih relatif sempit. Penuh dengan pengguna jalan yang bersepeda kayuh.

“Kalau kita buka lampu, mereka marah. Silau,” tutur dia saat berbincang dengan Jawa Pos di kantornya, kawasan M.H. Thamrin, Jakarta, Senin (15/2).

Namun, coba lihat Tiongkok hari ini seperti apa. Jalannya saja bahkan sudah sampai tingkat empat. Industri dibangun sedemikian pesat. Tentu saja karena regulasinya menopang kuat. Segala hal yang pada zaman sebelumnya masih dikekang, bahkan diikat, kemudian dilepaskan.

Dari gambaran kebangkitan Tiongkok itu, tambah Harry, banyak hal bisa dipelajari Indonesia. Antara lain, upaya tumbuh mesti dilakukan secara bersama serta saling mendukung antara pemerintah, korporasi, dan pelaku usaha menengah sampai kecil.

Banyak potensi besar yang belum dimaksimalkan di Indonesia. Mulai saat ini sudah harus diupayakan. Harry melihat, pemerintah sedang berupaya kearah itu. Terutama melalui rencana pembangunan infrastruktur, baik jalan, pelabuhan, bandara, maupun fasilitas pendukung lainnya.

Memang tidak ada salahnya meniru langkah positif orang lain. Ada pepatah jika dalam bahasa Indonesia berbunyi, “Belajarlah dari kesalahan orang lain dan mengikuti orang benar.” “Belajar dari kesalahan orang lain itu filosofi China. Kalau mengikuti orang benar atau saleh kan memang di semua kitab agama juga diajarkan,” ulasnya.

Seperti contoh di Tiongkok pda masa lampau, di Indonesia banyak daerah potensial yang belum tersentuh infrastruktur layak. Padahal, di dalamnya banyak sumber pendapatan baik dari sisi pariwisata maupun hasl alam, terutama pertanian.

Kalau ada Bandar internasional, lanjut Harry, pasar global bakal memperhiungkan. Investor akan masuk. Dia mengambil Belitung, seandainya aksesnya dibuka dengan membangun bandara internasional, hotel bintang lima akan masuk. Wisatawan asing akan semakin ramai. Karena wisatawan asing itu lebih memilih akses langsung.

Hasil alam dibanyak daerah Indonesia juga sama. Jagung bermutu, kelapa, ikan, dan komditas yang dibutuhkan pasar dalam negeri aupun mencanegara pada akhirnya hanya berputar di situ-situ saja. ”Karena tidak ada yang collect. Sebab, bingung mau ke mana karena kasesnya susah dan mahal,” papar pengembang sejumlah proyek property prestisius di Jakarta seperti Senayan City tersebut.

Harry yakin, saat mendapat dukungan infrastruktur, semua daerah potensial itu akan berkontribusi besar terhadap kekuatan perekonomian Indonesia. Potensi yang selama ini seolah-olah terikat akan mencuat. Kemudian bisa berkompetisi dengan daerah lain yang sudah lebih tersentu pembangunan.

Jika itu terjadi, pertumbuhan perekonomian tidak hanya ditiopang oleh sebagian dari negara ini. Seluruh daerah akan bergerak untuk turut berkontribusi dengan kekuatan dan kelebihan masing-masing.

Bahkan, daerah yang tidak memiliki sumber daya alam sebagai daya tarik atau daya jual saja, papar salah seorang pengusaha property berpengaruh di dalam negeri itu, tetap bisa berkontribusi maksimal. “Kita lihat, negara maju di dunia ini adalah negara yang tidak punya natural resources, Singapura, Taiwan, Jepan, atau Swiss. Taiwan yang mengimpor bahan baku, kemudian diolah, bisa hebat,” ungkap pria kelahiran Perbangan, Sumatera Utara, 4 Desember 1959, tersebut.

Tidak ada sedikit pun keraguan bahwa Indonesia akan menjadi salah satu negara dengan kekuatan eknomi besar di ASEAN maupun global pada masa mendatang. “Artinya, kita harus selalu memberikan harapan kepada tempat yang sulit. Sebab, di sana adalah tempat yang punya banyak mimpi. Kalau mereka punya kesempatan untuk berkembang, akan digunakan dengan baik,” ujar Harry.

Peluang serta dibukanya akses dan harapan di tempat yang saat ini masih sulit itu akan dimanfaatkan secara maksimal oleh individu, keluarga, komunitas, kota dan pada akhirnya menjadi energi positif bagi negara. “Tidak ada yang mustahil,” pesan dia. (gen/c11/sof)

Sumber: Jawa-Pos.16-Februari-2016.-Hal.111